Successfully reported this slideshow.
KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENERAPAN  MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH PADA SMA NEGRI I                    GUNUNG SINDUR ...
KATA PENGANTARBISMILLAHIR RAHMANI RAHIM       Segala puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT Tuhan Rob segalaalam s...
7. Bapak Drs. H. Hidayat, Kepala Sekolah SMAN I Gunung Sindur Bogor      beserta seluruh elemen civitas akademika SMAN I G...
GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENERAPANMANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH PADA SMA NEGRI I GUNUNG SINDUR                 ...
KATA PENGANTARBISMILLAHIR RAHMANI RAHIM       Segala puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT. Tuhan semesta alam,se...
4. Yefnelty Z, M.Pd., yang telah memberikan arahan dan bimbingan,meluangkan   waktu, mengarahkan dan petunjuk-petunjuk yan...
10. Teman-temanku di KI MP yaitu :Ruli Muharam S.Pd.I, Zahrudin S.Pd.I, Zukri,      Deden, Syarul,Wiwik zulpianti,dan tema...
DAFTAR ISIKata Pengantar ....................................................................................................
BAB III   : METODOLOGI PENELITIAN........................................................40            A. Desain dan jenis...
BAB V         PENUTUP ........................................................................................      96    ...
vii
JUDUL ................................................................................................................ ......
A. Metode Penelitian ..................................................................... 17       B. Langkah-langkah Pen...
KATA PENGANTARBISMILLAHIR RAHMANI RAHIM       Segala puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT.Tuhan Robsegala alam s...
4. Drs. H. Mu’arif, M.Pd., Sekertaris Jurusan Kependidikan Islam Fakultas   Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan UIN Sarif Hidayatul...
maupaun materil serta doa yang selalu teriring setiap saat untuk ananda       dalam menghadapi segala hal. Skripsi ini mer...
1                                        BAB I                                  PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah      ...
2yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut, maka lembaga akan menghasilkanoutput yang dikehendaki. Pendekatan ini m...
3yang lebih luas kepada sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan secara efisiendan berkualitas.         Hal ini sangat me...
4kelompoknya, 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadapkelomponya, dan 4) sebagai tempat untu...
5dipergunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilakuorang lain. Gaya kepemimpinan adalah suatu p...
6   1. Bagaimana kepemimpinan kepala sekolah dalam penerapan manajemen      berbasis sekolah?   2. Bagaimana sikap guru da...
BAB II  KERANGKA TEORI TENTANG KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN                               BERBASIS SEKOLAHA. KEPEMIMPINAN   ...
9tujuan. Seperti halnya manajemen, kepemimpinan atau leadership telahdidefinisikan oleh banyak para ahli antaranya adalah ...
102. Pendekatan Kepemimpinan          Menurut Handoko, ada beberapa pendekatan kepemimpinan yangdiklasifikasikan        se...
11       Sifat-sifat     Perilaku       Situasional       Contingency3. Gaya Kepemimpinan          Gaya kepemimpinan yang ...
12       pelaksanaan pekerjaan daripada pengembangan dan pertumbuhan karyawan.       Sedangkan manajer berorientasi karyaw...
13senang menerima atasan yang mengayomi bawahan sehingga perasaan senangakan tugas timbul, yang pada akhirnya meningkatkan...
14dan bagaimana tugas dilaksanakan berada diluar perhatian pemimpin, karenayang penting adalah hasilnya bukan prosesnya. N...
15           bawahan ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang terkait           dengan bawahan.               ...
16otokratis (authocratic task managers), dan (4) Manajemen perantara(organizational man management).c. Teori Kepemimpinan ...
17     tanggungjawab lebih besar, sehingga pemimpin tidak perlu lagi bersifat     otoriter. Dan pada tahap empat (akhir), ...
18merugikan rekan sekerjanya yang paling tidak disukai (LPC, Least PreferredCo-worker), karyuawan yang hampir tidak dapat ...
19     f. Gaya Kepemimpinan menurut Likert              Menurut Likert, bahwa pemimpin itu dapat berhasil jika bergaya    ...
20   4) Sistem 4, dalam sistem ini dinamakan pemimpin yang bergaya       kelompok berparsipatif (participative group). Kar...
21terdiri dari empat indikator yaitu: (1) ketekunan bekerja, (2) aktif, (3)pengalamang. Kepemimpinan Transformasional Dala...
22             Kepemimpinan transformational mampu mentransformasi dan memotivasi         para pengikutnya dengan cara :14...
23daya yang berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran ataupembelajaran. Gagasan Manajemen Berbasis Sekol...
24pendidikan (kurikulum) dan implikasinya terhadap berbagai kebijakan Sekolahsesuai dengan visi, misi, dan tujuan pendidik...
25       Secara umum manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikansebagai model manajemen yang memberikan otonomi    ...
26    2. Alasan dan Tujuan               MBS di Indonesia yang menggunakan model Manajemen Peningkatan    Mutu Berbasis Se...
27Association of Elementary School Principal, The National of Secondary SchoolPrincipal pada tahun 1998 adalah:18 Pertama,...
28otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya denganmengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebut...
29       Sekolah dan Guru, partisipasi masyarakat, pendapatan daerah dan orang tua,       juga anggaran Sekolah sebagaiman...
30kebijakan desentralisasi di berbagai aspek seperti politik, edukatif, administrasi,manajemen dan anggaran pendidikan.   ...
31Kewenangan Pemerintah Pusat dan Kewenangan Propinsi sebagai DaerahOtonom).       Menurut Buku pedoman MBS yang diterbitk...
32diberikan kepada Sekolah uji coba dapat dilaksanakan di Sekolah lain.Sementara    sustainabilitas   artinya   program   ...
33   4. Komponen MBS                 Pusat Penelitian dan Pengembangan               Pendidikan Agama dan      Keagamaan D...
34  pelaksanaan pelaksanaan tugas serta kinerja, produktivitas sikap pegawai.  Informasi yang dua arah akan memungkinkan t...
35      serta memberikan peluang kepada pihak-pihak pelaksana pendidikan untuk      senantiasa meningkatkan kompetensinya ...
36    setelah diamanatkan dalam Undang-undang Sisdiknas bahwa tujuan    pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehi...
37           Pada sebagian besar lingkungan pendidikan Sekolah di berbagai    wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauk...
38    Sekolah secara optimal. Tenaga kependidikan memiliki komitmen dan    harapan yang tinggi bahwa peserta didik dapat m...
39bahwa faktor pendukung keberhasilan MBS terdiri dari :21a.       Kepenmimpinan dan manajemen Sekolah yang baik. MBS akan...
40                                      BAB III                         METODOLOGI PENELITIANA. Desain dan Jenis Penelitia...
41   b. Pengurusan Izin Penelitian.   c. Pemilahan Informasi Penelitian.   d. Penyusunan Jadwal Pelaksanaan Kegiatan.   e....
42D. Proses Pencatatan dan Pengambilan Data       1. Macam-macam Data            a. Data Primer                         Da...
433. Metode Pengumpulan Data   Adapun metode pengumpulan data yang digunakan sebagai berikut:   a. Studi Kepustakaan      ...
44         Menurut Patton, wawancara semacam ini dapat pula disebut sebagai in-         dept interviewing atau menurut Mc ...
45          data; pengamatan memungkinkan pembentukan pengetahuan yang          diketahui bersama, baik dari pihaknya maup...
46            dengan membuat abstraksi yaitu usaha membuat rangkuman, kemudian menyusunnya            dalam satuan-satuan ...
47                                 4. Peran serta                                    Masyarakat                           ...
48   Pendapatan dan   Belanja Program5. Penanggung Jawab1) Kemampuan             Didukung oleh   Mengembangkan         Dat...
49                                            BAB IV                                    HASIL PENELITIAN              Dala...
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Gaya kepemimpinan kepsek
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Gaya kepemimpinan kepsek

9,494 views

Published on

Gaya kepemimpinan kepsek

  1. 1. KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENERAPAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH PADA SMA NEGRI I GUNUNG SINDUR BOGOR SKRIPSIUntuk Memenuhi Salah Satu Persyratan Memperoleh Gelar Sarjana Kependidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta OLEH: ARIF RAHMAN TANJUNG 10201822417 PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1427 H/2006 M
  2. 2. KATA PENGANTARBISMILLAHIR RAHMANI RAHIM Segala puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT Tuhan Rob segalaalam sehingga dengan Rahmat-Nya serta kalimatnya yang suci yaitu BISMILLAHmerupakan penyadaran atas diri seorang manusia yang akan jiwanya tenggelamdalam dunia kesebaragaman makhluk. Salawat dan salam tak lupa penulis sanjungkankepada Nabi Muhammad SAW, keluarga serta sahabatnya yang telah membimbingumatnya kejalan yang benar diatas keridhaan ALLAH SWT.Sekalipun skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, namun ini merupakan salah satuhasil usaha yang maksimal, karena dalam proses penyelesaiannya tidak sedikitkesulitan dan hambatan yang penulis temui. Namun berkat pertolongan ALLAHSWT, yang telah memberikan nikmat-Nya dan kesungguhan kepada penulis sertabantuan yang penulis terima dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkanterima kasih khususnya kepada : 1. Prof. Dr. Rosyada,MA. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Yefneity Z, M.Pd., Ketua Jurusan Program Kependidikan Islam. 3. Drs. Syauki, M.Pd., Ketua Prodi Program Studi Manajemen Pendidikan, serta seluruh Dosen dan Staf Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 4. Drs. H. Mu’arif, M.Pd., Sekretaris Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 5. Yefnelty Z M.Pd., yang telah memberikan arahan dan bimbingan serta meluangkan waktunya memberikan arahan dan petunjuk kepada penulis, sehingga sripsi ini dapat diselesaikan. 6. Pimpinan dan Staf Perpustakaan Umum Fakultas Ilmu Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah menyediakan literature yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini.
