Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
Peran Pertanian Keluarga dalam
Menjamin Kedaulatan Pangan
dan Mengentaskan Kemiskinan
Oleh: SYAHYUTI
Jakarta - 4 Juli 2014...
• Tahun 2014 adalah International Year of Family Farming” (IYFF)
• Tujuannya adalah = to reposition family farming at the ...
Berbagai istilah yang “selaras” dengan
Family Farming:
1. peasant (vs farmer)
2. Petani kecil (vs petani besar)
3. Bertani...
Apa sih Family farming (“Pertanian Keluarga”) ?
• a farm owned and operated by family
• Menurut USDA: family farm = mempro...
Apakah memang “Family Farming”
yang menjadi konteks perjuangan
petani Indonesia ?
5
Posisi konsep “Family Farming” dan
“Small Farmer”
6
Seluruh USAHA PERTANIAN
Perusahaan
Pertanian Pertanian KELUARGA
Pert k...
Sisi-Sisi Positif Pertanian Keluarga
(Alejandro Asin http://www.astc.org/...)
1. Family farming feeds the world. 70 persen...
Petani Kecil penting:
• Pidato Dirjen FAO pada The World Food Day -
16 Oktober 2012 = “Small-Scale Farmers As A
Key To Fee...
Siapa kah “petani kecil” ?
• petani gurem (peasant), petani kecil (small farmer), buruh tani
tanpa tanah (landless laborer...
Batasan petani kecil:
• Land Bank of the Philippines, petani kecil = petani
yg menguasai lahan < 5 ha.
• Dalam laporan “Em...
Di Indonesia:
• Tidak dikenal istilah “petani kecil” secara
resmi
• Dalam literatur ilmiah = ada istilah petani
gurem, pet...
Batasan “petani” di Indonesia:
• Dalam KBBI, petani = orang yang mata pencahariannya
bercocok tanam (terutama buruh tani d...
• UU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, petani =
warga negara Indonesia perseorangan dan/atau
beserta keluarganya yang ...
Persepsi terhadap petani di Indonesia:
• Petani berada dalam format relasi “negara-
rakyat”
• Basis petani adalah komodita...
Kondisi Pertanian keluarga di
Indonesia
15
Jumlah RT pertanian berdasarkan luas penguasaan
lahan (juta RT):
Luas
pengusaan
lahan (ha/RT)
1983 1993 2003
<0,5 6.4 10.6...
Gejala guremisasi:
Tahun Jumlah RT
pertanian
(juta)
Total lahan
yg dikuasai
(000 ha)
Rata-rata
penguasaan
(ha/RT)
1983 1.2...
Hasil Sensus Pertanian 2013:
2003 2013 Perubahan (%)
RT petani gurem 19.015.051 14.248.870 Turun 25,0 %
RT usaha pertanian...
Batasan dalam ST 2013:
• RT Petani Gurem = RT pertanian pengguna lahan dengan penguasaan < 0,5 ha
(mencakup lahan pertania...
Guremisasi dan ketimpangan berlanjut:
Luas penguasaan
(ha/RT)
2003 2013 Perubahan (%)
<0,1 9.4 4.3 -53.8
1-1,9 3.6 3.6 -1....
Mengapa petani berkurang?
1. Perbedaan batasan antar sensus pertanian
2. Petani lari ke luar sektor pertanian, karena tida...
Perbedaan ST 2003 vs 2013:
2003 2013
Unit Pencacahan Seluruh RT yang ada kegiatan
pertanian
Hanya RT biasa, yakni RT
yang ...
Karakter pertanian kecil:
• penguasaan lahan sempit
• penggunaan input rendah dan lokal (mandiri)
• ramah lingkungan
• ind...
Peran pertanian kecil:
• Untuk mengikis kemiskinan, kelaparan, dan
degradasi lingkungan
• Mampu memberi pangan dunia
• Den...
Kebijakan terhadap petani kecil selama ini:
• “petani kecil” (small farmer) agak tersingkirkan
dari kebijakan pembangunan ...
Kondisi agraria petani kecil :
• Di Indonesia, swasembada tidak otomatis
menjamin kesejahteraan petani. Mata rantai
yang p...
Akses pasar sulit:
• Akses terhadap pasar sangat terbatas.
