DAMPAK GLOBALISASI       TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA                                  MAKALAH                  ...
Indonesia yaitu: siapkah dunia pendidikan Indonesia menghadapi globalisasi?danbagaimanakah cara penyesuian pendidikan Indo...
of which are economic (mature firms seeking growth outside their nationalboundaries)."Tetapi, dalam tulisan ini kita cende...
5. Globalisasi sebagai penghapusan batas-batas teritorial (atau sebagai persebaransupra-teritorialitas)Globalisasi mendoro...
berkompromi untuk melakukan perubahan. Lahirnya UUD 1945 yang telahdiamandemenkan, UU Sisidiknas, dan PP 19 tahun 2005 ten...
2.2.2 Mahalnya Biaya Pendidikan    Pendidikan bermutu itu mahal, itulah kalimat yang sering terlontar di kalanganmasyaraka...
Fandi achmad (Jawa Pos, 2/6/2007) menjelaskan sebagai berikut.       Mencermati konteks pendidikan dalam praktik seperti i...
Dalammenghadapi era globalisasi, kita tidak hanya membutuhkan sumber daya manusiadengan latar belakang pendidikan formal y...
maka semakin cepat tumbuhnya kesadaran kompetitif di tengah-tengah bangsakita sehingga mampu bersaing di atas gelombang gl...
dan khusus dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitupendidikan agama dan pendidikan umum.Cara penyesua...
Hana Kristina PurbaMaria Husnun Nisa1. PendahuluanGlobalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tid...
Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 dinyatakan bahwa pendidikan formal diIndonesia bermula dari TK selama dua tahun dilanjutk...
diterapkannya bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Mandarinsebagai mata ajar wajib sekolah. Selain itu berbagai ...
kualitas yang baik tadi tentu saja memerlukan biaya yang cukup besar. Tentusaja hal ini menjadi salah satu penyebab global...
penggolongan orang miskin dan orang kaya. Lembaga pendidikan telahdijadikan ladang bisnis dan dikomersialkan.Kebijakan yan...
keadaan ini dibiarkan terus berlanjut? Jika tak menghasilkan lulusan yangberkualitas dan dapat diandalkan, dapatkah pendid...
Pada gilirannya dalam rangka membangun kehidupan masa depan yang majudan sejahtera.Oleh karena itulah sesuai dengan perkem...
*. integrasi*. mampu mentransfer kemampuannya melalui pelatihan dan pembinaan,sehingga penggunanya dapat memanfaatkan laya...
pendidikan di Indonesia setingkat dengan kualitas pendidikan Internasional,tetapi pada kenyataannya Indonesia belum siap u...
Dampak globalisasi
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Dampak globalisasi

55,375 views

Published on

hidup penuh perjuangan

Published in: Education
2 Comments
8 Likes
Statistics
Notes
No Downloads
Views
Total views
55,375
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
13
Actions
Shares
0
Downloads
724
Comments
2
Likes
8
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Dampak globalisasi

  1. 1. DAMPAK GLOBALISASI TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA MAKALAH Disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Bahasa Indonesia Keilmuan yang dibina oleh Bapak Drs. Sunoto M. Pd. OLEH FINA FAIZAH 108231410612 UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS SASTRA JURUSAN SASTRA ARAB NOVEMBER 2009 BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangGlobalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidakmengenal batas wilayah. Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses darigagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lainyang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedomanbersama bagi bangsa-bangsa di seluruh dunia (Edison A. Jamli, 2005). Prosesglobalisasi berlangsung melalui dua dimensi, yaitu dimensi ruang dan waktu.Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi,politik, ekonomi, dan terutama pada bidang pendidikan. Teknologi informasi dankomunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini,teknologi informasi dan komunikasi berkembang pesat dengan berbagai bentukdan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasitidak dapat dihindari kehadirannya, terutama dalam bidang pendidikan.Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negaratermasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positifdan negatif, pengaruh globalisasi meliputi segala aspek kehidupan terutama padamasalah pendidikan diIndonesia. Ada dua isu kritis yang perlu kita sikapisehubungan dengan perspektif globalisasi dalam kebijakan pendidikan di
  2. 2. Indonesia yaitu: siapkah dunia pendidikan Indonesia menghadapi globalisasi?danbagaimanakah cara penyesuian pendidikan Indonesia di era globalisasi sekarangini?. Oleh sebab itu untuk melawan globalisasi terutama dalam pendidikan, kitaharus bisa menjaga eksistensi sekolah. Demikianlah, semoga kita dapatmengarungi derasnya gelombang globalisasi dan kita tidak tenggelam dalamgelombang itu.1.2 Rumusan Masalah1. Apa dampak globalisasi dalam dunia pendidikan?.2. Bagaimana perkembangan globalisasi pada saat ini?.3. Seperti apa pendidikan di Indonesia saat ini?.4. Bagaimana cara penyesuaian pendidikan Indonesia di era globalisasi sekarang ini?.1.3 Tujuan Penulisan1. Bagi Penulis Disusun untuk memenuhi tugas yang diberikan dosen dalam mata kuliah Bahasa Indonesia Keilmuan.2. Bagi Pembaca Makalah ini dimaksudkan untuk membahas dampak globalisasi terhadap dunia pendidikan di Indonesia. BAB II PEMBAHASAN2.1 GlobalisasiGlobalisasi telah menjadi sebuah kata yang memiliki makna tersendiri yangseringkali kita baca dan dengar. Banyak pengguna istilah globalisasimemahaminya berbeda dari makna yang sesungguhnya. Realitas semacam ini bisaditerima mengingat tidak ada definisi yang tunggal terhadap globalisasi.R. Robertson (1992:8) misalnya, merumuskan globalisasi sebagai:"... thecompression of the world and the intensification of consciousness of the world asa whole."P. Kotter (1995:42) mendeskripsikan globalisasi sebagai, "...the product of manyforces, some of which are political (no major was since 1945), some of which aretechnological (faster and cheaper transportation and communication), and some
  3. 3. of which are economic (mature firms seeking growth outside their nationalboundaries)."Tetapi, dalam tulisan ini kita cenderung mengutip pendapat J.A. Scholte(2002:15-17) yang menyimpulkan bahwa setidaknya ada lima kategori pengertianglobalisasi yang umum ditemukan dalam literatur. Kelima kategori definisitersebut berkaitan satu sama lain dan kadangkala saling tumpang-tindih, namunmasing-masing mengandung unsur yang khas.1. Globalisasi sebagai internasionalisasiDengan pemahaman ini, globalisasi dipandang sekedar `sebuah kata sifat(adjective) untuk menggambarkan hubungan antar-batas dari berbagai negara.la menggambarkan pertumbuhan dalam pertukaran dan interdependensiinternasional. Semakin besar volume perdagangan dan investasi modal, makaekonomi antar-negara semakin terintegrasi menuju ekonomi global di mana`ekonomi nasional yang distingtif dilesap dan diartikulasikan kembali ke dalamsuatu sistem melalui proses dan kesepakatan internasional.2. Globalisasi sebagai liberalisasiDalam pengertian ini, “globalisasi” merujuk pada sebuah proses penghapusanhambatan-hambatan yang dibuat oleh pemerintah terhadap mobilitas antar negarauntuk menciptakan sebuah ekonomi dunia yang terbuka dan tanpa-batas. Merekayang berpendapat pentingnya menghapus hambatan-hambatan perdagangan dankontrol modal biasanya berlindung di balik mantelglobalisasi.3. Globalisasi sebagai universalisasiDalam konsep ini, kata global digunakan dengan pemahaman bahwaproses mendunia dan globalisasi merupakan proses penyebaran berbagai objekdan pengalaman kepada semua orang ke seluruh penjuru dunia. Contoh klasik darikonsep ini adalah penyebaran teknologi komputer, televisi, internet, dll.4. Globalisasi sebagai westernisasi atau modernisasi (lebih dalam bentukyang Americanised)Globalisasi dalam konteks ini dipahami sebagai sebuah dinamika, di manastruktur-struktur sosial modernitas (kapitalisme, rasionalisme, industrialisme,birokratisme, dsb.) disebarkan ke seluruh penjuru dunia, yang dalam prosesnyacenderung merusak budaya setempat yang telah mapan serta merampas hak self-determination rakyat setempat.
