Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Fae 34-2 family farming yuti

61 views

Published on

Konsep pertanian keluarga (family farming) untuk Indonesia

Published in: Science
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Fae 34-2 family farming yuti

  1. 1. ISSN 0216 – 4361 Terakreditasi LIPI Sertifikat Nomor: 643/AU3/P2MI-LIPI/07/2015 forum penelitian agro ekonomi Volume 34 Nomor 2, Desember 2016 PUSAT SOSIAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PERTANIAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN RELEVANSI KONSEP DAN GERAKAN PERTANIAN KELUARGA (FAMILY FARMING) SERTA KARAKTERISTIKNYA DI INDONESIA Syahyuti 87-101 KEBIJAKAN INSENTIF UNTUK PETANI MUDA: Pembelajaran dari Berbagai Negara dan Implikasinya bagi Kebijakan di Indonesia Sri Hery Susilowati 103-123 TRANSFORMASI PERTANIAN DAN KRISIS AIR DI BALI DALAM PERSPEKTIF EKOLOGI POLITIK Herlina Tarigan 125-141 PENERAPAN KONSEP MANAJEMEN RANTAI PASOK PADA PRODUK UNGGAS Saptana, Rangga Ditya Yofa 143-161 KINERJA PEMANFAATAN MEKANISASI PERTANIAN DAN IMPLIKASINYA DALAM UPAYA PERCEPATAN PRODUKSI PANGAN DI INDONESIA Rizma Aldillah 163-177
  2. 2. FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI Volume 34 Nomor 2, Desember 2016 ISSN 0216 – 4361 Terakreditasi No.643/AU3/P2MI-LIPI/07/2015 FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI (FAE) adalah media komunikasi ilmiah yang memuat tinjauan kritis (critical review) hasil-hasil penelitian, gagasan-gagasan ataupun konsepsi-konsepsi orisinal dalam bidang sosial ekonomi pertanian dari para peneliti Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) dan lembaga lainnya. FAE diakreditasi oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan Sertifikat Akreditasi No. 643/AU3/P2MI-LIPI/07/2015. FAE diterbitkan dua kali setahun, yaitu pada bulan Juli dan Desember, oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian. Penanggung Jawab Kepala Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Dewan Redaksi Ketua Prof. Dr. Tahlim Sudaryanto, M.S. (PSEKP/Ekonomi Pertanian) Wakil Ketua merangkap Anggota Dr. Ir. Muchjidin Rachmat, M.S. (PSEKP/Ekonomi Pertanian) Anggota Dr. Ir. Sri Hery Susilowati, M.S. (PSEKP/Ekonomi Pertanian) Dr. Ir. Saptana, M.Si. (PSEKP/Ekonomi Pertanian) Dr. Ir. Rita Nur Suhaeti, M.Si. (PSEKP/Sosiologi Perdesaan) Dr. Ir. Syahyuti, M.Si. (PSEKP/Sosiologi Pertanian) Mitra Bestari sebagai Penelaah Ahli Tetap Dr. Ir. Andin H. Taryoto, M.Sc. (STP Bogor/Sosial Pertanian, Penyuluhan) Dr. Ir. Arya Hadi Dharmawan, M.Sc.Agr. (Institut Pertanian Bogor/Sosiologi Ekonomi) Prof. Dr. Bonar M. Sinaga (Institut Pertanian Bogor/Ekonomi Pertanian, Makro) Prof. Dr. Ir. Effendi Pasandaran (Jaringan Komunikasi Irigasi/Ekonomi Pertanian) Prof. Ir. H. Luthfi Fatah, M.S., Ph.D. (Universitas Lambung Mangkurat/Ekonomi Sumber Daya Alam) Prof. Dr. Ir. Masyhuri (Universitas Gajah Mada/Ekonomi Pertanian, Agribisnis) Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, M.S. (Universitas Brawijaya/Ekonomi Pertanian, Ketahanan Pangan) Prof. Dr. Ir. Rita Nurmalina, M.S. (Institut Pertanian Bogor/Ekonomi Pertanian, Agribisnis) Prof. Dr. Ir. Sumardjo Siswosoekarto, M.S. (Institut Pertanian Bogor/Sosial Pertanian, Penyuluhan) Prof. Dr. Ir. Tjeppy D. Soedjana, M.Sc. (Puslitbangnak/Ekonomi Pertanian, Peternakan) Redaksi Pelaksana Dr. Ir. Ening Ariningsih, M.Si. Dr. Ir. Herlina Tarigan, M.Si. N. Sri Sunari, S.E. Annisa Rika Rachmita, S.P. Ibnu Salman Alamat Penerbit/Redaksi Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Jalan A. Yani 70, Bogor 16161 Telp. (0251) 8333964 Fax. (0251) 8314496 E-mail : pse@litbang.pertanian.go.id publikasi_psekp@yahoo.co.id Website : http://www.pse.litbang.pertanian.go.id
  3. 3. KATA PENGANTAR Forum Penelitian Agro Ekonomi (FAE) Vol.34 No.2 bulan Desember 2016 merupakan edisi kedua dari terbitan tahun 2016. FAE adalah media ilmiah komunikasi yang memuat critical review hasil-hasil penelitian, gagasan-gagasan atau konsepsi-konsepsi dalam bidang sosial ekonomi pertanian dari para peneliti Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP) atau lembaga-lembaga lainnya. FAE terakreditasi sesuai dengan SK dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan Sertifikat Akreditasi No.643/AU3/P2MI-LIPI/07/2015. Dalam edisi ini FAE memuat lima artikel yang membahas topik-topik tentang pertanian keluarga, petani muda, ekologi politik, manajemen rantai pasok, dan mekanisasi pertanian. Edisi ini diawali dengan tulisan Syahyuti yang membahas pentingnya membangun kesadaran tentang pentingnya fokus pembangunan pertanian pada pertanian keluarga yang merupakan bagian terbesar dari komunitas pertanian kita. Selanjutnya Sri Hery Susilowati secara khusus mereview pengalaman di beberapa negara dalam melaksanakan kebijakan untuk menarik petani muda ke sektor pertanian. Dalam tulisan tersebut disimpulkan bahwa kebijakan bantuan finansial kepada petani muda masih pro dan kontra. Untuk kasus Indonesia, kebijakan untuk meningkatkan akses terhadap permodalan dan penguasaan lahan lebih diperlukan. Dalam tulisan ketiga, dengan menggunakan perspektif ekologi politik dan kasus di Bali, Herlina Tarigan menyimpulkan bahwa perkembangan pariwisata di Bali telah berdampak pada masalah lingkungan, alih fungsi lahan, krisis air dan peluruhan kelembagaan Subak. Penulis menyarankan agar pariwisata di Bali lebih difokuskan pada eko-wisata, agro-wisata dan kultur-wisata. Artikel keempat dalam edisi ini yang ditulis oleh Saptana dan Rangga mereview penerapan konsep manajemen rantai pasok dalam agribisnis perunggasan. Penulis menekankan bahwa penggunaan analisis manajemen rantai pasok pada produk perunggasan dapat meningkatkan efisiensi distribusi produk perunggasan melalui keterpaduan proses produk dan antar pelaku dalam rantai pasok. Edisi ini ditutup dengan tulisan dari Rizma Aldilah tentang mekanisasi pertanian. Penulis menyimpulkan bahwa perkembangan alat dan mesin pertanian (alsintan) di Indonesia memerlukan pemetaan yang baik berkaitan dengan kebutuhan dan ketersediaannya, serta peningkatan kelembagaan untuk meningkatkan efektivitasnya. Seluruh jajaran Redaksi FAE mengucapkan terima kasih kepada para penulis yang dengan penuh kesabaran telah mengikuti seluruh rangkaian proses penerbitan edisi ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada mitra bestari yang telah bersedia mereview dan memberikan masukan terhadap draft awal dari artikel-artikel tersebut. Bogor, Desember 2016 Ketua Dewan Redaksi
  4. 4. ISSN 0216 - 4361 forum penelitian agro ekonomi Volume 34 Nomor 2, Desember 2016 DAFTAR ISI RELEVANSI KONSEP DAN GERAKAN PERTANIAN KELUARGA (FAMILY FARMING) SERTA KARAKTERISTIKNYA DI INDONESIA Syahyuti 87-101 KEBIJAKAN INSENTIF UNTUK PETANI MUDA: Pembelajaran dari Berbagai Negara dan Implikasinya bagi Kebijakan di Indonesia Sri Hery Susilowati 103-123 TRANSFORMASI PERTANIAN DAN KRISIS AIR DI BALI DALAM PERSPEKTIF EKOLOGI POLITIK Herlina Tarigan 125-141 PENERAPAN KONSEP MANAJEMEN RANTAI PASOK PADA PRODUK UNGGAS Saptana, Rangga Ditya Yofa 143-161 KINERJA PEMANFAATAN MEKANISASI PERTANIAN DAN IMPLIKASINYA DALAM UPAYA PERCEPATAN PRODUKSI PANGAN DI INDONESIA Rizma Aldillah 163-177 Terakreditasi No. 643/AU3/P2MI-LIPI/07/2015
  5. 5. RELEVANSI KONSEP DAN GERAKAN PERTANIAN KELUARGA (FAMILY FARMING) SERTA KARAKTERISTIKNYA DI INDONESIA Syahyuti  87 RELEVANSI KONSEP DAN GERAKAN PERTANIAN KELUARGA (FAMILY FARMING) SERTA KARAKTERISTIKNYA DI INDONESIA Family Farming Concept and Movement Relevance and Their Characteristics in Indonesia Syahyuti* Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian Jln. Tentara Pelajar No. 3B, Bogor 16111, Jawa Barat, Indonesia *Korespondensi penulis. E-mail: syahyuti@gmail.com Naskah diterima: 3 Agustus 2016 Direvisi: 18 Agustus 2016 Disetujui 31 Oktober 2016 ABSTRACT The United Nations established 2014 as the international year of family farming aimed to encourage public awareness and understanding on family farming issues and how to find effective ways to support them. Family farming is run by the majority of farmers in the world and it contributes greatly to food provision, environmental health, poverty alleviation, and farmers’ welfare. Indonesia also needs to support family farming because of its unique characteristics. This paper reviews various topics related with family farming. Indonesia needs to increase knowledge to all stakeholders related to with family farming in terms of cooperation, movement and program to sustain and develop it in the future. Therefore, we need a family farming index in accordance with all stakeholders’ views. Indonesian family farming index consists of input, process, and output aspects. Keywords: family farming, index, small farmers ABSTRAK PBB telah menetapkan tahun 2014 sebagai tahun internasional pertanian keluarga dengan tujuan menarik perhatian masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang permasalahan pertanian keluarga dan menemukan cara yang efektif untuk mendukungnya. Pertanian keluarga dijalankan oleh sebagian besar petani di dunia dan terbukti memberikan sumbangan yang besar bagi penyediaan pangan, kesehatan lingkungan, pengentasan kemiskinan, dan kesejahteraan petani. Indonesia juga membutuhkan kesadaran dan perlunya dukungan terhadap pertanian keluarga karena memiliki karakter masalah pertanian keluarga yang khas. Tulisan ini merupakan tinjauan review dari berbagai bahan. Indonesia membutuhkan peningkatan pengetahuan bagi seluruh pihak terkait dengan pertanian keluarga agar dapat membangun kerja sama, gerakan, dan program untuk menjaga dan mengembangkannya ke depan. Untuk itu dibutuhkan sebuah indeks pertanian keluarga yang bisa menjadi pegangan dan kesepakatan semua pihak. Indeks pertanian keluarga untuk Indonesia merupakan sebuah variabel komposit yang mencakup aspek input, proses, dan sekaligus output dari pertanian keluarga. Kata kunci: indeks, pertanian keluarga, petani kecil PENDAHULUAN Pertanian keluarga (family farming) merupakan gerakan internasional yang di Indonesia masih menjadi wacana baru, di mana berbagai pihak sedang berupaya mendapat pemahaman dan agenda kerja yang jelas. Badan dunia PBB telah menetapkan tahun 2014 sebagai tahun internasional pertanian keluarga (International Year of Family Farming) yang dikenal dengan “IYFF 2014”, dengan tujuan “... to reposition family farming at the centre of agricultural, environmental and social policies in the national agendas by identifying gaps and opportunities to promote a shift towards a more equal and balanced development. to defend and strengthen family farming as a viable alternative to eradicate the hunger, malnutrition and poverty suffered by 1000 million people worldwide” (WRF 2015) Kegiatan IYFF 2014 terdiri dari berbagai bentuk aktivitas, yaitu promosi, diskusi, dan kerja sama di level nasional, regional, dan global untuk meningkatkan kesadaran, pemahaman, dan tantangan yang dihadapi oleh petani skala kecil (smallholders) dan menemukan cara yang efektif untuk mendukung pertanian keluarga. Sebagai gerakan internasional, IYFF 2014 didukung pula oleh organisasi World Rural Forum (WRF) dan 360 lembaga swadaya masyarakat (non goverment organization) di seluruh dunia (Quintana 2014).