  3. 3. 7. Bapak Drs. H. Hidayat, Kepala Sekolah SMAN I Gunung Sindur Bogor beserta seluruh elemen civitas akademika SMAN I Gunung Sindur Bogor dilingkungan sekolah yang telah memberikan izin untuk mengadakan penelitian lapangan dan memberikan data-data yang telah dibutuhkan dalam penyusunan skripsi ini. 8. AL-Habib Fadridhal Atros AL-Kindhy Al-Asyari sebagai guru besar saya yang telah memberikan pemahaman islam dan pembimbing dalam mencari substansi tentang ketuhanan dan juga asisten Gubesku yaitu ABI Agus Padang dari cabang Menteng beliau telah memberikan semangat dan motivasiku dalam tahap pencarian ku dalam menuju Al-Haq dan juga Aa. Iyang Guru Mursid ku yang mana dia memberi motivasi dan dukungan untuk skripsi ini. 9. Orang tua penulis, Ayahanda H. Asri Anwar dan Bunda Hj. Desri Nelly S.Pd yang telah memberikan dorongan dan curahan perhatian baik moril maupun materil serta doa yang selalu teriring setiap saat untuk ananda dalam menghadapi segala hal. Skirpsi ini merupakan persembahan untuk orang tua, semoga ALLAH SWT memberikan pahala yang berlipat ganda dan semoga bias mewujudkan harapan Ayahanda dan ibunda tercinta, Amin. 10. Adik-adikku yaitu Rizki Laili Fitri dan Muhammad Reza Rahadian Tanjung yang telah memberikan semangat untuk menyelesaikan skripsi ini. 11. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan studi dan skripsi ini.Semoga segala bantuan dan amal baik yang telah diberikan akan dibalas olehALLAH SWT, dengan pahala yang berlipat ganda.Akhirnya penulis selain bersyukur dapat menyelesaikan skripsi ini dan menyadarimasih banyak kekurangan dalam konsep maupun penulisannya. Jakarta, 22 Desember 2006 Penulis
  4. 4. GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM PENERAPANMANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH PADA SMA NEGRI I GUNUNG SINDUR Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Kependidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Oleh: Arif Rahman Tanjung 102018224171 Dibawah Bimbingan Yefnelty Z, M.P.D NIP.150 209 382 PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN JURUSAN KEPENDIDIKAN ISALAM FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1427 H /2006 M
  5. 5. KATA PENGANTARBISMILLAHIR RAHMANI RAHIM Segala puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT. Tuhan semesta alam,sehingga dengan Rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Shalawat dansalam tak lupa penulis sanjungkan kepada Nabi Muhamad SAW, keluarga sertasahabatnya yang telah membimbing umat kejalan yang benar diatas keridhaan ALLAHSWT. Sekalipun skripsi ini masih jauh dari kesempurana, namun ini merupakan suatuhasil usaha yang maksimal, karena dalam peroses penyelesaiannya tidak sedikit kesulitandan hambatan yang penulis temui. Namun berkat pertolongan ALLAh SWT, yang telahmemberikan nikmat-Nya dan kesungguhan kepada penulis serta bantuan yang penulisterima dari berbagi pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih khususnyakepada : 1. Prof. Dr. Rosyada, MA, Dekan Falkultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Drs. Syauki, M.Pd., Ketua Prodi Program Studi Manajemen Pendidikan, serta seluruh Dosen dan Staf Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 3. Drs. H. Mu’arif, M. Pd., Sekertaris Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
  6. 6. 4. Yefnelty Z, M.Pd., yang telah memberikan arahan dan bimbingan,meluangkan waktu, mengarahkan dan petunjuk-petunjuk yang berharga kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.5. Pimpinan dan Staf Perpustakaan Utama dan Perustakaan Fakultas Ilmu Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah menyediakan literatur yang diperlukan dalam penulisan dan peyusunan sekripsi ini.6. Bapak Drs.H. Hidayat kepala sekolah SMAN I Gunung Sindur Bogor berserta seluruh elemen civitas akademika SMAN I Gunung Sindur dilingkungan sekolah yang telah memberikan izin untuk mengadakan penelitian lapangan dan memberikan dat-data yang telah dibutukan dalam penysunan skripsi ini.7. AL-Habib Faridal Atros Al -Kindi AL -Asyari sebagai guru dan juga asisten ABI Agus Padang Dan juga Guru ku AA.Iyang , yang telah memberikan pengetahuan, motivasi, dan dukungan untuk menyelesaiakn skripsi ini.8. Orang tua penulis, Ayahnda H.Asri Anuar dan bunda Hj, Desri Nelly S.p.d. yang telah memberikan dorongan dan curuhan perhatian baik moril maupun materil serta doa yang selalu teriring setiap saat untuk anada dalam menghadapi segala hal. Sekripsi ini merupakan persembahan untuk orang tua, semoga ALLAH SWT. Memberikan pahala yang berlipat ganda dan semoga bisa mewujudkan harapan ayahnda dan ibunda tercinta. Amin.9. Adik-adiku yaitu Rizki Laili Fitri, Muhamad Reza Rahadian Tanjung yang telah memberi semangat untuk menyelesaiakan sekripsi ini.
  7. 7. 10. Teman-temanku di KI MP yaitu :Ruli Muharam S.Pd.I, Zahrudin S.Pd.I, Zukri, Deden, Syarul,Wiwik zulpianti,dan teman-teman pengajianku dalam penempuh perjalan hidup untuk mengenal diri dalm kaca mata taswuf Nahwadi, M.Fajri Irawan, Zubair, Akbar, Zulfahri, yang telah membantu dalam menyelesaikan dan memberikan saranya untuk penulisan sekripsi ini. 11. semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan studi dan skripsi ini. Semoga segala bantuan dan amal baik yang telah diberikan akan dibalas oleh ALLAHSWT, dengan pahala yang berlipat ganda. Akhirnya penulis selin bersyukur dapat menyelesaikan skripsi ini dan menyadarimasih banyak kekurangan dalam konsep maupaun penulisannya. Jakarta,22 Desmber 2006 Penulis
  8. 8. DAFTAR ISIKata Pengantar .................................................................................................. iDaftar Isi ............................................................................................................. iiDaftar Lampiran................................................................................................ iiiBAB I : PENDAHULUAN ......................................................................... 1 A. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1 B. Tujuan Penelitian ...................................................................... 5 C. Identifikasi Masalah.................................................................. 5 D. Pembatasan dan Perumusan Masalah ....................................... 6BAB II : ACUAN TEORITIK TERDIRI DARI KEPEMIMPINAN, DAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH.................................8 A. KEPEMIMPINAN........................................................................8 1. Pengertian .................................................................................8 2. Pendekatan Kepemimpinan ......................................................10 3. Gaya Kepemimpian ..................................................................11 B. MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH.....................................22 1. Pengertian .................................................................................22 2. Alasan dan tujuan .....................................................................26 3. Stategis implementasi MBS......................................................27 4. Komponen MBS .......................................................................33 5. Faktor pendukung keberhasilan Implementasi MBS................35 iv
  9. 9. BAB III : METODOLOGI PENELITIAN........................................................40 A. Desain dan jenis Penelitian .............................................................40 B. Kegunaan Penelitian .......................................................................40 C. Langkah – langkah penelitian .........................................................40 1. Persiapan ...................................................................................40 2. Pengumpulan data.....................................................................41 3. Menganalisa Data......................................................................41 4. Penyusunan Laporan Penelitian................................................41 D. Proses Pencatatan dan Pengambilan Penelitian ..............................42 1. Macam-macam Data .................................................................42 2. Sampel Penelitan.......................................................................42 3. Metode Pengumpulan Data.......................................................43 E. Analisa Data ...................................................................................45BAB IV : HASIL PENELITIAN ........................................................................49 A. Hasil Penelitian ......................................................................... .....49 1. Gambaran Umum SMA Negri I Gunung Sindur ................ .....49 2. Fasilitas SMA Negri I Gunung Sindur ............................... .....72 B. Data Tentang Gaya kepemimpinan dalam Penerapan MBS..... .....74 C. Pembahasan Hasil Penelitian…………………………………….. v
  10. 10. BAB V PENUTUP ........................................................................................ 96 A. Kesimpulan ............................................................................... 96 B. Saran-saran................................................................................ 97DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 99LAMPIRAN vi
  11. 11. vii
  12. 12. JUDUL ................................................................................................................ .....oDAFTAR ISI....................................................................................................... iBAB I : PENDAHULUAN ......................................................................... 1 E. Latar Belakang Masalah ........................................................... 1 F. Identifikasi Masalah.................................................................. 4 G. Perumusan Masalah .................................................................. 5 H. Tujuan Penelitian ...................................................................... 5 I. Kegunaan Penelitian ................................................................. 5 J. Sistematika Penulisan ............................................................... 5BAB II : ACUAN TEORITIK ..................................................................... 7 A. Kepemimpinan.......................................................................... 7 1. Pengertian ........................................................................... 7 2. Pendekatan Kepemimpinan ................................................ 10 3. Gaya Kepemimpinan ........................................................ 11 4. Tugas Pokok dan Fungsi Kepemimpinan ........................... 12 5. Kepemimpinan Kepala Sekolah.......................................... 13 B. Manajemen Berbasis Sekolah ................................................... 13 1. Pengertian ........................................................................... 13 2. Alasan dan Tujuan .............................................................. 14BAB III : METODOLOGI PENELITIAN................................................. 17 viii
  13. 13. A. Metode Penelitian ..................................................................... 17 B. Langkah-langkah Penelitian...................................................... 17 1. Persiapan ............................................................................. 17 2. Pengumpulan Data .............................................................. 17 3. Menganalisis Data............................................................... 17 4. Penyusunan Laporan Penelitian.......................................... 18 C. Proses Pencatatan dan Pengambilan Data................................. 18 1. Macam-macam Data ........................................................ 18 2. Sampel Penelitian............................................................. 19 3. Metode Pengumpulan Data.............................................. 19 D. Analisis Data............................................................................ 22DAFTAR PUSTAKA ix
  14. 14. KATA PENGANTARBISMILLAHIR RAHMANI RAHIM Segala puji syukur penulis panjatkan kepada ALLAH SWT.Tuhan Robsegala alam sehingga dengan Rahmat-Nya serta kalimanya suci yaitu BISMILLAHmerupakan penyadaran atas diri seorang manusia yang akan jiwanya tengelam dalamdunia kesebaragaman makluk .salawat dan salam tak lupa penulis sanjungkan kepadaNabi Muhamad SAW, keluarga serta sahabatnya yang telah membimbing umatnyakejalan yang benar diatas keridhaan ALLAH SWT.Sekalipun skripsi ini masih jauh dari kesempuranan, namun ini merupakan salah satuhasil usaha yang maksimal, karena dalam peroses penyelesaiannya tidak sedikitkesulitan dan hambatan yang penulis temui. Namun berkat pertolongan ALLAHSWT. Yang telah memberikan nikmat-Nya dan kesungguhan kepada penulis sertabantuan yang penulis terima dari berbagi pihak. Untuk itu penulis mengucapakanterima kasih khususnya kepada : 1. Prof.Dr.Rosyada,MA,Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Yefnelty Z, M.Pd.,Ketua Jurusan Progaram Kependidikan Islam. 3. Drs. Syauki, M.Pd.,Ketua Prodi Program Studi Manajemen Pendidikan,serta seluruh Dosen dan Staf Jurusann Kependidikan Islam Fakultas ilmu Tarbiyah dan keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta x
