Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

PROPOSAL "PEMBUATAN PABRIK GULA DEXTROSE di LAMPUNG

7,657 views

Published on

Untuk dapat tetap mengendalikan harga serta nilai manfaat dari ubikayu tersebut maka masih perlu terus mengembangkan jenis indutri lain yang masih sangat diperlukan hasil produknya baik kebutuhan dalam negeri ataupun ekspor yang dapat meningkatkan minat masyarakat dalam mengoptimalkan fungsi lahan untuk kemakmuran masyarakat dan tentunya dapat menyumbangkan peningkatan terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten TULANG BAWANG BARAT – LAMPUNG UTARA khususnya serta devisa Negara umumnya, karena peluang ekspor masih sangat terbuka.
Salah satu Industri Pengolah yang kami anjurkan adalah Pabrik Gula yang dapat menghasilkan Dextrose Monohidrat (DM) dan Glucose Liquid (GL).

Hubungi Kami jika ada Investor yang tertarik, kami akan presentasikan secara menyeluruh....
welly.febrianto2@gmail.com

Published in: Investor Relations
  • Be the first to comment

PROPOSAL "PEMBUATAN PABRIK GULA DEXTROSE di LAMPUNG

  1. 1. PROPOSAL INDUSTRI GULA “DEXTROSE MONOHIDRAT (DM) & GLUCOSA LIQUID (GL) “ (Bahan Baku Ubi Kayu) LAMPUNG UTARA – TULANG BAWANG BARAT Di ajukan Oleh: ABDUL MULUK, B.Sc KP. MULYA JAYA –BLOK BANDUNG – RT 20, RW 04 KECAMATAN TULANG BAWANG TENGAH KABUPATEN TULANG BAWANG BARAT PROPINSI LAMPUNG Tahun 2016
  2. 2. LEMBAR PERSETU Menyetujui: Penggagas & Penga (Abdul Muluk, B.S Investor (____________________ ii TUJUAN garah: B.Sc) ___)
  3. 3. DAFTAR ISI Halaman COVER i LEMBAR PERSETUJUAN ii DAFTAR ISI ---------------------------------------------------------------- iii BAB I . EXECUTIVE SUMMARY 1 BAB II. TINJAUAN UMUM 4 2.1. Ide Pembukaan Pabrik 2.2. Peta Lokasi Pabrik 2.3. Tata Letak Pabrik 2.4. Tata Letak Alat 2.5. Manajemen dan Organisasi Perusahaan 2.5.1. Struktur Organisasi 2.6. Ketenagakerjaan 2.7. Pemasaran Produk BAB III PROSES PENGOLAHAN 12 3.1. Bahan Baku Utama 3.2. Bahan Penunjang 3.2.1. Enzim 3.2.2. Senyawa-senyawa penunjang 3.3. Peta Aliran Proses 3.4. Proses Pengolahan Tapioka Menjadi Gula 3.4.1. Pencampuran 3.4.2. Liquifikasi 3.4.3. Sakarifikasi 3.4.4. Decolorisasi 3.4.5. Filtrasi 3.4.6. Deionisasi 3.4.7. Evaporasi 3.4.8. Pengemasan 3.5. Produk 3.5.1. Glukose Liquid (GL) 3.5.2. Golden Fruktose (GF) BAB IV SPESIFIKASI ALAT 22 4.1. Tangki Pencampuran 4.2. Tangki Liquifikasi 4.3. Tangki Sakarafikasi 4.4. Tangki Decolorisasi 4.5. Tangki Filtrasi 4.6. Ion Exhanger 4.7. Tangki Penyimpanan sementara 4.8. Evaporator iii
  4. 4. BAB V SARANA PENUNJANG PRODUKSI 24 5.1. Sumber Air 5.1.1. Pengendapan 5.1.2. Penyaringan dan Disinfeksi 5.2. Steam (Uap) 5.3. Bahan Bakar 5.4. Sumber Tenaga Listrik 5.5. Alat Transportasi BAB VI SANITASI DAN PENANGANAN LIMBAH 27 6.1. Sanitasi Ruangan 6.2. Sanitasi Peralatan 6.3. Sanitasi Pekerja 6.4. Sanitasi Lingkungan 6.5. Penanganan Limbah BAB VII PENGAWASAN MUTU 30 7.1. Pemeriksaan Mutu Bahan Baku 7.2. Pengawasan Mutu Selama Proses 7.3. Pengawasan Mutu Produk BAB VIII ANGGARAN BIAYA 31 BAB IX ANALISA KELAYAKAN USAHA 35 BAB X KESIMPULAN 38 TENTANG PENGGAGAS 39 iv
  5. 5. 1 I. EXECUTIVE SUMMARY Ubikayu merupakan salah satu komoditi yang memiliki kontribusi yang cukup besar bagi perekonomian Nasional. Terbukti Kontribusi komoditi tersebut terhadap Produk Domistik Bruto (PDB) sektor Tanaman Pangan sudah mencapai 6,1 triliun rupiah pada tahun 2003 yang merupakan sumbangan terbesar ketiga setelah padi dan jagung terhadap PDB sektor tanaman pangan. Angka tersebut terus meningkat meskipun tidak menunjukkan angka yang menyolok. Produksi ubikayu di Indonesia pada tahun 2004 dan 2005 rata-rata mencapai 19,45 juta ton/tahun. Peningkatan semakin pesat sejak tahun 2007 hingga kini. Produksi Ubikayu Indonesia 85% diantaranya masih diserap oleh industri dan konsumsi dalam Negeri sedang sisanya di Ekspor dalam bentuk gaplek/ chips dan tepung tapioka. Data menunjukkan bahwa prospek dan peluang agribisnis ubikayu untuk kebutuhan dalam dan luar negeri masih sangat terbuka. Propinsi LAMPUNG berpotensi cukup baik sesuai dengan letak geografis Sumatera Selatan yang strategis dengan ketinngian +/- 440 m DPL, beriklim tropis dengan curah hujan tinggi dalam satu bulan rata-rata 7 hari hujan. Iklim yang demikian ditunjang oleh adanya lahan subur yang berasal dari banyaknya aliran sungai, menyebabkan sebagian besar dari luas tanahnya baik untuk digunakan pertanian, termasuk untuk pengembangan tanaman ubikayu, khususnya di TULANG BAWANG BARAT – LAMPUNG UTARA yang memiliki areal petani mencapai 50.000 Ha. Dari luas tersebut dapat dialokasikan +/- 1032 Ha untuk tanaman singkong serta +/- 300 Ha dicadangkan untuk areal pembangunan Pabrik Pengolahan Ubi Kayu termasuk areal cadangan tanaman ubikayu khusus yang ditangani oleh Pabrik sebagai factor pengaman bila terjadi hal-hal yang tidak terduga sehingga ada keterhambatan suplai dari kebun petani. Peluang yang sangat baik ini awalnya masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh sebagian besar petani Ubikayu di Indonesia karena ada beberapa kendala yang masih perlu diatasi diantaranya, rendahnya produktifitas produksi sebagai akibat terbatasnya penerapan teknologi serta belum menyadari dan melasanakan usaha dengan jiwa kewirausahaan apalagi mengarah kepada proses pengolahan produk menjadi barang setengah jadi guna mendapatkan
  6. 6. 2 nilai tambah. Selain itu penerimaan harga beli ubikayu di Pabrik sangat rendah dimana pada tahun sebelum 2005 hanya berkisar antara Rp 200,- s/d Rp 350,- / Kg, yang tentunya sangat memberatkan masyarakat petani, karena tidak sesuai dengan tenaga serta biaya yang mereka keluarkan untuk proses budidayanya. Pada tahun 2005 telah mulai dibangun beberapa pabrik Bio Ethanol di beberapa Kabupaten di Indonesia yang sebagian besar bahan bakunya dari Ubikayu, sehingga mendongkrak harga jual penerimaan Ubikayu dari petani ke Pabrik pada tahun 2007 sudah mencapai Rp 700,-/Kg bahkan untuk wilayah tertentu telah mencapai harga diatas Rp 1.000,-/Kg, dimana sebelumnya hanya berkisar antara Rp 200,- s/d Rp 350,-/ Kg. Faktor lain yang meningkatkan semangat petani untuk mengembangkan usaha ini adalah dengan adanya perhatian yang baik dari pemerintah daerah atas ditingkatkannya infra struktur diantaranya jalan dan jembatan yang menjangkau hingga pelosok desa sampai ke areal perkebunan. Untuk dapat tetap mengendalikan harga serta nilai manfaat dari ubikayu tersebut maka masih perlu terus mengembangkan jenis indutri lain yang masih sangat diperlukan hasil produknya baik kebutuhan dalam negeri ataupun ekspor yang dapat meningkatkan minat masyarakat dalam mengoptimalkan fungsi lahan untuk kemakmuran masyarakat dan tentunya dapat menyumbangkan peningkatan terhadap Pendapatan Asli Daerah Kabupaten TULANG BAWANG BARAT – LAMPUNG UTARA khususnya serta devisa Negara umumnya, karena peluang ekspor masih sangat terbuka. Salah satu Industri Pengolah yang kami anjurkan adalah Pabrik Gula yang dapat menghasilkan Dextrose Monohidrat (DM) dan Glucose Liquid (GL). Sebelum diolah menjadi gula, bahan baku ubi kayu harus diolah menjadi tapioka basah, ubi kayu diubah menjadi pati pada unit tapioka. Unit ini menghasilkan limbah hasil pengolahan ubi kayu yang dapat di manfaatkan dan tidak ada limbah yang sia-sia. Selain itu Petani dapat diarahkan untuk melakukan proses ubikayu menjadi barang setengah jadi, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah bagi petani itu sendiri dan lebih efisien bagi pabrik
  7. 7. 3 pengolah karena limbah tidak secara total diproses oleh pabrik, tapi sebagian besar langsung dimanfaatkan oleh petani sebagai pakan ternak ataupun pupuk tanaman. Pada Rendemen 20% Bahan baku ubikayu tersebut dibutuhkan 5 kg untuk menghasilkan 1 kg bahan jadi. Dengan harga jual yang dinikmati petani sekarang ini telah akan sama-sama menguntungkan bagi kedua belah pihak yaitu petani dan investor, karena bahan jadi akan ternilai berkisar Rp 9.000,- / Kg untuk pasar lokal dan U$ 0.90 /kg untuk export.