• perubahan pada pasar dan produk pertanian,
kompetisi juga sem...
Organisasi petani:
Lingkungan kelembagaan yang dihadapi:
• Indonesia = pendekatan organisasi yang
dijalankan merupakan ben...
Kondisi organisasi:
Studi ASIADHRRA dan AGRITERRA (2002) di Indonesia, Jepang, Korea
Selatan, Malaysia, Thailand, Vietnam ...
Tahap dan pokok perhatian Justifikasi Bentuk kebijakan
1. Productivity and Equity (1950-an)
Kesetaraan dan produktivitas A...
Berbagai hasil Riset PSEKP:Berbagai hasil Riset PSEKP:
31
• Studi Susilowati et al. (2008):
– Partisipasi kerja RTP bergeser dari kegiatan usahatani
ke nonpertanian.
– Pekerja muda...
• Studi Susilowati et al., 2009) untuk petani pekebun:
– tingkat partisipasi kerja keluarga = 66,9 %, tertinggi pada
petan...
• Studi Malian et al. (2004):
- Selama 1975-2000 = telah terjadi kesenjangan upah
antara RT pertanian dan nonpertanian.
-L...
• Penelitian Irawan et al. (2007):
– Alokasi tenaga kerja kegiatan usahatani = 30-40 %,
sisanya untuk usaha nonpertanian.
...
Pertanian Keluarga Ke DEPAN
36
Persepsi dan Harapan terhadap Pertanian
Keluarga:
• Family Farming = our alternative for the future
• Family Farming = fee...
Kondisi yang dihadapi
(http://www.ruralforum.net/...)
1. Keberadaan pertanian keluarga dipengaruhi oleh krisis
pangan, fin...
Kondisi PEREMPUAN dalam Pertanian Keluarga:
1. Women farmers play a vital role in producing as well as providing
food for ...
Kebutuhan ke DEPAN:
1. Strengthen family farmer organizations and movements to increase
their influence over policies, ins...
Tugas untuk PEMERINTAH:
1. Ensure Family Farmers’ Access And Control Over
Natural Resources, Mainly Land, Water, Forests A...
Yang dibutuhkan
(Alejandro Asin http://www.astc.org/...)
1. Keterlibatan dan komitmen semua pihak
2. Pendidikan publik dan...
Dukungan yang dibutuhkan di Indonesia:
• investasi pertanian agroekologis
• memberi perhatian pada kearifan lokal
• member...
Karakter 3 strata pertanian Indonesia (optional):
Perusahaan pertanian Pertanian keluarga
ukuran “sedang”
Pertanian keluar...
Perbedaan kebutuhan tiga strata pertanian:
Strata 3 Strata 2 Strata 1
Kebutuhan lahan Membeli dan sewa
(HGU tanah negara)
...
Terima Kasih
46
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Pak sahyuti ff

335 views

Published on

Family farming, keluarga petani Indonesia yang BERMARTABAT

Published in: Science
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Pak sahyuti ff

  1. 1. Peran Pertanian Keluarga dalam Menjamin Kedaulatan Pangan dan Mengentaskan Kemiskinan Oleh: SYAHYUTI Jakarta - 4 Juli 2014 Peran Pertanian Keluarga dalam Menjamin Kedaulatan Pangan dan Mengentaskan Kemiskinan Oleh: SYAHYUTI Jakarta - 4 Juli 2014 1
  2. 2. • Tahun 2014 adalah International Year of Family Farming” (IYFF) • Tujuannya adalah = to reposition family farming at the centre of agricultural, environmental and social policies in the national agendas by identifying gaps and opportunities to promote a shift towards a more equal and balanced development. • to defend and strengthen Family Farming as a viable alternative to eradicate the hunger, malnutrition and poverty suffered by 1000 million people worldwide. • Kegiatan 2014 IYFF 2014 = Promosi, diskusi, dan kerjasama di level nasional, regional, dan global; untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang tantangan yang dihadapi oleh smallholders dan mencari cara EFEKTIF untuk MENDUKUNG family farmers. • IYFF didukung oleh World Rural Forum dan 360 NGO sedunia • Bagaimana di Indonesia? 2
  3. 3. Berbagai istilah yang “selaras” dengan Family Farming: 1. peasant (vs farmer) 2. Petani kecil (vs petani besar) 3. Bertani sebagai way of life (vs bertani sebagai bisnis 4. Petani gurem (vs petani luas) 5. Pertanian agroekologi (vs agribisnis) 6. Pertanian rakyat (vs pertanian kapitalis) 7. Dll 3
