Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Transformasi Membangun Budaya Berbasis Nilai

474 views

Published on

Transformasi Membangun Budaya Berbasis Nilai. Tujuan Paparan:
(1) Mengamati perkembangan dan permasalahan sosial dan ekonomi di Indonesia, (2) Menjajaki budaya berbasis nilai sebagai cara mengembangkan inovasi daerah, dan (3) Merumuskan strategi pengembangan desa dengan Gerakan Budaya Berbasis Nilai.

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Transformasi Membangun Budaya Berbasis Nilai

  1. 1. Transformasi Membangun Budaya Berbasis Nilai Togar M. Simatupang Rektor Institut Teknologi Del Disampaikan untuk mengenang Hari Kebangkitan Nasional pada hari Sabtu tanggal 20 Mei 2017
  2. 2. Kilasan • Kebangkitan Nasional menjelang 110 tahun • Tujuan Paparan • Situasi Permasalahan Bangsa • Kebangkitan Nasional • Strategi Transformasi • Gerakan Budaya Berbasis Nilai • Potensi Daerah • Penutup 2
  3. 3. 3
  4. 4. Gagasan Pergerakan Nasional • Gagasan awal yang mewarnai perjuangan pergerakan nasional adalah: – bertujuan memajukan pendidikan, dan meninggikan martabat bangsa. • Apa selanjutnya? – mencerdaskan kehidupan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi  inovasi teknologi, dan – memupuk kesadaran kebangsaan  patriotisme. = Patriotisme melakukan inovasi… 4
  5. 5. Trisakti • Tiga kekuatan yang berfungsi sebagai kesaktian bangsa yaitu: 1. Berdaulat dalam politik, 2. Berdikari dalam ekonomi, dan 3. Berkepribadian dalam kebudayaan – Bung Karno, “Tahun Vivere Pericoloso”, 17 Agustus 1964. 5
  6. 6. Tujuan Paparan 6
  7. 7. Tujuan Paparan 1. Mengamati perkembangan dan permasalahan sosial dan ekonomi di Indonesia. 2. Menjajaki budaya berbasis nilai sebagai cara mengembangkan inovasi daerah 3. Merumuskan strategi pengembangan desa dengan Gerakan Budaya Berbasis Nilai. 7
  8. 8. Situasi Permasalahan Bangsa 8
  9. 9. Isu-Isu Ekonomi dan Sosial 1. Ketimpangan 2. Pengangguran 3. Buruh Murah 4. Daya Saing Produk dan Jasa Lokal Lemah 5. Patologi Sosial 6. Ketidakberdayaan 9
  10. 10. 1. Ketimpangan: Masih ada 183 daerah tertinggal 10 * 6 criteria of backward regions: regional economy, human resources, infrastructure, Local financial capacity, accessibility, regional characteristics Provinsi Jumlah Kab/Kota Kab/Kota Tertinggal Persentase Daerah Tertinggal Provinsi Jumlah Kab/Kota Kab/Kota Tertinggal Persentase Daerah Tertinggal Aceh 23 12 52% Kalimantan Tengah 14 1 7% SumateraUtara 33 6 18% Kalimantan Selatan 13 2 15% SumateraBarat 19 8 42% Kalimantan Timur 14 3 21% SumateraSelatan 15 7 47% Sulawesi Utara 15 3 20% Bengkulu 10 6 60% Sulawesi Tengah 11 10 91% Lampung 14 4 29% Sulawesi Selatan 25 5 20% Kep. BangkaBelitung 7 1 14% Sulawesi Tenggara 12 9 75% Kep. Riau 7 2 29% Gorontalo 6 3 50% JawaBarat 26 2 8% Sulawesi Barat 5 5 100% JawaTimur 38 5 13% Maluku 11 8 73% Banten 8 2 25% Maluku Utara 9 7 78% NTB 10 8 80% PapuaBarat 11 8 73% NTT 21 20 95% Papua 29 27 93% Sumber: BPS (2012)
  11. 11. 2. Lapangan kerja masih didominasi oleh pekerja informal (62,2-69,3%) 11 Sumber: BAPPENAS (2012); BPS (2012)
  12. 12. 4. Lemahnya daya saing produk manufaktur Indonesia terhadap negara Tiongkok 12 Sumber: Tjahjana (2010)
