Skip to main content
Standar Operasional Prosedur (SOP)
Monitoring dan Evaluasi (M&E) Aksi
Adaptasi berbasis Ekosistem Mangrove
Nining Liswanti
Hotel Gran Melia, Jakarta – 18 Juni 2026
SOP Monitoring & Evaluation EbA
1
Memahami SOP
2
Metodologi
3
Prosedur Kerja
1 Memahami SOP
Apa itu SOP
Tujuan dan
Ruang
Lingkup SOP
Definisi SOP
Daftar Acuan
SOP
Apa itu SOP?
Dokumen panduan tertulis berisi langkah-langkah sistematis untuk
menyelesaikan kegiatan secara konsisten, efektif, dan terstruktur.
SOP digunakan di bidang riset dengan tingkat kedalaman teknis dan
bentuk penerapan SOP yang berbeda-beda dan untuk menjaga
keabsahan data ilmiah.
SOP M&E EbA mangrove – menyediakan pedoman terstruktur dan
sistematis dalam pelaksanaan serta fasilitasi penilaian M&E adaptasi
berbasis ekosistem (EbA) mangrove.
Kerangka M&E terdiri dari Generic Prinsip, Kriteria, Indikator, dan
Verifier (PCIV) dan AIMAC (AI-powered tool for Mangrove Adaptability to
Climate Change).
Tujuan SOP
❑ Menyediakan acuan standar bagi praktisi dan
pemangku kepentingan dalam melakukan penilaian
dan fasilitasi
❑ Menjamin pelaksanaan penilaian yang efektif,
konsisten, dan akuntabel, sesuai standar, dan
kerangka regulasi yang berlaku.
❑ Mendukung pengumpulan data dan informasi
mencakup aspek ekologi, sosial-ekonomi, dan tata
kelola ekosistem mangrove.
❑ Meningkatkan kapasitas pemangku kepentingan
dalam memantau, dan mengevaluasi dampak
perubahan iklim pada ekosistem mangrove.
❑ Mendukung peningkatan ketahanan ekosistem dan
kapasitas adaptif masyarakat melalui evaluasi
berbasis bukti terhadap implementasi EbA.
Ruang Lingkup SOP
TAHAPAN PROSES M&E LINGKUP WILAYAH PENILAIAN M&E
Pilar Strategi & Respons
Ekosistem
Adaptasi Perubahan Iklim: Tindakan
meningkatkan kemampuan adaptasi
terhadap variabilitas dan cuaca
ekstrem guna menekan risiko
kerusakan serta menangkap peluang
baru.
Ketahanan Iklim:
Kapasitas wilayah dan masyarakat
dalam mengantisipasi,
mempersiapkan diri, serta
merespons dampak negatif
perubahan iklim.
Kapasitas Adaptasi:
Potensi internal suatu sistem untuk
menyesuaikan diri sehingga dampak
buruk iklim ekstrem dapat dicegah
atau dikurangi.
Parameter Risiko &
Kerentanan Iklim
Variabilitas Iklim:
Fluktuasi statistik iklim dalam ruang
dan waktu, baik akibat faktor alamiah
maupun aktivitas manusia.
Keterpaparan:
Keberadaan manusia, aset sosial-
ekonomi, budaya, serta ekosistem di
lokasi yang rawan terkena dampak
buruk iklim.
Sensitivitas:
Tingkat kerentanan atau respons
sistem terhadap stimulasi iklim, yang
nilainya dapat diintervensi melalui
perubahan sosial-ekonomi.
Komponen Lingkungan &
Pemanfaatan Jasa
Ekosistem:
Kesatuan tatanan lingkungan hidup
yang saling memengaruhi demi
menjaga keseimbangan, stabilitas,
dan produktivitas alam.
Mangrove:
Vegetasi pantai unik berstruktur akar
khusus yang adaptif di zona pasang
surut bersubstrat lumpur.
Pemanfaatan Jasa Lingkungan:
Eksploitasi potensi jasa alam secara
bijak tanpa merusak struktur dan
fungsi utama lingkungan.
