Successfully reported this slideshow.
Your SlideShare is downloading. ×

Penyakit Zoonosis Pada Ternak

Ad

NusdiantoTriakoso
triakoso.wordpress.com

Ad

Zoonosis
• Zoonosis, infeksi yang dapat ditularkan di
bawah kondisi alamiah antara hewan
vertebrata dan manusia
• Zooanthr...

Ad

Virus
• Rabies
• Avian Influenza
• Swine Flu
• Japanese
Encephalitis
• Cow pox
Bakteri-Fungi
• Anthrax
• Leptospirosis
• B...

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Ad

Loading in …3
×

Check these out next

1 of 90 Ad
1 of 90 Ad

Penyakit Zoonosis Pada Ternak

Download to read offline

Menjelaskan penyakit-penyakit zoonosis pada ternak, terutama ternak-ternak yang ada di Indonesia untuk diketahui oleh masyarakat guna meningkatkan kualitas kesehatan dengan mengetahui penyebab, menghindari dan mencegah penularan penyakit-penyakit tersebut

Menjelaskan penyakit-penyakit zoonosis pada ternak, terutama ternak-ternak yang ada di Indonesia untuk diketahui oleh masyarakat guna meningkatkan kualitas kesehatan dengan mengetahui penyebab, menghindari dan mencegah penularan penyakit-penyakit tersebut

More Related Content

More from Nusdianto Triakoso (19)

