PENDAHULAN
Latar Belakang
Instrumen investasi yang diperdagangkan di pasar modal adalah suratsurat
berharga yang berjangka...
PER mengalami peningkatan dari tahun 2007 sampai tahun tahun 2008, tetapi tidak
terjadi pada EPS. Hal tersebut menggambark...
harga saham pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Hasil
penelitiannya menunjukkan bahwa EPS tida...
dibandingkan dengan total modal sendiri sehingga semakin besar beban perusahaan
terhadap pihak luar.
Price Earning Ratio (...
1. Untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan otomotif sub-sektor otomotif
yang go public dengan menggunakan Debt to Equ...
tertentu, dan pada dasarnya merupakan cerminan dari kinerja manajemen pada
periode tersebut. (Widyastuti Pratidina, 2011)
...
Rasio keuangan menurut James C Van Horne merupakan indeks yang
menghubungakan dua angka akuntansi dan diperoleh dengan mem...
Return on equity (ROE) = Laba Bersih
Total ekuitas
Semakin tinggi ROE mencerminkan kemampuan perusahaan dalam
menghasilkan...
berharga sebagai bukti penyertaan atau pemilikan maupun institusi dalam suatu
perusahaan (Pandji Anoraga, 2011; 58).
Jadi ...
pemodal harus menjual saham dengan harga jual lebih rendah dari harga
beli. Dengan demikian pemodal mengalami capital loss...
diperoleh investor yang tercemin dari harga saham perusahaan tersebut. (Dwiatma
Patriaawan, 2011)
Analisis yang bisa digun...
transformasi sikap dan tindak tanduk dari para pengelolanya. Perusahaan yang
semula bersifat tertutup, setelah go public h...
manajemen atas operasi tahun lalu dan pendapat mengenai prospek-prospek
perusahaan dimasa mendatang” (Brigham dan Houston,...
METODOLOGI PENELITIAN
Ruang Lingkup Penelitian
Untuk mendapatkan penelitian yang terarah dan tidak menyimpang dari
judul d...
kriteria tertentu. Adapun kriteria yang digunakan dalam sampel ini adalah sebagai
berikut:
1. Perusahaan sub-sektor otomot...
1 DER Rasio utang yang digunakan untuk
mengukur tingkat penggunaan
hutang terhadap modal sendiri yang
dimiliki oleh perusa...
1. Uji asumsi klasik multikolinieritas
2. Uji asumsi klasik heteroskedastisitas
3. Uji asumsi klasik autokorelasi
Koefisie...
hipotesis secara parsial ini didasarkan pada nilai probabilitas yang didapatkan dari
hasil pengolahan data melalui program...
Hasil pengujian regresi linier berganda dapat dibuat persamaan regresi sebagai
berikut:
Y= -6210.551 - 3239.949 X1 - 23433...
yang paling dominan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan sub-sektor
otomotif yang go public di Bursa Efek Indonesia...
go public yang terdaftar di BEI. Debt to Equity Ratio merupakan kemampuan
perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya...
Berdasarkan hasil perhitungan untuk variabel Earnign per share (X3)
diperoleh nilai signifikan sebesar 0,235 (≥ 0,05); seh...
H5 = Debt to Equity Ratio (DER), Harga on Equity (ROE), Earning per Share
(EPS), Price Earning Ratio (PER), berpengaruh se...
tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan sub-sektor
otomotif yang go public di Bursa Efek Indon...
keamanan negara hendaknya para investor juga memperhatikan PER sebagai
bahan pertimbangan dalam melakukan transaksi pembel...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Ta 51081001084

1,022 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Ta 51081001084

  1. 1. PENDAHULAN Latar Belakang Instrumen investasi yang diperdagangkan di pasar modal adalah suratsurat berharga yang berjangka panjang seperti saham, obligasi, waran, right (Darmadji, 2001 ; 5). Salah satu instrumen pasar modal yang paling banyak dikenal masyarakat luas adalah saham. Saham merupakan surat bukti kepemilikan atas aset-aset perusahaan yang menerbitkan saham tersebut. Perusahaan yang mengeluarkan saham terdiri dari berbagai macam jenis perusahaan yang dibagi berdasarkan bidang usahanya kedalam sektor tertentu. Salah satu sektor adalah sektor otomotif dan komponennya. Secara sederhana harga saham mencerminkan perubahan minat investor terhadap saham tersebut. Jika permintaan terhadap suatu saham tinggi, maka harga saham tersebut akan cenderung tinggi. Demikian sebaliknya, jika permintaan terhadap suatu saham rendah, maka harga saham tersebut akan cenderung turun (Dwiatma Patriawan, 2011). Dalam penelitian ini rasio yang digunakan adalah Debt Equity Ratio, Return On Equity, Earning Per Share dan Price Earning Ratio. Perkembangan besarnya variabel EPS, ROE, DER dan PER terhadap Harga Saham pada perusahaan sub- sektor otomotif yang Go Public di BEI pada tahun 2007 – 2010 yang terlampir pada lampiran 1. Pada lampiran 1 tersebut menunjukkan adanya perkembangan kinerja keuangan serta harga saham pada perusahaan sub-sektor otomotif yang go Public di BEI selama tahun 2007 sampai tahun 2010. Secara keseluruhan kinerja keuangan industri otomotif dan komponennya mengalami fluktuasi (mengalami peningkatan dan penurunan yang cukup signifikan) yang mengindikasikan bahwa harga sahamnya juga mengalami fluktuasi (mengalami peningkatan dan penurunan yang cukup signifikan). Hal ini dapat dilihat pada harga saham tahun 2008 sampai tahun 2009 yaitu PT Astra Internasional Tbk dimana pada tahun 2008 harga saham perusahaan ini mengalami peningkatan yaitu dari Rp 19.179,00 menjadi Rp 24.358,00 saat kinerja keuangannya seperti ROE dan DER, mengalami penurunan dari tahun 2008 sampai tahun 2009 tetapi tidak terjadi dengan EPS dan PER. Sebaliknya, perusahaan sub-sektor otomotif go public yang lain seperti PT Goodyear Indonesia Tbk mengalami penenurunan harga pada tahun 2008 sampai 2009 juga yaitu dari Rp 14.454,00 menjadi Rp 6.825,00 saat kinerja keuangannya seperti ROE, DER dan 1
  2. 2. PER mengalami peningkatan dari tahun 2007 sampai tahun tahun 2008, tetapi tidak terjadi pada EPS. Hal tersebut menggambarkan adanya peningkatan atau penurunan kinerja perusahaan akan mampu meningkatkan atau menurunkan harga saham pada suatu perusahaan. Harga saham adalah harga pada closing price pada periode pengamatan dan sangat tergantung dengan kondisi ekonomi, kondisi politik, serta kinerja perusahaan tersebut. Pergerakan harga saham ditentukan oleh permintaan dan penawaran oleh para investor, pada saat kondisi permintaan lebih banyak dari pada penawaran, maka harga akan cenderung naik, demikian pula sebaliknya pada saat penawaran lebih banyak dibandingkan permintaan maka harga saham akan cenderung turun. (Widyastuti Pratidina,2011). Earning per Share (EPS) adalah rasio antara laba bersih setelah pajak dengan jumlah lembar saham. Informasi EPS suatu perusahaan menunjukkan besarnya laba bersih perusahaan yang siap dibagikan bagi semua pemegang saham perusahaan. (Dwiatma Patriawan, 2011). Apabila