SlideShare a Scribd company logo
PERILAKU KONSELOR
WAWANCARA
Sesi Pertama
• Tujuan wawancara pertama kali:
 Langkah mereduksi kecemasan klien,
menahan diri dari pembicaraan yang terus-
menerus, mendengarkan secara baik dan
hati-hati, serta menyadari bahwa pilihan
klien terhadap topik-topik akan
memberikan pemahaman terhadap
prioritasnya.
Tujuan utama wawancara adalah untuk
mendapatkan informasi, so beberapa bentuk
respon yang disarankan, yaitu :
(1) Penggalian.
(2) Penekanan.
(3) Pertanyaan tertutup.
(4) Permintaan klarifikasi.
Sesi Kedua
(1) Mengidentifikasi data (identitas klien)
(2) Menyampaikan masalah, baik yang utama
dan yang lain.
(3) Setting kehidupan klien saat ini,
(4) Riwayat keluarga,
(5) Riwayat pribadi,
(6) Deskripsi klien selama wawancara, dan
(7) Kesimpulan dan rekomendasi.
Sesi-sesi Berikutnya
• Wawancara hendaknya sudah mengarah
kepada wawancara terapeutik dan dilakukan
dengan menggunakan data-data yang sudah
dimiliki.
Sesi Akhir Wawancara
• Dipandang sebagai suatu transisi dari satu
kondisi psikologis ke yang lain, maka fungsi
konselor adalah sebagai jembatan dari kondisi
psikologis dari yang satu ke yang lain.
PROSES MENDENGARKAN
Mendengarkan
Proses kompleks yang melibatkan:
- Mindfull
- Penerimaan pesan secara fisik
- Pemilihan & penyusunan informasi
- Menafsirkan komunikasi
- Merespon
- Mengingat
Merespon konten kognitif
• Konselor harus memahami alternatif yang
dihadirkan klien dan selanjutnya merespon
terhadap alternatif tersebut secara tepat.
• Memahami alternatif, berarti mengidentifikasi
secara tepat jenis isi yang dihadirkan klien,
dan alternatif-alternatif yang dapat direspon.
• Merespon alternatif, yaitu proses menyeleksi
alternatif.
• Fokusnya adalah tentang kebutuhan klien
daripada kebutuhan konselor.
• Respon dapat juga diberikan kepada hal-hal
yang menurut klien paling menarik.
• Dalam merespon, juga banyak tipe yang bisa
dijadikan stimulus terhadap isi kognitif, yaitu :
ide yang disetujui, organisasi dan suatu hal.
• Untuk membedakan stimuli, konselor dapat
menggunakan melalui diam, aktivitas verbal
secara minimal, pernyataan kembali, dan
pemeriksaan.
Merespon konten afektif
• Pesan-pesan perasaan mungkin diekspresikan
melalui nonverbal, seperti nada vokal, kecepatan
bicara, posisi tubuh, dan atau isyarat badan.
• Isyarat verbal maupun nonverbal selalu
berasosiasi dengan emosi.
• Konselor harus mampu memahami perasaan
klien, sebelum konselor dapat menghasilkan
perasaan yang sama seperti yang dirasakan klien.
• Elemen-elemen komunikasi afeksi klien dapat
diientifikasi berdasar atas gerakan kepala dan
badan, posisi tubuh, kecepatan gerak, dan
kualitas suara.
1. Afeksi Positif
Kegembiraan Kemampuan Cinta Kebahagiaan Harapan
Cantik Mampu Akrab Riang Untung
Senang Dapat B’sahabat Menyenangk’ Optimis
Baik Terpenuhi Cinta Ceria Mencoba
Bagus Besar Suka Gairah Dugaan
Manis Bagus Kebutuhan Bahagia Harapan
Puas Pintar Sayang Tertawa Keinginan
Hebat Menghargai Keinginan Sensasi
Cukup baik Memilih Menghargai
2. Amarah
Serangan Kejelekan Pembelaan diri Bercekcok
Perdebatan Tidak suka Menyalahkan Marah
Serangan Benci Melindungi Berkelahi
Bertanding Buruk Marah Pertengkaran
Mencela Kemuakan Hati-hati Berdebat
Berkelahi Merengut Menyiapkan Mempersoalkan
masalah
Memukul Menolak
Menyakiti Tidak setuju
Melukai perasaan
3. Ketakutan
Ketakutan Kekhawatiran Kesakitan Menjauhi
Gelisah Kegagalan Payah Melarikan diri
Kesusahan Menjatuhkan Menyakiti Lari
Keprihatinan Tidak pasti Hebat Pelarian
Kesendirian Sedang Tidak
menyenangkan
Memotong
Suka murung Tidak nyaman Lupa
Ketakutan Kebingungan Sakit
Tegang Bodoh Merobek
Gangguan Tak pasti
4. Kesedihan
Kesedihan Kesendirian Depresi
Tidak senang Sendiri Depresi
Terkatung-katung Meninggalkan Tekanan
Penderitaan Lepas Lesu
Bersedih hati Hilang Mengecilkan hati
Sedih Sangat sedih
Murung
Alasan utama konselor tidak merespon
perasaan klien
(1) konselor tidak mengetahui cara yang tepat
untuk meresponnya.
(2) konselor “menghalangi” pengenalan pada
perasaan klien.
Relasi Bantuan
• Empati
kemampuan untuk merasakan secara akurat
dunia klien
mampu melihat sesuatu menurut pandangan
klien.
kemampuan untuk secara verbal berbagai
pemahaman dengan klien.
• Mampu mengembangkan penghargaan yang
positif
• Perlu keiklhlasan, keaslian, atau kesungguhan
• Kemampuan untuk menyingkapkan diri
Memperhatikan Klien
Hal yg perlu dilakukan:’Berkomunikasi’
1. Ekspresi wajah
2. Posisi badan
3. Respon verbal
Mengenali pola-pola berkomunikasi
• kebanyakan pola yang terjadi dalam sesi
konseling adalah pola komunikasi interaktif.
• tiga macam pola berkomunikasi yang luar
biasa untuk hubungan sosial, tetapi tidak
tepat bagi konselor, yaitu
kurang berpartisipasi,
terlalu berpartisipasi,
partisipasi yang mengacaukan.
Konselor Yang Kurang Berpartipasi
• Mungkin memiliki ketakutan terhadap klien atau
terhadap masalahnya.
• Karakteristik nonverbal, adalah tampak kaku,
kurang gerak, posisi badan sering menjaga jarak
dengan klien, menghindarkan pandangan, dan
kadang-kadang membungkukkan bahu.
• Karakteristik verbal meliputi kalimatnya tidak
lengkap, berbicara yang tidak berlanjut, kadang-
kadang mencela pernyataannya sendiri, atau
memberikan respon yang sifatnya reflektif. Atau
dengan menggunakan bahasa yang lembut,
sopan, dan pelan.
Konselor Yang Terlalu Berpartisipasi
• Cenderung menggunakan gaya meresponnya
untuk menutupi perasaan takut saat interview.
• Nonverbal dicirikan dengan jarang melakukan
perpindahan gerak badan dan banyak beranimasi
dan berekspresi.
• Verbal, dicirikan dengan berbicara secara langsung
melalui kata-kata yang kompulsif, tidak detail dan
melakukan pengulangan, serta merespon secara
panjang dibandingkan dengan respon klien.
• Aspek bahasa: cenderung berbicara secara
langsung dan cepat, banyak berhenti diantara
kalimat-kalimat, serta tekanan suaranya kadang
tinggi dan keras.
Partisipasi Yang Mengacaukan
• Verbal dicirikan dengan pembicaraan yang
tidak merespon pada masalah yang utama /
primair tetapi yang sekunder, mengalihkan
topik, fokus pada orang lain dari pada klien,
dan lebih mempermasalahkan masa lalu dari
pada saat ini.
• Non verbal: menggunakan perilaku-perilaku
yang tidak perlu seperti memperhatikan orang
lain, menggerak-gerakkan kaki dan tangan
terlalu sering, mengangkat telepon, dsb
KEMAMPUAN KONSELOR DALAM FASE
PEMAHAMAN & ACTION
1. Changing Perceptions
• Persepsi biasanya diubah dgn proses reframing
st teknik yg menawarkan klien ttg perspektif/
sudut pandang lain yg memungkinkan & positif
pd st situasi
• Tujuan yg tdk realistis diganti m’gunakan strategi
kognitif, perilaku, atau kognitif-perilaku spt
m’definisikan kembali masalahnya, m’ganti
perilaku ke situasi yg tepat, & memahami
masalah dgn cara & perilaku yg lebih dpt
dimanajemeni (Okun & Kantrowitz, 2008)
2. Leading
•Kemampuan konselor dalam mempengaruhi &
mengarahkan klien
•Mnrt Welfel & Patterson (2005), macamnya: silence,
acceptance, & paraphrasing (umumnya digunakan
pada fase awal), persuasi (cocok digunakan pd fase
pemahaman & aksi)
•Tipenya tgtg pdktn yg digunakan konselor & fase
konselingnya:
-Minimal leads  utk fase m’bangun hub, mis.
“ehmmm,” “ya..ya..,” “ok, sy m’dengarkanmu”
-Maximum leads  digunakan saat hub sdh t’jalin
& solid, spt konfrontasi
3. Multifocused Responding
•Mnrt Ivey dan Ivey (2007), & Lazarus (2000),
tuning ke dalam gaya klien dlm mempersepsi
& belajar adalah penting utk m’bawa pd
perubahan
•Ada klien yg m’persepsi dunianya scr visual,
auditori, ataupun kinestetik dgn merasakan
•Dalam memberikan respon, ada respon
afektif, behavioral, & kognitif
4. Accurate Empathy
• Dua faktor yg memungkinkan tjdnya empati:
a. Menyadari bhw “perasaan infinite” tidak
ada
b. Memiliki personal security, shg “dapat
m’biarkan diri masuk ke dalam dunia klien
& tetap tahu bahwa qt dpt kembali ke
dunia qt sendiri”
Semua yg dirasakan adalah sbg “seakan-akan”
• Empati memiliki 3 elemen: perspektif, tahu-
bgm, & asertif (Egan, 2007)
• Tipe dasar empati:
- Primary empathy
 M’komunikasikan pemahaman dasar ttg apa yg klien
rasakan & pengalaman serta perilaku yg mendasari
perasaan tsb
 M’bantu pembentukan hubungan konseling,
mengumpulkan data, dan m’klarifikasi mslh
 Co. klien: “Sy merasa tdk dpt melakukan apapun utk
diri saya”, konselor: “Kamu merasa tidak berdaya”
- Advanced empathy
 Merefleksikan apa yg klien persiratkan atau p’nyataan
yg tdk lengkap
 Co. klien: “….& saya harap segalanya akan terbiasa”,
konselor: “Jika tidak, sy tdk yakin dgn apa yg akan sy
lakukan selanjutnya”
5. Self-Disclosure
•“St kesadaran, teknik intentional dimana klinisi m’bagi
informasi ttg kehidupannya di luar hubungan konseling”
•Self-disclosure dapat m’bangun kepercayaan & penting
dlm m’fasilitasi kemajuan klien
•Egan (2007), fungsi self-disclosure konselor: modeling &
mengembangkan perspektif baru
•Klien bs belajar utk lebih t’buka dgn melihat konselor yg
terbuka, & bahwa bbrp mslh adalah umum & dpt
diatasi
•Namun self-disclosure tdk sll dibutuhkan, konselor
harus m’p’timbangkan apakah ini penting, apakah ada
