Skip to main content
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 7, 8, & 9
MODUL AJAR
KURIKULUM MERDEKA (Deep Learning)
Nama Sekolah : ................................................
Nama Penyusun : ................................................
NIP : ................................................
Mata pelajaran : Pendidikan Agama Buddha Dan Budi Pekerti
Fase D, Kelas / Semester : VII (Tujuh) / I (Ganjil)
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 7, 8, & 9
MODUL AJAR
MATA PELAJARAN: PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA DAN BUDI PEKERTI
BAB 1: AGAMA BUDDHA DAN KERAGAMAN BUDAYA DI INDONESIA
A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : ......................................................
Nama Penyusun : ......................................................
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Kelas / Fase /
Semester
: VII / D / I (Ganjil)
Alokasi Waktu : 8 JP (4 kali pertemuan)
Tahun Pelajaran : 2026 / 2027
B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
 Pengetahuan Awal: Murid secara umum telah mengenal beberapa peninggalan bangunan
bersejarah seperti Candi Borobudur, namun belum memahami secara detail sejarah masuk
dan berkembangnya agama Buddha di nusantara serta tokoh-tokoh penyokong agama
Buddha yang berperan di dalamnya.
 Minat: Murid memiliki ketertarikan tinggi pada cerita sejarah kerajaan masa lampau,
mengamati gambar peninggalan budaya candi, dan menelusuri kisah inspiratif para tokoh
penyebar agama Buddha.
 Latar Belakang: Murid berasal dari lingkungan masyarakat majemuk dengan latar
belakang budaya yang beragam sehingga sangat relevan dengan nilai-nilai akulturasi dan
keragaman budaya Buddhis di Indonesia.
 Kebutuhan Belajar:
o Visual: Murid membutuhkan sajian gambar situs bersejarah, peta perjalanan agama
Buddha di Nusantara, serta ilustrasi tokoh-tokoh penyokong agama Buddha untuk
mendukung imajinasi mereka.
o Auditori: Murid membutuhkan penjelasan lisan yang runtut, sesi bercerita dari guru
mengenai kisah kerajaan, serta menyimak lagu Buddhis sebagai media berekspresi.
o Kinestetik: Murid membutuhkan aktivitas fisik seperti mempraktikkan gerakan tarian
sederhana atau menyimulasikan sikap menghormati keberagaman budaya secara
langsung di dalam kelas.
C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
 Jenis Pengetahuan yang Akan Dicapai:
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 7, 8, & 9
o Konseptual: Pemahaman tentang sejarah masuknya agama Buddha di Indonesia pada
masa Kerajaan Kalingga, Sriwijaya, Mataram Kuno, dan Majapahit, serta konsep
keberagaman budaya Buddhis.
o Prosedural: Langkah-langkah dalam meneladani nilai-nilai perjuangan para tokoh
inspiratif Buddhis untuk diterapkan sebagai pedoman moral dalam kehidupan
bersosial.
 Relevansi dengan Kehidupan Nyata Peserta Didik: Membangun kesadaran murid akan
pentingnya melestarikan peninggalan sejarah dan menumbuhkan sikap toleransi yang
kuat saat berinteraksi di lingkungan masyarakat yang multikultural.
 Tingkat Kesulitan: Sedang, karena materi membutuhkan kemampuan mengingat
rentetan sejarah serta menganalisis nilai teladan dari setiap tokoh untuk kemudian
diaplikasikan dalam konteks kehidupan masa kini.
 Struktur Materi: Diawali dengan pengenalan sejarah kerajaan Buddhis di Indonesia,
dilanjutkan dengan pengenalan tokoh-tokoh penyokong Buddha di zaman klasik dan
tokoh di Indonesia, lalu diakhiri dengan pemahaman akan keragaman budaya Buddhis
nusantara.
 Integrasi Nilai dan Karakter: Nilai toleransi, nilai keberanian, kegigihan pantang
menyerah, kemurahan hati, kerukunan antarumat beragama, persatuan nusantara, dan rasa
syukur atas warisan budaya leluhur.
D. DIMENSI PROFIL LULUSAN
 Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia:
Mengembangkan rasa syukur yang mendalam atas peninggalan ajaran kebaikan dan
budaya luhur yang diturunkan oleh tokoh agama Buddha.
