BAB VI           ANALISA DENGAN SPEKTROFOTOMETER                               SINAR TAMPAK6.1. Tujuan Percobaan      - Me...
Keterangan:1. Sumber energi cahaya   Suatu piranti yang memberikan radiasi pada sebuah spektrofotometer. Pada   daerah tam...
Berikut jenis-jenis spektrofotometri berdasarkan sumber cahaya yangdigunakan, yaitu:1. Spektrofotometri Visible (Spektro V...
3. Spektrofotometri UV-Vis                       Gambar 6.2.4. Spektrofotometer UV-Vis  Spektrofotometri ini merupakan gab...
Interaksi Radiasi Elektro Magnetik (REM) dengan atom atau molekul yang  berada dalam media yang transparan, maka sebagian ...
4. Spektrofotometer Serapan Atom (AAS)  Suatu bentuk spektrofotometri yang menggunakan spesies penyerapnya adalah  atom-at...
Gambar 6.2.7. Hukum Laambert-BeerAbsorbsi sinar oleh larutan mengikuti hukum Lambert-Beer, yaitu :                        ...
gelombang yang sama maka data yang diperoleh makin akurat atau kesalahanyang muncul makin kecil.          Berdasarkan huku...
6. Tidak boleh ada gangguan-gangguan dari komponen-komponen lain dalam   larutan yang dapat mengubah zat pereaksi atau kom...
diuretik atau satincathartic. Bila kurang mengkonsumsi air, kedua senyawatersebut akan membentuk kristal yang dapat merusa...
-   nama bahan       : asam klorida   -   rumus molekul : HCl   -   massa molar      : 36,46 g/mol   -   bentuk fisik     ...
6.4. Alat dan Bahan A. Alat-alat yang digunakan:          B. Bahan-bahan yang digunakan:     - batang pengaduk            ...
- membuat kurva hubungan antara panjang gelombang dengan absorbansi      (% T) dan menentukan panjang gelombang maksimum.C...
6.6. Data Pengamatan a.   Menentukan panjang gelombang (λ) maksimum      Tabel 6.6.1. Data penentuan panjang gelombang (λ)...
b. Menentukan kurva kalibrasi      Tabel 6.6.2. Data pengamatan kurva kalibrasi dengan menggunakan                    spek...
460               64            0,1938         36,7             0,435  470              64,5           0,1904         36,9...
Tabel 6.7.3. Data perhitungan kurva kalibrasi dengan menggunakan                spektrofotometer 21   ppm (X)             ...
6.8. Grafik A. Penentuan panjang gelombang maksimum                 0.205                            0.2                 0...
B. Penentuan kurva kalibrasi                 0.25                                                                     y = ...
6.10. Pembahasan -       Dengan menggunakan spektrofotometer 22, diperoleh panjang gelombang         maksimum (λ) = 420 nm...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Bab vi spektro

14,645 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
14,645
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
348
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Bab vi spektro

  1. 1. BAB VI ANALISA DENGAN SPEKTROFOTOMETER SINAR TAMPAK6.1. Tujuan Percobaan - Mengetahui metoda analisa spektrofotometri. - Penentuan kadar sulfat dalam sampel.6.2. Tinjauan Pustaka Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan padapengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna padapanjang gelombang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisidifraksi dengan detektor fototube. [1] Spektrofotometer jika dilihat dari namanya terdiri dari spektrometer danfotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum dengan panjanggelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas cahaya yangditransmisikan atau yang diabsorbsi. Jadi, Spektrofotometer merupakan instrumenuntuk mengukur energi secara relatif jika energi tersebut ditransmisikan,direfleksikan sebagai fungsi dari panjang gelombang. [5]Berikut komponen-komponen yang penting sekali dari suatu spektrofotometer. Bagian Optis Wadah Sumber Monokromator Detektor sampel Bagian Listrik Penguat Piranti Baca Gambar 6.2.1. Skema komponen-komponen dalam spektrofotometri