Penyakit Zoonosis Pada Ternak

  1. 1. NusdiantoTriakoso triakoso.wordpress.com
  2. 2. Zoonosis • Zoonosis, infeksi yang dapat ditularkan di bawah kondisi alamiah antara hewan vertebrata dan manusia • Zooanthroponosis, penyakit yang umum terjadi pada manusia, menular pada hewan • Anthropozoonosis, penyakit yang umum terjadi pada hewan, menular pada manusia
  3. 3. Virus • Rabies • Avian Influenza • Swine Flu • Japanese Encephalitis • Cow pox Bakteri-Fungi • Anthrax • Leptospirosis • Brucellosis • Tuberkulosis • Botulismus • Dermatofitosis Parasit • Toksoplamosis • Trypanosomiasis • Taeniasis- Sistiserkosis • Skistosomiasis
  4. 4. Penyakit Zoonosis Pada Ternak
  5. 5. Rabies • Sinonim: Hidrofobia, Rage • Kausa: virus rabies (Rhabdoviridae) • Penyakit infeksi yang menyerang sistem syaraf pusat dan bersifat fatal. Virus dapat menginfeksi semua hewan berdarah panas • Penyakit ini terdapat di semua benua kecuali Australia dan Antartika. • Reservoir: kucing liar, sigung, serigala, kelelawar, musang
  6. 6. Rabies • Penularan: gigitan hewan karnivora (anjing, kucing, kelelawar, kalong, anjing hutan) atau penderita yang lain • Di Indonesia penyakit ini diketahui masih terjadi di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sulawesi Tenggara dan Nusa Tenggara – Tahun 2002, Jawa Barat dinyatakan positif rabies pada anjing liar – Tahun 2009, Bali didiagnosa positif rabies pada anjing liar dan terjadi wabah – Tahun 2014, Kalimantan Barat dinyatakan wabah rabies
  7. 7. Rabies • Hewan – Masa inkubasi: 10 hari - >1 tahun atau lebih, tergantung lokasi gigitan. Semakin dekat gigitan dengan otak, semakin cepat gejala muncul – Gejala bervariasi (prodromal, eksitasi, paralisis) – Perubahan perilaku hewan. Hewan menjadi gelisah, agresif, tidak kenali pemilik atau hewan lain dan menggigit apa saja. – Kemudian hewan masuk pada tahap tipe dungu dan paralisis – Paralisis esofagus, tidak bisa menelan, hipersalivasi, paralisis anggota gerak. Paralisis otot-otot pernafasan, menyebakan kesulitan bernafas dan menyebabkan kematian
  8. 8. Rabies • Manusia – Demam – Perubahan tingkah laku, cemas, sulit tidur, sakit kepala, gelisah – Kontraksi spasmodik dari otot yang membengkak – Selanjutnya kejang dan diikuti paralisis dan kematian – Umumnya terjadi kematian pada penderita
  9. 9. Rabies • Terapi, pengendalian dan pencegahan pada hewan – Tidak ada terapi spesifik – Anjing dan hewan lain diobservasi selama 14 hari. Bila menunjukkan gejala, ambil sampel otak untuk pemeriksaan FAT, Negri bodies, Isolasi virus – Pencegahan melalui vaksinasi
  10. 10. Rabies • Terapi pada manusia – Tidak ada obat yang efektif pada penyakit ini, selain vaksinasi sebagai tindakan pencegahan – Vaksinasi pada orang-orang yang berisiko – Pengobatan, bersihkan luka gigitan dengan sabun/desinfeksi. Pemberian SAR, VAR
  11. 11. Avian Influenza • Sinonim: Avian flu, Flu burung • Kausa: Virus influenza H5N1, H9N9 • Penularan: kontak langsung dengan hewan mati atau penderita AI, tidak langsung melalui barang/alat, lingkungan terkontaminasi • Wabah AI pada unggas tahun 2003, dan meluas ke berbagai daerah di Indonesia • Indonesia terjadi 99 kasus dengan 77 kematian pada manusia
  12. 12. Avian Influenza • Hewan – Masa inkubasi bervariasi, 2 minggu – Demam, lesu, anoreksia. Diare cair kehijauan hingga berubah putih – Jengger dan pial bengkak dan kehitaman. Perdarahan di bawah kulit dada dan kaki. Bengkak pada sekitar mata dan leher – Beberapa menunjukkan gejala syaraf, tortikolis, paralisis – Produksi telur berkurang bahkan berhenti bertelur – Ditemukan juga kasus pada anjing, kucing, kuda dan babi dengan gejala demam, batuk, sesak nafas, mati
