teori-teori pengajaran bahasa asing

8,359 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
8,359
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
5
Actions
Shares
0
Downloads
163
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

teori-teori pengajaran bahasa asing

  1. 1. 1. Pilihlah sebuah teori belajar dan sebuah teori bahasa dari 6 teori berikut ini dan uraikan kedua teori ini dengan jelas dan lengkap: (50 poin) a. Behaviourism b. Structural linguistics Berikan dua buah contoh kegiatan di dalam kelas bahasa asing/bahasa kedua yang didasari oleh kedua teori ini dan jelaskan jawaban Anda Teori belajar tradisional behaviorisme percaya bahwa dalam belajar bahasa sama seperti belajar hal lainnya yaitu sebagai pembentukan kebiasaan (habit formation). Hal tersebut berasal dari sebuah penelitian dalam bidang psikologi bahwa suatu pembelajaran terjadi karena adanya stimulus dan respon. Stimulus berasal dari lingkungan sekitar seseorang kemudian respon yang diberikan olehnya akan diberikan penguatan (reinforcement) berupa pujian jika respon terhadap stimulusnya tepat. Jika penguatan terus dilakukan terhadap respon yang benar maka akan terjadi pembetukan kebiasaan (Ellis, 1997). Dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa, belajar bahasa merupakan proses imitasi (imitation) dan pembentukan habit (habit formation). Hal tersebut didasari pada kenyataan bahwa seorang anak kecil mulai belajar bahasa dengan melakukan imitasi dari apa yang ia dengar. Kemudian memperoleh penguatan (reinforcement) berupa pujian karena berhasil mengulangi ujaran yang didegarnya dari orang-orang disekitarnya (Lightbown dan Spada, 1993). Menurut teori behaviourism, kesalahan dianggap sebagai kebiasaan pada bahasa pertama yang mempengaruhi kebiasaan pemerolehan bahasa kedua. Jika pada bahasa pertama dan bahasa kedua terdapat banyak kesamaan maka pemelajar akan memeroleh bahasa kedua/target dengan muda, namun jika terdapat perbedaan maka pemerolehan bahasa kedua/target akan mengalami kesulitan (Lightbown dan Spada, 1993). Metode pembelajaran bahasa yang terpengaruh oleh teori behaviourism yaitu audiolingual method. Metode pengajaran tersebut menggunakan model stimulus – respon – peguatan untuk menciptakan kebiasaan yang baik bagi pemelajar. Metode ini juga menekankan pada latihan-latihan hanya dengan menggunakan bentuk struktur bahasa yang benar, sehingga sejak awal pengajar menghindari penggunaan bentuk
  2. 2. bahasa yang salah dan menghindari kesalahan pada pemelajar (Lightbown dan Spada, 1993). Struktural linguistik adalah teori bahasa yang mempengaruhi teori belajar behaviourism. Pada tahun 1930an, pendekatan ilmiah untuk mempelajari bahasa yaitu melalui mengumpulkan contoh apa yang dikatakan penutur dan menganalisanya berdasarkan tingkat-tingkat struktur organisasi. Kata struktural merujuk pada karakteristik (1) unsur-unsur bahasa dianggap diatur dalam aturan yang terstruktur, (2) contoh bahasa dianalisa pada tingkatan struktur (fonetik, fonemik, morfologi,dll), (3) tingkatan lingustik tersusun dari tingakatan yang paling sederhana (sistem fonemik menuju sistem morfem) sampai ke tingkatan yang tinggi (frasa, klausa, dan kalimat). (Richards dan Rodgers, 2001). Pembelajaran bahasa ditujukan untuk menguasai unsur-unsur bahasa dengan cara mempelajari aturan-aturan bagaimana menggabungkan dari fonem menjadi morfem, kata menjasi frasa, frasa menjadi kalimat. Pada teori bahasa ini, media bahasa yang menjadi penting ialah media lisan. Sehingga dalam pembelajarannya lebih fokus pada ujaran lisan. Implikasi pengajaran bahasa dengan adanya teori ini yaitu: (1) dipercayai bahwa dengan banyaknya berlatih akan membuat sempurna kemampuan bahasa seseorang dengan dmikian pembelajaran banyak dilakukan dengan cara meniru dan mengulang kembali struktur yang sama terus menerus, (2) fokus pembelajaran pada struktur bahasa yang dinilai sulit. Contoh kegiatan pembelajaran di kelas yang didasari teori behaviourism dan linguistik struktural yaitu: (1) menggunakan tubian (drill) dengan menekankan penggunaan struktur bahasa tertentu contoh: Pengajar : She is sleeping now...repeat. Pemelajar : She is sleeping now Pengajar : Watch Pemelajar : She is watching now Pengajar : Eat Pemelajar : She is eating now Dll.
