SAMBUNGAN KABEL TIPE CIUT PANAS
Syamsir Abduh
Jurusan Teknik Elektro, FTI-Universitas Trisakti
Jl. Kyai Tapa No 1 Jakarta,...
Gambar 3.1
Strktur polimer PE dengan titik-titik kristal
Titik-titik hitam yang terlihat pada gambar 3.1 merupakan titik-t...
Bila PE dalam wujud cair ini dihujani dengan radiasi dalam dosis dan energi yang
tinggi, maka akan terjadi suatu reaksi ki...
Gambar 3.3
Struktur Polimer XLPE
Gejala ikat silang yang dialami PE, menciptakan suatu jaringan benang molekul
polimer PE ...
(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 3.4
Proses pembentukan materi ciut panas
Gambar 3.4(a) menggambarkan polimer PE yang sudah meng...
Selama suhu sekitarnya dijaga agar tidak melebihi suhu cair kristal (121 oC), maka
polimer XLPE yang sudah dibentuk ini da...
Gambar 3.5
Proses pembuatan selongsong ciut panas
Biasanya dalam pembuatan materi/isolasi ciut panas ini, disertai dengan ...
3.1.3 Langkah-langkah Pemasangan Sambungan Kabel Tipe Ciut Panas
1. Pasang konektor menghubungkan penghantar kedua ujung k...
9. Geser selongsong isolasi berlapis screesn (merah dan hitam) hingga menutupi
selongsong isolasi (merah) yang sudah diciu...
Gambar 3.6 Langkah-langkah Penyambungan Kabel Tipe Ciut Panas

Arah pengepresan

5mm

5mm

56
(a).Pemasangan Konektor
Mastik

(b). Pengujian Pita

Screen
Semikonduktip
Screen
Tembaga

10 10

10 10

Isolasi

Mastik
Ku...
(g). Penggeseran selongsong isolasi
pada
(Merah)
selongsong isolasi

(h).Pelilitan pita mastik merah
ujung-ujung
(merah).
...
Tabel 3.1. Komponen-komponen sambungan transisi tipe IJKA 150/240 SOD

No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19...
3.1.5 Persiapan Kabel untuk Sambungan Tipe IJKA 150/240 – SOD
Dikarenakan penyambungan transisi menyambungkan antara dua j...
4. Kupas selubung dalam kabel A sepanjang 20 mm dari ujung armor, hati-hati
jangan sampai melukai atau merusak screen temb...
(a). Penggeseran selongsong isolasi
tembaga
Berlapis screen (merah & hitam)
screen.

(b).penyolderan pita anyaman

© pelil...
(g). penciutan selongsong luar
mendingin

(h). dibiarkan sambungan
Keseluruhan sambungan
sendiri sampai sama dengan
temper...
Dimana Ds = Ukuran dies pengepresan (mm)

Gambar 3.8
Ukuran dies konektor setelah dipres
Dari persamaan (3.2) dan (3.3), m...
C= {

} x 100

16%= {

} x 100

0,16=(

=0,84
Ds²x0,866=459,552
Ds²=530,66
Ds=23,03
Maka konektor tersebut mempunyai dies ...
8. Penciutan selongsong harus merata di sekeliling tempat penciutan dimulai, kemudian
barulah penciutan diteruskan melaju ...
3. Kupas selubung luar ujung kabel B sepanjang 600 mm. Gambar 3.10(c )
4. Potong dan kupas armor kabel A dan B sepanjang 5...
Kupas selubung luar kabel B

Kupas armor kabel A dan B

Kupas selubung dalam kabel A dan B

Kupas screen tembaga masing-ma...
Gambar 3.11
Konstruksi persiapan kabel untuk sambungan tipe IJKA 150/240-SO secara
keseluruhan

69
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Sambungan kabel tipe ciut panas-Syamsir Abduh

1,664 views

Published on

Dewasa ini,banyak penerapan teknologi isolasi pada berbagai macam peralatan listrik. Kemajuan ini seiring dengan teknologi pembuatan bahan isolasi tersebut guna memperoleh keandalan serta kemudahan dalam penggunaan dan pemasangannya. Diantaranya, penggunaan teknologi ciut panas, yang merupakan pemasangan bahan isolasi dengan proses penciutan melalui pemanasan pada bahan tersebut guna memperoleh hasil dengan ukuran yang tepat pada alat yang dipasangkan.

