Perangkat Ajar Deep Learning Agama Budha & BP Kelas 10 Terbaru TA 2026/2027
1.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKANWA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
MODUL AJAR
KURIKULUM MERDEKA (Deep Learning)
Nama Sekolah : ................................................
Nama Penyusun : ................................................
NIP : ................................................
Mata pelajaran : Pendidikan Agama Buddha Dan Budi Pekerti
Fase E, Kelas / Semester : X (Sepuluh) / I (Ganjil)
2.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKANWA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
MODUL AJAR DEEP LEARNING
MATA PELAJARAN: PENDIDIKAN AGAMA BUDDHA DAN BUDI PEKERTI
BAB 1: INDAHNYA KEBERAGAMAN AGAMA BUDDHAKU
A. IDENTITAS MODUL
Nama Sekolah : ......................................................
Nama Penyusun : ......................................................
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti
Kelas / Fase /
Semester
: X / E / I (Ganjil)
Alokasi Waktu : 8 JP (4 kali pertemuan)
Tahun Pelajaran : 20.. / 20..
B. IDENTIFIKASI KESIAPAN PESERTA DIDIK
Pengetahuan Awal: Peserta didik telah memiliki pengetahuan dasar tentang adanya
berbagai aliran, mazhab, atau majelis dalam agama Buddha yang berkembang di
Indonesia saat ini.
Minat: Peserta didik memiliki minat besar untuk menelusuri sejarah perkembangan
agama Buddha di Nusantara dan melihat bukti peninggalan sejarah kerajaan.
Latar Belakang: Peserta didik berasal dari lingkungan masyarakat majemuk dengan latar
belakang tradisi, suku, dan corak keagamaan Buddha yang beragam dalam kehidupan
sehari hari.
Kebutuhan Belajar:
o Visual: Membutuhkan alat bantu berupa gambar peninggalan candi, peta wilayah
kerajaan, infografis sejarah, dan video dokumenter tentang keberagaman tempat
ibadah agama Buddha.
o Auditori: Membutuhkan penjelasan lisan yang runtut, kesempatan untuk melakukan
diskusi kelompok terbuka, serta mendengarkan cerita sejarah dan nilai luhur dari
guru.
o Kinestetik: Membutuhkan aktivitas bergerak seperti membuat peta konsep skala
besar, melakukan kunjungan karya (gallery walk), atau bermain peran (role play)
mengenai cara mendamaikan konflik perbedaan.
C. KARAKTERISTIK MATERI PELAJARAN
Jenis Pengetahuan yang Akan Dicapai:
o Konseptual: Memahami sejarah awal penyiaran agama Buddha dari masa Kerajaan
Sriwijaya, Mataram Kuno, Majapahit, kemunduran, hingga masa kebangkitan
3.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKANWA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
kembali. Memahami konsep persamaan mendasar dari seluruh aliran agama Buddha
di Indonesia.
o Prosedural: Mempraktikkan cara dan etika dalam membangun ruang dialog, serta
tahapan penyelesaian konflik atas dasar perbedaan sekte menggunakan prinsip cinta
kasih universal.
Relevansi dengan Kehidupan Nyata Peserta Didik: Materi ini sangat relevan untuk
menjadi bekal mental dan sikap toleransi peserta didik ketika mereka berinteraksi dengan
teman sekolah, keluarga, atau warga masyarakat yang memiliki corak peribadatan
Buddha yang berbeda.
Tingkat Kesulitan: Menengah. Dibutuhkan kemampuan analisis yang tajam untuk
mengaitkan kebesaran masa lalu (kerajaan) dengan realitas dinamika organisasi majelis
agama Buddha di masa kini, tanpa kehilangan benang merah persatuan.
Struktur Materi: Terdiri atas empat sub topik pokok, yaitu Keberagaman Agama
Buddha dan Indonesiaku, Perjalanan Keberagaman Agama Buddhaku, Mencintai
Keberagaman Agama Buddha Indonesiaku, dan Kepedulianku akan Perbedaan Agama
Buddha.
