Skip to main content
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
MODUL AJAR
KURIKULUM MERDEKA (Deep Learning)
Nama Sekolah : ................................................
Nama Penyusun : ................................................
NIP : ................................................
Mata pelajaran : Pendidikan Agama Hindu Dan Budi Pekerti
Fase E, Kelas / Semester : X (Sepuluh) / I (Ganjil)
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN : PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN BUDI PEKERTI
BAB 1 : DHARMAŚASTRA SEBAGAI SUMBER HUKUM HINDU
A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : ......................................................
Nama Penyusun : ......................................................
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti
Kelas / Fase / Semester : X / E / I (Ganjil)
Alokasi Waktu : 12 JP (6 kali pertemuan)
Tahun Pelajaran : 20.. / 20..
B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
 Pengetahuan Awal : Peserta didik secara umum telah memahami adanya aturan, tata
tertib, dan hukum yang berlaku di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
Peserta didik juga memiliki pemahaman dasar tentang kewajiban umat Hindu dalam
mematuhi ajaran agama.
 Minat : Peserta didik memiliki ketertarikan pada diskusi tentang nilai-nilai keadilan,
sejarah perkembangan ajaran Hindu, dan keterkaitan antara hukum karma dengan
kehidupan masa kini.
 Latar Belakang : Peserta didik berasal dari lingkungan sosial dan budaya yang beragam,
sebagian besar hidup di masyarakat yang memegang teguh tradisi keagamaan Hindu dan
kearifan lokal.
 Kebutuhan Belajar :
o Visual: Membutuhkan media pembelajaran berupa bagan Catur Yuga, gambar siklus
zaman, infografis pembagian Weda, dan skema sumber hukum Hindu.
o Auditori: Membutuhkan penjelasan lisan yang sistematis, sesi mendengarkan
lantunan sloka Dharmaśastra, dan ruang diskusi interaktif untuk menyampaikan
pendapat.
o Kinestetik: Membutuhkan aktivitas bergerak seperti bermain peran, menyusun peta
konsep secara fisik, simulasi penerapan hukum Hindu, dan kegiatan kolaboratif di
dalam kelas.
C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
 Jenis Pengetahuan yang Akan Dicapai
o Konseptual: Peserta didik menguasai konsep Dharmaśastra sebagai sumber hukum
Hindu, karakteristik Catur Yuga (Krtayuga, Tretayuga, Dwaparayuga, Kaliyuga),
serta pembagian Sruti dan Smrti.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
o Prosedural: Peserta didik mampu menganalisis dan menerapkan nilai-nilai
Dharmaśastra (tapa, jnana, yajna, dan dana punia) sesuai dengan konteks zaman
Kaliyuga melalui tindakan nyata.
 Relevansi dengan Kehidupan Nyata Peserta Didik: Pemahaman tentang aturan hukum
Hindu (Dharmaśastra) sangat relevan untuk membentuk karakter peserta didik agar taat
pada dharma agama (kewajiban agama) dan dharma negara (kewajiban warga negara),
serta menjadi pedoman dalam beretika, bertoleransi, dan berdana punia di masyarakat.
 Tingkat Kesulitan: Sedang hingga Tinggi, karena melibatkan pemahaman sejarah teks
kuno, pembagian zaman menurut kosmologi Hindu, serta penerjemahan nilai-nilai sloka
klasik ke dalam konteks perilaku abad modern.
 Struktur Materi: Dimulai dari pengenalan Dharmaśastra pada Catur Yuga, dilanjutkan
dengan kedudukan Dharmaśastra sebagai sumber hukum Hindu, analisis sloka-sloka
terkait, identifikasi nilai-nilai setiap yuga, hingga menghubungkan ajaran tersebut dengan
situasi aktual di zaman Kaliyuga.
 Integrasi Nilai dan Karakter: Menginternalisasi karakter disiplin, pengendalian diri
(tapa), cinta ilmu pengetahuan (jnana), semangat berkurban (yajna), dan kepedulian
sosial melalui sedekah atau sumbangan (dana punia).
D. DIMENSI PROFIL LULUSAN
 Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia:
Mengimani kemahakuasaan Sang Hyang Widhi Wasa yang mewahyukan Weda sebagai
sumber hukum tertinggi, dan mengamalkan akhlak mulia dengan mematuhi aturan
dharma dalam kehidupan sehari-hari.
 Kewargaan: Menumbuhkan kesadaran diri sebagai warga negara yang baik dengan
menyelaraskan ketaatan pada hukum negara (Dharma Negara) dan ketaatan pada hukum
agama (Dharma Agama).
