Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Penyakit Penyakit pada Ternak di Indonesia 2015

5,312 views

Published on

Memberi penjelasan penyakit-penyakit penting pada ternak, baik penyakit menular strategis dan penyakit-penyakit non infeksius yang sering terjadi.
Materi ini diberikan pada acara PraDiklat Kelompok Minat Profesi Ternak Besar tahun 2015.

Published in: Health & Medicine
  • Follow the link, new dating source: ❤❤❤ http://bit.ly/2F90ZZC ❤❤❤
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here
  • Dating direct: ❶❶❶ http://bit.ly/2F90ZZC ❶❶❶
       Reply 
    Are you sure you want to  Yes  No
    Your message goes here

Penyakit Penyakit pada Ternak di Indonesia 2015

  1. 1. Nusdianto Triakoso PraDiklat KMPV Ternak Besar, 27 Maret 2015
  2. 2. Nusdianto Triakoso • Kediri, 5 Mei 1968 • FKH (1997)-sekarang – Sekretaris Bagian Klinik Veteriner (2004-2007) – Wakil Kepala Rumah Sakit Hewan (2006-2008) – TUSK Feasibility working group on Tufts University Sciences Knowledgebase project (2008) – Kepala Unit Sistem Informasi (2007-2009) – Komisi Etik Penelitian Penggunaan Hewan Coba (ACUC) (2005-sekarang) – Pemimpin Redaksi VetMedika Jurnal Klinik Veteriner (2012-sekarang) – Asosiasi Kedokteran Interna Veteriner Indonesia (2013-sekarang) – Sekretaris Kolegium Penyakit Dalam Veteriner Indonesia (2013-sekarang) – PDHI Jatim1, Bidang Organisasi (2007-2012) – PDHI Jatim1, Bidang Pendidikan Berkelanjutan (2012-sekarang) • Praktisi (1997)-sekarang Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 triakoso.wordpress.com
  3. 3. • Anthrax • Rabies • Salmonelosis • Brucellosis • Avian Influenza (HPAI, LPAI) • Porcine Reproductive and Respiratory Syndrome • Helminthiasis • Septicaemia Epizootica • Nipah Virus Encephalitis • Infectious Bovine Rhinotracheitis • Bovine Tuberculosis • Leptospirosis • Brucellosis (Brucella suis) • Jembrana • Surra • Toxoplasmosis • Paratuberkulosis • Classical Swine Fever • Swine Influenza Novel (H1N1) • Campylobacteriosis • Cysticercosis • Q fever Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 22 Penyakit Hewan Menular Strategis (SKMTan 4026/Kpts/OT.140/3/2013)
  4. 4. • Ruminansia Besar – Anthrax – Brucellosis – Septicaemia Epizootica (SE) – Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) – Jembrana – Surra – Paratuberkulosis – Bovine Tuberkulosis • Berpotensi – PMK – Rift Valley Fever (RVF) – Bovine Spongioform Encephalophaty (BSE) Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  5. 5. Infeksius • Anthrax • Surra • Paratuberkulosis • Jembrana like disease • MCF • PMK Non Infeksius • Bloat • Asidosis rumen • Milk Fever • LDA Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  6. 6. • Splenic fever, charbon, milztbrand, wool Sorter’s disease • Anthrax merupakan penyakit menular akut yang dapat menyerang pada semua hewan berdarah panas • Penyebab: Bacillus anthracis. Spora, tahan hidup di dalam tanah selama bertahun-tahun. • Transmisi: spora (PO), tidak kontak antar hewan • Kerugian mencapai Rp. 2 milyar/tahun (1980) • Zoonosis Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  7. 7. • Di Indonesia, pertama Teluk betung (1884) • Di Indonesia pernah dilaporkan hampir di seluruh Nusa Tenggara termasuk Bali. Jawa dan Madura juga pernah dilaporkan pada daerah Jakarta, Purwakarta, Bogor, Periangan, Banten, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Surakarta, Banyumas, Boyolali, Sragen, Madiun dan Bojonegoro. Selain itu juga Jambi, Palembang, Padang, Bengkulu, Bukittinggi, Sibolga dan Medan serta Sulawesi seperti daerah Sulawesi Selatan, Menado, Donggala dan Palu • Enzootik sekitar Jatim: Sragen, Boyolali (2012) • Blitar, Desember 2014 Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  8. 