Earnings per Share (EPS) perusahaan tinggi, akan semakin banyak investor yang mau membeli saham tersebut sehingga menyebabkan harga saham akan tinggi (Widyastuti Pratidina, 2011). Tetapi pada kenyataannya ada perusahaan yang EPSnya menurun harga sahamnya meningkat. Perusahaan tersebut adalah PT Alfa Retailindo Tbk, namun ada perusahaan yang EPS naik tetapi harga saham turun yaitu PT AGIS Tbk, PT Akbar Indo Makmur Stimec Tbk, PT Courts Indonesia Tbk, PT Enseval Putera Megatrading Tbk, PT Hero Supermarket Tbk, PT Mitra Adiperkasa Tbk, PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk, PT Tigaraksa Satriya Tbk, dan PT Wicaksana Overseas Internasional Tbk. Penelitian yang dilakukan Herlina dan Hadianto (2007) menemukan bahwa PER berpengaruh positif secara signifikan terhadap harga saham. Tidak signifikannya EPS ditemukan oleh Haruman, et al. (2005) meski hasil ekspektasi tandanya masih positif. Begitu penelitian yang dilakukan Noer Sasongko & Nila Wulandari (2006) bahwa secara parsial menunjukkan bahwa earning per share (EPS) berpengaruh terhadap harga saham. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji t yang diterima pada taraf signifikansi 5% (p<0,05). Artinya EPS dapat digunakan untuk menentukan nilai perusahaan. Namun berbeda dengan penelitian Idawati, Sukirno, dan Pujiningsih (dalam Noer Sasongko dan Nila Wulandari:2003) yang menguji pengaruh EPS terhadap 2
  3. 3. harga saham pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa EPS tidak berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan perbankan yang terdaftar di Busra Efek Jakarta Return on Equity (ROE) dapat dilihat dari laporan keuangan dari setiap masing-masing perusahan automotive yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yaitu dengan menganalisis laporan keuangan laba/rugi dan arus kas tahunan. Dalam penelitian ini penulis memakai laporan keuangan tahunan perusahan automotive yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Penelitian yang dilakukan Angrawit Kusumawardani (2010) bahwa Return On Equity (ROE) berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham sebesar -102.3%. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Michael Valentino Damanik (2008) yang mengungkapkan bahwa ROE tidak berpengaruh terhadap harga saham. ROE mempunyai fungsi untuk mengukur tingkat keuntungan yang diperoleh para investor atas penanaman modal yang dilakukan dalam perusahaan emiten, ROE yang positif menunjukkan bahwa perusahaan tersebut dapat menghasilkan keuntungan dengan kemampuan modal sendiri yang dapat menguntungkan para pemegang saham. Sedangkan dalam penelitian ini didapat hasil ROE negatif, yang berarti bahwa perusahaan tersebut tidak dapat menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri yang dapat menguntungkan pemegang saham. Debt to equity ratio (DER) merupakan alat analisis perusahaan untuk mengukur seberapa jauh perusahaan dibiayai oleh hutang dengan membandingkan jumlah utang dan modal sendiri (Dwiatma Patriawan, 2011).Penelitian yang dilakukan Angrawit Kusumawardi (2010) menemukan bahwa Debt To Equity Ratio (DER) berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham sebesar 102.4%. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian Michael Valentino Damanik (2008) yang mengungkapkan bahwa DER tidak ber pengaruh terhadap harga saham. Rasio ini menunjukkan komposisi atau struktur modal dari total pinjaman (hutang) terhadap total modal yang dimliki perusahaan DER menunjukkan sejauh mana perusahaan dapat menanggung kerugian tanpa harus membahayakan kepentingan kreditornya (Lukman syamsudin 2001:54). Semakin kecil angka rasio ini, berarti semakin besar jumlah aktiva yang didanai oleh pemilik perusahaan dan semakin besar penyangga risiko kreditor. Dari hasil perhitungan didapat nilai DER yang cukup tinggi, hal ini menunjukkan komposisi total hutang semakin besar 3
  4. 4. dibandingkan dengan total modal sendiri sehingga semakin besar beban perusahaan terhadap pihak luar. Price Earning Ratio (PER) menggambarkan apresiasi pasar terhadap kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba (Angrawit Kusumawardi,2010) Penelitian yang dilakukan Angrawit Kusumawardi (2010) menemukan bahwa variabel PER berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Esti (2005) dimana penelitiannya mengungkapkan PER tidak berpengaruh terhadap harga saham. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa PER berpengaruh terhadap harga saham dimana pengaruhnya tidak begitu besar hanya 43.7% dimana dengan pengaruhnya sebesar 43.7% akan digunakan untuk memprediksi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dimasa yang akan datang. Perusahaan dengan nilai PER yang tinggi berarti memiliki laba yang rendah sedangkan perusahaan dengan nilai PER yang rendah berarti memiliki laba yang tinggi dengan kata lain PER berbanding terbalik dengan laba perusahaan. Perusahaan dengan PER yang rendah berarti memiliki laba yang tinggi, hal ini akan menarik minat investor akan return yang akan diterimanya. Berdasarkan uraian serta permasalahan dan perbedaan hasil penelitian yang telah dikemukakan peneliti terdahulu, maka penulis ingin melakukan penelitian dengan judul “Penilaian Kinerja Keuangan Perusahaan Sub-Sektor Otomotif Yang Go Public Di Bursa Efek Indonesia Dan Pengaruhnya Terhadap Harga Saham” Perumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang penelitian diatas, maka diperoleh perumusan masalahyang akan diteliti dalam penelitian ini adalah Bagaimana kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER) serta pengaruhnya terhadap harga saham baik secara parsial maupun simultan pada perusahaan sub- sektor otomotif yang go public untuk tahun 2007-2010. Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang ingin dicapai penulis dalam melakukan penelitian ini antara lain: 4
