Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Memahami logika laporan keuangan (neraca dan laba rugi)

23,338 views

Published on

Published in: Education
  • Be the first to comment

Memahami logika laporan keuangan (neraca dan laba rugi)

  1. 1. Memahami Logika Laporan Keuangan (Neraca dan Laba Rugi)Produk akhir dari proses akuntansi, yang paling penting, adalah laporan keuangan.Dengan membaca laporan keuangan, manajemen, pemilik perusahaan, dan sesiapapunyang berkepentingan, bisa mengetahui kondisi keuangan perusahaan. Ironinya, darisekian banyak pihak yang berkentingan atas produk ini, yang sungguh-sungguhmemahami logika laporan keuangan tidak banyak. Dan itu bisa dimengerti karenamereka memang berasal dari kalangan yang berbeda-beda—mungkin malah lebihbanyak yang dari luar akuntansi dan keuangan.Yang sulit untuk dimengerti adalah bila: orang accounting (yang membuat laporan itusendiri) yang tidak sungguh-sungguh memahami logika di balik laporan keuangan. Bolehpercaya boleh tidak, yang seperti ini sudah pernah saya temukan berkali-kali.“Mana mungkin. Bukankah orang-orang accounting memang dididik dan ditempa—sejak dibangku kuliah—untuk sungguh-sungguh menguasai akuntansi?”Mungkin ini kenyataan pahit yang harus ditelan, sekaligus tantangan yang harus dijawab olehrekan-rekan akuntan pendidik (pengajar akuntansi di kampus-kampus) bahwa, apa yangselama ini diajarkan lebih banyak kulit ketimbang isinya. Sehingga output yang dihasilkanadalah anak-anak akuntansi yang bisa menjurnal dan membuat laporan keuangan tetapi tidaksungguh-sungguh memahami logika atas apa yang mereka buat.Jurnal dan laporan keuangan yang mereka hasilkan, secara teknis, benar. Tetapi begitu adamasalah mereka mengalami kesulitan untuk menelusuri darimana sumber masalahnya. Alhasil mereka tidak (belum) mampu memberikan masukan yang diharapkan oleh pihakmanajemen perusahaan. Lebih parahnya lagi, bahkan untuk sekedar menjelaskan “mengapabisa demikian?”-pun tidak bisa.Misalnya:1. Angka pendapatan tinggi, tetapi mengapa Laporan Laba Rugi menunjukan angka laba yangsangat kecil? (Tolong jangan buru-buru menjawab “karena cost-nya tinggi,” nanti terjebaksendiri.)2. Angka penjualan rendah, tetapi mengapa Laporan Laba Ruginya menunjukan angka minusalias rugi? Bukankah bila penjualan rendah berarti aktivitas produksi juga rendah sehinggamestinya tidak rugi?3. Penjualan begitu tinggi, Laporan Laba Rugi menunjukan angka laba yang signifikan, tetapimengapa begitu banyak vendor (supplier) yang mengeluhkan keterlambatan pembayaran?4. Ekuitas Pemilik menunjukan peningkatan yang cukup besar, tetapi mengapa tidak adadividen yang bisa dibagikan kepada pemegang saham?