  6. 6. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 2, Desember 2016: 87-10188 Indonesia memiliki kondisi pembangunan pertanian yang juga membutuhkan kesadaran dan perlunya dukungan terhadap pertanian keluarga. Namun demikian, karakter masalah pertanian keluarga yang dihadapi Indonesia memiliki persoalan sendiri sehingga harus didekati dengan strategi yang agak berbeda. Semenjak dahulu, Indonesia cenderung menerima dan mengadopsi berbagai konsep yang menjadi gerakan internasional terutama yang disebarkan oleh lembaga resmi dunia. Contohnya, konsep pengentasan kemiskinan, gender, pertanian berkelanjutan, ketahanan pangan, kedaulatan pangan, pertanian ramah lingkungan, penyuluhan partisipatif, Millenium Development Goals (MDG), dan pemberdayaan. Beberapa ide telah menjadi agenda nasional secara resmi dan masuk dalam dokumen kebijakan pemerintah. Ide tersebut telah menjadi tujuan nasional yang diikuti dengan program dan proyek, dilengkapi dengan strategi, pendekatan, dan pengembangan indikator untuk mengukur pencapaiannya. Namun, khusus untuk ide dan gerakan pertanian keluarga, saat ini masih pada tahap awal pengenalan dan sosialisasi. Dari sisi konsep, beberapa ide dan gerakan dalam pembangunan pertanian dan perdesaan selama ini dalam beberapa elemen relatif sejalan dengan konsep “pertanian keluarga”. Tulisan ini berupaya memaparkan apa dan bagaimana ide, tujuan, serta strategi pertanian keluarga yang diperjuangkan oleh forum internasional. Selanjutnya, dipaparkan bagai- mana relevansi dan urgensi kegiatan ini di Indonesia karena kondisi pertanian Indonesia yang khas, serta karakteristik dasar dan rumusan untuk pengukuran level keberhasilan pertanian keluarga di Indonesia. Pada bagian akhir juga disampaikan usulan untuk pengu- kuran indeks pertanian keluarga, sehingga kegiatan ini menjadi lebih sistematis dijalankan dan terukur kemajuannya. KONSEPSI DAN GERAKAN PERTANIAN KELUARGA (FAMILY FARMING) Kelahiran konsep dan gerakan “family farming” diawali di Spanyol ketika timbul ketakutan akan hilangnya pertanian keluarga digantikan oleh perusahaan korporet besar yang menimbulkan banyak kerusakan alam dan ketimpangan ekonomi. Dalam pengertian yang sangat umum, pertanian keluarga (family farming) adalah “... a farm owned and operated by family“, atau pertanian yang dimiliki dan dikelola oleh keluarga, bukan oleh perusahaan (WRF 2015). Menurut batasan yang digunakan USDA, pertanian keluarga memproduksi komoditas pertanian untuk dijual maupun cukup untuk kebutuhan keluarga sendiri, sedangkan tenaga kerja berasal dari dalam keluarga dan dari luar (hired labor). Batasan FAO (2014) paling banyak digu- nakan, pertanian keluarga didefinisikan sebagai “form of organizing crop and forest production as well as fishery, livestock raising, and aquaculture, which is managed and directed by a family, which mainly depends on family labor of both women and men. The family and the holding are linked, co-evolve, and combine economic, environmental, reproductive, social, and cultural functions.” Ini merupakan gambaran sebuah pertanian yang dikelola dengan berbagai prinsip yang selaras dengan alam dan harmonis pada komunitas, dengan tetap menyandarkan kepada bertani sebagai sebuah aktivitas yang menyenangkan dan memiliki kedalaman sosio- kultural (way of life). Pertanian keluarga diberikan harapan yang sangat besar sehingga ada jargon bahwa “pertanian keluarga adalah alternatif masa depan dunia” (family farming - our alternative for the future”). Sidang Umum Perserikatan Bangsa- bangsa (PBB) pada tanggal 5–7 Oktober 2011 menghasilkan sebuah Final Declaration of Family Farming World Conference yang menetapkan tahun 2014 sebagai Tahun Internasional Pertanian Keluarga (International Year of Family Farming/IYFF). Ini merupakan wujud pengakuan atas pentingnya pertanian keluarga dalam menjaga pasokan pangan dunia, mengurangi kemiskinan global, serta mening- katkan ketahanan pangan dan gizi di dunia (FAO 2014). Perayaan Tahun Internasional Pertanian Keluarga juga bertujuan untuk meningkatkan perhatian dunia kepada pertanian keluarga dan pertanian skala kecil atas peran penting keduanya dalam menghapuskan kelaparan, meningkatkan mata pencaharian petani, memperbaiki pengelolaan sumber daya alam, melindungi lingkungan dan mencapai pemba- ngunan yang berkelanjutan, khususnya di perdesaan. Pertanian keluarga akan memenuhi fungsi untuk memenuhi pangan dunia (feeds the world), menciptakan kesejahteraan (generates well being), memerangi kemiskinan (combats poverty), serta melindungi biodiversitas dan lingkungan (protects biodiversity and the environment) (Quintana 2014). Tujuan selengkapnya gerakan IYFF 2014 adalah untuk (1) mendukung pembangunan pertanian, lingkungan, dan kebijakan sosial yang kondusif untuk mewujudkan pertanian keluarga; (2) meningkatkan pengetahuan, komunikasi, dan
  7. 7. RELEVANSI KONSEP DAN GERAKAN PERTANIAN KELUARGA (FAMILY FARMING) SERTA KARAKTERISTIKNYA DI INDONESIA Syahyuti  89 kesadaran publik; (3) memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap kebutuhan, potensi, serta hambatan teknis pertanian keluarga; serta (4) menciptakan sinergi untuk keberlanjutannya (Quintana 2014). Pada hakekatnya, “... family farming as a guarantee of food security and food sovereignty and a source of economic, social and territorial development” (WRF 2015). Penetapan Tahun Internasional Pertanian Keluarga 2014 tidak terlepas dari upaya menempatkan kembali posisi pertanian keluarga di dalam pusat kebijakan-kebijakan pertanian, lingkungan, dan sosial dalam agenda nasional dengan mengidentifikasi kesenjangan dan peluang-peluang menuju pembangunan yang lebih berkeadilan dan seimbang. Dalam kegiatan ini, semakin banyak diskusi dan kerja sama di tingkat nasional, regional, dan global untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap berbagai tantangan yang dihadapi petani kecil, serta membantu mengidentifikasi cara-cara yang efesien untuk mendukung keluarga-keluarga petani/nelayan kecil, di antaranya dengan mendukung terbangunnya kebijakan-kebijakan yang kondusif bagi perta- nian berkelanjutan. Selain itu, untuk mencapai pemahaman yang lebih baik mengenai kebutuhan pertanian keluarga, potensi-potensi dan hambatan serta adanya jaminan dukungan teknis. Pertanian keluarga meliputi berbagai kegi- atan pertanian berbasis keluarga dan yang terkait dengan bidang-bidang pembangunan perdesaan. Pertanian keluarga sebenarnya adalah sebuah perangkat untuk mengoor- dinasikan produksi di pertanian, kehutanan, perikanan laut dan darat, serta kegiatan penggembalaan yang dikelola dan dijalankan oleh sebuah keluarga, baik perempuan maupun laki-laki, serta mengandalkan tenaga kerja keluarga (Toader dan Roman 2015). Pertanian keluarga mempunyai peran penting dalam kehidupan sosial ekonomi, lingkungan, dan budaya karena pertanian keluarga dan pertanian skala kecil tidak dapat dilepaskan dari ketahanan pangan dunia. Pertanian keluarga memelihara produk-produk pangan tradisional dan menyumbang kepada keseimbangan gizi, menjaga keanekaragaman pertanian dunia dan pemanfaatan sumber daya alam secara ber- kelanjutan. Gerakan ini merupakan sebuah peluang untuk mendorong perekonomian lokal, khususnya jika telah tercipta kebijakan-kebijakan yang bertujuan kepada perlindungan sosial dan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu, sudah selayaknya para pemerintah di dunia mendukung pertanian keluarga melalui kebijakan-kebijakan nasionalnya, kemudian bersama-sama di tingkat regional dan dunia bersinergi memajukan pertanian keluarga. Gerakan pertanian keluarga memberikan perhatian kepada petani, keluarga petani, dan buruh tani; satu objek yang selama ini agak terabaikan karena pemerintah lebih mengu- tamakan pencapaian produksi, produktivitas, dan swasembada komoditas tanaman pangan. Berbagai referensi menunjukkan jargon positif terhadap pertanian keluarga, di antaranya adalah “Family farming is our alternative for the future”, “Family farming feeding the world, caring for the earth”. Konsep “family farming” sebagai konsep yang paling baru sesungguhnya dapat dipandang sebagai bungkus baru dari isi yang sedikit banyak sejalan dengan berbagai konsep lain, di antaranya adalah konsep “peasant” dalam konteks vis a vis terhadap “farmer”, atau petani kecil dalam kontra dengan petani besar. Konsep lain adalah “pertanian akroekologis” dan “pertanian rakyat”, serta juga relatif sejalan dengan konsep bertani sebagai way of life versus bertani sebagai bisnis. Menurut Bastian (2011), pertanian keluarga menggunakan energi lebih murah, sensitif pada risiko, dan memproteksi lingkungan. Bahkan, studi Medina et al. (2015) di Brazil melihat bahwa pertanian keluarga lebih unggul dan menyebutnya sebagai sektor yang kompetitif (more competitive sector) karena berkontribusi langsung kepada pengurangan kemiskinan, ketahanan pangan, dan pertumbuhan ekonomi. Pertanian keluarga sangat penting bagi pemba- ngunan berkelanjutan kehidupan perdesaan dan juga mempromosikan kehidupan yang sehat (healthy lifestyle) dan eksis, baik di negara maju maupun berkembang (Toader dan Roman 2015). Pada tahun 2016, disepakati untuk menindaklanjuti gerakan ini melalui tagline “IYFF+10”, yakni konsensus untuk melanjutkan gerakan ini sampai 10 tahun ke depan, yakni tahun 2026 (IFAD 2016). Setiap negara akan bekerja sama meningkatkan dukungan publik di bawah Family Farming National Committees di negara masing-masing, menciptakan pedoman untuk promosi, serta meningkatkan relasi antara penelitian dan organisasi-organisasi pertanian keluarga (Family Farming Organisations). Organisasi petani didorong untuk mengambil bagian dalam kebijakan politik serta mampu bekerja sama dengan lembaga lokal, nasional, dan internasional. IFAD merupakan pihak utama dalam mempromosikan dan mengimplemen- tasikan Program “IYFF” maupun “IYFF+10”.
