Kofita zine obscura tasikmalaya

718 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
718
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
3
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Kofita zine obscura tasikmalaya

  1. 1. , .
  2. 2. Awalnya ingin kupangkas, semua rumput yang aku tanam di langit dengan bulan sabit. Lalu membawa pulang kumpulan batu dari bulan untuk akulempar pada pohon. Setiap buah yang jatuh, siapapun boleh menikmati. Seperti itulah Kofitazine dikehendaki. Mengumpulkan lagi batu karya, mencari pohon, melemparnya, lalu membiarkan orang lain menikmati buahnya. Begitu dan begitu seterusnya. Ucapan terima kasih dari Kofita kepada setiap komunitas kreatif yang ada di Tasikmalaya: Tasikmalaya Skatcher, Getsnep Photography Studio, Q-Smart, Pondok Media,Teater Dongkrak, Gurat Estetika, Kanaba, Abuproduction, Skata, Percisa, Saung Langit, Sif, Lingkar Lensa, Galeri Picture, SKCF, KMG, Baju Kopral, Ngejah Garut, Sabalad Pangandaran, Ijigimbrang dan semua pihak yang telah mengejawantahkan perannya untuk kemajuan Tasikmalaya yang tercinta ini. Akhirnya bacalah kofitazine ini dekat jendela dan biarkan pemilik cahaya menghadiahimu batu hitam yang berasal dari bulan. Butuhspasi_
  3. 3. - _ - , , ‟ - - ) - ( , - . ?- , - : .K.A ‟ „ : ‟ : _ „ . ‟ : - . : :/ / :/ / - . :/ / :/ / . . . . . . / - - / / . _
  4. 4. : | : . 5 | - | - : : : @ | . -
  5. 5. “ .” : Ini untukmu, tentang komitmen seumur hidupmu dalam menantang dunia. Menyadari kau bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, bukan Lucius Nero yang membakar pusat dunia demi kota impiannya, bukan Newton yang melakukannya dengan apel jatuh atau Archimides yang merubah dunia dari bak mandinya. Lalu bagaimana kau melakukan revolusimu sendiri? Kamera adalah mulanya, ledakan idemu, pemberontakanmu, gairahmu dalam mempersoalkan realitas: menunjuk, menuduh, mencela atau mendukung badai dikepalamu. Biarkan karyamu menghantui siapapun dalam tidur, menjadi mimpi buruk, bukan menjadi selimut yang membuat orang hangat. Ini saatnya kau membuat gambar yang mendorong orang keluar dari kursi nyamannya, ketidakpeduliannya, membuat orang merebut kembali segala sesuatu yang pernah diambil, tak perlu mengemis kesempurnaan, tunjukkan setiap detail kecil dari ketidakadilan, kerusakan penyalahgunaan, ketegangan mesra, menformat dan diformat, beri mereka konflik, silang pendapat, perjuangan terhadap kepuasan, konfrontasi, jangan biarkan seseorang membuat kameramu jinak untuk alasan apapun meski film sialan yang beredar masih seragam. Apakah aku meminta terlalu banyak darimu?
  6. 6. Design-Edi Martoyo Model-Andarea Fatih Dongkrak. Video-Kofita
  7. 7. Visualisasi TUBUH DONGKRAK DALAM TUBUH TONY BROER, meng-explore kursi tua di sebuah gudang. Disanalah gambar tubuh melawan beban hidup di mulai. BUTOH gambaran hakekat kehidupan, lahir, dewasa, tua dan akhirnya mati. Diawali workshop konsep yang menelanjangi diri manusia, untuk bisa memahami dirinya sendiri dan dunia yang melingkupinya, dengan jalan membongkar segala keburukan dan kejelekan dari diri manusia, dari proses pembongkaran ini maka manusia akan dibawa kedunia transendental, yang akhirnya akan melahirkan jawaban atas pertanyaan mengenai esensi dan eksistensi kehidupan. Dalam Butoh terjadi proses pengalian berbagai kemungkinan bahasa tubuhdengan mengeksplorasi kedalaman tubuh sampai pada tingkat trasendental, bahkan sampai pada batas gerak yang mustahil yang bisa dilakukan oleh manusia yang dipaktekan dalam latihan bareng di rest area Urug dan di pementaskan dalam acara Carfreeday dengan konsep “INKUBASI” tubuh bukan sebagai alat penyampai gagasan, tapi tubuh sebagai tujuan bertanya, memikirkan dan menciptakan kembali.