 Kewargaan: Menunjukkan sikap cinta tanah air dan bangga menjadi bagian dari bangsa
Indonesia yang memiliki kekayaan warisan sejarah candi dan toleransi yang diwariskan
dari zaman kerajaan.
 Penalaran Kritis: Membuka pikiran untuk menganalisis bagaimana sebuah ajaran dapat
bertahan dan berkembang mengikuti arus kebudayaan lokal di berbagai daerah di
Indonesia.
 Kreativitas: Mampu menghasilkan karya seni sederhana atau gagasan yang terinspirasi
dari keberagaman budaya Buddhis di tanah air.
 Kolaborasi: Bekerja sama dengan teman kelompok dalam merumuskan keteladanan yang
dapat diambil dari sejarah kerajaan dan tokoh Buddhis masa lampau.
 Kemandirian: Menyelesaikan tugas pengamatan dan refleksi pribadi mengenai nilai-nilai
moralitas secara tekun tanpa harus terus didorong oleh guru.
 Kesehatan: Menjaga kesehatan mental melalui praktik duduk hening secara rutin agar
batin selalu damai dan siap menerima pelajaran.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 7, 8, & 9
 Komunikasi: Mengungkapkan gagasan, ide, serta laporan hasil diskusi sejarah
menggunakan bahasa yang santun, jelas, dan mudah dimengerti oleh teman sebaya.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 7, 8, & 9
DESAIN PEMBELAJARAN
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP)
Pada akhir Fase D, murid memiliki kemampuan sebagai berikut:
 Sejarah
Memahami sifat-sifat Buddha Sakyamuni, para penyokong Buddha, siswa-siswa utama,
tokoh Buddhis inspiratif, peristiwa monumental setelah Buddha Sakyamuni Parinibbana,
untuk diteladan dan dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari dengan bijaksana dalam
berperilaku terhadap diri sendiri, sesama manusia, masyarakat, dan lingkungan sekitar.
 Ritual
Memahami meditasi hidup berkesadaran, budaya menghormat (pūja), hari raya agama
Buddha, tempat-tempat ziarah Agama Buddha, melakukan ziarah ke tempat suci Agama
Buddha, kunjungan ke tempat ibadah agama dan kepercayaan lain, menghargai tradisi
Agama Buddha di Indonesia, dan melakukan dialog kerukunan umat beragama.
 Etika
Memahami nilai-nilai ajaran moralitas, jalan Bodhisattva yaitu Paññadika Bodhisattva,
Saddhadika Bodhisattva, Viriyadika Bodhisattva; hukum karma dan kelahiran kembali,
hak dan kewajiban moral terhadap sesama dan lingkungan, untuk mewujudkan kehidupan
yang harmonis sebagai warga negara dalam menentukan sikap terhadap kesetaraan
gender, pergaulan dan permasalahan remaja di lingkungan sekitar melalui pembelajaran
ramah anak serta mencerminkan kehidupan yang moderat.
B. LINTAS DISIPLIN ILMU
 Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS): Mempelajari letak geografis, masa kejayaan, dan
peninggalan kerajaan Hindu Buddha kuno di Nusantara seperti Kalingga, Sriwijaya,
Mataram Kuno, dan Majapahit.
 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn): Menggali nilai toleransi
beragama dan semangat kerukunan antarwarga negara yang sudah dipraktikkan sejak
zaman Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit.
 Seni Budaya: Mengenali dan mengapresiasi keragaman hasil karya peradaban kuno
berupa arsitektur candi, seni pahat relief, dan tarian tradisional Buddhis.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
 Pertemuan 1: Murid mampu menguraikan dengan benar sejarah perkembangan agama
Buddha di Indonesia pada masa Kerajaan Kalingga, Sriwijaya, Mataram Kuno, dan
Majapahit serta mampu mengapresiasi nilai-nilai peninggalannya. (2 JP)
 Pertemuan 2: Murid mampu menceritakan kembali peran penting penyokong agama
Buddha pada zaman klasik seperti Raja Bimbisara dan Raja Asoka serta menjadikannya
teladan dalam bersikap dermawan dan bertoleransi. (2 JP)
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 7, 8, & 9
 Pertemuan 3: Murid mampu mendeskripsikan peran tokoh pendukung agama Buddha di
Indonesia seperti Bhikkhu Narada, Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, dan Bhikkhu
Girirakkhito serta meneladani semangat mereka dalam melestarikan Dharma. (2 JP)
 Pertemuan 4: Murid mampu mengidentifikasi serta menghargai aneka keragaman
budaya Buddhis di Indonesia dan ikut serta berperan aktif melestarikan warisan budaya
tersebut di lingkungan masyarakat. (2 JP)
D. INDIKATOR KETERCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Mengidentifikasi kerajaan-kerajaan Buddhis masa lampau yang berdiri di Nusantara.