  8. 8. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 2, Desember 2016: 87-10190 Sebaran dan Permasalahan Pertanian Keluarga di Dunia FAO melaporkan bahwa pertanian keluarga mencakup lebih dari 570 juta usaha pertanian di dunia yang dijalankan oleh lebih dari 500 juta keluarga (Lowder et al. 2014). Semua ini menyumbang setidaknya 56% dari total produksi pertanian dunia. “Family farming is the predominant form of agriculture both in developed and developing countries” (FAO 2017). Jumlah pertanian keluarga menjadi dominan karena batasan yang digunakan cukup luas, yakni mencakup pertanian “... range from smallholder to medium-scale farmers, and include peasants, indigenous peoples, traditional communities, fisher folks, mountain farmers, pastoralists and many other groups representing every region and biome of the world (Lowder et al. 2014; FAO 2017). Peran pertanian keluarga sangat signifikan. Di Brazil misalnya, pertanian keluarga menyumbang 40% dari total produksi pertanian nasional, hanya dari lahan yang luas totalnya kurang dari 25% lahan pertanian nasional. Di Fiji, proporsinya lebih besar, yakni 84% produksi nasional dari total lahan yang tidak sampai setengah (47,4% dari total lahan nasional). Untuk Amerika, pertanian keluarga menyumbang 84% dari seluruh produksi nasional, dihasilkan dari 78% lahan, di mana 98% usaha pertanian tergolong sebagai pertanian keluarga. Data ini menunjukkan bahwa pertanian keluarga lebih produktif, mampu memberikan hasil produksi yang lebih besar dengan luasan lahan yang lebih kecil. Secara keseluruhan di tingkat dunia, sekitar 1,5 miliar petani hidup dari lahan kecil kurang dari 2 hektare, 410 juta orang mengumpulkan hasil hutan dan padang rumput, 100–200 juta orang menjadi penggembala ternak, 100 juta orang berprofesi sebagai nelayan kecil, serta 370 juta lainnya merupakan kelompok masyarakat adat yang sebagian besar bertani (FAO 2017). Selain itu, masih ada 800 juta orang bercocok tanam di perkotaan. Pertanian keluarga merupakan basis produksi pangan yang berkelanjutan, dengan pengelolaan lingkungan dan lahan serta keanekaragaman hayatinya, dan menjadi basis pelestarian warisan sosial-budaya yang penting dari bangsa-bangsa dan komunitas perdesaan. Pertanian keluarga berperan penting di Eropa, namun jumlahnya mulai menurun. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagaimana kemam- puan resiliensi (resilience) pertanian keluarga untuk bertahan dalam jangka panjang sekaligus beradaptasi terhadap perubahan luar. Darnhofer et al. (2016) mendapatkan dua perspektif penyebabnya, yakni peran pertanian keluarga dalam dinamika ekologi dan peran aktor petani itu sendiri dalam ranah struktur sosial masyarakat setempat. Ia mengelompok- kan ini menjadi dikotomi “structure/agency” dan “ecological/social”. Petani keluarga di seluruh dunia sangat dipengaruhi oleh krisis pangan yang berkaitan dengan krisis keuangan, bahan bakar, dan perubahan iklim. Banyak kebijakan publik kurang tanggap terhadap kebutuhan petani kecil dan keluarganya. Pencaplokan lahan menjadi ancaman terbesar bagi pertanian keluarga dan produksi pangan secara berkelanjutan. Banyak pertanian keluarga, termasuk petani kecil, nelayan kecil/tradisional, masyarakat adat, dan penggembala, terampas asetnya melalui pengambilalihan (akuisisi) lahan-lahan atau daerah tangkapan mereka untuk dijadikan perkebunan tanaman ekspor untuk industri dan tanaman pangan, atau dijadikan kawasan komersial. Selain itu, pertanian keluarga berskala kecil ini mengalami keterbatasan akses ke pembiayaan dan pasar, memiliki daya tawar yang lemah atas harga-harga produk mereka, sedangkan perlindungan dan pemberdayaan keluarga-keluarga petani kecil masih terbatas dalam implementasinya. Selain itu, pemahaman pengambil kebijakan sering kurang memadai. Di Indonesia misalnya, dalam UU No. 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, buruh tani tidak masuk sebagai objek yang dilindungi dan diberdayakan. Buruh tani umumnya tidak masuk dalam organisasi (Berdegue 2000), kurang diperdulikan dalam penyuluhan, bahkan juga tidak terdata oleh statistik. Menurut Asin (2014), pertanian keluarga memiliki banyak sisi-sisi positif. Pertama, pertanian keluarga memberi makan dunia. Saat ini, 70% pangan dunia diproduksi oleh family farmers. Pertanian keluarga sebagian berskala besar dan sebagian kecil. Pertanian skala kecil sesungguhnya lebih produktif dalam konteks output per areal lahan dan juga dalam penggunaan energi (in terms of output per unit of land and energy use). Kedua, pertanian keluarga menciptakan kesejahteraan. Saat ini, 40% rumah tangga dunia bergantung dari usaha pertanian. Dari 3 miliar penduduk desa di negara berkembang, sebanyak 2,5 miliar bekerja di pertanian. Ketiga, pertanian keluarga melawan kemiskinan. Menurut data World Bank, pertumbuhan GDP dari pertanian mampu mengurangi kemiskinan dua kali lebih banyak
  9. 9. RELEVANSI KONSEP DAN GERAKAN PERTANIAN KELUARGA (FAMILY FARMING) SERTA KARAKTERISTIKNYA DI INDONESIA Syahyuti  91 dibanding sektor lain. Oleh karena itu, pertanian keluarga diyakini PBB sebagai kunci dalam memerangi kelaparan (UN’s Zero Hunger Challenge and the UN post-2015 Sustainable Development Goals). Keempat, pertanian keluarga menjaga keragaman biodiversitas dan lingkungan. Pertanian keluarga yang menanam beragam komoditas dan varietas pada satu hamparan adalah sumber daya genetik yang sangat kaya. Mereka mengusahakan beragam tanaman dengan karakteristik yang berbeda, mengguna- kan benih dan bibit ternak yang adaptif dengan lingkungan setempat, dengan prinsip agro- ekologis, sehingga menyokong pertanian yang sehat (the healthy functioning of ecosystems), juga lebih tahan terhadap tekanan iklim. Pertanian keluarga juga berkontribusi kepada sosio kultural masyarakat desa dengan segala nilai-nilai kulturalnya. Koltun et al. (2015) mengingatkan bahwa untuk pertanian keluarga semestinya tidak menggunakan indikator output dalam menilainya. Namun demikian, kondisi yang dihadapi saat ini secara umum bahwa keberadaan pertanian keluarga dipengaruhi oleh krisis pangan, finansial, dan bahan bakar; serta perubahan iklim (WRF 2016). Kebijakan yang dibuat pemerintah belum sesuai untuk kebutuhan pertanian keluarga, di mana model ekonomi dan kebijakan pemerintah merugikan pertanian keluarga. Gejala pengambilalihan lahan (land grabbing) merupakan ancaman terhadap pertanian keluarga dan produksi pangan berkelanjutan. Banyak lahan pertanian keluarga (smallholders, indigenous communities, and shepherds) diakuisisi untuk usaha tanaman ekspor. Keluarga-keluarga petani yang lemah dalam akses dan kontrol pasar serta posisi tawarnya, berhadapan dengan pihak-pihak yang kuat . Petrini et al. (2016) melaporkan bahwa di Barzil, ekspansi korporat besar pabrik tebu yang memproduksi ethanol menekan pertanian keluarga untuk menyewakan atau menjual lahan-lahan mereka. Namun, para pemangku kepentingan pembangunan pertanian memiliki persepsi positif terhadap pertanian keluarga karena lebih menjamin keragaman biodiversitas, tidak hanya mendukung sumber daya alam melainkan merupakan basis strategi untuk ekonomi nasional. Sementara. penelitian Gregor (1982) di Amerika dengan menggunakan multivariate model mendapatkan bahwa pertanian skala kecil mulai tergerus karena berbagai sebab mulai dari kurang kompetitif dalam faktor produksi, juga tidak lagi dilindungi dari sumber-sumber daya tradisional misalnya intensifitas tenaga kerja dan efisiensi produksi. Bersamaan dengan ini tekanan dari pertanian skala besar yang dikelola sebagai “the factory farm” juga semakin besar. Peran Penting Perempuan dan Generasi Muda dalam Pertanian Keluarga Perempuan memiliki posisi yang sangat vital dalam pertanian keluarga. Perempuan memegang peran penting dalam produksi dan penyediaan pangan bagi keluarga, menjaga lingkungan dan tradisi, serta menerapkan teknik- teknik pertanian yang rendah input kimia sintetis sehingga efisien. Banyak perempuan yang telah melakukan praktik pertanian organik/alami. Para perempuan berada di depan dalam upaya pelestarian dan pemanfaatan sumber daya genetika, mulai dari seleksi benih, panen, penyimpanan, dan sebagainya. Peran tradisional perempuan selama ini terlibat langsung dalam proses produksi dan sekaligus menyiapkan makanan untuk keluarga dan komunitasnya. Perempuan juga berperan penting dalam konservasi genetik (genetic conservation), di mana mereka terlibat langsung dalam menanam, pemanenan, penyimpanan, dan pengolahan pangan. Perempuan menjaga lingkungan dan tradisi, serta menerapkan teknik- teknik pertanian yang rendah input dan input yang efisien. Studi Seuneke dan Bock (2015) di Belanda mendapatkan bahwa perempuan memiliki kemampuan multifungsi (multifunctional entrepreneurs). Ada tiga peran utama perempuan, yaitu membawa praktik baru ke pertanian, menyediakan akses kepada jaringan, dan melakukan negosiasi dengan keluarga petani lain. Namun, umumnya perempuan kurang dihargai dalam kebijakan karena kurang sensitif kepada ketutuhan khas perempuan. Perempuan juga lemah dalam hal akses kepada lahan, pasar, pendidikan, dan politik di mana suara mereka jarang didengar dalam organisasi petani (farmers’ organizations and in government bodies). Pada tingkat rumah tangga dan masyarakat mereka mengalami gender-based discrimination. Hal ini semua menghalangi kontribusi mereka kepada pembangunan pertanian. FAO mengingatkan bahwa untuk memper- tahankan eksistensi pertanian keluarga, perlu perhatian kepada perempuan dan pemuda tani. Di negara berkembang, perempuan merupakan 43% dari seluruh tenaga kerja pertanian, bahkan di beberapa negara proporsinya lebih dari 80% (FAO 2014). Permasalahan perempuan adalah mereka kurang akses kepada fasilitas kredit dibandingkan laki-laki. FAO mencatat bahwa
  10. 10. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 2, Desember 2016: 87-10192 hanya 10% kredit di sub-Sahara Afrika tersedia untuk perempuan (FAO 2011). Di negara-negara berkembang, perempuan adalah tulang pung- gung pertanian, namun mereka belum memiliki akses yang seimbang. Generasi muda di pertanian juga berperan sangat penting bagi keberlanjutan pertanian di seluruh dunia. Namun, pemuda petani memiliki keterbatasan dalam dukungan ekonomi dan pendidikan yang dapat memotivasi mereka agar memajukan pertanian di desa. Berbagai keter- batasan itu membuat pertanian tidak menarik sehingga pemuda lebih memilih meninggalkan desa tanpa menyadari pentingnya melanjutkan, menciptakan, dan menghasilkan kehidupan di lingkungan pertanian mereka sendiri dengan penuh martabat (Leavy dan Smith 2010). Golongan muda merupakan masalah sendiri. Saat ini dengan populasi lebih kurang seperlima populasi dunia, namun mereka enggan berkarir di sektor pertanian. Ide yang berkembang untuk menarik mereka ke dalam pertanian, selain berusaha mendorongnya menjadi petani secara langsung, juga ditawarkan untuk profesi lain yang tidak langsung, yakni pengusaha pangan (food entrepreneurs), ilmuwan, dan penyuluh pertanian (extension agents). Namun, untuk mendapatkan hasil yang lebih signifikan, maka pemerintah perlu membantu petani muda untuk akses kepada lahan, kredit perbankan, pendidikan, serta keterampilan teknis yang memadai (FAO 2014). GAMBARAN PERTANIAN KELUARGA DI INDONESIA Dalam sepuluh tahun terakhir (2003–2013), jumlah rumah tangga petani di Indonesia mengalami penurunan. Hasil pendataan BPS menunjukkan penurunan rumah tangga petani dari 31,2 juta pada tahun 2003 menjadi 26,1 juta rumah tangga pada 2013. Namun, penurunan jumlah rumah tangga petani diikuti dengan makin meningkatnya jumlah perusahaan per- tanian pada periode yang sama, yaitu dari jumlah 4.011 perusahaan (2003) menjadi 5.486 perusahaan (2013). Dengan kata lain, peru- sahaan pertanian semakin mendominasi ekonomi