  8. 8. FINDING MY SEASON’S POPCORN Melacak mundur sejarah, menuruni anak tangga yang mengantarku pada sebuah hal ihwal; Gedung itu, poster hasil goresan tangan, penjaga loket, sobekan karcis, cemilan, lampu senter, dan deretan kursi yang menjadi bagian tak terpisahkan dari masa lalu menyimpan sebuah cerita dibaliknya. Bukankah sesuatu itu menjadi lebih berharga saat kita merasa kehilangannya ? Meski cukup lama berhembus, kiblat pertunjukan pertama di dunia tahun 1985 di Grand Café Boluvard De Capucines Paris dan pertunjukan „gambar idoep‟ pertama di tanah Abang Ke1900 di Kebonbndjae (Manage) Batavia (Jakarta) yang dikenal sebagai bioskop berasal dari bahasa Inggris „Bioscope‟ (bios dari bahasa Yunani yang berarti hidup) mengartikulasi perannya sebagai „babak baru‟ dari semangat zaman, bertindak sebagai media politik penjajah, dan mempolopori „gerak maju‟ peradaban menuju zaman modern atau apapun itu, tak lantas menghapus ketertarikanku menemukenali keberadaanya di kotaku Tasikmalaya. Barangkali situasi yang terjadi belakangan ini mendikte persepsiku pada dialektikanya : Tasikmalaya, sebuah kota tanpa gedung bioskop. Bukan bioskop yang kehilangan penontonnya, tapi penonton kehilangan bioskopnya. Padahal bagiku, seni pertunjukan film pada masanya. Katakanlah, masa prakemerdekaan. Tak pernah menemukan bentuknya yang pasti, hanyalah serbakemungkinan. Anggaplah, dalam perhelatan pertamanya, mungkin bukan sebuah gedung pertunjukan yang memutar film seperti lazimnya. Mungkin hanya sebuah balai pertemuan bernama gedung Societit tempat berkumpulnya orang-orang penting memanjakan dirinya di lantai dansa, menghadiri jamuan makan malam lalu diakhiri dengan pemutaran film bisu dengan iringan musik orckestra mini sesuai jenis film yang diputar. Pada perkembangannya, menurut majalah Reveu no 23 tahun 1936 terdapat 227 jumlah bioskop yang tersebar di seluruh pelosok tanah air termasuk salah satunya bernama Loxor Theatre. di kawasan ghetto atau kawasan elite seputar jalan Singaparna (Hazet), disamping Lembaga Permasyaratan dan kantor Residen. Disanalah sebuah balkon, lose, stetselt dan kelas kambing (istilah bagi kaum pribumi yang saat menonton film ,selalu berisik seperti kambing) kehadirannya, tak diragukan lagi bukan hanya memenuhi hasrat para Meneer semata, pula mengisyaratkan status dan symbol prestise yang berpusar pada ideology kemapanan sebuah kota. Sampai semuanya berakhir dimasa pemerintah Hindia Belanda menyerah pada kekuasaan Jepang di tahun 1942. Di masa peralihan, keberadaan Loxor Theatre nyaris tak terdengar lagi. Panggung sandiwara diangap lebih mangkus (efektif) dibanding harus latah, menjadikan film sebagai alat propaganda. Padahal apabila film diberi keleluasaan penuh mengejawantahkan perannya. Ceritanya akan berbeda. Mungkin bukan hanya kisah heroik KH. Haji Zaenal Mustofa yang terjadi di Tasikmalaya sekitar tahun 1942. Tapi ikon-ikon perjuangan dari kaum intelektual muda seperti yang terjadi di kota-kota besar lainnya. Dimana seni pertunjukan film menjadi fase penting dalam mendekatkan rasa