  8. 8. 4 II. TINJAUAN UMUM Pada bagian ini akan diuraikan mengenai : (1) Ide Pembukaan Pabrik, (2) Lokasi Pabrik, (3) Tata Letak Pabrik, (4) Tata Letak Alat, (5) Manajemen dan Organisasi Perusahaan, (6) Jenis Produk, (7) Pemasaran Poduk. 2.1. Ide Pembukaan Pabrik Di Jawa Barat, tepatnya di Jalan Raya Singaparna Tasikmalaya telah berdiri PT. Raya Sugarindo Inti yang didirikan pada tanggal 14 Agustus 1981 Pembangunan PT. Raya Sugarindo Inti dan fasilitasnya diselesaikan pada bulan November 1983 dan mulai berproduksi pada bulan Januari 1984. Produk yang dihasilkan adalah Dekstrosa merupakan gula Kristal hasil proses kristalisas i larutan hidrolisis yang mengandung kadar glukosa atau dekstrosa tinggi dengan nilai DE di atas 97 %. Disamping Gula Kristal, produk bisa juga berupa Gula Likuid (GL). Perusahaan sempat terpuruk pada tahun 1988 setelah lebih kurang 4 tahun berproduksi. Karena posisi perusahaan sudah sangat menghawatirkan, maka saya diminta oleh Pemilik perusahaan saat itu untuk meninjau ke perusahaan tersebut untuk melihat penyebab serta kemungkinan jalan keluar yang dapat diambil untuk menyelamatkan perusahaan yang baru saja berumur 4 tahun tsb. Saat itu saya sedang bekerja pada perusahaan Nasional Semi Conductor Indonesia di Bandung. Setelah saya amati selama 1 minggu, memang keadaannya sudah sangat menghawatirkan, hal ini disebabkan mismanagemen. Bila tidak diambil langkah perbaikan segera maka tidak menutup kemungkinan perusahaan tsb. segera ditutup karena produksi saat itu hanya bisa mencapai rata-rata 150 ton produk akhir per bulan (BEP saat itu seharusnya 600 ton /bulan). Untuk itu saya minta izin selama 6 bulan dengan perusahaan dimana saya bekerja untuk membenahi perusahaan tersebut pada tahun 1988-1989. Alahamdulillah setelah saya adakan Re-Organisasi total serta Re-Layout pabrik secara keseluruhan agar lebih efisien, penyempurnaan peralatan laborotarium dan system quality control serta diadakan perbaikan hubungan dengan para petani, maka kepercayaan baik dari
  9. 9. 5 pihak petani ataupun karyawan langsung segera pulih sehingga tatkala produksi mencapai titik BEP saya segera aktif kembali diperusahaan semula. Saya telah siapkan penerus saya sebagai pemimpin dan juga seorang ahli tehnik & quality control. Disanalah saya melihat potensi berkembangnya usaha pengolahan ubikayu, bahkan saya telah mengadakan hubungan baik dengan para pemasok dari Lampung saat itu. Dan hingga kini perusahaan tersebut masih berjalan dengan baik dan hingga kini masih tetap berlanjut pasokan tapioka dari Lampung sebagai bahan baku Glukosa setengah jadi. Hal inilah yang membukakan hati saya untuk mengembangkan pabrik pengolahan ubikayu yang dapat menghasilkan glukosa tersebut di Bandar Lampung, Lampung Utara – Kab. Tulang Bawang Barat. Proses produksi adalah hidrolisis pati yang dapat dilakukan dengan sistem enzim maupun sistem asam, namun hidrolisis enzim secara penuh dan sistem asam hanya dilakukan jika ada permintaan dari konsumen. Hidrolisis sistem enzim memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan sistem asam. Enzim bekerja secara spesifik, sehingga perbandingan komposisi bahan penyusun sirup dapat diatur sesuai dengan spesifikasi yang diinginkan dan produk yang dihasilkan dapat memiliki rasa yang lebih manis. Sedangkan hidrolisis sistem asam bekerja secara acak sehingga komposisi bahan produk sulit diatur dan memiliki keunggulan dekstrosa serta derajat kemanisan yang terbatas. Bahan baku yang digunakan berupa ubi kayu segar diperoleh langsung dari petani atau pengumpul. Akan tetapi bila ada pengarahan kepada para petani, maka bisa saja pabrik menerima dalam bentuk tapioka basah yang sudah diolah oleh petani sehingga ada nilai tambah bagi petani dan tentu akan lebih efisien bagi pabrik sebagai proses lanjutannya, karena penggunaan bahan baku tapioka ini memiliki keunggulan diantaranya menghemat waktu dalam proses pengolahan, ketersediannya lebih terjamin dan limbah yang dihasilkan tidak terlalu banyak sehingga pengolahan limbah dapat dilakukan lebih mudah. Dalam hal bahan baku ini sangat dianjurkan perusahaan juga memiliki lahan sendiri, baik dengan cara membeli/ sewa dengan masyarakat ataupun pemerintah daerah setempat, namun hanya sekedar 25% s/d
  10. 10. 6 40% dari kapasitas terpasang untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin terjadi adanya hambatan pasokan dari para petani karena sesuatu hal baik akibat dari cuaca ataupun pengaruh lainnya, sehingga tidak mengganggu proses produksi guna mempertahankan kesinambungan hubungan dengan pelanggan. 2.2. Lokasi Pabrik Untuk menentukan Lokasi pabrik tentu harus dipertimbangkan oleh pihak investor juga pemerintah daerah setempat, karena ada hal-hal tertentu yang perlu dipertimbangkan baik dari segi efisiensi, keamanan, ketersediaan sarana prasarana serta potensi pengembangan dimasa mendatang yang diarahkan pada kemajuan masyarakat sekelilingnya, andil dalam peningkatan pemasukan daerah serta kesenimbungan dan pengembangan dari investor itu sendiri. Atas pertimbangan factor-faktor diatas sementara ini kami menyarankan untuk dapat dibangun di daerah TULANG BAWANG BARAT - LAMPUNG UTARA, yang memiliki areal petani mencapai 50.000 Ha. Dari luas tersebut dapat dialokasikan +/- 1032 Ha untuk tanaman singkong serta +/- 300 Ha dicadangkan untuk areal pembangunan Pabrik Pengolahan Ubi Kayu termasuk areal cadangan tanaman ubikayu khusus yang ditangani oleh Pabrik sebagai factor pengaman bila terjadi hal-hal yang tidak terduga sehingga ada keterhambatan suplai dari kebun petani. 2.3. Tata Letak Pabrik Areal tanah yang dicadangkan +/- 300 Ha, sehingga dapat mengatur penggunaannya dengan leluasa, serta memiliki kemapuan untuk memenuhi ketentuan Peroses pengolahan limbah. Luas areal tanah ini digunakan untuk beberapa bangunan pabrik, bangunan kantor, guest house, mess karyawan, koperasi, masjid, unit pengolahan air, jalan, taman , pos keamanan dan termasuk areal cadangan tanaman ubikayu khusus yang ditangani oleh Pabrik sebagai factor pengaman bila terjadi hal-hal yang tidak terduga sehingga ada keterhambatan suplai dari kebun petani. .
