Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Sinopsis metro tv 23 okt peran energi nuklir

296 views

Published on

Ketahanan Energi merupakan pilar penting Ketahanan Ekonomi, sedangkan Ketahanan Ekonomi merupakan unsur utama Ketahanan Nasional. Ketahanan Energi Indonesia, selain sebagai kemampuan merespon dinamika perubahan energi global (eksternal) juga sebagai kemandirian untuk menjamin ketersediaan energi (internal). Sistem Ketahanan Energi mengacu pada Kebijakan Pengembangan Energi sesuai Undang-Undang Energi Nomor 30 Tahun 2007, energi memiliki peran bagi peningkatan Kegiatan Ekonomi dan Ketahanan Nasional.

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Sinopsis metro tv 23 okt peran energi nuklir

  1. 1. SINOPSIS Stasiun : MetroTV Program : 8.11 Jenis : Talkshow Tema : “Peran Energi Nuklir Mendukung Kedaulatan Energi Nasional” Hari/Tanggal : Jumat/23 Oktober 2015 Waktu Tayang : 10.30-11.00 WIB Durasi : 30 menit Narasumber : 1. Dr. Ferhat Aziz – Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Teknologi Nuklir BATAN 2. Prof.Dr. Ir. Syamsir Abduh (Akademisi) Ketahanan Energi merupakan pilar penting Ketahanan Ekonomi, sedangkan Ketahanan Ekonomi merupakan unsur utama Ketahanan Nasional. Ketahanan Energi Indonesia, selain sebagai kemampuan merespon dinamika perubahan energi global (eksternal) juga sebagai kemandirian untuk menjamin ketersediaan energi (internal). Sistem Ketahanan Energi mengacu pada Kebijakan Pengembangan Energi sesuai Undang-Undang Energi Nomor 30 Tahun 2007, energi memiliki peran bagi peningkatan Kegiatan Ekonomi dan Ketahanan Nasional. Di Indonesia, kebutuhan energi listrik meningkat cepat seiring dengan pesatnya pembangunan di bidang industri dan kebutuhan teknologi masyarakat. Dalam sepuluh tahun terakhir, kebutuhan energi listrik di Indonesia tercatat tumbuh sebesar 6.4% per tahun. Namun, angka pertumbuhan tersebut bukanlah angka real yang mencerminkan pertumbuhan kebutuhan energi listrik secara nyata. Tetapi, merupakan pertumbuhan kemampuan penyediaan pasokan tenaga listrik. Hal ini terlihat dari menumpuknya daftar tunggu yang terjadi di seluruh wilayah di Indonesia. Keterbatasan sumber energi fosil ini menyebabkan Indonesia secara perlahan mengarah sebagai importir energi. Indonesia tercatat sebagai importir Minyak Bumi sejak tahun 2003. Produksi Minyak Bumi dalam negeri sudah tidak mampu memenuhi laju konsumsi. Sejak tahun 2013, 50% konsumsi BBM Indonesia adalah hasil impor. Impor BBM yang sangat besar, ditambah oleh subsidi yang sangat banyak mengakibatkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) semakin berat. Mengacu kepada pemodelan MARKAL, 10 tahun lagi saat cadangan BBM Indonesia telah habis, kebutuhan energi listrik Indonesia akan mencapai 47,45 Juta Ton SBM. Kebutuhan listrik ini harus disuplai oleh pembangkit listrik berkapasitas minimal 114,81 GW. Artinya, Indonesia harus membangun pembangkit listrik berdaya 78,3 GW yang harus beroperasi penuh pada tahun 2023. Kalau Indonesia memperhitungkan efek buruk gas rumah kaca yang dihasilkan olehbahan bakar fosil, serta berorientasi pada pembangunan berkelanjutan keberlangsungan energi jangka panjang, maka Indonesia juga harus segera memasuki era energi non fosil sebagai sumber energi baru dan terbarukan. Sumber energi terbarukan terbesar yang baru dimanfaatkan sampai saat ini barulah