2. Menyebutkan peninggalan-peninggalan sejarah kerajaan Buddhis beserta nilai-nilai
keutamaan yang terkandung di dalamnya.
3. Menjelaskan sikap luhur Raja Bimbisara dan Raja Asoka dalam upaya mendukung
penyebaran agama Buddha.
4. Menganalisis dedikasi para Bhikkhu pelopor kebangkitan agama Buddha di Indonesia
pada era modern.
5. Mendeskripsikan bentuk-bentuk akulturasi budaya Buddhis di Indonesia seperti tradisi,
kesenian tari, dan bangunan suci.
6. Menyajikan hasil refleksi mengenai penerapan sikap menghargai dan melestarikan
budaya Buddhis dalam pergaulan sehari-hari.
E. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Keagungan Sejarah dan Pelestarian Budaya: Mempelajari rekam jejak perjuangan para
penyokong agama Buddha di Nusantara dan dunia untuk membangkitkan rasa bangga serta
kesadaran generasi muda agar turut merawat peninggalan peradaban dan memupuk
keharmonisan dalam keragaman.
F. KERANGKA PEMBELAJARAN
PRAKTIK PEDAGOGIK
 Model Pembelajaran: Discovery Learning, Problem Based Learning, dan Diskusi
Kelompok Interaktif.
 Pendekatan: Deep Learning (Mindful, Meaningful, Joyful Learning)
o Mindful Learning: Mengawali setiap kegiatan belajar dengan duduk hening
memusatkan perhatian pada napas masuk dan napas keluar agar batin lebih rileks,
tenang, dan siap meresap informasi sejarah dengan penuh kesadaran.
o Meaningful Learning: Mengaitkan kisah keteladanan raja dan tokoh agama masa
lampau dengan kehidupan murid di era modern, sehingga sejarah tidak hanya berupa
teks, melainkan sarat akan nilai pedoman untuk dipraktikkan langsung di kehidupan
sosial.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 7, 8, & 9
o Joyful Learning: Menciptakan suasana belajar yang dinamis melalui pemutaran lagu
Buddhis gubahan para tokoh, mengapresiasi keindahan gambar candi, serta sesi tanya
jawab yang bebas dari tekanan agar murid merasa bahagia saat berpendapat.
 Metode Pembelajaran: Ceramah bervariasi, diskusi terarah, curah pendapat, simulasi
penelusuran sejarah, penugasan proyek sederhana.
 Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi
o Diferensiasi Konten: Menyediakan informasi sejarah melalui berbagai media; murid
dengan gaya belajar visual diberikan gambar peta persebaran agama Buddha dan foto
candi, sedangkan murid dengan gaya belajar auditori diarahkan untuk mendengarkan
cerita lisan atau tembang inspiratif.
o Diferensiasi Proses: Memberikan instruksi bertingkat pada saat diskusi; murid yang
lambat memahami akan didampingi guru secara personal dengan panduan terstruktur,
sedangkan murid yang cepat mengerti diberikan pertanyaan analisis kritis yang lebih
mendalam mengenai peran tokoh.
o Diferensiasi Produk: Mengizinkan murid untuk memaparkan keteladanan tokoh
sejarah melalui berbagai bentuk laporan, baik itu dalam bentuk paragraf naratif, bagan
silsilah singkat, atau membuat karya dua dimensi yang relevan.
KEMITRAAN PEMBELAJARAN
 Lingkungan Sekolah: Berkolaborasi dengan perpustakaan sekolah untuk penyediaan
buku-buku referensi tambahan terkait Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya, serta meminta
dukungan guru Sejarah untuk pengayaan silang materi.
 Lingkungan Luar Sekolah/Masyarakat: Mendorong keterlibatan orang tua untuk
membagikan cerita pengalaman pribadi mengenai sejarah keluarga yang berharga, atau
mengajak murid mengeksplorasi wawasan di vihara terdekat mengenai tradisi budaya
Buddhis lokal.