 Penalaran Kritis: Membantu peserta didik mampu menganalisis kondisi sosial di zaman
Kaliyuga berdasarkan perspektif Dharmaśastra dan merumuskan solusi moral untuk
mengendalikan diri dari perbuatan adharma.
 Kreativitas: Mendorong peserta didik untuk mengkreasikan pemahaman mereka tentang
Catur Yuga dan sumber hukum Hindu ke dalam karya nyata seperti peta konsep, kliping,
maupun presentasi interaktif.
 Kolaborasi: Menanamkan nilai kebersamaan dan gotong royong melalui aktivitas diskusi
kelompok, di mana peserta didik saling berbagi pengetahuan dan menyelesaikan
penugasan secara bersama-sama.
 Kemandirian: Melatih peserta didik untuk bertanggung jawab atas proses belajarnya
sendiri, melakukan literasi mandiri terhadap teks suci, dan mengambil keputusan etis
berdasarkan ajaran Dharmaśastra.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
 Kesehatan: Mengembangkan kesejahteraan mental dan rohani melalui praktik mindful
learning, menjaga ketenangan pikiran, dan memelihara keharmonisan jasmani dan rohani.
 Komunikasi: Membekali peserta didik dengan kemampuan menyampaikan gagasan,
argumentasi, dan hasil analisis terkait hukum Hindu secara santun, jelas, dan efektif
kepada guru dan sesama teman.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
DESAIN PEMBELAJARAN
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP)
Pada akhir Fase E, murid memiliki kemampuan sebagai berikut:
 Kitab Suci Weda
Memahami Dharmasastra.
 Sraddha dan Bhakti
Memahami Karmaphala dan Punarbhawa.
 Susila
Memahami ajaran Catur Warna.
 Acara
Memahami Yadnya dan Ramayana dan Mahabhrata.
 Sejarah Agama Hindu
Memahami Corak Keagamaan Hindu di dunia.
B. LINTAS DISIPLIN ILMU
 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan: Relevan dalam membina kesadaran
hukum, ketertiban sosial, kepatuhan pada aturan bermasyarakat, dan toleransi.
 Sejarah: Relevan dalam memahami kronologi peradaban manusia melalui konsep Catur
Yuga dan pembagian zaman secara kosmologis.
 Sosiologi: Relevan dalam menelaah interaksi sosial, dinamika masyarakat, dan fenomena
degradasi moral pada zaman Kaliyuga.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
 Pertemuan 1 : Peserta didik mampu menguraikan konsep Dharmaśastra pada zaman
Krtayuga dan Tretayuga (2 JP)
 Pertemuan 2 : Peserta didik mampu menganalisis konsep Dharmaśastra pada zaman
Dwaparayuga dan Kaliyuga (2 JP)
 Pertemuan 3 : Peserta didik mampu menganalisis kedudukan Dharmaśastra sebagai
sumber hukum Hindu (2 JP)
 Pertemuan 4 : Peserta didik mampu memahami dan menjabarkan makna sloka-sloka
Dharmaśastra sebagai sumber hukum Hindu (2 JP)
 Pertemuan 5 : Peserta didik mampu mengidentifikasi nilai-nilai Dharmaśastra di setiap
yuga secara terperinci (2 JP)
 Pertemuan 6 : Peserta didik mampu menghubungkan nilai-nilai ajaran Dharmaśastra
dengan zaman Kaliyuga serta melakukan asesmen pemahaman (2 JP)
D. INDIKATOR KETERCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
1. Peserta didik dapat mendefinisikan pengertian Dharmaśastra dan fungsinya sebagai
sumber hukum Hindu.
2. Peserta didik dapat membedakan karakteristik hukum Hindu yang berlaku pada Krtayuga,
Tretayuga, Dwaparayuga, dan Kaliyuga.
3. Peserta didik dapat menjelaskan kedudukan Sruti dan Smrti dalam kerangka hukum
Hindu.
4. Peserta didik dapat menerjemahkan pesan moral dari sloka-sloka utama yang menjadi
dasar penetapan Dharmaśastra.
5. Peserta didik dapat membandingkan nilai utama dari setiap zaman (tapa, jnana, yajna,
dana punia).
6. Peserta didik dapat mempresentasikan cara menerapkan amal sedekah (danam) sebagai
solusi untuk bertahan di zaman Kaliyuga.
E. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Penerapan aturan, tata tertib, dan hukum dalam kehidupan modern disandingkan dengan
konsep hukum Hindu purba. Mengkaji fenomena krisis moral di era digital masa kini
(sebagai representasi Kaliyuga) dan bagaimana ajaran Dharmaśastra memberikan jalan
keluar melalui disiplin diri dan praktik sedekah (dana punia).
F. KERANGKA PEMBELAJARAN
PRAKTIK PEDAGOGIK
 Model Pembelajaran: Problem Based Learning dipadukan dengan Discovery Learning.
 Pendekatan: Deep Learning (Mindful, Meaningful, Joyful Learning)
o Mindful Learning: Menggunakan metode pemusatan perhatian di awal pembelajaran,
mengajak peserta didik hening sejenak, mengamati napas, dan menumbuhkan
kesadaran penuh agar pikiran siap menerima pelajaran suci.
o Meaningful Learning: Mengaitkan teks kuno dengan kehidupan nyata peserta didik,
mencari benang merah antara ajaran hukum Hindu dengan aturan di sekolah atau
masyarakat, sehingga belajar memiliki makna dan tujuan yang jelas.
o Joyful Learning: Menciptakan suasana kelas yang menyenangkan melalui kuis
interaktif, permainan peran, diskusi yang tidak menegangkan, serta apresiasi positif
terhadap setiap pendapat yang dikemukakan peserta didik.
 Metode Pembelajaran: Ceramah interaktif, diskusi kelompok, tanya jawab, penugasan
proyek kliping, dan presentasi hasil karya.
 Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi
o Diferensiasi Konten: Menyediakan ragam materi berupa teks bacaan dari buku cetak,
kutipan sloka, infografis Catur Yuga, maupun video pembelajaran pendek untuk
mengakomodasi berbagai gaya belajar.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
o Diferensiasi Proses: Memberikan fleksibilitas bagi peserta didik untuk berdiskusi
secara mandiri bagi yang sudah paham, dan memberikan bimbingan langsung
(scaffolding) bagi yang masih kesulitan memahami makna sloka.
o Diferensiasi Produk: Mengizinkan peserta didik mengumpulkan tugas dalam bentuk
tertulis, peta konsep bergambar, presentasi lisan, atau portofolio kliping sesuai dengan
minat dan kreativitas masing-masing.
KEMITRAAN PEMBELAJARAN
 Lingkungan Sekolah: Melibatkan guru bimbingan konseling atau guru PPKn untuk
memberikan wawasan tambahan mengenai aturan tata tertib sekolah yang sejalan dengan
nilai Dharmaśastra.
 Lingkungan Luar Sekolah/Masyarakat: Mendorong peserta didik melakukan observasi
tentang praktik dana punia atau yajna di lingkungan banjar, pura, atau panti asuhan
terdekat.
 Mitra Digital: Menggunakan mesin pencari internet, ensiklopedia Hindu daring, dan
platform penyedia video pendidikan untuk memperkaya literatur dan contoh pelaksanaan
ajaran.
LINGKUNGAN BELAJAR
Lingkungan pembelajaran yang mengintegrasikan antara ruang fisik, ruang virtual, dan
budaya belajar:
 Ruang Fisik:
o Ruang kelas yang bersih dan rapi, dengan tempat duduk yang dapat diatur melingkar
untuk memfasilitasi diskusi kelompok.
o Sudut baca di kelas yang dilengkapi dengan buku teks agama Hindu dan kamus
bahasa Sanskerta dasar.
 Ruang Virtual:
o Grup kelas pada aplikasi pesan singkat untuk berbagi tautan artikel mengenai hukum
Hindu.
o Penyimpanan dokumen digital bersama untuk mengunggah tugas kliping dan
ringkasan materi.
 Budaya Belajar:
o Budaya saling menghargai pendapat saat presentasi.
o Budaya literasi suci dengan mengawali pelajaran dengan membaca sloka pendek.
o Budaya kejujuran dan tanggung jawab dalam mengerjakan setiap asesmen.
PEMANFAATAN DIGITAL
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
 Peserta didik memanfaatkan laptop atau ponsel pintar untuk mencari artikel, gambar, atau
berita yang berkaitan dengan pelaksanaan sedekah (dana punia) dan upacara yajna di
masyarakat sebagai bahan tugas kliping dan diskusi.
G. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
PERTEMUAN 1 (2 JP : 90 MENIT)
Topik : Pengantar Dharmaśastra dan Dharmaśastra pada Zaman Krtayuga dan Tretayuga
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
 Persiapan dan Doa : Guru mengucapkan salam Penganjali Om Swastyastu, dilanjutkan
dengan doa Dainika Upasana untuk memulai pembelajaran dengan khidmat.
 Mindful Check-in : Guru mengajak peserta didik duduk rileks, menutup mata sejenak,
dan melakukan teknik pernapasan dalam. Guru meminta peserta didik melepaskan
ketegangan agar pikiran terpusat pada momen saat ini (Mindful Learning).
 Apersepsi : Guru memberikan pertanyaan pemantik tentang bagaimana cara mencapai
keadilan dan keteraturan dalam hidup, lalu menghubungkannya dengan konsep
Dharmaśastra.
 Penyampaian Tujuan : Guru menjabarkan tujuan pembelajaran mengenai fungsi
Dharmaśastra dan fokus kajian pada zaman Krtayuga dan Tretayuga.
 Pembuatan Kesepakatan : Guru dan peserta didik menyepakati aturan main selama
diskusi kelas agar berjalan kondusif.
KEGIATAN INTI (60 MENIT)
 Eksplorasi Konsep : Guru memberikan penjelasan pemantik mengenai pengertian
Dharmaśastra sebagai sastra hukum yang mengatur ketertiban manusia (Meaningful
Learning).
 Diskusi Catur Yuga : Guru menjelaskan teori relativitas Sankha Likhita mengenai
pemberlakuan hukum Hindu di empat zaman. Fokus dialihkan pada zaman Krtayuga
(Manu) dan Tretayuga (Gautama).
 Pembentukan Kelompok : Guru membagi peserta didik menjadi beberapa kelompok
kecil yang heterogen untuk melakukan investigasi materi.
 Aktivitas Investigasi : Setiap kelompok diminta menganalisis corak kehidupan di zaman
Krtayuga yang berfokus pada Tapa (pengekangan diri) dan zaman Tretayuga yang
berfokus pada Jnana (ilmu pengetahuan).
 Sesi Berbagi Ide : Perwakilan setiap kelompok mempresentasikan temuan mereka
tentang ciri-ciri zaman tersebut, sementara kelompok lain menyimak dan memberikan
tanggapan (Joyful Learning).
 Penguatan Materi : Guru memberikan konfirmasi dan umpan balik positif terhadap hasil
presentasi peserta didik, serta memperbaiki pemahaman yang kurang tepat.
Pembelajaran Berdiferensiasi :
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
 Konten : Guru menyediakan ringkasan bergambar untuk peserta didik visual dan
penjelasan naratif untuk peserta didik auditori terkait ciri-ciri Krtayuga dan Tretayuga.
 Proses : Peserta didik yang lebih cepat paham diberikan tugas mencari contoh konkret
pengendalian diri di sekolah, sedangkan yang masih kesulitan mendapat bimbingan
intensif dari guru.
 Produk : Bebas mencatat hasil analisis diskusi dalam bentuk narasi singkat atau peta
pemikiran (mind map).
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
 Refleksi: Guru meminta peserta didik menyampaikan satu nilai (misalnya kejujuran atau
kecintaan pada ilmu) yang bisa diambil dari zaman Krtayuga dan Tretayuga.
 Rangkuman: Guru bersama peserta didik menyimpulkan bahwa hukum berevolusi sesuai
dengan tingkat spiritual masyarakatnya.
 Tindak Lanjut: Guru memberikan tugas ringan untuk mengamati kebiasaan masyarakat
saat ini untuk dibahas pada pertemuan berikutnya.
 Penutup: Mengakhiri pelajaran dengan doa Parama Santih (Om Santih, Santih, Santih
Om).
PERTEMUAN 2 (2 JP : 90 MENIT)
Topik : Dharmaśastra pada Zaman Dwaparayuga dan Kaliyuga
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
 Persiapan dan Doa : Membuka kelas dengan salam dan doa bersama.
 Mindful Check-in : Guru mengajak peserta didik memusatkan perhatian pada
lingkungan sekitar, meresapi suara dan suasana, lalu mengarahkan fokus ke materi
pembelajaran.
 Apersepsi : Guru mengulas sedikit materi minggu lalu dan bertanya tentang apa yang
terjadi jika masyarakat mulai mengedepankan unsur kebendaan.
 Penyampaian Tujuan : Menjelaskan bahwa hari ini kelas akan fokus pada
Dwaparayuga dan Kaliyuga, serta penerapannya di masa kini.