  11. 11. 7 2.4. Tata Letak Alat Tata letak alat tersebut disusun berdasarkan urutan proses produksi, dimana perpindahan bahan dari satu alat ke alat lainnya dilakukan dengan alat bantu seperti conveyor, pipa-pipa dan pompa. 2.5. Manajemen dan Organisasi Perusahaan Struktur organisasi perusahaan merupakan wadah dimana seluruh personil terintegrasi dan terkoordinasi dalam menjalankan aktivitas perusahaan. Semakin bertambah besar suatu perusahaan maka persoalan mengenai organisasi dan manajemen semakin rumit oleh karena itu diperlukan suatu struktur organisasi yang baik. 2.5.1. Struktur Organisasi Struktur Organisasi yang di anjurkan berbentuk garis, dimulai dari Direktur Utama pemegang peran penting sebagai pimpinan tertinggi perusahaan yang dibantu oleh Plan Manager. Plan manager dibantu oleh bagian PPC , R&D. Material Control Manager, Manager Umum & Personalia & Manager Produksi. Selain itu terdapat beberapa kepala bagian yang bertanggung jawab langsung kepada Manager Produksi, yaitu Kepala Bagian Barang Jadi, Kepala Bagian Quality Control, Kepala Bagian Produksi, Kepala Bagian Teknik dan Kepala Jembatan Timbang. Struktur Organisasi yang baik harus menampung dan menangani seluruh aktivitas perusahaan, dengan didukung oleh uraian tugas yang baik dan personil yang handal dan berkualitas.
  12. 12. 8 Berdasarkan Struktur Organisasi garis ini Tugas dan Wewenang beberapa bagian tersebut adalah sebagai berikut : 1. Direktur Utama Direktur utama bertanggung jawab atas segala masalah yang berhubungan dengan kegiatan perusahaan dan bertugas memimpin, mengatur, membimbing dan mengarahkan seluruh kegiatan yang berlangsung. 2. Plan Manager Plan manager mempunyai tugas mengawasi seluruh proses serta memberikan pengarahan dan bimbingan kepada setiap kepala bagian. 3. Manager Produksi Bagian ini bertugas dalam bidang yang menyangkut operasi proses yang mengolah produk dari mulai bahan baku sampai bahan jadi. 4. Bagian Quality Control Tugas bagian Quality Control adalah menganalisa dan bertanggung jawab terhadap pengawasan mutu bahan baku selama proses sampai produk akhir yang akan dipasarkan. 5. Bagian Teknik Tugas bagian teknik adalah menjaga dan memelihara atas kelancaran peralatan dan mesin-mesin yang ada di pabrik, sekaligus juga memperbaiki jika ada kerusakan yang terjadi. 6. Bagian Administrasi dan Keuangan Bagian ini bertugas mengurusi seluruh biaya pengeluaran dan pemasukan serta urusan kepegawaian, surat menyurat, kearsipan serta kepentingan perusahaan lainnya. 7. Bagian Keamanan Bagian ini mengawasi dan menjaga keamanan serta ketertiban pabrik, sehingga pabrik dapat berproduksi dengan baik dan lancar.
  13. 13. 9 Tabel 1. Perkiraan Jumlah Karyawan yang dibutuhkan. No Bagian Jumlah 1 Direktur / Plan Manager / Manager Produksi 3 orang 2 Produksi 75 orang 3 Kepala Bagian 7 orang 4 Teknik 19 orang 5 Bidang Umum 3 orang 6 Quality Control / Chemical Mixer 9 orang 7 Kebersihan Produksi 4 orang 8 G. Barang Jadi / Packaging 4 orang 9 Transportasi / Logistik / Kebersihan / Kesehtan 7 orang 10 PPC 1 orang 11 Jembatan Timbang 3 orang 12 Satpam 16 orang Jumlah 151 orang Peraturan kerja yang dianjurkan untuk diterapkan perusahaan adalah sebagai berikut : 1. Para staf bekerja pada hari Senin – Jum’at dengan waktu 8 jam kerja per hari, mulai dari pukul 08.00 – 16.00, sedangkan hari Sabtu dari pukul 08.00-13.00. 2. Karyawan selain Staff bekerja dalam 3 shift secara bergantian. Shift I bekerja dari pukul 07.00 – 15.00, Shift II dari pukul 15.00 – 23.00, dan Shift III dari pukul 23.00 – 07.00. Pergantian shift dilakukan 3 hari sekali dan waktu kerja pada hari minggu dihitung lembur. Karyawan yang termasuk golongan shift ini adalah karyawan yang menangani proses produksi, terutama bagian produksi, quality control dan teknik.
  14. 14. 10 2.6. Ketenagakerjaan Tenaga kerja sangat diperlukan untuk melaksanakan kegiatan yang meliputi pengolahan produksi, administrasi, dan penunjang lainnya, sehingga tenaga kerja dituntut untuk mempunyai suatau keahlian khusus yang sesuai dengan pekerjaan yang dihadapinya. Tenaga kerja ada dua jenis, yaitu : tenaga kerja tetap dan tenaga kerja borongan. Tenaga kerja tetap berjumlah +/- 200 orang dan tenaga kerja borongan sekitar 50 orang tergantung pada target produksi per bulan. Tenaga kerja borongan digunakan di bagian gedung tapioka. Gaji karyawan disesuaikan dengan pendidikan, jabatan dan masa kerja. Terdapat dua macam gaji yaitu : gaji pokok dan gaji tunjangan. Tunjangan yang diberikan meliputi Tunjangan Hari Raya (THR), tunjangan kesehatan, jaminan sosial, sarana transportasi, cuti tahunan, bonus bulanan, dan lain-lainnya. 2.7. Pemasaran Produk Produksi yang dihasilkan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan Industri Makanan , Minuman & Farmasi di dalam ataupun luar negri. Sasaran penjualan yang utama adalah perusahaan-perusahaan yang menggunakan glukosa sebagai bahan baku produknya seperti : pembuatan permen, sirup, soft drink, makanan ringan, farmasi, bakery dan lain-lainnya. Sistem pemasaran yang dilakukan adalah dengan menerima pesanan secara langsung dari konsumen. Pesanan selanjutnya disampaikan kepada bagian produksi, setelah itu produk jadi dikirim ke bagian barang jadi, kemudian bagian distribusi mengirim barang ke tempat konsumen. Untuk memperlancar dalam pemasaran produk-produk tersebut, perusahaan dianjurkan mendirikan perwakilan-perwakilan yang berada di lima lokasi yaitu : Lampung, Jabotabek, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain itu juga perlu
  15. 15. 11 diarahkan untuk ekspor , karena kebutuhan luar negeri masih sangat terbuka untuk di penuhi diantanya Singapore, Vietnam dan Kanada.
  16. 16. 12 III PROSES PENGOLAHAN Pada bab proses pengolahan ini akan dijelaskan mengenai : (1) Bahan Baku Utama, (2) Bahan Baku Penunjang, (3) Peta Alir Proses, dan (4) Proses Pengolahan. 3.1. Bahan Baku Utama Tanaman singkong atau ubi kayu (Manihot utilissima Pohl) merupakan tanaman yang mengandung karbohidrat tinggi dan relatif mudah dibudidayakan. Dengan demikian tidak mengherankan bila Negara tropis umumnya menggunakan tanaman ini sebagai bahan makanan dan bahkan di beberapa Negara lainnya telah digunakan sebagai bahan baku untuk industri. Tanaman singkong ini mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan tanaman lainnya, antara lain : dapat tumbuh di lahan yang kering, daya tahan terhadap penyakit relatif tinggi, masa panennya tidak ada batas waktu sehingga dapat dijadikan lumbung hidup, yakni dapat dibiarkan di tempat untuk beberapa minggu, dan daun serta umbinya dapat diolah manjadi aneka makanan baik sebagai makanan maupun selingan. Sebagai bahan makanan singkong mempunyai beberapa kekurangan diantaranya masalah pada konsumsi singkong yang mengandung racun glokosida sianogen (linamarin dan lataustralin), dan jika dihidrolisis akan menghasilkan glukosa dan asam sianida. Masalah ini dapat diatasi yaitu dengan cara : (a) Pengolahan yang baik. Cara pengolahan yang baik ini meliputi beberapa hal, yaitu : Umbi diparut dan direndam dalam air, kemudian dicuci untuk menghilangkan HCN-nya. (b) Umbi dimasak agar enzim yang dapat menghidrolisa glikosida sianogen menjadi non aktif. Glikosida sianogen bersifat tahan terhadap pemanasan.Pemuliaan tanaman untuk memperoleh jenis-jenis singkong yang memiliki kadar HCN yang rendah.
