SlideShare a Scribd company logo
 Mobilitas Penduduk merupakan salah satu
faktor yang mempengaruhi persebaran
penduduk
 Mobilitas penduduk menjadi salah satu faktor
yang mendorong perubahan kondisi sosial
ekonomi suatu wilayah
 Mobilitas penduduk yang tidak terkendali
akan menyebabkan penurunan daya dukung
dan daya tampung lingkungan
Wilayah Sumatera
Share PDRB thd
Nasional
21,55%
Pertumb. Ekonomi 4,65%
Pendaptn perkapita 9,80 jt
Penduduk miskin 7,3 jt (14,4%)
Wilayah Jawa Bali
Share PDRB thd
Nasional
62,00%
Pertumbh Ekonomi 5.89%
Pendapt perkapita 11,27 jt
Pendudk miskin 20,19 jt
(12,5%)
Wilayah Nusa Tenggara
Share PDRB thd
Nasional
1,42%
Pertmbuh Ekonomi 3,50%
Pendapt perkapita 3,18 jt
Pendudk miskin 2,17 jt
(24,8%)
Wilayah Kalimantan
Share PDRB thdp
Nasional
8,83%
Pertumb. Ekonomi 5.26%
Pendaptn perkapita 13,99 jt
Pendudk miskin 1,21 jt (9%)
Wilayah Sulawesi
Share PDRB thd
Nasional
4,60%
Pertmbh Ekonomi 7.72%
Pendapt perkapita 4,98 jt
Pendudk miskin 2,61 jt (17,6%)
Wilayah Maluku
Share PDRB thd
Nasional
0,32%
Pertumbh Ekonomi 4,94%
Pendaptn Perkapita 2,81 jt
Pendudk Miskin 0,49 jt (20,5%)
Wilayah Papua
Share PDRB thd
Nasional
1,28%
Pertmbuh Ekonomi 0,60%
Pendaptn perkapita 8,96 jt
Pndudk miskin 0,98 jt (36,1%)
Sumber : diolah dari BPS, 2008
Ket : Harga Konstan
KESENJANGAN WILAYAH
60.00
62.00
64.00
66.00
68.00
70.00
72.00
74.00
1996 1999 2002 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
67.70
64.30
65.80
69.60 69.57
70.10
70.59
71.17
71.76
72.27 72.27
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
2010
2011
Perkembangan IPM Indonesia 1996 - 2011
IPM per provinsi
2010-2011
Tema Pembangunan &
Interkonektivitas Koridor Ekonomi (MP3EI)
“Pendorong
Industri dan
Jasa Nasional”
“Sentra
Produksi dan
Pengolahan
Hasil Bumi dan
Lumbung
Energi
Nasional”
“Pusat Produksi
dan Pengolahan
Hasil Tambang
dan Lumbung
Energi Nasional”
“Pintu Gerbang
Pariwisata dan
Pendukung
Pangan Nasional”
“Pusat Produksi dan
Pengolahan Hasil
Pertanian,
Perkebunan,
Perikanan, Migas dan
Pertambangan
Nasional”
“Pusat
Pengembangan
Pangan,
Perikanan, Energi
dan
Pertambangan
Nasional”
ADA GULA ADA SEMUT  PEOPLE FOLLOW JOBS
PETA PUSAT PERTUMBUHAN AKTUAL DAN
KAWASAN HINTERLAND-NYA
aliran transaksi input output
0.329 0.32 0.32 0.363 0.33 0.36 0.35 0.36
4.3
4.5
5.1
5.6
4.5
6.0
6.2
5.5
0
1
2
3
4
5
6
7
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
G ini R atio (% ) E conomic G rowth
Pertumbuhan dan Ketimpangan di Indonesia (BPS 2010)
Meski secara nasional menurun (0.331), ketimpangan pendapatan masyarakat di
perdesaan justru melonjak pada tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya.
Penurunan rasio Gini hanya terjadi di perkotaan dari 0,362 menjadi 0,352, sedangkan
di perdesaan justru meningkat menjadi 0,297 dari 0,288.
Terjadi disparitas konsentrasi maupun
pertumbuhan ekonomi antar-daerah
 Porsi ekonomi masih terkonsentrasi di wilayah
Jawa dan Sumatera dengan pangsa mencapai
61,0% dan 20,9% (rata-rata tahun 2001-2009).
 Pertumbuhan ekonomi wilayah Sulampua relatif
lebih rendah (4,3%), di bawah pertumbuhan
ekonomi nasional 5,1% (rata-rata 2001-2009).
 Disparitas pertumbuhan ekonomi antar-daerah
sedikit melebar setelah otonomi daerah.
Pertumbuhan Ekonomi Daerah (%, yoy)
1990-2000* 2001-2009
Nasional 6,8 5,1
Sumatera 5,6 3,1
Jawa 7,4 5,2
Bali-Nusa Tenggara 9,5 4,6
Kalimantan 6,6 3,7
Sulampua 8,3 4,3
Aceh 2,7 -0,8
Sumut 7,9 5,4
Sumbar 6,7 5,3
Riau 4,7 0,4
Jambi 7,5 6,1
Sumsel 5,4 4,3
Bengkulu 6,6 5,2
Lampung 7,4 5,0
Jakarta 8,0 5,6
Jabar 6,0 5,0
Jateng 6,3 4,9
DIY 6,0 4,4
Jatim 6,8 5,2
Bali 7,5 4,8
NTB 14,6 4,2
NTT 12,9 5,3
Kalbar 7,4 4,6
Kalteng 7,4 5,4
Kaltim 6,1 2,7
Kalsel 7,7 6,0
Sulteng 7,5 6,8
Sulsel 7,2 4,9
Sultra 7,3 7,2
Sulut 8,2 5,2
Maluku 5,3 4,1
Irian Jaya 9,8 1,8
*) excluding 1998 & 1999
Provinsi
Rata-Rata Pertumbuhan
Supply side
Demand
side
 Adanya sektor basis yang memiliki
keunggulan comparative dan
competitive
 Pengembangan sektor unggulan yang
menciptakan multiplier effect thdp
pembangunan regional (khususnya
kemiskinan dan penyerapan TK)
 Peningkatan produksi sektor2
unggulan, diversifikasi hulu-hilir
sektor/komoditas unggulan
 Kebocoran:
 Kegiatan produksi dikuasai/dimiliki
oleh penduduk di luar kawasan
 Proses peningkatan nilai tambah
• Peningkatan akses pada pusat-
pusat pelayanan untuk
menciptakan income
multiplication
• Menurunkan biaya-biaya
konsumsi barang dan jasa
• Kebocoran:
jika orientasi mengkonsumsi
barang dan jasa banyak
dilakukan di luar
Membangun &
mengembangkan
permukiman yang
berdaya saing
 Terbatasnya infrastruktur dan sumber daya pendukung
 Bervariasinya kebijakan di setiap daerah dalam peningkatan
kualitas penduduk pasca pemberlakuan otonomi daerah
 Adanya perbedaan persepsi yang mungkin terjadi antara
penduduk sebagai penerima manfaat dengan pemerintah
dalam upaya peningkatan kualitas penduduk
 Perbedaan kondisi geografis, demografis, sosial-budaya, serta
taraf ekonomi di setiap daerah
 Tingginya komponen biaya administrasi dan transaksi dalam
setiap program pembangunan.
 Ketersediaan data kualitas penduduk di setiap daerah
Kebijakan makro mobilitas penduduk
* ekonomi makro 1967-1980, pemusatan
industri manufaktur di Jakarta dan pesisir
Jawa  urbanisasi meningkat
* 1980, mekanisasi sektor pertanian yg
berakibat penurunan daya serap TK sektor
pertanian  migrasi desa - kota &
peningkatan transmigrasi paruh tahun
dasawarsa 80-an dan pengembangan KTI
12
 Tahun 1990an
◦ Perubahan kebijakan di bidang transmigrasi 
trans swakarsa
◦ Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi
terpadu
 Tahun 2000-an
◦ Otonomi Daerah
 Beberapa daerah melakukan pembatasan migrasi
penduduk
 Lebih banyak migran spontan,
 Peningkatan migrasi keluarga
13
Sumber: BPS, berbagai publikasi
Migrasi merupakan respon manusia
atas kesempatan-kesempatan yang
ada dalam rangka meningkatkan taraf
hidup.
Pola migrasi di negara-negara
berkembang mencerminkan distribusi
kesempatan ekonomi yang tidak
merata.
Pola migrasi di negara berkembang
menggambarkan pola yang mengutub,
dimana arus migrasi cenderung
menuju ke tempat-tempat tertentu
saja.
Pola Migrasi di Negara Berkembang
Jakarta Bali Kalimantan Timur Kepulauan riau
Migrasi Angkatan Kerja Antar Provinsi, 201010
Jumlah Tenaga Kerja Migran Menurut Provinsi Tahun 2000 dan 2005
0
5000000
10000000
15000000
20000000
25000000
NAD
Sumut
Sumbar
Riau
Jambi
Sumsel
Bengkulu
Lampung
DKI
Jakarta
Jawa
Barat
Jawa
Tengah
D.I
Yogyakarta
Jawa
Timur
Bali
NTB
NTT
Kalbar
Kalteng
Kalsel
Kaltim
Sulut
Sulteng
Sulsel
Sul.Tenggara
Maluku
Irian
Jaya
2000
2005
Provinsi-provinsi yang mengalami peningkatan jumlah tenaga kerja
migran: Riau, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi
Utara.
38%
29%
2%
3%
19%
4%
1%
4%
Pekerjaan
Mencari Pekerjaan
Pendidikan
Perubahan Status Perkawinan
ikut keluarga inti/famili lain
perumahan
keamanan
lainnya&TT
Alasan Bermigrasi Para Pekerja Migran di Indonesia, 2010
Riau, Jambi, Banten, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi
Tengah, dan Sulawesi Tenggara memiliki proporsi migran positif.
Sumatera Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan
Maluku mengalami proporsi negatif.
Proporsi Migran Seumur Hidup menurut Provinsi di Indonesia
Proporsi Migran Risen menurut Provinsi di Indonesia
Beberapa provinsi menarik bagi para migran karena memiliki prospek
ketenagakerjaan dan memberi kenyamanan untuk ditempati : Riau, Jambi, Banten,
Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.
Pulau 1980 1990 1995 2000 2005
Sumatra 53,85 6,52 -12,50 0,14 -3,15
Jawa -
63,36
-18,75 6,36 -2,87 -3,06
Kalimantan 8,36 8,47 4,30 2,89 -0,33
Sulawesi 3,11 0,53 0,85 0,32 2,15
Kepulauan Lain -2,07 3,24 1,00 -0,47 4,39
 Sehubungan dengan pertambahan penduduk
Indonesia yang cepat maka kota-kota besar
pun mempunyai penduduk yang besar pula.
 Tahun 1971 sekitar 17,4% penduduk tinggal