Definisi dalam Mangrove EbA
Definisi dalam EbA Mangrove
UU No. 16 Tahun 2016: Pengesahan Paris Agreement to the UNFCCC (Persetujuan Paris
atas Konvensi Kerangka Kerja PBB mengenai Perubahan Iklim).
UU No. 32 Tahun 2009: Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Undang-Undang (UU)
Perpres No. 110 Tahun 2025: Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan
Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional.
Perpres Nomor 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK): Penyelenggaraan
pengendalian emisi dan memuat kerangka komponen perencanaan adaptasi perubahan iklim di
tingkat tapak yang erat kaitannya dengan jasa Lingkungan
Permen LHK No. 8 Tahun 2026): Menjadikan ketahanan bencana berbasis ekosistem (EbA) dan
Nature-based Solutions (NbS) sebagai fokus utama pengelolaan kawasan dan perhutanan sosial
Permen LHK No. 12 Tahun 2024: Penyelenggaraan Kontribusi yang Ditetapkan Secara Nasional
(Nationally Determined Contribution/NDC) dalam Penanganan Perubahan Iklim.
Permen LHK No. 7 Tahun 2018: Pedoman Kajian Kerentanan, Risiko, dan Dampak Perubahan Iklim.
Peraturan Presiden & Menteri
Roadmap NDC Adaptasi Perubahan Iklim: Peta jalan strategi pemenuhan komitmen kontribusi
nasional untuk adaptasi iklim.
National Adaptation Plan (NAP) 2026-2030: Rencana Aksi Nasional Adaptasi Perubahan Iklim
Republik Indonesia menuju jalur tahun 2035.
Rencana Aksi & Dokumen Strategis
Daftar Acuan & Landasan Hukum
2. Metodologi M&E EbA Mangrove
• Kombinasi penilaian kualitatif dan kuantitatif berbasis bukti
• Penilaian Kualitatif PCIV secara partisipatif melalui FGD untuk menggali informasi dan mencapai penilaian konsensus kelompok.
• Analisis Kuantitatif menggunakan AIMAC untuk menghasilkan Adaptability Score untuk mengukur tingkat adaptabilitas wilayah.
Generic PCIV
• Prinsip
• Kriteria
• Indikator
• Verifier
Perangkat
AIMAC
• Definisi dan fungsi
• Keunggulan fitur
• Output dan akses
Proses M&E:
• Studi pelingkupan
• Persiapan penilaian
• Penilaian dan hasil
Generik Prinsip, Kriteria, Indikator, Verifier
Perangkat AIMAC
Alat Pemantauan EbA Mangrove Berbasis Web
Platform Berbasis Web &
Fleksibel
Sistematis: Alat pemantauan
dirancang khusus untuk mendukung
proses penilaian adaptasi mangrove.
Kustomisasi PCI: Membantu
pengguna mengelola dan
menyesuaikan komponen Principle,
Criteria, Indicator, Verifier (PCI)
sesuai kondisi lokal, ketersediaan
data, dan prioritas wilayah.
Antarmuka Interaktif &
Partisipatif
Manajemen Komponen: Pengguna
dapat menambahkan, mengubah,
atau menyempurnakan indikator
secara mudah.
Responsif & Adaptif: Lebih cepat
merespons dinamika lapangan serta
perkembangan risiko perubahan
iklim.
Partisipatif: Mendorong keterlibatan
aktif berbagai pemangku
kepentingan dalam proses
pemantauan bersama
Analisis Akurat Integrasi AI
Berbasis Data: Dilengkapi fitur
Kecerdasan Buatan (AI) untuk
mendukung proses analisis dan
pengukuran indikator.
Konsisten: Menghasilkan penilaian
kuantitatif yang lebih terstruktur dan
konsisten.
