SULISTIYANIDAKWAH / ELK BPI       412088                                 RESUME ULUMUL QUR‟AN                             ...
1. Nama –nama Al Qur‟an   a. Qur‟an      “ Al Qur‟an inimemberikanpetunjukkepada yang lebihlurus. ”( AlIsraa :9 )   b. Kit...
pembawakabargembira )C.   PERBEDAAN ANTARA AL QUR‟AN DENGAN HADIS QUDSI DAN HADIS NABAWI     Definisi Al Qurantelahdikemuk...
Contoh Kedua :   Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. berkata, “Allah Ta‟ala berfirman, „Aku menurut sangkaan   hamba-K...
KESIMPULANAl        Qur‟an       adalah     firman      Allah      yang      diturunkankepadaRasulullahSAWdenganpeerntaraJ...
DAFTAR PERTANYAAN :   1. Al-Quran merupakanmu‟jizatNabi Muhammad SAW. Apa yang menjadialasankemu‟jizatanAl      Quran?   2...
(takpandaimembacadanmenulisitu). Mungkinkahini?   Kedua,       isyarat-isyaratilmiahnya.Banyaksekahisyaratilmiah   yang   ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Resume Ulumul Qur'an

2,543 views

Published on

0 Comments
1 Like
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
2,543
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
87
Comments
0
Likes
1
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Resume Ulumul Qur'an

  1. 1. SULISTIYANIDAKWAH / ELK BPI 412088 RESUME ULUMUL QUR‟AN BAB II AL QUR‟AN A. DEFINISI AL- QUR‟AN 1. Segi Bahasa Dari segi bahasa, Qur‟an berasal dari qara‟a, yang berarti menghimpun dan menyatukan. Sedangkan Qira‟ahberarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata yang satu dengan yang lainnya dengan susunan yang rapih. Mengenai hal ini, Allah berfirman dalam QS. Al Qiyamah (75) ayat 17-18: “Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu)dan (membuatmu pandai) membacanya.” (Al Qiyamah: 17) “Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.” (Al Qiyamah: 18) Qur‟an, secara bahasa dapat pula berarti “bacaan”, sebagai masdar dari kata qara’a. Dalam arti seperti ini, firman Allah SWT dalam Q.S.Fushshilat (41) ayat 3: “Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui.” 2. Secara Istilah Adapun dari segi istilahnya, Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Quran sebagai berikut ;AlQur‟an adalah Kalamullah yang merupakan mu‟jizat yang dituruukan kepada nabi Muhammad SAW, yang disampaikan kepada kita secara mutawatir dan dijadikan membacanya sebagai ibadah. danMuhammad Ali Ash-Shabuni mendefinisikan AlQuran sebagai berikut ; Al-Quran adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantara Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf- mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas. B. NAMA DAN SIFAT AL QUR‟AN Al-Quran merupakan Kalam Allah yang mengandungi ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibrail untuk disampaikan kepada semua manusia. AlQuran merupakan mu’jizat yang paling agung yang telah mendapat jaminan daripada Allah SWT akan kekal terpelihara.Allah menamakan Al Qur’an denganbeberapanama, di antaranyaadalah :