Published in: Education
0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,664
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
43
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Sambungan kabel tipe ciut panas-Syamsir Abduh

  1. 1. SAMBUNGAN KABEL TIPE CIUT PANAS Syamsir Abduh Jurusan Teknik Elektro, FTI-Universitas Trisakti Jl. Kyai Tapa No 1 Jakarta, 11440 syamsir@trisakti.ac.id 3.1 Teknologi Ciut Panas Dewasa ini,banyak penerapan teknologi isolasi pada berbagai macam peralatan listrik. Kemajuan ini seiring dengan teknologi pembuatan bahan isolasi tersebut guna memperoleh keandalan serta kemudahan dalam penggunaan dan pemasangannya. Diantaranya, penggunaan teknologi ciut panas, yang merupakan pemasangan bahan isolasi dengan proses penciutan melalui pemanasan pada bahan tersebut guna memperoleh hasil dengan ukuran yang tepat pada alat yang dipasangkan. 3.1.1 Materi Ciut Panas Materi ciut panas pada dasarnya terbuat dari bahan polimer termoplastik yang telah diikat silang dengan menggunakan energi radiasi yang tinggi. Jadi teknologi ciut panas merupakan teknologi yang menerapkan ilmu kimia radiasi terhadap bahan polimer. Materi yang digunakan untuk pembuatan materi ciut panas adalah polimer polyethylene (PE). Hal ini disebabkan karena polimer polyethylene mempunyai sifat semi kristal. PE ini terdiri dari bagian-bagian yang berdekatan ( crytalline) dan bagianbagian yang renggang/kosong (amophous). 47
  2. 2. Gambar 3.1 Strktur polimer PE dengan titik-titik kristal Titik-titik hitam yang terlihat pada gambar 3.1 merupakan titik-titik kristal,dimana satu polimer PE digambarkan seperti benang yang berdekatan dengan benang polimer PE yang lainnya. Proses pendekatan ini disebabkan karena adanya daya tarik antar molekul. Dengan adanya titik-titik kristal inilah yang merupakan sumber utama kekuatan pada bahan termoplastik yang konvensionil, seperti PE. Karena tanpa titik-titik kristal tersebut bahan termoplastik seperti PE, akan selalu berbentuk cair (meleleh). Tetapi dengan adanya gaya tarik antara molekul-molekul di titik kristal, maka gugusan molekul tersebut menjadi kuat dan dapat berbetuk seperti zat padat. Pada umumnya bahan termoplastik akan melunak serta mencair pada suhu yang tinggi. Gejala pelunakan dan pencairan PE terjadi pada titik cair kristal (crystalline melting point) pada PE tersebut, yaitu sekitar 121 oC. Pada saat PE dipanaskan,kedudukan kristal-kristal yang mengatur kekuatan gugusan molekul polimer PE, berangsur-angsur akan hilang sedikit demi sedikit. Hilangnya titik-titik kristal pada molekul polimer PE menyebabkan adanya pergeseran antara benang molekul yang satu dengan benang molekul yang lainnya secara lilin. Karena pada suhu air tersebut,seluruh benang-benang molekul PE tidak lagi terpegang oleh kristal. Jadi pada suhu 121 oC tersebut, PE akan berubah wujud dari bahan padat menjadi bahan cair namun kental. 48