 Mitra Digital: Mendorong pemanfaatan internet sehat bagi murid untuk melakukan
penelusuran mandiri (riset) mengenai visualisasi Prasasti Tukmas, Candi Borobudur,
maupun biografi Bhikkhu pelopor di situs-situs terpercaya.
LINGKUNGAN BELAJAR
Lingkungan pembelajaran yang mengintegrasikan antara ruang fisik, ruang virtual, dan
budaya belajar:
 Ruang Fisik:
o Ruang kelas dengan tata letak meja kursi yang fleksibel agar mudah diubah menjadi
susunan melingkar atau per kelompok saat diskusi sejarah berlangsung.
o Sudut kelas dimanfaatkan untuk memajang hasil rangkuman kelompok berupa poster
keteladanan raja dan candi-candi Buddhis.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 7, 8, & 9
o Pencahayaan dan sirkulasi udara diatur sedemikian rupa untuk mendukung
kenyamanan ketika murid melakukan duduk hening.
 Ruang Virtual:
o Pemanfaatan grup kelas digital sebagai media pendistribusian materi tambahan berupa
foto-foto situs bersejarah beresolusi tinggi.
o Mengunggah hasil kerja murid secara daring untuk dinikmati seluruh anggota kelas,
menciptakan jejak digital positif.
 Budaya Belajar:
o Pembiasaan pembacaan doa pembuka dan doa penutup secara khusyuk pada setiap
pertemuan.
o Budaya mendengarkan dengan penuh empati dan apresiasi ketika teman dari
kelompok lain mempresentasikan temuan diskusinya.
o Mengedepankan budaya tanpa kekerasan dan rukun, meneladani sikap Raja Asoka
yang penuh toleransi antarumat beragama.
PEMANFAATAN DIGITAL
 Pemanfaatan proyektor untuk menampilkan peta persebaran agama Buddha dari India
menuju Nusantara.
 Penggunaan perangkat audio untuk menyiarkan Not Lagu "Dukkha" karya Bhikkhu
Girirakkhito agar murid lebih menghayati perjuangan penyebar Dharma.
 Eksplorasi ensiklopedia daring guna memperkaya wawasan keragaman tradisi budaya
Buddhis seperti Barongsai atau Tari Gending Sriwijaya.
G. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
PERTEMUAN 1 (2 JP : 80 MENIT)
Topik : Mengenal Sejarah Agama Buddha (Kerajaan Kalingga, Sriwijaya, Mataram Kuno,
dan Majapahit)
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
 Pengkondisian Kelas: Guru memberikan salam Namo Buddhaya dan menyapa murid
dengan penuh semangat, kemudian memandu murid untuk melakukan Duduk Hening
bersama guna menstabilkan emosi (Mindful Learning).
 Doa Pembuka: Salah satu murid ditunjuk untuk memimpin Doa Pembuka Belajar demi
memohon kelancaran dalam menimba ilmu.
 Presensi dan Apersepsi: Guru memeriksa kehadiran murid lalu memberikan pertanyaan
pancingan, misalnya mengenai bangunan kuno berbatu yang pernah mereka ketahui atau
kunjungi sebelumnya.
 Penyampaian Tujuan Pembelajaran: Guru menyampaikan bahwa hari ini kelas akan
menjelajahi mesin waktu menuju masa kejayaan agama Buddha di Indonesia, mulai dari
berdirinya Kalingga hingga Majapahit.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 7, 8, & 9
 Pembangkitan Motivasi: Guru memberikan dorongan betapa pentingnya memahami
jejak sejarah sebagai fondasi agar kita bisa menghargai jerih payah leluhur dalam
menjaga agama Buddha di bumi nusantara.
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
 Observasi Visual Peta Sejarah: Guru menampilkan gambar Peta perjalanan sejarah
agama Buddha di Nusantara dan meminta murid menyimak sebaran wilayah kekuasaan
berbagai kerajaan secara saksama.
 Pemahaman Teks Sejarah: Murid diarahkan untuk membaca dengan penuh perhatian
informasi sejarah Kerajaan Kalingga, Sriwijaya, Mataram Kuno, dan Majapahit.