• Langkah Pelaksanaan
• Metode Pengumpulan data
• Aktivitas Kajian Spesifik
• Output Studi Pelingkupan
1. Studi Pelingkupan
•Fokus Grup Diskusi
•Fasilitator
•Alat dan Bahan
2. Persiapan
Penilaian • Kontekstualisasi PCI
• Pembobotan
• Skoring
• Pengisian platform AIMAC
3. Penilaian dan
Hasil
3. Proses dan Prosedur Kerja M&E
3.1 Studi Pelingkupan – Langkah Pelaksanaan
Merupakan tahap pra-evaluasi untuk membangun pemahaman awal—
terutama bagi fasilitator—mengenai konteks lokal wilayah kajian.
Kegiatan utama mencakup identifikasi dampak iklim, bentuk adaptasi
masyarakat, tata kelola ekosistem mangrove, profil sosial-ekonomi,
serta kapasitas kelembagaan lokal yang terkait dengan aksi EbA.
❑ Pengumpulan dan analisis data sekunder: Mengompilasi literatur
dan basis data yang relevan dengan lokasi target.
❑ Kunjungan lapangan pemula: Melakukan observasi langsung dan
wawancara narasumber kunci guna mengumpulkan data primer
serta memvalidasi hasil analisis data sekunder.
❑ Diskusi awal pemangku kepentingan: Menghubungi aktor kunci
(pelaksana kegiatan, pemerintah desa/kelurahan, dan pendamping)
untuk memaparkan tujuan evaluasi sekaligus memperoleh
persetujuan bersama (informed consent).
❑ Penyusunan jadwal partisipatif: Menyepakati jadwal pelaksanaan
evaluasi bersama komunitas lokal guna menjamin keterlibatan yang
inklusif dan representatif.
• Analisis Data Sekunder: Memanfaatkan data berbagai sumber eksternal untuk
membangun potret awal wilayah kajian secara makro. Data dianalisis secara deskriptif
or kuantitatif untuk memetakan tren, pola, dan isu utama, yang menjadi fondasi dalam
merancang instrumen data primer (observasi dan wawancara).
• Observasi Lapangan: Teknik pengumpulan data primer dengan pengamatan langsung
untuk merekam kondisi riil lingkungan biofisik, aktivitas harian masyarakat, serta status
fisik proyek adaptasi mangrove. Fasilitator melakukan verifikasi data sekunder serta
menangkap dinamika ekosistem secara kontekstual.
• Wawancara Mendalam Narasumber Kunci (KII): target individu yang memiliki
pengetahuan atau pengalaman langsung mengenai situasi lokal dan pengelolaan
mangrove. Prosedur operasional pelaksanaan KII:
• Dilakukan secara tatap muka individual dengan narasumber
• Pewawancara memaparkan dan meminta lembar persetujuan (informed consent).
• Pertanyaan semi-terstruktur (± 60 menit) dibuat fleksibel.
• Seluruh substansi informasi dicatat/direkam atas persetujuan narasumber.
3.1 Studi Pelingkupan – Metode Pengumpulan Data
3.1 Studi Pelingkupan – Aktivitas Kajian Spesifik
Analisis Dampak dan Adaptasi Perubahan Iklim
• Tren Iklim Makro: Mengompilasi data time-series suhu udara dan curah hujan dari BMKG.
• Histori Kebencanaan: Mengumpulkan data historis bencana alam dan cuaca ekstrem dari basis data BPBD atau BNPB.
• Dinamika Hidro-Oseanografi: Mengunduh data pasang surut air laut dari stasiun pengamatan daring terdekat.
• Inventarisasi Aksi Adaptasi: Mendokumentasikan aksi adaptasi aktif maupun pasif masyarakat melalui data sekunder laporan program
(seperti Sistem Registri Nasional/SRN PPI), didukung validasi data primer via observasi lapangan dan KII.
Analisis Pengelolaan Mangrove
• Dinamika Spasial: Menggunakan data spasial dari Peta Mangrove Nasional (PMN) atau citra satelit resolusi tinggi untuk menganalisis
luas tutupan, zonasi, serta laju perubahan spasial (deforestation/regrowth) mangrove dari waktu ke waktu.
• Praktik Tata Kelola Lapangan: Menghimpun data skema pengelolaan, restorasi, atau pemanfaatan mangrove dari laporan instansi
terkait, yang divalidasi langsung melalui observasi fisik dan wawancara narasumber kunci.