  3. 3. Bila PE dalam wujud cair ini dihujani dengan radiasi dalam dosis dan energi yang tinggi, maka akan terjadi suatu reaksi kimia, seperti pada gambar di bawah ini. Gambar 3.2 Reaksi Pembentukan XLPE Pada gambar 3.2 di atas,setelah polimer PE terkena sinar radiasi, maka salah satu atau beberapa dari molekul karbon dioksida (CH2) pada polimer PE akan kehilangan satu atom hidrogen (H). Hilangnya satu atom hidrogen pada molekul CH 2 mengakibatkan ikatan polimer PE menjadi tidak stabil. Sehingga molekul CH 2 yang kehilangan satu atom H tersebut akan mencari pasangan baru, yaitu sesama molekul CH 2 yang kehilangan satu atom H yang lainnya. Ikatan antara dua molekul ini dinamakan ikat silang (cross-link). Dengan adanya ikat silang pada polimer PE, maka polimer ini dikenal dengan nama polyethylene ikat silang (XLPE), dan dalam keadaan dingin titik-titik kristal bermunculan kembali sehingga struktur XLPE seperti yang terlihat pada gambar di bawah. 49
  4. 4. Gambar 3.3 Struktur Polimer XLPE Gejala ikat silang yang dialami PE, menciptakan suatu jaringan benang molekul polimer PE yang kuat dalam bentuk tiga dimensi. Karena sambungan ikat silang ini jauh lebih kuat dari sambungan kristal, maka bila XLPE dipanaskan di atas suhu cair kristal (121oC), tidak akan meleleh dan mencair sehingga bentuknya tetap. Daya tahan terhadap suhu panas ini, disebabkan karena pada suhu tersebut gugusan tersebut. Jadi pada suhu di atas 121oC, sambungan-sambungan antara molekul hanya akan ditunjang oleh sambungan ikat silang, karena pada suhu tersebut ikatan-ikatan sudah hilang/menguap. Dilain pihak, bahan plastik XLPE tidak lagi meleleh, mencair atau menetes, namun bahan tersebut akan melunak (seperti karet ) sehingga dapat dengan mudah di bentuk menjadi bahan plastik yang berguna. Pada gambar di bawah ini ,akan di jelaskan suatu proses pemuaian dan pembentukan bahan plastik XLPE menjadi materi ciut panas, guna memenuhi kebutuhan yang diperlukan dalam peralatan listrik. 50
  5. 5. (a) (b) (c) (d) Gambar 3.4 Proses pembentukan materi ciut panas Gambar 3.4(a) menggambarkan polimer PE yang sudah mengalami proses ikat silang (cross link) menjadi XLPE, dalam keadaan dingin. Kemudian XLPE tersebut dipanaskan pada suhu di atas 121oC.dalam proses pemanasan ini, titik-titik kristal secara perlahanlahan akan menghilang dan tinggal hanya sambungan ikat silangnya saja, sehingga molekul polimer XLPE menjadi kenyal seperti karet tetapi tetap tidak akan mencair, seperti yang terlihat pada gambar 3.4(b). Lalu dilakukan proses pemuain/pemelaran dan pembentukan pada XLPE yang telah kenyal tersebut. (gambar 3.4(c). Setelah dilakukan proses pemelaran dan pembentukan, lalu dilakukan proses pendinginan. Dalam proses pendinginan, titik-titik kristal bermunculan kembali dan perlahan-lahan polimer XLPE yang kenyal menjadi kaku dan dingin, seperti yang terlihat pada gambar 3.4(d). oleh karena bermunculan kembali titik-titik kristal tersebut,yang mempertahankan polimer XLPE tetap dalam bentuk pemelaran walaupun dilakukan proses pendinginan. 51
  6. 6. Selama suhu sekitarnya dijaga agar tidak melebihi suhu cair kristal (121 oC), maka polimer XLPE yang sudah dibentuk ini dapat disimpan untuk selama-lamanya. Jadi materi ciut panas ini tidak memiliki batas waktu atau batas suhu penyimpanan gudang. Apabila polimer XLPE dalam bentuk muai dan dingin (seperti gambar 3.4(d) dipanaskan kembali, maka proses tersebut di atas akan terulang mengikuti langkahlangkah 3.4(d), dan 3.4(c) dan seterusnya kembali ke urutan semula. Gejala seperti XLPE yang dapat berubah-ubah bentuknya sampai kembali ke bentuk semula dengan