8. • Gejala – Akut, hewan mati tanpa diikuti gejala klinis. Kadang disertai adanya perdarahan yang keluar melalui lubang hidung dan anus – Gejala umum, pembengkakan daerah leher, dada, lambung dan alat kelamin luar – Gejala lain, panas tinggi, kesulitan bernafas, sempoyongan, lemah dan kematian cepat – Di daerah enzootik, apabila hewan mati tanpa gejala harus dicurigai terhadap anthrax dan tidak boleh dilakukan bedah bangkai. Preparat ulas darah dapat diambil dari darah yang keluar melalui lubang hidung atau anus untuk pemeriksaan lebih lanjut Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  9. 9. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  10. 10. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  11. 11. • Diagnosis – Pemeriksan mikroskopis langsung – Kultur bakteri – Uji biologis – Uji serologis (Ascoli, ELISA) – DD: Clostridiosis, Pasteurellosis, Leptospirosis, Keracunan Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  12. 12. • Terapi, pengendalian dan pencegahan – Injeksi antiserum dengan dosis kuratif 100-150 ml, – Injeksi antibiotika, atau kemoterapi – Vaksinasi – Semua karkas dari hewan yang mati karena anthrax atau yang dicurigai anthrax harus dikubur sedalam 2 meter dilapisi penutup gamping (kapur) dan daerah tersebut dipagar. Semua material terinfeksi harus dibakar dan semua hewan rentan dijauhkan dari daerah terinfeksi. – Laporkan pada dokter hewan berwenang, dinas peternakan atau dinas terkait Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  13. 13. • Trypanosomiasis; Penyakit mubeng • --meaning the sound of heavy breathing through nostrils, of imitative origin (bhs Marathi) • Penyebab: Trypanosoma evansi • Pertama kali di Indonesia 1897 di Semarang (sebelumnya Banten, Tegal, Cirebon, Pulau Roti). Tahun 1957, seluruh Indonesia kecuali Bali, Sumba, Flores, Maluku, Papua • 1974, Maluku dan Papua masih bebas • Kerugian Rp. 13.956.066.627/tahun (1978) Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  14. 14. • Penyakit bersifat akut, kronis • Hewan rentan: semua hewan berdarah panas, kecuali burung • Fatal pada kuda, keledai, sapi, kerbau, rusa, onta, llama, anjing dan kucing. Mortalitas 80% (sapi, kerbau) • Kronis pada babi, domba dan kambing • Masa inkubasi 3-14 hari • Transmisi: Tabanus; Chrysops, Stomoxys, Haematopota, Lyperosia dan Haematobia Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  15. 15. • Gejala – Akut: kematian 4 hari-6mingu – Pembesaran kelenjar limfa dan limpa, kemudian kelenjar limfa dan limpa mengecil (lymphoid exhaustion) – Gejala khas: Anemia hemolitik – Gejala syarafi: kejang, berputar-putar, sempoyongan – Infeksi kronis menyebabkan gagal jantung (CHF) dan kematian – Hipertorfi sel plasma dan hipergammaglobulinaemia. – Emasiasi, abortus, infertilitas, premature birth, dan orchitis (menurunkan fertilitas) Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  16. 16. • Diagnosis – Pemeriksaan mikroskopis langsung – Hematokrit, buffy coat (85 trypanosoma/ml) – Uji biologis – ELISA, PCR – DD: SE, Babesiosis, Anaplasmosis, MCF, Thelleriosis, Anthrax, Keracunan (Ficus saxophylia) Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  17. 17. • Terapi, pengendaian, dan pencegahan – Prinsip: terapi kuratif pada penderita, terapi profilaksis pada hewan peka, mencegah gigitan vektor • Suramin • Prothridium • Diminazene aceturate • Melarsomine chlorhydrate – Ternak sakit diasingkan terhindar dari gigitan vektor – Pencegahan dengan memberantas vektor – Pengendalian sesuai pedoman PHM Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  18. 18. • Johne’s disease; • Penyebab: Mycobacterium avium subspesies paratuberculosis (MAP) • Kronis kontagius granulomatus enteritis ditandai diare persisten, kurus progresif, lemah, mati • Menyerang semua ruminansia, juga omnivora dan karnivora (llama, kelinci liar, rubah, musang, babi, dan primata) Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  19. 