BAB II         KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKANA. Kajian Teori   1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)           ...
8     c. Attitudes (sikap)           dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok sikap yang           diperlukan untuk tingk...
9bumi ini dalam konteks sosialnya atau manusia sebagai anggotamasyarakat.    Dengan pertimbangan bahwa manusia dalam konte...
103.   Pembelajaran IPS SD          Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata     pelajaran yang diberikan m...
114. Belajar   a. Pengertian belajar             Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses laku,      akibat inte...
12b. Prinsip Belajar           Prinsip belajar dibagi menjadi dua yaitu prinsip umum   belajar dan prinsip belajar pada ak...
13c.   Teori-teori Belajar           Teori   belajar    sangat   beraneka    ragam.     Setiap   teori     mempunyai landa...
14        pengalaman yang terjadi secara tiba-tiba, seperti ketika        seseorang    menemukan      ide     baru    atau...
15   kreatif, sikap terbuka dan demokratis, menerima orang lain dan   sebagainya. Tujuan ini merupakan konsekuensi logis d...
16diperlukan adanya suatu rancangan atau pembelajaran.Salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran.        Mengarah ...
17        Penggunaan model pembelajaran yang tepatdapat mendorong tumbuhnya rasa senang siswa terhadappelajaran, menumbuhk...
18     pembelajaran sesuai dengan sifat dan karakteristik dari     materi yang akan dipelajari.2)   Jenis-jenis Model Pemb...
19        menciptakan dan mengembangkan modelpembelajaran        yang sesuai tujuan pembelajaran tertentu.f. Model pembela...
20a)    Positive interdependence: saling tergantung secara      positif, artinya anggota kelompok menyadari      bahwa mer...
21   i)   Setiap anggota kelompok berbagi kepemimpinan        dan membutuhkan ketrampilan untuk belajar besama        pros...
22   diciptakan harus sesuai dengan pembelajaran yang sudah   ada.4) Model pembelajaran Snowball Throwing   a) Pengertian ...
23   memadukan pendekatan komunikatif, integratif, dan   keterampilan proses.          Kegiatan melempar bola pertanyan in...
24   pertanyaan tidak menggunakan tongkat seperti   model pembelajaran Talking Stik akan tetapi   menggunakan kertas beris...
25     diajarkan      serta    saling   memberikan     pengetahuan.2)   Siswa lebih memahami dan mengerti secara     menda...
26   9)   Siswa akan lebih bisa menerima keragaman        atau heterogenitas suku, sosial, budaya, bakat        dan intele...
27               7) Bola kertas tersebut dilempar dan dikerjakan                     secara bergantian sampai semua soal h...
28                Hasil yang dicapai siswa dalam belajar, yang menunjukkan           taraf kemampuan siswa dalam mengikuti...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Bab ii

1,420 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,420
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
464
Actions
Shares
0
Downloads
21
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bab ii

  1. 1. BAB II KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKANA. Kajian Teori 1. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) IPS dapat diartikan dengan “penelaahan atau kajian tentang masyarakat”. Dalam mengkaji masyarakat, guru dapat melakukan kajian dari berbagai perspektif sosial, seperti kajian melalui pengajaran sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik-pemerintahan, dan aspek psikologi sosial yang disederhanakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Menurut Soebijantoro (Jarolimek, 1982:56 dalam jurnal premiere educandum IKIP PGRI Madiun) tujuan pembelajaran IPS dikelompokkan menjadi empat kategori antara lain: a. Knowledge merupakan tujuan utama pendidikan IPS, yaitu membantu peserta didik belajar tentang diri mereka sendiri dan lingkungannya. b. Ketrampilan dalam hal ini mencakup ketrampilan berpikir (thinking skills) 7
