Makalah auditing ii kel 4 audit siklus pengeluaran ii (jiantari c 301 09 013)

6,594 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
6,594
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
253
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah auditing ii kel 4 audit siklus pengeluaran ii (jiantari c 301 09 013)

  1. 1. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II] BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kegagalan audit yang seringkali terjadi banyak disebabkan oleh tidak dilaksanakannya prosedur audit yang penting atau tidak dievaluasinya bukti- bukti audit dengan benar. Perencanaan audit yang baik seringkali dapat mencegah jenis kesalahan ini. Pada pembahasan kali ini, akan diuraikan secara umum gambaran umum proses audit mulai dari memperoleh pemahaman tentang bisnis dan industri klien hingga memperoleh bukti audit dan mengevaluasi bukti audit tersebut untuk memperoleh keyakinan yang memadai. Auditor mengawali perencanaan audit dengan meletakkan akhir audit dibenaknya. Sejak awal telah disebutkan bahwa tujuan menyeluruh audit laporan keuangan adalah menyatakan pendapat tentang apakah laporan keuangan klien menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan GAAP (prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum). Untuk itu auditor harus memperoleh bahan bukti audit yang cukup dan kompeten sebagai dasar yang memadai untuk menyatakan pendapat. Disamping itu, pilihan akan bukti audit dipengaruhi oleh: 1. Pemahaman auditor atas bisnis dan industri klien 2. Perbandingan antara harapan auditor atas laporan keuangan dengan buku dan catatan klien 3. Keputusan tentang asersi yang material bagian laporan keuangan 4. Keputusan tentang risiko bawaan dan risiko pengendalian B. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana Pertimbangan Aktivitas Pengendalian – Transaksi Pengeluaran Kas? 2. Bagaimana Penghimpunan dan Pendokumentasian Pemahaman? 3. Bagaimana Penetapan Risiko Pengendalian? 4. Bagaimana Pengujian Pengendalian? 5. Bagaimana Pengujian Substantif Saldo Aktiva Tetap? 6. Bagaimana Penetapan Risiko Deteksi? 7. Bagaimana Pengujian Substantif Saldo Utang Dagang? 8. Bagaimana Pertimbangan Program Audit?KELOMPOK 4 (EMPAT) Page 1
  2. 2. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II] C. TUJUAN MAKALAH INI DIBUAT 1. Untuk mengetahui Pertimbangan Aktivitas Pengendalian – Transaksi Pengeluaran Kas 2. Untuk mengetahui Penghimpunan dan Pendokumentasian Pemahaman 3. Untuk mengetahui Penetapan Risiko Pengendalian 4. Untuk mengetahui Pengujian Pengendalian 5. Untuk mengetahui Pengujian Substantif Saldo Aktiva Tetap 6. Untuk mengetahui Penetapan Risiko Deteksi 7. Untuk mengetahui Pengujian Substantif Saldo Utang Dagang 8. Untuk mengetahui Pertimbangan Program AuditKELOMPOK 4 (EMPAT) Page 2
  3. 3. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II] BAB II PEMBAHASAN A. PERTIMBANGAN AKTIVITAS PENGENDALIAN TRANSAKSI PENGELUARAN KAS Pengendalian yang dapat dilakukan untuk prosedur ini adalah: a. Penggunaan cek bernomor urut b. Penandatanganan cek harus mengawasi atau mengendalikan pengiriman atau penyerahan cek kepada pemasok. c. Cek yang diserahkan harus berisi jumlah rupiah yang sesuai, dan harus dicegah penandatanganan dan penyerahan cek yang tidak menyebutkan jumlah rupiah. d. Pengecekan independen terhadap persetujuan total cek yang dikeluarkan sekumpulan