 Diskusi Nilai Keteladanan: Guru membagi murid ke dalam kelompok kecil
beranggotakan tiga orang untuk mendiskusikan nilai-nilai keutamaan dari setiap kerajaan,
seperti kesetaraan gender masa Ratu Shima atau semangat persatuan masa Sriwijaya.
 Presentasi Hasil Diskusi: Masing-masing perwakilan kelompok berdiri di depan kelas
menceritakan temuan mereka dengan kalimat yang lugas dan berani.
 Penguatan Pemahaman: Guru memberikan umpan balik, melengkapi penjelasan tentang
peninggalan seperti Candi Borobudur, Muara Takus, dan Candi Sewu agar konsep sejarah
tergambar dengan kokoh.
 Sesi Dialog Terbuka: Guru memberikan waktu bagi murid untuk bertanya mengenai
istilah atau nama raja yang kurang jelas, serta mengajak merenungkan apa akibatnya jika
umat Buddha masa kini melupakan sejarah tersebut (Meaningful Learning).
Pembelajaran Berdiferensiasi :
 Konten: Guru menyediakan bahan bacaan sejarah dengan ukuran huruf yang ramah baca
dan melengkapinya dengan sajian gambar candi yang menarik untuk murid tipe visual,
sedangkan penjelasan lisan rinci disajikan untuk murid auditori.
 Proses: Bagi kelompok yang cepat merangkum ciri khas setiap kerajaan, mereka
diarahkan untuk menelaah strategi apa yang membuat Kerajaan Sriwijaya mampu
menjadi kerajaan maritim terbesar, sementara kelompok yang butuh bantuan akan
dibimbing langkah demi langkah oleh guru untuk mengidentifikasi nama peninggalannya
saja.
 Produk: Murid dibebaskan melaporkan hasil temuan melalui teks cerita pendek atau
tabel silsilah kerajaan yang ringkas sesuai kreativitas mereka.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
 Refleksi: Guru memfasilitasi murid untuk menyampaikan satu hal baru yang paling
berkesan dari pelajaran sejarah hari ini.
 Rangkuman: Guru menuntun murid untuk merangkum nama-nama kerajaan dan
menyebutkan satu peninggalan ikoniknya sebagai jejak ingatan bersama.
 Tindak Lanjut: Guru menugaskan murid untuk melakukan wawancara singkat bersama
orang tua mengenai sejarah atau pengalaman hidup orang tua yang bernilai inspiratif.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 7, 8, & 9
 Penutup: Pertemuan diakhiri dengan melafalkan Doa Penutup Belajar secara bersama,
lalu memberikan salam Namo Buddhaya.
PERTEMUAN 2 (2 JP : 80 MENIT)
Topik : Meneladani Penyokong Buddha pada Zaman Klasik (Raja Bimbisara dan Raja
Asoka)
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
 Pengkondisian Kelas: Guru memberikan salam Namo Buddhaya, mengajak murid duduk
dengan tegak dan tenang, lalu memandu jalannya Duduk Hening mengamati napas keluar
masuk secara teratur.
 Doa Pembuka: Murid memimpin pembacaan doa pembuka untuk menumbuhkan
perlindungan dari Triratna.
 Tinjauan Ulang Materi: Guru mengaitkan kembali sedikit cerita pada pertemuan
sebelumnya dan memeriksa tugas wawancara bersama orang tua yang telah diberikan.
 Apersepsi Tokoh Klasik: Guru bertanya kepada murid, siapa sajakah yang berkorban
membantu Buddha saat menyebarkan Dharma di masa awal kemunculannya.
 Penyampaian Manfaat Belajar: Guru menjelaskan bahwa dengan meneladani tokoh
penyokong di masa klasik, kita dapat melatih diri untuk menjadi dermawan dan memiliki
toleransi yang tinggi.
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
 Pengenalan Figur Sejarah: Guru memutar ilustrasi atau membacakan kisah singkat
mengenai sosok Raja Bimbisara dari Magadha yang kaya raya namun sangat patuh dan
berbakti kepada Sang Buddha.
 Penanaman Konsep Toleransi: Guru mendeskripsikan secara mendalam peran Raja
Asoka yang bijaksana karena telah mendirikan pilar penghargaan keberagaman, bahkan
membangun fasilitas ibadah bagi penganut agama lain.
 Eksplorasi Pemaknaan: Murid diminta mencatat kata kunci dari keteladanan yang bisa
diserap, seperti keberanian, kejujuran, semangat berkorban, dan toleransi beragama.