cara lain yg risikonya lbh kcl & apakah ini adalah waktu
yg tepat (Simone dkk, 1998)
6. Immediacy
•Melibatkan pemahaman konselor & klien, serta
m’komunikasikan apa yg tjd diantara mereka dlm hub
yg m’bantu, perasaan2 khusus, impresi, & harapan2
(Turock, 1980)
•Pd dasarnya ada 3 macam immediacy:
a. Keseluruhan kedekatan hubungan – “Apa yg anda
& saya lakukan?”
b. Fokus pd bbrp peristiwa khusus dlm sesi konseling
– “Apa yg tjd antara anda & saya saat ini?”
c. Pernyataan self-involving – “Saya suka dgn cara
anda bertanggung jawab dalam hidup anda pada
situasi tsb”
• Egan (2007), immediacy m’butuhkan keberanian lebih &
ke-asertifan dibanding kemampuan interpersonal lain
• Turock (1980), 3 ketakutan para konselor ttg immediacy:
a. Takut jika klien akan salah m’artikan pesan yg
disampaikan konselor
b. Immediacy mungkin m’hasilkan st hal yg tdk t’duga
c. Immediacy dpt m’pengaruhi klien utk melakukan
terminasi konseling krn mrk tidak dpt terus dalam hub
yg terkontrol & manipulatif
• Egan (2007), immediacy t’baik digunakan saat: hub yg
directionless, ada ketegangan, ada p’tanyaan ttg
kepercayaan, ada perbedaan/ jarak sosial antar klien-
konselor, ada ketergantungan klien, ada counter-
dependency, & ada ketertarikan antar konselor &klien
7. Humor
•Melibatkan respon yg incongruent atau tdk terduga
dlm bertanya atau situasi
•Humor dlm konseling sebaiknya tidak merendahkan
siapapun
•Humor dpt m’hindari resistansi klien, m’bangun
rapport, m’hilangkan ketegangan, menolong klien
dlm m’beri jarak thd dirinya sndiri dari sakit scr
psikologis, & meningkatkan self-efficacy klien
(Goldin dkk., 2006; Vereen, Butler, Williams, Darg,
& Downing, 2006)
•“Ha-ha” t’kadang lbh menimbulkan awareness
drpd “Ah-ha”, & m’p’jelas situasi (Kotler, 1991)
8. Confrontation
• Respon yg mungkin tdk konsisten dgn persepsi klien ttg
dirinya sndiri atau lingkungannya
• Dapat m’bantu orang utk melihat dgn lbh jelas ttg apa yg
tjd, apa konsekuensinya, & bgm mrka memandang
tanggungjawab utk b’ubah dgn cara yg m’buat hidup lbh
efektif & lbh baik serta hub yg lebih fair dg orang lain
• Leaman (1978), batasan utk konfrontasi: konselor hrs
memastikan bhw hub dgn klien ckp kuat utk diadakan
konfrontasi, konselor hrs menyiapkan waktu yg tepat &
tetap pd motif melakukan konfrontasi (lbh produktif
m’konfrontasi kelebihan klien dibanding kekurangannya),
konselor harus menantang klien utk m’gunakan sumber2
yg gagal digunakannya
9. Contracting
• Ada 2 aspek:
a.Fokus pd proses, meliputi p’capaian tujuan
b.Konsentrasi pd outcome final (goal)
• Moursund dan Kenny (2002), kontrak m’cakup:
S – Spesifikasi (goal treatment)
A – Awareness (pengetahuan ttg prosedur, goal, &
efek samping konseling)
F – Fairness (hub yg diseimbangkan & antar klien &
konselor memiliki informasi yg cukup dlm
bekerja)
E – Efficacy (memastikan bhw klien diberdayakan dlm
memilih & m’buat keputusan)
• Manfaat m’gunakan kontrak dlm konseling:
- Menyediakan rekaman tertulis ttg goal yg disetujui oleh
konselor & klien, & tindakan yg harus dilakukan
- Kontrak yg formal & batas waktu yg ada dpt sbg motivator
utk klien yg cenderung menunda
- Jika kontrak terbagi dlm sesi yg dpt didefinisikan, maka
klien akan merasa jelas bhw masalah dpt diatasi
- Kontrak m’berikan tanggungjawab pd klien utk b’ubh, shg
b’potensi utk m’berdayakan klien & m’buatnya lbh
responsif pd lingkungan & lbh b’tnggjwb thd tingkah
lakunya
- Sistem kontrak, dgn p’jelasan scr spesifik ttg jml sesi yg
akan dilakukan, m’jamin bhw klien akan kembali pd proses
konseling scr regular
• Thomas dan Ezell (1972), kelemahan sistem kontrak:
- Konselor tdk dapat menahan klien dlm kontrak (tdk ada
reward atau punishment yg konselor gunakan utk
menekan klien agar memenuhi kontrak)
- Bbrp mslh klien tdk mencerminkan dirinya sndiri dlm
sistem kontrak (kontrak tdk dpt memastikan bahwa
klien akan melakukan tindakan perubahan yg t’cantum
dalam kontrak)
- Cara kontrak dlm m’atasi mslh t’fokus pd perilaku luar
(wlpn kontrak telah dipenuhi dgn sukses, klien mgkn tdk
m’dpt insight atau persepsi yg b’ubah)
- Daya tarik kontrak terbatas (klien yg t’motivasi utk
b’ubah & menemukan ide yg fresh & menarik, dapat
mjd bosan dgn sistem yg terencana
10. Rehearsal
• Setelah kontrak, konselor dpt m’bantu klien utk
memaksimalkan kesempatan dlm memenuhi
kontrak dgn melatih atau m’praktekkan perilaku
yg direncanakan
• Klien dpt berlatih scr overt & covert
• Overt rehearsal – klien berlatih scr verbal &
tindakan ttg apa yg akan dilakukannya
• Covert rehearsal – m’bayangkan atau
merefleksikan tujuan yg diinginkan (m’bayangkan
situasi t’lebih dulu dpt menurunkan kecemasan &
menolong klien utk perform lebih baik)
• T’kadang klien m’butuhkan pengajaran dari
konselor sblm berlatih.
• Konselor jg dpt memberikan klien homework, utk
m’bantu klien m’praktekan kemampuan yg telah
dipelajari dlm sesi konseling & m’generalisasikan
kemampuan tsb pd b’bagai area yg relevan dlm
kehidupannya.
• Konselor dr b’bagai perspektif teori dpt
m’gunakan homework jika mereka ingin m’bantu
klien m’atasi masalahnya sendiri
• Homework yg efektif, berkaitan dgn perubahan
perilaku yg dpt diukur, relevan dgn situasi klien
jika homework itu ingin b’makna & m’bantu
• Tipe homework:
- Paradoksikal, usaha m’ciptakan efek yg
b’lawanan
- Perilaku, m’praktekkan kemampuan baru
- Risk taking, melakukan sst yg ditakutkannya
- Berpikir, merenungkan pikiran ttt
- Menulis, m’buat jurnal
- Bibliotherapeutic (m’baca, m’dengar, atau
melihat literatur)
- Tidak melakukan apapun (break dari perilaku
yg biasanya)
• Manfaat homework:
-M’jaga klien utk tetap fokus pd perilaku yg
relevan diantara sesi
-M’bantu klien melihat dgn jelas kemajuan yg
dibuatnya
-Memotivasi klien utk m’ubah perilaku
-M’bantu klien m’evaluasi & memodifikasi
aktifitasnya
-M’buat klien lbh b’tanggungjawab utk
mengendalikan dirinya
-Merayakan terobosan yg dicapai dlm
konseling
TRANSFERENCE & COUNTERTRANSFERENCE
Transference
• Adalah proyeksi klien pd konselor ttg perasaan
masa lalu & sekarang, attitudes, atau pun
keinginan2
• Dpt digunakan dlm 2 cara:
- Utk m’bantu konselor memahami klien dgn
lebih baik
- Sbg cara utk memecahkan mslh klien
• Co. Klien yg b’prilaku seakan konselor adalah
ibunya
Countertransference
• Merujuk pd konselor yg m’proyeksikan reaksi
emosional/perilaku thd atau ke arah klien
(Fauth & Hayes, 2006; Hansen dkk., 1994)
• Countertransference t’kadang menyakiti,
m’ancam, menantang, & atau memerlukan
coping konselor (Fauth & Hayes, 2006)
• Co. konselor yg b’perilaku kpd klien yg seakan
klien adlh adik kandungnya; konselor yg tll
m’identifikasikan dirinya dgn klien yg m’alami
gangguan makan
• Dapat merusak hubugan dalam konseling
• Kernberg (1975), 2 pdkt utama ttg
konseptualisasi countertransference:
- Pdkt klasik, dipandang scra negatif &
dianggap sbg reaksi ketidaksadaran langsung
ataupun tdk langsung dari konselor kpd klien
- Pdkt total, coutertransference dilihat lbh
positif – alat diagnostik utk memahami aspek
ketidaksadaran klien
Pdkt ke-3 ditambahkan oleh Blanck dan Blanck
(1979), memandang countertransference
diantara positive & negative
• Manifestasi countertransference (Corey dkk., 2007):
- Merasa keinginan yg konstan dlm m’bolehkan klien
- Terlalu bnyk identifikasi pd mslh klien dpt
m’hilangkan objektifitas
- Mengembangkan perasaan romantik atau seksual
pada klien
- M’berikan nasihat secara kompulsif
- Ingin mengembangkan hub sosial dgn klien
• Countertransference jg dpt menyebabkan kemajuan
yg lambat dr klien, & konselor & klien dpt terluka
dalam proses konseling
• Watkins (1985), bbrp cara m’ekspresikan
countertransference: overprotective, benign,
penolakan, & permusuhan
2 cara pertama disebut ‘overidentification’
(konselor kehilangan kemampuan utk
m’jaga jarak secara emosional dari klien)
 2 cara t’akhir disebut ‘disidentification’
(konselor mjd hilang secara emosional dr
klien – tdk empati, hostile, dingin,
antagonis, dan jauh)
• Mengatasinya, adakan supervisi
Bekerja dalam hub profesional dgn banyak
konselor b’pengalaman (shg dpt dimonitor
scr simultan & meningkatkan peayanan pd
klien)
Prosedurnya antara lain: observasi interaksi
konselor-klien di belakang kaca satu arah,
memonitor sesi konseling lewat audiotape,
& m’kritisi video sesi konselingnya
M’analisa peran konselor dalam sesi
konseling adalah komponen yg utama
dalam supervisi
Kualitas Konselor yang Efektif
• Intellectual competence – kemampuan utk belajar dgn
baik, berpikir cepat & kreatif
• Energy – aktif dalam sesi & m’p’tahankannya
• Flexibility – kemampuan utk tahu apa yg harus
dilakukan utk menemukan kebutuhan klien
• Support – kapasitas utk mendorong klien agar bisa
m’buat keputusan
• Goodwill – keinginan utk bekerja dlm cara yg
konstruktif & bebas
• Self-awareness – pengetahuan ttg diri sendiri, meliputi
attitude, nilai2, & perasaan serta kemampuan utk
mengetahui bgm & apa faktor yg mempengaruhinya
Memahami Klien
• Petunjuk singkat utk memahami klien scr lebih
efektif (Kelly, 1995):