di perkotaan, menjadi 43,1% tahun 2005 dan
diperkirakan akan mencapai 64,2% tahun
2020
 Migrasi desa-kota berpengaruh pada
perluasan sektor jasa dan informal
1971 1980 1990 2000 2010 2020
NAD 8.4 8.9 15.8 23.6 34.3 44.9
Sumatera Utara 17.2 25.5 35.5 42.4 50.1 58.8
Sumatera barat 7 12.7 20.2 29 39.8 50.6
Riau 13.3 27.1 31.7 43.7 56.5 66.9
jambi 29.1 12.7 21.4 28.3 36.5 44.5
Sumatera Selatan 27 27.4 29.3 34.4 42.9 50.9
Bengkulu 11.7 9.4 20.4 29.4 41 51.7
Lampung 9.8 12.5 12.4 21 33.3 46.2
Bangka Belitung 0 0 0 43 52.2 60.3
DKI Jakarta 100 93.4 99.6 100 100 100
Jawa Barat 12.4 21 34.5 50.3 66.2 77.4
jawa Tengah 10.7 18.7 27 40.4 56.2 68
DI Yogyakarta 16.3 22.1 44.4 57.6 70.2 79.3
Jawa Timur 14.5 19.6 27.4 40.9 56.5 68.9
Banten 0 0 0 52.2 67.2 77.7
Bali 9.8 14.7 26.4 49.7 64.7 75.6
NTB 8.1 14.7 17.1 34.8 48.8 61
NTT 5.6 7.5 11.4 15.4 20.7 26.4
Kalimantan Barat 11 16.8 20 24.9 31.1 39
Kalimantan Tengah 12.4 10.3 17.6 27.5 40.7 53.3
Kalimantan Selatan 26.7 21.4 27.1 36.2 46.7 56.3
Kalimantan Timur 39.2 39.8 48.8 57.7 66.2 73.1
Sulawesi Utara 19.5 16.8 22.8 36.6 49.8 61.1
Sulawesi Tengah 5.7 9 16.4 19.3 22.9 27.3
Sulawesi Selatn 18.2 18.1 24.5 29.4 35.3 42.6
Sulawesi Tenggara 6.3 9.3 17 20.8 25.6 31.8
Gorontalo 0 0 0 25.4 36.8 47.8
Maluku 13.3 10.8 19 25.3 26.9 28.8
Maluku Utara 0 0 0 28.9 30.6 32.5
Papua 16.3 20.2 24 22.2 23.5 25.1
Indonesia 17.4 22.3 30.9 42 54.2 64.2
 Pull factor yang demikian besar dari kota-kota
dibandingkan perdesaan ditambah persentase
penduduk terbesar ada di daerah perdesaan.
 Tekanan sosial ekonomi penduduk dan
menyempitnya lapangan kerja di perdesaan
 Anggapan kota yang selalu memungkinkan
seseorang untuk pengembangan diri secara
cepat. Hal ini sering bertolak belakang dengan
kenyataan.
24
 Penurunan daya dukung dan daya tampung
lingkungan
 Perluasan daerah kumuh dan daerah informal di
perkotaan  pertanahan, administrasi
kependudukan, kriminalitas, status kesehatan, status
pendidikan, air tanah dll.
• Pendatang yang tak mempunyai keahlian atau
mempunyai sedikit keterampilan yang sama sekali
lain dari yang dibutuhkan di kota. Pembekalan untuk
hidup di kota tak cukup didapatkan.
• Walaupun pendatang mempunyai motivasi yang kuat
untuk mengembangkan dirinya di kota tetapi
kenyataannya kota sendiri belum siap menerimanya.
Kota Jumlah Penduduk
Jakarta 9,607,787
Surabaya 2,765,487
Bandung 2,394,873
Bekasi 2,334,871
Medan 2,097,610
Tangerang 1,798,601
Depok 1,738,570
Semarang 1,555,984
Palembang 1,455,284
Makassar 1,338,663
Tangerang Selatan 1,290,322
Batam 1,137,894
Jumlah Penduduk Perkotaan
di 12 Kota Besar di Indonesia, 2010
diproyeksikan sekitar 60% penduduk yang tinggal di perkotaan berada di
Jawa Pada tahun 2025.
Metropolitan Regions (Daerah Inti) Daerah Sekitarnya
Mebidang
(Medan Binjai Deli Serdang)
Kota Medan Kab. Deli Serdang
Kota Binjai
Jabodetabek
(Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi)
Kota Jakarta Kab. Bogor
Kab. Bekasi
Kota Bogor
Kota Bekasi
Kota Depok
Kab. Tangerang
Kota Tangerang
Bandung Raya Kota Bandung Kab. Bandung
Kab. Sumedang
Kota Cimahi
Kedungsepur
(Kendal Ungaran Semarang Purwodadi)
Kota Semarang Kab. Demak
Kab. Semarang
Kab. Kendal
Gerbangkertosusila
(Gresik Bangkalan Mojokerto Surabaya Sidoarjo Lamongan)
Kota Surabaya Kab. Sidoarjo
Kab. Mojokerto
Kab. Gresik
Kab. Bangkalan
Kab. Lamongan
Kota Mojokerto
Mamminasata
(Makasar Maros Sungguminasa Takalar)
Kota Makasar Kab. Takalar
Kab. Goa
Kab. Maros
Sarbagita
(Denpasar Badung Gianyar Tabanan)
Kota Denpasar Kab. Badung
Kab. Gianyar
Kab. Tabanan
7 Metropolitan Area di Indonesia
Proporsi Penduduk Perkotaan (Angka Urbanisasi)
menurut Provinsi di Indonesia
Proyeksi Angka Urbanisasi
Proyeksi Urbanisasi Tahun 2000-2025
Menurut Provinsi
Jumlah penduduk perkotaan meningkat antara 20-40 persen.
 Mobilitas non permanen seringkali dibahas
dalam lingkup mikro
 Belum ada data nasional, tetapi SUPAS 2005
atau Sakernas 2007 sudah memasukkan data
mobilitas non permanen khusus pekerja (lihat
tabel berikut)
 Bagaimana mencatat mobilitas non permanen
sehingga hak-hak dasar mereka terpenuhi.
 Kenyataan bahwa mobilitas non permanen menunjukkan
peningkatan terutama mobilitas desa-kota
• Ketimpangan Pembangunan Antar Daerah Terutama antar
Perkotaan dan Pedesaan
• Kelangkaan Pekerjaan di sektor pertanian dan Kepemilikan
Tanah
• Kelangkaan Fasilitas Pelayanan Sosial (Pendidikan,
Kesehatan dll)
• Peningkatan Harga tanah dan biaya hidup di kota, dll
• Revolusi Colt (hugo & Hull, 1987)
• Peningkatan sarana dan prasarana transportasi dan proses
industrialisasi
Powerpoint Templates
Page 32
Metropolitan Area # Population # Commuters % Commuters
Mebidang 3 866 226 319 683 9.24
Jabodetabek 23 673 955 2 659 561 12.36
Jakarta 8 860 381 1 092 538 13.45
Bodetabek 14 813 574 1 567 023 11.70
Bandung Raya 7 173 726 486 479 7.45
Kedungsepur 4 253 420 162 437 4.15
Gerbangkertosusila 8 619 447 288 582 3.65
Mamminasata 2 314 981 134 863 6.52
All of Metropolitans 49 901 755 4 051 605 8.93
Jumlah Penduduk yang melakukan Ulang Alik di 7 Daerah
Metropolitan di Indonesia
 Migrasi Internasional dari Indonesia
didominasi overseas contract workers ke
Arab audi, Malaysia, Singapura, Taiwan,
Hongkong dan Korea
 Teori Migrasi vs gender
◦ teori : migrasi didominasi oleh laki-laki, berumur
produktif dan karena alasan ekonomi
◦ Kenyataan terjadi peningkatan migran perempuan
baik alasan pribadi, keluarga, pendidikan,
mengungsi, selain ekonomi.
7/4/2009 33
 Pelecehan, penipuan, upah tidak dibayar
pengingkaran kontrak dll (sejak dari proses
perekrutan, pemberangkatan, di negara
tujuan sampai kembali pulang)
 Belum ada MoU antara Indonesia dengan
negara-negara tujuan kecuali Malaysia
 Belum ada perlindungan maksimal bagi buruh
migran Internasional
0
20,000
40,000
60,000
80,000
100,000
120,000
140,000
160,000
2011 2012
10 Propinsi Terbesar
Penempatan TKI Luar Negeri
10 Negara Terbesar Penempatan TKI
• mobilitas antar daerah tetap meningkat
hanya di beberapa daerah terjadi
penurunan
• Peningkatan konsentrasi penduduk di
perkotaan
• peningkatan mobilitas non permanen
• peningkatan mobilitas internasional
• peningkatan arus mobilitas tenaga kerja
dari luar negeri
37
• peningkatan mobilitas non permanen perlu
penyediaan berbagai fasilitas sosial,
ekonomi, budaya dan administrasi dll
• penataan wilayah penyangga
• migrasi internasional
perlindungan hukum, kualitas keluarga migran,
kesehatan reproduksi, sistem penggajian untuk
TKA dll
38
Umumnya kebijakan kependudukan dapat bersifat
langsung (direct) dan tidak langsung (indirect)
Ada 3 pendekatan dlm kebijakan mobilitas penduduk
1. Merangsang perpindahan penduduk  migrasi
spontan
2. Menghambat perpindahan penduduk  Jakarta kota
tertutup
3. Mengarahkan perpindahan penduduk sesuai
kepentingan nasional : transmigrasi, pertumbuhan
pusat-pusat ekonomi, rekayasa sosial, ekonomi,
fisik dan demografi
39
 Pengarahan mobilitas penduduk untuk :
◦ menumbuhkan kondisi kondusif bagi terjadinya migrasi internal yang
harmonis;
◦ memberikan perlindungan penduduk yang terpaksa pindah karena
keadaan (pengungsi);
◦ memberikan kemudahan, perlindungan dan pembinaan terhadap para
migran internasional dan keluarganya;
◦ menciptakan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan daya dukung
dan daya tampung lingkungan;
◦ mengendalikan kuantitas penduduk disuatu daerah/wilayah tertentu;
◦ mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru;
◦ memperluas kesempatan kerja produktif;
◦ meningkatkan ketahanan nasional.
40
 Untuk melakukan kebijakan pengarahan
mobilitas penduduk diperlukan GRAND
DESIGN Mobilitas Penduduk dengan
memperhatikan :
◦ arah, volume, tujuan pelaku mobilitas
◦ Karakteristik pelaku mobilitas penduduk
◦ daya dukung dan daya tampung lingkungan
◦ arah pembangunan masing-masing daerah
 Identifikasi : kelembagaan : siapa berbuat
apa.
42
TERIMA KASIH…..HATUR NUHUN