  4. 4. 5. Globalisasi sebagai penghapusan batas-batas teritorial (atau sebagai persebaransupra-teritorialitas)Globalisasi mendorong rekonfigurasi geografis, sehingga ruang-sosial tidak lagisemata dipetakan dengan kawasan teritorial, jarak teritorial, dan batas-batasteritorial. Dalam konteks ini, globalisasi juga dipahami sebagai sebuah proses(atau serangkaian proses) yang melahirkan sebuah transformasi dalam spatialorganisation dari hubungan sosial dan transaksi-ditinjau dari segi ekstensitas,intensitas, kecepatan dan dampaknya yang memutar mobilitas antar-benua atauantar-regional serta jaringan aktivitas.Globalisasi bisa dianggap sebagai penyebaran dan intensifikasi dari hubunganekonomi, sosial, dan kultural yang menembus sekat-sekat geografis ruang danwaktu. Dengan demikian, globalisasi hampir melingkupi semua hal yangberkaitan dengan ekonomi, politik, kemajuan teknologi, informasi, komunikasi,transportasi, dll. Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan daripengaruh perkembangan globalisasi, di mana ilmu pengetahuan dan teknologiberkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi duniapendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenagapendidik dari mancanegara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar globalmaka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan,baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikanagar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagimasyarakat untuk mendapatkan pendidikan. Ketidaksiapan bangsa kita dalam mencetak SDM yang berkualitas danbermoral yang dipersiapkan untuk terlibat dan berkiprah dalam kancahglobalisasi, menimbulkan dampak negatif yang tidak sedikit jumlahnya bagimasyarakat. Paling tidak, ada tiga dampak negatif yang akan terjadi dalam duniapendidikan kita. Pertama, dunia pendidikan akan menjadi objek komoditas dankomersil seiring dengan kuatnya hembusan paham neoliberalisme yang melandadunia. Paradigma dalam dunia komersial adalah usaha mencari pasar baru danmemperluas bentuk-bentuk usaha secara terus-menerus. Globalisasi mampumemaksa liberalisasi berbagai sektor yang dulunya non-komersial menjadikomoditas dalam pasaar yang baru. Tidak heran apabila sekolah masihmembebani orang tua murid dengan sejumlah anggaran berlabel uang komite atauuang sumbangan pengembangan institusi meskipun pemerintah sudahmenyediakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Kedua, mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara. Tuntutanuntuk berkompetisi dan tekanan institusi global, seperti IMF dan World Bank,mau atau tidak, membuat dunia politik dan pembuat kebijakan harus
  5. 5. berkompromi untuk melakukan perubahan. Lahirnya UUD 1945 yang telahdiamandemenkan, UU Sisidiknas, dan PP 19 tahun 2005 tentang Standar NasionalPendidikan (SNP) setidaknya telah membawa perubahan paradigma pendidikandari coraksentralistis menjadi desentralistis. Ketiga, globalisasi akan mendorong delokasi dan perubahan teknologi danorientasi pendidikan. Pemanfaatan teknologi baru, seperti computer dan internet,telah membawa perubahan yang sangat revolusioner dalam dunia pendidikan yangtradisional. Pemanfaatan multimedia yang portable dan menarik sudah menjadipemandangan yang biasa dalam praktik pembelajaran di dunia persekolahan kita.Di sinilah bahwa pendidikan menjadi agenda prioritas kebangsaan yang tidak bisaditunda-tunda lagi untuk diperbaiki seoptimal mungkin.2.2 Keadaan Buruk Pendidikan di Indonesia2.2.1 Paradigma Pendidikan Nasional yang Sekular-Materialistik Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini adalahsistem pendidikan yang sekular-materialstik. Hal ini dapat terlihat antara lain padaUU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang, dan jenispendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi : Jenis pendidikanmencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, kagamaan,dan khusus dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitupendidikan agama dan pendidikan umum. Sistem pendidikan dikotomis semacamini terbukti telah gagal melahirkan manusia yang sholeh yang berkepribadiansekaligus mampu menjawab tantangan perkembangan melalui penguasaan sainsdan teknologi. Secara kelembagaan, sekularisasi pendidikan tampak padapendidikan agama melalui madrasah, institusi agama, dan pesantren yang dikelolaoleh Departemen Agama; sementara pendidikan umum melalui sekolah dasar,sekolah menengah, kejurusan serta perguruan tinggi umum dikelola olehDepartemen Pendidikan Nasional. Terdapat kesan yang sangat kuat bahwapengembangan ilmu-ilmu kehidupan (iptek) dilakukan oleh Depdiknas dandipandang sebagai tidak berhubungan dengan agama. Pembentukan karaktersiswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan justru kurangtergarap secara serius. Agama ditempatkan sekadar salah satu aspek yangperannya sangat minimal, bukan menjadi landasan seluruh aspek. Pendidikan yang sekular-materialistik ini memang bisa melahirkan orang yangmenguasai sains-teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Akantetapi, pendidikan semacam itu terbukti gagal membentuk kepribadian pesertadidik dan penguasaan ilmu agama. Banyak lulusan pendidikan umum yang ‘butaagama’ dan rapuh kepribadiannya. Sebaliknya, mereka yang belajar di lingkunganpendidikan agama memang menguasai ilmu agama dan kepribadiannya punbagus, tetapi buta dari segi sains dan teknologi. Sehingga, sektor-sektor moderndiisi orang-orang awam. Sedang yang mengerti agama membuat dunianya sendiri,karena tidak mampu terjun ke sektor modern.
