PEMAPARAN  ASEAN – CHINA FTA   Oleh: Mari Elka Pangestu Menteri Perdagangan Republik Indonesia KEMENTERIAN PERDAGANGAN JAK...
Outline Presentasi <ul><li>Perkembangan FTA di Dunia dan ASEAN </li></ul><ul><li>Latar Belakang  AC-FTA </li></ul><ul><li>...
1.   Perkembangan FTA di Dunia dan ASEAN
expanding to  Eastern Europe expanding to  Latin America Main Regional FTAs  Source : CIA Factbook (2007) NAFTA Population...
ASEAN IN THE GLOBAL LANDSCAPE
FTA Dalam Kerangka Regional  (ASEAN dan ASEAN Mitra) FTA’s Penanda-tanganan Entry into Force Coverage Cakupan Tarif ASEAN ...
Sambungan FTAs Penanda-tanganan Entry into Force Coverage Cakupan Tarif ASEAN – Jepang  1 Maret 2008 1 Desember 2008 Kompr...
2 . Latar Belakang
Latar Belakang AFTA dan ASEAN-China FTA <ul><li>1991 ASEAN FTA disepakati 1992-2007 (kemudian dipercepat ke 2001) </li></u...
Latar Belakang ASEAN-China FTA <ul><li>2001 (Maret) Dibentuk ASEAN – RRT  Economic  Expert Group </li></ul><ul><li>2002 (N...
Lanjutan… <ul><li>2004 (Nopember) Kesepakatan ACFTA – Barang    ditandatangani; (2004-2010) </li></ul><ul><li>2007 AEC dia...
<ul><li>Tahap I : Early Harvest Program (EHP) </li></ul><ul><li>Chapter 01 sampai dengan Chapter 08 yaitu:  </li></ul><ul>...
Pengelompokan Barang <ul><li>Normal Track  (target of tariff rate = 0%) </li></ul><ul><ul><li>(a) Early Harvest Program (2...
3 . Kinerja Perdagangan Luar Negeri Indonesia terkait ACFTA
Neraca Perdagangan Indonesia-RRT Sumber: BPS, 2010 Selama periode 1999-2007 Indonesia mencatat surplus perdagangan dengan ...
Struktur Ekspor Non Migas Menurut Negara Tujuan Sumber: BPS (diolah) <ul><li>Peranan China dan India sebagai negara tujuan...
Ekspor Indonesia ke RRT Menurut Sektor  Selama periode 1999-2009 pertumbuhan ekspor produk industri mencapai 17,7% per tah...
Perkembangan Impor Menurut Negara Asal Peran Impor dari China meningkat  p esat, sementara impor dari ASEAN  cenderung sta...
Impor Indonesia dari RRT Menurut Golongan Penggunaan Barang   Impor barang modal dan bahan baku penolong dari China mening...
Sepanjang tahun 2000 hingga 2008, neraca perdagangan tumbuh 10% yang mengindikasikan masih adanya pertumbuhan ekspor, teru...
Skema  Tarif Bea Masuk Perkembangan Skema Bea M a suk Sumber: Kemendag, 2009 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 MFN 9.9 9,...
JUMLAH DAN NILAI SKA PER JENIS SKA  PERIODE 2007 S/D OKTOBER 2009   Sumber: Kemendag, 2009
Impor dengan Fasilitas FTA masih relatif kecil <ul><li>Perjanjian FTA yang telah disepakati oleh Pemerintah Indonesia masi...
<ul><li>Manfaat FTA dengan RRT : </li></ul><ul><li>akses untuk produk Indonesia di pasar RRT </li></ul><ul><li>peningkatan...
4 . Langkah-langkah  d alam Rangka Pelaksanaan AC-FTA
TIM MENINGKATKAN DAYA   SAING <ul><li>Organisasi : </li></ul><ul><ul><li>Membentuk Tim Koordinasi Penanganan Hambatan Indu...
STRATEGI I: PENGUATAN DAYA SAING GLOBAL <ul><li>Penanganan issue domestik, meliputi : </li></ul><ul><ul><ul><ul><li>Penata...
STRATEGI II: PENGAMANAN PASAR DOMESTIK <ul><li>Pengawasan di  Border </li></ul><ul><ul><li>Meningkatkan pengawasan ketentu...