  13. 13. Avian Influenza • Manusia – Demam tinggi, konjungtivitis – Batuk, bersin, sakit tenggorokan, nyeri otot, nafas dangkal, sesak nafas – Muntah, diare, nyeri perut – Kadang disertai gejala syaraf, gangguan perilaku, kejang – Replikasi virus dalam tubuh dapat berjalan cepat sehingga pasien perlu segera mendapatkan perhatian medis
  14. 14. Avian Influenza • Terapi, pengendalian dan pencegahan pada hewan – Tidak ada terapi spesifik. Terapi menggunakan antiviral tidak disarankan – Pencegahan melalui vaksinasi
  15. 15. Avian Influenza • Terapi pada manusia – Amantadine, Laninamivir, Peramivir, Oseltamifir, Arbidol, Zanamivir – Pencegahan melalui vaksinasi
  16. 16. Swine flu • Sinonim: flu babi, pig flu, hog flu • Kausa: virus Influenza H1N1, H1N2, H3N1, H3N2, H2N3 • Asal: 1976, tentara Amerika meninggal di Fort Dix • Tahun 2009, wabah pandemi flu babi • Penularan: kontak langsung, bahan/alat terkontaminasi • India: 26.000 positif, 1.500 meninggal akibat Flu babi, sejak Desember 2014 • Indonesia: 86 kasus positif, sejak Juli 2009
  17. 17. Swine flu • Hewan – Demam, depresi, anoreksia – Batuk, leleran hidung, bersin, sesak nafas – Mata kemerahan, leleran mata – Beberapa yang lain tanpa gejala – Babi dewasa: morbiditas tinggi, mortalitas rendah – Babi anakan: mortalitas tinggi
  18. 18. Swine flu • Manusia – Demam, batuk, pilek, rasa sakit tenggorokan, sakit kepala, lemah lesu – Beberapa penderita disertai diare dan muntah – Disorientasi, nyeri otot, kekakuan dan nyeri sendi, dan kehilangan kesadaran yang berakhir pada kematian
  19. 19. Swine flu • Hewan – Tidak ada terapi spesifik – Terapi suprotif – Pencegahan melalui vaksinasi
  20. 20. Swine flu • Manusia – Tidak terapi spesifik – Terapi suportif – Pencegahan melalui vaksinasi
  21. 21. Encephalitis Jepang • Sinonim: Encephalitis B Jepang, Japanese encephalitis • Kausa: virus Japanese encephalitis • Penularan: gigitan nyamuk Culex tritaeniorynchuhs • Reservoir: burung liar (hospes alami), babi, kuda, sapi • Penyakit ini tersebar luas di Asia bagian Timur • Indonesia, pertama kali 1960. Bali 163 kasus (2001-2004) • Hingga 2008 telah tersebar di Sumatra Barat, Kalimantan Barat, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggra Timur dan Papua
  22. 22. Encephalitis Jepang • Hewan – Masa inkubasi tidak diketahui. Riset: kuda 4-14 hari, babi 24 jam – Babi adalah reservoir penting – Babi dara dan indukan tidak menunjukkan gejala – Babi jantan, scrotum bengkak, infertilitas – Gejala encephalitis tampak pada saat-saat tertentu – Angka kematian neonatus 50-70% – Kuda, keledai, timbul gejala neurologis – Sapi, domba, kambing, anjing, kucing, mamalia liar, reptil, amphibi, dan burung, umumnya tanpa gejala
  23. 23. Encephalitis Jepang • Manusia – Masa inkubasi, 4-15 hari – Demam tinggi, disertai sakit kepala, muntah dan kelemahan – Beberapa hari berkembang menjadi encephalitis, disertai gejala neurologis, kelumpuhan spatik dan koma – Kejang seringkali pada anak-anak – Kerusakan syaraf menetap, bagi yang dapat hidup – Angka kematian 20-50%
  24. 24. Encephalitis Jepang • Terapi, pengendalian dan pencegahan pada hewan – Tidak ada terapi spesifik – Vaksinasi pada kuda dan babi – Gunakan repellent, mencegah gigitan nyamuk – Pengendalian nyamuk
  25. 25. Encephalitis Jepang • Terapi pada manusia – Tidak ada terapi spesifik – Perawatan intensif membantu mencegah komplikasi – Terapi suportif, terapi cairan dan analgesik untuk mengatasi nyeri, serta istirahat – Pencegahan melalui vaksinasi. Desinfektan (alkohol, formalin, idodine, detergen, dll) dapat membunuh virus
  26. 26. Cow pox • Sinonim: cacar sapi • Kausa: virus cow pox • Reservoir: sapi • Penularan: kontak langsung • Masa inkubasi: manusia dan hewan, 3-7 hari
