Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
DOSEN PEMBIMBING 
Dr. SETIA P. LENGGONO 
PENYUSUN 
UMI LAILATUL MASFUFAH (13103009) 
RUTH NOVIYANI SIMAMORA (13103007) 
JA...
MODAL SOSIAL DALAM PENGEMBANGAN KOPERASI 
A. PENDAHULUAN 
Koperasi Berbasis Modal Sosial 
Sebuah studi yang dilakukan Lubi...
B. PENGERTIAN MODAL SOSIAL 
Istilah modal sosial pertama kali digunakan oleh Lyda Hudson Hanifan pada tahun 1916, untuk me...
Coleman (1988), menganggap kelangsungan setiap transaksi sosial ditentukan oleh adanya dan terjaganya trust atau kepercaya...
Modal sosial adalah “public good” bukan milik pribadi  modal sosial tidak pada individu tetapi pada kelompok komunitas, b...
Ikatan keluarga meluas melampaui iklan dan kemudian menjadi ikatan lebih umum dan guanxi atau hubungan pribadi yang didasa...
Kategori Komplementer Modal Sosial Sumber: Uphoff (2000) KATEGORI STRUKTURAL KOGNITIF Sumber/ Manifestasi Peran dan peratu...
dibangun melalui berbagai organisasi dan jaringan horizontal yang memiliki proses pengambilan keputusan secara kolektif da...
Rasa percaya (trust) Suatu kerelaan untuk menerima segala resiko (dalam konteks sosial) yang berdasarkan pada keyakinan ba...
Isu-isu pokok: 
Selfisness: 
Bagaimana sifat seperti ini bisa dicegah agar tidak merusak masyarakat secara keseluruhan 
Bi...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Koperasi berbasis modal sosial

1,669 views

Published on

modal sosial itu perlu. karena sosial yang tak baik bisa menutup mata para pelaku bisnis yang keluar dari koridor aturan main.

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Koperasi berbasis modal sosial

  1. 1. DOSEN PEMBIMBING Dr. SETIA P. LENGGONO PENYUSUN UMI LAILATUL MASFUFAH (13103009) RUTH NOVIYANI SIMAMORA (13103007) JALAN TMP KALIBATA NO.01 JAKARTA SELATAN 2014 MODAL SOSIAL DALAM PENGEMBANGAN KOPERASI Koperasi Berbasis Modal Sosial KOPERASI LANJUTAN DOSEN PEMBIMBING Dr. SETIA P. LENGGONO PENYUSUN UMI LAILATUL MASFUFAH (13103009) RUTH NOVIYANI SIMAMORA (13103007)
  2. 2. MODAL SOSIAL DALAM PENGEMBANGAN KOPERASI A. PENDAHULUAN Koperasi Berbasis Modal Sosial Sebuah studi yang dilakukan Lubis (1996), memperlihatkan bahwa pendayagunaan modal sosial dalam menjalankan asosiasi-asosiasi sukarela (voluntary association) merupakan fundamen utama bagi bertahannya asosiasi- asosiasi tersebut dalam menopang kehidupan sosial sebuah komunitas dan juga fungsional bagi kelestarian sistem pengelolaan sumberdaya alam yang mereka tradisikan. Amartya Sen (2001), bahkan menganggap kemampuan untuk menentukan pilihan sendiri secara tepat adalah suatu kondisi yang harus ditumbuh- kembangkan untuk mengatasi persoalan-persoalan kemiskinan dan keterbelangan yang menjerat masyarakat. Menurut Darmajanti (2002), modal sosial komunitas dapat diandalkan sebagai kekuatan sosial dalam bentuk energi yang tersebar serta tidak pernah habis, karena berbagai pendekatan menunjukkan bahwa memobilisasi modal sosial komunitas lokal adalah cara efektif dalam penyelesaian masalah kemiskinan di negara dunia ketiga.
  3. 3. B. PENGERTIAN MODAL SOSIAL Istilah modal sosial pertama kali digunakan oleh Lyda Hudson Hanifan pada tahun 1916, untuk menggambarkan „rural school community centers‟. Selanjutnya konsep modal sosial atau social capital ini, mulai diperkenalkan oleh sosiolog Perancis Piere Bourdiue pada awal tahun 1980- an  Bourdieu mengartikan modal sosial sebagai keseluruhan sumberdaya baik yang aktual maupun materi dari orang lain sejauh ia dapat membina hubungan secara kelembagaan dengan orang tersebut.