  5. 5. 1. Untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan otomotif sub-sektor otomotif yang go public dengan menggunakan Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER). 2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER) terhadap harga saham baik secara parsial maupun simultan pada perusahaan sub-sektor otomotif yang go public. Manfaat Penelitian Dalam melakukan penelitian ini, penulis berharap agar hasil penelitian yang dilakukan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: Manfaat Teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengembangan wawasan di bidang penilaian kinerja keuangan perusahaan serta sebai bahan referensi untuk peneliti selanjutnya dengan judul dan topik yang berkaitan. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai wahana penerapan teori dan ilmu selama di bangku kuliah, terutama yang berkaitan dengan kinerja perusahan dan harga saham. Manfaat Praktis Informasi yang diberikan dalam penelitian ini dapat digunakan para manajer, staf dan karyawan agar lebih memperhatikan tingkat kinerja perusahaan karena penilaian kinerja perusahaan akan mempengaruhi para investor yang ingin menanamkan modalnya. Penulis berharap penelitian yang dilakukan ini dapat memberikan gambaran mengenai pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan bagi pasa investor dalam mengambil keputusan untuk melakukan investasi. TINJAUAN PUSTAKA Landasan Teori Pengertian Penilaian Kinerja Keuangan Perusahaan Kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.(Irham Fahmi, 2011:2) Kinerja keuangan perusahaan merupakan gambaran mengenai hasil operasi perusahaan yang terdapat dalam laporan keuangan perusahaan dalam periode 5
  6. 6. tertentu, dan pada dasarnya merupakan cerminan dari kinerja manajemen pada periode tersebut. (Widyastuti Pratidina, 2011) Menurut Erich A. Helfert dalam sebuah artikel online bahwa kinerja keuangan adalah hasil dari banyak keputusan individu yang dibuat secara terus menerus oleh manajemen. Dari beberapa pendapat diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja keuangan adalah suatu analisis atau indikator dari baik buruknya keputusan individu yang dibuat secara berkala dari gambaran mengenai hasil operasi perusahaan yang terdapat dalam laporan keuangan perusahaan dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar . Pengukuran kinerja dilakukan oleh perusahaan untuk melakukan perbaikan diatas kegiatan operasionalnya agar dapat bersaing dengan perusahaan lainnya, bagi para investor informasi mengenai kinerja perusahaan dapat digunakan untuk melihat apakah mereka akan mempertahankan investasi mereka di perusahaan tersebut atau mencari alternatif lain. Penilaiaan terhadap harga saham dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk alat pengukur efisiensi perusahaan. Jika harga saham mereflesikan seluruh informasi mengenai perusahaan di masa lalu, sekarang dan di masa mendatang, maka kenaikan harga saham dapat dianggap sebagai indikasi perusahaan yang efisien. Penilaian kinerja perusahaan penting dilakukan baik oleh manajemen, pemegang saham, pemerintah dan pihak lain yang berkepentingan dan terkait dengan distribusi kesejahteraan diantara mereka. Helfert dan Lidiadni (2003: 36) mengemukakan bahwa dalam menilai kinerja perusahaan yang paling berkepentingan adalah pemilik perusahaan dalam hal ini investor, manajer, kreditor, pemerintah dan masyarakat umum. Penilaian Kinerja Keuangan Perusahaan dengan menggunakan Rasio Keuangan Dengan menggunakan alat analisis laporan keuangan, terutama bagi pemilik usaha dan manajemen, dapat diketahui beberapa hal yang bekaitan dengan keuangan dan kemajuan perusahaan. Pemilik usaha dapat mengetahui kondisi keuangan perusahaan dan menilai kinerja manajemen perusahaan. Alat analisis laporan keuangan yang biasa digunakan adalah rasio – rasio keuangan. (Irham Fahmi, 2011:3) 6
  7. 7. Rasio keuangan menurut James C Van Horne merupakan indeks yang menghubungakan dua angka akuntansi dan diperoleh dengan membagi satu angka dengan angka lainnya. Ukuran untuk melakukan penilaian kinerja keuangan perusahaan umumnya menggunakan lima analisis rasio keuangan yaitu: Rasio Likuiditas, Rasio Leverage, Rasio Perputaran, Rasio Profitabilitas, Rasio Nilai pasar.(Irham Fahmi, 2011:58) Menurut Nainggolan (2004:68) ada beberapa rasio yang digunakan untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan dan dimana rasio tersebut juga digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut: Earning Per Share (EPS), Debt to Equity Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER), Return on Investment (ROI), Return on Equity (ROE) Tidak semua rasio menurut Nainggolan (2004:68) di atas penulis jelaskan disini. Penulis hanya menjelaskan 4 (Empat) hal yang menjadi objek penelitian ini yaitu Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER). 1. Debt to Equity Ratio (DER) Debt To Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat leverage (penggunaan hutang) terhadap total shareholders’ equity yang dimiliki perusahaan (Angrawit Kusumawardani, 2010). Dilambangkan dengan ratio hutang yang diukur dengan membagai total hutang dengan total ekuitas. Debt to equity ratio (DER) = Total Hutang Total ekuitas Semakin tinggi DER menunjukkan semakin rentan terhadap fluktuasi kondisi perekonomian. Pada kondisi ekonomi yang tidak normal, perusahaan mungkin akan mengalami penurunan penjualan sementara biaya-biaya mengalami kenaikan sehingga tingkat pengembalian atas aktiva menurun. Kerugian akan memberikan tekanan pada pergerakan harga saham dan pada akhirnya terjadi penurunan harga saham. 2. Return On Equity (ROE) Return On Equity (ROE) merupakan salah satu cara untuk menghitung efisiensi perusahaan dengan cara membandingan antara laba yang tersedia bagi pemilik modal sendiri dengan jumlah modal sendiri yg menghasilkan laba tersebut. 7
  8. 8. Return on equity (ROE) = Laba Bersih Total ekuitas Semakin tinggi ROE mencerminkan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba yang semakin tinggi pemegang saham dan mengakibatkan permintaan saham perusahaan tersebut meningkat dan pada akhirnya terjadi kenaikan harga saham. 3. Earning Per Share (EPS) Earning per share (Laba perlembar saham) merupakan indikator yang secara ringkas menyajikan kinerja perusahaan yang dinyatakan dengan laba. Earning Per Share (EPS) = Laba Bersih Total Saham Beredar Makin tinggi nilai EPS akan menggembirakan pemegang saham karena semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham (Tjiptono Darmadji : 2001). Hal ini akan berakibat dengan meningkatnya laba maka harga saham cenderung naik, sedangkan ketika laba menurun, maka harga saham ikut juga menurun. 4. Price Earning Ratio (PER) Harahap (2008) mengatakan bahwa price earning ratio ini menunjukkan perbandingan antara harga saham di pasar atau harga perdana yang ditawarkan dibandingkan dengan pendapatan yang diterima. Rumus PER adalah sebagai berikut: Price Earning Ratio (PER) = Harga Saham EPS Price earning ratio yang tinggi menunjukkan bahwa investor bersedia untuk membayar dengan harga saham premium untuk perusahaan. Makin besar price earning ratio suatu saham maka harga saham juga akan semakin meningkat. Pengertian Saham Saham merupakan tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan, selembar saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemiliknya (berapapun porsinya/jumlahnya) dari suatu perusahaan yang menerbitkan kertas (saham) tersebut. (widyastuti Pratidina, 2010). Saham dapat didefenisikan sebagai surat 8