  27. 27. Cow pox • Sapi – Demam ringan – Vesikula, erosi, ulserasi pada ambing atau puting sapi – Berisiko komplikasi mastitis karena infeksi sekunder/bakteri Pseudo cow pox Cow pox
  28. 28. Cow pox • Manusia – Demam, limfadenitis – Papula pada tangan dan lengan, berkembang menjadi vesikula, krusta dan menyembuh
  29. 29. Cow pox • Terapi, pengendalian dan pencegahan – Manusia dan hewan, tidak ada – Pencegahan • Manusia, menghindari kontak dengan hewan penderita • Hewan, menjaga higienitas pakan, kandang dan pemerahan
  30. 30. Penyakit lain • Rift Valley Fever atau Hepatitis enzootik (virus Rift valley fever, Bunyaviridae) • Bovine Spongiform Encephalopathy
  31. 31. Penyakit Zoonosis Pada Ternak
  32. 32. Anthrax • Anthrax merupakan penyakit menular akut yang dapat menyerang pada semua hewan berdarah panas • Kausa: Bacillus anthracis. Kuman ini dapat membentuk spora sehingga tahan hidup di dalam tanah selama bertahun-tahun • Di Indonesia pernah dilaporkan hampir di seluruh Nusa Tenggara termasuk Bali. Jawa dan Madura juga pernah dilaporkan pada daerah Jakarta, Purwakarta, Bogor, Periangan, Banten, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Surakarta, Banyumas, Boyolali, Sragen, Madiun dan Bojonegoro. Selain itu juga Jambi, Palembang, Padang, Bengkulu, Bukittinggi, Sibolga dan Medan serta Sulawesi seperti daerah Sulawesi Selatan, Menado, Donggala dan Palu
  33. 33. Anthrax • Hewan – Akut, hewan mati tanpa diikuti gejala klinis. Kadang disertai adanya perdarahan yang keluar melalui lubang hidung dan anus – Gejala umum: pembengkakan daerah leher, dada, lambung dan alat kelamin luar – Demam tinggi, kesulitan bernafas, sempoyongan, lemah dan kematian cepat – Di daerah enzootik: hewan mati tanpa gejala harus dicurigai terhadap anthrax dan tidak boleh dilakukan bedah bangkai. Preparat ulas darah dapat diambil dari darah yang keluar melalui lubang hidung atau anus untuk pemeriksaan lebih lanjut
  34. 34. Anthrax • Manusia – 3 bentuk serangan: kulit, pernafasan, pencernaan – Masa inkubasi: kutaneus 3-10 hari, inhalasi 1-5 hari dan intestinal 2-5 hari – Anthrax kutaneus: tukak terlokalisir dan keropeng disertai demam dan sakit kepala dalam beberapa hari yang disebabkan septikemia dan meningitis – Anthrax inhalasi: gejala pneumonia fulminans – Anthrax intestinal: gejala gastroenteritis akut dengan diare yang berdarah
  35. 35. Anthrax bentuk kulit
  36. 36. Anthrax • Terapi, pengendalian dan pencegahan pada hewan – Penderita yang dicurigai, tidak boleh dipotong paksa – Penderita diinjeksi antiserum dengan dosis kuratif 100-150 ml, penyuntikan antibiotika, atau kemoterapi – Semua karkas dari hewan yang mati karena anthrax atau yang dicurigai anthrax harus dikubur sedalam 2 meter dilapisi penutup gamping (kapur) dan daerah tersebut dipagar. Semua material terinfeksi harus dibakar dan semua hewan rentan dijauhkan dari daerah terinfeksi – Laporkan pada dokter hewan berwenang, dinas peternakan atau dinas terkait
  37. 37. Anthrax • Terapi pada manusia – Antibiotika: penisilin – Vaksinasi: pekerja yang berisiko – Hindari kontak dengan binatang yang terinfeksi dan produknya – Obati luka secepatnya – Berikan desinfektan pada wool atau rambut import. – Isolasi pasien yang terinfeksi dengan bersama-sama melakukan desinfeksi
  38. 38. Leptospirosis • Sinonim: penyakit Weil, demam kanikola (L. canicola), haemorrhagic jaundice (L. ichterohemaorrhagiae), demam pekerja pabrik susu (L. hardjo) • Kausa: Leptospira sp. Terdapat > 170 serotipe. • Penyakit ini tersebar melalui kontak langsung dengan urine atau dapat juga dari air dan makanan tercemar urine • Masa inkubasi: hewan 1-2 minggu, manusia 3-20 hari. • Reservoir penting: L. canicola (anjing), L.hardjo (sapi) dan L. ichterihaemorrhagiae (tikus)