Voucher yang diproses untuk pembayaran. e. Voucher dan dokumen pendukungnya dicap ditandai pada saat cek ditandatangani. f. Penandatanganan cek yang berwenang harus memastikan bahwa tiap-tiap cek sesuai voucher baik dalam nama, maupun jumlah uang yang harus dibayarkan. g. Pengecekan independen superpervisor akunting atas kesesuain dengan jumlah yang dijurnal dan diposting, dengan ringkasan cek yang diterima dari bagian keuangan. h. Pengecekan independen atas ketepatan pencatatan dengan cara membandingkan secara priodik tanggal jurnal pengeluaran kas dengan tanggal pada tembusan cek i. Pelaksanaan rekonsiliasi bank secara independen. Dokumen dan Catatan Dalam transaksi pengeluaran kas,dokumen dan catatan yang dipakai adalah: 1. Cek, yaitu suatu formulir yang dapat digunakan perusahaan untuk memerintahkan bank membayar sejumlah uang kepada nama yang tercantum pada cek atau pembawa cek. 2. Ringkasan cek, yaitu dokumen yang digunakan untuk melaporkan total jumlah cek yang telah dikeluarkan dalam jangaka waktu tertentu ataupun dalam suatu kelompok cek.KELOMPOK 4 (EMPAT) Page 3
  4. 4. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II]KELOMPOK 4 (EMPAT) Page 4
  5. 5. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II] 3. File transaksi pengeluaran kas, yaitu file komputer yang berisi informasi pengeluaran kas termasuk pembayaran kepada pemasok. 4. Jurnal pengeluaran kas, catatan akuntansi ini digunakan untuk merekam pengeluaran kas melalui cek kepada pemasok atau pihak lain. Fungsi Fungsi yang terlibat adalah : a. Fungsi pembayaran utang b. Fungsi pencatatan pengeluaran kas Fungsi pembayaran utang Bagian atau departemen utang pada umumnya bertanggung jawab untuk menentukan atau memastikan bahwa voucher yang belum dibayar,yang belum dibayar, diproses sebagaimana mestinya.pembayaran harus dilakukan pada tanggal batas waktu pembayaran. Hal ini dimaksudkan untuk memanfaatkan potongan harga seoptimal mungkin. Semua pembayaran harus menggunakan cek. Fungsi pencatatan pengeluaran kas Pada sistem manual, personil akunting menjurnal pengeluaran kas atas cek yang pengeluaran. Porsenel tersebut tidak boleh terlibat atau berpartisipasi dalam transaksi pembelian, dan penyiapan serta pengeluaran cek. B. PENGHIMPUNAN DAN PENDOKUMENTASIAN PEMAHAMAN Penghimpunan pemahaman dapat dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan atau wawancara, observasi, menelaah dokumen, atau menelaah kembali pengalaman auditor pada audit periode sebelumnya pada klien tersebut. Dokumentasi pemahaman dilakukan dengan menggunakan kuesioner, Flowchart, atau memo atau uraian tertulis naratif. Berikut adalah contoh pertanyaan dalam kuesioner transaksi pengeluaran kas: FUNGSI CONTOH PERTANYAAN Pembayaran utang Apakah semua pengeluaran dilakukan dengan cek? Apakah penandatanganan cek memeriksa keberadaan dokumen pendukungnya?KELOMPOK 4 (EMPAT) Page 5
  6. 6. