SlideShare a Scribd company logo
1 of 110
Download to read offline
1Edisi:4 Vol.1
edisi ke-3 vol1
1
Alamat Redaksi:
AL BINAA IBS, Jl. Raya Pebayuran Kertasari Pebayuran Bekasi Jabar 17710
Telp/Fax: 021 89150720/021 89150721 Website: www.majalahalbinaa.com
Email: redaksi@majalahalbinaa.com Sms: 085285107991- 081398176123
Penanggung Jawab: Aslam Muhsin Abidin, Lc., Pemimpin Umum: Sofyan Toha, S.Si.,
Pemimpin Redaksi: Agung Wahyu Adhy, Lc., Sekretaris Redaksi: Sulaeman, S.Pd.,
Staff Redaksi: Zaenal Arifin, Lc. ,Musthofa Aini, Lc., Nuralim, Lc., Zaenal Abidin, Lc.,
Saepul Anwar, S.Pd., Hasyim Nur. S.Pd. Editor: Suratman, S.Pd., Rafael Afrianto,Lc.,
Administrasi Keuangan: RM. Syarief Rusdy. SE., Pemasaran dan Sirkulasi: Taufiq Al Farizi, M.PFis.
Ilustrator: M.S. Haromain, S. Ikom., Web: Agus Setiawan,. ST.
‫وبركاته‬‫اهلل‬‫ورحمة‬‫عليكم‬‫السالم‬
‫وبركاته‬ ‫اهلل‬ ‫ورحمة‬ ‫عليكم‬ ‫السالم‬
salamredaksi
Saudaraku pembaca yang budiman….
A
lhamdulillah dengan ijin Allah l, majalah Al Binaa edisi ke empat
bisa hadir kembali menyapa pembaca sekalian. Tentu menjadi keingian
kita bersama agar majalah tercinta ini bisa hadir setiap bulan. Hanya
qodarullah wama syaa-a fa’al kami belum bisa mewujudkannya, lantaran
kelemahan dan kurangnya pengalaman kami. Namun tentu saja redaksi
berusaha semaksimal mungkin untuk bisa terbit pada waktunya dengan terus
berusaha memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Semoga Allah l
memberikan kemudahan kepada kita semua, amin.
Pembaca yang budiman….
Siapa di antara kita yang tidak mencintai nabi dan rasul? Tentu setiap kita
mencintai Beliau. Karena cinta kepada Beliau merupakan prinsip keimanan yang
tidak akan sempurna iman seorang muslim kecuali dengannya. Pertanyaannya
adalah, seberapa besar cita kita? Sudah benarkah cinta kita? Seperti apakah
cinta kita kepadanya? Bagaimanakah cara kita menumbuhkan cinta kepadanya?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut Insya Allah akan anda temukan
pada beberapa rubrik yang kami sajikan pada edisi ini.
Pada edisi kali ini, kami juga menyampaikan permohonan maaf karena ada
beberapa rubrik yang sementara tidak kami sajikan seperti rubrik tafsir, fiqh
dan ibroh. Sebagai penggantinya kami hadirkan rubrik baru yaitu manhaj dan
kesehatan. Untuk anda para remaja, rubrik for syabaab masih setia menemani
tentu dengan sajian-sajian yang menarik.
Akhirnya, hanya kepada Allah jualah kami memohon agar diberikan
kemudahan dalam menyusun majalah tercinta ini, dan diberikan istiqomah.
Selamat membaca…
Edisi:4 Vol.12
ROSAILUKUM
Akhi al-Qoori….rubrik ini kami siapkan
untuk antum semua para pembaca
yang budiman, sebagai ruang untuk
menyampaikankritik,saran,usul,komentar
yang membangun demi kelangsungan
majalah al binaa tercinta dan untuk
menjadikan majalah lebih baik. Silakan
kirim kritik, saran dan komentar antum
melalui email:
redaksi@majalahalbinaa.com atau sms
ke: 081398176123 / 085285107991
dengan mencantumkan nama dan
identitas diri antum.
ROSAILUKUM
Majalah albinaa masih banyak kekurangan, majalah
ini tidak memasukkan banyak fakta unik didalamnya,
apalagi santrinya sendiri, banyak santrinya yang
mempunyai keahlian besar dalam dunia tulis, tetapi
tidak di beri kesempatan di dalam majalah albinaa,
mungkin hanya sekedar puisi atau pantun yang
diberikan oleh majalah albinaa. @Al-Fatih Of Islam
Red:
Ahlan wa sahlan akhi Al-Fatih, jazakumullah
khoiron sudah bergabung dan menyapa majalah Al
Binaa. Benar sekali yang antum sampaikan, masih
banyak sekali kekurangan di majalah ini. Semoga
kedepan lebih baik lagi. Bagi antum yang punya
bakat menulis dan ingin berkontribusi, silakan kirim
ke email redaksi. Insya Allah tulisan yang sesuai
dengan visi majalah akan ditampilkan. Kami tunggu
tulisan antum.
Kita melihat cahaya islam mulai redup di negeri kita
tercinta ini. Semoga Majalah Al Binaa bisa menjadi
cahaya baru dalam sarana Da’wah dan Ta’lim. @ Zaid
Tsabit
Semoga semakin cepat diupdatenya dan kalau
bisa banyakin edisi Ilmiah nya semoga Allah selalu
mempermudah dalam pembuatannya. Aamiin…. @
Aqil Rabbani Nurhadi
Kalau bisa ada rubrik sendiri buat santri atau orang
lain seperti pada elfata ada rubrik surat pembaca atau
nasehat santri atau yang lain. Semoga bermanfaat. @
Zahid Rabbani
Red:
Amin, semoga harapan antum semua bisa
dimudahkan Allah ta’ala. Rubrik surat pembaca
sudah ada sejak edisi ke dua yaitu ROSAILUKUM,
silakan dimanfaatkan.
Alhamdulillah senang hati ini majalah al binaa sudah
edisi 4, mau langganan bagaimna caranya ya? syukron.
@Abu Islam
Red:
Ahlan wa sahlan, silakan untuk berlangganan bisa
menghubungi bagian sirkulasi.
Semoga majalah albinaa semakin maju kedepannya.
Disajikan dengan tema utama yang semakin menarik
dan juga muatan yang lebih berkualitas. Karena ini
merupakan salah satu media dakwah islamiyyah. @
Raihan Rakasiwi
Alhamdulillah majalah albinaa sudah mencapai edisi
4, dan semoga diberi kemudahan dalam edisi-edisi
selanjutnya dari Allah dan semoga majalah albinaa
ini bisa menjadi wadah dakwah islamiyyah dan media
dalam menyebarluaskan islam dan Albinaa sendiri. @
Haykal Abdi
Ini adalah salah satu upaya kita untuk menyebarkan
sunnah. Maka saya mendukung penuh dengan adanya
Majalah Albinaa. Semoga dengan adanya Majalah
Albinaa, kaum muslimin dapat belajar ilmu syari yang
benar. @ Rival Candra Dwiansyah
Bagi sobat-sobat sekalian yang membaca koment saya,
tolong bertakbir 3x untuk majalah albinaa, karena
ada kemungkinan untuk munculnya cahaya baru yang
membantu dalam pengokohan agama ini, dan saya
berharap mudah- mudahan semoga majalah albinaa
berfaidah bermanfaat dalam kehidupan manusia di
zaman ini…TOLONG BILANG AMIIN…@ Anfal Fami
Faqoth
Red:
Jazakumullah khoiron atas dukungan dan support
dari antum semua. Ini menjadi modal kami untuk
bisa istiqomah dalam meneribitkan edisi-edisi
berikutnya.
3Edisi:4 Vol.1
DAFTAR ISIEdisi ke-4 vol 1
TELADAN SALAF
RESENSI BUKU
FATAWA ULAMA
KISAH MEREKA
TIPS KESEHATAN
42
47
50
54
64
72
97
110
FOR SYABAB
REPORTASE SANTRI
MIMBAR SANTRI
redaksi@majalahalbinaa.com
Redaksi Majalah Albinaa
Redaksi Majalah Albinaa
Pendidikan Karakter
Curang Saat Ujian
Aku dan Diariku
Waspada Demam Berdarah Dengue
Akhwat Lolipop, Oke Fine Kita Putus, Islam is
Beautiful, Agar Ukhuwah Awet dan Berkah
Mukhoyam Tarbawy IX
Kemerdekaan
Salaf dan kekhawatiran mereka terhadap
ketenaran
MANHAJ
AQIDAH
PENDIDIKAN
HADITS
4
9
SIROH 36
16
23
SAINS 30
Maka Kemana Kamu akan Pergi
“Fa Aina Tadzhabun”
Menumbuhkan cinta kepada Sang Kekasih
Manajemen Cinta
Rahasia terjadinya Hujan Menurut Al Quran
Awal Dakwah Rasul & Penerima Dakwah
Paling Awal
Menyinergikan Pendidikan
Edisi:4 Vol.14
MANHAJ
Makna “Fa Aina Tadzhabun”
Kalimat di atas tampak
secara sekilas seolah
susunan kalimat yang
sangat biasa dan sederhana bila
dilihat dari struktur maupun
lafalnya. Diawali dengan huruf
“fa” , dilanjutkan dengan kata
tanya “aina" yang berarti ‘di
mana’, dan diakhiri dengan
“tadzhabun” yaitu kata kerja
untuk kata ganti antum (jamak).
Kalau diartikan secara harfiah,
maka kita dapatkan maknanya,
” maka, ke mana kamu akan
pergi ?" Namun, susunan
kalimat ini bukanlah diambil
dari sumber sembarangan
atau ucapan seseorang, apalagi
hanya untuk contoh gramatika
bahasa Arab saja. Ini adalah
“ kalamullah “ , ‘firman Allah
l dalam surat at-Takwir ayat:
26. Sehingga, tidak dengan
mudah dan begitu saja bisa kita
artikan secara kata per kata dan
hanya melihat apa yang tampak
secara dhahir semata.
Kamu Akan Pergi?”
“Maka ke Mana
َ‫ن‬ْ‫و‬ُ‫ب‬�َ‫ه‬ْ‫ذ‬َ‫ت‬ َ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫أ‬َ‫ف‬
Oleh: Aslam Muhsin Abidin, Lc.
MANHAJ
5Edisi:4 Vol.1
Kandungan Makna
Sebelum ayat ”fa
aina tadzhabun”, ada
gugusan ayat dalam
surat at-Takwir yang mengawali
rangkaian di mana Allahk
menjelaskan tentang hujjah
Al-Quran yang selama ini – saat
pertama Al-Quran diwahyukan
kepada Nabi Muhammad n
ditolak mentah-mentah oleh
orang-orang kafir Quraisy.
Di antara gugusan ayat-ayat
sebelumnya, bisa dijelaskan
dalam pointer berikut ini.
1. Dimulai dengan bagaimana
proses kiamat itu terjadi:
matahari telah digulung,
bintang-bintang berjatuhan,
gunung-gunung diterbangkan,
onta-onta bunting berguguran,
hewan-hewan liar dikumpulkan,
air laut membludak, semua
manusia dipilah-pilah, bayi-bayi
perempuan yang dikubur hidup-
hidup ditanya karena dosa
apakah bayi-bayi perempuan
itu dibunuh, ketika lembaran-
lembaran catatan amal dibagi-
bagikan, ketika langit dilepas
ikatannya, ketika
api Neraka Jahim
dinyalakan, ketika
Surga didekatkan
kepada orang-orang yang taat
kepada Allah dan bertauhid,
saat itu manusia baru menyadari
akan amal apa yang telah ia
kerjakan di dunia.
2. Kemudian dengan perkasanya
bagaimana Allah k
bersumpah dengan bintang-
bintang di langit yang bersinar
dan berkelip di malam hari dan
menghilang saat fajar dan siang
menjelang. Bintang-bintang ini
bukan hanya datang dan pergi
sesuka hati tetapi menuruti
perintah Al-Kholiq Rabbul
alamin. Bagaimana Allah l
bersumpah dengan gelapnya
sang malam bila telah datang
dan bersumpah dengan pagi saat
menyapa dunia dengan sinarnya.
Semua itu dan sunnatullah yang
lainnya menunjukkan tentang
qudrah dan iradah Allah k
yang sangat perkasa dan tidak
terbatas.
3. Selanjutnya, Sang Pencipta
َ‫ن‬ْ‫و‬ُ‫ب‬�َ‫ه‬ْ‫ذ‬َ‫ت‬ َ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫أ‬َ‫ف‬
Edisi:4 Vol.16
Rabbul alamin melanjutkan
hujjah yang begitu nyata dan
terang tersebut dengan qudrah
dan irodah yang lain yaitu
dengan menyampaikan bahwa
Al-Quran ini bukanlah rekayasa
Muhammad n, bukan tulisan
dan karangannya atau hasil
penelitian dan eksperimennya.
Tetapi Al-Quran ini telah dibawa
kepada Nabi Muhammad n
oleh “Rasul kariim”, ‘seorang
utusan Allah yang mulia', yaitu
Malaikat Jibril p, bukan
hanya mulia karena dimuliakan
Allah k, namun juga
Malaikat Jibril dibekali dengan
kekuatan yang mahadahsyat
karena turun dan naik ke
langit dunia menyampaikan
wahyu kepada baginda yang
mulia Nabi Muhammad n
dalam kurun waktu yang
sangat panjang selama kurang
lebih 23 tahun. Kemudian,
Allahl menambahkan lagi
kemuliaan Malaikat Jibril
dengan kedudukan Beliau
yang khusus di sisi Allahl,
sangat ditaati dan dihormati di
kalangan para malaikat yang
mulia u. Pamungkas di
antara sifat Malaikat Jibril p
yang disebut dalam surat at-
Takwir adalah “amiin”, ‘sangat
amanah’, ‘sangat terpercaya’.
Dengan karakter yang begitu
agung dan berwibawa serta
sifat superdahsyat seperti inilah
kemudian tugas menyampaikan
wahyu dibebankan kepada
Malaikat Jibril p.
4. Adapun hujjah selanjutnya
adalah penjelasan tentang siapa
Nabi kita yang mulia, baginda
Muhammad n. Maka Allah
k menyampaikan dengan
bahasa yang tidak mungkin
orang-orang kafir Quraisy
bisa membantahnya tentang
siapa Nabi Muhammad n.
Maka ayat itu berbunyi “ wa
ma shohibukum bi majnun “,
'dan tidaklah teman kalian
ini seorang yang gila', yaitu
Muhammad yang oleh kalian
sendiri wahai orang-orang
Quraiys telah disematkan
kepada beliau sebuah predikat
prestisius di mana predikat
MANHAJ
7Edisi:4 Vol.1
Al-Quran bukanlah perkataan
syithan 'setan' yang terkutuk.
Maka, atas semua hujjah
dan keterangan yang begitu
gamblang, jelas tanpa ada
kesamaran sedikit pun ini,
kemudian Allahkbertanya,
“Ke manakah akal kalian,
ke mana perginya akal dan
pemahaman kalian, bagaimana
kalian tidak bisa menerima hal
yang jelas seperti ini, dipakai
untuk apa akal kalian sehingga
tidak bisa mengerti ???.."
Al-hafizh Ibnu Katsir
berkata, ” Maka, bagaimana
akal kalian bisa hilang sehingga
kalian mendustakan al-Quran
yang sangat begitu jelas dan
terang dan Al-Quran itu benar-
benar turun dari Allahk”
Fa Aina Tadzhabun...?
Banyak yang kita fahami dari
urusan dunia walaupun terasa
pelik tetapi mengapa akal kita
kadang sulit untuk mengerti
hal-hal yang mudah dalam
syariat Islam ini. Banyak perkara
yang berat dalam urusan
ini belum pernah diberikan
kepada seorang pun sebelumnya
di kalangan mereka. Orang-
orang kafir Quraiys menggelari
Nabi Muhammad n dengan
sebutan Al-Amin yang dengan
gelar tersebut amatlah mustahil
kemudian Nabi Muhammad n
menjadi orang yang tertuduh
dalam akalnya sebagai seorang
gila atau dengan akhlak yang
tidak terpuji lainnya. Kemudian
diakhiri dengan hujjah yang
lain yang tak kalah terang
benderangnya yaitu bahwa
Al-hafizh Ibnu Katsir
berkata, ” Maka,
bagaimana akal kalian
bisa hilang sehingga
kalian mendustakan
al-Quran yang sangat
begitu jelas dan terang
dan Al-Quran itu
benar-benar turun dari
Allahk”
MANHAJ
MANHAJ
Edisi:4 Vol.18
dunia kita dan kita mampu
melakukannya tanpa terbebani,
ironisnya, banyak perkara yang
begitu enteng dalam urusan
ibadah kepada Allahk
tetapi rasanya bagi kita seperti
menjadi perkara yang mustahil
untuk kita lakukan. Ada banyak
perkara yang kita lakukan dalam
urusan dunia yang kadang
mengancam nyawa kita dan kita
terus coba untuk mengejarnya,
namun tidak sedikit ibadah
kita dikurangi bahkan
tidak pernah dicoba untuk
dilakukan walaupun tidak
mengandung risiko apa
pun. Banyak yang masih
belum kita terima dengan
sepenuh hati dan keyakinan
dari nilai-nilai yang
tertuang dalam al-
Quran maupun as-
Sunnah baik dengan
alasan di mana
kita telah sangat
lelah untuk terus
berlari mencari-cari
pembenarannya
sehingga kita yakin
bahwa Allahk
akan memaklumi kita saat kita
tidak bisa menegakkan titah dan
perintah-Nya. Atau, satu waktu
kita sudah kehabisan akal untuk