 Motivasi : Guru memberikan dorongan bahwa memahami zaman Kaliyuga akan
membantu kita membentengi diri dari pengaruh negatif.
KEGIATAN INTI (60 MENIT)
 Curah Gagasan : Guru mengajak peserta didik mendiskusikan karakteristik
Dwaparayuga yang berfokus pada yajna (kurban suci) menurut kitab Sankha Likhita.
 Literasi Kritis : Peserta didik membaca teks mengenai Kaliyuga (zaman pertengkaran)
dan ajaran Parasara Dharmaśastra yang menekankan dana punia (amal sedekah) sebagai
jalan penebusan dosa.
 Relevansi Konteks : Guru mengaitkan konsep Kaliyuga dengan kondisi dunia nyata saat
ini (maraknya konflik, gaya hidup materialistis), membuat pembelajaran sangat bermakna
(Meaningful Learning).
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
 Proyek Kliping (Digital/Fisik) : Peserta didik diminta mencari berita atau gambar dari
internet/koran mengenai kegiatan yajna di masyarakat (untuk Dwaparayuga) dan
kegiatan bantuan sosial/sedekah (untuk Kaliyuga).
 Galeri Karya : Peserta didik menempelkan atau mempresentasikan hasil temuan mereka
dengan antusias di depan kelas (Joyful Learning).
 Kesimpulan Bersama : Guru memandu peserta didik menyimpulkan bahwa meskipun
zaman semakin berat, perbuatan baik tetap menjadi jalan pembebasan.
Pembelajaran Berdiferensiasi :
 Konten : Guru mengizinkan penggunaan berbagai sumber media (berita digital, video
aksi sosial, atau koran cetak) untuk mencari contoh dana punia.
 Proses : Peserta didik dapat bekerja secara individu maupun berpasangan sesuai dengan
kenyamanan belajar mereka dalam menyusun informasi.
 Produk : Hasil pencarian dapat berupa kliping fisik di kertas karton, atau tayangan digital
menggunakan presentasi sederhana di ponsel/laptop.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
 Refleksi: Peserta didik mengungkapkan perasaan mereka setelah menyadari bahwa hidup
di zaman Kaliyuga membutuhkan komitmen sosial yang tinggi.
 Rangkuman: Merangkum corak Dwaparayuga (yajna) dan Kaliyuga (dana punia).
 Tindak Lanjut: Peserta didik ditugaskan mempraktikkan satu bentuk sedekah kecil di
rumah atau sekolah.
 Penutup: Kelas ditutup dengan doa Parama Santih.
PERTEMUAN 3 (2 JP : 90 MENIT)
Topik : Dharmaśastra Sebagai Sumber Hukum Hindu
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
 Persiapan dan Doa : Melakukan pembukaan standar dengan salam dan doa pembuka.
 Mindful Check-in : Guru mengajak peserta didik memfokuskan pikiran dengan afirmasi
positif, "Saya siap belajar dengan hati yang terbuka dan pikiran yang jernih."
 Apersepsi : Bertanya mengenai dari mana sebuah negara mendapatkan hukum dasar
(UUD). Kemudian dihubungkan dengan dari mana agama Hindu mendapat hukum
dasarnya.
 Penyampaian Tujuan : Menjelaskan pentingnya Weda (Sruti) dan Dharmaśastra (Smrti)
sebagai pedoman mutlak.
 Pengondisian Kelas : Mengatur posisi duduk peserta didik agar semua dapat
berpartisipasi dalam diskusi panel.
KEGIATAN INTI (60 MENIT)
 Pemaparan Konsep Dasar : Guru menerangkan definisi Vedo 'khilo dharma mulam
(Weda adalah sumber segala dharma/hukum) secara komprehensif.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
 Analisis Hierarki Hukum : Peserta didik diajak membedakan antara Sruti (wahyu
langsung) dan Smrti (ingatan/tradisi dharma) serta peran penting acara (tradisi), sila
(tingkah laku orang suci), dan atmanastuti (kepuasan hati nurani) (Meaningful Learning).
 Diskusi Dilema Etika : Guru memberikan studi kasus tentang menentukan kebenaran
suatu perilaku dalam kehidupan sehari-hari, dan peserta didik mencocokkannya dengan
hierarki hukum Hindu (Joyful Learning).
 Sesi Debat Terstruktur : Peserta didik dibagi menjadi dua kubu untuk mendiskusikan
pentingnya mematuhi hukum agama versus adat istiadat, dan bagaimana Dharmaśastra
mensinergikan keduanya.