  39. 39. Leptospirosis • Hewan – Demam tinggi, abortus atau keluron, di dalam susu ditemukan adanya darah – Urine berubah warna menjadi merah atau coklat. Hewan mengalami ikhterus pada mukosa konjungtiva dan mulut – Hepatomegali, ginjal membesar, nefritis – Diagnosa melalui pemeriksaan laboratorium. Sampel yang diperlukan adalah darah, serum atau urine segar serta spesimen ginjal atau hati dalam formalin 10%
  40. 40. Leptospirosis • Manusia – Demam, diikuti muntah, sakit kepala, ikterus, anemia, nyeri otot, anemia hemolitik, meningitis, pneumonitis, dan nefritis – Penyakit Weil ditandai ikterus atau jaundice dan gagal ginjal setelah beberapa hari – Serangan L. Hardjo menyebabkan penyakit serupa dengan influenza selama beberapa hari – Hepatomegali dengan degenerasi hati dan nefritis
  41. 41. Leptospirosis • Terapi, pengendalian dan pencegahan pada hewan – Antibiotika dapat membunuh bakteri penyebabnya, (Penicillin, Streptomisin) – Tikus, anjing dan sapi menjadi hewan perantara yang penting dalam penyebaran penyakit ini berdasarkan kuman penyebab – Pemberantasan tikus menjadi hal yang penting dalam pengendalian penyakit ini – Tersedia vaksin untuk anjing dan ternak
  42. 42. Kandung kemih, urine bercampur darah Kencing merah hitam, bercampur darah Ginjal membesar
  43. 43. Brucellosis • Sinonim: keluron menular, Bang disease • Penyakit ini sangat menular dan bersifat zoonosis. • Penyebab : – Brucella abortus (sapi) – Brucella melintesis (kambing, domba) – Brucella suis (babi) • Abortus terjadi biasanya pada trimester ketiga atau sekitar 7 bulan. • Sumber penularan: cairan kelahiran, pedet yang mati atau plasenta
  44. 44. Brucellosis • Hewan – Abortus pada fetus antara 5-8 bulan kebuntingan, berakibat selaput plasenta tertinggal lama (retensi) dan menyebabkan steril pada sapi – Bila sapi menderita abortus pada periode tersebut harus dicurigai menderita Brucellosis, sampel darah (serum) perlu diambil untuk peneguhan diagnosis
  45. 45. Brucellosis • Manusia – Masa inkubasi: bervariasi, 1-6 minggu – Demam berfluktuasi – Lemah, kaku, keringat malam hari, sakit kepala, persendian – Bengkak kelenjar limfe, hati, limpa
  46. 46. Brucellosis • Terapi, pengendalian dan pencegahan pada hewan – Tidak ada obat yang efektif – sapi penderita (reaktor) harus di-stamping out – Semua bagian kelahiran (pedet yang mati, plasenta, cairan, dll) harus dibakar agar tidak menjadi sumber penularan – Waspadai juga pejantan yang baru masuk dalam kelompok karena bisa juga menjadi sumber penularan
  47. 47. Brucellosis • Terapi pada manusia – Antibiotika: tetrasiklin, streptomisin, trimetoprim atau sulfametoksazol – Vaksinasi tidak efektif
  48. 48. Tuberkulosis • Sinonim: BTB (bovine tuberculosis) • Penyakit menular dan kronis • Kausa: – Mycobacterium tuberculosis (manusia) – Mycobacterium bovis (sapi) • Kejadian di Indonesia belum banyak dilaporkan, namun pernah dilaporkan di Ngawi, Jawa Timur tahun 1988. Jawa Barat 3 kasus tahun 1994. Bangli, Bali 2,22% (1/45) tahun 2013
  49. 49. Tuberkulosis • Hewan – Pada sapi tidak ada gejala spesifik tahap stadium awal – Bila penyakit melanjut sapi akan menunjukkan batuk menetap, anoreksia dan kondisi badan sangat menurun disertai pembengkakan kelenjar limfe – Pengerasan ambing karena adanya jaringan ikat sering ditemukan. Pada saat itu kuman dapat terlihat dalam sekreta dan eksreta – Diagnosis: uji tuberkulin
  50. 50. Tuberkulosis Paru-paru penderita, berbungkul bungkul Ambing penderita berbungkul dan mengeras (kanan), Ambing sehat (kiri)