  15. 15. 4. Drs. H. Mu’arif, M.Pd., Sekertaris Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan UIN Sarif Hidayatullah Jakarta.5. Yefnelty Z M.Pd., yang telah memberikan arahan dan bimbingan sera meluangkan waktunya meberiakan arahan dan petunjuk kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.6. Pimpianan dan Staf Perpustakan Utama dan Perpustakan Fakultas Ilmu Tarbiyah UIN Syarif Hidayatullah Jkarta yang telah menyediakan literatur yang diperlukan dalam penyusuanan sekripsi ini.7. Bapak Drs. H. Hidayat kepala sekolah SMAN I Gunung Sindur Bogor berserta seluruh elemen civitas akademika SMAN I Gunung Sindur Bogor dilingkungan sekolah yang telah memberikan izin untuk mengadakan penelitian lapanngan dan memberikan data-data yang telah dibutukan dalam penyusun skripsi ini.8. AL-Habib Faridal Atros AL-Kindy AL- Asyari sebagai guru besar ku yang mana beliau lah telah memberikan pemahaman islam dan pembimbing dalam mencari pencarian subtansi tentang ketuhan dan juga asisten Gubesku yaitu ABI Agus Padang dari cabang menteng beliau telah memberikan semangat dan motivasiku dalam tahap pencarian ku dalam menuju Al-Haq dan juga Aa. Iyang Guru Mursid ku yang mana dia memberi motivasi dan dukungan untuk menyelesaiakan skripsi ini.9. Orang tua Penulis, Ayahnda H.Asri anwar dan Bunda Hj.Desri Nelly S.P.d yang telah memberikan dorongan dan curuahan perhartian baik moril xi
  16. 16. maupaun materil serta doa yang selalu teriring setiap saat untuk ananda dalam menghadapi segala hal. Skripsi ini merupakan persembahan untuk orang tua, semoga ALLAH SWT.memberikan pahala yang berlipat ganda dan semoga bisa mewujudkan harapan ayahnda dan ibunda tercinta. Amin. 10. Adik-adikku Yaitu Rizki Laili Fitri dan Muhamad Reza Rahadian Tanjung yang telah memberikan semangat untuk menyelesaikan sekripsi ini. 11. Teman-temanKu di KI-MP Yaitu : Ruli Muharam S.Pd.i ,Zahrudin S.Pd.i Deden, Syarul dan Teman-Temanku Pengajian Yang mana suka duka dalam memempuh perjalan hidup dalam sudut panndang Taswuf diantaranya: Nahwadi, Zubair,Akbar,Nur Parawangsah, Zulfahri yang mana telah membantu dalam menyelesaikan dan memeberi saran untuk menulis sekripsi ini. 12. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan studi dan skripsi ini.Semoga segala bantuan dan amal baik yang telah diberikan akan dibalas olehALLAH SWT, dengan pahala yang berlipat ganda.Akhirnya penulis selain bersyukur dapat menyelesaiakn skripsi ini dan menyadarimasih banyak kekurangan dalam konsep maupun penulisannya. Jakarta ,22 Desmber 2006 Penulis xii
  17. 17. 1 BAB I PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah Salah satu persoalan pendidikan yang sedang dihadapi bangsa kita adalahpersoalan mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan. Berbagaiusaha telah dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional, antara lainmelalui berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi guru, pengadaan buku danalat pelajaran, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, dan meningkatkan mutumanajemen sekolah. Namun demikian, Indikator mutu pendidikan belummenunjukkan peningkatan yang berarti. Sebagian sekolah, terutama di kota-kota,menunjukkan peningkatan mutu pendidikan yang mencakup menggembirakan,namun sebagian besar lainnya masih memprihatinkan. Berdasarkan masalah di atas, maka berbagai pihak mempertayakan apa yangsalah dalam penyelenggaraan pendidikan kita? Dan berbagai pengamat dan analisis,ada berbagai faktor yang menyebabkan mutu pendidikan kita mengelami peningkatansecara merata.1 Pertama, kebijakan dan penyelenggaraan pendidikan nasionalmenggunakan pendekatan educational production function atau input-output analisisyang tidak dilaksanakan secara konsekwen. Pendekatan ini melihat bahwa lembagapendididjkan berfungsi sebagai pusat produksi yang apabila dipenuhi semua input 1 Depdiknas. 2001. Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Jakarta : ProyekPeningkatan Mutu SMU. h.3
  18. 18. 2yang diperlukan dalam kegiatan produksi tersebut, maka lembaga akan menghasilkanoutput yang dikehendaki. Pendekatan ini menganggap input pendidikan sepertipelatihan guru, pengadaan buku dan alat pelajaran, dan perbaikan sarana prasaranaperbaikan lainnya dipenuhi, maka mutu pendidikan (output) secara otomatis akanterjadi. Kedua, penyelenggaraan pendidikan nasional dilakukan secara birokratis-sentralistik, sehingga meningkat sekolah sebagai penyelenggaraan pendidikan yangtergantung pada keputusan birokrasi-birokrasi. Kadang-kadang birokrasi itu sangatpanjang dan kebijakannya tidak sesuai dengan kondisi sekolah setempat. Maka aksesdari birokrasi panjang dan sentralisasi itu, sekolah menjadi tidak mandiri, kurangyakreatifitas dan motivasi. Ketiga, minimnya peranan masyarakat khususnya orang tua sisiwa dalampenyelenggaraan pendidikan, pratisipasi orang tua selama ini dengan sebataspendukung dana, tapi tidak dilibatkan dalam proses pendidikan seperti mengambilkeputusan, monitoring, evaluasi dan akuntabilitas, sehingga sekolah tidak memilikibeban dan tanggung jawab hasil pelaksanaan pendidikan kepada masyarakat/orangtua sebagai stake holder yang berkepentingan dengan pendidikan. Keempat, krisiskepemimpinan, dimana kepala sekolah yang cenderung tidak demokratis, sistem top-down policy baik dari kepala sekolah terhadap guru atau birokrasi diatas kepalasekolah terhadap sekolah.2 Munculnya paradigma Guru tentang manajemen berbasis sekolah yangbertumpu pada penciptaan iklim yang demokratisasi dan pemberian kepercayaan2 Ibid. hal 4
  19. 19. 3yang lebih luas kepada sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan secara efisiendan berkualitas. Hal ini sangat memungkinkan dengan dikeluarkannya UU pemerintah no. 22tahun 1999, selanjutnya diubah dengan UU no.32 tahun 2004 yaitu undang-undangotonomi daerah yang kemudian diatur oleh PP no. 33 tahun 2004 yaitu adanyapenggeseran kewenangan dan pemerintah pusat ke pemda dalam berbagai bidangtermasuk bidang pendidikan kecuali agama, politik luar negri, pertahanan dankeamanan, peradilan, moneter dan fiskal. Pola bidang pendidikan diatas oleh UU No.20 tahun 2003 tentang sistempendidikan nasional dengan pasal 51 menyatakan ”pengadaan satuan pendidikan anakusia dini, pendidikan agar, dan pendidikan menengah didasarkan pada standarpelayanan minimum dengan prinsip manajemen berbasis sekolah.3 Kepemimpinan adalah cara seseorang pemimpin mempengaruhi perilakubawahan agar mau bekerja sama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuanorganisasi. Gaya kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambilkepurusan maka akan mengakibatkan adanya disharmonisasi hubungan anatarapemimpin dan yang dipimpin. Kepemimpinan merupakan salah satu faktor yang menentukan kesuksesanimplementasi MBS. Sebagaimana dikemukakan oleh Nurkolis setidaknya ada empatalasan kenapa diperlukan figur pemimpin, yaitu ; 1) banyak orang memerlukan figurpemimpin, 2) dalam beberapa situasi seorang pemimpin perlu tampil mewakili 3 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 51, ayat 1, hal.30
  20. 20. 4kelompoknya, 3) sebagai tempat pengambilalihan resiko bila terjadi tekanan terhadapkelomponya, dan 4) sebagai tempat untuk meletakkan kekuasaan.4 DalamManajemen berbasis sekolah dimana memberikan keleluasaan kepada sekolah untukmengelola potensi yang dimiliki dengan melibatkan semua unsur stakeholder untukmencapai peningkatan kualitas sekolah tersebut. Karena sekolah memilikikewenangan yang sangat luas itu maka kehadiran figur pemimpin menjadi sangatpenting. Kepemimpinan yang baik tentunya sangat berdampak pada tercapai tidaknyatujuan organisasi karena pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja yangdipimpinnya. Kemampuan untuk mempengaruhi suatu kelompok untuk mencapaitujuan merupakan bagian dari kepemimpinan.5 Konsep kepemimpinan erat sekalihubungannya dengan konsep kekuasaan. Dengan kekuasaan pemimpin memperolehalat untuk mempengaruhi perilaku para pengikutnya. Terdapat beberapa sumber danbentuk kekuasaan, yaitu kekuasaan paksaan, legitimasi, keahlian, penghargaan,referensi, informasi, dan hubungan.6 Gaya kepemimpinan adalah sikap, gerak-gerik atau lagak yang dipilih olehseseorang pemimpin dalam menjalankan tugas kepemimpinannya. Gaya yang dipakaioleh seorang pemimpin satu dengan yang lain berlainan tergantung situasi dankondisi kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku yang 4 Nurkolis.2005. Manajemen Berbasis Sekolah, Jakarta : PT.Grasindo, cet.ke-3, hal.152 5 Ibid.,hal.154 6 Miftah Toha.1990. Kepemimpinan Dalam Manajemen, Jakarta : Rajawali Pers, cet. Ke-4,hal.323
  21. 21. 5dipergunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilakuorang lain. Gaya kepemimpinan adalah suatu pola perilaku yang konsisten yangditinjukan oleh pemimpin dan diketahui pihak lain ketika pemimpin berusahamempengaruhi kegiatan-kegiatan orang lain. Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian“Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Penerapan Manajemen BerbasisSekolah Pada SMAN I GUNUNG SINDUR”B. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gaya kepemimpian kepala sekolahdalam penerapan MBS di Sekolah Menengah Atas Negeri Gunung Sindur kec.Gunung Sindur Kabupaten Bogor .C. Identifikasi Masalah Ada beberapa faktor yang berkaitan erat dengan penerapan manajemen berbasissekolah antara lain faktor kepemimpinan, sikap guru, peraturan pemerintah,dukungan birokrasi, budaya sekolah, sarana dan prasarana, lingkungan masyarakat,dan masalah finansial. Berdasarkan uraian di atas, maka ada beberapa masalah yang dapat diidentifikasiyaitu:
  22. 22. 6 1. Bagaimana kepemimpinan kepala sekolah dalam penerapan manajemen berbasis sekolah? 2. Bagaimana sikap guru dalam penerapan manajemen berbasis sekolah? 3. Bagaimana dukungan birokrasi pendidikan dalam penerapan manajemen berbasis sekolah? 4. Bagaimana kebijakan pemerintah tentang penerapan manajemen berbasis sekolah? 5. Bagaimana budaya sekolah untuk mendukung penerapan manajemen berbasis sekolah? 6. Bagaimana kesiapan anggaran dalam mendukung penerapan manajemen berbasis sekolah?D. Pembatasan dan Perumusan Masalah Mengacu kepada identifikasi di atas maka fokus penelitian dapat dibatasi padagaya kepemimpinan kepala sekolah dalam perangkat manajemen. Dari identifikasimasalah tersebut maka dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut”Bagaimana gaya kepemimpinan kepala sekolah dalam penerapan MBS ?”
  23. 23. BAB II KERANGKA TEORI TENTANG KEPEMIMPINAN DAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAHA. KEPEMIMPINAN 1. Pengertian Pemimpin memiliki peranan yang dominan dalam sebuah organisasi. Peranan yang dominan tersebut dapat mempengaruhi moral kepuasan kerja keamanan, kualitas kehidupan kerja dan terutama tingkat prestasi suatu organisasi. Sebagaimana dikatakan Hani Handoko bahwa pemimpin juga memainkan peranan kritis dalam membantu kelompok organisasi, atau masyarakat untuk mencapai tujuan mereka.1 Bagaimanapun juga kemampuan dan ketrampilan kepemimpinan dalam pengarahan adalah faktor penting efektifitas manajer. Bila organisasi dapat mengidentifikasikan kualitas yang berhubungan dengan kepemimpinan kemampuan mengidentifikasikan perilaku dan tehnik-tehnik kepemimpinan efektif, Kepemimpinan dalam bahasa inggris tersebut leadership berarti “ being a leader power of leading “ atau the qualities of leader.2 Secara bahasa, makna kepemimpinan itu adalah kekuatan atau kualitas seseorang pemimpin dalam mengarahkan apa yang dipimpinnya untuk mencapai 1 Hani Handoko. 1999. Manajemen. edisi kedua. hal. 293 2 AS. Hornby. 1990. Oxford Edvanced Dictionary of English. London: Oxford UniversityPress. hal 481 8
  24. 24. 9tujuan. Seperti halnya manajemen, kepemimpinan atau leadership telahdidefinisikan oleh banyak para ahli antaranya adalah Stoner mengemukakanbahwa kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai suatu prosesmengarahkan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompokanggota yang salain berhubungan dengan tugasnya. Kepemimpinan adalah bagian penting manjemen, tetapi tidak sama denganmanajemen. Kepemimpinan merupakan kemampuan yang dipunyai seseoranguntuk mempengaruhi orang lain agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran.Manajemen mencakup kepemimpinan tetapi juga mencakup fungsi-fungsi lainnyaseperti perencanaan, penorganisasian , pengawasan dan evaluasi. 3 Kepemimpinan atau leadership dalam pengertian umum menunjukkansuatu proses kegiatan dalam hal memimpin, membimbing, mengontrol perilaku,perasaan serta tingkah laku terhadap orang lain yang ada dibawahpengawasannya.4 Disinilah peranan kepemimpinan berpengaruh besar dalam pembentukanperilaku bawahan. menurut Handoko kepemimpinan merupakan kemampuanseseorang untuk mempengaruhi orang lain agar mencapai tujuan dan sasaran.5 3 Ibid . ,jilid 2, hal.294 4 Ibid. , jilid I, hal. 486 5 T.Hani Handoko, Op. Cit, hal. 294.