  2. 2. 1. Nama –nama Al Qur‟an a. Qur‟an “ Al Qur‟an inimemberikanpetunjukkepada yang lebihlurus. ”( AlIsraa :9 ) b. Kitab Perkataan Kitab di dalam bahasa Arab dengan baris tanwin di akhirnya (kitabun) memberikan makna umum yaitu sebuah kitab yang tidak tertentu. Apabila ditambah dengan alif dan lam di depannya menjadi (Al Kitab) ia telah berubah menjadi suatu yang khusus (kata nama tertentu). Dalam hubungan ini, nama lain bagi Al-Quran itu disebut oleh Allah adalah Al-Kitab. “ Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya, (menjadi) petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. ( Al-Baqarah: 2 ) c. Furqan Al-Quran sebagai pembeda antara yang haq dan yang batil. Mengenali Al-Quran maka kesansewajarnya dapat mengenal Al-Haq dan dapat membedakannya dengan kebatilan. “ Mahasuci Allah yang telahmenurunkan Al Furqankepadahamba-Nya, agar diamenjadipemberiperingatankepadaseluruhalam. “ ( Al-Furqan : 1 ) d. Zikr Al-Quran memberikan peringatan kepada manusia karena sifat lupa yang tidak pernah lekang. Manusia mudah lupa dalam berbagai hal, baik dalam hubungan dengan Allah, hubungan sesama manusia maupun lupa terhadap tuntutan-tututan yang sepatutnya ditunaikan oleh manusia. Oleh itu golongan yang beriman dituntut agar senantiasa mendampingi Al-Quran. “ Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-zikra (Al-Quran) dan Kamilah yang akan menjaganya (Al-Quran).” (Al-Hijr: 9) e. Tanzil “ Dansesungguhnya Al Qur‟an inibenar-benarditurunkan ( Tanzil ) olehTuhansemestaalam.“ ( AsySyuaraa : 192 ) Catatan :Penyebutan Al Qur’an dan Al Kitablebihpopulerdarinama-nama yang lain. Dalamhalini Dr. Muhammad Darazberkata ;„ iadinamakan Qur‟an karenaia „dibaca‟ denganlisan, dandinamakan Al Kitabkarenaia „ditulis‟ denganpena. Kedua kata inimenunjukkanmaknayagsesuaidengankenyataannya‟ .Penamaan Qur’an dengankeduanamainimemberikanisyaratbahwaselayaknyaiadipeliharadalambentukhafalandantulisan.2. Sifat-sifat Al Qur‟an Allah telahmelukiskan Al Qur’an denganbeberapasifat, diantaranya : a. Nur ( Cahaya ) „ Haimanusia, sesungguhnyatelahdatangkepadamubuktikebenarandariTuhanmu, dantelah Kami turunkankepadamucahaya yang terangbenderang. „ ( An Nisa : 174 ) b. Huda ( Petunjuk ), Syifa’ ( Obat ), Rahmah ( Rahmat ), danMau’izah ( nasihat ) „ Haimanusia, sesungguhnyatelahdatangkepadamupelajarandariTuhanmudanpenyembuhbagipenyakit- penyakitdalam dada danpetunjuksertarahmatbagi orang-orang yang beriman. „ (Yunus : 57 ) c. Mubin ( Yang Menerangkan ) „ Sesungguhnyatelahdatangkepadamucahayadari Allah, danKitab yang menerangkan. „ ( Al Maidah : 15 ) Dan masihadasifat-sifat yang lain sebagaimanadisebutkandalambanyakayatnya, seperti : Mubarak ( yang diberkati ), Busyra ( kabargembira ), ‘Aziz ( yang mulia ), Majid ( yang dihormati ), Basyr (
  3. 3. pembawakabargembira )C. PERBEDAAN ANTARA AL QUR‟AN DENGAN HADIS QUDSI DAN HADIS NABAWI Definisi Al Qurantelahdikemukakanpadahalamanterdahuludanuntukmengetahuiperbedaanantaradefinisi Al Qur’an denganHadisQudsidanHadisNabawi, di sini kami kemukakanduadefinisi. 1. HadisNabawi Hadis( baru ) dalamartibahasalawandari kata qadim ( lama ). Adapunmenurutistilahpengertianhadisialahapasaja yang disandarkankepadaNabi Muhammad SAW baikberupaperkataan, perbuatan, persetujuanmaupunsifat.  Yang berupaperkataansepertiperkataanNabiMuhammad SAW. “ Sesungguhnyasahnyaamalitudisertaidenganniat. Dan tiap orang bergantungpadaniatnya … “  Yang berupaperbuatanialahsepertiajarannyakepadaparasahabatmengenaibagaimanacaramengerjakansa latkemudianiamengatakan, “ Salatlahsepertikamumelihatakusalat “, jugamengenaibagaimanaiamelaksanakanibadah haji dalamhaliniRasulullah SAW bersabda, “ Ambillahdarikumanasikhajimu.”  