  13. 13. PELAKU USAHA MIKRO, KECIL, MENENGAH, DAN BESAR (BERDASARKAN UU 20 TAHUN 2008) 13 Usaha Besar Omzet/tahun lebih dari Rp 50 Miliar Asset lebih dari 10 Miliar Omzet/tahun Rp 2,5 Miliar s.d. Rp 50 Miliar Asset Rp 500 juta s.d. Rp 10 Miliar Usaha Mikro Omzet/tahun s.d.Rp 300 Juta Asset s.d. Rp 50 juta 55.586.176 Unit (98,79%) 629.418 Unit (1,11%) 48.977 Unit (0,09%) 4.968 Unit (0,01%) Tahun 2012TOTAL : 56.539.560 UNIT Sumber: Kementerian Koperasi dan UKM (2012) Usaha Kecil Omzet/tahun Rp 300 Juta s.d. Rp 2,5 Miliar Asset Rp 50 juta s.d. Rp 500 Juta
  14. 14. UMKM dan Penjaminan Kredit 14 MasalahUMKM dan Koperasi Tidak mempunyai izin usaha resmi Tidak dapat memenuhi kriteria kredit perbankan Suku bunga kredit yang tinggi • Tidak memiliki agunan sama sekali • Agunan yang dimiliki tidak mencukupi • Agunan yang dimiliki tidak memenuhi kriteria formal agunan, misalnya agunan tanah tanpa sertifikat Agunan Sistem Penjaminan Kredit Sumber: Kementerian Negara KUMKM (2010)
  15. 15. 5. Patologi Sosial Patologi Sosial Kemiskinan Kenakalan Remaja Perjudian Kekerasan (KDRT dan Anak) Anak Jalanan Prostitusi dan Kriminalitas 15
  16. 16. 6. Ketidakberdayaan Korupsi, Kolusi, Nepotisme Merajalela Kerusakan Lingkungan Bencana Alaman Tidak Terantisipasi Eksploitasi Buruh Ketergantungan Bantuan Materialisme Kecumburuan Sosial 16
  17. 17. Strategi Budaya Berbasis Nilai 17
  18. 18. Apa itu nilai? • Manfaat yang diperoleh dari suatu produk atau jasa (atau program) dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan. • Nilai = manfaat − biaya 18
  19. 19. Jenis-Jenis Nilai • Kinerja • KeluaranFungsional • Citra • SimbolismeSosial • Sikap • HasratEmosional • Kebaruan • KeingintahuanEpistemis • Alam • KulturKontekstual 19 Sumber: https://2012books.lardbucket.org/books/modern-management-of-small-businesses/s06-your- business-idea-the-quest-f.html
  20. 20. Jenis Nilai Bersama (shared value) Ekologis • Lingkungan Hidup • Sumberdaya • Perubahan Iklim • Keanekaragaman Hayati • Pemborosan • Lingkungan Sehat Ekonomis • Hasil Keuangan • Modal Produktivitas • Sumberdaya Produktivitas • Produktivitas Manusia • Risiko Keuangan Sosial • Otonomi • Saling Percaya • Kohesi Sosial • Komunitas • Kesetaraan • Tujuan 20
  21. 21. Contoh Manajemen Proyek Berbasis Nilai 21Sumber: Abdollahyan, Farhad (2012), “Management of value as PPM driver” at http://www.pmi.org/learning/library/ppm-value-management-6451
  22. 22. Budaya Berbasis Nilai • Pengetahuan dan pengalaman tentang suatu proses untuk meningkatkan nilai melalui penyelarasan program atau proyek terhadap kebutuhan pemangku kepentingan. • Menyangkut: – Metode sistematis mendefinisikan “nilai” dan keterkaitan antar nilai dari pemangku kepentingan dan mengkomunikasikannya melalui program, proyek, operasi, atau portofolio. – Praktik pengembangan nilai – Artifak nilai 22
  23. 23. Strategi Budaya Berbasis Nilai 5. Keberlanjutan 4. Ketangguhan Sosial 3. Kolaborasi Inovasi Rantai Nilai 2. Potensi Lokal 1. Mentalitas Berbasis Nilai 23
  24. 24. 1. Mentalitas Berbasis Nilai Berpikir Rantai Nilai (mengubah belenggu menjadi berkat) Kewirausahaan Sosial (kemitraan menangkap peluang) Pembelajaran Sosial (melakukan perbaikan berkelanjutan) 24
  25. 25. 1.1. Berpikir Rantai Nilai Belenggu: Prasangka, sikap negatif, kepentingan diri sendiri, sudut pandang sempit, kemalasan Berkat: Terbuka, sikap positif, kepentingan bersama, sudut pandang luas, kerajinan 25