  9. 9. berharga sebagai bukti penyertaan atau pemilikan maupun institusi dalam suatu perusahaan (Pandji Anoraga, 2011; 58). Jadi dapat disimputkan bahwasanya saham adalah sebagai tanda penyertaan modal seseorang atau pihak (badan usaha) dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Saham memberikan indikasi kepemilikan atas perusahaan, sehingga para pemegang saham berhak mentukan arah kebijaksanaan perusahaan lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Para pemegang saham berhak memperoleh dividen yang dibagikan oleh perusahaan dan turut menanggung resiko sebesar saham yang dimiliki apabila perusahaan tersebut bangkrut. Pada dasarnya ada 2 (dua) keuntungan yang diperoleh investor dengan membeli atau memiliki saham, yaitu dividend dan capital gain. (Pandji Anoraga, 2011; 60). 1. Dividend Dividend yaitu pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbit saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Dividend yang dibagikan perusahaan dapat berupa dividen tunai dan dividen saham. Dividend saham diberikan kepada setiap pemegang saham sehingga jumlah saham yang dimiliki pemodal akan bertambah. 2. Capital gain Capital gain merupakan selisih lebiih antara harga beli dengan harga jual. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Umumnya permodal dengan orientasi jangka pendek mengejar keuntungan melalui capital gain. Beberapa resiko dihadapi pemodal dengan kepemilikan saham, yaitu tidak mendapat dividen, capital loss, dan saham di delist dari bursa. (Pandji Anoraga, 2011; 67) a) Tidak mendapat dividen Perusahaan akan membagikan dividen jika operasi perusahaan mengalami keuntungan. Perusahaan tidak dapat membagikan dividen jika perusahaan mengalami kerugian. Dengan demikian potensi keuntungan pemodal untuk mendapat dividen ditentukan oleh kinerja perusahaan tersebut. b) Capital loss Dalam aktivitas perdagangan saham, tidak selalu pemodal mendapatkan capital gain atau keuntungan atas saham yang dijualnya. Ada kalanya 9
  10. 10. pemodal harus menjual saham dengan harga jual lebih rendah dari harga beli. Dengan demikian pemodal mengalami capital loss. c) Saham di delist dari bursa (delisting) Suatu saham perusahaan di delist dari bursa umumnya karena kinerja yang buruk, misalnya dalam kurung waktu tertentu tidak pernah diperdagangkan, mengalami kerugian beberapa tahun, tidak membagikan dividen secara berturut-turut selama beberapa tahun, dan berbagai kondisi lainnya sesuai dengan peraturan pencatatan di bursa efek pada umumnya. Pengertian Harga Saham Harga saham merupakan cerminan dari nilai suatu perusahaan bagi para investor. Semakin baik perusahaannya mengelola usahanya dalam memperoleh keuntungan, semakin tinggi juga bilai perusahaan tersebut dari di mata para investor. Harga saham yang cukup tinggi akan memberikan return bagi para investor. Harga saham yang cukup tinggi akan memberikan return bagi para investor berupa capital gain yang pada akhirnya akan berpengaruh juga terhadap citra perusahaan.(Desmond Wira, 2011:7) Secara umum, semakin banyak kinerja suatu perusahaan semakin tinggi laba usahanya dan semakin banyak keuntungan yang dapat dinikmati oleh pemegang saham, juga semakin besar kemungkinan harga saham akan naik. Meskipun demikian saham yang memiliki kinerja baik sekalipun, harganya bisa saja turun karena keadaan pasar. (Anita Ardiani, 2007:4) Harga sebuah saham sangat dipengaruhi oleh hukum permintaan dan penawaran, harga saham akan naik jika permintaan terhadap saham perusahaan tersebut mengalami peningkatan dan sebaliknya. Harga dasar suatu saham merupakan harga perdana dan perubahan harga saham terjadi pada pasar skunder, dimana semakin banyak investor yang ingin membeli atau menyimpan suatu saham, maka semakin tinggi pula harganya begitu juga sebaliknya. Harga saham adalah factor yang membuat para investor menginvestasikan dananya di pasar modal dikarenakan dapat mencerminkan tingkat pengembalian modal. Pada prinsipnya, investor membeli saham adalah untuk mendapatkan dividen serta menjual saham tersebut pada harga yang lebih tinggi (capital gain). Para emiten yang dapat menghasilkan laba yang semakin tinggi akan meningkatkan tingkat kembalian yang 10
  11. 11. diperoleh investor yang tercemin dari harga saham perusahaan tersebut. (Dwiatma Patriaawan, 2011) Analisis yang bisa digunakan dalam menilai suatu saham yaitu: (Harmono, 2011:106) 1. Analisis Fundamental Analisis fundamental merupakan suatu analisis yang digunakan untuk menaksir harga saham dimasa yang akan datang dengan mengestimasi faktor–faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham dimasa yang akan datang dengan menggunakan data masa lalu perusahaan. 2. Analisis Teknikal Analisis teknikal merupakan suatu teknik yang menggunakan data atau catatan pasar untuk berusaha mengakses permintaan dan penawaran suatu saham, volume perdagangan, indeks harga saham individu maupun gabungan serta faktor – faktor lain yang bersifat teknis. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Harga Saham Harga saham di bursa dipengaruhi oleh banyak faktor, baik yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif yaitu : Penawaran dan Permintaan, Prilaku Investor, Kodisi Pasar Modal, Keadaan Perekonomian dan Politik. (Widyastuti Pratidina, 2010: 23) Perseroan Terbatas Go Public Go public merupakan peristiwa penting dalam perusahaan. Karena peristiwa tersebut terjadi transaksi antara perusahaan dengan pemegang saham baru, sehingga berakibat terjadinya perubahan komposisi pemilikan saham dari pemilik lama dengan pemegang saham yang baru. Dana yang diperoleh perusahaan dari penjualan saham dapat digunakan untuk ekspansi usaha, perbaikan struktur modal dan diversifikasi. (Maria Goretti Saragih,2011) Perusahaan yang go public dapat menawarkan sahamnya melalui bursa efek yang menurut UUPM No 8/1995 pasal 1, adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem atau sarana untuk mempertemukan penawaran jual beli efek pihak – pihak lain dengan tujuan memperdagangkan efek diantara mereka. Dengan berubahnya perusahaan menjadi perusahaan publik maka harusa terjadi pula 11