kebangsaaan, diskursus perihal nasionalisme, gagasan-gagasan seperti Rukun Tetangga dan Rukun Warga (RT dan RW) yang didopsi d film jepang, pelestarian budaya sunda dalam film Loetoeng Kasarung oleh Bupati Bandung, sampai kumpulan dari potongan gambar dalam „Indonesia Fight For Freedom‟ yang berhasil meyakinkan dunia akan perjuangan rakyat dalam mempertahankan Republik. Bioskop setelahnya, katakanlah pasca kemerdekaan meneruskan lagi segala hal yang pernah ditinggalkan sebelumnya. Dilatari suara Si Kwik dan Si Kwong (sebutan bagi kereta uap) diantara ruang geometris pusat kota. Dalam lintasannya, bioskop Galoenggoeng berdiri. Menemukan realitasnya dalam pranata kota. Dimuka sebuah mesjid, pintunya mengenalkan penonton pada dunia luar. Meski rambu kaidah agama dan norma
  9. 9. etika masih kental. Adanya keterlibatan para ulama melakukan pengawasan ketat tentang film apa saja yang boleh diputar, dipisahkannya tempat duduk antara pria dan wanita, pemutaran film diluar jam sholat, setidaknya mencerminkan kota Tasikmalaya sebagai kota yang toleran. Selain itu, bioskop yang berganti nama menjadi Megaria telah menempatkan bangunan serupa di masa kejayaannya. Sebut saja, bioskop Mustika (Parahiyangan), bioskop Capitol (Kujang), bioskop Merdeka ( Hergamanah), bioskop Sentosa (Nusantara), bioskop Garuda, Tasik theatre, Ciawi theatre, Empire group 21 Matahari, dan terakhir bioskop Parahiyangan yang ditutup oleh pengelolanya untuk dijadikan hotel, telah menambah daftar panjang gedung pertunjukan film yang tunduk pada sesuatu yang berada diluar kendalinya, sketsa samar seorang anak yang disuruh melingkarkan tanggannya diatas kepala, meraih telinga sebagai prasyarat yang menunjukan usia untuk diperkenankan menonton film, tersimpan rapi dalam setiap bingkai kesadaranku, tanpa perlu mempersoalkan lagi apakah sebuah bioskop masih menjadi „gerak maju‟ peradaban modern atau menandakan kemapanan sebuah kota, tanpa perlu meromantisir kehilangan bioskopnya, memprovokasi untuk menjaga monument lama sebelum tercipta monument baru. Biarlah proses menemukan terindra, meski kadang membuatku sedikit gagap menceritakan mengapa kawasan Jl. Dr. Sukarjo menjadi kawasan ghetto bahkan sampai sekarang masih menjadi transit para bule yang singgah? mungkin tulisan ini hanya ingin menepuk bahu saling mengingatkan bahwasannya seni pertunjukan masih menjadi bagian yang tak terpisahkan dariku. Bukankah meminjam istilah MC Maccay “pale ink is morer important then retentive, tinta yang pudar lebih baik dari sebuah ingatan?” Akhirnya setelah kuhabiskan popcornku, dan beranjak pergi dari bioskop 21 meninggalkan semua „daya pikat seni pertunjukan film yang begitu mempesona‟ jauh dibelakangku. Butuhspasi_
  10. 10. Ini tubuhku, ini negeraku, aku membuat duniaku dengan tubuhku sendiri. Begitulah prosesnya selama ini... - Afrilia Utami