  3. 3. Kegiatan pada contoh diatas menekankan pada bentuk struktur present continuous yang hanya pada tataran kalimat. Dengan mengubah bentuk kata kerja atau subjek kalimat, pengajar tetep mempertahankan fokus utama pembelajaran yaitu present continuous tense. Kegiatan lainnnya (2) yaitu dengan cara mengingat dialog. Pemelajar diberikan dialog pendek kemudian diminta untuk menghafalkan bagian dari ungkapan dari dialog tersebut setelah itu pemelajar mempraktekkannya. Setelah para pemelajar mahir dengan bagian percakapannya mereka bertukar peran dengan menghafal dialog yang lain. Dialog yang digunakan memuat struktur tata bahasa yang menjadi fokus utama pembelajaran. Fokus tata bahasa tersebut akan dipelajari dengan cara tubian (seperti pada contoh 1). 2. Jelaskan kelima hipotesis Krashen dan jelaskan kritik-kritik yang diarahkan kepada hipotesis Krashen ini. Bagaimana Anda mengimplementasikan hipotesis Krashen ini di kelas dengan tetap memperhatikan berbagai masalah yang terkait dengan hipotesis ini? Jelaskan jawaban Anda. 1. Hipotesis pemerolehan dan pembelajaran (The Acquisition – Learning hypothesis) Krashen membedakan pemerolehan bahasa (language acquisition) dengan pembelajaran bahasa (language learning). Pemerolehan bahasa menurutnya merupakan proses seseorang secara tidak sadar dalam memperoleh bahasa kedua. Pemerolehan bahasa terjadi seperti seorang anak kecil yang memperoleh bahasa pertama, ia dengan tidak sadar mengetahui aturan-aturan maupun fitur-fitur bahasa karena ia hanya sadar jika ia menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Menurut Krashen dalam pemerolehan bahasa ini, kita tidak selalu sadar tehadap aturanaturan bahasa yang kita peroleh tetapi kita memiliki ‟rasa‟ untuk melakukan pembenaran (Krashen, 1982). Pemerolehan bahasa terjadi karena adanya interaksi secara natural dengan menggunakan bahasa kedua untuk berkomunikasi. Pembelajaran bahasa merupakan proses sadar seseorang dalam belajar bahasa. Lain halnya dengan proses pemerolehan bahasa, melalui pembelajaran bahasa seorang anak secara sadar mengetahui/mempelajari aturan-aturan maupun fitur-fitur bahasa. Proses pembelajaran ini diidentikan dengan proses pembelajaran bahasa
  4. 4. yang dilakukan di kelas dimana fokusnya pada bentuk dan aturan dari bahasa target (Mitchell dan Myles, 2004). Hipotesis pemerolehan dan pembelajaran bahasa ini mendapat kritik dari Michell dan Myles (2004), menurut mereka definisi sadar (concious) dan tidak sadar (subconcious) yang diajukan oleh Krashen tidak jelas karena kita tidak dapat membedakan atau menentukan secara jelas bahwa produksi bahasa pemelajar merupakan hasil dari proses sadar atau tidak sadar. Dalam kaitannya dengan pembelajaran di kelas, pengajar semestinya sadar bahwa proses yang terjadi adalah proses pembelajaran bahasa (learning language)., terlebih dalam konteks bahasa Inggris sebagai bahaasa asing di Indonesia dimana bahasa tersebut masih jarang digunakan di luar kelas. Sehingga dapat dikatakan aturan-aturan bahasa dipelajari secara sadar, namun dengan konsep pemerolehan bahasa (language acquisition) yang didasari oleh proses natural penggunaan bahasa untuk berkomunikasi, kita dapat menggunakan cara tersebut dengan menciptakan suasana belajar