STRATEGI II: PENGAMANAN PASAR DOMESTIK <ul><li>Peredaran barang di pasar Lokal </li></ul><ul><ul><li>Task Force pengawasan...
STRATEGI III: PENGUATAN EKSPOR <ul><li>Mengoptimalkan peluang pasar RRT dan ASEAN  </li></ul><ul><li>Penguatan peran perwa...
PEMBICARAAN ULANG <ul><li>Pemerintah (Kementerian Perdagangan) telah menyampaikan surat kepada Sekjen ASEAN 31/12/ 09  men...
Terima Kasih www.depdag.go.id
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Cafta Mendag Jan 2010

3,684 views

Published on

Presentasi Mendag di Seminar Nasional yang diadakan di Atmajaya

Published in: Economy & Finance, Travel
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
3,684
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
53
Actions
Shares
0
Downloads
145
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Cafta Mendag Jan 2010

  1. 1. PEMAPARAN ASEAN – CHINA FTA Oleh: Mari Elka Pangestu Menteri Perdagangan Republik Indonesia KEMENTERIAN PERDAGANGAN JAKARTA, 3 FEBRUARI 2010
  2. 2. Outline Presentasi <ul><li>Perkembangan FTA di Dunia dan ASEAN </li></ul><ul><li>Latar Belakang AC-FTA </li></ul><ul><li>Kinerja Perdagangan Luar Negeri Indonesia terkait AC - FTA </li></ul><ul><li>Langkah-langkah d alam Rangka Pelaksanaan CEPT-AFTA dan AC-FTA </li></ul>
  3. 3. 1. Perkembangan FTA di Dunia dan ASEAN
  4. 4. expanding to Eastern Europe expanding to Latin America Main Regional FTAs Source : CIA Factbook (2007) NAFTA Population: 445 million GDP: US$15.857 trillion EU Population: 491 million GDP: US$ 14.38 trillion CHINA Population: 1.330 billion GDP PPP: US$ 6.991 trillion JAPAN Population: 127 million GDP PPP: US$ 4.29 trillion ASEAN Population: 575.5 million GDP: US$ 3.431 billion FTA Canada – Chile 1997 FTA : Chile – Mexico 1999 FTA : USA – Chile 2004 FTA : USA – Singapore 2004 FTA : USA – Australia 2005 FTA : Mexico – Japan 2005 FTA : Chile – Brunei – NZ – Singapore 2006 MERCOSUR Argentina, Brazil, Paraguay, Uruguay FTAA (by 2005) under negotiation NAFTA U.S.A., Canada, Mexico SAPTA Bangladesh, Bhutan, India, Maldives, Nepal, Pakistan, Sri Lanka China - ASEAN FTA ASEAN-Japan Comprehensive Economic Partnership (AJCEP) Japan-Korea FTA (under negotiation) Japan-Mexico EPA (signed agreement) <ul><li>Japan’s Bilaterals : </li></ul><ul><li>Japan-Singapore EPA </li></ul><ul><li>Japan-Philippines EPA </li></ul><ul><li>Japan-Thailand EPA </li></ul><ul><li>Japan-Malaysia EPA </li></ul><ul><li>Japan-Indonesia EPA </li></ul>AFTA Indonesia, Malaysia, Philippines, Singapore, Thailand, Brunei, Vietnam, Laos, Myanmar, Cambodia India - ASEAN FTA EU-MEXICO FTA EU 25 countries ACP-EU Countries in Africa and the Caribbean (approx. 70 countries) Japan-Mexico EPA (signed agreement) Japan-Korea-China FTA (under negotiation) Australia-New Zealand-ASEAN FTA Korea - ASEAN FTA
  5. 5. ASEAN IN THE GLOBAL LANDSCAPE
  6. 6. FTA Dalam Kerangka Regional (ASEAN dan ASEAN Mitra) FTA’s Penanda-tanganan Entry into Force Coverage Cakupan Tarif ASEAN Economic Community 20 November 2007 AEC 2015 Komprehensif ASEAN-CEPT: ± 98% dari pos tarif ASEAN – China 29 November 2004 1 Juli 2005 Komprehensif Early Harvest Chapter 01-08 Normal Track : 40% at 0-5% in 2005 Sensitive Track Sensitive List (SL) : Tahun 2012 = 20% Highly Sensitive List (HSL) tahun 2015=50% ASEAN – Korea 24 Agustus 2006 1 Juli 2007 Komprehensif Korea : Menghapuskan semua pos tarif Normal Track selambat-lambatnya 1 Jan 2010. ASEAN-6 •       Normal Track dihapuskan paling lambat 1 Jan 2011 (flexibilitas <5% pos tarif NT dihapuskan paling lambat 1 Jan 2012 Sensitive Track Batas maksimum jumlah pos tarif dalam Sensitive Track ASEAN 6 & Korea adalah 10% dari total pos tarif.
