Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

(2)pengembangan bahan ajar mulok & contoh

1,458 views

Published on

MATERI PELATIHAN MULOK PALANGKARAYA

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

(2)pengembangan bahan ajar mulok & contoh

  1. 1. JEMBATAN KAHAYAN Desain : Offeny Ibrahim
  2. 2. PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MULOK ( 2 ) Drs. Offeny AI, M.Si
  3. 3. PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MULOK Dan Contoh Pengembangannya Tujuan Umum Peserta memahami konsep dan Prinsip pengembangan bahan ajar untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran mulok Tujuan Khusus 1. Melalui sharing dan kerja mandiri peserta dapat mengembangkan rancangan Bahan Ajar Mulok 2. Peserta dapat mengembangan Rancangan Materi Bahan Ajar Mulok sesuai dengan SK dan KD 3. Peserta dapat membuat draft Materi Bahan Ajar Mulok dimaksud yang nantinya dapat digunakan oleh siswa di sekolah
  4. 4. Pengertian Bahan Ajar  segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan pembelajaran di kelas.  Bahan ajar dapat berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis.  Misalnya: LKS, Buku, Modul , CD Pembelajaran , dsb
  5. 5. Sumber Belajar  Segala sesuatu yang dapat sumber materi dan kegiatan pembelajaran antara lain:  Manusia (Guru, pakar, praktisi, Siswa)  Buku dan penertbitan ( referensi laporan hasil penelitian, buku paket, LKS, )  Benda-benda yang dapat di bawa ke dalam kelas dan yang tidak  Gambar-gambar dan media audio fisual ( VCD, Film,  Lingkungan
  6. 6. 1. SK, KD, Indikator dan Tujauan: Ekplorasi Elaborasi 2. MATERI (bahan yang memuat Fakta , konsep,prinsip prosedur 3. SUMBER BAHAN AJAR sebagai tempat mencari materi dan rujukan penyelesaian tugas-tugas Misalnya buku, LKS ,Lingkungan 4. PETUNJUK BELAJAR 5.TUGAS –TUGAS sesuai tujuan dan materi , menuntun siswa belajar Ekplorasi (membaca & menjawab pertanyaan, mengamati & mencatat Elaborasi (menganalisis , membauat rangkuman &melaporkan, A. KOMPONEN BAHAN AJAR
  7. 7. B. PRINSIP dan JENIS PRINSIP JENIS 1.Sesuai khirarkhis KBM 3.Pengulangan 4.Terstruktur 5.Memotivasi 6.Bertahap 7. Siswa tahu hasil belajar 1.Visual/cetak (LKS/DIKTAT, Buku Modul) 2.Audio/tape 3.Audio Visual 4.Interaktive teaching Material 5. Power point
  8. 8. Kompetensi Dasar Indikator Standar Kompetensi Kegiatan Pembelajaran Mulok Materi Pembelajaran Mulok C. ALUR ANALISIS PENYUSUNAN BAHAN AJAR MULOK BAHAN AJAR Mulok yang kontekstual
  9. 9. D.JENIS-JENIS MATERI Fakta Kenyataan yang ada di dunia Peristiwa sejarah, kata- kata, bilangan konsep Pengertian sesuatu Pasar, past tense Melekul, garis prinsip Hal-hal utama, hubungan konsep Dalil, hukum newton, permintaan dan penawaran Prose-dur Langkah-langkah atau cara melakukan sesuatu Langkah meneliti, membuat karangan Menari ,senam
  10. 10. E. Cakupan dan Prinsip Bahan Ajar Cakupan Bahan Ajar Mulok Prinsip Pengembangan 1.Judul, MP, SK, KD, Indikator, Tempat 2.Petunjuk belajar (Petunjuk siswa/guru) 3.Tujuan 4.Informasi pendukung 5.Tugas/Latihan-latihan 6. Penilaian (pada lampiran terpisah) Relevansi (keterkaitan SK, KD indikator, tujuan Pembelajaran Konsistensi (keajegan) sesuai dg jumlah KD dan kedalaman indikator 3. Kecukupan ( tak terlalu banyak , tak terlalu sedikit
  11. 11. F. PROSEDUR PENGEBANGAN MATERI BAHAN AJAR MULOK 1. Berorientasi pada tujuan dan produk akhir 2. Menentukan materi yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, strategi,dan karakteristik siswa 3. Mengembangkan tugas-tugas yang relevan dengan tujuan dan strategi Pembelajaran 4. Minimal ada dua jenis Tugas ( tugas ekplorasi dan tugas elaborasi 5. Tugas-tugas dikembangkan terstruktur, terintegrasi dan menantang
  12. 12. Yang menjadi pertimbangan (BSNP, 2006) 1. Potensi peserta didik 2. Relevansi dengan karakteristik daerah 3. Tingkat perkembangan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spiritual peserta didik 4. Kebermanfaatan bagi peserta didik Struktur keilmuan 5. Aktualitas, kedalaman, dan keluasan materi pembelajaran 6. Relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan lingkungan 7. Alokasi waktu Pemilihan dan Pengembangan Materi Bahan Ajar
  13. 13. Mengapa guru harus menyusun / mengebangkan Materi bahan ajar? • Allwright (1990) textbook umumnya terlalu kaku apabila dijadikan sebagai sumber tunggal dalam pembelajaran • Berpedoman pada satu teksbook tidak selalu cocok dengan minat, kondisi, tingkat perkembangan dan kebutuhan berbahasa anak  kurang memberi kebermaknaan
  14. 14. Sumber Belajar • Materi otentik (materi pembelajaran, baik yang dalam bentuk cetakan maupun audio visual) • Internet • Media masa (cetak dan elektronik) • Foto-foto dan gambar • Alam lingkungan • Masyarakat
  15. 15. Jenis Pengembangan Materi • Self-designed (Merancang sendiri) • Modification (Modifikasi/mengubah) • Adaptation (Adaptasi/Penyesuaian) • Compilation (Kompilasi/ kumpulan/himpunan yang tersusun secara teratur) • Hand out (segala sesuatu/selebaran yang di bagikan)
  16. 16. Contoh Pengembangan Bahan ajar A. Mata Pelajaran : Bahasa Dayak Ngaju B. Standar Kompetensi: Membaca : Memahami makna dalam teks tulis fungsional pendek sederhana untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari-hari
  17. 17. Contoh Pengembangan Bahan ajar C. Kompetensi Dasar: Merespon makna yang terdapat dalam teks tulis fungsional pendek sederhana secara akurat, lancar dan berterima untuk berinteraksi dalam konteks kehidupan sehari hari D. Indikator Pencapaian Kompetensi • Siswa dapat membaca sebuah ceritera sederhana dengan ucapan dan intonasi yang tepat • Siswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban singkat tentang bacaan. • Siswa dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan penjelasan yang panjang tentang bacaan. • Siswa bisa menceritakan kembali isi bacaan dengan kata-kata sendiri.