yang mendekati natural. Bahasa digunakan untuk berkomunikasi tanpa menitikberatkan pada aturan bahasa kemudian setelah berkomunikasi, pemelajar diarahkan untuk mengetahui aturan-aturan bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi. 2. Hipotesis Urutan Alami (The Natural Order Hypothesis) Krashen mengatakan bahwa pemerolehan bahasa melalui urutan yang alami, beberapa aturan bahasa diperoleh lebih dulu daripada aturan bahasa yang lain. Penelitian yang dilakukan oleh Brown (dikutip dalam Krashen, 1982) terhadap pemerolehan bahasa Inggris sebagai bahasa pertama pada anak menunjukkan bahwa anak-anak cenderung memeroleh morfem gramatikal tertentu atau fungsi kata dibandingkan dengan yang lain, contohnya pembentuk kata progresif (kata kerja +ing) pada “He is playing baseball” dan penanda bentuk jamak (penambahan s) pada “two dogs” merupakan bentuk morfem yang lebih dahulu diperoleh, sedangkan penanda orang ketiga (penambahan akhiran s pada kata kerja) pada “He lives in New York” dan bentuk posesif (penambahan ‘s pada subjek) seperti “John’s hat” diperoleh belakangan, setelah 6 bulan sampai satu tahun setelahnya.
  5. 5. Walaupun penelitian yang dilakukan oleh Brown berdasarkan proses pemerolehan pada bahasa pertama, namun menurut Dulay dan Burt (dikutip dalam Krashen, 1982), pemerolehan morfem gramatikal pada pemelajar bahasa inggris sebagai bahasa kedua juga menunjukkan adanya uturan alami. Hipotesis urutan alami ini mendapat kritik antara lain karena tidak semua pemelajar bahasa kedua mengadopsi urutan yang sama pada pemerolehan bahasa targetnya (McLaughlin,1987 dalam Zafar 2009). Selain itu hipotesis urutan alami Krashen hanya didasari pada morfem bahasa Inggris (Gass dan Selinker, 1994; McLaughlin, 1987 dalam Zafar 2009). Dalam kaitannya dengan pengajaran bahasa di kelas, hendaknya pengajar tidak mendasari pengajaran bahasa pada urutan tata bahasa. Bahkan Krashen (1982) menyarankan agar tidak mendasari penyusunan silabus pada urutan gramatikal seperti hasil penelitian Brown (mendahulukan bentuk progresif ‟ing‟ kemudian bentuk orang ketiga ‟s’). 3. Hipotesis Monitor (The Monitor Hypothesis) Dalam hipotesis ini Krashen menyatakan bahwa pembelajaran (learning) dan pemerolehan bahasa (acquisition) digunakan dalam cara yang berbeda dalam perfomasi bahasa kedua. Dalam hipotesis ini fungsi pembelajaran hanya untuk mengontrol atau memperbaiki suatu ujaran bahasa. Sedangkan pemerolehan bahasa berfungsi sebagai inisator ujaran yang berpengaruh pada kelancaran berkomunikasi (Krashen, 1982). Pemelajar hanya dapat melakukan kontrol jika memenuhi 3 kondisi yaitu: (1) waktu. Adanya waktu yang cukup untuk melakukan kontrol. Namun dalam percakapan normal umumnya, waktu untuk melakukan kontrol tidaklah cukup, (2) fokus pada bentuk. Selain adanya waktu yang cukup untuk melakukan kontrol, pemelajar juga harus fokus pada bentuk maupun aturan bahasa yang benar, dan (3) mengetahui aturan. Selain kondisi 1 dan 2, pemelajar juga harus mengetahui aturan bahasa yang benar dalam mengontrol bahasanya sehingga menghasilkan bentuk bahasa yang benar. Hipotesis ini mendapat kritik dari McLaughlin (1987) yang menyatakan bahwa kontrol yang berlebihan akan menghambat pemelajar dalam memproduksi ujaran.
