Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

POLEMIK KEISTIMEWAAN DIY

POLEMIK KEISTIMEWAAN DIY:
Pergulatan Antara Bingkai NKRI & Demokrasi Dengan Warisan Filsafat Sejarah & Paham Konstitusionalisme

  • Login to see the comments

POLEMIK KEISTIMEWAAN DIY

  1. 1. Tri Widodo W. Utomo<br />POLEMIK KEISTIMEWAAN DIY: PergulatanAntaraBingkai NKRI & DemokrasiDenganWarisanFilsafatSejarah & PahamKonstitusionalisme<br />Disampaikandalam forum diskusiPeneliti LAN<br />Jakarta, 23 Desember 2010<br />
  2. 2. Apakah DIY Monarkhi?<br /><ul><li>SecarakonsepIYA, karenapimpinanditetapkansecaraturuntemurunatauberdasarkanhubungandarah.
  3. 3. Secarasistem TIDAK, karenamonarkhiadalahsistempemerintahan, bukan sub-pemerintahan. Padahal, DIY adalah sub-pemerintaandari NKRI. Tidakmungkindalam 1 negara (apalagikesatuan) terdapat 2 sistemygconflicting. Maka, caramemahaminyaadalah: “sistemdemokrasi NKRI mengakuiadanyasistemmonarkhidalambagian NKRI”. Denganmengakuiadanyakeragaman, justrudisitulahesensidemokrasi.
  4. 4. Monarkhiadalah “a political unity/entity”. NKRI adalahpolitical entity, sedang DIY adalahsub-political entity dari NKRI.</li></li></ul><li>ApakahMonarkhi ≠ Demokrasi?<br /><ul><li>Tidak hanyamonarkhiabsolutygidentikdengan non-demokrasi (lihatgambardi slide berikut).
  5. 5. Demokrasi: substansial & prosedural.
  6. 6. Konseplegitimasi Demos + cratein = pemerintahanolehrakyat ≠ popular government penerimaanpenuh (total acceptance), bukansekedarnominal democracy.
  7. 7. Aplikasikuasa Pepe, dll. (ternyata “monarkhi” jauhlebihdemokratisdibandingpemilu).</li></li></ul><li>Peta Negara MonarkhidiDunia<br />  Absolute Monarchy<br />  Semi-constitutional monarchy<br />  Constitutional Monarchy<br />  Commonwealth Realm<br />  Subnational monarchies (traditional)<br />Sumber: Wikipedia<br />
  8. 8. PerspektifSejarah<br /><ul><li>Sebelumlahirnya RI tgl. 17-08-1945, KasultananNgayogyakartamerupakannegaraygmerdeka & berdaulat.
  9. 9. KedudukannyatidakdiatursecarasepihakolehPemerintahJajahanBelandadenganordonantie, tetapidiaturdalamperjanjianantaraGubernurJenderalsebagaiwakilPemerintahHindiaBelandadan Sri Sultan. Perjanjianygdiperbaharuisetiap kali terjadipergantian Sultan inidisebutpolitiek contract.
  10. 10. Berdasarkanpolitiek contract terakhirtgl 18-03-1940 (Stb. 1941 No. 47), Kasultananmasihmempunyaikekuasaan, a.l:
  11. 11. Memilikiperadilansendirisebagaibadanyudikatifygberwenangmengadiliperkaradariketurunan Sultan Yogyakarta mulaigraad 1 s/d 4.
  12. 12. Memilikibeberapakelompokprajuritbersenjatasebanyak 1000 orang (100 orang x 10 Bregada)</li></li></ul><li>10 BregadaPrajuritdiKasultananNgayogyakartaHadiningrat<br /><ul><li>BregadaWirabrajadiWirabrajan
  13. 13. BregadaKetanggungdiKetanggungan
  14. 14. BregadaPatangpuluhdiPatangpuluhan
  15. 15. BregadaBugisdiBugisan
  16. 16. BregadaMantrijerodiMantrijeron
  17. 17. BregadaDaengdiDaengan
  18. 18. BregadaJogokaryodiJogokaryan
  19. 19. BregadaNyutrodiNyutran.
  20. 20. BregadaSurokarsodiSurokarsan
  21. 21. BregadaPrawirotomodiPrawirataman</li></li></ul><li>KesinambunganSejarah<br /><ul><li>HukumPertanahanNasional (UU No. 5/1960) baruberlakutahun 1984 melaluiKeppres No. 33/1984.
  22. 22. Gubernur & WakilGubernurmasihberasaldariPengagengKasultanandanPuraPakualamanan.
  23. 23. Kekuasaanbidangmiliter & polisional, sertabidanghukum & peradilan, telahdiserahkankepada NKRI (DIY menundukkandiri).
  24. 24. DiluarbidangPertanahan (hingga 1984) danKedudukanGubernur/WakilGubernur, sesungguhnya DIY = provinsi lain (tidakadakeistimewaanygtersisa)  diskoneksiantaramasadepan & masasilam?</li></li></ul><li>PerspektifHukum<br /><ul><li>Pasal 18 Bab VI UUD 1945:"..... denganmemandang dan mengingatidasarpermusyawaratandalamsistempemerintahan negara, dan hakasal-usuldalamdaerah-daerahygbersifatistimewa“  hakautochtoon(otonomibawaan, bukanotonomipemberiandaripusatataudesentralisasi).