pertanian di Indonesia. Dalam waktu sepuluh tahun jumlah perusahaan pertanian meningkat 36,8%, sebaliknya rumah tangga pertanian gurem turun 25,0% dan juga rumah tangga pertanian pengguna lahan turun sebesar 15,4%. Sesuai dengan batasan dalam Sensus Pertanian 2013, rumah tangga (RT) petani gurem adalah RT pertanian pengguna lahan dengan penguasaan <0,5 ha (mencakup lahan pertanian dan lahan bukan pertanian), RT budi daya ikan, penangkapan ikan, pemungutan hasil hutan, penangkapan satwa liar, dan jasa pertanian bukan pengguna lahan. RT Usaha Pertanian adalah rumah tangga yang salah satu atau lebih anggota rumah tangganya mengelola usaha pertanian dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual, baik usaha pertanian milik sendiri, secara bagi hasil, atau milik orang lain dengan menerima upah, dalam hal ini termasuk jasa pertanian. Tabel 1. Perbandingan jumlah dan perubahan rumah tangga pertanian, 2003 dan 2013 Aspek ST 2003 ST 2013 Perubahan (%) RT petani gurem 19.015.051 14.248.870 - 25,0 RT usaha pertanian pengguna lahan 30.419.582 25.751.266 -15,4 RT usaha pertanian 31.232.184 26.135.469 -16,3 Perusahaan pertanian 4.011 5.486 36,8 Sumber: BPS (2004, 2014) RT usaha pertanian pengguna lahan adalah RT usaha pertanian yang melakukan satu atau lebih kegiatan usaha tanaman padi, palawija, hortikultura, perkebunan, kehutanan, peter- nakan, budi daya ikan/biota lain di kolam air tawar/tambak air payau, dan penangkaran satwa liar. Perusahaan pertanian berbadan hukum adalah setiap bentuk usaha yang menjalankan jenis usaha di sektor pertanian yang bersifat tetap, terus menerus yang didirikan dengan tujuan memperoleh laba. Pendirian perusahaan dilindungi hukum atau izin dari instansi yang berwenang minimal pada tingkat kabupaten/ kota, untuk setiap tahapan kegiatan budi daya pertanian seperti penanaman, pemupukan, pemeliharaan, dan pemanenan. Dari segi penguasaan lahan, rata-rata pengu- asaan lahan untuk di atas 30 ha meningkat 22,8%, sedangkan untuk luasan lainnya menurun. Ini menunjukkan bahwa petani di Indonesia semakin timpang dalam penguasaan lahan. Dengan kata lain, perusahaan pertanian semakin menyingkirkan pertanian keluarga. Secara keseluruhan, rumah tangga pertanian berkurang sebesar 16,3% dalam kurun waktu sepuluh tahun. Penyebabnya adalah selain karena perbedaan batasan antarsensus
  11. 11. RELEVANSI KONSEP DAN GERAKAN PERTANIAN KELUARGA (FAMILY FARMING) SERTA KARAKTERISTIKNYA DI INDONESIA Syahyuti  93 pertanian, juga karena petani keluar dari sektor pertanian karena usaha pertanian tidak ekonomis dan tidak mencukupi untuk kese- jahteraan keluarga. Sebagian tetap bertani, namun hanya menjadi buruh tani. Dalam sensus pertanian, buruh tani yang tidak mengelola lahan sendiri, tidak menyewa, dan juga tidak me- nyakap lahan orang lain; tidak dicatat sebagai rumah tangga pertanian. Dalam ST 2003, unit pencacahan mencakup seluruh rumah tangga yang memiliki kegiatan pertanian, sedangkan pada ST 2013 hanya rumah tangga yang melakukan kegiatan pertanian dengan tujuan untuk usaha, baik dijual maupun ditukar. Tabel 2. Jumlah RT usaha pertanian berdasarkan luas penguasaan lahan (juta RT), 2003 dan 2013 Luas penguasaan (ha/RT) ST 2003 ST 2013 Perubahan (%) <1 9,4 4,3 -53,8 1–1,9 3,6 3,6 -1,5 2–4,9 6,8 6,7 -1,2 5–9,9 4,8 4,6 -4,8 10–19,9 3,7 3,7 1,0 20–29,9 1,7 1,6 -3,3 >30 1,3 1,6 22,8 Jumlah 31,2 26,1 -16,3 Sumber: BPS (2004, 2014) Fenomena ini bukan sesuatu yang baru. Studi Hill (1993) di Eropa dengan menggali data dari 59.000 unit usaha pertanian di 12 negara, mendapatkan bahwa lahan pertanian keluarga juga cenderung semakin kecil dan sumbangan- nya terhadap pendapatan rumah tangga juga semakin menurun. Namun, studi Roudart dan Dave (2017) di Nigeria mendapatkan bahwa pertanian keluarga sesungguhnya tetap dapat mengembangkan investasi pada lahan apabila kondisi yang dihadapi kondusif. Namun demikian, untuk kasus Indonesia, sesungguhnya saat ini kekhawatiran terhadap hilangnya pertanian keluarga belum memiliki alasan yang sangat kuat karena pertanian keluarga akan tetap eksis dalam jangka lama dan sulit dihapuskan. Namun, meskipun masih dikelola dengan manajemen keluarga dan mengandalkan tenaga kerja dalam keluarga sendiri, prinsip bisnis sudah diterapkan termasuk penggunaan input yang berlebihan untuk meningkatkan produksi setinggi-tingginya. Aki- batnya, nilai-nilai kultural keharmonisan bertani dengan alam, dalam keluarga dan dengan komunitas menjadi hilang. Diduga bahwa isu yang lebih prioritas saat ini sesungguhnya adalah apakah petani dan keluarga petani terlindungi, sejahtera, dan terhormat sebagai petani? Dengan kata lain, apakah petani dan keluarga petani Indonesia saat ini telah hidup bermartabat? Meskipun jarang diwacanakan, namun permasalahan martabat ini diungkap dalam beberapa dokumen pemerintah. Dalam buku Strategi Induk Pembangunan Pertanian (SIPP) 2015–2045 (Kementan 2016) disebutkan bahwa visi pembangunan jangka panjang pertanian adalah “Mewujudkan Pertanian Indonesia yang Bermartabat, Mandiri, Maju, Adil, dan Makmur paling lambat pada tahun 2045”. Pertanian yang bermartabat berkenaan dengan tingkat harkat kemanusiaan petani Indonesia yang memiliki kepribadian luhur, harga diri, kebanggaan, serta merasa terhormat dan dihormati sebagai petani. Pertanian yang makmur dicirikan oleh kehidupan seluruh petani yang serba berkecukupan, ter- bebas dari ancaman rawan pangan dan kemiskinan, yang merupakan resultante dari pertanian yang bermartabat, mandiri, maju, dan adil. Salah satu kekhususan SIPP adalah adanya tambahan frasa bermartabat di dalam visinya (hlm. 6). Disebutkan dalam dokumen ini bahwa “pembangunan pertanian pertama-tama harus ditujukan untuk mewujudkan pertanian yang bermartabat, tentu saja meliputi petani dan usaha taninya” (hlm. 50), juga “… pengem- bangan pertanian bermartabat yang memberi kemakmuran dan keadilan bagi pelaku usaha pertanian” (hlm. 147). Negara berkewajiban untuk menjamin kedaulatan petani dalam mengelola usahanya serta memberikan perlindungan dan pemberda- yaan sehingga berusaha tani merupakan pekerjaan yang layak untuk kemanusiaan dan dapat menjamin penghidupan yang sejahtera bagi seluruh keluarga petani. Sebagai insan yang bermartabat, menjadi petani harus menjadi pilihan profesi, bukan karena keterpaksaan dan tidak tersedianya pilihan lain untuk bekerja (hlm. 50). Kegiatan IYFF-2014 didedikasikan untuk mengorganisasikan petani-petani di seluruh dunia (Quintana 2014). Hal ini didukung Siriwardena (1991) yang menyatakan bahwa strategi berorganisasi dari keluarga-keluarga petani menjadi hal pokok (crucial point) partisipasi mereka dalam pembangunan. Untuk ini, maka pertanian keluarga membutuhkan keterlibatan dan komitmen berbagai pihak, yaitu organisasi petani, pusat-pusat penelitian, lembaga pendidikan, media, agen-agen pembangunan, dan berbagai otoritas publik lainnya. WRF 2015 menyebarkan panduan
  12. 12. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 2, Desember 2016: 87-10194 nasional untuk menjalankan sistem pertanian berbasiskan pertanian keluarga serta proses untuk membangunnya. PROSPEK PERTANIAN KELUARGA DAN KELUARGA PETANI KE DEPAN Sesungguhnya kita menghadapi dua entitas persoalan yang berbeda, yakni antara “pertanian keluarga” dengan “keluarga petani”. Objek pertama berkenaan dengan usaha pertaniannya, sedangkan objek kedua berkenaan dengan aktor atau pelakunya, yakni keluarga petani. Bertolak dari pemahaman yang agak “longgar” dalam berbagai dokumen sebagai- mana dipaparkan di atas, maka jumlah pertanian keluarga di Indonesia sangat besar dan dominan. Namun, memandang semua perta- nian keluarga dalam satu kategori akan menghasilkan pengetahuan yang dangkal. Untuk dapat memahami lebih baik, seluruh pelaku usaha pertanian perlu dibedakan atas tiga kategori yang dibagi atas luas penguasaan lahan, dengan titik batas penguasaan 0,5 ha dan 2,0 ha. Kedua titik batas ini cukup populer dalam kategori statistikal di Indonesia, di mana batas 0,5 ha digunakan oleh BPS untuk menyebut batas maksimum “petani gurem”, sedangkan batas 2,0 ha digunakan dalam UU No. 19 tahun 2013 sebagai batas penguasaan maksimum untuk petani yang masuk kategori dilindungi dan diberdayakan. Kondisi yang dihadapi dan sasaran ke depan untuk memberdayakan pertanian keluarga dapat Tabel 3. Perbedaan karakterteristik dan kebutuhan untuk pengembangan tiga strata pertanian Indonesia Aspek Perusahaan pertanian dan pertanian keluarga ukuran “besar” Pertanian keluarga ukuran “sedang” Pertanian keluarga gurem Karakteristik: Luas penguasaan lahan >2 ha 0,5–2 ha <0,5 ha Sumber tenaga kerja Seluruhnya TK upahan dari luar keluarga TK keluarga ditambah TK upahan Hanya menggunakan TK dari dalam keluarga Tipe manajemen dan teknologi Industrial, dan sebagian intensif Semiintensif Agroekologis, organik Tipe teknologi Mekanisasi penuh Semimekanisasi Mekanisasi rendah, lebih mengutamakan tenaga manusia Orientasi usaha Bisnis komersial Bisnis semi- komersial Mengutamakan untuk kebutuhan pangan keluarga Komoditas yang ditanam Komoditas pasar, ekspor, dll. Komoditas pasar dan pangan keluarga Menanam komoditas pangan pokok keluarga Kebutuhan untuk pengembangannya: Kebutuhan lahan Membeli dan sewa (HGU tanah negara) Lahan pribadi Lahan terlalu sempit, butuh perluasan, kepastian hak, dll. Kebutuhan modal Bunga komersial ke perbankan Butuh subsidi Butuh subsidi Kebutuhan benih Mampu memproduksi sendiri Butuh subsidi Butuh subsidi Kebutuhan pupuk dan obat-obatan Mandiri, membeli dgn harga komersial Harga disubsidi Subsidi lebih besar Kebutuhan teknologi Memiliki unit riset sendiri Mengandalkan pemerintah Butuh riset dengan pendekatan berbeda Kebutuhan informasi Sudah mandiri Penyuluhan dan media massa Penyuluhan lebih banyak dan pemberdayaan Organisasi Hanya butuh asosiasi Butuh organisasi (kelompok tani, Gapoktan, koperasi) Butuh organisasi yang berbeda
  13. 13. RELEVANSI KONSEP DAN GERAKAN PERTANIAN KELUARGA (FAMILY FARMING) SERTA KARAKTERISTIKNYA DI INDONESIA Syahyuti  95 menggunakan kategori di atas. Untuk petani dengan luas >2 ha misalnya yang tidak dicakup dalam UU No. 19 tahun 2013 karena dipandang sebagai petani yang sudah mandiri, namun di dalamnya melibatkan para buruh tani yang tidak menjadi objek perlindungan. Satu prasyarat penting untuk kesejahteraan keluarga petani adalah berapa luas penguasaan lahan minimal sehingga tercapai pendapatan yang tidak tergolong sebagai kelompok miskin. Penelitian Nazam et al. (2011) untuk petani padi di NTB mendapatkan angka 0,73 ha per KK agar dapat hidup layak. Jika didasarkan atas Garis Kemiskinan BPS September 2013, batas pengeluaran RT di wilayah perdesaan adalah Rp275.779/kapita/bulan. Sementara, World Bank menetapkan angka pengeluaran US$1,25/ kapita/hari. Jika rata-rata anggota keluarga adalah 5 orang per rumah tangga, maka lahan yang dibutuhkan adalah sebagaimana dijabarkan dalam Tabel 4 berikut. Tabel di atas memperlihatkan bahwa penguasaan lahan milik sendiri minimal per keluarga agar tidak jatuh ke dalam kelompok miskin menurut garis BPS adalah 0,38 sampai 0,66 ha untuk pola tanam yang berbeda. Apabila menggunakan ukuran garis kemiskinan menurut Bank Dunia, dibutuhkan lahan minimal 0,61 sampai 1,07 ha per keluarga. Perhatian kepada pertanian keluarga penting di Indonesia, namun banyak tantangan dan kendala, yakni pertumbuhan penduduk yang masih tinggi, keterbatasan sarana dan prasarana pertanian, konversi lahan sawah akibat perencanaan tata ruang yang tidak baik, juga dukungan teknologi dan mekanisasi yang masih lambat (Septiani 2015). Untuk memperkuat pertanian keluarga dibutuhkan gerakan (movements) untuk meningkatkan pengaruhnya kepada pengambil kebijakan, kelembagaan dan pasar, untuk akses yang terjamin kepada sumber daya yang mereka butuhkan, juga