  51. 51. Tuberkulosis • Manusia – Masa inkubasi, 4 minggu – beberapa tahun – Lesi primer pembesaran kelenjar limfe leher – Demam, penurunan berat badan, nyeri perut, nyeri tekan perut, lesi tulang dan sendi, lesi genitouriner, meningitis dengan tanda neurologis. Infeksinya bisa serupa dengan tuberkulosis pernafasan – Infeksi ulangan dapat terjadi
  52. 52. Tuberkulosis • Terapi, pengendalian dan pencegahan pada hewan – Pengobatan dilakukan dengan pemberian INH atau Streptomisin, namun seringkali efektif – Sapi penderita yang kurus, dieuthanasia dan dibakar – Hewan yang diduga menderita disingkirkan dan dilakukan pemeriksaan diagnostik
  53. 53. Tuberkulosis • Terapi pada manusia – Untuk menghindari penularan dari manusia maka pekerja di RPH dan peternakan sapi perah harus bebas menderita TBC – Pencegahan juga dapat dilakukan dengan vaksinasi BCG – Masak susu dengan baik sebelum diminum
  54. 54. Botulismus • Sinonim: Lamziekte, Limberneck • Kausa: Clostridium botulinum, bakteri yang hidup di tanah dan bebas oksigen (anaerob) serta dapat menghasilkan toksin. Kuman ini dapat membentuk spora sehingga tahan bertahun-tahun di dalam tanah • Penyakit ini meluas di seluruh dunia • Masa inkubasi pada hewan dan manusia 6 jam hingga beberapa hari, biasanya 12-36 jam
  55. 55. Botulismus • Hewan – Toksin menyerang syaraf, hewan sempoyongan, kesulitan menelan, hipersalivasi, mata terbelalak – Hewan lumpuh pada lidah, bibir, tenggorokan dan kaki serta kelemahan umum – Hewan ambruk, kesulitan bernafas dan hewan akan mati dalam 1-4 hari – Kadang penyakit berjalan kronis, gejala berlangsung beberapa minggu. Pada domba atau kambing berjalan berkeliling dengan kepala di satu sisi (miring/head tilt) – Gejala bisa dikelirukan rabies
  56. 56. Botulismus • Manusia – Tanda intoksikasi berupa mual, muntah, nyeri perut, diikuti gejala syaraf, ptosis, pandangan buram, paresis, dan paralisis kegagalan pernafasan dapat mengakibatkan kematian dalam beberapa jam-hari – Gejala klinik yang khas adalah paralisis fleksid yang turun dari atas ke bawah
  57. 57. Botulismus • Terapi, pengendalian dan pencegahan pada hewan – Pengobatan tidak efektif, namun dapat diberikan antiserum – Obat oleum olifarum dapat mencegah terserapnya toksin lebih lanjut – Pengobatan lain dapat diberikan hanya simptomatis dan suportif – Pengendalian dan pencegahan terdiri atas pemusnahan karkas, pemberian air bersih, pengobatan pada setiap kekurangan mineral dan dengan vaksinasi
  58. 58. Botulismus • Terapi pada manusia – Pemberian antitoksin polivalen sedini mungkin (dalam 1-2 hari) setelah menelan dapat memperbaiki prognosis, tetapi risiko terhadap reaksi hipersensitifitas yang berat terhadap serum kuda juga tinggi – Memberikan bantuan pernafasan intensif
  59. 59. Ring worm • Sinonim: Kurap, Dermatophytosis, Tinea • Kausa: Trichophyton sp., Microsporum sp. dan Epidermophyton sp. penyebab utama pada ternak adalah Trichophyton dan Microsporum • Spora ringworm sangat tahan lama dalam kandang dan bebas di tempat-tempat hewan • Penularan: kontak langsung
  60. 60. Ring worm • Hewan – Dimulai bercak merah, eksudasi dan rambut patah atau rontok. Perkembangan selanjutnya bervariasi. Bersisik, berupa benjolan kecil atau erupsi kulit atau berbentuk seperti tumor yang dikenal sebagai kerion – Bentuk lesi spesifik seperti cincin. Bila keropeng diangkat dapat terjadi perdarahan. Pada hewan umumnya terjadi pada daerah wajah, leher, bahu dada atau punggung. Hewan bertindak sebagai reservoir – Diagnosis dibantu dengan Wood lamp, meskipun tidak semua penyebab menimbulkan pendaran warna fluorescence