mencari pembelaan dan dengan
mudahnya kita katakan kalau
“Allah l Mahatahu dengan
apa yang ada dalam niat kita “,
sebagai husnuzhan yang samar
saat kita hampir-hampir tidak
pernah melakukan apa yang
menjadi niatan baik kita untuk
dinyatakan menjadi amalan yang
riil. Fa aina tadzhabun…? []
َ‫ن‬ْ‫و‬ُ‫ب‬َ‫ه‬ْ‫ذ‬َ‫ت‬ َ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫أ‬َ‫ف‬
Edisi:4 Vol.1 9
AQIDAH
kepada
SANG KEKASIH
MENUMBUHKAN CINTA
Oleh: Abu Usaid Al Banyumasi
Alhamdulillah,
segala puji bagi Allah
l, shalawat dan
salam semoga tercurah
kepada Rasulullah
n, keluarga, para
sahabatnya dan seluruh
pengikutnya sampai
hari Kiamat. Amin.
Saudaraku pembaca yang
budiman ...,
Setiap kita tentu ingin memiliki
“Sang Kekasih”, seseorang
yang ingin selalu memandang
kepadanya, duduk dekat di
sampingnya, rindu kepadanya,
dan mendengarkan ucapan-
ucapannya. Alangkah indahnya
kalau hati kita terpenuhi
dengan bunga-bunga cinta nan
indah kepada “Sang Kekasih”.
Apalagi kalau “Sang Kekasih”
tersebut adalah manusia terbaik
di alam semesta ini. Sosok
“Sang Kekasih” yang tidak
akan sempurna keimanan kita
kecuali dengan mencintainya,
dialah nabi dan rasul kita
Muhammad n (kekasih Allah).
Dan kecintaan kepada “Sang
Kekasih” , Rasulullah, adalah
salah satu prinsip dari prinsip-
prinsip aqidah ahlus sunnah wal
jama’ah.
Saudaraku pembaca yang
budiman…,
Seorang muslim hakiki pasti
merindukan “Sang Kekasih”
AQIDAH
Edisi:4 Vol.110
Rasulullah n, berangan-angan
seandainya ia menjadi salah
seorang sahabatnya, sehingga
bisa duduk di majelisnya untuk
memandang wajahnya yang
mulia, mendengar hadits-
haditsnya, melihat betapa tinggi
dan mulia akhlaknya sekalipun
ia harus mencurahkan segala apa
yang dimilikinya. Demikianlah
“Sang Kekasih” pernah bersabda:
َ‫ون‬ُ‫ن‬‫و‬ُ‫ك‬َ‫ي‬ ٌ‫اس‬َ‫ن‬ ‫ا‬ًّ‫ب‬ ُ‫ح‬ ِ‫ي‬‫ل‬ ‫ي‬ِ‫ت‬َّ‫م‬ُ‫أ‬ ِّ‫د‬َ‫ش‬َ‫أ‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬
ِ‫ه‬ِ‫ل‬ْ‫ه‬َ‫أ‬ِ‫ب‬ ِ‫ي‬‫آن‬َ‫ر‬ ْ‫و‬َ‫ل‬ ْ‫م‬ُ‫ه‬ُ‫د‬َ‫ح‬َ‫أ‬ ُّ‫د‬َ‫و‬َ‫ي‬ ‫ي‬ِ‫د‬ْ‫ع‬َ‫ب‬
ِ‫ه‬ِ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬َ‫و‬
“Di antara umatku yang paling
besar kecintaannya kepadaku
adalah orang-orang yang
hidup sepeninggalku dan salah
serorang dari
mereka ingin
seandainya
bisa melihat
aku dengan
keluarga dan
hartanya” (HR.
Muslim no.
2832)
Para tabi’in
sebagai generasi
umat Islam terbaik kedua
setelah generasi sahabat, begitu
besar kecintaan dan kerinduan
mereka kepada “Sang Kekasih”
Nabi Muhammad n. Simaklah
betapa kerinduan mereka
kepada Nabi begitu besar.
Ibnu Sirin berkata kepada
Ubaidah bin ‘Amr t, “Kami
memiliki beberapa helai
rambut Nabi n dari Anas bin
Malik. Maka, Ubaidah berkata,
“Seandainya aku memiliki
satu helai rambut darinya, itu
lebih aku cintai daripada dunia
beserta isinya.” Imam Adz
Dzahabi berkomentar, “Kalimat
yang seperti ini diucapkan oleh
seorang Imam (Ubaidah) setelah
Ilustrasi : Hamdan-graphic.deviant.com
AQIDAH
Edisi:4 Vol.1 11
50 tahun wafatnya Nabi n Lalu
apa yang akan kita ucapkan
seandainya kita mendapatkan
beberapa helai rambut beliau
dengan sanad yang kuat di masa
kita ini..???”
Jubair bin Nufail t
berkata, “Suatu hari kami duduk
di sisi Al Miqdad bin Al Aswad
z. Tiba-tiba ada seseorang
yang lewat dan berkata,
“Keberuntungan bagi kedua
bola mata ini yang telah melihat
Rasulullah n, sungguh kami
berkeinginan seandainya kami
bisa melihat seperti yang Anda
lihat, dan menyaksikan apa yang
Anda saksikan”.
Adalah Tsabit Al Banaani
t apabila melihat Anas bin
Malik zpelayan Rasulullah
n, Beliau menghampirinya
dan mencium tangannya seraya
berkata, ”Ini adalah tangan
yang pernah menyentuh tangan
Rasulullah n”. Begitu pula
yang dilakukan oleh Yahya bin
Al Harits t kepada Watsilah
bin Al Asqa’zdan beberapa
tabi’in kepada Salamah bin Al
Akwa’ z,mereka mencium
tangan (sahabat) yang telah
membai’at Rasulullah n.
Kalau saja kecintaan dan
kerinduan para tabi’in kepada
“Sang Kekasih” begitu besar
dan menggelora, maka adakah
kecintaan dan kerinduan kepada
“Sang Kekasih” bersemi dalam
hati kita????
Wasilah untuk Menumbuhkan
Cinta kepada “Sang Kekasih”
Saudaraku pembaca yang
budiman….,
Berikut ini adalah beberapa
wasilah/sarana untuk
menumbuhkan cinta dalam hati
kita kepada Rasulullah n “Sang
Kekasih”, di antaranya:
1. Hendaklah setiap muslim
mengetahui bahwa tidak ada
jalan masuk Surga kecuali
dengan ittiba’ (mengikuti)
sunnah Rasul n dan tidak
akan diterima suatu ibadah pun
kecuali apabila sesuai dengan
sunnah Rasul n.
Perhatikanlah firman Allah l
berikut:
Edisi:4 Vol.112
AQIDAH
ِ‫ي‬‫ون‬ُ‫ع‬ِ‫ب‬َّ‫ت‬‫ا‬َ‫ف‬ َ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َ‫ون‬ُّ‫ب‬ِ‫ح‬ُ‫ت‬ ْ‫ُم‬‫ت‬ْ‫ن‬ُ‫ك‬ ْ‫ن‬ِ‫إ‬ ْ‫ل‬ُ‫ق‬
ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬َ‫و‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ب‬‫و‬ُ‫ن‬ُ‫ذ‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ل‬ ْ‫ر‬ِ‫ف‬ْ‫غ‬َ‫ي‬َ‫و‬ ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ ُ‫م‬ُ‫ك‬ْ‫ب‬ِ‫ب‬ْ‫ُح‬‫ي‬
)٣١( ٌ‫يم‬ِ‫ح‬َ‫ر‬ ٌ‫ر‬‫و‬ُ‫ف‬َ‫غ‬
''Katakanlah, 'Jika kamu (benar-
benar) mencintai Allah, ikutilah
aku (Muhammad), niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni
dosa-dosamu." Allah Maha
Pengampun lagi Maha
Penyayang.'" (QS. Ali Imron: 31)
2.Mengetahui bahwa Rasul
adalah sosok yang memiliki
kedudukan agung dan mulia
di sisi Allah l, Beliau
dipilih atas seluruh manusia
yang ada, diutamakan atas
seluruh nabi dan rasul. Allah
l telah melapangkan dada
Beliau, mengangkat namanya,
menghapuskan seluruh dosanya
dan meninggikan derajatnya.
Ketika seorang muslim
mengenal bahwa Sang
Kekasihnya adalah manusia
pilihan, terbaik, dan diutamakan
dengan berbagai macam
kelebihan, maka akan tumbuh
dalam kalbunya rasa cinta dan
rindu kepadanya. Apalagi Allah
ltelah menyucikannya dari
berbagai macam kekurangan.
- Allah telah men-tazkiyah
(menyucikan) akal Beliau dalam
firman-Nya;
)٢( ‫ى‬َ‫و‬َ‫غ‬ ‫ا‬َ‫م‬َ‫و‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬ُ‫ب‬ِ‫اح‬ َ‫ص‬ َّ‫ل‬ َ‫ض‬ ‫ا‬َ‫م‬
“Kawanmu (Muhammad) tidak
sesat dan tidak pula keliru.” (QS.
An Najm: 2)
- Allah l telah men-tazkiyah
penglihatan Beliau dalam
firman-Nya;
)١١( ‫ى‬َ‫أ‬َ‫ر‬ ‫ا‬َ‫م‬ ُ‫د‬‫ا‬َ‫ؤ‬ُ‫ف‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫ب‬َ‫ذ‬َ‫ك‬ ‫ا‬َ‫م‬
”Hatinya tidak mendustakan apa
yang telah dilihatnya. “ (QS. An
Najm: 11)
- Allah telah men-tazkiyah
akhak Beliau dalam firman-Nya;
)٤( ٍ‫يم‬ِ‫َظ‬‫ع‬ ٍ‫ق‬ُ‫ل‬ ُ‫خ‬ ‫ىل‬َ‫ع‬َ‫ل‬ َ‫ك‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫و‬
“Dan sesungguhnya kamu benar-
benar berbudi pekerti yang
agung.” (QS. Al Qolam: 4)
Di dalam Ash Shohiihain
(shahih Bukhari dan Muslim)
dari hadits Abu Hurairah
zbahwa Nabi n bersabda,
”Perumpamaanku dan nabi-
nabi sebelumku seperti seseorang
13Edisi:4 Vol.1
AQIDAH
yang membangun suatu rumah
lalu dia membaguskannya dan
memperindahnya kecuali ada
satu labinah (tempat lubang
batu bata yang tertinggal belum
diselesaikan) yang berada di
dinding samping rumah tersebut,
lalu manusia mengelilinginya
dan mereka terkagum-kagum
sambil berkata; ‘Duh seandainya
ada orang yang meletakkan
labinah (batu bata) di tempatnya
ini”. Beliau bersabda: ”Maka
akulah labinah itu dan aku
adalah penutup para nabi.” (HR.
Al Bukhori no. 3535, Muslim no.
2286).
3.Agar tumbuh rasa cinta
kepada “Sang Kekasih” ,
Rasulullah, maka hendaklah
setiap muslim mengingat akan
besarnya rasa kasih sayang
Beliau kepada ummatnya.
Lantaran setiap jiwa terfitrahkan
untuk mencintai orang yang
mencintainya dan berbuat
kebajikan kepadanya.
Saudaraku para pembaca
yang budiman….,
Lihatlah betapa sayangnya
Rasulullah kepada kita, sehingga
pada suatu hari Beliau membaca
firman Allah l tentang ucapan
Nabi Isa q;
ْ‫ر‬ِ‫ف‬ْ‫غ‬َ‫ت‬ ْ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫و‬ َ‫ُك‬‫د‬‫ا‬َ‫ب‬ِ‫ع‬ ْ‫ُم‬‫ه‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ ْ‫ُم‬‫ه‬ْ‫ب‬ِّ‫ذ‬َ‫ع‬ُ‫ت‬ ْ‫ن‬ِ‫إ‬
)١١٨( ُ‫يم‬ِ‫ك‬َ‫ح‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ز‬‫ي‬ِ‫ز‬َ‫ع‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫ت‬ْ‫ن‬َ‫أ‬ َ‫ك‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ ْ‫ُم‬‫ه‬َ‫ل‬
“Jika Engkau menyiksa mereka,
Maka Sesungguhnya mereka
adalah hamba-hamba Engkau,
dan jika Engkau mengampuni
mereka, Maka Sesungguhnya
Engkaulah yang Maha Perkasa
lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al
Maaidah: 118)
Maka Beliau menangis,
sehingga Allah l mengutus
malaikat Jibril seraya berfirman,
Dari Abu Huroiroh z,
bahwa Nabi n bersabda,
“Setiap Nabi memiliki
doa mustajab yang dia
berdoa dengannya, dan
aku ingin menyimpan
doaku sebagai syafaat
bagi umatku di hari
akhir”
(Muttafaqun ’alaih)
AQIDAH
Edisi:4 Vol.114
“Wahai Jibril, tanyakan
kepada Muhammad apa yang
membuatmu menangis (Dan
Allah Maha Mengetahui)??”, lalu
Jibril-pun turun dan bertanya,
“Wahai Rasulullah, apa yang
membuat engkau menangis?”,
Beliau menjawab, “Umatku….
umatku wahai Jibril”. Jibril
kemudian naik menghadap
kepada Allah seraya berkata,
“(dan Allah Maha Mengetahui)
Dia menangis atas umatnya.
Allah berfirman n kepada
Jibril, “Turunlah kepada
Muhammad dan katakan
kepadanya, “Sesungguhnya
kami akan membuat kamu ridla
terhadap umatmu” (HR. Muslim
no. 202)
Dari Abu Huroiroh z,
bahwa Nabi n bersabda, “Setiap
Nabi memiliki doa mustajab
yang dia berdoa dengannya, dan
aku ingin menyimpan doaku
sebagai syafaat bagi umatku di
hari akhir” (Muttafaqun’alaih)
Saudaraku pembaca yang
budiman….
Tidakkah tumbuh kecintaan
dan kerinduan kita kepada Sang
Kekasih yang selalu mengingat
kita, menyayangi kita dan
memperhatikan kebaikan untuk
kita???
4.Termasuk wasilah/sarana
untuk menumbuhkan cinta
kepada Sang Kekasih adalah
mengingat syafa’at yang beliau
berikan kepada umatnya di hari
kiamat.
Siapa yang tidak membutuhkan
syafaat di hari Kiamat?? Tidak
ada seorang pun dari kita
kecuali membutuhkan syafaat
pada hari tersebut. Pada hari di
mana harta dan anak keturunan
sudah tidak akan bermanfaat
lagi kecuali orang yang datang
kepada Allah dengan hati yang
selamat. Pada hari di mana
setiap orang akan mejauh dari
saudaranya, menjauh dari
ayah dan ibunya, menjauh dari
isteri dan anak-anaknya. Pada
hari di mana para rasul yang
bergelar Ulul Azmi menolak
untuk memberikan syafaat
uzhma, kecuali “Sang Kekasih”
Rasulullah n. Sehingga, kalau
AQIDAH
15Edisi:4 Vol.1
kita berharap mendapatkan
syafaat dari “Sang Kekasih”,
maka tidak ada jalan kecuali
dengan mencintainya. Cinta
yang diwujudkan dengan
melaksanakan tauhid yang
benar kepada Allah dan
tidak menyekutukan-Nya,
memperbanyak shalat nafilah,
memperbanyak shalawat
kepadanya.
5.Hendaklah setiap muslim
mengenal sirah (sejarah) Beliau
yang harum, mengetahui
petunjuk Beliau yang lurus,
keluhuran akhlak dan
keutamaan Beliau.
Setiap muslim yang membaca
sirah dan perjalanan hidup
“Sang Kekasih” niscaya
akan bersemi dan tumbuh
dalam jiwanya kecintaan
dan kerinduan. Dia akan
mendapatkan sirah Beliau
penuh dengan taburan bunga-
bunga indah dan harum
semerbak, penuh dengan
petunjuk dan keteladanan,
penuh dengan keluhuran akhlak.
Ummul mukminin Khadijah
jmenggambarkan kepada
kita betapa luhurnya akhlak
“Sang Kekasih”. Beliau berkata,
“Demi Allah, sesungguhnya
Allah tidak akan
menghinakanmu selamanya.
Bukankah engkau suka
bersilaturahmi, senantiasa
berkata jujur, suka menolong
orang yang kesusahan,
senantiasa memuliakan tamu,
dan membantu orang-orang
yang tertima musibah?"
Saudaraku para pembaca
yang budiman…,
Demikianlah beberapa
wasilah dan sarana untuk
menumbuhkan cinta dan
kerinduan kepada “Sang
Kekasih”. Semoga Allahl
menjadikan kita semua umat
Muhammad n yang benar-
benar tulus dalam mencintai
“Sang Kekasih”, sehingga di hari
Kiamat kelak kita dikumpulkan
bersamanya. Amin.
Wallahu a’lam.
Sumber Bacaan:
1.Yaumun Ma’a Habiibika, Abu Kholid
Aiman bin Abdul Aziz Abanami
2. http://www.saaid.net/mohamed/357. htm
HADITS
edisi:4 Vol.116
Abdullah bin Hisyama
berkata;
َ‫و‬ُ‫ه‬َ‫و‬ َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫س‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َّ‫ى‬‫ل‬ َ‫ص‬ ِّ‫ي‬ِ‫ب‬َّ‫ن‬‫ال‬ َ‫ع‬َ‫م‬ ‫َّا‬‫ن‬ُ‫ك‬
ُ‫ر‬َ‫م‬ُ‫ع‬ ُ‫ه‬َ‫ل‬ َ‫ال‬َ‫ق‬َ‫ف‬ ِ‫اب‬َّ‫ط‬َ‫خ‬ْ‫ل‬‫ا‬ ِ‫ن‬ْ‫ب‬ َ‫ر‬َ‫م‬ُ‫ع‬ ِ‫د‬َ‫ي‬ِ‫ب‬ ٌ‫ذ‬ِ‫آخ‬
ِّ‫ل‬ُ‫ك‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ََّ‫ي‬‫ل‬ِ‫إ‬ ُّ‫ب‬َ‫ح‬َ‫أ‬ َ‫ت‬ْ‫ن‬َ َ‫أ‬‫ل‬ ِ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َ‫ول‬ُ‫س‬َ‫ر‬ ‫ا‬َ‫ي‬
ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َّ‫ى‬‫ل‬ َ‫ص‬ ُّ‫ي‬ِ‫ب‬َّ‫ن‬‫ال‬ َ‫ال‬َ‫ق‬َ‫ف‬ ِ‫ي‬‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ َّ‫ا‬‫ل‬ِ‫إ‬ ٍ‫ء‬ْ َ‫ي‬‫ش‬
‫َّى‬‫ت‬َ‫ح‬ ِ‫ه‬ِ‫د‬َ‫ي‬ِ‫ب‬ ِ‫ي‬‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ ‫ي‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬َ‫و‬ َ‫ا‬‫ل‬ َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫س‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬
ُ‫ه‬َ‫ل‬ َ‫ال‬َ‫ق‬َ‫ف‬ َ‫ك‬ِ‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ َ‫ك‬ْ‫ي‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ َّ‫ب‬َ‫ح‬َ‫أ‬ َ‫ون‬ُ‫ك‬َ‫أ‬
ْ‫ن‬ِ‫م‬ ََّ‫ي‬‫ل‬ِ‫إ‬ ُّ‫ب‬َ‫ح‬َ‫أ‬ َ‫ت‬ْ‫ن‬َ َ‫أ‬‫ل‬ ِ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬َ‫و‬ َ‫ن‬ ْ‫آ‬‫ال‬ ُ‫ه‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ ُ‫ر‬َ‫م‬ُ‫ع‬
َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫س‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َّ‫ى‬‫ل‬ َ‫ص‬ ُّ‫ي‬ِ‫ب‬َّ‫ن‬‫ال‬ َ‫ال‬َ‫ق‬َ‫ف‬ ِ‫ي‬‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬
ُ‫ر‬َ‫م‬ُ‫ع‬ ‫ا‬َ‫ي‬ َ‫ن‬ ْ‫آ‬‫ال‬