Adapunygberupapersetujuanadalahsepertiiamenyetujui suatu perkara yang dilakukansalahseorangsahabatbaikperkataanataupunperbuatan; di hadapannyaataupuntidak,tetapiberitanyasampaikepadanya, sepertitentangmakananbiawak yang dihidangkankepadanya. Dan contohpersetujuannyayang lainyaitudalamsaturiwayatRasulullah SAW mengutus orang dalam satu peperangan. Orang itumembacasuatubacaandalamsalat yang diakhiridenganqulhuwallahuahad.SetelahpulangmerekamenyampaikanhalitukepadaRasulullah SAW ,laluRasulullahberkata; „ Tanyakankepadanyamengapaiaberbuatdemikian?‟, Mereka pun menanyakandan orang itumenjawab; „ Kalimatituadalahsifat Allah danakusenangmembacanya‟ . MakaRasulullah SAW menjawab;„Katakankepadanyabahwa Allah pun menyenangidia‟ .  Yang berupasifatadalahriwayatsepertibahwaRasulullahSAW selalubermukacerah, berperangaihalusdanlembut,tidakkerasdantidak pula kasar,tidaksukaberteriakkeras, tidak pula berbicarakotor,dantidakjugasukamencela. 2. HadisQudsi Kita telah mengetahui makna hadis secara etimologi, sedangkan qudsi dinisbatkan kepada kata quds. Nisbah ini mengesankan rasa hormat karena materi kata itu sendiri menunjukkan kebersihan dan kesucian dalam arti bahasa. Maka, kata taqdis berarti menyucikan Allah. Taqdis sama dengan tathir, dan taqaddasa sama dengan tathahhara (suci, bersih). Allah berfirman tentang malaikat, “… padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau ….” (Al-Baqarah: 30). Jadi, Hadis Qudsi adalah hadis yang oleh Rasulullah SAW disandarkan kepada Allah. Maksudnya, Rasulullah SAW meriwayatkannya bahwa itu adalah kalam Allah. Maka, Rasulullah menjadi perawi kalam Allah ini dengan lafal dari Rasulullah sendiri. Bila seseorang meriwayatkan hadis qudsi, dia meriwayatkannya dari Allah dengan disandarkan kepada Allah dengan mengatakan, “Rasulullah SAW mengatakan mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya,” atau ia mengatakan, “Rasulullah SAW mengatakan, „Allah Ta‟ala telah berfirman… atau berfirman Allah Ta‟ala...” Contoh Pertama : Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW mengenai apa yang diriwayatkannya dari Tuhannya, “Tangan Allah itu penuh, tidak dikurangi oleh nafkah, baik di waktu malam maupun siang hari ….” (HR. Bukhari).
  4. 4. Contoh Kedua : Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. berkata, “Allah Ta‟ala berfirman, „Aku menurut sangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Aku bersamanya bila dia menyebut-Ku di dalam dirinya, maka Aku pun menyebutnya di dalam diri-Ku. Dan, bila dia menyebut-Ku di kalangan orang banyak, Aku pun menyebutnya di kalangan orang banyak yang lebih baik dari itu …” (HR. Bukhari dan Muslim).3. Perbedaan Al Qur‟an dengan Hadis Qudsi Ada beberapa perbedaan antara Al Qur’an dengan Hadis Qudsi, dan yang terpenting adalah sebagai berikut. a) Al Qur’an adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah dengan lafal-Nya, dan dengan itu pula orang Arab ditantang untuk membuatnya, tetapi mereka tidak mampu membuat seperti Al Qur’an itu, atau sepuluh surah yang serupa itu, bahkan satu surah sekalipun. Tantangan itu tetap berlaku, karena Al Qur’an adalah mu’jizat yang abadi hingga hari kiamat. Adapun hadis qudsi tidak untuk menantang dan tidak pula untuk mu’jizat. b) Al Qur’an hanya dinisbatkan kepada Allah, sehingga dikatakan Allah Ta‟ala berfirman. Adapun hadis qudsi, seperti telah dijelaskan di atas, terkadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada Allah, sehingga nisbah hadis qudsi itu kepada Allah adalah nisbah dibuatkan. Maka dikatakan, Allah telah berfirman atau Allah berfirman. Dan, terkadang pula diriwayatkan dengan disandarkan kepada Rasulullah SAW tetapi nisbahnya adalah