  4. 4. Coleman (1988), menganggap kelangsungan setiap transaksi sosial ditentukan oleh adanya dan terjaganya trust atau kepercayaan dari pihak- pihak yang terlibat  transaksi sosial berupa pinjam-meminjam (sumberdaya) hanya mungkin terjadi karena dimilikinya kepercayaan (trust) yang melahirkan obligation atau kewajiban pada pihak peminjam dan expectation atau harapan pada pihak yang meminjamkan. Pengertian „sosial‟ dalam modal sosial mengisyaratkan bahwa seseorang bisa mendapatkan manfaat dari anggota-anggota lainnya dalam suatu kelompok sosial apabila antara satu dengan lainnya terjalin hubungan baik (networks of social relations), sikap saling percaya (mutual trust) dan adanya keinginan saling membalas kebaikan (reciprocity) Berbeda dengan modal ekonomi yang kelihatan secara fisik dan dapat dimiliki setiap orang sebagai individu tanpa kaitan dengan orang lain, modal sosial bersifat abstrak yang muncul melalui jaringan hubungan interaksi dan kerjasama dengan orang lain. Studi Putnam (1993) Sebuah studi perbandingan yang dilakukan mengenai proses demokratisasi di Italia, menghubungkan konsep ini dengan tingkat partisipasi anggota masyarakat dalam organisasi kemasyarakatan  komunitas yang anggotanya banyak terlibat aktif dalam jaringan hubungan sosial melalui berbagai organisasi kemasyarakatan (high civic engagement) memiliki peluang yang lebih besar untuk menjadi sejahtera dibandingkan komunitas dengan keterlibatan yang rendah dari anggotanya dalam urusan-urusan sosial (low civic engagement).
  5. 5. Modal sosial adalah “public good” bukan milik pribadi  modal sosial tidak pada individu tetapi pada kelompok komunitas, bahkan di tingkat negara. Komunitas berbeda dengan individu yang memiliki jumlah modal sosial tertentu, komunitas mampu membangun modal sosial melalui pengembangan hubungan aktif, partisipasi demokrasi dan penguatan kepemilikan dan kepercayaan komunitas  Jelasnya individu hanya memiliki modal manusia bukan sosial, apabila individu tidak menjalin hubungan dengan individu lainnya di dalam masyarakat  hubungan sosial merupakan cerminan kerjasama dan koordinasi antar warga yang didasari oleh ikatan sosial yang aktif dan bersifat resiprokal. Studi Fukuyama (1996) Kemungkinan untuk mencapai kemakmuran, lebih besar pada masyarakat yang rasa saling percaya sesama anggotanya lebih (high trust society) dibandingkan dengan masyarakat yang rendah tingkat kepercayaannya (Fukuyama, 1996). Sikap saling percaya atau trust merupakan suatu harapan yang tumbuh didalam masyarakat melalui adanya perilaku yang kooperatif, jujur, dan konsisten, yang didasarkan pada norma-norma yang dimiliki bersama oleh seluruh warga atau bagian suatu masyarakat. Dalam konsepsi Fukuyama, keberlangsungan usaha pada dasarnya tidak hanya ditentukan modal ekonomi (economic capital) seperti; uang, tanah, rumah, teknologi/alat produksi dan seterusnya, yang besarnya akan berpengaruh pada besaran/skala usaha  tetapi juga terkait dengan modal sosial (social capital) yakni ikatan-ikatan sosial yang didasarkan pada rasa saling percaya (trust). Tindakan ekonomi aktor dan hubungan sosial yang dikembangkannya sangat terkait dengan ekspektasi kolektivitasnya C. Wujud Modal Sosial Modal sosial diciptakan dan ditrasmisikan melalui mekanisme-mekanisme budaya seperti; religi, tradisi atau kebiasaan-kebiasaan yang bersifat historis  Tingkat kepercayaan itu sendiri sangat tergantung pd sistem nilai-norma yg berlaku dalam masyarakat. Modal sosial inilah yang dalam masyarakat tertentu, seperti; Cina dan Jepang menjadi faktor pendorong perkembangan/kemajuan bisnis. Fakta ini tentunya menolak pandangan kaum modernis yang rasionalis bahwa hubungan-hubungan personal akan menghambat perkembangan bisnis/ekonomi. Budaya Bisnis China