19. • Jawa Barat, sapi perah 0,55%(1/180) (Adji,2004) , Sumatera Utara sapi kerbau 4%(2/50) (Setyowati et al, 1985) • Cilacap (2008), Sapi (4/1180) dari NZ dimusnahkan karena paraTB positif. • Jawa Timur?? Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  20. 20. • Gejala – Stadium1, subklinis, silent – Stadium2, penyebaran subklinis (tampak sehat, menyebarkan MAP melalui feses, kontaminasi lingkungan) – Stadium3, klinis (diare encer, busuk, kurus, produksi susu turun) – Stadium4, stadium akhir (emasiasi, bottle jaw, fatal) Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  21. 21. • Gejala – Sapi alert, suhu normal, nafsu makan normal – Sapi: diare konstan, kadang intermiten. Kambing, domba, ruminansia lain: diare tidak tampak. Pada rusa dan elk, perjalanan penyakit sangat cepat – Diare tidak bercampur mukus atau darah, tanpa tenesmus. Diare progresif – Kurus dg cepat, warna kulit/bulu memudar, edema bagian ventral – Penebalan dinding intestinal, pembesaran kelenjar limfe Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  22. 22. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  23. 23. • Diagnosis – Goal standar: nekropsi, histopatologi dan kultur – Klinis: MAP pada mikroskopis, kultur, PCR, – Subklinis: serologis, MAP pada kultur – Ziehl-Neelsen stains melihat bakteri intraseluler Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  24. 24. • Terapi – Tidak ada terapi yang memuaskan – Sanitasi lingkungan. Hindari terhadap kontaminasi feses – Tempat kelahiran bersih dari feses dan segera pisahkan dari induk. Bisa juga transmisi intrauteri. – Penderita positif: potong paksa – Pengendalian setidaknya 5 tahun – Zoonosis, Crohn disease Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  25. 25. • Bovine Malignant Catarrhal, Coryza Gangraenosa Bovum atau Snotsiekte, MCF • Penyebab: Gamma Herpesvirus (AHV-1; OHV-2; AHV-2;CpHV-2) • Penyakit ini bersifat fatal pada sapi dan kerbau • Domba dan kambing dan ruminansia liar asimptomatis tetapi diperkirakan carrier • Wildebees (Gnu) di Afrika dan Domba di Indonesia menjadi sangat penting keterlibatannya dalam proses terjadinya penyakit Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  26. 26. Hewan carriers • Domba, Kambing, Wildebeest, Hartebeest, dan Topi Hewan peka • Sapi, Bison, Elk, Reindeer, Moose, Babi, Jerapah, Antelope, Wapiti, Red deer, Pere David’s deer, White- tailed deer, White-tailed gnu, White-bearded gnu, Gaur, Greater kudo, Formosan sika deer, Axis deer, Nilgai, dan Banteng Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  27. 27. • Pertama kali ditemukan di Indonesia, di Kediri (1894) • Hampir semua daerah di Jawa pernah ditemukan penyakit ini. Selain itu juga pernah dilaporkan terjadi di Kupang, Medan, Watampone, Wajo dan Bulukumba. • Kejadian terbanyak sapi Bali. SapiBali, Madura, Ongole, sapi perah Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  28. 28. • Gejala – 3 Bentuk: Kepala, Pencernaan, Kombinasi – Bervariasi, keluar leleran hidung dan mata akhirnya menjadi kental dan mukopurulenta, peradangan mulut, suhu tubuh tingi, kondisi menurun, kurus, kesulitan bernafas, opasitas mata (memutih), kebutaan, lesi kulit hingga mengelupas dan penebalan kulit – Kelenjar limfe sangat jelas terlihat dan membengkak. Selain itu hewan mengalami konstipasi, diikuti diare yang disertai darah. Sedangkan gejala syaraf seperti kelumpuhan sebelum mati terjadi pada sebagian besar kasus Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  29. 29. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  30. 30. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  31. 