Integrasi Nilai dan Karakter: Menanamkan nilai empati, sikap tidak fanatik buta
(ehipassiko), toleransi proaktif, kebijaksanaan (panna), dan persaudaraan tanpa batas
(metta) dalam bingkai kemajemukan.
D. DIMENSI PROFIL LULUSAN
Keimanan dan Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan Berakhlak Mulia:
Mengimani bahwa keberagaman adalah kodrat alam dan wujud nyata ajaran yang kaya,
serta mengembangkan akhlak santun dalam menghargai setiap perbedaan bentuk ritual
sebagai jalan menuju kedamaian.
Kewargaan: Menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga kerukunan, ketertiban, dan
keutuhan di lingkungan sosial sebagai cerminan warga negara yang baik yang
berpedoman pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika.
Penalaran Kritis: Mampu mengevaluasi peristiwa masa lalu (runtuhnya kerajaan karena
kemerosotan moral) dan secara kritis mengambil esensi pelajaran tersebut untuk
mencegah konflik perpecahan majelis di era modern.
Kreativitas: Mampu menggagas dan menciptakan produk edukatif seperti peta pikiran,
skenario pemecahan konflik, serta kampanye toleransi yang relevan dengan kebutuhan
lingkungan sekolah.
Kolaborasi: Mampu membangun kerja sama yang sinergis dengan individu atau
kelompok yang memiliki cara pandang ibadah berbeda, demi mencapai tujuan
pembelajaran yang harmonis.
4.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKANWA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
Kemandirian: Memiliki kesadaran utuh untuk belajar mandiri, mencari referensi sejarah
penyiaran agama secara proaktif, dan tidak mudah terbawa provokasi kebencian antar
aliran.
Kesehatan: Menjaga kesehatan psikologis dan mental dengan mengelola pikiran
(mindfulness) agar senantiasa bebas dari kecurigaan, ketakutan, dan kebencian terhadap
kelompok yang berbeda.
Komunikasi: Terampil menyampaikan argumen, gagasan perdamaian, serta hasil
evaluasi kelompok menggunakan bahasa Indonesia yang baik, santun, dan menyejukkan
hati pendengarnya.
5.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKANWA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
DESAIN PEMBELAJARAN
A. CAPAIAN PEMBELAJARAN (CP)
Pada akhir Fase E, murid memiliki kemampuan sebagai berikut:
Sejarah
Memahami penyiaran Agama Buddha, meneladan perjuangan pelaku sejarah Agama
Buddha masa kini.
Ritual
Memahami meditasi ketenangan batin dengan keyakinan.
Etika
Memahami nilai-nilai moderasi beragama berdasarkan Buddhadharma sebagai dasar
dalam memaknai fenomena dan masalah kehidupan. murid memahami ilmu pengetahuan
dan teknologi berdasarkan nilai-nilai agama Buddha. murid memahami nilai-nilai Hukum
Kebenaran Mutlak melalui pembelajaran ramah anak serta mencerminkan kehidupan
yang moderat.
B. LINTAS DISIPLIN ILMU
Sejarah Indonesia: Keterkaitan langsung dengan sejarah lahir dan runtuhnya Kerajaan
Sriwijaya, Mataram Kuno, dan Majapahit, serta periode penjajahan di Nusantara.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan: Keterkaitan dengan integrasi nilai
moralitas agama dengan implementasi Pancasila, kebebasan beragama, dan toleransi
sosial.
Sosiologi: Keterkaitan dengan fenomena interaksi kelompok antarmazhab, pencegahan
resolusi konflik berbasis agama, dan perilaku manusia modern di tengah majemuknya
tradisi.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Pertemuan 1: Murid mampu menyimpulkan wujud keberagaman agama Buddha di
Indonesia dan membuktikan kesadaran saling menerima perbedaan aliran melalui analisis
diskusi secara bijaksana (2 JP)
Pertemuan 2: Murid mampu menganalisis perjalanan sejarah dan penyiaran agama
Buddha pada masa Kerajaan Sriwijaya, Mataram Kuno, dan Majapahit serta mengambil
teladan kerukunannya (2 JP)
Pertemuan 3: Murid mampu mengevaluasi faktor kemunduran dan kebangkitan kembali
agama Buddha sebelum hingga setelah kemerdekaan Indonesia untuk memupuk semangat
pelestarian Dharma (2 JP)
Pertemuan 4: Murid mampu mempraktikkan sikap mencintai keberagaman dan
menyusun langkah penyelesaian konflik berlandaskan enam landasan kebajikan untuk
menjaga harmoni agama Buddha (2 JP)
6.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKANWA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
D. INDIKATOR KETERCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Murid dapat menjabarkan berbagai corak tempat ibadah dan bentuk penyiaran dari
bermacam majelis agama Buddha di Indonesia dengan benar.