  11. 11. IBUKU AJARI CINTA TUHAN Afrilia Utami Pada siapa dia tersenyum? pancarkan senyuman yang tak pernah teredupkan pada siapa dia menangis haru tersikut kenangan dan harapan Pada siapa lagi aku dapati hidup jika bukan pada dua Engkau ibu dan Tuhanku.... kau mampu menulisi ayat-ayat tentang usia di dalam pijar kedua mata yang suka mengharap engkau selalu berada di sana dengan senyum dan bahagia yang engkau jaga Ibu.. Siapa Tuhan? Tuhan yang seperti cahaya di gulita cinta yang diluapkan ke bumi dan semua tumbuh menjadi-jadi sejak rahimmu menjagaku. Aku mencintamu, Ibu Kisah-kisah tentang pernyataan juga kehidupan yang diciptakan Tuhan. Ibu.. Engkau sudah sangat lama tegar dalam perjuangan ini menjaga anak-anakmu yang mencintaimu yang mengalahkan deras hujan topan, halilintar, badai, dan guntur di halaman doa yang engkau jaga. Kaulah yang menjadi sumber segala hidup Ibu.. semoga Tuhan menjaga negeri Ibu... Indonesia yang sedamai aku mengintip hatimu ketika berwudu. 2 Juni 20
  12. 12. jika hujan Afrilia Utami Jika hujan begini Aku jadi ingat air Yang pernah mengukir Cerita tentang dua sejoli ; Sehujan berdua. Dengan air yang menjadikan basah Empat kepingan mata yang saling menulisi Hujan di dada dengan hati-hati. 15 Oktober 2012
  13. 13. Saya tak hendak menceritakan acara Fest Film Tasik penuh-seluruh. Kami bekerja dengan ide bukan budget, memundurkan acara tapi penundaan hanya karena masalah anggaran yang terbatas adalah DUSTA, kami tertantang mewujudkannya. Piala hasil sumbangan dari Tasikmalaya sketcher, performance kreasi komunitas Ijigimbrang, property dari sisa yang ada digudang, karena kami yakin fest ini adalah kerja gotong royong bersama komunitas lain bukan sesama komunitas film. Mudah2an apa yang kami berdua kerjakan tidaklah sia-sia mencerahi anak muda di setiap penjuru Tasik dan sekitarnya. Dibuka dengan slide show acara dan penampilan Rhoma dan Soneta.
  14. 14. Festival Film Tasik yang kedua ini diisi dengan workshop apa itu festival, film dan Tasik, sharing komunitas, dilanjutkan screening film pendek. Adapun nominasi film pendek yang masuk diantaranya :"LENTERA TEHKNOLOGI" (Documenter). Semarang, "LONGING". Bandung, “RINDU”. Tasik, “KARNA SUKANTI”. Jakarta, "TASIK IN MOTIONS" Tasik, “MERAJUT KEBAHAGIAAN” Sukabumi, “JAKA PETIR”,Tasik, “KERTAS”. Sukabumi, “EL CLASICO”. Jakarta, “SEKOLAH ATAU PACARAN”. Tasikmalaya, “PESAN KEBERANIAN”.Surabaya, “CERITA CINTA SMA”. Kab. Tasik, “NYEBRANG”. Jakarta, “MENDONG” Tasik, "POTEH" (Dokumenter) Semarang, “PLAY BOY TULALIT”. Kab. Tasik, “BISA KARENA TERBIASA”. Kab. Tasik, “CERITA IVY”. Jatinangor, Sumedang , “RADIO UNTUK ALAM”. Jatinangor. Sumedang. “RAPUH” Tasik, “SAKOLA RAKJAT” Tasik, “ENERGI SEHAT, ENERGI HEMAT” Tasik, “SAKOLA ALAM JAGAT”. Ciamis, “CONDIVIDI”. Jakarta, “SUKSES”. Pangandaran, “ABU-ABU”. Jakarta, “MODUS E”. Tasik. Setelah melawati seleksi dipilih 5 pemenang yaitu Movie-TASIK IN MOTIONS". Tasikmalaya. Fav Movie -CERITA IVY”. Jatinangor, Sumedang, Best Documentary -SAKOLA ALAM JAGAT”. Ciamis, Scholar Movie -MERAJUT KEBAHAGIAAN, . Sukabumi, Progresif komunitas - SMK DCI. Tasikmalaya. dan Best Costum - J-Fantastik. Akhirnya, Festival Film Tasikmalaya yang kedua yang diselengarakan oleh Kofita 25 Desember 2013 di laksanakan di Gedung