31. • Diagnosis – Peneguhan diagnosis dapat diperoleh dari jaringan terserang (otak, hati, limpa dan ginjal) dikirimkan ke laboratorium dalam 10% larutan formalin – Imunofluorescene – DD: Jembrana, Pink Eye • Terapi, pengendalian dan pencegahan – Tidak ada pengobatan yang efektif. Tidak ada vaksin – Mortalitas mencapai 100% – Pencegahan, sapi harus dipelihara terpisah dengan domba, kambing atau satwa liar Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  32. 32. • Aphtae epizooticae (AE); Foot and Mouth Disease (FMD) • Penyakit ini yang sangat menular pada hewan yang berkuku genap • Penyebab: virus Aphtae – Virus ini labil, antigenitas cepat dan mudah berobah – Ada 7 tipe yaitu O, A, C, SAT1, SAT2, SAT3 dan ASIA1 – O terdiri 11 subtipe; A terdiri 23 subtipe; C terdiri 2 subtipe; SAT1 terdiri 7 subtipe; SAT2 terdiri 3 subtipe; SAT3 terdiri 4 subtipe dan ASIA1 terdiri 3 subtipe – Tipe virus PMK di Indonesia adalah tipe O dengan subtipe O11. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  33. 33. • Di Indonesia pertama kali ditemukan di Malang 1887 • Kemudian meluas ke Bangil, Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, Jember, Bondowoso, Besuki dan Banyuwangi. Setelah itu terjadi di hampir seluruh daerah di Indonesia, kecuali beberapa daerah seperti NTT, NTB, Maluku dan Papua • Indonesia dinyatakan bebas dari PMK pada tahun 1988 • Kerugian yang diakibatkan PMK ditaksir Rp 9,2 milyar pertahun (1981) Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  34. 34. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  35. 35. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 FMD OUTBREAKS UK: 2001, 2007 Japan, Korean: 2010-2011 Bulgaria: 2011 China: 2005
  36. 36. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  37. 37. • Gejala – Masa inkubasi 1-14 hari. – Virus PMK dengan konsentrasi tinggi pada epitel lepuh dan cairan di dalamnya, konsentrasi lebih rendah ada di dalam darah, organ tubuh, sekresi dan eksresi. – Suhu tinggi 41 oC (demam), anoreksia, bulu kusam, bagian dalam mulut mengalami radang. – Ditemukan lepuh pada gusi, lidah, langit-langit atau pangkal lidah. Kadang juga ditemukan lepuh di konjungtiva. Lepuh tersebut segera pecah dan menjadi ulser, sehingga hewan merasa sakit untuk mengunyah, menelan dan air liur tampak menetes. – Lepuh juga ditemukan di sekitar kuku dan sekitar batas kuku atas dan mengakibatkan kepincangan. Teracak lepas. Lepuh dan ulser juga bisa terjadi pada ambing dan puting. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  38. 38. • Gejala – Transmisi: kontak dengan penderita, sekresi, ekskresinya atau hasil hewani seperti susu, semen, daging. Bahan-bahan seperti pakan, kantong pakan, alas kandang dan lain-lain yang tercemar dapat menjadi sumber penularan termasuk juga kendaraan, pakaian dan hewan yang tidak rentan seperti kuda, rodensia, ayam, burung dapat memindahkan virus secara mekanis Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  39. 39. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 LESI MULUT
  40. 40. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 LESI KUKU jantung
  41. 41. • Diagnosis – Segera didiagnosis (berkaitan dengan kepentingan pengendalian penyakit) – Spesimen lepuh kaki dan mulut harus diambil dan kulit lepuh yang utuh merupakan spesimen terbaik. Kirimkan dalam buffer gliserin 50% • Terapi, Pengendalian dan Pencegahan – Tidak ada pengobatan yang efektif untuk mengatasi penyakit ini. Penyakit ini adalah penyakit strategis – Segera laporkan pada dokter hewan berwenang atau dinas peternakan – Pengendalian penyakit: Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  42. 42. • Rama Dewa; Jembrana like Disease • Penyakit menular akut pada sapi Bali (dan turunan, rambon) • Dikenal mulai tahun 1964 di Jembrana, Bali. Gianyar, Klungkung, Badung, Tabanan, Buleleng (wabah besar). Lampung, Sumatera Barat, Jawa Timur (1993) • Penyakit infekius , non kontagius • Penyebab: Rickettsia (1978); Bovine lentivirus (1995) Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  43. 