  61. 61. Ring worm • Manusia – Dermatitis dengan derajat keganasan yang bervariasi disertai kebotakan lokal – Lesi berbentuk cincin, bersisik tebal tersebar di kepala atau bagian tubuh lain – Hifa jamur tumbuh pada stratum korneum dan tumbuh secepat pertumbuhan kulit agar membentuk lesi – Identifikasi melalui kerokan kulit
  62. 62. Ring worm • Terapi, pencegahan dan penanggulangan pada hewan – Kerak atau keropeng tebal diambil dengan sikat, sabun dan air – Terapi dengan iodium tinctur setiap hari dan gliserin dalam jumlah campuran yang sama • Sapi: Na-kaprilat 20% disemprotkan pada area terinfeksi. • Kuda: Na-trichloromethyl-thiotetrahydrophthalamide. Asam borak 2-5% atau Kalium permanganat 1:5000. Obat lain dapat diberikan asam benzoat 6% • Griseofulvin memuaskan, namun cukup mahal – Pencegahan bergantung dengan pemisahan dan pengobatan penderita. Hindari kondisi penuh sesak dan berdesakan. Bila mungkin berikan tambahan vitamin A dan D
  63. 63. Ring worm • Manusia – Ketokonazole, Itraconazole, Griseofulvin – Hindari kontak dengan hewan terinfeksi. Cuci tangan setelah kontak
  64. 64. Penyakit lain • Paratuberkulosis (Mycobacterium avium subspesies paratuberkulosis) • Kampilobakteriosis (Camphylobacter jejuni) • Klamidiosis (Chlamydia psittaci) • Listeriosis (Listeria monocytogenes) • Actinomycosis (Actinomyces israelli, Actinomyces spp.) • Aspergilosis (Aspergillus spp.)
  65. 65. Penyakit Zoonosis Pada Ternak
  66. 66. Toksoplasmosis • Kausa: Toksoplasma gondii • Terdapat hampir di seluruh dunia terutama daerah tropis • Kucing menjadi reservoir, induk semang definitif. Kucing bisa terinfeksi toksoplasma dari daging mentah atau burung atau tikus yang mengandung toksoplasma • Manusia mungkin terinfeksi karena memakan daging mentah atau daging yang tidak dimasak dengan baik yang tercemar/mengandung toksoplasma. Termasuk juga sayur mentah yang tidak dicuci dengan baik • Infeksi kongenital pada manusia dapat menyebabkan lesi otak yang serius
  67. 67. Toksoplasmosis • Hewan – Tidak ada tanda infeksi yang spesifik – Domba dapat terjadi abortus pada akhir kebuntingan – Gangguan syaraf terjadi akibat serangan pada sistem syaraf dengan gejala berputar-putar, inkoordinasi gerak, kekakuan otot serta kelelahan – Pada kucing dapat terjadi diare, hepatitis, miokarditis, miositis, pneumonia dan ensefalitis pada infeksi yang berat tetapi umumnya simptomatik
  68. 68. Toksoplasmosis • Manusia – Biasanya asimptomatik – Demam, sakit kepala, malaise, limfadenopati dan batuk yang lamanya bervariasi dan jarang terjadi miokarditis, ensefalitis dan pneumonitis – Infeksi otak yang berat dapat terjadi dari rektivasi infeksi laten pada individu yang mengalami penurunan sistem kekebalan (AIDS). – Infeksi kongenital menyebabkan retinitis kronik, kerusakan otak, hidrosefali, mikrosefali, pembesaran hati dan limpa, trombositopenia, rash dan demam
  69. 69. Toksoplasmosis • Terapi, pengendalian dan pencegahan pada hewan
  70. 70. Toksoplasmosis • Terapi pada manusia – Rifampicin – Anthelmintik namun hasilnya tidak bagus – Pengobatan steroid untuk mata dapat mengatasi keradangan dan edema. Laser fotokoagulasi mungkin diperlukan – Wanita hamil sebaiknya tidak menangani kotoran kucing atau bila terpaksa gunakan sarung tangan. Selalu cuci tangan dengan baik sebelum makan – Hindari makan daging atau sumber protein yang mentah (daging, telur). Cuci dengan baik sayuran mentah yang ingin dimakan
  71. 71. Taeniasis dan Sistiserkosis • Penyakit ini berhubungan dengan larva cacing Taenia solium dan Taenia saginata • Kausa: – Manusia: Taenia sagiata;T. Solium, dan Cysticercus cellulosa – Sapi: Cysticercus bovis – Babi: Cysticercus cellulosa • Reservoir: babi (induk semang)