  2. 2. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) yaitu sebesar 29,75% dari total sumber daya yang ada. Dari sekitar 70.000 MW potensi Tenaga Air termasuk mikrohidro dan minihidro yang tersedia, yang dapat dieksplorasi dalam waktu dekat relatif sangat kecil karena terkendala infrastruktur untuk menjangkau daerah potensi Tenaga Air yang umumnya ada di daerah pedalaman. Pembangkit Tenaga Air sendiri umumnya berdaya kecil, yaitu sekitar 1-100 kW untuk mikrohidro, 15 MW untuk minihidro, dan maksimal 200 MW per setiap generator untuk PLTA. Potensi Panas Bumi Indonesia tergolong yang paling besar di dunia, yang terletak di sepanjang sabuk gunung api yang menyebar sepanjang Sumatera, Jawa, Bali dan Sulawesi. Namun sama halnya dengan PLTA, potensi Panas Bumi Indonesia masih sangat sulit dikembangkan akibat minimnya infrastruktur dan daya pembangkitan satu sumber Panas Bumi relatif kecil, yaitu hanya sekitar 100 MW. Biomassa sendiri sebenarnya cukup menjanjikan karena karakteristiknya yang dapat mensubstitusikan Minyak Bumi. Biomassa selain dapat dikonversi langsung dalam pembangkit listrik, juga dapat diolah menjadi Bioetanol, Biodiesel, aromatik dan berbagai produk turunan lainnya. Hanya saja kendala utamanya adalah pada kompetisi lahan untuk kepentingan konsumsi. Memproduksi Biomassa dalam sekala besar akan memerlukan kebutuhan lahan yang semakin luas. Karena itu, Biomassa yang banyak dimanfaatkan saat ini masih terbatas pada limbah dan sebagian lagi dari CPO kelapa sawit sebagai Biodiesel. Sebagai negara tropis, Indonesia mendapat pasokan sinar matahari yang relatif konstan sepanjang tahun, terkecuali pada musim penghujan. Kondisi ini memberi keuntungan tersendiri bagi potensi pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Namun sampai saat ini pengembangan PLTS masih terkendala pada masalah biaya pembangkitan dan luas lahan yang diperlukan. Sebagai gambaran, untuk PLTS berdaya maksimum 1 MW diperlukan lahan instalasi seluas 2 Ha. Padahal harga 1 meter persegi sel surya mencapai 1-2 juta rupiah. Energi Angin tidak terlalu cocok dikembangkan di Indonesia karena kecepatan angin Indonesia yang tidak konstan. Kecepatan angin yang relatif konstan di Indonesia hanya terletak di wilayah Nusa Tenggara Timur. Karena itu sangat sulit mengembangkan Energi Angin untuk membangkitkan listrik skala besar di Indonesia. Uranium sebagai sumber bahan bakar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) yang sudah dibuktikan cadangannya telah ditemukan di daerah Kalan, Kalimantan Barat dengan estimasi pembangkitan daya 3000 MW. Sedangkan daerah-daerah lain yang diperkirakan juga menyimpan sumber daya Uranium di Indonesia meliputi beberapa wilayah Sumatra dan Irian Jaya. PLTN adalah satu-satunya sumber energi baru dan terbarukan yang mampu membangkitkan daya secara massif. Satu unit PLTN dapat membangkitkan listrik berkisar antara 100 – 1500 MW. Beberapa desain PLTN yang baru bahkan ada yang mampu membangkitkan daya lebih dari 2000 MW. Densitas energi yang terkandung dalam Uranium sangat tinggi, yaitu sekitar 20 gram Uranium