Analisis Sosial-Ekonomi dan Kelembagaan
• Pemetaan Pemangku Kepentingan: Mengidentifikasi aktor dan lembaga sosial pengelola mangrove melalui triangulasi dokumen
sekunder dan teknik snowball sampling untuk penentuan informan primer.
• Karakteristik Demografi: Menyusun profil etnisitas, piramida penduduk, dan struktur mata pencaharian utama menggunakan publikasi
resmi BPS, disintesis dengan temuan lapangan.
• Aspek Tenurial dan Institusi: Mengkaji status kepemilikan lahan pesisir, hak ulayat, serta konvensi aturan adat/lokal dalam
pemanfaatan jasa ekosistem mangrove menggunakan analisis deskriptif kualitatif.
Mendapatkan gambaran komprehensif kondisi lokal yang mencakup:
• Peta Risiko dan Respons Iklim: Dokumen identifikasi dampak perubahan iklim
masyarakat pesisir dan aksi adaptasi yang dilakukan.
• Laporan Historis Ekosistem: informasi data tren perubahan ekosistem
mangrove dari waktu ke waktu, potensi keterkaitan dengan dampak
perubahan iklim, dokumentasi kegiatan EbA mangrove yang telah dilakukan.
• Matriks Tata Kelola Multiaktor: gambaran tata kelola pengelolaan mangrove
oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk bagaimana kegiatan EbA
terhubung dengan mata pencaharian masyarakat serta nilai-nilai sosial dan
budaya lokal.
3.1 Studi Pelingkupan - Output
Output SP menjadi dasar utama fasilitator untuk memahami
konteks makro-mikro tapak, dan untuk merancang skenario
fasilitasi penilaian partisipatif FGD
3.2 Persiapan Penilain
Persiapan penilaian melalui FGD merujuk pada hasil studi pelingkupan untuk
memastikan relevansi instrumen dan ketepatan sasaran. Langkah-langkah
FGD:
• Penentuan Lingkup Penilaian dan Target Peserta: Menetapkan batas
geografis atau administratif penilaian (misalnya tingkat desa) dan
menentukan perwakilan penggiat mangrove dan keseimbangan gender.
• Persiapan Teknis Logistik: Menentukan lokasi kegiatan, menyediakan alat
dan bahan pendukung FGD, dan berbagi peran internal tim fasilitasi.
• Pembekalan Fasilitator: Koordinasi internal tim untuk mendalami konteks
dan karakteristik lokal wilayah kajian berdasarkan hasil studi pelingkupan.
• Penyusunan Desain dan Alur Kerja: Menyusun naskah panduan (facilitator
guide) dan alur proses FGD sebagai instrumen kendali selama penilaian
berlangsung.
3.2 Perencanaan FGD
• Komposisi Peserta: 10–15 orang peserta dipilih dari hasil
pemetaan stakeholder saat studi pelingkupan, keterwakilan
gender dan kelompok inklusif.
• Alokasi Waktu: 2 hari dengan durasi 3 jam dengan partisipasi
peserta yang sama.
• Tim Fasilitasi: 1–2 orang fasilitator yang menguasai konteks
tapak. Pengoperasian perangkat AIMAC dilakukan secara
simultan selama FGD dengan satu operator khusus, atau
dilakukan pasca-diskusi berdasarkan catatan notulen.
• Media Fasilitasi: Proses penilaian difasilitasi menggunakan
antarmuka perangkat AIMAC ditampilkan melalui proyektor,
atau secara manual menggunakan banner matriks PCI, kertas
plano, kartu metaplan/dan sticky notes.
• Agenda dan Panduan: Susunan acara FGD dan panduan
pelaksanaan FGD.
3.2 Alat dan Kebutuhan Pendukung FGD
• Spanduk (banner) cetak matriks PCI
atau perangkat digital (laptop
kerja).
• Platform aplikasi web AIMAC dan
panduan teknis pengoperasian
sistem.
• Proyektor (projector) beserta layar
portabel.
• Kertas plano dan kartu metaplan
berwarna.
