Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Santri dan marxisme

281 views

Published on

Published in: Education
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Santri dan marxisme

  1. 1. Santri dan MarxismeMuhammad Al-FayyadlSeorang santri yang dibesarkan di pesantren, lalu beranjak hidup dalam realitas urban yang penuhdengan kontradiksi ekonomi dan sosial, dan berkenalan dengan Marxisme sebagai wacana yangmempesona, akan menemukan bahwa ia tengah berada dalam pilihan yang tak selalu mudah.Setidaknya, ia memiliki salah satu dari dua kemungkinan berikut: ia akan memeluk Marxisme dengansepenuh hati, dan dengan demikian, menerima konsekuensi-konsekuensi prinsipil dari Marxismesebagai suatu ideologi perlawanan yang paling tegas dan keras terhadap tatanan sosial di mana iahidup; tatanan yang ditandai oleh stratifikasi sosial yang melanggengkan “ketidaksetaraan” dalamberbagai aspeknya. Ini berarti, si santri harus siap mengeluarkan dirinya, secara pelan tapi pasti, daripesantren tempat ia dibesarkan, karena baginya, pesantren merupakan sebuah lembaga yang masihmelanggengkan “ketidaksetaraan” itu, dengan adanya, misalnya, privilese bagi kiai sebagai kelompoksosial yang mendapat perlakuan-perlakuan istimewa dalam masyarakat. Dengan begitu, sang santriini akan mendapati dirinya lepas sepenuhnya dari ikatan-ikatan kultural di mana dia hidup danmendapatkan makna eksistensialnya, dan menjadi pihak tersendiri yang merasa mampumenggerakkan perubahan sosial dengan jalan yang dipilihnya.Atau, kemungkinan kedua: ia beradaptasi dengan Marxisme, namun juga mengadaptasikannyadengan nilai-nilainya sendiri yang dipelajarinya di pesantren. Ia akan menerima Marxisme denganlebih lapang sebagai suatu “metode analisis sosial” atau suatu “filsafat sosial” yang muncul karenaperubahan masyarakat yang semakin kompleks. Tentu, ia tidak akan menemukan persoalan-persoalan “eksploitasi ekonomi”, “kapitalisme”, “kontradiksi sosial”, “struktur”, dan lain seterusnyadalam dunia kitab kuning yang menjadi kawan akrabnya. Di kosmologi pesantrennya yang khidmatdan penuh ketenteraman, ia memang belajar bahwa ketidakadilan dalam berbagai jenisnya harusditentang, tetapi dia memahaminya lebih dalam bingkai amar ma’ruf-nahi munkar, dan bukan“antagonisme kelas” seperti diajarkan oleh Marxisme. Di sini, Marxisme memberi dia wawasan danpengetahuan baru yang membuka matanya pada berbagai bentuk ketidakadilan yang berlangsung dimasyarakat.Kedua kemungkinan ini membawa dilema-dilema tersendiri yang cukup penting untuk dicermati.Kemungkinan pertama memberikan potret tentang kepemelukan Marxisme secara harfiah, yangmelahirkan suatu penolakan atas segala dimensi kultural di mana dia hidup; pendek kata, iameng-“alienasi”-kan-diri (istilah yang begitu kontroversial dalam Marxisme) dari pesantren, karenaalasan bahwa bagaimanapun, pesantren tetap terlibat dalam kelangsungan sistem sosial yangmenjustifikasi “ketidaksetaraan”.Pertama, secara kasatmata, kiai adalah kelompok sosial yang diuntungkan dalam relasinya denganrakyat bawah. Karena pengetahuan keagamaannya, kiai mendapatkan perlakuan yang berbeda, danpengetahuan ini menjadi “modal simbolik” yang memungkinkan kiai memiliki apa yang tak dimilikirakyat bawah: pengaruh dan otoritas moral. Dengan pengaruhnya, kiai menjadi aktor penggerakperubahan, tapi sekaligus meredam agar perubahan itu tidak berlangsung radikal-tak terkendali.Dengan otoritas moralnya, kiai mendapat wewenang yang setara dengan wewenang penguasa,sehingga kiai dapat saja dengan mudahnya bekerja sama dan berdiri sejajar dengan pemerintah yangsering kali menyengsarakan rakyat. Si santri ini tak dapat memahami, mengapa kiai dapat menjadi
  2. 2. kalangan yang tetap “anteng” dan seakan “tanpa masalah”, ketika terdapat beribu problem ekonomidan sosial yang melilit rakyat miskin di sekitarnya. Ia baru mengerti ketika ia sampai pada aspekkedua, ideologi moderatisme.Benar, bahwa pesantren adalah penjaga moderatisme paling berkarakter di bumi Nusantara:moderatisme keagamaan. Namun, persis moderatisme inilah yang, bagi si santri, menjadi penyebabmengapa pesantren dapat begitu lunak terhadap penguasa yang berlaku tidak adil terhadapmasyarakatnya, atau minimal tetap berkoeksistensi dengannya. Dengan moderatismenya, kiaiberusaha menjadi “jembatan” dari berbagai kelompok yang bertikai dan berkonflik, ketika bagi sisantri-Marxis ini, “jembatan” itu harus diputus untuk menciptakan garis