Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Villagepreneurship: Inovasi Pengembangan Desa Wira Usaha Berbasis Kolaborasi

51 views

Published on

Disampaikan pada Knowledge Sharing Politeknik STIA-LAN
Bandung, 3 Maret 2020

Dr. Tri Widodo W. Utomo, SH.,MA
Deputi Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara LAN-RI

Published in: Government & Nonprofit
  • Be the first to comment

Villagepreneurship: Inovasi Pengembangan Desa Wira Usaha Berbasis Kolaborasi

  1. 1. Powerpoint Templates Page 1 Villagepreneurship Disampaikan pada Knowledge Sharing Politeknik STIA-LAN Bandung Bandung, 3 Maret 2020 Dr. Tri Widodo W. Utomo, SH.,MA Deputi Kajian Kebijakan dan Inovasi Administrasi Negara LAN-RI
  2. 2. Latar Belakang VP
  3. 3. 1001 Masalah Desa
  4. 4. Keringnya Kreativitas Desa?
  5. 5. Tujuan VP  Mendorong penguatan inovasi di desa pada 3 aspek: 1) Inovasi Gagasan/Konseptual, 2) Inovasi Produk, serta 3) Inovasi Metode (pemasaran).  Memperkuat kapasitas personal dan kelembagaan Bumdes melalui pelatihan & pendampingan.  Meningkatkan nilai tambah potensi desa agar dapat memberi efek kesejahteraan yang lebih baik bagi warga desa.
  6. 6. Model VP (original)
  7. 7. Model VP (original)
  8. 8. Model VP (modifikasi)
  9. 9. Taking Ownership & Drum-up “Mengkomunikasikan VP kepada pimpinan daerah serta meminta perhatian dan dukungan untuk keberlanjutannya”
  10. 10. Sinterklas? Tidak .. !!
  11. 11. Kolaborasi? YESS .. !!
  12. 12. Komitmen Bersama? YESS .. !!  BUMDes  Pelaku Usaha/UMKM  Kementerian/Lembaga  Pemerintah Daerah  Swasta/BUMN
  13. 13. BUMDesa Tirta Mandiri, Ponggok Klaten, Jawa Tengah o Dianugerahi 174 sumber mata air. o Sampai 2001, tergolong desa miskin dengan pendapatan 14 juta/thn. o Tahun 2002 berdiri perusahaan AQUA, yg memberi sharing Rp 1/liter  Rp 200/thn antara 2002-2008. o 2009 berdiri BUMDes yg mengembangkan parisisata berbasis air  berkembang di sektor lain (fotografi, kuliner, dll). o 2015 pendapatan BUMDesa mencapai Rp 6,2 milyar/thn. o Perbaikan layanan publik: BPJS dibayar Desa; bantuan lauk pauk Rp 300 ribu/bulan untuk lansia, dll. Sumber: Kementerian Desa PDTT, Menuju Desa Mandiri, 2016 Memotivasi dengan Kisah Sukses
  14. 14. Tahap 1: Ideation Brainstorming dan observasi lapangan untuk mengenali potensi dan memunculkan ide
  15. 15. Mulailah dengan Potensi yang ada ... Potensi wisata Gunung Parang & Gunung Bongkok
  16. 16. Potensi komoditas unggulan ...
  17. 17. Hasil pemetaan 1. Potensi yang dapat dikembangkan adalah wisata, diversifikasi produk turunan pohon aren dan ikan 2. Akses menuju desa cukup sulit karena kondisi jalan yang tidak bagus. 3. Kegiatan usaha BUMDes dan UMKM masih belum berkembang. 4. Pengelolaan objek wisata Gunung Parang dan Gunung Bongkok masih dilakukan secara perorangan dan belum mendapat perhatian serius dari Pemerintah Daerah (belum memiliki Kompepar / Pokdarwis). 5. Dan seterusnya …
  18. 18. Obyek Wisata Desa Sajuta Batu POTENSI DESA PASANGGRAHAN Desa Sajuta Batu merupakan objek wisata yang menyajikan beragam spot menarik dan kebudayaan lokal. Mulai dari wisata rekreasi, kuliner, budaya sampai minat tersedia di sana. Dinamakan demikian karena terdapat banyak batuan alam, dari yang kecil hingga gunung andesit setinggi 900 mdpl
  19. 19. Ide & Rencana Usaha 1. Pemasaran Wisata: • Membentuk Kelembagaan Pengelola Wisata (Pokdarwis/ Kompepar). • Ecotourism: Suatu bentuk perjalanan wisata ke area alami yang dilakukan dengan tujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahteraan penduduk setempat. • Adrenalin junkie: spot utamanya adalah kawasan Gunung Parang dan Gunung Bongkok. 2. Pengembangan proses produksi UMKM: dengan memberikan nilai lebih pada hasil produk aren (inovasi produk), misalnya:  Pohon Aren : Gula aren cetakan, gula cair, gula cair, gula semut, kecap nira aren, sari kolang- kaling, selai kolang-kaling, dodol , kolang kaling, bandrek instan, kerupuk kolang-kaling.  Ikan: Abon, ikan asin, ikan asap, nugget, bakso.