  12. 12. transformasi sikap dan tindak tanduk dari para pengelolanya. Perusahaan yang semula bersifat tertutup, setelah go public harus bersifat terbuka. Menurut Mortono dan Harjoto (2005:4) mengatakan “manajemen keuangan atau pembelanjaan adalah segala aktifitas perusahaan yang berhubungan dengan bagaimana memperoleh dana, menggunakan dana dan mengelola assets sesuai tujuan perusaan secara menyeluruh. Dengan kata lain manajemen keuangan merupakan manajemen atau pengelolaan mengenai bagaimana memperoleh asset, mendanai asset dan mengelola asset untuk mencapai tujuan”. Menurut Dr. Harmono, S.E, M.Si Manajemen keuangan dapat didefinisiskan dari tugas dan tnggung jawab menejer keuangan. Tugas pokok manajemen keuangan antara lain meliputi keputusan tentang investasi, pembiayaan kegiatan usaha dan pembagian deviden suatu perusahaan, dengan demikian tugas menejer keuangan adalah merencanakan untuk memaksimumkan nilai perusahaan. Pengertian Laporan Keuangan Laporan keuangan adalah laporan yang menunjukan kondisi keuangan persusahaan pada saat ini atau dalam satu periode tertentu. (Kasmir, 2011) Laporan keuangan merupakan suatu laporan yang menggambarkan hasil dari proses akuntansi yang digunakan sebagai alat komunikasi antara data keuangan atau aktivitas perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data-data atau aktivitas (Sudjadja, 2001). Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan merupakan media paling penting untuk menilai prestasi dan kondisi ekonomi suatu perusahaan, terutama bagi pihak eksternal dan analisis keuangan, karena mereka mempunyai kemampuan yang terbatas untuk melakukan pengamatn langsung ke perusahaan pembuat laporan serta keterbatasan mendapatkan informasi mengenai situasi perusahaan keseluruhan. Laporan keuangan Perusahaan Dari bermacam-macam laporan yang diterbitkan perusahaan untuk para pemegang sahamnya, laporan tahunan (Annual report) mungkin adalah yang paling penting. “Laporan tahunan adalah sebuah laporan yang diterbitkan perusahaan untuk pemegang sahamnya. Laporan ini memuat laporan keuangan dasar dan juga analisis 12
  13. 13. manajemen atas operasi tahun lalu dan pendapat mengenai prospek-prospek perusahaan dimasa mendatang” (Brigham dan Houston, 2009:45). Jenis – Jenis Laporan Keuangan Laporan keuangan menurut Ikatan Akuntansi Indonesia dalam standar Akuntansi Keuangan No. 1 tahun 2007, terdiri dari: 1. Neraca (Balance Sheet), sebuah laporan tentang posisi keuangan perusahaan pada suatu titik tertentu. Neraca merupakan daftar aset, kewajiban dan ekuitas pemilik pada tanggal tertentu, biasanya pada akhir bulan atau akhir tahun. 2. Laporan Laba Rugi (Income Statment), laporan yang mengikhtisarkan pendapatan dan pengeluaran perusahaan selama satu periode akuntansi, yang biasanya setiap satu kuartal atau satu tahun. 3. Laporan Ekuitas Pemilik, ikhtisar perubahan ekuitas pemilik yang terjadi selama periode waktu tertentu, misalnya sebulan atau setahun. 4. Laporan Arus Kas, ikhtisar penerimaan kas dan pengelkuaran kas selama periode waktu tertentu. Laporan arus kas terdiri dari tiga bagian yaitu aktivitas operasi, aktivitas investasi, aktivitas pendanaan. 5. catatan atas laporan keuangan, memberikan penjelasan mengenai gambaran umum perusahaan, ikhtisar kebijakan akuntansi, penjelasan pos – pos laporan keuangan, dan informasi penting lainnya. Pengaruh Informasi laporan Keuangan bagi Investor dalam Menilai Kinerja Keuangan Perusahaan Laporan keuangan merupakan suatu informasi yang menggambarkan kondisi suatu perusahaan, dimana selanjutnya itu akan menjadi suatu informasi yang menggambarkan tentang kinerja suatu perusahaan (Irham fahmi, 2011:22). Menurut farid dan siswanto, laporan keuangan adalah informasi yang diharapkan mampu memberikan bantuan kepada pengguna untuk membuat keputusan ekonomi yang bersifat finansial. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa laporan keuangan adalah suatu informasi keuangan yang menggambarkan kinerja keuangan suatu perusahaan. 13
  14. 14. METODOLOGI PENELITIAN Ruang Lingkup Penelitian Untuk mendapatkan penelitian yang terarah dan tidak menyimpang dari judul dan permasalahan yang dikonsep oleh peneliti, maka peneliti membatasi objek yang diteliti dalam penelitian ini. Peneliti membatasi penelitian ini dengan permasalahan yang ada yaitu: (1) Peneliti akan menganalisis kinerja keuangan perusahaan otomotif dan komponennya yang go public dengan menggunakan rasio-rasio keuanga meliputi Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), dan Price Earning Ratio (PER) selama periode 2006-2010. (2) Peneliti akan menganalisis bagaimana pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER) terhadap harga saham baik secara parsial maupun simultan pada perusahaan sub-sektor otomotif yang go public dengan menggunakan analisis statistik, serta mencari variable mana dari rasio-rasio keuangan yang paling dominan berpengaruh terhadap harga saham. Rancangan Penelitian Penelitian ini bersifat kausalitas dan kolerasional. Penelitian kausalitas adalah penelitian yang digunakan untuk melihat pengaruh antara dua variabel atau lebih. Dalam penelitian ini, peneliti ingin mencari tahu pengaruh antara Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS) dan Price Earning Ratio (PER) terhadap harga saham, sedangkan kolerasional merupakan penelitian yang digunakan untuk melihat apakah terdapat hubungan yang kuat atau tidak antara dua variabel atau lebih, untuk melihat variabel mana yang paling dominan mempengaruhi harga saham (Kuncoro,2003). Populasi, Sample, dan Teknik Pengambilan Sample Menurut Hermawan (2005, 143) mengemukakan bahwa “populasi berrkaitan dengan seluruh kelompok orang, peristiwa, atau benda yang menjadi pusat perhatian peneliti untuk diteliti”. Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan otomotif dan komponennya yang sudah go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2007 sampai 2010. Dalam penelitian ini, metode penarikan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dimana teknik penarikan sampel dilakukan dengan pertimbangan 14
  15. 15. kriteria tertentu. Adapun kriteria yang digunakan dalam sampel ini adalah sebagai berikut: 1. Perusahaan sub-sektor otomotif yang listing di Bursa Efek Indonesia selama periode penelitian yaitu 2007-2010 2. Perusahaan sub-sektor otomotif yang telah menerbitkan laporan keuangan selama 5 tahun berturut-turut yaitu tahun 2007, 2008, 2009, dan 2010 3. Perusahaan sub-sektor otomotif yang menyajikan laporan keuangan dan rasio secara lengkap sesuai dengan variabel yang akan diteliti berdasarkan sumber yang digunakan yang berakhir tanggal 31 Desember. Berdasarkan populasi penelitian yang terdiri dari 14 perusahaan sub-sektor otomotif yang go public, yang memenuhi seluruh kriteria dalam penelitian ini terdapat 12 perusahaan sub-sektor otomotif yang go public. Definisi Operasional Variabel Penelitian Variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai berdasarkan pokok permasalahan dan rumusan hipotesa yang diajukan pada bagian sebelimnya, maka variabel penelitian yang akan digunakan yaitu : variabel independent atau variabel bebas yang dinyatakan dalam simbol X dan variabel dependent atau variabel terikat yang dinyatakan dalam simbol Y (Cooper dan Emory, 1998). Dalam penelitian ini penulis menggunakan empat variabel, lima variabel bebas (Independent) (X), yaitu rasio – rasio dalam penilaian kinerja keuanagn perusahaan antara lain : Debt Equity Ratio (X1), Return On Equity (X2), Earning Per Share (X3), Price Earning Ratio (X4) dan seta satu variabel terikat (dependent) (Y), yaitu harga saham. Variabel-variabel penelitian dan definisi Operasional dalam penelitian ini dapat disajikan dalam Tabel dibawah ini: Tabel Ringkasan Definisi Operasional Variabel No Jenis Variabel Definisi Skala Pengukuran 15
