SlideShare a Scribd company logo
URGENSI DASAR, DASAR, DAN SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU
TASAWUF
MAKALAH
Disusun oleh :
Kelompok 3
1. Adam Abiazzi Saali
2. Dewi Rahmawati
3. Farah Dila Syifa
4. Thufailah Mujahidah
Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran
Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Jakarta
2019
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kehidupan modern dilingkupi oleh berbagai aktifitas guna memenuhi apa yang
diperlukan oleh setiap insan, mulai dari bekerja, belajar, dan aktivitas lainnya untuk
meningkatkan potensi dan aktualisasi diri. Sejak matahari terbit sampai dengan terbenam,
kita membuat perencanaan akan apa yang kita lakukan dalam sehari. Ini dilakukan agar
waktu yang terlewati tidak menjadi sia-sia. Sebagai muslim, kita juga melaksanakan
ibadah harian seperti sholat, membaca Al-Qur’an, dan lainnya. Ibadah tersebut dilakukan
sebagai wujud kewajiban kita untuk mengabdi dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa,
Allah SWT.
Manusia memiliki kecenderungan untuk meraih dunia, akhirat, ataupun dunia dan
akhirat. Ketika manusia tersebut hanya ingin meraih dunia, maka dia akan cenderung
melupakan agamanya. Agama yang dianut seseorang adalah untuk mengatur bagaimana
seseorang menjalani kehidupan. Sebagai contoh, ketika seseorang itu adalah muslim,
maka Al-Qur’an akan dijadikan pedoman dalam kehidupan. Sebagai muslim, pada
akhirnya apa yang kita lakukan di dunia ini yang berguna hanyalah amal ibadah. Segala
harta benda yang telah kita kumpulkan tidak akan kita bawa ke alam kubur.
Penyeimbangan antara dunia dan akhirat perlu dilakukan agar tidak terjadi ketimpangan
sehingga kita melupakan agama kita, terlebih Tuhan kita, Allah SWT.
Dalam makalah ini, penulis membahas tentang tasawuf yang didefinisikan sebagai
upaya memahami hakikat Allah seraya melupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan
kesenangan hidup duniawi. Definisi lain mengatakan bahwa tasawuf adalah usaha mengisi
hati dengan hanya mengingat kepada Allah, yang merupakan landasan lahirnya ajaran al-
hubb atau cinta ilahi. Esensi tasawuf sebagai pengalaman rohaniah yang hampir tidak
mungkin dijelaskan secara tepat melalui bahasa lisan. Masing-masing orang yang
mengalaminya mempunyai penghayatan yang berbeda dari orang lain sehingga
pengungkapannya juga melalui cara yang berbeda. Tasawuf yang merupakan satu disiplin
ilmu yang tumbuh dari pengalaman spiritual yang mengacu pada kehidupan moralitas yang
bersumber dari nilai-nilai Islam.
1.2. Urgensi Tema
Dalam makalah yang bertemakan urgensi dasar, dasar, dan sejarah ilmu tasawuf,
penulis melihat adanya kepentingan dalam tema ini. Pengenalan dan pembelajaran
mengenai tasawuf sebaiknya dilakukan oleh umat Islam sebagai sarana untuk mendekatkan
diri kepada Allah SWT dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Inti dari tasawuf adalah
akhlak yang terpuji sebagaimana tujuan utama Rasulullah SAW diutus ke dunia untuk
memperbaiki akhlah manusia menjadi akhlak yang mulia. Seseorang yang mengamalkan
tasawuf secara otomatis menjaga sikap dan tingkah laku agar selaras dengan apa yang
diperintahkan oleh Allah SWT. Arus kehidupan modern yang terkadang membuat manusia
larut akan kehidupan fana ini sebaiknya diimbangi dengan semangat mencintai Allah SWT
dalam rangka memberikan ketenangan jiwa yang dapat dipelajari dalam ilmu tasawuf.
Salah satu cara mengenal tasawuf adalah dengan mengetahui urgensi dasar, dasar, dan
sejarah ilmu tasawuf yang akan dibahas dalam makalah ini.
1.3. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
a. Mengetahui dasar-dasar ilmu tasawuf dalam Al-Qur’an
b. Mengetahui sejarah pertumbuhan dan perkembangan tasawuf
c. Mengetahui sejarah perkembangan tasawuf di Indonesia
d. Mengetahui manfaat ilmu tasawuf dalam kehidupan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Dasar-Dasar Ilmu Tasawuf dalam Al-Qur’an
Tedapat empat segi manfaat tasawuf dalam Al-Qur’an yang menjadi sumber dan
dasar dari tasawuf serta amalannya:1
1. Pertama, Al-Qur’an penuh dengan gambaran kehidupan tasawuf dan merangsang
untuk hidup secara sufi.
2. Kedua,, Al-Qur’an merupakan sumber dari konsep-konsep yang berkembang dalam
dunia tasawuf.
3. Ketiga, Al-Qur’an banyak sekali berbicara dengan hati dan perasaan. Di sini, Al-
Qur’an banyak membentuk, mempengaruhi atau mengubah manusia dengan bahasa
hati, bahasa sufi, agar menjadi manusia yang berkepribadian sufi yang menyatu
dalam dirinya secara harmonis, perasaan dekat, takut, dan cinta pada Tuhan yang
bergetar hatinya saat mendengar ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan demikian, Al-Qur’an
menjadi sumber yang sebenarnya dari metode tarekat.
4. Keempat, Al-Qur’an sering menggambarkan Tuhan.
Di samping itu, tasawuf juga terdapat (mengandung) aspek-aspek mudarat. Dari segi
mudarat ialah karena ada kalangan yang membawa orang menjadi sesat atau musyrik, ada
pula kalangan yang membawa orang menjadi apatis, mengasingkan diri dari pergaulan
masyarakat ramai (tidak peduli dengan lingkungan) dan secara mutlak memandang dunia
ini sebagai tempat kotoran dan merusakkan, padahal ini merupakan tempat beramal,
bekerja dan berjuang untuk kebahagiaan umat manusia di dunia dan di akhirat.
Dalam literatur barat, sufisme (tasawuf) masih sering diartikan sama dengan mystism
(mistik), yang sekarang sudah memiliki konotasi lain, dan dalam beberapa hal di Indonesia
sudah punya arti tersendiri pula, dan biasanya disamakan dengan kebatinan, sudah berbau
jimat, dukun dan sebagainya. Bahkan ada yang menyamakan dengan syirik. Agaknya
istilah sufism yang sering dipakai dalam literatur bahasa inggris sudah memberi arti adanya
perbedaan itu. Terkadang justru diberi tambahan, misalnya Nicholson dengan kata
1 Badrudin, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Serang: Penerbit A-Empat, 2015)
Mystical Sufism. Lihat Edit H. Endang Syaifudin Anshari, karya Ali Audah, dari Khazanah
Dunia Islam (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), cet. I. h. 164, 169, dan 195. Dengan
gambaran yang hanya mampu didekati secara tepat melalui tasawuf. Bila gambaran itu
hanya dapat didekati atau diterangkan dengan ilmu kalam atau filsafat akan tampak sebagai
pemerkosa dan artinya menjadi dangkal.
Pada hakikatnya, seorang ahli tasawuf Islami itu akan tunduk pada agamanya,
melaksanakan ibadat-ibadat yang diperintahkan, iman itu diyakininya dalam hati,
menghadap selalu pada Allah memikirkan selalu sifat dan tanda-tanda kekuasaan Allah.
Imam Shal Tusturi seorang ahli tasawuf telah mengemukakan tentang prinsip tasawuf ada
enam macam2, yaitu :
1. Bepedoman pada kitab Allah (Al-Qur’an)
2. Mengikuti sunnah Rasulullah (Al-Hadits)
3. Makan makanan yang halal
4. Tidak menyakiti manusia (termasuk binatang)
5. Menjauhkan diri dari dosa
6. Melaksanakan ketetapan hukum (yaitu segala peraturan agama Islam)
Pandangan Imam Sya’rani tentang tasawuf :
1. Jalan kepada Allah itu harus dimengerti dahulu tentang ilmu syari’at
2. Diketahuiinya ilmu tersebut baik yang khusus maupun yang umum
3. Memiliki keahlian dalam bidang bahasa Arab
4. Setiap ahli tasawuf haruslah sebagai seorang ahli fiqh
5. Jika ada seorang wali yang menyalahi pandangan Rasulullah maka dia tidak boleh
diikuti.
Tasawuf telah mengajak kepada akhlak yang utama yang dianjurkan dalam Islam.
Akhlak yang mulia itu dijadikan sebagai landasannya, menyucikan jiwanya dengan cara
berhias diri dengan keutamaan akhlaknya yang berupa tawadhu’ (yaitu rendah hati),
meninggalkan diri dari akhlak yang tercela, memberikan kemudahan dan lemah lembut,
kemuliaan dirinya diikuti dengan sifat qona’ah (merelakan diri), menjauhkan diri dari
perkara yang berat, perdebatan maupun kemarahan. Lambangnya adalah Al-Qur’an.
2 Badrudin, PengantarIlmu Tasawuf, (Serang: Penerbit A-Empat, 2015)
Hidup sufi menurut Al-Qur’an bersifat seimbang dan harmonis, hidup untuk akhirat
tidak melupakan dunia tapi tidak tenggelam di dalamnya. Secara umum oleh Al-Qur’an
ditegaskan bahwa orang yang mengikuti hawa nafsu sama dengan menjadikan nafsunya
sebagai Tuhan yang membuat seluruh pendengaran, penghlihatan, dan hatinya tertutup dari
kebenaran (QS. 45:23, 28:60, 3:185)
Tuhan mengatakan bahwa Ia dekat dengan manusia dan mengabulkan permintaan
setiap hamba-Nya. Oleh kaum sufi da’a di sini diartikan berseru, yaitu Tuhan mengabulkan
seruan orang yang ingin dekat pada-Nya. Tuhan ada di dalam, bukan di luar diri manusia.
Tuhan dan manusia sebenarnya satu, perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. Untuk
mengenal Tuhan manusia cukup mengenali dirinya dan coba mengetahui dirinya. Terlepas
dari kemungkinan adanya atau tidak adanya pengaruh dari luar, penjelasan yang bersumber
dari dalil-dalil tersebut membawa kepada timbulnya aliran sufi dalam Islam, yaitu jika
yang dimaksud dengan sufisme adalah ajaran-ajaran tentang sedekat mungkin dengan
Tuhan.
Amaliah tasawuf yang dipandang paling penting adalah dzikir. Al-Qur’an juga
menempatkan dzikir dan orang-orang yang suka dzikir saat dan setiap keadaan sambil
berdiri, duduk, dan sambil berbaring di samping merenungi penciptaan langit dan bumi
dalam kedudukan istimewa adalah orang yang mempunyai pengetahuan dan kesadaran
mendalam (Ulil Albab). Dzikir merupakan konsep sentral dalam ibadah menurut tasawuf
dan dalam beribadah menurut Al-Qur’an. Itulah sebabnya Allah juga memerintahkan
manusia untuk dzikir sebanyak-banyaknya.
Konsep lain dari tasawuf yang berasal dari Al-Qur’an adalah al-shabr (sabar). Esensi
sabar dalam Al-Qur’an menunjukkan sifat daya tahan atau kemampuan jiwa untuk
memikul tekanan beban penderitan, kesulitan, atau perjuangan dengan perasaan tegar dan
kuat. Oleh karena itu, konsep sabar menjadi bagian yang sangat penting dan begitu akrab
dengan kehidupan tasawuf. Sifat sabar dipuji Al-Qur’an sebagai sifat para Rasul. Salah
satu orang yang dicintai Allah adalah orang yang bersabar. Bahkan Al-Qur’an menyatakan
adanya kebersamaan Allah dengan orang-orang bersabar. Oleh sebab itu, sabar memiliki
kedudukan yang sejajar dengan kebenaran.3
Konsep sufi yang penting berikutnya adalah masalah ridha dan tawakkal. Dalam
tasawuf penekanan menggunakan kata ridha adalah ridha hamba pada Tuhan, sedangkan
3 Badrudin, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Serang: Penerbit A-Empat, 2015)
Al-Qur’an menyebutkan hal itu secara timbal balik. Konsep tasawuf mengenai tawakkal ini
banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Menurut Imam Al-Qusyairi bahwa tempat tawakkal
adalah hati, sedangkan gerakan lahiriah tidak menanggalkan tawakkal dalam hati manakala
si hamba telah yakin bahwa takdir datang dari Allah, hingga jika suatu saat mendapat
kesulitan maka ia akan melihat takdir di dalamnya, dan jika sesuatu dimudahkan
kepadanya maka ia melihat kemudahan dari Allah SWT di dalamnya.
Tentang hakekat, Ibnu ‘Atha mengungkapkan, “Tawakkal adalah, hendaknya hasrat
yang menggebu-gebu terhadap perkara duniawi tidak muncul dalam dirimu, meskipun
engkau sangat membutuhkannya, dan hendaknya engkau bersikap qona’ah dengan Allah
meskipun engkau tergantung kepada kebutuhan-kebutuhan duniawi itu.” Di samping itu,
Al-Qur’an juga menjadi sumber dari konsep-konsep al-madzaqat dalam tasawuf. Konsep
ini berkaitan dengan rasa yang amat dalam dari pengalaman keagamaan sufi seperti Al-
Hubb yang menggambarkan cinta yang amat dalam pada Tuhan yang membuat sufi
tersebut mabuk dan mendapat balasan cinta dari Tuhan bukanlah barang bid’ah tetapi dan
dipuji Al-Qur’an.
Cinta sebagai salah satu ideal manusia yang menuntut manusia agar mencintai Tuhan
sebagai pengejawantahan sempurna dari semua moral yang lebih penting dari segala
sesuatu yang lain. Sebagai bentuk perintah Allah, agar manusia berlaku baik dan mencintai
kedua orang tua. Kewajiban mencintai itu diperluas lagi hingga meliputi kerabat, anak-
anak yatim, orang-orang yang membutuhkan, tetangga yang dekat dan jauh, dan para
musafir.
2.2. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Tasawuf
Term tasawuf dikenal secara luas di kawasan Islam sejak penghujung abad 2
hijriah, sebagai perkembangan lanjut dari kesalehan asketis atau para zahid yang
mengelompok di serambi Masjid Madinah.4 Dalam perjalanan kehidupan kelompok ini
lebih mengkhususkan diri untuk beribadah dan pengembangan kehidupan rohaniah dengan
mengabaikan kenikmatan duniawi. Pola hidup kesalehan yang demikian merupakan awal
pertumbuhan tasawuf yang kemudian berkembang dengan pesatnya. Fase ini dapat disebut
4 Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme Edisi Revisi, (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada, 2002)
sebagai fase asketisme dan merupakan fase pertama perkembangan tasawuf, yang ditandai
dengan munculnya individu-individu yang lebih mengejar kehidupan akhirat sehingga
perhatiannya terpusat untuk beribadah dan mengabaikan keasikan duniawi.
Fase asketisme ini setidaknya sampai pada abad dua hijriah dan memasuki abad
tiga hijriah sudah terlihat adanya peralihan konkrit dari asketisme Islam ke sufisme. Fase
ini dapat disebut fase kedua, yang ditandai oleh antara lain peralihan sebutan Zahid
menjadi sufi. Di sisi lain, pada kurun waktu ini percakapan para Zahid sudah sampai pada
persoalan apa itu jiwa yang bersih, apa itu moral, dan bagaimana metode pembinaannya
dan perbincangan tentang masalah teoritis lainnya. Tindak lanjut dari perbincangan ini,
maka bermunculanlah berbagai teori tentang jenjang-jenjang yang harus ditempuh oleh
seorang sufi (al-maqomat) serta ciri-ciri yang dimiliki seorang sufi (al-maqomat) serta ciri-
ciri yang dimiliki seorang sufi pada tingkat tertentu (al-hal). Demikian juga pada periode
ini sudah mulai berkemmbang pembahasan tentang al-ma’rifat serta perangkat metodenya
sampai pada tingkat fana dan ittihad.
Istilah tasawuf di masa Nabi Muhammad SAW tidak ada, demikian pula di masa
para sahabat Nabi Muhammad SAW dan tabi’in belum ada istilah itu. Dalam masalah ini
belum ada seorang pun mengkaji masalah tasawuf yang sampai dalam batasan ilmiah
untuk mengetahui tokoh sufi pertama dalam Islam dan siapa yang meletakkan batu pertama
bagi pemikiran tasawuf ini. Tasawuf merupakan sebuah konsep yang tumbuh sebelum
Nabi Muhammad SAW lahir, baik dalam segi wacana, perilaku, maupun akidah. Tasawuf
terjadi pada setiap umat dan agama-agama, khususnya Brahmana Hinduisme, filsafat
Iluminasi Yunani, Majusi Persia, dan Nashrani Awal. Lalu pemikiran itu menyelinap ke
dalam pemikiran Islam melalui zindik Majusi. Kemudian menemukan jalannya dalam