kemampuan polimer termoplastik ikat silangnya, dikenal dengan nama gejala ”Ingatan Elastis” 3.1.2 Penerapan Materi Ciut Panas pada Aplikasi Praktis Penerapan materi ciut panas sebagai bahan isolasi pada peralatan listrik baru dapat dilaksanakan setelah materi ciut panas tersebut di bentuk sesuai dengan peralatan listrik yang dipasangkan. Hal ini disebabkan karena peralatan listrik mempunyai fungsi dan ukuran yang berbeda. Seperti yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, polimer yang telah diradiasikan (XLPE) dipanaskan pada suhu di atas 121oC sehingga menjadi elastis dan mudah dibentuk guna memenuhi keperluan di atas. Melalui proses tekanan ,polimer yang sudah menjadi elastis tadi dirubah bentuknya sesuai dengan keperluan (misalnya : dibuat supaya diameter selongsongnya membesar), sehingga sambungansambungan ikat silang pada molekul-molekul polimer tersebut memuai. Kemudian bahan polimer yang telah dimuaikan tersebut, didinginkan dan menjadi padat dalam bentuk muai yang diinginkan seperti yang terlihat pada gambar di bawah. 52
  7. 7. Gambar 3.5 Proses pembuatan selongsong ciut panas Biasanya dalam pembuatan materi/isolasi ciut panas ini, disertai dengan bahan perekatan yang dilapisi pada bagian dalam bahan isolasi ciut panas. Bahan perekat ini dibuat secara khusus agar dapat menyekat air, mencegah pengkarata dan menambah kekuatan pegang isolasi ciut panas dengan peralatan listrikyang di pasangkan. Bahan perekat yang di pra-lapis (pre-coated) pada isolasi ciut panas, dirancang agar dapat meleleh dan mencair pada suhu di atas 121 oC. Suhu tersebut merupakan titik cair kristal pada materi ciut panas, yang sekaligus merupakan suhu penciutan isolasi ciut panas. Karena selubung isolasi ciut panas yang sedang menciut membawa tekanan ciut yang cukup besar (jejak ingatan elastis), maka perekat yang cair akan mengisi semua celah-celah dan rongga-rongga yang kosong pada permukaan rekat. Sewaktu selubung ciut panas selesai menciut dan mengalami proses pendinginan, maka perekat cairakan membeku menjadi zat padat yang melekat dengan kuat serta kedap air. 53
  8. 8. 3.1.3 Langkah-langkah Pemasangan Sambungan Kabel Tipe Ciut Panas 1. Pasang konektor menghubungkan penghantar kedua ujung kabel. Pres dengan alat pengepres hidraulik (crimping tool). Bersihkan tonjolan logam tajam yang timbul akibat pengepresan.Gambar 3.6 (a) 2. Lilitkan pita mastic kuning panjang, mengisi celah-celah antara konektor dan isolasi, sampai diameter pengisi celah sama dengan diameter isolasi inti kabel. Lilitkan juga pita mastik kuning panjang menutupi konektor mulai dari 5mm di atas isolasi sebelah kiri sampai 5 mm diatas isolasi sebelah kanan. Pelilitan dilakukan sambil ditarik sehingga lebar mastic kuning menjadi kurang lebih 50%, dan menjadi tipis sehingga lilitannya halus. Tumpang tindih lilitan sekitar 50%. Gambar 3.6 (b) 3. Lilitkan pita mastic kuning pendek pada ujung screen semikonduktip, 10mm menutupi screen semikonduktip dan 10mmm menutupi isolasi. Lilitkan pula pada ujung screen tembaga , 10mm menutupi screen tembaha dan 10mm menutupi screen semikonduktip. Pelilitan pita mastic kuning pendek ini dilakukan sambil ditarik hingga lebarnya menjadi 50% dan menjadi lebih tipis, sehingga lilitannya halus. Gambar 3.6 (c ). 