  2. 2. 8 c. Attitudes (sikap) dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok sikap yang diperlukan untuk tingkah laku berpikir (intelectual behaviour) dan tingkah laku sosial (social behaviour) d. Value adalah nilai yang terkandung dalam masyarakat yang didapatkan dari lingkungan masyarakat sekitar maupun lembaga pemerintahan (falsafah bangsa). Termasuk di dalamnya adalah nilai-nilai kepercayaan, nilai ekonomi, pergaulan antar manusia, ketaatan pada pemerintah, hukum dan lain lain. (Jarolimek, 1982:56)2. Ruang lingkup IPS Secara mendasar, pembelajaran IPS berkenaan dengan kehidupan manusia yang melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. IPS berkenaan dengan cara manusia memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan untuk memenuhi materi, budaya, dan kejiwaannya, memanfaatkan sumber-daya yang ada dipermukaan bumi, mengatur kesejahteraan dan pemerintahannya maupun kebutuhan lainnya dalam rangka mempertahankan kehidupan masyarakat manusia. Singkatnya, IPS mempelajari, menelaah, dan mengkaji sistem kehidupan manusia di permukaan
  3. 3. 9bumi ini dalam konteks sosialnya atau manusia sebagai anggotamasyarakat. Dengan pertimbangan bahwa manusia dalam konteks sosialdemikian luas, pengajaran IPS pada jenjang pendidikan harusdibatasi sesuai dengan kemampuan peserta didik tiap jenjang,sehingga ruang lingkup pengajaran IPS pada jenjang pendidikandasar berbeda dengan jenjang pendidikan menengah danpendidikan tinggi. Pada jenjang pendidikan dasar, ruang lingkuppengajaran IPS dibatasi sampai pada gejala dan masalah sosialyang dapat dijangkau pada geografi dan sejarah.Terutama gejaladan masalah sosial kehidupan sehari-hari yang ada di lingkungansekitar peserta didik MI/SD. Sebagaimana telah dikemukakan di depan, bahwa yangdipelajari IPS adalah manusia sebagai anggota masyarakat dalamkonteks sosialnya, ruang lingkup kajian IPS meliputi (1) substansimateri ilmu-ilmu sosial yang bersentuhan dengan masyarakat dan(2) gejala, masalah, dan peristiwa sosial tentang kehidupanmasyarakat. Kedua lingkup pengajaran IPS ini harus diajarkansecara terpadu karena pengajaran IPS tidak hanya menyajikanmateri-materi yang akan memenuhi ingatan peserta didik tetapijuga untuk memenuhi kebutuhan sendiri sesuai dengan kebutuhandan tuntutan masyarakat. Oleh karena itu, pengajaran IPS harusmenggali materi-materi yang bersumber pada masyarakat.
  4. 4. 103. Pembelajaran IPS SD Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan mulai dari SD/MI/SDLB sampai SMP/MTs/SMPLB. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran IPS memuat materi geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai. Di masa yang akan datang peserta didik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis. Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan.
  5. 5. 114. Belajar a. Pengertian belajar Secara umum belajar dapat diartikan sebagai proses laku, akibat interaksi individu dengan lingkungan. Menurut Skinner (dalam Angkowo dan Kosasih, 2007: 47) belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Menurut pengertian secara psikologis, belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan (dalam Slameto, 2010: 2). Menurut Winkel (dalam Angkowo dan Kosasih 2007: 48) “Belajar berarti perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan, misalnya membaca, mengamati, mendengarkan dan meniru”. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses yang di dalamnya terjadi suatu interaksi antara seseorang (siswa) dengan lingkungan yang mengakibatkan adanya perubahan tingkah laku yang akan memberikan suatu pengalaman baik bersifat kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan).
