Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
102
FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI. Volume 23 No. 2, Desember 2005 : 102 - 115
PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KOMU...
103
PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KOMUNITAS : Kasus Rancangan Program Prima Tani Syahyuti
logi dan inovasi kelem...
104
FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI. Volume 23 No. 2, Desember 2005 : 102 - 115
“community of interest”, misalnya sekelompok...
105
PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KOMUNITAS : Kasus Rancangan Program Prima Tani Syahyuti
cang untuk meningkatka...
106
FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI. Volume 23 No. 2, Desember 2005 : 102 - 115
Satu konsep yang dekat dengan Com-
munity-Ba...
107
PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KOMUNITAS : Kasus Rancangan Program Prima Tani Syahyuti
mekanisme pengelolaan ...
108
FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI. Volume 23 No. 2, Desember 2005 : 102 - 115
teks ini, maka capacity building adalah “......
109
PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KOMUNITAS : Kasus Rancangan Program Prima Tani Syahyuti
pa prinsip yang sebaik...
110
FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI. Volume 23 No. 2, Desember 2005 : 102 - 115
bangan dilaksanakan berdasarkan wilayah
agro...
111
PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KOMUNITAS : Kasus Rancangan Program Prima Tani Syahyuti
(5) Koperatif. Setiap ...
112
FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI. Volume 23 No. 2, Desember 2005 : 102 - 115
satu bentuk community-based method dalam
pem...
113
PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KOMUNITAS : Kasus Rancangan Program Prima Tani Syahyuti
syarakatnya masih kent...
114
FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI. Volume 23 No. 2, Desember 2005 : 102 - 115
yang sangat besar yang selama ini kurang
dip...
115
PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KOMUNITAS : Kasus Rancangan Program Prima Tani Syahyuti
mandu Teknologi Inovas...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Pembangunan Pedesaan dengan Pendekatan Komunitas

419 views

Published on

Pendekatan komunitas dalam menggerakkan pembangunan pertanian di pedesaan menjadi strategi yang banyak memberi keuntungan, lebih partisipatif, juga akan lebih berkelanjutan.

Published in: Science
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Pembangunan Pedesaan dengan Pendekatan Komunitas

  1. 1. 102 FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI. Volume 23 No. 2, Desember 2005 : 102 - 115 PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KOMUNITAS: Kasus Rancangan Program Prima Tani Syahyuti Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Jl. Ahmad Yani No. 70, Bogor 16161 ABSTRACT Development concept explained in the mid of 20th century keeps improving. One of the concept improvements is application of “community-based development” concept. This concept criticizes the relatively unsuccessful rural development based on individuals and households. One of actual community-based development types is implemented in the Prima Tani Program planning. The Program planning consists of (i) the program is located at the rural areas as the smallest units, (ii) action plan was applied using participatory rural appraisal, (iii) encouraging self reliance, and (iv) uses of local institutional resources. The paper is a literature study based on the documents of Prima Tani Program planning and the writer’s involvement in filed activities of the Program planning in West Nusa Tenggara Province. The assessment shows that it is necessary to well measure communal degree of the community. This is the basis for overall program implementation. Keywords : development, community, rural areas, Prima Tani ABSTRAK Konsep pembangunan yang dijelaskan pada pertengahan abad ke 20 terus mengalami perbaikan. Salah satu bentuk perbaikan konsep adalah diterapkannya konsep “pembangunan berbasiskan komunitas”. Konsep ini dapat dipandang sebagai kritik konsep pembangunan pedesaan selama ini yang berlandaskan kepada pendekatan individual dan rumah tangga yang dinilai kurang berhasil. Salah satu bentuk konkrit pembangunan berbasiskan komunitas diterapkan dalam rancangan program Prima Tani. Hal ini setidaknya terlihat dari empat aspek yaitu: penetapan lokasi program pada desa sebagai unit terkecil, penerapan PRA dalam penyusunan rencana aksi yang dilakukan secara partisipatif, upaya meningkatkan kemandirian, serta penggunaan sumberdaya kelembagaan setempat. Tulisan ini merupakan studi literatur yang didasarkan atas dokumen- dokumen rancangan Prima Tani serta keterlibatan penulis dalam melakukan kegiatan lapang Prima Tani di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hasil penelaahan membuktikan perlunya perhatian untuk mengukur derajat komunalitas warga secara baik. Hal ini merupakan titik tolak dalam pengimplementasian program secara keseluruhan. Kata kunci: pembangunan, komunitas, pedesaaan, Prima Tani PENDAHULUAN Pembangunan berbasis komunitas sa- at ini dapat dipandang sebagai salah satu paradigma baru dalam pembangunan pedesa- an dan pertanian. Paradigma ini timbul karena kekurang-puasan dalam pendekatan sebelum- nya, yang cenderung individualistik dan bias ekonomi pasar. Penggunaan pendekatan ber- basiskan komunitas menggunakan ikatan-ika- tan horizontal sebagai pilar utama dan meng- gunakan kacamata yang lebih luas (dari seke- dar pembangunan ekonomi) dapat dipandang sebagai langkah inovatif dalam pembangunan pertanian. Ikatan horizontal dan suatu komuni- tas petani merupakan bagian dari kekuatan modal sosial (social capital) yang sangat pen- ting untuk mengembangkan berbagai tindakan kolektif. Salah satu syarat tumbuhnya tindakan kolektif tersebut adalah dengan terbangunnya suasana yang partisipatif, mulai dari perenca- naan sampai pelaksanaan. Program Rintisan dan Akselerasi Pe- masyarakatan Inovasi Teknologi Pertanian (Prima Tani) merupakan suatu model atau konsep baru pembangunan pertanian yang menggunakan paradigma pendekatan komuni- tas. Prima Tani mengandalkan inovasi tekno-
  2. 2. 103 PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KOMUNITAS : Kasus Rancangan Program Prima Tani Syahyuti logi dan inovasi kelembagaan sebagai inti aktifitas, yang diharapkan dapat berfungsi se- bagai jembatan penghubung langsung antara Badan Litbang Pertanian sebagai penghasil inovasi dengan lembaga penyampaian mau- pun pelaku agribisnis pengguna inovasi. Pada prinsipnya, Prima Tani dirancang berfungsi ganda, yaitu sebagai modus diseminasi dan sekaligus sebagai laboratorium lapang sosial ekonomi teknologi Badan Litbang Pertanian. Prima Tani dilaksanakan mulai tahun 2005, dan akan berlanjut setidaknya sampai tahun 2009. Tulisan ini berupaya memperkenalkan konsep-konsep pembangunan yang menggu- nakan basis komunitas. Program Prima Tani dijadikan sebagai objek kajian kritis, dengan mempelajari rancangan programnya, terutama mempelajari konsep-konsep pendekatan ko- munitas dalam rancangan tersebut. Tulisan ini juga sebagai abstraksi kritisi penulis melalui keterlibatan langsung penulis sebagai penyelia lapang dalam pengembangan Prima Tani di Provinsi Nusa Tenggara Barat, dalam proses penerapan Prima Tani di lapangan. PENGERTIAN ”KOMUNITAS” Dari sudut sosiologis, kata