2. Murid dapat mempresentasikan bukti sejarah tingginya toleransi agama pada masa
kerajaan (seperti sinkretisme Shiva-Buddha dan penemuan candi berdampingan).
3. Murid dapat menyebutkan dan menghargai peran tokoh tokoh kunci pada masa
kebangkitan agama Buddha di era kolonial hingga kemerdekaan.
4. Murid dapat mendemonstrasikan penyelesaian konflik nyata mengenai sentimen antar
aliran Buddha menggunakan dialog yang santun dan prinsip ajaran cinta kasih.
E. TOPIK PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
Harmoni dalam Keberagaman: Mengelola Perbedaan Aliran dan Tradisi Agama Buddha
Menjadi Kekuatan Pemersatu Bangsa di Lingkungan Sekolah dan Masyarakat.
F. KERANGKA PEMBELAJARAN
PRAKTIK PEDAGOGIK
Model Pembelajaran: Problem Based Learning (PBL) dan Discovery Learning
Pendekatan: Deep Learning (Mindful, Meaningful, Joyful Learning)
o Mindful Learning: Mengkondisikan murid untuk memusatkan perhatian melalui
duduk hening sebelum belajar, dan mengajak mereka mendengarkan secara sadar
setiap pendapat teman tanpa lekas menghakimi aliran tertentu.
o Meaningful Learning: Mengaitkan kemegahan toleransi beragama di zaman
Majapahit dengan kebutuhan mendesak untuk menjaga kerukunan majelis Buddha di
masa kini, sehingga murid menyadari bahwa sejarah berulang dan harus dijaga.
o Joyful Learning: Menciptakan dinamika kelas yang hidup dan membahagiakan
melalui tugas pembuatan peta pikiran raksasa, metode galeri berjalan, serta simulasi
pemecahan masalah dengan drama peran (role play).
Metode Pembelajaran: Diskusi kelompok intensif, analisis teks sejarah, unjuk karya,
role play, dan curah pendapat (brainstorming).
Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi:
o Diferensiasi Konten: Menyajikan berbagai variasi rujukan, mulai dari teks bacaan
buku, cuplikan artikel sejarah, hingga kebebasan murid mengakses gambar candi atau
video ceramah tokoh agama di internet.
o Diferensiasi Proses: Memberikan bimbingan terarah bagi murid yang kesulitan
memahami konsep sejarah kemunduran agama, namun memberi ruang eksplorasi
mandiri secara mendalam bagi murid yang sudah mahir merangkai fakta sejarah.
7.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKANWA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
o Diferensiasi Produk: Memperbolehkan murid menyerahkan hasil sintesis
pembelajaran dalam bentuk tabel rangkuman, peta konsep penuh warna, hingga
skenario tertulis pemecahan konflik sesuai minat gaya belajarnya.
KEMITRAAN PEMBELAJARAN
Lingkungan Sekolah: Melakukan sinkronisasi dengan guru Sejarah Nasional agar
penyebutan tahun dan dinamika kerajaan selaras dengan pemahaman sejarah umum
murid.
Lingkungan Luar Sekolah/Masyarakat: Menganjurkan murid untuk mewawancarai
tokoh umat atau pengurus vihara di sekitar rumah tentang sejarah berdirinya tradisi yang
ada di tempat ibadah mereka.
Mitra Digital: Mendorong eksplorasi murid menggunakan mesin pencari edukatif dan
repositori jurnal sejarah digital yang divalidasi kebenarannya untuk mengecek
peninggalan masa lalu.