kebutuhan jaminan terhadap kebijakan yang inklusif dan positif kepada kelompok marginal (perempuan, petani muda, masyarakat adat, dan lain-lain). Tugas pemerintah ke depan adalah mempromosikan pertanian agroekologis berke- lanjutan dalam kerangka kerja pertanian keluarga. Bersamaan dengan itu adalah juga menjamin akses pertanian keluarga kepada akses dan kontrol terhadap sumber daya pertanian, akses pada pasar, mempromosikan perempuan dan kesetaraan gender, memper- kuat organisasi pertanian keluarga, dan mempromosikan kepada generasi muda (Family Farming Organizations 2011). Menurut Asin (2014), hal yang dibutuhkan adalah keterlibatan dan komitmen semua pihak, pendidikan publik dan advokasi, promosi kebijakan, peningkatan infrastruktur dan pelayanan di perdesaan, dukungan langsung untuk perempuan melalui investasi, kredit, land titling, dan lain-lain; peningkatan penyerapan tenaga kerja perdesaan terutama kalangan muda, penelitian pertanian, pelatihan untuk peningkatan kapasitas, dan peningkatan kesadaran sosial tentang peran pertanian keluarga. Dukungan yang dibutuhkan di Indonesia adalah investasi pertanian agroekologis, memberi perhatian pada kearifan lokal, Tabel 4. Luas penguasaan lahan minimal per rumah tangga petani untuk keluar dari garis kemiskinan Aspek Satuan Garis BPS 1 Garis World Bank 2 Batas garis kemiskinan Rp/kap/bulan 275.779 450.000 Jumlah anggota keluarga orang/RT 5 5 Pendapatan minimal per tahun Rp/RT 16.546.740 27.000.000 Keuntungan usaha tani padi Rp/ha 12.602.000 12.602.000 Keuntungan usaha tani jagung Rp/ha 18.720.000 18.720.000 Keuntungan usaha tani kedelai Rp/ha 5.365.200 5.365.200 Pendapatan usaha tani: padi-padi-bera Rp/tahun/ha 25.204.000 25.204.000 padi-padi-jagung Rp/tahun/ha 43.924.000 43.924.000 padi-padi-kedelai Rp/tahun/ha 30.569.200 30.569.200 Kebutuhan lahan minimal per RT: padi-padi-bera ha/RT 0,66 1,07 padi-padi-jagung ha/RT 0,38 0,61 padi-padi-kedelai ha/RT 0,54 0,88 Sumber: Data primer (hasil analisis sendiri), 1 BPS (2013), 2 Jolliffe D, Prydz EB. (2016)
  14. 14. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 2, Desember 2016: 87-10196 memberi akses dan kontrol sumber daya (air, tanah, dan modal) dari korporasi ke komunitas lokal, serta memperkuat organisasi tani. Konsep “petani kecil” juga mesti masuk secara tegas dalam kebijakan dan menjadi agenda penting pemerintahan. Laporan IFPRI dan ODI (2005) berjudul “The Future of Small Farms” menyebutkan bahwa “… small farmers have a future but will need a variety of technological and nontechnological interventions to overcome the challenges they face”. Petani kecil membu- tuhkan kreativitas untuk menciptakan teknologi dan kelembagaan yang sesuai dengan mereka. Dari sisi kebijakan, sudah cukup banyak landasan kebijakan untuk memperkuat pertanian keluarga. Dalam UU No. 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, terutama setelah tahun 2013 dengan dikabulkannya uji materil oleh mahkamah konstitusi yang mengabulkan permohonan revisi untuk Pasal 9 ayat 3 dan Pasal 12 ayat 1. Dengan revisi ini, maka perorangan petani kecil dapat melakukan pencarian dan pengumpulan plasma nutfah serta mengedarkan varietas hasil pemuliaan petani dalam negeri tanpa terlebih dahulu dilepas oleh pemerintah. Lalu, UU No. 19 tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, di mana “Petani” dibatasi sebagai penggarap maksimal 2 ha, petani pemilik maksimal 2 ha, serta petani kebun, hortikultura dan lain-lain lain yang ditetapkan khusus oleh menteri (Pasal 12 ayat 2). Dalam pengertian ini buruh tani tak bertanah (petani tunakisma) bukan kelompok yang dilindungi. Implikasinya, mereka juga tidak termasuk yang akan diberdayakan pemerintah. Buruh tani juga tidak termasuk sebagai buruh atau “tenaga kerja”, karena dalam UU No. 13 tahun tentang Ketenagakerjaan tidak ada entry kata untuk “petani”, dan “buruh tani”, dan “tenaga kerja pertanian”. Bertolak dari Pasal 1 di mana “Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain”, maka buruh tani semestinya termasuk. Namun, pekerja atau buruh yang diperhatikan dalam konteks ini adalah yang bekerja pada usaha formal yang terdaftar. UU No. 21 tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh juga tidak memuat kata “petani”, “buruh tani”, dan “pertanian”. Pemahaman mengenai petani yang lebih luas tercantum dalam Agenda 21 (United Nation 1992) sebagai berikut: “... all references to "farmers" include all rural people who derive their livelihood from activities such as farming, fishing and forest harvesting. The term "farming" also includes fishing and forest harvesting.” Agenda 21 adalah program aksi dunia untuk pembangunan berkelanjutan yang disepakati oleh 178 negara, termasuk Indonesia, ketika diselenggarakan KTT Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992. Sementara, dalam Farm Practices Protection (Right to Farm) Act (RSBC1996) Chapter 131, "farmer" didefinisikan sebagai “the owner or operator of a farm business”. Artinya, buruh tani tak bertanah yang menggantungkan hidup dengan menjual tenaga dan mendapat upah harian adalah juga petani. Salah satu sumber dukungan tak langsung untuk eksistensi pertanian keluarga adalah konsep dari “perdagangan adil” (fair trade). Namun, sayangnya kebijakan perdagangan yang baru yakni UU No. 7 tahun 2014 tentang Perdagangan tidak memuat entry “perdagangan yang adil”. Namun demikian, pada Pasal 2 tertulis bahwa kebijakan perdagangan disusun berdasarkan asas “adil dan sehat”. Perdagangan berkeadilan (fair trade) merupakan sistem perdagangan alternatif yang menjalankan prinsip-prinsip tertentu untuk mencapai kesetaraan dalam perdagangan internasional. Idenya diawali dari tata perdagangan di level dunia, namun prinsip ini juga relevan untuk diterapkan pada level lokal. Sistem perdagangan adil timbul sebagai reaksi terhadap sistem perdagangan bebas yang meminggirkan petani dan perajin di negara berkembang. Perbedaan utama dengan konsep “perdagangan bebas” (free trade) adalah karena fair trade lebih luas dari hanya sekedar aspek ekonomi, namun juga mencakup pertimbangan kemanusiaan dan lingkungan. Setiap barang yang diperdagangkan harus memperoleh label yang diterbitkan beberapa organisasi sertifikat perdagangan berkeadilan (fairtrade certifiers) yaitu Fairtrade International (sebelumnya dikenal dengan Fairtrade Labelling Organizations International), IMO, dan Eco- Social. Beberapa prinsip perdagangan berkeadilan yang sejalan dengan pertanian keluarga di antaranya sebagai berikut (WFTO 2013): (1) menciptakan peluang bagi produsen kecil; (2) tidak semata-mata mengejar keun- tungan, namun peduli pada kesejahteraan sosial, ekonomi, dan lingkungan bagi produsen kecil; (3) adil dalam pembayaran; (4) tidak memperkerjakan anak-anak dan buruh paksa; (5) mengutamakan kesetaraan gender dan kebebasan berserikat bagi produsen; (6) memi- liki tempat kerja yang sehat; (7) meningkatkan kapasitas produsen; dan (8) menghormati keseimbangan ekologis. Konsep perdagangan berkeadilan tidak hanya memperhatikan komoditas yang
  15. 15. RELEVANSI KONSEP DAN GERAKAN PERTANIAN KELUARGA (FAMILY FARMING) SERTA KARAKTERISTIKNYA DI INDONESIA Syahyuti  97 diperdagangkan dan pedagangnya, namun juga produsen. Semangat awalnya adalah untuk melindungi produsen lemah di negara berkembang. Produsen kecil dibela sehingga tetap dapat hidup dan mengambil untung dari sistem perdagangan yang berjalan. USULAN RUMUSAN INDEKS PERTANIAN KELUARGA Sampai saat ini belum ada pihak yang secara resmi mengeluarkan pedoman bagai- mana mengukur pertanian keluarga, baik sebagai dokumen program maupun hasil penelitian. Sebuah indeks yang disusun dari variabel, indikator, serta bobot dan skor sangat dibutuhkan sebagai alat untuk mengukur kemajuan, sekaligus juga sebagai pedoman untuk penyusunan program. Sebagai sebuah konsep yang relatif baru, saat ini berbagai pihak sedang menggali bagaimana karakteristik pertanian keluarga pada berbagai wilayah di dunia dengan berbagai metode (Suess-Reyes dan Fuetsch 2016), dan dapat menjadi bahan untuk penyusunan indeks tersebut. Dari studi di kawasan Eropa dan Asia Tengah, karakteristik pertanian keluarga menurut van der Ploeg (2016) terdiri atas enam kriteria, yaitu (1) keluarga memiliki kontrol yang efektif terhadap sumber daya utama pertanian yang digunakan; (2) tenaga kerja dari dalam keluarga memainkan peranan yang penting (pivotal role) dalam manajemen usaha tani; (3) mampu meningkatkan kesejahteraan petani- nya; (4) berkontribusi positif kepada ekonomi lokal dan wilayah; (5) membangun dan memperkaya ekosistem lokal (local eco- systems); dan (6) menghindari relasi yang berlawanan (antagonistic relations) dengan entitas pertanian keluarga lainnya. Kata kunci dari ciri pertanian keluarga yang ditemukannya adalah pembangunan yang inklusif (inclusive development). Sebaliknya, juga dipaparkan temuan tentang ciri pertanian skala besar yang sangat berbeda dengan pertanian keluarga, yaitu (1) beroperasi pada kawasan perbukitan dan pegunungan yang berdampak negatif kepada biodiversitas dan ekologis; (2) menyebabkan pengurangan secara masif tenaga kerja produktif di desa; (3) mene- rapkan pertanian monokultur dengan input eksternal tinggi dan penggunaan obat-obatan sehingga menyebabkan pemanasan global, berkurangnya biodiversitas, polusi air, dan mengancam kesehatan publik; (4) meningkatkan risiko bagi kesehatan hewan dan tanaman; (5) mengancam ketahanan pangan dan kedau- latan pangan; dan (6) mendegradasi kehidupan perdesaan. Dari referensi yang lain, ciri dari pertanian keluarga menurut FAO (2017) adalah sistem pertanian yang tidak monokultur (diversified agricultural systems), menyediakan pangan tradisional (preserve traditional food products), berkontribusi kepada keseimbangan antara jumlah yang dikonsumsi dengan penyelamatan agribiodiversitas (contributing both to a balanced diet and the safeguarding of the world’s agro- biodiversity), melekat pada jaringan komunitas dan kultur lokal (embedded in territorial networks and local cultures), menggunakan pendapatan untuk ekonomi setempat (spend their incomes mostly within local and regional markets), serta menggerakkan pertanian dan sekaligus pekerjaan nonpertanian (generating many agricultural and non-agricultural jobs). Berkenaan dengan upaya penyusunan indeks, ada banyak referensi bagaimana menyusun indeks yang baik. Sebuah indeks setidaknya mengandung prinsip “wholeness” yakni mencakup keseluruhan sisi objek yang diukur, “exhausiveness” yakni terpisah dengan jelas antarindikator, juga terukur atau mudah diukur, dan hasilnya pengukurannya berpotensi cukup menyebar. Secara prinsip, sesuai dengan referensi yang banyak digunakan, pertanian keluarga mestilah memenuhi empat pilar, yaitu pilar ekonomi, pilar lingkungan, pilar sosial, dan pilar kultural (Woodley et al. 2009). Dengan demikian, indeks yang penulis usulkan untuk mengukur pertanian keluarga adalah seperti yang dipaparkan pada Tabel 5 . Nilai akhir indeks adalah rekapitulasi dari kesepuluh variabel di atas, di mana seluruhnya merupakan variabel tunggal. Variabel terdiri atas dua jenis, yaitu (1) angka rasio dari angka statistik (tingkat skala rasio) berupa hasil bagi atas luas lahan, nilai (Rupiah), dan jumlah hari orang kerja (HOK); dan (2) jawaban kategorial dari persepsi narasumber yang dikelompokkan atas kategori sedang, rendah, dan tinggi. Indeks di atas mencakup berbagai segi dari pertanian keluarga, mulai dari input, proses, output, dan dampaknya. Tenaga kerja keluarga merupakan indikator yang sangat penting dalam pertanian keluarga. Penelitian Johnsen (2004) di Selandia Baru tentang respons pertanian skala kecil dalam melakukan penyesuaian penggu- naan tenaga kerja menemukan satu kesejajaran dengan evolusi norma-norma kultural lokal (local cultural norms).