  6. 6. Ikatan keluarga meluas melampaui iklan dan kemudian menjadi ikatan lebih umum dan guanxi atau hubungan pribadi yang didasarkan pada identitas bersama. Jaringan di jantung kehidupan bisnis orang Cina  terdiri dari pertama, hubungan keluarga yg hirarkis, baik berbentuk keluarga inti, maupun garis keturunan ayah (patrilineal) yg melebar. Kedua adalah sistem hubungan menyamping (lateral) dan timbal-balik yang dikenal dengan guanxi. Hefner (1999), menyebut kapitalisme Cina sebagai kapitalisme Jaringan  bukan berpegang pada kontrak-kontrak hukum dan otoritas pengawasan dari negara tetapi pada hubungan kepercayaan yang bersifat pribadi. Praktik bisnis jaringan Cina perantauan memberi mereka sebuah bentuk “modal sosial”  bukan merupakan dasar bagi demokrasi seperti halnya modal sosial Putnam, tetapi lebih merupakan sebuah bentuk modal sosial yang dapat memberikan dasar bagi pembangunan ekonomi. Perbandingannya adalah ikatan ke-Bugis-an passe’ atau ikatan Jepang kankei, yang jauh lebih subjektif dan didasarkan pada perasan mendalam karena kewajiban  terlekat dalam hubungan patronase yg bersifat vertikal, sehingga kurang memberikan kesempatan pada mereka yang memliki sumberdaya terbatas untuk dapat melakukan mobilitas vertikal menyaingi posisi patron D. Modal Sosial Bagi Pembangunan Elinor Ostorm (1992), melalui pengalamannya yang sangat luas dalam mengkaji proyek-proyek pembangunan didunia ketiga menyatakan bahwa modal sosial merupakan prasyarat bagi keberhasilan suatu proyek pembangunan  keberadaan modal sosial terlihat dari kemampuan suatu komunitas merajut institusi atau pranata (crafting institution) yg menjadi acuan tindak bagi mereka. Bank Dunia menunjukkan pengakuan bahwa pranata-pranata sosial tradisional yang pada paradigma pembangunan sebelumnya (modernisasi) dianggap sebagai faktor pengahambat, sekarang justru dianggap sangat fungsional dalam membantu tercapainya sasaran program & proyek yg dibiayai lembaga keuangan tsb Bank Dunia memberikan definisi modal sosial  “the norms and social relations embedded in the social structures of societies that enable people to coordinate action to achieve desired goals”  norma dan hubungan sosial yang menyatu dalam struktur masyarakat dan membuat orang dapat bekerjasama (connectedness) dalam bertindak untuk mencapai tujuan.
  7. 7. Kategori Komplementer Modal Sosial Sumber: Uphoff (2000) KATEGORI STRUKTURAL KOGNITIF Sumber/ Manifestasi Peran dan peraturan Jaringan dan hubungan antar personal lainnya Prosedur dan preseden Norma-norma Nilai-nilai Sikap Keyakinan Domain Organisasi social Budaya sipil (civic culture) Faktor Dinamis Hubungan horizontal Hubungan vertical Kepercayaan (trust), Solidaritas, kerjasama, kesediaan membantu (generosity) Unsur-Unsur Umum Ekspektasi yang mengarah pada perilaku kooperatif dan memberi manfaat untuk semua. Alat Penilaian Modal Sosial atau Social Capital Assesment Tool (SCAT) Tingkat mikro berupa konteks institusional dimana organisasi bergerak  terdapat organisasi horizontal & jaringan sosial yg dapat memberikan kontribusi potensial pd pembangunan Dalam tingkat mikro terdapat dua unsur kognitif dan struktural  Unsur kognitif modal sosial yang bersifat tidak kasat mata atau intangible terdiri atas watak budaya seperti kepercayaan, solidaritas, resiprositas yang dimiliki bersama oleh para anggota suatu komunitas, yang mana mereka dapat bekerjasama untuk kebaikan bersama. Sedangkan didalam modal sosial struktural terdapat komposisi dan praktek kelembagaan tingkat lokal, baik formal maupun informal yang merupakan wadah bagi pengembangan masyarakat  modal sosial struktural
