Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
Prospek Pengembangan Kelembagaan 
Petani Masa Mendatang: 
“The Future is Created” 
Syahyuti 
Batang Kaluku – 5 November 20...
Materi presentasi: 
1. Pengertian LEMBAGA vs ORGANISASI 
2. Kebijakan pengorganisasian petani 
3. Kebutuhan organisasi pet...
Kondisi yang kita hadapi : 
Organisasi-organisasi petani tidak berkembang baik. 
Penyebabnya adalah: 
1. Pada sisi keilmua...
Satu, 
Pengertian Lembaga (Institution) dan 
Organisasi (Organization) 
4
Richard Scott (Stanford 
University, USA.) 2008. 
“Institutions and 
Organizations”. Third Edition. 
SAGE Publications, In...
Kekeliruan yang sering terjadi: 
1. Menyebut “lembaga” (institution) sama 
dengan “organisasi” (organization). Contoh: 
Ke...
“Institution” dan “Organization” berbeda: 
 “Organizational and Institutional Approaches To Regulation” (judul 
sub bab b...
 The core concept of the new institutional economics is transaction cost - 
the cost of negotiating, securing, and comple...
• I postulated that institutions are variously comprised of “cultural-cognitive, 
normative and regulative elements that, ...
• .....a modern approach to organization characteristics. Modern theories 
are based on the concept that the organization ...
Ketidakkonsistenan konsep di level akademisi: 
• “What contstitutes an ‘institution’ is a subject of continuing debate 
am...
Ketidakkonsistenan Istilah dalam Produk Legislasi Pemerintah 
(1). Dokumen Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutana...
(3). Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyaraat (PNPM) Mandiri tahun 
2008. 
• “Meningkatnya kapasitas kelembaga...
(4). Undang-Undang No. 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan 
Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. 
• ”Kelembagaan petani...
Pola yang terlihat: 
1. Tidak ada kesamaan konsep antar produk 
legislasi/pedoman 
2. Mengorganisasikan petani dalam organ...
 Lembaga (institution) = merupakan hal-hal yang menjadi penentu 
dalam perilaku manusia dalam masyarakat yakni berupa nor...
Rekonseptualisasi “Lembaga” dan “Organisasi” 
In English Biasa 
diterjemahkan 
menjadi 
Terminologi 
semestinya 
Batasan d...
Institutions 
(Lembaga) = norma 
+ aturan + cultural 
cognitive 
Organization = 
organisasi 
Network = 
jaringan 
= indivi...
Menurut New Institutionalism (Scott, 2008), ada 3 pilar dalam lembaga: 
1.Regulative pillar  “rules define relationship a...
Berkenaan dengan organisasi: 
1. Individual organization. Anggotanya individu. 
Misal kelompok tani, koperasi primer. Aspe...
Dinas Pertanian BPP - Penyuluhan LSM, Perguruan 
tinggi, dll 
Supporting organization 
Desa A Desa B 
Secondary 
Individua...
Bagaimana menganalisis organisasi? 
Pedoman singkat untuk menilai sebuah organisasi 
(Short Guide for Organizational Asses...
Analisis Kelembagaan 
contoh: analisis kelembagaan penyuluhan pertanian 
Aspek Objek nya Analisis kelembagaan 
1. Aspek 
r...
Aspek Objeknya Analisis kelembagaan 
2. Aspek 
normatif 
Norma-norma kerja 
pada tenaga penyuluh 
Bagaimana penyuluh meman...
Aspek Objeknya Analisis kelembagaan 
3. Aspek 
kultural kognitif 
Pengetahuan pengambil 
kebijakan ttg kegiatan 
penyuluha...
Analisis Keorganisasian Penyuluhan 
Aspek Objeknya Analisis kelembagaan 
4. Aspek 
keorganisasian 
Struktur keorganisasian...
REKAYASA KELEMBAGAAN 
contoh: penguatan kelembagaan petani kecil : 
Aspek Upaya yang dapat dilakukan 
1. Regulatif -Menyus...
Dua, 
Kebijakan ORGANISASI petani di 
Indonesia 
28
Kebijakan baru tentang organisasi petani: 
1. UU No 19-2013 tentang Pemberdayaan dan 
Perlindungan Petani, 
2. UU No 16-20...
UU No 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan 
Pemberdayaan Petani: 
Pasal 1: 
• Kelembagaan Petani = lembaga yang 
ditumbu...
Pasal 69: Pembentukan kelembagaan dilaksanakan 
dengan perpaduan dari budaya, norma, nilai, dan 
kearifan lokal Petani. 
P...
Pasal 76: (1) Asosiasi Komoditas Pertanian merupakan lembaga 
independen nirlaba yang dibentuk oleh, dari, dan untuk Petan...
Pasal 79: 
(1) Dewan Komoditas Pertanian Nasional sebagaimana 
dimaksud dalam Pasal 70 ayat (1) huruf d bersifat nirlaba 
...
Kelembagaan Ekonomi Petani: 
Pasal 80: 
(1) Badan usaha milik Petani dibentuk oleh, dari, dan untuk Petani 
melalui Gabung...