  4. 4. Apa sih Family farming (“Pertanian Keluarga”) ? • a farm owned and operated by family • Menurut USDA: family farm = memproduksi untuk dijual, memproduksi cukup untuk kebutuhan keluarga dan usahatani, TK dari dalam keluarga dan dari luar (hired labor). • Di AS : 98 persen adalah family farms • FAO: family farming = “form of organizing crop and forest production as well as fishery, livestock raising, and aquaculture, which is managed and directed by a family, which mainly depends on family labor of both women and men. The family and the holding are linked, co-evolve, and combine economic, environmental, reproductive, social, and cultural functions.” 4
  5. 5. Apakah memang “Family Farming” yang menjadi konteks perjuangan petani Indonesia ? 5
  6. 6. Posisi konsep “Family Farming” dan “Small Farmer” 6 Seluruh USAHA PERTANIAN Perusahaan Pertanian Pertanian KELUARGA Pert keluarga skala sedang/besar Pert keluarga SMALL FARMER
  7. 7. Sisi-Sisi Positif Pertanian Keluarga (Alejandro Asin http://www.astc.org/...) 1. Family farming feeds the world. 70 persen pangan dunia diproduksi oleh family farmers. Small farms more productive (in terms of output per unit of land and energy use). 2. Family farming generates well being. 40 persen rumah tangga dunia bergantung kepada family farming. Dari 3 milyar penduduk desa di negara berkembang, sebanyak 2,5 milyar bekerja di pertanian. 3. Combats poverty. Pertumbuhan GDP dari pertanian mampu mengurangi kemiskinan dua kali lebih banyak dibanding sektor lain (World Bank). 4. Family farming protects biodiversity and the environment. (source of genetic diversity, uses seed varieties and livestock breeds well adapted to various environments, use of agroecological and traditional techniques, supporting the healthy functioning of ecosystems, more resilient to the impacts of climate change, contributes to maintaining the population in rural areas and preserving historic cultural values). 7
  8. 8. Petani Kecil penting: • Pidato Dirjen FAO pada The World Food Day - 16 Oktober 2012 = “Small-Scale Farmers As A Key To Feeding The World”. • Laporan PBB = “Small Farmer Feed The World”. • Kelahiran UU No19 - 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani = bahwa selama ini petani belum memperoleh perlindungan yang semestinya. 8
  9. 9. Siapa kah “petani kecil” ? • petani gurem (peasant), petani kecil (small farmer), buruh tani tanpa tanah (landless laborers), pertanian keluarga (family farming), dll • nelayan (fisherfolk), kelompok berburu-meramu (hunter and gatherer), kelompok penggembala (pastoralists) • Magna Carta of Small Farmers (Filipina), smallholder = “as natural persons dependent on small-scale subsistence farming as their primary source of income”. • Pasal 4 = “…natural persons dependent on small-scale subsistence farming as their primary source of income and whose sale, barter or exchange of agricultural products do not exceed a gross value of One hundred eighty thousand pesos (P180,000) per annum based on 1992 constant prices”. 9
  10. 10. Batasan petani kecil: • Land Bank of the Philippines, petani kecil = petani yg menguasai lahan < 5 ha. • Dalam laporan “Empowering Smallholder Farmers In Markets (ESFIM) Philippines Country Paper”, petani kecil = penguasaan < 2 ha • Thapa (2009) dan World Bank (2003) = menguasai lahan di bawah 2 ha. • Asian Farmers Association (AFA) = maksimal 3 ha untuk lowland dan 10 ha untuk upland 10
  11. 11. Di Indonesia: • Tidak dikenal istilah “petani kecil” secara resmi • Dalam literatur ilmiah = ada istilah petani gurem, petani tuna kisma, dan buruh tani • Pendekatan teknis-finansial telah meminggirkan aspek humanity pertanian • Petani adalah SDM = alat produksi • Era Revolusi Hijau, petani dipinggirkan dengan pendekatan “dipaksa, terpaksa, biasa” 11