LINGKUNGAN BELAJAR
Lingkungan pembelajaran yang mengintegrasikan antara ruang fisik, ruang virtual, dan
budaya belajar:
Ruang Fisik:
o Penataan meja dan kursi yang dinamis, dibentuk model pulau pulau kelompok untuk
memastikan interaksi tatap muka penuh di setiap diskusi pemecahan masalah.
o Penyediaan ruang pamer kelas atau papan mading untuk menempelkan setiap karya
visual (peta sejarah) agar senantiasa menjadi pusat inspirasi kelas.
Ruang Virtual:
o Pemanfaatan grup kelas daring (chat group) untuk mengirim tautan bacaan artikel
toleransi atau menyebar dokumentasi apresiasi hasil role play murid.
o Ruang pengumpulan tugas digital untuk melacak perkembangan pemahaman sejarah
murid secara tertata.
Budaya Belajar:
o Penanaman budaya "Dengar untuk Paham", yaitu budaya menyimak rekan yang
berbicara secara penuh kesadaran dan merespons dengan kata kata yang penuh cinta
kasih.
o Budaya pantang mencela keyakinan aliran lain, melainkan membiasakan membedah
persoalan agama Buddha menggunakan perspektif akademis dan analitis yang kritis.
PEMANFAATAN DIGITAL
Pemanfaatan layar proyektor untuk menampilkan gambar arsitektur Candi Borobudur,
Muara Takus, dan ilustrasi kegiatan peribadatan dari berbagai mazhab di Indonesia.
8.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKANWA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
Penggunaan alat desain visual sederhana (aplikasi pembuat mind map daring) bagi murid
yang ingin mendesain peta konsep sejarahnya secara digital.
G. LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
PERTEMUAN 1 (2 JP : 90 MENIT)
Topik: Keberagaman Agama Buddha dan Indonesiaku
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
Mengondisikan Kelas: Guru menyapa murid dengan salam hangat keagamaan,
kemudian menunjuk salah satu murid untuk memimpin doa pembuka dengan sikap penuh
hormat.
Praktik Mindful Learning: Guru memandu murid melakukan duduk hening sejenak.
Murid diminta duduk santai, mengatur pernapasan perlahan sambil membatin "Aku tahu,
Aku tenang, Aku bahagia" untuk menyiapkan ruang pikiran menyerap hal baru.
Apersepsi Pemantik: Guru menampilkan montase foto bangunan vihara yang memiliki
gaya arsitektur Cina, Thailand, Tibet, dan Jawa. Guru melemparkan pertanyaan terbuka,
"Menurut kalian, mengapa ada banyak gaya bangunan untuk agama yang sama di
Indonesia?"
Memetakan Kesiapan: Guru menanyakan secara santai tentang latar belakang mazhab
vihara tempat masing masing murid beribadah untuk memunculkan potret nyata
keberagaman di dalam kelas.
Menyampaikan Tujuan: Guru menyampaikan bahwa di akhir sesi, murid akan mampu
memahami bahwa keberagaman bentuk penyebaran agama Buddha adalah keniscayaan
hidup yang dapat memperkaya makna toleransi.
KEGIATAN INTI (60 MENIT)
Eksplorasi Literatur: Murid membaca wacana tentang keberagaman agama Buddha di
Indonesia saat ini dan dampak dari masuknya berbagai aliran.
Diskusi Meaningful Learning: Murid dibagi ke dalam kelompok kelompok kecil
heterogen. Setiap kelompok ditugaskan membedah beberapa masalah yang rentan terjadi,
misalnya: Apa sikap kita jika melihat rohaniawan aliran lain berkhotbah? Bagaimana
menghadapi teman sekelas yang menolak ibadah bersama karena beda tradisi?
Pencarian Solusi: Secara kolaboratif, murid menggali literatur untuk merumuskan nilai
etika Buddhis (seperti Dharma sebagai kesucian pikiran, ucapan, tindakan) yang dapat
meredam gesekan perbedaan tersebut.
Pendampingan Diferensiasi Proses: Bagi kelompok yang sudah fasih, guru memberikan
studi kasus lanjutan berupa pro kontra inovasi ritual masa kini. Bagi kelompok yang
masih mencari pola, guru memberikan petunjuk lebih lugas tentang ajaran Buddha
mengenai keterbukaan.