  25. 25. 102. Pendekatan Kepemimpinan Menurut Handoko, ada beberapa pendekatan kepemimpinan yangdiklasifikasikan sebagai pendekatan-pendekatan kesifatan, perilaku, dansituasional.6 Pendekatan pertama memandang kepemimpinan sebagai suatukombinasi sifat-sifat yang tampak. Pendekatan kedua bermaksudmengidentifikasikan perilaku-perilaku (behaviours) pribadi yang berhubungandengan kepemimpinan yang efektif. Kedua pendekatan ini mempunyai anggapanbahwa seorang individu yang memiliki sifat-sifat tertentu atau memperagakanperilaku-perilaku tertentu akan muncul sebagai pemimpin dalam situasiikelompok apapun dimana ia berada. Pendekatan ketiga yaitu pandangansituasional tentang kepemimpinan. Pandangan ini menganggap bahwa kondisiyang menentukan efektifitas kepempimpinan bervariasi dengan situasi yaknitugas-tugas yang dilakukan,keterampilan dan pengharapan bawahan, lingkungan organisasi, pengalamanmasa lalu pemimpin dan bawahan dan sebagainya. Pandangan ini telahmenimbulkan pendekatan contingency pada kepemimpinan yang bermaksuduntuk menetapkan faktor-faktor situasional yang menentukan seberapa besarefektifitas situasi gaya kepemimpinan tertentu. Ketiga pendekatan tersebut dapat digambarkan secara kronologis sebagaiberikut:7 6 Ibid, hal. 295 7 Ibid,, hal, 296
  26. 26. 11 Sifat-sifat Perilaku Situasional Contingency3. Gaya Kepemimpinan Gaya kepemimpinan yang dimaksud adalah teori kepemimpinan daripendekatan perilaku pemimpin. Dari satu segi pendekatan ini masih difokuskanlagi pada gaya kepemimpinan (leadership style), sebab gaya kepemimpinanbagian dari pendekatan perilaku pemimpin yang memusatkan perhatian padaproses dinamika kepemimpinan dalam usaha mempengaruhi aktivitas individuuntuk mencapai suatu tujuan dalam suatu situasi tertentu. Gaya kepemimpinan ialah pola-pola perilaku pemimpin yang digunakanuntuk mempengaruhi aktuivitas orang-orang yang dipimpin untuk mencapaitujuan dalam suatu situasi organisasinya dapat berubah bagaimana pemimpinmengembangkan program organisasinya, menegakkan disiplin yang sejalandengan tata tertib yang telah dibuat, memperhatikan bawahannya denganmeningkatkan kesejahteraanya serta bagaimana pimpinan berkomunikasi denganbawahannya. Para penelti telah mengidentifikasi dua gaya kepemimpinan yaitu gayadengan orientasi tugas (Task Oriented) dan gaya dengan orientasi karyawan(Employee Oriented).8 Manajer berorientasi tugas mengarahkan dan mengawasibawahan secara tertutup untuk menjamin bahwa tugas dilaksanakan sesuai yangdiinginkannya. Manajer dengan gaya kepemimpinan ini lebih memperhatikan 8 Ibid, hal. 299
  27. 27. 12 pelaksanaan pekerjaan daripada pengembangan dan pertumbuhan karyawan. Sedangkan manajer berorientasi karyawan mencoba untuk lebih memotivasi bawahan dibanding mengawasi mereka. Mereka mendorong para anggota kelompok untuk melaksanakan tugas-tugas dengan memberikan kesempatan bawahan untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan, menciptakan suasana persahabatan serta hubungan-hubungan saling mempercayai dan menghormati dengan para anggota kelompok.9 Gaya kepemimpinan yang kurang melibatkan bawahan dalam mengambil keputusan, akan mengakibatkan bawahan merasa tidak diperlukan, karena pengambilan keputusan tersebut terkait dengan tugas bawahan sehari-hari. Pemaksaan kehendak oleh atasan mestinya tidak dilakukan. Namun pemimpin dalam menerapkan gaya kepemimpinan yang tepat merupakan tindakan yang bijaksana kepada bawahan, maka akan terjadi kegagalan dalam pencapaian tujuan organisasi. Selanjutnya gaya kepemimpinan digunakan dalam berinteraksi dengan bawahannya, melalui berinteraksi ini antara atasan dan bawahan masing-masing memilki status yang berbeda. Berinteraksinya dua status yang berbeda terjadi, apabila status pemimpin dapat mengerti keadaan bawahannya. Pada umumnya bawahan merasa dilindungi oleh pimpinan apabila pimpinan dapat menyejukkan hati bawahan terhadap tugas yang dibebankan kepadanya. Cara berinteraksi oleh pimpinan akan mempengaruhi tujuan organisasi. Bawahan umumnya lebih9 Ibid., hal. 294
  28. 28. 13senang menerima atasan yang mengayomi bawahan sehingga perasaan senangakan tugas timbul, yang pada akhirnya meningkatkan kinerja karyawan. Pemimpin yang bijaksana umumnya lebih memperhatikan kondisi bawahanguna pencapaian tujuan organisasi. Gaya yang akan digunakan mendapatsambutan hangat oleh bawahan sehingga proses mempengaruhi bawahan berjalanbaik dan disatu sisi timbul kesadaran untuk bekerja sama dan bekerja produktif.Bermacam-macam cara mempengaruhi bawahan tersebut guna kepentinganpemimpin yaitu tujuan organisasi. Pimpinan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan pada tugas danfungsi, melalui proses komunikasi dengan bawahannya sebagai dimensi dalamkepemimpinan dan teknik-teknik untuk memaksimalkan pengambilan keputusan. Pola dasar terhadap gaya kepemimpinan yang lebih mementingkanpelaksanaan tugas oleh para bawahannya, menuntut penyelesaian tugas yangdibebankan padanya sesuai dengan keinginan pimpinan. Pemimpin menuntut agarsetiap anggota seperti dirinya, menaruh perhatian yang besar dan keinginan yangkuat dalam melaksanakn tugas-tugasnya. Pemimpin beranggapan bahwa bilasetiap anggota melaksanakn tugasnya secara efektif dan efisien, pasti akan dicapaihasil yang diharapkan sebagai penggabungan hasil yang dicapai masing-masinganggota. Gaya kepemimpinan yang berpola untuk mementingkan pelaksanaankerjasama, pemimpin berkeyakinan bahwa dengan kerjasama yang intensif,efektif, dan efisien, semua tugas dapat dilaksanakan secara optimal. pelaksanakan
  29. 29. 14dan bagaimana tugas dilaksanakan berada diluar perhatian pemimpin, karenayang penting adalah hasilnya bukan prosesnya. Namun jika hasilnya tidak sepertiyang diharapkan, tidak ada pilihan lain, selain mengganti pelaksananya tanpamenghiraukan siapa orangnya. Pola dasar ini menggambarkan kecenderungan,jika dalam organisasi tidak ada yang mampu, mencari pengganti dari luarmeskipun harus menyewa serta membayar tinggi. Pemimpin hanya membuat beberapa keputusan penting pada tingkat tertinggidengan pemahaman yang konseptual. Pemimpin yang efektif dalam organisasimenggunakan desentralisasi dalam membuat keputusannya. Hal tersebutmemberikan kewenangan pada bawahan serta melaksanakan sharing dalammemutuskan suatu keputusan. a. Pendekatan Perilaku Kepemimpinan Prilaku kepemimpinan cenderung diekspreikan dalam dua gaya kepemimpinan yang berbeda. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan.10 Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada tugas menekankan pada pengawasan yang ketat. Dengan pengawasan yang ketat dapat dipastikan bahwa tugas yang diberikan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Gaya kepemimpinan ini lebih menekankan pada tugas dan kurang dalam pembinaan karyawan.. Sedangakan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan, mengutamakan untuk memotivasi dari mengontrol bawahan, dan bahkan dalam beberapa hal 10 Stoner dan Freeman, op.cit., p. 475.
  30. 30. 15 bawahan ikut berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan bawahan. Kedua gaya kepemimpinan tersebut, dapat dirasakan oleh bawahan secara langsung ketika pimpinan berinteraksi dengan bawahannya. Setiap pemimpin memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda, karena banyak faktor yang mempengaruhinya. Bawahan pada umumnya cenderung loebih menyukai gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan atau bawahan, karena merasa lebih dihargai dan diperlakukan secara manusiawi, memanusiakan manusia sehingga kan mempengaruhi tingkat produktivitas kerja dan kepuasan kerja karyawan. Gaya kepemimpinan yang berorintasi pada tugas, lebih menekankan pada penyelesaian tugas-tugas yang dibebankan pada karyawan. Pimpinan pada umunya lebih memperhatikan hasil daripada proses. Keadaan tersebut membentuk kondisi tempat kerja menjadi kurang kondusif, karena masing-masing karyawan berkonsentrasi pada tugas yang harus diselesaikan karena terikat waktu dan tanggungjawab. b. Gaya Managerial Grid Menurut Blake dan Mountoun, ada empat gaya kepemimpinan yang dikelompokkan sebagai gaya yang ekstrem11, sedangkan lainnya hanya satu gaya yang ditengah-tengah gaya ekstrem tersebut. Gaya kepemimpinan dalam managerial grid yaitu: (1) Manajer tim yang nyata (the real team manager), (2) Manajemen club (the country club management), (3) Tugas secara11 Robert R Black dan Jane S. Mouton, The New Managerial Grid, Gulf Publishing, Houston, 1978.