  25. 25. PenjelasanPasal 18 bagian II: “Negara Republik Indonesia menghormatikedudukandaerah-daerahistimewatersebutdansegalaperaturannegaraygmengenaidaerahituakanmengingatihak-hakasal-usuldaerahitu.”
  26. 26. UU No. 3/1950, pasal 4 (4):“Urusan-urusanrumahtangga & kewajiban-kewajiban lain daripadaygtsbdalamayat (1) diatas, ygdikerjakanoleh DIY sebelumdibentukmenurut UU ini, dilanjutkansehinggaadaketetapan lain dengan UU”  Klausulinitidakadadlm UU PembentukanProvinsi lain !!</li></li></ul><li>InterpretasiHukum<br /><ul><li>PAHAM KONSTITUSIONALISME:Konstitusi RI menjamindanmenghormatihakasal-usul, otonomibawaan, keragaman, keistimewaandaerah, danbelief system masyarakattradisional  hal-haltsbtidakdapatdicabutsekalipunolehKonstitusi.
  27. 27. Padatahun 1945, Ngayogyakartahanyamenyerahkankedaulatankepada NKRI, bukankekuasaanlainnyaygmasihdipegang  Catatan: kedaulatan(soevereiniteit)adalahkekuasaan(power, vermogen)ygtertinggi.
  28. 28. KekuasaantertentulainnyamasihterusmelekatdiKasultanan, danakanberlakuhukumnasionalapabilaKasultananmenyerahkannyakepada NKRI.
  29. 29. RUUK (RUU Keistimewaan DIY) dapatditafsirkan “menarik” keistimewaan DIY dlmhalKedudukanPimpinankrnkekuasaantsbbelumdiserahkan!</li></li></ul><li>PerspektifFilosofisKebatinan<br /><ul><li>Hubungan elite – massadijamanKasultanandideskripsikandengan “ManunggalingKawulaGusti”. Artiharfiahnyabersatunyaabdidengantuan, namunmaknakontekstualnyaadalahmenyatunyarakyatdengan sang penguasa.
  30. 30. Raja adalah pusat mikrokosmos (dunia manusia) dan puncak hirarki status dalam negara. Mikrokosmos sejajar dengan makrokosmos (dunia supra manusia), shg Raja Jawa Hindu = Dewa (biasanya Wisnu). Pada masa Mataram II yg terpengaruh teologi Islam, kedudukan raja tidak seagung sebelumnya, melainkan hanya sebagai Kalifatullah (wali Tuhan di dunia). </li></li></ul><li>TafsirFilosofisKebatinan<br /><ul><li>MemisahjabatanGubernurdengan Sultan akanmemecahkonsepkebatinantentang “ManunggalingKawulaGusti”.
  31. 31. “Perceraian” antara Raja denganrakyat-nyajugamenjadikan status raja tidaklagisuci, sakral, dankeramat, namunmenjadi “profan” (manusiabiasa)  merusakstruktursosiologismasyarakatYogya.
  32. 32. Status GubernurUtamaatauParardyatidaklagimendudukan Raja sbgKepalaPemerintahan (Daerah), namunhanyasbgsimbol (meskimemilikihak veto)  merusak belief system bahwa Raja adalahPimpinanPemerintahan(bahkanjugapemimpin informal, kultural & spiritual).</li></li></ul><li>TawaranSolusi<br /><ul><li>RUUK sebaiknyamengokohkanpahamkonstitusionalismedalam UUD 1945 denganmemperkuatsegalajeniskeistimewaanYogyaygmasihtersisa.
  33. 33. Jikamunculeksesberupatuntutanpemberiankeistimewaankepadawilayahekskerajaanseperti Bone, Luwu, danGowadi Sulawesi, atauKutai, Bulungan, Pontianak, danBanjardi Kalimantan, dst, justruharusdijadikansbgmomentum untukmengembalikankekayaanbudayadanwarisansejarahbangsamasasilam.
  34. 34. PenerapanDesentralisasiAsimetrissesuaidenganfaktahistorisdankebutuhanaktual masing2daerah. DesentralisasiAsimetrisadalahjaminantegaknya NKRI.
  35. 35. Prinsip: hukumituterjadidari rasa keadilan (rechtsgefuhl) dankeinsyafankeadilan (rechtsbewustzijn) yghiduppadasanubarirakyat (Krabbe & Leon Duguit).</li></li></ul><li>TerimaKasih …<br />SemogaBermanfaat !!<br />Further reading on Yogya: <br />http://khasdjogdja.wordpress.com/ <br />http://id.wikipedia.org/wiki/Keraton_Ngayogyakarta_Hadiningrat<br />®Tri Widodo W Utomo<br />

×