community berasal dari bahasa Latin “munus”, yang ber- makna the gift (memberi), cum, dan together (kebersamaan) antara satu sama lain. Dapat diartikan, komunitas adalah sekelompok orang yang saling berbagi dan saling mendukung sa- tu sama lain. Syarat pokok agar mereka dapat saling berbagi dan saling mendukung adalah adanya interaksi sosial sehari-hari yang inten- sif. Secara umum, komunitas (community) adalah sekelompok orang yang hidup bersama pada lokasi yang sama, sehingga mereka te- lah berkembang menjadi sebuah “kelompok hidup” (group lives) yang diikat oleh kesamaan kepentingan (common interests). Dalam sosio- logi, secara harfiah makna komunitas adalah “masyarakat setempat” (Soekanto, 1999). Ko- munitas dapat diartikan juga sebagai sekum- pulan anggota masyarakat yang hidup bersa- ma sedemikian rupa sehingga mereka dapat merasakan dapat memenuhi kepentingan-ke- pentingan hidup yang utama. Artinya, ada social relationship yang kuat di antara mereka, pada satu batasan geografis tertentu. Elemen dasar yang membentuk adalah adanya inter- aksi yang intensif di antara anggotanya, diban- dingkan dengan orang-orang di luar batas wi- layah. Ukuran derajat hubungan sosial, terkait dengan kesamaan tujuan adalah pemenuhan kebutuhan utama individu dan anggota pem- bentuk kelompok dalam masyarakat. Pada sebuah komunitas ditemukan dua hal utama, yaitu kesamaan dan identitas (similarity or identity). Selain itu, juga selalu terdapat sikap berbagi (sharing), partisipasi, dan felowship. Komunitas terbentuk karena memiliki kepentingan yang sama (common interests) atau disebut community of interest. Dapat dikatakan bahwa makna komunitas ada- lah sekelompok orang yang didalamnya terda- pat elemen berbagi (shared element) di antara mereka. Substansi dari shared element terse- but sangat luas, yaitu dari berbentuk situasi sampai ke interest dalam pemenuhan kebutu- han hidup, dan bahkan nilai-nilai. Hal ini diwa- kili dalam konsep kolektivisme (collecti-vism). Komunitas memiliki banyak makna. Ia dapat dimaknai sebagai sebuah kelompok dari suatu masyarakat (forming a distinct segment of society), atau sebagai sekelompok orang yang hidup di satu area khusus (a group of people living in a particular local area) yang memiliki karakteristik etnik dan kultural yang sama. Salah satu ciri khasnya adalah mereka memiliki sesuatu secara bersama-sama (common ownership). Jika bertolak dari pe- ngertian ekologi, maka komunitas adalah sekelompok organisme yang saling tergantung pada satu wilayah, dan mereka saling berinter- aksi (“a group of interdependent organisms inhabiting the same region and interacting with each other”). Komunitas dapat dibedakan atas ber- bagai pola, atas dasar ukuran (besar dan ke- cil), atas dasar level (lokal, nasional, interna- sional), riel atau tidak riel (virtual), bersifat koo- peratif (cooperative) atau kompetitif (compe- titive), serta formal atau informal. Pada per- kembangannya, konsep komunitas dipakai se- cara lebih luas. Untuk kesatuan hidup yang berada dalam satu wilayah tertentu disebut sebagai “community of places’, sedangkan hubungan yang diikat arena kesamaan kepen- tingan namun tidak tinggal dalam satu wilayah geografis tertentu (borderless) disebut dengan
  3. 3. 104 FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI. Volume 23 No. 2, Desember 2005 : 102 - 115 “community of interest”, misalnya sekelompok orang yang berada dalam satu jaringan pemasaran jeruk mulai dari daerah produksi di Kabupaten Tanah Karo (Sumatera Utara) sam- pai ke Pasar Induk Kramatjati di Jakarta. Apapun definisinya, komunitas harus memiliki sifat interaksi (the nature of inter- action). Yaitu interaksi yang informal dan spon- tan harus lebih banyak dari yang interaksi yang procedurally formalized (seperti dalam birokrasi), serta memiliki orientasi yang jelas (goal-oriented). Keanggotaan sebuah komuni- tas terbentuk lebih karena adanya struktur yang alamiah (tight-knit web-like structure); le- bih dari struktur yang hierarkhis. Ciri utama se- buah komunitas adalah adanya keharmonisan, egalitarian, serta sikap saling berbagi nilai dan kehidupan. Contoh dari komunitas adalah ke- hidupan pada desa-desa di era pra modern. Kenapa komunitas begitu penting? Karena “.... community provides human beings with the unifying means of elevating the dignity of each person, providing for the needs and aspirations of all in a group, doing this in harmony with the natural environment, and making possible the communication and interaction between other social and political groups” (PBB, 2005). Begitu besar peran ko- munitas, karena dapat menjadi representatif kebutuhan individu-individu di dalamnya, dapat menciptakan keselarasan dengan alam, dan memungkinkan untuk berinteraksi dengan lem- baga-lembaga di luarnya. Suatu komunitas tak akan dapat menutup dirinya sendiri. Ia harus berinteraksi dan berkomunikasi dengan komu- nitas lain, secara lokal maupun global. Ada keterkaitan yang kuat antara satu komunitas dengan lainnya. Komunitas merupakan unit-unit sosial yang memiliki otoritas sendiri dengan nilai-nilai bersama dan rasa memiliki satu sama lain. Suatu komunitas terjaga karena adanya kohesi sosial sesama mereka, dalam situasi dimana individu-individu diikat dengan orang lain oleh komitmen sosial dan kultural. Kohesi sosial ter- dapat dalam grup besar maupun kecil Menurut Mitchell (1994) ada 3 karakteristik kohesi so- sial, yaitu (1) komitmen individu untuk norma dan nilai umum, (2) kesaling-tergantungan yang muncul karena adanya niat untuk berbagi (shared interest), dan (3) individu yang meng- identifikasi dirinya dengan grup tertentu. BERBAGAI KONSEP PEMBANGUNAN BERBASIS KOMUNITAS Bergulirnya konsep “bekerja dengan komunitas”, merupakan bentuk kritik terhadap pendekatan pembangunan sebelumnya yang cenderung top down dan kurang memperhati- kan keunikan, kemampuan, dan kespesifikan permasalahan tiap kelompok masyarakat. Se- cara umum dikenal tiga bentuk akifitas dengan komunitas (community practice), yaitu social action, social planning, dan community deve- lopment (Adi, 2003). Pembangunan berbasis komunitas merupakan paradigma baru pemba- ngunan ke pedesaan, karena gagalnya pen- dekatan individual yang menjadi landasan se- lama ini. Beberapa konsep pembangunan yang bertolak dari paradigma ini misalnya ada- lah Community Development dan Community Based Management. Namun, beberapa kon- sep lain juga menyertainya misalnya capacity building dan empowerment. Community Development Dalam definisi formal menurut PBB, commmunity development adalah “… a pro- cess whereby the efforts of Government are united with those of the people to improve the social, cultural, and economic conditions in communities” (PBB, 2005). Dengan kata lain, community development adalah sebuah pro- ses usaha bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam upaya meningkatkan kondi- si sosial, kultural, dan ekonomi masyarakat. Secara umum, community develop- ment (CD) adalah suatu konsep yang luas, yang mencakup berbagai bentuk upaya de- ngan mengaplikasikan teori dan praktek beru- pa kepemimpinan lokal (civic leaders), para aktifis (activists), dan melibatkan warga dan kalangan profesional untuk meningkatkan ber- bagai sisi kehidupan dari komunitas lokal. Da- lam prakteknya, para pelaksana CD melaku- kan identifikasi permasalahan, mempelajari sumberdaya setempat, menganalisa struktur kekuasaan lokal, mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, dan berbagai hal lain di masya- rakat tersebut. Pendekatan CD diperkenalkan tahun 1948 untuk menggantikan istilah “pendidikan massa” di Inggris. Definisi CD pada masa itu adalah sebagai “… suatu gerakan yang diran-