  16. 16. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 2, Desember 2016: 87-10198 Tabel 5. Indeks pertanian keluarga beserta indikator, variabel, dan metode pengukurannya Indikator Variabel yang diukur Metode pengukuran dan satuan Nilai 1. Keefektifan kontrol rumah tangga petani terhadap sumber daya lahan pertanian Rasio penguasaan petani antara sumber daya pertanian yang dikuasai terhadap total sumber daya pertanian yang digunakan (variabel tunggal) Luas lahan yang dikuasai dibagi dengan total nilai lahan yang digunakan (ha) 0–1 2. Penggunaan tenaga kerja keluarga dalam usaha tani Rasio jumlah tenaga kerja yang berasal dari dalam keluarga dengan total penggunaan seluruh tenaga kerja dalam usaha tani (variabel tunggal) Jumlah HOK dari dalam keluarga dibagi total HOK dalam usaha tani (HOK) 0–1 3. Peran usaha pertanian terhadap kesejahteraan keluarga Rasio pendapatan dari usaha pertanian terhadap total pendapatan rumah tangga dari seluruh sumber pendapatan (variabel tunggal) Pendapatan dari pertanian dibagi dengan total pendapatan rumah tangga (Rp) 0–1 4. Kontribusi pertanian terhadap pengembangan ekonomi lokal dan wilayah Rasio peran pertanian terhadap ekonomi lokal dan wilayah dibandingkan terhadap total kontribusinya (variabel tunggal) Nilai PDRB pertanian dibagi dengan total PDRB wilayah (Rp) 0–1 5. Kontribusi terhadap pembangunan dan pemeliharaan ekosistem lokal Tingkat keterlibatan dalam menjaga dan mengembangkan ekosistem lokal (variabel tunggal) Jumlah jawaban dari persepsi nara- sumber, dikelompok- kan atas kategori rendah, sedang, dan tinggi (%) 1–3 (1 = rendah, 2 = sedang, 3 = tinggi) 6. Relasi dengan sesama pertanian keluarga lainnya Tingkat relasi berupa kerja sama input, usaha, produk, pemasaran, dll (variabel tunggal) Jumlah jawaban dari persepsi nara- sumber, dikelompokkan atas kategori rendah, sedang, dan tinggi (%) 1–3 (1 = rendah, 2 = sedang, 3 = tinggi) 7. Kontribusi usaha pertanian terhadap golongan marjinal (perempuan, pemuda, dan masyarakat adat, dll.) Rasio kontribusi usaha pertanian terhadap golongan marjinal dibandingkan dengan kontribusi total yang diberikan (variabel tunggal) Jumlah serapan tenaga kerja pertanian untuk kelompok marginal dibagi potensial serapan (HOK) 0–1 8. Kontribusi terhadap kesetaraan gender Tingkat kontribusi dalam memperbaiki kesetaraan gender (variabel tunggal) Jumlah jawaban dari persepsi nara- sumber, dikelompok- kan atas kategori rendah, sedang, dan tinggi (%) 1–3 (1 = rendah, 2 = sedang, 3 = tinggi) 9. Kesejahteraan keluarga petani Rasio keluarga petani yang sejahtera dibandingkan seluruh keluarga petani dalam satu wilayah (variabel tunggal) Jumlah rumah tangga sejahtera dibagi total rumah tangga (%) 0–1 10. Sumbangan usaha pertanian terhadap sosio kultural masyarakat (pengetahuan lokal, adat istiadat, dll.) Tingkat kontribusi dalam menjaga dan mengembangkan sosiokultural masyarakat (variabel tunggal) Jumlah jawaban dari persepsi nara- sumber, dikelompok- kan atas kategori rendah, sedang, dan tinggi (%) 1–3 (1 = rendah, 2 = sedang, 3 = tinggi)
  17. 17. RELEVANSI KONSEP DAN GERAKAN PERTANIAN KELUARGA (FAMILY FARMING) SERTA KARAKTERISTIKNYA DI INDONESIA Syahyuti  99 Demikian pula dengan input ramah ling- kungan. Studi Rey (2015) pada sistem per- tanian pegunungan di Romania yang didominasi oleh pertanian keluarga mendapatkan ciri absennya penggunaan input kimia sehingga menghasilkan lingkungan yang sehat (unpolluted environment). Selanjutnya, studi Baležentis dan De Witte (2015) yang mempelajari efisiensi pertanian keluarga yang diukur dengan partial frontiers and Multi-Directional Efficiency Analysis (MEA) di Lituania menemukan bahwa tren waktu memberi dampak positif, sedangkan subsidi memberi dampak negatif kepada total output usaha. Faktor waktu berperan positif karena adanya peningkatan intensitivitas penggunaan tenaga kerja dalam usaha tani. PENUTUP Wacana dan gerakan pertanian keluarga di Indonesia saat ini masih pada tahap advokasi kepada lembaga pemerintah, melalui dukungan lembaga internasional, terutama organisasi Food and Agricultural Organization (FAO) dan World Rural Forum (WRF). Ide dan gerakan pertanian keluarga telah diterima dan menjadi komitmen dunia internasional sebagai objek sekaligus strategi untuk mencapai berbagai tujuan pembangunan pertanian dan perdesaan yang selama ini telah menarik perhatian dan agenda pemerintah, yakni penyediaan pangan, pertanian berkelanjutan, pengentasan kemiskinan, dan kesejahteraan masyarakat. Pada sisi keilmuan, objek pertanian keluarga juga belum banyak dipahami, apalagi dengan kesadaran bahwa kondisi dan permasalahan di setiap negara cenderung berbeda. Untuk Indonesia, sesuai dengan karakteristik pertanian dipadukan dengan batasan-batasan yang sudah populer digunakan, maka pertanian keluarga dapat dibedakan atas tiga kategori, yakni pertanian keluarga dengan penguasaan di bawah 0,5 ha, antara 0,5 sampai 2,0 ha, dan di atas 2,0 ha. Ketiga entitas ini memiliki kondisi dan permasalahan berbeda sehingga membu- tuhkan dukungan yang berbeda pula. Untuk dapat membantu dalam penyusunan program sekaligus melakukan monitoring dan evaluasi secara terukur dan sistematis, maka dibutuhkan satu rumusan indeks pertanian keluarga yang nantinya bisa disepakati oleh semua pihak sebagai pedoman bersama. Dengan didasarkan atas referensi dan diskusi yang berkembang, maka indeks pertanian keluarga mencakup berbagai indikator yang lengkap dengan menggabungkan aspek input, proses, serta output dan dampak dari keberadaan pertanian keluarga. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian sebagai pengelola jurnal serta Dewan Redaksi dan Redaksi Pelaksana yang telah memberikan saran perbaikan serta melayani penyempurnaannya. Demikian pula, ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah membantu dalam penyediaan data, informasi, serta pengetahuan dan temuan- temuan studi. DAFTAR PUSTAKA Asin A. 2014. Family farming: feeding the world, caring for the earth [Internet]. [cited 2016 Jan 17]. Available from: http://www.astc.org/astc-dimensi ons/family-farming-feeding-the-world-caring-for- the-earth/. Baležentis T, De Witte K. 2015. One-and multi- directional conditional efficiency measurement – efficiency in Lithuanian family farms. Eur J Oper Res. 245(2):612-622. Bastian CT. 2011. Family farming: a new economic vision. Am J Agric Econ. 93(1):247-249. doi:10.1093/ajae/aaq127 [BPS] Badan Pusat Statistik. 2004. Indonesia: sensus pertanian 2003. Jakarta (ID): Biro Pusat Statistika. [BPS] Badan Pusat Statistik. 2013. Garis kemiskinan [Internet]. [diunduh 2016 Okt 19]. Tersedia dari: https://www.bps.go.id/subjek/view/ id/23 [BPS] Badan Pusat Statistik. 2014. Laporan hasil sensus pertanian 2013: pencacahan lengkap [Internet]. [diunduh 2016 Mar 9]. Tersedia dari: https://st2013.bps.go.id/st2013esya/booklet/at000 0.pdf Berdegue J. 2000. Systems-oriented agricultural extension and advisory services for small farmers in Latin America. Santiago (CL): RIMISP. Darnhofer I, Lamine C, Strauss A, Navarrete M. 2016. The resilience of family farms: towards a relational approach. J Rural Stud. 44:111-122 [FFO] Family Farming Organizations. 2011. Final declaration family farming world conference: feeding the world, caring for the earth; 2011 Oct 5- 7; Bilbao, Spain [Internet]. [cited 2015 Feb 11]. Available from: http://www.wocan.org/sites/default/ files/final_declaration.pdf
  18. 18. Forum Penelitian Agro Ekonomi, Vol. 34 No. 2, Desember 2016: 87-101100 [FAO] Food and Agriculture Organization of the United Nations. 2011. Women in agriculture: closing the gender gap for development [Internet. Rome (IT): Food and Agriculture Organization of the United Nations]; [cited 2016 Feb 11]. Available from: http://www.fao.org/docrep/013/i2050e/i2050e.pdf [FAO] Food and Agriculture Organization of the United Nations. 2014. The future of family farming: empowerment and equal rights for women and youth [Internet].. Discussion Paper. Global Forum on Food Security and Nutrition (FSN Forum). Rome (IT): Food and Agriculture Organization of the United Nations]; [cited 2015 Oct 11]. Available from: http://www.fao.org/fsnforum/activities/discus sions/family-farming [FAO] Food and Agriculture Organization of the United Nations. 2017. Family farming knowledge platform. [Internet]. Rome (IT): Food and Agriculture Organization of the United Nations; [cited 2015 Oct 10]. Available from: http://www.fao.org/family- farming/background/en/. Gregor HF. 1982. Large-scale farming as a cultural dilemma in U.S. rural development—the role of capital. Geoforum. 13(1):1-10. Hill B. 1993. The ‘myth’ of the family farm: defining the family farm and assessing its importance in the European community. J Rural Stud. 9(4):359-370. [IFAD] International Fund for Agricultural Development. 2016. The international year of family farming+10: strengthening common action in favor of family farming after the IYFF [Internet].. Side event organized by WRF, AFA, COPROFAM; 2016 Feb 18. [cited 2015 Feb 11]. Available from: https://www.ifad.org/documents/10180/cd380f68- d78e-4e40-b768-60af1d3ad430 [IFPRI] International Food Policy Research Institute and [ODI] Overseas Development Institute. 2005. The future of small farms [Internet]. Proceedings of a Research Workshop; 2005 Jun 26-29; Wye, United Kingdom. Jointly organized by International Food Policy Research Institute (IFPRI)/2020 Vision Initiative Overseas Development Institute (ODI). London (UK): Imperial College; [cited 2016 Mar 9]. Available from: http://iri.columbia.edu/~jhansen/ Sonja/10.1.1.139.3719.pdf Johnsen S. 2004. The redefinition of family farming: agricultural restructuring and farm adjustment in Waihemo, New Zealand. J Rural Stud. 20(4):419- 432. Jolliffe D, Prydz EB. 2016. Estimating international poverty lines from comparable national thresholds. World Bank Group, Policy Research Working Paper. Development Research Group Poverty and Inequality Team. March 2016. [Internet]. [cited 2016 Mar 11]. Available from: http://documents.worldbank.org/curated/en/83705 1468184454513/pdf/WPS7606.pdf [Kementan] Kementerian Pertanian. 