  16. 16. 1 DER Rasio utang yang digunakan untuk mengukur tingkat penggunaan hutang terhadap modal sendiri yang dimiliki oleh perusahaan. Rasio DER = Total Utang Modal Sendiri 2 ROE Rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur tingkat efektivitas perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan ekuitas. Rasio ROE = Laba Bersih Modal Sendiri 3 EPS Rasio pasar yang menunjukkan bagian laba untuk setiap saham. Rasio EPS = Laba Bersih Jlh Saham Beredar 4 PER Salah satu rasio keuangan perusahaan yang dapat mempengaruhi harga saham lebih dominan dibanding EPS. Rasio PER = Harga Saham EPS 5 Harga Saham Saham merupakan salah satu bentuk efek atau surat berharga yang diperdagangkan dipasar modal (bursa). Harga saham rata- rata pada periode akhir tahun (closing price) Sumber: Penelitian, 2011 (data diolah) Metode Pengumpulan Data Metode yang dilakukan untuk mendapatkan data yang diinginkan melalui penelitian kepustakaan yaitu Studi pustaka, Dokumentasi. Jadi, dilakukan dengan meneliti dokumen – dokumen yang berasal dari perusahaan – perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Metode Analisis Data Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode analisis data agar dapat dimengerti, dinterprestasikan dan mudah dipahami, melalui: Analisis statistik Dalam melakukan penelitian ini penulis menggunakan analisis statistik dengan metode penelitian secara kuantitatif. Dalam melakukan uji ini penulis menggunakan software SPSS versi 16 dengan metode statistik yang akan penulis gunakan dalam melakukan penelitian ini antara lain: Uji asumsi klasik terbagi menjadi 4 jenis yaitu: (Danang Sunyoto, 2011,79) 16
  17. 17. 1. Uji asumsi klasik multikolinieritas 2. Uji asumsi klasik heteroskedastisitas 3. Uji asumsi klasik autokorelasi Koefisien Determinasi (R2 ) Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel X terhadap variabel Y, selain itu koefisien determinasi berguna untuk mengetahui kontribusi model terhadap variabel terikat. Koefisien determinasi (R2 ) dari hasil regresi berganda menunjukkan seberapa besar variabel dependen bisa dijelaskan oleh variabel-variabel independennya (Santoso,2004). Uji Hipotesis Pengujian terhadap hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi sederhana (uji t) atau secara parsial digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas tehadap variabel terikat dan uji regresi berganda (uji f) atau secara simultan yang digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh yang signifikan secara simultan atau bersama-sama antara dua variabel bebas atau lebih terhadap variabel terikat (harga sahama). Uji Koefisien Regresi Sederhana (uji t) atau Uji Parsial Analisis regresi adalah suatu analisis yang mengukur pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Jika pengukuran pengaruh ini melibatkan satu variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y), dimana analisis regresi linier sederhana yang dirumuskan sebagai berikut: Y = a + bX Dimana : Y = Variabel terikat/dependent (nilai yang diprediksikan) X = Variabel bebas/independent a = Konstanta (nilai Y apabila X=0) b = Koefisien regresi (nilai peningkatan atau penurunan) Uji t (pengujian parsial) ini dilakukan untuk menguji pengaruh variabel independen secara parsial terhadap variabel dependen, yaitu pengaruh dari masing- masing variabel independent yang terdiri atas EPS, DER, ROE dan PER terhadap harga saham yang ,erupakan variabel dependennya. Pengambilan keputusan uji 17
  18. 18. hipotesis secara parsial ini didasarkan pada nilai probabilitas yang didapatkan dari hasil pengolahan data melalui program SPSS statistik parametrik sebagai berikut: (Santoso:2004) 1. jika probabilitas > 0,05 maka H0 diterima 2. jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak Uji Regresi Berganda (uji F) atau Uji Simultan Regresi berganda merupakan pengembangan dari regresi sederhana yang dilakuka untuk meramalkan nilai variabel terikat (Y) apabila variabel bebas minimal dua atau lebih. Uji regresi berganda ini digunakan untuk meramalkan pengaruh dua variabel prediktor atau lebih terhadap satu variabel kriterium atau untuk membuktikan ada atau tidaknya hubungan fungsional antara dua variabel bebas (X) atau lebih dengan sebuah variabel terikat (Y). (Santoso, 2004) Analisis regresi berganda dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh penilaian kinerja perusahaan otomotif yang go public terhadap harga saham. Model umum persamaan regresi linier berganda adalah sebagai berikut: Y = a + b1 X1 + b2X2 + b3X3 +b4 X4 + e Dimana : Y = Harga saham a = Blangan konstanta b1 – b4 = Koefisien regre X1 = EPS X2 = ROE X3 = DER X4 = PER e = Variabel pengganggu (error) Uji F atau pengujian simultan digunakan untuk menguji pengaruh variabel independent secara bersama-sama terhadap variabel dependen dari suatu persamaan regresi dengan menggunakan hipotesis statistik. Pengambilan keputusan didasarkan pada nilai probabilitasnyang didapatkan dari hasil pengolahan data melalui program SPSS statistik parametrik sebagai berikut: (Santoso,2004) 1. jika probabilitas > 0,05 maka H0 diterima 2. jika probabilitas < 0,05 maka H0 ditolak HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 18