  6. 6. 2.2.2 Mahalnya Biaya Pendidikan Pendidikan bermutu itu mahal, itulah kalimat yang sering terlontar di kalanganmasyarakat. Mereka menganggap begitu mahalnya biaya untuk mengenyampendidikan yang bermutu. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak(TK) sampai Perguruan Tinggi membuat masyarakat miskin memiliki pilihan lainkecuali tidak bersekolah. Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidaklepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen BerbasisSekolah), dimana di Indonesia dimaknai sebagai upaya untuk melakukanmobilisasi dana. Karena itu, komite sekolah yang merupakan organ MBS selaludisyaratkan adanya unsur pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atasmodal yang lebih luas. Hasilnya, setelah komite sekolah terbentuk, segalapungutan disodorkan kepada wali murid sesuai keputusan komite sekolah. Namundalam penggunaan dana, tidak transparan. Karena komite sekolah adalah orang-orang dekat kepada sekolah. Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan HukumPendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik kebentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amatbesar. Dengan perubahan status itu pemerintah secara mudah dapat melempartanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yangsosoknya tidak jelas. Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayananpublik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaranutang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiaptahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sectoryang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Danapendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005). Koordinator LSM Education network foa Justice (ENJ), Yanti Mukhtar(Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berartiPemerintah telah melegitimasi komersalialisasi pendidikan dengan menyerahkantanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinyasekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraanpendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untukmeningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurangmampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakatsemakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara kaya dan miskin. Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, tetapi persoalannyasiapa yang seharusnya membayarnya?. Kewajiban Pemerintahlah untuk menjaminsetiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawahuntuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataan Pemerintahjustru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapatdijadikan alasan bagi Pemerintah untuk ‘cuci tangan’.
  7. 7. Fandi achmad (Jawa Pos, 2/6/2007) menjelaskan sebagai berikut. Mencermati konteks pendidikan dalam praktik seperti itu, tujuan pendidikan menjadi bergeser. Awalnya, pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan tidak membeda-bedakan kelas sosial. Pendidikan adalah untuk semua. Namun, pendidikan kemudian menjadi perdagangan bebas (free trade). Tesis akhirnya, bila sekolah selalu mengadakan drama tahun ajaran masuk sekolah dengan bentuk pendidikan diskriminatif sedemikian itu, pendidikan justru tidak bisa mencerdaskan bangsa. Ia diperalat untuk mengeruk habis uang rakyat demi kepentingan pribadi maupun golongan per se.2.2.3 Kualitas SDM yang Rendah Akibat paradigma pendidikan nasional yang sekular-materialistik, kualitaskepribadian anak didik di Indonesia semakin memprihatinkan. Dari sisi keahlianpun sangat jauh jika dibandingkan dengan Negara lain. Jika dibandingkan denganIndia, sebuah Negara dengan segudang masalah (kemiskinan, kurang gizi,pendidikan yang rendah), ternyata kualitas SDM Indonesia sangat jauh tertinggal.India dapat menghasilkan kualitas SDM yang mencengangkan. Jika Indonesiamasih dibayang-bayangi pengusiran dan pemerkosaan tenaga kerja tak terdidikyang dikirim ke luar negeri, banyak orang India mendapat posisi bergengsi dipasar Internasional.Di samping kualitas SDM yang rendah juga disebabkan di beberapa daerah diIndonesia masih kekurangan guru, dan ini perlu segera diantisipasi. Tabel 1.berikut menjelaskan tentang kekurangan guru, untuk tingkat TK, SD, SMP danSMU maupun SMK untuk tahun 2004 dan 2005. Total kita masih membutuhkansekitar 218.000 guru tambahan, dan ini menjadi tugas utama dari lembagapendidikan keguruan. 2004 2005 KEBUTUHAN KEBUTUHAN PENSIUN KEBUTUHAN PENSIUNTK 893 187 1,080 260 1,340SD 63,144 20,399 83,543 23,918 107,461SMP 57,537 4,707 62,244 6,270 68,514SMU 26,120 1,498 27,618 1,685 29,303SMK 9,972 1,073 11,045 1,175 12,220TOTAL 157,666 27,864 185,530 33,308 218,838 Tabel 1. Kekurangan guru untuk Tahun 2004 dan 2005 (Sumber Data: Direktorat Tenaga Kependidikan, 2004)
  8. 8. Dalammenghadapi era globalisasi, kita tidak hanya membutuhkan sumber daya manusiadengan latar belakang pendidikan formal yang baik, tetapi juga diperlukan sumberdaya manusia yang mempunyai latar belakang pendidikan non formal (tabel 2). Tabel 2. Tantangan pendidikan non Formal (Sumber Data: Direktorat Tenaga Kependidikan, 2004)2.2.4 Penyesuaian Pendidikan Indonesia di Era GlobalisasiDari tulisan di atas, kita bisa menyimpulkan, pertama, bahwa dalam berbagaitakaran dan ukuran dunia pendidikan kita belum siap menghadapi globalisasi.Belum siap tidak berarti bangsa kita akan hanyut begitu saja dalam arus globaltersebut. Kita harus menyadari bahwa Indonesia masih dalam masa transisi danmemiliki potensi yang sangat besar untuk memainkan peran dalam globalisasikhususnya pada konteks regional. Inilah salah satu tantangan dunia pendidikankita yaitu menghasilkan SDM yang kompetitif dan tangguh. Kedua, duniapendidikan kita menghadapi banyak kendala dan tantangan. Namun dari uraian diatas, kita optimis bahwa masih ada peluang.Ketiga, alternatif yang ditawarkan di sini adalah penguatan fungsi keluarga dalampendidikan anak dengan penekanan pada pendidikan informal sebagai bagian daripendidikan formal anak di sekolah. Kesadaran yang tumbuh bahwa keluargamemainkan peranan yang sangat penting dalam pendidikan anak akan membuatkita lebih hati-hati untuk tidak mudah melemparkan kesalahandunia pendidikannasional kepada otoritas dan sektor-sektor lain dalam masyarakat, karenamendidik itu ternyata tidak mudah dan harus lintas sektoral. Semakin besarkuantitas individu dan keluarga yang menyadari urgensi peranan keluarga ini,kemudian mereka membentuk jaringan yang lebih luas untuk membangun sinergi,