  2. 2. Keterangan:1. Sumber energi cahaya Suatu piranti yang memberikan radiasi pada sebuah spektrofotometer. Pada daerah tampak dari spektrum maupun daerah ultraviolet dan inframerah dekat, sumber energi cahaya yang digunakan adalah sebuah lampu pijar dengan kawat rambut yang terbuat dari wolfram.2. Motokromator Suatu piranti untuk mengecilkan suatu berkas radiasi yang datang dari sumber cahaya yang mempunyai kemurnian spektral yang tinggi sesuai dengan panjang gelombang yang diinginkan.3. Wadah sampel Pada spektrofotometri melibatkan larutan yang mana larutan tersebut ditempatkan pada suatu wadah yang harus bisa meneruskan energi cahaya dalam daerah spektral.4. Detektor Merupakan suatu piranti yang berfungsi untuk mengubah energi cahaya menjadi energi listrik, yang memberikan suatu isyarat listrik dan berhubungan dengan daya radiasi yang diserap oleh permukaan yang peka. [2]5. Penguat Suatu piranti yang berfungsi untuk memperbesar arus yang dihasilkan oleh detektor agar dapat dibaca oleh piranti baca. [1]6. Piranti baca Suatu sistem baca (piranti pembaca) yang memperagakan besarnya isyarat listrik, menyatakan dalam bentuk % Transmitan (% T) maupun Adsorbansi (A). [3] Pada metoda spektrofotometri, prinsipnya yaitu sampel menyerap radiasi(pemancaran) elektromagnetis, yang pada panjang gelombang tertentu dapatterlihat. Larutan tembaga misalnya berwarna biru karena larutan tersebutmenyerap warna komplementer, yaitu kuning. Semakin banyak molekul tembagaper satuan volum, semakin banyak cahaya kuning yang diserap, dan semakin tuawarna biru larutanya. [4]
  3. 3. Berikut jenis-jenis spektrofotometri berdasarkan sumber cahaya yangdigunakan, yaitu:1. Spektrofotometri Visible (Spektro Vis) Gambar 6.2.2. Spektrofotometer Visibel Pada spektrofotometri ini yang digunakan sebagai sumber sinar/energi adalah cahaya tampak (visible). Cahaya visible termasuk spektrum elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh mata manusia. Panjang gelombang sinar tampak adalah 380 sampai 750 nm. Sehingga semua sinar yang dapat dilihat oleh kita, maka sinar tersebut termasuk ke dalam sinar tampak (visible).2. Spektrofotometri UV (ultraviolet) Gambar 6.2.3. Spektrofotometer UV Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV berdasarkan interaksi sample dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang gelombang 190-380 nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium. Karena sinar UV tidak dapat dideteksi oleh mata kita, maka senyawa yang dapat menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna. Bening dan transparan.
  4. 4. 3. Spektrofotometri UV-Vis Gambar 6.2.4. Spektrofotometer UV-Vis Spektrofotometri ini merupakan gabungan antara spektrofotometri UV dan Visible. Menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda, sumber cahaya UV dan sumber cahaya visible.4. Spektrofotometri IR (Infra Red) Gambar 6.2.5. Spektrofotometer Infra Merah Dari namanya sudah bisa dimengerti bahwa spektrofotometri ini berdasar pada penyerapan panjang gelombang infra merah. Cahaya infra merah terbagi menjadi infra merah dekat, pertengahan, dan jauh. Infra merah pada spektrofotometri adalah infra merah jauh dan pertengahan yang mempunyai panjang gelombang 2.5-1000 μm.5. Spektrofotometri Raman Gambar 6.2.6. Spektrofotometer Raman
  5. 5. Interaksi Radiasi Elektro Magnetik (REM) dengan atom atau molekul yang berada dalam media yang transparan, maka sebagian dari radiasi tersebut akan dipercikkan oleh atom atau molekul tersebut.6. Spektrofotometri Fluorescensi dan Fosforescensi Suatu zat yang berinteraksi dengan radiasi, setelah mengabsorpsi radiasi tersebut, bisa mengemisikan radiasi dengan panjang gelombang yang umumnya lebih besar daripada panjang gelombang radiasi yang diserap. Fenomena tersebut disebut fotoluminensi yang mencakup dua jenis yaitu fluoresensi dan fosforesensi.7. Spektrofotometri Resonansi Magnetik Inti Resonansi Magnet Inti (RMI). Spektrofotometri RMI sangat penting artinya dalam analisis kualitatif, khususnya dalam penentuan struktur molekul zat organik. [3] Selain itu ada jenis-jenis spektrofotometer berdasarkan instrumennya,diantaranya:1. Spektrofotometer Berkas Tunggal Spektrofotometer jenis ini merupakan suatu instrumen dengan satu jalan optis. Sampel dan pelarut murni (blanko reagensia) diperiksa secara terpisah untuk menegakkan P dan P0 untuk pengukuran absorban. Biasanya dioperasikan secara manual.2. Spektrofotometer Berkas Rangkap Suatu instrumen di mana berkas monokromatik radiasi, dari sumber lampu wolfram dibagi menjadi dua berkas identik, satu melewati sel pembanding dan yang lain melewati sampel. [6]3. Spektrofotometer Diferensial Suatu teknik di mana sampel dibandingkan dengan larutan penyerap lain, bukan dengan pelarut murni atau blanko reagensia. Analisis menggunakan spektrofotometer diferensial lebih tepat dibandingkan dengan spektrofotometer biasa.