realitas umat Islam dan berkembang hingga mencapai tujuan akhirnya, disusun kitab-kitab
referensinya, dan telah diletakkan dasar-dasar dan kaidah-kaidahnya pada abad keempat
dan kelima hijriyah.5
Tasawuf sebagai sebuah ilmu pengetahuan baru muncul setelah masa sahabat dan
tabi’in. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat pada hakikatnya sudah sufi. Mereka tidak
pernah mengagungkan kehidupan dunia, tapi juga tidak meremehkannya. Pada masa
Rasulullah SAW, Islam tidak mengenal aliran tasawuf, demikian juga pada masa sahabat
dan tabi’in. Kemudian datang setelah masa tabi’in suatu kaum yang mengaku zuhud yang
berpakaian shuf (pakaian dari buku domba), maka karena pakaian inilah mereka mendapat
5 Badrudin, PengantarIlmu Tasawuf, (Serang: Penerbit A-Empat, 2015)
julukan sebagai nama bagi mereka yaitu sufi dengan nama tarekatnya tasawuf. Ilmu
Tasawuf datang belakangan sebagaimana ilmu yang lain.
Di masa awalnya, embrio tasawuf ada dalam bentuk perilaku tertentu. Ketika
kekuasaan Islam makin meluas dan terjadi perubahan sejarah yang fenomenal pasca
Rasulullah SAW dan sahabat, ketika itu pula kehidupan ekonomi dan sosial makin mapan,
mulailah orang-orang lalai pada sisi rohani. Budaya hedonism pun menjadi fenomena
umum. Saat itulah timbul gerakan tasawuf sekitar abad ke-2 hijriyah. Gerakan yang
bertujuan untuk mengingatkan tentang hakikat hidup. Menurut pengarang Kasyf Al-
Dzunnun, orang yang pertama kali diberi julukan Al-Sufi adalah Abu Hasyim Al-Sufi
(Wafat. 150 H).
Dalam sejarahnya, bahwa dakwah Rasulullah SAW di Makkah tidaklah semulus
yang diharapkan. Kemudian Rasulullah melakukan tahannus di Gua Hira sebelum
turunnya wahyu pertama. Kegiatan ini dalam rangka menenangkan jiwa dan menyucikan
diri. Dalam proses ini Rasulullah melakukan riyadhah dengan bekal makanan secukupnya,
pakaian sederhana yang jauh dari kemewahan dunia. Dengan demikian setelah menjalani
proses-proses tersebut jiwa Rasulullah SAW telah mencapai tingkatan spiritual tertentu
sehingga benar-benar siap menerima wahyu melalui Malaikat Jibril. Dengan
memperhatikan praktek-praktek Nabi SAW di atas menunjukkan Islam merupakan agama
yang memiliki akar tradisi spiritual yang tinggi.
Perkembangan tasawuf dari waktu ke waktu, yaitu:
a. Masa Pembentukan
Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa pada masa awal Islam (Rasulullah
SAW dan Khulafaur Rasyidin) istilah tasawuf belum dikenal. Meski demikian, bukan
berarti praktek seperti puasa, zuhud, dan senadanya tidak ada. Hal ini dibuktikan dengan
perilaku Abdullah ibn Umar yang banyak melakukan puasa sepanjang hari dan shalat atau
membaca al-Qur’an di malam harinya. Sahabat lain yang terkenal dengan hal itu antara
lain Abu al-Darda’, Abu Dzar al-Ghiffari, Bahlul ibn Zaubaid, dan Kahmas al-Hilali.6 Pada
paruh kedua abad ke-1 Hijriyah, muncul nama Hasan Basri (642-728M), seorang tokoh
zahid pertama dan termasyhur dalam sejarah tasawuf. Hasan Basri tampil pertama dengan
6 Ali Masyhar, “Tasawuf: Sejarah, Mazhab, dan Inti Ajarannya” Al-A’raf Jurnal Pemikiran Islam
dan Filsafat Vol. XII, No 1, Januari-Juni 2015.
mengajarkan ajaran khauf (takut) dan raja’ (berharap), setelah itu diikuti oleh beberapa
guru yang mengadakan gerakan pembaharuan hidup kerohanian di kalangan muslimin.
Ajaran-ajaran yang muncul pada abad ini yakni khauf, raja’, ju’ (sedikit makan), sedikit
bicara, sedikit tidur, zuhud (menjauhi dunia), khalwat (menyepi), shalat sunnah sepanjang
malam dan puasa di siang harinya, menahan nafsu, kesederhanaan, memperbanyak
membaca al-Qur’an dan lain-lainnya.
Para zahid ketika ini sangat kuat memegang dimensi eksteral Islam (Syari’ah) dan
pada waktu yang sama juga menghidupkan dimensi internal (Bathiniyyah). Kemudian pada
abad ke-2 Hijriyah, muncul zahid perempuan dari Basrah-Irak Rab’ah al-Adawiyah (w.
801M/185 H). Dia memunculkan ajaran cinta kepada Tuhan (Hubb al-Ilah). Dengan ajaran
ini dia menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah SWT tanpa atau menghilangan
harapan imbalan atas surga dan karena takut atas ancaman neraka.
Pada abad ini tasawuf tidak banyak berbeda dengan abad sebelumnya, yakni
bercorak kezuhudan. Meski demikian, pada abad ini juga mulai muncul beberapa istilah
pelik yang antara lain adalah kebersihan jiwa, kemurnian hati, hidup ikhlas, menolak
pemberian orang, bekerja mencari makan dengan usaha sendiri, berdiam diri, melakukan
safar, memperbanyak dzikir dan riyadhah. Tokoh yang memperkenalkan istilah ini, antara
lain Ali Syaqiq al-Balkhy, Ma’ruf alKarkhy dan Ibrahim ibn Adham.
b. Masa Pengembangan
Masa pengembangan ini terjadi pada kurun antara abad ke-3 dan ke-4 H. Pada
kurun ini muncul dua tokoh terkemuka, yakni Abu Yazid al-Bushthami (w.261 H.) dan
Abu Mansur al-Hallaj (w. 309 H.).7 Abu Yazid berasal dari Persia, dia memunculkan
ajaran fana’ (lebur atau hancurnya perasaan), Liqa’ (bertemu dengan Allah Swt) dan
Wahdah al-Wujud (kesatuan wujud atau bersatunya hamba dengan Allah SWT).
Sementara Al-Hallaj menampilkan teori Hulul (inkarnasi Tuhan), Nur Muhammad dan
Wahdat al-Adyan (kesatuan agama). Selain itu, para sufi lainnya pada kurun waktu ini juga
membicarakan tentang Wahdat al-Syuhud (kesatuan penyaksian), Ittishal (berhubungan
dengan Tuhan), Jamal wa Kamal (keindahan dan kesempurnaan Tuhan), dan Insan al-
7 Ali Masyhar, “Tasawuf: Sejarah, Mazhab, dan Inti Ajarannya” Al-A’raf Jurnal Pemikiran Islam
dan Filsafat Vol. XII, No 1, Januari-Juni 2015.
kamil (manusia sempurna). Mereka mengatakan bahwa kesemuanya itu tidak akan dapat
diperoleh tanpa melakukan latihan yang teratur (Riyadhah).
Selain munculnya tasawuf yang cenderung pada syathahiyat, sejenis ungkapan-
ungkapan ganjil atau ekstatik, dan semi-falsafi yang dimandegani oleh dua tokoh di atas,
pada kurun ini juga mulai muncul gerakan banding yang dimandegani oleh Syeikh Junaid
alBaghdadi. Dia memagari ajaran-ajaran tasawufnya dengan al-Qur’an dan al-Hadis
dengan ketat dan mulai meletakkan dasar-dasar thariqah, cara belajar dan mengajar
tasawuf, syeikh, mursyid, murid dan murad. Dengan kata lain, pada kurun ini muncul dua
madzhab yang saling bertentangan, yakni madzhab tasawuf Sunni (al-Junaid) dan madzhab
Tasawuf semi-Falsafi (Abu Yazid dan al-Hallaj). Perlu diketahui pula bahwa pada kurun
ini tasawuf mencapai peringkat tertinggi dan jernih serta memunculkan tokoh-tokoh
terkemuka yang menjadi panutan para sufi setelahnya.
c. Masa Konsolidasi
Masa yang berjalan pada kurun abad ke-5 H. ini sebenarnya kelanjutan dari
pertarungan dua madzhab pada kurun sebelumnya. Pada kurun ini, pertarungan
dimenangkan oleh madzhab tasawuf Sunni dan madzhab saingannya tenggelam. Madzhab
tasawuf Sunni mengalami kegemilangan ini dipengaruhi oleh kemenangan madzhab
teologi Ahl Sunnah wa al-Jama’ah yang dipelopori oleh Abu Hasan alAsy’ari (w. 324 H).
Dia melakukan kritik pedas terhadap teori Abu Yazid dan al-Hallaj sebagaimana yang
tertuang dalam syathahiyat mereka yang dia anggap melenceng dari kaidah dan akidah
Islam. Singkatnya, kurun ini merupakan kurun pemantapan dan pengembalian tasawuf ke
landasan awalnya, al-Qur’an dan al-Hadis. Tokoh-tokoh yang menjadi panglima madzhab
ini antara lain AlQusyairi (376-465 H), Al-Harawi (w. 396 H), dan Al-Ghazali (450-
505H).8
Al-Qusyairi adalah sufi pembela teologi Ahlu Sunnah dan mampu
mengompromikan syari’ah dan hakikah. Dia mengkritik dua hal dari para sufi madzhab
semi-falsafi, yakni syathahiyat dan cara berpakaian yang menyerupai orang miskin padahal
8 Ali Masyhar, “Tasawuf: Sejarah, Mazhab, dan Inti Ajarannya” Al-A’raf Jurnal Pemikiran Islam
dan Filsafat Vol. XII, No 1, Januari-Juni 2015.
tindakan mereka bertentangan dengannya. Menurut al-Qusyairi kesehatan batin dengan
memegang teguh ajaran al-Qur’an dan al-Hadis lebih penting daripada pakaian lahiriyah.
Tokoh kedua ialah Al-Harawi. Dia bermadzhab Hanabilah, maka tidak heran jika
dia bersikap tegas dan tandas terhadap tasawuf yang dianggap menyeleweng. Hal yang
dikritik oleh Al-Harawi atas ajaran tasawuf semi-falsafi adalah ajaran fana’ yang dimaknai
sebagai kehancuran wujud sesuatu yang selain Allah Swt. Kemudian dia memberikan
pemaknaan baru atas fana’ tersebut dengan ketidaksadaran atas segala sesuatu selain yang
disaksikan, Allah SWT. Selain itu, AlHarawi juga mengkritik syathahiyat. Terkait ini, dia
menyatakan bahwa syathahiyat hanya muncul dari hati seseorang yang tidak tentram atau
ketidaktenangan.
Kemudian, tokoh yang terakhir ialah Al-Ghazali. Dia merupakan tokoh pembela
teologi sunni terbesar, bahkan lebih besar dibanding sang pendirinya, Abu Hasan Al-
Asy’ari. Al-Ghazali menjauhkan ajaran tasawufnya dari gnostis sebagaimana yang
mempengaruhi para filosog muslim, sekte Isma’iliyah, Syi’ah, Ikhwan Shafa dan lain-lain.
Ia juga menolak konsep ketuhanan Aristoteles, yakni emanasi dan penyatuan. Terkait teori
kesatuan, al-Ghazali menyodorkan teori baru tentang ma’rifat dalam taqarrub ila Allah,
tanpa diikuti penyatuan dengan-Nya.
d. Masa Falsafi
Pada masa (abad ke-6 dan 7 H) ini muncul dua hal penting yakni; Pertama,
kebangkitan kembali tasawuf semi-falsafi yang setelah bersinggungan dengan filsafat
maka muncul menjadi tasawuf falasafi, dan kedua, munculnya orde-orde dalam tasawuf
(thariqah). Tokoh utama madzhab tasawuf falasafi antara lain Ibnu ‘Arabi dengan wahdat
al-Wujud, Shuhrawardi dengan teori Isyraqiyyah, Ibn Sabi’n dengan teori Ittihad, Ibn
Faridh dengan teori cinta, fana’ dan Wahdat al-Syuhud-nya.9 Sementara orde-orde tasawuf
yang muncul pada kurun ini (terutama pada abad ke-7 H) antara lain:
 Tarekat Qadiriyyah, didirikan oleh ‘Abd al-Qadir Jilani (w. 1166 M.) dan berpusat
di Baghdad.
9 Ali Masyhar, “Tasawuf: Sejarah, Mazhab, dan Inti Ajarannya” Al-A’raf Jurnal Pemikiran Islam
dan Filsafat Vol. XII, No 1, Januari-Juni 2015.
 Tarekat Naqshabandiyah, didirikan oleh Muhammad ibn Baha’ al-Din (w.791 H.)
dan didirikan di Asia Tengah.
 Tarekat Maulawiyah, didirikan oleh Jalal al—Din Rumi (w. 1273 M), Persia.
 Tarekat Bekhtasyiyah, didirikan oleh alBekhtasyi, Turki.
 Tarekat Tijaniyah, oleh al—Tijani pada tahun 1781 M di Fez-Maroko.
 Tarekat Daraquiyah, oleh Maulana ‘Arabi Darqawi (w. 1823 M.) di Fez-Maroko.
 Tarekat Khalwatiyah, didirikan di Persia pada abad 13 M.
 Tarekat Suhrawardiyah, oleh Suhrawardi al-Maqthul di Irak.
 Tarekat Rifa’yah, oleh al-Rifa’I (w. 1187 M) di Irak.
 Tarekat Sadziliyah, oleh al-Sadzili (w. 1258 M.) di Tunis.
 Tarekat Khishtiyah, oleh Mu’in al-Din Chisthi di AjmerIndia.
 Tarekat Sanusiyah, oleh al-Sanusi (w. 18377 M) di Libya.
 Tarekat Ni’matulahiyah, didirikan di Persia dan kemudian di India (Isma’iliyyah).
 Tarekat Ahmadiyah, oleh Ahmad al-Badawi (w. 1276 M.) di Mesir dengan pusat di
Tanta.
e. Masa Pemurnian
Menurut A.J. Arberry sebagaimana dikutip Amin Syukur, pada Ibn ‘Arabi, Ibn
Faridh, dan ar-Rumi adalah masa keemasan gerakan tasawuf baik secara teoritis maupun
praktis. Pengaruh dan praktek-praktek tasawuf tersebar luas melalui tarekat-tarekat.
Bahkan para sultan dan pangeran tidak segan-segan lagi mengeluarkan perlindungan dan
kesetiaan pribadi kepada mereka. Meski demikian, lama kelamaan timbul penyelewengan-
penyelewengan dan skandal-skandal yang berakhir pada penghancuran citra baik tasawuf
itu sendiri.10
Menurut pandangan Arberry, dengan fenomena di atas, munculah Ibn Taimiyah
yang dengan lantang menyerang ajaran-ajaran yang dia anggap menyeleweng tersebut. Dia
10 Ali Masyhar, “Tasawuf: Sejarah, Mazhab, dan Inti Ajarannya” Al-A’raf Jurnal Pemikiran Islam
dan Filsafat Vol. XII, No 1, Januari-Juni 2015.
ingin mengembalikan kembali tasawuf kepada sumber ajaran Islam, al-Qur’an dan al-
Hadis. Hal yang dikritik Ibn Taimiyah antara lain: ajaran Ittihad, hulul, wahdat al-Wujud,
pengkultusan wali dan lain-lain yang dia anggap bid’ah, khurafat, dan takhayyul. Dia
masih memberikan toleransi atas ajaran fana’, namun dengan pamaknaan yang berbeda.
Dia membagi fana’ menjadi tiga bagian, yakni:
(1) Fana’ Ibadah, lebur dalam ibadah,
(2) Fana’ syuhud al-Qalb, fana’ pandangan batil,
(3) Fana’ wujud mas Siwa Allah, fana’ wujud selain Allah.
Menurutnya, fana’ yang masih sesuai dengan ajaran Islam ialah jenis fana’ yang
pertama dan kedua, sementara jenis fana’ yang ketiga sudah menyeleweng dan pelakunya
dihukumi kafir, sebab ajaran tersebut beranggapan bahwa ‘wujud Khaliq’ adalah ‘wujud
Makhluq’. Kemudian, secara garis besar, ajaran tasawuf Ibn Taimiyah tidak lain ialah
melakukan apa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW, yakni menghayati ajaran
Islam, tanpa mengikuti madzhab tarekat tertentu, dan tetap melibatkan diri dalam kegiatan
sosial sebagaimana khalayak umum.
2.3. Sejarah Perkembangan Tasawuf di Indonesia
Berbicara tentang tasawuf di Nusantara tidak bisa lepas dari pengkajian proses
Islamisasi di kawasan ini. Sebab, tidaklah berlebihan kalau dikatakan, bahwa tersebar
luasnya Islam di Indonesia sebagian adalah karena jasa para sufi. Proses islamisasi di
Indonesia disebut juga dengan istilah pribumisasi islam yang diperkenalkan oleh Gus Dur
(KH Abduraahman Wahid) sebagai alternatif dalam upaya pencegahan praktik radikalisme
agama, dengan tujuan Islam Indonesia ke depannya tidak terperangkap dalam radikalisme
agama dan terorisme.11
Apabila di tengok sejarah perkembangan islam di Indonesia, dakwah yang
dilakukan oleh para dai yang membawa islam ke Indonesia selalu mempertimbangkan
kearifan lokal yang menjadi realitas kebudayaan dalam masyarakat Indonesia. Dakwah
walisongo di Pulau Jawa merupakan contoh instrumen kebudayaan yang digunakan
walisongo untuk memasukan pesan-pesan islam, misalnya tradisi selamatan tiga hari, tujuh
11 Direktur Jenderal Pembelajaran Kemahasiswaan, Buku Ajar Mata Kuliah Wajib Umum Agama
Islam, (Jakarta : Direktur Jenderal Pembelajaran Kemahasiswaan Kementerian Riset Teknologi dan
Perguruan Tinggi, 2016)
hari, seratus hari, yang dimodifikasikan dengan membaca yasin, tahlil, tasbih, tahmid, dan
shalawat, dengan diselingi pesan-pesan keagamaan yang dilaksanakan orang Jawa jika
anggota keluarga yang meninggal dunia. Cara lain para walisongo menyebarkan agama
islam di Nusantara adalah melalui tambang, permainan rakyat dan makanan yang dijadikan
media akulturasi islam. Melalui media dan strategi dakwah yang memadukan ajaran Islam
dengan budaya lokal, sehingga banyak orang Jawa memeluk islam, bahwan islam menjadi
agama mayoritas suku Jawa.
Dari penyebaran agama yang dilakukan oleh walisongo dipengaruhi oleh ajaran
sufisme. Naskah-naskah lama yang berasal dari Sumatra, baiuk yang ditulis dalam bahasa