  18. 18. Contoh Pengembangan Bahan ajar Untuk Mulok E. Tujuan Pembelajaran: 1.Siswa dapat membaca bacaan sederhana berbahasa Dayak Ngaju dengan ucapan dan intonasi yang benar 2. Siswa dapat memahami isi sebuah bacaan sederhana berbahasa Dayak Ngaju 3. Siswa dapat menggunakan bahasa Dayak Ngaju sederhana dalam bentuk lisan dan tulisan berdasarkan informasi dari sebuah bacaan
  19. 19. Bahan Pembelajaran • Bhs Dayak Ngaju (buku-2 atau tuturan) (Sbg alasan bhw bhs Dayak Ngaju dpt dijadikan sbg bhs lintas antar suku; krn semua suku Dayak yg lain dpt dg mudah berbhs Dayak Ngaju, namun sebaliknya suku Dayak Ngaju belum tentu menguasai bhs Dayak yg lain; sbg contoh : suku Dayak Maanyan bisa berbhs Dayak Ngaju, tetapi ada banyak dr suku Dayak Ngaju yg tdk bisa berbhs Maanyan). Dan Suku Dayak Ngaju, mrpk suku yg Mayoritas di Kalimantan Tengah.
  20. 20. Oleh krn itu tdk salah jk kita jg memberikan pembelajaran ttg : •Tatabahasa Dayak Ngaju •Bacaan-2 (terutama Bahasa Dayak Ngaju) dan Cerita Rakyat, dmk jg lain, spt : •Permainan/Olah Raga Tradisional •Masakan Tradisional (Kuliner) Dayak •Seni Musik, Lagu-lagu Daerah •Alat-2 Teknologi tradisional • Khasanah Budaya Kalimantan Tengah, dll.
  21. 21. (1)Tatabahasa (Dayak Ngaju) Lihat Buku Upon Ajar Basa Dayak Ngaju, 2001, juga Kamus Dwibahasa Dayak Ngaju – Indonesia 2012 (Cetakan Kelima (Oleh : Albert A Bingan & Offeny AI), dll.
  22. 22. (2)Bacaan (seperti Cerita Rakyat dll.) Cari dalam Beberapa Cerita Rakyat Bahasa Dayak Ngaju (Yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata Kota, Ditulis oleh Dinas P & K Kota, Ditulis Oleh : Offeny AI (dlm dua bhs), dll.
  23. 23. (3)Permainan/Olah Raga Tradisional • Cari pada Bab XX, hal. 373 (Buku Seni Budaya Kalimantan Tengah : Oleh Offeny AI, 2014), Kalimantan Membangun, 1979, Oleh : Tjilik Riwut, dan Buku Maneser Panatau Tatu Hiang), dll.
  24. 24. ( (4)Masakan Tradisional (Kuliner) Dayak Cari pada Bab XV, hal. 321 (Buku Seni Budaya Kalimantan Tengah 2014, Oleh : Offeny AI, (Kalimantan Membangun, 1979, Oleh Tjilik Riwut, dan Buku Maneser Panatau Tatu Hiang 2003), dll.
  25. 25. (5)Rumah Tradisional Kalteng (Betang, Karak Betang, Pasah, Lanting) Cari pada Bab XIV, hal. 281 (Buku Seni Budaya Kalimantan Tengah 2014, Oleh : Offeny AI, (Kalimantan Membangun, 1979, Oleh Tjilik Riwut, dan Buku Maneser Panatau Tatu Hiang 2003), Jejaring Internet
  26. 26. (6)Upacara Ritual 1. Upacara Tiwah, Manenga Lewu (Tiwah Habenteng), Wara, Ijambe (khusus religius/ritual keagamaan). 2. Upacara Nantulak dan Balaku Untung (Yaitu untuk menyucikan suatu daerah pertikaian, agar masyarakat mendapat kedamaian, kesejahteraan serta perlindungan dari Tuhan atau Sang Hiang).
  27. 27. 3. Upacara Manyampuruh (Untuk pengobatan). 4. Upacara Manganan Parasat Bajai (Pengobatan terhadap orang yang terkena pengaruh penguasaan buaya/firasat akan dimangsa buaya). 5. Upacara Mambayar Hajat/sahut (upacara membayar nazar).