43. • Gejala – Demam tinggi (39-4,5 oC). Suhu >40 oC beberapa hari kemudian turun hingga sub normal – Pembesaran kelenjar limfe – Diare profus hemoragi, erosi mukosa mulut – Abortus – Keringat darah; perdarahan pada mata; mukosa hiperemik, hemoragik, anemis Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  44. 44. • Diagnosis – Nekropsi; Histopatologi – Sampel: limpa, kelenjar limfe, hepar, renal, adrenal, darah – Ulas darah: Giemza (kecoklatan), Machiavello (merah) – DD: MCF, Rinderpest, Piroplasmosis, SE • Terapi – Tidak memberikan hasil – Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder – Pencegahan: belum ada vaksin – Pengendalian: isolasi dan kubur dalam, pemusnahan vektor Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  45. 45. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 • Sinonim : grain overload, rumen overload, lactic acidosis, acute rumen engorgement • Kausa: – Karbohidrat rendah serat, mudah difermentasi (dehidrasi akut dan depresi) – Pakan tinggi protein mudah cerna, produksi ion ammonium sangat tinggi memicu eksitasi dan hiperestesia corn ampas kedelai spelt hulled rye berries millet bekatul onggok molases
  46. 46. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 • Ruminal asidosis moderat seringkali terjadi pada sapi dengan pakan sereal, dan penderita cattle lebh tampak gejala komplikasi: – liver abses – rumenitis or rumen parakeratosis – mycotic rumenitis – feedlot bloat (frothy bloat) – laminitis
  47. 47. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 RUMINAL ACIDOSIS Stasis fermentation Acidosis Metabolic ↑ high digestable ↑ growth (all microbe) ↑ VFA’s ↓ pH ↑ growth S. bovis ↓ pH < 5 ↓ microbial growth (some bacterial) ↓ pH ↓ S. bovis ↑ Lactobacillus Absorbsion D/L lactic acid ↑ lactic acid
  48. 48. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 Adaptasi Rumen Terkait pH
  49. 49. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 • Gejala – Onset of action bergantung jumlah pakan, ukuran partikel pakan, daya adaptasi – Gejala klinis: 12-36 jam – Akut berat—ringan (mirip indigesti sederhana) – Ataksia, tremor, depresi, lethargi, anoreksia, buta – Statis rumen komplit dan sakit (abdominal pain), – Diare (berbuih, kecut, kuning kehijauan, pakan tidak tercerna) – Distensi abdomen – Dehidrasi tampak dalam 24-48 jam – Laminitis
  50. 50. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 • Gejala – Parah: suddent death syndrome; ambruk-mirip milk fever (lemah dan toksemia) dalam 24-48 jam. – Takipnu (asidosis), hipotermia, pulsus lemah – Mocong kotor – Beberapa hewan sembuh, namun menjadi kurus akibat kronis rumenitis dan abses hepar
  51. 51. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  52. 52. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 • Diagnosis – Berdasar anamnesis dan pemeriksaan fisik • Anamnesis saja tidak cukup • Misleading diagnosis : jika pola pakan tidak diketahui – Pemeriksaan laboratorium (rumen ingesta, pH plasma dan pH urine) – Differential diagnosis • Polioencephalomalacia • Urolithiasis; Peritonitis • Parturient paresis • Penyakit lain yg disertai depresi
  53. 53. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 • Terapi – Ringan: sembuh spontan – Kasus berat: terapi intesif – Pengosongan rumen: oral lavage atau rumenotomy – Antasida PO (Mg carbonate atau Mg hydroxide) • Inisial: 1 gram/kg (454 gram pada sapi dewasa, interval 6-12 jam) • Campur dengan 8-12 liter air hangat (stomach tube ke rumen) • Dosis < 225 gram (jika rumen dikosongkan)
  54. 54. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 • Terapi – Terapi cairan (+bikarbonat) • Sapi 450 kg dehidrasi 10% (50 liter cairan dalam 24 jam). Na bikarbonat diberikan dg kecepatan 0,5 mEq/kg dan diulangi dalam 24 jam jika perlu – Antihistamin – Riset terkini: thiabendazole PO dapat mengendalikan rumenitis mikotik sekunder – Pencegahan • Hindari perubahan pemberian konsentrat mendadak • Serat kasar 14% TDN sapi kereman, dan 18-22% TDN sapi perah