  17. 17. 13 Singkong merupakan sumber karbohidrat, untuk 100 gram umbi segar dan tapioka menghasilkan 146,328 dan 342,000 kalori. Singkong juga merupakan sumber vitamin dan mineral yang cukup memadai. Ubi kayu merupakan bagian yang terpenting dari tanaman ini, karena selain dapat dikonsumsi secara langsung, juga dapat diolah menjadi bentuk lain. Salah satu bentuk olahannya adalah pati ubi kayu atau dikenal dengan nama tepung tapioka . Pati tapioka dari akar tanaman ubi kayu (Manihot utilissima Phol). Tanaman ini mengandung sekitar 15% sampai 30% pati dan 50% sampai 70% air. Pati merupakan homo polimer dengan ikatan α – glikosida. Berbagai macam pati tidak sama sifatnya, tergantung dari panjang rantai C-nya, serta apakah lurus atau bercabang rantai molekulnya. Pati terdiri dari dua fraksi yang dapat dipisahkan dengan air panas, fraksi terlarut disebut amilosa dan fraksi tidak terlarut disebut amilopektin. Amilosa mempunyai struktur lurus dengan ikatan α-(1,4)-D-glukosa, sedangkan amilopektin mempunyai cabang dengan ikatan α-(1,6)-D-glukosa sebanyak 4%-5% dari berat total . 3.2. Bahan Penunjang 3.2.1.Enzim Enzim yang digunakan dalam menggunakan pati ada dua yaitu : 1. Enzim Alfa Amilase Enzim alfa amilase adalah enzim yang bertindak sebagai katalisator dalam hidrolisis pati yang bekerja pada rantai 1 – 4 alfa glukosida secara random. Rantai 1 – 6 alfa lebih sulit dipecah, sehingga pemutusan rantai hanya sampai pada maltosa dan maltotriosa yang terikat pada posisi (1,6)-alfa. Oleh karena itu, hasil hidrolisis pati pada enzim alfa amilase terutama adalah maltosa dan sejumlah kecil maltotriosa dan maltotetrosa. Reaksi penguraian amilum menjadi maltosa tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: 2(C6H22O5)n + nH2O nC12H22O11
  18. 18. 14 Mikroba penghasil enzim alfa amilase yang paling penting adalah Bacillus subtilis, Bacillus lichenniformis dan Aspergilus oryzae. Alfa amilase yang dihasilkan oleh Bacillus subtilis relatif stabil terhadap suhu tinggi, dan bisa digunakan pada temperatur di atas 90°C. Alfa amilase dari Bacillus lichennisformis lebih tahan panas dan bisa digunakan pada temperatur tinggi. Selain temperatur tinggi aktivitas enzim dipengaruhi oleh ion H . Bila temperatur dinaikkan maka nilai pH akan bergeser mendekati harga 7. 2. Enzim Glukoamilase Enzim ini bisa memecah kedua rantai ikatan (1,4)-α amilase dan (1,6)-α glukosidase dari pati, oligosakarida dan dekstrin, tetapi dengan kecepatan yang berbeda membentuk unit-unit yang sempurna. Enzim amiloglukosidase dihasilkan oleh sejumlah mikroba yang berbeda, tetapi yang paling umum adalah Aspergillus niger. Reaksi penguraian maltosa menjadi glukosa tersebut dapat digambarkan sebagai berikut: C12H22O11 + H2O 2C6H12O6 Kecepatan hidrolisis tergantung dari panjangnya rantai molekul besar. Maltotetrosa dan oligosakarida dengan berat molekul besar, dihidrolisis lebih cepat dari pada maltotriosa dan lebih cepat dari pada maltose. Oleh karena itu amiloglukosidase juga menghidrolisa ikatan (1,6)-α, meskipun kecepatannya lebih lambat sehingga dapat dikonversi yang sempurna . Disamping menghidrolisis pati dan oligosakarida, amiloglukosidase juga dapat bertindak sebagai katalisator pada reaksi kondensasi molekul glukosa. Hasil reaksi ini adalah maltosa dan isomaltosa. Isomaltosa akan terbentuk pada kecepatan yang jauh lebih rendah dari maltosa, bila proses sakarifikasi berlangsung dalam waktu yang lebih lama dan konsentrasi yang lebih tinggi, sakarida dan gugus oligosakarida lain akan terbentuk. Konsentrasi substrat mempunyai pengaruh terhadap reaksi
  19. 19. 15 pembalikan di atas selama proses sakarifikasi. Maka naiknya konsentrasi substrat, terjadi keseimbangan dengan pembentukan disakarida, sehingga pengaruh konsentrasi enzim yang ditambah pada waktu reaksi . 3.2.2 Senyawa-senyawa Penunjang 1. NaOH Natrium Hidroksida digunakan pada proses pencampuran untuk mendapatkan pH yang netral dan untuk proses regenerasi penukar ion. Selain itu NaOH dimaksudkan untuk stabilitas dan aktifitas enzim. 2. HCl Asam klorida digunakan untuk proses regenerasi penukar ion. 3. Karbon Aktif Karbon aktif digunakan untuk menghilangkan dan menyerap warna, bau, membunuh bakteri dan kotoran-kotoran dari larutan. Dosis yang digunakan adalah 10 kg per volume tangki. 4. Filter Aid Filter aid digunakan dalam proses penyaringan sehingga diperoleh larutan sirup yang jernih. Dosis yang digunakan adalah ¼ kali dosis karbon. 5. Resin Resin merupakan media dalam proses pertukaran ion. Dalam satu tabung penukar ion volume resin rata-rata 1500 liter. Jenis resin yang digunakan SK – 1B untuk resin kation, WA – 30 untuk resin anion dan SK – 1B atau PA – 408 untuk mixed bad. Dalam proses penukaran ion yang diperhatikan adalah pH, konduktivitas dan resisten. 6. PAC dan Air Klorin dosis 10 ppm PAC dan air klorin dosis 10 ppm digunakan dalam unit proses pengolahan air. Fungsi PAC dan air klorin adalah untuk membantu terjadinya flok-flok yang akan
  20. 20. 16 diendapkan, dan untuk mengikat kotoran serta mengikat logam berat, setelah ditreatment oleh PAC kemudian air disaring sehingga diperoleh air yang jernih. Mekanisme dari PAC sendiri adalah pengendapan yang disebabkan oleh air dari dua sumber tersebut ditreatment oleh PAC. Fungsi dari PAC sendiri adalah untuk mengikat kotoran dan logam berat yang terkandung dalam sumber air tersebut. Pengotor-pengotor yang belum terendapkan pada tahap pertama akan membentuk flok-flok dan akan mengendap di dasar bak. Air di bagian atas bak (over flow) dialirkan ke alat penyaring. Pada tahap berikutnya dilakukan penyaringan air dengan menggunakan sand filter. Sebagai media penyaring digunakan pasir kuarsa dan karbon. Pengotor akan tertahan pada media penyaring. Untuk melepaskan kembali pengotor ini, harus dilakukan pencucian kembali (back wash) setiap hari. Air yang telah disaring ini kemudian diberi disinfektan berupa kaporit, sebelum disimpan di bak penampungan air bersih dan digunakan untuk berbagai keperluan pabrik.