  6. 6. 4. Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) Suatu bentuk spektrofotometri yang menggunakan spesies penyerapnya adalah atom-atom. [2] Besar penyerapan cahaya (absorbansi) dari suatu kumpulan atom ataumolekul dinyatakan oleh Hukum Beer-Lambert.1. Hukum Lambert menyatakan bahwa proporsi berkas cahaya datang yang diserap oleh suatu bahan atau medium tidak bergantung pada intensitas berkas cahaya yang datang. Hukum Lambert ini tentunya hanya berlaku jika di dalam bahan atau medium tersebut tidak ada reaksi kimia ataupun proses fisis yang dapat dipicu atau diimbas oleh berkas cahaya datang tersebut. Dalam hal demikian, intensitas cahaya yang keluar setelah melewati bahan/medium tersebut dapat dituliskan dalam bentuk sederhana sebagai berikut: I = T × I0 Di mana I adalah intensitas berkas cahaya keluar, I0 adalah intensitas berkas cahaya masuk atau datang, dan T adalah transmitansi. Jika transmisi dinyatakan dalam prosentase, maka %T = × 100 (dalam satuan %)2. Hukum Beer menyatakan bahwa absorbansi cahaya berbanding lurus dengan dengan konsentrasi dan ketebalan bahan atau medium, yaitu: A=εcl Di mana ε adalah molar absorbsitivitas untuk panjang gelombang tertentu, atau disebut juga sebagai koefisien ekstinsif (dalam l mol-1 cm-1), c adalah konsentrasi molar (mol l-1), l adalah panjang/ketebalan dari bahan/medium yang dilintasi oleh cahaya (cm). Kombinasi dari kedua hukum tersebut (Hukum Beer-Lambert) dapat dituliskan sebagai berikut: %T = × 100 = exp (− ε c l) atau A = log = ε c l [7]
  7. 7. Gambar 6.2.7. Hukum Laambert-BeerAbsorbsi sinar oleh larutan mengikuti hukum Lambert-Beer, yaitu : A = log =abcKeterangan :I0 = Intensitas sinar datangI1 = Intensitas sinar yang diteruskana = Absorptivitasb = Panjang sel/kuvetc = konsentrasi (g/l)A = Absorban Istilah spektrofotometri berhubungan dengan pengukuran energi radiasiyang diserap oleh suatu sistem sebagai fungsi panjang gelombang dari radiasimaupun pengukuran panjang absorbsi terisolasi pada suatu panjang gelombangtertentu. Ketika cahaya melewati suatu larutan biomolekul, terjadi duakemungkinan. Kemungkinan yang pertama adalah cahaya ditangkap dankemungkinan kedua adalah cahaya dibelokkan. Bila energi dari cahaya (foton)harus sesuai dengan perbedaan energi dasar dan energi eksitasi dari molekultersebut. Proses inilah yang menjadi dasar pengukuran dari absorbansi dalamspektrofotometer. Panjang gelombang yang digunakan untuk melakukan analisis adalahpanjang gelombang dimana suatu zat memberikan penyerapan paling tinggi yangdisebut λ maks. Hal ini disebabkan jika pengukuran dilakukan pada panjang
  8. 8. gelombang yang sama maka data yang diperoleh makin akurat atau kesalahanyang muncul makin kecil. Berdasarkan hukum Beer absorbansi akan berbanding lurus dengankonsentrasi, karena b atau l harganya 1 cm dapat diabaikan dan ε merupakan suatutetapan. Artinya konsentrasi makin tinggi maka absorbansi yang dihasilkan makintinggi, begitupun sebaliknya konsentrasi makin rendah absorbansi yang dihasilkanmakin rendah. Spektrofotometer memiliki beberapa keuntungan untuk keperluankuantitatif diantaranya:- Dapat digunakan secara luas- Memiliki kepekaan yang