  72. 72. Taeniasis dan Sistiserkosis • Hewan – Masa inkubasi 60 hari – Hewan biasanya subklinis, tetapi gejala sakit pada otot dapat timbul bila terinfeksi cacing yang berat. – Dapat juga muncul gejala neurologis
  73. 73. Proglottid gravid Taenia saginata Cysticercus bovis
  74. 74. Taeniasis dan Sistiserkosis • Manusia – Masa inkubasi pada manusia terserang sistiserkosis adalah 10-12 hari, taenisiasi 8-14 hari – Cacing pita dapat menyebabkan gejala perut yang tidak spesifik meliputi anoreksia, penurunan berat badan – Infeksi larva menimbulkan gejala akibatkan migrasi larva ke seluruh jaringan seperti demam, sakit otot, kehilangan pandangan, epilepsi dan gejala neurologi lain – Infeksi kista dan cacing pita biasanya ringan, tetapi infeksi C. cellulosa pada manusia dapat menyebabkan lesi otak serius dan bahkan fatal
  75. 75. Taeniasis dan Sistiserkosis • Terapi pada manusia – Niklosomid, praziquantel – Pembedahan kadang diperlukan untuk sistiserkosis – Hindari makan daging sapi atau babi ang mentah atau tidak dimasak dengan baik. Pemeriksaan daging yang baik di RPH. Sanitasi lingkungan yang baik
  76. 76. Trypanosomiasis • Kausa: Trypanosoma brucei, Trypanosoma gambiense • Reservoir: sapi, babi (T. brucei); manusia (T. gambiense) • Penularan: lalat tsetse
  77. 77. Trypanosomiasis • Hewan – Subklinis – Kadang disertai gejala syaraf Trypanosoma brucei dalam darah
  78. 78. Trypanosomiasis • Manusia – Masa inkubasi, 3-21 hari (T. brucei), T. gambiense lebih lama – Furunkel pada lokasi gigitan serangga – Akut, setahun parasit hanya ditemukan dalam darah. Demam berulang, sakit kepala, insomnia, limfadetis, anemia, hiperestesia. – Kronis, parasit menyerang sistem syaraf. Perubahan perilaku, gejala neurologis, kejang dan koma
  79. 79. Trypanosomiasis • Terapi, pengendalian dan pencegahan pada hewan – Tidak ada terapi spesifik – Tidak ada vaksin – Pengendalian lalat
  80. 80. Trypanosomiasis • Terapi pada manusia – Suramin (T. brucei), Pentamidine (T. gambiense) – Malasorpol dapat dipertimbangkan dalam stadium syarafi – Bila tidak diterapi, penyakit berjalan progresif 1-2 tahun dan berakhir dengan kematian – Tidak ada vaksin
  81. 81. Skistosomiasis • Sinonim: Bilharzia, Bilharziasis • Infestasi cacing pita sistemik yang ditularkan melalui air • Penyebab: – Schistosoma mansoni, S. hematobium, (manusia sbg reservoir) di Afrika, Amerika Selatan, Karibia – S. japonicum di Cina, Jepang, Philipina, Asia Tenggara • S. japonicum menginfeksi sapi, kerbau, kuda, anjing, kucing, pengerat dan kera • Hospes antara: Siput Biomfalaria dan Bulimus
  82. 82. Skistosomiasis • Hewan – Masa inkubasi, bervariasi – Nyeri perut, diare, anemia, kurus dan hematuria
  83. 83. Skistosomiasis • Manusia – Masa inkubasi S. japonicum 4-6 minggu sebelum gejala akut – Larva masuk ke kulit (rash dg rasa gatal) – Akut: demam, nyeri perut, batuk, penurunan berat badan, diare dan disentri – Kronik: hepatomegali, sirosis, pembesaran limpa, asites dan epilepsi
  84. 84. Skistosomiasis • Terapi, pengendalian dan pencegahan pada hewan – Tartar emetik, antimosa dan stibofen – Lukanton dan Triklorofon (sapi, domba). Hikanton dan Niridazaol (domba)
  85. 85. Skistosomiasis • Terapi pada manusia – Praziquantel – Kontol hospes perantara siput. Sediakan air minum melalui pipa air. Sanitasi lingkungan
  86. 86. Penderita, mengalami pembesaran perut Skistosoma
  87. 87. Penyakit lain • Ankilostomiasis (Ancylostoma sp.) • Babesiosis (Babesia sp.) • Fasciolasis (Fasciola hepatica) • Skabiosis (S. scabie) • Filariasis (D. immitis, Brugei malay) • Trypanosomiasis (T. brucei) • Trichinosis (Trichinella spiralis) • Ekinokokosis (E. granulosus; E. multilocularis; E. oligarthus; E. vogeli)

×