  21. 21. 17 3.3. Peta Alir Proses Peta alir proses akan digambarkan menurut tahapan proses pembuatan GL/GF. Untuk lebih jelasnya diagram alir proses pembuatan GL/GF dapat dilihat pada Gambar berikut. Gambar . Diagram Alir Pembuatan Gula dari Tepung Tapioka Secara Enzimatis Uap GL GF Karbon aktif Tapioka, air, NaOH, Enzim PENCAMPURAN pH = 6,0-6,2, t = 15’-20’ LIQUIFIKASI T = 95°C, t = 2 jam SAKARIFIKASI t = 48-72 jam Enzim DECOLORISASI T = 100-110°C, t =30’ Karbon aktif FILTRASI T = 60°C, t = 15’ PENYIMPANAN SEMENTARA PENUKARAN ION t = 120 menit NaOH/HCl PENYIMPANAN SEMENTARA PENGUAPAN AWAL T = 90°,80°,60°C, t = 1jam PENYIMPANAN SEMENTARA PENGUAPAN AKHIR T = 65°C, t = 1jam PENGEMASAN Air Air Uap Panas Uap Panas
  22. 22. 18 3.4. Proses Pengolahan Tapioka Menjadi Gula Proses pengolahan tapioka menjadi gula cair secara enzimatis meliputi : proses pencampuran, liquifikasi, sakarifikasi, decolorisasi, filtrasi, deionisasi, evaporasi untuk GL dan GF. 3.4.1.Pencampuran Dalam tangki pencampur dimasukkan tepung tapioka dan ditambahkan air, kemudian diaduk sampai didapatkan larutan pati yang homogen. Larutan yang dihasilkan harus memiliki kekentalan 19° - 20°Be, pH 6,0 – 6,2 diatur dengan penambahan NaOH 20% waktu yang diperlukan 15 – 20 menit. Campuran homogen ini kemudian ditambahkan enzim liquozyme supra atau alfa amilase 0,6 kg/ton. Pengaturan pH di atas dimaksudkan agar aktifitas dan stabilitas enzim dapat bekerja pada kondisi yang optimal. 3.4.2.Liquifikasi Campuran pati yang telah homogen dipanaskan pada suhu 95°C, dengan menggunakan uap panas selama 2 jam. Kemudian enzim akan menghidrolisa amilosa menjadi dekstrin. Selama proses pemasakan ini dilakukan uji iodometri, yaitu untuk mengetahui derajat penguraian pati. Bila uji mengatakan negatif maka pati sudah terurai sempurna dan pemanasan dihentikan. 3.4.3.Sakarifikasi Sebelum hasil larutan liquifikasi dimasukkan ke dalam tangki sakarifikasi terlebih dahulu suhunya diturunkan menjadi 60°C dan pH diatur menjadi 4,0 – 4,5 dengan penambahan HCl konsentrasi 33%. Setelah itu ditambahkan enzim amiloglukosidase sebanyak 0,6 kg/ton DS (dry substan) dan inkubasi selama 48 – 72 jam pada suhu 60°C yaitu untuk mengubah dekstrin menjadi dekstrosa.
  23. 23. 19 3.4.3.1 Decolorisasi Untuk mendapatkan warna sirup jernih, sirup hasil sakarifikasi dimasukkan ke dalam tangki dengan penambahan karbon aktif sebanyak 10 kg per tangki decolorisasi, adapun temperatur proses 100°C - 110°C dan dalam waktu proses adalah 30 menit. 3.4.4.Filtrasi Untuk memisahkan partikel-partikel karbon aktif dari larutan dilakukan proses filtrasi, dengan penambahan filter aid temperatur yang diperlukan 60°C waktu yang diperlukan selama 15 menit. Sehingga dapat mengurangi hambatan aliran larutan dan diperoleh larutan yang jernih. Larutan yang diperoleh hasil filtrasi kemudian disimpan dalam tangki sementara. 3.4.5.Deionisasi Larutan hasil filtrasi dilakukan proses deionisasi, dengan maksud untuk menghilangkan ion-ion logam yang terdapat dalam larutan waktu yang diperlukan untuk deionisasi ini adalah 2 jam. Alat penukar ion ini terdiri dari beberapa set yang masing-masing terdiri dari tiga buah tabung, yaitu : tabung yang berisi resin anion, resin kation, dan tabung “Mixed Bad”. Mekanisme dari kerja resin adalah resin penukar ion pada proses pembuatan gula cair bebas mineral berfungsi untuk mengambil pengotor air dengan cara pertukaran ion yang bermuatan sama. Kation yang ada dalam air akan dipertukarkan/diambil dengan kation resin sedangkan anion dalam air akan dipertukarkan dengan anion resin. Di dalam kolom resin penukar kation, garam-garam yang terlarut di dalam air dikonversi menjadi asam-asam mineral masing-masing melalui pertukaran kation- kationnya dengan ion H . Dari sini terbentuk asam karbonat dari kesadahan karbonat (carbonal hardness). Asam karbonat pecah menjadi air dan karbon dioksida bebas.
  24. 24. 20 Di dalam kolom resin penukar anion, anion pengotor air seperti SO4¯². Cl¯ yang ada dalam air dipertukarkan dengan OH¯ dari resin penukar anion. Di dalam kolom resin mixed bed yang berisi campuran antara resin penukar kation dan anion, sisa-sisa kation yang masih ada dalam air akan dipertukarkan dengan ion hidrogen dan sisa anion termasuk asam karbonat dipertukarkan dengan ion hidroksil sehingga air keluaran kolom resin mixed bed telah terbebas dari mineral pengotor (air bebas mineral). Pada saat sistem air bebas mineral beroprasi dilakukan pengamatan dan pengukuran pH konduktivitas yang merupakan parameter control kualitas air bebas mineral yang dihasilkan saat produksi air bebas mineral 3.4.6.Evaporasi Proses evaporasi bertujuan untuk menguapkan sebagian air yang terdapat dalam larutan sehingga diperoleh hasil dengan kekentalan tertentu. Mula-mula larutan hasil penukar ion dialirkan ke dalam alat “Pre Evaporator” pada suhu 90°C, 80°C, dan 60°C yang berlangsung kurang lebih satu jam dengan tekanan 5 atmosfir sehingga diperoleh kekentalan 60°Brix. Karena produk gula yang dihasilkan memiliki kekentalan yang berbeda-beda, maka larutan itu diuapkan kembali ke dalam “Final Evaporator” pada suhu 65°C dan tekanan 2 atmosfir, sehingga diperoleh kekentalan yang dikehendaki kurang lebih waktu yang dibutuhkan 1 jam. 3.4.7.Pengemasan Produk gula cair yang dihasilkan langsung dilakukan pengemasan. Untuk gula cair dikemas ke dalam drum berisi 3000 liter dan truk drum berisi 1500 liter serta jerigen berisi 30 liter.
  25. 25. 21 Produksi gula cair yang telah dikemas di dalam drum dan truk drum serta jerigen disusun di tempat yang tersedia. Untuk Dextrose fouder dikemas dalam karung gula 25 Kg atau/dan 100 Kg. 3.5. Produk 3.5.1.Glucose Liquid atau GL Sirup glukosa adalah salah satu larutan yang diperoleh dari pati melalui hidrolisis yang sempurna. Kemudian dilakukan netralisasi dan pemekatan sampai ukuran kekentalan yang diinginkan. Ukuran ini dapat dinyatakan dengan derajat Brix. Gula yang diproduksi disesuaikan dengan pesanan, sebagai contoh pabrik permen dengan merk dagang “Yupi” menginginkan ukuran 84°Brix. Sirup glukosa bukanlah suatu bahan murni, tetapi merupakan campuran dari glukosa, altosa, dan dekstrosa. Tingkat mutu sirup terutama ditentukan oleh konversi pati menjadi komponen- komponen gluktosa, maltosa dan dekstrosa, dimana derajat konversi mempunyai DE (Dextrose Equivalent) antara 28 sampai 98 tergantung penggunaannya. 3.5.2.Golden Fructose atau GF Sirup fruktosa merupakan larutan pekat dengan kemurnian tinggi. Komposisi sirup fruktosa hampir semuanya merupakan monosakarida seperti dekstrosa dan fruktosa, dan sejumlah kecil disakarida serta gula yang lebih tinggi. Sirup fruktosa mempunyai kemanisan yang sama dengan gula pasir.