9.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKANWA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
Presentasi Joyful Learning: Setiap juru bicara kelompok maju menyajikan solusinya
dengan gaya bicara santai layaknya konsultan perdamaian. Kelompok pendengar
didorong memberikan tepuk tangan apresiatif.
Konfirmasi Guru: Guru meluruskan pemahaman murid dengan menegaskan kembali
bahwa loyalitas kepada aliran tidak boleh merusak persaudaraan universal, sebab hakikat
Dharma bermuara pada satu tujuan, yaitu pembebasan penderitaan (Nibbana).
Pembelajaran Berdiferensiasi:
Proses: Diferensiasi diberikan pada saat pendampingan kedalaman diskusi, memfasilitasi
kebutuhan bimbingan intensif maupun otonomi berpikir lanjut.
Produk: Hasil rumusan penyelesaian konflik dapat berbentuk kerangka tertulis berupa
poin poin, maupun bentuk diagram tulang ikan (fishbone) sesuai dengan daya kreativitas
kelompok.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
Refleksi: Murid mencatat di selembar kertas perenungan tentang hal positif yang mereka
peroleh dari perbedaan yang mereka temui di kelas hari ini.
Rangkuman: Guru menuntun murid merangkum bahwa ajaran Buddha sangat luwes dan
berpusat pada penyesuaian kearifan lokal selama tidak bertentangan dengan esensi
kemoralan.
Tindak Lanjut: Murid ditugaskan untuk melakukan wawancara ringan dengan kakek,
nenek, atau tokoh keluarganya mengenai seperti apa wujud perayaan agama Buddha di
masa lalu.
Penutup: Pertemuan diakhiri dengan sikap tubuh anjali dan pengucapan salam
persaudaraan.
PERTEMUAN 2 (2 JP : 90 MENIT)
Topik: Perjalanan Keberagaman Agama Buddhaku: Masa Kerajaan
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
Salam dan Pengondisian: Guru membuka dengan salam penuh sukacita dan doa
bersama untuk kebahagiaan seluruh makhluk.
Praktik Mindful Learning: Melalui teknik pernapasan sadar, murid diminta menarik
napas pelan untuk melepaskan sisa sisa ketegangan dari pelajaran sebelumnya agar siap
fokus pada rentetan peristiwa masa lalu.
Menggali Pengetahuan: Guru mengajak beberapa murid secara acak membagikan
temuan cerita dari orang tuanya terkait pengalaman beragama Buddha tempo dulu.
Apersepsi Tokoh: Guru membacakan naskah dialog fiktif "Kakek dan Abhi" tentang
kejayaan Kerajaan Sriwijaya, Mataram, dan Majapahit secara ekspresif untuk menangkap
perhatian kelas.
10.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKANWA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
Menyampaikan Tujuan: Guru menekankan target hari ini, yakni mengidentifikasi
kegemilangan peran leluhur yang beragama Buddha dalam sejarah Nusantara dan
mencontoh kerukunannya.
KEGIATAN INTI (60 MENIT)
Pembagian Stasiun Sejarah: Guru membagi murid dalam tiga kelompok besar berbasis
stasiun sejarah: Stasiun Sriwijaya (Pusat Pendidikan Buddhis), Stasiun Mataram Kuno
(Sinkretisasi Dinasti Syailendra), dan Stasiun Majapahit (Era Toleransi dan Mahakarya
Mpu Tantular).
Observasi Terpandu (Meaningful Learning): Di dalam stasiun masing masing, murid
membaca narasi sejarah, menyelidiki peran tokoh seperti I Tsing, Raja Hayam Wuruk,
dan bukti toleransi agama Shiva-Buddha (contoh: kalimat Bhinneka Tunggal Ika).
Kreasi Peta Sejarah (Joyful Learning): Setiap stasiun diberikan kertas plano, spidol
warna, dan kebebasan mutlak merancang peta konsep alur waktu, lengkap dengan
penggambaran tokoh, candi candi peninggalan, dan poin poin kejayaannya.