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II] Apakah voucher dan dokumen pendukung dicap lunas apabila ditandatangani? Apakah cek yang bernomer urut digunakan? Apakah ada pembatasan akses ke buku cek dan tanda tangan cek? Pencatatan pengeluaran kas Apakah ada pemisahan tugas pelaksana dengan pencatat transaksi pengeluaran kas ? Apakah ada pengecekan independen kesesuaian jumlah dijurnal dan diposting dengan ringkasan voucher harian? Apakah rekonsiliasi bank independen secara priodik disusun? Apakah pencatatan pengeluaran kas dicatat sesegera mungkin? C. PENETAPAN RISIKO PENGENDALIAN Salah saji dan pengendalian yang perlu, dikembangkan auditor berdasar pengetahuannya atas pengelolahan transaksi pengeluaran kas atau Checklist standar milik kantor akuntan publiknya. Melalui pemahaman struktur pengendalian intern klien, auditor akuntan publiknya. Melalui pemahaman struktur pengendalian intern klien, auditor dapat mengetahui apakah pengendalian yang diperlukan, telah dirancang, dan dijalankan oleh klien. Pengujian pengendalian yang dilakukan dapat menghasilakan bukti mengenai efektivitas rancangan dan opersi pengendalian dalam transaksi pengeluran kas.buktiKELOMPOK 4 (EMPAT) Page 6
  7. 7. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II] tersebut kemudian digunakan untuk menetapkan resiko pengendalian untuk setiap asersi yang signifikan yang terkait dengan transaksi pengeluaran kas. FUNGSI SALAH SAJI PENGENDALIAN PENGUJIAN PONTENSIAL YANG PERLU PENGENDALIAN Pembayaran Cek dikeluarkan Penandatanganan Mengamati utang atas pembelian cek menelaah penandatangan cek tanpaotorisasi voucher dan pelaksanaan dokumen pengecekan pendukung dokumen pendukung Sebuah Voucher Voucher dan Memeriksa dibayar dua kali dokumen keberadaan cap pendukung dicap lunas atas cek lunas apabilah telah terbayar dibuatkan ceknya. Pencatatan Pengeluaran cek Penggunaan cek Pemerisaan bukti pengeluaran kas tidak dicatat bernomer urut penggunaan cek bernomer urut. Kesalahan dibuat Adanya rekonsiliasi Memeriksa dalam pencatatan bank independen rekonsiliasi bank. cek secara priodik D. PENGUJIAN PENGENDALIAN Pengujian pengendalian pengeluaran kas dan pencatatan meliputi langka-langka berikut : 1. Untuk setiap sampel voucher, mintakan cancelled check 2. Memeriksa cancelled check untuk melihat apakah telah ada tanda tangan yang sah. 3. Membandingkan voucher dengan cancelled check, serta memeriksa nomor, tanggal, penerimaan cek dan jumlah.KELOMPOK 4 (EMPAT) Page 7
  8. 8. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II] 4. Mengusut voucher dan cancelled check ke pemostingan ke buku pembantu utang dagang dan pejurnalan dalam register voucher,kemudian: o Menelaah penjurnalan dalam register voucher untuk menentukan klasifikasi rekening yang tepat. o Memeriksa ketepatan perhitungan dalam register voucher untuk suatu priode tertentu, serta mengusut jumlahnya ke penjurnalannya. o Mengamati sepintas register voucher untuk menemukan item yang tidak wajar. 5. Mendokumentasikan setiap temuan penyimpanan yang diperoleh melalui keempat langkah diatas. E. PENGUJIAN SUBSTANTIF SALDO AKTIVA TETAP Rekening aktiva tetap digunakan untuk menampung pencatatan aset perusahaan yang mempunyai mamfaat ekonomis lebih dari satu tahun atau satu siklus produksi normal. Aset-aset yang termasuk dalam kategori ini antara lain tanah dan bangunan,mesin,peralatan,dan alat pengangkutan, dan sebagainya. Rekening nominal yang berkaitan erat dengan aktiva tetap adalah biaya depresiasi, biaya perbaikan, dan biaya sewa gedung atau aset lainya. Aktiva tetap merupakan komponen terbesar total aset dalam neraca. Biaya – biaya yang berhubungan dengan aktiva tetap merupakan faktor material dalam laporan laba rugi. Pemeriksaan aktiva tetap relatif lebih sedikit memakan waktu dan biaya dari pada pemeriksaan aktiva lancar. F. PENETAPAN RESIKO DETEKSI Jenis aktiva tetap yang berbeda mempunyai