Arab maupun bahasa Melayu adalah berorientasi sufisme. Hal ini menunjukkan bahwa
pengikut tasawuf menjadi unsur yang cukup dominan dalam masyarakat pada masa itu.
Kenyataan lain dapat pula ditunjuk bagaimana peranan ulama dalam struktur kekuasaan
kerajaan-kerajaan Islam di Aceh sampai pada masa walisongo di Jawa. Kepemimpinan raja
atau sultan selalu didampingi dan didukung oleh kharisma ulama tasawuf. Di kawasn
Sumatra setidaknya ada empat sufi terkemuka, antara lain Hamzah Fansuri (abad 17 M) di
Barus, kota kecil di pantai barat Sumatra, di utara Sibolga. Dia adalah sufi terkenal melalui
karya tulisnya “ Asrar al-Arifin” dan “ Syarab al- Asyikin” serta beberapa karya tulisnya
yang lain. Dari keseluruhan karya tulisnya diketahui bahwa ia adalah penganut dan
pengembang doktrin wahdat al-wujud karya esoteris Ibn Arabi.
Kawasan Aceh sebagai sentral penyiaran Islam yang awal di Nusantara, menjadi
“markasnya” ulama dan sufi besar pada masa kekuasaan Sultan Alauddin Ri’ayat Syah,
Sultan Iskandar Muda sampai masa kekuasaan Sultan Tajul Alam Saifiuddin Syah. Abd
Rauf Singkel (1639 M) adalah penganut tarekat Syattariyah, yang terlihat dari karya
tulisnya “ Miraat at-Thullab”. Ia belajar langsung dengan Syeikh Ahmad Qushashi, syeikh
tarekat Syattariyah di Mekkah. Tokoh populer lainnya adalah Naruddin ar-Raniri (1644
M), penulis “ Bustan al-Salatin), dari kitab ini diketahui bahwa ia adalah penganut tasawuf
Sunni as Syafi’yah dan penentang tasawuf Hamzah Fansuri, dan pensihat Sultan Iskandar
Tsani. Kesemua sufi ini adalah penasihat utama para sultan di masanya.12
12 Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme Edisi Revisi, (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada, 2002)
Pada periode yang sama, setidaknya ada tiga tarekat sufi yang berkembang di
wilayah ini, yakni Tareket Qadriyah, Tarekat Naqsyabandiyah dan Tarekat Syattariyah,
dan belakangan muncul pula Tarekat Rifa’iyah yang beradaptasi dan memodifikasi
beberapa jenis kesenian tradisional daerah, yang kemudian populer dengan nama tari rafa’i
dan tari seudati.
Sejak berdirinya kerajaan Islam Pasai, kawasan itu menjadi titik sentral penyiaran
agama Islam ke berbagai daerah di Sumatra dan pesisir utara Pulau Jawa. Islam tersebar di
ranah Minangkabau atas upaya Syeikh Burhanuddin Ulakan (1693 M) murid Abd Rauf
Singkel, yang terkenal sebagai syeikh Tarekat Syattariyah. Menurut Tarekat Syattariyah
sufisme dibedakan kepada tiga tingkatan, yakni : al-Ahyar mengutamakan kesempurnaan
ibadah formal, al-Abrar, lebih berorientasi pada pembinaan kesempurnaan rohaniah, dan
al-Syattar, yang lebih mengutamakan pendalaman spiritual dalam segala aspek kehidupan
(esoterisme religious).
Orang-orang Minangkabau yang gemar merantau, menyebarkan agama Islam ke
berbagai daerah di Sumatera bagian tengah dan selatan, ke Kalimantan, Sulawesi, dan
daerah sekitarnya. Penyebaran Islam ke pulau Jawa, juga berasal dari kerajaan Pasai
terutama atas jasa Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoro, yang
ketiganya adalah abituren Pasai. Melalui keuletan mereka itulah berdirinya kerajaan Islam
Demak yang kemudian menguasai Banten dan Batavia melalui Syarif Hidayatullah.
Perkembangan Islam di Jawa untuk selanjutnya, umumnya digerakkan oleh ulama
yang diketuai dan dikenal dengan panggilan Walisongo atau wali sembilan. Dari sebutan
ini dapat diketahui bahwa mereka adalah penghayat tasawuf yang sudah sampai pada
derajat “wali”. Bukti ini diperkuat lagi oleh hikayat Jawa (babat jawa) yang mengisahkan
drama pertentangan antara Sunan Giri dan Sunan Kalijaga. Para wali ini bukan saja
berperan sebagai penyiar Islam, tetapi mereka juga ikut berperan kuat pada pusat
kekuasaan kesultanan dan karena posisi itu, mereka mendapat gelar Susuhunan yang biasa
disebut Sunan. Dari peranan politik itu, mereka dapat “meminjam” kekuasaan sultan dan
kelompok elit keraton dalam menyebarkan dan memantapkan peghayatan Islam sesuai
dengan keyakinan sufisme yang mereka anut.13
13 Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme Edisi Revisi, (Jakarta: PT
Rajagrafindo Persada, 2002)
Dalam dunia pesantren generasi awal, warna sufisme yang kental terlihat dari nilai
anutan mereka yang didominasi sufisme aliran al-Ghazali, sufisme yang sangat kuat
mewarnai kesantrian masa itu. Konsep wali dalam sufisme, adalah seorang sufi yang telah
dapat melakukan hubungan komunikasi langsung dengan Allah AWT secara spiritual dan
dapat mengetahui hal-hal yang ghaib. Dalam kelompok ini, buku karangan al-Ghazali
sangat digemari karena memuat bacaan sufisme yang pada umumnya memuat pokok
bahasan tasawuf akhlak dan tasawuf amali, yang keseluruhannya beraliran tasawuf sunni.
Selain itu, terdapat tasawuf falsafi seperti Insan Kamil karya Abdul Karim al-Jilli.
Pengaruh tasawuf ini cukup kuat dan luas penganutnya di kalangan penganut tarekat,
sedangkan tokohnya yang paling populer adalah Syeikh Siti Jenar pada masa lalu.
Semenjak penyiaran Islam di Jawa diambil alih kerabat elit keraton, secara pelan
terjadi proses akulturasi sufiisme dengan kepercayaan lama dan tradisi lokal yang
berakibat bergesernya nilai keislaman sufisme karena telah tergantikan oleh model
spiritualitas non religius adalah gerakan kebatinan (aliran kepercayaan) produk tradisi dan
kebudayaan Jawa, sedangkan kebudayaan Jawa itu adalah kebudayaan Jawa pra-Islam
dengan kebudayaan Islam. Situasi yang sama menimpa dunia pesantren disebabkan oleh
invasi sistem pendidikan sekuler yang berasal dari Eropa melalui kolonial Belanda. Oleh
karena faktor-faktor internal dan eksternal tersebut, maka kehidupan sufisme di Indonesia
secara berangsur bergeser dari garis lurus yang diletakkan para sufi terdahulu, sehingga
warna kejawen yag lebih tampil ke depan ketimbang sufismenya sendiri. Namun, karena
sebenarnya sufisme adalah semacam “sebuah pohon” yang berakar kuat dan dalam pada
Islam, maka seirama dengan semangat gerakan pembaharuan dalam Islam, dunia sufisme
juga mengalami gagasan pembaharuan.
2.4. Manfaat Ilmu Tasawuf dalam Kehidupan
Tasawuf secara umum dapat diartikan sebagai suatu perbuatan menghindari diri
dari segala larangan Allah SWT dan menundukan hawa nafsu serta berbuat baik kepada
sesama dan taat atas segala perintahnya guna meraih hidup yang haikiki. Tasawuf juga
merupakan cara menyucikan diri dan meningkatkan akhlak guna menjadi manusia pada
hakikatnya.14
14 dalamislam.com, “10 Manfaat Tasawuf dalam Dunia Islam”, https://dalamislam.com/dasar-
islam/manfaat-tasawuf-dalam-dunia-islam, (diakses pada 29 Oktober 2019)
Tasawuf memliki tujuan yang baik yaitu kebersihan diri dan taqorrub kepada Allah
SWT, yakni memperoleh hubungan langsung dengan Allah SWT. Sehingga seseorang
akan merasa berada di hadirat-Nya. Terdapat banyak maanfaat ilmu tasawuf dalam
kehidupan, diantaranya :
 Membersihkan diri dari dosa dan meningkatkan akhlak
 Mampu mengenal diri dengan baik serta mampu mengenal Tuhannya
 Melatih diri agar tidak terbuai dengan kenikmatan dunia
 Selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan
 Meningkatkan keimanan dan mengembangkan kehidupan agama yang komprehensif
dan utuh serta untuk mengembangkan masyarakat dan bangsa yang bersih15
15Santriyai.com, “8 Kelebihan dan Manfaat Mempelajari Ilmu Tasawuf/Tarekat dan Cara untuk
Mencapai Derajat yang Tinggi di Sisi Allah”, https://www.santriyai.com/2018/06/8-kelebihan-dan-manfaat-
mempelajari-ilmu-tasawuf-tarekat-dan-cara-mencapai-derajat-yang-tinggi-disisi-allah.html, (diakses pada 29
Oktober 2019).
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dalam makalah “Urgensi Dasar, Dasar, dan Sejarah Perkembangan Ilmu Tasawuf”
dapat disimpulkan bahwa tasawuf telah mengajak kepada akhlak yang utama yang
dianjurkan dalam Islam. Akhlak yang mulia itu dijadikan sebagai landasannya,
menyucikan jiwanya dengan cara berhias diri dengan keutamaan akhlaknya yang berupa
tawadhu’ (yaitu rendah hati), meninggalkan diri dari akhlak yang tercela, memberikan
kemudahan dan lemah lembut, kemuliaan dirinya diikuti dengan sifat qona’ah (merelakan
diri), menjauhkan diri dari perkara yang berat, perdebatan maupun kemarahan.
Lambangnya adalah Al-Qur’an.
Tasawuf dikenal secara luas di kawasan Islam sejak penghujung abad 2 hijriah. Di
sisi lain, tersebar luasnya Islam di Indonesia sebagian adalah karena jasa para sufi.
Tasawuf memiliki tujuan yang baik yaitu kebersihan diri dan taqorrub kepada Allah SWT,
yakni memperoleh hubungan langsung dengan Allah SWT. Sehingga seseorang akan
merasa berada di hadirat-Nya.
3.2. Saran
Dalam penulisan makalah “Urgensi Dasar, Dasar, dan Sejarah Perkembangan Ilmu
Tasawuf”, penulis menyadari masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna.
Penulis mengharapkan kritik dan saran atas makalah ini agar nantinya makalah ini akan
membawa manfaat yang lebih lagi untuk para pembaca.
EVALUASI
Pilihan Ganda
1. Macam-macam manfaat tasawuf dalam kehidupan, kecuali...
a. membersihkan diri dari dosa
b. melatih diri untuk tidak terbuai dengan kenikmatan dunia
c. Hidup merasa dalam tekanan
d. meningkatkan iman
Jawaban: c. Hidup merasa dalam tekanan
2. Untuk memahami tasawuf, seseorang haruslah...
a. Sudah berkeluarga
b. Sudah baik pemahaman syari’ahnya
c. Sudah sanggup bertakwa
d. sudah mapan ekonominya
Jawaban: b. Sudah baik pemahaman syari’ahnya
3. Berikut prinsip-prinsip tasawuf menurut Imam Tsal Tutsuri, kecuali....
a. Berpedoman pada kitab Allah (Al-Qur'an)
b. Mengikuti sunnah Rasulullah
c. Melakukan semedi di gua
d. Memakan makanan halal
Jawaban: c. Melakukan semedi di gua
4. Salah satu pandangan Imam Sya'rani tentng tasawuf yaitu...
a. Menjalankan syariat baru mempelajari ilmunya
b. Setiap ahli tasawuf haruslah seorang ahli fiqih
c. Memaklumi dan mengikuti orang yang menyalahi pandangan Rasulullah
d. Seorang ahli tasawuf tidak mesti harus bisa bahasa Arab
Jawaban: b. Setiap ahli tasawuf haruslah seorang ahli fiqh
5. Amaliah tasawuf yang dianggap paling penting yaitu...
a. I'tikaf
b. Tahlil
c. Puji-pujian
d. Dzikir
Jawaban: d. Dzikir
6. Abd Rauf Singkel (1639 M) adalah penganut tarekat Syattariyah, yang terlihat dari
karya tulisnya yang berjudul….
a. Bustan al-Salatin
b. Miraat at-Thullab
c. Asrar al-Arifin
d. Syarab al-Asyikin
Jawaban: b. Miraat at-Thullab
7. Terdapat 4 tarekat sufi yang berkembang di Aceh, salah satu tarekat ini
memodifikasikan beberapa jenis kesenian tradisional daerah yang kemudian diberi
nama tari seudati dan tari rafa’I. Tarekat apakah itu….
a. Tareket Qadriyah
b. Tarekat Naqsyabandiyah
c. Tarekat Rifa’iyah
d. Tarekat Syattariyah
Jawaban: c. Tarekat Rifa’iyah
8. Dalam dunia pesantren generasi awal, warna sufisme yang kental terlihat dari nilai
anutan mereka yang didominasi sufisme aliran….
a. Al-Ghazali
b. Abd Rauf Singkel
c. Syeikh Ahmad Qushashi
d. Naruddin ar-Raniri
Jawaban: a. Al-Ghazali
9. Menurut pengarang Kasyf Al-Dzunnun, orang yang pertama kali diberi julukan Al-Sufi
adalah…
a. Abu Hasyim Al-Sufi
b. Bahlul ibn Zaubaid
c. Rasulullah SAW
d. Abu al-Darda’
Jawaban: a. Abu Hasyim Al-Sufi
10. Term tasawuf dikenal secara luas di kawasan Islam sejak penghujung…
a. Abad ke-1 H
b. Abad ke-2 H
c. Abad ke-3 H
d. Abad ke-4 H
Jawaban: b. Abad ke-2 H
Essai
1. Sebutkan manfaat ilmu tasawuf dalam kehidupan!
Jawab:
 Membersihkan diri dari dosa dan meningkatkan akhlak
 Mampu mengenal diri dengan baik dan mampu mengenal Tuhannya
 Dapat melatih diri untuk tidak terbuai dari kenikmatan dunia
 Selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan
 Meningkatkan keimanan dan mengembangkan kehidupan beragama yang
komprehensi
2. Selain memberi banyak manfaat, mempelajari ilmu tasawuf juga dapat mendatangkan
mudharat. Sebutkan mudharat yang dapat ditimbulkan dari mempelajari ilmu tasawuf!
Jawab:
Mudharat yang timbul dari ilmu tasawuf yaitu adanya kalangan yang membawa orang
menjadi sesat, apatis, mengasingkan diri dari lingkungan, serta menganggap dunia sebagai
tempat kotoran yang merusakkan.
3. Apa yang menyebabkan pengikut tasawuf menjadi unsur yang cukup dominan di masa
penyebaran Islam oleh walisongo ?
Jawab :
Dari penyebaran agama yang dilakukan oleh walisongo dipengaruhi oleh ajaran sufisme,
hal ini ditunjukkan dengan adanya naskah-naskah lama yang berasal dari Sumatra baik
yang berbahasa arab maupun melayu berorientasi sufisme.
4. Jelaskan maksud dari fase asketisme!
Jawab:
Fase asketisme merupakan fase pertama perkembangan tasawuf yang ditandai dengan
munculnya individu-individu yang lebih mengejar kehidupan akhirat sehingga
perhatiaannya terpusat untuk ibadah dan mengabaikan keasikan duniawi. Pada fase ini
terdapat para zahid yang mengelompok di serambi Masjid Madinah di mana mereka lebih
mengkhususkan diri untuk beribadah dan pengembangan kehidupan rohaniah dengan
mengabaikan kenikmatan duniawi. Pola hidup kesalehan yang demikian adalah awal
pertumbuhan tasawuf yang kemudian berkembang dengan pesatnya.
5. Jelaskan apa yang kamu ketahui tentang masa falsafi pada perkembangan tasawuf!
Jawab:
Masa falsafi adalah masa yang muncul pada abad ke-6 dan 7 H). Pada masa ini terdapat
dua hal penting, yaitu:
 Kebangkitan kembali tasawuf semi-falsafi yang setelah bersinggungan dengan
filsafat maka muncul menjadi tasawuf falsafi
 Munculnya orde-orde dalam tasawuf (thariqah)
Tokoh utama madzhab tasawuf falasafi antara lain Ibn ‘Arabi dengan wahdat al-Wujud,
Shuhrawardi dengan teori Isyraqiyyah, Ibn Sabi’n dengan teori Ittihad, Ibn Faridh dengan
teori cinta, fana’ dan Wahdat al-Syuhud-nya.
REFERENSI
Badrudin. 2015. Pengantar Ilmu Tasawuf. Serang: Penerbit A-Empat.
Dalamislam.com. 2018. 10 Manfaat Tasawuf dalam Dunia Islam. Diakses pada 29
Oktober 2019 dari https://dalamislam.com/dasar-islam/manfaat-tasawuf-dalam-
dunia-islam
Direktur Jenderal Pembelajaran Kemahasiswaan. 2016. Buku Ajar Mata Kuliah
Wajib Umum Agama Islam. Jakarta : Direktur Jenderal Pembelajaran
Kemahasiswaan Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi/
Masyhar, Ali. (2015). Tasawuf: Sejarah, Mazhab, dan Inti Ajarannya. Al-A’raf Jurnal
Pemikiran Islam dan Filsafat Vol. XII, No 1, Januari-Juni 2015.
Santriyai.com. 2018. 8 Kelebihan dan Manfaat Mempelajari Ilmu Tasawuf/Tarekat dan
Cara untuk Mencapai Derajat yang Tinggi di Sisi Allah. Diakses pada 25 Oktober
2019 dari https://www.santriyai.com/2018/06/8-kelebihan-dan-manfaat-
mempelajari-ilmu-tasawuf-tarekat-dan-cara-mencapai-derajat-yang-tinggi-disisi-
allah.html
Siregar, Rivay. 2002. Tasawuf Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme Edisi Revisi. Jakarta:
PT Rajagrafindo Persada.