  31. 31. 16otokratis (authocratic task managers), dan (4) Manajemen perantara(organizational man management).c. Teori Kepemimpinan Situasional Dalam mengembangkan teori kepemimpinan situasional Hersey danBlanchard mengatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling efektifberbeda-beda sesuai dengan kematangan bawahan. Kematangan ataukedewasaan bukan sebagai sebatas usia atau emosional melainkan sebagaikeinginan untuk menerima tanggungjawab, dan kemampuan serta pengalamanyang berhubungan dengan tugas. Hubungan antara pimpinan dan bawahanbergerak melalui empat tahap yaitu: (a) hubungan tinggi dan tugas rendah, (b)tugas rendah dan hubungan rendah, (c) tugas tinggi dan hubungan tinggi, dan(d) tugas tinggi dan hubungan rendah. Pimpinan perlu mengubah gaya kepemimpinan sesuai denganperkembangan setiap tahap, dan pada gambar di atas terdapat empat tahap.Pada tahap awal, ketika bawahan pertama kali memasuki organisasi, gayakepemimpina yang berorientasi tugas paling tepat. Pada tahap dua, gayakepemimpina yang berorientasi tugas masih penting karena belum mampumenerima tanggungjawab yang penuh. Namun kepercayaan dan dukunganpimpinan terhadap bawahan dapat meningkat sejalan dengan makin akrabnyadengan bawahan dan dorongan yang diberikan kepada bawahan untukberupaya lebih lanjut. Sedangkan pada tahap ketiga, kemampuan dan motivasiprestasi bawahan meningkat, dan bawahan secara aktif mencari
  32. 32. 17 tanggungjawab lebih besar, sehingga pemimpin tidak perlu lagi bersifat otoriter. Dan pada tahap empat (akhir), bawahan lebih yakin dan mampu mengarahkan diri, berpengalaman serta pimpinan dapat mnegurangi jumlah dukungan dan dorongan. Bawahan sudah mampu berdiri sendiri dan tidak memerlukan atau mengharapkan pengarahan yang detil dari pimpinannya. Pelaksanaan gaya kepemimpinan situasional sangat tergantung dengan kematangan bawahan, sehingga perlakuan terhadap bawahan tidak akan sama baik dilihat dari umur atau masa kerja. d. Gaya Kepemimpinan Fiedler Di sini Fiedler mengembangkan suatu model yang dinamakan model Kontingensi Kepemimpian yang Efektif(A Contingency Model of Leadership Effectiveness) berhubungan anatar gaya kepemimpinan dengan situasi yang menyenangkan. Adapun situasi yang menyenangkan itu diterangkan dalam hubungannya dengan dimensi-dimensi sebagai berikut: 1) Derajat situasi dimana pemimpin menguasai, mengendalikan dan mempengaruhi situasi. 2) Derajat situasi yang menghadapkan manajer dengan tidak kepastian.12 Gaya kepemimpinan diatas, sama dengan gaya kepemimpinan yang berorientasi pada karyawan dan berorientasi pada tugas, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Fiedler mengukur gaya kepemimpinan dengan skala yang menunjukan tingkat seseorang menguraikan secara menguntungkan atau12 T. Hani Handoko, Op. Cit, hal 311
  33. 33. 18merugikan rekan sekerjanya yang paling tidak disukai (LPC, Least PreferredCo-worker), karyuawan yang hampir tidak dapat diajak bekerjasama denganorang tadi. Dalam hal ini ditentukan delapan kombinasi yang mungkin daritiga variabel dalam situasi kepemimpinan tersebut dapat menunjukanhubungan antara pemimpin dengan anggota dapat baik atau buruk, tugas dapatstruktur, dan kekuasaan dapat kuat atau lemah. Pemimpin dengan LPC rendahyang berorientasi tugas atau otoriter paling efekif dalam situasi ekstrem,pemimpin mempunyai kekuasaan dan pengaruh amat besar atau mempunyaikekuasaan dan pengaruh amat kecil.e. Gaya Kepemimpinan Kontinum. Tannenbaum dan Schmidt mengusulkan bahwa, seorang manajer perlumempertimbangkan tiga perangkat kekuatan sebelum memilih gayakepemimpinan yaitu: kekuatan yang ada dalam diri manajer sendiri, kekuatanyang ada pada bawahan, dan kekuatan yang ada dalam situasi. Sehubungan dengan teori tersebut terdapat tujuh tingkat hubunganpemimpin dengan bawahan yaitu: (1) manajer mengambil keputusan danmengumumkannya, (2) manajer menjual keputusan, (3) manajer menyajikangagasan dan mengundang pertanyaan, (4) manajer menawarkan keputusansementara yang masih diubah, (5) manajer menyajikan masalah, menerimasaran, membuat keputusan, (6) manajer menentukan batas-batas, memintakelompok untuk mengambil keputusan, dan (7) manajer membolehkanbawahan dalam batas yang ditetapkan atasan.
  34. 34. 19 f. Gaya Kepemimpinan menurut Likert Menurut Likert, bahwa pemimpin itu dapat berhasil jika bergaya participative management, yaitu keberhasilan pemimpin adalah jika berorientasi pada bawahan, dan mendasarkan komunikasi.13 Selanjutnya ada empat sistem kepemimpinan dalam manajemen yaitu sebagai berikut: 1) Sistem 1, dalam sistem ini pemimpin bergaya otoriter (ekspoitive- authoritive). Pemimpin hanya mau memperhatikan pada komunikasi yang turun ke bawah, dan hanya membatasi proses pengambilan keputusan di tingkat atas saja. 2) Sistem 2, dalam sistem ini pemimpin dinamakan otokratis yang baik hati (benevalent autthoritive). Pemimpin mempunyai kepercayaan yang terselubung, percaya kepada bawahan, mau memotivasi dengan hadiah-hadiah tetapi bawahan merasa tidak bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaannya dengan atasannya. 3) Sistem 3, dalam sistem ini gaya kepemimpinan yang konsultatif. Pemimpin menentukan tujuan, dan mengemukakan pendapat berbagai ketentuan yang bersifat umum, sesudah melalui proses diskusi dengan para bawahan. Bawahan di sini merasa sedikit bebas untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugas pekerjaan bersama atasannya.13 Thoha, op. cit., pp. 59-61
  35. 35. 20 4) Sistem 4, dalam sistem ini dinamakan pemimpin yang bergaya kelompok berparsipatif (participative group). Karena pemimpin dalam penentuan tujuan dan pengambilan keputusan ditentukan bersama. Bawahan merasa secara mutlak mendapat kebebasan untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan tugasnya bersama atasannya. Dari keempat sistem diatas, sistem ke 4 mempunyai kesempatan untuksukses sebagai pemimpin, karena mempunyai organisasi yang lebih produktif. Berdasarkan teori yang telah dikemukakan di atas, maka yangdimaksud dengan gaya kepemimpinan dalam tulisan ini adalah penilaiankaryawan terhadap gaya kepemimpinan pemimpin atau atasan dalammempengaruhi bawahan untuk mencapai tujuan organisasi yang mencakup kedalam tiga aspek yaitu: gaya kepemimpinan yang berorientasi kepada tugas,gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan, dan gaya kepemimpinanyang berorientasi pada tingkat kematangan bawahan. Gaya kepemimpinanpada tugas terdiri dari empat indikator yaitu: (1) Pengawasan yang ketat, (2)pelaksanaan tugas, (3) memberi petunjuk, dan (4) mengutamakan hasildaripada proses. Gaya kepemimpinan yang berorientasi pada bawahan terdiridari empat indikator yaitu: (1) melibatkan bawahan dalam pengambilankeputusan, (2) memberi dukungan, (3) kekeluargaan, dan (4) kerjasama. Dangaya kepemimpinan yang berorientasi pada tingkat kematangan bawahan
  36. 36. 21terdiri dari empat indikator yaitu: (1) ketekunan bekerja, (2) aktif, (3)pengalamang. Kepemimpinan Transformasional Dalam MBS Dalam Undang-Undang No.25 tahun 2000 tentang programpembangunan nasional 2000-2004 untuk sektor pendidikan disebutkan akanperlunya pelaksanaan manajemen otonomi pendidikan. Perubahan manajemenpendidikan dari sentralistik ke disentralistik menuntut proses pengambilankeputusan pendidikan menjadi lebih terbuka, dinamik dan demokratis. Untukpendidikan dasar dan menengah, proses pengambilan keputusan yang otonomseperti itu dapat dilaksanakan secara efektif dengan menerapkan MBS. Dalammelaksanakan MBS menurut Komite Reformasi Pendidikan, kepala sekolahperlu memiliki kepemimpinan yang kuat, partisipatif, dan demokratis. Kepemimpinan transformasional dapat dicirikan dengan adanya prosesuntuk membangun komitmen bersama terhadap sasaran organisasi danmemberikan kepercayaan kepada para pengikut untuk mencapai sasaran.Dalam kepemimpinan transformasional menurut Burns, pemimpin mencobamenimbulkan kesadaran dari para pengikut dengan menyerukan cita-cita yanglebih tinggi dan nilai-nilai moral. Masih menurut Burns, kepemimpinantransformasional berbeda dengan kepemimpinan transaksional yangdidasarkan atas kekuasaan birokratis dan memotivasi para pengikutnya demikepentingan diri sendiri.
  37. 37. 22 Kepemimpinan transformational mampu mentransformasi dan memotivasi para pengikutnya dengan cara :14 (1) membuat mereka sadar mengenai pentingnya suatu pekerjaan,(2) mendorong mereka untuk lebih mementingkan organisasi daripada kepentingan diri sendiri, dan (3) mengaktifkan kebutuhan- kebutuhan pengikut pada tarap yang lebih tinggi. Tipe kepemimpinan transformasional dapat sejalan dengan fungsi manajemen model MBS. Pertama, adanya kesamaan yang paling utama, yaitu jalannya organisasi yang tidak digerakkan oleh birokrasi, tetapi oleh kesadaran bersama. Kedua, para pelaku mengutamakan kepentingan organisasi bukan kepentingan pribadi. Ketiga, adanya partisipasi aktif dari pengikut atau orang yang dipimpin.B. Manajemen Berbasis Sekolah 1. Pengertian Secara bahasa, Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari tiga kata, yaitu manajemen, berbasis, dan sekolah. Manajemen adalah proses menggunakan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Berbasis memiliki kata dasar basis yang berarti dasar atau asas. Sekolah adalah lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat untuk menerima dan memberikan pelajaran. Berdasarkan makna leksikal tersebut maka MBS dapat diartikan sebagai penggunaan sumber 14 Nurkolis.2005. Manajemen Berbasis Sekolah, Jakarta : PT. Grasindo, cet ke 2, hal.172
  38. 38. 23daya yang berasaskan pada sekolah itu sendiri dalam proses pengajaran ataupembelajaran. Gagasan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), dalam Bahasa Inggris School-Based Management pada dewasa ini menjadi perhatian para pengelolaanpendidikan, mulai dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, sampai dengantingkat Sekolah. Sebagaimana dimaklumi, gagasan ini semakin mengemukasetelah dikeluarkannya kebijakan desentralisasi pengelolaan pendidikan sepertidisyaratkan oleh UU Nomor 32 Tahun 2004. Produk hukum tersebutmengisyaratkan terjadinya pergeseran kewenangan dalam pengelolaan pendidikandan melahirkan wacana akuntabilitas pendidikan. Gagasan MBS perlu dipahamidengan baik oleh seluruh pihak yang berkepentingan (stakeholder) dalampenyelenggaraan pendidikan, khususnya Sekolah, karena implementasi MBStidak sekedar membawa perubahan dalam kewenangan akademik Sekolah dantatanan pengelolaan Sekolah, akan tetapi membawa perubahan pula dalam polakebijakan dan orientasi partisipasi orang tua dan masyarakat dalam pengelolaanSekolah. Mengemukakan MBS sebagai sistem pengelolaan persekolahan yangmemberikan kewenangan dan kekuasaan kepada institusi Sekolah untuk mengaturkehidupan sesuai dengan potensi, tuntutan dan kebutuhan Sekolah yang 15bersangkutan. Dalam MBS, Sekolah merupakan institusi yang memiliki fullauthority and responsibility untuk secara mandiri menetapkan program-program 15 Ibid., hal. 19
  39. 39. 24pendidikan (kurikulum) dan implikasinya terhadap berbagai kebijakan Sekolahsesuai dengan visi, misi, dan tujuan pendidikan yang hendak dicapai Sekolah. Dalam konteks manajemen pendidikan menurut MBS, berbeda darimanajemen pendidikan sebelumnya yang semua serba diatur dari pemerintahpusat. Sebaliknya, manajemen pendidikan model MBS ini berpusat pada sumberdaya yang ada di sekolah itu sendiri. Dengan demikian, akan terjadi perubahanparadigma manajemen sekolah, yaitu yang semula diatur oleh birokrasi di luarsekolah menuju pengelolaan yang berbasis pada potensi internal sekolah itusendiri. Dari asal usul peristilahan, MBS adalah terjemahan langsung dari School-Based Management (SBM). Istilah ini mula-mula muncul di Amerika Serikat padatahun 1970-an sebagai alternatif untuk mereformasi pengelolaan pendidikan atausekolah. Reformasi itu dapat diperlukan karena kinerja sekolah selama puluhantahun tidak dapat menunjukan peningkatan yang berarti dalam memenuhiituntutan perubahan lingkungan sekolah. Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. Sebagai bentuk alternatif Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan, maka otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumberdaya dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan di samping agar Sekolah lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat.