resiko bawaan dan resiko pengendalian yang berbeda pula. Resiko bawaan tanah lebih rendah dari pada resiko bawaan kendaraan maupun bangunan. Hal ini beralasan sebab adanya kerentanaan pengendalian dan kerumitan perhitungan dalam estimasi umur ekonomis kendaraan dan nilai resedunya. Variasi resiko bawaan dan resiko pengendalian diantara berbagi aset tersebut perlu diperhatikan auditor. Perbedaan jenis perusahaan juga mempengaruhi penetapan resiko bawaan arsesi keberadaan atau keterjadian. Resiko bawaan arsesi keberadaan atau kejadian pada perusahaan dagang, relatif lebih rendah dari pada perusahaan manufaktur. Hal ini beralasan sebab kemungkinan terjadinya ketiadaan pencatatan atas keausan aktiva tetap,aktiva yang tidak mempunyai umur ekonomis lagi,adalah lebih besar dari perusahaan maknufaturan dan perusahaan dagang.KELOMPOK 4 (EMPAT) Page 8
  9. 9. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II] Resiko pengendalian aktiva tetap pada umumnya relatif rendah karena transaksi ini jarang terjadi dan adanya otorisasi direktur ataupun dewan komisaris atas pembelian aktiva tetap yang penting. Meskipun resiko pengendaliannya rendah sehingga menyebabkan resiko deteksinya ditetapkan ditetapkan pada tingkat yang tinggi,auditor perlu menggunakan pendekatan pengutamaan pengujian subtantif atau primarily substantive approach. Prosedur Inisial Sebelum melakukan pengujian yang lain dalam program audit, auditor menentukan bahwa saldo awal aktiva tetap sesuai denganm kertas kerja tahun sebelumnya.Pembandingan ini mengkonfirmasikan bahwa penyesuaian yang dilakukan pada tutup buku tahun sebelumnya telah dicatat. Auditor memulai pengujian subtantif saldo aktiva tetap dengan menguji ketepatan perhitungan matematis skedul aktiva tetap dan kesesuaian saldo aktiva tetap dalam buku pembantu aktiva tetap dengan saldo aktiva tetap dalam buku besar. Pada penugasan audit atas klien lama, saldo lama aktiva tetap dapat dibandingkan dengan saldo aktiva dalam kertas kerja audit tahun sebelumnya. Hal ini perlu dilakukan untuk memastikan bahwa klien benar-benar telah melakukan penyesuaian sebagaimana mestinya sesuai permintaan auditor, yang berkaitan rat dengan asersi penilaian dan pengalokasian. Penerapan Prosedur Analitis Rasio yang dapat dipakai untuk menerapkan prosedur analitis yaitu : a. Turnover atau tingkat perputaran aktiva tetap. Rasio ini diperoleh dengan menentukan jumlah penjualan bersih kemudian dibagi dengan rata-rata aktiva tetap. b. Rasio biaya perbaikan per penjualan bersih. c. Tingkat laba terhadap aktiva tetap. d. Aktiva tetap terhadap ekuitas pemilik. Apabila setelah dilakukan analisi ternyata ditemukan rasio yang tidak masuk akal atau fluktuasi yang besar, maka auditor akan mengekstnsifkan pengujian subtantif saldo aktiva tetap. Auditor juga dapat melakukan investigasi lebih lanjut apabila menemukan rasio yang tidak wajar.KELOMPOK 4 (EMPAT) Page 9