«Pernah kami bersama Rasulullah
n ketika Beliau meraih tangan
Umar bin Khatthab a. Umar
berkata, «Wahai Rasulullah,
Engkau betul-betul adalah sosok
yang paling aku cintai dari siapa
pun juga kecuali diriku sendiri.»
Rasulullah n bersabda,
«Demi Allah, Dzat yang jiwaku
berada dalam genggaman-Nya,
tidaklah engkau mencintaiku
secara sempurna hingga
engkau lebih mencintaiku
bahkan dari cintamu kepada
dirimu sendiri.» Mendengarnya,
Umar a segera berkata,
«Demi Allah, kalau demikian
maka mulai saat ini, sungguh
engkau lebih aku cintai wahai
Rasulullah dari diriku sendiri.»
Rasulullah n bersabda,
«Sekarang (sempurnalah
kecintaanmu itu) wahai Umar.»
(HR. Bukhari)
Foto : forumjualbeli.com
Cinta
Manajemen
Oleh: Muhammad Irfan Zain. Lc
17Edisi:4 Vol.1
HADITS
Pendahuluan
Cinta adalah satu kata yang
singkat namun sarat akan
arti dan makna. Cinta dapat
mengubah kehidupan seseorang.
Dengan cinta, seseorang akan
sanggup mengorbankan segala
yang dimilikinya untuk meraih
hati yang dicintainya.
Makna cinta yang sempurna,
hal ini yang hendak diajarkan
Rasulullah n kepada
ummatnya melalui Umar bin
Khatthaab a, «Mencintai
Beliau lebih dari rasa cinta
kepada siapa pun, bahkan
termasuk kepada diri sendiri.»
Dengan rasa cinta seperti inilah
seseorang baru dapat merasakan
dengan sesungguhnya manisnya
imam. Rasulullah n bersabda:
ِ‫ان‬َ‫مي‬ِْ‫إ‬‫ال‬ َ‫ة‬َ‫و‬ َ‫ا‬‫ل‬َ‫ح‬ َ‫د‬َ‫ج‬َ‫و‬ ِ‫ه‬‫ي‬ِ‫ف‬ َّ‫ن‬ُ‫ك‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ٌ‫ث‬ َ‫ا‬‫ل‬َ‫ث‬�
ُ‫ه‬ُ‫ل‬‫و‬ُ‫س‬َ‫ر‬َ‫و‬ ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َ‫ون‬ُ‫ك‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫أ‬ -‫منها‬ ‫–وذكر‬
.... َ‫ا‬‫م‬ُ‫اه‬َ‫و‬ِ‫س‬ َّ‫ا‬‫م‬ِ‫م‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ َّ‫ب‬َ‫ح‬َ‫أ‬
«Tiga perkara yang dengannya
seorang akan dapat merasakan
manisnya iman–di antaranya
adalah engkau cinta kepada
Allah dan Rasul-Nya n lebih dari
kecintaanmu kepada yang selain
keduanya.» (HR. Bukhari)
Cinta yang Menjadi Pilihan
Cinta yang didasarkan pada
kesadaran dan pemahaman
akan keberhakan yang dicintai
untuk menerima rasa itu adalah
bagian dari iman. Hal ini terlihat
jelas dari perubahan jawaban
Umar a yang begitu cepat;
dari pernyataan sebelumnya,
«Wahai Rasulullah, Engkau
betul-betul adalah sosok yang
paling aku cintai dari siapa pun
juga kecuali diriku sendiri»,
kepada pernyataan Beliau
selanjutnya, «Demi Allah, kalau
demikian maka mulai saat ini,
sungguh engkau lebih aku cintai
wahai Rasulullah dari diriku
sendiri.» Perubahan yang begitu
drastis namun sangat cepat,
bersamaan dengan pengetahuan
kita tentang ketegaran dan
kekokohan hati seorang
Umara.
Perubahan seperti ini tentu
menyisakan pertanyaan besar
dalam sanubari kita,
HADITS
Edisi:4 Vol.118
«Apa gerangan yang melandasi
perubahan sikap tersebut ?!.»
«Kesadaran dan pemahaman
akan keberhakan yang dicintai
untuk menerima rasa itu.»
Inilah kiranya yang menjadi
jawaban dari pertanyaan besar
tadi.
Kecintaan seseorang kepada
diri sendiri adalah naluri
manusiawi (thabi>ie) yang
tentu dan pasti dimiliki oleh
setiap orang –meski tidak
dibahas. Namun, kecintaan
kepada Rasulullah n adalah
kecintaan yang bersifat pilihan.
Kecintaan seperti inilah
yang diinginkan oleh
Rasulullah n lewat
pernyataannya kepada
Umar, «Demi Allah, Dzat
yang jiwaku berada
dalam genggaman-
Nya, tidaklah engkau
mencintaiku secara
sempurna hingga
engkau lebih
mencintaiku bahkan
dari cintamu kepada
dirimu sendiri.»
Menyadari maksud
Rasulullah n ini, secara
spontan dan dengan penuh
kesadaran dan pemahaman
Beliau berkata, «Demi Allah,
kalau demikian maka mulai
saat ini, sungguh engkau
lebih aku cintai wahai
Rasulullah –bahkan- dari
diriku sendiri.» Beliau sadar
dan paham bahwa Rasulullah
n yang menjadi sebab utama
dari keselamatannya di dunia
dan di akhirat, maka tiada
pilihan bagi Beliau melainkan
menyerahkan sepenuh cintanya
«Demi Allah, Dzat yang
jiwaku berada dalam
genggaman- Nya, tidaklah
engkau mencintaiku secara
sempurna hingga engkau
lebih mencintaiku bahkan
dari cintamu kepada dirimu
sendiri.»
HADITS
Edisi:4 Vol.1 19
kepada Rasulullah n bahkan
meski harus mengorbankan diri
sendiri.
Cinta adalah Asas dalam Agama
(Ushuluddin)
Dalam agama, cinta
menempati posisi yang sangat
penting. Begitu pentingnya
cinta, hingga Allah berfirman;
ْ‫م‬ُ‫ْك‬‫ن‬ِ‫م‬ َّ‫د‬َ‫ت‬ْ‫ر‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ‫ُوا‬‫ن‬َ‫م‬‫آ‬ َ‫ين‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ ‫َا‬‫ه‬ُّ‫ي‬َ‫اأ‬َ‫ي‬{
ٍ‫م‬ْ‫و‬َ‫ق‬ِ‫ب‬ ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ ِ‫ي‬‫ت‬ْ‫أ‬َ‫ي‬ َ‫ف‬ْ‫و‬ َ‫س‬َ‫ف‬ ِ‫ه‬ِ‫ن‬‫ي‬ِ‫د‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬
]54 :‫[املائدة‬ }ُ‫ه‬َ‫ن‬‫و‬ُّ‫ب‬ِ‫ُح‬‫ي‬َ‫و‬ ْ‫ُم‬‫ه‬ُّ‫ب‬ِ‫ُح‬‫ي‬
«Wahai orang-orang yang
beriman barangsiapa di
antara kalian yang keluar
dari agamanya niscaya Allah
akan menggantinya dengan
sebuah kaum yang Ia cintai
dan mereka cinta kepada
Nya.» (al Maaidah: 54). Makna
tersirat dari ayat ini bahwa satu
di antara ciri mendasar orang-
orang murtad (keluar dari
agama) adalah lenyapnya rasa
cinta. Oleh karena itu, Allah
akan menggantinya dengan
kaum yang beriman, yang
memiliki karakter dasar berupa
rasa cinta kepada-Nya, hingga
Allah pun cinta kepada mereka.
Ciri mendasar yang lekat
dalam diri mukmin ini (cinta
kepada Allah), lebih tegas Allah
jelaskan lewat firman-Nya:
ِ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ ِ‫ُون‬‫د‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ُ‫ذ‬ِ‫َّخ‬‫ت‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ِ‫َّاس‬‫ن‬‫ال‬ َ‫ن‬ِ‫م‬َ‫و‬
َ‫ين‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬َ‫و‬ ِ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ ِّ‫ب‬ُ‫ح‬َ‫ك‬ ْ‫ُم‬‫ه‬َ‫ن‬‫و‬ُّ‫ب‬ِ‫ُح‬‫ي‬ ‫ًا‬‫د‬‫َا‬‫د‬ْ‫ن‬َ‫أ‬
]165 :‫[البقرة‬ ِ‫ه‬َّ‫ل‬ِ‫ل‬ ‫ا‬ًّ‫ب‬ُ‫ح‬ ُّ‫د‬َ‫ش‬َ‫أ‬ ‫ُوا‬‫ن‬َ‫م‬‫آ‬
«Di antara golongan manusia
ada orang-orang yang
mengangkat tandingan-
tandingan bagi Allah, mereka
cinta kepadanya sebagaimana
cinta mereka kepada Allah.
Adapun orang-orang mukmin,
maka kecintaan mereka
kepada Allah adalah lebih
besar daripada kecintaan
orang-orang selain mereka
(golongan kafir) kepada
tandingan-tandingan yang
mereka ada-adakan bagi
Allah.» (al Baqarah: 165)
Cinta Rasul, Cinta Allah
Dua kalimat syahadat
yang menjadi syarat utama
masuknya seorang ke dalam
HADITS
Edisi:4 Vol.120
Islam adalah dua hal yang
tidak terpisahkan. Segala yang
merupakan konsekuensi dari
kesaksian yang pertama (kalimat
syahadat pertama), pun menjadi
konsekuensi dari kesaksiannya
yang kedua –kecuali seluruh hal
yang merupakan kekhususan
bagi Allah saja-. Satu di antara
konsekuensi itu adalah cinta,
ketundukan dan loyalitas.
Barangsiapa yang mengaku cinta
kepada Allah, tunduk dan loyal
kepada-Nya, maka wajib pula
atasnya untuk cinta, tunduk, dan
loyal kepada Rasul-Nya n .
Allah berfirman:
ِ‫ي‬‫ون‬ُ‫ع‬ِ‫ب‬َّ‫ت‬‫ا‬َ‫ف‬ َ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َ‫ون‬ُّ‫ب‬ِ‫ح‬ُ‫ت‬ ْ‫ُم‬‫ت‬ْ‫ن‬ُ‫ك‬ ْ‫ن‬ِ‫إ‬ ْ‫ل‬ُ‫ق‬
)٣١( ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ب‬‫و‬ُ‫ن‬ُ‫ذ‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ل‬ ْ‫ر‬ِ‫ف‬ْ‫غ‬َ‫ي‬َ‫و‬ ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ ُ‫م‬ُ‫ك‬ْ‫ب‬ِ‫ب‬ْ‫ُح‬‫ي‬
«Katakanlah wahai Muhammad
kepada ummatmu, jika kalian
cinta kepada-Ku (Allah) maka
ikutilah aku (Muhammad
n; dengan itu niscaya Allah
akan mencintai kalian dan
mengampuni dosa-dosa kalian.»
(Ali Imraan: 31)
ْ‫ن‬َ‫م‬َ‫و‬ َ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َ‫اع‬َ‫ط‬َ‫أ‬ ْ‫د‬َ‫ق‬َ‫ف‬ َ‫ول‬ُ‫س‬َّ‫ر‬‫ال‬ ِ‫ع‬ِ‫ُط‬‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫م‬
)٨٠( ‫ا‬ً‫يظ‬ِ‫ف‬َ‫ح‬ ْ‫م‬ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ َ‫َاك‬‫ن‬ْ‫ل‬َ‫س‬ْ‫ر‬َ‫أ‬ َ‫ا‬‫م‬َ‫ف‬ َّ‫ى‬‫ل‬َ‫و‬َ‫ت‬
«Barangsiapa taat kepada
Rasulullah maka sungguh
ia telah taat kepada Allah.
Dan barangsiapa berpaling,
maka sesungguhnya tidaklah
Kami mengutusmu wahai
Muhammad sebagai pemutus
perkara mereka.» (An-Nisaa:
80).
Abu Hurairah a berkata,
Rasulullah n bersabda, Allah
berfirman;
« ِ‫ب‬ْ‫ر‬َ‫ح‬ْ‫ل‬‫ا‬ِ‫ب‬ ُ‫ه‬ُ‫ت‬ْ‫ن‬َ‫ذ‬‫آ‬ ْ‫د‬َ‫ق‬َ‫ف‬ ‫ا‬ًّ‫ي‬ِ‫ل‬َ‫و‬ ِ‫ي‬‫ل‬ ‫َى‬‫د‬‫َا‬‫ع‬ ْ‫ن‬َ‫م‬
Barangsiapa yang memusuhi
orang yang Kucintai, maka
Foto : Rose on wood Bw
HADITS
21Edisi:4 Vol.1
sungguh Aku telah
mengumumkan perang
kepadanya.» (HR. Bukhari)
Wujudkan Cintamu Secara
Benar
Mewujudkan dan mengarahkan
cinta secara benar adalah
hal yang harus diketahui
dan dijalani agar mendapat
balasan cinta dari sang kekasih.
Jika tidak diwujudkan dan
diarahkan secara benar, maka
alih-alih dapat kesenangan,
malah kehancuran yang akan
menunggu. Jika tidak dilakukan
secara benar, maka alih-alih
dapat restu dari yang dicintai,
malah sang kekasih akan
semakin benci.
Lantas adakah benar
pengakuan cinta seseorang,
sementara ia menyelisihi hal
yang disenangi oleh kekasihnya
? Benarkah pengakuan cinta
seseorang, sementara ia terus
melakukan hal yang dibenci oleh
kekasihnya ? Seorang penyair
pernah berkata:
‫مطيع‬ ‫يحب‬ ‫ملن‬ ‫املحب‬ ‫إن‬
«Seorang
yang cinta
akan selalu
ikut kesenangan
kekasihnya.».
Atau benarkah
pengakuan cinta seseorang
ketika ia melakukan sesuatu
yang menurut anggapannya
benar tetapi justru hal itu
ternyata tidak dituntunkannya?
Jawabannya, «Tidak». Kecintaan
dan ketundukan yang sempurna
ditunjukkan dengan seberapa
taat dan patuhnya kita terhadap
ajarannya, dengan tidak
menambah dan tidak juga
menguranginya. Rasulullah n
bersabda:
ِ‫ه‬‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫س‬ْ‫ي‬َ‫ل‬ ‫ا‬َ‫م‬ ‫ا‬َ‫ذ‬َ‫ه‬ ‫ا‬َ‫ن‬ِ‫ر‬ْ‫م‬َ‫أ‬ ِ‫ي‬‫ف‬ َ‫َث‬‫د‬ْ‫ح‬َ‫أ‬ ْ‫ن‬َ‫م‬
ٌّ‫د‬َ‫ر‬ َ‫و‬ُ‫ه‬َ‫ف‬
«Barangsiapa mengada-
adakan sesuatu yang barupa
ritual-ritual agama baru
dalam agama ini yang tidak
kami contohkan, sesungguhnya
HADITS
Edisi:4 Vol.122
yang diada-adakannya itu
akan tertolak.» (HR. Bukhari)
Oleh karena itu,
barangsiapa yang
mengatakan ini
ajaran agama,
ini ajaran Allah,
ini ajaran
Rasulullah n
secara dusta,
dan ia menyadari
bahwa ia berdusta,
maka Rasulullah n
bersabda mengingatkan mereka,
ُ‫ه‬َ‫د‬َ‫ع‬ْ‫ق‬َ‫م‬ ْ‫أ‬َّ‫و‬َ‫ب‬َ‫ت‬َ‫ي‬ْ‫ل‬َ‫ف‬ ‫ًا‬‫د‬ِّ‫م‬َ‫ع‬َ‫ت‬ُ‫م‬ َّ َ‫ي‬‫َل‬‫ع‬ َ‫ب‬َ‫ذ‬َ‫ك‬ ْ‫ن‬َ‫م‬
ِ‫ر‬‫َّا‬‫ن‬‫ال‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬
«Barangsiapa yang berdusta
mengatasnamakan diriku,
maka persiapkanlah tempat
duduknya kelak di neraka.».
(HR. Bukhari)
Pada akhirnya, semoga Allah
menjadikan kita sebagai orang-
orang yang mampu mewujudkan
kecintaan kita secara benar
kepada Allah dan kepada Rasul-
Nya. Semoga Ia mengumpulkan
kita kelak bersama para nabi,
orang-orang yang benar, para
syahid di jalan Allah dan
bersama orang-
orang yang saleh.
Mereka itulah
kelak yang
akan menjadi
sebaik-baik
teman.
Waffaqallahu
al jamiiá lima
yuhibbu wa yardha.
Walhamdulillahi Rabbil
'Aalamiin.
Referensi
1. Al Quran al Kariim
2. Al Jaami’e Al Musnad As
Shahiih, oleh Imam Muhammad bin
Ismail Abu Abdillah al Bukhari.
3. FathulBaari, Abu al Fadhl Ahmad
bin Ali bin Muhammad bin Ahmad
bin Hajar al Asqalaaniy.
4. Rekaman ceramah syaikh
Muhammad Hasan ad Dudu, «Ma>a
an Nabi»
5. Rekaman khutbah syaikh
Muhammad Hassaan, «Alamaatu
Mahabbati an Nabi»
Edisi:4 Vol.1 23
PENDIDIKAN
tulis dalam) Lauh Mahfuzh,
bahwasanya bumi ini dipusakai
hamba-hamba-Ku yang saleh”.
Dalam ayat tersebut dinyatakan
bahwa orang-orang saleh-lah
yang pantas mewarisi bumi dan
segala isinya, sebab merekalah
yang akan mampu untuk
menerima tugas dan amanat ini
untuk dikelola sesuai tuntunan
Allah l.
Yang tak kalah pentingnya,
bahwa dengan memiliki anak
saleh akan menjadi amal yang
terus-menerus mengalir bagi
kedua orang tuanya meskipun
Memiliki anak
yang saleh dan
salehah merupakan
dambaan dan impian setiap
orang tua karena kehadiran
anak saleh di tengah-tengah
kehidupan keluarga akan
menjadi penyejuk jiwa dan
kedamain, pelipur lara bagi
kedua orang tuanya. Anak saleh
bagi orang tua merupakan bekal
kehidupan di dunia dan akhirat,
disebutkan di dalam Al Qur’an
surat Al Anbiya ayat 105:
“Dan sungguh telah kami tulis
di dalam Zabur sesudah (Kami
Foto : Dok. Al Binaa
MENYINERGIKAN PENDIDIKAN KELUARGA
DENGAN SEKOLAH
MENUJU GENERASI YANG SALEH
Oleh: Ustadz Hasyim Nur, S.Pd.
PENDIDIKANPENDIDIKAN
Edisi:4 Vol.124
keduanya telah meninggal dunia.
Dari Abu Hurairah z, ia
berkata bahwa Rasulullah n
bersabda:
ْ‫ن‬ِ‫م‬ َّ‫ا‬‫ل‬ِ‫إ‬ ُ‫ه‬ُ‫ل‬َ‫م‬َ‫ع‬ َ‫ع‬َ‫ط‬َ‫ق‬ْ‫ن‬‫ا‬ ُ‫ان‬ َ‫س‬ْ‫ن‬ِْ‫إ‬‫ال‬ َ‫ات‬َ‫م‬ ‫ا‬َ‫ذ‬ِ‫إ‬
ُ‫ع‬َ‫ف‬َ‫ت‬ْ‫ن‬ُ‫ي‬ ٍ‫م‬ْ‫ل‬ِ‫ع‬َ‫و‬ ٍ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫ر‬‫ا‬َ‫ج‬ ٍ‫ة‬َ‫ق‬َ‫د‬ َ‫ص‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ٍ‫ة‬َ‫اَث‬‫ل‬َ‫ث‬�
ُ‫ه‬َ‫ل‬ ‫و‬ُ‫ْع‬‫د‬َ‫ي‬ ٍ‫ح‬ِ‫ل‬‫ا‬ َ‫ص‬ ٍ‫د‬َ‫ل‬َ‫و‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬
“Jika seseorang meninggal dunia,
maka terputuslah amalannya
kecuali tiga perkara (yaitu):
sedekah jariyah, ilmu yang
bermanfaat, atau do’a anak yang
saleh” (HR. Muslim no. 1631).
Tentu ketika menyebutkan
kata saleh maka rujukan kita
adalah Kitabullah dan sunnah
Rasulullah n.
Secara etimologi, kata saleh
berasal dari ً‫ا‬‫ح‬َ‫ال‬ َ‫ص‬ - ُ‫ح‬ُ‫ل‬ ْ‫ص‬َ‫ي‬ - َ‫ح‬ُ‫ل‬ َ‫ص‬
shaluha-yashluhu – shalahan
yang artinya ‘baik’, ‘tidak rusak’
dan ‘patut’. Sedangkan Saleh
(‫)صالح‬ merupakan isim fa’il
dari kata tersebut di atas yang
berarti orang yang baik, orang
yang tidak rusak dan orang yang
patut. Sedangkan saleh menurut
definisi Al-Qur’an adalah
sebagaimana yang terdapat di
dalam surat Ali Imran: 113 –
114 dan surat Al Ankabut: 9