  4. 4. 105 PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KOMUNITAS : Kasus Rancangan Program Prima Tani Syahyuti cang untuk meningkatkan taraf hidup kese- luruhan komounitas melalui partisipasi aktif, dan jika memungkinkan, berdasarkan inisiatif masyarakat. …. Hal ini meliputi berbagai kegiatan pembangunan di tingkat distrik, baik dilakukan oleh pemerintah ataupun lembaga- lembaga non pemerintah…. (pengembangan masyarakat) harus dilakukan melalui gerakan yang kooperatif dan harus berhubungan de- ngan bentuk pemerintahan lokal terdekat” (Adi, 2003). Di Amerika Serikat, community deve- lopment berakar dari disiplin ilmu pendidikan, terutama pendidikan di tingkat pedesaan, yaitu perluasan dari Rural Extension Program pada akhir abad ke 18. Dalam prakteknya, usaha untuk meng- implementasikan CD adalah melalui konsen- trasi kepada aktifitas, sumberdaya dan fasilitas yang ada, serta membentuk dasar-dasar se- hingga pada masanya nanti komunitas setem- pat dapat mengontrol sendiri masa depannya. Beberapa prinsip dalam community develop- ment adalah: (1) Kebutuhan komunitas harus dilihat dalam pendekatan yang holistik. Meskipun priori- tas dapat disusun secara sektoral misal- nya, namun harus mampu menjelaskan keterkaitannya dalam perencanaan secara menyeluruh. (2) CD adalah proses. Artinya, proses mesti- lah menjadi bagian penting dalam seluruh aktifitas, sehingga dimonitor dan dievaluasi secara baik, dan diperlakukan sama pen- tingnya dengan hasil atau kemajuan yang diperoleh. (3) Pemberdayaan merupakan hasil dari pe- ngaruh, partisipasi, dan pendidikan komu- nitas. Yang dituju oleh kegiatan CD adalah “pemberdayaan” dari komunitas bersang- kutan. Ia akan dicapai apabila rangkaian aktifitas yang dijalankan merupakan kebu- tuhan dan keinginan komunitas bersang- kutan, sehingga partisipasi dapat berjalan secara sempurna. Selain itu, seluruh taha- pan haruslah dipandang sebagai sebuah proses pendidikan bagi komunitas. (4) Aktifitas yang dijalankan harus menjamin bahwa lingkungan sekitar diperhatikan de- ngan baik. (5) Mempertimbangkan keberlanjutannya (sus- tainability). (6) Kemitraan antar seluruh pelaku akan lebih menjamin akses kepada sumberdaya se- cara lebih adil. Community development merupakan pembangunan dari bawah (bottom up), seba- gai lawan dari pendekatan social planning yang top down approach. Namun, konsep co- mmunity development tidak semata-mata ma- salah atas-bawah. Satu hal yang penting ada- lah terjadinya redistribusi tanggung jawab dan otoritas, serta penggantian kekuasaan (shift in power). Konsep ini merupakan kritik dari pen- dekatan pembangunan yang menggarap ma- nusia secara individu demi individu. Dalam perkembangannya, istilah CD difokuskan pada aspek-aspek tertentu. Karena itu misalnya dikenal “Community Economic Development” (CED), dengan penekanan pa- da aktifitas ekonomi. CED bertolak dari kondisi dan bekerja untuk komunitas setempat (citi- zen-led), ditujukan untuk peningkatan kehidu- pan melalui distribusi kesejahteraan (wealth distribution), pengurangan kemiskinan (poverty reduction), dan penciptaan lapangan kerja (job creation). Untuk mendukung aktifitas bisnis se- tempat, penyediaan infrastruktur merupakan suatu hal yang penting. Penjelasan di atas memperlihatkan bahwa CD memiliki makna yang luas. Selain menjelaskan bagaimana operasionalisasi di la- pangan, CD sesungguhnya lebih sebagai ke- rangka berpikir, serta sikap untuk berpihak. Konsep capacity building dapat diposisikan se- bagai alat, dimana CD sebagai semangatnya atau ideologinya. Ringkasnya, capacity build- ing adalah salah satu cara untuk mengimple- mentasikan CD. Community-Based Management Konsep “Community-Based Manage- ment” (CBM) juga mengandalkan kepada “komunitas”, dimana komunitas merupakan se- bagai pelaku utama pembangunan. Semua yang datang dari luar hanyalah pendukung untuk membantu komunitas. Komunitas didu- kung melalui berbagai hal mulai dari penelitian, pengembangan kebijakan, pendidikan dan capacity building, serta mengembangkan net- works and linkages. Community-Based Mana- gement dapat dilakukan pada komunitas ma- napun, baik di pertanian, perikanan, kehutan- an, maupun industri pedesaan.
  5. 5. 106 FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI. Volume 23 No. 2, Desember 2005 : 102 - 115 Satu konsep yang dekat dengan Com- munity-Based Management adalah Commu- nity-Based Resource Management (CBRM) yang merupakan suatu pendekatan pemba- ngunan yang menekankan kepada kesaling- hubungan antara manusia dengan segala hal di lingkungannya. Community-Based Resource Management adalah “… a develop-ment approach that emphasizes the inter- connectedness of humans and all other living beings and their natural environment” (Ano- nimous, 2005a). Kerusakan sumberdaya alam, akan berdampak kepada kehidupan manusia- nya. Karena itu, manusia harus mengontrol aktifitasnya, misalnya dengan selalu menggu- nakan sumberdaya yang dapat diperbaharui (renewal) dan berkelanjutan. Community-Ba- sed Resource Management dimulai dengan pengembangan komunitas (building commu- nities), yang terdiri atas individu-individu yang paham tentang ekosistemnya, mengerti ten- tang tempatnya di dalam ekosistem, dan ingin bekerja dengan orang lain secara inklusif dan hormat untuk memperbaiki dan menjaga kese- hatan lingkungannya, mencoba untuk menye- diakan kehidupan yang sustain untuk generasi sekarang dan mendatang, serta memiliki ko- mitmen dengan keadilan sosial (social justice). Community-Based Resource Management mengintegrasikan ilmu ekonomi, sosial, dan lingkungan dan melihat kepada berbagai insti- tusi sosial yang ada. Dari konsep Community-Based Mana- gement, juga lahir pendekatan Community-Ba- sed Natural Resource Management (CBNRM) dengan tekanan pada sumberdaya alam. CBNRM adalah “…. an approach of natural resource management by, for and with local communities with the objectives of improving livelihood and security of local people, empo- wering them, and enhancing conservation Efforts” (Adhikari, 2001). Pada prinsipnya, CBNRM adalah suatu aktifitas yang menekan- kan pada manajemen sumberdaya alam oleh, untuk, dan dengan komunitas lokal (Gibbs dan Bromley, 1989). Keberlanjutan CBNRM sa- ngat tergantung kepada partisipasi komunitas lokal. Mereka akan aktif jika mereka mampu melihat keuntungan dengan keterlibatannya dan memiliki akses (property right) terhadap sumberdaya. Untuk itu, penting untuk mema- hami pengetahuan lokal masyarakat setempat, membangkitkan motivasi untuk melakukan konservasi, serta memilih organisasi lokal yang kuat. Ada tiga tujuan utama CBNRM, yaitu: (1) peningkatan kesejahteraan dan keterja- minan hidup masyarakat lokal, (2) peningkatan konservasi sumberdaya alam, dan (3) pember- dayaan masyarakat lokal. Asumsi pentingnya peranan masyarakat lokal adalah, bahwa: efisiensi yang lebih besar dalam manajemen SDA bersumber dari pengetahuan masyarakat setempat, lebih menghemat biaya, dan kepu- tusan yang lebih baik akan dicapai melalui internalisasi biaya sosial dan lingkungan. Ting- ginya efektifitas jika mengandalkan manaje- men masyarakat lokal adalah karena