  55. 55. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 • Ruminal tympani; tympani (dewasa); Abomasal bloat (anakan) • Terjadi distensi abdomen dengan cepat akibat akumulasi gas di dalam rumen • Ada dua bentuk: free gas, frothy • Kasus darurat medik (emergency)
  56. 56. Kausa Primer • Pasture: tumbuhan muda tumbuh subur (melepas kloroplast—buih stabil); succulent forage (anti- foaming); legume) • Feedlot: karbohidrat tinggi/konsentrat yang lembut, pH rumen , saliva . Sering terjadi 1-2 bulan Kausa Sekunder • Benda asing/stenosis; • Esophageal groove: vagal indigestion, diafragmatic hernia, tumor • Lesi pada retikulum, atoni rumen (asidosis rumen; hipokalsemia) Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  57. 57. Gejala Primer • TPR meningkat • Distensi rumen akut • Dispnu, leher menjulur, lidah keluar, mulut terbuka hipersalivasi, pollakiuria • Kontraksi rumen turun (hilang) • Kematian, 3-4 jam setelah gejala klinis Gejala Sekunder • TPR meningkat • Distensi daerah flank • Hipersalivasi, mulut terbuka • Perkusi: kembung nyaring • Ambruk lateral Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  58. 58. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  59. 59. • Diagnosis – Anamnesis – Gejala klinis, Pemeriksaan fisik – Masukkan orogastric tube • Tidak bisa masuk: free gas karena obstruksi • Masuk: free gas dengan atau tanpa obstruksi • Masuk, gas tidak keluar: frothy bloat (pH <5.5 = feedlot bloat; pH >5.5 = pasture bloat) Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  60. 60. • Terapi – Stomach tube • Mengeluarkan gas • Antifoaming agent pada frothy bloat – Trocar (emergency) • Antifoaming agent pada frothy bloat • Jika tidak berhasil, lakukan rumenotomi – Rumenotomi (kasus berat) – Rumen fistula • Mengeluarkan gas timpani akut akibat adanya massa esophagus • Mengambil massa secara manual Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  61. 61. • Antifoaming agent – Minyak nabati/minyak mineral 250-500 ml PO – Dioctyl Sodium Sulfosuccinate – Poloxalene 25-50g PO (pasture bloat) • Pencegahan – Minyak 60-120ml/ekor/hari – Ionophore (Monensin, Lasaloc) – Synthetic nonionic surfactan (Polaxalene) 10-20g/ekor/h Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  62. 62. • Parturient paresis, periparturient hypocalcemia • Penyakit peripartus (48-72 jam) • Hipokalsemia, kelemahan otot, dan depresi. • Tingkat insidensi MF 9% (0-10%), bisa > 25%. Riset 80% (outbreak) • Kerugian: terapi $15 juta/tahun Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  63. 63. • Etiologi Patogenesis – Kegagalan adaptasi kalsium pasca laktasi – PTH tidak responsif, keterbatasan dekalsifikasi – Faktor risiko • Umur (9% per lactation) • Produksi susu • Tatalaksana Masa Kering – Metabolisme Kalsium Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  64. 64. Ca P Mg Maintenance (non-pregnant) 15 13 9 Maintenance (late pregnancy) 28 22 12 Lactation (g/kg milk) 1,65 1,55 0,74 Rata-rata kebutuhan 600 kg sapi terhadap kalsium, fosfor dan magnesium (g/hari) Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  65. 65. PTH Renal IntestinalTulang Blood calcium pool Hepar 1,25(OH)2-D 25(OH)-D 1,25(OH)2-D D25 hydroxylase 25 OH D 1  hydroxylase Ca++HPO4 Ca++HPO4 Kalsifikasi Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 Metabolisme Kalsium Dekalsifikasi
  66. 66. Tulang Kalsium Plasma Intestinal Urine FecesSusu 2,3 g/L Tulang Kalsium Plasma Intestinal Urine FecesSusu 23 g/L 40-60% PTH PTH 1,25(OH)2-D 1,25(OH)2-D Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  67. 67. imunosupresi HIPOKALSEMIA THE DOWNER COW SYNDROME tonus otot BLOAT METRITIS DISTOKIA nafsu makan insulin KETOSIS FATTY LIVER DISEASE negative energy balance RETENSI PLASENTA uterus MASTITIS plasma kortisol rumen teat sphincter Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 Hubungan Hipokalsemia-Penyakit Periparturient