Kesenian Tasikmalaya ini menjadi apresiasi tahunan anak muda di Priangan Timur yang aktif berkegiatan lewat medium audiovisual pemutaran, diskusi, kajian, pemberdayaan komunitas, serta produksi film pendek. Didalamnya ada pemahaman tentang apa festival itu? Apa film dan mengapa Tasikmalaya? Inilah bentuk respons anak muda terhadap masalah ruang untuk berkumpul bersama dalam satu ruang-waktu. Berbagi masalah dan ide, meningkatkan kepeduliannya. Ini bisa menjadi awal perjalanan gerakan anak muda untuk mulai dibentuk bersama. Salam gambar bergerak_
  15. 15. KOFITA, Nominator Screen Below The Wind Festival se-Asia Tenggara Oleh: D. Dudu AR Komunitas Film Kita (Kofita) sebuah bengkel kreatifitas audiovisual ini berdiri dengan fondasi sporadical of spiritism. Media dan fasilitas minim bukan alasan untuk tidak berkreatifitas, prinsip ini ditanamkan kawan-kawan Kofita sebagai landasan kokoh untuk menunjukkan kepada dunia bahwa apa pun dapat terwujud. Tiga orang yang tidak sungkan blangsak berjuang mengaudiovisualkan kearifan lokal di Tasikmalaya kemudian mengampanyekan di berbagai media dengan cara yang tidak sederhana. Artinya, Kofita mempresentasikan karya-karyanya melalui audiovisual di acara-acara level nasional dan internasional yang dijadikan altar untuk mengantarkan Tasikmalaya ke dunia. Kofita pun aktif memproduksi film-film layanan masyarakat, dokumenter, bahkan menggunakan beberapa istilah baru pembuatan video, seperti: Video Diary, Video Komunitas, Citizen Journalism, Video Puisi, sebagai upaya konvergensi media atau ramatloka. Artinya, Kofita sebagai ruang silaturahmi, berbagi, dan peduli melalui literasi media-audiovisual menuju masyarakat Tasikmalaya yang melek teknologi, informasi, dan media. Kofita berbagi informasi dan pengalaman serta mengajak aktif berkontribusi dalam menciptakan citra positif tentang diri dan rutinitas masyarakat, terutama pelajar. Membangun media audiovisual sebagai alternatif selain media mainstream. Selain itu, mengajak remaja melek media agar memiliki kemampuan dalam memanfaatkan media demi kepentingan positif sehingga dapat memengaruhi cara pandang publik kepada remaja sebagai individu yang kuat dan bermakna. Pergerakkan Kofita tidak bisa dipandang sebelah mata, selain diakui beberapa jaringan audiovisual luar negri, karya-karyanya telah go international. Misal, presentasi Workshop Media ACHR yang diwakili sang ketua di Thailand mewakili Tasikmalaya dan menjadi salah satu dari tiga orang terpilih dari Indonesia untuk mempresentasikan karya-karyanya. Minggu ini Kofita membuktikan dua karyanya sebagai nominasi di Screen Below The Wind Festival se-Asia Tenggara di Ubud-Bali yang diselenggarakan tanggal 16-18 November 2012. Festival ini memang terbuka untuk semua kalangan yang memiliki kepentingan terhadap dokumenter sebagai media pendidikan maupun produk kreatifekonomi. Seperti pendidik, sekolah, peneliti, social activist, penggemar dokumenter, wakil stasiun TV, photo agency, distributor film, hingga para sponsor dan investor saling berbagi karya dan bersinergi