tinggi- Keselektifannya cukup baik Zat yang dapat dianalisis menggunakan spektrofotometri sinar tampakadalah zat dalam bentuk larutan dan zat tersebut harus tampak berwarna. Jikatidak berwarna maka larutan tersebut harus dijadikan berwarna dengan caramemberi reagen tertentu yang spesifik. Reagen ini disebut reagen pembentukwarna. Berikut adalah sifat-sifat yang harus dimiliki oleh reagen pembentukwarna:1. Kestabilan dalam larutan. Pereaksi-pereaksi yang berubah sifatnya dalam waktu beberapa jam, dapat menyebabkan timbulnya semacam cendawan bila disimpan. Oleh sebab itu harus dibuat baru dan kurva kalibarasi yang baru harus dibuat saat setiap kali analisis.2. Pembentukan warna yang dianalisis harus cepat.3. Reaksi dengan komponen yang dianalisa harus berlangsung secara stoikiometrik.4. Pereaksi tidak boleh menyerap cahaya dalam spektrum dimana dilakukan pengukuran.5. Pereaksi harus selektif dan spesifik (khas) untuk komponen yang dianalisa, sehingga warna yang terjadi benar-benar merupakan ukuran bagi komponen tersebut saja.
  9. 9. 6. Tidak boleh ada gangguan-gangguan dari komponen-komponen lain dalam larutan yang dapat mengubah zat pereaksi atau komponen komponen yang dianalisa menjadi suatu bentuk atau kompleks yang tidak berwarna, sehingga pembentukan warna yang dikehandaki tidak sempurna.7. Pereaksi yang dipakai harus dapat menimbulkan hasil reaksi berwarna yang dikehendaki dengan komponen yang dianalisa, dalam pelarut yang dipakai. Setelah larutan ditambahkan reagen atau zat pembentuk warna makalarutan tersebut harus memiliki lima sifat di bawah ini:1. Kestabilan warna yang cukup lama guna memungkinkan pengukuran absorbansi dengan teliti. Ketidakstabilan, yang mengakibatkan menyusutnya warna larutan (fading), disebabkan oleh oksidasi oleh udara, penguraian secara fotokimia, pengaruh keasaman, suhu dan jenis pelarut. Namun kadang-kadang dengan mengubah kondisi larutan dapat diperoleh kestabilan yang lebih baik.2. Warna larutan yang akan diukur harus mempunyai intensitas yang cukup tinggi (warna harus cukup tua) yang berarti bahwa absortivitas molarnya (ε) besar. Hal ini dapat dikontrol dengan mengubah pelarutnya. Dalam hal ini dengan memilih pereaksi yang memiliki kepekaan yang cukup tinggi.3. Warna larutan yang diukur sebaiknya bebas daripada pengaruh variasi-variasi kecil kecil dalam nilai pH, suhu maupun kondisis-kondisi yang lain.4. Hasil reaksi yang berwarna ini harus larut dalam pelarut yang dipakai.5. Sitem yang berwarna ini harus memenuhi Hukum Lambert-Beer. Analisis sulfat di dalam batuan dilakukan untuk keperluan industri,sedangkan analisis sulfat di dalam air minum perlu dilakukan, karena seperti yangdipersyaratkan oleh WHO kandungan sulfat maksimum yang diperbolehkansebesar 200 ppm. Menyebabkan laxative apabila kadarnya berupa magnesium dan sodium.Senyawa sulfat bersifat iritasi pada saluran pencernaan (saluran gastro intestinal),apabila dalam bentuk campuran magnesium atau natrium pada dosis yang tidaksesuai aturan. Sebagai contoh bentuk magnesium sulfat yang biasa ditambahkanke dalam air minurn untuk membantu pengendapan (penjernihan air) setelahpenambahan klorin. Bentuk natriurn sulfat biasa digunakan untuk pengobatan