  2. 2. Keempat pertanyaan di atas sesungguhnya hanya memerlukan logika akuntansi yang sangatsederhana dan lumrah terjadi di hampir semua perusahaan. Kenyataannya, saat ditanyapegawai accounting seringkali gelagapan, akhirnya tidak bisa menjelaskan dengan baik.Setidaknya, minimal mereka bisa menjelaskan “mengapa bisa terjadi demikian?”.Idealnya, jika mereka memahami logika-logika dibalik sebuah laporan keuangan, mestinyamereka bisa memberi saran dan masukan bagi manajemen mengenai apa yang perlu (atau takperlu) dilakukan di masa-masa yang akan datang agar masalah yang sama tidak terjadi lagi.Mengingat kembali masa-masa kuliah dahulu (bisa jadi sekarang sudah jauh lebihbaik), materi mata kuliah begitu banyak sementara waktu yang tersedia sangat sempit, “solittle time, so many things to do.”Mata kuliah ‘Akuntansi Dasar’ (Basic Accounting) misalnya. Dengan materi yang begitubanyak, harus bisa diselesaikan hanya dalam 48 kali pertemuan. Setiap pertemuan selaludigunakan untuk mengejar penyelesaian materi yang isinya memang semuanya bersifatteknikal. Samasekali tidak ada ruang untuk menanamkan pemahaman-pemahaman logikaakuntansi (mulai dari siklus akuntansi, menjurnal hingga membuat laporan keuangan).Bahwa kematangan logika bertumbuh seiring dengan pengalaman kerja, BETUL. Bahwabangku kuliah hanya memberikan bekal dasar, boleh jadi IYA (terutama untuk universitasnon-elite, tanpa AC, tanpa dasi, masih pakai kapur tulis, seperti tempat saya berkuliahdahulu).Di sinilah akhirnya bermuara: TERGANTUNG MASING-MASING INDIVIDU.Tantangan utamanya—terutama bagi kita yang sudah bekerja: Bagimana caranya mengasahkemampuan logika akuntansi diantara himpitan tugas rutin sehari-hari yang seolah takada habisnya?Itulah semangat dasar yang menjadi latar belakang mengapa ‘Jurnal Akuantansi Keuangan’(JAK) ada, yaitu: menjadi tempat untuk sharing dan diskusi sambil mengasah skill akuntansi(hard maupun soft skill) di sela-sela rutinitas sehari-hari. Pengelola JAK sadar sepenuhnyabahwa keberadaan JAK pastinya masih jauh dari apa yang diharapkan. Tetapi mudah-mudahan bisa menjadi alternative sekaligus awal yang baik.Melalui tulisan sederhana ini, saya pribadi ingin mengajak siapa saja yang tertarikuntuk mengksplorasi logika-logika di balik sebuah laporan keuangan.Seperti telah saya sampaikan di awal, produk akhir dari akuntansi adalah laporan keuangan.Dengan membaca laporan keuangan, mereka yang berkepentingan bisa mengetahui kondisikeuangan perusahaan.Kondisi apa saja yang bisa dilihat dengan membaca laporan keuangan?Untuk sungguh-sungguh memahami logikanya, anda harus memposisikan diri sebagaisesorang yang sangat berkepentingan untuk mengetahui kondisi keuangan perusahaan. Untuk
  3. 3. sementara lupakan status anda saat ini (sebagai pegawai accounting), anggap diri anda adalahpemilik usaha.Nah, sebagai pemilik usaha, apa yang ingin anda ketahui mengenai kondisi keuanganperusahaan?Saya coba menebak-nebak (dengan menggunakan kelaziman). Sebagai pengusaha, minimalanda ingin tahu 2 hal berikut ini:1. Kekayaan PerusahaanPertanyaan paling mendasar di wilayah ini adalah: Apakah perusahaan dalam kondisi baik-baik saja? “Baik-baik saja” dalam hal ini maksudnya: Dapat beroperasi secara lancar.Perusahaan hanya akan bisa lancar beroperasi bila:(a) Memiliki kas yang cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari;(b) Memiliki kas yang cukup untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya, yaitu: mampumembayar utang kepada vendor/supplier, bank, dan membayar dividen kepada pemegangsaham;(c) Memiliki persediaan (bahan baku untuk diproduksi atau barang jadi untuk di jual);(d) Memiliki sarana dan fasilitas yang cukup untuk menunjang kelancaran operasionalperusahaan.Dengan kata lain, apakah perusahaan memiliki “kekayaan” yang cukup untuk bisa beroperasidengan lancar? Jawaban atas pertanyaan itu ada di NERACA—yang sering juga disebutsebagai “Laporan Posisi Keuangan.”
  4. 4. Masih ingat dengan persamaan akuntansi di bawah ini?Aktiva (asset) = Kewajiban (Liability) + Ekuitas Pemilik (equity)Itulah isi utama dari sebuh Neraca. Untuk visualisasi, silahkan lihat contoh necara sederhanadi bawah ini:Dari contoh Neraca di atas anda sebagai pemilik PT. JAK bisa melihat posisi keuanganperusahaan dan memperoleh informasi sbb:Kekayaan kotor perusahaan sama dengan total nilai aktiva (asset)-nya. Dalam contoh iniadalah 137. Jika dibandingkan dengan total kewajiban (utang) yang sebesar 67, masih adaselisih kekayaan sebesar 70. Selisih yang 70 inilah yang disebut dengan “Kekayaan Bersih(Net Asset atau Net Worth)” perusahaan.Dari sini jelas tergambar bahwa perusahaan memiliki kemampuan yang cukup untukmemenuhi semua kewajibannya, dengan asumsi: jika semua asset dijual maka semua utangbisa dilunasi.Jika kembali ke contoh pertanyaan yang saya sampaikan di awal tulisan: Mestinyaperusahaan bisa memenuhi kewajibannya, tetapi mengapa banyak vendor (supplier) yangmengeluhkan keterlambatan pembayaran?