  6. 6. Pemelajar akan terfokus pada aturan-aturan sehingga dapat menimbulkan kecemasan akan memproduksi bahasa yang salah. Dalam kaitannya dengan pengajaran di kelas, seorang pengajar hendaknya memberikan input yang cukup dan baik agar pemelajar dapat memprodiksi ujaran yang benar. Namun hal yang terpenting ialah, seorang pengajar jangan terlalu fokus dan mengharuskan pemelajar untuk memproduksi bentuk aturan yang benar khususnya pada kemampuan lisan dan pada pemelajar pemula atau anak-anak, untuk menghindari ketahukan pemelajar dalam memproduksi bahasa. Selain itu, pengajar juga sebaiknya mempertimbangkan kriteria dalam penilaian. Jika pengajar menginginkan fokus penilaian pada pemahaman terhadap struktur atau aturanaturan bahasa, maka hendaknya ia menciptakan kondisi yang sesuai seperti yang telah disebutkan di atas. 4. Hipotesis Input (The Input Hypothesis) Dalam hipotesis ini Krashen mengajukan 3 hal penting yaitu (1) bahwa pemelajar memeroleh bahasa dengan memahami input yang berisi struktur yang sedikit diatas kemampuan pemelajar saat ini, yang dirumuskan dengan (i+1) dimana „i‟ adalah kemampuan pemelajar saat ini. Memahami „input‟ dalam hipotesis ini berarti pemahaman terhadap makna dari suatu ujaran (meaning). Pemelajar tidak memeroleh struktur bahasa dalam pembelajaran pertama kali melainkan memahami makna suatu ujaran sehingga struktur dengan sendirinya diperoleh, (2) Krashen mengatakan bahwa kita tidak mengajarkan keterampilan berbicara, melainkan kita memberikan pemelajar input yang komprehensif (comprehensible input) dengan begitu maka ketrampilan berbicara akan diperoleh dengan sendirinya, dan (3) input yang terbaik bukanlah input yang terstruktur secara gramatikal namun jika pemelajar mengerti input yang diberikan maka sebaiknya pemelajar diberikan input i+1 (Krashen dalam Long dan Richard, 1987). Hipotesis ini dikritik oleh Mitchell dan Myles (2004) yang mengatakan bahwa tidak jelas menentukan tingkat i maka bagaimana caranya menentukan level i+1. Kritik terhadap input juga datang dari Swain yang mengatakan bahwa input saja tidaklah cukup untuk pemelajar agar dapat memiliki ketrampilan berbicara. Ia mengatakan bahwa memahami bahasa dan memproduksi bahasa adalah dua hal
  7. 7. yang berbeda. Memproduksi bahasa tidak cukup hanya dengan diberikan input melainkan dengan mendorong pemelajar untuk memproduksi atau berlatih menggunakan bahasa target. Hipotesis dari Swain tersebut dikenal sebagai hipotesis ‟Output‟ (Swain: 1985 dalam Johnson: 2001). Dalam pengajaran bahasa di kelas, hendaknya pengajar mengetahui kemampuan terkini pemelajar sehingga dapat memberikan input yang sesuai (i+1). Mengetahui kemapuan pemelajar dapat dengan cara melakukan tes pada awal pembelajaran. Selain itu, pemelajar juga harus diberikan kesampatan untuk menggunakan input yang telah diberikan melalui berbagai latihan karena kemampuan berbahasa seseorang dapat ditingkatkan melalui banyak latihan. 5. Hipotesis Penyaringan Afeksi (The Affective Filter Hypothesis) Hipotesis ini berkaitan dengan hipotesis input. Krashen berpendapat bahwa dengan memberikan input yang komprehensif saja tiak cukup, pemelajar juga harus membiarkan agar input tersebut dapat diterima dan dimengerti (Krashen dalam Mitchell dan Myles: 2004). Krashen berpendapat bahwa faktor afeksi dapat mempengaruhi penerimaan input serta pemerolehan bahasa kedua (Krashen, 1982). Variabel faktor-faktor afeksi terdiri dari 3 kategori yaitu: (1) Motivasi. Pemelajar dengan motivasi yang tinggi umumnya menunjukkan performa yang lebih baik diandingkan yang memiliki motivasi yang lemah, (2) percaya diri. Sama halnya dengan motivasi, pemelajar yang memiliki rasa percaya diri tinggi cenderung