  28. 28. 6. Upacara Mampakanan Sahur Lewu (Upacara untuk memperoleh kedamaian dan ketentraman terhadap masyarakat dan daerah/mengakhiri konflik/hal-hal yang tidak diinginkan dsb.). 7. Upacara Manelak Rutas, Mamapas Ambun Rutas Matei dan Manyadingen Petak Danum (Untuk membersihkan daerah dari berbagai aib yang menyebabkan malapetaka dsb.).
  29. 29. 8. Upacara Manyanggar (Bhs Indonesianya “Totau” yaitu upacara adat membuka lahan, hutan mendirikan rumah, menghindarkan dari gangguan dari berbagai roh-roh jahat dsb.). Melalui Upacara Ritual Manyanggar, apabila lokasi yang akan digunakan oleh manusia dihuni oleh makhluk halus (gaib) supaya bisa berpindah ke tempat lain secara damai sehingga tidak mengganggu manusia nantinya.
  30. 30. 9. Upacara Manajah Antang (Upacara memanggil elang) sakti untuk bertanya, meminta petunjuk, dsb.; sebelum berangkat perang/berkelahi dengan musuh apakah bisa menang atau tidak; untuk mengetahui dimana lokasi yang dianggap baik tempat mendirikan rumah dsb., yaitu dengan mengetahui dari arah mana datangnya elang itu.
  31. 31. 10. Upacara Mamalas (hasaki hapalas; atau disebut juga manyaki, selamatan dsb. Dengan menampungtawari/melumasi, menaburi dsb. Dengan tepung tawar). 11. Upacara Manggantung Manaheta Sahur Parapah Lewu. 12. Upacara Mamparasih lewu (Membersihkan kampung).
  32. 32. 13. Upacara Pekas/Panggar (Upacara memekas/manyanggar) Pekas adalah waris dari pihak perempuan; dan Panggar adalah waris dari pihak laki-laki. Baik Pekas atau Panggar adalah orang yang memegang perjanjian adat yang ditunjuk sebagai penanggungjawab terhadap s emua sanak saudara yang masih hidup karena orang tua (baik bapak atau ibu si anak telah meninggal) sebagai pemegang waris.
  33. 33. 14. Upacara Balian Hai, Balaku Untung, Balaku Tahaseng, Manjung Ganan Huma, Sakei Uei 7 andau, uju alem (Upacara besar memohon keberuntungan, umur panjang, menjauhkan roh-roh jahat yang mendiami rumah dsb., selama tujuh hari tujuh malam). 15. Upacara Balaku Tahaseng Mambohol Tangkaje Andau.
  34. 34. 16. Upacara Balaku Tahaseng Mambuhul Mampendeng Sawang Kayu. 17. Prosesi Perkawinan Adat Antar suku Dayak Kalimantan Tengah
  35. 35. 18. Upacara Mangayau Danum. Mangayau Danum atau sebutan lain yaitu Mambaleh Bunu atau Mambaleh Danum. Mangayau merupakan sebuah kata berimbuhan; berasal dari kata dasar kayau yang berarti pemenggal kepala, mendapat awalan me- membentuk kata kerja sehingga berarti memenggal kepala. Danum berati air.
  36. 36. Lanjutan.... Mangayau danum artinya memenggal kepala air atau membunuh air atau membalas kematian yang disebabkan oleh air. Bunu bisa berarti kematian yang disebabkan kesengajaan orang/ pihak lain. Jadi yang dimaksud adalah membalas hal kematian yang disebabkan kesengajaan orang/pihak lain.
  37. 37. Lanjutan... Sedangkan istilah Mangayau Danum/mambaleh danum berarti sasarannya adalah air. Mencakup pengertian yang lebih luas yaitu setiap hal kematian yang disebabkan oleh benda-benda alam; spt.: pohon kayu, air maupun kematian yang disengajakan orang/pihak lain.
  38. 38. 19. Upacara Manggoru. Goru atau garu (gaharu). Bagi penduduk di wilayah Kab. Lamandau atau juga di wilayah Kotawaringin Lama; merupakan suatu mata pencaharian sampingan yang telah dilakukan sejak dahulu. Para penggalas (pencari hasil hutan) tsb. Biasanyasebelum pergi masuk hutan, terlebih dahulu mengadakan upacara sederhana yang disebut dengan upacara manggoru.
  39. 39. • Secara harfiah, manggoru berasal dari kata goru yang mendapat imbuhan (awalan) ma-; sehingga menjadi sebuah kata berimbuhan manggoru, yang berarti usaha mencari atau mengumpulkan goru (gaharu). Umumnya di Kecamatan Kotawaringin Lama dan daerah lainnya secara etnis banyak dihuni oleh penduduk asli Suku Dayak Mama atau disebut juga Suku Dayak Darat (Darat = pedalaman).
  40. 40. • Dikatakan demikian karena pada awalnya disebabkan sebagian penduduk asli di daerah tsb mengundurkan diri ke pedalaman karena tidak mau ikut/ memeluk agama Islam yang dibawa oleh kelompok pendatang. Kerajaan Kotawaringi didirikan sekitar abad 17 yang merupan kepanjang dari kerajaan Banjarmasin. Kelompok pendatang tadi, spt.: Banjar, Jawa, Siak atau Melayu Riau, Madura, dll.
  41. 41. • Suku Dayak Darat inilah yang sekarang sering di jumpai di desa-desa pedalaman, yang jauh dari tepian sungai Lamandau; spt. : di Sakabulin, Tempayung, Kinjil, Babual, Baboti, Dawak, dan Riam Durian, dll. (lih Kiwok Rampai 1992/1993:36).
