Mpoint Kuper

1,378 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,378
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
52
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Mpoint Kuper

  1. 1. LAPORAN BUKU <ul><li>Judul : BERBAGAI PENDEKATAN dalam PROSES BELAJAR & MENGAJAR </li></ul><ul><li>Pengarang : Prof. Dr. Nasution, M.A. </li></ul><ul><li>Penerbit : PT BUMI AKSARA </li></ul><ul><li>Tahun Terbit : Oktober 2008 </li></ul><ul><li>Jumlah Halaman : 223 </li></ul>
  2. 2. BAB 1 PROSES BELAJAR MENGAJAR MENURUT JEROME S.BRUNER <ul><li>Proses belajar </li></ul><ul><li>Informasi : Diperoleh pada setiap pelajaran </li></ul><ul><li>Transformasi : Dianalisis, ditransformasikan kedalam bentuk yang lebih konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang lebih luas </li></ul><ul><li>Evaluasi : Menilai sampai mana pengetahuan yang kita peroleh dan transformasi dapat dimanfaatkan untuk memahami gejala-gejala lain </li></ul><ul><li>Proses mengajar </li></ul><ul><li>Kurikulum “Spiral” : Membicarakan pokok-pokok yang sama pada tingkat yang lebih tinggi dengan cara yang lebih matang dan abstrak, sesuai dengan taraf dan perkembangan anak </li></ul><ul><li>Berpikir intuitif & analitis : Pemahaman yang segera dan bertahap sehingga saling melengkapi </li></ul><ul><li>Kepercayaan akan diri sendiri </li></ul>
  3. 3. <ul><li>Komentar </li></ul>Alat pendidikan yang paling utama ialah guru, guru harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang bahan yang akan diajarkannya. Setiap guru dapat meningkatkan mutunya dan ternyata mengajar merupakan suatu cara belajar yang sangat baik sekali. Peserta didik tidak akan memahami yang tidak dipahami guru karena itu guru tidak boleh berhenti belajar.
  4. 4. BAB 11 RESOURCE – BASED LARNING <ul><li>Pengertian </li></ul><ul><li>Resource-based learning ialah segala bentuk belajar yang langsung menghadapkan murid dengan suatu atau sejumlah sumber belajar secara individual atau kelompok dengan segala kegiatan belajar yang bertalian dengan itu. </li></ul><ul><li>Latar belakang </li></ul><ul><li>Perubahan dalam sifat dan pola ilmu pengetahuan manusia </li></ul><ul><li>Perubahan dalam masyarakat dan tafsiran kita tentang tuntutannya </li></ul><ul><li>Perubahan tentang pengertian kita tentang anak dan cara belajarnya </li></ul><ul><li>Perubahan dalam media komunikasi </li></ul>
  5. 5. <ul><li>Pelaksanaannya Perlu memperhatikan hal-hal berikut : 1. Pengetahuan yang ada 2. Tujuan pelajaran 3. Memilih metodologi 4. Koleksi dan penyediaan bahan 5. Penyediaan tempat </li></ul><ul><li>Komentar </li></ul><ul><li>Pengajaran tidak mengutamakan bahan pelajaran atau menguasai bahan yang sama melainkan mementingkan kemampuan untuk meneliti, mengembangkan minat, konsep-konsep, penguasaan berbagai keterampilan termasuk keterampilan berpikir analitis. </li></ul>
  6. 6. BAB 111 BELAJAR TUNTAS (MASTERY LEARNING) <ul><li>Pengertian </li></ul><ul><li>Belajar tuntas ialah penguasaan penuh terhadap apa yang dipelajari. </li></ul><ul><li>Faktor-faktor yang mempengaruhi </li></ul><ul><li>Bakat untuk mempelajari sesuatu </li></ul><ul><li>Mutu pengajaran </li></ul><ul><li>Kesanggupan untuk memahami pengajaran </li></ul><ul><li>Ketekunan </li></ul><ul><li>Waktu yang tersedia untuk belajar </li></ul><ul><li>Usaha mencapai penguasaan penuh </li></ul><ul><li>Adanya tutor </li></ul><ul><li>Mengahapuskan batas-batas kelas (non-graded school) </li></ul><ul><li>Prosedur diagnostik </li></ul>
  7. 7. <ul><li>Prasyarat-prasyarat </li></ul><ul><li>Merumuskan secara khusus bahan yang harus dikuasai </li></ul><ul><li>Dituangkan dalam suatu alat evaluasi bersifat sumatif </li></ul><ul><li>Komentar </li></ul><ul><li>Menunjukkan dimana letak kesalahan atau kekurangan murid merupakan langkah yang baik, tapi itu belum memadai maka harus diberikan pula petunjuk yang spesifik bagaimana ia dapat memperbaikinya misal bekerja sama dalam kelompok, bantuan tutorial, membaca kembali dan membandingkannya dengan buku lain. </li></ul>