masih berjalannya mekanisme tekanan dan sanksi, dapat menggambarkan secara lebih detail pengetahuan lokal dan dinamika ekologinya yang khas, serta komunitas lokal akan lebih mendorong koservasi sumberdaya alam. Penduduk akan terlibat hanya bila mereka melihat keuntungan (tangible benefits) secara kasat mata baik dari siri produk yang akan dihasilkan, jasa yang diberikan, ataupun pendapatan. Selain itu, mereka mau terlibat bila memiliki kemampuan yang sesuai dari sisi pengetahuan dan teknologi. Karena itulah, local indigenous knowledge perlu dipertim- bangkan. Tiga faktor lainnya adalah jika ada jaminan untuk dapat memanfaatkan produk maupun jasa, adanya akses yang terbuka, dan hadirnya dukungan organisasi lokal. Dalam menyusun instrumen kebijakan dan pendekatan, persyaratannya berbeda antar level. Pada level lokal dan lapang harus fokus pada pengembangan sistem manajemen dan bertolak dari kondisi nyata (“real life") penduduk lokal; pada level menegah (inter- mediate level), baik pemerintah maupun NGO harus mampu menerjemahkan kebijakan men- jadi pendekataan pembangunan dalam aktivi- tas yang konkret; dan pada level nasional, harus mampu merinci dan mengimplementasi- kan kebijakan payung yang tepat. Untuk mengimplementasikan CBM, dapat diawali dengan sebuah focus group discussion yang membahas konsep kerangka kerja atau model yang umum yang akan di- gunakan, kisaran ukuran keberhasilan, serta ragam bentuk intervensi luar yang dibutuhkan. Secara umum, langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah (Crawford et al., 2000): (1) tahap masuk ke masyarakat, untuk melakukan persiapan dan penilaian; (2) perencanaan, termasuk pembentukan kelompok inti, pemili- han lokasi, pembentukan aturan, penentuan
  6. 6. 107 PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KOMUNITAS : Kasus Rancangan Program Prima Tani Syahyuti mekanisme pengelolaan dan pengaturan ke- uangan; (3) penyusunan perencanaan dan penganggaran; dan (4) implementasi. Keberhasilan CBM tidak hanya tergan- tung pada apa yang telah dilakukan pada ting- kat desa tetapi juga pada lembaga yang terli- bat dan yang akan mereplikasi kegiatan seru- pa di tempat lain. Faktor-faktor yang akan menjadi kunci di antaranya adalah: keterampil- an dari petugas lapangan yang ditugaskan, pe- mahaman yang baik dari pendekatan-pende- katan dari kasus-kasus yang berhasil, dekat- nya hubungan lembaga pendukung di tingkat lokal dengan masyarakat, dan adanya duku- ngan politik pemerintah. Dari sisi internal, perlu kepemimpinan organisasi yang cakap, strategi dan tujuan organisasi yang jelas, sumberdaya manusia dan logistik yang cukup, pendekatan pengelolaan yang dapat diadaptasikan dalam situasi dan konteks yang berubah-ubah, hara- pan-harapan yang wajar terhadap waktu dan usaha yang diperlukan, serta kelanjutan keter- libatan dengan masyarakat. Dalam tahap pra implementasi perlu dibangun capacity building, serta partisipasi dan sosialisasi untuk memberikan pemaha- man. Kunci pokoknya adalah bekerja penuh dengan komunitas semenjak dari awal. Secara bertahap, komunitas akan mengambil alih tanggung jawab ketika kapasitasnya juga me- ningkat. Karena itu, partisipasi dan dukungan komunitas harus memadai. Untuk itu perlu dilakukan peningkatan kapasitas (capability building) untuk komunitas. Pelu rasa memiliki yang kuat pada masyarakat terhadap daerah- nya, pengembangan kapasitas masyarakat, harus menganut pendekatan co-management dimana masyarakat dan pemerintah secara aktif bekerja bersama, dan adanya pemimpin lokal yang kuat dan mendukung. Untuk lem- baga pendukung dari luar yang terlibat, harus memahami proses perencanaan partisipatif, mempunyai kepemimpinan yang mendukung dan komitment, memiliki sumberdaya yang cu- kup dan tenaga pendamping masyarakat yang terlatih, dan berdomisili di wilayah setempat. Capacity-Building Capacity-building (pengembangan ka- pasitas) adalah satu strategi yang dapat di- praktekkan dalam aktifitas pembangunan, ter- utama yang menyangkut aktifitas bersama de- ngan masyarakat. Ia merupakan upaya pe- nguatan sebuah komunitas dengan bertolak dari kekayaan tata nilai dan juga prioritas ke- butuhan mereka, dan mengorganisasikan me- reka untuk melakukannya sendiri. Menurut Eade dan William (1995), capacity building adalah “...strengthening people’s capacity to determine their own values and priorities, and to organize themselves to act on these, is the basic of development” Sementara menurut Mildeberger (1999) capacity building adalah “... to enhance the capability of people and institutions sus- tainably to improve their competence and problem-solving capacities”. Dalam pengertian ini, capacity building berperan sebagai instru- men atau alat yang mendukung penggunaan potensi dan kapasitas yang ada secara efisien, memperluas kondisi yang ada, dan juga ber- upaya membangkitkan potensi-potensi baru. Ada berbagai definsi tentang capacity building, namun ada kesamaan satu sama lain, dimana objeknya adalah individu, organi- sasi, dan juga sistem. Secara umum capacity building adalah “... placing emphasis on the ability of individuals, organisations and systems to set and implement development objectives in a sustainable way” (Anonimous, 2005b). Batasan ini kelihatan agak menyeder- hanakan, padahal dalam prakteknya cukup kompleks. Sebagaimana konsep pembangunan, capacity building juga fokus kepada permasa- lahan hubungan-hubungan sosial dan politik. Karena itu, ia tidak dapat dipandang sebagai terisolasi dari lingkungan sosial, ekonomi, dan politik. Dari sisi level, maka dalam melakukan capacity building akan tercakup didalamnya apa dan bagaimana peran untuk pemerintah, pasar, sektor swasta, NGO, serta komunitas, rumah tangga, dan individual. Dalam konteks capacity building seba- gai sebuah pendekatan dalam pembangunan, maka akan melibatkan identifikasi berbagai kendala dalam pembangunan. Pembangunan pada pokoknya adalah bagaimana agar dica- pai perubahan positif dalam hidup, kemajuan personal bersama-sama dengan kemajuan masyarakat secara umum, dan bagaimana proses serta hasilnya terhadap upaya pengu- rangan kemiskinan, ketidak-adilan, diskrimi- nasi, dan merealisasikan potensi manusia me- lalui keadilan sosial dan ekonomi. Dalam kon-
  7. 7. 108 FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI. Volume 23 No. 2, Desember 2005 : 102 - 115 teks ini, maka capacity building adalah “... the process of transforming lives, and trans- forming societies”. Jadi, capacity-building ada- lah sebuah bentuk respon menuju proses yang multi dimensi, tidak semata-mata hanya seke- dar intevensi teknik. Ada berbagai aspek kapa- sitas yang harus dibangun dalam CB, yaitu terjadinya pembangunan intelektual, organisa- sional, sosial, politik, kultural, material, mau- pun finansial (Eade, 1997). Capacity building dapat diartikan juga sebagai “dukungan”. Yaitu mencakup duku- ngan pihak luar terhadap satu komunitas tertentu. Dalam konteks ini, ada dua langkah pokok dalam mengimplementasikan capacity building, yaitu: pertama, menilai apa jenis dan level dukungan yang paling tepat yang dibu- tuhkan komunitas; dan kedua, memonitor dan memodifikasi berbagai hasil negatif dari duku- ngan tersebut. Langkah kedua ini merupakan kegiatan khas yang selama ini tampaknya ku- rang diperhatikan. Umumnya pelaksana pem- bangunan terlalu yakin dengan pendekatan dan program yang mereka implementasikan. Hampir tak ada ruang