Tiga, 
Organisasi Petani Ke DEPAN 
35
Aktivitas agribisnis dan organisasi-organisasi yang dapat menjalankannya (teoritis): 
Aktivitas 
Agribisnis 
Kel. Tani Gap...
Relasi yang dijalankan petani dalam menjalankan usaha 
(studi kasus di Kec Ciawi, Jabar, 2012): 
37 
Aktivitas (pemenuhan ...
Fungsi yg harus dipenuhi organisasi petani: 
1. Fungsi administrasi pembangunan 
(kepentingan proyek) 
2. Fungsi komunikas...
Kondisi saat ini dan kebutuhan masa depan organisasi petani: 
Fungsi Bentuk relasi Pelaku selama ini Pelaku ke depan 
1. A...
Justifikasi “organisasi politik” petani: 
Buku: “Konsep Strategi Induk Pembangunan Pertanian 2013 – 2045”: 
• Pilar dan st...
Siapa yang sebaiknya membina organisasi petani? 
Organisasi petani Pembina selama ini Pembina semestinya 
1. Kelompok tani...
Syarat ntuk menciptakan 
ORGANISASI petani yang kuat: 
1. Dari sisi teknis = penyatuan berbagai organisasi-organisasi yang...
Contoh: penguatan organisasi permodalan 
petani di desa dengan PENYATUAN 
• Pasal 4 dan 5 UU No 1 Tahun 2013 tentang Lemba...
Penyaturan organisasi permodalan di desa: 
Organisasi pengelola 
permodalan 
Jumlah modal 
(Rp ) 
Potensi pendapatan 
(+ 1...
Terima kasih banyak, semoga BERGUNA 
email: syahyuti@gmail.com 
45
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Prospek kelbgaan petani bt kaluku (yuti)

656 views

Published on

kelembagaan = regulatif + normatif + kultural kognitif + organisasi. Rancangan organisasi petani masa depan, penyuluhan, pendekatan, kebutuhan organisasi petani, dll. Presentasi di BBPP Batang Kaluku Gowa 5 november 2014 di hadapan dosen STPP, widyaiswara, penyuluh, petani, badan koordinasi penyuluhan dan Bapeluh.

Published in: Science
  • Be the first to comment

Prospek kelbgaan petani bt kaluku (yuti)

  1. 1. Prospek Pengembangan Kelembagaan Petani Masa Mendatang: “The Future is Created” Syahyuti Batang Kaluku – 5 November 2014 1
  2. 2. Materi presentasi: 1. Pengertian LEMBAGA vs ORGANISASI 2. Kebijakan pengorganisasian petani 3. Kebutuhan organisasi petani ke depan 2
  3. 3. Kondisi yang kita hadapi : Organisasi-organisasi petani tidak berkembang baik. Penyebabnya adalah: 1. Pada sisi keilmuan = konsep dan teori berkenaan tentang “lembaga” dan “organisasi” lemah, tidak konsisten, tidak ada konsep dan teori baku tentang lembaga dan organisasi. 2. Dari sisi kebijakan = inkosistensi konsep lembaga dan organisasi, pendekatan searah, “pemaksaan” organisasi, organisasi adalah “wakil pusat di desa”, ego sektoral, dll 3. Pada diri aparat = lemah dan keliru tentang konsep, sikap, dan metode dalam mengorganisasikan petani. 4. Pada diri petani = belum mampu mengorganisasikan diri secara efektif, petani “terpaksa” berorganisasi. 3
  4. 4. Satu, Pengertian Lembaga (Institution) dan Organisasi (Organization) 4
  5. 5. Richard Scott (Stanford University, USA.) 2008. “Institutions and Organizations”. Third Edition. SAGE Publications, Inc Institution= “….are composed of cultured-cognitive, normative, and regulative elements that, together with associated activities and resources, provide stability and meaning of social live”. 5
  6. 6. Kekeliruan yang sering terjadi: 1. Menyebut “lembaga” (institution) sama dengan “organisasi” (organization). Contoh: Kelembagaan subak. Padahal dalam literatur berbahasa Inggris subak adalah ”nonformal organization”. 2. Menganggap dengan membuat organisasi telah menyelesaikan masalah kelembagaan 3. Menganggap dengan mempelajari organisasi (dan jaringan) telah menganalisis kelembagaan 4. Kajian kelembagaan biasanya hanya meneliti kebijakan-kebijakan, belum termasuk norma-norma, dan kultural kognitif. 6
  7. 7. “Institution” dan “Organization” berbeda:  “Organizational and Institutional Approaches To Regulation” (judul sub bab buku)  Institution is any persistent structure or mechanism of social ordergoverning the behaviour of a set of individuals within a given community.  “The Oxford Handbook Of Sociology And Organization Studies: Classical Foundations” (book)  “The New Institutionalisms in Economics and Sociology: The Handbook of Economic Sociology” (book).  “institution" is commonly applied to customs and behavior patterns important to a society  The focus on institutions as a foundational concept in the social sciences has given rise to a variety of new institutionalist approaches.  New Institutional Economics  The differences between the old and new institutionalisms may have been overstated, however (Rutherford 1994). 7