  12. 12. Batasan “petani” di Indonesia: • Dalam KBBI, petani = orang yang mata pencahariannya bercocok tanam (terutama buruh tani dan petani penggarap) (= luas). • SP 1963, petani di bawah 1000 m2 = bukan petani (=sempit). • SP 2003, RT pertanian = rumah tangga yang mengusahakan lahan untuk berbagai kegiatan budidaya atau bukan pengguna lahan namun memanfaatkan produk pertanian dalam usahanya (penangkaran, memungut hasil hutan), serta berusaha di bidang jasa pertanian (=luas) • SP 2013, RT petanian = rumah tangga yang salah satu atau lebih anggota rumah tangganya memelihara tanaman/ternak/ikan baik untuk tujuan usaha maupun tidak (=sempit). 12
  13. 13. • UU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, petani = warga negara Indonesia perseorangan dan/atau beserta keluarganya yang melakukan usaha tani di bidang tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan/atau peternakan (=sempit) • Permentan No. 273/ 2007 tentang Pedoman Pembinaan Kelembagaan Petani. dan UU No. 16/2006 tentang penyuluhan, petani = perorangan warga negara Indonesia beserta keluarganya atau korporasi yang mengelola usaha di bidang pertanian, wanatani, minatani, agropasture, penangkaran satwa dan tumbuhan, di dalam dan di sekitar hutan, yang meliputi usaha hulu, usaha tani, agroindustri, pemasaran, dan jasa penunjang. • UU No. 12/ 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman = tidak ada batasan tentang petani. 13
  14. 14. Persepsi terhadap petani di Indonesia: • Petani berada dalam format relasi “negara- rakyat” • Basis petani adalah komoditas (petani pangan, petani hortikultura, pekebun, peternak, dst) • Petani lemah, di bawah, kurang berpengetahuan, sehingga perlu diberdayakan • Kedaulatan petani atas pengetahuan rendah • Semua pengetahuan berasal dari luar dan atas petani • Perlindungan bagi pengetahuan yang dimiliki petani belum ada. 14
  15. 15. Kondisi Pertanian keluarga di Indonesia 15
  16. 16. Jumlah RT pertanian berdasarkan luas penguasaan lahan (juta RT): Luas pengusaan lahan (ha/RT) 1983 1993 2003 <0,5 6.4 10.6 14.0 0,5-0,9 3.7 4.3 4.6 1-1,9 2.9 3.1 3.5 >2,0 2.2 1.6 2.8 Jumlah 17.1 21.1 24.9 16
  17. 17. Gejala guremisasi: Tahun Jumlah RT pertanian (juta) Total lahan yg dikuasai (000 ha) Rata-rata penguasaan (ha/RT) 1983 1.2 63.7 0.05 1993 1.6 83.0 0.05 2003 4.3 96.3 0.02 17
  18. 18. Hasil Sensus Pertanian 2013: 2003 2013 Perubahan (%) RT petani gurem 19.015.051 14.248.870 Turun 25,0 % RT usaha pertanian pengguna lahan 30.419.582 25.751.266 Turun 15,4 & RT usaha pertanian 31.232.184 26.135.469 Turun 16,3 % Perusahaan pertanian 4.011 5.486 Naik 36,8 % 18
  19. 19. Batasan dalam ST 2013: • RT Petani Gurem = RT pertanian pengguna lahan dengan penguasaan < 0,5 ha (mencakup lahan pertanian dan lahan bukan pertanian), RT budidaya ikan, penangkapan ikan, pemungutan hasil hutan, penangkapan satwa liar, dan jasa pertanian bukan pengguna lahan. • RT Usaha Pertanian = adalah rumah tangga yang salah satu atau lebih anggota rumah tangganya mengelola usaha pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual, baik usaha pertanian milik sendiri, secara bagi hasil, atau milik orang lain dengan menerima upah, dalam hal ini termasuk jasa pertanian. • RT Usaha Pertanian Pengguna Lahan = RT usaha pertanian yang melakukan satu atau lebih kegiatan usaha tanaman padi, palawija, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peternakan, budidaya ikan/biota lain di kolam air tawar/tambak air payau, dan penangkaran satwa liar. • Perusahaan Pertanian Berbadan Hukum = adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan jenis usaha di sektor pertanian yang bersifat tetap, terus menerus yang didirikan dengan tujuan memperoleh laba yang pendirian perusahaan dilindungi hukum atau izin dari instansi yang berwenang minimal pada tingkat kabupaten/kota, untuk setiap tahapan kegiatan budidaya pertanian seperti penanaman, pemupukan, pemeliharaan, dan pemanenan. Contoh: PT, CV, Koperasi, Yayasan, SIP Pemda 19