  10. 10. diuretik atau satincathartic. Bila kurang mengkonsumsi air, kedua senyawatersebut akan membentuk kristal yang dapat merusak saluran pencernaan. Air yang mengandung konsentrasi tinggi dari sulfat disebabkan olehleaching alam dari deposito magnesium sulfat (garam Epsum) atau sodium sulfat.Tiga efek yang terjadi apabila dalam air minum terdapat sulfat yang memilikikonsentrasi tinggi, antara lain:- Berisi air yang diketahui jumlah sulfat (S04) cenderung untuk membentuk kerak dalam skala boiler dan heat exchangers- Sufat menimbulkan efek rasa- Sulfat dapat menimbulkan efek pencahar dengan asupan yang berlebihan. [3]6.3. Tinjauan Bahan A. Aquadest Aquadest atau biasa disebut air suling merupakan air hasil penyulingan (diuapkan).Air suling juga memiliki rumus kimia pada air umumnya yaitu H2O yang berarti dalam 1 molekul terdapat 2 atom hidrogen kovalen dan atom oksigen tunggal. Sifat fisik dan kimia H2O: - rumus molekul : H2O - berat molekul : 18 gram/mol - bentuk fisik : cairan tak berwarna dan tidak berbau - titik beku : 0 oC - titik didih : 100 oC - pH :7 B. Asam klorida (HCl) Asam klorida adalah larutan akuatik dari gas hidrogen klorida (HCl). HCl merupakan asam kuat, dan merupakan komponen utama dalam asam lambung. Senyawa ini juga digunakan secara luas dalam industri. Asam klorida harus ditangani dengan memperhatikan keselamatan yang tepat karena merupakan cairan yang sangat korosif. Sifat fisik dan kimia HCl:
  11. 11. - nama bahan : asam klorida - rumus molekul : HCl - massa molar : 36,46 g/mol - bentuk fisik : cairan tak berwarna - titik lebur : -27,32 oC - titik didih : 110 oC - densitas : 1,18 g/cm3 - keasaman (pH) : 3 pada 25 oCC. Barium Klorida (BaCl2.2H2O) Barium klorida adalah senyawa anorganik dengan rumus molekul BaCl 2. Barium klorida merupakan senyawa beracun dan berwarna kuning hijau pada nyala api serta bersifat higroskopis. Sifat fisik dan kimia BaCl2: - nama bahan : barium klorida - rumus molekul : BaCl2.2H2O - massa molar : 208,23 g/mol - bentuk fisik : serbuk putih - densitas : 3,856 g/cm3 - titik didih : 1560 oC - kelarutan dalam air : 43 g/100 ml (30 oC)D. Kalium Sulfat (K2SO4) Kalium sulfat (K2SO4) juga dikenal sebagai garam abu sulfur merupakan garam yang terdiri dari kristal putih yang dapat larut dalam air dan tidak mudah terbakar. Sifat fisik dan kimia K2SO4: - nama bahan : kalium sulfat - rumus molekul : K2SO4 - bentuk fisik : kristal putih - titik lebur : 1069 oC - titik didih : 1689oC - kelarutan dalam air : 11,1 g/100 ml (20 oC). [8]
  12. 12. 6.4. Alat dan Bahan A. Alat-alat yang digunakan: B. Bahan-bahan yang digunakan: - batang pengaduk - aquadest (H2O) - beakerglass - asam klorida (HCl) - botol aquadest - barium klorida (BaCl2.2H2O) - corong kaca - kalium sulfat (K2SO4) - cuvet - sampel (air PDAM) - Erlemeyer - gelas arloji - karet penghisap - neraca analitik - labu ukur - pipet tetes - pipet volume - spektrofotometer sinar tampak6.5. Prosedur Percobaan A. Preparasi Larutan - membuat larutan kalium sulfat 100 ppm sebanyak 250 mL - membuat larutan asam klorida 2 M sebanyak 50 mL. B. Menentukan panjang gelombang maksimum. - memipet larutan kalium sulfat 100 ppm sebanyak 50 mL lalu menambahkan 0,2 gram padatan barium klorida - mengocok selama kurang lebih 1 menit sampai terbentuk endapan barium sulfat, mendiamkan selama 5 menit - mengukur nilai % T dan A dari larutan 100 ppm dengan spektrofotometer sinar tampak pada panjang gelombang 400 nm sampai 520 nm - menggunakan larutan blangko untuk mengenolkan harga % T sebelum pengukuran serapan larutan standart pada setiap penggantian panjang gelombang