nisbah kabar, karena Nabi menyampaikan hadis itu dari Allah. Maka, dikatakan Rasulullah mengatakan apa yang diriwayatkan dari Tuhannya. c) Seluruh isi Al Qur’an dinukil secara mutawatir, sehingga kepastiannya mutlak. Adapun hadis-hadis qudsi kebanyakan adalah kabar ahad, sehingga kepastiannya masih merupakan dugaan. Adakalanya hadis itu sahih, hasan, dan kadang-kadang daif. d) Al Qur’an dari Allah, baik lafal maupun maknanya. Hadis qudsi maknanya dari Allah dan lafalnya dari Rasulullah. Hadis qudsi ialah wahyu dalam makna, tetapi bukan dalam lafal. Oleh sebab itu, menurut sebagian besar ahli hadis, diperbolehkan meriwayatkan hadis qudsi dengan maknanya saja. e) Membaca Al Qur’an merupakan ibadah, karena itu ia dibaca dalam salat. “Maka, bacalah apa yang mudah bagimu dalam Al Qur‟an itu.” (Al-Muzamil: 20). Nilai ibadah membaca Al Qur’an juga terdapat dalam hadis, “Barang siapa membaca satu huruf dari Al Qur‟an, dia akan memperoleh satu kebaikan. Dan kebaikan itu akan dibalas sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf. Tetapi alif satu huruf, laam satu huruf, dan miim satu huruf.” (HR Tirmizi dan Ibnu Mas‟ud). Adapun hadis qudsi tidak disuruh membacanya dalam salat. Allah memberikan pahala membaca hadis qudsi secara umum saja. Maka, membaca hadis qudsi tidak akan memperoleh pahala seperti yang disebutkan dalam hadis mengenai membaca Al Qur’an, bahwa pada setiap huruf mendapatkan sepuluh kebaikan.4. Perbedaan antara Hadis Qudsi dengan Hadis Nabawi Hadis Nabawi disandarkan kepada Rasulullah dan diceritakan oleh beliau, sedangkan hadis qudsi disandarkan kepada Allah kemudian Rasulullah menceritakan dan meriwayatkannya dari Allah. Oleh karena itu diikat dengan sebutan Hadis Qudsi. Ada yang berpendapat bahwa dinamakan Hadis Qudsi karena penisbatannya kepada Allah Yang Maha Suci. Sementara Hadis Nabawi disebut demikian karena dinisbatkan kepada Nabi Muhammad. Hadis Qudsi jumlahnya sedikit. Buku yang terkenal mengenai hal ini adalah Al- Ittihafaat As-Sunniyyah bil-Hadiits Al-Qudsiyyah karya Abdur-Rauf Al-Munawi (103 H) yang berisi 272 hadis.
  5. 5. KESIMPULANAl Qur‟an adalah firman Allah yang diturunkankepadaRasulullahSAWdenganpeerntaraJibrildalambahasa Arab. Dan, menjadiundang-undangbagimanusia,memberipetunjukkepadamereka, danmenjadisaranauntukmelakukanpendekatandiridanibadahkepadaAllah.Iaterhimpundalammushaf, dimulaidarisurat Al- Fatihahdandiakhiridengansurat An-Nas,disampaikankepadakitasecaramutawatirdarigenerasikegenerasi, baiksecaralisanmaupuntulisan,sertaterjagadariperubahandanpergantian.Al-Quran merupakan Kalam Allah yang mengandung ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada nabiMuhammad SAW melalui malaikat Jibrail untuk disampaikan kepada semua manusia. Al-Quranmerupakan mu‟jizat yang paling agung yang telah mendapat jaminan daripada Allah SWT akan kekalterpelihara.Terdapat lebih daripada 10 nama Al-Quran dinyatakan oleh Allah dalam kitab-Nya. Nama-nama itumenepati ciri-ciri dan kriteria Al-Quran itu sendiri. Di antaranya yaitu Kitab, Furqan, Zikr dan Tanzil.Dan Allah juga telah melukiskan Al Qur‟an dengan beberapa sifat, yaitu Nur (cahaya), Huda(petunjuk), Rahmah (rahmat) dan mau‟izah (nasihat) serta Mubin (yang menerangkan), dan lain-lain.Perbedaan antara Al Qur‟an dengan Hadis Qudsi ialah tidak adanya unsur-unsur tantangan, mu‟jizatdan ibadah dengan pembacaannya dan tak adanya syarat mutawatir pada sebagian besar hadis qudsiitu.