More Related Content

Similar to Pemerataan_pembangunan_di INDONESIA, Tujuan, manfaat

Peran penting penanganan masalah kependudukan
Peran penting penanganan masalah kependudukanPeran penting penanganan masalah kependudukan
Peran penting penanganan masalah kependudukan
Stiunus Esap
 
Peran penting penanganan masalah kependudukan
Peran penting penanganan masalah kependudukanPeran penting penanganan masalah kependudukan
Peran penting penanganan masalah kependudukan
Stiunus Esap
 
tifa_persoalanketimpangan_erani_0.pptx
tifa_persoalanketimpangan_erani_0.pptxtifa_persoalanketimpangan_erani_0.pptx
tifa_persoalanketimpangan_erani_0.pptx
Aruel Gtl
 
Training PELD 2014
Training PELD 2014Training PELD 2014
Training PELD 2014
Kacung Abdullah
 
Paparan Wamen PPN Bappenas - RBSummit
Paparan Wamen PPN Bappenas - RBSummitPaparan Wamen PPN Bappenas - RBSummit
Paparan Wamen PPN Bappenas - RBSummit
Kurniawan Saputra
 
Laporan-Perkembangan-Ekonomi (1).pdf
Laporan-Perkembangan-Ekonomi (1).pdfLaporan-Perkembangan-Ekonomi (1).pdf
Laporan-Perkembangan-Ekonomi (1).pdf
Akuhuruf
 
Urbanisasi di Kal Sel
Urbanisasi di Kal SelUrbanisasi di Kal Sel
Urbanisasi di Kal Sel
sopyanbkkbn
 
Kabupaten Bangka Selatan - KPDT 2013
Kabupaten Bangka Selatan - KPDT 2013Kabupaten Bangka Selatan - KPDT 2013
Kabupaten Bangka Selatan - KPDT 2013
Cahyo Pangestu
 
Agregat data provinsi
Agregat data provinsiAgregat data provinsi
Agregat data provinsi
Alen Pepa
 
Profil provinsi lampung dan ekonomi kreatif
Profil provinsi lampung dan ekonomi kreatifProfil provinsi lampung dan ekonomi kreatif
Profil provinsi lampung dan ekonomi kreatif
XYZ Williams
 
Presentasi kependudukan (kb)
Presentasi kependudukan (kb)Presentasi kependudukan (kb)
Presentasi kependudukan (kb)
Posdaya Solok
 
Surakarta profile
Surakarta profileSurakarta profile
Surakarta profile
Sidiq Nugroho
 
DRAFT EKSPOSE KA BAPPEDA_DJCB.pdf
DRAFT EKSPOSE KA BAPPEDA_DJCB.pdfDRAFT EKSPOSE KA BAPPEDA_DJCB.pdf
DRAFT EKSPOSE KA BAPPEDA_DJCB.pdf
andriusbappeda
 
Contoh makalah-ketenagakerjaan
Contoh makalah-ketenagakerjaanContoh makalah-ketenagakerjaan
Contoh makalah-ketenagakerjaan
Terminal Purba
 
PPT STUPRO KELURAHAN SUNTER JAYA.pptx
PPT STUPRO KELURAHAN SUNTER JAYA.pptxPPT STUPRO KELURAHAN SUNTER JAYA.pptx
PPT STUPRO KELURAHAN SUNTER JAYA.pptx
MeyrianaPrabowo
 
Penumbuhkembangan Wirausaha-dekranasda.pptx
Penumbuhkembangan Wirausaha-dekranasda.pptxPenumbuhkembangan Wirausaha-dekranasda.pptx
Penumbuhkembangan Wirausaha-dekranasda.pptx
BIdangPembinaanUKMPr
 
Ernan rustiadi suburbanisasi kota jakarta
Ernan rustiadi suburbanisasi kota jakartaErnan rustiadi suburbanisasi kota jakarta
Ernan rustiadi suburbanisasi kota jakartaRamadhani2603
 
Aspek – aspek pelayanan dasar dalam ipp dan spm desa
Aspek – aspek pelayanan dasar dalam ipp dan spm desaAspek – aspek pelayanan dasar dalam ipp dan spm desa
Aspek – aspek pelayanan dasar dalam ipp dan spm desa
Gedhe Foundation
 
Materi pembangunan ekonomi daerah
Materi pembangunan ekonomi daerahMateri pembangunan ekonomi daerah
Materi pembangunan ekonomi daerahDarwin Damanik
 
Kajian Buku III RPJMN 2015-2019 Nusa Tenggara Timur
Kajian Buku III RPJMN 2015-2019 Nusa Tenggara TimurKajian Buku III RPJMN 2015-2019 Nusa Tenggara Timur
Kajian Buku III RPJMN 2015-2019 Nusa Tenggara Timur
Oswar Mungkasa
 

Similar to Pemerataan_pembangunan_di INDONESIA, Tujuan, manfaat (20)

Peran penting penanganan masalah kependudukan
Peran penting penanganan masalah kependudukanPeran penting penanganan masalah kependudukan
Peran penting penanganan masalah kependudukan
 
Peran penting penanganan masalah kependudukan
Peran penting penanganan masalah kependudukanPeran penting penanganan masalah kependudukan
Peran penting penanganan masalah kependudukan
 
tifa_persoalanketimpangan_erani_0.pptx
tifa_persoalanketimpangan_erani_0.pptxtifa_persoalanketimpangan_erani_0.pptx
tifa_persoalanketimpangan_erani_0.pptx
 
Training PELD 2014
Training PELD 2014Training PELD 2014
Training PELD 2014
 
Paparan Wamen PPN Bappenas - RBSummit
Paparan Wamen PPN Bappenas - RBSummitPaparan Wamen PPN Bappenas - RBSummit
Paparan Wamen PPN Bappenas - RBSummit
 
Laporan-Perkembangan-Ekonomi (1).pdf
Laporan-Perkembangan-Ekonomi (1).pdfLaporan-Perkembangan-Ekonomi (1).pdf
Laporan-Perkembangan-Ekonomi (1).pdf
 
Urbanisasi di Kal Sel
Urbanisasi di Kal SelUrbanisasi di Kal Sel
Urbanisasi di Kal Sel
 
Kabupaten Bangka Selatan - KPDT 2013
Kabupaten Bangka Selatan - KPDT 2013Kabupaten Bangka Selatan - KPDT 2013
Kabupaten Bangka Selatan - KPDT 2013
 
Agregat data provinsi
Agregat data provinsiAgregat data provinsi
Agregat data provinsi
 
Profil provinsi lampung dan ekonomi kreatif
Profil provinsi lampung dan ekonomi kreatifProfil provinsi lampung dan ekonomi kreatif
Profil provinsi lampung dan ekonomi kreatif
 
Presentasi kependudukan (kb)
Presentasi kependudukan (kb)Presentasi kependudukan (kb)
Presentasi kependudukan (kb)
 
Surakarta profile
Surakarta profileSurakarta profile
Surakarta profile
 
DRAFT EKSPOSE KA BAPPEDA_DJCB.pdf
DRAFT EKSPOSE KA BAPPEDA_DJCB.pdfDRAFT EKSPOSE KA BAPPEDA_DJCB.pdf
DRAFT EKSPOSE KA BAPPEDA_DJCB.pdf
 
Contoh makalah-ketenagakerjaan
Contoh makalah-ketenagakerjaanContoh makalah-ketenagakerjaan
Contoh makalah-ketenagakerjaan
 
PPT STUPRO KELURAHAN SUNTER JAYA.pptx
PPT STUPRO KELURAHAN SUNTER JAYA.pptxPPT STUPRO KELURAHAN SUNTER JAYA.pptx
PPT STUPRO KELURAHAN SUNTER JAYA.pptx
 
Penumbuhkembangan Wirausaha-dekranasda.pptx
Penumbuhkembangan Wirausaha-dekranasda.pptxPenumbuhkembangan Wirausaha-dekranasda.pptx
Penumbuhkembangan Wirausaha-dekranasda.pptx
 