 Kegiatan Analisis Studi Kasus: Guru memberikan pertanyaan pemantik mengenai
bagaimana murid dapat mempraktikkan teladan Raja Asoka dalam lingkungan
pertemanan sehari-hari yang berbeda suku atau keyakinan.
 Diskusi Pemecahan Masalah: Murid mendiskusikan tanggapan mereka jika ada teman
sebaya yang mengejek atau merendahkan praktik keteladanan Buddha yang mereka
jalankan.
 Berbagi Nilai Sosial: Murid mempresentasikan cara mereka mewujudkan toleransi di
lingkungan tempat tinggal secara bergiliran agar batin mereka tergugah untuk langsung
mempraktikkannya (Joyful Learning).
Pembelajaran Berdiferensiasi :
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 7, 8, & 9
 Konten: Teks narasi kisah Raja Bimbisara dan Raja Asoka disajikan dengan dukungan
kartu gambar tokoh untuk merangsang atensi murid visual secara efektif.
 Proses: Murid yang sudah memahami konsep toleransi didorong untuk menghubungkan
sikap Raja Asoka dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika bangsa Indonesia, sedangkan
bagi murid yang masih kesulitan, guru membantu mencari contoh perilaku dermawan
paling sederhana di rumah.
 Produk: Hasil pemikiran terkait keteladanan tokoh sejarah dituliskan ke dalam poin-poin
ide aksi sosial atau paragraf refleksi personal yang dapat dibagikan kepada teman.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
 Refleksi: Murid mengungkapkan perasaan mereka setelah menyadari betapa hebatnya
pengorbanan para raja pendahulu demi tegaknya ajaran kebenaran.
 Rangkuman: Guru bersama kelas menyatukan pokok pikiran bahwa sifat dermawan Raja
Bimbisara dan sikap moderat Raja Asoka adalah warisan moral tak ternilai.
 Tindak Lanjut: Guru meminta murid untuk membiasakan diri membantu siapa pun di
lingkungan tanpa memandang perbedaan mulai dari hari tersebut.
 Penutup: Guru menutup kelas dengan melakukan sesi Duduk Hening sejenak lalu
diakhiri Doa Penutup Belajar bersama-sama.
PERTEMUAN 3 (2 JP : 80 MENIT)
Topik : Meneladani Tokoh Pendukung Perkembangan Agama Buddha di Indonesia (Bhikkhu
Narada, Ashin Jinarakkhita, Girirakkhito)
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
 Pengkondisian dan Duduk Hening: Kelas dibuka dengan salam, dilanjutkan dengan
kegiatan Duduk Hening bersama untuk mencapai kedamaian pikiran secara kolektif
(Mindful Learning).
 Doa Pembuka: Murid dipersilakan melafalkan doa pembuka agar seluruh aktivitas
belajar membawa kebijaksanaan luhur.
 Pemusatan Konsentrasi: Guru melakukan tanya jawab ringan tentang materi toleransi
Raja Asoka dari pekan lalu untuk memastikan ingatan murid masih melekat kuat.
 Penyampaian Arah Belajar: Guru memberikan gambaran bahwa hari ini murid akan
berkenalan dengan tokoh-tokoh tangguh dari era yang lebih modern, yakni para Bhikkhu
pelopor kebangkitan Buddha di Indonesia.
 Motivasi Karakter: Guru menyemangati murid agar memiliki jiwa pantang menyerah
seperti para tokoh Bhikkhu tersebut dalam menjaga pelita Dharma di nusantara.
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
 Pemaparan Biografi Singkat: Guru memfasilitasi murid membaca kisah heroik
kedatangan Bhikkhu Narada dari Sri Lanka yang menanam pohon Bodhi di pelataran
Candi Borobudur.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 7, 8, & 9
 Pengenalan Tokoh Nasional: Murid mengamati gambar dan membaca narasi perjuangan
Bhikkhu Ashin Jinarakkhita sebagai Bhikkhu pertama Indonesia sejak keruntuhan
Majapahit, serta Bhikkhu Girirakkhito yang aktif menyebarkan agama di kalangan
multietnis.