1.Masalah apa yg sedang dihadapi klien?
2.Bagaimana klien memandangnya?
3.Bagaimana lingkungan dengan kondisinya
mempengaruhi klien?
4.Dasar & penyusunan teori apa untuk
menghadapi klien?
5.Langkah apa yg akan diambil selanjutnya, juga
oleh klien?
Social Power Konselor
Menurut French dan Raven:
1. Reference power
Jika menunjukkan persetujuan ataupun
penerimaan, akan sangat dihargai oleh
kliennya
2. Coercive Power
Menggunakan ancaman & hukuman agar
orang menuruti tuntutan otoriter
Paling tidak menimbulkan efek dalam suatu
hubungan membantu
3. Reward Power
 Banyak digunakan: reward sosial yg simbolik
(empati, ramah, senyum, kontak mata, dsb
yg juga mendukung referent power)
 Reward materi tidak digunakan oleh
konselor profesional, meskipun digunakan
oleh teknik intervensi behavioral)
4. Expert & Legitimate Power
Misal: memajang ijazah2 & keanggotaan
profesi agar konselor dipercaya & memang
memiliki kredibilitas
Masalah2 yang Dihadapi Konselor
Cavanagh (1982):
1. Kebosanan
Yang mungkin timbul krn bosan:
- Konselor mengambil jarak dari klien  klien merasa
kehilangan rasa aman & diterima
- Konselor t’kadang mengambil cara negatif dalam
menangani kebosanan  berfantasi, mendengar dari
“satu” telinga saja, atau sengaja “menyerang” klien
agar seru
- Kemungkinan konselor kehilangan informasi penting
 kurang konsen, memikirkan masalah sendiri
Solusi:
-Identifikasi letak masalah  dr klien or
konselor
-Komunikasikan dgn klien (bagian dr
genuineness)
-Atur waktu pertemuan saat konselor lebih
bisa fokus
-Beri tugas pada klien yg dapat didiskusikan
saat konseling
-Peka thd tanda2 kebosanan klien
2. Hostilitas
Sumber hostilitas:
- Menutupi ketakutan yg mendalam  takut dependen pada
konselor, takut ditolak konselor, takut dikenalkan dgn bagian
dari diri yg tidak disukai, dsb
- Frustrated needs  hipersensitif – pertanyaan biasa dirasa
mengancam
- Simbolisasi dari konflik internal atau eksternal klien 
konselor representasi dari orang yang tidak disukai klien
- Adanya tekanan yg sangat intens
- Konselor memang pantas mendapat hostilitas dari klien 
cara konselor b’komunikasi krg m’bantu, sll melihat sisi negatif
klien & mencurigai motifnya, dsb
Solusi:
Dihadapi, bukan dihindari  klien perlu belajar utk
menyelesaikan dan menghadapi hostilitas ini dengan adekuat
3. Kesalahan2 Konselor
- Lemah, tidak tegas  tll menuruti klien
- Tidak mengakui kesalahan
Konselor yg efektif akan mengakui bahwa dirinya membuat
kesalahan, alasannya:
a. Kejujuran
b.Orang yg ada dalam hubungan konseling harus dibantu untuk
memisahkan kesalahan yg mana adalah kesalahan siapa, shg
orang yg melakukan kesalahan dapat mengambil tanggung
jawab untuk mengoreksinya
c. Sbg cara utk mengajar klien bahwa kesalahan bisa diterima &
penting mengakui kesalahan itu pd orang lain
d.Konselor tahu, klien mungkin tahu bahwa konselor membuat
kesalahan & menunggu utk melihat apakah konselornya cukup
punya rasa aman untuk mengakui kesalahan itu
4. Manipulasi
 Bedakan manipulasi dgn manuvering!
 Contoh:
- Manipulasi: konselor mempengaruhi klien utk lama
dalam konseling dengan alasan masih membutuhkan
konseling utk pertumbuhannya (padahal hanya utk
memenuhi kebutuhan konselor)
- Manuvering: konselor ‘memaksa’ kliennya yg depresi
utk membuat skedul aktivitas
 Penting bagi konselor!!
Mengetahui dalam hal apa dirinya rentan, shg bisa
mengurangi potensinya utk dimanipulasi
 Klien memanipulasi konselor, tujuannya:
-Utk memenuhi kebutuhan
-Untuk menetralisasi ancaman
 Konselor memanipulasi klien, contohnya:
- Krn bosan, konselor mengatakan bahwa kliennya
sudah m’alami kemajuan dan perlu ‘istirahat’ dari
konseling
- Konselor memenuhi kebutuhan afeksinya dengan
membangun hub dgn klien dgn alasan klien perlu
belajar & m’praktekannya pd konselor
- Konselor b’anggapan bhw agama b’tentangan dgn
kesehatan psikologis, shg konselor m’bawa klien
m’jauhi keyakinan agamanya
5. Penderitaan (Suffering/ Psychological Bleeding)
 Konselor efektif mengenali bahwa personality growth is
earned and the price may be suffering. The more a counselor
expects a person to growth, the more psychological bleeding
will occur (Cavanagh, 1982)
 Penderitaan konselor
-Adanya perasaan tidak berdaya krn hanya dapat berempati
-Merasa kepedihan hati (anguish) bila kliennya m’alami
perdarahan psikologis krn perbuatan orang lain
-Tidak sengaja menimbulkan penderitaan melalui st
tindakan atau justru krn tdk melakukan sst (iatrogenic pain)
-Konselor frustrasi jika merasa sudah melakukan segalanya
bagi klien, namun klien tsb menghentikan konseling
sebelum waktunya & mengatakan konselor tdk bnyk
membantu
6. Hubungan yg Membantu VS Tidak Membantu
 2 tipe hubungan yg tidak membantu dalam
konseling: emotionally detached (distansi
emosional) dan emotionally attached (lekat
emosional)
 Hubungan yg membantu: emotionally involved
(terlibat emosional)
 Distansi emosional:
Keterlibatan konselor bersifat intelektual, sbg
director dan tutor, tidak dapat ‘masuk’ ke dalam
diri klien, tdk dpt menyatukan dirinya dgn pikiran,
perasaan, & persepsi klien utk bisa b’empati, shg
sulit m’ciptakan rapport dan rasa percaya
 Kelekatan Emosional:
-Ketergantungan klien pada konselornya, atau
sebaliknya
-Kebutuhan dasar yg dapat terpenuhi:
kebutuhan utk merasa aman, utk menerima
& memberi cinta, utk dikagumi & dibutuhkan
-Sikap konselor thd klien: parental (ortu yg tll
melindungi), fraternal (sahabat), romantik
(kekasih/pasangan)
-Bila konselor tdk dapat melepaskan klien dari
kelekatannya thd dirinya, lakukan terminasi!
- Kemungkinan perilaku konselor yg lekat emosional:
o Sgt b’harap b’temu klien utk m’p’cerah hari
o Orang yg signifikan dlm hidupnya dilihat memiliki bnyk
kekurangan dibanding kliennya
o Memperpanjang sesi
o Berfantasi ttg klien diantara sesi
o M’izinkan kontak antar sesi yg tdk dip’bolehkan pd klien
lain
o M’buat penyesuaian honor yg tdk dilakukan pd klien lain
o M’anggap sesi lbh sbg rekreasi drpd kerja
o Iri thd hubungan dekat klien dg orang lain & scra halus
merendahkan atau tdk m’dorong hubungan tsb
o M’cemaskan klien diantara sesi yg tdk dirasakan thd klien
lain
- Hal2 yang terjadi jika konselor lekat pada klien:
o Berpengaruh pada persepsi konselor thd realitas
(mjd tdk tepat)
o B’usaha ‘menahan’ klien utk memenuhi
kebutuhan emosioalnya
o Menjadi rentan & mudah dimaipulasi
o Ikut dgn perubahan mood & tdk objektif
o M’berikan bnyk kepuasan pd klien, shg motivasi
klien utk b’hubungan dgn orang lain di luar
konseling mjd sedikit
o Menawarkan hub yg tidak riil pd klien (sbg ortu,
sahabat, kekasih)
- Sikap klien yang lekat pada konselor:
o Menginginkan hub khusus sbg ‘pasien favorit’
o Ingin kontak antar sesi
o Membawa hadiah2 yg sifatnya personal
o Tanda2 verbal & nonverbal yg merefleksikan perasaan
jatuh cinta, tdk mau pergi stlh sesi b’akhir
o Merasa sakit hati & ditolak jika konselor m’hadapkannya
pd realitas yg tdk menyenangkan, t’utama ttg
kelekatannya pd konselor
o B’fantasi ttg konselor & m’buatnya mjd teman yg sll ada
bagi dirinya
o M’bandingkan konselor dgn orang2 signifikan dalam
hidup klien & b’anggapan konselor yang superior,
mis.”Seandainya anda ayah saya…”
- Masalah bagi klien yang lekat pada konselor:
o Kurang atau hilang minat utk menjalin hubungan dgn
orang lain krn konselor adalah segalanya
o Tidak seluruhnya jujur krn takut m’ganggu hub yg
menyenangkan tsb
o Menyulitkan konselor utk menetapkan batas2 tanpa
konselor merasa dirinya egois & menolak klien
o Melebih2kan perhatian & pemahaman konselor & tdk
mampu m’baca pesan konselor bhw koselor menginginkan
kliennya mjd self-sufficient
o “Menyembuhkan diri” bagi konselor, bukan utk klien, & ia
akan tetap ‘sembuh’ jika konselor baik & menyenangkan
dirinya
o Bekerja setengah hati & m’ciptakan masalah ketika
konseling akan berakhir
 Keterlibatan Emosional
-Mrp satu2nya hub yg sehat antar konselor &
klien
-Cukup saling mengenal utk dapat saling
percaya & empati
-Secara emosional dekat & hub yg dinamis
-Tetap sbg 2 orang yg terpisah dgn kehidupan yg
terpisah
-Saling mendukung
-Mrp equal partners yg masing2 punya hak,
kewajiban, & kebebasan (Rogers:emphatic
understanding)
7. Terminasi Konseling
Konseling akan berakhir melalui salah satu
dari 3 cara berikut:
1) Bila sasaran konseling telah tercapai
2) Klien secara prematur ingin menghentikan
konseling
3) Konselor ingin menghentikan konseling
walau klien ingin melanjutkannya
8. Burnout
 Gladding (1992), burnout: becoming emotionally and/or
physically drained to the point that they cannot perform
functions meaningfully
 Saran Gladding (1992) utk mencegah atau mengobati burnout:
-Menjalin hub dgn individu2 yg sehat
-Bekerja dgn rekan2 yg committed & organisasi yg pny misi
-Melakukan latihan2 utk mengurangi stres, terapi pribadi
-Memodifikasi stressor lingkungan
-Melakukan self-assessment
-Secara berkala m’kaji ulang & m’klarifikasi counseling roles,
expectations, & beliefs
-Menyisihkan st waktu bebas & pribadi
-M’p’tahankan sikap detached concern bila bekerja dgn klien
-M’p’tahankan sikap “selalu ada harapan”