Ernan rustiadi suburbanisasi kota jakarta
Ernan rustiadi suburbanisasi kota jakartaErnan rustiadi suburbanisasi kota jakarta
Ernan rustiadi suburbanisasi kota jakarta
 
Aspek – aspek pelayanan dasar dalam ipp dan spm desa
Aspek – aspek pelayanan dasar dalam ipp dan spm desaAspek – aspek pelayanan dasar dalam ipp dan spm desa
Aspek – aspek pelayanan dasar dalam ipp dan spm desa
 
Materi pembangunan ekonomi daerah
Materi pembangunan ekonomi daerahMateri pembangunan ekonomi daerah
Materi pembangunan ekonomi daerah
 
Kajian Buku III RPJMN 2015-2019 Nusa Tenggara Timur
Kajian Buku III RPJMN 2015-2019 Nusa Tenggara TimurKajian Buku III RPJMN 2015-2019 Nusa Tenggara Timur
Kajian Buku III RPJMN 2015-2019 Nusa Tenggara Timur
 

More from TheresiaSimamora1

BAB 4 C IPS KLS 9 TENTANG MASA DEMOKRASI TERPIMPIN.pptx
BAB 4 C IPS KLS 9 TENTANG MASA DEMOKRASI TERPIMPIN.pptxBAB 4 C IPS KLS 9 TENTANG MASA DEMOKRASI TERPIMPIN.pptx
BAB 4 C IPS KLS 9 TENTANG MASA DEMOKRASI TERPIMPIN.pptx
TheresiaSimamora1
 
IAD,+sumber+daya+alam+6 (1).pptx
IAD,+sumber+daya+alam+6 (1).pptxIAD,+sumber+daya+alam+6 (1).pptx
IAD,+sumber+daya+alam+6 (1).pptx
TheresiaSimamora1
 
PPT Diaspora Bangsa Indonesia.pptx
PPT Diaspora Bangsa Indonesia.pptxPPT Diaspora Bangsa Indonesia.pptx
PPT Diaspora Bangsa Indonesia.pptx
TheresiaSimamora1
 
PPT LES TARIAN SUKU NIAS.pptx
PPT LES TARIAN SUKU NIAS.pptxPPT LES TARIAN SUKU NIAS.pptx
PPT LES TARIAN SUKU NIAS.pptx
TheresiaSimamora1
 
Catatan I.pptx
Catatan I.pptxCatatan I.pptx
Catatan I.pptx
TheresiaSimamora1
 
PPT Sosialisasi, Nilai dan Norma.pptx
PPT Sosialisasi, Nilai dan Norma.pptxPPT Sosialisasi, Nilai dan Norma.pptx
PPT Sosialisasi, Nilai dan Norma.pptx
TheresiaSimamora1
 

More from TheresiaSimamora1 (6)

BAB 4 C IPS KLS 9 TENTANG MASA DEMOKRASI TERPIMPIN.pptx
BAB 4 C IPS KLS 9 TENTANG MASA DEMOKRASI TERPIMPIN.pptxBAB 4 C IPS KLS 9 TENTANG MASA DEMOKRASI TERPIMPIN.pptx
BAB 4 C IPS KLS 9 TENTANG MASA DEMOKRASI TERPIMPIN.pptx
 
IAD,+sumber+daya+alam+6 (1).pptx
IAD,+sumber+daya+alam+6 (1).pptxIAD,+sumber+daya+alam+6 (1).pptx
IAD,+sumber+daya+alam+6 (1).pptx
 
PPT Diaspora Bangsa Indonesia.pptx
PPT Diaspora Bangsa Indonesia.pptxPPT Diaspora Bangsa Indonesia.pptx
PPT Diaspora Bangsa Indonesia.pptx
 
PPT LES TARIAN SUKU NIAS.pptx
PPT LES TARIAN SUKU NIAS.pptxPPT LES TARIAN SUKU NIAS.pptx
PPT LES TARIAN SUKU NIAS.pptx
 
Catatan I.pptx
Catatan I.pptxCatatan I.pptx
Catatan I.pptx
 
PPT Sosialisasi, Nilai dan Norma.pptx
PPT Sosialisasi, Nilai dan Norma.pptxPPT Sosialisasi, Nilai dan Norma.pptx
PPT Sosialisasi, Nilai dan Norma.pptx
 

Recently uploaded

Tugas_Rasianto-Refleksi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK.pdf
Tugas_Rasianto-Refleksi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK.pdfTugas_Rasianto-Refleksi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK.pdf
Tugas_Rasianto-Refleksi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK.pdf
nurfaridah271
 
Demonstrasi Konseptual Modul 2.1 - RPP Berdiferensiasi.pdf
Demonstrasi Konseptual Modul 2.1 - RPP Berdiferensiasi.pdfDemonstrasi Konseptual Modul 2.1 - RPP Berdiferensiasi.pdf
Demonstrasi Konseptual Modul 2.1 - RPP Berdiferensiasi.pdf
d2spdpnd9185
 
AKSI NYATA PENDIDIKAN INKLUSIF_Baedlawi.pdf
AKSI NYATA PENDIDIKAN INKLUSIF_Baedlawi.pdfAKSI NYATA PENDIDIKAN INKLUSIF_Baedlawi.pdf
AKSI NYATA PENDIDIKAN INKLUSIF_Baedlawi.pdf
opkcibungbulang
 
Novel - PERISTIWA YANG MEMBERIKAN TELADAN.pptx
Novel - PERISTIWA YANG MEMBERIKAN TELADAN.pptxNovel - PERISTIWA YANG MEMBERIKAN TELADAN.pptx
Novel - PERISTIWA YANG MEMBERIKAN TELADAN.pptx
NirmalaJane
 
LAPORAN BIMBINGAN TEKNIS TRANSISI PAUD - SD.pdf
LAPORAN BIMBINGAN TEKNIS TRANSISI PAUD - SD.pdfLAPORAN BIMBINGAN TEKNIS TRANSISI PAUD - SD.pdf
LAPORAN BIMBINGAN TEKNIS TRANSISI PAUD - SD.pdf
RosidaAini3
 
Kisi-kisi PAT IPS Kelas 8 semester 2.pdf
Kisi-kisi PAT IPS Kelas 8 semester 2.pdfKisi-kisi PAT IPS Kelas 8 semester 2.pdf
Kisi-kisi PAT IPS Kelas 8 semester 2.pdf
indraayurestuw
 
Teori Fungsionalisme Kulturalisasi Talcott Parsons (Dosen Pengampu : Khoirin ...
Teori Fungsionalisme Kulturalisasi Talcott Parsons (Dosen Pengampu : Khoirin ...Teori Fungsionalisme Kulturalisasi Talcott Parsons (Dosen Pengampu : Khoirin ...
Teori Fungsionalisme Kulturalisasi Talcott Parsons (Dosen Pengampu : Khoirin ...
nasrudienaulia
 
LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM TENTANG MENGUKUR KEANEKARAGAMAN JENIS FLORA D...
LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM TENTANG  MENGUKUR KEANEKARAGAMAN JENIS FLORA D...LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM TENTANG  MENGUKUR KEANEKARAGAMAN JENIS FLORA D...
LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM TENTANG MENGUKUR KEANEKARAGAMAN JENIS FLORA D...
HengkiRisman
 
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdfMODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
YuristaAndriyani1
 
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
tsuroyya38
 
Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase eAlur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
MsElisazmar
 
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28 Juni 2024
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28  Juni 2024Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28  Juni 2024
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28 Juni 2024
Kanaidi ken
 
Perencanaan Berbasis Data Satuan Pendidikan Jenjang SMP
Perencanaan Berbasis Data Satuan Pendidikan Jenjang SMPPerencanaan Berbasis Data Satuan Pendidikan Jenjang SMP
Perencanaan Berbasis Data Satuan Pendidikan Jenjang SMP
TriSutrisno48
 
RPH BAHASA MELAYU TAHUN 6 SJKC 2024.pptx
RPH BAHASA MELAYU TAHUN 6 SJKC 2024.pptxRPH BAHASA MELAYU TAHUN 6 SJKC 2024.pptx
RPH BAHASA MELAYU TAHUN 6 SJKC 2024.pptx
YongYongYong1
 
Pembelajaran Ekosistem Kelas 5 Semester 1
Pembelajaran Ekosistem Kelas 5 Semester 1Pembelajaran Ekosistem Kelas 5 Semester 1
Pembelajaran Ekosistem Kelas 5 Semester 1
niswati10
 
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi KomunikasiMateri Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
AdePutraTunggali
 
PPT PENGELOLAAN KINERJA PADA PMM SEKOLAH.pptx
PPT PENGELOLAAN KINERJA PADA PMM SEKOLAH.pptxPPT PENGELOLAAN KINERJA PADA PMM SEKOLAH.pptx
PPT PENGELOLAAN KINERJA PADA PMM SEKOLAH.pptx
AqlanHaritsAlfarisi
 
peluang kejadian total dan kaidah nbayes
peluang kejadian total dan kaidah nbayespeluang kejadian total dan kaidah nbayes
peluang kejadian total dan kaidah nbayes
ayyurah2004
 
SAINS TINGKATAN 4 BAB 11 DAYA DAN GERAKAN
SAINS TINGKATAN 4 BAB 11 DAYA DAN GERAKANSAINS TINGKATAN 4 BAB 11 DAYA DAN GERAKAN
SAINS TINGKATAN 4 BAB 11 DAYA DAN GERAKAN
NURULNAHARIAHBINTIAH
 
Modul Ajar Statistika Data Fase F kelas
Modul Ajar Statistika Data Fase F  kelasModul Ajar Statistika Data Fase F  kelas
Modul Ajar Statistika Data Fase F kelas
ananda238570
 

Recently uploaded (20)