  7. 7. Sambungan FTAs Penanda-tanganan Entry into Force Coverage Cakupan Tarif ASEAN – Jepang 1 Maret 2008 1 Desember 2008 Komprehensif Normal Track (NT) – ASEAN sebesar 90% dari total pos tarif dan Jepang sebesar 92% dari total pos tarif dan nilai dagang, terdiri atas eliminasi dalam tempo 10 tahun (88%) dan penghapus lebih lanjut (4%) (Indonesia EIF 1 Jan 2010, dalam tahap proses ratifikasi) Sensitive Track (ST) - 8% dari total pos tarif 6 digit dan nilai dagang. ASEAN – Australia – New Zealand 27 Februari 2009 Direncanakan 1 Januari 2010 Komprehensif Entry Into Force 1 Januari 2010: 90% pos tarif NZ dan 91.77% pos tarif Australia akan dihapuskan tarifnya pada tahun 2010 90.23% pos tarif Indonesia akan dihapuskan tarifnya pada tahun 2015 ASEAN – India 13 Agustus 2009 Direncanakan 1 Januari 2010 Perdagangan Barang (perundingan jasa dan investasi sedang dilakukan) Pada tahun 2016 (berakhirnya Normal Track ): 42.56% pos tariff Indonesia akan dihapuskan tarifnya 79.35% pos tariff India akan dihapuskan tarifnya
  8. 8. 2 . Latar Belakang
  9. 9. Latar Belakang AFTA dan ASEAN-China FTA <ul><li>1991 ASEAN FTA disepakati 1992-2007 (kemudian dipercepat ke 2001) </li></ul><ul><li>1996 RRT secara resmi menjadi dialog partner ASEAN; </li></ul><ul><li>1997 (Desember) Joint Statement kepala negara untuk menjalankan ASEAN dan RRT adalah sahabat dan mitra yang saling percaya untuk menyongsong abad 21; </li></ul><ul><li>2000 (Nopember) Pada KTT ASEAN – RRT, Kepala Negara menyepakati gagasan pembentukan ACFTA; </li></ul>
  10. 10. Latar Belakang ASEAN-China FTA <ul><li>2001 (Maret) Dibentuk ASEAN – RRT Economic Expert Group </li></ul><ul><li>2002 (Nopember) Pada KTT ASEAN – RRT, Kepala Negara menandatangani Framework Agreement on Comprehensive Economic Cooperation between ASEAN and the PRC; </li></ul><ul><li>2003 Perundingan ACFTA dimulai dan selesai Juni 2004; </li></ul><ul><li>2003 Bali Concord (Proposal Indonesia – ASEAN Community di terima): AFTA menjadi bagian dari ASEAN Economic Community </li></ul>
  11. 11. Lanjutan… <ul><li>2004 (Nopember) Kesepakatan ACFTA – Barang ditandatangani; (2004-2010) </li></ul><ul><li>2007 AEC diakselerasi dari 2020 ke 2015 </li></ul><ul><li>2007 Kesepakatan ASEAN Charter dan AEC Blue Print ditandatangani </li></ul><ul><li>2008 (Desember) ASEAN Charter berlaku </li></ul>