  3. 3. Dioksida dapat membangkitkan energi yang setara dengan 2,24 Ton Batubara. Karena itulah PLTN dapat didesain hanya memerlukan pergantian bahan bakar setiap 6 bulan sampai 1 tahun sekali. Lalu pembangkit listrik yang mana yang paling layak dikembangkan dalam jangka waktu 10 tahun ke depan untuk memenuhi konsumsi listrik sebesar 114,81 GW sehingga ancaman dalam ketahanan energi dapat teratasi? Indonesia hanya memiliki 4 jenis pembangkit potensial yang layak dibangun dalam jangka waktu pendek sebagai base load (kebutuhan dasar) listrik nasional. Dua jenis pembangkit berbahan bakar fosil, yaitu dari Gas Bumi dan Batubara dan dua jenis lagi dari energi baru dan terbarukan, yaitu nuklir dan tenaga air. Cadangan Gas Bumi sebaiknya dioptimalkan untuk kepentingan bahan bakar transportasi dan mensuplai industri petrokimia karena akan memberikan margin yang lebih baik. Dengan demikian opsi terbaik bagi Indonesia yang paling memungkinkan hanya 3, yaitu batubara, nuklir dan tenaga air. Dilihat dari sisi keekonomian pembangunan pembangkit, secara umum pembangunan satu unit pembangkit berdaya besar akan jauh lebih menguntungkan dari pada pembangunan sejumlah pembangkit berdaya kecil tetapi memiliki output daya yang sama. Pembangkit berdaya besar umumnya juga jauh lebih efisien dari pada sejumlah pembangkit berdaya kecil. Sehingga akan jauh lebih ekonomis membangun 2 PLTN dari pada membangun 3 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara meskipun mengeluarkan output daya yang sama.Dari sisi ekologi, hanya PLTN yang bebas dari polusi gas rumah kaca. PLTU Batubara sudah terbukti mengakibatkan pencemaran lingkungan yang sangat parah sebagaimana contohnya yang terjadi di China. Karena itu jika Indonesia juga konsen pada permasalahan lingkungan maka opsi PLTN juga menjadi lebih baik dari pada PLTU Batubara. Karena itu, Indonesia harus segera menentukan keputusan dan memulai pembangunan pembangkit listrik bersekala besar dengan memasukkan opsi PLTN dan PLTU ke dalamnya. Indonesia tidak dapat mengulur-ngulur waktu lagi karena untuk membangun sebuah pembangkit berdaya besar memerlukan waktu yang cukup lama, yaitu sekitar 3-5 tahun dan bahkan lebih. Saat ini pemerintah Indonesia sudah merencanakan membangun Reaktor Daya Ekesperimental (RDE) yang berkapasitas 10 Mwt. Program pembangunan RDE ini sudah masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019 dan sesuai UU no. 10 tahun 1997. Rencana operasional RDE Tahun 2019/2020. RDE adalah pembelajaran penguasaan PLTN dan sekaligus sebagai induk PLTN komersial. Jika proyek di Puspiptek berhasil, maka RDE dapat dijadikan contoh untuk pembangunan PLTN mini yang dapat diaplikasikan di daerah yang tidak membutuhkan daya besar, seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua. RDE adalah reaktor bersuhu tinggi dengan bahan bakarnya uranium, dan pendinginnya adalah gas helium. Adapun lokasi pembangunanya berada di Serpong Tangerang.
  4. 4. Narasumber 1 1. Bisa dijelaskan sejauhmana peran energi nuklir dalam mendukung kedaulatan energi nasional? 2. Seberapa besar kebutuhan energi nasional yang dapat di topang dari energi nuklir? 3. Sudah berapa banyak Pembangkit tenaga nuklir yg ada di indonesia? 4. Mengapa indonesia butuh pemanfaatan energi nuklir? 5. Pesan-pesan yg ingin disampaikan kepada masyarakat terkait dengan energi nuklirini? Narasumber 2 1. Bagaimana pendapat bapak mengenai energi nuklir di indonesia? 2. Apakah sudah ada riset mengenai penggunaan energi nuklir di indonesia dan sejauhmana? 3. Apakah energi nuklir ini sebagai energi alternatif atau sebagai energi utama? 4. Harapan kedepan dengan adanya energi nuklir di indonesia?

×