  42. 42. 20. Upacara Nahunan (Upacara Syukuran/pemberian nama atau palas bidan terhadap bayi yang baru dilahirkan). Upacara Nahunan adalah Upacara pemberian nama bayi atau anak - selain ungkapan syukur atas kondisi sehat ibu dan anak setelah proses kelahiran dan kesempatan membalas jasa kepada orang yang telah membantu proses persalinan.
  43. 43. Maksud utama dari pelaksanaan Nahunan adalah prosesi pemberian nama sekaligus pembaptisan menurut Agama Kaharingan (agama orang dayak asli dari leluhur) kepada anak yang telah lahir. Upacara Nahunan sendiri berasal dari kata "Nahun" yang berarti Tahun.
  44. 44. Nahunan berasal dari kata nahun yang berarti seorang bayi atau anak sudah mulai bertambah usia. Syarat-syarat upacara Nahunan adalah hewan kurban (ayam dan babi), manik- manik (manas), batang sawang,rotan, rabayang, tunas kelapa, tambak,behas tawur, sesajen, abu perapian, patung (hampatung) pasak, tanggul layah/tanggul dare, batu asah, dan lain-lain. "http://indonesiiaku.blogspot.com/2013/0 1/nahunan.
  45. 45. Dengan demikian, ritual ini umumnya digelar bagi bayi yang telah berusia setahun atau lebih. Prosesi pemberian nama dianggap oleh masyarakat Dayak sebagai sebuah prosesi yang merupakan hal sakral, karena alasan tersebut digelarlah upacara ritual Nahunan.
  46. 46. 21. Upacara Manyadiri. Dikalangan Suku Bangsa Dayak semua mengenal yang namanya “sadiri”. Sadiri dapatlah diartikan sebagai diri atau pengganti diri, adalah semacam orang-orangan atau patung manusia yang dibuat dari tepung adonan beras dengan ukuran kecil. “Manyadiri”, berarti melakukan upacara atau kegiatan yang berkenaan dengan orang sakit dsbnya; misalnya si sakit sering bermimpi tentang liau atau taliau (arwah atau mendiang) orang yang telah meninggal.
  47. 47. • Agar tidak bermimpi maka dibuatlah patung (orang-orangan) dari adonan tepung beras dengan diberi dan diambil sedikit-sedikit dari si sakit, berupa : rambut, kuku, dsbnya, sebagai pengganti diri (tubuh); jika si sakit diganggu oleh roh-roh dalam air misalnya bajai /jata (buaya) yaitu menurut suatu kepercayaan itu diyakini sebagai makhluk penghuni dan penguasa alam bawah; maka dibuatlah sebuah patung buaya dsbnya (Lih.Kamus Dwibahasa Dayak Ngaju-Indonesia, oleh A Bingan dan Offeny A Ibrahim, 1996:274).
  48. 48. 22. Upacara Ritual Dayak Pakanan Batu • Adalah ritual tradisional yang digelar setelah panen ladang atau sawah. Upacara Suku Dayak bernama Pakanan Batu ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih kepada peralatan yang dipakai saat bercocok tanam sejak membersihkan lahan hingga menuai hasil panen. • Benda atau barang dituakan dalam ritual dayak ini adalah batu. Benda ini dianggap sebagai sumber energi, yaitu menajamkan alat-alat yang digunakan untuk becocok tanam. Misalnya untuk mengasah parang, balayung, kapak, ani-ani atau benda dari besi lainnya.
  49. 49. (7)Seni Musik, Lagu-lagu Daerah • Cari pada Bab X, hal. 105 s.d hal. 128 (Buku Seni Budaya Kalimantan Tengah (Oleh : Offeny AI, 2014), Buku-buku yang telah diterbitkan oleh Dinas P & K Provinsi, Kumpulan Lagu-lagu Daerah Kalimantan Tengah, 2007 : Oleh AB. Sandan, dkk. dll.
  50. 50. Contoh Lagu : ITAK GUMER
  51. 51. Contoh Tatabhs Dayak Ngaju, sedikit ttg : IMBUHAN/AFIKS (Palangi) A. Imbuhan (Afik/(Palangi) • Imbuhan adalah unsur bahasa berupa morfem terikat yang ditambahkan pada suatu kata asal atau kata dasar untuk membentuknya menjadi kata berimbuhan. • Dalam bahasa Dayak Ngaju, imbuhan yang dipergunakan lebih banyak daripada imbuhan yang terdapat dalam bahasa Indonesia, sehingga memerlukan penjelasan dan uraian yang cukup luas.
  52. 52. Lanjutan… • Berikut ini kami akan mencoba menerapkan imbuhan yang terdapat dalam bahasa Dayak Ngaju tersebut. 1. Fungsi imbuhan (Afiks) (Gunan Palangi) • Imbuhan berfungsi mengubah kata dasar, sehingga melahirkan perubahan arti dan fungsi dari kata dasar tersebut. Walaupun demikian, arti yang didapat bukanlah padan kata atau sinonim akan tetapi kata-kata yang mendapat imbuhan dicari sinonimnya dengan mempergunakan kata dasar yang sama.