lebih baik dalam memeroleh bahasa kedua, dan (3) kecemasan. Pemelajar yang memiliki kecemasan yang tinggi akan menghambat proses pemerolehan input, sebaliknya pemelajar yang memiliki kecemasan yang rendah atau bahkan tidak memiliki kecemasan dengan mudah akan memeroleh input. Kritik terhadap hipotesis ini datang dari Zafar (2009) yang tidak setuju dengan pendapat Krashen bahwa tidak ada saringan afeksi pada anak-anak. Zafar berpendapat bahwa anak-anak pun dapat terpengaruh oleh faktor personal seperti rasa tidak aman, kecemasan, dan kurang percaya diri. Terebih lagi jika orang dewasa memiliki saringan afeksi yang tinggi lalu mengapa ada orang dewasa yang memiliki kemampuan bahasa seperti penutur jati? McLaughlin juga tidak setuju dengan pendapat Krashen yang menyatakan bahwa pada masa pubertas saringan
  8. 8. afeksi pemelajar sangat tinggi sehingga dapat menghalangi masuknya input, McLaughlin berpendapat sebaliknya bahwa pada masa pubertas, pemelajar memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi sehingga sikap terhadap input-inout yang diberikan pun berdampak positif. Merujuk pada hipotesis ini, hendaknya pengajar dapat memberikan input yang komprehensif dan menciptakan suasana belajar yang nyaman bagi pemelajar sehingga faktor-faktor yang dapat menghambat pemerolehan input atau bahasa kedua dapat dikurangi. 3. Jelaskan peran input, interaction dan output di dalam belajar bahasa asing/kedua. Apa yang harus diperhatikan oleh pengajar ketika mereka mengajar di kelas bahasa asing/bahasa kedua? Jelaskan jawaban Anda. Input dalam hal belajar bahasa asing/kedua merupakan komponen dasar yang terpenting dalam proses pembelajaran. Input pada pemebelajaran bahasa asing/kedua merujuk pada bahasa target yang dipajankan kepada pemelajar melalui berbagai media baik input melalui menyimak dan membaca, atau melalui gestur dalam kasus bahasa isyarat (Mackey, 2012). Sehingga dapat dikatakan input merupakan sumber-sumber atau pengetahuan yang diberikan kepada pemelajar mengenai bahasa target. Teori mengenai input sebenarnya berdasarkan salah satu dari lima hipotesis pemerolehan bahasa kedua Krashen yaitu hipotesis input (The Input Hypothesis). Hipotesis Krashen mengatakan bahwa input yang berguna dalam pemerolehan bahasa adalah input yang berisi satu level diatas kemampuan pemelajar (i+1) atau disebut input komprehensif (comprehensible input). Pemelajar tidak hanya sekedar diberikan input, namun ia harus memahami input tersebut. Dengan kata memahami artinya pemahaman pemelajar fokus pada makna pesan bukan pada bentuk dari pesan atau bahasa target (Krashen, 1982). Hipotesis input Krashen dalam pemerolehan bahasa kedua tersebut mendapat tanggapan dari Long (1981) yang berpendapat bahwa struktur diskursus dan modifikasi interaksi memberikan kesempatan bagi pemelajar untuk mendapatkan informasi linguistik yang baru sehingga hal tersebut lebih berkaitan dengan pembelajaran dibandingkan dengan input (Long, 1981 dalam Mackey, 2012). Sehingga dapat
  9. 9. dikatakan dengan adanya interaksi, baik itu pemelajar dengan sesama pemelajar, pemelajar dengan pengajar, dan pemelajar dengan penutur jati, pemelajar bahasa kedua dapat memaksimalkan pemerolehan bahasa target. Gass dan Mackey berpendapat bahwa pendekatan pembelajaran melaui interaksi melibatkan input, produksi dari bahasa target, dan umpan balik yang dihasilkan melalui interaksi (Gass dan Mackey, 2006 dalam Gass dan Selinker, 2008). Disamping itu, interaksi juga melibatkan negosiasi terhadap makna ujaran, recasts, dan umpan balik (Gass dan Selinker, 2008). Dalam kaitannya dengan pemerolehan bahasa, hipotesis Krashen mengenai input hanya berhenti pada pentingnya pemberian input kepada