More Related Content

What's hot

Makalah spi masa kemunduran (1250 1500 m)
Makalah spi masa kemunduran (1250 1500 m)Makalah spi masa kemunduran (1250 1500 m)
Makalah spi masa kemunduran (1250 1500 m)juniska efendi
 
Makalah Aqidah Akhlak
Makalah Aqidah AkhlakMakalah Aqidah Akhlak
Makalah Aqidah Akhlak
Arvina Frida Karela
 
Studi islam dalam pendekatan historis
Studi islam dalam pendekatan historisStudi islam dalam pendekatan historis
Studi islam dalam pendekatan historis
atjehh
 
Metode studi islam
Metode studi islamMetode studi islam
Metode studi islam
Shinta Ari Herdiana
 
Ruang lingkup studi islam
Ruang lingkup studi islamRuang lingkup studi islam
Ruang lingkup studi islam
AlfinfatihaRahmah
 
Peradaban islam pada masa Nabi Muhammad SAW
Peradaban islam pada masa Nabi Muhammad SAWPeradaban islam pada masa Nabi Muhammad SAW
Peradaban islam pada masa Nabi Muhammad SAW
STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa
 
Ppt akhlak terpuji
Ppt akhlak terpujiPpt akhlak terpuji
Ppt akhlak terpuji
putialfa95
 
Tanya jawab iman, islam & ihsan
Tanya jawab iman, islam & ihsanTanya jawab iman, islam & ihsan
Tanya jawab iman, islam & ihsan
Septian Muna Barakati
 
Ppt Bab 1 Al-Qur'an Hadits Kelas VII Semester 1
Ppt Bab 1 Al-Qur'an Hadits Kelas VII Semester 1Ppt Bab 1 Al-Qur'an Hadits Kelas VII Semester 1
Ppt Bab 1 Al-Qur'an Hadits Kelas VII Semester 1
vuah vava
 
Tasyri pada masa_nabi_saw
Tasyri pada masa_nabi_sawTasyri pada masa_nabi_saw
Tasyri pada masa_nabi_saw
AZA Zulfi
 
Makalah mengenai Surat al fatihah
Makalah mengenai Surat al fatihahMakalah mengenai Surat al fatihah
Makalah mengenai Surat al fatihah
Risal Fahmi
 
Jam' ul quran
Jam' ul quranJam' ul quran
Jam' ul quran
Mahbub Su'aibi
 
Makalah Sejarah Peradaban Islam Periode Nabi Saw.
Makalah Sejarah Peradaban Islam Periode Nabi Saw.Makalah Sejarah Peradaban Islam Periode Nabi Saw.
Makalah Sejarah Peradaban Islam Periode Nabi Saw.
PAUSIL ABU
 
Zikir dan doa
Zikir dan doaZikir dan doa
Ppt filsafat islam
Ppt filsafat islamPpt filsafat islam
Ppt filsafat islamDewi_Sejarah
 
Sarana dan Prasarana Dakwah
Sarana dan Prasarana DakwahSarana dan Prasarana Dakwah
Sarana dan Prasarana Dakwah
Marlin Dwinastiti
 
Power Point Filsafat Islam
Power Point Filsafat IslamPower Point Filsafat Islam
Power Point Filsafat IslamFirdika Arini
 
sejarah dan perkembangan ilmu tauhid
sejarah dan perkembangan ilmu tauhidsejarah dan perkembangan ilmu tauhid
sejarah dan perkembangan ilmu tauhid
RoisMansur
 
Akhlak Tercela power point
Akhlak Tercela power pointAkhlak Tercela power point
Akhlak Tercela power pointsknramadhaniah
 
hakikat dan tujuan pend.islam
hakikat dan tujuan pend.islam hakikat dan tujuan pend.islam
hakikat dan tujuan pend.islam
Ainina Sa'id
 

What's hot (20)

Makalah spi masa kemunduran (1250 1500 m)
Makalah spi masa kemunduran (1250 1500 m)Makalah spi masa kemunduran (1250 1500 m)
Makalah spi masa kemunduran (1250 1500 m)
 
Makalah Aqidah Akhlak
Makalah Aqidah AkhlakMakalah Aqidah Akhlak
Makalah Aqidah Akhlak
 
Studi islam dalam pendekatan historis
Studi islam dalam pendekatan historisStudi islam dalam pendekatan historis
Studi islam dalam pendekatan historis
 
Metode studi islam
Metode studi islamMetode studi islam
Metode studi islam
 
Ruang lingkup studi islam
Ruang lingkup studi islamRuang lingkup studi islam
Ruang lingkup studi islam
 
Peradaban islam pada masa Nabi Muhammad SAW
Peradaban islam pada masa Nabi Muhammad SAWPeradaban islam pada masa Nabi Muhammad SAW
Peradaban islam pada masa Nabi Muhammad SAW
 
Ppt akhlak terpuji
Ppt akhlak terpujiPpt akhlak terpuji
Ppt akhlak terpuji
 
Tanya jawab iman, islam & ihsan
Tanya jawab iman, islam & ihsanTanya jawab iman, islam & ihsan
Tanya jawab iman, islam & ihsan
 
Ppt Bab 1 Al-Qur'an Hadits Kelas VII Semester 1
Ppt Bab 1 Al-Qur'an Hadits Kelas VII Semester 1Ppt Bab 1 Al-Qur'an Hadits Kelas VII Semester 1
Ppt Bab 1 Al-Qur'an Hadits Kelas VII Semester 1
 
Tasyri pada masa_nabi_saw
Tasyri pada masa_nabi_sawTasyri pada masa_nabi_saw
Tasyri pada masa_nabi_saw
 
Makalah mengenai Surat al fatihah
Makalah mengenai Surat al fatihahMakalah mengenai Surat al fatihah
Makalah mengenai Surat al fatihah
 
Jam' ul quran
Jam' ul quranJam' ul quran
Jam' ul quran
 
Makalah Sejarah Peradaban Islam Periode Nabi Saw.
Makalah Sejarah Peradaban Islam Periode Nabi Saw.Makalah Sejarah Peradaban Islam Periode Nabi Saw.
Makalah Sejarah Peradaban Islam Periode Nabi Saw.
 
Zikir dan doa
Zikir dan doaZikir dan doa
Zikir dan doa
 
Ppt filsafat islam
Ppt filsafat islamPpt filsafat islam
Ppt filsafat islam
 
Sarana dan Prasarana Dakwah
Sarana dan Prasarana DakwahSarana dan Prasarana Dakwah
Sarana dan Prasarana Dakwah
 
Power Point Filsafat Islam
Power Point Filsafat IslamPower Point Filsafat Islam
Power Point Filsafat Islam
 
sejarah dan perkembangan ilmu tauhid
sejarah dan perkembangan ilmu tauhidsejarah dan perkembangan ilmu tauhid
sejarah dan perkembangan ilmu tauhid
 
Akhlak Tercela power point
Akhlak Tercela power pointAkhlak Tercela power point
Akhlak Tercela power point
 
hakikat dan tujuan pend.islam
hakikat dan tujuan pend.islam hakikat dan tujuan pend.islam
hakikat dan tujuan pend.islam
 

Similar to Urgensi Dasar, Dasar, dan Sejarah Perkembangan Ilmu Tasawuf

Makalah tasawuf
Makalah tasawufMakalah tasawuf
Makalah tasawuf
udajamil
 
Aliran-Aliran Tasawuf.pdf
Aliran-Aliran Tasawuf.pdfAliran-Aliran Tasawuf.pdf
Aliran-Aliran Tasawuf.pdf
Zukét Printing
 
Aliran-Aliran Tasawuf.docx
Aliran-Aliran Tasawuf.docxAliran-Aliran Tasawuf.docx
Aliran-Aliran Tasawuf.docx
Zukét Printing
 
islam dan tasawuf
islam dan tasawufislam dan tasawuf
islam dan tasawuf
RISDA AULIANA
 
TASAWUF
TASAWUFTASAWUF
TASAWUF
Ria Widia
 
Metodologi Study Islam
Metodologi Study IslamMetodologi Study Islam
Metodologi Study Islam
Asma'ul Khusna
 
MEMAHAMI TASAWU-WPS Office.docx
MEMAHAMI TASAWU-WPS Office.docxMEMAHAMI TASAWU-WPS Office.docx
MEMAHAMI TASAWU-WPS Office.docx
Fatimah988108
 
Makalah Ilmu Tasawuf.docx
Makalah Ilmu Tasawuf.docxMakalah Ilmu Tasawuf.docx
Makalah Ilmu Tasawuf.docx
AnaaMaghfiratulJanna
 
Pengertian Tasawuf dan Ajaran Tasawuf.docx
Pengertian Tasawuf dan Ajaran Tasawuf.docxPengertian Tasawuf dan Ajaran Tasawuf.docx
Pengertian Tasawuf dan Ajaran Tasawuf.docx
Zukét Printing
 
Pengertian Tasawuf dan Ajaran Tasawuf.pdf
Pengertian Tasawuf dan Ajaran Tasawuf.pdfPengertian Tasawuf dan Ajaran Tasawuf.pdf
Pengertian Tasawuf dan Ajaran Tasawuf.pdf
Zukét Printing
 
Mistik Jawa dalam Islam Kebatinan
Mistik Jawa dalam Islam KebatinanMistik Jawa dalam Islam Kebatinan
Mistik Jawa dalam Islam Kebatinan
FAJAR MENTARI
 
Tasawuf akhlaki, amaly dan falsafi
Tasawuf akhlaki, amaly dan falsafiTasawuf akhlaki, amaly dan falsafi
Tasawuf akhlaki, amaly dan falsafi
Halimatus Sa'diyah
 
Agama 4 tarekat
Agama 4 tarekatAgama 4 tarekat
Agama 4 tarekat
Alvie Mencarie Cahaya
 
Macam-macam tarekat dan pemahamannya di Indonesia
Macam-macam tarekat dan pemahamannya di IndonesiaMacam-macam tarekat dan pemahamannya di Indonesia
Macam-macam tarekat dan pemahamannya di Indonesia
Alvie Mencarie Cahaya
 
Macam-macam Tarekat dan pemahamannya di Indonesia
Macam-macam Tarekat dan pemahamannya di IndonesiaMacam-macam Tarekat dan pemahamannya di Indonesia
Macam-macam Tarekat dan pemahamannya di Indonesia
Alvie Mencarie Cahaya
 
Agama 4 tarekat
Agama 4 tarekatAgama 4 tarekat
Agama 4 tarekat
Alvie Mencarie Cahaya
 
Tasawuf
TasawufTasawuf
Tasawuf
Irwan Saputra
 
Sumber dan Karakteristik Islam
Sumber dan Karakteristik IslamSumber dan Karakteristik Islam
Sumber dan Karakteristik Islam
hepiayunita
 
Makalah tasawuf
Makalah tasawufMakalah tasawuf
Makalah tasawuf
Ainul Mukarrob
 
Mengenali Tasauf
Mengenali TasaufMengenali Tasauf
Mengenali Tasauf
zinniratunnajua
 

Similar to Urgensi Dasar, Dasar, dan Sejarah Perkembangan Ilmu Tasawuf (20)

Makalah tasawuf
Makalah tasawufMakalah tasawuf
Makalah tasawuf
 
Aliran-Aliran Tasawuf.pdf
Aliran-Aliran Tasawuf.pdfAliran-Aliran Tasawuf.pdf
Aliran-Aliran Tasawuf.pdf
 
Aliran-Aliran Tasawuf.docx
Aliran-Aliran Tasawuf.docxAliran-Aliran Tasawuf.docx
Aliran-Aliran Tasawuf.docx
 
islam dan tasawuf
islam dan tasawufislam dan tasawuf
islam dan tasawuf
 
TASAWUF
TASAWUFTASAWUF
TASAWUF
 
Metodologi Study Islam
Metodologi Study IslamMetodologi Study Islam
Metodologi Study Islam
 
MEMAHAMI TASAWU-WPS Office.docx
MEMAHAMI TASAWU-WPS Office.docxMEMAHAMI TASAWU-WPS Office.docx
MEMAHAMI TASAWU-WPS Office.docx
 
Makalah Ilmu Tasawuf.docx
Makalah Ilmu Tasawuf.docxMakalah Ilmu Tasawuf.docx
Makalah Ilmu Tasawuf.docx
 
Pengertian Tasawuf dan Ajaran Tasawuf.docx
Pengertian Tasawuf dan Ajaran Tasawuf.docxPengertian Tasawuf dan Ajaran Tasawuf.docx
Pengertian Tasawuf dan Ajaran Tasawuf.docx
 
Pengertian Tasawuf dan Ajaran Tasawuf.pdf
Pengertian Tasawuf dan Ajaran Tasawuf.pdfPengertian Tasawuf dan Ajaran Tasawuf.pdf
Pengertian Tasawuf dan Ajaran Tasawuf.pdf
 
Mistik Jawa dalam Islam Kebatinan
Mistik Jawa dalam Islam KebatinanMistik Jawa dalam Islam Kebatinan
Mistik Jawa dalam Islam Kebatinan
 
Tasawuf akhlaki, amaly dan falsafi
Tasawuf akhlaki, amaly dan falsafiTasawuf akhlaki, amaly dan falsafi
Tasawuf akhlaki, amaly dan falsafi
 
Agama 4 tarekat
Agama 4 tarekatAgama 4 tarekat
Agama 4 tarekat
 
Macam-macam tarekat dan pemahamannya di Indonesia
Macam-macam tarekat dan pemahamannya di IndonesiaMacam-macam tarekat dan pemahamannya di Indonesia
Macam-macam tarekat dan pemahamannya di Indonesia
 
Macam-macam Tarekat dan pemahamannya di Indonesia
Macam-macam Tarekat dan pemahamannya di IndonesiaMacam-macam Tarekat dan pemahamannya di Indonesia
Macam-macam Tarekat dan pemahamannya di Indonesia
 
Agama 4 tarekat
Agama 4 tarekatAgama 4 tarekat
Agama 4 tarekat
 
Tasawuf
TasawufTasawuf
Tasawuf
 
Sumber dan Karakteristik Islam
Sumber dan Karakteristik IslamSumber dan Karakteristik Islam
Sumber dan Karakteristik Islam
 
Makalah tasawuf
Makalah tasawufMakalah tasawuf
Makalah tasawuf
 
Mengenali Tasauf
Mengenali TasaufMengenali Tasauf
Mengenali Tasauf
 

More from Thufailah Mujahidah

Tugas Statistik
Tugas StatistikTugas Statistik
Tugas Statistik
Thufailah Mujahidah
 
Rangkuman Materi Perkembangan Peserta Didik
Rangkuman Materi Perkembangan Peserta DidikRangkuman Materi Perkembangan Peserta Didik
Rangkuman Materi Perkembangan Peserta Didik
Thufailah Mujahidah
 
Analisis Jurnal tentang Manajemen Sumber Daya Manusia
Analisis Jurnal tentang Manajemen Sumber Daya ManusiaAnalisis Jurnal tentang Manajemen Sumber Daya Manusia
Analisis Jurnal tentang Manajemen Sumber Daya Manusia
Thufailah Mujahidah
 
Makalah Daya Saing Tenaga Kerja Indonesia terhadap Tenaga Kerja Asing
Makalah Daya Saing Tenaga Kerja Indonesia terhadap Tenaga Kerja Asing Makalah Daya Saing Tenaga Kerja Indonesia terhadap Tenaga Kerja Asing
Makalah Daya Saing Tenaga Kerja Indonesia terhadap Tenaga Kerja Asing
Thufailah Mujahidah
 
Uang dan Bank
Uang dan BankUang dan Bank
Uang dan Bank
Thufailah Mujahidah
 
Dampak Krisis Keuangan Global 2008 terhadap Sektor Keuangan di Indonesia
Dampak Krisis Keuangan Global 2008 terhadap Sektor Keuangan di IndonesiaDampak Krisis Keuangan Global 2008 terhadap Sektor Keuangan di Indonesia
Dampak Krisis Keuangan Global 2008 terhadap Sektor Keuangan di Indonesia
Thufailah Mujahidah
 