  8. 8.  The core concept of the new institutional economics is transaction cost - the cost of negotiating, securing, and completing transactions in a market economy.  Mobilizing Rural Institutions for Sustainable Livelihoods and Equitable Development (book)  “Institutional Theory: Contributing to a Theoretical Research Program” (book of W. Richard Scott)  Institutional theory attends to the deeper and more resilient aspects of social structure. It considers the processes by which structures, including schemas, rules, norms, and routines, become established as authoritative guidelines for social behavior.  Given the complexity and variety of the current scene, I restrict attention in this chapter to more recent institutional work carried out by organizational sociologists and management scholars. And, within this realm, I concentrate on macro perspectives, examining the structure of wider environments and their effects on organizational forms and processes. (For a related approach, with emphasis on the micro-foundations of institutional theory, see Zucker......) 8
  9. 9. • I postulated that institutions are variously comprised of “cultural-cognitive, normative and regulative elements that, together with associated activities and resources, provide stability and meaning to social life” (Scott 2001) • First, we needed to recognize that institutional environments are not monolithic, but often varied and conflicted. • Second, while recognizing that actors are institutionally constructed, it is essential to affirm their (varying) potential for reconstructing the rules, norms and beliefs that guide—but do not determine—their actions • Classical Organization Theory: .....based on the concept of planning of work to achieve efficiency, standardization, specialization and simplification. • Weber's bureaucratic approach considers the organization as a part of broader society. The organization is based on the principles of structure, specialization, predictability and stability, rationality, and democracy. 9
  10. 10. • .....a modern approach to organization characteristics. Modern theories are based on the concept that the organization is an adaptive system which has to adjust to changes in its environment. Discuss the important characteristics of the modern approach to organizations. Modern theories include the systems approach, the socio-technical approach, and the contingency or situational approach • ....discuss the concept of integration and coordination in the organization. These are controlling mechanisms for smooth functioning of the organization. Organizational differentiation is the unbundling and re-arranging of the activities. Integration is re-grouping and re-linking them. • ....discuss the process in the organization, which involves the concept of power, decision making and communication. • Communication is another important process in the organization and is a key mechanism for achieving integration and coordination of the activities of specialized units at different levels in the organization. • Classical organization theories (Taylor, 1947; Weber, 1947; Fayol, 1949) deal with the formal organization and concepts to increase management efficiency 10
  11. 11. Ketidakkonsistenan konsep di level akademisi: • “What contstitutes an ‘institution’ is a subject of continuing debate among social scientist….. The term institution and organization are commonly used interchangeably and this contributes to ambiguityand confusion” (Uphhof, 1986). • “The existing literature is a jungle of conflicting conceptions, divergent underlying assumptions, and discordant voices” (Scott, 2008). • “Belum terdapat istilah yang mendapat pengakuan umum dalam kalangan para sarjana sosiologi untuk menterjemahkan istilah Inggris ‘social institution’……. Ada yang menterjemahkannya dengan istilah ‘pranata’ ….. ada pula yang ‘bangunan sosial” (Soemardjan dan Soemardi, 1964).’ • ”The words ‘institution’ and ‘organization’ are usually used interchangeably or inclusively and often lead to misunderstandings and misguided interventions” (Lobo, 2008). • Horton dan Hunt (1984): social institution mencakup aspek organisasi, sebaliknya ada yang memasukkan aspek-aspek lembaga dibawah topik social organization. 11