  53. 53. Lanjutan… 2. Macam imbuhan (Afiks) Macam Palangi) Macam-macam imbuhan yang terdapat dalam bahasa Dayak Ngaju, adalah : •Prefiks (awalan) : ba- [ber-], ha- [ber-/saling ber-], ka- [ke-], ma- [me-], pa- [pe-/per-], i- [di-]. sa- [se-], ta- [ter-] •Sufiks (akhiran) : -e [-nya], -an [-an] •Sufiks alternatif : -e dan -a •Konfiks terbelah : ba - an [ber - an], ha - an [ber - an], ka-an [ke-an], pa-an [pe/per-an] •Prefiks gabungan : impa- [diper-], mampa- [memper-], tapa- [terper-], tara- [ter-], bara- [ber-], pangka- [ter-/ paling]
  54. 54. 3. Arti Imbuhan (Riman Palangi) •Bahwa setiap perubahan bentuk kata karena imbuhan akan melahirkan arti dan fungsi yang lebih jelas, jika kata berimbuhan itu berada dalam hubungan kalimat. Jadi arti itu akan timbul dari perubahan bentuk kata akibat peristiwa tatabahasa yang bermakna gramatikal, sedangkan arti yang terkandung dalam imbuhan disebut juga nosi.
  55. 55. 4. Imbuhan (Afiks) lainnya (Palangi je beken) Adapun imbuhan lainnya yang berkaitan erat dengan pembentukan kata berimbuhan, adalah : •Afiks penunjuk milik : -m [-mu], -e [-nya], -ku/-ngku [-ku] dan -n [pihak ketiga lainnya] •Partikel : -lah [-lah], -kah [-kah] a. Yang tidak ada dan berbeda dengan Bahasa Indonesia, ialah : akhiran -i dan -kan
  56. 56. Lanjutan… b. Yang berbeda karena : • ada afiks yang hanya mempergunakan satu fonem saja seperti : •prefeks i- [di-], prefiks dan sufiks -e [-nya], sufiks -m [-mu] dan -n [milik pihak ketiga lainnya] • ada afiks yang berfungsi rangkap • ada afiks dan sufiks yang sudah melekat pada kata dasar (tersamar) • ada sufiks alternatif -a dan -e •ada konfiks gabungan yang dilekatkan pada kata dasar, tetapi mempunyai
  57. 57. Lanjutan… Ada konfiks gabungan yang dilekatkan pada kata dasar, tetapi mempunyai arti atau makna tersendiri, seperti : • impa- : bermakna dilakukan/dijadikan supaya • mampa- : bermakna melakukan/menjadikan supaya • tapa/tara- : bermakna dilakukan tidak dengan sengaja, yang apabila diingkari dengan kata dia [tidak], mengandung makna tidak mungkin. . bara- : mengandung makna banyak /jamak atau untuk penyederhanaan kata ulang.
  58. 58. 5. Imbuhan Tersamar (Palangi Tasahokan) •Imbuhan tersamar barangkali istilah ini tidak akan kita temukan dalam kaidah tatabahasa bahasa Indonesia, namun dalam tatabahasa Bahasa Dayak Ngaju, kami mengadakan istilah "Imbuhan Tersamar”. Pengadaan istilah ini disebabkan terdapat kata yang telah dimasuki oleh imbuhan tertentu sehingga menyatu atau melekat seolah-olah kata dasar murni, padahal sesungguhnya kata itu telah tersamar dengan imbuhan. Melekatnya Imbuhan tersebut mungkin berawal dari adanya kebiasaan- kebiasaan para penutur/pemakai bahasa Dayak Ngaju untuk menyingkatkan kata dalam berkomunikasi, yang secara manasuka meringkaskan imbuhan.
  59. 59. Lanjutan… Apalagi sampai sekarang pembakuan tentang tatabahasa Bahasa Dayak Ngaju secara tertulis masih belum ada, sehingga beberapa kata dasar yang tersamar imbuhan baik prefiks maupun sufiks (KDT) tanpa disadari dalam perbendaharaan kata sehari-hari tetap berkelanjutan seolah-oiah kata itu adalah kata dasar murni. Berikut ini akan kami ungkapkan hal tersebut sesuai dengan pengamatan atau penyelidikan kami, yaitu : •a. Imbuhan melekat pada Kata Dasar (KDT) •b. Melekat sufiks -n pada Kata Dasar Murni
  60. 60. Lanjutan… a. Imbuhan melekat (Kata Dasar Tersamar = KDT) •Terdapat kata dasar yang sudah melekat imbuhan, yaitu : •pretiks : ba- dan sufiks -n. Sebagaimana proses nasalisasi bahwa prefiks ba- apabila diimbuhkan pada sebuah kata tidak ada peluluhan fonemnya jadi dilekatkan secara utuh, sedangkan sutiks -n adalah sebagai kata ganti milik pihak ketiga yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai kepunyaan ditemui pada kata dasar yang huruf akhirnya adalah huruf vokal.
  61. 61. Lanjutan… Melekat pretiks ba- pada Kata Dasar Murni. •Contoh : KDM + pretiks ba- = KDT Arti henda bahenda [kuning] puti baputi [putih] bilem babilem [hitam] hijau bahijau [hijau] handang bahandang [merah] halap bahalap [bagus] kena bakena [tampan] kehu bakehu [terbakar]
  62. 62. Lanjutan… hata bahata [bekal] rabit barabit [cabik] rendeng barendeng [sadar] bute babute [buta] geto bageto [putus] hanyi bahanyi [berani] himang bahimang [terluka] laso balaso [panas]  
  63. 63. b. Melekat sufiks -n pada Kata Dasar Murni Contoh : KDM + sufiks -n = KDT Arti ara aran [nama] awa awan [bekas] ayu ayun [kepunyaan] lawi lawin [ujung/puncak] kuma kuman [makan]
  64. 64. c. Penyingkatan prefiks : Penyingkatan atau penyederhanaan prefiks waktu mangimbuhkannya pada suatu kata ini menurut pengamatan kami terjadi karena dua sebab, yaitu : •Pertama : Karena Prefiks yang terdapat dalam bahasa Dayak Ngaju kesemuanya berakhir dengan vokal a, kecuali prefiks i- [di-] •Kedua : Karena ada kata dasar yang berawal dengan huruf vokal (a, e, i, o, u).