  5. 5. Untuk menjawab pertanyaan spesifik seperti ini, perhatian harus diarahkan ke elemen-elemenneraca yang lebih kecil. Pada sisi aktiva nampak akun “Kas” saldonya hanya 10, sementaraakun “Utang Dagang” di sisi sisi Kewajiban nampak sebesar 30. Jelas perusahaan akanmengalami defisit (kekurangan) kas sebesar 20, sehingga banyak vendor yang mengalamipenundaan pembayaran.Mengapa terjadi demikian? Bagaimana cara mengatasinya? Apa yang perlu dilakukanoleh manajemen agar kondisi ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang?Bentuk Neraca sudah dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menjawab semuakemungkinan pertanyaan yang ada. Dengan catatan, anda harus memahami logikanya. Daritotal aktiva (asset) sebesar 137, mengapa akun kas nilainya hanya 10, dimana sisanya?Perhatian di alihkan ke elemen-elemen aktiva (asset) lainnya, yaitu: • Piutang = 85 • Persediaan = 32 • Aktiva Tetap = 10.Nah ketahuan sudah, asset menumpuk di akun “Piutang” sebesar 85. Sehingga pertanyaan“mengapa”-nya sudah terjawab. Tinggal berpikir bagaimana cara mengatasinya dan caramencegahnya di waktu yang akan datang. Untuk mengatasinya manajemen perusahaan perlumemfokuskan perhatian pada proses penagihan piutang—mungkin dengan menawarkanpotongan untuk pembayaran lebih awal, kalau perlu panggil debt collector jika mengalamikesulitan penagihan. Untuk mencegah agar tidak terjadi lagi di masa yang akan datang,manajemen perlu mengubah kebijakan kredit—mungkin di buat lebih ketat lagi, lebih selektifterhadap pemberian kredit, termin pembayaran di perpendek, dan lain sebagainya.Selanjutnya, dari Neraca yang sama anda juga bisa melihat bahwa total “Ekuitas Pemilik”meningkat 20. Dari modal awal sebesar 50 kini menjadi 70. Mengapa angkanya sama dengan“Kekayaan Bersih” perusahaan yaitu 70, apakah karena kebetulan?Tidak. Ini berasal dari persamaan dasar akuntansi: Asset = Kewajiban + Equitas Pemilik.Dengan demikian, maka: Equitas Pemilik = Asset – Kewajiban. Nah jika Kekayaan Bersih =Asset – Kewajiban, Maka otomatis: Kekayaan Bersih = Ekuitas Pemilik.Jika kembali ke pertanyaan di awal tulisan: “Mengapa ekuitas pemiliki meningkat tetapitidak ada dividen yang bisa dibagikan kepada pemegang saham”? (dengan kata lainperusahaan tidak bisa memenuhi kewajibannya kepada pemegang saham)Jawabannya kembali ke masalah ketersediaan kas. Perusahaan tidak memiliki cukuppersediaan Kas. Bagaimana mengatasinya? Sama seperti solusi sebelumnya.Lebih detail mengenai ketersediaan kas dan pengalokasiannya (apakah sudah seperti yangdirencanakan, apakah dipergunakan secara efeisien, dan lain sebagainya) bisa dilihat di“Laporan Arus Kas”.Laporan Arus Kas, untuk perusahaan yang sudah Go Publik (listing di bursa saham) wajibada. Sedangkan untuk perusahaan non-publik bisa ada bisa tidak. Mengapa boleh ada bolehtidak? Karena “Laporan Arus Kas” hanya merupakan rincian lebih detail dari akun “Kas” diNeraca. Sehingga pada dasarnya, nilai akhir dari laporan arus kas sama dengan saldo yang