Tugas_Rasianto-Refleksi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK.pdf
Tugas_Rasianto-Refleksi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK.pdfTugas_Rasianto-Refleksi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK.pdf
Tugas_Rasianto-Refleksi - Pembelajaran Diferensiasi dalam PJOK.pdf
 
Demonstrasi Konseptual Modul 2.1 - RPP Berdiferensiasi.pdf
Demonstrasi Konseptual Modul 2.1 - RPP Berdiferensiasi.pdfDemonstrasi Konseptual Modul 2.1 - RPP Berdiferensiasi.pdf
Demonstrasi Konseptual Modul 2.1 - RPP Berdiferensiasi.pdf
 
AKSI NYATA PENDIDIKAN INKLUSIF_Baedlawi.pdf
AKSI NYATA PENDIDIKAN INKLUSIF_Baedlawi.pdfAKSI NYATA PENDIDIKAN INKLUSIF_Baedlawi.pdf
AKSI NYATA PENDIDIKAN INKLUSIF_Baedlawi.pdf
 
Novel - PERISTIWA YANG MEMBERIKAN TELADAN.pptx
Novel - PERISTIWA YANG MEMBERIKAN TELADAN.pptxNovel - PERISTIWA YANG MEMBERIKAN TELADAN.pptx
Novel - PERISTIWA YANG MEMBERIKAN TELADAN.pptx
 
LAPORAN BIMBINGAN TEKNIS TRANSISI PAUD - SD.pdf
LAPORAN BIMBINGAN TEKNIS TRANSISI PAUD - SD.pdfLAPORAN BIMBINGAN TEKNIS TRANSISI PAUD - SD.pdf
LAPORAN BIMBINGAN TEKNIS TRANSISI PAUD - SD.pdf
 
Kisi-kisi PAT IPS Kelas 8 semester 2.pdf
Kisi-kisi PAT IPS Kelas 8 semester 2.pdfKisi-kisi PAT IPS Kelas 8 semester 2.pdf
Kisi-kisi PAT IPS Kelas 8 semester 2.pdf
 
Teori Fungsionalisme Kulturalisasi Talcott Parsons (Dosen Pengampu : Khoirin ...
Teori Fungsionalisme Kulturalisasi Talcott Parsons (Dosen Pengampu : Khoirin ...Teori Fungsionalisme Kulturalisasi Talcott Parsons (Dosen Pengampu : Khoirin ...
Teori Fungsionalisme Kulturalisasi Talcott Parsons (Dosen Pengampu : Khoirin ...
 
LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM TENTANG MENGUKUR KEANEKARAGAMAN JENIS FLORA D...
LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM TENTANG  MENGUKUR KEANEKARAGAMAN JENIS FLORA D...LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM TENTANG  MENGUKUR KEANEKARAGAMAN JENIS FLORA D...
LAPORAN PRAKTIKUM EKOLOGI UMUM TENTANG MENGUKUR KEANEKARAGAMAN JENIS FLORA D...
 
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdfMODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
MODUL P5 FASE B KELAS 4 MEMBUAT COBRICK.pdf
 
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
92836246-Soap-Pada-Pasien-Dengan-as-Primer.pdf
 
Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase eAlur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
Alur tujuan pembelajaran bahasa inggris kelas x fase e
 
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28 Juni 2024
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28  Juni 2024Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28  Juni 2024
Workshop "CSR & Community Development (ISO 26000)"_di BALI, 26-28 Juni 2024
 
Perencanaan Berbasis Data Satuan Pendidikan Jenjang SMP
Perencanaan Berbasis Data Satuan Pendidikan Jenjang SMPPerencanaan Berbasis Data Satuan Pendidikan Jenjang SMP
Perencanaan Berbasis Data Satuan Pendidikan Jenjang SMP
 
RPH BAHASA MELAYU TAHUN 6 SJKC 2024.pptx
RPH BAHASA MELAYU TAHUN 6 SJKC 2024.pptxRPH BAHASA MELAYU TAHUN 6 SJKC 2024.pptx
RPH BAHASA MELAYU TAHUN 6 SJKC 2024.pptx
 
Pembelajaran Ekosistem Kelas 5 Semester 1
Pembelajaran Ekosistem Kelas 5 Semester 1Pembelajaran Ekosistem Kelas 5 Semester 1
Pembelajaran Ekosistem Kelas 5 Semester 1
 
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi KomunikasiMateri Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
Materi Feedback (umpan balik) kelas Psikologi Komunikasi
 
PPT PENGELOLAAN KINERJA PADA PMM SEKOLAH.pptx
PPT PENGELOLAAN KINERJA PADA PMM SEKOLAH.pptxPPT PENGELOLAAN KINERJA PADA PMM SEKOLAH.pptx
PPT PENGELOLAAN KINERJA PADA PMM SEKOLAH.pptx
 
peluang kejadian total dan kaidah nbayes
peluang kejadian total dan kaidah nbayespeluang kejadian total dan kaidah nbayes
peluang kejadian total dan kaidah nbayes
 
SAINS TINGKATAN 4 BAB 11 DAYA DAN GERAKAN
SAINS TINGKATAN 4 BAB 11 DAYA DAN GERAKANSAINS TINGKATAN 4 BAB 11 DAYA DAN GERAKAN
SAINS TINGKATAN 4 BAB 11 DAYA DAN GERAKAN
 
Modul Ajar Statistika Data Fase F kelas
Modul Ajar Statistika Data Fase F  kelasModul Ajar Statistika Data Fase F  kelas
Modul Ajar Statistika Data Fase F kelas
 