  26. 26. 1.1. Berpikir Rantai Nilai Penemuan Nilai Penciptaan Nilai Penyampaian Nilai Pembagian Nilai 26 Kunci Rantai Nilai: • Pernyataan Misi • Pembentukan Karakter • Kemampuan Berpikir Rantai Nilai
  27. 27. 1.2. Kewirausahaan Sosial Peluang Persoalan Sosial Solusi Bisnis Inklusif Partisipasi Sosial 27
  28. 28. 1.2. Kewirausahaan Sosial • Kewirausahaan adalah merupakan disiplin ilmu yang mempelajari tentang: – Daur pengembangan bisnis mulai dari konsepsi sampai dewasa – Teknik dan alat perancangan dan analisis dalam menghadapi: • Peluang dan Kesempatan • Model bisnis • Risiko • Negosiasi • Berbasis pada kreativitas dan inovasi 28
  29. 29. 1.3. Pembelajaran Sosial Keterbukaan Wawasan Keterampilan Desain Rantai Nilai Pelaksanaan dan Pendampingan Pemantauan dan Perbaikan 29
  30. 30. 2. Potensi Lokal Air Agrikultur Akuakultur Kreatif Kultur (warisan) Sampah Pemuda Alam Modal Sosial 30
  31. 31. 3. Kolaborasi Inovasi Rantai Nilai • Kreativitas adalah proses mental dan sosial melibatkan penciptaan gagasan baru tentang konsep atau hubungan baru antar gagasan dan konsep yang sudah ada. – Kreativitas sebagai proses pematahan asumsi- asumsi. • Inovasi adalah proses penciptaan dan penerapan gagasan-gagasan kreatif pada konteks tertentu. 31
  32. 32. 3.1. Inovasi Rantai Nilai Ekonomi Komersial Ekonomi Sosial Ekonomi Publik 32 Kreasi Produksi Distribusi Konsumsi
  33. 33. 3.2. Inovasi Masa Depan Inovasi – bagaimana mengatasi resesi Memungkinkan kita menyesuaikan diri dan mengelola perubahan dalam menghasilkan hasil yang positif Jenis inovasi (Mantap): Manajemen (organisasi, optimasi, efisiensi, ramping, produktivitas, sertifikasi, mutu) Administrasi (regulasi, kognisi, norma, governansi) Nasabah (pasar, pelanggan, relasi) Teknologi (technoware, infoware, orgaware, HAKI) Akses (bahan baku, pendanaan, kepakaran) Produk dan Proses Pendekatan jejaring pada inovasi 33
  34. 34. 3.3. Inovasi Inklusif Inklusif • Kesadaran • Akses • Keterjangkauan • Ketersediaan • Perluasan • Keberlanjutan • Mutu • Inovasi untuk dan oleh manusia • Inovasi untuk piramida bawah (the bottom of the pyramid) Strategi • Insentif dan Penghargaan • Klaster inovasi pada universitas • Klaster bisnis inovatf • Inovasi untuk UMKM • Kebijakan dan program inovasi daerah • Lembaga baru termasuk agensi • Modal ventura • HAKI dan Paten • TIK • Ruang inovasi 34
  35. 35. 3.4. Peran Teknologi 35 • Teknologi sebagai alat pemecahan masalah • Teknologi sebagai titik masuk untuk pelipatgandaan Akses Efisiensi Produktvitas Transparansi Pelayanan Penyampaian
  36. 36. 4. Ketangguhan Sosial • Kerjasama yang efektif dalam memecahkan masalah sosial, seperti – Konflik – Ketidakberdayaan – Pasif – Terkendala – Saling curiga 36 Kunci Ketangguhan: • Keterbukaan • Saling Percaya • Komitmen • Integritas
  37. 37. 5. Keberlanjutan • Budaya berbasis nilai memanfaatkan sumberdaya lokal dan kearifan daerah. • Integritas perlu dibangun dengan interaksi dan dialog yang transparan, terbuka, dan jujur. • Kesejahteraan tergantung pada karya bersama. • Karya bersama tergantung pada kerja cerdas dan kerja keras dan kerja ikhlas. • Keberlanjutan harus dipersiapkan berupa investasi masa depan bukan dianugerahkan. 37