• Alat tulis kantor (spidol besar, sticky
notes, dan selotip kertas).
• Alat perekam suara (audio recorder)
dan kamera dokumentasi.
Kontekstualisasi PCI – Kegiatan pendefinisian PCI, untuk
modifikasi, penambahan dan pengurangan kriteria dan
indikator sesuai dengan konteks local dengan bantuan verifier
yang tersedia.
Pembobotan PCI – Dengan perangkat AIMAC, terdapat tiga
metode utama, yaitu melalui:
• Metode ranking (1st, 2nd,..... to last)
• Metode rating (0-100, total is 100 within group)
• Metode Analytical Hierarchical Process (Pairwise
Comparison Matrix)
Skoring indikator, menggunakan bantuan verifier –
menggambarkan kondisi indikator saat penilaian berlangsung.
Skoring dilakukan dengan memberikan nilai 1-100 pada setiap
indikator.
3.3 Tahap Penilaian
3.3 Pengisian informasi umum pada AIMAC
Sebagai awal dari penilaian, untuk mencatat profil kegiatan adaptasi, dibutuhkan beberapa informasi yang dapat dikumpulkan saat
scoping study, sehingga saat FGD hanya tinggal dilakukan validasi. Informasi yang dikumpulkan merupakan informasi yang dapat
diintegrasikan dengan pengisian Sistem Registri Nasional (SRN).
Bagian ini merupakan bagian pengisian umum pada AIMAC,
dapat diakses setelah menu “Create assessment”. Untuk
pengisian detail di AIMAC dapat dilihat di Lampiran
Langkah 1: Kontekstualisasi PCI
• Prinsip dipertahankan karena merupakan fondasi
yang menjadi dasar acuan pada suatu sistem.
• Kriteria secara umum dipertahankan, bisa
dimodifikasi (ditambahkan atau dikurangi) sesuai
konteks lokal.
• Penyesuaian indikator sangat penting, indikator
yang sesuai dengan kondisi lokal dipertahankan.
Indikator baru ditambahkan bila sesuai kondisi
lokal.
• Kerangka PCI menggunakan bahasa teknis,
kontekstualisasi PCI bisa disesuaikan menggunakan
bahasa yang lebih mudah dipahami.
• Diperlukan pemahaman, hasil studi pelingkupan
digunakan sebagai referensi dalam fasilitasi FGD
agar memastikan bahwa PCI yang terdefinisi
mencerminkan kondisi lokal.
• Luaran utama dari localized PCI adalah daftar
kriteria dan indikator yang sudah sesuai dengan
konteks lokal dan lingkup penilaian.
• “Defining atau Mendefinisikan” pada AIMAC, dapat diakses setelah menu
“Create assessment” dan pengisian informasi umum.
• Pada perangkat AIMAC, “kriteria” dan “indikator” bisa ditambahkan dengan
menggunakan ikon (+) atau dikurangi ikon (-) yang memungkinkan untuk
menghapus yang tidak relevan agar lebih mencerminkan kondisi lokasi, tujuan
proyek, atau pengetahuan lokal mereka.
• Penting untuk memastikan bahwa struktur PCI akhir tetap relevan secara
kontekstual dan ringkas.
Langkah 2: Pembobotan AIMAC
Perangkat web AIMAC menyediakan tiga pilihan
metode pembobotan dengan tingkat kerumitan dan
ketelitian yang berbeda:
• Peringkat (Ranking): Metode termudah yang
dilakukan dengan mengurutkan elemen PCI dari
yang paling penting hingga kurang penting.
• Penilaian (Scoring): Metode pemberian skor angka
secara langsung pada setiap komponen PCI yang
merepresentasikan bobot kepentingan secara relatif
terhadap komponen lain.
• Proses Hierarki Analitik (Analytical Hierarchy
Process - AHP): Metode dengan tingkat presisi
tertinggi menggunakan teknik perbandingan
berpasangan (pairwise comparison) antar-elemen
untuk menghasilkan nilai bobot yang konsisten
secara matematis.