4. Oleskan sedikit minyak silicon pada permukaan isolasi kemudian ratakan dengan tangan yang bersih. Gambar 3.6 (d). 5. Geser kedudukan selongsong pengendali stress (hitam), sampai simetris terhadap konektor. Panasi mulai dari bagian tengah secara merata sampai selongsong tersebut menciut seluruhnya.Gambar 3.6(e). 6. Lilitkan satu kali lilitan pita mastic merah pada ujung-ujung pengendali stress (hitam) yang sudah diciutkan .Gambar 3.6 (f). 7. Geser selongsongan isolasi (merah) hingga menutupi selongsongan pengendali stress yang sudah dipasang sebelumnya, kemudian ciutkan secara merata mulai dari bagian tengahnya, selanjutnya sampai ke bagian ujung-ujungnya. Gambar 3.6 (g) 8. Lilitkan satu kali pita mastic merah pada ujung-ujunng selongsong isolasi (merah) yang sudah diciutkan. Gambar 3.6(h) 54
  9. 9. 9. Geser selongsong isolasi berlapis screesn (merah dan hitam) hingga menutupi selongsong isolasi (merah) yang sudah diciutkan sebelumnya. Ciutkan mulai dari tengah, berangsur-angsur secara merata sampai ke kedua ujungnya. Gambar 3.6(i) 10. Solderkan pita anyaman tembaga berlapis timah putih pada screen tembaga masing-masing inti kabel, sehingga screen tembaga inti-inti kabel A dan B terhubung. Bila pita ini terlalu panjang, boleh dipotong sesuai dengan kebutuhan. Gambar 3.6 (j) 11. Lilitkan jaring screen tembaga berlapis timah menutupi pita anyaman tembaga berikut selongsong-selongsong yang sudah diciutkan tadi, dengan tumpang tindih pelilitan 50%. Gambar 3.6(k) 12. Lilitkan pita masuk merah menutupi ujung armo : kabel, sebagian menutupi selubung luar dan sebagian menutupi selubung dalam. 13. Pasang armor (susunan pita baja pelindung mekanis ) menutupi selubung kabel, dengan lapisan alumuniumnya di sebelah dalam. Ujung-ujungnya harus tumpang tindih dengan armor kabel. Ikat ujungnya dengan klem pengikat armor. Lilitkan pita (PVC) kain katun pada klem pengikat armor dan dua titik di tengah armor sehingga bentuk sambungan rapih (streamline). Tutup ujung-ujung armor (sekitar 40mm) dengan pita mastic merah. Gambar 3.6(l). 14. Buang plastik pelindung perekat di bagian dalam lembaran selongsong luar pelindung keseluruhan sambungan. Gambar 4.6(m ) 15. Pasang lembaran selongsong luar melingkupi seluuruh sambungan. Katupkan lembaran ini dengan menggunakan klip penyambung rel. (seluruhnya ada 2 buah klip). Gambar 3.6(n) 16. Ciutkan selongsong luar penutup keseluruhan sambungan, penciutan ini dimulai dengan pemanasan bagian tengah selongsong dan diteruskan secara merata sampai ke kedua ujungnya. Gambar 3.6(o). 17. Biarkan sambungan mendingin sendiri sampai sama dengan temperatur sekitarnya, dan baru setelah itu boleh digerak-gerakkan. Gambar 3.6 (p). 55
  10. 10. Gambar 3.6 Langkah-langkah Penyambungan Kabel Tipe Ciut Panas Arah pengepresan 5mm 5mm 56
  11. 11. (a).Pemasangan Konektor Mastik (b). Pengujian Pita Screen Semikonduktip Screen Tembaga 10 10 10 10 Isolasi Mastik Kuning (c). Pelilitan Pita Mastik Minyak Silikon (d). Pengolesan (e). Penggeseran Kedudukan merah (f).Pelilitan pita mastik selongsong pengendali stress selongsong pada ujung-ujung (hitam) isolasi 57