  6. 6. DAFTAR PERTANYAAN : 1. Al-Quran merupakanmu‟jizatNabi Muhammad SAW. Apa yang menjadialasankemu‟jizatanAl Quran? 2. Bagaimanamu‟jizatitudapatdidefinisikandandibuktikan? 3. Mengapa Al-Quran diturunkandalambahasaArab?Jawaban : 1. Setelah bertahun lamanya berlalu dan dengan seluruh kemajuan pengetahuan manusia dan pertukaran ilmu dan kebudayaan, tiada satu pun dari ayat-ayat yang disebutkan dalam Al Quran yang gugur kebenarannya. Dengan demikian telah terbukti kebenaran Al Quran dan sumbernya dari langit.Dan juga model penjelasan Al Quran yang sedemikian menakjubkan sehingga ia tidak dapat dibandingkan dengan ucapan manusia, bahkan Nabi Muhammad SAW maupun bangsa Arab sekalipun. Seperti firman Allah : “ Sesungguhnya Al Quran itu benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai keutamaan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah Yang mempunyai Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itubukanlahsekali- kali orang yang gila.Dan sesungguhnya Muhammad itumelihatJibril di ufuk yang terang.Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhiluntukmenerangkan yang ghaib. “ ( QS. At Takwir : 19-24) 2. Mu’jizat terbagi menjadi dua. Mu’jizat perbuatan yang bercorak situasional dan mu’jizat ucapan. Mu’jizat perbuatan berurusan dengan panca indra manusia dan terlaksana pada pelataran ruang dan waktu. Dan setelah terjadinya mu’jizat tersebut, ia tidak akan bertahan, meski sebagian mu’jizat perbuatan Nabi SAW tetap lestari tidak lekang oleh waktu dan zaman. Untuk menetapkan bagian mu’jizat ini, bagi orang-orang yang tidak hadir tatkala mu’jizat ini diperagakan, dapat dicapai dengan menelaah riwayat-riwayat yang menukil mu’jizat ini. Mu’jizat ucapan Nabi SAW adalah AlQur’an. AlQur’an dalam banyak hal menantang para pengingkar untuk menghadrikan yang serupa dengan apa yang dihadirkan oleh AlQur’an. Tantangan AlQur’an tidak terbatas pada wilayah khusus seperti kefasihan dan retorikanya, melainkan dari segala sisi yang kemungkinan terdapat padanya, keunggulan dapat menjadi obyek tantangan AlQur’an. Seperti berita ghaib, masalah ilmiah, tiadanya perselisihan dalam AlQur’an dan sebagainya dimana untuk membuktikan dan menetapkan mu’jizat sedemikian membutuhkan telaah dan kajian pelbagai dimensi mu’jizatAlQur’an. Artinya mu’jizat yang dimiliki AlQur’an pada ragam bidang tidak mampu ditandingi oleh manusia sedemikian sehingga seluruh manusia di setiap zaman tidak mampu menyuguhkan apa yang disuguhkan oleh AlQur’an. Berikutinisebagiandarihasilpenelitian yang dirangkumdandikelompokkankedalambentukmu’jizat yang membuktikankebenaran Al Qur’an : Pertamaadalahpemberitaan-pemberitaangaibnya.Firaun, yang mengejar-ngejarNabi Musa., diceritakandalam surah Yunus.Padaayat 92 surah itu, ditegaskanbahwa"BadanFirauntersebutakandiselamatkanTuhanuntukmenjadipelajarangenerasi berikut."Tidakseorang pun mengetahuihaltersebut, karenahalitutelahterjadisekitar 