  8. 8. dibangun melalui berbagai organisasi dan jaringan horizontal yang memiliki proses pengambilan keputusan secara kolektif dan transparan, para pemimpin yang akuntabel serta tindakan-tindakan kolektif dan tanggung-jawab. Tingkat makro termasuk hubungan2 & struktur formal, seperti aturan hukum, kerangka hukum, penguasa politik, tingkat desentralisasi & tingkat partisipasi dalam proses penyusunan kebijakan Komponen-Komponan Modal Sosial Sumber: Bullen dan Onyx (2000) Modal Sosial Penjelasan Partisipasi dalam jaringan Tingkat kepadatan jaringan-jaringan hubungan yang saling berkaitan antar individu dan kelompok (group) Hubungan timbal balik (reciprocity) Merupakan suatu kombinasi dari sifat untuk mengutamakan orang lain (untuk jangka pendek) dan kepentingan sendiri (dalam jangka panjang)
  9. 9. Rasa percaya (trust) Suatu kerelaan untuk menerima segala resiko (dalam konteks sosial) yang berdasarkan pada keyakinan bahwa orang lain akan memberi reaksi seperti yang diharapkan Norma-norma sosial (social norms) Bentuk kontrol sosial informal, dimengerti secara umum sebagai suatu formula untuk menentukan pola-pola tingkah laku yang diharapkan dalam konteks sosial tertentu Kebersamaan (the commons) Berhubungan dengan pembentukan suatu „lumbung‟ sumberdaya komunitas yang tidak dimiliki seorang individu namun digunakan bagi semua anggota komunitas Proaktif Peran aktif dan kerelaan warga untuk mengabil peran serta dalam komunitasnya Tingkat Modal Sosial Minimum Rendah Sedang Tinggi Tidak mementingkan kesejahteraan orang lain; memaksimalkan kepentingan sendiri dengan mengorbankan kepentingan orang lain Hanya mengutamakan kesejahteraan sendiri; kerjasama terjadi sejauh bisa menguntungkan diri sendiri Komitmen terhadap upaya bersama; kerjasama terjadi bila juga memberi keuntungan pada orang lain Komitmen terhadap kesejahteraan orang lain; kerjasama tidak terbatas pada kemanfaatan sendiri, tetapi juga kebaikan bersama Nilai-nilai: Hanya menghargai kebesaran diri sendiri Efisiensi kerjasama Efektifitas kerjasama Altruisme dipandang sebagai hal yang baik
  10. 10. Isu-isu pokok: Selfisness: Bagaimana sifat seperti ini bisa dicegah agar tidak merusak masyarakat secara keseluruhan Biaya transaksi: Bagaimana biaya ini bisa dikurangi untuk meningkatkan manfaat bersih bagi masing- masing orang Tindakan kolektif: Bagaimana kerjasama (penghimpunan sumberdaya) bisa berhasil dan berkelanjutan Pengorbanan diri: Sejauh mana hal- hal seperti patriotisme dan pengorbanan demi fanatisme agama perlu dilakukan Strategi: Jalan sendiri Kerjasama taktis Kerjasama strategis Bergabung atau melarutkan kepentingan individu Kepentingan bersama: Tidak jadi pertimbangan Instrumental Institusional Transendental Pilihan: Keluar bila tidak puas Bersuara, berusaha untuk memperbaiki syarat pertukaran Bersuara, mencoba memperbaiki keseluruhan produktifitas Setia, menerima apapun jika hal itu baik untuk kepentingan bersama secara keseluruhan Konsekuensi Modal Sosial Konsekuensi positif  sumber pengawasan sosial, sumber dukungan bagi keluarga & sumber manfaat ekonomi melalui jaringan sosial (Portes, 1998)  ajaran puritanisme, yg memperlakukan orang dengan sopan dan baik, bukan hanya pada saudara dan keluarga Konsekuensi negatif  pembatasan peluang bagi pihak lain (eksklusifitas), pembatasan kebebasan individu, klaim berlebihan atas keanggotaan kelompok dan menyamaratakan norma pada semua anggota (konformitas) (Portes, 1998)  kerekatan sosial internal, tetapi dengan mengorbankan orang atau kelompok diluarnya, yang dilakukan dengan penuh kebencian serta prasangka buruk, seperti pada kasus mafia, ku klux klan dan street gangs

×