untuk berpikir ulang, bahwa sangat mungkin pendekatan tersebut kurang tepat. Jika pun ada evaluasi, biasanya dilakukan setelah program berjalan penuh. Capacity-building menolak konsep “trickel down effect” yang selama ini menjadi konsep umum dan banyak dijabarkan dalam pembangunan. “Trickel down effect” adalah konsep yang percaya bahwa dengan meng- garap beberapa titik tertentu dalam satu wilayah, maka akan menyebar dengan sendiri- nya ke wilayah sekitar. Seperti setetes tinta dijatuhkan di permukaan kertas, maka ia akan segera menyebar ke area sekitarnya. Untuk dapat mengerti pendekatan ca- pacity building dapat pula dengan mengetahui apa yang menjadi bukan cirinya. Eade (1997) menyampaikan empat ciri yang bukan merupa- kan capacity building. Ia menyatakan bahwa capacity building tak akan menciptakan keter- gantungan, capacity-building bukan berarti me- lemahkan peran negara, capacity-building bu- kanlah aktifitas yang terpisah-pisah, dan capa- city-building tidak semata-mata memperhati- kan keberlanjutan finansial. Ada berbagai model dalam aktifitas yang berlandaskan capacity-building. Bebera- pa contoh berikut dapat dipakai, yaitu (Edae, 1997): (1) bekerja dengan posisi sebagai inter- mediaries, (2) menciptakan sinergi dalam ko- munitas dan pada lingkup, (3) mempromo- sikan organisasi yang representatif, (4) men- ciptakan organisasi yang independen, atau (5) pemerintah dan NGO bekerja secara paralel bersama-sama. Selanjutnya, ada tiga level yang dapat menjadi objek dalam capacity building, yaitu: (1) level individu dan kelompok kecil (small group), (2) level institusi dan orga- nisasi, dan (3) level sistem institusi secara ke- seluruhan mencakup institusi hukum, politik, serta kerangka pikir ekonomi dan administratif. Peningkatan kapasitas indvidu biasanya beru- pa pelatihan-pelatihan untuk memperbaiki pe- ngetahuan dan keterampilan, sedangkan un- tuk institusi dan organisasi dikenal misalnya pendekatan social learning process. Bagaimana mengukur kapasitas suatu kelompok masyarakat? Pendekatan yang di- tawarkan oleh UNDP, yang idenya dipinjam dari sektor swasta, dimana individu, kelompok sosial, dan lingkungan merupakan kunci pen- ting dari kegiatan capacity building. Pengu- kurannya menggunakan pendekatan sistem (systems approach), dengan memberi pene- kanan pada manajemen inter-relasi antar ber- bagai institusi, serta pendekatan individu dan keorganisasian. Jika ingin menggambarkan kapasitas nasional, maka dapat dengan meng- gabungkan kapasitas yang ada pada seluruh level, baik nasional, regional, maupun komu- nitas. Menurut UNDP, dalam pengembang- an masyarakat dengan pendekatan capacitiy- building perlu dijawab empat pertanyaan pokok, yaitu: Where are we now? Where to we want to be ? How to get there? How to stay there? Kapasitas masyarakat secara umum akan tergantung kepada lembaga yang hidup (viable institutions), kepemimpinan yang memi- liki visi, dukungan finansial dan sumberdaya material, keterampilan sumberdaya manusia, dan kerja yang efektif termasuk sistem, pro- sedur, dan insentif kerja yang sesuai. Visi yang jelas dan didukung anggota komunitas (shared vision) akan dicapai bila didahului proses saling mengkomunikasikan dan berbagi pema- haman antar pihak. Selain itu, juga perlu diba- ngun konsensus (consensus building), serta menyediakan penjelasan dengan konteks yang lebih luas (broader context) antar pihak yang akan terlibat. Untuk mengukur hasil kerja se- buah aktifitas capacity-building, maka bebera-
  8. 8. 109 PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KOMUNITAS : Kasus Rancangan Program Prima Tani Syahyuti pa prinsip yang sebaiknya dipakai adalah: pelibatan banyak aktor baik pihak pemerintah maupun bukan sehingga penilaian akan lebih kaya dan beimbang, menggunakan beragam pendekatan, sehingga akan lebih mendalam dan juga lengkap, jelas dalam hal skala ke- giatan dan waktu (duration) pelaksanaan, tidak kehilangan fokus terhadap tujuan utama dan spesifikasi aktifitas capacity-building yang di- evaluasi; dan aktifitas penilaian harus bertolak dari permintaan (demand orientation) bukan karena telah dianggarkan. KONSEP DAN BERBAGAI INDIKATOR PEMBANGUNAN BERBASIS KOMUNITAS DALAM RANCANGAN KONSEP PRIMA TANI Konsep Rancangan Program Prima Tani Semenjak tahun 2005, Badan Litbang Pertanian mengintroduksikan Pengembangan Model Prima Tani yang bisa dipandang seba- gai langkah terobosan untuk mempercepat dan memantapkan inovasi teknologi pada kon- disi nyata di lapangan dengan agroekosistem yang beragam. Prima Tani pada dasarnya merupakan pelaksanaan dari paradigma baru dalam proses adopsi inovasi berupa penya- luran (delivery) dan penerapan (receiving/ adopsi) (Simatupang, 2004). Dalam paradigma “Penelitian untuk Pembangunan”, peranan kegiatan diseminasi diposisikan sama penting dengan kegiatan penelitian dan pengembangan. Kalau pada masa lalu, diseminasi praktis hanya untuk menginformasikan dan menyediakan teknologi sumber/dasar secara terpusat di Balai Pene- litian, maka kini dengan paradigma Penelitian untuk Pembangunan, diseminasi diperluas de- ngan juga melaksanakan pengembangan per- contohan sistem dan usaha agribisnis berbasis teknologi inovatif dan penyediaan teknologi dasar secara terdesentralisasi sebagai inisiatif untuk merintis pemasyarakatan teknologi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian. Sasaran kegiatan diseminasi juga disesuaikan, dari tersebarnya informasi kepada masyarakat pengguna teknologi menjadi tersedianya con- toh konkrit penerapan tekno-logi di lapangan. Dipandang dari segi pelaksanaan ke- giatan penelitian dan pengembangan, Prima Tani merupakan wahana untuk pelaksanaan penelitian dan pengembangan partisipatif dalam rangka mewujudkan penelitian dan pe- ngembangan berorientasi konsumen atau pengguna (consumer oriented research and development). Dilihat dari segi pelaksanaan kegiatan diseminasi, Prima Tani merupakan wahana untuk menghubungkan secara lang- sung Badan Litbang Pertanian sebagai penye- dia teknologi sumber/dasar dengan masyara- kat luas atau pengguna teknologi secara ko- mersial maupun lembaga-lembaga pelayanan penunjang pembangunan. Dengan demikian, adopsi teknologi yang dihasilkan Badan Lit- bang Pertanian tidak saja tepat guna, tetapi juga langsung diterapkan dalam pembangunan sistem dan usaha agribisnis, setidaknya dalam tahapan rintisan. Prima Tani dapat dipandang sebagai sebuah bentuk rekayasa sosial melalui pen- dekatan kelembagaan. Berbagai bukti selama ini menunjukkan bahwa kendala kelembagaan seringkali menjadi penghalang yang serius dalam pelaksanaan program-program peme- rintah. Dalam konteks ini, penyempurnaan sebuah bangun kelembagaan akan jauh lebih berhasil apabila pembelajaran (lesson learn) dilakukan semenjak dari tahap awal. Keter- libatan tim peneliti secara langsung (action research) semenjak awal kegiatan dalam selu- ruh proses tentu saja akan lebih mampu mem- beri perbaikan yang membumi dan sesuai de- ngan permasalahan lokal. Prima Tani merupa- kan suatu model atau konsep baru diseminasi teknologi dan kelembagaan yang bertujuan un- tuk mempercepat dan mengefektifkan informa- si dan teknologi yang dihasilkan lembaga pe- nelitian khususnya Badan Litbang Pertanian kepada petani. Berbeda dengan pendekatan-pende- katan sebelumnya, Prima Tani dilaksanakan dengan empat strategi, yaitu: (1) Menerapkan teknologi inovatif tepat-guna melalui penelitian dan pengembangan partisipatif (Participatory Research and Development) berdasarkan paradigma “Penelitian untuk Pembangunan”; (2) Membangun model percontohan sistem dan usaha agribisnis progresif berbasis tekno- logi inovatif dengan mengintegrasikan sistem inovasi dan sistem agribisnis; (3) Mendorong proses difusi dan replikasi model percontohan teknologi inovatif melalui program dan de- monstrasi lapang, diseminasi informasi, advo- kasi serta fasilitasi; dan (4) Basis pengem-