  10. 10. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II] Pengujian Detail Transaksi Pengujian subtantif detail transaksi ditujukan untuk menguji: (1). Penambahan aktiva tetap (2). Pelepasan aktiva tetap , (3) Perbaikan dan pemeliharaan. Menyusut Penambahan Aktiva Seluruh penambahan aktiva tetap harus didukung dengan otorisasi, vouchers, faktur. Cancelled check dan kontrak. Cancelled check adalah cek perusahaan yang telah dibayarkan bank atas beban rekening perusahaan, kemudian bank mengirimkan dokumen yang membuktikan bahwa cek tersebut telah dibayar. Auditor melakukan vouching dengan cara melihat jurnal penambahan (pembelian) aktiva tetap. Auditor kemudian memeriksa dokumen-dokumen pendukungnya. Pengujian itu menghasilkan bukti mengenai asersi keberadaan atau keterjadian ,hak dan kewajiban , dan penilaian atau pengalokasian. Mengusut Pelepasan Aktiva Bukti penjualan, penghentian, tukar tambah hendaknya didapatkan oleh auditor dengan bentuk remittance advice, otorisasi tertulis dan persetujuan penjualan. Prosedur berikut ini biasanya dilakukan untuk menentukan apakah semua pelepasan sudah dicatat : 1. Menganalisa pendapatan lain-lain dari kelebihan penjualan aktiva tetap. 2. Menyelidiki fassilitas yang dihentikan berkaitan dengan penghentian lini produksi dan operasi. 3. Menelusur penghentian order pekerjaan dan otorisasi penghentian catatan akuntansi. 4. Menelaah polis asuransi untuk penghentian. 5. Meneliti manajemen berkaitan dengan penghentian aktiva tetap. Menelaah jurnal Untuk Beban Perbaikan dan Pemeliharaan Tujuan auditor merancang pengujian ini adalah untuk menentukan ketepatan konsisten perlakuan trhadap beban perbaikan. Ketepatan berkaitan dengan pertimbangan apakah klien membuat perbedaan antara pengeluara ekuitas dengan pengeluaran untuk mendapatkan penghasilan. Pengujian Detail Saldo Inspeksi atas penambahan aktiva tetap Inspeksi ini memungkinkan auditor untuk mengetahui keberadaan aktiva tetap. Sebagai contoh dalam neraca dicantumkan adanya tambahan aktiva tetap berupa limaKELOMPOK 4 (EMPAT) Page 10
  11. 11. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II] mesin baru. Dalam hal ini, auditor dapat melakukan inspeksi fisik untuk mengetahui apakah memang benar-benar ada mesi baru yang dimiliki perusahaan. Karena itu prosedur ini berkaitan dengan asersi keberadaan atau keterjadian. Memeriksa dokumen dan kontrak leasing Bukti kepemilikan perusahaan atas suatu aktiva tetap dapat diperoleh dengan memeriksa dokumen yang berkaitan dengan aktiva tetap tersebut. Pemeriksaan dokumen ini menghasilkan bukti mengenai asersi keberadaan atau keterjadian, dan asersi hak dan kewajiban. Menelaah penjurnalan akumulasi depresiasi Dalam pengujian ini, auditor mencari bukti mengenai kewajaran, konsistensi dan akurasi perhitungan pembebanan depresiasi. Menelaah Penyajian dan Pengungkapan Laporan Kuangan Auditor harus memahami persyaratan penyajian dan pengungkapan aktiva tetap sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Penyajian dan pengungkapan aktiva tetap dalam laporan keuangan sangat ekstensif dan sangat luas. G. PENGUJIAN SUBSTANTIF SALDO UTANG DAGANG Utang dagang dikelompokkan ke dalam utang atau kewajiban lancar dalam neraca. Utang dagang sangat mempengaruhi solvabilitas perusaan. Utang dagang memiliki potensi besar terjadi salah saji. Hal ini disebabkan oleh tingginya volume transaksi pembelianpembelian secara kredit. Perusahaan dapat meng-understated utangdagang untuk menunjukkan posisi keuangan dan solvabilitas perusahaan yang baik. Penentuan Resiko Deteksi Dalam rangka untuk merancang penujian substantif, akuntan pertama kali harus menentuk tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk masing-masing asersi yang terkait secara signifikan. Tinggi rendahnya risiko deteksi tergantung pada besarnya risiko audit yang ditetapkan, risiko bawaan, dan risiko pengendalian