“Mereka membaca ayat-ayat
Allah pada beberapa waktu di
malam hari, sedangkan mereka
juga bersujud” (QS. Ali Imran:
113)
“Mereka beriman kepada
Allah dan hari penghabisan
mereka menyuruh kepada yang
makruf, dan mencegah dari
yang munkar dan bersegera
kepada (mengerjakan) berbagai
kebajikan; mereka itulah
termasuk orang-orang yang
saleh”. (QS. Ali Imran: 114)
“Dan orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal
saleh benar-benar akan kami
masukkan mereka ke dalam
(golongan) orang-orang yang
saleh” (Al Ankabut: 9).
Berdasarkan ayat tersebut,
maka orang saleh adalah orang
yang berperilaku baik akhlaknya
sesuai dengan ajaran Al-Quran
dan As-Sunnah sebagaimana
ciri-ciri orang saleh yang
disebutkan di dalam Al Quran
25Edisi:4 Vol.1
surat Ali Imran: 113-114.
Namun, bagaimanakah
meyinergikan pendidikan
keluarga dengan sekolah untuk
menuju generasi yang saleh?
Perlu diyakini, bahwa
segala sesuatu yang terjadi di
muka bumi ini semuanya atas
kehendak dan ketetapan Allah
k. Tidaklah selembar daun
yang jatuh dari pohonnya
kecuali jauh sebelumnya
telah dicatat di lauh mahfudz.
Tidaklah terwujud ketinggian
akhlak dan kesalehan anak
kecuali sebelumnya telah
dituliskan ketetapannya
oleh Allahk. Namun,
tidak lantaran karena sudah
ditetapkan oleh Allah, lantas kita
berpangku tangan menunggu
kesalehan anak datang secara
tiba-tiba. Iman yang benar
adalah meyakini atas segala
ketetapan Allah dengan tidak
ragu sedikit pun, yang disertai
usaha optimal.
Ditegaskan dalam sebuah
riwayat, bahwa seorang Arab
Badui datang menghadap Nabi
n. Orang itu datang dengan
menunggang kuda. Setelah
sampai, ia turun dari kudanya
dan langsung menghadap Nabi,
tanpa terlebih dahulu mengikat
kudanya. Nabi menegur orang
itu, ”Mengapa kuda itu tidak
engkau ikat?” Orang Arab Badui
itu menjawab, ”Biarlah, saya
bertawakkal kepada Allah.” Nabi
pun bersabda, ”Ikatlah kudamu,
setelah itu bertawakkalah kepada
Allah.”
Dari riwayat tersebut di
atas jelaslah bahwa walaupun
Allah telah menentukan segala
sesuatu, namun manusia tetap
berkewajiban untuk berusaha.
Menyinergikan pendidikan
keluarga dengan sekolah
merupakan bagian dari usaha
Dari kisah tersebut
jelaslah bahwa
walaupun Allah telah
menentukan segala
sesuatu, namun
manusia tetap
berkewajiban untuk
berusaha.
PENDIDIKAN
PENDIDIKAN
Edisi:4 Vol.126
orang tua, yaitu orang tua
memilih sekolah yang sesuai
atau yang saling menguatkan
pola pendidikan di rumah
dengan pendidikan di sekolah.
Demikian pula sebaliknya bahwa
pola pendidikan di rumah
menguatkan pola pendidikan di
sekolah. Jangan sampai terjadi
paradok, misalnya di sekolah
mengajarkan wajibnya shalat
berjamaah di masjid, sedangkan
di lingkungan keluarga cukup
dengan shalat di rumah. Atau
sebaliknya di rumah sangat
memperhatikan pendidikan
akhlak, sopan santun, perkataan
yang baik, tetapi di sekolah
berperilaku tidak santun,
berkata-kata yang kasar dan
menyimpang dianggap bagian
dari kreatifitas yang tidak perlu
diatur. Jika demikian yang
terjadi, proses pendidikan tidak
berjalan maksimal.
Menyinergikan Pendidikan
Keluarga dengan Sekolah serta
Langkah-Langkahnya.
1. Membangun komitmen
bersama
Unsur-unsur yang membangun
pendidikan keluarga tidak jauh
berbeda dengan unsur-unsur
pendidikan di sekolah. Kita
boleh menganalogikan rumah
merupakan madrasah, ayah dan
ibu merupakan pendidik (guru),
anak adalah murid-murid yang
istimewa, dan norma-norma
yang ditanamkan kepada anak
adalah sistem nilai layaknya
seperti kurikulum sekolah.
Namun, untuk menyinergikan
unsur pendidikan keluarga
tersebut penting adanya visi
orang tua yaitu kesepahaman
kedua orang tua tentang arah
dan tujuan pendidikan bagi
anak-anaknya sebagaimana juga
di sekolah adanya visi sekolah
karena keberadaan visi bertujuan
untuk mengarahkan segenap
potensi agar tidak melenceng
dari tujuan. Oleh karena itu,
sebaiknya orang tua dari sejak
awal bahkan sebelum dikaruniai
anak, harus membangun
komitmen bersama untuk
PENDIDIKAN
Edisi:4 Vol.1 27
mengarahkan anak-anaknya
menjadi anak-anak yang saleh
sebagaimana doa Nabi Ibrahim
dalam Al Qu’an surat Shaffat
ayat 100.
َ‫ن‬ْ‫ي‬ ِ‫ِح‬‫ل‬‫ا‬ َّ‫الص‬ َ‫ِن‬‫م‬ ْ‫ِي‬‫ل‬ ْ‫ب‬َ‫ه‬ ِّ‫ب‬َ‫ر‬
Wahai Tuhanku, karuniakanlah
kepadaku anak yang termasuk
anak-anak yang sholeh. (QS.
Ash-Shaffat: 100).
Bersamaan dengan itu
orang tua juga berusaha
untuk menjauhkan anak dari
tempat-tempat keburukan
dan kelalaian. Jangan biarkan
mereka dididik dengan cara
yang buruk, baik melalui
tayangan televisi, bacaan-
bacaan, atau video-video yang
menyimpang atau selainnya.
Jangan kita mengharapkan
kesalehan sementara enggan
melarang dengan berbagai
pertimbangan. Ingat pepatah
yang menyebutkan, “Orang
yang menanam duri tidak akan
memanen anggur.”
2. Ikhlas dalam mendidik
Langkah selanjutnya adalah
selalu menghadirkan keikhlasan
dalam mendidik anak dan
senantiasa mengharapkan
pertolongan dari Allah l
karena betapa kita menyadari
mendidik anak bukan pekerjaan
yang mudah, tidak cukup
hanya bermodal ilmu dan
pengalaman atau kekuatan
harta atau jabatan karena yang
membolak-balikakkan hati
adalah Allah l, oleh karena
itu, dalam mendidik anak kita
membutuhkan keikhlasan dan
mengharap pertolongan Allah
l. Allah l berfirman:
“Padahal mereka tidak disuruh
kecuali supaya menyembah
Allah dengan memurnikan
ketaatan kepadanya.” (QS. Al
Bayyinah: 5).
Nabi Ibrahim pun berdoa
kepada Allah agar dikaruniai
anak yang saleh demikian pula
Nabi Zakaria sebagaimana
Firman Allah l:
“Di sanalah Zakariya berdoa
kepada Tuhannya seraya
berkata: “Ya Tuhanku, berilah
aku dari sisi Engkau seorang
PENDIDIKAN
Edisi:4 Vol.128
anak yang baik. Sesungguhnya
Engkau Maha Pendengar
doa.” (QS. Ali Imran:38)
Adakah kita meluangkan
waktu sejenak untuk
mengintrospeksi diri, seberapa
ikhlaskah kita dalam mendidik
anak karena keikhlasan ini
akan mempengaruhi kualitas
ketulusan, cinta, dan sayang
kita kepada anak. Bersungguh-
sungguhlah untuk menjauhkan
dari sikap amarah, kekerasan
baik dalam bentuk fisik maupun
psikis. Rangkul dan belailah
mereka dengan ketulusan, bahwa
kita sangat mencintainya.
3. Menjadi imam dan teladan
Langkah berikutnya adalah
berusaha tampil berperan
sebagai orang tua yang
dapat menjadi imam sebagai
pemimpin keluarga, menjadi
pendidik yang dapat diteladani,
menjadi sahabat yang dapat
diajak diskusi. Adakalanya
orang tua harus tegas, hal ini
dilakukan manakala nasihat,
peringatan dan keteladanan
sudah ditunjukkan. Terkadang
pula anak diajak diskusi.
4. Mengajarkan ilmu dan
mengamalkan
Langkah selanjutnya adalah
mengajarkan ilmu tentang
dasar-dasar keislaman dan
membiasakan anak mengerjakan
amalan-amalan yang dapat
menstimulasi anak menuju
kesalehan. Di antara yang
dapat dilakukan adalah sebagai
berikut:
a. Menumbuhkan kecintaan
anak kepada Allah l dan
Rasul-Nya serta mencintai
ajaran Islam. Hal ini sangat
penting untuk mengokohkan
aqidah sebagai benteng
keimanan. Dan pengajaran ini
terus menerus dilakukan.
www.liputan6.com
PENDIDIKAN
29Edisi:4 Vol.1
b. Mengajarkan keikhlasan,
kejujuran, dan kesederhanaan
dalam hidup serta menjaling
hubungan baik dengan orang
lain.
c. Memberi keteladanan
dalam pelaksanaan shalat dan
menyuruh untuk menegakkan
shalat.
ٍ‫ع‬ْ‫ب‬َ‫س‬ ُ‫ء‬‫َا‬‫ن‬ْ‫ب‬َ‫أ‬ ْ‫م‬ُ‫ه‬َ‫و‬ ِ‫ة‬ َ‫ا‬‫ل‬ َّ‫الص‬ِ‫ب‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫د‬َ‫ال‬ْ‫و‬َ‫أ‬ ‫ا‬ْ‫و‬ُ‫ر‬ُ‫م‬
"Perintahkanlah anak-anak
kalian untuk melaksanakan
shalat saat mereka berusia tujuh
tahun."
d. Mengajarkan Al Qur’an
secara bertahap beserta doa-doa
harian dan membiasakan dalam
pengamalannya.
e. Memberi keteladanan dalam
beradab; bertutur kata, bersikap,
dan bermuamalah dengan orang
lain.
f. Memfasilitasi dengan
pengadaan buku-buku bacaan
yang islami, kisah para nabi dan
rasul, kisah sahabat. Buku-buku
ilmu pengetahuan dan teknologi
yang sudah mendapatkan
pemurnian dari konten yang
menyimpang.
g. Memberikan keteladanan
dalam berdisiplin. Hal ini dapat
dilakukan dengan mengajarkan
dari hal-hal yang sederhana,
misalnya bangun tidur tepat
pada waktunya, menyimpan
sendal atau sepatu pada
tempatnya, serta merapikan
kembali mainan yang telah
dipakai.
Setelah pola pendidikan
keluarga diterapkan secara
optimal, maka tugas orang tua
berikutnya adalah memasukkan
anak di sekolah yang memiliki
persamaan visi dan misi,
prinsip-prinsip dalam mendidik,
keikhlasan dan keteladananan
para pendidik, kurikulum, dan
aturan sekolah yang diterapkan.
Semoga Allah l
melimpahkan taufiknya kepada
kita dalam mendidik serta
menganugerahi kita anak-anak
yang saleh dan salehah.
Referensi:
1. Al Qur’an
2. Buletinmi.com
Edisi:4 Vol.130
SAINS
)٦٨( َ‫ون‬ُ‫ب‬َ‫ر‬ ْ‫ش‬َ‫ت‬ ‫ِي‬‫ذ‬َّ‫ال‬ َ‫ء‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫�ي‬َ‫أ‬َ‫ر‬ َ‫�ف‬َ‫أ‬
ُ‫ن‬ ْ‫ح‬َ‫ن‬ ْ‫م‬َ‫أ‬ ِ‫ن‬ْ‫ز‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫ِن‬‫م‬ ُ‫ه‬‫و‬ُ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫ل‬َ‫ز‬ْ‫�ن‬َ‫أ‬ ْ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫�ن‬َ‫أ‬َ‫أ‬
ُ‫ه‬‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ل‬َ‫ع‬َ‫ج‬ ُ‫ء‬‫ا‬ َ‫ش‬َ‫ن‬ ْ‫و‬َ‫ل‬)٦٩( َ‫ون‬ُ‫ل‬ِ‫ز‬ْ‫ن‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬
)٧٠( َ‫ون‬ُ‫ر‬ُ‫ك‬ ْ‫ش‬َ‫ت‬ ‫ال‬ْ‫و‬َ‫ل‬ َ‫�ف‬ ‫ا‬ً‫اج‬َ‫ج‬ُ‫أ‬
“Maka terangkanlah
kepadaku tentang air yang
kamu minum, kamukah
yang menurunkannya
atau Kamikah yang
menurunkannya? Kalau
Kami kehendaki, niscaya
Kami jadikan dia asin. Maka,
mengapakah kamu tidak
bersyukur?”
( QS: Al Waqi’ah : 68 – 70 )
Sebagai seorang muslim,
jika kita merenungkan
ayat di atas, kita akan menyadari
betapa kebesaran dan nikmat
Allah. Karena, setiap hari pasti
kita minum air. Nah, saat kita
minum itu coba kita ingat dari
mana air itu asalnya? Apakah
kita yang menurunkan air…?
Masyaa Allah !! Apakah pantas
kita mengingkari nikmat
Allah berupa air … yang kita
butuhkan setiap hari?
Mari kita kaji lebih mendalam
lagi. Bukankah air itu dari hujan,
dan sadarkah kita bagaimana
hujan terjadi? Bagaimana Al-
quran mengungkap tentang
terjadinya hujan? Mari kita
pahami bersama…
Foto : radaronline.co.id
Oleh: Sofyan Toha, S.Si.
menurut Al Quran
Rahasia
Terjadinya Hujan
SAINS
31Edisi:4 Vol.1
Allah Berfirman :
ُ‫ف‬ِّ‫ل‬َ‫ؤ‬ُ‫�ي‬ َّ‫ُم‬‫ث‬ ‫ا‬ً‫ب‬‫ا‬ َ‫ح‬َ‫س‬ ‫ي‬ِ‫ج‬ْ‫ز‬ُ‫�ي‬ َ‫ه‬َّ‫الل‬ َّ‫ن‬َ‫أ‬ َ‫ر‬َ‫�ت‬ ْ‫م‬َ‫ل‬َ‫أ‬
َ‫ق‬ْ‫د‬َ‫و‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ى‬َ‫ر‬َ‫�ت‬ َ‫�ف‬ ‫ا‬ً‫م‬‫ا‬َ‫ك‬ُ‫ر‬ ُ‫ه‬ُ‫ل‬َ‫ع‬ ْ‫ج‬َ‫ي‬ َّ‫ُم‬‫ث‬ ُ‫ه‬َ‫ن‬ْ‫�ي‬َ‫ب‬�
ِ‫ء‬‫ا‬َ‫م‬ َّ‫الس‬ َ‫ِن‬‫م‬ ُ‫ل‬ِّ‫ز‬َ‫�ن‬ُ‫�ي‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ِ‫ل‬‫ال‬ِ‫خ‬ ْ‫ِن‬‫م‬ ُ‫ج‬ُ‫ر‬ ْ‫خ‬َ‫ي‬
ِ‫ه‬ِ‫ب‬ ُ‫يب‬ ِ‫ص‬ُ‫ي‬ َ‫�ف‬ ٍ‫د‬َ‫ر‬َ‫ب‬� ْ‫ِن‬‫م‬ ‫ا‬َ‫ه‬‫ِي‬‫ف‬ ٍ‫ال‬َ‫ب‬ِ‫ج‬ ْ‫ِن‬‫م‬
ُ‫د‬‫ا‬َ‫ك‬َ‫ي‬ ُ‫ء‬‫ا‬ َ‫ش‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬ ُ‫ه‬ُ‫ف‬ِ‫ر‬ ْ‫ص‬َ‫ي‬َ‫و‬ ُ‫ء‬‫ا‬ َ‫ش‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫م‬
)٤٣( ِ‫ر‬‫ا‬ َ‫ص‬ْ‫ب‬‫ِاأل‬‫ب‬ ُ‫ب‬َ‫ه‬ْ‫ذ‬َ‫ي‬ ِ‫ه‬ِ‫ق‬ْ‫ر‬َ‫ب‬� ‫ا‬َ‫ن‬َ‫س‬
“Tidaklah kamu melihat
bahwa Allah mengarak awan,
kemudian mengumpulkan antara
(bagian-bagian)nya, kemudian
menjadikannya bertindih-tindih,
maka kelihatanlah olehmu
hujan keluar dari celah-celahnya
dan Allah (juga) menurunkan
(butiran butiran) es dari langit,
(yaitu) dari (gumpalan- gumpalan
awan seperti) gunung-gunung,
maka ditimpakan-Nya (butiran-
butiran) es itu kepada siapa
yang dikehendaki-Nya dan
dipalingkan-Nya dari siapa
yang dikehendaki-Nya. Kilauan
kilat awan itu hampir-hampir
menghilangkan penglihatan.” (Al
Qur’an, 24:43)
Para ilmuwan yang
mempelajari jenis-jenis awan
mendapatkan temuan yang
mengejutkan, berkenaan dengan
proses pembentukan awan
hujan. Terbentuknya awan
hujan yang mengambil bentuk
tertentu, terjadi melalui sistem
dan tahapan tertentu pula.
Tahap-tahap pembentukan
kumulonimbus, sejenis awan
hujan, adalah sebagai berikut:
TAHAP – 1, Pergerakan awan
oleh angin: Awan-awan dibawa,
dengan kata lain, ditiup oleh
angin.
TAHAP – 2, Pembentukan awan
yang lebih besar: Kemudian
awan-awan kecil (awan
kumulus) yang digerakkan
angin, saling bergabung dan
membentuk awan yang lebih
besar.
TAHAP – 3, Pembentukan awan
yang bertumpang tindih: Ketika
awan awan kecil saling bertemu
dan bergabung membentuk
awan yang lebih besar, gerakan
udara vertikal ke atas terjadi di
SAINS
Edisi:4 Vol.132
dalamnya meningkat.
Gerakan udara vertikal ini
lebih kuat di bagian tengah
dibandingkan di bagian
tepinya. Gerakan udara ini
menyebabkan gumpalan awan
tumbuh membesar secara
vertikal, sehingga menyebabkan
awan saling bertindih-tindih.
Membesarnya awan secara
vertikal ini menyebabkan
gumpalan besar awan tersebut
mencapai wilayah-wilayah
atmosfer yang bersuhu lebih
dingin, di mana butiran-butiran
air dan es mulai terbentuk dan
tumbuh semakin membesar.
Ketika butiran air dan es ini
telah menjadi berat sehingga
tak lagi mampu ditopang oleh
hembusan angin vertikal,
mereka mulai lepas dari awan
dan jatuh ke bawah sebagai
hujan air, hujan es, dan
sebagainya. (Anthes, Richard A.;
John J. Cahir; Alistair B. Fraser;
and Hans A. Panofsky, 1981,
The Atmosphere, s. 269; Millers,
Albert; andJack C. Thompson,
1975, Element s of Meteorology, s.
141-142)
Kita harus ingat bahwa para
ahli meteorologi baru akhir-
akhir ini saja mengetahui proses
pembentukan awan hujan ini
secara rinci, beserta bentuk dan
fungsinya, dengan menggunakan
peralatan mutakhir seperti
pesawat terbang, satelit,
komputer, dan sebagainya.
Sungguh jelas bahwa Allah
telah memberitahu kita suatu