  9. 9. 110 FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI. Volume 23 No. 2, Desember 2005 : 102 - 115 bangan dilaksanakan berdasarkan wilayah agroekosistem dan kondisi sosial ekonomi se- tempat. Penting dikemukakan bahwa Prima Tani berupaya membangun model percon- tohan sistem dan usaha agribisnis progresif berbasis teknologi inovatif yang memadukan sistem inovasi dan sistem agribisnis, sehingga mampu mewujudkan suatu model terpadu Pe- nelitian – Penyuluhan – Agribisnis – Pelayanan Pendukung (Research – Extention – Agri- business – Supporting Service Linkages). Penerapan inovasi teknologi oleh petani mestilah dipandang sebagai aktifitas dari sebuah sistem. Keputusan untuk menga- dopsi suatu jenis teknologi tidaklah semata- mata aspek teknis belaka, karena merupakan resultan dari pengintegrasian beberapa kom- ponen antara lain berupa sumberdaya alam, sosial ekonomi, kelembagaan dan kebudayaan masyarakat setempat. Atas dasar inilah, se- bagai bentuk penghargaan kepada seluruh aspek tersebut, perlu dipertimbangkan sikap, kebutuhan, dan keinginan masyarakat terse- but. Ini dapat menjadi indikator sederhana untuk memahami keseluruhan sistem tersebut yang tentu membutuhkan waktu lama untuk mempelajarinya. Kegiatan Prima Tani dapat pula dipan- dang sebagai sebuah rekayasa kelembagaan dengan segala aspeknya. Proses penghan- taran inovasi teknologi dalam konsep pengem- bangan sistem agribisnis wilayah, pada pokok- nya dilakukan oleh sekumpulan manusia de- ngan beragam latar belakang, peran, tanggung jawab, kemampuan, dan motivasi. Artinya, ini dapat dipandang sebagai sebuah aksi yang berada dalam konteks situasi sosial (social situation). Karena itu, hubungan-hubungan so- sial merupakan bagian penting yang akan me- nentukan keberhasilan Prima Tani secara ke- seluruhan. Kelembagaan utama yang dibangun dalam program Prima Tani adalah sebuah model sistem agribisnis yang disebut dengan Agribisnis Industrial Pedesaan (AIP). AIP dapat dipandang sebagai usaha pertanian de- ngan ditunjang oleh berbagai lembaga pen- dukungnya yang terkait secara institusional (Pranadji, 2004). AIP merupakan bingkai ino- vasi dan sekaligus sebagai bagian dari inovasi Prima Tani. Tiga tujuan dalam AIP harus ada- lah: peningkatan daya saing atau nilai tambah total sumberdaya (wilayah), terwujudnya sha- ring system untuk mewujudkan keadilan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pede- saan, serta keberlanjutannya dengan berbasis sumberdaya alam dan penguatan pengeta- huan masyarakat setempat. Oleh sebab itu, AIP dirancang dengan pemihakkan pada pe- nguatan usaha dan sumberdaya manusia atau pelaku agribisnis di pedesaan. AIP menuntut keserasian antara ke- lompok tani dengan pelaku agribisnis lainnya, serta adanya sharing system yang proporsio- nal antara petani dan pelaku agribisnis terkait lainnya. Selanjutnya (Pranadji, 2004) juga me- ngatakan bahwa AIP dibangun melalui hasil musyawarah petani yang tergabung dalam organisasi kelompok atau gabungan kelompok tani. Pengembangan sistem dan usaha ag- ribisnis diarahkan untuk melakukan proses transformasi struktur agribisnis dari pola dis- persal menjadi pola industrial. Dalam agri- bisnis pola industrial, sebagaimana terbaca dalam situs resmi Badan Litbang Pertanian (Badan Litbang Pertanian, 2005), setiap peru- sahaan agribisnis tidak lagi berdiri sendiri atau bergabung dalam asosiasi horizontal, tetapi memadukan diri dengan perusahaan-peru- sahaan lain yang bergerak dalam seluruh bidang usaha yang ada pada satu alur produk vertikal (dari hulu hingga hilir) dalam satu kelompok usaha yang selanjutnya disebut sebagai AIP. Inovasi agribisnis dalam Prima Tani memiliki beberapa karakteristik, yaitu (Deptan, 2004): (1) Lengkap secara fungsional. Seluruh fungsi yang diperlukan dalam menghasilkan, me- ngolah, dan memasarkan produk pertanian hingga ke konsumen akhir (alur produk vertikal) dapat dipenuhi. (2) Satu kesatuan tindak. Seluruh komponen atau anggota melaksanakan fungsinya se- cara harmonis dalam satu kesatuan tindak. (3) Ikatan langsung secara institutional. Hu- bungan di antara seluruh komponen atau anggota terjalin langsung melalui ikatan kelembagaan (non pasar). (4) Satu kesatuan hidup. Kelangsungan hidup dan perkembangan setiap komponen atau anggota saling tergantung satu sama lain.
  10. 10. 111 PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KOMUNITAS : Kasus Rancangan Program Prima Tani Syahyuti (5) Koperatif. Setiap komponen atau anggota saling membantu satu sama lain demi un- tuk kepentingan bersama. Beberapa Bukti Penerapan Pendekatan Pembangunan Berbasis Komunitas Dengan mencermati konsep-konsep yang dikemukakan dalam dokumen rancangan Prima Tani, maka terlihat berbagai bukti dite- rapkannya pendekatan pembangunan yang berbasis komunitas di dalamnya. Bukti-bukti tersebut diuraikan satu per satu sebagai beri- kut. Program Prima Tani Menetapkan Desa sebagai Unit Terkecil dari Program Dalam rancangan progam Prima Tani, unit terkecil adalah satuan administrasi pemerintahan, misalnya desa, bukan keluarga, ataupun individual. Artinya, seluruh warga dalam satu desa merupakan penerima atau pelaku aktif dari Prima Tani, baik mereka yang menjadikan pertanian sebagai aktifitas ekono- mi utama maupun warga desa yang bekerja di sektor off farm maupun non farm. Dengan menetapkan desa sebagai unit terkecil, maka seluruh tahapan proses nantinya mesti meli- batkan seluruh warga desa. Sejalan dengan itu, unit utama pelaku agribisnis yang menjadi tulang punggung dalam Prima Tani disebut dengan Unit AIP (Pranadji, 2004). Dalam dokumen rancangan terlihat, bahwa kelembagaan agribisnis terse- but menjadikan warga satu desa sebagai pe- laku utama yang akan menjadi penggerak utamanya. Pada tingkat perkembangan lebih lanjut, pelaku-pelaku ekonomi di desa harus menjalin kerjasama dengan bebagai pelaku ekonomi lain di luar desa. Secara teoritis, sekelompok orang da- lam satu desa dapat dipandang sebagai sebuah komunitas. Beberapa penelitian me- nyimpulkan bahwa bentuk kesatuan hidup alamiah yang nyata dan masih hidup dengan baik, sesungguhnya tidak ditemukan di tingkat desa namun pada sebuah dusun atau dukuh (Tjondronegoro, 1990). Dengan kata lain, ciri- ciri kesatuan hidup yang disebut dengan ”komunitas” tersebut sesungguhnya ada pada kesatuan dusun. Namun demikian, desa masih dapat dipandang sebagai sebuah komunitas dalam derajat tertentu, yang misalnya terlihat dari tingginya ikatan-ikatan sosial sesama warga sedesa. Selain itu, berbagai keputusan politik masih berada di tingkat desa, karena desa merupakan unit administrasi pemerin- tahan terkecil yang diakui dalam birokrasi pemerintahan. Menggunakan Pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) dalam Perencanaan Penyusunan rancangan Prima Tani di satu desa dilakukan dengan menerapkan metode Participatory Rural Appraisal (PRA), yang dilakukan terutama oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) setempat