2016. Strategi induk pembangunan pertanian (SIPP) 2015–2045. Jakarta (ID): Kementerian Pertanian Leavy J, Smith S. 2010. Future farmers: youth aspirations, expectations and life choices. Discussion Paper 013, June 2010 [Internet]. [cited 2016 Mar 9]. Available from: www.future- agricultures.org Lowder SK, Skoet J, Singh S. 2014. What do we really know about the number and distribution of farms and family farms worldwide? Background paper for the State of Food and Agriculture 2014. ESA Working Paper No. 14-02. Rome (IT): Food and Agriculture Organization of the United Nations. Medina G, Almeida C, Novaes E, Godar J, Pokorny B. 2015. Development conditions for family farming: lessons from Brazil. World Dev. 74:386-396. Nazam M, Sabiham S, Pramudya B, Widiatmaka, Rusastra IW. 2011. Penetapan luas lahan optimum usahatani padi sawah mendukung kemandirian pangan berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat. J Agro Ekon 29(2): 113–145 Petrini MA, Rocha JV, Brown JC, Bispo RC. 2016. Using an analytic hierarchy process approach to prioritize public policies addressing family farming in Brazil. Land Use Policy. 51:85-94. Quintana C. 2014. Family farming: feeding the world, caring for the earth. Dimensions, March/April 2014 [Internet]. [cited 2015 Apr 1]. Available from: http://www.astc.org/astc-dimensions/family- farming-feeding-the-world-caring-for-the-earth/. Rey R. 2015. New challenges and opportunities for mountain agri-food economy in South Eastern Europe. A scenario for efficient and sustainable use of mountain product, based on the family farm, in an innovative, adapted cooperative associative system – horizon 2040. Procedia Econ Finance. 22:723-732. Roudart L, Dave B. 2017. Land policy, family farms, food production and livelihoods in the Office du Niger area, Mali. Land Use Policy. 60:313-323. Septiani P. 2015. Family farming: the case of Indonesia. Rendiconti Accademia Nazionale delle Scienze detta dei XL Memorie di Scienze Fisiche e Naturali 133° [Internet]. [cited 2016 Mar 9]; 39(2):251-2. Available from: Error! Hyperlink reference not valid. Seuneke P, Bock BB. 2015. Exploring the roles of women in the development of multifunctional entrepreneurship on family farms: an entrepreneurial learning approach. Wageningen J Life Sci. 74-75:41-50. Siriwardena SSAL. 1991. Social reality of people's participation: some experience of people's participation in a revolving fund for sustainable family farming in a Sri Lanka irrigation settlement. Landsc Urban Plan. 20(1-3):123-128. Suess-Reyes J, Fuetsch E. 2016. The future of family farming: a literature review on innovative, sustainable and succession-oriented strategies. J Rural Stud. 47:117-140.
  19. 19. RELEVANSI KONSEP DAN GERAKAN PERTANIAN KELUARGA (FAMILY FARMING) SERTA KARAKTERISTIKNYA DI INDONESIA Syahyuti  101 Toader M, Roman GV. 2015. Family farming: examples for rural communities development. Agric Agric Sci Procedia. 6:89-94. United Nations. 1992. Agenda 21: United Nations Conference on Environment and Development; 1992 Jun 3-14; Rio de Janerio, Brazil [Internet]. [cited 2016 Mar 9]. Available from: https://sustainabledevelopment.un.org/content/doc uments/Agenda21.pdf van der Ploeg JD. 2016. Family farming in Europe and Central Asia: history, characteristics, threats and potentials. Working Paper No. 153. Brasilia (BR): UNDP-International Policy Centre for Inclusive Growth. Woodley E, Crowley E, de Pryck JD, Carmen A. 2009. Cultural indicators of indigenous peoples' food and agro-ecological systems. SRAD Initiatives. E/C.19/2009/CRP. 3. [Internet]. [cited 2016 Mar 9]. Available from: http://www.un.org/esa/socdev/ unpfii/documents/E_%20C_19_2009_CRP3_en.pdf [WFTO] World Fair Trade Organizations. 2013. 10 principles of fair trade [Internet]. WR Culemborg (NL): World Fair Trade Organizations. [cited 2016 Mar 9]. Available from: http://www.wfto.com/ sites/default/files/10-FAIR-TRADE-PRINCIPLES- 2013-(Rio-AGM-and-EGM-2013-approved- modifications).pdf [WRF] World Rural Forum. 2015. Terms of reference for the national guidelines for the governance of agricultural systems based on family farming. Alava (ES): World Rural Forum. [WRF] World Rural Forum. 2016. We need better public policies for family farming! [Internet]. Alava (ES): World Rural Forum. [cited 2016 Mar 9]. Available from: https://www.ruralforum.net/en/ news/2016/10/we-need-better-public-policies-for- family-farming.
  20. 20. UCAPAN TERIMA KASIH Redaksi Forum Penelitian Agro Ekonomi (FAE) mengucapkan terima kasih kepada Mitra Bestari yang telah membantu sehingga FAE Vol. 34 No. 2 ini dapat terbit. Ucapan terima kasih dipersembahkan kepada: 1. Dr. Ir. Andin H. Taryoto, M.S. (STP Bogor/Sosial Pertanian/Penyuluham) 2. Prof. Dr. Ir. Effendi Pasandaran (Jaringan Komunikasi Irigasi/Ekonomi Pertanian) 3. Prof. Dr. Ir. Kedi Suradisastra (Forum Komunikasi Profesor Riset/Sosiologi Pertanian) 4. Prof. Dr. Ir. Nuhfil Hanani, M.S. (Universitas Brawijaya/Ekonomi Pertanian/Ketahanan Pangan) 5. Prof. Dr. Ir. Tjeppy D. Soedjana, M.Sc. (Puslitbangnak/Ekonomi Pertanian/Peternakan)
  21. 21. PEDOMAN PENULISAN NASKAH FORUM PENELITIAN AGRO EKONOMI PERSYARATAN UMUM. Redaksi hanya menerima naskah yang belum pernah dipublikasikan dan tidak sedang dalam proses evaluasi penerbitan pada publikasi lain. Naskah tersebut harus sesuai dengan misi Forum Penelitian Agro Ekonomi (FAE), yaitu sebagai media ilmiah komunikasi hasil penelitian yang berisi review hasil penelitian sosial ekonomi pertanian di Indonesia. FAE memuat “critical review” hasil-hasil penelitian para peneliti Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dan lembaga lainnya. FAE juga menampung naskah-naskah yang berupa gagasan- gagasan ataupun konsepsi-konsepsi orisinal dalam bidang sosial ekonomi pertanian. RUANG LINGKUP. Ruang lingkup penulisan adalah sosial ekonomi pertanian, yang mencakup tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan. SISTEMATIKA NASKAH. Naskah disusun dengan urutan sebagai berikut: Judul Naskah, Nama Penulis, Nama dan Alamat Instansi, Abstrak, Kata Kunci, Pendahuluan, Sub-Subtopik Bahasan, Penutup, Ucapan Terima Kasih, Daftar Pustaka, dan Lampiran (jika ada). JUDUL NASKAH. Judul merupakan ungkapan yang mencerminkan isi naskah, bersifat spesifik, efektif, dan tidak terlalu panjang (10−15 kata). Judul ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. NAMA PENULIS DAN INSTANSI. Nama Penulis ditulis secara lengkap di bawah judul tanpa menyebut gelar, diikuti di bawahnya nama lembaga tempat penulis bekerja yang ditulis lengkap beserta alamat pos dan alamat korespondensi elektronik (e-mail). Jika penulis terdiri lebih dari satu orang dengan alamat yang sama, maka pencantuman satu alamat e-mail telah dianggap cukup untuk mewakili alamat penulis lainnya. ABSTRAK. Setiap naskah dilengkapi Abstrak yang terdiri dari dua bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris. Abstrak merupakan ringkasan yang utuh dan lengkap yang menggambarkan esensi isi keseluruhan tulisan. Abstrak ditulis paling banyak 200 kata dalam bahasa Inggris dan 250 kata dalam bahasa Indonesia. KATA KUNCI. Pemilihan Kata Kunci (3−5 kata) mengacu pada deskriptor yang tercantum dalam AGROVOC. Apabila istilah yang dipilih tidak terdapat dalam AGROVOC, maka Thesaurus lain atau kamus istilah dapat dipakai sebagai rujukan. PENDAHULUAN. Pendahuluan berisi latar belakang/masalah dan tujuan penelitian. SUB–SUBTOPIK BAHASAN. Berisi bab/subbab yang merupakan isi utama dari makalah yang sesuai dengan judul. Pada pembahasan ini disusun secara sistematis dan koheren. PENUTUP. Penutup disampaikan secara ringkas dan padat. UCAPAN TERIMA KASIH. Ucapan terima kasih merupakan wujud penghargaan kepada semua pihak (instansi atau perorangan) yang berkontribusi atau membantu dalam pendanaan, pelaksanaan penelitian, dan penulisan naskah jurnal. DAFTAR PUSTAKA. Jumlah pustaka yang diacu minimal 25 acuan, diutamakan menggunakan pustaka yang diterbitkan 10 tahun terakhir dan minimal 80% berasal dari pustaka primer (terutama jurnal internasional atau jurnal primer nasional terakreditasi). Pustaka yang tidak diterbitkan supaya dihindari, demikian pula pustaka yang berasal dari blogspot dan Wikipedia. Jumlah pustaka yang merupakan tulisan sendiri dibatasi maksimal 30% dari total jumlah pustaka. BENTUK NASKAH. Naskah diketik pada kertas ukuran A4 (21,0 × 29,7 cm) dengan jarak 1 spasi. Batas tepi atas 3 cm dan batas tepi kiri, kanan, dan bawah masing-masing 2,5 cm. Naskah diketik dengan menggunakan huruf Arial ukuran 10 untuk teks dan menggunakan huruf Arial 9 untuk Abstrak dan daftar Pustaka, menggunakan program Microsoft Word; tabel dan grafik menggunakan program Microsoft Excel; sedangkan gambar menggunakan format JPEG atau TIFF (dalam format yang dapat diedit). Panjang naskah minimum 14 halaman dan maksimum 24 halaman, termasuk tabel, gambar, perhitungan, dan literatur. BAHASA. Naskah ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris yang baku. Untuk naskah dalam bahasa Indonesia disarankan untuk mengurangi pemakaian istilah asing dan disesuaikan dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi IV. TABEL. Tabel diberi judul singkat, jelas, dan diikuti keterangan tempat dan waktu cakupan data. Jumlah Contoh tabel: Tabel 1. Perkembangan produksi padi di Provinsi Jawa Barat, 2008–2013 Tahun Luas tanam (ha) Luas panen (ha) Produksi padi (ton) Produktivitas (ton/ha) Pertumbuhan produksi (%) 2008 1.832.960 1.650.894 10.342.810 6,27 - 2009 1.911.839 1.825.346 11.272.248 6,18 8,99 2010 2.012.723 1.904.974 11.688.571 6,14 3,69 2011 1.921.739 1.849.205 11.587.155 6,27 -0,87 2012 1.898.814 1.792.955 11.224.622 6,26 -3,13 2013 1.914.025 1.898.455 11.538.472 6,08 2,79 Sumber: Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat (2014)