  12. 12. (g). Penggeseran selongsong isolasi pada (Merah) selongsong isolasi (h).Pelilitan pita mastik merah ujung-ujung (merah). Gambar 3.6 Langkah-langkah Penyambungan Kabel Tipe Ciut Panas 3.1.4 Sambungan Transisi (Hetero Joint ) Sebelum pemasangan sebaiknya dilakukan pemeriksaan secara visual terhadap komponen-komponen yang diperlukan dalam sambungan transisi (tipe IJKA 15-/240SOD), antara lain : 58
  13. 13. Tabel 3.1. Komponen-komponen sambungan transisi tipe IJKA 150/240 SOD No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Nama Komponen Selongsong pencegah rembesan minyak (bening) Selongsong konduktif (hitam) Pita mastik kuning panjang Celana kabel konduktif Konektor Pita mastik kuning pendek Pita perekat (merah) Minyak Silikon Selongsong pengendali stress (hitam) Selongsong isolasi (merah) Selongsong isolasi berlapis screen (merah/hitam) Pita anyaman tembaga lapis timah Jaring screen tembaga lapis timah Armor pelindung kabel Klem pengikat armor Kawat pengikat screen tembaga Kawat pengikat armor Pita kain katun Selongsong luar pelindung keseluruhan sambungan Rel penjepit selongsong luar Klip penyambung rel Cairan pembersih (TCE) + lap Ampelas Timah Solder Jumlah 3 buah 3 buah 9 buah 1 buah 3 buah 6 buah 7 buah 3 sachet 3 buah 3 buah 3 buah 3 buah 3 buah 1 lembar 2 buah 2 gulung 2 buah 1 rol 1 lembar 3 buah 2 buah 1 set 2 buah 1 gulung 59
  14. 14. 3.1.5 Persiapan Kabel untuk Sambungan Tipe IJKA 150/240 – SOD Dikarenakan penyambungan transisi menyambungkan antara dua jenis kabel yang berbeda, maka persiapan kabel untuk penyambungan juga terbagi dua. a. Persiapan Kabel Plastik (XLPE) : 1. Atur kedudukan kedua ujung kabel (kabel XLPE dan kabel PILC) sehingga sejajar, dengan tumpang tindih sekitar 150mm, buat tanda / garis di tengahtengah bagian tumpang tindih, dan potong kedua ujung kabel di titik tersebut. Gambar 3.7(a). 2. Kupas selubung luar kabel A (XLPE) sepanjang 900mm diukur dari ujung kabel. Gambar 3.7(b). 3. Potong armor kabel A sepanjang 50mm dari ujung kupasan selubung luar kemudian ikat ujungnya dengan kawat pengikat armor. Gambar 3.7(c). 60
  15. 15. 4. Kupas selubung dalam kabel A sepanjang 20 mm dari ujung armor, hati-hati jangan sampai melukai atau merusak screen tembaga. Buang bahan pengisi (filler) yang ada di antara inti kabel. Gambar 3.7(d). 5. Potong dan kupas screen tembaga pada masing-masing inti kabel A sepanjang 210mm dari ujung kabel, lalu ikat ujungnya dengan kawat pengikat screen tembaga. Ujung potongan harus rata, tidak boleh tajam/ bergerigi. Gambar 3.7(e). 6. Potong dan kupas screen semikonduktip sepanjang 30mm dari ujung screen tembaga. Ujung potongan harus rata dan pada saat pemotongan, isolasi tidak boleh terluka atau tergores. Gambar 3.7 (f). 7. Kupas ujung isolasi masing-masing inti kabel A sepanjang setengah panjang konektor ditambah maksimum 5 mm. Gambar 3.7(g). 61
  16. 16. (a). Penggeseran selongsong isolasi tembaga Berlapis screen (merah & hitam) screen. (b).penyolderan pita anyaman © pelilitan jarring screen tembaga (d).pemasangan armor menutupi selubung kabel berlapis timah putih pada dengan lapisan Alumunium. Plastik Pelindung Rel Klip penyambung (e).Pembuangan plastik pelindung selongsong Perekat di bagian lembaran selongsong sambungan luar (f).Pemasangan lembaran luar melingkupi seluruh Raychem 62