 Evaluasi Argumen : Guru merangkum perdebatan, menegaskan bahwa kebenaran Sruti
dan Smrti tidak boleh diragukan, melainkan saling melengkapi demi keadilan.
 Pencatatan Poin Penting : Peserta didik menyalin poin-poin hierarki sumber hukum
Hindu di buku catatan mereka.
Pembelajaran Berdiferensiasi :
 Konten : Guru menyediakan tabel hierarki sumber hukum Hindu agar konsep abstrak
menjadi lebih konkret dan mudah dihafal.
 Proses : Peserta didik yang kritis dilibatkan secara aktif dalam sesi debat, sementara
peserta didik pengamat diminta merumuskan kesimpulan dari argumen yang dilontarkan
temannya.
 Produk : Peserta didik menuliskan jurnal singkat mengenai apa yang menjadi pedoman
hukum utama bagi diri mereka sendiri.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
 Refleksi: Peserta didik membagikan satu hal baru yang mereka pahami tentang Weda
sebagai sumber utama hukum.
 Rangkuman: Guru memberikan ringkasan mengenai Sruti, Smrti, Sila, Acara, dan
Atmanastuti.
 Tindak Lanjut: Meminta peserta didik menelaah sloka Manawa Dharmaśastra II.6 di
rumah.
 Penutup: Doa penutup dan salam perpisahan.
PERTEMUAN 4 (2 JP : 90 MENIT)
Topik : Sloka-Sloka Dharmaśastra Sebagai Sumber Hukum Hindu
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
 Persiapan dan Doa : Mengawali kelas dengan Om Swastyastu dan doa belajar.
 Mindful Check-in : Praktik mendengarkan dengan penuh kesadaran (mindful listening).
Peserta didik diam sejenak menyimak instruksi tanpa memikirkan hal lain.
 Apersepsi : Mengingatkan kembali tentang Manawa Dharmaśastra yang dibahas di
pertemuan sebelumnya dan pentingnya merujuk pada teks asli (sloka).
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
 Penyampaian Tujuan : Menargetkan kemampuan melafalkan dan menggali pesan
filosofis dari sloka terkait sumber hukum.
 Penjelasan Aktivitas : Guru menyampaikan bahwa kegiatan hari ini akan berpusat pada
bedah teks.
KEGIATAN INTI (60 MENIT)
 Demonstrasi Pelafalan : Guru mencontohkan pelafalan sloka Manawa Dharmaśastra
II.6 dan II.10 dengan intonasi yang tepat dan sakral (Joyful Learning).
 Latihan Pelafalan : Secara serentak dan bergantian, peserta didik menirukan pelafalan
sloka tersebut untuk membangun atmosfer spiritual di dalam kelas.
 Menggali Makna (Meaningful Learning) : Secara berkelompok, peserta didik
membedah terjemahan sloka II.6 (menyangkut Sruti, Smrti, Sila, Acara, Atmanastuti) dan
sloka II.10 (larangan meragukan kebenaran Weda).
 Telaah Sloka Lainnya : Guru menambahkan teks dari Parasara Dharmaśastra 1.23
tentang evolusi penebusan dosa di setiap zaman untuk dianalisis bersama.
 Presentasi Pemahaman : Masing-masing kelompok menyampaikan esensi dari sloka
yang telah dianalisis menggunakan gaya bahasa mereka sendiri.
 Penguatan Inti Sloka : Guru menyatukan semua pemahaman dan menggarisbawahi
bahwa sloka-sloka ini adalah panduan moral mutlak bagi penganut Hindu.
Pembelajaran Berdiferensiasi :
 Konten : Guru menyediakan teks sloka lengkap dengan panduan fonetis cara
membacanya serta terjemahan harfiah kata per kata.
 Proses : Bagi peserta didik yang menyukai seni suara, dapat fokus pada keindahan
melantunkan sloka. Bagi yang analitis, dapat fokus menjabarkan makna filosofis di balik
terjemahannya.
 Produk : Menghasilkan deklamasi sloka berkelompok atau tulisan interpretasi makna
sloka pada lembar kerja.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
 Refleksi: Peserta didik mengungkapkan perasaan mereka setelah mencoba melantunkan
dan memahami sloka kuno.
 Rangkuman: Menegaskan bahwa sloka adalah jembatan untuk memahami wahyu suci
secara langsung.
 Tindak Lanjut: Meminta peserta didik menghafalkan terjemahan salah satu sloka yang
paling berkesan bagi mereka.