perlawanan yang hitam-putih terhadap “musuh”. Moderatisme dunia pesantren, baginya, adalah antitesis dari antagonismeyang merupakan jantung Marxisme—sesuatu yang membuatnya harus memilih either/or antara“kesantrian” dan “kemarxisan”.Namun, santri yang berangkat dari kemungkinan kedua, santri yang mempelajari Marxisme tapimengadaptasikannya dengan kesantriannya, akan melihat bahwa santri dari kemungkinan pertamaitu terlalu menggebu-gebu, untuk tidak mengatakan, “sentimentil”. Santri pertama itu tidak benar-benar memahami betapa rumit, berat, dan berlikunya jalan kekiaian, karena menjadi seorang kiaimerupakan suatu tanggung jawab yang muncul dari panggilan hati yang terdalam. Dia tidakmemahami bahwa kiai tidak pernah memilih untuk menjadi kiai, sehingga berpikir bahwa kiaimengharapkan privilese tertentu dari masyarakat, merupakan suatu penilaian yang “tidak etis”,“melanggar tatakrama”, dan menyinggung nilai terdalam dunia pesantren itu sendiri.Di sini, santri kedua ini memberi klarifikasi, bahwa pesantren bukan lembaga eksklusif yangmengambil jarak dengan masyarakatnya. Pesantren memang lahir dari masyarakat, dari rakyatbawah, dan karena itu, ia menjadi lembaga yang sangat populis. Ketika pendidikan di luarberlangsung begitu mahal hingga nyaris tak terakses, pesantren menjadi lembaga alternatif yangmampu menyediakan pendidikan yang murah. Bagi santri kedua, jika ada sosialisme yang sejati,barangkali pesantren adalah prototipe dari sejenis “sosialisme” tanpa label sosialis. Di sini, semuaorang berhak mendapat tempat. Semua berhak belajar, tanpa memandang kaya atau miskin.Bagi santri kedua ini, memang, ia akui, kiai sering kali berkolaborasi dengan kekuasaan, sehinggamenggerogoti kemandirian pesantren. Kiai telah menjadi “borjuis kecil”. Tapi, jangan lupa bahwabanyak kiai yang benar-benar tidak memiliki modal apa pun selain ikatan batinnya dengan pesantrentempat dulu ia belajar—kiai-kiai “kecil” yang tetap miskin, mandiri, dan merakyat. Karena itu,sarannya, jangan lihat pesantren hanya sebagai lembaga per lembaga, tapi lihatlah ia sebagaijaringan kultural yang memiliki potensi menjadi penggerak perubahan, bahkan perlawanan, sosial.Memang, dia melihat ada perbedaan pendekatan, strategi, dan model perjuangan antara pesantrendan Marxisme. Marxisme merupakan produk modernisme yang berorientasi progresivitas dankemajuan, sedangkan pesantren tampil sebagai jangkar tradisionalisme. Marxisme mendorong“keterputusan” (dari kapitalisme), ketika pesantren mengajarkan “ketersambungan”, kontinuitas.Marxisme cenderung tidak menyukai pendekatan moral, ketika pesantren selalu menggunakannyadalam memberi solusi bagi berbagai problem kemasyarakatan. Marxisme menghendaki revolusi,ketika pesantren melakukan transformasi. Itu sekilas membuat kesantrian dan Marxisme takterdamaikan.
  3. 3. Namun, baginya yang terpenting rupanya bukan perbedaan strategi, tapi concern yangmempertemukan keduanya. Dia melihat, keduanya membawa misi perubahan yang sama:mengubah masyarakat menjadi lebih baik dalam berbagai aspeknya. Dengan kata lain:kemenyeluruhan perubahan sosial, yang diukur dari keterbebasan masyarakat dari patologi-patologisosial yang diakibatkan oleh perubahan zaman: marjinalisasi, kemiskinan, ketimpangan, danseterusnya. Di sini pesantren tampak lebih utuh dan menyeluruh daripada Marxisme: perubahan itubukan semata ekonomis dan politis, tapi juga menyangkut kepribadian, mentalitas, dan spiritualitas.Ia lalu menemukan sedikit “apologi” bagi “ketidaksetaraan” hubungan kiai-santri yangmenggusarkan rekan pertamanya tadi. Baginya, “ketidaksetaraan” itu sekadar penampakan lahiriahyang sulit dipahami oleh orang luar pesantren yang belum menyelami spiritualitas kesantrian. Padadasarnya, di balik penampakan yang mengecoh itu, kiai-santri “setara” secara batin, karena setiapkiai adalah mereka yang pernah menjadi santri dan setiap santri adalah mereka yang kelak akanmenjadi kiai. Hubungan ini terbangun dari loyalitas dan afeksi yang mendalam satu sama lain.Loyalitas, yang tak akan mudah dipahami oleh dialektika Tuan-Budak Hegel yang menjadi dasarfilosofis Marxisme, karena ia tak dibangun dari hasrat saling menguasai.Seorang santri yang besar di pesantren, lalu terlempar dalam realitas urban yang sarat kontradiksi,dan mempelajari Marxisme, barangkali akan menemukan Marxisme-nya sendiri yang lahir daripersilangan hibrid yang tak akan sederhana antara kitab kuning dan filsafat.***

×