informasi yang tak mungkin
dapat diketahui 1400 tahun yang
lalu.
Gambar di atas memperlihatkan
tahap-tahap pembentukan
gelombang air.
SAINS
33Edisi:4 Vol.1
Gelombang air terbentuk
ketika angin meniup permukaan
air. Akibat pengaruh angin
ini, pertikel-partikel air mulai
bergerak melingkar. 	
Pergerakan ini kemudian
mendorong terbentuknya
gelombang air yang silih
berganti, dan butiran-butiran
air kemudian terbentuk oleh
gelombang ini yang kemudian
tersebar dan beterbangan di
udara.
Dalam sebuah ayat Al Quran
disebutkan sifat angin yang
mengawinkan dan terbentuknya
hujan karenanya.
َ‫ِن‬‫م‬ ‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ل‬َ‫ز‬ْ‫�ن‬َ‫أ‬َ‫ف‬ َ‫ِح‬‫ق‬‫ا‬َ‫و‬َ‫ل‬ َ‫اح‬َ‫ي‬ِّ‫الر‬ ‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ل‬َ‫س‬ْ‫ر‬َ‫أ‬َ‫و‬
ُ‫ه‬َ‫ل‬ ْ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫�ن‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫م‬َ‫و‬ ُ‫ه‬‫و‬ُ‫م‬ُ‫اك‬َ‫ن‬ْ‫َ�ي‬‫ق‬ْ‫س‬َ‫أ‬َ‫ف‬ ً‫ء‬‫ا‬َ‫م‬ ِ‫ء‬‫ا‬َ‫م‬ َّ‫الس‬
)٢٢( َ‫ِين‬‫ن‬ِ‫ز‬‫ا‬ َ‫ِخ‬‫ب‬
«Dan kami telah meniupkan
angin untuk mengawinkan
dan Kami turunkan hujan dari
langit lalu Kami beri minum
kamu dengan air itu dan sekali
kali bukanlah kamu yang
menyimpannya.» (Al Qur>an, 15:22)
Dalam ayat ini ditekankan
bahwa fase pertama dalam
pembentukan hujan adalah
angin. Hingga awal abad ke-20,
satu-satunya hubungan antara
angin dan hujan yang diketahui
hanyalah bahwa angin yang
menggerakkan awan. Namun
penemuan ilmu meteorologi
modern telah menunjukkan
peran «mengawinkan» dari
angin dalam pembentukan
hujan.
Fungsi mengawinkan pada
angin ini terjadi sebagaimana
berikut.
Di atas permukaan laut dan
samudera, gelembung udara
yang tak terhitung jumlahnya
terbentuk akibat pembentukan
buih. Pada saat gelembung-
gelembung ini pecah, ribuan
partikel kecil dengan diameter
seperseratus milimeter,
terlempar ke udara. Partikel-
partikel ini, yang dikenal sebagai
aerosol, bercampur dengan
debu daratan yang terbawa
oleh angin dan selanjutnya
terbawa ke lapisan atas atmosfer.
Partikel-partikel ini dibawa naik
SAINS
Edisi:4 Vol.134
lebih tinggi ke atas oleh angin
dan bertemu dengan uap air
di sana. Uap air mengembun
di sekitar partikel-partikel ini
dan berubah menjadi butiran-
butiran air. Butiran-butiran air
ini mula-mula berkumpul dan
membentuk awan, kemudian
jatuh ke bumi dalam bentuk
hujan.
Sebagaimana terlihat, angin
“mengawinkan” uap air yang
melayang di udara dengan
partikel-partikel yang dibawanya
dari laut dan akhirnya
membantu pembentukan awan
hujan.
Apabila angin tidak
memiliki sifat ini, butiran-
butiran air di atmosfer bagian
atas tidak akan pernah terbentuk
dan hujan pun tidak akan
pernah terjadi.
Hal terpenting di sini adalah
bahwa peran utama dari angin
dalam pembentukan hujan
telah dinyatakan berabad-abad
yang lalu dalam sebuah ayat Al
Qur’an, pada saat orang hanya
mengetahui sedikit saja tentang
fenomena alam.
Allah berfirman :
‫ا‬ً‫ب‬‫ا‬ َ‫ح‬َ‫س‬ ُ‫ِير‬‫ث‬ُ‫ت‬ َ‫�ف‬ َ‫اح‬َ‫ي‬ِّ‫الر‬ ُ‫ل‬ِ‫س‬ْ‫ر‬ُ‫�ي‬ ‫ِي‬‫ذ‬َّ‫ال‬ ُ‫ه‬َّ‫الل‬
ُ‫ء‬‫ا‬ َ‫ش‬َ‫ي‬ َ‫ف‬ْ‫ي‬َ‫ك‬ِ‫ء‬‫ا‬َ‫م‬ َّ‫الس‬ ‫ِي‬‫ف‬ ُ‫ه‬ُ‫ط‬ ُ‫س‬ْ‫ب‬َ‫ي‬ َ‫�ف‬
ْ‫ِن‬‫م‬ ُ‫ج‬ُ‫ر‬ ْ‫خ‬َ‫ي‬ َ‫ق‬ْ‫د‬َ‫و‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ى‬َ‫ر‬َ‫�ت‬ َ‫�ف‬ ‫ًا‬‫ف‬ َ‫س‬ِ‫ك‬ُ‫ه‬ُ‫ل‬َ‫ع‬ ْ‫ج‬َ‫ي‬َ‫و‬
ْ‫ِن‬‫م‬ ُ‫ء‬‫ا‬ َ‫ش‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ َ‫اب‬ َ‫ص‬َ‫أ‬ ‫َا‬‫ذ‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ ِ‫ه‬ِ‫ل‬‫ال‬ِ‫خ‬
َ‫ون‬ُ‫ر‬ ِ‫ش‬ْ‫ب‬َ‫ت‬ ْ‫س‬َ‫ي‬ ْ‫م‬ُ‫ه‬ ‫َا‬‫ذ‬ِ‫إ‬ ِ‫ه‬ِ‫د‬‫ا‬َ‫ِب‬‫ع‬
«Dialah Allah Yang mengirimkan
angin, lalu angin itu
menggerakkan awan dan Allah
membentangkannya di langit
menurut yang dikehendakiNya,
dan menjadikannya bergumpal-
gumpal; lalu kamu lihat air
hujan keluar dari celah-celahnya;
maka, apabila hujan itu turun
mengenai hamba-hambaNya
yang dikehendakiNya, tiba-tiba
mereka menjadi gembira» (Al
Qur>an, 30:48)
Hujan adalah rahmat :
َ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫ب‬� ‫ا‬ً‫ر‬ ْ‫ش‬ُ‫ب‬ َ‫اح‬َ‫ي‬ِّ‫الر‬ ُ‫ل‬ِ‫س‬ْ‫ر‬ُ‫�ي‬ ‫ِي‬‫ذ‬َّ‫ال‬ َ‫و‬ُ‫ه‬َ‫و‬
‫ا‬ً‫ب‬‫ا‬ َ‫ح‬َ‫س‬ ْ‫ت‬َّ‫ل‬ َ‫�ق‬َ‫أ‬ ‫َا‬‫ذ‬ِ‫إ‬ ‫َّى‬‫ت‬َ‫ح‬ ِ‫ه‬ِ‫ت‬َ‫م‬ْ‫ح‬َ‫ر‬ ْ‫ي‬َ‫د‬َ‫ي‬
َ‫ء‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ ‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ل‬َ‫ز‬ْ‫�ن‬َ‫أ‬َ‫ف‬ ٍ‫ت‬ِّ‫ي‬َ‫م‬ ٍ‫د‬َ‫ل‬َ‫ب‬�ِ‫ل‬ ُ‫ه‬‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ق‬ُ‫س‬ ‫َاال‬‫ق‬ِ‫ث‬
َ‫ِك‬‫ل‬َ‫ذ‬َ‫ك‬ ِ‫ات‬َ‫ر‬َ‫م‬َّ‫ث‬‫ال‬ ِّ‫ل‬ُ‫ك‬ ْ‫ِن‬‫م‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ ‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ج‬َ‫ر‬ْ‫خ‬َ‫أ‬َ‫ف‬
َ‫ون‬ُ‫ر‬َّ‫ك‬َ‫ذ‬َ‫ت‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َّ‫ل‬َ‫ع‬َ‫ل‬ ‫ى‬َ‫ت‬ْ‫و‬َ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ج‬ِ‫ر‬ ْ‫خ‬ُ‫ن‬
SIROH
35Edisi:4 Vol.1
"Dan Dialah yang meniupkan
angin sebagai pembawa berita
gembira sebelum kedatangan
rahmat-Nya (hujan); hingga
apabila angin itu telah membawa
awan mendung, Kami halau ke
suatu daerah yang tandus, lalu
Kami turunkan hujan di daerah
itu, maka Kami keluarkan
dengan sebab hujan itu pelbagai
macam buah-buahan. Seperti
Itulah Kami membangkitkan
orang-orang yang telah mati,
Mudah-mudahan kamu
mengambil pelajaran." (Q.S. Al
A'raf : 57 )
ً‫ا‬‫اج‬َّ‫َج‬‫ث‬ ‫اء‬َ‫م‬ ِ‫ات‬َ‫ر‬ ِ‫ص‬ْ‫ع‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫ِن‬‫م‬ ‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ل‬َ‫ز‬‫ن‬َ‫أ‬َ‫و‬
ٍ‫َّات‬‫ن‬َ‫ج‬َ‫و‬)١٥( ‫ا‬ً‫ت‬‫ا‬َ‫ب‬َ‫�ن‬َ‫و‬ ‫ا‬ًّ‫ب‬َ‫ح‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ َ‫ج‬ِ‫ر‬ ْ‫خ‬ُ‫ن‬ِ‫ل‬
‫ا‬ً‫ف‬‫َا‬‫ف‬ْ‫ل‬َ‫أ‬
"Dan Kami turunkan dari awan air
yang banyak tercurah. Supaya Kami
tumbuhkan dengan air itu biji-bijian
dan tumbuh-tumbuhan. Dan kebun-
kebun yang lebat." (Q.S. An Naba' :
14-16)
ً‫ة‬َ‫ع‬ِ‫اش‬َ‫خ‬ َ‫ض‬ْ‫ر‬‫األ‬ ‫ى‬َ‫ر‬َ‫�ت‬ َ‫ك‬َّ‫ن‬َ‫أ‬ ِ‫ه‬ِ‫ت‬‫ا‬َ‫ي‬‫آ‬ ْ‫ِن‬‫م‬َ‫و‬
ْ‫ت‬َ‫ب‬َ‫ر‬َ‫و‬ ْ‫ت‬َّ‫ز‬َ‫�ت‬ْ‫ه‬‫ا‬ َ‫ء‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ا‬َ‫ه‬ْ‫�ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ل‬َ‫ز‬ْ‫�ن‬َ‫أ‬ ‫َا‬‫ذ‬ِ‫إ‬َ‫ف‬
ُ‫ه‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬ ‫ى‬َ‫ت‬ْ‫و‬َ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ِي‬‫ي‬ ْ‫ح‬ُ‫م‬َ‫ل‬ ‫ا‬َ‫ه‬‫ا‬َ‫ي‬ْ‫ح‬َ‫أ‬ ‫ِي‬‫ذ‬َّ‫ال‬ َّ‫ِن‬‫إ‬
ٌ‫ِير‬‫د‬َ‫ق‬ ٍ‫ء‬ْ‫ي‬َ‫ش‬ ِّ‫ل‬ُ‫ك‬‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬
"Dan di antara tanda-tanda-
Nya (ialah) bahwa kau Lihat
bumi kering dan gersang, Maka
apabila Kami turunkan air di
atasnya, niscaya ia bergerak dan
subur. Sesungguhnya Tuhan
yang menghidupkannya, pastilah
dapat menghidupkan yang
mati. Sesungguhnya Dia Maha
Kuasa atas segala sesuatu." (Q.S.
Fushshilat : 39 )
‫وسلم‬ ‫عليه‬ ‫اهلل‬ ‫صلى‬ ‫اهلل‬ ‫رسول‬ ‫قال‬
‫ورحمته‬ ‫اهلل‬ ‫بفضل‬ ‫نا‬‫ر‬‫مط‬ :
) ‫البخاري‬ ‫رواه‬ (
Rasulullah bersabda : “ kita
diberi hujan karena karunia dan
rahmat Alloh “ ( HR. Bukhori )
Sumber :
Al Qur’anul Karim
Tafsir Ibnu Katsir
http ://id .harunyahya.com
http://www.keajaibanalquran.com
SIROH
S
etelah diangkatnya
Rasulullah n
menjadi Nabi dan
Rasul, maka Beliau pun mulai
menyingsingkan lengan baju,
bersungguh-sungguh untuk
menyampaikan amanat risalah
kepada umat. Beliau memulai
dakwah. Beliau mengajak kepada
tauhid, memerangi segala
bentuk berhala. Itu semua
adalah sebagai pengamalan dari
perintah Allah k:
.ْ ِّ‫ر‬‫ب‬َ‫ك‬َ‫ف‬ َ‫ك‬َّ‫ب‬َ‫ر‬َ‫و‬ .ْ‫ر‬ِ‫ذ‬ْ‫ن‬َ‫أ‬َ‫ف‬ ْ‫م‬ُ‫ق‬ .ُ‫ر‬ِّ‫دَّث‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫َا‬‫ه‬ُّ‫ي‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫ي‬
ْ‫ُن‬‫ن‬ْ َ‫م‬‫ت‬ َ‫ا‬‫ل‬َ‫و‬ .ْ‫ر‬ُ‫ج‬ْ‫اه‬َ‫ف‬ َ‫ز‬ْ‫ج‬ُّ‫ر‬‫ال‬َ‫و‬ .ْ‫ر‬ِّ‫ه‬َ‫ط‬َ‫ف‬ َ‫ك‬َ‫ب‬‫ا‬َ‫ي‬ِ‫َث‬‫و‬
) 7-1 : ‫املدثر‬ ( ْ ِ‫ر‬‫ب‬ ْ‫اص‬َ‫ف‬ َ‫ك‬ِّ‫ب‬َ‫ر‬ِ‫ل‬َ‫و‬ .ُ ِ‫ر‬‫ث‬ْ‫ك‬َ‫ت‬ ْ‫س‬َ‫ت‬
«Hai orang yang berselimut!,
bangunlah, lalu berilah
peringatan!, dan Tuhanmu
agungkanlah! dan pakaianmu
bersihkanlah, dan perbuatan
dosa tinggalkanlah,dan
janganlah kamu memberi
(dengan maksud) memperoleh
(balasan) yang lebih banyak.,
dan untuk (memenuhi
perintah) Tuhanmu,
bersabarlah.“ (Qs. Al Muddatsir
: 1-5 )
Misi Beliau adalah misi yang
sangat berat, yang mana di
waktu tersebut keadaan
orang-orang
Quraisy
& Penerima Dakwah
Paling Awal
Awal Dakwah Rasulullah n
Oleh: Abdusshommad Rifai, Lc.
SIROH
sudah mencapai puncak
dari kesyirikan, kekufuran,
kedzaliman dan segala macam
keburukan.
Tiga Tahun Berdakwah dengan
Cara Sembunyi-Sembunyi
Melihat keadaan orang - orang
Quraisy yang sudah parah dalam
bentuk kekufuran, kerasnya
perangai mereka, bahasa mereka
adalah bahasa pedang dalam
menghadapi perselisihan,
dan sifat buruk lainnya, di
samping juga mereka adalah
orang-orang yang teranggap
besar di kalangan orang Arab,
maka termasuk hikmah adalah
menyampaikan dakwah kepada
mereka di awal waktu dengan
cara sembunyi – sembunyi agar
tidak terlalu mengagetkan dan
mengejutkan mereka. Itulah
yang dilakukan oleh Rasulullah.
Beliau mengajak kepada
tauhid dengan
cara
sembunyi – sembunyi.
Beliau ajak orang-orang
yang dipandang siap untuk
menerimanya, baik dari
kalangan keluarga dan kerabat,
dan atau juga orang-orang yang
sudah dikenal dengan kebaikan,
kejujuran dan penerimaan
mereka kepada kebenaran.
Para Penerima Dakwah Paling
Awal
Kebenaran adalah cahaya
penerang dan juga penentram
hati. Dia akan hinggap dengan
mudah di hati-hati pemilik jiwa
yang bersih. Begitu pulalah
kebenaran yang datang dari
Rasulullah. Begitu disampaikan,
maka di sana ada jiwa-jiwa yang
baik yang menjawab langsung
tanpa ada keraguan. Mereka
adalah hamba-hamba pilihan
Allah yang mendapatkan
keutamaan besar, yang nama-
nama mereka terukir
Edisi:4 Vol.138
dengan indah dalam sejarah
Islam dengan sembutan
“Assaabiquunal Awwaluun”
Orang-orang pertama yang
menerima dakwah Rasulullah
adalah istri Beliau sendiri yaitu
Khodijah, Zaid bin Haritsah
z(bekas budak Beliau),
sepupu Beliau, Ali bin Abi
Thalib z, dan teman karib
Beliau Abu Bakar z .
Mereka masuk Islam di hari-hari
awal dakwah Rasulullah.
Abu Bakar z, dan Berkah
Keislamannya
Sungguh, Abu Bakar adalah
hamba pilihan Allah yang
mempunyai keutamaan sangat
berlimpah, yang tidak akan bisa
disaingi oleh satu orang pun dari
umat ini. Beliau adalah laki-laki
yang paling dicintai oleh Nabi.
Dan lihatlah
bagaimana Nabi
n memuji
Beliau :
َ‫ن‬ِ‫م‬ َ‫س‬ْ‫ي‬َ‫ل‬ ُ‫ه‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬((
َّ‫ن‬َ‫م‬َ‫أ‬ ٌ‫د‬َ‫ح‬َ‫أ‬ ِ‫َّاس‬‫ن‬‫ال‬
ِ‫ه‬ِ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ ِ‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ ِ‫ي‬‫ف‬ ََّ‫ي‬‫ل‬َ‫ع‬
ُ‫ْت‬‫ن‬ُ‫ك‬ ْ‫و‬َ‫ل‬َ‫و‬ ،َ‫ة‬َ‫ف‬‫ا‬َ‫ح‬ُ‫ق‬ ِ‫ي‬‫ب‬َ‫أ‬ ِ‫ن‬ْ‫ب‬ ِ‫ر‬ْ‫ك‬‫ب‬ ِ‫ي‬‫ب‬َ‫أ‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬
‫ا‬َ‫ب‬َ‫أ‬ ُ‫ت‬ْ‫ذ‬َ‫خ‬َّ‫ت‬َ‫ال‬ ً‫يلا‬ِ‫ل‬َ‫خ‬ ِ‫َّاس‬‫ن‬‫ال‬ َ‫ن‬ِ‫م‬ ‫ا‬ً‫ذ‬ِ‫َّخ‬‫ت‬ُ‫م‬
)467 : ‫البخاري‬ ‫(رواه‬ ))ً‫يلا‬ِ‫ل‬َ‫خ‬ ٍ‫ر‬ْ‫ك‬َ‫ب‬
“Tidak ada manusia yang
lebih memberi anugrah pada
jiwa dan hartanya untukku
melebihi Abu Bakar. Kalau
aku boleh menjadikan
seseorang menjadi kekasih
pasti aku jadikan Abu Bakar
sebagai kekasih». (HR. Bukhari
: 467)
Bagi penduduk Mekkah, Abu
Bakar adalah orang yang sangat
istimewa dan disegani. Beliau
terkenal dengan kemuliaan
nasab, kemuliaan perangai dan
akhlak, serta dikenal sebagai
ahli dalam ilmu garis keturunan
kaum Arab.
“Assaabiquunal Awwaluun”. Di
antara mereka adalah Abu Ubaidah bin
Jarrah, Abu Salamah, Arqom bin Abi
Arqom, Utsman bin Madz’un, Ubaidah
bin Harits, Said bin Zaid, Asma binti Abu
Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, Khobbab
bin Art, Abdullah bin Mas’ud, Umair bin
Abi Waqosh, dan yang lainnya g.
SIROH
SIROH
39Edisi:4 Vol.1
Abu Bakar z adalah
berkah yang membawa berkah.
Begitu Beliau mendapatkan
keberkahan dengan masuk ke
dalam agama Islam, Beliau
langsung menghubungi beberapa
kawan dan menawarkan Islam
kepada mereka. Maka beberapa
orang pilihan, orang terpandang
di kalangan penduduk Mekkah,
menerima tawaran keberkahan
Islam dari Abu Bakar. Mereka
adalah Utsman bin Affan, Zubair
bi ‘Awwam, Abdurrahman bin
Auf, Sa’d bin Abi Waqqash dan
Thalhah bin Ubaidillah, g.
Tidak berselang lama dari
keislaman mereka, maka
menyusullah orang-orang
yang sudah ditakdirkan oleh
Allah untuk bisa mendapatkan
keutamaan manjadi
“Assaabiquunal Awwaluun”.
Di antara mereka adalah Abu
Ubaidah bin Jarrah, Abu
Salamah, Arqam bin Abi Arqam,
Utsman bin Madz’un, Ubaidah
bin Harits, Said bin Zaid, Asma
binti Abu Bakar, Aisyah binti
Abu Bakar, Khabbab bin Art,
Abdullah bin Mas’ud, Umair bin
Abi Waqash, dan yang lainnya
g.
Begitulah, ternyata dengan
diam-diam dan tidak terlihat
di permukaan, banyak dari
kalangan penduduk Mekkah
yang telah masuk ke dalam
agama Islam. Dan bisa jadi satu
dengan yang lain tidak saling
mengetahui bahwa kawannya
telah masuk Islam sama dengan
dirinya. Walaupun begitu, tetap
Rasulullah berdakwah dengan
cara sembunyi-sembunyi
seperti ini, dikarenakan belum
diizinkan oleh Allah untuk
berdakwah dengan terang-
terangan dan dikarenakan
jumlah dan kekuatan kaum
muslimin masihlah sangat
minim yang diperkirakan belum
bisa menghadapi kekuatan
orang-orang kafir Quraisy.
Buah dan Pelajaran yang Bisa
Dipetik
Dari penggalan sirah yang
indah ini kita banyak mengambil
kesimpulan dan pelajaran,
SIRAH
Edisi:4 Vol.140
di antaranya adalah sebagai
berikut.
1. Hikmahnya Nabi n dalam
dakwah Beliau, di mana Beliau
memulai dakwah dengan cara
yang menyesuaikan dengan
kondisi masyarakat.
2. Di dalamnya terdapat
penjelasan bahwa yang pertama
kali masuk Islam dari kalangan