  40. 40. 25 Secara umum manajemen berbasis sekolah/Sekolah dapat diartikansebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepadasekolah dan mendorong pengambilan keputusan parsitipatif yang melibatkansecara langsung semua warga sekolah (guru, siswa, kepala sekolah, karyawan,orangtua siswa, dan masyarakat) untuk meningkatkan mutu sekolahberdasarkan kebijakan pendidikan nasional. Dengan otonomi yang lebih besar,maka sekolah memiliki kewenangan yang lebih besar dalam mengelolasekolahnya, sehingga sekolah lebih mandiri. Dengan kemandiriannya, sekolahlebih berdaya dalam mengembangkan program yang, tentu saja, lebih sesuaidengan kebutuhan dan potensi yang dimilikinya. Demikian juga, denganpengambilan keputusan partisipatif, yaitu pelibatan warga sekolah secaralangsung dalam pengambilan keputusan, maka rasa memiliki warga sekolahdapat meningkat. Peningkatan rasa memiliki ini akan menyebabkanpeningkatan rasa tanggungjawab, dan peningkatan rasa tanggungjawab,danpeningkatan rasa tanggungjawab akan meningkatkan dedikasi warga sekolahterhadap sekolahnya. Inilah esensi pengambilan keputusan partisipatif. Baikpeningkatan otonomi sekolah maupun pengambilan keputusan partisipatiftersebut kesemuanya ditujukan untuk meningkatkan mutu sekolah berdasarkankebijakan pendidikan nasional yang berlaku.
  41. 41. 26 2. Alasan dan Tujuan MBS di Indonesia yang menggunakan model Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS) muncul karena beberapa alasan sebagaimana diungkapkan oleh Nurkolis antara lain16 pertama, sekolah lebih mengetahi kekeuatan, kelemahan, peluang dan ancaman bagi dirinya sehingga sekolah dapat mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia untuk memajukan sekolahnya. Kedua, sekolah lebih mengetahui kebutuhannya. Ketiga, keterlibatan warga sekolah dan masyarakat dalam pengmabilan keputusan dapat menciptakan transparansi dan demokrasi yang sehat. Menurut bank dunia, terdapat beberapa alasan diterapkannya MBS antara lain alasan ekonomis, politis, professional, efisiensi administrasi, finansial, prestasi siswa, akuntabilitas, dan efektifitas sekolah. Tujuan penerapan MBS adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara umum baik itu menyangkut kualitas pembelajaran, kualitas kurikulum, kualitas sumber daya manusia baik guru maupun tenaga kependidikan lainnya, dan kualitas pelayanan pendidikan secara umum.17 Bagi sumber daya manusia, peningkatan kualitas bukan hanya meningkatnya pengetahuan dan ketrampilannya, melainkan meningkatkan kesejahteraanya pula. Keuntungan-keuntungan penerapan MBS sebagaimana dikutip dari hasil pertemuan The American Association of School Administration, The National 16 Nurkolis. 2003. Manajemen Berbasis Sekolah. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.hal. 21 17 Ibid. hal. 24
  42. 42. 27Association of Elementary School Principal, The National of Secondary SchoolPrincipal pada tahun 1998 adalah:18 Pertama, secara formal MBS dapatmemahami keahlian dan kemampuan orang-orang yang bekerja di sekolah.Kedua, meningkatkan moral guru. Ketiga, keputusan yang diambil sekolahmengalami akuntabilitas. Hal ini terjadi karena konstituen seklah mengalami andilyang cukup dalam setiap pengambilan kepurusan. Keempat, menyesuaikansumber keuangan terhadap tujuan instruksioanl yang dikembangkan di sekolah.Kelima, menstimulasi munculnya pemimpin baru di sekolah. Keputusan yangdiambil pada tingkat sekolah tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya peranseorang pemimpin. Keenam, meningkatkan kualitas, kuantitas, dan fleksibilitaskomunikasi tiap komunitas sekolah dalam rangka mencapai kebutuhan sekolah.3. Strategi Implementasi MBS MBS merupakan strategi peningkatan kualitas pendidikan melalui otoritas pengambilan keputusan dari pemerintah daerah ke sekolah. Dalam hal ini sekolah dipandang sebagai unit dasar pengembangan yang bergantung pada redistribusi otoritas pengambilan keputusan di dalamnya terkandung desentralisasi kewenangan yang diberikan kepada sekolah untuk membuat keputusan.19 Dengan demikian pada hakekatnya MBS merupakan desentralisasi kewenangan yang memandang Sekolah secara individual. Sebagai bentuk alternative Sekolah dalam program desentralisasi bidang pendidikan, maka 18 Ibid, hal. 25 19 Op.,Cit, hal.45
  43. 43. 28otonomi diberikan agar Sekolah dapat leluasa mengelola sumber daya denganmengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan disamping agar Sekolahlebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. Merupakan suatu model manajemen yang memberikan otonomi lebihbesar kepada Sekolah dan mendorong Sekolah untuk melakukan pengambilankeputusan secara partisipatif dalam memenuhi kebutuhan mutu Sekolah atauuntuk mencapai sasaran mutu Sekolah. Keputusan partisipatif yang dimaksudadalah cara pengambilan keputusan melalui penciptaan lingkungan yangterbuka dan demokratik, dimana warga Sekolah (guru, siswa, karyawan,orangtua siswa, tokoh masyarakat) didorong untuk terlibat langsung dalamproses pengambilan keputusan yang dapat berkonstribusi terhadap pencapaiantujuan Sekolah. MBS menyediakan layanan pendidikan yang komprehensif dantanggap terhadap kebutuhan masyarakat Sekolah setempat. Karena siswabiasanya datang dari berbagai latar belakang kesukuan dan tingkat sosial,salah satu perhatian Sekolah harus ditujukan pada asas pemerataan (peluangyang sama untuk memperoleh kesempatan dalam bidang sosial, ekonomi, danpolitik) Di lain pihak, Sekolah juga harus meningkatkan efisiensi, partisipasi,dan mutu serta bertanggung jawab kepada masyarakat dan pemerintah. Ciri-ciriMBS, bisa diketahui antara lain dari sudut sejauh mana Sekolah dapatmengoptimalkan kemampuan manajemen Sekolah, terutama dalampemberdayaan sumber daya yang ada menyangkut Sumber Daya Kepala
  44. 44. 29 Sekolah dan Guru, partisipasi masyarakat, pendapatan daerah dan orang tua, juga anggaran Sekolah sebagaimana terlihat pada tabel di bawah ini. Tabel 1. Kemampuan Manajemen Sekolah Kemampuan Kepala Sekolah Partisipasi Pemdapatan Anggaran Sekolah dan Guru Masyarakat Daerah dan Sekolah Orang Tua1. Sekolah Kepala Sekolah Partisipasi Pendapatan dae- Anggaran seko-dengan kemam- dan guru ber- masyarakat ting- rah dan orang tua lah di luar ang-puan manaje- kompetensi ting- gi (termasuk du- tinggi garan pemerintahmen tinggi gi (termasuk ke- kungan dana) besar pemimpinan2. Sekolah Kepala Sekolah Partisipasi Pendapatan dae- Anggaran seko-dengan kemam- dan guru ber- masyarakat se- rah dan orang tua lah di luar ang-puan manaje- kompetensi se- dang (termasuk sedang garan pemerintahmen sedang dang (termasuk dukungan dana) sedang kepemimpinan3. Sekolah Kepala Sekolah Partisipasi Pendapatan dae- Anggaran seko-dengan kemam- dan guru ber- masyarakat ku- rah dan orang tua lah di luar ang-puan manaje- kompetensi ren- rang (termasuk rendah garan pemerintahmen rendah dah (termasuk dukungan dana) kecil atau tidak kepemimpinan adaSumber : Tabel dari Sulaeman Hariadi dari makalah berjudul Manajemen Berbasis Sekolah dalam Kerangka Desentralisasi Pendidikan di Jakarta, Program S-2 UNJ Tahun 1999. Jurnal pendidikan UNJ Secara konsepsional Manajemen Berbasis Sekolah diharapkan membawa dampak terhadap peningkatan kerja Sekolah dalam hal mutu, efisiensi manajemen keuangan, pemerataan kesempatan, dan pencapaian tujuan politik (perkembangan iklim demokrasi) suatu bangsa lewat perubahan
  45. 45. 30kebijakan desentralisasi di berbagai aspek seperti politik, edukatif, administrasi,manajemen dan anggaran pendidikan. Konsekuensi penerapan manajemen berbasis Sekolah (MBS)menjadi tanggung jawab dan ditangani oleh Sekolah secara profesional.Aspek-aspek yang menjadi bidang garapan Sekolah meliputi:a. Perencanaan dan evaluasi program Sekolah,b. Pengelolaan kurikulum yang bersifat inklusif,c. Pengelolaan proses belajar mengajar,d. Pengelolaan ketenagaane. Pengelolaan perlengkapan dan peralatan,f. Pengelolaan keuangang. Pelayanan siswah. Hubungan Sekolah-masyarakati. Pengelolaan iklim Sekolah. Seperti telah dinyatakan di atas, konsep Manajemen Berbasis Sekolahdalam prakteknya menggambarkan sifat-sifat otonomi Sekolah, dan olehkarenanya sering pula disebut sebagai Site-Based Management, yang merujukpada perlunya memperhatikan kondisi dan potensi kelembagaan setempatdalam mengelola Sekolah. Makna "berbasis Sekolah" dalam konsep MBS samasekali tidak meninggalkan kebijakan-kebijakan startegis yang ditetapkan olehpemerintah pusat atau daerah otonomi. Misalnya, standar kompetensi siswa,standar materi pelajaran pokok, standar penguasaan minimum, standarpelayanan minimum, penetapan kalender pendidikan dan jumlah jam belajarefektif setiap tahun dan lain-lain (lihat UU No. 20/2003 Pasal 51 PP Nomor 25tahun 2000 yang telah diubah dengan PP Nomor 33 Tahun 2004 tentang
  46. 46. 31Kewenangan Pemerintah Pusat dan Kewenangan Propinsi sebagai DaerahOtonom). Menurut Buku pedoman MBS yang diterbitkan Ditjen KelembagaanAgama Islam, 2004. ada empat tahapan implementasi MBS, yaitu sosialisasi,piloting, pelaksanaan, dan diseminasi. Tahap sosialisasi merupakan tahappenting mengingat luasnya wilayah nusantara terutama daerah-daerah yang sulitdijangkau oleh media informasi, baik cetak maupun elektronik. Ini bahkanmenjadi lebih sulit, karena masyarakat Indonesia pada umumnya tidak mudahmenerima perubahan. Banyak perubahan, baik personal maupun organisasionalmemerlukan pengetahuan dan keterampilan baru. Dengan begitu masyarakatdapat beradaptasi lebih baik dengan lingkungan yang baru. Dalammengefektifkan pencapaian tujuan perubahan, diperlukan kejelasan tujuan dancara yang tepat, baik menyangkut aspek proses maupun pengembangan. Tahap piloting merupakan tahap uji coba agar penerapan konsepmanajemen berbasis Sekolah tidak mengandung resiko. Efektifitas model ujicoba memerlukan persyaratan dasar yaitu akseptabilitas, akuntabilitas,reflikabilitas dan substainabilitas. Akseptabilitas artinya adanya penerimaandari para tenaga kependidikan, khususnya guru dan kepala Sekolah sebagaipelaksana dan penanggungjawab pendidikan di Sekolah. Akuntabilitas artinyabahwa program MBS harus dapat dipertanggungjawabkan, baik secara konsepopersional maupun pendanaannya. Reflikabilitas artinya model MBS yangdiujicobakan dapat direflikasi di Sekolah lain sehingga perlakuan yang
  47. 47. 32diberikan kepada Sekolah uji coba dapat dilaksanakan di Sekolah lain.Sementara sustainabilitas artinya program tersebut dapat dijagakesinambungannya setelah dilakukan ujicoba. Tahap pelaksanaan merupakan tahap untuk melakukan berbagai diskusicurah pendapat dan lokakarya mini antara kelompok kerja MBS denganberbagai unsure terkait, yakni guru, kepala Sekolah, pengawas, tokoh agama,pengusaha dan para akademisi. Sedang tahap diseminasi merupakan tahapanmemasyarakatkan model MBS yang telah diujicobakan ke berbagai Sekolahbaik negeri maupun swasta, agar seluruh amdrasah dapat mengimplementasikanMBS secara efektif dan efisien sesuai dengan kondisi masing-masing. Kewenangan yang penuh dan luas bagi Sekolah untuk mengembangkanlembaga menjadi sebuah pendidikan yang mandiri maju dan mandiri sertabertanggungjawab terimplementasikan dalam bentuk manajemen yang berbasisSekolah. Kepala Sekolah perlu memiliki pengetahuan kepemimpinan,perencanaan dan pandangan yang luas tentang kependidikan. Wibawa KepalaSekolah harus ditumbuhkembangkan dengan meningkatkan sikap kepedulian,semangat belajar, disiplin kerja keteladanan dan hubungan manusiawi sebagaimodal perwujudan iklim kerja yang kondusif. Impelementasi MBS di Indonesia perlu didukung oleh perubahanmendasar dalam kebijakan pengelolaan Sekolah, dengan memperhatikan iklimlembaga yang kondusif, otonomi Sekolah, kewajiban Sekolah,kepemimpinankepala Sekolah yang demokratis dan professional, serta partisipasi masyarakatdan orangtua peserta didik dalam perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan,pengawasan pendidikan di Sekolah.