  22. 22. digit yang dipergunakan adalah dua digit di belakang koma. Posisi Tabel dan judul Tabel ditempatkan di sisi kiri naskah. Sumber data ditempatkan di bagian kiri bawah tabel. Garis pemisah dibuat dalam bentuk horizontal. GAMBAR DAN GRAFIK. Gambar dan grafik harus dicetak tebal sehingga memungkinkan direduksi antara 50–60% dari gambar dan grafik asli. Judul gambar dan grafik diletakkan di bawahnya tanpa memengaruhi bagian gambar dan grafik. Posisi Gambar dan judul Gambar ditempatkan di center naskah. Sumber data ditempatkan tepat di bawah gambar sebelum judul Gambar. SATUAN PENGUKURAN. Satuan pengukuran dalam teks, grafik, dan gambar memakai sistem internasional (SI), misalnya cm, kg, km, ha, t, dan lain sebagainya. Khusus untuk l yang merupakan singkatan dari liter, digunakan L untuk menghindari kemungkinan tertukar dengan angka 1. Penulisan angka desimal dipisahkan dengan tanda koma (,) untuk naskah dalam bahasa Indonesia, sedangkan untuk bahasa Inggris dengan tanda titik (.). Penulisan angka ribuan dipisahkan dengan tanda titik (.) untuk naskah bahasa Indonesia, sedangkan untuk naskah dalam bahasa Inggris ditulis dipisahkan dengan tanda koma (,). PENGUTIPAN PUSTAKA. Gaya pengutipan yang digunakan dalam naskah mengacu pada Council of Science Editors (name-year system) dengan mencantumkan nama (keluarga/akhir) penulis dan tahun penerbitan, contoh: Suhaeti dan Basuno (2004), Suryana (2014). Jika ada lebih dari dua penulis maka nama (keluarga/akhir) penulis pertama diikuti dengan et al., contoh: Saptana et al. (2005), Susilowati et al. (2015). Jika terdapat lebih dari satu pustaka yang diacu secara bersamaan harus diurut berdasarkan tahun terbitan, contoh: (Hardono 2014; Ariani dan Saliem 2015). Jika terdapat dua atau lebih pustaka dengan nama yang sama, tetapi berbeda tahun terbitan, pisahkan tahun dengan koma, contoh: (Kariyasa 2011, 2015). Untuk dua kutipan dengan nama penulis dan tahun yang sama, tambahkan huruf setelah tahun baik dalam pengutipan dalam teks maupun dalam Daftar Pustaka, contoh: (Syahyuti 2014a, 2014b). Untuk penulis dengan nama keluarga/akhir dan tahun terbitan yang sama, tambahkan inisial pertama pada nama keluarga/akhir dan pisahkan kedua nama penulis dengan semikolon, contoh: (Sudaryanto B 2009; Sudaryanto T 2010). DAFTAR PUSTAKA. Kutipan Pustaka di dalam teks harus ada di dalam Daftar Pustaka dan sebaliknya setiap Pustaka yang tercantum dalam Daftar Pustaka harus dikutip pada teks. Daftar Pustaka disusun menurut abjad sesuai dengan urutan nama (keluarga/akhir) penulisnya. Dalam Daftar Pustaka semua nama penulis dan editor harus ditulis lengkap dan tidak diperkenankan menggunakan et al. Disarankan menggunakan program perangkat lunak Mendeley (http://mendeley.com) menggunakan gaya sitasi Council of Science Editors (name-year) dengan style Francis & Taylor. Contoh penulisan Daftar Pustaka adalah sebagai berikut: Artikel Jurnal Dalton T. 2004. Household hedonic model of rice traits: economic values from farmers in West Africa. Agric Econ. 31(2-3):149-159. Suryana A. 2014. Menuju ketahanan pangan Indonesia berkelanjutan 2025: tantangan dan penanganannya. Forum Penel Agro Ekon. 32(2):123-135. Artikel Jurnal Online Hinloopen J, Vandekerckhove J. 2009. Dynamic efficiency of Cournot and Bertrand competition: input versus output spillovers. J Econ [Internet]. [cited 2015 Nov 17]; 98(2):119- 136. Available from: http://link.springer.com/article/ 10.1007/s00712-009-0085-8. Daru M. 2007. Pemanfaatan kotoran ternak dan peningkatan sanitasi sumber sumber energi alternatif dan peningkatan sanitasi lingkungan. J Teknol Lingkung [Internet]. [diunduh 2007 Mar 7]; 1(1):27-32. Tersedia dari: http://ejurnal.bptp.go.id/ index.php/JTL/article/view/150/145. Buku, Buku dengan Editor, dan Buku Bunga Rampai [BPS] Badan Pusat Statistik. 2015. Survei Sosial Ekonomi Nasional. Buku 1, Pengeluaran untuk Contoh gambar: Sumber: Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat (2014) Gambar 1. Perkembangan produksi padi di Provinsi Jawa Barat, 2008–2013
  23. 23. konsumsi penduduk Indonesia, berdasarkan hasil Susenas Maret 2015. Jakarta (ID): Badan Pusat Statistik. Haryono, Pasandaran E, Rachmat M, Mardianto S, Sumedi, Saliem HP, Hendriadi A, editors. 2014. Reformasi kebijakan menuju transformasi pembangunan pertanian. Jakarta (ID): IAARD Press. Henderson JM, Quandt RE. 1980. Microeconomic theory: a mathematical approach. 3rd ed. Sydney (AU): McGraw-Hill International Book Company. Artikel dalam Buku Bunga Rampai Irawan B. 2013. Dampak El Nino dan La Nina terhadap produksi padi dan palawija. Dalam: Soeparno H, Pasandaran E, Syarwani M, Dariah A, Pasaribu SM, Saad NS, editors. Politik pembangunan pertanian menghadapi perubahan iklim. Jakarta (ID): IAARD Press. Drucker AG, Caracciolo F. 2012. The economic value of plant genetic resources for food and agriculture. In: Moeller NI, Stannard C, editors. Identifying benefit flows studies on the potential monetary and nonmonetary benefits arising from the international treaty on plant genetic resources for food and agriculture. Rome (IT): Food and Agriculture Organization of the United Nations. p. 11-39. Prosiding Seminar/Konferensi yang Diterbitkan Syahyuti, Susilowati SH, Agustian A, Friyatno S, editors. 2015. Pertanian-bioindustri berbasis pangan lokal potensial. Prosiding Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia Ke-34; 2014 Nov 4; Makassar, Indonesia. Jakarta (ID): IAARD Press. Hughes Jd’A, Kasemsap P, Dasgupta S, Dutta OP, Ketsa S, Chaikiattiyos S, Linwattana G, Kosiyachinda S, Chantrasmi V, editors. 2014. Proceedings of the Regional Symposium on Sustaining Small-scale Vegetable Production and Marketing Systems for Food and Nutrition Security; 2014 Feb 25-27; Bangkok, Thailand. Taiwan (TW): AVDRC–The World Vegetable Center. Artikel yang Dipresentasikan dalam Seminar/ Konferensi Tittonell P. 2014. Food security and ecosystem services in a changing world: it is time for agroecology. In: Agroecology for food security and nutrition. Proceedings of the FAO International Symposium; 2014 Sep 18-19; Rome, Italy. Rome (IT): FAO. p. 16-35. Agustian A, Friyatno S. Potensi dan kendala pengembangan bioenergi (etanol) berbahan baku ubi kayu di Provinsi Lampung. 2015. Dalam: Syahyuti, Susilowati SH, Agustian A, Friyatno S, editors. Pertanian-bioindustri berbasis pangan lokal potensial. Prosiding Seminar Nasional Hari Pangan Sedunia Ke-34; 2014 Nov 4; Makassar, Indonesia. Jakarta (ID): IAARD Press. hlm. 297-306. Disertasi/Tesis/Skripsi Burhani FJ. 2013. Analisis volatilitas harga daging sapi potong dan daging ayam broiler di Indonesia [Skripsi]. [Bogor (ID)]: Institut Pertanian Bogor. Pasaribu SM. 2005. Enhancing the performance of farmer-managed irrigation systems in the Brantas River Basin of Indonesia [Dissertation]. [Bangkok (TH)]: Asian Institute of Technology. Laporan Penelitian Ilham N, Yusdja Y, Basuno E, Martindah E, Sartika RAD. 2013. Ecohealth assessment on poultry production clusters for the livelihood of improvement small producers. Final Report (Indonesia). Bogor (ID): Indonesian Center for Agricultural Socio Economic and Policy Studies. Sponsored by International Development Research Centre. Dermoredjo SK, Sudaryanto T, Hutabarat BF, Heriawan R, Pasaribu SM, Hermanto, Iswariyadi A, Setiyanto A, Elizabeth R, Aldillah R. 2015. Pemetaan daya saing pertanian Indonesia. Laporan Akhir Penelitian. Bogor (ID): Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian. Artikel dalam Majalah/Surat Kabar Naipospos TSP. 2016 Feb 22. Skenario impor daging. Kompas. Opini:6 (kol. 1-5). PSEKP meracik kebijakan pertanian berbasis riset. 2015 Nov. Majalah Sains Indonesia. 47:58-59. Weiss R. 2003 Apr 11. Study shows problems in cloning people: researchers find replicating primates will be harder than other mammals. Washington Post (Home Ed.). Sect. A:12 (col. 1). Pedoman pengutipan pustaka dan penyusunan Daftar Pustaka selengkapnya dapat dilihat pada http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/files/journals/26/pe doman_pustaka.pdf, sedangkan contoh berkas elektronik (template) sebagai format penulisan dapat diperoleh pada http://ejurnal.litbang.pertanian.go.id/ files/journals/26/template_FAE.docx. PENGIRIMAN NASKAH. Naskah hendaknya dikirim melalui e-mail ke alamat faepsekp@gmail.com dengan ditujukan kepada Redaksi Pelaksana Forum Penelitian Agro Ekonomi/Subbidang Pendayagunaan Hasil, Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian (PSEKP), Jln. A. Yani 70, Bogor 16161, Tlp. (0251) 8333964, Faks. (0251) 8314496. MEKANISME SELEKSI NASKAH: Redaksi melakukan koreksi dan perbaikan serta mengubah format sesuai dengan sifat jurnal yang informatif tanpa mengubah arti dari naskah. Redaksi akan mengem- balikan naskah kepada penulis untuk diperbaiki sesuai dengan hasil koreksi Dewan Redaksi dan Mitra Bestari. Penulis diharapkan segera mengembalikan perbaikan naskah agar dapat diterbitkan pada waktunya. CETAK COBA. Naskah akan mengalami beberapa kali cetak coba. Untuk cetak coba pertama, akan dikirimkan ke penulis untuk mendapatkan persetujuan dan diberi waktu selama tiga hari. Selama tiga hari tersebut penulis dimohon memeriksa kembali angka, rumus, tabel, gambar, dan teks. WAKTU PENERBITAN. FAE diterbitkan dua kali dalam setahun, yaitu pada bulan Juli dan Desember. Urutan naskah yang dicetak didasarkan pada kelancaran proses pemeriksaan oleh Dewan Redaksi dan perbaikan oleh penulis. Kepada setiap penulis diberikan dua eksemplar jurnal ditambah dua eksemplar cetak lepas (reprint).

×