Komunikasi Internal Melalui E-mail dan Memo
Komunikasi Internal Melalui E-mail dan MemoKomunikasi Internal Melalui E-mail dan Memo
Komunikasi Internal Melalui E-mail dan Memo
Thufailah Mujahidah
 
Pengelolaan Kas Kecil dan Praktik Pengelolaan Pengajuan Uang Tunai
Pengelolaan Kas Kecil dan Praktik Pengelolaan Pengajuan Uang TunaiPengelolaan Kas Kecil dan Praktik Pengelolaan Pengajuan Uang Tunai
Pengelolaan Kas Kecil dan Praktik Pengelolaan Pengajuan Uang Tunai
Thufailah Mujahidah
 
Teks Proposal
Teks ProposalTeks Proposal
Teks Proposal
Thufailah Mujahidah
 
Pengantar Manajemen: Planning
Pengantar Manajemen: Planning Pengantar Manajemen: Planning
Pengantar Manajemen: Planning
Thufailah Mujahidah
 
Teori Biaya Produksi
Teori Biaya ProduksiTeori Biaya Produksi
Teori Biaya Produksi
Thufailah Mujahidah
 
Tugas PAI - Insan Kamil
Tugas PAI - Insan KamilTugas PAI - Insan Kamil
Tugas PAI - Insan Kamil
Thufailah Mujahidah
 
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 12 - 17)
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 12 - 17)Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 12 - 17)
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 12 - 17)
Thufailah Mujahidah
 
Presentasi Bisnis: Pudabi
Presentasi Bisnis: PudabiPresentasi Bisnis: Pudabi
Presentasi Bisnis: Pudabi
Thufailah Mujahidah
 
Analisa Keuangan Makalah Bisnis "Pudabi"
Analisa Keuangan Makalah Bisnis "Pudabi"Analisa Keuangan Makalah Bisnis "Pudabi"
Analisa Keuangan Makalah Bisnis "Pudabi"
Thufailah Mujahidah
 
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 7 - BAB 11)
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 7 -  BAB 11)Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 7 -  BAB 11)
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 7 - BAB 11)
Thufailah Mujahidah
 
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 3 - BAB 6) serta Perbedaan ...
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 3 -  BAB 6) serta Perbedaan ...Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 3 -  BAB 6) serta Perbedaan ...
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 3 - BAB 6) serta Perbedaan ...
Thufailah Mujahidah
 
Bakti Generasi Millenial Melalui Pendidikan untuk Indonesia Emas 2045
Bakti Generasi Millenial Melalui Pendidikan untuk Indonesia Emas 2045Bakti Generasi Millenial Melalui Pendidikan untuk Indonesia Emas 2045
Bakti Generasi Millenial Melalui Pendidikan untuk Indonesia Emas 2045
Thufailah Mujahidah
 
Sampah Bukan untuk Laut: Stop Buang Sampah Sembarangan
Sampah Bukan untuk Laut: Stop Buang Sampah SembaranganSampah Bukan untuk Laut: Stop Buang Sampah Sembarangan
Sampah Bukan untuk Laut: Stop Buang Sampah Sembarangan
Thufailah Mujahidah
 
Sejarah Pendidikan di Indonesia Sebelum Kemerdekaan (BAB 2)
Sejarah Pendidikan di Indonesia Sebelum Kemerdekaan (BAB 2)Sejarah Pendidikan di Indonesia Sebelum Kemerdekaan (BAB 2)
Sejarah Pendidikan di Indonesia Sebelum Kemerdekaan (BAB 2)
Thufailah Mujahidah
 

More from Thufailah Mujahidah (20)

Tugas Statistik
Tugas StatistikTugas Statistik
Tugas Statistik
 
Rangkuman Materi Perkembangan Peserta Didik
Rangkuman Materi Perkembangan Peserta DidikRangkuman Materi Perkembangan Peserta Didik
Rangkuman Materi Perkembangan Peserta Didik
 
Analisis Jurnal tentang Manajemen Sumber Daya Manusia
Analisis Jurnal tentang Manajemen Sumber Daya ManusiaAnalisis Jurnal tentang Manajemen Sumber Daya Manusia
Analisis Jurnal tentang Manajemen Sumber Daya Manusia
 
Makalah Daya Saing Tenaga Kerja Indonesia terhadap Tenaga Kerja Asing
Makalah Daya Saing Tenaga Kerja Indonesia terhadap Tenaga Kerja Asing Makalah Daya Saing Tenaga Kerja Indonesia terhadap Tenaga Kerja Asing
Makalah Daya Saing Tenaga Kerja Indonesia terhadap Tenaga Kerja Asing
 
Uang dan Bank
Uang dan BankUang dan Bank
Uang dan Bank
 
Dampak Krisis Keuangan Global 2008 terhadap Sektor Keuangan di Indonesia
Dampak Krisis Keuangan Global 2008 terhadap Sektor Keuangan di IndonesiaDampak Krisis Keuangan Global 2008 terhadap Sektor Keuangan di Indonesia
Dampak Krisis Keuangan Global 2008 terhadap Sektor Keuangan di Indonesia
 
Komunikasi Internal Melalui E-mail dan Memo
Komunikasi Internal Melalui E-mail dan MemoKomunikasi Internal Melalui E-mail dan Memo
Komunikasi Internal Melalui E-mail dan Memo
 
Pengelolaan Kas Kecil dan Praktik Pengelolaan Pengajuan Uang Tunai
Pengelolaan Kas Kecil dan Praktik Pengelolaan Pengajuan Uang TunaiPengelolaan Kas Kecil dan Praktik Pengelolaan Pengajuan Uang Tunai
Pengelolaan Kas Kecil dan Praktik Pengelolaan Pengajuan Uang Tunai
 
Teks Proposal
Teks ProposalTeks Proposal
Teks Proposal
 
Pengantar Manajemen: Planning
Pengantar Manajemen: Planning Pengantar Manajemen: Planning
Pengantar Manajemen: Planning
 
Teori Biaya Produksi
Teori Biaya ProduksiTeori Biaya Produksi
Teori Biaya Produksi
 
Tugas PAI - Insan Kamil
Tugas PAI - Insan KamilTugas PAI - Insan Kamil
Tugas PAI - Insan Kamil
 
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 12 - 17)
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 12 - 17)Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 12 - 17)
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 12 - 17)
 
Presentasi Bisnis: Pudabi
Presentasi Bisnis: PudabiPresentasi Bisnis: Pudabi
Presentasi Bisnis: Pudabi
 
Analisa Keuangan Makalah Bisnis "Pudabi"
Analisa Keuangan Makalah Bisnis "Pudabi"Analisa Keuangan Makalah Bisnis "Pudabi"
Analisa Keuangan Makalah Bisnis "Pudabi"
 
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 7 - BAB 11)
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 7 -  BAB 11)Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 7 -  BAB 11)
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 7 - BAB 11)
 
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 3 - BAB 6) serta Perbedaan ...
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 3 -  BAB 6) serta Perbedaan ...Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 3 -  BAB 6) serta Perbedaan ...
Resume Introduction to Business 4th edition (BAB 3 - BAB 6) serta Perbedaan ...
 
Bakti Generasi Millenial Melalui Pendidikan untuk Indonesia Emas 2045
Bakti Generasi Millenial Melalui Pendidikan untuk Indonesia Emas 2045Bakti Generasi Millenial Melalui Pendidikan untuk Indonesia Emas 2045
Bakti Generasi Millenial Melalui Pendidikan untuk Indonesia Emas 2045
 
Sampah Bukan untuk Laut: Stop Buang Sampah Sembarangan
Sampah Bukan untuk Laut: Stop Buang Sampah SembaranganSampah Bukan untuk Laut: Stop Buang Sampah Sembarangan
Sampah Bukan untuk Laut: Stop Buang Sampah Sembarangan
 
Sejarah Pendidikan di Indonesia Sebelum Kemerdekaan (BAB 2)
Sejarah Pendidikan di Indonesia Sebelum Kemerdekaan (BAB 2)Sejarah Pendidikan di Indonesia Sebelum Kemerdekaan (BAB 2)
Sejarah Pendidikan di Indonesia Sebelum Kemerdekaan (BAB 2)
 

Recently uploaded

Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase eAlur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
MsElisazmar
 
Powerpoint Materi Menyusun dan Merencanakan Modul Ajar
Powerpoint Materi Menyusun dan Merencanakan Modul AjarPowerpoint Materi Menyusun dan Merencanakan Modul Ajar
Powerpoint Materi Menyusun dan Merencanakan Modul Ajar
MashudiMashudi12
 
Modul Ajar Matematika Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Matematika Kelas 11 Fase F Kurikulum MerdekaModul Ajar Matematika Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Matematika Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
Fathan Emran
 
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdfMODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
YuristaAndriyani1
 
PELAKSANAAN + Link2 Materi WORKSHOP Nasional _"Penerapan Regulasi Terbaru P...
PELAKSANAAN + Link2 Materi WORKSHOP Nasional _"Penerapan  Regulasi  Terbaru P...PELAKSANAAN + Link2 Materi WORKSHOP Nasional _"Penerapan  Regulasi  Terbaru P...
PELAKSANAAN + Link2 Materi WORKSHOP Nasional _"Penerapan Regulasi Terbaru P...
Kanaidi ken
 
KONSEP TEORI TERAPI KOMPLEMENTER - KELAS B KELOMPOK 10.pdf
KONSEP TEORI TERAPI KOMPLEMENTER - KELAS B KELOMPOK 10.pdfKONSEP TEORI TERAPI KOMPLEMENTER - KELAS B KELOMPOK 10.pdf
KONSEP TEORI TERAPI KOMPLEMENTER - KELAS B KELOMPOK 10.pdf
AsyeraPerangin1
 
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
tsuroyya38
 
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum MerdekaModul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
Fathan Emran
 
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28 Juni 2024
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28  Juni 2024Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28  Juni 2024
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28 Juni 2024
Kanaidi ken
 
Laporan Pembina Pramuka sd format doc.docx
Laporan Pembina Pramuka sd format doc.docxLaporan Pembina Pramuka sd format doc.docx
Laporan Pembina Pramuka sd format doc.docx
RUBEN Mbiliyora
 
Defenisi Anak serta Usia Anak dan Kekerasan yang mungki terjadi pada Anak
Defenisi Anak serta Usia Anak dan Kekerasan yang mungki terjadi pada AnakDefenisi Anak serta Usia Anak dan Kekerasan yang mungki terjadi pada Anak
Defenisi Anak serta Usia Anak dan Kekerasan yang mungki terjadi pada Anak
Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak
 
Modul Ajar Informatika Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Informatika Kelas 7 Fase D Kurikulum MerdekaModul Ajar Informatika Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Informatika Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
Fathan Emran
 
Panduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra.pdf
Panduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra.pdfPanduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra.pdf
Panduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra.pdf
MildayantiMildayanti
 
Pelatihan AI GKA abdi Sabda - Apa itu AI?
Pelatihan AI GKA abdi Sabda - Apa itu AI?Pelatihan AI GKA abdi Sabda - Apa itu AI?
Pelatihan AI GKA abdi Sabda - Apa itu AI?
SABDA
 
Modul Ajar Matematika Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
Modul Ajar Matematika Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]Modul Ajar Matematika Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
Modul Ajar Matematika Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
Fathan Emran
 
materi penyuluhan kesehatan reproduksi remaja
materi penyuluhan kesehatan reproduksi remajamateri penyuluhan kesehatan reproduksi remaja
materi penyuluhan kesehatan reproduksi remaja
DewiInekePuteri
 
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi KomunikasiMateri Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
AdePutraTunggali
 
GERAKAN KERJASAMA DAN BEBERAPA INSTRUMEN NASIONAL PENCEGAHAN KORUPSI.pptx
GERAKAN KERJASAMA DAN BEBERAPA INSTRUMEN NASIONAL PENCEGAHAN KORUPSI.pptxGERAKAN KERJASAMA DAN BEBERAPA INSTRUMEN NASIONAL PENCEGAHAN KORUPSI.pptx
GERAKAN KERJASAMA DAN BEBERAPA INSTRUMEN NASIONAL PENCEGAHAN KORUPSI.pptx
fildiausmayusuf1
 
Pelatihan AI GKA abdi Sabda - Bagaimana memakai AI?
Pelatihan AI GKA abdi Sabda - Bagaimana memakai AI?Pelatihan AI GKA abdi Sabda - Bagaimana memakai AI?
Pelatihan AI GKA abdi Sabda - Bagaimana memakai AI?
SABDA
 
Perencanaan Berbasis Data Satuan Pendidikan Jenjang SMP
Perencanaan Berbasis Data Satuan Pendidikan Jenjang SMPPerencanaan Berbasis Data Satuan Pendidikan Jenjang SMP
Perencanaan Berbasis Data Satuan Pendidikan Jenjang SMP
TriSutrisno48
 

Recently uploaded (20)

Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase eAlur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
 
Powerpoint Materi Menyusun dan Merencanakan Modul Ajar
Powerpoint Materi Menyusun dan Merencanakan Modul AjarPowerpoint Materi Menyusun dan Merencanakan Modul Ajar
Powerpoint Materi Menyusun dan Merencanakan Modul Ajar
 
Modul Ajar Matematika Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Matematika Kelas 11 Fase F Kurikulum MerdekaModul Ajar Matematika Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Matematika Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
 
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdfMODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
 
PELAKSANAAN + Link2 Materi WORKSHOP Nasional _"Penerapan Regulasi Terbaru P...
PELAKSANAAN + Link2 Materi WORKSHOP Nasional _"Penerapan  Regulasi  Terbaru P...PELAKSANAAN + Link2 Materi WORKSHOP Nasional _"Penerapan  Regulasi  Terbaru P...
PELAKSANAAN + Link2 Materi WORKSHOP Nasional _"Penerapan Regulasi Terbaru P...
 
KONSEP TEORI TERAPI KOMPLEMENTER - KELAS B KELOMPOK 10.pdf
KONSEP TEORI TERAPI KOMPLEMENTER - KELAS B KELOMPOK 10.pdfKONSEP TEORI TERAPI KOMPLEMENTER - KELAS B KELOMPOK 10.pdf
KONSEP TEORI TERAPI KOMPLEMENTER - KELAS B KELOMPOK 10.pdf
 
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
 
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum MerdekaModul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar PAI dan Budi Pekerti Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka
 
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28 Juni 2024
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28  Juni 2024Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28  Juni 2024
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28 Juni 2024
 
Laporan Pembina Pramuka sd format doc.docx
Laporan Pembina Pramuka sd format doc.docxLaporan Pembina Pramuka sd format doc.docx
Laporan Pembina Pramuka sd format doc.docx
 
Defenisi Anak serta Usia Anak dan Kekerasan yang mungki terjadi pada Anak
Defenisi Anak serta Usia Anak dan Kekerasan yang mungki terjadi pada AnakDefenisi Anak serta Usia Anak dan Kekerasan yang mungki terjadi pada Anak
Defenisi Anak serta Usia Anak dan Kekerasan yang mungki terjadi pada Anak
 
Modul Ajar Informatika Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Informatika Kelas 7 Fase D Kurikulum MerdekaModul Ajar Informatika Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Informatika Kelas 7 Fase D Kurikulum Merdeka
 
Panduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra.pdf
Panduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra.pdfPanduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra.pdf
Panduan Penggunaan Rekomendasi Buku Sastra.pdf
 
Pelatihan AI GKA abdi Sabda - Apa itu AI?
Pelatihan AI GKA abdi Sabda - Apa itu AI?Pelatihan AI GKA abdi Sabda - Apa itu AI?
Pelatihan AI GKA abdi Sabda - Apa itu AI?
 
Modul Ajar Matematika Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
Modul Ajar Matematika Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]Modul Ajar Matematika Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
Modul Ajar Matematika Kelas 8 Fase D Kurikulum Merdeka - [abdiera.com]
 
materi penyuluhan kesehatan reproduksi remaja
materi penyuluhan kesehatan reproduksi remajamateri penyuluhan kesehatan reproduksi remaja
materi penyuluhan kesehatan reproduksi remaja
 
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi KomunikasiMateri Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
 
GERAKAN KERJASAMA DAN BEBERAPA INSTRUMEN NASIONAL PENCEGAHAN KORUPSI.pptx
GERAKAN KERJASAMA DAN BEBERAPA INSTRUMEN NASIONAL PENCEGAHAN KORUPSI.pptxGERAKAN KERJASAMA DAN BEBERAPA INSTRUMEN NASIONAL PENCEGAHAN KORUPSI.pptx
GERAKAN KERJASAMA DAN BEBERAPA INSTRUMEN NASIONAL PENCEGAHAN KORUPSI.pptx
 
Pelatihan AI GKA abdi Sabda - Bagaimana memakai AI?
Pelatihan AI GKA abdi Sabda - Bagaimana memakai AI?Pelatihan AI GKA abdi Sabda - Bagaimana memakai AI?
Pelatihan AI GKA abdi Sabda - Bagaimana memakai AI?
 