  26. 26. 22 IV SPESIFIKASI ALAT Dalam bab ini akan menguraikan mengenai fungsi alat yang digunakan dalam proses pengolahan tepung tapioka menjadi gula cair dengan jenis produk GL dan GF. (Penjelasan lebih Detail/Spesifikasi Alat akan diberikan setelah ada persetujuan untuk membangun pabrik). 4.1. Tangki Pencampuran Sebagai Tempat untuk melarutkan tepung tapioca dengan air sampai homogeny dengan kekentalan 19-200 Be. 4.2. Tangki Liquifikasi Sebagai tempat untuk mengubah pati menjadi destrin pada proses liquifikasi. 4.3. Tangki Sakarifikasi Sebagai tempat untuk mengkonversikan dekstrin menjadi dekstrosa. 4.4. Tangki Decolorisasi Sebagai tempat untuk menjernihkan larutan gula. 4.5. Tangki Filtrasi Sebagai tempat untuk menyaring kotoran dan sisa karbon dari larutan gula sehingga didapatkan cairan yang jernih. 4.6. Ion Exchanger Sebagai tempat untuk mengikat ion-ion yang terdapat dalam larutan gula 4.7. Tangki Penyimpanan Sementara Sebagai tempat untuk menyimpan gula sebelum dilakukan proses pengolahan untuk mendapatkan produk yang akan diproduksi lebih lanjut
  27. 27. 23 4.8. Evaporator Sebagai tempat untuk memekatkan larutan gula atau untuk meningkatkan kekentalan gula
  28. 28. 24 V SARANA PENUNJANG PRODUKSI Bab ini akan menguraikan mengenai : (1) Sumber Air, (2) Steam, (3) Bahan Bakar, (4) Sumber Tenaga Listrik, dan (5) Alat Transportasi. 5.1. Sumber Air Lokasi pabrik perlu dipertimbangkan kedekatan dengan sumber air. Sumber air yang digunakan yang berasal dari sungai perlu dikendalikan kandungan logam agar sesuai dengan standar air bersih yang memenuhi syarat untuk proses produksi. 5.1.1. Pengendapan Pengendapan yang disebabkan oleh air sungai perlu ditreatment oleh PAC. Fungsi dari PAC sendiri adalah untuk mengikat kotoran dan logam berat yang terkandung dalam sumber air tersebut. Pengotor-pengotor yang belum terendapkan pada tahap pertama akan membentuk flok-flok dan akan mengendap di dasar bak. Air di bagian atas bak (over flow) dialirkan ke alat penyaring. 5.1.2. Penyaringan dan Disinfeksi Pada tahap berikutnya dilakukan penyaringan air dengan menggunakan sand filter. Sebagai media penyaring digunakan pasir kuarsa dan karbon. Pengotor akan tertahan pada media penyaring. Untuk melepaskan kembali pengotor ini, harus dilakukan pencucian kembali (back wash) setiap hari. Air yang telah disaring ini kemudian diberi disinfektan berupa kaporit, sebelum disimpan di bak penampungan air bersih dan digunakan untuk berbagai keperluan pabrik. 1.2. Steam (Uap). Steam yang diperoleh di pabrik bisa dihasilkan dengan menggunakan boiler. Air umpan boiler harus terlebih dahulu diolah sehingga tidak merusak boiler maupun pipa-pipa yang akan dilalui oleh steam.
  29. 29. 25 Pengolahan air untuk umpan boiler berupa penghilangan kesadahan air dengan melewatkannya ke dalam softener. Air yang telah dihilangkan kesadahannya dicampur dengan kondensat, kemudian dihilangkan gelembung-gelembung udaranya dengan memanaskan air menggunakan steam di dalam degasifier. Untuk mencegah timbulnya kerak pada boiler dan pipa-pipa yang dilalui steam, maka ke dalam air ditambahkan zat kimia. Boiler yang digunakan harus memiliki kapasitas yang cukup setidaknya sekitar 15.000 liter, dan mampu menghasilkan steam dengan tekanan 8 kg/cm² dengan temperatur sekitar 180°C. Steam digunakan untuk proses produksi di unit produksi gula, yaitu di liquifikasi, decolorisasi, dan evaporasi. 5.3. Bahan Bakar Bahan bakar digunakan untuk menggerakan generator boiler dan alat transportasi. Bahan bakar yang digunakan untuk boiler adalah batu bara. Selain itu bisa digunakan juga minyak solar dan bahan bakar bensin digunakan untuk keperluan transportasi. 5.4. Sumber Tenaga Listrik Listrik untuk pabrik biasa diperoleh dari PLN dan generator set. Listrik dari PLN berkapasitas setidaknya 13,25 KVA digunakan untuk keperluan penerangan dan cadangan, sedangkan listrik dari generator set dipergunakan untuk menggerakan mesin. Jumlah generator set yang dibutuhkan disesuaikan dengan kebutuhan (setidaknya ada 3 unit, tetapi yang digunakan sebagai pembangkit listrik hanya satu, sedangkan yang dua buah digunakan sebagai cadangan atau stand by). Setiap generator set mempunyai kapasitas 60 KVA.
  30. 30. 26 5.5. Alat Transportasi Perusahaan dalam menjamin kelancaran pengiriman barang ke berbagai kota di Indonesia perlu menyediakan berbagai keperluan terutama alat transportasi. Alat transportasi yang digunakan untuk memasarkan produk adalah kendaraan barang jenis truk tangki & truk bak.
  31. 31. 27 VI SANITASI DAN PENANGANAN LIMBAH Kebersihan lingkungan dalam suatu pabrik turut mempengaruhi mutu produk yang dihasilkan. Kebersihan yang terpelihara dapat menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Lingkungan kerja yang sehat ini merupakan salah satu faktor penunjang dalam menentukan keselamatan kerja. Produktivitas kerja akan meningkat dengan terjaganya kesehatan dan keselamatan kerja. Peranan sanitasi pada suatu pabrik pengolahan bahan makanan merupakan salah satu faktor penting dalam menunjang keberhasilan mutu produk. Nilai estetika dan penerimaan konsumen terhadap produk akan semakin baik dengan cara meningkatkan sanitasi. Sanitasi dilakukan terhadap ruangan, peralatan, pekerja/karyawan, dan lingkungan kerja. Selain sanitasi, penangan limbah yang baik akan mempengaruhi tingkat keberhasilan suatu perusahaan. Nilai estetika sangat berarti bagi perusahaan yang memproduksi baik makanan atau minuman ataupun produk lainnya. Nilai estetika ini dikatakan baik apabila perusahaan tersebut memperhatikan dari mulai penanganan bahan baku sampai dengan bahan yang dijadikan produk siap dipasarkan. Konsumen akan tertarik apabila perusahaan tersebut memproduksi sesuai dengan nilai estetika yang baik menurut konsumen tersebut. Estetika tersebut dapat dicontohkan seperti : dalam penanganan bahan, kebersihan produk, kemasan yang baik apabila produk tersebut dikemas, penanganan limbah yang sesuai dengan aturan dan tidak mencemarkan lingkungan pabrik dan sekitar pabrik, kebersihan pekerja dan lain sebagainya. 6.1.Sanitasi Ruangan Ruangan dalam proses produksi dilengkapi dengan penerangan dan ventilasi. Kondisi perlengkapan harus cukup memenuhi syarat sanitasi ruangan dalam industri pengolahan bahan pangan.
  32. 32. 28 Tercukupinya sanitasi seperti : cahaya lampu di ruang proses sangat penting, karena cahaya lampu dapat mempengaruhi kesehatan karyawan dan keamanan operasi serta meningkatkan efesiensi kerja karyawan. Permukaan dinding harus dibuat halus dan mudah dibersihkan serta tidak dihinggapi serangga dan mikroba patogen. Pintu jendela dan ventilasi perlu dibuat sudut miring untuk menghindari terakumulasinya debu dan kontaminan lainnya. Pertemuan antara dinding dan lantai harus dibuat lengkung agar mudah dibersihkan. Khusus untuk kebersihan di bagian proses produksi biasanya dilakukan pada saat mulai proses dan setelah selesai proses. 6.2.Sanitasi Peralatan Perusahaan dianjurkan menggunakan peralatan mesin yang terbuat dari bahan yang tidak mempengaruhi produk seperti bau dan rasa karena mesin dan peralatan kontak langsung dengan bahan, oleh karena itu dilakukan pengawasan yang benar selama proses berlangsung. Usaha untuk menjaga agar peralatan dalam keadaan baik adalah dengan melakukan pencucian setiap unit tersebut. Apabila ada kerusakan pada mesin maka segera dilakukan perbaikan. 6.3. Sanitasi Pekerja Kesehatan pekerja adalah salah satu faktor penunjang kebersihan lingkungan. Usaha yang dilakukan oleh perusahaan untuk menjaga agar kesehatan pekerja tetap terjamin, maka perusahaan menyediakan perlengkapan alat kerja yang wajib dipergunakan oleh para pekerja, seperti : pakaian kerja, helm kerja, jas lab dan perlengkapan keselamatan kerja lainnya. Hal ini untuk menjaga kesehatan karyawan serta mencegah terjadinya kecelakaan yang sewaktu-waktu bisa terjadi. Disamping itu perusahaan menyediakan balai kesehatan atau pengobatan dan biaya khusus untuk pengobatan dan perawatan di luar.