  12. 12. <ul><li>Tahap I : Early Harvest Program (EHP) </li></ul><ul><li>Chapter 01 sampai dengan Chapter 08 yaitu: </li></ul><ul><li>Binatang hidup, Ikan, Dairy product, </li></ul><ul><li>Tumbuhan, Sayuran, dan buah-buahan. </li></ul><ul><li>Kesepakatan Bilateral (produk spesifik) </li></ul><ul><li>antara lain kopi, Minyak Kelapa/CPO, </li></ul><ul><li>Coklat,barang dari karet, dan perabotan </li></ul><ul><li>- Tarif akan menjadi 0% pada tahun 2006 </li></ul><ul><li>Tahap III : Sensitive / Highly Sensitive List </li></ul><ul><li>- Sensitive List : (a) Tahun 2012 = max 20% ; (b) Pengurangan menjadi 0-5% pada tahun 2018 </li></ul><ul><li>Dengan 304 Produk (HS 6 digit) antara lain Barang Jadi Kulit: tas, dompet; Alas kaki : Sepatu, Casual, Kulit; Kacamata; Alat Musik; Tiup, petik, gesek; Mainan: Boneka; Alat Olah Raga; Alat Tulis; Besi dan Baja; Spare part; Alat angkut; Glokasida dan Alkaloid Nabati; Senyawa Organik; Antibiotik; Kaca; Barang-barang Plastik. </li></ul><ul><li>- Highly Sensitive List : Tahun 2015 tarifnya maksimum 50% </li></ul><ul><li>Dengan 47 Produk (HS 6 digit), yang antara lain terdiri dari Produk Pertanian, seperti Beras, Gula, Jagung dan Kedelai; Produk Industri Tekstil dan produk Tekstil (ITPT);Produk Otomotif; Produk Ceramic Tableware. </li></ul><ul><li>Tahap II : Normal Track I dan II </li></ul><ul><li> </li></ul><ul><li>- Normal Track I Tarif akan menjadi 0% pada tahun 2010 </li></ul><ul><li>- Normal Track II Tarif akan menjadi 0% pada tahun 2012 </li></ul>TAHAPAN PENGHAPUSAN TARIF BEA MASUK
  13. 13. Pengelompokan Barang <ul><li>Normal Track (target of tariff rate = 0%) </li></ul><ul><ul><li>(a) Early Harvest Program (2006) </li></ul></ul><ul><ul><li>(b) NT1 (2010) </li></ul></ul><ul><ul><li>(c) NT2 (2012) </li></ul></ul><ul><li>Sensitive list </li></ul><ul><li>(a) Tahun 2012 tarif menjadi 20% </li></ul><ul><li>(b) Tahun 2018 tarif menjadi 0-5% </li></ul><ul><li>Highly Sensitive list </li></ul><ul><li>Tahun 2015 tarif menjadi 50% (untuk produk yang pada tahun 2002 tingkat tarifnya >50%) </li></ul>
  14. 14. 3 . Kinerja Perdagangan Luar Negeri Indonesia terkait ACFTA
  15. 15. Neraca Perdagangan Indonesia-RRT Sumber: BPS, 2010 Selama periode 1999-2007 Indonesia mencatat surplus perdagangan dengan China. Namun demikian, tahun 2008 dan 2009 (Jan-Okt) mengalami defisit. Defisit neraca perdagangan tahun 2009 mengalami penurunan dibanding 2008.