More Related Content

Similar to P_E_R_I_L_A_K_U__K_O_N_S_E_L_O_R__v.1.ppt

Nota kaunseling industri (keseluruhan)
Nota kaunseling industri (keseluruhan)Nota kaunseling industri (keseluruhan)
Nota kaunseling industri (keseluruhan)
Liew Yeong Cherng
 
17272886 kemahiran-kaunseling-kelompok
17272886 kemahiran-kaunseling-kelompok17272886 kemahiran-kaunseling-kelompok
17272886 kemahiran-kaunseling-kelompok
Alif Hassan
 
Presentasi Mojokerto
Presentasi MojokertoPresentasi Mojokerto
Presentasi Mojokerto
guest626d709
 
Dasar dasar komunikasi.2
Dasar dasar komunikasi.2Dasar dasar komunikasi.2
Dasar dasar komunikasi.2
om_wiez
 
Teorikaunseling 090910112241-phpapp01
Teorikaunseling 090910112241-phpapp01Teorikaunseling 090910112241-phpapp01
Teorikaunseling 090910112241-phpapp01
onnel_91
 
Teknik konseling
Teknik konselingTeknik konseling
Teknik konseling
drdr013
 
Konselor Sebaya (PIK-Remaja)
Konselor Sebaya (PIK-Remaja)Konselor Sebaya (PIK-Remaja)
Konselor Sebaya (PIK-Remaja)
Rajabul Gufron
 
Kelompok 1_56 BKB_Mata Kuliah MT Wawancara.pptx
Kelompok 1_56 BKB_Mata Kuliah MT Wawancara.pptxKelompok 1_56 BKB_Mata Kuliah MT Wawancara.pptx
Kelompok 1_56 BKB_Mata Kuliah MT Wawancara.pptx
AriSetiawan794611
 

Similar to P_E_R_I_L_A_K_U__K_O_N_S_E_L_O_R__v.1.ppt (20)

Kemahiran asas kaunseling
Kemahiran asas kaunselingKemahiran asas kaunseling
Kemahiran asas kaunseling
 
KONSELING REMAJA dalam penanganan masalah remaja
KONSELING REMAJA dalam penanganan masalah remajaKONSELING REMAJA dalam penanganan masalah remaja
KONSELING REMAJA dalam penanganan masalah remaja
 
Nota kaunseling industri (keseluruhan)
Nota kaunseling industri (keseluruhan)Nota kaunseling industri (keseluruhan)
Nota kaunseling industri (keseluruhan)
 
17272886 kemahiran-kaunseling-kelompok
17272886 kemahiran-kaunseling-kelompok17272886 kemahiran-kaunseling-kelompok
17272886 kemahiran-kaunseling-kelompok
 
Bimbingan dan konseling
Bimbingan dan konselingBimbingan dan konseling
Bimbingan dan konseling
 
12. KIP(K).pdf
12. KIP(K).pdf12. KIP(K).pdf
12. KIP(K).pdf
 
ESAP .Konseling keluarga berencana
ESAP .Konseling keluarga berencanaESAP .Konseling keluarga berencana
ESAP .Konseling keluarga berencana
 
(2). Wawancara Psikiatrik.pptx
(2). Wawancara Psikiatrik.pptx(2). Wawancara Psikiatrik.pptx
(2). Wawancara Psikiatrik.pptx
 
Teori Kaunseling
Teori KaunselingTeori Kaunseling
Teori Kaunseling
 
pendekatan client centered
pendekatan client centeredpendekatan client centered
pendekatan client centered
 
Presentasi Mojokerto
Presentasi MojokertoPresentasi Mojokerto
Presentasi Mojokerto
 
Komunikasi interpersonal
Komunikasi interpersonalKomunikasi interpersonal
Komunikasi interpersonal
 
Dasar dasar komunikasi.2
Dasar dasar komunikasi.2Dasar dasar komunikasi.2
Dasar dasar komunikasi.2
 
Interview Konseling Jurusan Bimbingan Konsleing
Interview Konseling Jurusan Bimbingan KonsleingInterview Konseling Jurusan Bimbingan Konsleing
Interview Konseling Jurusan Bimbingan Konsleing
 
Teorikaunseling 090910112241-phpapp01
Teorikaunseling 090910112241-phpapp01Teorikaunseling 090910112241-phpapp01
Teorikaunseling 090910112241-phpapp01
 
Teknik konseling
Teknik konselingTeknik konseling
Teknik konseling
 
Pengkajian dan sp
Pengkajian dan spPengkajian dan sp
Pengkajian dan sp
 
Konselor Sebaya (PIK-Remaja)
Konselor Sebaya (PIK-Remaja)Konselor Sebaya (PIK-Remaja)
Konselor Sebaya (PIK-Remaja)
 
Personality Development_kelompok 5_Hary Jumat 14.10-15.50_STIE ASIA_MANAJEMEN
Personality Development_kelompok 5_Hary Jumat 14.10-15.50_STIE ASIA_MANAJEMENPersonality Development_kelompok 5_Hary Jumat 14.10-15.50_STIE ASIA_MANAJEMEN
Personality Development_kelompok 5_Hary Jumat 14.10-15.50_STIE ASIA_MANAJEMEN
 
Kelompok 1_56 BKB_Mata Kuliah MT Wawancara.pptx
Kelompok 1_56 BKB_Mata Kuliah MT Wawancara.pptxKelompok 1_56 BKB_Mata Kuliah MT Wawancara.pptx
Kelompok 1_56 BKB_Mata Kuliah MT Wawancara.pptx
 

Recently uploaded

Modul Ajar Ipa kelas 8 Struktur Bumi dan perkembangannya
Modul Ajar Ipa kelas 8 Struktur Bumi dan perkembangannyaModul Ajar Ipa kelas 8 Struktur Bumi dan perkembangannya
Modul Ajar Ipa kelas 8 Struktur Bumi dan perkembangannya
Novi Cherly
 
Laporan Guru Piket Bukti Dukung PMM - www.kherysuryawan.id (1) (1).pdf
Laporan Guru Piket Bukti Dukung PMM - www.kherysuryawan.id (1) (1).pdfLaporan Guru Piket Bukti Dukung PMM - www.kherysuryawan.id (1) (1).pdf
Laporan Guru Piket Bukti Dukung PMM - www.kherysuryawan.id (1) (1).pdf
SriHandayaniLubisSpd
 