  9. 9. maka semakin cepat tumbuhnya kesadaran kompetitif di tengah-tengah bangsakita sehingga mampu bersaing di atas gelombang globalisasi ini.Yang dibutuhkan Indonesia sekarang ini adalah visioning,repositioning strategy,dan leadership. Tanpa itu semua, kita tidak akan pernah beranjak daritransformasi yang terus berputar-putar. Dengan visi jelas, tahapan-tahapan yangjuga jelas, dan komitmen semua pihak serta kepemimpinan yang kuat untukmencapai itu, tahun 2020 bukan tidak mungkin Indonesia juga bisa bangkitkembali menjadi bangsa yang lebih bermartabat dan jaya sebagai pemenangdalam globalisasi. BAB III PENUTUP3.1 Kesimpulan Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan daripengaruh perkembangan globalisasi, di mana ilmu pengetahuan dan teknologiberkembang pesat. Era pasar bebas juga merupakan tantangan bagi duniapendidikan Indonesia, karena terbuka peluang lembaga pendidikan dan tenagapendidik dari mancanegara masuk ke Indonesia. Untuk menghadapi pasar globalmaka kebijakan pendidikan nasional harus dapat meningkatkan mutu pendidikan,baik akademik maupun non-akademik, dan memperbaiki manajemen pendidikanagar lebih produktif dan efisien serta memberikan akses seluas-luasnya bagimasyarakat untuk mendapatkan pendidikan. Paling tidak, ada tiga dampak globalisasi yang akan terjadi dalam duniapendidikan. Pertama, dunia pendidikan akan menjadi objek komoditas dankomersil seiring dengan kuatnya hembusan paham neoliberalisme yang melandadunia. Kedua, mulai longgarnya kekuatan kontrol pendidikan oleh negara. Ketiga,globalisasi akan mendorong delokasi dan perubahan teknologi dan orientasipendidikan. Diakui atau tidak, sistem pendidikan yang berjalan di Indonesia saat ini adalahsistem pendidikan yang sekular-materialstik. Hal ini dapat terlihat antara lain padaUU Sisdiknas No. 20 tahun 2003 Bab VI tentang jalur, jenjang, dan jenispendidikan bagian kesatu (umum) pasal 15 yang berbunyi : Jenis pendidikanmencakup pendidikan umum, kejuruan, akademik, profesi, advokasi, kagamaan,
  10. 10. dan khusus dari pasal ini tampak jelas adanya dikotomi pendidikan, yaitupendidikan agama dan pendidikan umum.Cara penyesuaian pendidikan Indonesia di era globalisasi sekarang iniadalah visioning, repositioning strategy, dan leadership. Tanpa itu semua, kitatidak akan pernah beranjak dari transformasi yang terus berputar-putar. Denganvisi jelas, tahapan-tahapan yang juga jelas, dan komitmen semua pihak sertakepemimpinan yang kuat untuk mencapai itu, tahun 2020 bukan tidak mungkinIndonesia juga bisa bangkit kembali menjadi bangsa yang lebih bermartabat danjaya sebagai pemenang dalam globalisasi.3.2 Kritik dan Saran Penulis menyarankan kepada pemerintah untuk lebih meningkatkan mutuSDM yang berkualitas dan bermoral agar dapat lebih siap untuk menerimadampak positif maupun dampak negatif dari adanya globalisasi. Peningkatan mutuSDM bisa ditingkatkan melalui program pendidikan gratis bagi masyarakat yangkurang mampu. Hendaknya pemerintah juga lebih memperhatikan tentang dampak globalisasi,karena dampak globalisasi tidak hanya merugikan warga negaranya, akan tetapihal itu juga dapat berimbas pada pemerintah sendiri. DAFTAR RUJUKANEdison, A. Jamli, dkk. 2005. Kewarganegaraan. Malang: FIP UNIVERSITAS NEGERIMALANG.Scholte, J. A. (2000). Globalization: A critical Introduction. London: Palgrave, hal. 15-17.http://edukasi.kompas.com/read/xml/2009/07/27/(Online) (18212767/otonomi pendidikan belum membawa perbaikan. diakses 12 Oktober 2009).Achmad, Fandi. 2 Juni 2007. Korban Otonomi Pendidikan. Jawa Pos.Majalah Al waie. No. 59 tahun V 1-31 Juli 2005. Dampak Globalisasi dalam Dunia Pendidikan di Indonesia.Kompas. 10 Mei 2005.Mukhtar, Yanti. 10 Mei 2005. Privatisasi Pendidikan. Republika.R. Robertson (1992). Globalization: Social Theory and Global Culture. London: Sage Publications, hal. 8.Kotter, P. (1955). The New Rules How to Succeed in Todays Post-Corporate World. New York: The Free Press, p. 42.Jalal, Fasli. Reformasi Pendidikan, Dalam Konteks Otonomi Daerah. Penerbit Depdiknas-Bappenas-Adicita Karya Nusa
  11. 11. Hana Kristina PurbaMaria Husnun Nisa1. PendahuluanGlobalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidakmengenal batas wilayah.Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses darigagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsalain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadipedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Menurut Edison A.Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005) Globalisasi ditandai oleh ambivalensi –yaitu tampak sebagai “berkah” di satu sisi tetapi sekaligus menjadi “kutukan”di sisi lain. Tampak sebagai “kegembiraan” pada satu pihak tetapi sekaligusmenjadi “kepedihan” di pihak lainnya. Globalisasi pendidikan di Indonesia jugaditandai oleh ambivalensi yaitu berada pada kebingungan, karena inginmengejar ketertinggalan untuk menyamai kualitas pendidikan Internasional,kenyataannya Indonesia belum siap untuk mencapai kualitas tersebut. Padahalkalau tidak ikut arus globalisasi ini Indonesia akan semakin tertinggal.Munculnya istilah globalisasi/liberalisasi pendidikan tinggi bermula dari WTOyang menganggap pendidikan tinggi sebagai jasa yang bisa diperdagangkanatau diperjualbelikan. Tiga negara yang paling mendapatkan keuntungan besardari liberalisasi jasa pendidikan adalah Amerika Serikat (AS), Inggris, danAustralia (Enders dan Fulton, Eds., 2002, hh 104-105).Menurut pembukaan UUD 1945 alinea ke-4, pendidikan nasional bertujuanmencerdaskan kehidupan bangsa. Sementara pada pasal 28 B ayat (1)mengamanatkan bahwa “Setiap orang berhak mengembangkan pemenuhankebutuhan dasarnya, berhak mendapatkan pendidikan dan mendapatkanmanfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demimeningkatkan kualitas hidupnya, demi kesejahteraan umat manusia” dan pasal31 ayat (1) mengamanatkan bahwa “Setiap warga negara berhak mendapatpendidikan”Konstitusi itu menunjukkan kalau rakyat mempunyai kedudukan yang samauntuk dan di dalam memperoleh pendidikan yang tepat yang bisamembebaskannya dari kebodohan atau bisa mengantarkannya menjadimanusia-manusia berguna. Kata “setiap” dalam konstitusi tersebut artinyasetiap orang, tanpa membedakan gender, strata sosial, etnis, golongan, agamadan status apapun berhak untuk memperoleh perlindungan di bidangpendidikan. Hak pendidikan menjadi hak setiap warga negara, karena jika hakini berhasil diimplementasikan dengan baik, maka bangsa ini pun akanmemperoleh kemajuannya. Karena pendidikan merupakan pondasi kehidupanbernegara. Pendidikan memiliki peran kunci dan strategis dalam memajukansebuah bangsa. Dari pendidikan sebuah bangsa bisa dibuat maju atau mundurke belakang.