  38. 38. Gerakan Budaya Berbasis Nilai 38
  39. 39. Ketidakberdayaan Peta Panduan Gerakan Budaya Berbasis Nilai: 1. Tujuan dan Sasaran 2. Strategi Operasional i. Sosialisasi Mentalitas Berbasis Nilai ii. Edukasi Berpikir Rantai Nilai (audit sosial dan Berpikir Desain) iii. Aksi Kewirausahaan Sosial iv. Misi Keberlanjutan FASILITASI INTERVENSI 1. Insentif fiscal dan nonfiskal (dana desa dan tanggung-jawab sosial 2. Pelatihan dan Lokakarya 3. Pendampingan 4. Informasi Pasar dan Keuangan 5. Alih Teknologi Tepat Guna Gerakan Budaya Berbasis Nilai 39 INOVASI RANTAI NILAI POTENSI LOKAL KOMPETENSI MODAL MANUSIA KEWIRAUSAHAAN SOSIAL Keberdayaan TATA KELOLA KELEMBAGAAN JEJARING DAN INFORMASI TEPAT GUNA PEMUPUKAN MODAL PELAYANAN KEUANGAN
  40. 40. Gerakan Budaya Berbasis Nilai Sosialisasi Mentalitas Berbasis Nilai Edukasi Pelatihan dan Lokakarya (berpikir desain, audit sosial) Aksi Kewirausahaan Sosial 40
  41. 41. Pengembangan Kewirausahaan Sosial 41 KEWIRAUSAHAAN SOSIAL (KS) Pemda, Kementerian, BUMN, BUMD  Menyediakan bantuan teknis, melalui pendampingan, konsultasi, inkubator  Menyediakan informasi pasar dan modal  Menciptakan Iklim usaha dan perijinan yang mendukung Industri Hilir Desa Mandiri Kluster Industri Industri Hulu Lembaga Penelitian, Balai Besar, dan Perguruan Tinggi Bank Indonesia dan Perbankan Menggerakkan KS dengan mempermudah akses pembiayaan Insentif: Bantuan Peningkatan Kompetensi modal manusia Peningkatan Standar dan Mutu Produk Fasilitas Akses Pembiayaan Bantuan Promosi Situs dan Pemasaran
  42. 42. Peran Baru Pendidikan Tinggi: Dari Agen Perubahan menjadi Agen Pembaharu Penguasaan Teknologi untuk Pengabdian Kepada Masyarakat Komersialisasi Teknologi dan Inkubasi Inovasi Simpul Inovasi Sosial yang menjawab persoalan sosial dengan inovasi 42
  43. 43. Studi Kasus 43
  44. 44. 1. Potensi Ekonomi Kreatif 44 Media  Film  Penerbitan  Penyiaran  Musik Kreasi Fungsional  Desain  Fesyen  Arsitektur  Periklanan  Piranti Lunak Warisan Budaya  Kriya  Wisata sejarah dan budaya  Kuliner Lokal  Tradisi Lokal Seni  Seni Visual  Pertunjukan Sumber: Soros Sakornvisava (2012), “Creative Economy for SME Development", Small and Medium Enterprise Development Bank of Thailand.
  45. 45. 1.1. Pengembangan Ekonomi Kreatif 45 Pengembangan Produk dan Jasa menjadi Produk dan Jasa Standar misalnya - Penghargaan Inovasi - Standar Makanan dan Minuman - SNI - ISO ( International Organization for Standardization) Produk dan Jasa Kreatif mengarah Sumber: Soros Sakornvisava (2012), “Creative Economy for SME Development", Small and Medium Enterprise Development Bank of Thailand.
  46. 46. 1.2. Pemberdayaan Ekonomi Kreatif • Pelatihan dan layanan sosial kepada komunitas berbasis potensi lokal. • Pemberdayaan kawula muda desa. • Pendampingan untuk standarisari dan akses pasar serta modal. • Penelitian dan pengembangan teknologi kreatif: gemar untuk riset. • Kajian dan penyediaan data ekonomi kreatif. 46
  47. 47. 1.3. Contoh Sukses 47 A F T E R B E F O R E During in SME BANK Thailand Consultant Ms. Anchalee Chauykeaw Name of Company: Anchalee Benjarong Type of Product :Benjarong Sumber: Soros Sakornvisava (2012), “Creative Economy for SME Development", Small and Medium Enterprise Development Bank of Thailand.