Umpan Balik Memahami perbedaan individual peserta Didik.docx
Umpan Balik Memahami perbedaan individual peserta Didik.docxUmpan Balik Memahami perbedaan individual peserta Didik.docx
Umpan Balik Memahami perbedaan individual peserta Didik.docx
sapudin2
 

Recently uploaded (20)

Konflik dan Negosiasi dalam perilaku organisai
Konflik dan Negosiasi dalam perilaku organisaiKonflik dan Negosiasi dalam perilaku organisai
Konflik dan Negosiasi dalam perilaku organisai
 
MODUL AJAR BAHASA INGGRIS KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA
MODUL AJAR BAHASA INGGRIS KELAS 2 KURIKULUM MERDEKAMODUL AJAR BAHASA INGGRIS KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA
MODUL AJAR BAHASA INGGRIS KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA
 
Ringkasan, Abstrak, dan Sintesis (Pengertian, Contoh, dan Kaidah Penulisan).pdf
Ringkasan, Abstrak, dan Sintesis (Pengertian, Contoh, dan Kaidah Penulisan).pdfRingkasan, Abstrak, dan Sintesis (Pengertian, Contoh, dan Kaidah Penulisan).pdf
Ringkasan, Abstrak, dan Sintesis (Pengertian, Contoh, dan Kaidah Penulisan).pdf
 
KERAJINAN DARI BAHAN LIMBAH BERBENTUK BANGUN RUANG
KERAJINAN DARI BAHAN LIMBAH BERBENTUK BANGUN RUANGKERAJINAN DARI BAHAN LIMBAH BERBENTUK BANGUN RUANG
KERAJINAN DARI BAHAN LIMBAH BERBENTUK BANGUN RUANG
 
Laporan observasi sri handayani lubis.pdf
Laporan observasi sri handayani lubis.pdfLaporan observasi sri handayani lubis.pdf
Laporan observasi sri handayani lubis.pdf
 
Modul Ajar Ipa kelas 8 Struktur Bumi dan perkembangannya
Modul Ajar Ipa kelas 8 Struktur Bumi dan perkembangannyaModul Ajar Ipa kelas 8 Struktur Bumi dan perkembangannya
Modul Ajar Ipa kelas 8 Struktur Bumi dan perkembangannya
 
LAPORAN SATUAN PENDIDIKAN 211 sabadolok.docx
LAPORAN SATUAN PENDIDIKAN 211 sabadolok.docxLAPORAN SATUAN PENDIDIKAN 211 sabadolok.docx
LAPORAN SATUAN PENDIDIKAN 211 sabadolok.docx
 
PPT 1. Segi Empat Tali Busur (lingkaran dan tali busur)
PPT 1. Segi Empat Tali Busur (lingkaran dan tali busur)PPT 1. Segi Empat Tali Busur (lingkaran dan tali busur)
PPT 1. Segi Empat Tali Busur (lingkaran dan tali busur)
 
Modul Pembentukan Disiplin Rohani (PDR) 2024
Modul Pembentukan Disiplin Rohani (PDR) 2024Modul Pembentukan Disiplin Rohani (PDR) 2024
Modul Pembentukan Disiplin Rohani (PDR) 2024
 
PPT Aksi Nyata Diseminasi Modul 1.4.pptx
PPT Aksi Nyata Diseminasi Modul 1.4.pptxPPT Aksi Nyata Diseminasi Modul 1.4.pptx
PPT Aksi Nyata Diseminasi Modul 1.4.pptx
 
Laporan Guru Piket Bukti Dukung PMM - www.kherysuryawan.id (1) (1).pdf
Laporan Guru Piket Bukti Dukung PMM - www.kherysuryawan.id (1) (1).pdfLaporan Guru Piket Bukti Dukung PMM - www.kherysuryawan.id (1) (1).pdf
Laporan Guru Piket Bukti Dukung PMM - www.kherysuryawan.id (1) (1).pdf
 
Bukti dukung E kinerja kepala sekolah.pdf
Bukti dukung E kinerja  kepala sekolah.pdfBukti dukung E kinerja  kepala sekolah.pdf
Bukti dukung E kinerja kepala sekolah.pdf
 
Solusi dan Strategi ATHG yang di hadapi Indonesia (Kelas 11).pptx
Solusi dan Strategi ATHG yang di hadapi Indonesia (Kelas 11).pptxSolusi dan Strategi ATHG yang di hadapi Indonesia (Kelas 11).pptx
Solusi dan Strategi ATHG yang di hadapi Indonesia (Kelas 11).pptx
 
Jaringan Internet dan Komputer dasar-dasar
Jaringan Internet dan Komputer dasar-dasarJaringan Internet dan Komputer dasar-dasar
Jaringan Internet dan Komputer dasar-dasar
 
Umpan Balik Memahami perbedaan individual peserta Didik.docx
Umpan Balik Memahami perbedaan individual peserta Didik.docxUmpan Balik Memahami perbedaan individual peserta Didik.docx
Umpan Balik Memahami perbedaan individual peserta Didik.docx
 
Susi Susanti_2021 B_Analisis Kritis Jurnal.pdf
Susi Susanti_2021 B_Analisis Kritis Jurnal.pdfSusi Susanti_2021 B_Analisis Kritis Jurnal.pdf
Susi Susanti_2021 B_Analisis Kritis Jurnal.pdf
 
SOALAN PEPERIKSAAN AKHIR TAHUN MATEMATIK TAHUN 2
SOALAN PEPERIKSAAN AKHIR TAHUN MATEMATIK TAHUN 2SOALAN PEPERIKSAAN AKHIR TAHUN MATEMATIK TAHUN 2
SOALAN PEPERIKSAAN AKHIR TAHUN MATEMATIK TAHUN 2
 
CONTOH LAPORAN PARTISIPAN OBSERVASI.docx
CONTOH LAPORAN PARTISIPAN OBSERVASI.docxCONTOH LAPORAN PARTISIPAN OBSERVASI.docx
CONTOH LAPORAN PARTISIPAN OBSERVASI.docx
 
tugas 1.4 keyakinan kelas tugas mandiri.pdf
tugas 1.4 keyakinan kelas tugas mandiri.pdftugas 1.4 keyakinan kelas tugas mandiri.pdf
tugas 1.4 keyakinan kelas tugas mandiri.pdf
 
Teori Profetik Kuntowijoyo (Dosen Pengampu: Khoirin Nisai Shalihati)
Teori Profetik Kuntowijoyo (Dosen Pengampu: Khoirin Nisai Shalihati)Teori Profetik Kuntowijoyo (Dosen Pengampu: Khoirin Nisai Shalihati)
Teori Profetik Kuntowijoyo (Dosen Pengampu: Khoirin Nisai Shalihati)
 