  65. 65. Lanjutan… Dari kedua macam contoh di atas, kita lihat apakah kata dasar itu murni ataukah kata dasar itu tersamar. 1. bahandang [merah], bahalap [bagus], balaso [panas] •Dijadikan kata ulang : - handa-handang [merah-merah] bukan bahanda- bahandang - hala-halap [bagus-bagus] bukan bahala- bahalap - laso-laso [panas-panas] bukan balaso-balaso
  66. 66. Lanjutan… + konfiks terbelah/gabungan ka - an [ke- an] / impa- [diper-]; Contoh : - kahandangan [kemerahan] bukan kabahandangan - impahandang [dimerahkan] bukan impabahandang - kahalapan [kebagusan] bukan kabahalapan - impahalap [diperbagus] bukan impabahalap - kalasoan [kepanasan] bukan kabalasoan - impalaso [diperpanas] bukan impabalaso
  67. 67. 2. Tersamar sufiks -n [kata ganti milik] • aran [nama], awan [bekas], lawin[ujung], kuman [makan] + kata ganti milik - e [ -nya], -m [-mu], dan - ku/ngku [-ku] KDM KDT • ara = aran -> arae -> aram -> arangku [nama/nya/m / ku] • awa = awan -> awae: -> awam -> awangku [bekas/ nya / mu / ku] • lawi = lawin -> lawie -> [ujung -> ujungnya] • kuma = kuman = aku kuman [saya makan] - ikau kuman [kamu makan] - eweh kumae [siapa makannya] - aku kumae [saya memakannya] - ikau kumae [kamu memakannya] - keton kumae [kalian memakannya]
  68. 68. Lanjutan… • Berdasarkan hal tersebut, maka terjadi peluluhan terhadap huruf akhir dari prefiks yaitu vokal a, sehingga hanya konsonannya saja yang dilafalkan langsung dilekatkan pada kata dasar yang berfonem huruf vokal tersebut, kecuali prefiks i- karena hanya satu fonem saja, namun tetap luluh apabila memasuki kata dasar yang berawal huruf i. • Untuk jelasnya berikut ini kita lihat beberapa contoh ,"Imbuhan Tersamar" terhadap prefiks yang diluluhkan, yaitu :
  69. 69. a. Prefiks : ba- [ber-], ha- [bar-] • Prefiks ba- dan ha- identik dengan [ber-] namun prefiks ha- menghasilkan makna berelasi satu dengan lain [saling ber-, saling me-] atep [tutup] baatep -> batep [tertutup] ebes [keringat] baebes -> bebes [berkeringat] engkak [lepas] baengkak -> bengkak [terlepas] inih [rungau] bainih -> binih [rungau] isit [pelit] baisit -> bisit [pelit]
  70. 70. ongge [goyah] baongge ->bongge [bergoyah] unda [angkut] baunda -> bunda [mengangkut] asep [asap] haasep -> hasep [berasap] engkak [lepas] haengkak -> hengkak [salingmelepaskan] ise [hitung] haise -> hise [saling menghitung] owan [uban] haowan -> howan [beruban] undi [putar] haundi -> hundi [berputar]
  71. 71. b. Prafiks : ka- [ka-] • Prafiks ka- identik dengan [ka-] tetapi juga bermakna ganda yang identik dengan kata depan. Oleh karena itu sangat sukar membedakannya, namun yang dijelaskan disini hanyalah menyangkut peluluhannya sehingga melekat pada kata dasar murni.
  72. 72. Contoh : akis [tepis] kaakis -> kakis [tepis] are [banyak] kaare -> kare [banyak] ikis [kikis] kaikis -> kikis [kikis] ekei [jemur] kaekei -> kekei [jemuran] olih [dapat] kaolih -> kolih [(se)dapat] upon [batang] kaupon -> kupon [(se)bata
  73. 73. c. Prefiks-prefiks lainnya: • Bukan saja terhadap prefiks ba-, ha-, atau ka- sebagaimana yang diuraikan di atas , tetapi semua prefiks lainnya yang terdapat dalam bahasa Dayak Ngaju akan mengalami proses penyingkatan yang dalam hal ini akan terlihat pada contoh uraian masing- masing prefiks dimaksud.  
  74. 74. 6. Nasalisasi • Nasalisasi adalah proses merubah atau memberi nasal pada fonem-fonem. Setiap fonem yang dinasalkan haruslah mengambil nasal yang homogen, artinya nasal yang mempunyai artikulator yang sama seperti fonem yang dinasalkan. • Proses nasalisasi dalam bahasa Dayak Ngaju tidak berbeda dengan bahasa Indonesia yaitu : p dan b mengambil nasal m ( p -> m ) t dan d mengambil nasal n ( t -> n ) k dan g mengambil nasal ng ( k -> ng ) s mengambil nasal ny atau n ( s - > ny )
  75. 75. B. Prefiks (Awalan) Beberapa Prefiks atau awalan yang terdapat dalam bahasa Dayak Ngaju, adalah : ba- [ber-], ha- [ber-], ka [ke-], ma- [me-], pa- [pe-/per-], i- [di-], sa- [se-], ta- [ter-]. Catatan : Untuk mendalami Tatabhs Dayak Ngaju, silahkan pelajari buku : Upon Ajar Basa Dayak Ngaju (Oleh : Albert A Bingan & Offeny AI, 2001)
  76. 76. (8)Mengenal Maskot Kalimantan Tengah a. Maskot Fauna Maskot Fauna Kalimantan Tengah adalah Burung Kuau Melayu (Polyplectron malacense). Di Kawasan Kapuas Kahayan menyebutnya “ burung Haruei; sedangkan di kawasan Barito menyebutnya “burung Sakan, burung Jue.