  17. 17. (g). penciutan selongsong luar mendingin (h). dibiarkan sambungan Keseluruhan sambungan sendiri sampai sama dengan temperatur sekitarnya 3.1.6 Menghitung Luas Konektor Persamaan 3.1 digunakan untuk menghitung luas konektor C=( ) x 100 (3.1) Luas awal adalah luas konektor dan luas penghantar kabel, sebelum dilakukan pengepresan. Luas awal = Luas Konektor + Luas Penghantar Kabel = x (D12 - Dd2) + n x x D2 = x [ D12 – Dd2 + (n x D2)] (3.2) Dimana: D1 = Diameter luar konektor sebelum dipres (mm) Dd = Diameter dalam konektor sebelum dipres (mm) N = Jumlah penghantar kompak kabel D = Diameter setiap penghantar kompak (mm) Luas akhir adalah luas konektor beserta penghantar kabel setelah dilakukan pengepresan. Pengepresan dilakukan dengan menggunakan dies yang berbentuk heksagonal, dimana luas permukaan heksagonal tersebut adalah luas akhir pengepresan: Luas Akhir = Ds2 Sin (3.3) 63
  18. 18. Dimana Ds = Ukuran dies pengepresan (mm) Gambar 3.8 Ukuran dies konektor setelah dipres Dari persamaan (3.2) dan (3.3), maka persamaan (3.4) menjadi : C={1- } x 100 (3.4) Dimana: C= Konstanta pengerutan konduktor kabel setelah dipres, yang besarnya tergantung dari jenis materi penghantar C>15% (Untuk penghantar kompak, alumunium) C>10% (Untuk penghantar kompak, tembaga) Sebagai contoh: Gambar 3.9 Konektor tipe 150/240 mm² Konektor yang dipakai pada sambungan ciut panas berukuran 240 mm², mempunyai diameter luar 25 mm dan diameter dalam 16,5 mm. Digunakan untuk menyambung penghantar kompak NA2XSEFGbY. Jika dilihat dari karakteristik mekanikalnya, kabel tersebut memiliki harga n=34 dan D=3,14 mm, maka berapa ukuran dies konektor yang sesuai. Oleh karena kabel NA2XSEFGbY, berpenhantar kompak dan terbuat ari alumunium, maka konstanta C diambil sebesar 16%. 64
  19. 19. C= { } x 100 16%= { } x 100 0,16=( =0,84 Ds²x0,866=459,552 Ds²=530,66 Ds=23,03 Maka konektor tersebut mempunyai dies sebesar 23,03 mm. 3.1.7 Intruksi Umum Penyambungan Pada saat pemasangan sambungan ciut panas, para penyambung/jointer harus memperhatikan intruksi-intruksi di bawah ini sebelum melakukan proses penciutan pada bagian-bagian sambungan yang terbuat dari bahan ciut panas: 1. Gunakan gas LPG, propane atau butane sebagai bahan bakar, jangan menggunakan minyak tanah 2. Atur alat pembakar (brander) untuk mendapatkan api yang berwarna biru dengan ujung api yang berwarna kuning, hindarkan penggunaan api biru yang runcing pada brender. 3. Brender diarahkan menuju arah penciutan. 4. Api harus disapukan secara merata untuk menghindari pemusatan panas. 5. Bersihkan minyak yang mungkin menempel pada permukaan yang akan tertutup perekat. 6. Selongsong-selongsong yang disuplai tidak boleh dipotong (dikurangi). 7. Penciutan selongsong dimulai dari bagian tengah, selanjutnya menuju tepi-tepi selongsong. Hal ini dilakukan guna mencegahterperangkapnya udara di dalam selongsong. 65