  12. 12. Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 dinyatakan bahwa pendidikan formal diIndonesia bermula dari TK selama dua tahun dilanjutkan Sekolah Dasar hinggakelas enam. Lulusan sekolah dasar melanjut ke sekolah menengah pertamaselama tiga tahun dan sekolah menengah atas tiga tahun berikutnya. LulusanSMU dapat memilih untuk memperoleh gelar diploma atau sarjana atau bentukpendidikan tinggi lain.Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia bisa dilihat dari tiga hal :• Masalah peningkatan mutu manusia dan masyarakat Indonesia• Kedua, menyangkut masalah globalisasi• Perkembangan dan kemajuan teknologi.Pendidikan merupakan aspek penting dalam era globalisasi. Tiga persoalan inisangat berpengaruh dalam perkembangan dunia pendidikan. Sebabpeningkatan SDM, yang menjadi tugas dan tanggung jawab utama pendidikan,sangat dipengaruhi faktor globalisasi dan teknologi. Pengaruh globalisasi,kemajuan teknologi dan informasi serta perubahan nilai-nilai sosial harusdiperhitungkan dalam penyelenggaran pendidikan, apalagi tanggung jawabdunia pendidikan untuk mencapai tujuan pokok melahirkan manusia yangberkualitasPendidikan mulai diperhitungkan lebih serius sebagai tonggak utama dalampertumbuhan dan pembangunan dalam konsepsi knowledge economy,terutama karena terjadinya pergeseran besar dari orientasi kerja otot (muscleswork) ke kerja mental (mental works). Dalam konsepsi ini, peranan danpenguasaan informasi sedemikian vitalnya, sehingga kebutuhan dalam prosespengumpulan, penyaringan, dan analisa informasi menjadi sedemikianpenting.Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang disertai dengan semakinkencangnya arus globalisasi dunia membawa dampak tersendiri bagi duniapendidikan. Teknologi berkembang sangat pesat, pemerintah juga jadikerepotan dan akhirnya mengubah kurikulum pendidikan di Indonesiadisesuaikan dengan tuntutan era globalisasi. Padahal kurikulum di Indonesiaitu sudah berulang kali dimodifikasi, bahkan diubah-ubah. Bahkan sering adaanggapan bahwa setiap kali ganti menteri tentu ganti kurikulum. Yang lebihmembingungkan lagi, setiap terjadi perubahan pendekatan atau teori selaludisertai dengan berbagai jargon dan istilah-istilah baru. Dulu CBSA (CaraBelajar Siswa Aktif), kemudian link and match, kemudian KBK (KurikulumBerbasis Kompetensi) dan terakhir adalah KTSP (Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan). Berikutnya entah berbasis apa lagi. Ujungnya selalu saja gantibuku, ganti cara membuat persiapan mengajar, ganti cara ulangan, ganti caratampil di kelas dan sebagainya. Bahkan, sering terjadi, kurikulum telahdimodifikasi lagi ketika kurikulum lama belum sampai di sekolah.Menurut Alex Maryunis Kurikulum itu terdiri dari: alat dasar; dokumen tertulis;pelaksanaan dan hasil belajar. Yang sering digonta ganti dan dimodifikasi ataudiubah-ubah itu adalah pada dokumen tertulisnya. Gonta ganti kurikulummemperlihatkan bagaimana pendidikan dibereskan dengan metode tambalsulam.2. Dampak Globalisasi dalam dunia PendidikanBanyak sekolah di indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini mulaimelakukan globalisasi dalam sistem pendidikan internal sekolah. Hal initerlihat pada sekolah – sekolah yang dikenal dengan billingual school, dengan
  13. 13. diterapkannya bahasa asing seperti bahasa Inggris dan bahasa Mandarinsebagai mata ajar wajib sekolah. Selain itu berbagai jenjang pendidikan mulaidari sekolah dasar hingga perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yangmembuka program kelas internasional. Globalisasi pendidikan dilakukan untukmenjawab kebutuhan pasar akan tenaga kerja berkualitas yang semakin ketat.Dengan globalisasi pendidikan diharapkan tenaga kerja Indonesia dapatbersaing di pasar dunia. Apalagi dengan akan diterapkannya perdaganganbebas, misalnya dalam lingkup negara-negara ASEAN, mau tidak mau duniapendidikan di Indonesia harus menghasilkan lulusan yang siap kerja agar tidakmenjadi “budak” di negeri sendiri. Pendidikan model ini juga membuat siswamemperoleh keterampilan teknis yang komplit dan detil, mulai dari bahasaasing, computer, internet sampai tata pergaulan dengan orang asing dan lain-lain. sisi positif lain dari liberalisasi pendidikan yaitu adanya kompetisi.Sekolah-sekolah saling berkompetisi meningkatkan kualitas pendidikannyauntuk mencari peserta didik.Globalisasi seperti gelombang yang akan menerjang, tidak ada kompromi,kalau kita tidak siap maka kita akan diterjang, kalau kita tidak mampu maka kitaakan menjadi orang tak berguna dan kita hanya akan jadi penonton saja.Akibatnya banyak Desakan dari orang tua yang menuntut sekolahmenyelenggarakan pendidikan bertaraf internasional dan desakan dari siswauntuk bisa ikut ujian sertifikasi internasional. Sehingga sekolah yang masihkonvensional banyak ditinggalkan siswa dan pada akhirnya banyak pula yanggulung tikar alias tutup karena tidak mendapatkan siswa.Implikasinya, muncullah :• Home schooling, yang melayani siswa memenuhi harapan siswa dan orangtua karena tuntutan global• Virtual School dan Virtual UniversityMunculnya alternatif lain dalam memilih pendidikan• Model Cross Border Supply, yaitu pembelajaran jarak jauh (distancelearning), pendidikan maya (virtual education) yang diadakan oleh PerguruanTinggi Asing ; contohnya United Kingdom Open University dan MichiganVirtual University.• Model Consumption Aboard, lembaga pendidikan suatu negara menjual jasapendidikan dengan menghadirkan konsumen dari negara lain; contoh : yaituhadirnya banyak para pemuda Indonesia menuntut ilmu membeli jasapendidikan ke lembaga-lembaga pendidikan ternama yang ada di luar negeri.• Model Movement of Natural Persons. Dalam hal ini lembaga pendidikan disuatu negara menjual jasa pendidikan ke konsumen di negara lain dengan caramengirimkan personelnya ke negara konsumen. Contohnya denganmendatangkan dosen tamu dari luar negeri bekerja sama dengan perguruantinggi yang ada di Indonesia (tidak gratis tentunya).• Model Commercial Presence, yaitu penjualan jasa pendidikan oleh lembaga disuatu negara bagi konsumen yang berada di negara lain dengan mewajibkankehadiran secara fisik lembaga penjual jasa dari negara tersebut.Persaingan untuk menciptakan negara yang kuat terutama di bidang ekonomi,sehingga dapat masuk dalam jajaran raksasa ekonomi dunia tentu saja sangatmembutuhkan kombinasi antara kemampuan otak yang mumpuni disertaidengan keterampilan daya cipta yang tinggi. Salah satu kuncinya adalahglobalisasi pendidikan yang dipadukan dengan kekayaan budaya bangsaIndonesia. Selain itu hendaknya peningkatan kualitas pendidikan hendaknyaselaras dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Tidak dapat kitapungkiri bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang berada di bawahgaris kemiskinan. Dalam hal ini, untuk dapat menikmati pendidikan dengan