  6. 6. 12b. Prinsip Belajar Prinsip belajar dibagi menjadi dua yaitu prinsip umum belajar dan prinsip belajar pada aktivitas siswa. 1) Prinsip Umum Belajar Belajar menurut Wingo (1970:194) didasarkan atas prinsip- prinsip sebagai berikut : a) Hasil belajar sepatutnya menjangkau banyak segi b) Hasil belajar diperoleh berkat pengalaman c) Belajar merupakan suatu kegiatan yang mempunyai tujuan 2) Prinsip Belajar pada Aktivitas Siswa Prinsip belajar yang menekankan pada aktivitas siswa, antara lain : a) Belajar dapat terjadi dengan proses mengalami b) Belajar merupakan transaksi aktif c) Belajar secara aktif memerlukan kegiatan yang bersifat vital, sehingga dapat berupaya mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhan pribadinya d) Belajar terjadi melalui proses mengatasi hambatan (masalah) sehingga mencapai pemecahan atau tujuan e) Hanya dengan melalui penyodoran masalah memungkinkan diaktifkannya motivasi dan upaya, sehingga siswa berpengalaman dengan kegiatan yang bertujuan
  7. 7. 13c. Teori-teori Belajar Teori belajar sangat beraneka ragam. Setiap teori mempunyai landasan sebagai dasar perumusan. Teori belajar dibagi menjadi tiga, yaitu: 1) Teori belajar asosiasi Menurut ahli psikologi asosiasi, perilaku individu pada hakekatnya terjadinya karena adanya perilaku atau hubungan antara stimulus (rangsang) dan respons (jawab). Dengan membuat kode S untuk stimulus dan R untuk respon, dapat dikatakan bahwa suatu S mempunyai ikatan atau bond dengan R tertentu. Oleh karena itu, teori ini dikenal dengan S R Bond Theory. Belajar menurut teori ini adalah membentuk ikatan atau hubungan antara S R. 2) Teori belajar Gestalt Psikologi gestalt memandang bahwa belajar terjadi jika diperoleh insight (pemahaman). Insight timbul secara tiba-tiba, jika individu telah dapat melihat hubungan antara unsur-unsur dalam situasi problematis. Dapat pula dikatakan bahwa insight timbul pada saat individu dapat memahami struktur yang semula merupakan suatu masalah. Dengan kata lain insight adalah semacam reorganisasi
  8. 8. 14 pengalaman yang terjadi secara tiba-tiba, seperti ketika seseorang menemukan ide baru atau menemukan pemecahan masalah suatu masalah. (Gagne, 1970:14)3) Teori belajar kognitif Berdasarkan teori belajar kognitif, belajar merupakan suatu proses terpadu yang berlangsung di dalam diri seseorang dalam upaya memperoleh pemahaman dan struktur kognitif baru, atau untuk mengubah pemahaman dan struktur kognitif lama. Memperoleh pemahaman berarti menangkap makna atau arti dari suatu obyek atau suatu situasi yang dihadapi. Sedangkan struktur kognitif adalah persepsi atau tanggapan seseorang tentang keadaan dalam lingkungan sekitarnya yang memperoleh ide-ide, perasaan, tindakan dan hubungan sosial orang yang bersangkutan.d. Tujuan belajar Tujuan belajar sebenarnya sangat banyak dan bervariasi. Tujuan belajar yang eksplisit diusahakan untuk dicapai dengan tindakan instruksional, yang lazim dinamakan instructional effects, yang biasa berbentuk pengetahuan dan keterampilan. Sementara, tujuan belajar sebagai hasil yang menyertai tujuan belajar instruksional lazim disebut nurturant effects. Bentuknya berupa, kemampuan berfikir kritis dan
  9. 9. 15 kreatif, sikap terbuka dan demokratis, menerima orang lain dan sebagainya. Tujuan ini merupakan konsekuensi logis dari peserta didik “menghidupi” (live in) suatu sistem lingkungan belajar tertentu. Rogers (dalam Angkowo dan Kosasih, 2007: 49) sangat menekankan pentingnya relasi dan komunikasi dalam proses pembelajaran. Sebab menurut mereka, pendidikan akan berfaedah besar, apabila dapat menumbuhkembangkan kepribadian manusia. Berkaitan dengan hal-hal di atas, serta mencermati perkembangan dunia sekarang, tujuan belajar dalam pendidikan yang humanistik sekarang adalah mengembangkan strategi dan teknologi yang lebih manusiawi dalam rangka menciptakan ketahanan dan keterampilan manusia guna menghadapi kehidupan yang secara terus menerus berubah.e. Model Pembelajaran 1) Hakikat Model Pembelajaran Pada dasarnya setiap guru menginginkan agar materi pelajaran yang disampaikan kepada anak didiknya dapat dipahami secara tuntas, maka dalam melaksanakan suatu kegiatan pembelajaran agar berjalan optimal maka
  10. 10. 16diperlukan adanya suatu rancangan atau pembelajaran.Salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran. Mengarah pada suatu pembelajaran, modelpembelajaran merupakan suatu perencanaan atau suatupola yang digunakan sebagai pedoman dalammerencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajarandalam tutorial dan untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk di dalamnya buku-buku, film, komputer, kurikulum dan lain-lain (dalamTrianto, 2009: 22). Selanjutnya Joyce (dalam Trianto,2009: 22) menyatakan bahwa setiap model pembelajaranmengarahkan kita dalam mendesain pembelajaran untukmembatu peserta didik sedemikian rupa sehingga tujuanpembelajaran tercapai. Dalam hal ini penggunaan model-modelpembelajaran yang dipilih guru hendakya dapatmendorong siswa untuk belajar dengan mendayagunakanpotensi yang mereka miliki secara optimal. Denganmenggunakan model pembelajaran diharapkan belajaryang kita lakukan bukan hanya sekedar mendengar,menyerap, atau memperoleh informasi yang disampaikanguru.