  12. 12. Ketidakkonsistenan Istilah dalam Produk Legislasi Pemerintah (1). Dokumen Revitalisasi Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (RPPK) tahun 2005. • Dibedakan antara ”kebijakan pengembangan kelembagaan” dengan ”kebijakan pengembangan organisasi ekonomi petani”. • kelembagaan = sesuatu yang berada di ”atas petani” • organisasi = berada di level petani. • (=keduanya “organisasi”). (2). Permentan 273-2007 ttg Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani. • Dalam batasan: tidak dicakup apa itu “lembaga”, “kelembagaan”, dan “organisasi” • “Menumbuhkembangkan kemampuan manajerial, kepemimpinan, dan kewirausahaan kelembagaan tani serta pelaku agribisnis lainnya”. • “Memfasilitasi penumbuhan dan pengembangan kelembagaan tani baik non formal maupun formal serta terlaksananya berbagai forum kegiatan” • “Menginventarisasi kelompoktani, GAPOKTAN dan kelembagaan tani lainnya yang berada di wilayah kabupaten /kota”. • (“kelembagaan tani” = organisasi-organisasi milik petani). • ”Merencanakan dan melaksanakan pertemuan-pertemuan berkala baik di dalam Gapoktan, antar Gapoktan atau dengan instansi/lembaga terkait” (“lembaga” = organisasi milik pemerintah). 12
  13. 13. (3). Pedoman Umum Program Nasional Pemberdayaan Masyaraat (PNPM) Mandiri tahun 2008. • “Meningkatnya kapasitas kelembagaan masyarakat yang mengakar, representatif, dan akuntabel”. • “PNPM Mandiri diarahkan menggunakan dan mengembangkan secara optimal kelembagaan masyarakat yang telah ada”. • ( “kelembagaan masyarakat” = organisasi) • “Dimensi kelembagaan masyarakat meliputi proses pengambilan keputusan dan tindakan kolektif, organisasi, serta aturan main”. (sudah mencakup aspek-aspek lembaga). • “Harmonisasi kelembagaan dilakukan melalui pengembangan dan penguatan kapasitas kelembagaan yang telah ada dengan cara meningkatkan kapasitas pengelola, memperbaiki kinerja dan etika lembaga, dan meningkatkan tingkat keterwakilan berbagai lembaga yang ada”. (“harmonisasi kelembagaan” = manajemen kegiatan, “kelembagaan yang telah ada” = organisasi). • “Konsolidasi organisasi pelaksana program sektor yang bersifat adhoc dan koordinasi berbagai kelompok masyarakat yang ada oleh lembaga keswadayaan masyarakat di desa/ kelurahan” • ”Kelembagaan PNPM Mandiri di desa/kelurahan adalah lembaga keswadayaan masyarakat yang dibentuk, ditetapkan oleh masyarakat, ...” • (Lembaga keswadayaan masyarakat (LKM) = nama organik 13
  14. 14. (4). Undang-Undang No. 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan. • ”Kelembagaan petani, pekebun, peternak nelayan, pembudi daya ikan, pengolah ikan, dan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan adalah lembaga yang ditumbuhkembangkan dari, oleh, dan untuk pelaku utama”. ( “kelembagaan” dan “lembaga” = organisasi). • ”Kelembagaan penyuluhan adalah lembaga pemerintah dan/atau masyarakat yang mempunyai tugas dan fungsi menyelenggarakan penyuluhan” • “Kelembagaan penyuluhan terdiri atas: kelembagaan penyuluhan pemerintah; kelembagaan penyuluhan swasta; dan kelembagaan penyuluhan swadaya” • (“kelembagaan” = organisasi). 14
  15. 15. Pola yang terlihat: 1. Tidak ada kesamaan konsep antar produk legislasi/pedoman 2. Mengorganisasikan petani dalam organisasi formal disebut sebagai upaya lembaga dan kelembagaan 3. Yang dibentuk hanya organisasi formal dan pemerintah hanya bekerja hanya dengan organisasi formal 4. Istilah yang sering dipakai = “kelembagaan” dan “organisasi”. 5. Tanpa sadar kita berusaha meminggirkan petani-petani yang tidak berorganisasi. 15
  16. 16.  Lembaga (institution) = merupakan hal-hal yang menjadi penentu dalam perilaku manusia dalam masyarakat yakni berupa norma, nilai-nilai, aturan formal dan nonformal, dan pengetahuan kultural. Keseluruhan ini menjadi pedoman dalam berperilaku aktor (individu dan organisasi), memberi peluang (empower) namun sekaligus membatasi (constraint) aktor.  Kelembagaan (institutional) = segala hal yang berkenaan dengan lembaga.  Organisasi (organization) = adalah kelompok sosial yg sengaja dibentuk oleh sekelompok orang, memiliki anggota yang jelas, dibentuk untuk mencapai tujuan tertentu, dan memiliki aturan yang dinyatakan tegas (biasanya tertulis). Organisasi adalah aktor sosial dalam masyarakat sebagaimana individu. Contoh: koperasi, kelompok tani, Gabungan kelompok tani, dan kelompok wanita tani.  Keorganisasian (organizational) = hal-hal berkenaan dengan organisasi misalnya perihal kepemimpinan dalam organisasi, keanggotaan, manajemen, keuangan organisasi, kapasitas organisasi, serta relasi dengan organisasi lain. 16