transaksi pembelian dan pengeluaran kas. Risiko pengendalian masing-masing asersi tergantung resiko pengendalian transaksi-transaksi tersebut yang mempengaruhi transaksi utang dagang. Risiko pengendalian diperoleh auditor berdasar bukti atau hasil pengujian pengendalian. Pada umumnya risiko bawaan untuk asersi penilaian atau pengalokasian tinggi. Hal ini disebabkan karena adanya risiko bahwa utang dicatat kurang dari jumlah yang semestinya (understated). Tingginya kemungkinan understatement utangKELOMPOK 4 (EMPAT) Page 11
  12. 12. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II] dagang menyebabkan auditor perlu mengintensifkan perhatiannya pada asersi kelengkapan. Disamping itu, risiko bawaan asersi kelengkapan yang tinggi mengakibatkan risiko deteksi yang rendah. Oleh karena itu, auditor perlu mengintensifkan dan mengekstensifkan pengujian substantif atas asersi kelengkapan. Komponen Risiko – Asersi Utang Dagang Komponen EO C RO VA PO Risiko Resiko Audit Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Resiko Sedang Tinggi Sedang Tinggi Rendah Bawaan Risiko Rendah Tinggi Sedang Tinggi Sedang pengendalian transaksi pembelian Risiko Sedang Rendah Rendah Rendah Rendah pengendalian transaksi pengeluaran kas Risiko Rendah Tinggi Sedang Tinggi Sedang Pengendalian gabungan Risiko Tinggi Rendah Sedang Rendah Tinggi Deteksi yang diterima H. PERTIMBANGAN PROGRAM AUDIT Auditor dapat merancang program audit untuk mencapai tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk masing-masing asersi. Pada umumnya pengujian substantif lebih banyak diterapkan unntuk asersi penilaian dan pengalokasian dan kelengkapan. Hal ini konsisten dengan potensi understated saldo utang dagang. Bila tingkat risiko deteksi yang dapat diterima adalah rendah untuk suatu asersi, maka lebih banyak prosedur pengujian substantif yang perlu dilakukan, dan auditor perlu mengintensifkan efektivitas prosedur pengujian. Di samping itu, auditor juga dapat memodifikasikan penentuan waktu dan luas pengujian substantif tertentu. Dalam peleksanaan pengujian substantif utang dagang, auditor terutama mengandalkan bukti yang diperoleh melalui konfirmasi utang dagang yang diperolehKELOMPOK 4 (EMPAT) Page 12
  13. 13. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II] langsung dari pemasok, pengujian pisah batas, dan menelaah dokumentasi yang dilakukan dalam organisasi klien. Prosedur Inisial Langkah awal dalam pengujian substansif utang dagang adalah melakukan penelusuran saldo awal tahun.selain itu, auditor hendaknya menganalisa terjadinya transaksiyang tidak bisa yang mempengaruhi jumlah utang dagang dengan mendapatkan data utang dagang pada tanggal neraca. Auditor harus menguji ketepatan perhitungan matematis skedul, dan kesesuaian saldo utang dagang dalam buku pembantu utang dagang dengan saldo utang dagang dalam buku besar. Skedul utang dagang merupakan daftar saldo utang dagang individual atas setiap pemasok. Saldo utang dagang pada setiap pemasok tercantum dalam skedul tersebut. Total jumlah yang tercantum dalam skedul utang dagang, harus sesuai dengan saldo utang dagang dalam buku besar. Pengujian ini berkaitan erat dengan asersi penilaian dan pengalokasian,keberadaan atau keterjadian,keberadaan atau keterjadian, dan kelengkapan. Menerapkan Prosedur Analitis Rasio yang dapat dipakai untuk menerapkan prosedur analitis misalnya turnover atau