  33. 33. 29 6.4.Sanitasi Lingkungan Sanitasi lingkungan di sekitar pabrik perlu mendapat perhatian, sebab lingkungan yang kotor akan membawa pengaruh suasana yang tidak sehat. Sanitasi lingkungan kerja bertujuan untuk menciptakan lingkungan kerja yang baik dan sehat serta memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi para karyawan dan pekerja. Upaya tersebut seharusnya diterapkan sehingga pekerja/karyawan dapat terhindar dari kecelakaan kerja. 6.5.Penanganan Limbah Limbah yang dihasilkan berupa limbah padat yaitu ampas tapioka yang dihasilkan dari mesin press dan karbon bekas pada proses filtrasi (unit decolorisasi) serta limbah cair dari bekas proses dan pencucian. Untuk limbah padat yang berupa ampas tapioca bisa diproses ataupun dimanfaatkan untuk bahan makanan ternak oleh masyarakat. Ampas tapioka banyak dipakai sebagai campuran makanan ternak. Pada umumnya masyarakat kita mengenal dua jenis tapioka, yaitu tapioka kasar dan tapioka halus. Tapioka kasar masih mengandung gumpalan dan butiran ubi kayu yang masih kasar, sedangkan tapioka halus merupakan hasil pengolahan lebih lanjut dan tidak mengandung gumpalan lagi. Sisanya dari limbah padat berupa tapioka tersebut bisa dibuat pupuk sebagai penyubur tanaman. Untuk karbon aktif sebelum dibuang dilakukan penetralan dan dikeringkan. Setelah dikeringkan baru kemudian digunakan untuk perbaikan jalan-jalan di sekitar lingkungan pabrik.
  34. 34. 30 VII PENGAWASAN MUTU Pengawasan mutu merupakan usaha untuk memepertahankan dan menjaga kualitas produk serta mengendalikan kerusakan produk. Manfaat pengawasan mutu ini selain dapat memperlancar proses produksi juga dapat memberikan perlindungan kepada konsumen dari pemalsuan dan kecurangan yang dilakukan oleh pihak produsen, serta dapat mempertinggi tingkat pemasaran. Pengawasan mutu yang dilakukan meliputi Pengawasan Mutu Bahan Baku, Pengawasan Mutu Selama Proses, dan Pengawasan Mutu Produk Jadi. 7.1.Pengawasan Mutu Bahan Baku Setiapa bahan baku yang akan digunakan dalam proses produksi diperiksa terlebih dahulu. Pengawasan yang dilakukan terhadap bahan baku yaitu tepung tapioka, meliputi pemeriksaan visual dan pemeriksaan secara kimia. Pengawasan secara visual dilakukan terhadap warna dan kotoran, sedangkan pemeriksaan secara kimia dilakukan dengan cara analisis kadar air, pH, dan serat kasar. 7.2.Pengawasan Mutu Selama Proses Pengawasan mutu selama proses pengolahan dilakukan terhadap suhu, pH, kekentalan dan warna. Proses hidrolisis dilakukan tes amilum dengan menggunakan iodium untuk mengetahui apakah proses hidrolisis sudah sempurna atau belum. 7.3.Pengawasan Mutu Produk Produk-produk yang akan dihasilkan di perusahaan adalah Glucose Liquid (GL), High Conversion Syrup (HCS), Dxtrose Monohidrat (DMH), dan Caramel Liquid (CL), dengan spesifikasi sesuai standart.
  35. 35. 31 VIII. ANGGARAN BIAYA Anggaran Biaya dalam membangun Industri pengolah Ubikayu ini meliputi: 8.1 Biaya Penyediaan Lahan Pabrik 8.2 Biaya Pembangunan gedung , sarana & prasarana Pabrik 8.3 Dana Pengadaan Mesin & Peralatan Operasional Pabrik 8.4 Biaya Operasional selama 6 bulan pertama beroperasinya pabrik 8.5 Biaya Overhead selama 6 bulan pertama beroperasinya pabrik 8.6 Biaya pengadaan Bahan Baku selama 6 bulan pertama beroperasinya pabrik 8.7 Biaya pengadaan lahan kebun 15% s/d 25% dari kapasitas terpasang pabrik 8.8 Biaya pengolahan lahan selama 1 tahun pertama beroperasinya pabrik 8.9 Biaya pengadaan alat transportasi pegawai & operasional pabrik 8.10 Biaya lain-lain / tak terduga.
  36. 36. 32 KEUANGAN MODAL AWAL N I L A I INVESTASI HARTA TETAP & BERGERAK 1. Pengadaan Lahan Pabrik 2. Pengadaan Lahan Kebun 3. Bangunan Pabrik & Sarana Kantor, sarana ibadah dan sarana pegawai/karyawan. 4. Sarana Jalan menuju pabrik & didalam Pabrik. 5. Gardu & Jembatan Timbang 6. Sarana Pengolahan Limbah (Ampas) 7. Sarana pengendalian dampak lingkungan (pemurnian air limbah) 8. Investasi Listrik & Genset 9. Investasi Air & Irigasi 10. Investasi Mesin , peralatan pabrik & Sarana penunjang 11. Pengadaan Kendaraan. 11.1 Kendaraan Truck 11.2 Kendaraan Tangki 11.3 Kendaraan dinas MODAL KERJA 1. Biaya Pembukaan & pemeliharaan Kebun 2. Pembelian Bahan Baku 3. Biaya Operasional 4. Overhead 5. Pengadaan Bahan pembantu produksi 6. Pengadaan Bahan Bakar 7. Pemeliharaan Gedung & Peralatan SATUAN Ha Ha m2 m Unit Unit Unit Unit Unit Set Unit Unit Unit Ha Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan Bulan JUMLAH 10 500 15,000 1000 1 1 1 3 1 1 10 5 4 500 12 12 12 12 12 12 Satuan (Rp,000.) 0 0 0 3,000 300,000 100,000 250,000 175,000 125,000 9,000,000 240.000 280.000 180.000 10,000 4,000,000 100,000 80,000 120,000 50,000 2,000 Total (Rp,000.) 0 0 0 3,000,000 300,000 100,000 250,000 525,000 125,000 9,000,000 2.400.000 1.400.000 720.000 5,000,000 48,000,000 1,200,000 960,000 1,440,000 600,000 24,000 75,044,000 (Tujuh puluh Lima milyar, empat puluh empat juta rupiah)
  37. 37. 33 URAIAN INVESTASI HARTA TETAP & BERGERAK 1. Pengadaan Lahan Pabrik 2. Pengadaan Lahan Kebun 3. Bangunan Pabrik a. Bangunan Pabrik. b. Sarana kantor c. Sarana Ibadah d. Sarana Pegawai/Karyawan 4. Sarana Jalan menuju pabrik & didalam Pabrik. a. Jalan I Sudah Permanen atas biaya Oleh Daerah b. Jalan II perlu pengaspalan +/- 500 m oleh investor c. Jalan III kedalam pabrik +/- 500 m 5. Gardu & Jembatan Timbang a. Gardu Jembatan Timbang b. Jembatan Timbang 6. Sarana Pengolahan Limbah (Ampas) 6.1 Bangunan Pengolahan dengan atap Transparan luas 500 m2 a. Alat Press 10 bh Capasitas 5 ton onggok press kering/hari b. Rak Pengering ukuran PxLxT = 4,80 x 0,30 x 1,50 m = 200 rak 7. Sarana pengendalian dampak lingkungan (pemurnian air limbah) a. Parit Ulir PxLxT= 50.00x0,40x0,60 m b. Kolam 1. PxLxT= 10x8x2m c. Tangki air tawas capasitas 5 m3 d. Areal Tanaman Rumput Gajah 10x20m sebagai filter e. Kolam 2. PxLxT= 10x8x2m ditanami Ikan untuk pengetesan kemurnian air. f. Saluran ke pembuangan akhi (Kali). 8. Investasi Listrik & Genset a. instalasi Listrik PLN untuk penerangan 13,25 KVA b. Genset Capasitas 60 KVA untuk operasional mesin 9. Investasi Air & Irigasi a. Sumur Dalam untuk mengantisipasi musim kemarau b. Saluran air sumber dari Sungai 10. Investasi Mesin & peralatan pabrik a. Mesin. i. Mesin pengupas, pencucian & penggilingan ii. Starch Mixing iii. Holding Tank iv. Tangki Sakarifikasi v. Tangki Decolorisasi vi. Horizontal Leaf Filter vii. Ion Exchanger viii. Storage Tank ix. Long Tube Vertical Evaporator b. Peralatan Pabrik 11. Pengadaan Kendaraan. a. Kendaraan Truck b. Kendaraan Tangki c. Kendaraan dinas