Kunjungan Pameran: Menggunakan metode Gallery Walk, duta kelompok tinggal di
stasiunnya untuk mengedukasi pengunjung, sementara anggota lainnya bertamu ke
stasiun kerajaan lain untuk menyerap informasi.
Evaluasi Keruntuhan: Setelah tur sejarah selesai, murid diajak duduk merenung
kembali: Mengapa kerajaan semegah itu bisa runtuh? Murid secara kolektif berdiskusi
menemukan benang merah kemerosotan moral, keegoisan, dan minimnya pemahaman
Dharma sebagai penyebabnya.
Penegasan Kesimpulan: Guru mengafirmasi bahwa warisan terbesar para penganut
Buddha masa lalu bukan sekadar candi batu, melainkan teladan tingkat toleransi ekstrem
tinggi antar umat beragama.
Pembelajaran Berdiferensiasi:
Konten: Murid dapat menyerap informasi baik lewat lembaran bacaan teks deskriptif,
maupun melihat galeri gambar candi yang dibawa oleh guru untuk mereka yang visual.
Produk: Peta konsep sejarah disesuaikan sepenuhnya dengan bakat murid, baik yang
detail dengan teks panjang deskriptif maupun yang penuh ilustrasi artistik simbolik.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
Refleksi: Murid mengutarakan secara lisan satu nilai yang membuat mereka bangga
menjadi penerus nilai luhur agama Buddha di Indonesia.
Rangkuman: Bersama sama merangkai intisari bahwa perpecahan berawal dari
memudarnya nilai moralitas dan toleransi.
Tindak Lanjut: Murid diminta untuk mempersiapkan mental membaca lembar literasi
tentang tantangan kelangsungan agama Buddha sebelum masa kemerdekaan.
Penutup: Kelas ditutup dengan kalimat motivasi dan salam penutup santun.
PERTEMUAN 3 (2 JP : 90 MENIT)
11.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKANWA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
Topik: Kemunduran, Tidur Panjang, dan Kebangkitan Agama Buddha
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
Pengkondisian Fokus: Guru membuka kelas dengan senyuman dan mengajak salah satu
murid memimpin pembacaan paritta suci.
Praktik Mindful Learning: Melakukan praktik menenangkan batin dengan menutup
mata sejenak, memusatkan fokus agar emosi stabil dan pikiran jernih siap menyerap
wawasan sejarah yang lebih berat.
Apersepsi Kontinuitas: Guru melempar pertanyaan, "Jika Majapahit sudah runtuh dan
agama Buddha dianggap lenyap, bagaimana bisa hari ini kita semua duduk di kelas
belajar agama Buddha?"
Menyampaikan Tujuan: Mengarahkan perhatian murid bahwa sesi kali ini adalah napak
tilas perjuangan kebangkitan kembali ajaran Buddha di era penjajahan kolonial Belanda
hingga fase setelah kemerdekaan Republik Indonesia.
KEGIATAN INTI (60 MENIT)
Eksplorasi Era Gelap: Murid menyimak literatur mengenai masa "Buddhisme Tertidur".
Memahami bagaimana esensi ajaran beradaptasi dan menyatu menjadi ajaran moral
kearifan lokal seperti filsafat "Mo Limo" di masyarakat Jawa.
Investigasi Kebangkitan (Meaningful Learning): Secara berpasangan, murid menelaah
teks tentang lahirnya kelompok Perhimpunan Teosofi, hadirnya Bhikkhu Narada Thera,
dan semangat pemuda menyebarkan jurnal Mustika Dharma sebagai awal mula
pencerahan kembali agama Buddha.
Penelaahan Organisasi: Murid menelusuri peran sosok agung Bhikkhu Ashin
Jinarakkhita dan pendirian organisasi Sangha maupun majelis. Mereka berdiskusi bahwa
lahirnya dua jalur besar (Theravada dan Mahayana) di Indonesia pada masa itu
merupakan dinamika pemenuhan kebutuhan spiritual yang kaya, bukan pertikaian.