  8. 8. BAB 1V USAHA-USAHA DALAM PENGAJARAN INDIVIDU <ul><li>Macam-macam cara </li></ul><ul><li>Lebih mengutamakn proses belajar daripada mengajar </li></ul><ul><li>Merumuskan tujuan yang jelas </li></ul><ul><li>Mengusahan partisipasi aktif dari pihak murid </li></ul><ul><li>Menggunakan banyak feedback atau balikan dan evaluasi </li></ul><ul><li>Memberi kesempatan kepada murid untuk maju dengan kesempatan masing-masing </li></ul>
  9. 9. <ul><li>Komentar </li></ul><ul><li>Para pendidik mengakui perbedaan individual dan perlunya pengajaran disesuaikan dengan perbedaan individual itu. Walaupun pengajaran yang didasarkan atas perbedaan indvidu tidak dapat memecahkan segala masalah pengajaran, namun pengajaran individual mempunyai potensi yang besar untuk meningkatkan mutu dan efektivitas pengajaran. </li></ul>
  10. 10. BAB V BELAJAR BEBAS <ul><li>Belajar bebas yaitu belajar tanpa paksaan atau belajar membebaskan diri untuk menjadi manusia yang berani memilih sendiri apa yang dilakukannya dengan penuh tanggung jawab. </li></ul><ul><li>Syarat-syarat untuk belajar bebas </li></ul><ul><li>Adanya masalah </li></ul><ul><li>Kepercayaan akan kesanggupan manusia </li></ul><ul><li>Keterbukaan guru </li></ul><ul><li>Menghadapi murid </li></ul>
  11. 11. <ul><li>Proses belajar bebas </li></ul><ul><li>Frustasi pada taraf permulaan </li></ul><ul><li>Inisiatif dan kerja individual </li></ul><ul><li>Keakraban pribadi </li></ul><ul><li>Perubahan individual </li></ul><ul><li>Pengaruh atas pengajar </li></ul><ul><li>Komentar </li></ul><ul><li>Di dunia ini manusia makin lama makin banyak diikat oleh macam-macam aturan, sehingga kebebasan makin terbatas. Belajar berdasarkan kebebasan akan membawa perubahan yang positif, tentang sikapnya terhadap dirinya serta hubungannya dengan orang lain. </li></ul>
  12. 12. BAB VI GAYA BELAJAR <ul><li>Type gaya belajar </li></ul><ul><li>Field dependence – field indefendence yaitu gaya belajar yang sangat dipengaruhi oleh dan kurang dipengaruhi lingkungan. </li></ul><ul><li>Implusif – reflektif yaitu orang yang implusif mengambil keputusan dengan cepat tanpa memikirkannya secara mendalam sebaliknya orang yang replektif mempertimbangkan segala alternatif sebelum mengambil keputusan dalam situasi yang sukar diselesaikan. </li></ul><ul><li>Preseptif/reseptif – Sistematis/intuitif </li></ul><ul><li>*Orang preseptif lebih melihat pada aturan dalam menerima informasi agar menjadi kebulatan yang saling bertalian. </li></ul><ul><li>*Orang reseptif lebih memperhatikan detail dan tidak berusaha membulatkan informasi yang satu dengan yang lain. </li></ul>
  13. 13. *Orang yang sistematis selalu berjalan sistematis dengan data dan info. *Orang yang intuitif langsung mengemukakan jawaban tertentu tanpa menggunakan info secara sistematis. <ul><li>Komentar </li></ul><ul><li>Setiap individu adalah unik. Artinya setiap individu memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir dan cara-cara merespon atau mempelajari hal-hal baru. Dalam hal belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Oleh karena itu dalam dunia pendidikan dikenal berbagai metode/gaya belajar untuk dapat memenuhi tuntutan perbedaan individu tersebut. </li></ul>
  14. 14. BAB VII SIKAP GURU <ul><li>Sikap otoriter yaitu sikap memaksa anak dengan hukuman dan ancaman untuk menguasai bahan pelajaran. </li></ul><ul><li>Sikap permissive yaitu sikap membiarkan anak berkembang dalam kebebasan tanpa banyak tekanan. </li></ul><ul><li>Sikap riil yaitu sikap memberikan kebebasan akan tetapi diberikan pengendalian pula. </li></ul>
  15. 15. <ul><li>Komentar </li></ul><ul><li>Setiap guru pasti memiliki sikap yang berbeda-beda dalam mengajar karena memang setiap individu itu berbeda. Begitu pula dengan peserta didik dalam mencapai keberhasilan dalam belajar pasti berbeda pula. Meskipun sikap riil dikatakan sebagai sikap yang paling baik diantara ketiga sikap diatas saya rasa sikap otoriter maupun permissive sebaiknya digunakan sesuai dengan kebutuhan peserta didik, karena tidak setiap individu mampu belajar epektif apabila hanya diterapkan sikap riil, ada yang membutuhkan sikap otoriter dan ada juga yang membutuhkan sikap permissive. </li></ul>