Perencanaan Berbasis Data Satuan Pendidikan Jenjang SMP
Perencanaan Berbasis Data Satuan Pendidikan Jenjang SMPPerencanaan Berbasis Data Satuan Pendidikan Jenjang SMP
Perencanaan Berbasis Data Satuan Pendidikan Jenjang SMP
 

Urgensi Dasar, Dasar, dan Sejarah Perkembangan Ilmu Tasawuf

  • 1. URGENSI DASAR, DASAR, DAN SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU TASAWUF MAKALAH Disusun oleh : Kelompok 3 1. Adam Abiazzi Saali 2. Dewi Rahmawati 3. Farah Dila Syifa 4. Thufailah Mujahidah Program Studi Pendidikan Administrasi Perkantoran Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta 2019
  • 2. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kehidupan modern dilingkupi oleh berbagai aktifitas guna memenuhi apa yang diperlukan oleh setiap insan, mulai dari bekerja, belajar, dan aktivitas lainnya untuk meningkatkan potensi dan aktualisasi diri. Sejak matahari terbit sampai dengan terbenam, kita membuat perencanaan akan apa yang kita lakukan dalam sehari. Ini dilakukan agar waktu yang terlewati tidak menjadi sia-sia. Sebagai muslim, kita juga melaksanakan ibadah harian seperti sholat, membaca Al-Qur’an, dan lainnya. Ibadah tersebut dilakukan sebagai wujud kewajiban kita untuk mengabdi dan menyembah Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT. Manusia memiliki kecenderungan untuk meraih dunia, akhirat, ataupun dunia dan akhirat. Ketika manusia tersebut hanya ingin meraih dunia, maka dia akan cenderung melupakan agamanya. Agama yang dianut seseorang adalah untuk mengatur bagaimana seseorang menjalani kehidupan. Sebagai contoh, ketika seseorang itu adalah muslim, maka Al-Qur’an akan dijadikan pedoman dalam kehidupan. Sebagai muslim, pada akhirnya apa yang kita lakukan di dunia ini yang berguna hanyalah amal ibadah. Segala harta benda yang telah kita kumpulkan tidak akan kita bawa ke alam kubur. Penyeimbangan antara dunia dan akhirat perlu dilakukan agar tidak terjadi ketimpangan sehingga kita melupakan agama kita, terlebih Tuhan kita, Allah SWT. Dalam makalah ini, penulis membahas tentang tasawuf yang didefinisikan sebagai upaya memahami hakikat Allah seraya melupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan kesenangan hidup duniawi. Definisi lain mengatakan bahwa tasawuf adalah usaha mengisi hati dengan hanya mengingat kepada Allah, yang merupakan landasan lahirnya ajaran al- hubb atau cinta ilahi. Esensi tasawuf sebagai pengalaman rohaniah yang hampir tidak mungkin dijelaskan secara tepat melalui bahasa lisan. Masing-masing orang yang mengalaminya mempunyai penghayatan yang berbeda dari orang lain sehingga pengungkapannya juga melalui cara yang berbeda. Tasawuf yang merupakan satu disiplin ilmu yang tumbuh dari pengalaman spiritual yang mengacu pada kehidupan moralitas yang bersumber dari nilai-nilai Islam.
  • 3. 1.2. Urgensi Tema Dalam makalah yang bertemakan urgensi dasar, dasar, dan sejarah ilmu tasawuf, penulis melihat adanya kepentingan dalam tema ini. Pengenalan dan pembelajaran mengenai tasawuf sebaiknya dilakukan oleh umat Islam sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Inti dari tasawuf adalah akhlak yang terpuji sebagaimana tujuan utama Rasulullah SAW diutus ke dunia untuk memperbaiki akhlah manusia menjadi akhlak yang mulia. Seseorang yang mengamalkan tasawuf secara otomatis menjaga sikap dan tingkah laku agar selaras dengan apa yang diperintahkan oleh Allah SWT. Arus kehidupan modern yang terkadang membuat manusia larut akan kehidupan fana ini sebaiknya diimbangi dengan semangat mencintai Allah SWT dalam rangka memberikan ketenangan jiwa yang dapat dipelajari dalam ilmu tasawuf. Salah satu cara mengenal tasawuf adalah dengan mengetahui urgensi dasar, dasar, dan sejarah ilmu tasawuf yang akan dibahas dalam makalah ini. 1.3. Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut: a. Mengetahui dasar-dasar ilmu tasawuf dalam Al-Qur’an b. Mengetahui sejarah pertumbuhan dan perkembangan tasawuf c. Mengetahui sejarah perkembangan tasawuf di Indonesia d. Mengetahui manfaat ilmu tasawuf dalam kehidupan
  • 4. BAB II PEMBAHASAN 2.1. Dasar-Dasar Ilmu Tasawuf dalam Al-Qur’an Tedapat empat segi manfaat tasawuf dalam Al-Qur’an yang menjadi sumber dan dasar dari tasawuf serta amalannya:1 1. Pertama, Al-Qur’an penuh dengan gambaran kehidupan tasawuf dan merangsang untuk hidup secara sufi. 2. Kedua,, Al-Qur’an merupakan sumber dari konsep-konsep yang berkembang dalam dunia tasawuf. 3. Ketiga, Al-Qur’an banyak sekali berbicara dengan hati dan perasaan. Di sini, Al- Qur’an banyak membentuk, mempengaruhi atau mengubah manusia dengan bahasa hati, bahasa sufi, agar menjadi manusia yang berkepribadian sufi yang menyatu dalam dirinya secara harmonis, perasaan dekat, takut, dan cinta pada Tuhan yang bergetar hatinya saat mendengar ayat-ayat Al-Qur’an. Dengan demikian, Al-Qur’an menjadi sumber yang sebenarnya dari metode tarekat. 4. Keempat, Al-Qur’an sering menggambarkan Tuhan. Di samping itu, tasawuf juga terdapat (mengandung) aspek-aspek mudarat. Dari segi mudarat ialah karena ada kalangan yang membawa orang menjadi sesat atau musyrik, ada pula kalangan yang membawa orang menjadi apatis, mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat ramai (tidak peduli dengan lingkungan) dan secara mutlak memandang dunia ini sebagai tempat kotoran dan merusakkan, padahal ini merupakan tempat beramal, bekerja dan berjuang untuk kebahagiaan umat manusia di dunia dan di akhirat. Dalam literatur barat, sufisme (tasawuf) masih sering diartikan sama dengan mystism (mistik), yang sekarang sudah memiliki konotasi lain, dan dalam beberapa hal di Indonesia sudah punya arti tersendiri pula, dan biasanya disamakan dengan kebatinan, sudah berbau jimat, dukun dan sebagainya. Bahkan ada yang menyamakan dengan syirik. Agaknya istilah sufism yang sering dipakai dalam literatur bahasa inggris sudah memberi arti adanya perbedaan itu. Terkadang justru diberi tambahan, misalnya Nicholson dengan kata 1 Badrudin, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Serang: Penerbit A-Empat, 2015)
  • 5. Mystical Sufism. Lihat Edit H. Endang Syaifudin Anshari, karya Ali Audah, dari Khazanah Dunia Islam (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), cet. I. h. 164, 169, dan 195. Dengan gambaran yang hanya mampu didekati secara tepat melalui tasawuf. Bila gambaran itu hanya dapat didekati atau diterangkan dengan ilmu kalam atau filsafat akan tampak sebagai pemerkosa dan artinya menjadi dangkal. Pada hakikatnya, seorang ahli tasawuf Islami itu akan tunduk pada agamanya, melaksanakan ibadat-ibadat yang diperintahkan, iman itu diyakininya dalam hati, menghadap selalu pada Allah memikirkan selalu sifat dan tanda-tanda kekuasaan Allah. Imam Shal Tusturi seorang ahli tasawuf telah mengemukakan tentang prinsip tasawuf ada enam macam2, yaitu : 1. Bepedoman pada kitab Allah (Al-Qur’an) 2. Mengikuti sunnah Rasulullah (Al-Hadits) 3. Makan makanan yang halal 4. Tidak menyakiti manusia (termasuk binatang) 5. Menjauhkan diri dari dosa 6. Melaksanakan ketetapan hukum (yaitu segala peraturan agama Islam) Pandangan Imam Sya’rani tentang tasawuf : 1. Jalan kepada Allah itu harus dimengerti dahulu tentang ilmu syari’at 2. Diketahuiinya ilmu tersebut baik yang khusus maupun yang umum 3. Memiliki keahlian dalam bidang bahasa Arab 4. Setiap ahli tasawuf haruslah sebagai seorang ahli fiqh 5. Jika ada seorang wali yang menyalahi pandangan Rasulullah maka dia tidak boleh diikuti. Tasawuf telah mengajak kepada akhlak yang utama yang dianjurkan dalam Islam. Akhlak yang mulia itu dijadikan sebagai landasannya, menyucikan jiwanya dengan cara berhias diri dengan keutamaan akhlaknya yang berupa tawadhu’ (yaitu rendah hati), meninggalkan diri dari akhlak yang tercela, memberikan kemudahan dan lemah lembut, kemuliaan dirinya diikuti dengan sifat qona’ah (merelakan diri), menjauhkan diri dari perkara yang berat, perdebatan maupun kemarahan. Lambangnya adalah Al-Qur’an. 2 Badrudin, PengantarIlmu Tasawuf, (Serang: Penerbit A-Empat, 2015)
  • 6. Hidup sufi menurut Al-Qur’an bersifat seimbang dan harmonis, hidup untuk akhirat tidak melupakan dunia tapi tidak tenggelam di dalamnya. Secara umum oleh Al-Qur’an ditegaskan bahwa orang yang mengikuti hawa nafsu sama dengan menjadikan nafsunya sebagai Tuhan yang membuat seluruh pendengaran, penghlihatan, dan hatinya tertutup dari kebenaran (QS. 45:23, 28:60, 3:185) Tuhan mengatakan bahwa Ia dekat dengan manusia dan mengabulkan permintaan setiap hamba-Nya. Oleh kaum sufi da’a di sini diartikan berseru, yaitu Tuhan mengabulkan seruan orang yang ingin dekat pada-Nya. Tuhan ada di dalam, bukan di luar diri manusia. Tuhan dan manusia sebenarnya satu, perbuatan manusia adalah perbuatan Tuhan. Untuk mengenal Tuhan manusia cukup mengenali dirinya dan coba mengetahui dirinya. Terlepas dari kemungkinan adanya atau tidak adanya pengaruh dari luar, penjelasan yang bersumber dari dalil-dalil tersebut membawa kepada timbulnya aliran sufi dalam Islam, yaitu jika yang dimaksud dengan sufisme adalah ajaran-ajaran tentang sedekat mungkin dengan Tuhan. Amaliah tasawuf yang dipandang paling penting adalah dzikir. Al-Qur’an juga menempatkan dzikir dan orang-orang yang suka dzikir saat dan setiap keadaan sambil berdiri, duduk, dan sambil berbaring di samping merenungi penciptaan langit dan bumi dalam kedudukan istimewa adalah orang yang mempunyai pengetahuan dan kesadaran mendalam (Ulil Albab). Dzikir merupakan konsep sentral dalam ibadah menurut tasawuf dan dalam beribadah menurut Al-Qur’an. Itulah sebabnya Allah juga memerintahkan manusia untuk dzikir sebanyak-banyaknya. Konsep lain dari tasawuf yang berasal dari Al-Qur’an adalah al-shabr (sabar). Esensi sabar dalam Al-Qur’an menunjukkan sifat daya tahan atau kemampuan jiwa untuk memikul tekanan beban penderitan, kesulitan, atau perjuangan dengan perasaan tegar dan kuat. Oleh karena itu, konsep sabar menjadi bagian yang sangat penting dan begitu akrab dengan kehidupan tasawuf. Sifat sabar dipuji Al-Qur’an sebagai sifat para Rasul. Salah satu orang yang dicintai Allah adalah orang yang bersabar. Bahkan Al-Qur’an menyatakan adanya kebersamaan Allah dengan orang-orang bersabar. Oleh sebab itu, sabar memiliki kedudukan yang sejajar dengan kebenaran.3 Konsep sufi yang penting berikutnya adalah masalah ridha dan tawakkal. Dalam tasawuf penekanan menggunakan kata ridha adalah ridha hamba pada Tuhan, sedangkan 3 Badrudin, Pengantar Ilmu Tasawuf, (Serang: Penerbit A-Empat, 2015)
  • 7. Al-Qur’an menyebutkan hal itu secara timbal balik. Konsep tasawuf mengenai tawakkal ini banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Menurut Imam Al-Qusyairi bahwa tempat tawakkal adalah hati, sedangkan gerakan lahiriah tidak menanggalkan tawakkal dalam hati manakala si hamba telah yakin bahwa takdir datang dari Allah, hingga jika suatu saat mendapat kesulitan maka ia akan melihat takdir di dalamnya, dan jika sesuatu dimudahkan kepadanya maka ia melihat kemudahan dari Allah SWT di dalamnya. Tentang hakekat, Ibnu ‘Atha mengungkapkan, “Tawakkal adalah, hendaknya hasrat yang menggebu-gebu terhadap perkara duniawi tidak muncul dalam dirimu, meskipun engkau sangat membutuhkannya, dan hendaknya engkau bersikap qona’ah dengan Allah meskipun engkau tergantung kepada kebutuhan-kebutuhan duniawi itu.” Di samping itu, Al-Qur’an juga menjadi sumber dari konsep-konsep al-madzaqat dalam tasawuf. Konsep ini berkaitan dengan rasa yang amat dalam dari pengalaman keagamaan sufi seperti Al- Hubb yang menggambarkan cinta yang amat dalam pada Tuhan yang membuat sufi tersebut mabuk dan mendapat balasan cinta dari Tuhan bukanlah barang bid’ah tetapi dan dipuji Al-Qur’an. Cinta sebagai salah satu ideal manusia yang menuntut manusia agar mencintai Tuhan sebagai pengejawantahan sempurna dari semua moral yang lebih penting dari segala sesuatu yang lain. Sebagai bentuk perintah Allah, agar manusia berlaku baik dan mencintai kedua orang tua. Kewajiban mencintai itu diperluas lagi hingga meliputi kerabat, anak- anak yatim, orang-orang yang membutuhkan, tetangga yang dekat dan jauh, dan para musafir. 2.2. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Tasawuf Term tasawuf dikenal secara luas di kawasan Islam sejak penghujung abad 2 hijriah, sebagai perkembangan lanjut dari kesalehan asketis atau para zahid yang mengelompok di serambi Masjid Madinah.4 Dalam perjalanan kehidupan kelompok ini lebih mengkhususkan diri untuk beribadah dan pengembangan kehidupan rohaniah dengan mengabaikan kenikmatan duniawi. Pola hidup kesalehan yang demikian merupakan awal pertumbuhan tasawuf yang kemudian berkembang dengan pesatnya. Fase ini dapat disebut 4 Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme Edisi Revisi, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2002)
  • 8. sebagai fase asketisme dan merupakan fase pertama perkembangan tasawuf, yang ditandai dengan munculnya individu-individu yang lebih mengejar kehidupan akhirat sehingga perhatiannya terpusat untuk beribadah dan mengabaikan keasikan duniawi. Fase asketisme ini setidaknya sampai pada abad dua hijriah dan memasuki abad tiga hijriah sudah terlihat adanya peralihan konkrit dari asketisme Islam ke sufisme. Fase ini dapat disebut fase kedua, yang ditandai oleh antara lain peralihan sebutan Zahid menjadi sufi. Di sisi lain, pada kurun waktu ini percakapan para Zahid sudah sampai pada persoalan apa itu jiwa yang bersih, apa itu moral, dan bagaimana metode pembinaannya dan perbincangan tentang masalah teoritis lainnya. Tindak lanjut dari perbincangan ini, maka bermunculanlah berbagai teori tentang jenjang-jenjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi (al-maqomat) serta ciri-ciri yang dimiliki seorang sufi (al-maqomat) serta ciri- ciri yang dimiliki seorang sufi pada tingkat tertentu (al-hal). Demikian juga pada periode ini sudah mulai berkemmbang pembahasan tentang al-ma’rifat serta perangkat metodenya sampai pada tingkat fana dan ittihad. Istilah tasawuf di masa Nabi Muhammad SAW tidak ada, demikian pula di masa para sahabat Nabi Muhammad SAW dan tabi’in belum ada istilah itu. Dalam masalah ini belum ada seorang pun mengkaji masalah tasawuf yang sampai dalam batasan ilmiah untuk mengetahui tokoh sufi pertama dalam Islam dan siapa yang meletakkan batu pertama bagi pemikiran tasawuf ini. Tasawuf merupakan sebuah konsep yang tumbuh sebelum Nabi Muhammad SAW lahir, baik dalam segi wacana, perilaku, maupun akidah. Tasawuf terjadi pada setiap umat dan agama-agama, khususnya Brahmana Hinduisme, filsafat Iluminasi Yunani, Majusi Persia, dan Nashrani Awal. Lalu pemikiran itu menyelinap ke dalam pemikiran Islam melalui zindik Majusi. Kemudian menemukan jalannya dalam realitas umat Islam dan berkembang hingga mencapai tujuan akhirnya, disusun kitab-kitab referensinya, dan telah diletakkan dasar-dasar dan kaidah-kaidahnya pada abad keempat dan kelima hijriyah.5 Tasawuf sebagai sebuah ilmu pengetahuan baru muncul setelah masa sahabat dan tabi’in. Nabi Muhammad SAW dan para sahabat pada hakikatnya sudah sufi. Mereka tidak pernah mengagungkan kehidupan dunia, tapi juga tidak meremehkannya. Pada masa Rasulullah SAW, Islam tidak mengenal aliran tasawuf, demikian juga pada masa sahabat dan tabi’in. Kemudian datang setelah masa tabi’in suatu kaum yang mengaku zuhud yang berpakaian shuf (pakaian dari buku domba), maka karena pakaian inilah mereka mendapat 5 Badrudin, PengantarIlmu Tasawuf, (Serang: Penerbit A-Empat, 2015)