  14. 14. kualitas yang baik tadi tentu saja memerlukan biaya yang cukup besar. Tentusaja hal ini menjadi salah satu penyebab globalisasi pendidikan belumdirasakan oleh semua kalangan masyarakat. Sebagai contoh untuk dapatmenikmati program kelas Internasional di perguruan tinggi terkemuka di tanahair diperlukan dana lebih dari 50 juta. Alhasil hal tersebut hanya dapatdinikmati golongan kelas atas yang mapan. Dengan kata lain yang majusemakin maju, dan golongan yang terpinggirkan akan semakin terpinggirkandan tenggelam dalam arus globalisasi yang semakin kencang yang dapatmenyeret mereka dalam jurang kemiskinan. Masyarakat kelas atasmenyekolahkan anaknya di sekolah – sekolah mewah di saat masyarakatgolongan ekonomi lemah harus bersusah payah bahkan untuk sekedarmenyekolahkan anak mereka di sekolah biasa. Ketimpangan ini dapat memicukecemburuan yang berpotensi menjadi konflik sosial. Peningkatan kualitaspendidikan yang sudah tercapai akan sia-sia jika gejolak sosial dalammasyarakat akibat ketimpangan karena kemiskinan dan ketidakadilan tidakdiredam.Selain itu ketidaksiapan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan bertarafinternasional dan ketidaksiapan guru yang berkompeten dalammenyelenggarakan pendidikan tersebut merupakan perpaduan yang klopuntuk menghasilkan lulusan yang tidak siap pula berkompetisi di eraglobalisasi ini alias lulusan yang kurang berkualitas. Seperti yang dilansirKOMPAS.com tanggal 28 Oktober 2009 menyebutkan bahwa tiga hasil studiinternasional menyatakan, kemampuan siswa Indonesia untuk semua bidangyang diukur secara signifikan ternyata berada di bawah rata-rata skorinternasional yang sebesar 500. Jika dibandingkan dengan siswa internasional,siswa Indonesia hanya mampu menjawab soal dalam kategori rendah dansedikit sekali, bahkan hampir tidak ada yang dapat menjawab soal yangmenuntut pemikiran tingkat tinggi. hasil tiga studi tersebut mengemuka dalamseminar Mutu Pendidikan dan Menengah Hasil Penelitian Puspendik 2009 diGedung Depdiknas, Jakarta, Rabu (28/10). Masih dalam Kompas.com tanggal28 Oktober 2009 menyebutkan salah satu penelitian yang mengungkaplemahnya kemampuan siswa, dalam hal ini siswa kelas IV SD/MI, adalahpenelitian Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), yaitu studiinternasional dalam bidang membaca pada anak-anak di seluruh dunia ygdisponsori oleh The International Association for the Evaluation Achievement.Hasil studi menunjukkan bahwa rata-rata anak Indonesia berada pada urutankeempat dari bawah dari 45 negara di dunia. Demikian hasil studi tersebutdipaparkan dalam laporan penelitian “Studi Penilaian Kemampuan GuruMelalui Video dengan Memanfaatkan Data PIRLS” oleh Prof Dr Suhardjono dariPusat Penelitian Pendidikan Depdiknas di Jakarta, Rabu (28/10). Dalam laporantersebut, Suhardjono menuturkan, muara dari lemahnya pembelajaranmembaca patut diduga karena kemampuan guru dan kondisi sekolah.Dalam lansiran lain di Kompas.com tanggal 19 Juni 2009 Ir Hafilia R. IsmantoMM., Direktur Bidang Akademik LBPP LIA, menyebutkan bahwa sampai saat inimasih banyak guru belum berhasil untuk dijadikan role model sebagaipengguna Bahasa Inggris yang baik, penyebab hal tersebut karena selama inipihak sekolah dan guru belum melakukan pendekatan integrasi antara contentatau mata pelajaran dan Bahasa Inggris. Tidak semua guru mata pelajaran bisadiberdayakan untuk memberikan materi berbahasa Inggris, kecuali para guruitu memang benar-benar siap.Pendidikan di Indonesia sekarang membuat rakyat biasa sangat menderita.Pendidikan menjadi sesuatu yang tak terjangkau rakyat kecil. Tidak ada
  15. 15. penggolongan orang miskin dan orang kaya. Lembaga pendidikan telahdijadikan ladang bisnis dan dikomersialkan.Kebijakan yang mahal ini memang sangat merisaukan karena akan menguburimpian mobilitas kelas sosial bawah untuk memperbaiki status kelasnya.Melalui sistem ini, maka yang bisa diserap dalam lingkungan pendidikanadalah mereka yang memiliki modal yang cukup. Sekolah kian menjadilembaga elite dan bahkan menjadi kekuatan yang menghadang arus mobilitasvertikal kelas sosial bawah. Dalam beberapa aktivitasnya bahkan sekolah ikutterlibat melegitimasi tatanan yang timpang. Jika diusut penyebab ini semua,tentu jawabannya adalah kebijakan ekonomi neoliberal. Neoliberalismeberangkat dari keyakinan akan kedigdayaan pasar serta pelumpuhankekuasaan negara. Sekolah tidak perlu menjadi tanggungan negara, cukupdiberikan pada mekanisme pasar. Biarlah pasar yang akan menyeleksi manasekolah yang patut dipertahankan dan mana yang harus gulung tikar. Di situpendidikan berangsur-angsur menjadi tempat eksklusif yang memberipelayanan hanya pada mereka yang kuat membayar.Implikasinya, jutaan rakyat Indonesia belum memperoleh pendidikan yanglayak. Bahkan tidak sedikit pula yang masih berkategori masyarakat butahuruf. Mereka belum bisa menikmati dunia pendidikan seperti anggotamasyarakat yang mampu “membeli” dan menikmati pendidikan. Masyarakatdemikian mencerminkan suatu kesenjangan yang serius karena di satu sisi adasebagian yang bisa membeli politik komoditi pendidikan secara mahal.Sementara tidak sedikit anggota masyarakat yang tidak cukup punyakemampuan ekonomi untuk bisa membebaskan diri dari buta huruf akibatdunia pendidikan yang tidak berpihak secara manusiawi kepada dirinya. Biayapendidikan yang melangit ini terjadi di dunia pendidikan dasar, menengahhingga pendidikan tinggi.Tidak hanya itu implikasi dari makin mahalnya biaya pendidikan. Kualitasmahasiswa yang masuk perguruan tinggi pun nantinya patut dipertanyakankarena bukan tidak mungkin uang yang akan berbicara. Siapa yang lebihbanyak dia yang akan menang. Bisa jadi mereka yang memiliki kemampuanintelektual pas-pasan bisa mengenyam pendidikan di jurusan dan universitasfavorit karena dia bisa membayar biaya yang cukup tinggi. Sementara itu,mereka yang memiliki kemampuan lebih tidak bisa menyandang gelarmahasiswa lantaran tidak memiliki kemampuan finansial.Realitas menunjukkan, krisis yang menimpa dunia pendidikan di Indonesia,khususnya kualitas pendidikan yang rendah, merupakan persoalan yangsangat kompleks. Prasarana, sarana, dan fasilitas kurang memadai, anggaranpendidikan nasional yang sangat minim, dan banyaknya guru yang mengajartidak sesuai dengan keahlian atau memang belum layak disebut gurumerupakan faktor yang ikut menyulitkan pengembangan kualitas pendidikan.Selain itu telah muncul banyak pernyataan dan keluhan tentang rendahnyakualitas sumber daya manusia Indonesia, yang tentu saja terkait dengan mutululusan yang dihasilkan oleh sistem pendidikan. Padahal, anggaran negarayang dialokasikan untuk pendidikan itu selalu bertambah dari tahun ke tahun.Sungguh ironis memang, anggaran selalu naik tetapi kualitas lulusan tetaprendah dan justru dirasakan semakin mahal. Mengapa hal seperti ini terjadi,padahal kurikulum dan buku, entah sudah berapa kali diubah. Entah sudahberapa macam metode mengajar yang ditatarkan kepada guru. Akankah