  20. 20. 8. Penciutan selongsong harus merata di sekeliling tempat penciutan dimulai, kemudian barulah penciutan diteruskan melaju ke tempat berikutnya. 9. Selongsong yang diciutkan harus rata tidak boleh berkerut. 3.1.8 Sambungan Sejenis (Straight Joint) Sebelum melakukan pemasangan, para jointer sebaiknya melakukan pemeriksaan visual terhadap komponen-komponen yang diperlukan dalam penyambungan antara dua kabel yang sejenis (tipe IJKA 150/240-SO). Komponen-komponen tersebut antara lain: No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tabel 3.2 Komponen-komponen sambungan tipe IJKA 150/240-SO Nama Komponen Jumlah Konektor 3 buah Pita mastik kuning panjang 6 buah Pita mastik kuning pendek 12 buah Minyak silikon 3 sachet Pita mastik merah 12 buah Selongsong pengendali stress (hitam) 3 buah Selongsong isolasi (merah) 3 buah Selongsong isolasi barlapis screen (merah/hitam) 3 buah Pita anyaman tembaga lapis timah 3 buah Jaring screen tembaga lapis timah 3 buah 11 Selongsong luar pelindung keseluruhan sambungan 1 lembar 12 Kawat pengikat screen tembaga Kawat pengikat armor 13 Pita ampelas 14 Timah solder 15 cairan pembersih (TCE) + lap 16 Armor (susunan pita baja) pelindung mekanis 17 Klem pengikat armor 18 Pita kain katun 19 Rel penjepit selongsong luar 20 Klip penyambung rel 2 gulung 1 gulung 2 buah 1 gulung 1 set 1 lembar 2 buah 1 rol 3 buah 2 buah a. Persiapan kabel untuk Sambungan Tipe IJKA 150/240-SO (XLPE-XLPE) 1. Atur kedudukan dua ujung kabel yang akan disambung hingga sejajar, dengan tumpang tindih sekitar 150 mm, buat tanda (garis) di tengah-tengah bagian yang tumpang tindih seperti gambar 3.10(a), dan potong kedua ujung kabel di titik tersebut. 2. Kupas selubung luar ujung kabel A sepanjang 900 mm. Gambar 3.10 (b) 66
  21. 21. 3. Kupas selubung luar ujung kabel B sepanjang 600 mm. Gambar 3.10(c ) 4. Potong dan kupas armor kabel A dan B sepanjang 50 mm dari kupasan selubung kabel, seperti gambar 3.10(d). Ikat ujungnya dengan kawat pengikat armor. 5. Kupas selubung dalam kabel A dan B sepanjang 20 mm dari ujung armor, seperti gambar 3.10(e). Pengupasan dilakukan secara hati-hati, jangan sampai melukai atau merusak screen tembaga. 6. Buang bahan pengisi (filter) yang ada di antara inti kabel. 7. Potong dan kupas screen tembaga masing-masing inti kabel A dan B sepanjang 210 mm dari ujung kabel. Gambar 3.10 (f). Tepi potongan harus rata dan tidak tajam (bergerigi). 8. Ikat tepi screen tembaga dengan kawat tembaga yang disediakan. 9. Potong dan kupas screen semikonduktip sepanjang 30 mm dari ujung screen tembaga. Gambar 3.10(g). Ujung potongan screen semikonduktip harus rata, dan perhatikan alat pemotong agar tidak menggores atau melukai permukaan isolasi pada saat pemotongan. 10. Kupas ujung-ujung isolasi masing-masing inti kabel A dan B sepanjang setengah panjang konektor ditambah maksimum 5 mm. Gambar 3.10 (h). 11. Tempat berturut-turut selongsong pengendali stress (hitam), selongsong isolasi (merah), selongsong isolasi berlapis screen (merah dan hitam) pada masing-masing inti kabel A (kabel yang kupasan luarnya lebih panjang). Atur kedua ujung kabel hingga sejajar Kupas selubung luar kabel A 67
  22. 22. Kupas selubung luar kabel B Kupas armor kabel A dan B Kupas selubung dalam kabel A dan B Kupas screen tembaga masing-masing inti kabel A dan B Potong dan kupas screen semikonduktip Kupas ujung-ujung isolasi masing-masing inti kabel A dan B Gambar 3.10 Persiapan kabel untuk penyambungan tipe IJKA 150/240-SO (XLPE-XLPE) Jika dilihat secara keseluruhan, maka konstruksi persiapan kabel adalah seperti gambar di bawah ini: 68
  23. 23. Gambar 3.11 Konstruksi persiapan kabel untuk sambungan tipe IJKA 150/240-SO secara keseluruhan 69

×