 Penutup: Doa Parama Santih.
PERTEMUAN 5 (2 JP : 90 MENIT)
Topik : Nilai-Nilai Dharmaśastra di Setiap Yuga
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
 Persiapan dan Doa : Guru membuka pelajaran dengan rutinitas keagamaan yang baik.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
 Mindful Check-in : Praktik refleksi singkat, meminta peserta didik memejamkan mata
dan memikirkan satu kebaikan yang telah mereka lakukan hari ini.
 Apersepsi : Bertanya mengenai empat zaman (Catur Yuga) dan ingatan peserta didik
tentang ciri dominan masing-masing zaman.
 Penyampaian Tujuan : Merumuskan dan menerapkan nilai-nilai kebajikan dari masa
lalu untuk masa kini.
 Pengondisian Fokus : Mengajak peserta didik mempersiapkan buku catatan dan alat tulis
untuk merangkum poin esensial.
KEGIATAN INTI (60 MENIT)
 Pemaparan Matriks Nilai : Guru menampilkan matriks nilai: Krtayuga
(Tapa/Pengendalian diri), Tretayuga (Jnana/Pengetahuan), Dwaparayuga (Yajna/Kurban
suci), dan Kaliyuga (Dana Punia/Sedekah).
 Aktivitas 'Role-Play' (Joyful Learning) : Guru membagi empat kelompok besar.
Masing-masing kelompok mendapatkan undian satu zaman dan bertugas membuat drama
singkat berdurasi 3 menit yang mencontohkan nilai utama dari zaman tersebut di era
modern (misalnya: Tapa = mengendalikan diri dari main gadget berlebih).
 Penampilan Kelompok : Secara bergiliran, tiap kelompok maju menampilkan skenario
mereka.
 Diskusi Analitis (Meaningful Learning) : Setelah penampilan, kelas mendiskusikan
mengapa nilai-nilai kuno ini masih sangat aplikatif untuk memecahkan masalah kejiwaan
manusia saat ini.
 Pendalaman Karakter : Guru menjelaskan penerapan Tapa melalui Tri Kaya Parisudha
(berpikir, berkata, dan berbuat baik), Jnana melalui Catur Asrama (khususnya
Brahmacari), Yajna melalui Panca Yajna, dan Dana Punia melalui aksi sosial tulus.
 Umpan Balik : Guru memberikan poin apresiasi atas kedalaman pemahaman peserta
didik yang dituangkan dalam drama pendek.
Pembelajaran Berdiferensiasi :
 Konten : Pemberian materi berupa panduan perilaku atau contoh kasus aktual yang
membutuhkan penyelesaian berbasis nilai Hindu.
 Proses : Peserta didik berkolaborasi menuangkan ide mereka menjadi naskah peran,
memungkinkan setiap individu menyumbangkan ide sesuai kreativitasnya.
 Produk : Pementasan drama singkat yang dievaluasi secara kualitatif berdasarkan
ketepatan nilai yang disampaikan.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
 Refleksi: Menanyakan kepada peserta didik nilai mana yang paling sulit diterapkan di
masa kini dan alasannya.
 Rangkuman: Nilai Tapa, Jnana, Yajna, dan Dana Punia harus berjalan beriringan untuk
menciptakan manusia Hindu yang utuh.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
 Tindak Lanjut: Mempersiapkan peserta didik untuk pertemuan terakhir bab ini
mengenai Kaliyuga dan persiapan evaluasi/asesmen formatif mendalam.
 Penutup: Doa Parama Santih.
PERTEMUAN 6 (2 JP : 90 MENIT)
Topik : Menghubungkan Nilai-Nilai Ajaran Dharmaśastra dengan Kaliyuga dan Asesmen
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
 Persiapan dan Doa : Pembukaan secara religius dan penyiapan mental.
 Mindful Check-in : Guru membimbing peserta didik menetapkan niat positif untuk
memperbaiki kualitas diri, menyadari segala kekurangan dan bertekad menebusnya
dengan perbuatan dharma.
 Apersepsi : Menggali pemahaman peserta didik mengenai esensi hidup di zaman
Kaliyuga menurut teks Parasara Dharmaśastra.
 Penyampaian Tujuan : Menghubungkan teori ke kehidupan nyata serta melaksanakan
evaluasi kognitif di akhir bab.
 Motivasi : Guru mengingatkan bahwa kebenaran (dharma) akan senantiasa melindungi
mereka yang melindunginya (Dharmo raksati raksitah).