  11. 11. 17 Penggunaan model pembelajaran yang tepatdapat mendorong tumbuhnya rasa senang siswa terhadappelajaran, menumbuhkan dan meningkatkan motivasidalam mengerjakan tugas, memberikan kemudahan bagisiswa untuk memahami pelajaran sehinggamemungkinkan siswa mencapai hasil belajar yang lebihbaik. Karena itu melalui pemilihan model pembelajaranyang tepat guru dapat memilih atau menyesuaikan jenispendekatan dan metode pembelajaran dengankarakteristrik materi pelajaran yang disajikan. Halpenting yang harus diingat bahwa tidak ada satu strategipembelajaran yang paling ampuh untuk segala situasi.Maksudnya, dalam mengajarkan suatu pokok bahasan(materi) tertentu harus dipilih model pembelajaran yangpaling sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Olehkarena itu, dalam memilih suatu model pembelajaranharus memiliki pertimbangan-pertimbangan. Misalnya,materi pelajaran, tingkat perkembangan kognitif siswa,dan sarana atau fasilitas yang tersedia, sehingga tujuanpembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai. Dalam implementasi di lapangan, model-modelpembelajaran bisa diterapkan secara sendiri-sendiri, danbisa juga menerapkan gabungan dari beberapa model
  12. 12. 18 pembelajaran sesuai dengan sifat dan karakteristik dari materi yang akan dipelajari.2) Jenis-jenis Model Pembelajaran Kardi dan Nur (dalam Trianto, 2009) mengemukakan bahwa ada lima model pembelajaran yang dapat digunakan dalam mengelola pembelajaran yaitu : a) Model pembelajaran Langsung b) Model Pembelajaran Kooperatif c) Model pembelajaran Berbasis Masalah d) Model pembelajaran Diskusi e) Learning strategi Sedangkan menurut ( 2008: 7) jenis-jenis model pembelajaran itu diantaranya : a) Model pembelajaran Konstekstual b) Model pembelajaran Kooperatif c) Model pembelajaran Kuantum d) Model pembelajaran Terpadu e) Model pembelajaran Berbasis Masalah Guru tidak hanya dapat menggunakan model pembelajaran yang sudah ada, tetapi juga dapat
  13. 13. 19 menciptakan dan mengembangkan modelpembelajaran yang sesuai tujuan pembelajaran tertentu.f. Model pembelajaran kooperatif 1) Pengertian model pembelajaran kooperatif Kelough dan Kelough (1999) mendefinisikan cooperative learning sebagai suatu strategi pembelajaran yang secara berkelompok, siswa belajar bersama dan saling membantu dalam membuat tugas dengan penekanan pada saling support di antara anggota. Pembelajaran bersifat kooperatif bukan kompetitif. Menurut teori motivasi, tujuan kooperatif menciptakan suatu situasi di mana keberhasilan adalah mereka tercapai bila siswa lain juga mencapai tujuan tersebut. Dalam kegiatan kooperatif setiap individu akan bekerja sama dengan individu lain untuk mencari hasil yang menguntungkan bagi seluruh anggota kelompoknya. 2) Prinsip dan Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif Ada lima prinsip yang mendasari pembelajarn koopeartif, yaitu :
  14. 14. 20a) Positive interdependence: saling tergantung secara positif, artinya anggota kelompok menyadari bahwa mereka perlu bekerja sama untuk mencapai tujuanb) Face to face interaction : semua anggota berinteraksi dengan saling berhadapanc) Individual accountability : setiap anggota harus belajar dan menyumbang demi pekerjaan dan keberhaslan kelompokd) Use of collaborative/ social skills : ketrampilan bekerjasama dan bersosialisasi diperlukan, untuk ini diperlukan bimbingan guru agar siswa dapat berkolaborasie) Group processing : siswa perlu menilai bagaimana mereka bekerja secara efektiff) Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.g) Setiap anggota kelompok harus mengetauhi bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.h) Setiap angggota kelompok harus membagi tugas dan tanggung jawabyang sama diantara anggota kelompoknya.