1200 tahun S.M. Padaawalabad ke-19, tepatnyapadatahun 1896, ahlipurbakalaLoretmenemukan di Lembah Raja-raja Luxor Mesir, satumumi, yang dari data-data sejarahterbuktibahwaiaadalahFiraun yang bernamaManiptahdan yang pernahmengejarNabi Musa a.s. Selainitu, padatanggal 8 Juli 1908, Elliot Smith mendapatizindaripemerintahMesiruntukmembukapembalut-pembalutFirauntersebut. Apa yang ditemukannyaadalahsatujasadutuh, seperti yang diberitakanoleh Al-Quran melaluiNabi yang ummi
  7. 7. (takpandaimembacadanmenulisitu). Mungkinkahini? Kedua, isyarat-isyaratilmiahnya.Banyaksekahisyaratilmiah yang ditemukandalam Al- Quran.Misalnyadiisyaratkannyabahwa"Cahayamataharibersumberdaridirinyasendiri, sedangcahayabulanadalahpantulan (daricahayamatahari)" (perhatikan QS 10:5); ataubahwajeniskelaminanakadalahhasilspermapria, sedangwanitasekadarmengandungkarenamerekahanyabagaikan "ladang" (QS 2:223); danmasihbanyaklagilainnya yang kesemuanyabelumdiketahuimanusiakecualipadaabad-abadbahkantahun- tahunterakhirini. Dari manakah Muhammad mengetahuinyakalaubukandariDia, Allah Yang MahaMengetahui! Kesemuaaspektersebuttidakdimaksudkankecualimenjadibuktibahwapetunjuk-petunjuk yang disampaikanoleh Al-Quran adalahbenar, sehinggadengandemikianmanusiayakinsertasecaratulusmengamalkanpetunjuk-petunjuknya.3. Dengan memerhatikan bahwa bangsa Arab adalah orang-orang yang fanatik dengan metode, ajaran dan keturunan mereka (faktor internal penjagaan) dan sepanjang perjalanan sejarah, tiada satu pun penguasa atau pemerintahan yang dapat memaksa mereka mengganti bahasanya (tiadanya faktor eksternal) dan tersedianya pelbagai faktor dalam bahasa Arab untuk menjelaskan berbagai persoalan dalam format lafaz tanpa adanya ambiguitas dan kekaburan, semenanjung Hijaz dan bahasa Arab merupakan sebaik-baik jalan pembelaan natural dan non-adikodrati agama dan penjagaan agama pamungkas dan kitabnya. Maka itu, salah satu dalil mengapa AlQur’an diturunkan dengan bahasa Arab adalah untuk menjaga dan memelihara keabadiannya. Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2, yang artinya, “Sesungguhnya Kami telahjadikan Al-Qur‟an dalambahasa Arab supaya kalian memikirkan.” Iaberkata, “Yang demikianitu (bahwa Al-Qur‟an diturunkandalambahasaarab) karenabahasaarabadalahbahasa yang paling fasih, jelas, luasdanmaknanyalebihmengenalagicocokuntukjiwamanusia. Olehkarenaitu, kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur‟an) diturunkankepadaRasul yang paling mulia (yaituRasulullahshallallahu‟alaihiwasallam) denganbahasa yang paling mulia (yaitubahasaarab), melaluiperantaramalaikat yang paling mulia (yaitumalaikatJibril), ditambahkitabinipunditurunkanpadadataran yang paling mulia di atasmukabumi (yaitutanah Arab), sertaawalturunnya pun padabulan yang paling mulia (yaituRamadhan), sehingga Al-Qur‟an menjadisempurnadarisegalasisi.” (TafsirIbnuKatsir, TafsirSurat Yusuf)

×