  48. 48. 33 4. Komponen MBS Pusat Penelitian dan Pengembangan Pendidikan Agama dan Keagamaan Depag RI lebih mendapatkan kata kunci diberlakukannya MBS, yaitu terletak pada empat komponen :20 a. Pelimpahan dan Pembagian Wewenang Desentralisasi kewenangan dilakukan dengan cara pelimpahan wewenang kepada aktor tingkat Sekolah (kepala Sekolah, guru, dan oran tua) untuk mengambil keputusan. Untuk mengoperasikan pelimpahan wewenang tersebut dibutuhkan adanya pembagian kewenangan yang jelas antara dewan Sekolah, pemerintah maupun para pelaksana pendidikan di Sekolah. Dewan Sekolah yang anggotanya terdiri dari kepala Sekolah, tokoh masyarakat, tokoh pemerintah, orang tua, guru dan murid diberi kewenangan untuk membuat kebijakan, aturan-aturan dan menyetujui program Sekolah yang dilaksanakan. Pemerintah memiliki kewenangan untuk menyiapkan anggaran (block grant quota), menetapkan kurikulum nasional serta menyelenggarakan Unas untuk sertifikasi lanjutan studi dan bekerja. b. Informasi Dua Arah dan Tanggung Jawab Untuk Kemajuan Informasi bersifat dua arah, yaitu top down (dari atas ke bawah) dan botom up (dari bawah ke atas) yang berisi tentang ide, isu-isu dan gagasan 20 Depad RI.2001.Perencanaan Pendidikan Menuju Madrasah Mandiri, Jakrta : Balitbang,hal.32-34
  49. 49. 34 pelaksanaan pelaksanaan tugas serta kinerja, produktivitas sikap pegawai. Informasi yang dua arah akan memungkinkan terjadinya proses komunikasi yang dialogis dan efektif sehingga semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan dapat berbagi informasi dalam upaya pengambilan keputusan atau perbaikan-perbaikan penyelenggaraan pendidika. Selain itu, desentralisasi informasi juga bermanfaat untuk menguatkan rasa pemilikan dan tanggung jawab bersama untuk memajukan Sekolah atau pendidikan.c. Bentuk dan Distribusi Penghargaan Penghargaan dalaam bentuk penggajian, insentif maupun penghargaan non material dalam bentuk internal (produk kerja, kepuasan kerja) maupun bentuk penghargaan eksternal (pujian, uang, dan penghargaan lainnya) akan terdistribusikan secara tepat terhadap individu- individu sesuai dengan kontribusi, partisipasi dan tingkat keberhasilannya di dalam pelaksanaan tugas yang diembannya. Kondisi seperti itu akan memungkinkan setiap pegawai untuk merasa bangga terhadap tugas yang diembannya, mendorong untuk berpartisipasi/bekerja sepenuhnya serta akan bertanggung jawab terhadap segala keputusan dan tindakan yang dilakukannya.d. Penetapan Standar Pengetahuan dan Keterampilan Desentralisasi pengetahuan dan keterampilan berkaitan erat dengan pentapan standar kompetensi yang variatif sesuai dengan tuntutan yang ada
  50. 50. 35 serta memberikan peluang kepada pihak-pihak pelaksana pendidikan untuk senantiasa meningkatkan kompetensinya secara mandiri dengan penuh kesadaran dan bertanggung jawab terhadap kinerja yang dihasilkannya. Kondisi tersebut diharapkan akan menghilangkan sikap saling melemparkan tanggung jawab atas hasil pendidikan.5. Faktor Pendukung Keberhasilan Implementasi MBS Dalam buku Pedoman Manajemen Berbasis Sekolah dikaitkan bahwa keberhasilan pelaksanaan MBS sangat dipengaruhi oleh berbagai fakta,baik faktor internal maupun eksternal. Beberapa faktor pendukung tersebut pada garis besarnya mencakup sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan, gerakan peningkatan kualitas pendidikan dan gotongroyong kekeluargaan, potensi sumber daya manusia, organisasi formal dan internal, organisasi profesi serta dukungan dunia usaha dan dunia industri. a. Sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan Pemerintah dan seluruh stake halder pendidikan perlu terus melakukan sosialisasi peningkatan kualitas pendidikan di berbagai wilayah kerjanya, baik dalam pertemuan-pertemuan resmi maupun melalui orientasi dan workshop. b. Gerakan Peningkatan Kualitas Pendidikan Yang Dicanangkan Pemerintah Upaya meningkatkan kualitas pendidikan terus menerus dilakukan, baik secara konvensional maupun movatif. Hal tersebut lebih terfokus lagi
  51. 51. 36 setelah diamanatkan dalam Undang-undang Sisdiknas bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa melalui peningkatan kualitas pendidikan kepada setiap jenis dan jenjang pendidikan Pemerintah, dalam hal ini Menteri Pendidikan Nasional telah mencanangkan “Gerakan Peningkatan Mutu Pendidikan “ pada tanggal 2 Mei 2002 c. Gotong Royong Dalam Kekeluargaan Gotongroyong dan kekeluagaan dapat menghasilkan dampak positif (synergistyc effect) dalam berbagai aktifitas. Gotongroyong dan kekeluargaan yang membudaya dalam kehidupan masyarakat Indonesia masih dapat dikembangkan dalam mewujudkan Kepala Sekolah yang profesional, menuju terwujudnya visi pendidikan menjadi aksi nyata di Sekolah. Kondisi ini dapat ditumbuhkembangkan melalui jalinan kerjasama dan keeratan hubungan dengan msyarakat dan dunia kerja, terutama yang berada di lingkungan Sekolah.d. Potensi Kepala Sekolah. Kepala Sekolah memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan secara optimal. Setiap kepala Sekolah harus memiliki perhatian yang cukup tinggi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Sekolah. Perhatian tersebut harus ditunjukan dalam keamanan dan kemampuan untuk mengembangkan diri dan Sekolahnya secara optimal.e. Organisasi Formal dan Optimal
  52. 52. 37 Pada sebagian besar lingkungan pendidikan Sekolah di berbagai wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke umumnya telah memiliki organisasi formal terutama yang berhubungan dengan profesi pendidikan seperti Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (Pokjamas), Kelompok Kerja Sekolah (KKM), Musyawarah Kepala Sekolah (MKM), Dewan Pendidikan, dan Komite Sekolah. Organisasi-organisasi tersebut sangat mendukung MBS untuk melakukan berbagai terobosan dalam peningkatan kualitas pendidikan diwilayah kerjanya. f. Organisasi Profesi Organisasi profesi pendidikan sebagai wadah untuk membantu pemerintah dalam meningkatkan kualitas pendidikan seperti Pokjawas, KKM, Kelompok Kerja guru (KKG), Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Forum Peduli Guru (FPG), dan ISPI (Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia) sudah terbentuk hampir diseluruh Indonesia, dan telah menyentuh berbagai kecamatan. Organisasi profesi tersebut sangant mendukung implementasi MBS dalam peningkatan kinerja dan prestasi belajar peserta didik menuju peningkatan kualitas pendidikan nasionalg. Harapan Terhadap Kualitas Pendidikan MBS sebagai paradigma baru manajemen pendidikan mempunyai harapan yang tinggi untuk meningkatkan kualitas pendidikan, serta komitmen dan motivasi yang kuat untuk meningkatakan mutu
  53. 53. 38 Sekolah secara optimal. Tenaga kependidikan memiliki komitmen dan harapan yang tinggi bahwa peserta didik dapat mencapai prestasi yang optimal meskipun dengan segala keterbatasan sumber daya pendidikan yang ada di Sekolah. Dalam pada itu, peserta didik juga termotivasi untuk secara sadar meningkatkan diri dalam mencapai prestasi sesuai bakat dan kemampuan yang dimiliki. Harapan tinggi dari berbagai dimensi Sekolah merupakan faktor dominan yang menyebabkan Sekolah selalu dinamis untuk melakukan perbaikan secara berkelanjutan (continous quality improvement).h. Input Manajemen Paradigma baru manajemen pendidikan perlu ditunjang oleh input manajemen yang memadai dalam menjalankan roda Sekolah dan mengelola Sekolah secara efektif. Input manajemen yang telah dimiliki seperti tugas yang jelas, rencana yang rinci dan sistematis, program yang mendukung implementasi, ketentuan-ketentuan (aturan main) yang jelas dari warga Sekolah dalam bertindak, serta adanya sistem pengendalian mutu yang handal untuk meyakinkan bahwa tujuan yang telah dirumuskan dapat diwujudkan di Sekolah. Pada buku pedoman implementasi manajemen berbasis Sekolah yangditerbitkan oleh Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Jakarta, 2002.
  54. 54. 39bahwa faktor pendukung keberhasilan MBS terdiri dari :21a. Kepenmimpinan dan manajemen Sekolah yang baik. MBS akan jika ditopang oleh kemampuan professional Kepala Sekolah dalam memimpin dan mengelola Sekolah secara tepat dan akurat, serta mampu menciptakan iklim organisasi di Sekolah yang mendukung terjadinya proses belajar mengajar.b. Keadaan social ekonomi dan penghayatan masyarakat terhadap pendidikan, factor luar yang akan turut menentukan keberhasilan MBS adalah keadaan tingkat pendidikan orangtua siswa dan masyarakat. Kemampuan dalam membiayai pendidikan, serta tingkat penghayatan, harapan dan pelibatan diri dalam mendorong anak untuk terus belajar.c. Dukungan pemerintah, hal yang sangat menentukan tingkat keberhasilan penerapan MBS terutama bagi Sekolah yang kemampuan orang tua/masyarakatnya relatif belum siap memberikan perannya terhadap penyelenggaraan pendidikan. Alokasi dana pemerintah dan pemberian kewenangan dalam pengelolaan Sekolah menjadi penentu keberhasilan.d. Profesionalisme, faktor ini sangat strategis dalam upaya menentukan mutu dan hasil kerja Sekolah. Tanpa profesionalisme kepala Sekolah, guru dan pengawas akan sulit dicapai MBS yang bermutu tinggi serta prestasi siswa yang tinggi pula.21 Ibid.,hal. .45
  55. 55. 40 BAB III METODOLOGI PENELITIANA. Desain dan Jenis Penelitian Desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian deskriptif yaitupenelitian yang menggambarkan keadaan sebenarnya dari fenomena objek yangditeliti dikomparasikan dengan teori yang ada. Penelitian ini merupakan penelitiankualitatif. Dalam menganalisis data menggunakan model strategi analisis deskriptifanalitik.B. Kegunaan Penelitian Dengan dilakukannya penelitian ini penulis terhadap buku: 1. Dari perspektif akademis, penelitian ini akan mengambil literatur gaya kepemimpinan dan MBS. 2. Dilihat dari segi praktis hasil penelitian ini dapat digunakan untuk menjadi pedoman bagi para kepala sekolah. 3. sebagai salah satu solusi alternatuf terhadap permasalahan kualitas pendidikan.C. Langkah-langkah Penelitian 1. Persiapan a. Penyusunan Proposal.