wanita adalah Khodijah, dari
kalangan anak belia adalah Ali
bin Abu Thalib, dari kalangan
laki-laki dewasa adalah Abu
Bakar dan dari kalangan bekas
budak adalah Zaid bin Haritsah.
3. Keutamaan Abu Bakar, yang
mana Beliau mendapatkan
banyak sekali keutamaan,
di antaranya adalah Beliau
termasuk orang-orang yang
pertama kali masuk Islam.
4. Kemuliaan yang dimiliki oleh
para “Assaabiquunal Awwaluun”.
Dan Allah telah memuji mereka
dengan pujian yang sangat luhur.
Dia berfirman :
َ‫ين‬ِ‫ر‬ِ‫َاج‬‫ه‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫ن‬ِ‫م‬ َ‫ون‬ُ‫ل‬َّ‫و‬َ ْ‫أ‬‫ال‬ َ‫ون‬ُ‫ق‬ِ‫ب‬‫ا‬ َّ‫الس‬َ‫و‬
ٍ‫ان‬ َ‫س‬ْ‫ح‬ِ‫إ‬ِ‫ب‬ ْ‫م‬ُ‫وه‬ُ‫ع‬َ‫ب‬َّ‫ت‬‫ا‬ َ‫ين‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬َ‫و‬ ِ‫ر‬‫ا‬ َ‫ص‬ْ‫ن‬َ ْ‫أ‬‫ال‬َ‫و‬
َّ‫د‬َ‫ع‬َ‫أ‬َ‫و‬ ُ‫ه‬ْ‫ن‬8َ‫ع‬ ‫وا‬ ُ‫ض‬َ‫ر‬َ‫و‬ ْ‫ُم‬‫ه‬ْ‫ن‬َ‫ع‬ ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َ ِ‫ي‬‫ض‬َ‫ر‬
ُ‫ر‬‫َا‬‫ه‬ْ‫ن‬َ ْ‫أ‬‫ال‬ ‫َا‬‫ه‬َ‫ت‬ْ‫ح‬َ‫ت‬ ‫ي‬ِ‫ر‬ْ‫ج‬َ‫ت‬ ٍ‫َّات‬‫ن‬َ‫ج‬ ْ‫ُم‬‫ه‬َ‫ل‬
ُ‫يم‬ِ‫ظ‬َ‫ع‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ز‬ْ‫و‬َ‫ف‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫ك‬ِ‫ل‬َ‫ذ‬ ‫ًا‬‫د‬َ‫ب‬َ‫أ‬ ‫َا‬‫ه‬‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫ين‬ِ‫د‬ِ‫ل‬‫ا‬َ‫خ‬
)100 : ‫التوبة‬ (
“ Orang-orang yang terdahulu
lagi yang pertama-tama
(masuk Islam) dari golongan
Muhajirin dan Anshar dan
orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik, Allah
ridha kepada mereka dan
mereka pun ridha kepada
Allah dan Allah menyediakan
bagi mereka surga-surga yang
mengalir sungai-sungai di
dalamnya selama-lamanya.
mereka kekal di dalamnya.
Itulah kemenangan yang
besar.” (Qs. At-Taubah : 100)
5. Keutamaan berdakwah di
jalan Allah
Dan pelajaran-pelajaran lainnya,
Wallahu A’lam.
Maroji :
- Ar Rahiiq Almakhtuum, Syaikh
Shafiyurrahman Almubarakfurie.
- Haadzaa Alhabiib Ayyuhal Habib, Syaikh
Abu Bakr Jabir Aljazairie.
41Edisi:4 Vol.1
DOA KELUAR RUMAH
“Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah.
Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.”
( Shohih At-Tirmizi : 3/151)
،ِ‫ه‬َّ‫الل‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ُ‫ت‬ْ‫ل‬َّ‫ك‬َ‫و‬َ‫�ت‬ ِ‫ه‬َّ‫الل‬ ِ‫م‬ ْ‫ِس‬‫ب‬
ِ‫ه‬َّ‫ِالل‬‫ب‬ َّ‫لا‬ِ‫إ‬ َ‫ة‬َّ‫و‬ ُ‫�ق‬ َ‫لا‬َ‫و‬ َ‫ل‬ْ‫و‬َ‫ح‬ َ‫لا‬
Edisi:4 Vol.142
P
embaca yang budiman.
Ketenaran didambakan
oleh banyak orang,
karena manusia itu memiliki
kecenderungan untuk
dikenal, dipuji, dan disanjung.
Namun, ketenaran itu akan
menjerumuskan seseorang
ke dalam fitnah yang
membahayakan dirinya, karena
di saat seseorang mendambakan
dan mencari ketenaran ia akan
sangat gembira jika kebaikannya
disebut-sebut dan tidak senang
jika ada orang lain yang memiliki
kelebihan, sehingga hatinya
berada dalam dua kondisi yang
sangat tercela, yaitu antara
riya’ dan hasad. Ketenaran
menjauhkan seseorang dari sifat
keikhlasan yang merupakan
syarat diterimanya amal
kebaikan.
Diriwayatkan, bahwa suatu
kali terlihat ada kesedihan
di muka Imam Ahmad,
karena beliau telah dipuji
oleh seseorang. Dikatakan
kapada Beliau,“Semoga Allah
memberikan balasan kebaikan
kepadamu atas jasamu terhadap
Islam.” Beliau menjawab: “Tidak,
tetapi semoga Allah memberikan
balasan kebaikan kepada Islam,
karena telah berjasa kepadaku.”
Para ulama dengan keilmuan
dan keshalihan mereka adalah
orang yang paling pantas untuk
dikenal dan menjadi orang-
orang yang tenar, namun mereka
sangat berhati-hati dengan
ketenaran ini dan berusaha
dan Kekhawatiran Mereka terhadap Ketenaran
Salaf
Oleh: Nuralim, Lc.
TELADAN SALAF
TELADAN SALAF
43Edisi:4 Vol.1
untuk menjauhinya serta
mereka selalu berusaha menjaga
keikhlasan.
Pembaca yang budiman.
Marilah kita simak kisah-
kisah beberapa ulama salaf
berikut ini, yang mengkisahkan
tentang upaya mereka untuk
menghindari ketenaran dan
menjauhi bahayanya.
1.Abdullah Ibnul Mubarak
tidak dikenal orang dan tidak
ingin pendapatnya ditulis.
Al Hasan, salah seorang
Murid Ibnul Mubarak berkata:
“Suatu hari aku bersama
Abdullah ibnu Al Mubarak.
Kami berdua menuju ke sebuah
tempat air minum. Orang-orang
sedang meminum di tempat
itu, kemudian kami berdua
mendekati tempat itu untuk
minum. Orang-orang tersebut
tidak ada yang mengenal
beliau, sehingga mereka
berdesakan dengan beliau dan
mendorongnya. Ketika keluar,
Abdullah ibnu bin Al Mubarok
berkata kepadaku, “Seperti
inilah hidup itu. Di mana
seseorang tidak dikenal maka ia
tidak akan dihormati.”
Al Hasan juga berkata: “Ketika
Abdullah ibnu Al Mubarok di
Kufah, dibacakan kepada beliau
kitab Manasik Haji. Setelah
sampai kepada sebuah hadits,
kemudian tertulis setelahnya
perkataan “Abdullah berkata:
“Kami berpegang dengan
hadits ini,” Abdullah ibnu Al
Mubarak berkata: “Siapa yang
menulis pendapatku ini?” Aku
Menjawab: “Penulisnya yang
menulis.” Beliau mengerik
tulisan itu hingga hilang dan
berkata: “Siapa aku ini. Hingga
pendapatku ditulis?”
2.Ibnu Mas’ud tidak ingin
diikuti dari belakang.
Hubaib bin Abi Tsabit berkata:
“Suatu hari Ibnu Mas’ud keluar
dan orang-orang mengikutinya
dari belakang. Beliau bertanya
kepada mereka: “Apakah kalian
memiliki keperluan?” Mereka
menjawab: “Tidak, tetapi
kami ingin berjalan bersama
anda.” Ibnu Mas’ud berkata:
“Kembalilah! Sesungguhnya
TELADAN SALAF
Edisi:4 Vol.144
hal ini membuat hina bagi
orang yang mengikuti dan
menimbulkan fitnah bagi yang
diikuti.”
3.Ibnul Munkadir dan
seorang tukang sepatu.
Muhammad bin Al Munkadir
berkata: “Dahulu aku selalu
berada di salah satu tiang masjid
Rasulullah n untuk duduk dan
sholat malam di situ. Penduduk
Madinah mengalami musibah
kekeringan selama satu tahun,
mereka keluar memohon kepada
Allah agar diturunkan air hujan,
namun Allah tidak menurunkan
hujan kepada mereka. Pada
suatu malam aku shalat Isya’
di masjid Rasulullah n,
kemudian aku bersandar di tiang
yang biasa aku tempati. Lalu
datang seseorang yang berkulit
hitam kekuning-kuningan. Ia
bersarung dengan sehelai kain
dan berselendang dengan sehelai
kain di lehernya.
Orang itu maju ke arah tiang
yang ada di depanku, sehingga
aku berada di belakangnya. Ia
shalat dua rakaat kemudian
duduk untuk berdoa. Dalam
doanya ia berkata, “Wahai Rabb,
penduduk kota suci Nabi Mu
telah keluar memohon hujan
kepada Mu, namun Engkau
tidak memberikan hujan kepada
mereka. Aku bersumpah kepada
Mu agar Engkau menurunkan
hujan kepada mereka.”
Aku berkata, “Orang ini
gila.” Tidaklah sampai orang itu
menurunkan tangannya selesai
berdoa, aku mendengar bunyi
petir kemudian turun hujan, dan
aku sempat ingin pulang kepada
keluargku. Ketika mendengar
hujan turun, orang itu memuji
Allah dengan pujian yang tidak
pernah aku dengar sebelumnya.
Kemudian ia berkata, “Siapa
Dalam doanya ia berkata:
“Wahai Rabb, penduduk kota
suci NabiMu telah keluar
memohon hujan kepadaMu,
namun Engkau tidak
memberikan hujan kepada
mereka. Aku bersumpah
kepadaMu agar Engkau
menurunkan hujan kepada
mereka.”
TELADAN SALAF
45Edisi:4 Vol.1edisi:4 Vol.1 45
aku ini, sehingga Engkau
mengabulkan doaku. Padahal
aku hanya kembali kepada
Mu dengan segala pujian dan
keutamaan Mu. Kemudian ia
berdiri dan menjadikan kain
sarungnya sebagai baju dan
meletakkan kain yang ada di
lehernya di kedua kakinya.
Ia melaksanakan shalat terus
menerus hingga apabila merasa
Shubuh akan tiba, ia sujud
dan shalat witir lalu shalat dua
rakaat sebelum Shubuh. Iqamah
Shubuh pun dikumandangkan,
ia masuk ke dalam shaf untuk
shalat berjamah bersama
orang-orang dan aku juga
masuk shaf bersamanya. Ketika
imam salam dari shalatnya, ia
berdiri kemudian keluar dan
aku ikut keluar di belakangnya
hingga sampai pintu masjid.
Ia keluar dari masjid dengan
mengangkat bajunya karena
melewati genangan air. Aku ikut
keluar di belakangnya dengan
mengangkat bajuku karena
melewati genangan air, namun
setelah itu aku tidak tahu ke
mana ia pergi.
Di malam berikutnya, aku
shalat Isya’ di masjid Rasulullah
n lalu menuju tiang yang
biasa aku duduk di situ
kemudian bersandar padanya.
Orang itu datang, ia berdiri
dengan menjadikan sarungnya
sebagai baju dan meletakkan
kain selendangnya di kedua
kakinya. Ia shalat terus menerus
hingga ketika Shubuh akan
tiba ia sujud dan shalat witir
kemudian shalat dua rakaat
sebelum Shubuh. Iqamat Shubuh
dikumandangkan, ia masuk ke
dalam jama’ah Shubuh bersama
orang-orang dan aku masuk
bersamanya. Ketika imam
salam dari shalatnya, ia keluar
dari masjid dan aku keluar di
belakangnya. Ia terus berjalan,
aku mengikutinya hingga ia
masuk ke dalam sebuah rumah
di Madinah yang sudah aku
ketahui sebelumnya lalu aku
kembali ke masjid.
Ketika matahari terbit dan
aku telah selesai shalat, aku
keluar menuju rumah orang itu.
TELADAN SALAF
Edisi:4 Vol.146
Aku melihat orang itu sedang
menjahit sepatu dan ia adalah
seorang tukang sepatu. Ketika
melihatku ia mengenalku,
kemudian bertanya: “Selamat
datang wahai Abu Abdillah!
Ada perlu apa? Apakah anda
ingin aku buatkan sepatu?”
Aku duduk seraya berkata:
“Bukankah kamu teman
shalatku kemarin malam?”
Muka orang itu berubah
menjadi hitam dan berteriak
kepadaku seraya berkata, “Wahai
Ibnul Munkadir! Apa urusanmu
dengan shalatku itu?” orang
itu marah. Aku menjadi takut
kepadanya, kemudian pergi
darinya.
Di malam beriktunya lagi,
aku Shalat Isya’ di masjid
Rasulullah n, kemudian
menuju ke tiang yang biasa aku
duduk di situ lalu bersandar
kepadanya. Orang itu tidak
datang lagi. Aku berkata.
“Innalillahi, apa yang telah
aku lakukan?” Ketika waktu
pagi telah tiba, aku duduk di
masjid hingga terbit matahari,
kemudian keluar menuju
rumah yang ditempati orang
tersebut. Aku mendapatkan
pintu rumahnya terbuka dan
di dalamnya tidak ada apa-apa.
Orang-orang yang ada di situ
bertanya kepadaku, “Wahai
Abu Abdillah? Apa yang terjadi
antara Anda dengan orang
itu kemarin?” Aku menjawab,
“Ada apa dengannya?” mereka
berkata: “Setelah Anda
pergi darinya kemarin, ia
membentangkan kainnya di
tengah rumahnya, kemudian
tidak ada satu pun barang yang
ada di rumahnya kecuali ia
letakkan di kainnnya itu, lalu ia
membawanya pergi dan kami
tidak tahu ke mana ia pergi?”
Selanjutnya Ibnul Munkadir
berkata, “Aku telah mendatangi
setiap rumah yang aku kenal
di Madinah untuk mencari
orang itu, namun aku tidak
mendapatkannya pula.”
Referensi:
Aina Nahnu min Akhlaqissalaf, Abdul Aziz
bin Nasir Al Jalil dan Bahauddin bin
Fatih Aqil.
47Edisi:4 Vol.1
RESENSI BUKU
Membentuk Karakter Anak Ala Rasulullah
Oleh: Suratman, S.Pd.
A. Identitas Buku
1. Judul buku : Pendidikan Karakter Berbasis Sunnah Nabi
2. Penulis : M. Mujib Ansor, S.H., M.Pd.I.
3. Penerbit, Kota: Pustaka Al-Umm, Malang
4. Tahun terbit : 2013 Masehi
5. Ukuran buku : 14 cm X 21 cm, 254 halaman
6. Harga : Rp35.000,00
B. Pendahuluan
Dewasa ini, kita umat Islam secara
khusus, dan warga negara Republik
Indonesia secara umum, tengah
melewati masa yang dapat kita sebut
“krisis pendidikan” utamanya yang
berkenaan dengan “karakter” atau
“perilaku”. Akibatnya, bangsa ini
tengah mengalami krisis moral yang
hebat. Betapa tidak? Seorang intelek
berpendidikan tinggi tetapi merasa
tenang-tenang saja melakukan
tindak korupsi milayaran rupiah.
Seorang yang ditokohkan (diidolakan)
masyarakat, tetapi dengan tanpa rasa
malu melakukan perbuatan yang
tidak pantas dilakukan oleh seorang
yang menjadi teladan umat. Begitu
pula masyarakat pengagumnya juga
tidak berkurang rasa kagumnya
walaupun tokoh idolanya melakukan
hal tersebut.
Kondisi tersebut rupanya sudah
mulai disadari oleh pemerintah
Indonesia dengan menyusun Kuri-
kulum 2013 yang berbasis karakter.
Atas dasar itulah, yaitu Kurikulum
2013 merupakan kurikulum berbasis
karakter, penulis buku ini merasa
tertantang untuk menggali sejarah
yang ditempuh Rasulullah n dalam
membentukkaraktergenerasiterbaik
yaitu para sahabat yang menemani
Beliau. hanya dalam kurun waktu
kurang lebih 23 tahun.
C. Ringkasan Isi Buku
Buku ini berasal dari tesis di
Universitas Pesantren Tinggi Darul
Ulum (UNIPDU) Jombang, Jawa
Timur yang berjudul “ Konsep
dan Metodologi Nabi n dalam
Pendidikan Karakter”.
Buku ini diawali dengan
menggambarkan sosok Rasulullah
n sebagai Sang Guru Teladan yang
disegani oleh tokoh nonmuslim
sekalipun seperti Michael H. Hart
dan Mahatma Gandhi. Kemudian
dilanjutkan dengan pujian Allah
kepada Rasulullah, dan bukti-bukti
sejarah (sirah) yang menguatkan
betapa cemerlangnya hasil didikan
RESENSI BUKU
Edisi:4 Vol.148
Rasulullah kepada para sahabatnya.
Pada bab-bab selanjutnya, penulis
buku menjelaskan konsep-konsep
atau istilah yang digunakannya
dalam penelitian tersebut (bab 2),
memperkenalkan sosok Rasulullah
dan akhlak mulia Beliau yaitu
amanah, jujur, lemah lembut, kasih
sayang, dan rendah hati (bab 3).
Pembahasan selanjutnya (bab
4), penulis buku menggambarkan inti
pertamakonsepNabishalallahualaihi
wasallam dalam mendidik karakter
antara lain: (1)membentuk manusia
yang hanya beribadah kepada Allah
semata, (2) mendidik sejak kecil, (3)
menyadarkan kewajiban menuntut
ilmu dan menyampaikannya, (4)
mengikatkan ilmu dengan amal,
(5) belajar sepanjang hayat, (6)
tidak sekuler, dan (7) menekankan
pendidikan akhlak mulia. Dalam
bab ini dibahas pula dasar atau
landasan pendidikan, konsep niat,
konsep ilmu, tujuan pendidikan Nabi,
kurikulum pendidikan Nabi, guru
dan murid, tempat pendidikan, dan
diakhiri dengan evaluasi dan lulusan
pendidikan.
Inti kedua dalam buku ini
adalah metodologi Nabi n dalam
mendidik karakter. Pada inti kedua
inilah kelemahan pola pendidikan
yang kita jumpai di Indonesia