Weighting PCI
• Langkah ini merupakan bagian “Weighting atau Pembobotan” pada
AIMAC, dapat diakses setelah menu “Create assessment” , pengisian
informasi umum, dan “Defining/Pendefinisian”.
• Secara otomatis AIMAC akan mengarahkan pembobotan sesuai urutan
hirarki (antar prinsip, antar kriteria dalam satu prinsip, dan antar
indikator dalam satu kriteria).
• Tiga metode pembobotan (ranking, rating, dan AHP) dapat dipilih
sebelum dilakukan proses pembobotan.
Panduan Operasional Pembobotan
• Urutan Hierarki: dilakukan runtun dari tingkat prinsip, kriteria, dan indikator.
• Batasan Kelompok: pembobotan kriteria ini membandingkan sesama kriteria
di bawah satu prinsip. Aturan ini berlaku untuk pembobotan indikator yang
dibandingkan dalam satu kriteria yang sama.
• Skala Nilai: semakin besar nilai bobot yang diberikan, semakin tinggi tingkat
prioritas elemen tersebut bagi program adaptasi.
• Aplikasi Tingkat Tapak: metode peringkat (ranking) sangat direkomendasikan
untuk pembobotan di level masyarakat (sederhana, intuitif, dan mudah
dipahami secara teknis oleh peserta FGD).
• Teknis Lapangan: pada metode peringkat, setiap PCI diberi nomor urut
(misalnya: Peringkat 1, Peringkat 2, dan seterusnya). Seluruh data bobot
konsensus ini diinput ke AIMAC untuk kalkulasi otomatis.
Langkah 3: Skoring AIMAC
Penilaian skoring indikator dilakukan dengan
memanfaatkan verifier yang tersedia. Hal
yang perlu diperhatikan:
• Setiap indikator diberikan skor dengan
skala berkisar antara 0-100. Kisaran nilai
skor mulai dari 0%-20%, 21%-40%, 41%-
60%, dan 81%-100%. Nilai skor yang lebih
tinggi menunjukkan kondisi yang lebih
baik.
• Nilai skoring adalah hasil konsensus semua
peserta FGD.
• Proses skoring indikator dilakukan
menggunakan daftar verifier, bersifat
fleksibel untuk membantu melakukan
pengukuran indikator.
Scoring
• Langkah ini merupakan bagian “Scoring atau Penilaian” pada AIMAC, dapat
diakses setelah menu “Create assessment” , pengisian informasi umum,
“Defining/Pendefinisian”, dan “Scoring/Penilaian”.
• Penilaian selalu dilakukan berdasarkan range nilai 0-100
Hasil penilaian manual
untuk kontekstualisasi
PCI – pembobotan PCI
– dan skoring
indikator)
3.3 Hasil Penilaian – Manual
Perangkat AIMAC digunakan untuk merumuskan
hasil penilaian melalui analisis kuantitatif dengan
menginput angka-angka tersebut kedalam AIMAC.
3.3 Hasil Penilaian – AIMAC
3.3. Hasil Penilaian AIMAC
• Hasil analisis kuantitatif
AIMAC berupa adaptability
score, menggambarkan
kondisi EbA mangrove di
lokasi penilaian.
• AIMAC menampilkan
rangkuman hasil penilaian
pada setiap prinsip, yang
dhasilkan oleh dari
kecerdasan buatan (AI)
berdasarkan hasil pada
proses penilaian yang
diinput.
• AIMAC memberikan saran
dan rekomendasi
berdasarkan hirarki PCI.
Adaptability score Interpretasi
0-20 Rendah
21-40 Rendang-sedang
41-60 Sedang
61-80 Sedang-tinggi
81-100 Tinggi
Fitur Kecerdasan Buatan (AI) pada AIMAC
• AIMAC dilengkapi fitur kecerdasan buatan (artifical intelegence –
AI) yang membantu proses penilaian pembobotan dan skoring,
dengan klik panah di kanan layar, terdapat menu untuk
mengaktifkan bantuan AI melalui “AI Assisted”.
Pembobotan AIMAC
Scoring AIMAC