P_E_R_I_L_A_K_U__K_O_N_S_E_L_O_R__v.1.ppt

  • 2. WAWANCARA Sesi Pertama • Tujuan wawancara pertama kali:  Langkah mereduksi kecemasan klien, menahan diri dari pembicaraan yang terus- menerus, mendengarkan secara baik dan hati-hati, serta menyadari bahwa pilihan klien terhadap topik-topik akan memberikan pemahaman terhadap prioritasnya.
  • 3. Tujuan utama wawancara adalah untuk mendapatkan informasi, so beberapa bentuk respon yang disarankan, yaitu : (1) Penggalian. (2) Penekanan. (3) Pertanyaan tertutup. (4) Permintaan klarifikasi.
  • 4. Sesi Kedua (1) Mengidentifikasi data (identitas klien) (2) Menyampaikan masalah, baik yang utama dan yang lain. (3) Setting kehidupan klien saat ini, (4) Riwayat keluarga, (5) Riwayat pribadi, (6) Deskripsi klien selama wawancara, dan (7) Kesimpulan dan rekomendasi.
  • 5. Sesi-sesi Berikutnya • Wawancara hendaknya sudah mengarah kepada wawancara terapeutik dan dilakukan dengan menggunakan data-data yang sudah dimiliki. Sesi Akhir Wawancara • Dipandang sebagai suatu transisi dari satu kondisi psikologis ke yang lain, maka fungsi konselor adalah sebagai jembatan dari kondisi psikologis dari yang satu ke yang lain.
  • 6. PROSES MENDENGARKAN Mendengarkan Proses kompleks yang melibatkan: - Mindfull - Penerimaan pesan secara fisik - Pemilihan & penyusunan informasi - Menafsirkan komunikasi - Merespon - Mengingat
  • 7. Merespon konten kognitif • Konselor harus memahami alternatif yang dihadirkan klien dan selanjutnya merespon terhadap alternatif tersebut secara tepat. • Memahami alternatif, berarti mengidentifikasi secara tepat jenis isi yang dihadirkan klien, dan alternatif-alternatif yang dapat direspon. • Merespon alternatif, yaitu proses menyeleksi alternatif.
  • 8. • Fokusnya adalah tentang kebutuhan klien daripada kebutuhan konselor. • Respon dapat juga diberikan kepada hal-hal yang menurut klien paling menarik. • Dalam merespon, juga banyak tipe yang bisa dijadikan stimulus terhadap isi kognitif, yaitu : ide yang disetujui, organisasi dan suatu hal. • Untuk membedakan stimuli, konselor dapat menggunakan melalui diam, aktivitas verbal secara minimal, pernyataan kembali, dan pemeriksaan.
  • 9. Merespon konten afektif • Pesan-pesan perasaan mungkin diekspresikan melalui nonverbal, seperti nada vokal, kecepatan bicara, posisi tubuh, dan atau isyarat badan. • Isyarat verbal maupun nonverbal selalu berasosiasi dengan emosi. • Konselor harus mampu memahami perasaan klien, sebelum konselor dapat menghasilkan perasaan yang sama seperti yang dirasakan klien. • Elemen-elemen komunikasi afeksi klien dapat diientifikasi berdasar atas gerakan kepala dan badan, posisi tubuh, kecepatan gerak, dan kualitas suara.
  • 10. 1. Afeksi Positif Kegembiraan Kemampuan Cinta Kebahagiaan Harapan Cantik Mampu Akrab Riang Untung Senang Dapat B’sahabat Menyenangk’ Optimis Baik Terpenuhi Cinta Ceria Mencoba Bagus Besar Suka Gairah Dugaan Manis Bagus Kebutuhan Bahagia Harapan Puas Pintar Sayang Tertawa Keinginan Hebat Menghargai Keinginan Sensasi Cukup baik Memilih Menghargai
  • 11. 2. Amarah Serangan Kejelekan Pembelaan diri Bercekcok Perdebatan Tidak suka Menyalahkan Marah Serangan Benci Melindungi Berkelahi Bertanding Buruk Marah Pertengkaran Mencela Kemuakan Hati-hati Berdebat Berkelahi Merengut Menyiapkan Mempersoalkan masalah Memukul Menolak Menyakiti Tidak setuju Melukai perasaan
  • 12. 3. Ketakutan Ketakutan Kekhawatiran Kesakitan Menjauhi Gelisah Kegagalan Payah Melarikan diri Kesusahan Menjatuhkan Menyakiti Lari Keprihatinan Tidak pasti Hebat Pelarian Kesendirian Sedang Tidak menyenangkan Memotong Suka murung Tidak nyaman Lupa Ketakutan Kebingungan Sakit Tegang Bodoh Merobek Gangguan Tak pasti
  • 13. 4. Kesedihan Kesedihan Kesendirian Depresi Tidak senang Sendiri Depresi Terkatung-katung Meninggalkan Tekanan Penderitaan Lepas Lesu Bersedih hati Hilang Mengecilkan hati Sedih Sangat sedih Murung
  • 14. Alasan utama konselor tidak merespon perasaan klien (1) konselor tidak mengetahui cara yang tepat untuk meresponnya. (2) konselor “menghalangi” pengenalan pada perasaan klien.
  • 15. Relasi Bantuan • Empati kemampuan untuk merasakan secara akurat dunia klien mampu melihat sesuatu menurut pandangan klien. kemampuan untuk secara verbal berbagai pemahaman dengan klien. • Mampu mengembangkan penghargaan yang positif • Perlu keiklhlasan, keaslian, atau kesungguhan • Kemampuan untuk menyingkapkan diri
  • 16. Memperhatikan Klien Hal yg perlu dilakukan:’Berkomunikasi’ 1. Ekspresi wajah 2. Posisi badan 3. Respon verbal
  • 17. Mengenali pola-pola berkomunikasi • kebanyakan pola yang terjadi dalam sesi konseling adalah pola komunikasi interaktif. • tiga macam pola berkomunikasi yang luar biasa untuk hubungan sosial, tetapi tidak tepat bagi konselor, yaitu kurang berpartisipasi, terlalu berpartisipasi, partisipasi yang mengacaukan.
  • 18. Konselor Yang Kurang Berpartipasi • Mungkin memiliki ketakutan terhadap klien atau terhadap masalahnya. • Karakteristik nonverbal, adalah tampak kaku, kurang gerak, posisi badan sering menjaga jarak dengan klien, menghindarkan pandangan, dan kadang-kadang membungkukkan bahu. • Karakteristik verbal meliputi kalimatnya tidak lengkap, berbicara yang tidak berlanjut, kadang- kadang mencela pernyataannya sendiri, atau memberikan respon yang sifatnya reflektif. Atau dengan menggunakan bahasa yang lembut, sopan, dan pelan.
  • 19. Konselor Yang Terlalu Berpartisipasi • Cenderung menggunakan gaya meresponnya untuk menutupi perasaan takut saat interview. • Nonverbal dicirikan dengan jarang melakukan perpindahan gerak badan dan banyak beranimasi dan berekspresi. • Verbal, dicirikan dengan berbicara secara langsung melalui kata-kata yang kompulsif, tidak detail dan melakukan pengulangan, serta merespon secara panjang dibandingkan dengan respon klien. • Aspek bahasa: cenderung berbicara secara langsung dan cepat, banyak berhenti diantara kalimat-kalimat, serta tekanan suaranya kadang tinggi dan keras.
  • 20. Partisipasi Yang Mengacaukan • Verbal dicirikan dengan pembicaraan yang tidak merespon pada masalah yang utama / primair tetapi yang sekunder, mengalihkan topik, fokus pada orang lain dari pada klien, dan lebih mempermasalahkan masa lalu dari pada saat ini. • Non verbal: menggunakan perilaku-perilaku yang tidak perlu seperti memperhatikan orang lain, menggerak-gerakkan kaki dan tangan terlalu sering, mengangkat telepon, dsb
  • 21. KEMAMPUAN KONSELOR DALAM FASE PEMAHAMAN & ACTION 1. Changing Perceptions • Persepsi biasanya diubah dgn proses reframing st teknik yg menawarkan klien ttg perspektif/ sudut pandang lain yg memungkinkan & positif pd st situasi • Tujuan yg tdk realistis diganti m’gunakan strategi kognitif, perilaku, atau kognitif-perilaku spt m’definisikan kembali masalahnya, m’ganti perilaku ke situasi yg tepat, & memahami masalah dgn cara & perilaku yg lebih dpt dimanajemeni (Okun & Kantrowitz, 2008)
  • 22. 2. Leading •Kemampuan konselor dalam mempengaruhi & mengarahkan klien •Mnrt Welfel & Patterson (2005), macamnya: silence, acceptance, & paraphrasing (umumnya digunakan pada fase awal), persuasi (cocok digunakan pd fase pemahaman & aksi) •Tipenya tgtg pdktn yg digunakan konselor & fase konselingnya: -Minimal leads  utk fase m’bangun hub, mis. “ehmmm,” “ya..ya..,” “ok, sy m’dengarkanmu” -Maximum leads  digunakan saat hub sdh t’jalin & solid, spt konfrontasi
  • 23. 3. Multifocused Responding •Mnrt Ivey dan Ivey (2007), & Lazarus (2000), tuning ke dalam gaya klien dlm mempersepsi & belajar adalah penting utk m’bawa pd perubahan •Ada klien yg m’persepsi dunianya scr visual, auditori, ataupun kinestetik dgn merasakan •Dalam memberikan respon, ada respon afektif, behavioral, & kognitif
  • 24. 4. Accurate Empathy • Dua faktor yg memungkinkan tjdnya empati: a. Menyadari bhw “perasaan infinite” tidak ada b. Memiliki personal security, shg “dapat m’biarkan diri masuk ke dalam dunia klien & tetap tahu bahwa qt dpt kembali ke dunia qt sendiri” Semua yg dirasakan adalah sbg “seakan-akan” • Empati memiliki 3 elemen: perspektif, tahu- bgm, & asertif (Egan, 2007)
  • 25. • Tipe dasar empati: - Primary empathy  M’komunikasikan pemahaman dasar ttg apa yg klien rasakan & pengalaman serta perilaku yg mendasari perasaan tsb  M’bantu pembentukan hubungan konseling, mengumpulkan data, dan m’klarifikasi mslh  Co. klien: “Sy merasa tdk dpt melakukan apapun utk diri saya”, konselor: “Kamu merasa tidak berdaya” - Advanced empathy  Merefleksikan apa yg klien persiratkan atau p’nyataan yg tdk lengkap  Co. klien: “….& saya harap segalanya akan terbiasa”, konselor: “Jika tidak, sy tdk yakin dgn apa yg akan sy lakukan selanjutnya”
  • 26. 5. Self-Disclosure •“St kesadaran, teknik intentional dimana klinisi m’bagi informasi ttg kehidupannya di luar hubungan konseling” •Self-disclosure dapat m’bangun kepercayaan & penting dlm m’fasilitasi kemajuan klien •Egan (2007), fungsi self-disclosure konselor: modeling & mengembangkan perspektif baru •Klien bs belajar utk lebih t’buka dgn melihat konselor yg terbuka, & bahwa bbrp mslh adalah umum & dpt diatasi •Namun self-disclosure tdk sll dibutuhkan, konselor harus m’p’timbangkan apakah ini penting, apakah ada cara lain yg risikonya lbh kcl & apakah ini adalah waktu yg tepat (Simone dkk, 1998)