dengan masyarakat. PRA merupakan istilah yang diberikan kepada pendekatan yang menggu- nakan metode partisipastif dengan menekan- kan kepada pengetahuan lokal dan kemam- puan masyarakat untuk membuat penilaian sendiri, menganalisis sendiri, dan merencana- kan sendiri. PRA memfasilitasi proses saling berbagi informasi (information sharing), ana- lisis, dan aktifitas antar stakeholders. PRA, yang lahir pada 1980-an, dikembangkan dari konsep “Rapid Rural Appraisal” (RRA) yang merupakan seperangkat teknik yang diguna- kan praktisi pembangunan di pedesaan untuk mengkoleksi dan menganalisa data (Conway dan Chambers, 1992). RRA dikembangkan pa- da dekade 1970-an dan 1980-an sebagai res- pon dari kesadaran bahwa pihak luar (out- siders) seringkali kehilangan (missing) atau salah paham (miscommunicating) dengan ma- syarakat lokal ketika melakukan kegiatan pem- bangunan bersama. Pada awal 1970-an disadari bahwa program alih teknologi tak selalu sesuai untuk orang miskin. Ada hubungan yang kompleks antara faktor lingkungan, ekonomi, sosial, serta budaya. Seharusnya hal ini dipandang sebagai suatu sistem yang terintegrasi. Tak mungkin merubah satu elemen tanpa mem- pengaruhi elemen lain. Implikasinya, ekonomi yang berkembang di satu desa saling terkait dengan misalnya bagaimana penduduk mem- posisikan lingkungan, bagaimana motivasi hi- dup mereka, serta nilai-nilai apa yang mereka pegang teguh. Jadi, sistem harus dipahami se- bagai satu kesatuan. PRA berada dalam konteks collabora- tive decision making, dan merupakan salah
  11. 11. 112 FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI. Volume 23 No. 2, Desember 2005 : 102 - 115 satu bentuk community-based method dalam pembangunan pedesaan. Dalam PRA, koleksi dan analisis data dilakukan oleh masyarakat lokal, sedangkan pihak luar lebih sebagai fasi- litator daripada sebagai pengontrol kegiatan. Pada hakekatnya, PRA adalah suatu pende- katan untuk belajar bersama (shared learning) di antara masyarakat lokal dan pihak luar. Satu konsep utama yang menjadi tiang PRA adalah ”localization” (Conway dan Chambers, 1992). Artinya, PRA harus meng- gunakan secara ekstensif dan kreatif sumber- daya setempat, seberapapun terbatasnya sumberdaya yang tersedia. Untuk itu PRA berupaya menghindari sikap dan penilaian sumberdaya dari luar memiliki keunggulan berlebihan. Prima Tani Berupaya Mengembangkan Kemandirian Sejalan dengan penggunaan konsep komunitas, maka Prima Tani juga berupaya mengembangkan kemandirian bagi warga desa untuk dapat melanjutkan sendiri aktifitas yang telah dimulai yang sebelumnya didukung oleh berbagai pihak luar. Penyusunan rencana lapang yang dieksplorasi dengan metode PRA merupakan upaya untuk menimbulkan sikap dan kemampuan untuk mengelola diri sendiri. Dalam PRA, dokumen aksi yang berhasil disusun merupakan milik dari warga desa. Artinya, mereka memiliki ikatan mental untuk merealisasikan dokumen tersebut secara man- diri. Jika bantuan dari pihak luar telah berku- rang, maka mereka sendiri harus mampu menggali berbagai potensi baik dari dalam maupun dari luar komunitas. Untuk menunjang kemandirian, Prima Tani menghindari pemberian bantuan yang tidak mendidik dan menimbulkan ketergantu- ngan. Pemberian bantuan berupa perangkat keras teknologi berupa bibit, pupuk, obat- obatan, dan alsintan, sejauh mungkin dihin- darkan. Pemberian bantuan kepada petani dilakukan jika hal itu pemberian insentif, namun demikian hal ini tidak dalam skala besar dan bersifat gratis. Jika harus memberi- kan bantuan modal, maka hal itu berupa pinjaman yang harus dikembalikan secara tepat waktu. Prima Tani Berlandaskan kepada Sumberdaya Kelembagaan Setempat Pengembangan kelembagaan dalam pembangunan berbasis komunitas merupakan hal yang sangat esensial, dan dalam Prima Tani dikatakan sebagai inovasi. Ada empat langkah pokok dalam inovasi kelembagaan di Prima Tani, yang mesti dijalankan secara ber- urutan. Pertama, identifikasi jenis-jenis aktivi- tas yang akan dilakukan dalam rancangan Prima Tani di lokasi. Inti dari kelembagaan adalah interaksi, dimana sekelompok interaksi yang berbentuk sama atau sejenis melahirkan bentuk ‘aktifitas’. Seluruh aktifitas dalam Prima Tani dapat dibagi atas enam kelompok yaitu: pemenuhan teknologi (software), pemenuhan input atau sarana produksi, pemenuhan per- modalan usaha, pemenuhan tenaga kerja, ke- giatan usahatani, dan pemasaran hasil pro- duksi. Kedua, memahami jenis, bentuk, dan sifat interaksi yang terdapat dalam masing- masing kelompok aktifitas; khususnya tentang motivasi ekonomi dari pelaku dalam interaksi tersebut. Derajat ekonomi suatu interaksi ber- variasi, dan merupakan kontinuem dari yang sifat ekonominya paling rendah (= bersifat sosial) menuju yang paling tinggi. Tujuan po- kok dari interaksi yang berciri sosial adalah untuk berbuat baik terhadap orang lain tanpa mengharap imbalan apapun. Sebaliknya pada interaksi dengan motivasi ekonomi yang kuat, tujuan interaksi adalah untuk mendapatkan materi atau keuntungan. Selain itu, interaksi yang berciri sosial merupakan interaksi perso- nal yang melibatkan hubungan batin, perasa- an, dan emosi mendalam; bukan bersifat impersonal, tidak kenal dan dekat. Hukuman sosial (punishment) pada interaksi sosial ha- nya berupa hukuman non-materi, misalnya ra- sa malu; namun pada interaksi berciri ekonomi berupa hukuman materi, misalnya dengan pengurangan upah, gaji, dan lain-lain. Tiap kelembagaan umumnya didominasi oleh satu jenis interaksi tertentu. Dengan mengenal jenis interaksinya berarti kita akan dapat mengenal sifat kelembagaannya. Ketiga, memahami sifat komunalitas (atau individualitas) masyarakatnya. Jika suatu komunitas masyarakat sangat mandiri dan individualistis, maka tindakan kolektif melalui sistem kelembagaan akan sulit dibangun. Tin- dakan kolektif hanya akan efektif apabila ma-
  12. 12. 113 PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KOMUNITAS : Kasus Rancangan Program Prima Tani Syahyuti syarakatnya masih kental ciri komunalitasnya, dimana mereka masih senang dengan keber- samaan, guyub, dan saling menolong. Ini pen- ting untuk mengetahui apakah interaksi lebih untung dan efisien secara kolektif ataukah secara individual? Keempat, merumuskan opsi kelemba- gaan yang sesuai. Rancangan kelembagaan dapat ditentukan melalui derajat ekonomi yang ingin dibangun dalam kelembagaan tersebut. Derajat interaksi dibagi atas tiga yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Sedangkan, pilihan kolek- tifitas dibedakan menjadi mandiri, individual, atau kolektif. Sebagai contoh untuk pemenu- han input sarana produksi dapat mengguna- kan tujuh pilihan sebagai berikut, yaitu: 1. Petani-mandiri, yaitu jika petani telah mampu memenuhi sarana produksi sen- diri, terutama bagi golongan petani kaya. 2. Petani- pemerintah-individual. Dalam Pri- ma Tani ada peluang bagi BPTP atau Di- nas Pertanian setempat untuk memberikan bantuan benih secara cuma-cuma dalam jumlah terbatas. Pemberian langsung ke- pada individu tidak membutuhkan kelem- bagaan apapun. 3. Petani-pemerintah-kolektif. Jika bantuan dipandang akan lebih terkontrol jika diberi- kan secara kolektif, maka koperasi atau kelompok tani dapat digunakan. Pembe- rian secara kolektif ini akan lebih terkontrol penggunaannya, serta memudahkan pula jika harus dikembalikan. Pola ini dapat dinilai lebih adil karena masyarakat sendiri yang mendistribusikannya. 