  15. 15. 21 i) Setiap anggota kelompok berbagi kepemimpinan dan membutuhkan ketrampilan untuk belajar besama proses belajarnya. j) Setiap anggota kelompok akan dikenai evaluasi. k) Setiap anggota kelompok akan diminta mempertanggungjawabkan secara individual mengenai materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.3) Macam-macam Model Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif memiliki berbagai macam tipe. Suyatno (2009) menyatakan bahwa ada sekitar 96 variasi model pembelajaran kooperatif diantaranya Student Team Achievement Division, Numbered Head Together, Jigsaw, Think Pair Share, Taems Games Tournament, Group Investigation, Contextual Teaching dan Learning, Team Assised Individually, Problem Based Instruction, Pair Check, Snowball Throwing dan masih ada tipe lainya. Guru dapat menciptakan model pembelajaran sendiri sesuai ciri khasnya dalam mengajar. Namun perlu diperhatikan agar model pembelajaran kooperatif yang
  16. 16. 22 diciptakan harus sesuai dengan pembelajaran yang sudah ada.4) Model pembelajaran Snowball Throwing a) Pengertian Model Pembelajaran Snowball Throwing Snowball Throwing adalah paradigma pembelajaran efektif yang merupakan rekomendasi UNESCO, yakni: belajar mengetahui (learning to know), belajar bekerja (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar menjadi diri sendiri (learning to be) (Depdiknas, 2001:5). Model pembelajaran kooperatif tipe Snowball Throwing merupakan salah satu model pembelajaran yang dikembangkan berdasarkan pendekatan kontekstual (CTL). Snowball Throwing yang menurut asal katanya berarti „bola salju bergulir‟ dapat diartikan sebagai model pembelajaran dengan menggunakan bola pertanyaan dari kertas yang digulung bulat berbentuk bola kemudian dilemparkan secara bergiliran, model Snowball Throwing ini
  17. 17. 23 memadukan pendekatan komunikatif, integratif, dan keterampilan proses. Kegiatan melempar bola pertanyan ini akan membuat kelompok menjadi dinamis, karena kegiatan siswa tidak hanya berpikir, menulis, bartanya, atau berbicara. Akan tetapi mereka juga melakukan aktivitas fisik yaitu menggulung kertas dan melemparkannya pada siswa lain. Dengan demikian, tiap anggota kelompok akan mempersiapkan diri karena pada gilirannya mereka harus menjawab pertanyaan dari temannya yang terdapat dalam bola kertas. Dalam model Snowball Throwing, guru berusaha memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan keterampilan menyimpulkan isi berita atau informasi yang mereka peroleh dalam konteks nyata dan situasi yang kompleks.b) Tujuan Pembelajaran Snowball Throwing Model Pembelajaran Snowball Throwing melatih siswa untuk lebih tanggap menerima pesan dari orang lain, dan menyampaikan pesan tersebut kepada temannya dalam satu kelompok. Lemparan
  18. 18. 24 pertanyaan tidak menggunakan tongkat seperti model pembelajaran Talking Stik akan tetapi menggunakan kertas berisi pertanyaan yang diremas menjadi sebuah bola kertas lalu dilempar-lemparkan kepada siswa lain. Siswa yang mendapat bola kertas lalu membuka dan menjawab pertanyaannya (Widodo, 2009: 1). Di dalam metode pembelajaran snowball throwing, strategi memperoleh dan pendalaman pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan tersebut ( Tunggal, 2011 : 17). Kesimpulan dari uraian diatas mengenai tujuan pembelajaran dengan menggunakan model Snowball Throwing adalah untuk meningkatkan keberanian siswa dalam menyusun pertanyaan dan bertanya dengan tuntunan pertanyaan yang diberikan oleh teman ataupun guru.c) Kelebihan model pembelajaran Snowball Throwing 1) Melatih kesiapan siswa dalam merumuskan pertanyaan dengan bersumber pada materi yang