  77. 77. • KUAU KERDIL KALIMANTAN ( Polyplectron schleiermacheri) KHAS KALIMANTAN TENGAH
  78. 78. Burung ini mudah sekali dikenal karena memilki bentuk tubuh yang indah dan spesifik. Tubuh yang jantan lebih besar dan berbulu dengan corak yang lebih menarik daripada yang betina. Berat yang jantan dapat mencapai sekitar 11,5 kg dan panjang tubuhnya sampai ujung ekor mendekati 2 meter. Hal ini disebabkan oleh dua lembar bulu ekornya bagian tengah mencolok sekali panjangnya. Umumnya bulu tubuh berwarna dasar kecoklatan dengan bundaran- bundaran berwarna cerah serta berbintik-bintik keabu-abuan.
  79. 79. Kulit di sekitar kepala dan leher pada yang jantan biasanya tidak ditumuhi bulu dan berwarna kebiruan. Pada bagian occipital (bagian belakang kepala) betina mempunyai bulu jambul yang lembut. Paruh berwarna kuning pucat dan sekitar lobang hidung berwarna kehitaman. Iris mata berwarna merah. Warna kaki kemerahan dan tidak mempunyai taji/susuh. Bulu-bulu burun g ini sering dipakai oleh para penari sebagai asesoris pada ikat kepala (lawung).
  80. 80. Uraian berikut tentang Burung Tingang • Kenapa pd uraian ini tdk disinggung tentang burung Tingang?
  81. 81. •Karena Burung Tingang bukanlah maskot flora Kalimantan Tengah, melainkan maskot flora Kalimantan Barat, sebab keburu mereka duluan mengajukan maskot flora mereka. Namun disisi lain bahwa Burung Tingang bagi semua suku Dayak  Di Pulau Kalimantan, burung Tingang dipakai sebagai lambang daerah atau simbol organisasi
  82. 82. • Seperti di lambang negeri Sarawak, lambang provinsi Kalimantan Tengah, simbol Universitas Lambung Makurat, dsbnya. Burung Tingang diwujudkan dalam bentuk ukiran pada Budaya Dayak, sedangkan dalam budaya Banjar, burungTingang diukir dalam bentuk tersamar (didistilir) karena Budaya Banjar tumbuh di bawah pengaruh agama Islam yang melarang adanya ukiran makhluk bernyawa.
  83. 83. • Sesungguhnya bahwa dalam tradisi adat dan budaya Kalimantan, burung Tingang (rangkok/rangkong) merupakan simbol "Alam Atas" yaitu alam kedewataan yang bersifat "maskulin". Bagi orang Dayak, burung tingang dianggap sebagai hewan "suci" dalam kehidupan sosial mereka. Setidaknya sebagai perlambang kemuliaan dan kewibawaan pemimpin suku mereka.
  84. 84. • Bulunya yang indah, disimbolkan sebagai pemimpin yang dikagumi oleh rakyatnya. Sayapnya yang tebal, menggambarkan pemimpin yang melindungi rakyat. Suaranya yang keras (kanderang tingang), menandakan perintahnya yang selalu didengar oleh rakyat. Dan ekornya yang panjang (dandang tingang), dilambangkan sebagai pertanda kemakmuran bagi rakyatnya. Dengan kata lain, begitulah seharusnya(idealnya) seorang pemimpin bagi masyarakat Dayak.
  85. 85. • Orang Dayak memang selalu dekat dengan alam. Dari alam mereka hidup dan dari alam pula mereka mengambil makna dalam kehidupannya. Dengan demikian, mengambil hutan atau tanah dari kehidupan orang Dayak, sama saja dengan mencabut mereka dari akar-akar kehidupannya.
  86. 86. • Dalam kepercayaan umat hindu kaharingan, burung tingang memiliki makna tersendiri. Berdasarkan mithologi agama hindu kaharingan, di lewu batu nindan tarung (alam atas), Tingang Rangga Bapantung Nyahu (burung tingang) adalah  salah satu penciptaan Ranying Hatala melalui perubahan wujud Luhing Pantung Tingang (destar) yang dipakai oleh Raja Bunu ketika ia menerima Danum nyalung Kaharingan belum (Air Suci Kehidupan). Seperti yang terdapat dalam ayat-ayat kitab suci panaturan: Pasal 27 ayat 21
  87. 87. Pasal 27 ayat 21 • “Hayak auh nyahu batengkung ngaruntung langit, homboh malentar kilat basiring hawun,Luhing pantung tingang basaluh manjadi Tingang Rangga Bapantung Nyahu”. •  Bersama bunyi Guntur menggemuruh memenuhi alam semesta, petir halilintar menggetarkan buana, Luhing pantung tingang kejadian menjadiTingang Rangga Bapantung Nyahu (burung tingang).
  88. 88. • Kemudian burung tingang tersebut tinggal dan menempati Lunuk Jayang Tingang Baringen Sempeng Tulang Tambarirang (Pohon Beringin), dimana pada saat Balian Balaku Untung wujud burung tingang itu memberkati kehidupan manusia melalui perjalanan Banama Tingang (perahu) untuk mendapatkan berkat dan karunia dari Ranying Hatala.