pemelajar. Ia berpendapat bahwa pemelajar memeroleh kelancaran lisan (fluency) tidak dengan berlatih tetapi memahami input, dengan menyimak dan membaca. Hal tersebut dibantah oleh Swain (1985) yang menyatakan bahwa dalam kaitannya dengan pemerolehan bahasa, pemelajar tidak hanya sekedar cukup memahami input yang diberikan namun ia juga harus didorong untuk memproduksi bahasa dengan berbicara dan menulis. Output dapat dihasilkan melalui adanya input dan interaksi. Hipotesis output menyatakan bahwa pemelajar membutuhkan kesempatan untuk menghasilkan dan menggunakan bahasa target untuk meningkatkan kemampuan dalam bahasa target tersebut (Mackey,2012). Mackey (2012) membedakan dua jenis output yaitu (1) output yang dimodifikasi (modified output) dan komprehensif output (comprehensive output). Output yang komprehensif adalah berbagai ujaran yang dapat dipahami oleh teman bicara (Van den Branden, 1997 dalam Mackey, 2012). Sedangkan output yang dimodifikasi adalah ujaran yang telah mengalami proses perbaikan melalui pemberian umpan balik atau melalui monitor mandiri (self monitor). Output yang dimodifikasi mendorong pemelajar untuk merefleksikan ujaran asli yang ia produksi dan membetulkan bentuk bahasa dari ujaran tersebut sesuai dengan aturan bahasa target. Dapat disimpulkan bahwa pemerolehan bahasa asing/kedua dapat menjadi maksimal apabila pemelajar diberikan input yang komprehensif, dilibatkan dalam interaksi dan diberikan kesempatan untuk memproduksi bahasa target (output). Sehingga dapat dikatakan dalam pembelajaran bahasa asing/kedua, pegajar perlu memperhatikan ketiga aspek tersebut (input, interaction, dan output) dalam mengajar di kelas. Dalam kaitannya dengan input, pengajar sebaikanya memberikan input yang
  10. 10. komprehesif serta menarik bagi pemelajar. Pengajar disarankan agar tidak berhenti pada pemberian input saja melainkan ia juga harus melibatkan dan memberikan kesempatan pada pemelajar untuk menggunakan input yang diberikan tersebut melalui interaksi (jika fokus pembelajaran bahasa pada kemampuan berbicara), ataupun menulis sehingga baik pemelajar dan pengajar dapat mengetahui kemampuan dalam menggunakan bahasa target. Selain itu, pengajar juga harus memberikan umpan balik terhadap produksi bahasa target pemelajar karena dengan adanya umpan balik pemelajar dapat mengetahui kesalahan yang dilakukannya sehingga diharapkan dapat memperbaiki kesalahan tersebut.
  11. 11. Daftar acuan: Gass, Susan M. dan Larry Selinker. 2008. Second Language Acquisition: An Introductory Course. 3rd edition. New York: Routledge. Johnson, Keith. 2001. An Introduction to Foreign Language Learning and Teaching. England: Pearson Education. Krashen, Stephen D. 1982. Principles and Practice in Second Language Acquisition. UK: Pergamon Press. Lightbown, Patsy M dan Nina Spada. 1998. How Languages are Learned. UK: Oxford University Press. Mackey, Alison. 2012. Input, Interaction, and Corrective Feedback in L2 Learning. UK: Oxford University Press. Mitchell, Rosamond dan Florence Myles. 2004. Second Language Learning Theories. Second edition. New York: Oxford University Press Inc. Richard, Jack C. dan Theodore S. Rodgers. 2001. Approaches and Methods in Language Teaching. 2nd edition. New York: Cambridge University Press. Zafar, Manmay. 2009. Monitoring the ‟Monitor‟: A Critique of Krashen‟s Five Hypotheses. The Dhaka University Journal of Linguistics: Vol. 2 No. 4 August 2009 (139-146).
  12. 12. TEORI-TEORI PENGAJARAN BAHASA UJIAN TENGAH SEMESTER Dosen: Sisilia S. Halimi, PhD OKTARI ANELIYA 1206335685 PROGRAM STUDI LINGUISTIK PROGRAM MAGISTER FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN BUDAYA
  13. 13. UNIVERSITAS INDONESIA 2013

×