  16. 16. keadaan ini dibiarkan terus berlanjut? Jika tak menghasilkan lulusan yangberkualitas dan dapat diandalkan, dapatkah pendidikan itu disebut sebuahinvestasi untuk masa depan?Namun seringkali masyarakat hanya dibuai oleh janji-janji anggaran ataukebijakan bertemakan “alokasi”. Faktanya mimpi masyarakat ini sulit terkabuldengan alas an-alasan yang politis. Pejabat belum sungguh-sungguhmenempatkan dunia pendidikan ini sebagai penyangga kemajuan bangsa.Kenyataannya memang demikian. Subsidi pemerintah pemerintah perlahanmenyurut hingga tak lagi dapat mencukupi kebutuhan universitas. Namun dibalik itu semua ada hal yang terlewatkan oleh para pimpinan universitassebagai makin mahalnya biaya pendidikan. Yakni, kaum miskin hanya bisagigit jari karena tidak dapat meneruskan ke jenjang pendidikan tinggi.Selain itu banyak penyelewengan-penyelewengan anggaran pendidikan yangdilakukan oleh dilakukan aparat dinas pendidikan di daerah dan sekolah.Peluang penyelewengan dana pendidikan itu terutama dalam alokasi danarehabilitasi dan pengadaan sarana prasarana sekolah serta dana operasionalsekolah. Temuan tersebut dipaparkan oleh Febri Hendri, Peneliti SeniorIndonesia Corruption Watch (ICW) saat menyoal Evaluasi Kinerja DepartemenPendidikan Nasional Periode 2004 – 2009 di Jakarta, Rabu (9/9). Menurut Febri,selama kurun waktu 2004-2009, sedikitnya terungkap 142 kasus korupsi disektor pendidikan. Kerugian negara mencapai Rp 243,3 miliar. (Kompas.comtanggal 9 September 2009).Padahal tujuan utama dari pengucuran dana pendidikan tersebut seperti danaBOS adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan, menaikkan kualitas tenagapendidik supaya siswa Indonesia memiliki daya saing di tingkat internasional.Namun apa yang terjadi selain penyelewengan seperti yang disebutkan di atas,terjadi penggunaan dana BOS yang belum tepat seperti yang dimuatKompas.com tanggal 28 Oktober 2009 yang merupakan hasil penelitian bidangpendidikan berkerja sama dengan Pusat Penelitian Depdiknas yang dibahasdalam seminar bertajuk Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah yangdipaparkan oleh Bahar Sinring, Dekan Fakultas Muslim Indonesia Makassarmenyebutkan bahwa Dari penggunaan dana BOS di tiap provinsi terlihat bahwapemanfaatan untuk gaji guru atau tenaga administrasi honorer mengambilporsi yang cukup besar sekitar 20-40 persen. Akibatnya, dana BOS yang dapatdinikmati siswa, termasuk untuk membantu siswa miskin, berkurang.Berdasarkan audit Badan Pemeriksa Keuangan diketahui bahwa enam darisepuluh sekolah menyimpangkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).Rata-rata penyimpangan itu senilai Rp 13,7 juta.Menurut Ade (dalam Kompas.com 9 September 2009 kebocoran anggaranataupun dalam bentuk paling parah seperti korupsi pendidikan, inimenyebabkan berkurangnya anggaran dan dana pendidikan, merusak mentalbirokrasi pendidikan, meningkatkan beban biaya yang harus ditanggungmasyarakat, dan turunnya kualitas layanan pendidikan. Bahkan, dalambeberapa kasus, korupsi pendidikan telah membahayakan nyawa peserta didikdalam bentuk ambruknya gedung sekolah.3. Kaitan Globalisasi Pendidikan dengan dunia PerpustakaanKeberadaan Perpustakaan tidak bisa dipisahkan dengan dunia pendidikan,Karena perpustakaan merupakan lembaga yang mampu menunjang prosespendidikan dalam mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas.
  17. 17. Pada gilirannya dalam rangka membangun kehidupan masa depan yang majudan sejahtera.Oleh karena itulah sesuai dengan perkembangan zaman terutama di eraglobalisasi ini perpustakaan harus terus berbenah diri dan meningkatkankualitas layanan. Bahkan di perguruan tinggi perpustakaan sudah menjaditolok ukur kualitas lulusan yang dihasilkan seperti yang dipaparkan olehHermawan dan Zen (2006) “Pentingnya perpustakaan perguruan tinggi telahmenjadi salah satu indikator mutu pendidikan di perguruan tinggi. Makin baikperpustakaannya maka makin baik pula mutu luaran perguruan tinggitersebut”.Dampak positif globalisasi pendidikan terhadap perpustakaan dapat dilihat darimeningkatnya kualitas layanan yang ada di perpustakaan, misalnya dengandiadakannya layanan-layanan yang sifatnya mengglobal seperti internet,fasilitas wi-fi. Selain itu koleksi-koleksi perpustakaan juga mulai bervariasi dandisesuaikan dengan internasionalisasi lembaga pendidikan yangmenaunginya, seperti jumlah dan kualitas koleksi buku berbahasa Inggrissemakin diperbanyak dan dilanggannya jurnal-jurnal yang standarinternasional. Penyelenggaraan yang standar internasional ini tentunyamembutuhkan biaya yang tidak murah, karena sudah diketahui oleh umumbahwa harga buku –buku berbahasa Inggris harganya lebih mahal dibandingbuku berbahasa Indonesia, dan untuk melanggan satu jurnal internasional jugaharganya bisa mencapai puluhan juta rupiah.Karena biaya yang tinggi tersebutlah, yang mampu menyelenggarakanperpustakaan dengan layanan dan kualitas yang baik tentunya perpustkaaanyang berada di lembaga pendidikan yang punya modal dan pimpinan yangperhatian terhadap perkembangan dan pentingnya perpustakaan. Karenabanyak lembaga pendidikan yang punya modal besar perpustakaannya kurangmaju Karena pimpinannya yang tidak terlalu perhatian terhadap perpustakaan.Hal yang lebih parah lagi tentunya dialami oleh perpustakaan yang berada dilembaga-lembaga pendidikan yang modalnya kecil. Jangankan untukmeningkatkan layanan dan koleksi yang bersifat internasional, untuk merawatkoleksi yang ada pun kadang masih terseok-seok. Sehingga dengan adanyaglobalisasi ini perpustakaan tersebut semakin tertinggal.Namun untuk perpustakaan yang sudah bisa mengadakan dan menyesuaikanlayanan dan koleksinya dengan standar internasional pun bukan berarti tanpamasalah. Banyak terjadi perpustakaan sudah banyak mengeluarkan biayauntuk menambah jumlah koleksi dan melanggan jurnal internasional denganharga mahal, namun tingkat pemakaian dari penggunanya masih sangatrendah dibanding penggunaan koleksi atau jurnal-jurnal yang berbahasaIndonesia. Ini artinya pengguna perpustakaan masih banyak yang belum siapdengan standar internasional.Untuk menjawab perkembangan di dunia pendidikan ini maka mulai darisekarang perpustakaan dan pustakawan harus mau dan mampu mengikutiperkembangan tersebut. Pustakawan diharapkan mampu mengubah danmengembangkan dirinya seiring dengan tuntutan perubahan. Pengembanganyang dimaksud adalah:*. memahami peranannya atas dasar pola kemitraan bukan melayani*. memberikan makna/kontribusi bagi lembaganya (dalam hal ini sekolah atauperguruan tinggi) tidak sekedar fokus pada disiplin ilmu perpustakaan