  • 27. 6. Immediacy •Melibatkan pemahaman konselor & klien, serta m’komunikasikan apa yg tjd diantara mereka dlm hub yg m’bantu, perasaan2 khusus, impresi, & harapan2 (Turock, 1980) •Pd dasarnya ada 3 macam immediacy: a. Keseluruhan kedekatan hubungan – “Apa yg anda & saya lakukan?” b. Fokus pd bbrp peristiwa khusus dlm sesi konseling – “Apa yg tjd antara anda & saya saat ini?” c. Pernyataan self-involving – “Saya suka dgn cara anda bertanggung jawab dalam hidup anda pada situasi tsb”
  • 28. • Egan (2007), immediacy m’butuhkan keberanian lebih & ke-asertifan dibanding kemampuan interpersonal lain • Turock (1980), 3 ketakutan para konselor ttg immediacy: a. Takut jika klien akan salah m’artikan pesan yg disampaikan konselor b. Immediacy mungkin m’hasilkan st hal yg tdk t’duga c. Immediacy dpt m’pengaruhi klien utk melakukan terminasi konseling krn mrk tidak dpt terus dalam hub yg terkontrol & manipulatif • Egan (2007), immediacy t’baik digunakan saat: hub yg directionless, ada ketegangan, ada p’tanyaan ttg kepercayaan, ada perbedaan/ jarak sosial antar klien- konselor, ada ketergantungan klien, ada counter- dependency, & ada ketertarikan antar konselor &klien
  • 29. 7. Humor •Melibatkan respon yg incongruent atau tdk terduga dlm bertanya atau situasi •Humor dlm konseling sebaiknya tidak merendahkan siapapun •Humor dpt m’hindari resistansi klien, m’bangun rapport, m’hilangkan ketegangan, menolong klien dlm m’beri jarak thd dirinya sndiri dari sakit scr psikologis, & meningkatkan self-efficacy klien (Goldin dkk., 2006; Vereen, Butler, Williams, Darg, & Downing, 2006) •“Ha-ha” t’kadang lbh menimbulkan awareness drpd “Ah-ha”, & m’p’jelas situasi (Kotler, 1991)
  • 30. 8. Confrontation • Respon yg mungkin tdk konsisten dgn persepsi klien ttg dirinya sndiri atau lingkungannya • Dapat m’bantu orang utk melihat dgn lbh jelas ttg apa yg tjd, apa konsekuensinya, & bgm mrka memandang tanggungjawab utk b’ubah dgn cara yg m’buat hidup lbh efektif & lbh baik serta hub yg lebih fair dg orang lain • Leaman (1978), batasan utk konfrontasi: konselor hrs memastikan bhw hub dgn klien ckp kuat utk diadakan konfrontasi, konselor hrs menyiapkan waktu yg tepat & tetap pd motif melakukan konfrontasi (lbh produktif m’konfrontasi kelebihan klien dibanding kekurangannya), konselor harus menantang klien utk m’gunakan sumber2 yg gagal digunakannya
  • 31. 9. Contracting • Ada 2 aspek: a.Fokus pd proses, meliputi p’capaian tujuan b.Konsentrasi pd outcome final (goal) • Moursund dan Kenny (2002), kontrak m’cakup: S – Spesifikasi (goal treatment) A – Awareness (pengetahuan ttg prosedur, goal, & efek samping konseling) F – Fairness (hub yg diseimbangkan & antar klien & konselor memiliki informasi yg cukup dlm bekerja) E – Efficacy (memastikan bhw klien diberdayakan dlm memilih & m’buat keputusan)
  • 32. • Manfaat m’gunakan kontrak dlm konseling: - Menyediakan rekaman tertulis ttg goal yg disetujui oleh konselor & klien, & tindakan yg harus dilakukan - Kontrak yg formal & batas waktu yg ada dpt sbg motivator utk klien yg cenderung menunda - Jika kontrak terbagi dlm sesi yg dpt didefinisikan, maka klien akan merasa jelas bhw masalah dpt diatasi - Kontrak m’berikan tanggungjawab pd klien utk b’ubh, shg b’potensi utk m’berdayakan klien & m’buatnya lbh responsif pd lingkungan & lbh b’tnggjwb thd tingkah lakunya - Sistem kontrak, dgn p’jelasan scr spesifik ttg jml sesi yg akan dilakukan, m’jamin bhw klien akan kembali pd proses konseling scr regular
  • 33. • Thomas dan Ezell (1972), kelemahan sistem kontrak: - Konselor tdk dapat menahan klien dlm kontrak (tdk ada reward atau punishment yg konselor gunakan utk menekan klien agar memenuhi kontrak) - Bbrp mslh klien tdk mencerminkan dirinya sndiri dlm sistem kontrak (kontrak tdk dpt memastikan bahwa klien akan melakukan tindakan perubahan yg t’cantum dalam kontrak) - Cara kontrak dlm m’atasi mslh t’fokus pd perilaku luar (wlpn kontrak telah dipenuhi dgn sukses, klien mgkn tdk m’dpt insight atau persepsi yg b’ubah) - Daya tarik kontrak terbatas (klien yg t’motivasi utk b’ubah & menemukan ide yg fresh & menarik, dapat mjd bosan dgn sistem yg terencana
  • 34. 10. Rehearsal • Setelah kontrak, konselor dpt m’bantu klien utk memaksimalkan kesempatan dlm memenuhi kontrak dgn melatih atau m’praktekkan perilaku yg direncanakan • Klien dpt berlatih scr overt & covert • Overt rehearsal – klien berlatih scr verbal & tindakan ttg apa yg akan dilakukannya • Covert rehearsal – m’bayangkan atau merefleksikan tujuan yg diinginkan (m’bayangkan situasi t’lebih dulu dpt menurunkan kecemasan & menolong klien utk perform lebih baik)
  • 35. • T’kadang klien m’butuhkan pengajaran dari konselor sblm berlatih. • Konselor jg dpt memberikan klien homework, utk m’bantu klien m’praktekan kemampuan yg telah dipelajari dlm sesi konseling & m’generalisasikan kemampuan tsb pd b’bagai area yg relevan dlm kehidupannya. • Konselor dr b’bagai perspektif teori dpt m’gunakan homework jika mereka ingin m’bantu klien m’atasi masalahnya sendiri • Homework yg efektif, berkaitan dgn perubahan perilaku yg dpt diukur, relevan dgn situasi klien jika homework itu ingin b’makna & m’bantu
  • 36. • Tipe homework: - Paradoksikal, usaha m’ciptakan efek yg b’lawanan - Perilaku, m’praktekkan kemampuan baru - Risk taking, melakukan sst yg ditakutkannya - Berpikir, merenungkan pikiran ttt - Menulis, m’buat jurnal - Bibliotherapeutic (m’baca, m’dengar, atau melihat literatur) - Tidak melakukan apapun (break dari perilaku yg biasanya)
  • 37. • Manfaat homework: -M’jaga klien utk tetap fokus pd perilaku yg relevan diantara sesi -M’bantu klien melihat dgn jelas kemajuan yg dibuatnya -Memotivasi klien utk m’ubah perilaku -M’bantu klien m’evaluasi & memodifikasi aktifitasnya -M’buat klien lbh b’tanggungjawab utk mengendalikan dirinya -Merayakan terobosan yg dicapai dlm konseling
  • 38. TRANSFERENCE & COUNTERTRANSFERENCE Transference • Adalah proyeksi klien pd konselor ttg perasaan masa lalu & sekarang, attitudes, atau pun keinginan2 • Dpt digunakan dlm 2 cara: - Utk m’bantu konselor memahami klien dgn lebih baik - Sbg cara utk memecahkan mslh klien • Co. Klien yg b’prilaku seakan konselor adalah ibunya
  • 39. Countertransference • Merujuk pd konselor yg m’proyeksikan reaksi emosional/perilaku thd atau ke arah klien (Fauth & Hayes, 2006; Hansen dkk., 1994) • Countertransference t’kadang menyakiti, m’ancam, menantang, & atau memerlukan coping konselor (Fauth & Hayes, 2006) • Co. konselor yg b’perilaku kpd klien yg seakan klien adlh adik kandungnya; konselor yg tll m’identifikasikan dirinya dgn klien yg m’alami gangguan makan
  • 40. • Dapat merusak hubugan dalam konseling • Kernberg (1975), 2 pdkt utama ttg konseptualisasi countertransference: - Pdkt klasik, dipandang scra negatif & dianggap sbg reaksi ketidaksadaran langsung ataupun tdk langsung dari konselor kpd klien - Pdkt total, coutertransference dilihat lbh positif – alat diagnostik utk memahami aspek ketidaksadaran klien Pdkt ke-3 ditambahkan oleh Blanck dan Blanck (1979), memandang countertransference diantara positive & negative
  • 41. • Manifestasi countertransference (Corey dkk., 2007): - Merasa keinginan yg konstan dlm m’bolehkan klien - Terlalu bnyk identifikasi pd mslh klien dpt m’hilangkan objektifitas - Mengembangkan perasaan romantik atau seksual pada klien - M’berikan nasihat secara kompulsif - Ingin mengembangkan hub sosial dgn klien • Countertransference jg dpt menyebabkan kemajuan yg lambat dr klien, & konselor & klien dpt terluka dalam proses konseling
  • 42. • Watkins (1985), bbrp cara m’ekspresikan countertransference: overprotective, benign, penolakan, & permusuhan 2 cara pertama disebut ‘overidentification’ (konselor kehilangan kemampuan utk m’jaga jarak secara emosional dari klien)  2 cara t’akhir disebut ‘disidentification’ (konselor mjd hilang secara emosional dr klien – tdk empati, hostile, dingin, antagonis, dan jauh)
  • 43. • Mengatasinya, adakan supervisi Bekerja dalam hub profesional dgn banyak konselor b’pengalaman (shg dpt dimonitor scr simultan & meningkatkan peayanan pd klien) Prosedurnya antara lain: observasi interaksi konselor-klien di belakang kaca satu arah, memonitor sesi konseling lewat audiotape, & m’kritisi video sesi konselingnya M’analisa peran konselor dalam sesi konseling adalah komponen yg utama dalam supervisi
  • 44. Kualitas Konselor yang Efektif • Intellectual competence – kemampuan utk belajar dgn baik, berpikir cepat & kreatif • Energy – aktif dalam sesi & m’p’tahankannya • Flexibility – kemampuan utk tahu apa yg harus dilakukan utk menemukan kebutuhan klien • Support – kapasitas utk mendorong klien agar bisa m’buat keputusan • Goodwill – keinginan utk bekerja dlm cara yg konstruktif & bebas • Self-awareness – pengetahuan ttg diri sendiri, meliputi attitude, nilai2, & perasaan serta kemampuan utk mengetahui bgm & apa faktor yg mempengaruhinya