  17. 17. Rekonseptualisasi “Lembaga” dan “Organisasi” In English Biasa diterjemahkan menjadi Terminologi semestinya Batasan dan materinya 1. institution Kelembagaan, institusi Lembaga norma, regulasi, pengetahuan-kultural. Menjadi pedoman dalam berperilaku aktor 2. institutional Kelembagaan, institusi Kelembagaan Hal-hal berkenaan dengan lembaga. 3. organization Organisasi, lembaga, kelembagaan Organisasi social group, yg sengaja dibentuk, punya anggota, utk mencapai tujuan tertentu, aturan dinyatakan tegas. (kelompok tani, koperasi, Gapoktan) 4. organizational Keorganisasian, kelembagaan Keorganisasi an Hal-hal berkenaan dengan organisasi (struktur org, anggota, kepemimpinannya, manajemennya, dll). 17
  18. 18. Institutions (Lembaga) = norma + aturan + cultural cognitive Organization = organisasi Network = jaringan = individu 18
  19. 19. Menurut New Institutionalism (Scott, 2008), ada 3 pilar dalam lembaga: 1.Regulative pillar  “rules define relationship among role”  rule setting, monitoring, sanksi  kapasitas untuk menegakkan aturan  reward and punishment  melalui mekanisme informal (folkways) dan formal (polisi, pengeadilan)  represi, constraint, dan meng-empower aktor 2.Normative pillar  norma menghasilkan preskripsi (=lebih dari antisipasi dan prediksi), evaluatif, dan tanggung jawab  mencakup: value (= prefered and desirable) dan norm (how things should be done)  Gunanya agar tahu apa goal dan objectives kita, dan cara mencapainya  meng-constraint dan meng-empower aktor 3.Cultural-cognitive pillar  Intinya meaning  Konsep bersama tentang kehidupan sosial dan kerangka dimana makna-makna diproduksi  Sedimentasi makna dan kristalisasi makna dalam bentuk objektif  Berisi proses interpretatif internal yang dibentuk oleh kerangka kultural eksternal  Situation shared secara kolektif  Bersifat individual dan variatif  Culture = what is and what should be 19
  20. 20. Berkenaan dengan organisasi: 1. Individual organization. Anggotanya individu. Misal kelompok tani, koperasi primer. Aspeknya = kepemimpinan, keanggotaan, manajemen, keuangan organisasi, dll. 2. Second level organization / interorganization. Anggotanya ind organization, misal Gapoktan, koperasi sekunder 3. Supporting organization. Misal Pemda, penyuluh, Dinas Peratnain, dll 4. Inter relation organization. Misal relasi antar kelompok tani, relasi vertikal dan horozontal, dll. 20
  21. 21. Dinas Pertanian BPP - Penyuluhan LSM, Perguruan tinggi, dll Supporting organization Desa A Desa B Secondary Individual org Individual org institution Secondary organization organization Individual org Individual org Individual org Individual org Interrelation organization institution institution institution 21
  22. 22. Bagaimana menganalisis organisasi? Pedoman singkat untuk menilai sebuah organisasi (Short Guide for Organizational Assessment): 1. Bagaimana kinerja organisasi (organizational performance)? 2. Bagaimana kemampuan organisasi tumbuh di lingkungannya (the enabling environment and organizational performance) ? 3. Bagaimana motivasi organisasi (organizational motivation) ? 4. Seberapa kuat kapasitas Organisasi (organizational capacity) ? 22
  23. 23. Analisis Kelembagaan contoh: analisis kelembagaan penyuluhan pertanian Aspek Objek nya Analisis kelembagaan 1. Aspek regulatif UU no 16 tahun 2006 merupakan pedoman Apakah UU ini diterapkan, dijadikan pedoman, diterima, ditolak? Bagian mana yg diterima, kenapa? Permentan No. 61 Tahun 2008 ttg Pedoman Pembinaan Penyuluh Pertanian Swadaya Dan Penuyuh Pertanian Swasta Persepsi penyuluh dan pihak lain terhadap aturan ini? Realisasi dan kendalanya bagaimana? Peraturan daerah Pemda ttg penganggaran dan pengorganisasian Kajian kebijakan, konsistensi nya dengan UU di atasnya, bagaimana realisasinya? Dll. Pedoman untuk manajemen kerja penyuluh Apakah pedoman dijalankan, apa masalahnya, bagaimana konsistensinya dengan teori dan kebijakan di atasnya? 23
  24. 24. Aspek Objeknya Analisis kelembagaan 2. Aspek normatif Norma-norma kerja pada tenaga penyuluh Bagaimana penyuluh memandang pekerjaannya, apakah sesuatu yang baik atau tidak? Apakah mereka bangga menjadi penyuluh? Persepsi ttg peran penyuluh dalam pembangunan pedesaan Apakah penyuluhan pertanian harus? Adakah opsi lain? Apakah metodenya masih efektif? Nilai-nilai atau adab dalam komunikasi yang diterapkan Apakah komunikasi menunjukkan dominansi, pemaksaan? Apakah itu boleh? Baik? Nilai-nilai dalam materi penyuluhan Apakah memberikan materi yang sesuai dengan etika petani? 24