  48. 48. 2. Yayasan Cirebon (nama samaran) • Gagasan harus: dapat dijalankan, membuka lapangan pekerjaan, dan mendukung pembangunan berkelanjutan. • Apa yang dapat dikembangkan sebagai penggerak utama ekonomi pesantren atau sekolah tinggi? • Pernah studi ke Jepang tahun 1974 dan terlupakan. Terpikirkan kembali pada tahun 2005 saat mendirikan usaha sosial untuk mendukung sekolah tinggi. • Kalau digaji orang manfaatnya kecil untuk diri sendiri. Kalau menggaji orang akan bermanfaat lebih banyak. • Uang kuliah hanya bisa mengganti 60% dari biaya yang dikeluakan. • Pertanyannya adalah bagaimana menghidupi akademisi yang dapat membuat sekolah tinggi bermutu. 48
  49. 49. 2.4. Konsep Pengembangan Yayasan Cirebon • Pusat pengembangan kawasan • Pusat perlindungan anak • Pengembangan teknologi pertanian • Pengembangan Bank Perkreditan Rakyat • Kerjasama dengan pemerintah daerah untuk pemanfaatan lahan kritis atau lahan tidak terpakai • Kerjasama dengan balai latihan kerja (BLK) • Pengembangan pasar 49
  50. 50. 2.3. Kewirausahaan Sosial Yayasan Cirebon • Bagaimana memecahkan masalah kesejahteraan dengan kekeluargaan? • Pemaduan: Green, Blue, dan Creative • Green: – Produksi Kompos (ada tiga jenis) – Bunga: masa tanam singkat, perputaran cepat, pasar luas, bukan hanya jual bunga tetapi sewa bunga ke hotel (ada 200 hotel yang dilayani). Luas budidaya tanaman hias sebesar 12 hektar. – Hutan Albasia (Sengon) bagi hasil seluas 20 hektar. – Kebun Hanjuang dan hasilnya diekspor ke Korea seluas 1000 hektar. • Blue: – Kepiting Soka dengan siklus 21 hari sekaligus menjaga hutan Bakau. Produksi sudah mencapai 3 kuintal per minggu. Kerjasama dengan nelayan lokal untuk mencari rujungan. Hasil produksi diekspor ke Singapura karena sudah punya sertifikat. • Creative: – Desain batik dengan corak Cirebon dan kreasi anyaman 50
  51. 51. 3. Alih Daya Puslitbang Perusahaan • Ketika teknologi menentukan daya saing perusahaan, apa peran perguruan tinggi menjawab tantangan tersebut? • Bagaimana PT dapat membantu perusahaan untuk menciptakan terobosan dalam model bisnis secara terus-menerus? • Apakah PT dapat melayani litbang untuk perusahaan untuk menghadirkan inovasi-inovasi yang berubah ke arah komersialisasi? • Pengguna iptek adalah perusahaan, bagaimana menggabungkan pembelajaran (magang) dengan program inovasi untuk perusahaan? • Apakah pembelajaran diarahkan pada proses perancangan dan pembuatan purwarupa sehingga produk dan jasa baru yang dihasilkan dapat menjawab kebutuhan pasar? • Bagaimana memanfaatkan teknologi pembelajaran dan digital dalam proses pembelajaran mahasiswa? 51
  52. 52. 3.1. Contoh Kerjasama UPM dan Industri • Kekuatan Universitas Prasetiya Mulya ada di bisnis dan kemudian disinergikan dengan prodi-prodi teknik dan membangun kerjasama dengan berbagai perusahaan. • Kerjasama dengan pelaku bisnis tidak sekedar proses, tetapi sampai merancang platform yang bisa menghasilkan start up bidang sains and teknologi. • Mahasiswa dapat belajar langsung dengan para expertise dan terinspirasi untuk melakukan inovasi teknologi. • Lulusan tidak kesusahan mencari kerja karena sudah punya pengalaman dan terbukti dibutuhkan. 52Sumber: http://news.okezone.com/read/2016/03/17/65/1338581/jadi-universitas-ini-misi-prasetiya-mulya
  53. 53. 4. Peran Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik • Persoalan kesenjangan adalah masalah sosial karena orang tidak peduli menciptakan harmoni sosial. • Bagaimana menciptakan harmoni sosial yang aman, nyaman, tertib, saling menghargai, dan dinamis? • Bagaimana mengubah desa miskin menjadi desa sejahtera? • Dapatkah KKN dirancang untuk pemberdayaan komunitas desa melalui penelitian tindakan (action research)? • Apa yang dapat dikembangkan oleh PT untuk mendampingi pembangunan desa dengan hadirnya dana desa? • Apa yang dapat dikembangkan oleh PT untuk Literasi STEM (science, technology, engineering, math) pada tingkat pendidikan dasar dan menengah di desa? 53