  6. 6. ada pada akun “Kas” di Neraca. (Catatan: Saya akan membahas laporan arus kas secaraterpisah (di tulisan lain).Hal yang tak kalah pentingnya untuk diketahui dari sebuah Neraca adalah “TanggalNeraca” (dibawah tulisan “NERACA PT. JAK”), dalam contoh ini adalah “Per 31 Januari2012.” Artinya: Kekayaan Kotor sebesar 137 dan Kekayaan Bersih sebesar 70 adalah“Kekayaan Perusahaan” per tanggal 31 Januari 2012. Itu sebabnya mengapa dalam teoriakuntansi, Neraca didefinisikan sebagai “Laporan yang menyajikan posisi keuanganperusahaan pada tanggal tertentu.” Di U.S. sana sering disebut dengan “Snapshot ofFinancial Position.”2. Untung atau RugiMengetahui berapa besarnya kekayaan perusahaan, mengetahui apakah perusahaan mampumelunasi utang-utangnya saja, belumlah cukup. Sebagai pengusaha anda juga ingin tahu: • Apakah bulan/tahun ini anda untung atau rugi? Jika rugi, mengapa? • Apakah operasional perusahaan berjalan dengan efisien atau sebaliknya, boros? • Apakah sumber daya perusahaan lebih banyak digunakan untuk aktivitas yang menghasilkan barang/jasa atau untuk hal-hal di luar itu?Semua jawabanya ada di ‘Laporan Laba Rugi.’ Untuk visualisasi silahkan lihat contohLaporan Laba Rugi PT. JAK di bawah ini:
  7. 7. Memperhatikan Laporan Laba Rugi di atas, anda bisa melihat dengan jelas bahwa:(a) Pendapatan (Revenue) sebesar 187(b) Harga Pokok Penjualan (Cost of Goods Sold) sebesar 50(c) Laba Kotor (Gross Profit) sebesar 137(d) Biaya-biaya 132(e) Laba Bersih (Net Profit) sebesar 5Diantara kelima angka-angka di atas, mana yang paling penting bagi anda sebagaipengusaha? Sudah pasti “Laba Bersih”. Laba bersih menunjukan angka 5. Ini sangat keciljika dibandingkan dengan nilai Revenue anda yang menunjukan angka 187. Dengan kata lain,profit margin anda hanya 3% (=5/187). Kalau begini ceritanya mah mendingan uangnya ditaruh di deposito kan?Lalu anda tanya orang accounting “Mengapa labanya hanya 5, padahal revenuenya tinggi?Pasti ada yang tidak beres di sini.”Mungkin dengan cekatan mereka menjawab “Karena biayanya tinggi, boss.”
  8. 8. Ya iyalah. Revenue tinggi, wajar jika biaya juga tinggi (kecuali yang bikin barang darigolongan jin.) Tidak usah orang manajemen, Mbok Jum warung sebelah juga tahupendapatan dikurangi biaya sama dengan laba atau rugi. Tapi, bukankah bila revenue tinggi,biaya tinggi, mestinya laba masih tetap tinggi?Pertama, mungkin mereka akan memeriksa kembali angka-angka di laporan, dibandingkandengan neraca saldo, dibandingkan dengan buku besar, bahkan bukti transaksi dibandingkandengan catatan transaksi (jurnal) satu-per-satu. Semua perhitungan diperiksa satu persatu. Beberapa hari kemudian mereka kembali dengan jawaban “Semua angka sudah sayaperiksa, hasilnya benar dan akurat. Semua jurnal sudah benar, tidak ada transaksi yangtertinggal atau diposting dua kali”.Nah inilah yang saya sebutkan di awal: menguasai teknis akuntansi, mahir menjunaldan membuat laporan keuangan, tetapi tidak (belum) memahami logika akuntansidengan baik.Andai sudah memahami logika di balik Laporan Keuangan (Laba Rugi dalam hal ini),mereka tidak perlu sampai memeriksa transaksi satu-per-satu, bahkan mungkin tidak sampaiperlu memeriksa saldo buku besar. Cukup hanya dengan melihat Laporan secara sepintas(scanning) dari atas kebawah:Pertama anda lihat “Pendapatan (revenue)”, lalu anda bandingkan dengan “Harga PokokPenjualan”, apakah angkanya terlihat logis? Dengan pendapatan sebesar 187, apakah logisjika harga pokok penjualannya 50 sehingga laba kotornya menjadi 137? Permasalahandilokalisir sampai di sini dahulu.Untuk mengetahui logis-atau-tidak logis, sebenarnya sudah disediakan alat bantu di bawah“Laba Kotor (Gross Profit)” yang disebut dengan “Gross Profit Margin” yang menunjukanangka 73%. Angka ini tidak akan ada di sana jika tidak ada