Pemerataan_pembangunan_di INDONESIA, Tujuan, manfaat

  • 1.
  • 2.  Mobilitas Penduduk merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persebaran penduduk  Mobilitas penduduk menjadi salah satu faktor yang mendorong perubahan kondisi sosial ekonomi suatu wilayah  Mobilitas penduduk yang tidak terkendali akan menyebabkan penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan
  • 3. Wilayah Sumatera Share PDRB thd Nasional 21,55% Pertumb. Ekonomi 4,65% Pendaptn perkapita 9,80 jt Penduduk miskin 7,3 jt (14,4%) Wilayah Jawa Bali Share PDRB thd Nasional 62,00% Pertumbh Ekonomi 5.89% Pendapt perkapita 11,27 jt Pendudk miskin 20,19 jt (12,5%) Wilayah Nusa Tenggara Share PDRB thd Nasional 1,42% Pertmbuh Ekonomi 3,50% Pendapt perkapita 3,18 jt Pendudk miskin 2,17 jt (24,8%) Wilayah Kalimantan Share PDRB thdp Nasional 8,83% Pertumb. Ekonomi 5.26% Pendaptn perkapita 13,99 jt Pendudk miskin 1,21 jt (9%) Wilayah Sulawesi Share PDRB thd Nasional 4,60% Pertmbh Ekonomi 7.72% Pendapt perkapita 4,98 jt Pendudk miskin 2,61 jt (17,6%) Wilayah Maluku Share PDRB thd Nasional 0,32% Pertumbh Ekonomi 4,94% Pendaptn Perkapita 2,81 jt Pendudk Miskin 0,49 jt (20,5%) Wilayah Papua Share PDRB thd Nasional 1,28% Pertmbuh Ekonomi 0,60% Pendaptn perkapita 8,96 jt Pndudk miskin 0,98 jt (36,1%) Sumber : diolah dari BPS, 2008 Ket : Harga Konstan KESENJANGAN WILAYAH
  • 4.
  • 5. 60.00 62.00 64.00 66.00 68.00 70.00 72.00 74.00 1996 1999 2002 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 67.70 64.30 65.80 69.60 69.57 70.10 70.59 71.17 71.76 72.27 72.27 0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 2010 2011 Perkembangan IPM Indonesia 1996 - 2011 IPM per provinsi 2010-2011
  • 6. Tema Pembangunan & Interkonektivitas Koridor Ekonomi (MP3EI) “Pendorong Industri dan Jasa Nasional” “Sentra Produksi dan Pengolahan Hasil Bumi dan Lumbung Energi Nasional” “Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Tambang dan Lumbung Energi Nasional” “Pintu Gerbang Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional” “Pusat Produksi dan Pengolahan Hasil Pertanian, Perkebunan, Perikanan, Migas dan Pertambangan Nasional” “Pusat Pengembangan Pangan, Perikanan, Energi dan Pertambangan Nasional” ADA GULA ADA SEMUT  PEOPLE FOLLOW JOBS
  • 7. PETA PUSAT PERTUMBUHAN AKTUAL DAN KAWASAN HINTERLAND-NYA aliran transaksi input output
  • 8. 0.329 0.32 0.32 0.363 0.33 0.36 0.35 0.36 4.3 4.5 5.1 5.6 4.5 6.0 6.2 5.5 0 1 2 3 4 5 6 7 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 G ini R atio (% ) E conomic G rowth Pertumbuhan dan Ketimpangan di Indonesia (BPS 2010) Meski secara nasional menurun (0.331), ketimpangan pendapatan masyarakat di perdesaan justru melonjak pada tahun ini dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan rasio Gini hanya terjadi di perkotaan dari 0,362 menjadi 0,352, sedangkan di perdesaan justru meningkat menjadi 0,297 dari 0,288.
  • 9. Terjadi disparitas konsentrasi maupun pertumbuhan ekonomi antar-daerah  Porsi ekonomi masih terkonsentrasi di wilayah Jawa dan Sumatera dengan pangsa mencapai 61,0% dan 20,9% (rata-rata tahun 2001-2009).  Pertumbuhan ekonomi wilayah Sulampua relatif lebih rendah (4,3%), di bawah pertumbuhan ekonomi nasional 5,1% (rata-rata 2001-2009).  Disparitas pertumbuhan ekonomi antar-daerah sedikit melebar setelah otonomi daerah. Pertumbuhan Ekonomi Daerah (%, yoy) 1990-2000* 2001-2009 Nasional 6,8 5,1 Sumatera 5,6 3,1 Jawa 7,4 5,2 Bali-Nusa Tenggara 9,5 4,6 Kalimantan 6,6 3,7 Sulampua 8,3 4,3 Aceh 2,7 -0,8 Sumut 7,9 5,4 Sumbar 6,7 5,3 Riau 4,7 0,4 Jambi 7,5 6,1 Sumsel 5,4 4,3 Bengkulu 6,6 5,2 Lampung 7,4 5,0 Jakarta 8,0 5,6 Jabar 6,0 5,0 Jateng 6,3 4,9 DIY 6,0 4,4 Jatim 6,8 5,2 Bali 7,5 4,8 NTB 14,6 4,2 NTT 12,9 5,3 Kalbar 7,4 4,6 Kalteng 7,4 5,4 Kaltim 6,1 2,7 Kalsel 7,7 6,0 Sulteng 7,5 6,8 Sulsel 7,2 4,9 Sultra 7,3 7,2 Sulut 8,2 5,2 Maluku 5,3 4,1 Irian Jaya 9,8 1,8 *) excluding 1998 & 1999 Provinsi Rata-Rata Pertumbuhan
  • 10. Supply side Demand side  Adanya sektor basis yang memiliki keunggulan comparative dan competitive  Pengembangan sektor unggulan yang menciptakan multiplier effect thdp pembangunan regional (khususnya kemiskinan dan penyerapan TK)  Peningkatan produksi sektor2 unggulan, diversifikasi hulu-hilir sektor/komoditas unggulan  Kebocoran:  Kegiatan produksi dikuasai/dimiliki oleh penduduk di luar kawasan  Proses peningkatan nilai tambah • Peningkatan akses pada pusat- pusat pelayanan untuk menciptakan income multiplication • Menurunkan biaya-biaya konsumsi barang dan jasa • Kebocoran: jika orientasi mengkonsumsi barang dan jasa banyak dilakukan di luar Membangun & mengembangkan permukiman yang berdaya saing
  • 11.  Terbatasnya infrastruktur dan sumber daya pendukung  Bervariasinya kebijakan di setiap daerah dalam peningkatan kualitas penduduk pasca pemberlakuan otonomi daerah  Adanya perbedaan persepsi yang mungkin terjadi antara penduduk sebagai penerima manfaat dengan pemerintah dalam upaya peningkatan kualitas penduduk  Perbedaan kondisi geografis, demografis, sosial-budaya, serta taraf ekonomi di setiap daerah  Tingginya komponen biaya administrasi dan transaksi dalam setiap program pembangunan.  Ketersediaan data kualitas penduduk di setiap daerah
  • 12. Kebijakan makro mobilitas penduduk * ekonomi makro 1967-1980, pemusatan industri manufaktur di Jakarta dan pesisir Jawa  urbanisasi meningkat * 1980, mekanisasi sektor pertanian yg berakibat penurunan daya serap TK sektor pertanian  migrasi desa - kota & peningkatan transmigrasi paruh tahun dasawarsa 80-an dan pengembangan KTI 12
  • 13.  Tahun 1990an ◦ Perubahan kebijakan di bidang transmigrasi  trans swakarsa ◦ Pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi terpadu  Tahun 2000-an ◦ Otonomi Daerah  Beberapa daerah melakukan pembatasan migrasi penduduk  Lebih banyak migran spontan,  Peningkatan migrasi keluarga 13
  • 15. Migrasi merupakan respon manusia atas kesempatan-kesempatan yang ada dalam rangka meningkatkan taraf hidup. Pola migrasi di negara-negara berkembang mencerminkan distribusi kesempatan ekonomi yang tidak merata. Pola migrasi di negara berkembang menggambarkan pola yang mengutub, dimana arus migrasi cenderung menuju ke tempat-tempat tertentu saja. Pola Migrasi di Negara Berkembang
  • 16. Jakarta Bali Kalimantan Timur Kepulauan riau Migrasi Angkatan Kerja Antar Provinsi, 201010
  • 17. Jumlah Tenaga Kerja Migran Menurut Provinsi Tahun 2000 dan 2005 0 5000000 10000000 15000000 20000000 25000000 NAD Sumut Sumbar Riau Jambi Sumsel Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah D.I Yogyakarta Jawa Timur Bali NTB NTT Kalbar Kalteng Kalsel Kaltim Sulut Sulteng Sulsel Sul.Tenggara Maluku Irian Jaya 2000 2005 Provinsi-provinsi yang mengalami peningkatan jumlah tenaga kerja migran: Riau, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Utara.
  • 18. 38% 29% 2% 3% 19% 4% 1% 4% Pekerjaan Mencari Pekerjaan Pendidikan Perubahan Status Perkawinan ikut keluarga inti/famili lain perumahan keamanan lainnya&TT Alasan Bermigrasi Para Pekerja Migran di Indonesia, 2010
  • 19. Riau, Jambi, Banten, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara memiliki proporsi migran positif. Sumatera Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Sulawesi Selatan, Gorontalo dan Maluku mengalami proporsi negatif. Proporsi Migran Seumur Hidup menurut Provinsi di Indonesia
  • 20. Proporsi Migran Risen menurut Provinsi di Indonesia Beberapa provinsi menarik bagi para migran karena memiliki prospek ketenagakerjaan dan memberi kenyamanan untuk ditempati : Riau, Jambi, Banten, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.
  • 21. Pulau 1980 1990 1995 2000 2005 Sumatra 53,85 6,52 -12,50 0,14 -3,15 Jawa - 63,36 -18,75 6,36 -2,87 -3,06 Kalimantan 8,36 8,47 4,30 2,89 -0,33 Sulawesi 3,11 0,53 0,85 0,32 2,15 Kepulauan Lain -2,07 3,24 1,00 -0,47 4,39