Pembimbingan Diferensiasi Proses: Guru mendekati pasangan murid yang kebingungan
memahami akar perbedaan sekte, dengan memberikan analogi konkret mengenai warna
pelangi yang bersumber dari satu cahaya putih utama (Dharma).
Curah Pendapat Terarah (Joyful Learning): Guru meminta murid berdiri secara
bergantian dan menyuarakan pendapatnya: "Sifat pejuang seperti apa yang paling kamu
kagumi dari tokoh tokoh perintis tersebut?" Murid bebas beropini dengan semangat
kemerdekaan.
Klarifikasi Konsep: Guru menyimpulkan bahwa kebangkitan agama Buddha
membuktikan sifat anicca (ketidakkekalan) beroperasi, dan semangat pantang menyerah
adalah modal membangkitkan kebenaran yang tertidur.
Pembelajaran Berdiferensiasi:
Proses: Menyediakan analogi visual bagi murid yang kesulitan menghubungkan rentetan
historis tahun penjajahan dengan tahun kebangkitan Sangha secara abstrak.
12.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKANWA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
Konten: Murid dapat mengeksplorasi sumber teks tertulis secara linear, atau menyusun
ringkasan melalui diskusi pendengaran aktif (auditori) antara teman satu meja.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
Refleksi: Murid membayangkan jika mereka hidup di masa penjajahan, apakah mereka
berani mempertahankan keyakinannya. Hal ini ditulis di catatan personal.
Rangkuman: Guru merangkum betapa tingginya jasa para perintis seperti Kwee Tek
Hoay, Yosias Van Dienst, dan Bhikkhu Ashin Jinarakkhita.
Tindak Lanjut: Murid ditugaskan mencari permasalahan konflik intern beragama dari
berita berita digital untuk bahan diskusi final.
Penutup: Doa syukur atas warisan Dharma dan salam damai perpisahan kelas.
PERTEMUAN 4 (2 JP : 90 MENIT)
Topik: Mencintai Keberagaman dan Kepedulianku akan Perbedaan
KEGIATAN PENDAHULUAN (15 MENIT)
Pengondisian Awal: Guru menyambut murid dan mengawali aktivitas dengan doa yang
memancarkan energi positif ke seluruh ruangan.
Praktik Mindful Learning: Memusatkan pikiran pada sikap cinta kasih. Murid diajak
merenungkan wajah teman satu kelas dengan perbedaan ciri fisik dan latar belakang, lalu
secara mental mengirimkan pesan harapan kebahagiaan untuk mereka.
Menggugah Memori: Guru mengaitkan pembelajaran historis dari pertemuan 1-3 bahwa
nilai kerukunan adalah harta karun tak ternilai peninggalan leluhur.
Apersepsi Metafora: Guru bercerita tentang kisah perebutan air Sungai Rohini di India
Kuno. Guru menanyakan, "Demi setetes air dan keegoisan, apakah nyawa saudara sendiri
pantas dipertaruhkan?"
Menyampaikan Tujuan: Menyampaikan bahwa hari ini murid akan belajar bersikap
konkret menjadi pahlawan toleransi di dunia nyata dengan mendalami 9 titik temu
kesamaan seluruh tradisi agama Buddha.
KEGIATAN INTI (60 MENIT)
Pembedahan Filosofi (Meaningful Learning): Murid merumuskan makna kisah Sungai
Rohini, mengaitkannya dengan akar konflik di masyarakat (ketamakan, kebencian,
keakuan arogan).
Analisis Kasus Konflik: Guru membagikan lembar kasus nyata di mana seorang individu
atau kelompok menolak bergaul karena perbedaan gaya beribadah atau tata cara majelis.
Penyusunan Strategi Damai: Dalam kelompok, murid ditugaskan menyusun prosedur
mediasi berbekal Enam Landasan Kebajikan (Kemurahan Hati, Ajaran Moral, Kesabaran,
Semangat, Konsentrasi, Kebijaksanaan) dari Raja Asoka untuk meredam konflik.
Pertunjukan Toleransi (Joyful Learning): Setiap kelompok maju dan
mendemonstrasikan jalan perdamaian tersebut dalam sebuah simulasi rapat atau lakon
13.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKANWA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
teater mini (role play). Murid berperan sebagai penengah, korban intoleransi, dan pelaku
diskriminasi yang pada akhirnya disadarkan melalui nilai Dharma.