  54. 54. 4.1. Contoh Pengembangan Komunitas di Prasetiya Mulya • Community Development I – Membangun kemampuan social awareness mahasiswa, kemampuan adaptasi social dan tanggungjawab sosial serta membangun kemampuan networking mahasiswa selama program pembelajaran berlangsung di Prasetiya Mulya. • Community Development II – Visi Program Community Development II • Mewujudkan desa mandiri dan sejahtera melalui kewirausahaan – Misi Program Community Development II • Meningkatkan kemampuan berwirausaha dan manajerial masyarakat desa • Memberikan alternatif penghasilan tambahan yang berkelanjutan • Meningkatkan pemanfaatan nilai tambah sumber daya lokal • Mengembangkan kebudayaan lokal sebagai modal dasar pengembangan kesejahteraan masyarakat 54Sumber: http://www.prasetiyamulya.ac.id/the-programs/community-development
  55. 55. 4.2. Pengembangan UMKM dan Wisata di Wanayasa • Universitas Prasetiya Mulya Tanggerang Selatan melaksanakan kegiatan Community Development Project 2017 di Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta selama 44 hari yang melibatkan sekitar 350 mahasiswa-mahasiswinya. • Dalam kegiatan ini mahasiswa-mahasiswi Prasetiya Mulya secara berkelompok menjalankan program pengembangan pelaku UMKM serta objek wisata yang di daerah tersebut. • kegiatan Community Development Project dilakukan secara berkelanjutan hingga tiga tahun kedepan dimana nanti mahasiswa-mahasiswi Universitas Prasetiya Mulya tetap melakukan pembinaan serta pemantauan terhadap UMKM yang menjadi binaan mereka untuk mengetahui kemajuan dari kelompok binaan yang menjadi tanggung jawabnya. • Inti dari kegiatan ini dimana Universitas Prasetiya Mulya ingin menjadi pendorong perkembangan bagi Pemerintah setempat untuk mengelola dan mengembangkan potensi yang ada di Wanayasa serta untuk mewujudkan desa mandiri dan sejahtera melalui kewirausahaan. 55 Sumber: http://bisnispurwakarta.com/2017/02/27/universitas-prasetiya-mulya-dorong- kembangkan-umkm-dan-wisata-di-wanayasa
  56. 56. 4.2. Contoh Tantangan Pembangunan Desa • Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa, PDTT) telah menerbitkan Permendes Nomor 22 Tahun 2016 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa 2017. • Dalam Pasal 4 Permendesa No 22 tahun 2016, disebutkan penggunaan dana desa tahun 2017 diprioritaskan untuk membiayai pelaksanaan program dan kegiatan di bidang Pembangunan Desa dan Pemberdayaan Masyarakat Desa. • Dana Desa digunakan untuk membiayai pembangunan Desa yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa, peningkatan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan dengan prioritas penggunaan Dana Desa diarahkan untuk pelaksanaan program dan kegiatan Pembangunan Desa. 56
  57. 57. 5. Inkubator Pendidikan • Bagaimana PT mengembangkan fasilitas lab atau studio inovasi atau inkubator inovasi untuk menunjukkan cara kerja teknologi tepat guna dan mengalihkan teknologi pada UMKM di daerah atau desa? 57