fungsinya. Apa fungsinya? Untukmengetahui apakah perbandingan antara pendapatan dengan laba kotor. Pertanyaaanselanjutnya: apakah gross profit margin sebesar 73% itu wajar? Anda bisa memanggil costaccountant anda, merekalah yang paling tahu berapa besarnya gross profit margin untukproduk yang dijual. Separah-parahnya, anda bisa membandingkan angka 73% ini denganangka gross profit margin bulan lalu—jika perlu, tarik hingga satu tahun ke belakang untukmelihat ‘trend’-nya.Saya pribadi, untuk penelusuran cepat, memilih menggunakan kelaziman dan benchmark.Dari sana saya tahu bahwa untuk jenis usaha manufaktur gross profit margin ada di kisaran25 hingga 50%. Untuk jenis perusahaan jasa ada di kisaran 50 hingga 70%. Dan untuk jenisusaha trading (termasuk retail) ada di kisaran 70 hingga 200%.Nah jika PT. JAK dalam contoh ini adalah perusahaan manufaktur, maka angka gross profitmargin sebesar 73% tergolong tinggi. Sehingga akar masalahnya sudah pasti tidak ada diantara wilayah revenue hingga harga pokok penjualan. Lalu dimana? Sudah pasti ada diwilayah biaya-biaya.Selanjutnya tinggal scanning wilayah akun-akun biaya yang ada di laporan laba rugi.Diantara biaya-biaya tersebut mana yang terlihat tidak wajar? Jika anda punya laporan labarugi bulan sebelumnya, anda tinggal meletakannya secara bersisian dengan laporan laba rugiJanuari 2012 ini, lalu bandingkan. Dalam contoh ini saya tidak buatkan laporan laba rugi
  9. 9. bulan sebelumnya sebagai pembanding. Angka yang janggal langsung saja saya beri warnamerah, yaitu “Biaya Telepon” sebesar 35. Mengapa ini janggal? Bandingkan dengan “BiayaGaji?”—apakah logis biaya telepon lebih besar dibandingkan biaya gaji dalam sebuahperusahaan manufaktur? Tidak logis.“Bukankah tadi sudah diperiksa oleh orang accounting dan mereka mengatakan semuatransaksi sudah diperiksa hingga ke nota-nya dan hasilnya akurat?”Yup. Jika jurnal dan angka di nota benar, berarti yang salah adalah: ORANG YANG BOROSMENGGUNAKAN TELEPHONE. Biaya telephone bengkak begitu besar sudah pasti adapemakaian yang luar biasa tinggi di luar kebutuhan perusahaan. Selanjutnya tinggal kirimmemo ke HRD untuk investigasi lebih lanjut (siapa yang menelpon pacar berjam-jam setiaphari?). Untuk mencegah agar tidak tejadi lagi di masa yang akan datang, mungkin HRD perlumembuat aturan pemakaian telepon. Misalnya: Akses inetrlokal, handphone dan SLI hanyauntuk manajer ke atas dengan menggunakan PIN—sehingga penggunaannya bisa diketahui.Sedangkan untuk staff, jika perlu interlokal, SLI atau handphone harus via operator (frontoffice) dengan approval dari manajer.Logika-logika dasar seperti ini sangat perlu terus diasah, agar penguasaan akuntansidan keuangan menjadi semakin matang, sehingga bisa menjalankan fungsi denganbaik, bisa memberi masukan yang bermanfaat bagi perusahaan.Ini baru sebagian kecil dan masih di permukaan. Semakin dalam menyelam, semakindetail, sudah pasti semakin banyak pula ragam logika akuntansi yang harus dipelajari.Tentunya ini bukan sesuatu yang bisa dikuasai secara instant. Butuh waktu, kesabarandan kesungguhan.Bagi mereka yang sudah bekerja, dan masih merasa perlu mengasah kemampuanakuntansi melalui pemahaman logika-logikanya, tidak ada cara selain “Learn as yougo.” Modal awalnya hanya satu: selalu penasaran/ingin tahu. Selanjutnya tergantungpada seberapa besar keberanian kita dalam mengikuti instinct rasa ingin tahu itu.

×