  20. 20. Tahap 2: Production T A H A P P R O D U C T
  21. 21. Kolaborasi Tahap Produksi • Konsep tahap produk dan koordinasi dengan stakeholders LAN • Penggunaan TTG dalam pembuatan produk gula semut, kerupuk kolang kaling, abon ikan nila dan ikan asin LIPI • Pendamping kegiatan produk unggulan desaDinas PMD • Budidaya pohon arenDinas Pangan dan Pertanian • Ijin Industri Rumah TanggaDinas Kesehatan • Pendamping kegiatan produk unggulan desaPendamping • Legalitas Pembentukan Kelompok UsahaAparat Desa, BUMDes
  22. 22. Monev hasil produksi  Kualitas gula semut yang dihasilkan oleh masyarakat belum memenuhi standar dan tidak seragam.  Dalam produksi kerupuk kolang kaling masyarakat mencoba berinovasi untuk mengatasi adonan yang lengket saat dikukus dengan menggunakan daun pisang namun justru mempengaruhi hasil produksi (warna kerupuk lebih gelap).  Abon ikan yang dihasilkan belum memenuhi standar rasa (terlalu asin).  Secara umum pengemasan produk masih belum bisa masuk ke pasar.  Ukuran produk belum menggunakan timbangan terstandar.
  23. 23. Tahap 3: Marketing Pameran ketahanan pangan yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian Jabar Expo 2019 Mouth to mouth marketing; direct selling; dan Sosmed promotion
  24. 24. Kolaborasi Marketing LAN Konsep marketing dan koordinasi dengan stakeholders Dinas PMD Pendamping pemasaran produk unggulan desa Dinas Koperasi, UKM, Perdagangan & Perindustrian Pengemasan dan pemasaran produk Rumah Muda Branding, kerjasama pemasaran produk Pendamping Pendamping kegiatan produk unggulan desa Aparat Desa, BUMDes Legalitas Pembentukan Kelompok Usaha
  25. 25. Follow-up pasca pendampingan Desa Pesanggrahan dan Desa Sukamulya mendapatkan bantuan peralatan UMKM dari Diskopperindag Kabupaten Purwakarta untuk pengembangan produksi. Saat ini melalui pendamping Kab Purwakarta, sedang diinisiasi pembuatan proposal untuk mendapatkan pendanaan dari Kementerian Pariwisata yang ditujukan untuk pengembangan pariwisata Desa Sukamulya dan Desa Pesanggrahan
  26. 26. Lessons Learned  Creativity is the only currency dalam iklim persaingan yang semakin ketat. Masyarakat desa membutuhkan ide kreatif untuk mengelola potensi desanya. Sebesar apapun potensi desa, tanpa adanya kreativitas dan inovasi, tidak akan memberi nilai tambah bagi kemajuan desa tersebut.  Alone we can do so little. Together we can do anything. Sinergi dan kolaborasi adalah sebuah keniscayaan untuk mentransformasikan keunggulan komparatif desa menjadi keunggulan kompetitif. Ibarat semen, pasir, dan kerakal, mereka tidak akan menjadi beton yang kokoh jika tidak melebur menjadi satu. Banyak program pendampingan desa yang gagal karena sifatnya yang parsial dan terfragmentasi, sehingga tidak menghasilkan efek kohesi yang dahsyat bagi desa.  Making the impossible possible itu sebenarnya bukanlah hal yang sulit, asal ada kemauan untuk belajar, optimisme ditengah beragam keterbatasan, serta determinasi untuk merealisasikan mimpi-mimpi membangun desa.  Everything seems impossible until it’s done. Think big, act small, do it now. Langkah sebesar apapun selalu dimulai dari hal yang kecil. Jangan lihat capaian saat ini yang terkesan belum “wow”, tapi coba bandingkan dengan kondisi sebelumnya dan perhatikan bahwa perubahan itu telah nyata terjadi. Tinggal yang dibutuhkan adalah konsistensi untuk merawat komitmen melanjutkan perubahan, sehingga dari yang kecil akan bisa di-scaling-up menjadi lebih besar.
  27. 27. Penutup  BUMDes dan UMKM sebagai pelaku ekonomi desa perlu bersatu dalam membangun desa dengan memanfaatkan potensi yang ada untuk kesejahteraan masyarakat;  Perlu dibangun pelembagaan yang professional untuk memfasilitasi kerjasama BUMDes dengan UMKM;  Intervensi dan pendampingan pemerintah dan pihak-pihak terkait perlu dilakukan secara intensif, terus menerus, dan bersifat kolaboratif (melibatkan berbagai pihak sacara terkoordinasi dan berkesinambungan)
  28. 28. Hatur Nuhun

×