 Sesi Menyimak Mahakarya: Guru mengarahkan murid untuk meneladani karya seni
Bhikkhu Girirakkhito dengan mendengarkan notasi atau menyanyikan bersama lagu
berjudul "Dukkha" untuk meresapi makna kehidupan dan karya beliau (Joyful Learning).
 Analisis Nilai Keteladanan: Murid bekerja dalam kelompok merumuskan apa hambatan
yang sekiranya dialami tokoh-tokoh tersebut di awal kemerdekaan RI, dan bagaimana
mereka berhasil melaluinya.
 Mengaitkan Masa Lalu dan Kini: Guru mengajak murid merumuskan tindakan konkret
apa yang bisa dilakukan remaja masa kini sebagai pewaris perjuangan para Bhikkhu
tersebut, misal dengan rajin mengikuti sekolah minggu (Meaningful Learning).
 Unjuk Pemahaman: Murid menampilkan daftar sikap teladan hasil diskusi mereka
dengan suara lantang dan mendapat apresiasi tepuk tangan dari kelas.
Pembelajaran Berdiferensiasi :
 Konten: Guru menyediakan rangkuman cerita dan foto Bhikkhu Narada, Ashin
Jinarakkhita, dan Girirakkhito secara tercetak, serta memutarkan melodi lagu untuk
mengakomodasi kebutuhan gaya pendengaran murid.
 Proses: Bagi murid yang gemar bermusik, guru memberikan porsi lebih untuk membedah
lirik lagu "Dukkha", sementara murid yang berjiwa analis sejarah dibimbing menyelidiki
kontribusi Bhikkhu pelopor terhadap perkembangan tempat ibadah pasca-kemerdekaan.
 Produk: Karya dari pertemuan ini bisa berupa catatan apresiasi sederhana terhadap satu
sosok Bhikkhu favorit, atau tulisan bebas yang mengekspresikan rasa terima kasih murid
terhadap tokoh-tokoh pelopor tersebut.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
 Refleksi: Murid menyampaikan sosok Bhikkhu mana yang paling berkesan di hati
mereka berserta alasannya.
 Rangkuman: Guru memberikan kesimpulan bahwa semangat, keberanian, dan dedikasi
tokoh agama Buddha merupakan tonggak penting eksistensi Dharma di Indonesia hari
ini.
 Tindak Lanjut: Murid ditugaskan berdiskusi dengan orang tua di rumah mengenai apa
saja tindakan sederhana yang dapat dilakukan keluarga untuk merawat keberadaan agama
Buddha di lingkungan mereka.
 Penutup: Pembelajaran dipungkasi dengan Duduk Hening relaksasi sejenak, pembacaan
Doa Penutup Belajar, dan salam penutup.
PERTEMUAN 4 (2 JP : 80 MENIT)
Topik : Keragaman Budaya Buddhis di Indonesia
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 7, 8, & 9
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
 Pengkondisian Pikiran: Guru mengucapkan salam Namo Buddhaya dan memandu
murid duduk santai dengan mata terpejam, fokus pada keluar masuk napas agar batin
jernih dan harmonis.
 Doa Pembuka Belajar: Prosesi doa dipimpin murid yang bertugas agar batin semakin
terpusat pada nilai kebijaksanaan.
 Apersepsi Budaya: Guru memantik perhatian kelas dengan bertanya adakah murid yang
pernah melihat pertunjukan Barongsai atau Tari Gending Sriwijaya secara langsung.
 Penyampaian Inti Pembelajaran: Guru membeberkan bahwa pertemuan puncak di Bab
1 ini akan mengeksplorasi wujud akulturasi seni dan keragaman budaya Buddhis dari
bermacam penjuru nusantara.
 Pemberian Motivasi: Guru menegaskan bahwa keragaman budaya bukanlah sesuatu
untuk dihindari, melainkan sebuah kekayaan batin yang membuat agama Buddha
Indonesia unik, berwarna, dan patut dibanggakan.
KEGIATAN INTI (50 MENIT)
 Pemaknaan Budaya Beragam: Murid menyimak literatur mengenai integrasi agama
Buddha dengan tradisi lokal, seperti kesenian Tiongkok melalui Barongsai, maupun
kesenian lokal Nusantara melalui Tari Raden Wijaya dan Gending Sriwijaya.
 Observasi Visual Kesenian: Guru menampilkan berbagai citra visual tarian daerah
bernuansa Buddhis, arsitektur candi yang indah, serta ornamen peribadatan yang
menonjolkan kekhasan budaya masing-masing daerah.