  • 9. julukan sebagai nama bagi mereka yaitu sufi dengan nama tarekatnya tasawuf. Ilmu Tasawuf datang belakangan sebagaimana ilmu yang lain. Di masa awalnya, embrio tasawuf ada dalam bentuk perilaku tertentu. Ketika kekuasaan Islam makin meluas dan terjadi perubahan sejarah yang fenomenal pasca Rasulullah SAW dan sahabat, ketika itu pula kehidupan ekonomi dan sosial makin mapan, mulailah orang-orang lalai pada sisi rohani. Budaya hedonism pun menjadi fenomena umum. Saat itulah timbul gerakan tasawuf sekitar abad ke-2 hijriyah. Gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan tentang hakikat hidup. Menurut pengarang Kasyf Al- Dzunnun, orang yang pertama kali diberi julukan Al-Sufi adalah Abu Hasyim Al-Sufi (Wafat. 150 H). Dalam sejarahnya, bahwa dakwah Rasulullah SAW di Makkah tidaklah semulus yang diharapkan. Kemudian Rasulullah melakukan tahannus di Gua Hira sebelum turunnya wahyu pertama. Kegiatan ini dalam rangka menenangkan jiwa dan menyucikan diri. Dalam proses ini Rasulullah melakukan riyadhah dengan bekal makanan secukupnya, pakaian sederhana yang jauh dari kemewahan dunia. Dengan demikian setelah menjalani proses-proses tersebut jiwa Rasulullah SAW telah mencapai tingkatan spiritual tertentu sehingga benar-benar siap menerima wahyu melalui Malaikat Jibril. Dengan memperhatikan praktek-praktek Nabi SAW di atas menunjukkan Islam merupakan agama yang memiliki akar tradisi spiritual yang tinggi. Perkembangan tasawuf dari waktu ke waktu, yaitu: a. Masa Pembentukan Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa pada masa awal Islam (Rasulullah SAW dan Khulafaur Rasyidin) istilah tasawuf belum dikenal. Meski demikian, bukan berarti praktek seperti puasa, zuhud, dan senadanya tidak ada. Hal ini dibuktikan dengan perilaku Abdullah ibn Umar yang banyak melakukan puasa sepanjang hari dan shalat atau membaca al-Qur’an di malam harinya. Sahabat lain yang terkenal dengan hal itu antara lain Abu al-Darda’, Abu Dzar al-Ghiffari, Bahlul ibn Zaubaid, dan Kahmas al-Hilali.6 Pada paruh kedua abad ke-1 Hijriyah, muncul nama Hasan Basri (642-728M), seorang tokoh zahid pertama dan termasyhur dalam sejarah tasawuf. Hasan Basri tampil pertama dengan 6 Ali Masyhar, “Tasawuf: Sejarah, Mazhab, dan Inti Ajarannya” Al-A’raf Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat Vol. XII, No 1, Januari-Juni 2015.
  • 10. mengajarkan ajaran khauf (takut) dan raja’ (berharap), setelah itu diikuti oleh beberapa guru yang mengadakan gerakan pembaharuan hidup kerohanian di kalangan muslimin. Ajaran-ajaran yang muncul pada abad ini yakni khauf, raja’, ju’ (sedikit makan), sedikit bicara, sedikit tidur, zuhud (menjauhi dunia), khalwat (menyepi), shalat sunnah sepanjang malam dan puasa di siang harinya, menahan nafsu, kesederhanaan, memperbanyak membaca al-Qur’an dan lain-lainnya. Para zahid ketika ini sangat kuat memegang dimensi eksteral Islam (Syari’ah) dan pada waktu yang sama juga menghidupkan dimensi internal (Bathiniyyah). Kemudian pada abad ke-2 Hijriyah, muncul zahid perempuan dari Basrah-Irak Rab’ah al-Adawiyah (w. 801M/185 H). Dia memunculkan ajaran cinta kepada Tuhan (Hubb al-Ilah). Dengan ajaran ini dia menghambakan diri sepenuhnya kepada Allah SWT tanpa atau menghilangan harapan imbalan atas surga dan karena takut atas ancaman neraka. Pada abad ini tasawuf tidak banyak berbeda dengan abad sebelumnya, yakni bercorak kezuhudan. Meski demikian, pada abad ini juga mulai muncul beberapa istilah pelik yang antara lain adalah kebersihan jiwa, kemurnian hati, hidup ikhlas, menolak pemberian orang, bekerja mencari makan dengan usaha sendiri, berdiam diri, melakukan safar, memperbanyak dzikir dan riyadhah. Tokoh yang memperkenalkan istilah ini, antara lain Ali Syaqiq al-Balkhy, Ma’ruf alKarkhy dan Ibrahim ibn Adham. b. Masa Pengembangan Masa pengembangan ini terjadi pada kurun antara abad ke-3 dan ke-4 H. Pada kurun ini muncul dua tokoh terkemuka, yakni Abu Yazid al-Bushthami (w.261 H.) dan Abu Mansur al-Hallaj (w. 309 H.).7 Abu Yazid berasal dari Persia, dia memunculkan ajaran fana’ (lebur atau hancurnya perasaan), Liqa’ (bertemu dengan Allah Swt) dan Wahdah al-Wujud (kesatuan wujud atau bersatunya hamba dengan Allah SWT). Sementara Al-Hallaj menampilkan teori Hulul (inkarnasi Tuhan), Nur Muhammad dan Wahdat al-Adyan (kesatuan agama). Selain itu, para sufi lainnya pada kurun waktu ini juga membicarakan tentang Wahdat al-Syuhud (kesatuan penyaksian), Ittishal (berhubungan dengan Tuhan), Jamal wa Kamal (keindahan dan kesempurnaan Tuhan), dan Insan al- 7 Ali Masyhar, “Tasawuf: Sejarah, Mazhab, dan Inti Ajarannya” Al-A’raf Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat Vol. XII, No 1, Januari-Juni 2015.
  • 11. kamil (manusia sempurna). Mereka mengatakan bahwa kesemuanya itu tidak akan dapat diperoleh tanpa melakukan latihan yang teratur (Riyadhah). Selain munculnya tasawuf yang cenderung pada syathahiyat, sejenis ungkapan- ungkapan ganjil atau ekstatik, dan semi-falsafi yang dimandegani oleh dua tokoh di atas, pada kurun ini juga mulai muncul gerakan banding yang dimandegani oleh Syeikh Junaid alBaghdadi. Dia memagari ajaran-ajaran tasawufnya dengan al-Qur’an dan al-Hadis dengan ketat dan mulai meletakkan dasar-dasar thariqah, cara belajar dan mengajar tasawuf, syeikh, mursyid, murid dan murad. Dengan kata lain, pada kurun ini muncul dua madzhab yang saling bertentangan, yakni madzhab tasawuf Sunni (al-Junaid) dan madzhab Tasawuf semi-Falsafi (Abu Yazid dan al-Hallaj). Perlu diketahui pula bahwa pada kurun ini tasawuf mencapai peringkat tertinggi dan jernih serta memunculkan tokoh-tokoh terkemuka yang menjadi panutan para sufi setelahnya. c. Masa Konsolidasi Masa yang berjalan pada kurun abad ke-5 H. ini sebenarnya kelanjutan dari pertarungan dua madzhab pada kurun sebelumnya. Pada kurun ini, pertarungan dimenangkan oleh madzhab tasawuf Sunni dan madzhab saingannya tenggelam. Madzhab tasawuf Sunni mengalami kegemilangan ini dipengaruhi oleh kemenangan madzhab teologi Ahl Sunnah wa al-Jama’ah yang dipelopori oleh Abu Hasan alAsy’ari (w. 324 H). Dia melakukan kritik pedas terhadap teori Abu Yazid dan al-Hallaj sebagaimana yang tertuang dalam syathahiyat mereka yang dia anggap melenceng dari kaidah dan akidah Islam. Singkatnya, kurun ini merupakan kurun pemantapan dan pengembalian tasawuf ke landasan awalnya, al-Qur’an dan al-Hadis. Tokoh-tokoh yang menjadi panglima madzhab ini antara lain AlQusyairi (376-465 H), Al-Harawi (w. 396 H), dan Al-Ghazali (450- 505H).8 Al-Qusyairi adalah sufi pembela teologi Ahlu Sunnah dan mampu mengompromikan syari’ah dan hakikah. Dia mengkritik dua hal dari para sufi madzhab semi-falsafi, yakni syathahiyat dan cara berpakaian yang menyerupai orang miskin padahal 8 Ali Masyhar, “Tasawuf: Sejarah, Mazhab, dan Inti Ajarannya” Al-A’raf Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat Vol. XII, No 1, Januari-Juni 2015.
  • 12. tindakan mereka bertentangan dengannya. Menurut al-Qusyairi kesehatan batin dengan memegang teguh ajaran al-Qur’an dan al-Hadis lebih penting daripada pakaian lahiriyah. Tokoh kedua ialah Al-Harawi. Dia bermadzhab Hanabilah, maka tidak heran jika dia bersikap tegas dan tandas terhadap tasawuf yang dianggap menyeleweng. Hal yang dikritik oleh Al-Harawi atas ajaran tasawuf semi-falsafi adalah ajaran fana’ yang dimaknai sebagai kehancuran wujud sesuatu yang selain Allah Swt. Kemudian dia memberikan pemaknaan baru atas fana’ tersebut dengan ketidaksadaran atas segala sesuatu selain yang disaksikan, Allah SWT. Selain itu, AlHarawi juga mengkritik syathahiyat. Terkait ini, dia menyatakan bahwa syathahiyat hanya muncul dari hati seseorang yang tidak tentram atau ketidaktenangan. Kemudian, tokoh yang terakhir ialah Al-Ghazali. Dia merupakan tokoh pembela teologi sunni terbesar, bahkan lebih besar dibanding sang pendirinya, Abu Hasan Al- Asy’ari. Al-Ghazali menjauhkan ajaran tasawufnya dari gnostis sebagaimana yang mempengaruhi para filosog muslim, sekte Isma’iliyah, Syi’ah, Ikhwan Shafa dan lain-lain. Ia juga menolak konsep ketuhanan Aristoteles, yakni emanasi dan penyatuan. Terkait teori kesatuan, al-Ghazali menyodorkan teori baru tentang ma’rifat dalam taqarrub ila Allah, tanpa diikuti penyatuan dengan-Nya. d. Masa Falsafi Pada masa (abad ke-6 dan 7 H) ini muncul dua hal penting yakni; Pertama, kebangkitan kembali tasawuf semi-falsafi yang setelah bersinggungan dengan filsafat maka muncul menjadi tasawuf falasafi, dan kedua, munculnya orde-orde dalam tasawuf (thariqah). Tokoh utama madzhab tasawuf falasafi antara lain Ibnu ‘Arabi dengan wahdat al-Wujud, Shuhrawardi dengan teori Isyraqiyyah, Ibn Sabi’n dengan teori Ittihad, Ibn Faridh dengan teori cinta, fana’ dan Wahdat al-Syuhud-nya.9 Sementara orde-orde tasawuf yang muncul pada kurun ini (terutama pada abad ke-7 H) antara lain:  Tarekat Qadiriyyah, didirikan oleh ‘Abd al-Qadir Jilani (w. 1166 M.) dan berpusat di Baghdad. 9 Ali Masyhar, “Tasawuf: Sejarah, Mazhab, dan Inti Ajarannya” Al-A’raf Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat Vol. XII, No 1, Januari-Juni 2015.
  • 13.  Tarekat Naqshabandiyah, didirikan oleh Muhammad ibn Baha’ al-Din (w.791 H.) dan didirikan di Asia Tengah.  Tarekat Maulawiyah, didirikan oleh Jalal al—Din Rumi (w. 1273 M), Persia.  Tarekat Bekhtasyiyah, didirikan oleh alBekhtasyi, Turki.  Tarekat Tijaniyah, oleh al—Tijani pada tahun 1781 M di Fez-Maroko.  Tarekat Daraquiyah, oleh Maulana ‘Arabi Darqawi (w. 1823 M.) di Fez-Maroko.  Tarekat Khalwatiyah, didirikan di Persia pada abad 13 M.  Tarekat Suhrawardiyah, oleh Suhrawardi al-Maqthul di Irak.  Tarekat Rifa’yah, oleh al-Rifa’I (w. 1187 M) di Irak.  Tarekat Sadziliyah, oleh al-Sadzili (w. 1258 M.) di Tunis.  Tarekat Khishtiyah, oleh Mu’in al-Din Chisthi di AjmerIndia.  Tarekat Sanusiyah, oleh al-Sanusi (w. 18377 M) di Libya.  Tarekat Ni’matulahiyah, didirikan di Persia dan kemudian di India (Isma’iliyyah).  Tarekat Ahmadiyah, oleh Ahmad al-Badawi (w. 1276 M.) di Mesir dengan pusat di Tanta. e. Masa Pemurnian Menurut A.J. Arberry sebagaimana dikutip Amin Syukur, pada Ibn ‘Arabi, Ibn Faridh, dan ar-Rumi adalah masa keemasan gerakan tasawuf baik secara teoritis maupun praktis. Pengaruh dan praktek-praktek tasawuf tersebar luas melalui tarekat-tarekat. Bahkan para sultan dan pangeran tidak segan-segan lagi mengeluarkan perlindungan dan kesetiaan pribadi kepada mereka. Meski demikian, lama kelamaan timbul penyelewengan- penyelewengan dan skandal-skandal yang berakhir pada penghancuran citra baik tasawuf itu sendiri.10 Menurut pandangan Arberry, dengan fenomena di atas, munculah Ibn Taimiyah yang dengan lantang menyerang ajaran-ajaran yang dia anggap menyeleweng tersebut. Dia 10 Ali Masyhar, “Tasawuf: Sejarah, Mazhab, dan Inti Ajarannya” Al-A’raf Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat Vol. XII, No 1, Januari-Juni 2015.
  • 14. ingin mengembalikan kembali tasawuf kepada sumber ajaran Islam, al-Qur’an dan al- Hadis. Hal yang dikritik Ibn Taimiyah antara lain: ajaran Ittihad, hulul, wahdat al-Wujud, pengkultusan wali dan lain-lain yang dia anggap bid’ah, khurafat, dan takhayyul. Dia masih memberikan toleransi atas ajaran fana’, namun dengan pamaknaan yang berbeda. Dia membagi fana’ menjadi tiga bagian, yakni: (1) Fana’ Ibadah, lebur dalam ibadah, (2) Fana’ syuhud al-Qalb, fana’ pandangan batil, (3) Fana’ wujud mas Siwa Allah, fana’ wujud selain Allah. Menurutnya, fana’ yang masih sesuai dengan ajaran Islam ialah jenis fana’ yang pertama dan kedua, sementara jenis fana’ yang ketiga sudah menyeleweng dan pelakunya dihukumi kafir, sebab ajaran tersebut beranggapan bahwa ‘wujud Khaliq’ adalah ‘wujud Makhluq’. Kemudian, secara garis besar, ajaran tasawuf Ibn Taimiyah tidak lain ialah melakukan apa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW, yakni menghayati ajaran Islam, tanpa mengikuti madzhab tarekat tertentu, dan tetap melibatkan diri dalam kegiatan sosial sebagaimana khalayak umum. 2.3. Sejarah Perkembangan Tasawuf di Indonesia Berbicara tentang tasawuf di Nusantara tidak bisa lepas dari pengkajian proses Islamisasi di kawasan ini. Sebab, tidaklah berlebihan kalau dikatakan, bahwa tersebar luasnya Islam di Indonesia sebagian adalah karena jasa para sufi. Proses islamisasi di Indonesia disebut juga dengan istilah pribumisasi islam yang diperkenalkan oleh Gus Dur (KH Abduraahman Wahid) sebagai alternatif dalam upaya pencegahan praktik radikalisme agama, dengan tujuan Islam Indonesia ke depannya tidak terperangkap dalam radikalisme agama dan terorisme.11 Apabila di tengok sejarah perkembangan islam di Indonesia, dakwah yang dilakukan oleh para dai yang membawa islam ke Indonesia selalu mempertimbangkan kearifan lokal yang menjadi realitas kebudayaan dalam masyarakat Indonesia. Dakwah walisongo di Pulau Jawa merupakan contoh instrumen kebudayaan yang digunakan walisongo untuk memasukan pesan-pesan islam, misalnya tradisi selamatan tiga hari, tujuh 11 Direktur Jenderal Pembelajaran Kemahasiswaan, Buku Ajar Mata Kuliah Wajib Umum Agama Islam, (Jakarta : Direktur Jenderal Pembelajaran Kemahasiswaan Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi, 2016)