  13. 13. - membuat kurva hubungan antara panjang gelombang dengan absorbansi (% T) dan menentukan panjang gelombang maksimum.C. Membuat kurva kalibrasi - mengatur pH larutan kalium sulfat menjadi 1 - mengencerkan larutan kalium sulfat 100 ppm menjadi 5, 20, 35, 50, 65, dan 80 ppm sebanyak 50 mL - pada masing-masing larutan menambahkan 0,2 gram padatan barium klorida sebelum menambahkan aquadest sampai tanda batas - mengocok selama kurang lebih 1 menit sampai terbentuk endapan barium sulfat, mendiamkan selama 5 menit - mengukur besarnya transmitan pada panjang gelombang maksimum - membuat kurva kalibrasi antara panjang gelombang dan konsentrasi.D. Mengukur sampel larutan - memipet 10 mL sampel ke dalam labu ukur 50 mL, menambahkan asam klorida 2 M untuk mengukur pH hingga 1 - menambahkan 0,2 gram padatan barium klorida sebelum menambahkan aquadest sampai tanda batas - mengocok selama kurang lebih 1 menit sampai terbentuk endapan barium sulfat, mendiamkan selama 5 menit - mengukur besarnya transmitan pada panjang gelombang maksimal - membuat kurva kalibrasi antara panjang gelombang dan konsentrasi.
  14. 14. 6.6. Data Pengamatan a. Menentukan panjang gelombang (λ) maksimum Tabel 6.6.1. Data penentuan panjang gelombang (λ) maksimum dengan menggunakan spektrofotometer 21 dan 22 %T λ(nm) 21 22 400 65 37,3 410 64 36,6 420 63 36,3 430 63,5 36,4 440 64 36,5 450 64 36,6 460 64 36,7 470 64,5 36,9 480 65 39,2 490 65 38,9 500 66 39,0 510 67 39,5 520 67 39,7
  15. 15. b. Menentukan kurva kalibrasi Tabel 6.6.2. Data pengamatan kurva kalibrasi dengan menggunakan spektrofotometer 21 dan 22 pada λ= 420nm ppm (x) %T 21 22 5 ppm 95 95,9 20 ppm 88 83,8 35 ppm 81 69,4 50 ppm 79 66,7 65 ppm 74 64,1 80 ppm 59 39,8 Sampel 95 97,86.7. Data Hasil Perhitungan Tabel 6.7.1. Data perhitungan panjang gelombang (λ) maksimum dengan menggunakan spektrofotometer 21 dan 22 Spektrofotometer 21 Spektrofotometer 22 λ(nm) %T A %T A 400 65 0,1870 37,3 0,428 410 64 0,1938 36,6 0,436 420 63 0,2006 36,3 0,440 430 63,5 0,1972 36,4 0,438 440 64 0,1938 36,5 0,437 450 64 0,1938 36,6 0,436
  16. 16. 460 64 0,1938 36,7 0,435 470 64,5 0,1904 36,9 0,432 480 65 0,1871 39,2 0,406 490 65 0,1871 38,9 0,410 500 66 0,1805 39,0 0,408 510 67 0,1739 39,5 0,403 520 67 0,1739 39,7 0,401Tabel 6.7.2. Data perhitungan kurva kalibrasi dengan menggunakan spektrofotometer 21 dan 22 pada λ = 420nm ppm (x) 21 22 %T A %T A 5 ppm 95 0,0222 95,9 0,0181 20 ppm 88 0,0555 83,8 0,0767 35 ppm 81 0,0915 69,4 0,1586 50 ppm 79 0,1023 66,7 0,1758 65 ppm 74 0,1307 64,1 0,1931 80 ppm 59 0,2291 39,8 0,4001 Sampel 95 0,0222 97,8 0,0096