  20. 20. Guremisasi dan ketimpangan berlanjut: Luas penguasaan (ha/RT) 2003 2013 Perubahan (%) <0,1 9.4 4.3 -53.8 1-1,9 3.6 3.6 -1.5 2-4,9 6.8 6.7 -1.2 5-9,9 4.8 4.6 -4.8 10,19,9 3.7 3.7 1.0 20-19,9 1.7 1.6 -3.3 >30 1.3 1.6 22.8 Jumlah 31.2 26.1 -16.3 Jumlah RT usaha pertanian berdasarkan luas penguasaan lahan (juta RT) 20
  21. 21. Mengapa petani berkurang? 1. Perbedaan batasan antar sensus pertanian 2. Petani lari ke luar sektor pertanian, karena tidak ekonomis dan tidak mencukupi untuk kesejahteraan keluarga 3. Menjadi buruh tani belaka (tidak mengelola lahan sendiri, tidak menyewa dan tidak menyakap lahan orang lain) 4. Konversi lahan pertanian 21
  22. 22. Perbedaan ST 2003 vs 2013: 2003 2013 Unit Pencacahan Seluruh RT yang ada kegiatan pertanian Hanya RT biasa, yakni RT yang melakukan kegiatan pertanian dengan tujuan untuk usaha (dijual/ditukar). Konsep Rumah Tangga Pertanian RT yang melakukan kegiatan pertanian dengan tujuan untuk dijual dan memenuhi Batas Minimal Usaha yang ditetapkan RT pertanian tidak menggunakan Batas Minimal Usaha Populasi Komoditi Pertanian Seluruh populasi dari RT pertanian baik yg diusahakan maupun tidak Hanya mencakup populasi RT usaha pertanian (sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual/ditukar) 22
  23. 23. Karakter pertanian kecil: • penguasaan lahan sempit • penggunaan input rendah dan lokal (mandiri) • ramah lingkungan • indeks pertanaman tinggi (multicropping dan intercropping) • lebih intensif dan diverisifikatif • Produksi terbatas • lebih adaptif dan pejal, berkelanjutan • menjamin keragaman hayati 23
  24. 24. Peran pertanian kecil: • Untuk mengikis kemiskinan, kelaparan, dan degradasi lingkungan • Mampu memberi pangan dunia • Dengan menerima dan menyadari kehadiran mereka dengan karakter sosiokultural yang khas, akan menjamin pemenuhan pangan bagi mereka yang sekaligus akan membantu MEA mencapai ketahanan pangan. 24
  25. 25. Kebijakan terhadap petani kecil selama ini: • “petani kecil” (small farmer) agak tersingkirkan dari kebijakan pembangunan pemerintah selama ini. • Kalangan yang pro kepada usaha besar komersial = ingin petani kecil “hilang” • Penerapan teknologi yang rendah = aib kultural • Belum memadainya pemahaman, rendahnya pemihakan, dan perlakuan yang kurang adil kepada petani kecil (“anti-small farm policies”). • Ini akan melemahkan ketahanan pangan di Asean 25
  26. 26. Kondisi agraria petani kecil : • Di Indonesia, swasembada tidak otomatis menjamin kesejahteraan petani. Mata rantai yang putus adalah penguasaan lahan. • Laporan “Landless ASEAN Peasants Threatened by Starvation” oleh Asian Forum For Human Rights And Development = petani Asean terancam kelaparan, karena memproduksi tanaman untuk ekspor. 26
  27. 27. Akses pasar sulit: • Akses terhadap pasar sangat terbatas. • perubahan pada pasar dan produk pertanian, kompetisi juga semakin ketat • Laporan “Empowering Smallholder Farmers In Markets (Esfim) Philippines Country Paper” = petani kecil dikuasai pedagang, kekurangan informasi pasar, lemahnya modal dan dukungan pasca panen, distorsi, pasar tidak efisien 27
  28. 28. Organisasi petani: Lingkungan kelembagaan yang dihadapi: • Indonesia = pendekatan organisasi yang dijalankan merupakan bentuk alat kekuasaan pemerintah kepada rakyatnya. • Bourgeois (2003) =“During the Soeharto Era, there was no room for the development of organizations that were not under the control of the government. The government considered all organizations at the village level (in particular kelompok Tani, and KUD cooperatives) as instruments in policy implementation” • Setiap organisasi di desa tunduk pada kekuasaan atas-desa (power compliance) 28