sehingga menghasilkan lulusan yang
kering dari karakter (akhlak) mulia.
Metodologi Nabi dalam mendidik
karaktertersebutadalah(1)mendidik
melalui teladan; (2) melatih dan
membiasakan; (3) membimbing,
mengarahkan, dan menasihati;
(3)metode kisah atau cerita yang
konstruktif; (4) menjelaskan dengan
perumpamaan; (5) lemah lembut
dalam memberikan pengajaran; (6)
memberikan pujian, memuliakan,
perlombaan, dan hadiah; (6) segera
meluruskan kesalahan; dan (7)
menghukum anak.
Dari ketujuh metodologi Nabi
tersebut, metodologi keenam dan
ketujuh ini yang perlu mendapatkan
perhatian kita sebagai pendidik
karena hal ini sering disalahpahami
oleh kita, sebagai pendidik, dengan
pemahaman bentuk kasih sayang
kepada anak yang sebenarnya
keliru. Dalam meluruskan kesalahan,
Rasulullah menempuh langkah-
langkah: (1) melalui teguran
langsung, (2) melalui sindiran,
(3) melalui celaan, (4) melalui
pemukulan, (5)melalui isolasi
(pemutusan dari jamaah[kelompok]).
Adapun dalam menghukum anak,
Rasulullah menempuh tahapan: (1)
memperlihatkan cambuk kepada
anak, (2) menjewer daun telinga,
(3) memukul anak dengan rincian:
usia anak yang boleh dipukul, jumlah
pukulan, cara memukul, bagian yang
boleh dipukul, maupun kapan harus
berhenti memukul.
Pada bab 6, penulis buku membahas
pengaplikasian konsep dan metode
Nabi n dalam mendidik karakter
di sekolah atau madrasah yaitu: (1)
penguatan pelajaran agama (Islam)
untuk menanamkan aqidah yang
kuat dan akhlak yang mulia; (2)
RESENSI BUKU
49Edisi:4 Vol.1
figur pendidik yang berakhlak mulia
sebagai teladan; (3) melaksanakan
metodeNabidenganurutanmemberi
teladan, melatih dan membiasakan,
dan pemberian hukuman; (4) melatih
dan membiasakan yang hal tersebut
harus dibiasakan sejak kecil (tingkat
dasar); (5) bimbingan dan konseling;
dan (6) sistem evaluasi yang harus
menyeluruh yaitu aspek kognitif,
afektif (sikap), psikomotor, konasi
(kegiatan mental), dan iman.
Pada bab terakhir (bab 7), penulis
bukumenyimpulkandanmemberikan
tiga saran bagi: (1) para pengambil
kebijakan untuk mengaplikasikan
konsep dan metode Nabi dalam
pendidikan karakter; (2) para praktisi
pendidikan hendaknya melakukan
rekonstruksi dan reformulasi
pelaksanaan pendidikan karakter;
dan (3) evaluasi pembelajaran harus
mencakup aspek kognitif, afektif,
psikomotor, dan agama.
D.Resensi Buku
Isi buku Pendidikan Karakter
Berbasis Sunnah Nabi n (Kunci
Sukses Membangun Karakter Anak
Bangsa) merupakan salah satu buku
rujukan yang tepat bagi ummat
Islam, khususnya di Indonesia,
untuk membimbing para pendidik
dalam melaksanakan tugas mendidik
dalam rangka membentuk generasi
berkarakter (berakhlak) mulia
sesuai konsep dan metode Nabi n.
Mengapa?Karenabukuinimerupakan
penelitian ilmiah yang dilakukan oleh
seorang pendidik di lapangan yang
sudah berpengalaman. Di samping
itu, penulisnya juga seorang yang
bermanhaj lurus, insya Allah, sesuai
dengan pemahaman ahlussunnah
wal jamaah di atas manhaj salafus
shalih. Bagi para praktisi pendidikan,
baik orang tua maupun guru di
sekolah/ madrasah, buku ini sangat
membantu tugasnya. Apalagi
penyusunan buku ini disertai kutipan
dalil-dalil dari Alquran, Alhadits, dan
buku-buku ulama terkemuka dan
para ahli pendidikan yang banyak
dijadikan pedoman dalam mendidik
anak.
Selain kelebihan-kelebihan di atas,
tentu saja ada pula kekurangannya
karena kitab yang tidak ada kesalahan
hanyalah Alquran. Namun, beberapa
kesalahan yang ada hanyalah
kesalahan yang kurang berarti
seperti penulisan beberapa kata
yang tidak baku sesuai Ejaan yang
Disempurnakan dan penulisan daftar
pustaka yang tidak standar seperti
yang dianut oleh banyak perguruan
tinggi di Indonesia. Kekurangan lain
yaitu buku ini tidak dijual bebas di
toko-toko buku karena faktor teknis
pendistribusian atau pemasaran
yang kurang profesional. Buku ini
hanya dapat diperoleh dengan cara
memesan langsung ke penerbit
yang tentu saja harus dikenai biaya
tambahan sebagai ongkos kirim. Lagi
pula dengan cara begitu, maksud
penulis agar masyarakat luas dapat
membaca buku tersebut akan
terhambat karena jarang orang yang
tahu tentang adanya buku tersebut.
Wallahu a’lam bishawwab.
Edisi:4 Vol.150
FATAWA ULAMA
Jawaban:
Syaikh Utsaimin t
menjawab : Tidak
diperbolehkan bagi pelajar
untuk melakukan kecurangan
(menyontek) saat ujian.
Karena curang termasuk dosa
besar. Sebagaimana yang
telah disabdakan oleh Nabi
y: “Barangsiapa berbuat
curang maka dia bukan
termasuk golongan kami.”
Kecurangan yang ia lakukan
membuatnya lulus ujian dan
mendapat surat kelulusan.
Padahal, dia tidak berhak
untuk mendapatkannya.
Setelah lulus ia pun
menduduki jabatan di sebuah
negara yang mensyaratkan
ijazah untuk menduduki
sebuah jabatan. Jika ijazah
ini diperoleh dari hasil
curang maka dikhawatirkan
pendapatan (gaji) yang
diperolehnya menjadi haram.
Karena ia mengambil sesuatu
yang bukan haknya. Ia belum
memiliki keahlian yang cukup
untuk menduduki jabatan
tersebut. Sehingga ia terjatuh
ke dalam memakan harta
dengan cara yang batil.
Wahai saudara-saudaraku
dan kalian wahai anak-
anakku! Hindarilah berlaku
curang saat ujian, dalam
setiap mata pelajaran.
Karena pemerintah telah
Pertanyaan : Sebagian pelajar melakukan
kecurangan (menyontek) saat ujian. Bagaimana
hukum berlaku curang saat ujian?
Saat Ujian
Curang
FATAWA ULAMA
51Edisi:4 Vol.1
membuat kurikulum
tersebut untuk kemudian
diterapkan di sekolah-sekolah
maupun perguruan tinggi.
Jika seorang pelajar atau
mahasiswa masuk ke sekolah
atau perguruan tinggi yang
menerapkan kurikulum
tersebut, maka wajib
baginya untuk mematuhi
peraturan dan tidak berbuat
curang di semua pelajaran.
Adapun sangkaan sebagian
pelajar yang mengatakan
bolehnya berlaku curang
dalam pelajaran bahasa
Inggris, bahasa Perancis,
atau pelajaran Matematika
maka ini adalah sangkaan
yang salah. Karena semua
pelajaran yang tercatat di
dalam kurikulum harus di
pelajari oleh siswa. Kelak
setelah lulus nanti, ia akan
diberikan ijazah sebagai bukti
kalau ia sudah menguasai
semua mata pelajaran. Jika
ia curang pada sebagian
mata pelajaran, menyontek
jawaban teman, atau diisikan
oleh orang lain maka ia
telah berkhianat dan ia telah
gagal meraih kelulusan yang
sesungguhnya.
Seorang penanya yang
bernama Kholid berkata,
“Aku telah lulus SMA. Akan
tetapi semasa sekolah aku
telah berbuat curang di
sebagian mata pelajaran yang
berkaitan dengan bahasa
Inggris. Sekarang aku berada
di ambang pintu masuk
universitas. Apa yang mesti
aku lakukan? Apakah aku
harus bertaubat?
Maka syaikh tpun
menjawab, “Engkau wajib
bertaubat kepada Allah
dan tidak boleh melakukan
hal seperti itu lagi. Karena
curang saat ujian di pelajaran
apa pun dianggap sebagai
sebuah tindak kecurangan.
Nabi y telah bersabda,
“Barangsiapa berbuat
curang maka ia bukanlah
golongan kami.” Saat ini
yang menjadi kewajibanmu
adalah bertaubat. Masuklah
ke Universitas tersebut
disertai dengan taubat.
Teruslah berusaha untuk
menjauhi kecurangan. Dan
jika engkau ditakdirkan
FATAWA ULAMA
Edisi:4 Vol.152
mendapatkan ijazah
universitas tanpa kecurangan
maka sesungguhnya Allah
menerima taubat hamba-
hambaNya dan memaafkan
kesalahan-kesalahannya.
-Fatawa Nur ‘Alad-Darbi-
Berlepas Diri dari Harta
Curian	
Seorang penanya berkata,
“Aku telah mencuri harta
orang lain. Kemudian aku
bertaubat dan kembali
kepada Allah. Aku ingin
mengembalikan harta curian
kepada pemiliknya. Akan
tetapi aku takut merasa
terhina dan menjadi aib
bagi diriku. Bolehkan aku
bersedekah dengan harta
tersebut dan menjadikan
sedekah tersebut untuk
pemilik harta yang aku curi?
Jawaban: Sesungguhnya
taubat yang benar harus
memenuhi empat syarat.
Yaitu:
1. Berlepas diri dari maksiat.
2. Menyesali maksiat yang
telah dilakukan.
3. Bertekad untuk tidak
mengulangi kemaksiatan.
4. Mengembalikan hak-
hak kepada pemiliknya jika
kemaksiatan itu berkaitan
dengan hak manusia.
Sebagaimana yang terdapat
dalam pertanyaan di atas,
maka kewajibanmu adalah
mengembalikan harta yang
telah engkau curi kepada
pemiliknya jika engkau
mengenalnya. Kewajibanmu
tidak gugur kecuali dengan
cara tersebut. Engkau tidak
boleh bersedekah dengan
harta tersebut. Karena
engkau bukan pemiliknya
dan engkau juga belum
diberi kewenangan untuk
bersedekah atas nama
mereka karena engkau
mengambilnya dengan cara
yang tidak benar. Rasulullah
y: “Tidak halal harta
seorang muslim kecuali
dengan keridhaan.” HR.
Ahmad, Baihaqi dan Ibnu
Majah. Hadits sahih. Tapi jika
pemilik harta tidak diketahui
kemudian engkau bersedekah
dengan harta tersebut
atas nama mereka semoga
kewajibanmu kepadanya
gugur.
-Fatawa Yasalunaka-
53Edisi:4 Vol.1
FAHD ABDURRAHMAN
Putra ke- 3 dari Ust Edi Siswanto, M.Pd
USAMAH
Putra ke- 4 dari Ust Nuralim, Lc
NAQIYYA FAIZA AFNAN
Putri ke- 1 dari Ust Yudi Firmansyah .S.Pd.
“Semoga menjadi anak shaleh shalehah,
bertaqwa dan berbakti kepada orang tua.
Amin...''
Ucapan Selamat
KELUARGA BESAR YAYASAN BINAAUL MUSTAQBAL
DAN
MA’HAD AL BINAA ISLAMIC BOARDING SCHOOL
MENGUCAPKAN
SELAMAT ATAS KELAHIRAN :
Edisi:4 Vol.154
KISAH MEREKA
Delapan tahun yang lalu…
ketika wajah-wajah mungil
berkumpul pada satu wadah
sebuah lembaga pendidikan
bernama AL BINAA Islamic
Boarding School.
P
ada awalnya cerita
berangkat dari
keterpaksaan.
Adapula yang bermula dari
kerelaan. Dari sana ada juga
yang melakukannya dari
ketidaktahuan. Ada juga yang
memulainya dengan kalimat
“Ahh.. daripada..”; dan sangat
mungkin dari setiap orang
memulainya dengan berbagai
alasan yang berbeda-beda.
Mengulas kembali kisah
hidupku selama 6 tahun di AL
BINAA tidaklah jauh berbeda
dengan kisah-kisah yang
telah dimuat sebelumnya
pada rubrik ini. Rutinitas
dan kebiasaan yang sama
dilakukan oleh setiap santri
AL BINAA di setiap harinya.
Mulai dari terpancarnya
fajar yang membentang di
ufuk timur, diiringi dengan
terbitnya matahari, hingga
tenggelamnya di ufuk
barat. Setiap komponen
melaksanakan tugasnya
masing-masing. Siang dan
malam silih berganti. Kemarau
Aku
dan
Diariku
Oleh: Asep Ridwan Taufiq
KISAH MEREKA
55Edisi:4 Vol.1
datang menggantikan hujan.
Hujan datang menggantikan
kemarau. Menyimpan banyak
kisah dan pelajaran hidup
yang begitu berharga. Tak
kuasa kutuangkan seluruhnya
dalam tulisan ini.
Berikut potongan-potongan
kisah dan pelajaran yang ingin
kubagikan kepada pembaca
sekalian.
***
[kami semua santri Al Binaa
… menuntut ilmu iman dan
taqwa .. ]
Lantunan mars
yang baru pertama kali
kudengar dalam hidupku
pada sebuah acara Haflah
Iftitah (Acara Pembukaan),
menyadarkan lamunanku.
Sebuah pernyataan yang
menghunjam sanubari,
bahwa kini aku berada pada
kehidupan baru. Bukan aku
yang dulu lagi. Ya, kini aku
resmi diberi gelar sebagai
“Santri AL BINAA”
Entah bagaimana
perasaanku ketika itu, tak
mampu kulukiskan. Rasa
bahagia diselimuti kesedihan.
Pertama kalinya aku mondok
dan harus berpisah dari kedua
orang tua, meninggalkan
tanah kelahiran, teman
bermain, dan yang lainnya.
Akan tetapi, apalah daya.
Kedatanganku ke tempat
ini sudah menjadi akhir
keputusanku yang harus aku
jalani. Perasaan itu harus
kupendam dalam-dalam,
demi keberlangsungan
hidupku di tempat baruku AL
BINAA.
Tibalah detik-detik
perpisahan dengan
keluargaku.
Kakakku berkata ,“Ga,apa kan
Sep, ditinggal?”
“Iya Aa!”[1].
jawabku, sembari menahan
raut kesedihan yang membias
di wajahku.
Ayahku juga berpesan
kepadaku,
“Asep harus sabar, yang rajin
belajarnya, jangan sedih” ..
“Iya Pak.” [2]
Beranjaklah keluargaku
naik ke dalam mobil. Kunci
mobil telah diputar ke arah
kanan, mesin mobil pun
berbunyi. Tak lama roda
mobil perlahan berputar.
Semua yang berada di
dalamnya membuka kaca
Edisi:4 Vol.156
dan melambaikan tangan
kepadaku tanda perpisahan.
Rasa sedih yang tak mampu
dituangkan dalam tulisan,
air mata yang kubendung
pun akhirnya mengalir,
degup jantung yang semakin
tak karuan membuat
napas menjadi terasa
sesak. Semuanya datang
secara alami tanpa bisa
kukendalikan. Kini kusadar,
kehidupan baru telah
dimulai…
Malam baru, kekonyolan
yang tak pernah kulupakan.
Setelah acara penyambutan
santri baru selesai, semua
santri (angkatanku) diarahkan
oleh musyrif menuju ke
gedung Arafah. Setiap santri
dibantu dengan orang tuanya
mebersihkan lemari, menata
pakaian, buku, alat tulis,
selimut, dan lain sebagainya.
Hingga penghujung senja satu
persatu orang tua berpamitan
dengan anaknya, memberikan
pelukan dengan penuh
kehangatan, memanfaatkan
waktu sebelum berpisah.
“Allahu Akbar.. Allaahu
Akbar” suara adzan maghrib
terdengar dari masjid Jami
Riyadhussalihin bersahutan
dengan adzan yang terdengar
dari kampung sebelah.
Kami pun bergegas menuju
masjid untuk menunaikan
shalat mahgrib. Seusai
shalat maghrib kami menuju
math'am [3] untuk makan
malam. Kemudian tak lama
adzan Isya dikumandangkan,
lalu kami menunaikan sholat
Isya berjamaah.
Singkat cerita, tibalah
malam pertamaku berada di
pesantren. Sebuah keadaan
yang tak pernah kualami
sebelumnya. Tidur, jauh dari
kedua orang tua. Suasana
ramai terasa sunyi dan sepi.
Kucoba berkali-kali untuk
memejamkan mata namun
tak kunjung bisa. Ditambah
lagi dengan nyamuk yang
terus mengagguku. Hampir
satu jam lebih aku tak kunjung
tidur. Hingga aku berinisiatif
untuk menghetikan
kerumunan nyamuk yang
terus mengangguku. Aku
beranjak ke lemari, kucari
obat nyamuk. Ohh, ternyata
aku lupa tidak membelinya.
“Ahha !” muncul ide konyol.
KISAH MEREKA
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4
majalah albinaa-edisi-ke-4