  19. 19. Hasil pengujian regresi linier berganda dapat dibuat persamaan regresi sebagai berikut: Y= -6210.551 - 3239.949 X1 - 23433.898 X2 + 15.977 X3 + 392.691X4 Berdasarkan persamaan regresi di atas, dapat dibuat interpretasi sebagai berikut: a = -6210.551 Nilai konstanta untuk persamaan regresi adalah -6210.551 dengan parameter negatif. Hal ini berarti bahwa tanpa adanya debt to equity ratio, return on equity, earning per share dan price earning ratio maka harga saham perusahaan sub-sektor otomotif yang go public di Bursa Efek Indonesia tetap mengalami penurunan. b1 = - 3239.949 Besar nilai koefisien regresi untuk variabel debt to equity ratio (X1) adalah - 3239.949 dengan parameter negatif. Hal ini berarti bahwa setiap terjadi peningkatan debt to equity ratio sebesar 1%, maka akan menurunkan harga saham sebesar 32,39949%. b2 = -23433.898 Besar nilai koefisien regresi untuk variabel return on equity (X2) adalah -23433.898 dengan parameter negatif. Hal ini berarti bahwa setiap terjadi peningkatan return on equity sebesar 1%, maka akan semakin meningkatkan harga saham sebesar 23,433898%. b3 = 15.977 Besar nilai koefisien regresi untuk variabel earning per share (X3) adalah 15.977 dengan parameter positif. Hal ini berarti bahwa setiap terjadi peningkatan earning per share sebesar 1%; maka akan semakin meningkatkan harga saham sebesar 0.15977%. B4 = 392.691 Besar nilai koefisien regresi untuk variabel price earning ratio (X4) adalah 392.691 dengan parameter positif. Hal ini berarti bahwa setiap terjadi peningkatan price earning ratio sebesar 1%; maka akan semakin meningkatkan harga saham sebesar 3,92691%. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa price earning ratio mempunyai nilai koefieisen beta lebih besar dibandingkan dengan variabel-variabel lainnya yaitu sebesar 0,894. Hal ini menunjukkan bahwa price earning ratio merupakan variabel 19
  20. 20. yang paling dominan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan sub-sektor otomotif yang go public di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2010. Hasil dari uji simultan atau uji F dalam penelitian ini. Dengan melihat uji Anova atau F Test menghasilkan angka F sebesar 10.967 dengan tingkat signifikan (angka probabilitas) sebesar 0,004. karena angka probabilitas atau tingkat signifikan 0,004 lebih kecil dari 0,05 (0,004 < 0,05), maka model regresi dalam penelitian ini sudah layak untuk digunakan dalam memprediksi harga saham atau dapat dikatakan bahwa DER, ROE, EPS dan PER secara simultan atau bersama-sama dapat mempengaruhi harga saham perusahaan sub-sektor yang go public. Pembahasan Hasil Penelitian Dengan analisa rasio keuangan ini dapat diketahui kekuatan dan kelemahan perusahaan di bidang keuangan. Perusahaan yang melakukan penjualan kepada masyarakat bertujuan untuk menambah modal kerja perusahaan, perluasan usaha dan diversifikasi produk. Untuk menarik investor, perusahaan harus mampu menunjukkan kinerjanya. Pengukuran kinerja dapat dilakukan menggunakan rasio keuangan. Harga saham merupakan salah satu indikator keberhasilan pengelolaan perusahaan. Harga saham senantiasa bergerak dan pergerakan tersebut ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran saham itu sendiri di pasar modal. Bagi investor, harga saham mencerminkan nilai suatu perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian tentang penilaian kinerja keuangan perusahaan sub-sektor otomotif yang go public di BEI dengan menggunakan rasio-rasio keuangan yaitu debt to equity ratio, return on equity, earning per share dan price earning ratio dan pengaruhnya terhadap harga saham diperoleh hasil sebagai berikut: H1 = Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh secara parsial terhadap Harga saham pada perusahaan sub-sektor otomotif yang go public yang terdaftar di BEI Berdasarkan hasil perhitungan untuk variabel Debt to Equity Ratio (X1) diperoleh nilai signifikan sebesar 0.738 (≥ 0,05); sehingga H0 diterima, artinya debt to equity ratio secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan sub-sektor otomotif yang go public di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada perusahaan sub-sektor otomotif 20
  21. 21. go public yang terdaftar di BEI. Debt to Equity Ratio merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban-kewajibannya dengan melalui modal sendiri yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Setiap perusahaan yang go public tidak semuanya mempunyai modal sendiri yang cukup besar untuk menutupi seluruh kewajiban yang ada sehingga perusahaan-perusahaan tersebut membutuhkan modal asing dari para investor. Dengan semakin tingginya modal asing dari para investor hal ini akan meningkatkan resiko perusahaan terhadap hutang tersebut. Hal itulah yang menyebabkan turunnya kinerja keuangan perusahaan, sehingga Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh terhadap harga saham. H2 = Harga on Equity (ROE) berpengaruh secara signifikan positif terhadap Harga saham pada perusahaan sub-sektor otomotif yang go public yang terdaftar di BEI Berdasarkan hasil perhitungan untuk variabel Return On Equity (X2) diperoleh nilai signifikan sebesar 0.758 (≥ 0,05); sehingga H0 diterima, artinya return on equity secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan sub-sektor otomotif yang go public di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa return on equity tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada perusahaan sub-sektor otomotif go public yang terdaftar di BEI. Return On Equity (ROE) merupakan salah satu cara untuk menghitung efisiensi perusahaan dengan cara membandingkan antara laba yang tersedia bagi pemilik modal sendiri dengan jumlah modal sendiri yg menghasilkan laba tersebut. ROE mempunyai fungsi untuk mengukur tingkat keuntungan yang diperoleh para investor atas penanaman modal yang dilakukan dalam perusahaan emiten, Sedangkan dalam penelitian ini didapat hasil ROE tidak berpengaruh signifikan, yang berarti bahwa perusahaan tersebut tidak dapat menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri yang dapat menguntungkan pemegang saham. Hal itulah yang menyebabkan turunnya kinerja keuangan perusahaan, sehingga return on equity tidak berpengaruh terhadap harga saham. H3 = Earning per Share (EPS) berpengaruh secara signifikan positif terhadap Harga saham pada perusahaan sub-sektor otomotif yang go public yang terdaftar di BEI 21
  22. 22. Berdasarkan hasil perhitungan untuk variabel Earnign per share (X3) diperoleh nilai signifikan sebesar 0,235 (≥ 0,05); sehingga H0 diterima, artinya earning per share secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan sub-sektor otomotif yang go public di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa earning per share tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Hal ini dipengaruhi oleh Earning tidak semua dibagikan sebagai deviden, ada yang ditahan. Apabila proporsi earning yang ditahan banyak, maka tingkat growth akan tinggi dan return menjadi tinggi. Sedangkan Apabila proporsi earning yang ditahan sedikit, dan yang dibagikan sebagai deviden lebih banyak, maka tingkat growth akan sedikit dan return menjadi rendah. sehingga akan berdampak terhadap permintaan akan harga saham tersebut sehingga harga saham mengalai penurunan. Hal itulah yang menyebabkan turunnya kinerja keuangan perusahaan, sehingga Earning per share tidak berpengaruh terhadap harga saham. H4 = Price Earning Ratio (PER) berpengaruh secara signifikan positif terhadap Harga saham pada perusahaan sub-sektor otomotif yang go public yang terdaftar di BEI Berdasarkan hasil perhitungan untuk variabel Price Earning Ratio (X4) diperoleh nilai signifikan sebesar 0, 002 (≥ 0,05); sehingga H0 ditolak, artinya Price Earning Ratio secara parsial berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan sub-sektor otomotif yang go public di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa price earning ratio berpengaruh signifikan terhadap harga saham pada perusahaan sub-sektor otomotif go public yang terdaftar di BEI. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan PER berpengaruh terhadap harga saham dimana pengaruhnya cukup besar yaitu nilai 63,8% dilihat dari nilai R Square pada model summary, berarti sebesar 63,8% harga saham yang terjadi dapat dipengaruhi dengan menggunakan Price Earning Ratio (PER). Dimana dengan pengaruhnya sebesar 63,8% akan digunakan untuk memprediksi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dimasa yang akan datang. Price earning ratio yang tinggi menunjukkan bahwa investor bersedia untuk membayar dengan harga saham premium untuk perusahaan. Makin besar price earning ratio suatu saham maka harga saham juga akan semakin meningkat. 22
  23. 23. H5 = Debt to Equity Ratio (DER), Harga on Equity (ROE), Earning per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), berpengaruh secara signifikan secara bersama-sama terhadap Harga saham pada perusahaan sub-sektor otomotif yang go public yang terdaftar di BEI Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh nilai signifikan sebesar 0,004 (≥ 0,05); sehingga H0 ditolak, Debt to Equity Ratio (DER), Harga on Equity (ROE), Earning per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), secara simultan berpengaruh signifikan terhadap harga saham perusahaan sub-sektor otomotif yang go public di Bursa Efek Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Debt to Equity Ratio (DER), Harga on Equity (ROE), Earning per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), secara simultan berpengaruh terhadap harga saham pada perusahaan sub-sektor otomotif go public yang terdaftar di BEI. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan Debt to Equity Ratio (DER), Harga on Equity (ROE), Earning per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), secara simultan berpengaruh terhadap harga saham dimana pengaruhnya sangat besar yaitu nilai 86,2% (dilihat dari nilai R Square pada model summary) , berarti sebesar 86,2% harga saham yang terjadi dapat dipengaruhi dengan menggunakan Debt to Equity Ratio (DER), Harga on Equity (ROE), Earning per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER), secara simultan. Dimana dengan pengaruhnya sebesar 86,2% akan digunakan untuk memprediksi kemampuan perusahaan dimasa yang akan datang. Akan tetapi, variable yang paling memiliki perngaruh terhadap harga saham yaitu price earning ratio yang mempunyai nilai koefieisen beta lebih besar dibandingkan dengan variabel-variabel lainnya yaitu sebesar 0, 894. Dimana hal ini menunjukkan bahwa price earning ratio merupakan variabel yang paling dominan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan sub-sektor otomotif yang go public di Bursa Efek Indonesia tahun 2007-2010. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Dari 4 variabel yang digunakan dalam penelitian ini tidak semuanya berpengaruh secara parsial pada harga saham. Secara parsial PER berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan sub-sektor otomotif yang go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) sedangkan untuk DER, ROE dan EPS 23
  24. 24. tidak berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan sub-sektor otomotif yang go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) 2. Secara simultan atau bersama-sama anatara DER, ROE, EPS dan PER berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham perusahaan sub-sektor otomotif yang go public di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar 86,2%. 3. Diantara DER, ROE, EPS dan PER yang memberikan pengaruh paling besar terhadap harga saham adalah PER (63,8%) yang kemudian diikuti oleh EPS (13.8%), sedangkan pengaruh DER (1.2%), dan ROE (1 %) yang relative kecil. SARAN Berdasarkan kesimpulan dari hasil penelitian di atas yang menunjukkan bahwa PER memililiki pengaruh yang lebih dominan dibandingan variable lain, maka peneliti menyarankan sebagai berikut : 1. Bagi perusahaan sub-sektor otomotif yang go public dan ikut menjual sahamnya di BEI hendaknya meningkatkan PERnya agar saham-saham dari perusahaan tersebut menjadi prioritas investor dalam membeli sahamnya sehingga harga saham perusahan tersebut dapat meningkat. Dengan memilih PER yang rendah nilainya. 2. Bagi emiten ukuran rasio perusahaan yang berpengaruh terhadap harga saham, dapat digunakan sebagai referensi untuk meningkatkan kinerja keuangannya. Khususnya dalam penelitian ini, variabel yang signifikan terhadap harga saham adalah PER. 3. Sebagai rasio profitabilitas, EPS memiliki pengaruh terbesar kedua setelah PER. EPS merupakan rasio yang berkontribusi bagi pemegang saham. Untuk memberi kemakmuran bagi pemegang sahamnya, perusahaan dapat melakukan kegiatan eksplorasi otomotif pada daerah–daerah yang dianggap potensial secara bijaksana. Dengan adanya kegiatan eksplorasi otomotif tersebut diharapkan dapat meningkatkan penjualan dan pada akhirnya meningkatkan laba sehingga dapat memberi kesejahteraan pada pemegang saham. 4. Selain memperhatikan keadaan perusahaan, kondisi umum industri yang sejenis, dan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kondisi dan prospek perusahaan di masa yang akan datang, kondisi perdagangan efek, fluktuasi kurs, volume transaksi, lingkungan yaitu yang mencakup kondisi ekonomi, politik, dan 24
  25. 25. keamanan negara hendaknya para investor juga memperhatikan PER sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan transaksi pembelian saham. 5. Penerbitan laporan keuangan perusahaan diharapkan untuk lebih lengkap dan valid, sehingga publik dapat menganalisis kinerja perusahaan dengan baik. Contohnya tidak menyertakan biaya bunga dalam laporan keuangannya dan tidak menyertakan pembagian deviden. 6. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan lebih meningkatkan jangkauan penelitian dengan semakin meningkatkan periode penelitian dan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi harga saham perusahaan. Misalkan dengan periode penelitian lebih dari empat tahun supaya hasil yang didapatkan lebih akurat, serta faktor lain misalnya seperti current ratio, DPS (devident per share). 25

×