  • 22.  Sehubungan dengan pertambahan penduduk Indonesia yang cepat maka kota-kota besar pun mempunyai penduduk yang besar pula.  Tahun 1971 sekitar 17,4% penduduk tinggal di perkotaan, menjadi 43,1% tahun 2005 dan diperkirakan akan mencapai 64,2% tahun 2020  Migrasi desa-kota berpengaruh pada perluasan sektor jasa dan informal
  • 23. 1971 1980 1990 2000 2010 2020 NAD 8.4 8.9 15.8 23.6 34.3 44.9 Sumatera Utara 17.2 25.5 35.5 42.4 50.1 58.8 Sumatera barat 7 12.7 20.2 29 39.8 50.6 Riau 13.3 27.1 31.7 43.7 56.5 66.9 jambi 29.1 12.7 21.4 28.3 36.5 44.5 Sumatera Selatan 27 27.4 29.3 34.4 42.9 50.9 Bengkulu 11.7 9.4 20.4 29.4 41 51.7 Lampung 9.8 12.5 12.4 21 33.3 46.2 Bangka Belitung 0 0 0 43 52.2 60.3 DKI Jakarta 100 93.4 99.6 100 100 100 Jawa Barat 12.4 21 34.5 50.3 66.2 77.4 jawa Tengah 10.7 18.7 27 40.4 56.2 68 DI Yogyakarta 16.3 22.1 44.4 57.6 70.2 79.3 Jawa Timur 14.5 19.6 27.4 40.9 56.5 68.9 Banten 0 0 0 52.2 67.2 77.7 Bali 9.8 14.7 26.4 49.7 64.7 75.6 NTB 8.1 14.7 17.1 34.8 48.8 61 NTT 5.6 7.5 11.4 15.4 20.7 26.4 Kalimantan Barat 11 16.8 20 24.9 31.1 39 Kalimantan Tengah 12.4 10.3 17.6 27.5 40.7 53.3 Kalimantan Selatan 26.7 21.4 27.1 36.2 46.7 56.3 Kalimantan Timur 39.2 39.8 48.8 57.7 66.2 73.1 Sulawesi Utara 19.5 16.8 22.8 36.6 49.8 61.1 Sulawesi Tengah 5.7 9 16.4 19.3 22.9 27.3 Sulawesi Selatn 18.2 18.1 24.5 29.4 35.3 42.6 Sulawesi Tenggara 6.3 9.3 17 20.8 25.6 31.8 Gorontalo 0 0 0 25.4 36.8 47.8 Maluku 13.3 10.8 19 25.3 26.9 28.8 Maluku Utara 0 0 0 28.9 30.6 32.5 Papua 16.3 20.2 24 22.2 23.5 25.1 Indonesia 17.4 22.3 30.9 42 54.2 64.2
  • 24.  Pull factor yang demikian besar dari kota-kota dibandingkan perdesaan ditambah persentase penduduk terbesar ada di daerah perdesaan.  Tekanan sosial ekonomi penduduk dan menyempitnya lapangan kerja di perdesaan  Anggapan kota yang selalu memungkinkan seseorang untuk pengembangan diri secara cepat. Hal ini sering bertolak belakang dengan kenyataan. 24
  • 25.  Penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan  Perluasan daerah kumuh dan daerah informal di perkotaan  pertanahan, administrasi kependudukan, kriminalitas, status kesehatan, status pendidikan, air tanah dll. • Pendatang yang tak mempunyai keahlian atau mempunyai sedikit keterampilan yang sama sekali lain dari yang dibutuhkan di kota. Pembekalan untuk hidup di kota tak cukup didapatkan. • Walaupun pendatang mempunyai motivasi yang kuat untuk mengembangkan dirinya di kota tetapi kenyataannya kota sendiri belum siap menerimanya.
  • 26. Kota Jumlah Penduduk Jakarta 9,607,787 Surabaya 2,765,487 Bandung 2,394,873 Bekasi 2,334,871 Medan 2,097,610 Tangerang 1,798,601 Depok 1,738,570 Semarang 1,555,984 Palembang 1,455,284 Makassar 1,338,663 Tangerang Selatan 1,290,322 Batam 1,137,894 Jumlah Penduduk Perkotaan di 12 Kota Besar di Indonesia, 2010 diproyeksikan sekitar 60% penduduk yang tinggal di perkotaan berada di Jawa Pada tahun 2025.
  • 27. Metropolitan Regions (Daerah Inti) Daerah Sekitarnya Mebidang (Medan Binjai Deli Serdang) Kota Medan Kab. Deli Serdang Kota Binjai Jabodetabek (Jakarta Bogor Depok Tangerang Bekasi) Kota Jakarta Kab. Bogor Kab. Bekasi Kota Bogor Kota Bekasi Kota Depok Kab. Tangerang Kota Tangerang Bandung Raya Kota Bandung Kab. Bandung Kab. Sumedang Kota Cimahi Kedungsepur (Kendal Ungaran Semarang Purwodadi) Kota Semarang Kab. Demak Kab. Semarang Kab. Kendal Gerbangkertosusila (Gresik Bangkalan Mojokerto Surabaya Sidoarjo Lamongan) Kota Surabaya Kab. Sidoarjo Kab. Mojokerto Kab. Gresik Kab. Bangkalan Kab. Lamongan Kota Mojokerto Mamminasata (Makasar Maros Sungguminasa Takalar) Kota Makasar Kab. Takalar Kab. Goa Kab. Maros Sarbagita (Denpasar Badung Gianyar Tabanan) Kota Denpasar Kab. Badung Kab. Gianyar Kab. Tabanan 7 Metropolitan Area di Indonesia
  • 28. Proporsi Penduduk Perkotaan (Angka Urbanisasi) menurut Provinsi di Indonesia
  • 29. Proyeksi Angka Urbanisasi Proyeksi Urbanisasi Tahun 2000-2025 Menurut Provinsi Jumlah penduduk perkotaan meningkat antara 20-40 persen.
  • 30.  Mobilitas non permanen seringkali dibahas dalam lingkup mikro  Belum ada data nasional, tetapi SUPAS 2005 atau Sakernas 2007 sudah memasukkan data mobilitas non permanen khusus pekerja (lihat tabel berikut)  Bagaimana mencatat mobilitas non permanen sehingga hak-hak dasar mereka terpenuhi.  Kenyataan bahwa mobilitas non permanen menunjukkan peningkatan terutama mobilitas desa-kota
  • 31. • Ketimpangan Pembangunan Antar Daerah Terutama antar Perkotaan dan Pedesaan • Kelangkaan Pekerjaan di sektor pertanian dan Kepemilikan Tanah • Kelangkaan Fasilitas Pelayanan Sosial (Pendidikan, Kesehatan dll) • Peningkatan Harga tanah dan biaya hidup di kota, dll • Revolusi Colt (hugo & Hull, 1987) • Peningkatan sarana dan prasarana transportasi dan proses industrialisasi
  • 32. Powerpoint Templates Page 32 Metropolitan Area # Population # Commuters % Commuters Mebidang 3 866 226 319 683 9.24 Jabodetabek 23 673 955 2 659 561 12.36 Jakarta 8 860 381 1 092 538 13.45 Bodetabek 14 813 574 1 567 023 11.70 Bandung Raya 7 173 726 486 479 7.45 Kedungsepur 4 253 420 162 437 4.15 Gerbangkertosusila 8 619 447 288 582 3.65 Mamminasata 2 314 981 134 863 6.52 All of Metropolitans 49 901 755 4 051 605 8.93 Jumlah Penduduk yang melakukan Ulang Alik di 7 Daerah Metropolitan di Indonesia
  • 33.  Migrasi Internasional dari Indonesia didominasi overseas contract workers ke Arab audi, Malaysia, Singapura, Taiwan, Hongkong dan Korea  Teori Migrasi vs gender ◦ teori : migrasi didominasi oleh laki-laki, berumur produktif dan karena alasan ekonomi ◦ Kenyataan terjadi peningkatan migran perempuan baik alasan pribadi, keluarga, pendidikan, mengungsi, selain ekonomi. 7/4/2009 33
  • 34.  Pelecehan, penipuan, upah tidak dibayar pengingkaran kontrak dll (sejak dari proses perekrutan, pemberangkatan, di negara tujuan sampai kembali pulang)  Belum ada MoU antara Indonesia dengan negara-negara tujuan kecuali Malaysia  Belum ada perlindungan maksimal bagi buruh migran Internasional
  • 35.
  • 36. 0 20,000 40,000 60,000 80,000 100,000 120,000 140,000 160,000 2011 2012 10 Propinsi Terbesar Penempatan TKI Luar Negeri 10 Negara Terbesar Penempatan TKI
  • 37. • mobilitas antar daerah tetap meningkat hanya di beberapa daerah terjadi penurunan • Peningkatan konsentrasi penduduk di perkotaan • peningkatan mobilitas non permanen • peningkatan mobilitas internasional • peningkatan arus mobilitas tenaga kerja dari luar negeri 37
  • 38. • peningkatan mobilitas non permanen perlu penyediaan berbagai fasilitas sosial, ekonomi, budaya dan administrasi dll • penataan wilayah penyangga • migrasi internasional perlindungan hukum, kualitas keluarga migran, kesehatan reproduksi, sistem penggajian untuk TKA dll 38
  • 39. Umumnya kebijakan kependudukan dapat bersifat langsung (direct) dan tidak langsung (indirect) Ada 3 pendekatan dlm kebijakan mobilitas penduduk 1. Merangsang perpindahan penduduk  migrasi spontan 2. Menghambat perpindahan penduduk  Jakarta kota tertutup 3. Mengarahkan perpindahan penduduk sesuai kepentingan nasional : transmigrasi, pertumbuhan pusat-pusat ekonomi, rekayasa sosial, ekonomi, fisik dan demografi 39
  • 40.  Pengarahan mobilitas penduduk untuk : ◦ menumbuhkan kondisi kondusif bagi terjadinya migrasi internal yang harmonis; ◦ memberikan perlindungan penduduk yang terpaksa pindah karena keadaan (pengungsi); ◦ memberikan kemudahan, perlindungan dan pembinaan terhadap para migran internasional dan keluarganya; ◦ menciptakan keserasian, keselarasan, dan keseimbangan daya dukung dan daya tampung lingkungan; ◦ mengendalikan kuantitas penduduk disuatu daerah/wilayah tertentu; ◦ mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru; ◦ memperluas kesempatan kerja produktif; ◦ meningkatkan ketahanan nasional. 40
  • 41.  Untuk melakukan kebijakan pengarahan mobilitas penduduk diperlukan GRAND DESIGN Mobilitas Penduduk dengan memperhatikan : ◦ arah, volume, tujuan pelaku mobilitas ◦ Karakteristik pelaku mobilitas penduduk ◦ daya dukung dan daya tampung lingkungan ◦ arah pembangunan masing-masing daerah  Identifikasi : kelembagaan : siapa berbuat apa.