  29. 29. Kondisi organisasi: Studi ASIADHRRA dan AGRITERRA (2002) di Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Thailand, Vietnam and Filipina (19 organisasi petani): • Organisasi lemah dalam pengetahuan dan keterampilan pengurus dan anggotanya • lemah secara politik di level nasional dan lokal. • Masing-masing organisasi telah mampu mengembangkan kemampuannya yang khas disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi di tiap negara. • Meskipun berskala nasional, namun masih lemah dalam manajemen dan sistem. • Di Malaysia ada organisasi NASH yang beranggotakan petani mencakup petani karet, sawit dan kakao. • AFA (Asian Farmers’ Association) berdiri tahun 2002. • Visi AFA: (1) kemandirian, pendidikan, kesehatan dan membebaskan dari kelaparan dan kemiskinan, (2) akses lahan, sumberdaya lain , (3) akses kepada pasar yang adil, (4) teknologi ramah lingkungan, dan (5) membantu petani berpartisipasi dalam proses politik dll 29
  30. 30. Tahap dan pokok perhatian Justifikasi Bentuk kebijakan 1. Productivity and Equity (1950-an) Kesetaraan dan produktivitas Agenda kebangsaan, dekolonialisasi, kemakmuran rakyat), menghadang komunisme. Inverse Relationship (IR) theory , produktivitas = out put per area of land Land to the tiller, land reform “from below” and “from above” 2. Productivity without Equity (1960-an) peningkatan produktivitas dan modernisasi pertanian dicapai melalui technological change tanpa structural change State-led developmentalism (negara dalam rekayasa sosial, penyediaan subsidi dan kredit, serta pengaturan harga dan pasar) Liberalisasi pasar finansial dan perdagangan Revolusi Hijau 3. Liberalisation and efficiency (1980-qn) efisiensi pasar dan deregulasi Pasar akan mengefisienkan seluruh mekanisme Market-based land reform Land administration Land titling (sertifikasi lahan) 4. Commercial Smallholders (abad 21) inkorporasi smallholders ke dalam mata rantai nilai global -Kosep scale and linkages -kontrak antara smallholders dan perusahaan agribisnis -Contract farming -inti-plasma -kemitraan bisnis -Visi neoliberal “transisi agraria” (World Development Report 2008) Historik tahapan kebijakan mengenai Smallholders 30
  31. 31. Berbagai hasil Riset PSEKP:Berbagai hasil Riset PSEKP: 31
  32. 32. • Studi Susilowati et al. (2008): – Partisipasi kerja RTP bergeser dari kegiatan usahatani ke nonpertanian. – Pekerja muda berpendidikan tinggi dan petani berlahan sempit bekerja campuran (pertanian + nonpertanian) – Petani berpendidikan rendah banyak menjadi buruh tani – fenomena “aging farmer” • Studi Kustiari et al. (2008): – Pendapatan sektor pertanian dan sektor nonpertanian berkorelasi rendah, kecuali bagi petani yang berlahan luas (>1 ha), karena hasil dari pertanian diinvestasikan ke sektor nonpertanian. – Pendapatan usaha tani adalah sumber pendapatan dominan petani sayur – Buruh tani rata-rata bekerja hanya 100 hari/tahun. 32
  33. 33. • Studi Susilowati et al., 2009) untuk petani pekebun: – tingkat partisipasi kerja keluarga = 66,9 %, tertinggi pada petani tebu dan terendah pada petani kakao. – Pertanian merupakan sumber pekerjaan utama = menyerap 77,4 persen kesempatan kerja di perdesaan – Pangsa pendapatan pertanian = 43-80 % terhadap pendapatan RT. • Rusastra et al. (2004): – Tidak dijumpai konvergensi upah antarsektor (pertanian, manufktur, dan jasa) dan wilayah. – Pasar tenaga kerja ditentukan oleh akses ekonomi wilayah, jenis komoditas yang diusahakan, dan dinamika kelembagaan lokal. – Dinamika kelembagaan sistem pengupahan menunjukkan kecenderungan pergeseran ke sistem borongan dan harian. – Sistem pengupahan semakin formal – Masuk pasar tenaga kerja pertanian tetap bersifat terbuka. 33