  58. 58. 3.2. Contoh Sirup Rumput Laut • SIRUP RUMPUT LAUT NE JAEN (UNIVERSITAS UDAYANA) – Sirup Rumput Laut NE JAEN merupakan usaha yang bergerak di bidang kuliner khususnya minuman yang memanfaatkan komoditas lokal hasil pertanian Nusa Penida yaitu rumput laut. – Usaha Sirup Rumput Laut Ne Jaen dapat dikategorikan sebagai jenis usaha sosial, karena meningkatkan nilai tambah (value added) dengan sistem bagi hasil. – Terjadi peningkatan harga jual rumput laut itu sendiri • Melalui usaha Sirup Rumput Laut Ne Jaen diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif dalam mensejahterakan petani lokal, memberdayakan masyarakat, memberikan bekal dalam inovasi produk, serta sebagai ikon baru Nusa Penida sehingga nantinya masyarakat Nusa Penida bisa mandiri dalam mengolah sumber daya alam dan sumber daya manusianya. 58 Sumber: http://banggaberindonesia.com/berita-419-local-champion-teras-usaha-mahasiswa-2015-.html
  59. 59. 6. Desa Sebagai Panggung Pertunjukan Wisata Cerita Tutur Dialog Situs Internet Brosur PertunjukanInteraktif Musik Tarian Tenunan Permainan Nyanyian Pantun Pajangan Ulos Alat Musik Souvenir Makanan Minuman Hospitalitas Resto Rumah sewa (homestay) Hotel Losmen 59
  60. 60. 6.1. Kasus Desa Ragi Hotang • Kalau kita melihat posisi Desa Ragi Hotang yang secara alamiah sudah mempunyai daya tarik mulai dari perjalanan dari atas gunung menuju desa dan berjalan ke lokasi rumah adat, dapat dibayangkan bahwa kunjungan wisaya ke desa ini dapat dikemas menjadi suatu panggung pertunjukan. • Pertunjukan dapat merupakan kombinasi dari legenda, pemandangan alam, kuliner, tarian, musik, sampai pada pesona bambu maupun taman buatan. • Berpikir desain dapat diterapkan untuk mengembangkan panggung pertunjukan tersebut. Para pelancong dapat digiring untuk belajar sesuatu tentang kearifan lokal dan suguhan lokal yang unik dan belum tentu ada di tempat lain. Mereka dapat disuguhkan tor-tor dan dilatih bagaimana melakukan gerakan tor-tor yang sudah dimodifikasi secara modern. Mereka juga bisa ikutan memainkan suling atau menggunakan alat tenun atau diperkenalkan dengan makanan trandisional yang tidak kalah lezatnya dibandingkan dengan makanan Siam ataupun India. • Bagaimana mengembangkan program yang dapat memberdayakan masyarakat lokal tanpa harus kehilangan identitas budayanya? 60
  61. 61. 6.2. Kasus Potensi Sibolga • Apakah Sibolga dapat memanfaatkan maritim sebagai penggerak ekonomi kerakyatan? • Perlu melakukan: – Identifikasi daya tarik (point of parity) Sibolga: bentangan pantai, ombak, pulau kecil? – Identifikasi pembeda (point of diversity): pantai datar, karakteristik air benang, warna biru tosca? – Identifikasi keunikan (point of uniqueness): ada air mancur dan airnya tawar. • Apakah kekuatan di atas dapat dijadikan dasar untuk merek Sibolga: Welcome to Sibolga…? • Apakah Sibolga bisa menjadi pusat wisata pantai untuk Kawasan Toba? • Apakah dapat dibuatkan paket wisata mencakup Danau Toba dan Pantai Sibolga? 61
  62. 62. 7. Akuakultur Berkelanjutan • Bagaimana PT dapat membantu komunitas untuk mengembangkan rantai nilai akuakultur yang berkelanjutan? 62
  63. 63. 7.1. Sistem Sirkulasi Ulang 63
  64. 64. 8. Kepariwisataan Berkelanjutan • Bagaimana PT dapat membantu komunitas untuk membentuk pola pikir dan pola kerja yang menghasilkan kepariwisataan yang berkelanjutan? 64
  65. 65. 9. Air Minum dan Sanitasi • Bagaimana menjamin ketersediaan air minum, air bersih, dan sumber air baku untuk suatu komunitas? • Bagaimana memetakan dan menjaga konservasi hidrologi di kawasan desa? 65
  66. 66. 9.1. Penyaring Air 66
  67. 67. 10. Penanaman Pohon Ekonomis Mangga Pala Andaliman Kemiri Belimbing Manggis 67
  68. 68. Penutup 68
  69. 69. Penutup Ketidakberdayaan merupakan indikasi budaya pasif. Budaya berbasis nilai tumbuh dari kemitraan bukan sukses sendiri. Gerakan Budaya Berbasis Nilai adalah investasi untuk inovasi sosial. PT sebagai simpul inovasi sosial. PT punya peluang untuk pendanaan dengan melakukan inovasi sosial. Ada beragam peluang yang terbuka dengan cara pandang budaya berbasis nilai. 69
  70. 70. Terima Kasih 70

×