KEGIATAN INTI (60 MENIT)
 Diskusi Terpimpin (Meaningful Learning) : Guru menelaah kutipan Parasara
Dharmaśastra I.25 bahwa di zaman Kali, musuh atau orang yang berdosa itu berada di
dalam diri manusia itu sendiri.
 Pemecahan Masalah : Peserta didik diajak merumuskan strategi penanggulangan 'musuh
dalam diri' (misalnya: kemalasan, egois, nafsu, kemarahan) menggunakan ajaran sedekah,
gotong royong, toleransi, dan pelestarian nilai-nilai keberagaman (Bhinneka Tunggal Ika).
 Galeri Komitmen (Joyful Learning) : Peserta didik menuliskan komitmen sosial atau
komitmen perbaikan diri mereka di secarik kertas berwarna, lalu menempelkannya di
papan kelas sebagai pengingat bersama.
 Pelaksanaan Asesmen Sumatif Bab 1 : Guru membagikan lembar soal evaluasi tertulis
(meliputi pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, dan esai) untuk mengukur tingkat
pemahaman kognitif peserta didik mengenai seluruh materi Bab 1.
 Pengawasan Ujian : Guru memantau jalannya tes untuk memastikan kemandirian dan
integritas kejujuran peserta didik berjalan baik.
 Pengumpulan Asesmen : Peserta didik mengumpulkan lembar jawaban dengan tertib.
Pembelajaran Berdiferensiasi :
 Konten : Guru menyediakan bahan refleksi berupa kalimat-kalimat inspiratif tentang
tantangan zaman Kaliyuga untuk dipelajari sebelum asesmen.
 Proses : Selama pembuatan komitmen diri, peserta didik diberi waktu dan kebebasan
mengekspresikan pemikirannya tanpa batasan kaku.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
 Produk : Hasil berupa pernyataan komitmen tertulis (portofolio personal) dan hasil
jawaban pada instrumen asesmen kognitif.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
 Refleksi: Guru mengajak peserta didik merenungkan keseluruhan proses belajar dari
pertemuan pertama hingga keenam; apa tantangan terbesarnya dan wawasan apa yang
paling mengubah cara pandang mereka.
 Rangkuman: Memastikan seluruh peserta didik memahami bahwa Dharmaśastra adalah
pedoman esensial yang harus diamalkan untuk kebahagiaan duniawi dan rohani,
khususnya melalui instrumen dana punia di zaman Kali.
 Tindak Lanjut: Peserta didik diinstruksikan untuk mulai membaca sekilas materi Bab 2
untuk pertemuan minggu depan.
 Penutup: Guru menutup seluruh rangkaian pelajaran Bab 1 dengan permohonan maaf
apabila ada kekurangan, lalu diakhiri dengan doa Parama Santih secara khidmat.
H. ASESMEN PEMBELAJARAN
ASESMEN DIAGNOSTIK
 Peserta didik merespons pertanyaan pemantik secara lisan mengenai aturan dan hukum di
masyarakat untuk mengetahui tingkat pemahaman awal mereka.
 Peserta didik mendeskripsikan secara singkat pemahaman pribadinya tentang cara
mewujudkan keadilan di lingkungan sekolah.
ASESMEN FORMATIF
 Guru melakukan penilaian performa peserta didik selama aktivitas diskusi kelompok
dalam mengidentifikasi ciri-ciri zaman Krtayuga dan Tretayuga.
 Guru menilai kualitas penugasan portofolio/kliping terkait contoh yajna dan dana punia
dalam kehidupan modern.
 Guru memberikan evaluasi terhadap kemampuan deklamasi dan interpretasi makna sloka
Dharmaśastra pada kegiatan bedah teks.
 Guru menilai kedalaman analisis dan relevansi penampilan drama 'role-play' dalam
mengimplementasikan nilai-nilai Tapa, Jnana, Yajna, dan Dana punia.
ASESMEN SUMATIF
 Penilaian tertulis di akhir pertemuan keenam menggunakan instrumen pilihan ganda
untuk mengukur penguasaan konsep Catur Yuga dan sumber hukum Hindu.
 Penilaian tertulis dalam bentuk soal esai yang menuntut penalaran tingkat tinggi (HOTS)
terkait hubungan antara ajaran Parasara Dharmaśastra dengan penanggulangan
degradasi moral di zaman Kaliyuga.
Mengetahui, ......................................, 20.....
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
Kepala Sekolah
......................................
NIP. ...............................
Guru Mata Pelajaran
......................................
NIP. ...............................