  38. 38. 34 URAIAN MODAL KERJA 1. Biaya Pembukaan & pemeliharaan Kebun 2. Pembelian Bahan Baku 3. Biaya Operasional 4. Overhead 5. Pengadaan Bahan pembantu produksi 6. Pengadaan Bahan Bakar Pemeliharaan Gedung & Peralatan
  39. 39. 35 IX. ANALISA KELAYAKAN USAHA 9.1 Proyeksi Rugi Laba 9.1.1 Pendapatan dari Penjualan Gula per tahun (Rp.000): 8.640 ton x Rp 9.000 = Rp 77.760.000 Pendapatan dari Penjualan hasil kebun Ubikayu 1.000 ha x 25 ton x Rp 850 = Rp 21.250.000 Total Pendapatan /Th = Rp 99.010.000 9.1.2 Biaya Penyusutan PENYUSUTAN LAMA(Th) NILAI (Rp.000)/Th Pengadaan Lahan Pabrik - - Pengadaan Lahan Kebun - - Bangunan Pabrik & 20 1.500.000 Sarana Kantor, sarana ibadah dan sarana pegawai/karyawan. Sarana Jalan menuju pabrik & 20 150.000 didalam Pabrik. Gardu & Jembatan Timbang 20 15,000 Sarana Pengolahan Limbah (Ampas) 20 5,000 Sarana pengendalian dampak 20 12.500 lingkungan (pemurnian air limbah) Investasi Listrik & Genset 5 105.000 Investasi Air & Irigasi 10 12.500 Investasi Mesin , peralatan pabrik & 20 300.000 Sarana penunjang Pengadaan Kendaraan. 5 904.000
  40. 40. 36 Kendaraan Truck Kendaraan Tangki Kendaraan dinas Total Biaya Penyusutan/ Th 2.515.500 9.1.3 Biaya Langsung / Th Biaya Pembukaan & pemeliharaan Kebun 5,000,000 Pembelian Bahan Baku 48,000,000 Biaya Operasional 1,200,000 Overhead 960,000 Pengadaan Bahan pembantu produksi 1.440,000 Pengadaan Bahan Bakar 600,000 Pemeliharaan Gedung & Peralatan 24,000 Total Biaya langsung /Th 57.712.000 Laba Bersih sebelum Penyusutan = Pendapatan – Biaya Langsung = Rp 99.010.000 – Rp 57.712.000 = Rp 41.298.000 Laba Bersih setelah penyusutan = Rp 41.298.000 – Rp 2.515.500 = Rp 38.782.500 Pajak Penghasilan 15% = Rp 5.817.375 Laba Bersih setelah Pajak/ Th = Rp 32.965.125
  41. 41. 37 9.2 BEP (Break Event Point) Biaya Tetap (960.000 + 2.515.500) BEP = ------------------------------------------------ = ------------------------------------ 1-(Biaya Variable/Hasil Penjualan) 1-(57.712.000/99.010.000) = 8.332.334 Hasil ini menunjukkan bahwa saat pendapatan diperoleh Rp 8.332.334.000,- merupakan titik dimana prusahaan tidak untung dan tidak rugi. 9.3 ROI (Return On Investment) Keuntungan Bersih 32.965.125 ROI = ------------------------------- x 100% = -------------- x 100% = 43.93% Modal Produksi 75,044,000 Dalam masa 1 tahun ROI mencapai 43,93% menunjukkan perputaran usaha sudah dapat mengembalikan modal produksi sebesar 43,93%. Ini sudah sangat baik sekali. 9.4 B/C (Benefit Cost Ratio) Penerimaan Kotor ( Hasil Penjualan) 99.010.000 B/C = ------------------------------------------------ = ------------------------ = 1.64 Biaya Total 60.227.500 Nilai B/C = 1.64 berarti dalam waktu 1 tahun usaha ini menghasilkan penjualan 164% dari modal yang dikeluarkan . angka ini sudah sangat baik.
  42. 42. Dari uraian serta 1. Bahwa In LAMPUN 50.000 mencapa secara be 2. Secara ek mitra pe sumberd sangat m peluang k sehingga pemerata pendapa produk i negeri. D 3. Rangkaia meningka pertanian merupak peningka Demikian Investor , denga detail mengenai 38 X. KESIMPULA serta hasil analisa diatas, maka dapat disi Bahwa Industri Gula dengan bahan baku Ubik LAMPUNG UTARA sangat layak mengingat lua .000 ha didaerah LAMPUNG dengan poten mencapai 1.300 ha, sehingga dapat menjamin secara berkesenimbungan. Secara ekonomi bagi Investor sangat layak, be mitra perusahaan dalam meningkatkan ma sumberdaya daerah sebagai upaya menjamin sangat memprihatinkan, dimana masih bany peluang kerja tetap. Disamping itu taraf hidup sehingga mencapai hidup layak. Sebagai pemerataan pendapatan masyarakat dan yan pendapatan Daerah khususnya dan Negara u produk ini masih sangat tinggi di Industri m negeri. Disamping itu peluang expor masih san Rangkaian kegiatan usaha ini diharapkan meningkatkan semangat kewirausahaan dan pertanian baik para petani/kelompok tani, k merupakan mitra perusahaan sehingga m peningkatan dan pengembangan perekonomia Demikian proposal ini kami sampaikan untuk , dengan harapan semoga dapat terlaksana engenai Layout Pabrik dan Specsifikasi alat ju IMPULAN apat disimpulkan bahwa: aku Ubikayu di Ka. TULANG BAWANG BARAT ingat luas baku lahan pertanian yang menca an potensi lahan kering untuk tanaman Ubi ka enjamin kelangsungan pemasokan bahan ba layak, begitu pula terhadap masyarakat seba tkan manfaat serta produktivitas potensi d enjamin perluasan lapangan kerja yang saat sih banyak pemuda usia kerja belum memi dup para petani sekitarnya akan terangk Sebagai efek positif tentu akan meban dan yang tidak kalah pentingnya meningkatk egara umumnya , karena kebutuhan akan ha dustri makanan, minuman dan farmasi dala asih sangat terbuka. arapkan menjadi media yang efektif unt an dan profesionalisme usaha yang berba k tani, koperasi ataupun para pengumpul ya ingga mampu memberikan kontribusi b ekonomian daerah dan Nasional. n untuk menjadi bahan pertimbangan baik b laksana, dan kami siap akan menjelaskan le si alat juga kelayakan usaha. Terimakasih Bandung, 04 Februari 2016 Diajukan Oleh: ( ABDUL MULUK, B.Sc ) G BARAT – g mencapai an Ubi kayu bahan baku kat sebagai otensi dan ang saat ini m memiliki terangkat, mebantu ningkatkan akan hasil masi dalam ktif untuk ng berbasis mpul yang ribusi bagi n baik bagi laskan lebih
  43. 43. 39 Tentang Penggagas Abdul Muluk, B.Sc , Lahir di Lampung , 12 September 1951. Pendidikan Terakhir: A.I & N Prop. Jabar jurusan Industrial Management Th. 1975. Mengikuti Pendidikan dan Pelatihan dibeberapa Negara diantaranya Managerial Skill di Singapore, Malaca & Penang Malaysia 1978, Tehnik Industri di Bankok Thailand 1981, Study Perbandingan di beberapa perusahaan di Jepang 1993, Israel , Palestina & Belanda 1995. Mengikuti pelatihan dibidang kewirausahaan di beberapa Organisasi yaitu AOTS Jepang, ASBINDO dan IMC(Indonesian Managers Club) Jakarta. Sebagai pemandu /instruktur pada seminar-seminar dibidang Agro Industri & Florikultura di Dinas Pertanian Jakarta , BALITHI Cipanas , BALITNAK Bogor dan ASPEKTI (Asosiasi Petani Ubikayu) Lampung. Mengendalikan beberapa perusahaan , diantaranya: Production Manager PT. Nasional Semiconductor Indonesia 1975-1988, Plant Manager pada PT. Raya Sugarindo Inti 1988-1989, MIS & Purchasing Manager PT Oemedata Electronics Bandung 1989-1991, General Manger PT. Alam Indah Bunga Nusantara Cipanas 1992-1998 & President Director pada PT. INFOHORT Jakarta 1998-2000, Direktur PT. Buana Nuansa Nusantara 2000-2005. Membenahi beberapa perusahaan yang bermasalah akibat Mismanagemen diantaranya: PT. Raya Sugarindo Inti 1988, PT. Bahana Tugu Mas Jakarta Pusat 1990 (SALIM GROUP) dan PT. Swadaya Furnitama 1991 yang merupakan anak perusahaan dari PT. DANITAMA Group Jakarta.

×