  34. 34. • Studi Malian et al. (2004): - Selama 1975-2000 = telah terjadi kesenjangan upah antara RT pertanian dan nonpertanian. -Luasan kepemilikan lahan semakin menurun -Petani penyakap semakin bertambah -Selama periode 1985-2003 = perubahan pangsa pekerja sektor pertanian relatif kecil (berkisar antara 40-55 %). • Penelitian Saliem et al. (2005): -peningkatan kompensasi tenaga kerja di sektor pertanian sangat kecil dan lebih rendah dari sektor lain (total gaji dan upah dibagi dengan jumlah tenaga kerja yang diserap) 34
  35. 35. • Penelitian Irawan et al. (2007): – Alokasi tenaga kerja kegiatan usahatani = 30-40 %, sisanya untuk usaha nonpertanian. – Upah borongan (60 persen) lebih mendominasi dibanding upah harian dan sambatan. – Sumbangan pendapatan RT dari pertanian = 59-98 %. • Penelitian Lokollo et al. (2007): - Sumbangan pendapatan dari pertanian = 60,49 persen. - Jumlah petani menurun, tapi buruh tani dan kegiatan nonpertanian meningkat. - Tanaman pangan lebih banyak menyerap TK - Kalangan usia muda kurang tertarik bekerja di sektor pertanian - pekerja usia lanjut cenderung meningkat. 35
  36. 36. Pertanian Keluarga Ke DEPAN 36
  37. 37. Persepsi dan Harapan terhadap Pertanian Keluarga: • Family Farming = our alternative for the future • Family Farming = feeding the world, caring for the earth • Family farming = be a key factor in the UN’s Zero Hunger Challenge and the UN post-2015 Sustainable Development Goals • Family Farming = combating poverty, achieving food security, and attaining a vibrant rural society, based on respect for the environment and biodiversity. 37
  38. 38. Kondisi yang dihadapi (http://www.ruralforum.net/...) 1. Keberadaan pertanian keluarga dipengaruhi oleh krisis pangan, finansial, dan bahan bakar; serta perubahan iklim 2. Kebijakan yang dibuat belum sesuai kebutuhan pertanian keluarga 3. Model ekonomi dan kebijakan pemerintah merugikan pertanian keluarga 4. Ancaman land grabbing terhadap pertanian dan keluarga dan produksi pangan berkelanjutan. 5. Lahan pertanian keluarga (smallholders, indigenous communities, and shepherds) diakuisisi untuk tenaman ekspor 6. Lemah akses dan kontrol pasar, serta posisi tawar 7. Peranan perempuan sangat vital pada pertanian yang 38
  39. 39. Kondisi PEREMPUAN dalam Pertanian Keluarga: 1. Women farmers play a vital role in producing as well as providing food for their families and their communities. 2. They are custodians of the environment as well as of the more traditional, less intensive farming and input-efficient techniques. 3. They are leaders in natural and genetic conservation efforts from seed selection to planting, harvesting, storage, and processing. 4. Their contributions are undercounted and most agricultural policies and programs are not sensitive to women farmers’ needs. 5. Women lack access to and control over land, access to markets, education and a political voice in farmers’ organizations and in government bodies. 6. They face gender-based discrimination in the household and society at a daily level. 7. These factors reduce their ability to contribute and benefit from agricultural development and also increase their vulnerabilities. 39