  • 45. Memahami Klien • Petunjuk singkat utk memahami klien scr lebih efektif (Kelly, 1995): 1.Masalah apa yg sedang dihadapi klien? 2.Bagaimana klien memandangnya? 3.Bagaimana lingkungan dengan kondisinya mempengaruhi klien? 4.Dasar & penyusunan teori apa untuk menghadapi klien? 5.Langkah apa yg akan diambil selanjutnya, juga oleh klien?
  • 46. Social Power Konselor Menurut French dan Raven: 1. Reference power Jika menunjukkan persetujuan ataupun penerimaan, akan sangat dihargai oleh kliennya 2. Coercive Power Menggunakan ancaman & hukuman agar orang menuruti tuntutan otoriter Paling tidak menimbulkan efek dalam suatu hubungan membantu
  • 47. 3. Reward Power  Banyak digunakan: reward sosial yg simbolik (empati, ramah, senyum, kontak mata, dsb yg juga mendukung referent power)  Reward materi tidak digunakan oleh konselor profesional, meskipun digunakan oleh teknik intervensi behavioral) 4. Expert & Legitimate Power Misal: memajang ijazah2 & keanggotaan profesi agar konselor dipercaya & memang memiliki kredibilitas
  • 48. Masalah2 yang Dihadapi Konselor Cavanagh (1982): 1. Kebosanan Yang mungkin timbul krn bosan: - Konselor mengambil jarak dari klien  klien merasa kehilangan rasa aman & diterima - Konselor t’kadang mengambil cara negatif dalam menangani kebosanan  berfantasi, mendengar dari “satu” telinga saja, atau sengaja “menyerang” klien agar seru - Kemungkinan konselor kehilangan informasi penting  kurang konsen, memikirkan masalah sendiri
  • 49. Solusi: -Identifikasi letak masalah  dr klien or konselor -Komunikasikan dgn klien (bagian dr genuineness) -Atur waktu pertemuan saat konselor lebih bisa fokus -Beri tugas pada klien yg dapat didiskusikan saat konseling -Peka thd tanda2 kebosanan klien
  • 50. 2. Hostilitas Sumber hostilitas: - Menutupi ketakutan yg mendalam  takut dependen pada konselor, takut ditolak konselor, takut dikenalkan dgn bagian dari diri yg tidak disukai, dsb - Frustrated needs  hipersensitif – pertanyaan biasa dirasa mengancam - Simbolisasi dari konflik internal atau eksternal klien  konselor representasi dari orang yang tidak disukai klien - Adanya tekanan yg sangat intens - Konselor memang pantas mendapat hostilitas dari klien  cara konselor b’komunikasi krg m’bantu, sll melihat sisi negatif klien & mencurigai motifnya, dsb Solusi: Dihadapi, bukan dihindari  klien perlu belajar utk menyelesaikan dan menghadapi hostilitas ini dengan adekuat
  • 51. 3. Kesalahan2 Konselor - Lemah, tidak tegas  tll menuruti klien - Tidak mengakui kesalahan Konselor yg efektif akan mengakui bahwa dirinya membuat kesalahan, alasannya: a. Kejujuran b.Orang yg ada dalam hubungan konseling harus dibantu untuk memisahkan kesalahan yg mana adalah kesalahan siapa, shg orang yg melakukan kesalahan dapat mengambil tanggung jawab untuk mengoreksinya c. Sbg cara utk mengajar klien bahwa kesalahan bisa diterima & penting mengakui kesalahan itu pd orang lain d.Konselor tahu, klien mungkin tahu bahwa konselor membuat kesalahan & menunggu utk melihat apakah konselornya cukup punya rasa aman untuk mengakui kesalahan itu
  • 52. 4. Manipulasi  Bedakan manipulasi dgn manuvering!  Contoh: - Manipulasi: konselor mempengaruhi klien utk lama dalam konseling dengan alasan masih membutuhkan konseling utk pertumbuhannya (padahal hanya utk memenuhi kebutuhan konselor) - Manuvering: konselor ‘memaksa’ kliennya yg depresi utk membuat skedul aktivitas  Penting bagi konselor!! Mengetahui dalam hal apa dirinya rentan, shg bisa mengurangi potensinya utk dimanipulasi
  • 53.  Klien memanipulasi konselor, tujuannya: -Utk memenuhi kebutuhan -Untuk menetralisasi ancaman  Konselor memanipulasi klien, contohnya: - Krn bosan, konselor mengatakan bahwa kliennya sudah m’alami kemajuan dan perlu ‘istirahat’ dari konseling - Konselor memenuhi kebutuhan afeksinya dengan membangun hub dgn klien dgn alasan klien perlu belajar & m’praktekannya pd konselor - Konselor b’anggapan bhw agama b’tentangan dgn kesehatan psikologis, shg konselor m’bawa klien m’jauhi keyakinan agamanya
  • 54. 5. Penderitaan (Suffering/ Psychological Bleeding)  Konselor efektif mengenali bahwa personality growth is earned and the price may be suffering. The more a counselor expects a person to growth, the more psychological bleeding will occur (Cavanagh, 1982)  Penderitaan konselor -Adanya perasaan tidak berdaya krn hanya dapat berempati -Merasa kepedihan hati (anguish) bila kliennya m’alami perdarahan psikologis krn perbuatan orang lain -Tidak sengaja menimbulkan penderitaan melalui st tindakan atau justru krn tdk melakukan sst (iatrogenic pain) -Konselor frustrasi jika merasa sudah melakukan segalanya bagi klien, namun klien tsb menghentikan konseling sebelum waktunya & mengatakan konselor tdk bnyk membantu
  • 55. 6. Hubungan yg Membantu VS Tidak Membantu  2 tipe hubungan yg tidak membantu dalam konseling: emotionally detached (distansi emosional) dan emotionally attached (lekat emosional)  Hubungan yg membantu: emotionally involved (terlibat emosional)  Distansi emosional: Keterlibatan konselor bersifat intelektual, sbg director dan tutor, tidak dapat ‘masuk’ ke dalam diri klien, tdk dpt menyatukan dirinya dgn pikiran, perasaan, & persepsi klien utk bisa b’empati, shg sulit m’ciptakan rapport dan rasa percaya
  • 56.  Kelekatan Emosional: -Ketergantungan klien pada konselornya, atau sebaliknya -Kebutuhan dasar yg dapat terpenuhi: kebutuhan utk merasa aman, utk menerima & memberi cinta, utk dikagumi & dibutuhkan -Sikap konselor thd klien: parental (ortu yg tll melindungi), fraternal (sahabat), romantik (kekasih/pasangan) -Bila konselor tdk dapat melepaskan klien dari kelekatannya thd dirinya, lakukan terminasi!
  • 57. - Kemungkinan perilaku konselor yg lekat emosional: o Sgt b’harap b’temu klien utk m’p’cerah hari o Orang yg signifikan dlm hidupnya dilihat memiliki bnyk kekurangan dibanding kliennya o Memperpanjang sesi o Berfantasi ttg klien diantara sesi o M’izinkan kontak antar sesi yg tdk dip’bolehkan pd klien lain o M’buat penyesuaian honor yg tdk dilakukan pd klien lain o M’anggap sesi lbh sbg rekreasi drpd kerja o Iri thd hubungan dekat klien dg orang lain & scra halus merendahkan atau tdk m’dorong hubungan tsb o M’cemaskan klien diantara sesi yg tdk dirasakan thd klien lain
  • 58. - Hal2 yang terjadi jika konselor lekat pada klien: o Berpengaruh pada persepsi konselor thd realitas (mjd tdk tepat) o B’usaha ‘menahan’ klien utk memenuhi kebutuhan emosioalnya o Menjadi rentan & mudah dimaipulasi o Ikut dgn perubahan mood & tdk objektif o M’berikan bnyk kepuasan pd klien, shg motivasi klien utk b’hubungan dgn orang lain di luar konseling mjd sedikit o Menawarkan hub yg tidak riil pd klien (sbg ortu, sahabat, kekasih)
  • 59. - Sikap klien yang lekat pada konselor: o Menginginkan hub khusus sbg ‘pasien favorit’ o Ingin kontak antar sesi o Membawa hadiah2 yg sifatnya personal o Tanda2 verbal & nonverbal yg merefleksikan perasaan jatuh cinta, tdk mau pergi stlh sesi b’akhir o Merasa sakit hati & ditolak jika konselor m’hadapkannya pd realitas yg tdk menyenangkan, t’utama ttg kelekatannya pd konselor o B’fantasi ttg konselor & m’buatnya mjd teman yg sll ada bagi dirinya o M’bandingkan konselor dgn orang2 signifikan dalam hidup klien & b’anggapan konselor yang superior, mis.”Seandainya anda ayah saya…”
  • 60. - Masalah bagi klien yang lekat pada konselor: o Kurang atau hilang minat utk menjalin hubungan dgn orang lain krn konselor adalah segalanya o Tidak seluruhnya jujur krn takut m’ganggu hub yg menyenangkan tsb o Menyulitkan konselor utk menetapkan batas2 tanpa konselor merasa dirinya egois & menolak klien o Melebih2kan perhatian & pemahaman konselor & tdk mampu m’baca pesan konselor bhw koselor menginginkan kliennya mjd self-sufficient o “Menyembuhkan diri” bagi konselor, bukan utk klien, & ia akan tetap ‘sembuh’ jika konselor baik & menyenangkan dirinya o Bekerja setengah hati & m’ciptakan masalah ketika konseling akan berakhir
  • 61.  Keterlibatan Emosional -Mrp satu2nya hub yg sehat antar konselor & klien -Cukup saling mengenal utk dapat saling percaya & empati -Secara emosional dekat & hub yg dinamis -Tetap sbg 2 orang yg terpisah dgn kehidupan yg terpisah -Saling mendukung -Mrp equal partners yg masing2 punya hak, kewajiban, & kebebasan (Rogers:emphatic understanding)
  • 62. 7. Terminasi Konseling Konseling akan berakhir melalui salah satu dari 3 cara berikut: 1) Bila sasaran konseling telah tercapai 2) Klien secara prematur ingin menghentikan konseling 3) Konselor ingin menghentikan konseling walau klien ingin melanjutkannya
  • 63. 8. Burnout  Gladding (1992), burnout: becoming emotionally and/or physically drained to the point that they cannot perform functions meaningfully  Saran Gladding (1992) utk mencegah atau mengobati burnout: -Menjalin hub dgn individu2 yg sehat -Bekerja dgn rekan2 yg committed & organisasi yg pny misi -Melakukan latihan2 utk mengurangi stres, terapi pribadi -Memodifikasi stressor lingkungan -Melakukan self-assessment -Secara berkala m’kaji ulang & m’klarifikasi counseling roles, expectations, & beliefs -Menyisihkan st waktu bebas & pribadi -M’p’tahankan sikap detached concern bila bekerja dgn klien -M’p’tahankan sikap “selalu ada harapan”