  25. 25. Aspek Objeknya Analisis kelembagaan 3. Aspek kultural kognitif Pengetahuan pengambil kebijakan ttg kegiatan penyuluhan Bagaimana tingkat pengetahuan pengambil kebijakan tentang konsep dan teori penyuluhan? Apa agenda tersembunyi di belakangnya? Pengetahuan tenaga penyuluh tentang kebijakan, organisasi, dan metode penyuluhan Bagaimana pengetahuan dan persepsi tenaga penyuluh (tua, muda, laki-laki, perempuan) ttg kegiatan penyuluhan? Bagaimana dan mengapa persepsi itu terbentuk? Pengetahuan petani tentang kegiatan penyuluhan, pembangunan pertanian, dll Apa pengetahuan petani ttg kegiatan penyuluhan? Apakah perlu atau tidak? Apa latar sosial ekonomi sehingga itu terbentuk? Pengetahuan petani tentang materi penyuluhan Bagaimana persepsi petani tentang materi yang disampaikan? Sesuai dengan kebutuhan petani atau tidak? Bagaimana itu terbentuk? Bagaimana persepsi petani dapat menjadi feed back? 25
  26. 26. Analisis Keorganisasian Penyuluhan Aspek Objeknya Analisis kelembagaan 4. Aspek keorganisasian Struktur keorganisasian pelaksana penyuluhan Organisasi apa saja yang terlibat dari atas sampai bawah? Pusluh, Badan Penyuluhan Pemda, perguruan tinggi, NGO? Kinerja organisasi Bagaimana kinerja organisasi penyuluhan yg eksis? Kuat, atau lemah? Dimana dan kenapa? Kapasitas organisasi penyuluhan Bagaimana kemampuan BPP menjalankan penyuluhan? Apakah Gapoktan mampu membantu nya? Mengapa? Kondisi dan kinerja organisasi petani Apa saja organisasi petani yang eksis? Apa perannya? Mengapa demikian? Bagaimana agar bisa membantu penyuluhan? Perlu kah bentuk baru Hubungan antar organisasi Bagaimana relasi antar organisasi? Adakah dominansi ataukah demokratis? Relasi horizontal dan vertikal? Integrasi dan koordinasinya bagaimana? 26
  27. 27. REKAYASA KELEMBAGAAN contoh: penguatan kelembagaan petani kecil : Aspek Upaya yang dapat dilakukan 1. Regulatif -Menyusun UU, PP, Permen, Perda yang berpihak ke pada petani kecil. Memasukkan “buruh petani” sebagai PETANI. -Mensosialisasikan, menegakkan, dan mengawasi kebijakan yg telah dibuat -Memberi sanksi kepada Pemda jika kebijakan tidak dijalankan. 2. Normatif -Merubah persepsi dan mental bahwa petani kecil lemah, tidak efisien, harus disingkirkan. -Menghargai petani kecil (karena lebih mandiri, ekologis, dll). -Menumbuhkan sikap bahwa petani kecil PENTING 3. Kognitif -Menyusun tulisan (ilmiah dan pouler) bahwa petani kecil adalah kunci ketahanan pangan ke depan (FAO: “small farmer feed the world”) -Memasukkan materi dan membuat modul bahan ajar di perguruan tinggi, STPP, BLPP, dll bahwa petani kecil penting. -Memberi pelatihan tentang metode pemberdayaan petani kecil 4. Keorganisasian -Memperkuat organisai petani kecil (misal: kelompok khusus untuk buruh tani, untuk petani gurem, dll) -Memberikan kemudahan dalam pembentukan badan hukum organisasi petani kecil, dst 27
  28. 28. Dua, Kebijakan ORGANISASI petani di Indonesia 28
  29. 29. Kebijakan baru tentang organisasi petani: 1. UU No 19-2013 tentang Pemberdayaan dan Perlindungan Petani, 2. UU No 16-2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, 3. UU No 17- 2012 tentang Perkoperasian, 4. UU No 1-2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro, dan 5. Permentan No 82-2013 tentang Pedoman Pembinaan Kelompok Tani dan Gapoktan. 29
  30. 30. UU No 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani: Pasal 1: • Kelembagaan Petani = lembaga yang ditumbuhkembangkan dari, oleh, dan untuk Petani guna memperkuat dan memperjuangkan kepentingan Petani. • Asosiasi Komoditas Pertanian = kumpulan dari Petani, Kelompok Tani, dan/atau Gabungan Kelompok Tani untuk memperjuangkan kepentingan Petani. • Dewan Komoditas Pertanian Nasional = suatu lembaga yang beranggotakan Asosiasi Komoditas Pertanian untuk memperjuangkan kepentingan Petani 30
  31. 31. Pasal 69: Pembentukan kelembagaan dilaksanakan dengan perpaduan dari budaya, norma, nilai, dan kearifan lokal Petani. Pasal 70: (1) Kelembagaan Petani sebagaimana terdiri atas: Kelompok Tani, Gapoktan, Asosiasi Komoditas Pertanian, dan Dewan Komoditas Pertanian Nasional. (2) Kelembagaan Ekonomi Petani berupa badan usaha milik petani. Pasal 71: Petani berkewajiban bergabung dan berperan aktif dalam Kelembagaan Petani. 31