  19. 19. 25 diajarkan serta saling memberikan pengetahuan.2) Siswa lebih memahami dan mengerti secara mendalam tentang materi pelajaran yang dipelajari. Hal ini disebabkan karena siswa mendapat penjelasan dari teman sebaya yang secara khusus disiapkan oleh guru serta mengerahkan penglihatan, pendengaran, menulis dan berbicara mengenai materi yang didiskusikan dalam kelompok.3) Dapat membangkitkan keberanian siswa dalam mengemukakan pertanyaan kepada teman lain maupun guru.4) Melatih siswa menjawab pertanyaan yang diajukan oleh temannya dengan baik.5) Merangsang siswa mengemukakan pertanyaan sesuai dengan topik yang sedang dibicarakan dalam pelajaran tersebut.6) Dapat mengurangi rasa takut siswa dalam bertanya kepada teman maupun guru.7) Siswa akan lebih mengerti makna kerjasama dalam menemukan pemecahan suatu masalah.8) Siswa akan memahami makna tanggung jawab.
  20. 20. 26 9) Siswa akan lebih bisa menerima keragaman atau heterogenitas suku, sosial, budaya, bakat dan intelegensia. 10) Siswa akan terus termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya.d) Tahap-tahap model pembelajaran Snowball Throwing 1) Guru menyampaikan materi secara singkat tentang pembagian wilayah laut Indonesia 2) Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok 3) Guru menjelaskan aturan dari permainan snowball throwing 4) Guru membagikan satu bola kertas yang berisi soal kepada masing-masingkelompok 5) Masing-masing kelompok diberi waktu sekitar tiga menit untuk menjawab soal yang ada di dalam kertas tersebut 6) Setelah waktu yang diberikan habis, kertas tersebut dibentuk bola kembali dan dilempar ke kelompok lain
  21. 21. 27 7) Bola kertas tersebut dilempar dan dikerjakan secara bergantian sampai semua soal habis 8) Perwakilan dari masing-masing kelompok mempresentasikan jawaban dari kelompoknya 9) Guru membahas jawaban bersama siswa 10) Guru memberikan penghargaan pada kelompok terbaikg. Hasil belajar Hasil belajar merupakan kemampuan yang diperolehindividu setelah proses belajar berlangsung yang dapatmemberikan tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikapdan keterampilan siswa sehingga menjadi lebih baik darisebelumnya. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Hamalik (1995 : 48 )hasil belajar adalah “perubahan tingkah laku subyek yang meliputi kemampuan kognitif, afektif dan psikomotor dalam situasi tertentu berkat pengalamanya berulang-ulang”. Pendapat tersebut didukung oleh Sudjana (2006 ; 3) “ hasil belajar ialah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotor yang dimiliki setelah siswa menerima pengalaman belajarnya”
  22. 22. 28 Hasil yang dicapai siswa dalam belajar, yang menunjukkan taraf kemampuan siswa dalam mengikuti program belajar dalam waktu tertentu sesuai dengan kurikulum yang telah ditentukan. Hasil belajar ini sering dicerminkan sebagai nilai (hasil belajar) yang menentukan berhasil tidaknya siswa belajar. Hasil belajar merupakan terminal dari proses pendidikan dan pengajaran.B. Hipotesis Tindakan Hipotesis tindakan dari penelitian ini adalah Peningkatan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada materi Pembagian Wilayah Laut Indonesia dengan menggunakan model pembelajaran Snowball Throwing pada siswa kelas VI SDN 01 Manguharjo Kota Madiun tahun pelajaran 2012/2013.

×