tingkat perputaran utang dagang. Rasio ini diperoleh dengan menentukan jumlah pembelian kredit neto kemudian dengan rata-rata utang dagang. Prosedur analitis dapat digunakan untuk mengidentifikasikan rekening yang: a. Nampak layak dalam hubungannya dengan rekening yang lain dan selanjutkanya tidak memerlukan pengujian substantif tambahan. b. Nampak tidak layak dan tidak beralasan dan selanjutnya memerlukan prosedur pengujian substantif tambahan. Untuk utang dagang, auditor dapat menggunakan prosedur analitas berikut untuk menaksir kelayak catatan: 1. Membandingkan jumlah rata-rata jumlah hari pembelian antara tahun yang lalu dengan tahun yang sekarang. 2. Membandingkan pembelian dibagi dengan jumlah utang untuk tahun yang lalu dengan tahun yang sekarang. 3. Membandingkan utang dibagi dengan total utang lancar. 4. Membandingkan baik pembelian dan utang dengan anggaran atau jumlah yang diperkirakan.KELOMPOK 4 (EMPAT) Page 13
  14. 14. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II] Apabila setelah dilakukan analisis ternyata ditemukan penyimpangan atau fluktuasi yang tidak masuk akal mengidikasikan adanya utang dagang yang tidak tercatat. Oleh karena itu, auditor akan mengekstensifkan pengujian substantif saldo utang dagang. Prosedur berkaitan dengan asersi kelengkapan, keberadaan dan keterjadian, dan penilaian dan pengalokasian. Pengujian Detail Transaksi Melakukan pengujian pisah batas pembelian Pengujian pisah batas pembelian dirancang auditor untuk memperoleh keyakinan yang memadai bahwa: a. Semua pembelian telah dicatat dalam periode dimana barang dikirimkan oleh pemasok (FOB shipping point) b. Semua pembelian telah dicatat dalam periode dimana barang sudah benar- benar diterima dari pemasok (FOB destination) Pengujian ini biasanya dilakukan pada tanggal neraca. Jika risiko pengendalian tinggi, akuntan harus mempertimbangkan kemungkinan pembelian fiktif. Jika pengujian ini membuktikan indikasi kesalahan material, akuntan harus meminta klien melakukan penyesuaian. Pengujian ini menghasilkan bukti yang berkaitan dengan asersi kelengkapan, dan keberadaan atau keterjadian utang. Melakukan pengujian pisah batas pengeluaran kas Pengujian ini dirancang auditor untuk memastikan bahwa pengeluaran kas dicatat dalam periode dikeluarkannya kas tersebut. Pengujian ini sangat penting dalam menentukan berapa saldo utang dagang yang semestinya tercantum dalam neraca akhir tahun. Oleh karena itu, pengujian ini semestinya dilakukan pada tanggal neraca. Memeriksa pembayaran kemudian Pengujian ini dirancang auditor terutama untuk mendeteksi adanya utang dagang yang tidak tercatat. Auditor dapat menerapkan prosedur pengujian ini untuk memperoleh bukti yang berkaitan dengan pembayaran yang belum tercatat pada tanggal neraca. Melalui pengujian ini, auditor dapat menemukan. a. Adanya utang dagang akhir tahun yang tidk terbayar b. Pengeluaran kas sebagai pelunasan utang atas utang dagang yang tidak tercatat pada tanggal neraca. Pengujian ini menghasilkan bukti mengenai asersi keberadaan atau keterjadian, penilaian atau pengalokasian, hak dan kewajiban, serta asersi kelengkapan.KELOMPOK 4 (EMPAT) Page 14