  16. 16. Struktur Ekspor Non Migas Menurut Negara Tujuan Sumber: BPS (diolah) <ul><li>Peranan China dan India sebagai negara tujuan utama ekspor semakin meningkat. </li></ul><ul><li>Sedangkan dominasi pangsa ekspor ke Uni Eropa, Amerika Serikat dan Jepang mulai berkurang. </li></ul>8
  17. 17. Ekspor Indonesia ke RRT Menurut Sektor Selama periode 1999-2009 pertumbuhan ekspor produk industri mencapai 17,7% per tahun dan pertambangan 72,3% per tahun. Sumber: BPS, 2010
  18. 18. Perkembangan Impor Menurut Negara Asal Peran Impor dari China meningkat p esat, sementara impor dari ASEAN cenderung stabil. Sumber: BPS (diolah)
  19. 19. Impor Indonesia dari RRT Menurut Golongan Penggunaan Barang Impor barang modal dan bahan baku penolong dari China meningkat pesat dengan pertumbuhan rata-rata tahunan masing-masing sebesar 49,8% dan 24,6%. Kedua kelompok barang tersebut digunakan oleh industri dalam negeri untuk pasar dalam negeri maupun ekspor. Sumber: BPS, 2010
  20. 20. Sepanjang tahun 2000 hingga 2008, neraca perdagangan tumbuh 10% yang mengindikasikan masih adanya pertumbuhan ekspor, terutama di sektor non-migas Sumber: BPS, 2010 Ket : * : Angka sementara
  21. 21. Skema Tarif Bea Masuk Perkembangan Skema Bea M a suk Sumber: Kemendag, 2009 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 MFN 9.9 9,9 9,5 7,8 7,6 7,5 7,49 CEPT 3.4 2,8 2,8 2,0 1,9 1,9 0 ACFTA 9.9 9,6 9,5 6,4 6,4 3,8 2,9 AKFTA 9.9 9.9 9.5 6,6 6,0 2,6 2,6 AANZ 9.9 9,9 9,5 7,8 7,6 7,5 - IJEPA 9.9 9.9 9.5 7.8 5,2 4,5 2,97
  22. 22. JUMLAH DAN NILAI SKA PER JENIS SKA PERIODE 2007 S/D OKTOBER 2009 Sumber: Kemendag, 2009
  23. 23. Impor dengan Fasilitas FTA masih relatif kecil <ul><li>Perjanjian FTA yang telah disepakati oleh Pemerintah Indonesia masih belum banyak. </li></ul><ul><li>Secara agregat pelaksana perdagangan dengan skema FTA relatif kecil dibandingkan dengan skema MFN karena diperlukan kepatuhan administrasi (Form E) dalam skema FTA. </li></ul>
  24. 24. <ul><li>Manfaat FTA dengan RRT : </li></ul><ul><li>akses untuk produk Indonesia di pasar RRT </li></ul><ul><li>peningkatan investasi dan Indonesia sebagai basis </li></ul><ul><li>produksi </li></ul><ul><li>(impor bahan baku dan barang modal naik dari 83,7% dari seluruh </li></ul><ul><li>impor pada tahun 2000 menjadi 91 persen pada tahun 2008) </li></ul><ul><li>Masalah dan Solusi: </li></ul><ul><li>Sejumlah sektor khawatir menghadapi dampak negatif FTA </li></ul><ul><li>(3% dari total tariff line ) sehingga Pemerintah dan bisnis </li></ul><ul><li>membentuk Tim Bersama untuk mengkoordinasikan </li></ul><ul><li>langkah-langkah secara komprehensif meningkatkan daya </li></ul><ul><li>saing dan membicarakan ulang pelaksanaan AC-FTA untuk </li></ul><ul><li>beberapa sektor tersebut. </li></ul>PELUANG DAN TANTANGAN
  25. 25. 4 . Langkah-langkah d alam Rangka Pelaksanaan AC-FTA
  26. 26. TIM MENINGKATKAN DAYA SAING <ul><li>Organisasi : </li></ul><ul><ul><li>Membentuk Tim Koordinasi Penanganan Hambatan Industri dan Perdagangan (SK.Menko Perekonomian No Kep-42/M.EKON/12/2009) </li></ul></ul><ul><ul><li>Pengarah : Menko Perekonomian dan para menteri terkait </li></ul></ul><ul><ul><li>Tim Pelaksana : para pejabat Eselon I dari KL terkait dan pelaku usaha (KADIN dan APINDO) dan 3 Tim Teknis yang fokus kepada: </li></ul></ul><ul><ul><ul><li>Penguatan Daya Saing Global </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Pengamanan Pasar Domestik </li></ul></ul></ul><ul><ul><ul><li>Penguatan Ekspor </li></ul></ul></ul><ul><li>Tugas Tim </li></ul><ul><ul><li>Identifikasi dan analisis masalah/hambatan </li></ul></ul><ul><ul><li>Koordinasi penyelesaian masalah/hambatan industri dan perdagangan </li></ul></ul><ul><ul><li>Pemantauan dan evaluasi penyelesaian hambatan </li></ul></ul>