Identifikasi Persatuan: Selepas pertunjukan, guru memandu murid menemukan 9
pedoman persamaan aliran Buddha (misal, perlindungan ke Triratna, Empat Kebenaran
Mulia, dll) sebagai bukti kuat tidak ada alasan untuk berpecah belah.
Komitmen Pahlawan Dharma: Setiap murid menyusun sebuah "Piagam Kepedulian"
yang berisi janji pribadi untuk selalu bersikap objektif, adil, dan tidak menjauhi teman
dari aliran berbeda.
Pembelajaran Berdiferensiasi:
Produk: Murid bebas memilih cara pembuktian pemahaman penyelesaian konflik. Bisa
berupa naskah drama (role play) bagi yang gemar berakting, atau infografis berisi poin
pencegahan perselisihan di papan tulis bagi yang tidak suka tampil di depan.
Proses: Bagi murid yang kinestetik, mereka terfasilitasi secara optimal melalui aksi
teaterikal; sedangkan murid visual dan analitik terfasilitasi dari kegiatan menyarikan 9
titik temu ajaran universal Buddha di buku.
KEGIATAN PENUTUP (15 MENIT)
Refleksi: Murid secara bergiliran menyebutkan satu tindakan konkrit yang akan mereka
lakukan esok hari untuk menjaga kerukunan di dalam perbedaan sekolah.
Rangkuman: Guru dan murid merangkum bahwa tidak ada toleransi sejati tanpa
kemampuan menghargai kebenaran orang lain, dan agama Buddha tidak mengajarkan
penerimaan buta maupun kebencian sepihak.
Tindak Lanjut: Murid diajak mempraktekkan janji dalam piagam mereka di kehidupan
sehari hari selama satu minggu ke depan.
Penutup: Guru memberikan motivasi bahwa setiap murid adalah pahlawan pembawa
damai di generasinya. Diakhiri dengan meditasi penutup dan salam kasih sayang.
H. ASESMEN PEMBELAJARAN
ASESMEN DIAGNOSTIK
Penilaian lisan tentang pemahaman murid mengenai ragam aliran, tempat ibadah, atau
kelompok majelis yang ada di Indonesia saat ini, yang ditanyakan secara alami pada
pembukaan.
Respons murid saat ditanya pengalaman latar belakang beribadah keluarga masing
masing yang memperlihatkan profil awal keberagaman kelas.
ASESMEN FORMATIF
Lembar observasi sikap selama kerja diskusi kelompok (fokus pada bagaimana murid
menghargai perbedaan pandangan teman yang berbicara tanpa memotong perbincangan).
Penilaian keterampilan menyajikan peta konsep mind mapping tentang perjalanan sejarah
masa kerajaan (kelengkapan sejarah, kronologi waktu, dan kreativitas visualisasi).
14.
BUTUH FILE LENGKAP
SILAKANWA 0853-8611-7714
TERSEDIA JUGA KELAS 10, 11, & 12
Pengamatan pada partisipasi dan kemampuan argumentasi dalam simulasi role play saat
menyelesaikan permasalahan konflik sosial intoleransi.
Penilaian lisan kemampuan merumuskan intisari nilai kemunduran dan kebangkitan
ajaran Buddha berlandaskan pemikiran moralitas.
ASESMEN SUMATIF
Penugasan soal esai studi kasus di akhir bab, di mana peserta didik diminta memberikan
argumen pemecahan masalah (problem solving) pada sebuah peristiwa intoleransi
perbedaan mazhab dengan menggunakan kerangka kebijaksanaan ajaran Buddha.
Evaluasi portofolio atau jurnal refleksi pribadi berupa "Piagam Kepedulian" dan catatan
perubahan pola pikir murid setelah menelusuri panjangnya perjuangan toleransi dari masa
kerajaan hingga saat ini.
Mengetahui,
Kepala Sekolah
......................................
NIP. ...............................
......................................, 20.....
Guru Mata Pelajaran
......................................
NIP. ...............................