4. Petani-petani-kolektif. Upaya pemenuhan sarana produksi dapat pula secara kolektif, yaitu saling meminjamkan benih dan alat pertanian antar kelompok tani; misalnya dalam Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani). 5. Petani-petani-individual. Antara petani dan tetangga saling bantu meminjamkan benih juga merupakan fenomena yang umum di kalangan petani. Pola ini juga tidak mem- butuhkan dukungan kelembagaan apapun. 6. Petani-pasar-individual. Pola ini sesung- guhnya paling banyak ditemukan, dimana petani membeli sendiri seluruh kebutuhan saprodinya. 7. Petani-pasar-kolektif. Agar petani dapat mengakses saprodi dengan harga lebih murah lagi, atau marginnya dapat dinik- mati petani, maka dapat saja penyediaan sarana produksi dilakukan secara kolektif melalui kelompok tani, koperasi, atau di- sediakan di Klinik Agribisnis. Sementara dalam aktifitas pemasaran hasil produksi, setidaknya terdapat dua pilihan, yai- tu: 1. Petani-pasar-individual. Pada sebagian besar wilayah dan pada banyak jenis komoditas pertanian, umumnya pemasa- ran hasil merupakan keputusan individual petani dan dapat dilakukannya sendiri. 2. Petani-pasar-kolektif. Pilihan untuk mema- sarkan secara kolektif merupakan bentuk yang ideal, karena posisi tawar petani menjadi lebih tinggi dalam struktur pema- saran. Setiap bentuk aktifitas mesti memper- hatikan seluruh warga, sehingga akan diper- oleh pemahaman apa solusi yang paling se- suai. Dengan kata lain, pengembangan kelem- bagaan harus memperhatikan komunitas se- bagai sebuah keseluruhan. Sebagai contoh, membangun kelompok tani merupakan salah satu bentuk opsi kelembagaan, namun tidak seluruh petani membutuhkan kelompok tani, dan sebaliknya juga sulit jika kelompok tani mencakup seluruh petani tanpa tersisa karena kondisi dan kebutuhan petani sangat beragam. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Dari uraian di atas terlihat bahwa rancangan Prima Tani telah menggunakan prinsip-prinsip pembangunan berbasiskan ko- munitas dalam setiap prosesnya. Pilihan ter- hadap paradigma ini dirasa tepat, karena kon- sep pembangunan pedesaan selama ini yang berlandaskan kepada pendekatan individual dan rumah tangga dipandang kurang berhasil. Dengan menerapkan basis komunitas, dapat dikatakan bahwa Prima Tani menghargai ika- tan-ikatan sosial horizontal yang hidup dan berkembang di pedesaan. Ikatan horizontal ini merupakan salah satu elemen modal sosial
  13. 13. 114 FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI. Volume 23 No. 2, Desember 2005 : 102 - 115 yang sangat besar yang selama ini kurang diperhatikan. Bukti diterapkannya konsep pemba- ngunan berbasis komunitas dalam rancangan program Prima Tani, setidaknya terlihat dari empat bentuk, yaitu: penetapan lokasi program pada desa sebagai unit terkecil, penerapan PRA dalam penyusunan rencana aksi yang dilakukan secara partisipaif, upaya meningkat- kan kemandirian, serta penggunaan sumber- daya kelembagaan setempat. Upaya mendo- rong kemandirian warga sedesa dapat dipan- dang sebagai bentuk penguatan kesatuan masyarakat sebagai sebuah komunitas, kare- na salah satu ciri komunitas adalah keotono- miannya yang tinggi. Dengan kemandirian yang tinggi, maka keotonomian masyarakat terbangun dengan sendirinya. Salah satu aspek yang perlu diper- hatikan dalam pembangunan yang menerap- kan prinsip basis komunitas adalah kebutuhan waktu yang lebih lama, karena setiap tahapan perlu mendapat dukungan dari seluruh kom- ponen masyarakat secara partisipatif. Proses tersebut dapat menjadi lebih cepat apabila dapat didorong melalui interaksi yang lebih intensif di antara sesama warga, karena ke- gagalan maupun keberhasilan program Prima Tani akan sangat bergantung kepada kesa- daran, inisiatif, kreatifitas dan semangat warga desa, yang mampu menjalin kerjasama de- ngan baik. Untuk itu, para pelaksana perlu me- mahami bentuk dan pola komunitas yang ber- langsung, dan kemudian berupaya mengem- bangkan rancangan program yang khas berda- sarkan kondisi tersebut. DAFTAR PUSTAKA Adhikari, Jay R.. 2001. Community Based Natural Resource Management in Nepal with Reference to Community Forestry: A Gender Perspective. Journal of the Environment, Vol. 6 No. 7, 2001. Ministry of Population and Environment. dalam: http://www.cbnrm.net., 22 Maret 2005. Adi, Isbandi R. 2003. Pemberdayaan, Pengem- bangan Masyarakat, dan Intervensi Komu- nitas. LP Fakultas Ekonomi UI, Jakarta. Edisi Revisi 2003. Anonimous. 2005a. What is CBRM? dalam: http:// www.stfx.ca/institutes/ccbm/text/what_is_ cbm.html., 22 Maret 2005. Anonimus. 2005b. Emerging Principles on Capacity Assessments and Capacity Building Stra- tegies. dalam: http://www.ecdpm.org., 21 Maret 2005. Badan Litbang Pertanian. 2005. Pedoman Umum Prima Tani. dalam: http://Prima Tani.- Litbang.deptan.go.id/Pedoman_umum.php, 24 November 2005. Conway, Gordon and Robert Chambers. 1992. Participatory Rural Appraisal (PRA). dalam: http://www.iisd.org/casl/CASLGuide /PRA.htm. 22 Maret 2005). Crawford, Brian; Miriam Balgos; dan Cesario R. Pagdilao. 2000. Community-Based Marine Sanctuaries in the Philippines: A report on Focus Group Discussion. Coastal Resour- ces Center, University of Rhode Island, June 2000. Philippine Council for Aquatic and Marine Research and Development. dalam: http://www.crc.uri.edu/download/ CB_000E.PDF., 6 Mei 2005. Deptan. 2004. Pedoman Umum Prima Tani: Prog- ram Rintisan dan Akselerasi Pemasya- rakatan Inovasi Teknologi Pertanian. Ba- dan Litbang Pertanian, Deptan. 18 hal. Eade, Deborah and S. William. 1995. The Oxfam Handbook of Development and Reflief. Oxfam, Oxford. Hal 9. dalam: Eade, Deborah. 1997. Capacity-Building: an Ap- proach to People-Centered Development. Development Guidelines. Oxfam, UK and Ireland. Eade, Deborah. 1997. Capacity-Building: an Ap- proach to People-Centered Development. Development Guidelines. Oxfam, UK and Ireland. Gibbs and Bromley, 1989. The Community-Based Natural Resource Management Network. dalam: www.cbnrm.net., 22 Maret 2005. Mildeberger, Elisabeth. 1999. Capacity Building for Sustainable Development: Concepts, Stra- tegies and Instruments of the German Technical Cooperation (GTZ). Unit 04, Strategic Cooperate Development. May 1999. dalam: www.sti.ch., 21 Maret 2005. Mitchell, Bruce. 1994. Sustainable Development at The Village level in Bali, Indonesia. Human Ecology an Interdisciplinary Journal. Vol. 22 no. 3 September 1994. (pp. 189-211). PBB. 2005. “The Community Capacity Building Program”. dalam: www.cedresources.nf. net ,18 Januari 2005. Pranadji, Tri. 2004. Kerangka Perekayasaan Sosiobudaya Menuju Pertanian Industrial di Pedesaan. Makalah pada Workshop Sosialisasi Prima Tani bagi Tenaga Pe-
  14. 14. 115 PEMBANGUNAN PERTANIAN DENGAN PENDEKATAN KOMUNITAS : Kasus Rancangan Program Prima Tani Syahyuti mandu Teknologi Inovasi, Ciawi 12-17 Desember 2004. Simatupang, Pantjar. 2004. Prima Tani sebagai Langkah Awal Pengembangan Sistem dan Usaha Agribisnis Industrial. Makalah pada Pelatihan Analisa Finansial dan Ekonomi bagi Pengembangan Sistem dan Usaha- tani Agribisnis Wilayah, 29 November – 9 Desember 2004. Soekanto, Soejono. 1999. Sosiologi: Suatu Pe- ngantar. PT Raja Grafindo Persada. Ja- karta. Cet ke 28. Hal 162-3 Tjondronegoro, SMP. 1990. Gejala Organisasi dan Pembangunan Berencana dalam Masya- rakat Pedesaan di Jawa. Bab III-6 (hal 215-241). Dalam: Masalah-Masalah Pem- bangunan.

×