Editor's Notes

  1. Penduduk Indonesia lebih cenderung untuk berpindah dari daerah yang kurang memiliki kesejahteraan menuju ke daerah yang (dipandang) memiliki prospek ekonomi yang lebih baik, atau disebut migrasi internal. Pembahasan yang menarik dari migrasi internal di Indonesia adalah masih tingginya perpindahan penduduk satu propinsi ke propinsi lain, terutama perpindahan menuju propinsi besar seperti DKI Jakarta dan sekitarnya (wilayah metropolitan Jabodetabek), Bali (terutama pasca hari raya), Kepulauan Riau, dan Kalimantan Timur. Setiap tahun, pemerintah propinsi besar Indonesia seperti Jakarta, Bali, Surabaya, dan kota lainnya harus merencanakan maupun melakukan operasi kependudukan untuk mencegah masuknya penduduk migran tanpa tujuan dan identitas yang lengkap. Motif ekonomi pada tempat tinggal sebelumnya melatarbelakangi perpindahan para migran seperti tidak adanya lapangan pekerjaan, motif peningkatan status ekonomi, dan faktor ekonomi lainnya. Dengan latar belakang motif ekonomi, (secara hipotesis) penduduk yang bermigrasi adalah penduduk yang memiliki status angkatan kerja (yang bekerja maupun pengangguran). Secara nasional, peningkatan seluruh angkatan kerja migran dalam kurun waktu lima tahun sebesar 4.634.732 jiwa dengan rata-rata penambahan angkatan kerja per propinsi sebesar 178.259 jiwa. Gambar dibawah ini menunjukkan data perkembangan angkatan kerja migran untuk tahun 2000 dan 2005. Data menunjukkan bahwa mayoritas propinsi mengalami peningkatan jumlah angkatan kerja migran antara tahun 2000 dan 2005. Riau, Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Sulawesi Utara adalah primadona daerah tujuan migrasi oleh para angkatan kerja dimana peningkatannya lebih tinggi dibandingkan propinsi lainnya. Sedangkan beberapa propinsi mengalami penurunan jumlah pekerja migran, daerah tersebut adalah Sumatera Utara, Sumatera Selatan, NTB, dan Irian Jaya (Papua). Daerah-daerah yang memiliki peningkatan jumlah angkatan kerja migran dapat diartikan bahwa daerah tersebut memiliki daya tarik bagi mereka, terutama dalam segi prospek ekonomi (Hangonowati, 2011). Perpindahan penduduk antar desa, desa-kota, dan antar propinsi
  2. Selain itu, gambar menjelaskan bahwa persentase terbesar yaitu 38 persen angkatan kerja mengatakan alasan perpindahannya yaitu “pekerjaan” atau dapat diartikan mutasi pekerjaan membuat mereka harus pindah ke daerah lain. Dilanjutkan dengan tertinggi kedua yaitu 29 persen dari total angkatan kerja mengatakan alasan perpindahannya yaitu “mencari pekerjaan”. Tercatat bahwa 29 persen angkatan kerja tersebut tercatat berhasil/sudah mendapatkan pekerjaan di tahun 2005. Alasan pindah berdasarkan disagregasi propinsi tujuan memperlihatkan bahwa Riau, DKI Jakarta, Kalimantan Timur didominasi oleh angkatan kerja migran dengan alasan mencari pekerjaan sebesar 30-50 persen. (Hangonowati, 2011).
  3. Melihat pada rentang waktu yang lebih panjang, migrasi seumur hidup penduduk Indonesia tergambar bahwa selama 30 tahun pergerakannya semakin tinggi. Beberapa propinsi seperti Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Banten, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara memiliki proporsi penduduk migran positif dan semakin tinggi dalam rentang 30 tahun. Sedangkan propinsi seperti Sumatra Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sulsel, Gorontalo, Maluku memiliki proporsi penduduk migran negatif dan semakin kecil, dimana perpindahan penduduk dari propinsi kelahirannya cukup besar. Proporsi penduduk migran rendah mengindikasikan bahwa angka arus migrasi keluar lebih tinggi dibandingkan migrasi masuk. Fenomena migrasi yang ekstrim terjadi pada propinsi Papua, selama 30 tahun Papua memiliki proporsi migran positif dan mencapai tingkat tertingginya pada Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2005 namun menurun drastis pada lima tahun kemudian (Sensus Penduduk (SP) 2010). Perkembangan migrasi seumur hidup meliputi seluruh tipe penduduk yaitu termasuk angkatan kerja maupun bukan angkatan kerja. Angkatan kerja mungkin memiliki fleksibilitas atau probabilitas yang lebih besar dibandingkan bukan angkatan kerja untuk bermigrasi. Jenis migrasi yang dapat dilakukan adalah migrasi tidak permanen, permanen (seumur hidup) maupun nglaju. Tujuan atas migrasi yang dilakukan tenaga/angkatan kerja adalah mencari upah/gaji yang lebih baik. Propinsi tujuan migrasi seumur hidup seharusnya dapat dihipotesiskan bahwa propinsi tersebut juga berpotensi menjadi tujuan migrasi risen angkatan kerja untuk mencari penghidupan, lingkungan, maupun upah/gaji yang lebih baik. Pada gambaran sebelumnya, proporsi migran positif banyak berada pada propinsi yang baru berkembang (propinsi baru). Hal tersebut dikarenakan pengembangan daerah baru akan mendorong pertumbuhan lapangan pekerjaan maupun probabilitas peningkatan standar hidup dibandingkan daerah asal. Pada permukaan lainnya, proporsi migran negatif mengindikasikan propinsi tersebut tidak memiliki daya tarik bagi penduduknya. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh pertumbuhan ekonomi yang rendah, minimnya lapangan pekerjaan, maupun upah/gaji yang kurang memuaskan hingga lingkungan/budaya yang tidak sesuai dengan penduduk setempat. Selain itu, beberapa kejadian di propinsi tertentu dapat mendorong perpindahan migrasi negatif sehingga proporsi penduduk migran semakin rendah. Seperti Propinsi Bali, pada tahun 1980-1995 masih memiliki proporsi migran negatif namun seiring berkembangnya Bali sebagai salah satu pusat pariwisata dunia, proporsi migran pada 15 tahun selanjutnya berrnilai positif. Meskipun kejadian Bom Bali sempat menurunkan proporsi migran di Bali, proporsi penduduk migran di Bali kembali bernilai positif dan meningkat pada SP 2010. Papua juga memiliki fenomena yang hampir serupa. Sebagai propinsi yang kaya akan nilai tambangnya, proporsi penduduk migran cenderung positif dikarenakan adanya perpindahan penduduk yang bekerja dari daerah asalnya ke Papua. Adanya konflik di daerah Papua mendorong penurunan penduduk migran yang besar, meskipun tidak mencapai angka negatif, pada SP 2010. DKI Jakarta pun mengalami perubahan proporsi penduduk migran yang cukup unik. Selama 25 tahun proporsi penduduk migran positif dan semakin tinggi seiring berkembangnya Kota Jakarta menjadi kota metropolitan. Namun pada SP 2010 tercatat bahwa proporsi penduduk migran DKI Jakarta mengalami penurunan, penurunan terjadi bersamaan dengan jenuhnya pertumbuhan lapangan pekerjaan, lingkungan perumahan yang nyaman dan berbiaya murah.
  4. Dalam lima tahun, migrasi risen dapat merubah struktur jumlah penduduk di propinsi tujuan maupun propinsi sebelumnya. Migrasi risen lebih mampu menjelaskan dinamika perpindahan penduduk maupun angkatan kerja. Seperti halnya pada migrasi seumur hidup, beberapa propinsi seperti Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Banten, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara memiliki proporsi penduduk migran risen positif dan semakin tinggi dalam rentang 30 tahun. Propinsi-propinsi tersebut memiliki daya tarik tinggi bagi penduduk migran termasuk prospek pekerjaan maupun penghidupan yang menarik bagi penduduk, terutama angkatan kerja di Indonesia. Sedangkan propinsi seperti Sumatra Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sulsel, Gorontalo, Maluku memiliki proporsi penduduk migran negatif dan semakin kecil, dimana perpindahan penduduk keluar setiap lima tahunan dalam 30 tahun terakhir cukup tinggi. Delapan propinsi yang memiliki proporsi penduduk migran positif (migrasi positif) menandakan bahwa propinsi-propinsi tersebut memiliki daya tarik yang diminati oleh penduduk. Daya tarik dari keempat propinsi tersebut mengindikasikan bahwa banyaknya penduduk yang berharap memiliki kehidupan atau pekerjaan yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Jawa Barat dan Riau adalah dua propinsi yang nampaknya cukup berkembang pesat ditandai dengan banyaknya angkatan kerja yang masuk. Berbeda dengan DKI Jakarta dan Kalimantan Timur yang sudah jelas diminati sebagai tempat mencari pekerjaan yang lebih layak. DKI Jakarta sebagai pusat ibukota negara sedangkan Kalimantan Timur dengan potensi alamnya sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Tingkat migrasi netto yang positif menandakan bahwa faktor penarik migrasinya cukup tinggi sehingga mendorong angkatan kerja untuk bermigrasi. Secara umum dalam rentang waktu 30 tahun, terjadi peningkatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pada setiap propinsi di Indonesia. Propinsi Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Banten, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara memiliki perkembangan PDRB yang terus meningkat. Selain itu faktor perbedaan upah antara satu propinsi dengan propinsi lain mendorong perpindahan penduduk. Propinsi-propinsi yang memiliki proporsi penduduk migran positif cenderung memiliki tingkat upah minimum yang terus meningkat secara siginifikan dalam 30 tahun terakhir. Pengembangan propinsi baru di Indonesia membawa cerita tersendiri pada sejarah desentralisasi Indonesia. Propinsi-propinsi baru tidak memberikan jaminan adanya peningkatan yang signifikan dalam pertumbuhan ekonomi maupun kesejahteraan warganya. Terlihat bahwa dalam 30 tahun terakhir, pertumbuhan ekonomi maupun upah di Kepulauan Riau lebih tinggi dibandingkan dengan Gorontalo maupun Bangka Belitung. Faktor keberhasilan pemerintah daerah mengelola propinsinya, mampu menarik penduduk dari propinsi lain untuk mencari “ladang” penghidupan baru dan lebih baik. Ceteris paribus, melihat tingginya pendapatan regional yang tinggi secara implisit menandakan bahwa adanya peluang lapangan pekerjaan maupun upah atau gaji yang lebih tinggi. Propinsi Sumatra Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sulsel, Gorontalo, Maluku yang memiliki proporsi penduduk migran negatif menandakan tingginya penduduk yang memilih keluar dari propinsi sebelumnya dan mencari propinsi lain yang memiliki prospek penghidupan lebih baik. Keenam propinsi tersebut memiliki peningkatan PDRB yang cukup rendah begitu pula dengan peningkatan upah minimum yang lebih rendah dibandingkan propinsi-propinsi lainnya. Investasi juga berkaitan dengan penyediaan lapangan pekerjaan melalui transmisi pertumbuhan perekonomian suatu daerah. Seberapa besar kapital/investasi ditanamkan akan mempengaruhi tingkat penyerapan pekerja. Secara umum, investasi memiliki tujuan untuk meningkatkan kapasitas seperti perluasan pabrik atau penambahan mesin untuk mempermudah pekerjaan pekerja, dll. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTDB) direpresentasikan sebagai investasi yang mampu meningkatkan produksi dan diasumsikan bersifat substitusi terhadap pekerja. Faktor tersebut di setiap propinsi akan mendorong adanya perluasan kapasitas pabrik dengan teknologi yang lebih canggih dalam pemrosesan produksi. Peningkatan investasi pada suatu daerah akan meningkatkan permintaan angkatan kerja di daerah tersebut. Kapital yang bersifat jangka panjang seperti mesin, pabrik lebih cenderung memiliki sifat input substitusi terhadap pekerja dan hal tersebut tidak dapat dipastikan oleh angkatan kerja migran hingga para migran sampai dan melihat tingkat penyerapan pekerjanya. Rangkuti (2009) menuliskan bahwa berdasarkan Agesa (2001), proses migrasi terkait pada aspek ekonomi dan non-ekonomi. Begitu pula dengan teori yang dikemukakan oleh Todaro dan Harris bahwa ekspektasi perbedaan upah antara pedesaan dan perkotaan memotivasi untuk terjadinya migrasi. Nuryana (1997) juga menjelaskan satu teori disamping teori Todaro yaitu teori human capital yang diperkenalkan oleh Sjaastad (1962). Sjaastad mengatakan bahwa migrasi desa-kota hanya terjadi atau hanya dapat dilakukan oleh individu tertentu yang memiliki sufficient human capital seperti tingkat pendidikan tinggi, sehingga karena kualifikasinya bisa menembus persyaratan ketat sektor moderen-kota. Perbedaan antara desa-kota mendorong perpindahan penduduk dari desa ke kota, yang biasa disebut urbanisasi.