  17. 17. Tabel 6.7.3. Data perhitungan kurva kalibrasi dengan menggunakan spektrofotometer 21 ppm (X) A (Y) X2 X.Y 5 0,0222 25 0,111 20 0,0555 400 1,11 35 0,0915 1225 3,2025 50 0,1023 2500 5,115 65 0,1307 4225 8,4955 80 0,2291 6400 18,328 2 X = 255 Y = 0,6313 X = 14775 XY=36,362 Sampel λ = 420 A = 0,0222Tabel 6.7.4. Data perhitungan kurva kalibrasi dengan menggunakan spektrofotometer 22 ppm (X) A (Y) X2 X.Y 5 0,0181 25 0,0905 20 0,0767 400 1,534 35 0,1586 1225 5,551 50 0,1758 2500 8,79 65 0,1931 4225 12,5515 80 0,4001 6400 32,008 2 X = 255 Y = 1,0224 X = 14775 XY= 60,525 Sampel λ = 420 A = 0,0096
  18. 18. 6.8. Grafik A. Penentuan panjang gelombang maksimum 0.205 0.2 0.195 Absorban 0.19 0.185 0.18 0.175 0.17 400 410 420 430 440 450 460 470 480 490 500 510 520 Panjang gelombang (λ) Grafik 6.8.1. Hubungan antara absorban dan panjang gelombang pada spektrofotometer 21 Spektrofotometer 22 0.445 0.44 0.435 0.43 Absorban 0.425 0.42 0.415 0.41 0.405 0.4 0.395 400 410 420 430 440 450 460 470 480 490 500 510 520 Panjang gelombang ( ) Grafik 6.8.2. Hubungan antara absorban dan panjang gelombang pada spektrofotometer 22
  19. 19. B. Penentuan kurva kalibrasi 0.25 y = 0.002x + 0.002 R² = 0.902 0.2 Absorban 0.15 0.1 0.05 0 0 20 40 60 80 Konsentrasi (ppm) Grafik 6.8.3. Hubungan antara absorban dan konsentrasi pada spektrofotometer 21 0.45 0.4 y = 0.004x - 0.013 0.35 R² = 0.866 0.3 Absorban 0.25 0.2 0.15 0.1 0.05 0 0 20 40 60 80 Konsentrasi (ppm) Grafik 6.8.4. Hubungan antara absorban dan konsentrasi pada spektrofotometer 226.9. Persamaan Reaksi K2SO4 (s) + BaCl2 (s) 2 KCl (l) + BaSO4 (kalium sulfat) (barium klorida) (kalium klorida) (barium sulfat) (endapan putih)
  20. 20. 6.10. Pembahasan - Dengan menggunakan spektrofotometer 22, diperoleh panjang gelombang maksimum (λ) = 420 nm dengan (T) = 36,3 dan (A) = 0,440 yang ditunjukan pada tabel 6.7.1. Menggunakan panjang gelombang (λ) maksimum karena kepekaannya maksimum pada perubahan konsentrasi larutan yang akan memberikan A yang paling besar dan pada panjang gelombang (λ) maksimum didapatkan bentuk kurva kalibrasi yang linier sesuai dengan hukum Lambert-Beer. - Pada grafik 6.8.1 dan 6.8.2. diperoleh perbandingan bahwa kosentrasi berbanding lurus dengan absorban. Semakin besar kosentrasi maka semakin besar absorbannya ataupun sebaliknya. Hal ini sesuai dengan teorinya yang berdasarkan Hukum Beer bahwa absorbansi akan berbanding lurus dengan konsentrasi. Jika konsentrasi makin tinggi maka absorbansi yang dihasilkan makin tinggi, begitupun sebaliknya konsentrasi makin rendah absorbansi yang dihasilkan makin rendah. - Penambahan barium klorida berfungsi untuk membentuk endapan barium sulfat dan menimbulkan keruh. Hal ini sesuai dengan syarat sampel spektrofotometri yang harus berwarna. - Kadar SO4 dalam sampel (air PDAM) yang diperoleh pada analisa spektrofotometer 21 yaitu 8,2513 ppm dan pada spektrofotometer 22 adalah sebesar 5,4151 ppm. Hal ini menunjukkan bahwa air sampel dapat dikonsumsi yang mana kandungan SO4 yang diperbolehkan dalam air maksimum sebesar 200 ppm.6.11. Kesimpulan - Dapat mengetahui metode analisa menggunakan spektrofotometri sinar tampak dengan benar. - Kadar SO4 pada sampel (air PDAM) menggunakan spektrofotometri 21 sebesar 8,2513 ppm dan pada spektrofotometer 22 sebesar 5,4151 ppm.

×