  32. 32. Pasal 76: (1) Asosiasi Komoditas Pertanian merupakan lembaga independen nirlaba yang dibentuk oleh, dari, dan untuk Petani. (2) Petani dalam mengembangkan Asosiasinya dapat mengikutsertakan Pelaku Usaha, pakar, dan/atau tokoh masyarakat yang peduli terhadap kesejahteraan Petani. Pasal 77: Asosiasi Komoditas Pertanian dapat berkedudukan di kabupaten/kota atau provinsi. Pasal 78: Asosiasi Komoditas Pertanian bertugas: a. menampung dan menyalurkan aspirasi Petani; mengadvokasi dan mengawasi pelaksanaan kemitraaan Usaha Tani; c. memberikan masukan kepada Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah dalam perumusan kebijakan Perlindungan dan Pemberdayaan Petani; d. mempromosikan Komoditas Pertanian yang dihasilkan anggota, di dalam negeri dan di luar negeri; e. mendorong persaingan Usaha Tani yang adil; f. memfasilitasi anggota dalam mengakses sarana produksi dan teknologi; dan g. membantu menyelesaikan permasalahan dalam ber-Usaha Tani 32
  33. 33. Pasal 79: (1) Dewan Komoditas Pertanian Nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 70 ayat (1) huruf d bersifat nirlaba yang merupakan gabungan dari berbagai Asosiasi Komoditas Pertanian. (2) Dewan Komoditas Pertanian Nasional berfungsi sebagai wadah untuk menyelesaikan permasalahan dalam ber- Usaha Tani. (3) Petani dalam mengembangkan Dewan Komoditas Pertanian Nasional dapat mengikutsertakan Pelaku Usaha, pakar, dan/atau tokoh masyarakat yang peduli pada kesejahteraan Petani. (4) Dewan Komoditas Pertanian Nasional merupakan mitra pemerintah dalam perumusan strategi dan kebijakan Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. 33
  34. 34. Kelembagaan Ekonomi Petani: Pasal 80: (1) Badan usaha milik Petani dibentuk oleh, dari, dan untuk Petani melalui Gabungan Kelompok Tani dengan penyertaan modal yang seluruhnya dimiliki oleh Gabungan Kelompok Tani. (2) Badan usaha milik Petani sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berbentuk koperasi atau badan usaha lainnya sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (3) Badan usaha milik Petani sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan skala ekonomi, daya saing, wadah investasi, dan mengembangkan jiwa kewirausahaan Petani. Pasal 81: Badan usaha milik Petani paling sedikit bertugas: a. menyusun kelayakan usaha; b. mengembangkan kemitraan usaha; dan c. meningkatkan nilai tambah Komoditas Pertanian. 34
  35. 35. Tiga, Organisasi Petani Ke DEPAN 35
  36. 36. Aktivitas agribisnis dan organisasi-organisasi yang dapat menjalankannya (teoritis): Aktivitas Agribisnis Kel. Tani Gapoktan Koperasi P3A KUBA UPJA Posludes - klinik Agb – kelompencapir 1. penyediaan benih V V V - V V - 2. Penyediaan pupuk dan obat-obatan V V V V 3. penyediaan modal V V V - V V - 4. Penyediaan alsintan V V V V 5. penyediaan air irigasi V - - V - - - 6. Penyediaan tenaga kerja V - - - - V - 7. Pengolahan hasil panen V V V - V V - 8. Pemasaran hasil panen V V V - V - - 9. penyediaan informasi pasar V V - - - V V 10. Penyediaan informasi teknologi V V V - V V V 36
  37. 37. Relasi yang dijalankan petani dalam menjalankan usaha (studi kasus di Kec Ciawi, Jabar, 2012): 37 Aktivitas (pemenuhan kebutuhan) Sec mandiri relasi individual relasi kolektif 1. benih dan bibik benih sendiri, Beli dari kios dan petani lain Bantuan pemerintah 2.pupuk dan obat-obatan pupuk organik sendiri membeli dari kios dari koperasi bantuan pemerintah 3. Modal modal sendiri Meminjam saudara, pelepas uang, dan bank dari Gapoktan 4. Lahan Lahan milik sendiri Menyewa, menyakap, membeli gadaian, dan tanah terlantar disewakan Gapoktan. 5. Pengolahan lahan TK keluarga sendiri buruh tani, ternak, traktor --- 6. air irigasi “menggiring” air sendiri Mengupahkan orang lain --- 7. Tenaga kerja TK keluarga sendiri TK tetangga dan saudara --- 8. Pengolahan hasil Olah sendiri, jasa huller --- 9. Pemasaran hasil --- Menjual ke pedagang di desa dan di pasar melalui Gapoktan 10. Teknologi Mencari sendiri Bertanya ke tetangga, saudara, penyuluh, dan ketua kelompok pertemuan di kelompok tani dan Gapoktan
  38. 38. Fungsi yg harus dipenuhi organisasi petani: 1. Fungsi administrasi pembangunan (kepentingan proyek) 2. Fungsi komunikasi (kepentingan program, wadah belajar) 3. Fungsi ekonomi (aksi kolektif) 4. Fungsi partisipasi (dalam pembangunan) 5. Fungsi perwakilan (tujuan politik). 38