  • 15. hari, seratus hari, yang dimodifikasikan dengan membaca yasin, tahlil, tasbih, tahmid, dan shalawat, dengan diselingi pesan-pesan keagamaan yang dilaksanakan orang Jawa jika anggota keluarga yang meninggal dunia. Cara lain para walisongo menyebarkan agama islam di Nusantara adalah melalui tambang, permainan rakyat dan makanan yang dijadikan media akulturasi islam. Melalui media dan strategi dakwah yang memadukan ajaran Islam dengan budaya lokal, sehingga banyak orang Jawa memeluk islam, bahwan islam menjadi agama mayoritas suku Jawa. Dari penyebaran agama yang dilakukan oleh walisongo dipengaruhi oleh ajaran sufisme. Naskah-naskah lama yang berasal dari Sumatra, baiuk yang ditulis dalam bahasa Arab maupun bahasa Melayu adalah berorientasi sufisme. Hal ini menunjukkan bahwa pengikut tasawuf menjadi unsur yang cukup dominan dalam masyarakat pada masa itu. Kenyataan lain dapat pula ditunjuk bagaimana peranan ulama dalam struktur kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam di Aceh sampai pada masa walisongo di Jawa. Kepemimpinan raja atau sultan selalu didampingi dan didukung oleh kharisma ulama tasawuf. Di kawasn Sumatra setidaknya ada empat sufi terkemuka, antara lain Hamzah Fansuri (abad 17 M) di Barus, kota kecil di pantai barat Sumatra, di utara Sibolga. Dia adalah sufi terkenal melalui karya tulisnya “ Asrar al-Arifin” dan “ Syarab al- Asyikin” serta beberapa karya tulisnya yang lain. Dari keseluruhan karya tulisnya diketahui bahwa ia adalah penganut dan pengembang doktrin wahdat al-wujud karya esoteris Ibn Arabi. Kawasan Aceh sebagai sentral penyiaran Islam yang awal di Nusantara, menjadi “markasnya” ulama dan sufi besar pada masa kekuasaan Sultan Alauddin Ri’ayat Syah, Sultan Iskandar Muda sampai masa kekuasaan Sultan Tajul Alam Saifiuddin Syah. Abd Rauf Singkel (1639 M) adalah penganut tarekat Syattariyah, yang terlihat dari karya tulisnya “ Miraat at-Thullab”. Ia belajar langsung dengan Syeikh Ahmad Qushashi, syeikh tarekat Syattariyah di Mekkah. Tokoh populer lainnya adalah Naruddin ar-Raniri (1644 M), penulis “ Bustan al-Salatin), dari kitab ini diketahui bahwa ia adalah penganut tasawuf Sunni as Syafi’yah dan penentang tasawuf Hamzah Fansuri, dan pensihat Sultan Iskandar Tsani. Kesemua sufi ini adalah penasihat utama para sultan di masanya.12 12 Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme Edisi Revisi, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2002)
  • 16. Pada periode yang sama, setidaknya ada tiga tarekat sufi yang berkembang di wilayah ini, yakni Tareket Qadriyah, Tarekat Naqsyabandiyah dan Tarekat Syattariyah, dan belakangan muncul pula Tarekat Rifa’iyah yang beradaptasi dan memodifikasi beberapa jenis kesenian tradisional daerah, yang kemudian populer dengan nama tari rafa’i dan tari seudati. Sejak berdirinya kerajaan Islam Pasai, kawasan itu menjadi titik sentral penyiaran agama Islam ke berbagai daerah di Sumatra dan pesisir utara Pulau Jawa. Islam tersebar di ranah Minangkabau atas upaya Syeikh Burhanuddin Ulakan (1693 M) murid Abd Rauf Singkel, yang terkenal sebagai syeikh Tarekat Syattariyah. Menurut Tarekat Syattariyah sufisme dibedakan kepada tiga tingkatan, yakni : al-Ahyar mengutamakan kesempurnaan ibadah formal, al-Abrar, lebih berorientasi pada pembinaan kesempurnaan rohaniah, dan al-Syattar, yang lebih mengutamakan pendalaman spiritual dalam segala aspek kehidupan (esoterisme religious). Orang-orang Minangkabau yang gemar merantau, menyebarkan agama Islam ke berbagai daerah di Sumatera bagian tengah dan selatan, ke Kalimantan, Sulawesi, dan daerah sekitarnya. Penyebaran Islam ke pulau Jawa, juga berasal dari kerajaan Pasai terutama atas jasa Maulana Malik Ibrahim, Maulana Ishak dan Ibrahim Asmoro, yang ketiganya adalah abituren Pasai. Melalui keuletan mereka itulah berdirinya kerajaan Islam Demak yang kemudian menguasai Banten dan Batavia melalui Syarif Hidayatullah. Perkembangan Islam di Jawa untuk selanjutnya, umumnya digerakkan oleh ulama yang diketuai dan dikenal dengan panggilan Walisongo atau wali sembilan. Dari sebutan ini dapat diketahui bahwa mereka adalah penghayat tasawuf yang sudah sampai pada derajat “wali”. Bukti ini diperkuat lagi oleh hikayat Jawa (babat jawa) yang mengisahkan drama pertentangan antara Sunan Giri dan Sunan Kalijaga. Para wali ini bukan saja berperan sebagai penyiar Islam, tetapi mereka juga ikut berperan kuat pada pusat kekuasaan kesultanan dan karena posisi itu, mereka mendapat gelar Susuhunan yang biasa disebut Sunan. Dari peranan politik itu, mereka dapat “meminjam” kekuasaan sultan dan kelompok elit keraton dalam menyebarkan dan memantapkan peghayatan Islam sesuai dengan keyakinan sufisme yang mereka anut.13 13 Rivay Siregar, Tasawuf dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme Edisi Revisi, (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2002)
  • 17. Dalam dunia pesantren generasi awal, warna sufisme yang kental terlihat dari nilai anutan mereka yang didominasi sufisme aliran al-Ghazali, sufisme yang sangat kuat mewarnai kesantrian masa itu. Konsep wali dalam sufisme, adalah seorang sufi yang telah dapat melakukan hubungan komunikasi langsung dengan Allah AWT secara spiritual dan dapat mengetahui hal-hal yang ghaib. Dalam kelompok ini, buku karangan al-Ghazali sangat digemari karena memuat bacaan sufisme yang pada umumnya memuat pokok bahasan tasawuf akhlak dan tasawuf amali, yang keseluruhannya beraliran tasawuf sunni. Selain itu, terdapat tasawuf falsafi seperti Insan Kamil karya Abdul Karim al-Jilli. Pengaruh tasawuf ini cukup kuat dan luas penganutnya di kalangan penganut tarekat, sedangkan tokohnya yang paling populer adalah Syeikh Siti Jenar pada masa lalu. Semenjak penyiaran Islam di Jawa diambil alih kerabat elit keraton, secara pelan terjadi proses akulturasi sufiisme dengan kepercayaan lama dan tradisi lokal yang berakibat bergesernya nilai keislaman sufisme karena telah tergantikan oleh model spiritualitas non religius adalah gerakan kebatinan (aliran kepercayaan) produk tradisi dan kebudayaan Jawa, sedangkan kebudayaan Jawa itu adalah kebudayaan Jawa pra-Islam dengan kebudayaan Islam. Situasi yang sama menimpa dunia pesantren disebabkan oleh invasi sistem pendidikan sekuler yang berasal dari Eropa melalui kolonial Belanda. Oleh karena faktor-faktor internal dan eksternal tersebut, maka kehidupan sufisme di Indonesia secara berangsur bergeser dari garis lurus yang diletakkan para sufi terdahulu, sehingga warna kejawen yag lebih tampil ke depan ketimbang sufismenya sendiri. Namun, karena sebenarnya sufisme adalah semacam “sebuah pohon” yang berakar kuat dan dalam pada Islam, maka seirama dengan semangat gerakan pembaharuan dalam Islam, dunia sufisme juga mengalami gagasan pembaharuan. 2.4. Manfaat Ilmu Tasawuf dalam Kehidupan Tasawuf secara umum dapat diartikan sebagai suatu perbuatan menghindari diri dari segala larangan Allah SWT dan menundukan hawa nafsu serta berbuat baik kepada sesama dan taat atas segala perintahnya guna meraih hidup yang haikiki. Tasawuf juga merupakan cara menyucikan diri dan meningkatkan akhlak guna menjadi manusia pada hakikatnya.14 14 dalamislam.com, “10 Manfaat Tasawuf dalam Dunia Islam”, https://dalamislam.com/dasar- islam/manfaat-tasawuf-dalam-dunia-islam, (diakses pada 29 Oktober 2019)
  • 18. Tasawuf memliki tujuan yang baik yaitu kebersihan diri dan taqorrub kepada Allah SWT, yakni memperoleh hubungan langsung dengan Allah SWT. Sehingga seseorang akan merasa berada di hadirat-Nya. Terdapat banyak maanfaat ilmu tasawuf dalam kehidupan, diantaranya :  Membersihkan diri dari dosa dan meningkatkan akhlak  Mampu mengenal diri dengan baik serta mampu mengenal Tuhannya  Melatih diri agar tidak terbuai dengan kenikmatan dunia  Selalu bersyukur atas nikmat yang diberikan  Meningkatkan keimanan dan mengembangkan kehidupan agama yang komprehensif dan utuh serta untuk mengembangkan masyarakat dan bangsa yang bersih15 15Santriyai.com, “8 Kelebihan dan Manfaat Mempelajari Ilmu Tasawuf/Tarekat dan Cara untuk Mencapai Derajat yang Tinggi di Sisi Allah”, https://www.santriyai.com/2018/06/8-kelebihan-dan-manfaat- mempelajari-ilmu-tasawuf-tarekat-dan-cara-mencapai-derajat-yang-tinggi-disisi-allah.html, (diakses pada 29 Oktober 2019).
  • 19. BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan Dalam makalah “Urgensi Dasar, Dasar, dan Sejarah Perkembangan Ilmu Tasawuf” dapat disimpulkan bahwa tasawuf telah mengajak kepada akhlak yang utama yang dianjurkan dalam Islam. Akhlak yang mulia itu dijadikan sebagai landasannya, menyucikan jiwanya dengan cara berhias diri dengan keutamaan akhlaknya yang berupa tawadhu’ (yaitu rendah hati), meninggalkan diri dari akhlak yang tercela, memberikan kemudahan dan lemah lembut, kemuliaan dirinya diikuti dengan sifat qona’ah (merelakan diri), menjauhkan diri dari perkara yang berat, perdebatan maupun kemarahan. Lambangnya adalah Al-Qur’an. Tasawuf dikenal secara luas di kawasan Islam sejak penghujung abad 2 hijriah. Di sisi lain, tersebar luasnya Islam di Indonesia sebagian adalah karena jasa para sufi. Tasawuf memiliki tujuan yang baik yaitu kebersihan diri dan taqorrub kepada Allah SWT, yakni memperoleh hubungan langsung dengan Allah SWT. Sehingga seseorang akan merasa berada di hadirat-Nya. 3.2. Saran Dalam penulisan makalah “Urgensi Dasar, Dasar, dan Sejarah Perkembangan Ilmu Tasawuf”, penulis menyadari masih banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Penulis mengharapkan kritik dan saran atas makalah ini agar nantinya makalah ini akan membawa manfaat yang lebih lagi untuk para pembaca.
  • 20. EVALUASI Pilihan Ganda 1. Macam-macam manfaat tasawuf dalam kehidupan, kecuali... a. membersihkan diri dari dosa b. melatih diri untuk tidak terbuai dengan kenikmatan dunia c. Hidup merasa dalam tekanan d. meningkatkan iman Jawaban: c. Hidup merasa dalam tekanan 2. Untuk memahami tasawuf, seseorang haruslah... a. Sudah berkeluarga b. Sudah baik pemahaman syari’ahnya c. Sudah sanggup bertakwa d. sudah mapan ekonominya Jawaban: b. Sudah baik pemahaman syari’ahnya 3. Berikut prinsip-prinsip tasawuf menurut Imam Tsal Tutsuri, kecuali.... a. Berpedoman pada kitab Allah (Al-Qur'an) b. Mengikuti sunnah Rasulullah c. Melakukan semedi di gua d. Memakan makanan halal Jawaban: c. Melakukan semedi di gua 4. Salah satu pandangan Imam Sya'rani tentng tasawuf yaitu... a. Menjalankan syariat baru mempelajari ilmunya b. Setiap ahli tasawuf haruslah seorang ahli fiqih c. Memaklumi dan mengikuti orang yang menyalahi pandangan Rasulullah d. Seorang ahli tasawuf tidak mesti harus bisa bahasa Arab
  • 21. Jawaban: b. Setiap ahli tasawuf haruslah seorang ahli fiqh 5. Amaliah tasawuf yang dianggap paling penting yaitu... a. I'tikaf b. Tahlil c. Puji-pujian d. Dzikir Jawaban: d. Dzikir 6. Abd Rauf Singkel (1639 M) adalah penganut tarekat Syattariyah, yang terlihat dari karya tulisnya yang berjudul…. a. Bustan al-Salatin b. Miraat at-Thullab c. Asrar al-Arifin d. Syarab al-Asyikin Jawaban: b. Miraat at-Thullab 7. Terdapat 4 tarekat sufi yang berkembang di Aceh, salah satu tarekat ini memodifikasikan beberapa jenis kesenian tradisional daerah yang kemudian diberi nama tari seudati dan tari rafa’I. Tarekat apakah itu…. a. Tareket Qadriyah b. Tarekat Naqsyabandiyah c. Tarekat Rifa’iyah d. Tarekat Syattariyah Jawaban: c. Tarekat Rifa’iyah
  • 22. 8. Dalam dunia pesantren generasi awal, warna sufisme yang kental terlihat dari nilai anutan mereka yang didominasi sufisme aliran…. a. Al-Ghazali b. Abd Rauf Singkel c. Syeikh Ahmad Qushashi d. Naruddin ar-Raniri Jawaban: a. Al-Ghazali 9. Menurut pengarang Kasyf Al-Dzunnun, orang yang pertama kali diberi julukan Al-Sufi adalah… a. Abu Hasyim Al-Sufi b. Bahlul ibn Zaubaid c. Rasulullah SAW d. Abu al-Darda’ Jawaban: a. Abu Hasyim Al-Sufi 10. Term tasawuf dikenal secara luas di kawasan Islam sejak penghujung… a. Abad ke-1 H b. Abad ke-2 H c. Abad ke-3 H d. Abad ke-4 H Jawaban: b. Abad ke-2 H Essai 1. Sebutkan manfaat ilmu tasawuf dalam kehidupan! Jawab:  Membersihkan diri dari dosa dan meningkatkan akhlak  Mampu mengenal diri dengan baik dan mampu mengenal Tuhannya
  • 23.  Dapat melatih diri untuk tidak terbuai dari kenikmatan dunia  Selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan  Meningkatkan keimanan dan mengembangkan kehidupan beragama yang komprehensi 2. Selain memberi banyak manfaat, mempelajari ilmu tasawuf juga dapat mendatangkan mudharat. Sebutkan mudharat yang dapat ditimbulkan dari mempelajari ilmu tasawuf! Jawab: Mudharat yang timbul dari ilmu tasawuf yaitu adanya kalangan yang membawa orang menjadi sesat, apatis, mengasingkan diri dari lingkungan, serta menganggap dunia sebagai tempat kotoran yang merusakkan. 3. Apa yang menyebabkan pengikut tasawuf menjadi unsur yang cukup dominan di masa penyebaran Islam oleh walisongo ? Jawab : Dari penyebaran agama yang dilakukan oleh walisongo dipengaruhi oleh ajaran sufisme, hal ini ditunjukkan dengan adanya naskah-naskah lama yang berasal dari Sumatra baik yang berbahasa arab maupun melayu berorientasi sufisme. 4. Jelaskan maksud dari fase asketisme! Jawab: Fase asketisme merupakan fase pertama perkembangan tasawuf yang ditandai dengan munculnya individu-individu yang lebih mengejar kehidupan akhirat sehingga perhatiaannya terpusat untuk ibadah dan mengabaikan keasikan duniawi. Pada fase ini terdapat para zahid yang mengelompok di serambi Masjid Madinah di mana mereka lebih mengkhususkan diri untuk beribadah dan pengembangan kehidupan rohaniah dengan mengabaikan kenikmatan duniawi. Pola hidup kesalehan yang demikian adalah awal pertumbuhan tasawuf yang kemudian berkembang dengan pesatnya. 5. Jelaskan apa yang kamu ketahui tentang masa falsafi pada perkembangan tasawuf! Jawab:
  • 24. Masa falsafi adalah masa yang muncul pada abad ke-6 dan 7 H). Pada masa ini terdapat dua hal penting, yaitu:  Kebangkitan kembali tasawuf semi-falsafi yang setelah bersinggungan dengan filsafat maka muncul menjadi tasawuf falsafi  Munculnya orde-orde dalam tasawuf (thariqah) Tokoh utama madzhab tasawuf falasafi antara lain Ibn ‘Arabi dengan wahdat al-Wujud, Shuhrawardi dengan teori Isyraqiyyah, Ibn Sabi’n dengan teori Ittihad, Ibn Faridh dengan teori cinta, fana’ dan Wahdat al-Syuhud-nya.
  • 25. REFERENSI Badrudin. 2015. Pengantar Ilmu Tasawuf. Serang: Penerbit A-Empat. Dalamislam.com. 2018. 10 Manfaat Tasawuf dalam Dunia Islam. Diakses pada 29 Oktober 2019 dari https://dalamislam.com/dasar-islam/manfaat-tasawuf-dalam- dunia-islam Direktur Jenderal Pembelajaran Kemahasiswaan. 2016. Buku Ajar Mata Kuliah Wajib Umum Agama Islam. Jakarta : Direktur Jenderal Pembelajaran Kemahasiswaan Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi/ Masyhar, Ali. (2015). Tasawuf: Sejarah, Mazhab, dan Inti Ajarannya. Al-A’raf Jurnal Pemikiran Islam dan Filsafat Vol. XII, No 1, Januari-Juni 2015. Santriyai.com. 2018. 8 Kelebihan dan Manfaat Mempelajari Ilmu Tasawuf/Tarekat dan Cara untuk Mencapai Derajat yang Tinggi di Sisi Allah. Diakses pada 25 Oktober 2019 dari https://www.santriyai.com/2018/06/8-kelebihan-dan-manfaat- mempelajari-ilmu-tasawuf-tarekat-dan-cara-mencapai-derajat-yang-tinggi-disisi- allah.html Siregar, Rivay. 2002. Tasawuf Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme Edisi Revisi. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.