  56. 56. 41 b. Pengurusan Izin Penelitian. c. Pemilahan Informasi Penelitian. d. Penyusunan Jadwal Pelaksanaan Kegiatan. e. Pengembangan Pedoman Pengumpulan Data.2. Pengumpulan Data a. Pengumpulan data dilokasi penelitian dengan menggunakan observasi wawancara, quesioner, dan analisis dokumen. b. Mempelajari dan memahami data yang telah terkumpul . c. Pengumpulan data lebih lanjut agar lebih fokus.3. Menganalisis Data a. Melakukan analisis awal apabila data yang terkumpul telah memadai. b. Mengembangkan reduksi data temuan. c. Melakukan analisis data temuan. d. Mengadakan pengayaan dan pendalaman data. e. Merumuskan kesimpulan akhir. f. Mempersiapkan penyusunan laporan penelitian dan menguji keabsahan data.4. Penyusunan Laporan Penelitian a. Penyusunan laporan awal. b. Perbaikan laporan serta menyusun laporan akhir penelitian. c. Memperbanyak laporan
  57. 57. 42D. Proses Pencatatan dan Pengambilan Data 1. Macam-macam Data a. Data Primer Data primer adalah data yang dikumpulkan dari tangan pertama. Data ini berkaitan langsung dengan informan. Misal wawancara dengan kepsek, guru,dan siswa. b. Data Sekunder Data sekunder adalah adata yang diperoleh suatu organisasi atau perorangan dari pihak lain yang telah mengumpulkan dan dan mengalihnya, seperti dokumen foto, Cd, disket, buku dan lain-lain. 2. Sampel Penelitian Berhubung pelaksanaan wawancara mendalam pada penelitian kualitatif memakai waktu yang lama, maka jumlah sample yang dipakai dalam penelitian biasanya sangat terbatas.1 Untuk mendapatkan informan kunci yang tepat sesuai dengan fokus penelitian, maka informan diambil berdasarkan perposive sampling (pengambilan sampel sesuai kebutuhan). Sumber informasi dalam penelitian diambil baik dari data primer maupun sekunder. Sumber Informasi Kunci (Key Informan), yaitu Kepala sekolah dan Sumber Informasi Penunjang (Supportive Informan ), yang terdiri dari guru, komite sekolah, dengan perincian: I orang Kepala Sekolah, I orang guru dan I orang TU serta I orang Komite sekolah.1 Sandjaja.dan Herianto Panduan Penelitian (prestasi pustaka,2006), hal. 55
  58. 58. 433. Metode Pengumpulan Data Adapun metode pengumpulan data yang digunakan sebagai berikut: a. Studi Kepustakaan Studi kepustakaan dilakukan untuk membaca naskah dalam bentuk buku, majalah atau tulisan-tulisan lainnya yang diterbitkan secara umum yang berkenaan dengan penelitian gaya kepemimpinan dan penerapan manajemen. b. Wawancara Penelitian ini menggunakan pedoman wawancara (interview guide) berupa daftar pokok-pokok pertanyaan yang harus tercakup oleh pewawancara selama wawancara berlangsung. Diperlukan fleksibilitas yang luas berkenaan dengan sikap, susunan dan bahasa pada saat pewawancara melakukan tugasnya. Pedoman wawancara terbagi menjadi dua model yaitu, model pertama atau model A ditujukkan kepada key informan, yaitu Kepala Sekolah dan Model B ditujukan kepada informan penunjang yaitu guru, siswa dan komite sekolah. Wawancara sebagai proses interaksi antara peneliti dengan informan mempunyai peranan penting dalam penelitian kualitatif. Oleh sebab itu, teknik wawancara yang dilakukan tidak dengan suatu struktur yang ketat, melainkan secara longgar, dengan mengajukan pertanyaan- pertanyaan yang bersifat terbuka sehingga dapat diperoleh informasi yang lengkap dan mendalam. Kelonggaran ini senantiasa memberi kesempatan kepada informan untuk dapat memberikan jawaban secara bebas dan jujur.
  59. 59. 44 Menurut Patton, wawancara semacam ini dapat pula disebut sebagai in- dept interviewing atau menurut Mc Crachen disebut the long interview.2 Dengan teknik wawancara ini akan mendorong terciptanya hubungan baik anatara peneliti dengan informan sehingga sangat membantu dalam upaya memperoleh informasi. Tujuan wawancara adalah untuk mendapatkan informasi mengenai kapan Sekolah berdiri dengan sejarah yang melatarbelakanginya, visi dan misi, komitmen guru, persiapan guru dalam kesan anak-anak di SMAN Gunung Sindur, dan berbagai hal yang berkaitan dengan fokus penelitian. c. Pengamatan (Observasi) Observasi adalah metode pengumpulan data dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki Menurut Moleong, secara metodologis manfaat penggunaan pengamatan ini adalah: “Pengamatan mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perhatian, perilaku tak sadar, kebiasaan dan sebagainya; pengamatan memungkinkan pengamat untuk melihat dunia sebagaimana dilihat oleh subyek penelitian, menangkap keadaan waktu itu; pengamatan memungkinkan peneliti merasakan apa yang dirasakan dan dihayati oleh subyek sehingga memungkinkan pula sebagai peneliti sebagai sumber2 Moleong. Dan Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung:Pustaka, 1993), hal. 124
  60. 60. 45 data; pengamatan memungkinkan pembentukan pengetahuan yang diketahui bersama, baik dari pihaknya maupun dari pihak subyek.” bservasi ini dilakukan baik secara partisipan maupun non partisipan, yaitu dengan cara peneliti ikut secara langsung dalam setiap proses kegiatan sekolah maupun hanya mengamati setiap kegiatan anak-anak dan guru serta sarana yang digunakan dalam setiap kegiatan persekolahan. Adapun tujuan observasi untuk memperoleh data mengenai penerapan metode active learning dalam proses belajar mengajar, aktivitas siswa, guru, sarana, dan prasarana, penataan ruang kelas, dan kegiatan ekstra kurikuler. Pengamatan dilakukan dalam seluruh aktivitas Sekolah, baik berkaitan dengan pelaksanaan program manajemen sekolah menangkut administrasi, kelembagaan, sarana prasarana, ketenagaan, pembiayaan, peserta didik, peran serta masyarakat dan budaya sekolah maupun menyangkut manajemen pembelajaran.E. Analisis Data Moleong mengemukakan dalam proses analisis data dimulai dengan menelaahseluruh data yang tersedia dari berbagai sumber , yaitu wawancara, pengamatan,dokumentasi sebagai berikut. Setelah itu mengadakan reduksi data yang dilakukan
  61. 61. 46 dengan membuat abstraksi yaitu usaha membuat rangkuman, kemudian menyusunnya dalam satuan-satuan sambil membuat koding atau pengelolaan data. 3 Dalam proses analisis data penelitian kualitatif terdapat 3 komponen penting, yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Modul analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis interaktif, yaitu analisis yang dilakukan dalam bentuk interaktif dari ketiga komponen. Peneliti menggunakan analisis interaktif dengan alasan karena dalam penelitian kualitatif menggunakan proses siklus, yaitu pada waktu pengumpulan data peneliti selalu membuat reduksi data dan sajian data, kemudian data tersebut dikumpulkan berupa field notes/catatan dilapangan yang terdiri dari berbagai deskripsi dan refleksi. Kemudian peneliti menyusun peristiwa tersebut reduksi data dan diteruskan dengan penyusunan sajian data yaitu berupa cerita sistematis yang didukung dengan perabot seperti , printer dan dokumen yang lainnya. TABEL 2 KISI-KISI INSTRUMEN PENELITIANNo Variabel Jenis Instrumen Indikator Responden Keterangan1. Gaya a. Wawancara 1. Kurikukum dan - Kepala SMA. Dilengkapi Kepemimpinan b.Pengamatan Pembelajaran - Guru Hasil Kepala 2. Pembiayaan dan - Komite Pengamatan dan Sekolah ( X ) Pendanaan Sekolah 3. Peserta Didik - TU 3 Ibid, hal. 193
  62. 62. 47 4. Peran serta Masyarakat 1. Administrasi dan Manajemen 2. Organisasi dan Dilengkapi Kelembagaan - Kepala SMA. Hasil 3. Sarana dan Prasarana - Guru Wawancara dan 4. Ketenagaan - Komite Sekolah 1. Pelimpahan dan - TU Pembagian Berdasarkan Wawanang Skala Likert 2. Informasi Dua Arah dan Tanggung Jawab - Kepala SMA. Untuk Kemajuan - Guru 3. Bentuk dan - Komite Distribusi Sekolah Penghargaan - Tu 4. Penetapan Standar Pengetahuan dan Keterampilan2. Penerapan 1. ProfilSekolah - Kepala SMA. Di Dukung oleh MBS (Variabel .Pengamatan 2. Rendana dan - Guru data pengamatan ( Y) Program MBS - Komite 3. Jadual Kegiatan Sekolah 4. Anggaran,
  63. 63. 48 Pendapatan dan Belanja Program5. Penanggung Jawab1) Kemampuan Didukung oleh Mengembangkan Data Program Pengamatan2) Menegakkan Disiplin3) Meningkatkan Kesejahteraan4) Berkomunikasi dengan bawahan
  64. 64. 49 BAB IV HASIL PENELITIAN Dalam bab ini akan ditampilkan data dari pembahasan menyangkut variabel-variabel penelitian sebagai tindak lanjut dari hasil pengumpulan data dengan instrumen wawancara dan observasi. Setelah melakukan penelitian langsung terhadap sasaran penelitian yang telah ditetapkan dalam batasan dan rumusan masalah, sesauai prosedur metode penelitian yang telah ditetapkan.A. KONDISI OBYEKTIF SMA NEGERI GUNUNG SINDUR 1. Gambaran Umum SMA Negeri I Gunung Sindur Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai pihak antara lain dengan Kepala sekolah, guru-guru dan komponen sekolah lainnya serta hasil studi dokumentasi diperoleh gambaran umum Sekolah sebagai berikut: a. Sekolah Menengah Atas Negeri I (SMAN I) Gunung Sindur adalah sekolah Negeri I berstatus terakreditasi B, yang melaksanakan pengelolaan berdasarkan program kerja yang dituangkan dalam Renstra yang ditetapkan melalui rapat kerja tahunan atau musyawarah dengan melibatkan semua komponen sekolah seperti Kepala sekolah, guru-guru/staf, orangtua siswa, komite sekolah dan pihak-pihak lainnya yang terkait seperti pengawas dan Kantor Dinas Pendidikan kabupaten.11 Profile Sekolah SMA Negeri I Gunung Sindur Bogor

×