  27. 27. STRATEGI I: PENGUATAN DAYA SAING GLOBAL <ul><li>Penanganan issue domestik, meliputi : </li></ul><ul><ul><ul><ul><li>Penataan lahan dan kawasan industri </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Pembenahan infrastruktur dan energi, </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Pemberian insentif (pajak maupun non pajak lainnya) </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Membangun kawasan ekonomi khusus (KEK), </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Perluasan akses pembiayaan dan pengurangan biaya bunga ( KUR, Kredit Ketahanan Pangan dan Energi, modal ventura, keuangan syariah, anjak piutang, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia , dsb); </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Pembenahan sistem logistik; </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Perbaikan pelayanan publik (NSW, PTSP/SPIPISE dsb) </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Penyederhanaan peraturan </li></ul></ul></ul></ul><ul><ul><ul><ul><li>Peningkatan kapasitas ketenagakerjaan </li></ul></ul></ul></ul>
  28. 28. STRATEGI II: PENGAMANAN PASAR DOMESTIK <ul><li>Pengawasan di Border </li></ul><ul><ul><li>Meningkatkan pengawasan ketentuan impor dan ekspor dalam pelaksanaan FTA </li></ul></ul><ul><ul><li>Menerapkan Early Warning System untuk pemantauan dini terhadap kemungkinan terjadinya lonjakan impor </li></ul></ul><ul><ul><li>Pengetatan pengawasan penggunaan Surat Keterangan Asal barang (SKA) dari Negara Negara mitra FTA </li></ul></ul><ul><ul><li>Pengawasan awal terhadap kepatuhan SNI, Label, Ingridien, kadaluarsa, kesehatan, lingkungan, security dsb. </li></ul></ul><ul><ul><li>Penerapan instrumen perdagangan yang diperbolehkan WTO ( safeguard measures) terhadap industry yang mengalami kerugian yang serius ( seriously injury ) akibat tekanan impor (import surges) </li></ul></ul><ul><ul><li>Penerapan instrumen anti dumping dan countervailing duties atas importasi yang unfair </li></ul></ul>
  29. 29. STRATEGI II: PENGAMANAN PASAR DOMESTIK <ul><li>Peredaran barang di pasar Lokal </li></ul><ul><ul><li>Task Force pengawasan peredaran barang yang tidak sesuai dengan ketentuan perlindungan konsumen dan industri </li></ul></ul><ul><ul><li>Kewajiban penggunaan label dan manual berbahasa Indonesia </li></ul></ul><ul><li>Promosi penggunaan produksi dalam negeri </li></ul><ul><ul><li>Mengawasi efektifitas promosi penggunaan produksi dalam negeri (Inpres No 2 tahun 2009) </li></ul></ul><ul><ul><li>Mengalakkan program 100% Cinta Indonesia dan Industri Kreatif </li></ul></ul>
  30. 30. STRATEGI III: PENGUATAN EKSPOR <ul><li>Mengoptimalkan peluang pasar RRT dan ASEAN </li></ul><ul><li>Penguatan peran perwakilan luar negeri (ATDAG/TPC) </li></ul><ul><li>Promosi Pariwisata, perdagangan dan Investasi (TTI) </li></ul><ul><li>Penanggulangan masalah dan kasus ekspor, </li></ul><ul><li>Pengawasan SKA Indonesia </li></ul><ul><li>Peningkatan peran LPEI dalam mendukung pembiayaan ekspor </li></ul>
  31. 31. PEMBICARAAN ULANG <ul><li>Pemerintah (Kementerian Perdagangan) telah menyampaikan surat kepada Sekjen ASEAN 31/12/ 09 mengenai: </li></ul><ul><ul><li>Indonesia tetap melaksanakan komitmen sesuai jadwal </li></ul></ul><ul><ul><li>Menjelaskan bahwa beberapa sektor menyampaikan kekhawatiran atas pelaksanaan AC-FTA dan akan bahas pada kesempatan pertama </li></ul></ul><ul><ul><li>Sebagai tindak lanjut telah melakukan komunikasi dengan pihak-pihak terkait untuk membahas langkah-langkah yang dapat mengatasi kekhawatiran beberapa sektor dan mencari mekanisme yang tepat untuk mencari solusi win-win sesuai dengan kepentingan nasional. </li></ul></ul>
  32. 32. Terima Kasih www.depdag.go.id

×