 Curah Pendapat Kelompok: Murid berkumpul di kelompoknya lalu mendiskusikan
sikap terbaik yang mesti dimiliki apabila menemukan umat Buddhis yang menjalankan
ibadah dengan tradisi budaya yang berbeda dari yang biasa mereka jumpai di rumah.
 Proyek Apresiasi Budaya: Guru mengajak murid memikirkan langkah strategis untuk
merawat keutuhan budaya tersebut tanpa membeda-bedakan satu mazhab dengan mazhab
lain (Meaningful Learning).
 Ekspresi Seni Sederhana: Secara spontan guru memancing murid untuk berlatih
menciptakan sketsa dua dimensi berbentuk candi atau corak Barongsai sebagai bentuk
rasa syukur atas warisan seni tersebut (Joyful Learning).
 Pameran Kelompok: Murid saling memamerkan sketsa gagasan atau mempresentasikan
komitmen kelompok untuk terus menghormati perbedaan tanpa celaan di tengah
keragaman.
Pembelajaran Berdiferensiasi :
 Konten: Guru menyediakan foto tarian, informasi corak candi, dan kisah tradisi,
menjembatani minat murid yang beraneka ragam dalam hal estetika dan budaya.
 Proses: Murid kinestetik diizinkan untuk berdiri dan memperagakan sedikit gerakan
tarian tradisional saat presentasi kelompok, sedangkan murid visual fokus pada
penyempurnaan sketsa desain candi atau ornamen khas Buddhis di kertas mereka.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 7, 8, & 9
 Produk: Evaluasi didasarkan pada ragam pilihan output murid, ada yang menyerahkan
ulasan tertulis membedah makna Barongsai, ada pula yang menyerahkan sketsa kreatif
lambang keharmonisan antarbudaya Buddhis.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
 Refleksi: Murid menceritakan bagaimana keragaman budaya Buddhis telah membuka
wawasan mereka menjadi individu yang lebih menghargai toleransi dan adat istiadat.
 Rangkuman: Guru memaparkan intisari keseluruhan dari Bab 1 bahwa perpaduan agama
Buddha dan budaya lokal adalah anugerah peninggalan masa lampau yang perlu dijaga
abadi sepanjang zaman.
 Tindak Lanjut: Murid didorong untuk menanyakan kepada orang tuanya perihal benda
seni Buddhis atau warisan budaya lokal yang tersimpan di rumah mereka dan filosofi di
baliknya.
 Penutup: Guru menutup bab sejarah ini dengan menginstruksikan Duduk Hening penuh
rasa syukur, mengucapkan Doa Penutup Belajar bersama-sama, dan memberikan salam
hangat Namo Buddhaya.
H. ASESMEN PEMBELAJARAN
ASESMEN DIAGNOSTIK
 Pemahaman awal mengenai pengetahuan nama-nama candi bersejarah di Indonesia yang
biasa didengar atau dikunjungi.
 Pemahaman awal seputar figur-figur penolong atau raja yang berjasa pada penyebaran
ajaran Buddha dari masa ke masa.
ASESMEN FORMATIF
 Pengamatan interaktif selama pengerjaan diskusi kelompok terkait nilai perjuangan
kerajaan nusantara dan penyokong Buddhis klasik.
 Penilaian keberanian serta kelugasan dalam berbicara di depan kelas saat
mempresentasikan pemecahan masalah intoleransi sosial.
 Observasi terhadap inisiatif murid dalam memberikan apresiasi positif saat mengamati
peninggalan budaya dan sketsa karya seni teman.
ASESMEN SUMATIF
 Tes tertulis pada akhir pembelajaran Bab 1 yang mencakup evaluasi pengetahuan akan
nama Kerajaan Kalingga, Sriwijaya, Mataram Kuno, dan Majapahit beserta
peninggalannya.
 Penugasan analisis mendalam mengenai pengamalan teladan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita,
Raja Asoka, serta implementasi sikap toleran terhadap keberagaman budaya Buddhis
nusantara di tengah kehidupan masyarakat modern.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKAN WA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 7, 8, & 9
Mengetahui,
Kepala Sekolah
......................................
NIP. ...............................
......................................, 20.....
Guru Mata Pelajaran
......................................
NIP. ...............................