  18. 18. *. integrasi*. mampu mentransfer kemampuannya melalui pelatihan dan pembinaan,sehingga penggunanya dapat memanfaatkan layanan-layanan yang ada diperpustakaan secara optimal.*. Inovasi4. SolusiPemerintah sebagai pengemban amanat rakyat, dapat bergerak cepatmenemukan dan memperbaiki celah – celah yang dapat menyulut kesenjangandalam dunia pendidikan. Salah satunya dengan cara menjadikan pendidikan diIndonesia semakin murah atau bahkan gratis tapi bukan pendidikan yangmurahan tanpa kualitas. Hal ini memang sudah dimulai di beberapa daerah diIndonesia yang menyediakan sekolah unggulan berkualitas yang bebas biaya.Namun hal tersebut baru berupa kebijakan regional di daerah tertentu.Alangkah baiknya jika pemerintah pusat menerapkan kebijakan tersebut dalamskala nasional . Untuk dapat mewujudkan hal tersebut pemerintah perlumelakukan pembenahan terutama dalam bidang birokrasi. Korupsi mestisegera diberantas, karena korupsi merupakan salah satu yang menghancurkanbangsa ini.Ide Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Moh. Nuh yang mengingatkan,bahwa dalam dunia pendidikan tak boleh ada sikap diskriminatif yangdisebabkan adanya perbedaan kaya dengan miskin akibat faktor wilayah kotadan desa sehingga seseorang kehilangan hak untuk mendapatkan pendidikan.(Kompas.com tanggal 3 November 2009) Perlu diimplentasikan dandilaksanakan dengan segera, agar hak setiap warga negara untuk memperolehpendidikan yang layak dapat segera terwujud, dan dapat mendorong lembagapendidikan untuk mempertimbangkan kurikulum maupun metodologi yangtidak banyak mengeluarkan biaya.Selain itu membuat standar baru tentang kualitas pendidikan yang tidak sajamenyentuh kemampuan dan kreativitas siswa melainkan juga ongkos sekolah.Kriteria yang mempersyaratkan kemampuan menampung siswa tidak mampusekaligus kemampuan untuk mensejahterakan guru. Sekolah tidak lagi diukurdari kemampuannya mencetak siswa yang pintar melainkan bagaimanamengajarkan siswa untuk saling bertanggung jawab dan mempunyaisolidaritas tinggi. Standar internasional tentang kemampuan intelektual tidakakan bisa diraih dengan kondisi struktural yang masih mengalami persoalanketimpangan dan kesenjangan sosial.Selain itu solusi-solusi lain yang dapat dilaksanakan adalah• Meningkatkan mutu SDM terutama Guru dalam penguasaan Bahasa Inggrisdan Bahasa Asing lainnya• Peningkatan Mutu Guru dalam penguasaan Teknologi Informasi danKomunikasi• Peningkatan Mutu Manajemen sekolah dan Manajemen pelayanan pendidikan• Peningkatan Mutu sarana dan Prasarana• Penanaman nilai-nilai keteladanan• Pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan• Penelitian dan pengembangan pendidikan5. Kesimpulan• Globalisasi pendidikan di Indonesia ditandai dengan ambivalensi yangapabila kita mengikuti arus globalisasi tersebut dapat meningkatkan kualitas
  19. 19. pendidikan di Indonesia setingkat dengan kualitas pendidikan Internasional,tetapi pada kenyataannya Indonesia belum siap untuk mengikuti arus tersebutsehingga kualitas pendidikan di Indonesia masih tertinggal.• Adanya kompetisi/persaingan didalam dunia pendidikan karena kemajuanteknologi dan informasi. Bahkan sering terjadi kompetisi yang liar yangdisebabkan oleh1. Adanya aturan tidak beres pada birokrasi pendidikan2. Intervensi kepentingan modal raksasa3. Sekolah kurang mendapat perhatian yang layak dari pemerintah• Bagi instansi pendidikan yang mampu bersaing akan memperoleh hasil yangbaik dan diakui oleh dunia luar. Bagi instansi yang belum siap bersaing akanmengalami tekanan dan banyak yang berjalan ditempat saja• Globalisasi pendidikan juga membawa dampak adanya kesenjangan sosialdidalam dunia pendidikan, karena hanya orang-orang yang mempunyai modallebih besar saja yang dapat menikmati kualitas pendidikan dengan standarinternasional.• Merosotnya kualitas pendidikan tak bisa dipisahkan dari kebijakan negarapada sector pendidikan.Menyamakan lembaga pendidikan dengan lembagakeuangan jelas merupakan keputusan yang keliru. Liberalisasi pendidikanpada hakekatnya telah memasung akses siswa yang tidak mampu untukmenikmati sekolah. Padahal sejak bangsa ini ditimpa krisis jumlah masyarakatyang berada di garis kemiskinan makin membumbung.• Perlu adanya perombakan pada kebijakan yang menyangkut masalahpendidikan dengan menelurkan kebijakan-kebijakan yang berpihak pada kaummiskin. Komersialisasi pendidikan mutlak harus dihentikan karena hanyamemunculkan sekelompok orang yang menggunakan pendidikan sebagai alatuntuk mendapatkan keuntungan.DAFTAR PUSTAKAHERMAWAN S., Rachman & Zulfikar Zen. Etika kepustakawanan: suatupendekatan terhadap kode etik pustakawan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto,2006JANUAR S. Indra. Globalisasi Pendidikan.http://zag.7p.com/globalisasi_pendidikan.htm akses tanggal 28 Oktober 2009http://edukasi.kompas.com akses tanggal 3 November 2009OCTAVIANUS, Petrus. Menuju Indonesia Jaya (2005-2030) dan IndonesiaAdidaya (2030-2055) jilid I. Batu: Pdt. Dr. P. Octavianus , DD, Ph.D, 2005____________________ Menuju Indonesia Jaya (2005-2030) dan IndonesiaAdidaya (2030-2055) jilid II. Batu: Pdt. Dr. P. Octavianus , DD, Ph.D, 2005___________________. Menuju Indonesia Jaya (2005-2030) dan IndonesiaAdidaya (2030-2055) jilid III. Batu: Pdt. Dr. P. Octavianus , DD, Ph.D, 2007PRASETYO, Eko. Orang miskin dilarang sekolah. Yogyakarta: Resist Book,2005SUTARNO NS. Tanggung jawab perpustakaan: dalam mengembangkanmasyarakat informasi. Jakarta: Panta Rei, 2005TANJE, Sixtus. Globalisasi Pendidikan dan Ketidaksiapan Sekolah. http://re-searchengines.com/sixtus0409.html akses tanggal 28 Oktober 2009

×