  68. 68. • Gejala – 3 stadium • Stage I, early (excitement-tetany) • Stage II, (sternal recumbency) • Stage III, (lateral recumbency) – Domba lebih sering mengalami MF pada kebuntingan akhir • Flaccid paralysis • Tetany, kadang disertai tremor otot • Ambruk, relatif jarang – Kambing, mirip seperti domba Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  69. 69. Terapi • Mengatasi bloat (distensi, akumulasi gas) • Calcium glukonate 25% – Sapi besar (540-590): 800- 1000 – Sapi kecil (320-360) : 400-500 • Monitor sirkulasi • Berikan perlahan, durasi, overdose Pencegahan • Dry period management : – Asupan kalsium rendah (<100 gram/hari) – Diet mengandung anion tinggi (ion klorida and senyawa sulfur) – Zeolit • Hindari obesitas (BCS 3) • Pemberian Vitamin D • Kalsium gel Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  70. 70. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 • Left displaced abomasum (LDA) adalah kondisi dimana abomasum berpindah dari posisi pada ventral kanan abdomen ke sebelah kiri abdomen diantara dinding abdomen dan rumen • Insidensi – Tertinggi pada sapi umur pertengahan (4-6 tahun) pada awal laktasi (80% dalam bulan pertama setelah laktasi) – Jarang pada bulls (pejantan), sapi dara atau sapi potong. – Kejadian rendah pada sapi bunting.
  71. 71. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 • Gejala – Awal, tidak jelas – Anoreksia – Sapi tidak mau konsentrat tapi mau makan hijauan. Semakin lama (beberapa minggu) kurus – Produksi susu menurun, bahkan agalaktia – Umumnya terjadi ketosis – Feses bervariasi, normal-keras. Penderita yang mengalami diare, prognosis tidak bagus dibanding penderita dengan feses normal-keras.
  72. 72. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 • Gejala – Metabolik alkalosis (umum). Beberapa mengalami metabolik asidosis atau normal – Ca serum rendah, P dan Mg normal atau agak meningkat. Glukosa darah turun. – Glucosuria terjadi bila kadar glukosa darah meningkat. Ketonuria manifestasi ketonemia akibat meningkatnya NEFA serum.
  73. 73. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 Left Displace Abomasum
  74. 74. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 Left Displace Abomasum
  75. 75. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 Right Displace Abomasum
  76. 76. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 Right Displace Abomasum Volvulus
  77. 77. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 Right Displace Abomasum Volvulus
  78. 78. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 • Diagnosis – Auskultasi dan perkusi – Liptank test • Abomasal (pH<5, no protozoa) • Ruminal (pH>6) – Prognosis: LDA pada sapi disertai diare lebih buruk dibanding feses normal atau kering
  79. 79. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015
  80. 80. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 • Terapi – Goal: Reposisi abomasum, agar berfungsi kembali – Terapi harus secepatnya, bersifat permanen, tidak mahal. – Medical treatment tidak bermanfaat – Terapi suportif – Rolling: reposisi abomasum (ekonomis, klien)
  81. 81. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015 • Tindakan Bedah – left flank abomasopexy – right flank omentopexy – right paramedian abomasopexy – right paramedian percutaneous toggle pin (bar suture) fixation. • Pencegahan – Tatalaksana pakan [hindari perubahan pakan mendadak, cukupi kebutuhan hijauan, berikan pakan volume sedikit tapi sering] – Hindari faktor penyebab penyakit periparturient. Penyakit- penyakit yang menyertai harus dicegah.
  82. 82. Triakoso - PraDiklat KMPV TB 2015

×