  15. 15. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II] Menguji Utang Dagang Tak Tercatat Pengujian ini melalui investigasi khusus untuk menemukan keberadaan faktur pemasok yang signifikan yang belum tercatat pada tanggal neraca. Dalam hal ini, auditor dapat menerapkan prosedur berikut: a. Mengajukan pertanyaan pada karyawan bagian akuntansi dan pembelian. b. Memeriksa dokumen seperti order pembelian, laporan penerimaan barang, dan faktur yang mengandung perbedaan data seperti kuantitas dan harga pembelian. c. Menelaah anggaran modal, permintaan produksi, dan kontrak lain untuk jumlah yang belum tercatat. Pencarian utang dagang yang tidak dicatat berkaitan erat dengan test cut-off yang dapat mendeteksi catatan transaksi yang salah periode. Sumber yang dapat digunakan sebagai dasar untuk mendeteksi utang dagang yang tidak tercatat.  Catatan utang dagang pada neraca lajur  Jurnal pengeluaran kas  Daftar voucher yang dibayar  File of unmateched receiving reports Pengujian Datail saldo Pengujian datail saldo dilakukan dengan (1) konfirmasi utang dagang, (2) rekonsiliasi utang dagang yang tidak konfirmasi dengan laporan bulanan dari kreditur. Konfirmasi Utang Dagang Tidak seperti konfirmasi piutang dagang. Prosedur ini tidak disyaratkan dalam prosedur auditing yang diterima umum. Prosedur ini, optional karena : a. Konfirmasi tidak memberikan kepastian bahwa saldo utang dagang yang belum tercatat akan dapat ditemukan auditor. b. Ada dokumen yang lebih meyakinkan sebagai bukti yaitu faktur pemasok, dan surat utang bulanan dari pemasok. Menelaah Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Auditor harus memahami persyaratan penyajian dan pengungkapan utang dagang dan pembelian bahan baku maupun bahan bahan pembantu sesuai dengan prinsip akuntansi yang berterima umum. Utang dagang diklasifikasikan sebagai aktiva lancar dalam neraca.KELOMPOK 4 (EMPAT) Page 15
  16. 16. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II] BAB III KESIMPULAN Siklus pengeluaran terdiri dari 2 transaksi utama, yaitu transaksi pembelian dantransaksi pengeluaran kas. Dalam melakukan pengauditan atas kelas transaksi dan jumlahakun, perlu diperhatikan kategori asersinya yang terdiri dari: existence or occurance(keberadaan atau keterjadian), completeness (kelengkapan), right and obligations (hak dankewajiban), valuation or allocation (penilaian atau alokasi) dan presentation and disclosure(penyajian dan pengungkapan). Dalam melakukan aktivitas kontrol pada transaksi pembelian,harus melakukan pertimbangan penaksiran atas risiko kontrol terhadap fungsi: permintaanbarang dan jasa, penyiapan permintaan pembelian, penerimaan barang, penyimpanan barangsebagai persediaan, penyiapan voucher pembayaran dan pencatatan utang. Hal ini dilakukanuntuk menentukan adanya salah saji potensial, aktivitas pengendalian yang diperlukan danpengujian pengendalian yang dapat dilaksanakan. Sedangkan untuk aktivitas kontrol padatransaksi pengeluaran kas, pertimbangan penaksiran atas risiko kontrol yang harus dilakukanadalah terhadap fungsi : pembayaran utang dan pencatatan pengeluaran kas. Pada penyusunanprogram audit, baik untuk transaksi pembelian maupun transaksi pengeluaran kas, harusberdasarkan asersi yang dituju, yaitu: keberadaan atau keterjadian, kelengkapan, danpenilaian atau alokasi.KELOMPOK 4 (EMPAT) Page 16
  17. 17. AUDITING II [PENGAUDITAN SIKLUS PENGELUARAN II] DAFTAR PUSTAKAHalim, Abdul & Santoso, Totok Budi. AUDITING II Edisi ke-3 Dasar-dasar ProsedurPengauditan Laporan Keuangan. UPP AMP YKPNSumber: http://www.google.com//pengauditansikluspengeluaranKELOMPOK 4 (EMPAT) Page 17

×