  89. 89. • Oleh karena itu dalam setiap upacara basarah yang dilakukan oleh umat hindu kaharingan selalu terdapat dandang tingang (bulu ekor tingang) sebagai sarana pelengkap yang terdapat didalam sangku tambak rajamendapatkan bulau untung aseng panjang (berkat dan karunia-Nya) dari Ranying Hatala.
  90. 90. • Dilihat dari filsafat keagamaan Hindu Kaharingan sendiri dandang tingang  (bulu ekor) memiliki makna simbolis di dalam kehidupan umat manusia yaitu : • Warna putih dibagian atas, berarti alam kekuasaan Ranying Hatala beserta manisfestasi-manisfestasi-Nya.
  91. 91. • Warna hitam di tengah, yaitu alam kehidupan manusia di pantai danum kalunen (dunia) yang penuh dengan rintangan dan cobaan. • Warna putih dibagian bawah, berarti alam kekuasaan Jatha Balawang Bulau.
  92. 92. • Dari ketiga warna tersebutlah yang menjadi warna corak dalam kehidupan umat Hindu Kaharingan yang diaplikasikan dalam bhakti sebagai ucapan syukur kepada Ranying Hatala dan Jatha Balawang Bulau melalui berbagai upacara-upacara yang sering
  93. 93. • Umat hindu kaharingan meyakini bahwa dalam bulu ekor tingang tersebut terdapat suatu kekuatan gaib yang menjadi pedoman hidup yang berlandaskan dengan Lime Sarahan (Lima Pengakuan Iman) dalam meyakini segala kekuasaan Ranying Hatala dalam kehidupan di dunia ini.  
  94. 94. b. Maskot Flora Maskot Flora Kalimantan Tengah Pohon tanggaring ini mirip dengan rambutan, hanya saja lebih pendek dari pohon rambutan. Meski begitu, tinggi pohon tenggaring ini bisa mencapai 20 meter. Buah tenggaring tebal, pendek dan tumpul. Kulit buahnya tebal berwarna kuning sampai merah tua. Rasa buahnya manis sedikit masam (bhs Banjar : buah maritam). Buah Tanggaring
  95. 95. Tanggaring termasuk ke dalam kelompok rambutan hutan dan tumbuh secara alami dan menyebar di kawasan Kalimantan Tengah. Makanya, tumbuhan ini terpilih menjadi identitas (maskot) Provinsi Kalimantan Tengah. Buah tanggaring adalah jenis rambutan tapi tidak berbulu, rasanya manis dan daging buahnya sama seperti rambutan, buah ini juga tumbuh di daerah Kalimantan Selatan dan mereka menyebutnya buah maritam. Tanggaring ( Nephelium mutabile)
  96. 96. Selain di Indonesia pohon tanggaring/ kapulasan juga dapat dijumpai di Malaysia, Thailand, dan Filipina. Biji tanggaring mengandung minyak nabati lebih banyak dari pada biji rambutan. Oleh sebab itu biji tanggaring dapat diproses untuk menghasilkan minyak yang dapat digunakan dalam proses pembuatan lilin dan sabun.
  97. 97. Implementasi Mulok dlm K-13 (3 MP) 1.Seni Budaya : 1) Seni Rupa, 2) Seni Tari, 3) Musik/Suara/Sastra (mis.: kacapi, kangkanong, karungut, karunya, selengot, sansana, dll.), 4) bahasa (mis. : bhs Dayak Ngaju, dll.) 2.Seni OR/PJOK (permainan tradisional) : mis. : 1) kapung lapak (jaga pertahanan), 2) basahukan (petak umpet), 3) sepak sawut (sepak bola api), 4) simpet/manyipet (menyumpit), 5) bagasing/babayang (permainan gasing), 6) balogo (bermain logo), 7) besei kambe (dayung hantu), jukung hias, jukung tradisional, dll. 3.Keterampilan (termasuk peralatan teknologi) : 1) masakan tradisional (kuliner), mis. Pengawetan, dsb), 2) anyaman /nama-2 anyaman dan jenis bahan yg dipakai(spt. : dr purun, rotan, bemban, kajang, dll.), 3) kerajinan getah nyatu, 4) alat transportasi, mis. Jukung , besei dan jenis-2nya), 5) alat teknologi; spt. : wadah/tempat tinggal (betang/huma, pasah, lanting, dsb., peralatan berburu, peralat memasak, peralatan nelayan, peralatan bertani/bercocok tanam, senjata, mis. Pisau utk menganyam, merotan, dsb. Mata Pelajaran yg masuk dlm Implementasi Mulok K-13; adl :
  98. 98. TOPIK-TOPIK YANG DAPAT MENUNJANG MATERI MULOK : 1. Pengetahuan dan Kearifan Lokal Masyarakat Dayak dalam  Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kewiraausahaan Sosial. 2. Antara Rumah Betang dan Identitas. 3. Arsitektur Tradisional Suku Dayak. 4. Keanekaragaman dan kategori orang dayak. 5. Manajemen konflik: melalui pemahaman nilai- nilai budaya dayak.
  99. 99. 6. Manik-manik mutu manikam kalimantan.. 7. Nilai Nilai Pancasila Melalui Falsafah Huma Betang. 8. Pengetahuan dan Kearifan Lokal Masyarakat Dayak dalam  Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kewiraausahaan Sosial. 9. Rumah Betang, Rumah Adat Dan Budaya Dayak Yang Hampir Tersingkirkan.    
  100. 100. PURAH ITAH HASUPA HASAMBAU TINAI INTU KATIKA JE BEKEN (Kapan-kapan kita bertemu dan bertatap muka lagi di lain kesempatan) Offeny AI

×