di acara ini. Pembicara yang hadir di antaranya: Dr. Mari Elka Pangestu (Menteri Ekonomi Kreatif dan Pariwisata), South East Asia Identity (Media), Panelis: Dr. Ariel Heryanto (Associate Professor, Australia National University), Dr. Katinka Van Heeren (Research Fellow, Universitas Leiden), Dr. Yanuar Nugroho (Research Fellow, Manchester Business School). Dokumenter Asia Tenggara: Panelis; Hassan Muthalib (Animator, Sutradara, Desainer dan Penulis), Riri Riza (sutradara film), Rio Helmi (Fotografer Dokumenter), Sandiaga S. Uno (investor / Saratoga Capital), Tjandra Wibowo (produser / pemilik Samuan Studio), Dr. Mari E. Pangestu dan Ariel Heryanto-t.b.c, Moderator: Chrisma Albandjar (Komentari Direktur Microsoft Indonesia) Dua video dokumenter produksi Kofita yang berjudul Merapi Duwe Gawe bekerja sama dengan Arsitek Komunitas Jogja yang bertemakan cara pandang warga Kali Tengahlor, Kali Tengah Kidul, dan Serunen tentang letusan merapi merupakan sebuah proses alami dalam pencapaian keseimbangan alam. Mereka meyakininya sebuah „PESTA‟ bukan bencana, sehingga warga memegang teguh prinsip sedumuk batok senyari bumi, yakni tanah menjadi harga diri. Sementara, video Nu Urang Keur Urang karya masyarakat Mekarwangi-Cikatomas Kabupaten Tasikmalaya yang difasilitasi Kofita merupakan pendokumentasian aktifitas yang dilakukan masyarakat dalam mempertahankan potensi sumber daya alam berbasis masyarakat lokal (community-based natural resource management). Inilah proses-proses tradisi yang dapat mendidik masyarakat agar tidak Meski video dokumenter yang diikutkan Kofita menggunakan kamera digital, tidak mengurangi esensi tinggi tentang cerita-cerita nyata yang diaudiovisualkan. Padahal, peserta yang datang dari negara-negara Asia Tenggara adalah profesional yang menggunakan alat canggih. Mengutip perkataan Hatta setengah abad yang lalu bahwa di desa-desa sistem demokratis masih kuat dan hidup sehat sebagai bagian adat-istiadat hakiki, dasarnya adalah pemilikkan tanah yang komunal yaitu setiap orang merasa bahwa ia harus bertindak berdasarkan persetujuan bersama sewaktu menyelenggarakan kegiatan ekonomi. “Mungkin itulah alasan video kami terpilih,” lagi-lagi kata Wandi si Profesor Begundal Kofita. Dari segala gulita komunitas bawah tanah, celah-celah pijar menembus ruang dada mereka kemudian menerangi layar Tasikmalaya tentang dua sayap yang mengepakkan badai selama „Di Bawah Angin Asia Tenggara‟ yang menobatkan film Kofita sebagai juara favorit!
  16. 16. / Alat Pembuat Photo Cerita ? • Camera HP • Camera Pocket • Camera Seleloide • Camera DSLR Panduan Dasar Membuat Komposisi Foto Cerita 1. Hook Hook/Opener/Teaser Penarik perhatian. Menimbulkan penasaran. Terkadang foto pembuka.
  17. 17. Portrait Subyek cerita. Medium/Environment PortraitSubyek cerita di tengah lingkungannya. Pembentuk karakter.
  18. 18. Detail/Close-Up Bumbu. Penguat. Pemberi nuansa khas. Gesture/Exchange Gestur Interaksi Pergerakan.
  19. 19. Closing
  20. 20. 2 1. 3. 6. 2. , , 4. , 5. , , 7. 1 3 4 5 6. 7
  21. 21. , , , , @ymail.com

×