  16. 16. BAB VIII BEBERAPA PENDAPAT TENTANG METODE KULIAH <ul><li>Pendapat pengajar </li></ul><ul><li>Menggunakan metode kuliah karena mereka menganggap kebanyakan mahasiswa belum cukup matang untuk belajar sendiri. </li></ul><ul><li>Pendapat mahasiswa </li></ul><ul><li>Kebanyakan mendukung pendapat para pengajar yaitu menggunakan metode kuliah, tapi tidak ada pendapat yang konsisten di kalangan mahasiswa. </li></ul>
  17. 17. <ul><li>Komentar </li></ul><ul><li>Memang benar kebanyakan pengajar menganggap bahwa mahasiswa itu belum cukup mampu untuk belajar sendiri sehingga sampai sekarang masih banyak yang menggunakan metode kuliah/ceramah dalam cara mengajarnya, tapi sebenarnya sebaliknya dengan membiarkan mahasiswa berusaha sendiri dalam memperoleh bahan ajarnya justru akan mengembangkan pola pikir dari mahasiswa itu sendiri, namun sayang banyak juga mahasiswa yang yang tidak menyadarinya sehingga menganggap metode kuliah/ceramah masih lebih baik bagi mereka. </li></ul>
  18. 18. BAB IX PROSES BELAJAR MENGAJAR MENURUT ROBERT M. GAGNE <ul><li>Type belajar </li></ul><ul><li>Signal learning (Belajar isyarat) </li></ul><ul><li>Stimulus-response learning (Belajar stimulus-respon) </li></ul><ul><li>Chaining (Rantai atau rangkaian) </li></ul><ul><li>Verbal association (Asosiasi verbal) </li></ul><ul><li>Discrimination learning (Belajar diskriminasi) </li></ul><ul><li>Concept learning (Belajar konsep) </li></ul><ul><li>Rule learning (Belajar aturan) </li></ul><ul><li>Problem solving (memecahkan masalah) </li></ul><ul><li>Desain penngajaran </li></ul><ul><li>Kondisi intern terdiri atas penguasaan konsep-konsep dan aturan-aturan yang merupakan prasyarat untuk memahami pelajaran. </li></ul>
  19. 19. <ul><li>Kondisi ekstern mengenai hal-hal dalam situasi belajar yang dapat dikontrol oleh pengajar. </li></ul><ul><li>Yang terjadi dalam mengajar </li></ul><ul><li>Membangkitkan dan memelihara perhatian </li></ul><ul><li>Memberitahuakan hasil yang diharapkan dari murid </li></ul><ul><li>Memberikan bimbingan belajar </li></ul><ul><li>Feedback atau balikan </li></ul><ul><li>Penilaian hasil </li></ul><ul><li>Mengusahakan transfer </li></ul><ul><li>Memantapkan hasil belajar </li></ul><ul><li>Manajemen belajar </li></ul><ul><li>Merumuskan tujuan </li></ul><ul><li>Menentukan struktur pelajaran </li></ul><ul><li>Memilih kondisi belajar </li></ul><ul><li>Penilaian hasil belajar </li></ul>
  20. 20. <ul><li>Komentar </li></ul><ul><li>Sebagai seorang guru kita tidak hanya dituntut untuk mampu megajarkan sesuatu kepada anak didik kita, disamping itu kita juga harus mampu mengembangkan pola pikir dari peserta didik. Saya rasa cukup penting bagi kita sebagai seorang guru dalam memahami type belajar dan apa saja yang harus terjadi apabila kita sedang mengajar, seperti halnya yang diungkapkan oleh Robert M. Gagne. Dengan itu diharapakan kita dapat berhasil dalam mengajar. </li></ul>
  21. 21. BAB X PENGAJARAN MODUL <ul><li>Modul merupakan suatu unit yang lengkap yang berdiri sendiri dan terdiri atas suatu rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu siswa mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas. </li></ul><ul><li>Pengajaran modul merupakan pengajaran yang sebagian atau seluruhnya didasarkan atas modul. </li></ul><ul><li>Pembuatan modul memerlukan keahlian dan waktu yang cukup banyak, namun pengajaran modul yang dapat disajikan kepada sejumlah besar pelajar, yang mempunyai fleksibilitas yang tinggi, yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa, yang tekanannya pada pengajaran individual, serta keuntungan-keuntungan lainnya, dipandang sebagai metode yang memberi harapan yang paling besar untuk mengadakan perbaikan dalam pendidikan. </li></ul>
  22. 22. <ul><li>Komentar </li></ul><ul><li>Seiring dengan berkembangnya tentang berbagai macam pengajaran, memang pengajaran modul sedang menjadi trend dkalangan pengajar. Hal itu juga diakui dapat menjadi pengajaran yang cukup epektif bagi siswa karena dengan adanya modul siswa dapat memiliki acuan yang jelas tentang bahan ajarnya. </li></ul>
  23. 23. DISUSUN OLEH : <ul><li>Nama : Vivit Vitriyani </li></ul><ul><li>NIM : 20080210137 </li></ul><ul><li>Kelas : 2B PE </li></ul><ul><li>KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN </li></ul>

×