  40. 40. Kebutuhan ke DEPAN: 1. Strengthen family farmer organizations and movements to increase their influence over policies, institutions and markets, to secure access to the resources they need, and to ensure they are inclusive and act positively in favour of the most marginalized (women, youth, indigenous peoples, etc.). 2. Ensure that public and private institutions, including international financial institutions are accountable to family farmers and provide targeted, quality services (i.e. financing, infrastructure, extension, technology research and innovation, information, public distribution, education, emergency response, etc.) that build on family farmers' knowledge, capabilities, and interests. 3. Define investments and develop policies, in consultation with family farming organizations, which are specifically dedicated to addressing family farmer needs (inputs, local food availability/procurement, storage, territorial approach, and adaptation to local systems, etc.), and to redistributing wealth and opportunities to reduce inequalities in gender, and in access to critical resources (land, water), and services (finance, technologies, social protection). 40
  41. 41. Tugas untuk PEMERINTAH: 1. Ensure Family Farmers’ Access And Control Over Natural Resources, Mainly Land, Water, Forests And Seeds. 2. Promote Sustainable, Agro –Ecological Approaches By And With Family Farmers. 3. Ensure Access And Increased Market Power Of Family Farmers. 4. Promote Women Empowerment And Gender Equality. 5. Strengthen Organizations Of Family Farmers. 6. Promote Agriculture Among The Youth. 41
  42. 42. Yang dibutuhkan (Alejandro Asin http://www.astc.org/...) 1. Keterlibatan dan komitmen semua pihak 2. Pendidikan publik dan advokasi 3. Promosi kebijakan 4. Peningkatan infrastruktur dan pelayanan di pedesaan 5. Dukungan langsung untuk perempuan melalui investasi, kredit, land titling, dll. 6. Peningkatan TK pedesaan terutama kalangan muda 7. Penelitian pertanian 8. Pelatihan untuk peningkatan kapasitas 9. Peningkatan kesadaran sosial tentang peran pertanian keluarga 42
  43. 43. Dukungan yang dibutuhkan di Indonesia: • investasi pertanian agroekologis • memberi perhatian pada kearifan lokal • memberi akses dan kontrol sumber daya (air, tanah, dan modal) dari korporasi ke komunitas lokal • memperkuat organisasi tani. • Konsep “petani kecil” mesti masuk secara tegas dalam kebijakan dan menjadi agenda penting setiap negara di Asean. • IFPRI and ODI (2005) Berjudul “The Future of Small Farms” menyebutkan bahwa “….small farmers have a future but will need a variety of technological and nontechnological interventions to overcome the challenges they face”. • Dibutuhkan kreativitas menciptakan teknologi yang sesuai dengan mereka, serta kelembagaan 43
  44. 44. Karakter 3 strata pertanian Indonesia (optional): Perusahaan pertanian Pertanian keluarga ukuran “sedang” Pertanian keluarga gurem Luas penguasaan lahan >2 ha 0,5-2 ha <0,5 ha Sumber tenaga kerja Seluruhnya TK upahan dari luar keluarga TK keluarga + TK upahan Hanya menggunakan TK dari dalam keluarga Tipe manajemen dan teknologi Industrial , intensif, Semi intensif Aagroekologis, organik, Tipe teknologi Mekanisasi penuh Semi mekanisasi Mekanisasi rendah, utamakan tenaga manusia Orientasi usaha Bisnis Bisnis Kebutuhan pangan keluarga Komoditas yg ditanam komoditas pasar, ekspor, dll Komoditas pasar dan pangan keluarga Menanam komoditas pangan pokok keluarga Strata 3 2 1 44
  45. 45. Perbedaan kebutuhan tiga strata pertanian: Strata 3 Strata 2 Strata 1 Kebutuhan lahan Membeli dan sewa (HGU tanah negara) Lahan pribadi Lahan terlalu sempit, butuh perluasan, kepastian hak, dll Kebutuhan modal Bunga komersial ke perbankan Butuh subsidi Butuh subsidi Kebutuhan benih Mampu memproduksi sendiri Butuh subsidi Butuh subsidi Kebutuhan pupuk dan obat-obatan Mandiri, membeli dgn harga komersial Harga disubidi Subsidi lebih besar Kebutuhan teknologi Memiliki unit riset sendiri Mengandalkan pemerintah Butuh riset dengan pendekatan berbeda Kebutuhan informasi Sudah mandiri Penyuluhan dan media massa Penyuluhan lebih banyak dan pemberdayaan Organisasi Hanya butuh asosiasi Butuh organisasi (kel tani, Gapoktan, koperasi) Butuh organisasi yang berbeda 45
  46. 46. Terima Kasih 46

×