  39. 39. Kondisi saat ini dan kebutuhan masa depan organisasi petani: Fungsi Bentuk relasi Pelaku selama ini Pelaku ke depan 1. Administratif Kelompok tani, Gapoktan Semakin dikurangi, gunakan cara lain 2. Komunikasi Kelompok tani, Gapoktan Semakin berkurang 3. Ekonomi Kelompok tani, Gapoktan, koperasi (lemah) Perlu semakin didorong (BUMP = koperasi, PT, dll) 4. Partisipasi Tidak ada / lemah Koperasi, KTNA, asosiasi, dll 5. Politik Tidak ada / lemah KTNA, HKTI, asosiasi, petani di legislatif (“partai petani”), dll 39
  40. 40. Justifikasi “organisasi politik” petani: Buku: “Konsep Strategi Induk Pembangunan Pertanian 2013 – 2045”: • Pilar dan strategi utama: Pengembangan sumber daya insani yang kompeten dan berkarakter (insan berkualitas, modal sosial dan modal politik) pertanian • Transformasi tatakelola pembangunan = Proses perubahan sistem pengambilan keputusan, politik dan hubungan antar institusi dalam pengelolaan sumberdaya. • Tantangan dan Peluang: Pemanfaatan momentum gerakan desentralisasi pemerintahan, partisipasi masyarakat dan reformasi tatakelola pemerintahan untuk pengembangan sistem politik pertanian yang digerakkan oleh dan berorientasi pada petani kecil • Bab “Arah Dan Landasan Konseptual”: Pertanian yang adil berkaitan dengan pemerataan dan keberimbangan kesempatan berusahatani, politik, dan jaminan penghidupan secara horizontal, spasial, sektoral, bidang pekerjaan, dan sosial. 40
  41. 41. Siapa yang sebaiknya membina organisasi petani? Organisasi petani Pembina selama ini Pembina semestinya 1. Kelompok tani, KWT, Gapoktan, P3A Kementan (Dirjend berdasarkan subsektornya) Kementan (integratif) 2. Koperasi pertanian Dinas koperasi Kementan, Dinas Koperasi 3. Perusahaan milik petani Tidak ada Kementan, dinas perindutrian, dinas perdagangan, dll 4. Asosiasi komoditas Dirjend bersangkutan Lintas instansi sbg supporting org. 5. Asosiasi profesi Tidak ada Badan SDM, penyuluhan, dll 6. KTNA Tidak ada Kementan, Kemendagri, dll 7. LSM Tidak ada Lintas instansi sbg supporting org. 8. Org. Komunitas lokal Tidak ada Lintas instansi sbg supporting org. 41
  42. 42. Syarat ntuk menciptakan ORGANISASI petani yang kuat: 1. Dari sisi teknis = penyatuan berbagai organisasi-organisasi yang kecil menjadi ckup besar hingga mencapai skala ekonomis secara manajemen dan ekonomis 2. Dari sisi struktural = hilangkan sifat ego sektoral. Merasa MEMILIKI petani. 3. Dari sisi psikologis = sikap bahwa organisasi petani adalah milik petani, memberi kesempatan kepada mereka untuk tumbuh dan berkembang (learning organization), organisasi formal adalah salah satu pilihan, tidak WAJIB, 4. Dari sisi legislasi = pelurusan konsep, konsistensi, penjelasan lebih detail, dst. 5. Jangan hanya mendirikan ORGANISASI, tapi harus membangun KELEMBAGAAN. Kelembagaan = aspek regulatif + aspek regulatif + aspek kultural kognitif + aspek keorganisasian 42
  43. 43. Contoh: penguatan organisasi permodalan petani di desa dengan PENYATUAN • Pasal 4 dan 5 UU No 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM): pendirian LKM harus berbadan hukum dan mendapat izin usaha • Bentuk badan hukum dimaksud adalah berupa Koperasi atau Perseroan Terbatas. • Maka, formalitas LKMA-PUAP (+ 47 ribu unit) harus sudah dilakukan selambatnya 8 Januari 2015 (= dua tahun setelah diundangkannya UU LKM). • Jika masing-masing menjadi koperasi (5-8 unit koperasi) = biaya pembuatan mahal, pendapatan jasa (keuntungan) kecil, sehingga tidak cukup menggaji manajer, staf, dll. Tidak mencapai SKALA EKONOMI, tidak SUSTAIN (Pengurus tidak dapat insentif, honor manajer hanya Rp 300 ribu per bulan) • Jika diSATUKAN = mencapai skala ekonomi, dan lebih SUSTAIN (bisa menggaji manajer dan staf minimal Rp 3 juta / orang/bulan) 43
  44. 44. Penyaturan organisasi permodalan di desa: Organisasi pengelola permodalan Jumlah modal (Rp ) Potensi pendapatan (+ 10 %/tahun) Potensi pendapatan Jika disatukan 1. LKMA-PUAP 100 juta 10 juta + Rp 100 juta 2. LDPM 225 juta 22,5 juta 3. LPM 50 juta 5 juta 4. Koperasi wanita 15 juta 1,5 5. KUD 300 juta 30 juta 6. koperasi pengrajin 200 juta 20 juta Tingkat sustainabilitas Keuntungan rendah, masing-masing tidak sustain Mencapai skala ekonomi, 44 SUSTAIN
  45. 45. Terima kasih banyak, semoga BERGUNA email: syahyuti@gmail.com 45

×