More Related Content

What's hot (12)

Lun pai sd kls ^
Lun pai sd kls ^Lun pai sd kls ^
Lun pai sd kls ^
 
Hadist sahih imam muslim
Hadist sahih imam muslimHadist sahih imam muslim
Hadist sahih imam muslim
 
Hadits Shahih Imam Muslim
Hadits Shahih Imam MuslimHadits Shahih Imam Muslim
Hadits Shahih Imam Muslim
 
Hadist ringkasan shahih imam bukhari
Hadist ringkasan shahih imam bukhariHadist ringkasan shahih imam bukhari
Hadist ringkasan shahih imam bukhari
 
Kenalilah akidahmu-al-habib-munzir-al-musawa
Kenalilah akidahmu-al-habib-munzir-al-musawaKenalilah akidahmu-al-habib-munzir-al-musawa
Kenalilah akidahmu-al-habib-munzir-al-musawa
 
Kelas 08 SMP Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Bab 4
Kelas 08 SMP Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Bab 4Kelas 08 SMP Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Bab 4
Kelas 08 SMP Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti Bab 4
 
Laeinul muna
Laeinul munaLaeinul muna
Laeinul muna
 
Lalu gilang rahmadi hamid l1 b021048_uts_pai
Lalu gilang rahmadi hamid l1 b021048_uts_paiLalu gilang rahmadi hamid l1 b021048_uts_pai
Lalu gilang rahmadi hamid l1 b021048_uts_pai
 
2 soal-fikih-mts-utama
2 soal-fikih-mts-utama2 soal-fikih-mts-utama
2 soal-fikih-mts-utama
 
Ebook ringkasan kitab hadist shahih imam bukhari
Ebook   ringkasan kitab hadist shahih imam bukhariEbook   ringkasan kitab hadist shahih imam bukhari
Ebook ringkasan kitab hadist shahih imam bukhari
 
Jati diri wanita muslimah
Jati diri wanita muslimahJati diri wanita muslimah
Jati diri wanita muslimah
 
Buku pintar ramadhan
Buku pintar ramadhanBuku pintar ramadhan
Buku pintar ramadhan
 

Similar to majalah albinaa-edisi-ke-4

Dasistalovers wordpress-com-la-tahzan
Dasistalovers wordpress-com-la-tahzanDasistalovers wordpress-com-la-tahzan
Dasistalovers wordpress-com-la-tahzan
Mhd Siregar
 
La Tahzan (Jangan Bersedih) Aidh al-Qarni - Ebook
La Tahzan (Jangan Bersedih)   Aidh al-Qarni - EbookLa Tahzan (Jangan Bersedih)   Aidh al-Qarni - Ebook
La Tahzan (Jangan Bersedih) Aidh al-Qarni - Ebook
LAZNas Chevron
 
Dr. aidh_al-qarni_-_la_tahzan_(jangan_bersedih_-_indonesia)_bag_00
Dr.  aidh_al-qarni_-_la_tahzan_(jangan_bersedih_-_indonesia)_bag_00Dr.  aidh_al-qarni_-_la_tahzan_(jangan_bersedih_-_indonesia)_bag_00
Dr. aidh_al-qarni_-_la_tahzan_(jangan_bersedih_-_indonesia)_bag_00
Acep Mubarok
 
La tahzan jgn bersedih
La tahzan jgn bersedihLa tahzan jgn bersedih
La tahzan jgn bersedih
tengkiu
 
Aidh al qarni - la tahzan
Aidh al qarni - la tahzanAidh al qarni - la tahzan
Aidh al qarni - la tahzan
kusumahardi
 
La tahzan (jangan bersedih)
La tahzan (jangan bersedih)La tahzan (jangan bersedih)
La tahzan (jangan bersedih)
Afif Tracal
 

Similar to majalah albinaa-edisi-ke-4 (20)

majalah-al-binaa-edisi-kedua
majalah-al-binaa-edisi-keduamajalah-al-binaa-edisi-kedua
majalah-al-binaa-edisi-kedua
 
La tahzan
La tahzanLa tahzan
La tahzan
 
La tahzan
La tahzanLa tahzan
La tahzan
 
Latahzan jgn bersedih
Latahzan jgn bersedihLatahzan jgn bersedih
Latahzan jgn bersedih
 
Laa tahzan
Laa tahzanLaa tahzan
Laa tahzan
 
Aidh al qarni--_la_tahzan_(jangan_bersedih_-_indonesia)_bag_00-05
Aidh al qarni--_la_tahzan_(jangan_bersedih_-_indonesia)_bag_00-05Aidh al qarni--_la_tahzan_(jangan_bersedih_-_indonesia)_bag_00-05
Aidh al qarni--_la_tahzan_(jangan_bersedih_-_indonesia)_bag_00-05
 
La tahzan - Jangan Bersedih
La tahzan - Jangan BersedihLa tahzan - Jangan Bersedih
La tahzan - Jangan Bersedih
 
Dasistalovers wordpress-com-la-tahzan
Dasistalovers wordpress-com-la-tahzanDasistalovers wordpress-com-la-tahzan
Dasistalovers wordpress-com-la-tahzan
 
La Tahzan
La TahzanLa Tahzan
La Tahzan
 
La Tahzan (Jangan Bersedih) Aidh al-Qarni - Ebook
La Tahzan (Jangan Bersedih)   Aidh al-Qarni - EbookLa Tahzan (Jangan Bersedih)   Aidh al-Qarni - Ebook
La Tahzan (Jangan Bersedih) Aidh al-Qarni - Ebook
 
Dr. aidh_al-qarni_-_la_tahzan_(jangan_bersedih_-_indonesia)_bag_00
Dr.  aidh_al-qarni_-_la_tahzan_(jangan_bersedih_-_indonesia)_bag_00Dr.  aidh_al-qarni_-_la_tahzan_(jangan_bersedih_-_indonesia)_bag_00
Dr. aidh_al-qarni_-_la_tahzan_(jangan_bersedih_-_indonesia)_bag_00
 
Laa tahzan
Laa tahzanLaa tahzan
Laa tahzan
 
Latahzan jgn bersedih
Latahzan jgn bersedihLatahzan jgn bersedih
Latahzan jgn bersedih
 
La tahzan (jangan bersedih) aidh al-qarni
La tahzan (jangan bersedih)   aidh al-qarniLa tahzan (jangan bersedih)   aidh al-qarni
La tahzan (jangan bersedih) aidh al-qarni
 
Kado spesial ramadhan 1438 h albinaamenyapa
Kado spesial ramadhan 1438 h albinaamenyapaKado spesial ramadhan 1438 h albinaamenyapa
Kado spesial ramadhan 1438 h albinaamenyapa
 
La tahzan jgn bersedih
La tahzan jgn bersedihLa tahzan jgn bersedih
La tahzan jgn bersedih
 
Aidh al qarni - la tahzan
Aidh al qarni - la tahzanAidh al qarni - la tahzan
Aidh al qarni - la tahzan
 
La tahzan
La tahzanLa tahzan
La tahzan
 
La tahzan (jangan bersedih)
La tahzan (jangan bersedih)La tahzan (jangan bersedih)
La tahzan (jangan bersedih)
 
La tahzan aidh al-qarni
La tahzan   aidh al-qarniLa tahzan   aidh al-qarni
La tahzan aidh al-qarni
 

More from Muhammad Zain

More from Muhammad Zain (18)

Fatwa 026 wabah covid 19 (1)
Fatwa 026 wabah covid 19 (1)Fatwa 026 wabah covid 19 (1)
Fatwa 026 wabah covid 19 (1)
 
Surat keputusan dan imbauan terkait virus korona (1)
Surat keputusan dan imbauan terkait virus korona (1)Surat keputusan dan imbauan terkait virus korona (1)
Surat keputusan dan imbauan terkait virus korona (1)
 
Penjelasan Matan Abi Syuja'_vol 1
Penjelasan Matan Abi Syuja'_vol 1Penjelasan Matan Abi Syuja'_vol 1
Penjelasan Matan Abi Syuja'_vol 1
 
Ikhtilath dalam dunia pendidikan
Ikhtilath dalam dunia pendidikan Ikhtilath dalam dunia pendidikan
Ikhtilath dalam dunia pendidikan
 
H 12 syar'i semester1
H 12 syar'i semester1H 12 syar'i semester1
H 12 syar'i semester1
 
Hadits11_semester1
Hadits11_semester1Hadits11_semester1
Hadits11_semester1
 
H 10 syar'i semester1
H 10 syar'i semester1H 10 syar'i semester1
H 10 syar'i semester1
 
Hikmah ramadhan 02 rancang kembali niat kita
Hikmah ramadhan 02 rancang kembali niat kitaHikmah ramadhan 02 rancang kembali niat kita
Hikmah ramadhan 02 rancang kembali niat kita
 
Nukilan pernyataan ulama tentang hukum makan ketika adzan berkumandang
Nukilan pernyataan ulama tentang hukum makan ketika adzan berkumandangNukilan pernyataan ulama tentang hukum makan ketika adzan berkumandang
Nukilan pernyataan ulama tentang hukum makan ketika adzan berkumandang
 
Tata cara penyelenggaraan jenazah lengkap
Tata cara penyelenggaraan jenazah lengkapTata cara penyelenggaraan jenazah lengkap
Tata cara penyelenggaraan jenazah lengkap
 
Majalah santri edisi 2
Majalah santri edisi 2 Majalah santri edisi 2
Majalah santri edisi 2
 
Materi 11 syar'ie hadits
Materi 11 syar'ie haditsMateri 11 syar'ie hadits
Materi 11 syar'ie hadits
 
H 10 syar'i akhwat
H 10 syar'i   akhwatH 10 syar'i   akhwat
H 10 syar'i akhwat
 
Materi 11 syar'ie hadits
Materi 11 syar'ie haditsMateri 11 syar'ie hadits
Materi 11 syar'ie hadits
 
modul Hadits_12 ashri
modul Hadits_12 ashrimodul Hadits_12 ashri
modul Hadits_12 ashri
 
H 12 syar'i
H 12 syar'iH 12 syar'i
H 12 syar'i
 
Muqaddimah fiqh
Muqaddimah fiqh Muqaddimah fiqh
Muqaddimah fiqh
 
Edisi 001 umdatul ahkaam
Edisi 001 umdatul ahkaamEdisi 001 umdatul ahkaam
Edisi 001 umdatul ahkaam
 

Recently uploaded

Lokakarya Kepemimpinan Sekolah 1_Mei 2024.pptx
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah 1_Mei 2024.pptxLokakarya Kepemimpinan Sekolah 1_Mei 2024.pptx
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah 1_Mei 2024.pptx
Hermawati Dwi Susari
 
Aksi Nyata Cegah Perundungan Mulai dari Kelas [Guru].pptx.pptx
Aksi Nyata Cegah Perundungan Mulai dari Kelas [Guru].pptx.pptxAksi Nyata Cegah Perundungan Mulai dari Kelas [Guru].pptx.pptx
Aksi Nyata Cegah Perundungan Mulai dari Kelas [Guru].pptx.pptx
AgusSuarno2
 
Presentasi-ruang-kolaborasi-modul-1.4.doc
Presentasi-ruang-kolaborasi-modul-1.4.docPresentasi-ruang-kolaborasi-modul-1.4.doc
Presentasi-ruang-kolaborasi-modul-1.4.doc
LeoRahmanBoyanese
 

Recently uploaded (20)

Lembar-Kerja-Laporan-Hasil-Pembelajaran.pptx
Lembar-Kerja-Laporan-Hasil-Pembelajaran.pptxLembar-Kerja-Laporan-Hasil-Pembelajaran.pptx
Lembar-Kerja-Laporan-Hasil-Pembelajaran.pptx
 
MODUL AJAR SENI MUSIK KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI MUSIK KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR SENI MUSIK KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI MUSIK KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
PPT MODUL 6 Bahasa Indonesia UT Bjn.pptx
PPT MODUL 6 Bahasa Indonesia UT Bjn.pptxPPT MODUL 6 Bahasa Indonesia UT Bjn.pptx
PPT MODUL 6 Bahasa Indonesia UT Bjn.pptx
 
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah 1_Mei 2024.pptx
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah 1_Mei 2024.pptxLokakarya Kepemimpinan Sekolah 1_Mei 2024.pptx
Lokakarya Kepemimpinan Sekolah 1_Mei 2024.pptx
 
Materi: Mengapa tidak memanfaatkan Media ?
Materi: Mengapa tidak memanfaatkan Media ?Materi: Mengapa tidak memanfaatkan Media ?
Materi: Mengapa tidak memanfaatkan Media ?
 
AKSI NYATA fASILITATOR pEMBELAJARAN (.pptx
AKSI NYATA fASILITATOR pEMBELAJARAN (.pptxAKSI NYATA fASILITATOR pEMBELAJARAN (.pptx
AKSI NYATA fASILITATOR pEMBELAJARAN (.pptx
 
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA (PPKN) KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA (PPKN) KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA (PPKN) KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA (PPKN) KELAS 3 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
SOALAN PEPERIKSAAN AKHIR TAHUN MATEMATIK TAHUN 2
SOALAN PEPERIKSAAN AKHIR TAHUN MATEMATIK TAHUN 2SOALAN PEPERIKSAAN AKHIR TAHUN MATEMATIK TAHUN 2
SOALAN PEPERIKSAAN AKHIR TAHUN MATEMATIK TAHUN 2
 
Slide Kick Off for Public - Google Cloud Arcade Facilitator 2024.pptx
Slide Kick Off for Public - Google Cloud Arcade Facilitator 2024.pptxSlide Kick Off for Public - Google Cloud Arcade Facilitator 2024.pptx
Slide Kick Off for Public - Google Cloud Arcade Facilitator 2024.pptx
 
Aksi Nyata Cegah Perundungan Mulai dari Kelas [Guru].pptx.pptx
Aksi Nyata Cegah Perundungan Mulai dari Kelas [Guru].pptx.pptxAksi Nyata Cegah Perundungan Mulai dari Kelas [Guru].pptx.pptx
Aksi Nyata Cegah Perundungan Mulai dari Kelas [Guru].pptx.pptx
 
Tugas PGP Keyakinan Kelas Modul 1.4 SMKN
Tugas PGP Keyakinan Kelas Modul 1.4 SMKNTugas PGP Keyakinan Kelas Modul 1.4 SMKN
Tugas PGP Keyakinan Kelas Modul 1.4 SMKN
 
Presentasi-ruang-kolaborasi-modul-1.4.doc
Presentasi-ruang-kolaborasi-modul-1.4.docPresentasi-ruang-kolaborasi-modul-1.4.doc
Presentasi-ruang-kolaborasi-modul-1.4.doc
 
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR SENI TARI KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
Deskripsi Penilaian K13Penilaian kurikulum 2013 pada rapor pendidikan.
Deskripsi Penilaian K13Penilaian kurikulum 2013 pada rapor pendidikan.Deskripsi Penilaian K13Penilaian kurikulum 2013 pada rapor pendidikan.
Deskripsi Penilaian K13Penilaian kurikulum 2013 pada rapor pendidikan.
 
Tugas Mandiri 1.4.a.4.4.pdf Ninik Widarsih
Tugas Mandiri 1.4.a.4.4.pdf Ninik WidarsihTugas Mandiri 1.4.a.4.4.pdf Ninik Widarsih
Tugas Mandiri 1.4.a.4.4.pdf Ninik Widarsih
 
#05 SOSIALISASI JUKNIS BOK 2024 Canva_124438.pptx
#05 SOSIALISASI JUKNIS BOK 2024 Canva_124438.pptx#05 SOSIALISASI JUKNIS BOK 2024 Canva_124438.pptx
#05 SOSIALISASI JUKNIS BOK 2024 Canva_124438.pptx
 
AKUNTANSI INVESTASI PD SEKURITAS UTANG.pptx
AKUNTANSI INVESTASI PD SEKURITAS UTANG.pptxAKUNTANSI INVESTASI PD SEKURITAS UTANG.pptx
AKUNTANSI INVESTASI PD SEKURITAS UTANG.pptx
 
PPT TUGAS DISKUSI KELOMPOK 3 KELAS 224 MODUL 1.4.pdf
PPT TUGAS DISKUSI KELOMPOK 3 KELAS 224 MODUL 1.4.pdfPPT TUGAS DISKUSI KELOMPOK 3 KELAS 224 MODUL 1.4.pdf
PPT TUGAS DISKUSI KELOMPOK 3 KELAS 224 MODUL 1.4.pdf
 
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR SENI TARI KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
Laporan_Rekan_Sejawat Sri Lubis, S.Pd (1).pdf
Laporan_Rekan_Sejawat Sri Lubis, S.Pd (1).pdfLaporan_Rekan_Sejawat Sri Lubis, S.Pd (1).pdf
Laporan_Rekan_Sejawat Sri Lubis, S.Pd (1).pdf
 

majalah albinaa-edisi-ke-4

  • 1. 1Edisi:4 Vol.1 edisi ke-3 vol1 1 Alamat Redaksi: AL BINAA IBS, Jl. Raya Pebayuran Kertasari Pebayuran Bekasi Jabar 17710 Telp/Fax: 021 89150720/021 89150721 Website: www.majalahalbinaa.com Email: redaksi@majalahalbinaa.com Sms: 085285107991- 081398176123 Penanggung Jawab: Aslam Muhsin Abidin, Lc., Pemimpin Umum: Sofyan Toha, S.Si., Pemimpin Redaksi: Agung Wahyu Adhy, Lc., Sekretaris Redaksi: Sulaeman, S.Pd., Staff Redaksi: Zaenal Arifin, Lc. ,Musthofa Aini, Lc., Nuralim, Lc., Zaenal Abidin, Lc., Saepul Anwar, S.Pd., Hasyim Nur. S.Pd. Editor: Suratman, S.Pd., Rafael Afrianto,Lc., Administrasi Keuangan: RM. Syarief Rusdy. SE., Pemasaran dan Sirkulasi: Taufiq Al Farizi, M.PFis. Ilustrator: M.S. Haromain, S. Ikom., Web: Agus Setiawan,. ST. ‫وبركاته‬‫اهلل‬‫ورحمة‬‫عليكم‬‫السالم‬ ‫وبركاته‬ ‫اهلل‬ ‫ورحمة‬ ‫عليكم‬ ‫السالم‬ salamredaksi Saudaraku pembaca yang budiman…. A lhamdulillah dengan ijin Allah l, majalah Al Binaa edisi ke empat bisa hadir kembali menyapa pembaca sekalian. Tentu menjadi keingian kita bersama agar majalah tercinta ini bisa hadir setiap bulan. Hanya qodarullah wama syaa-a fa’al kami belum bisa mewujudkannya, lantaran kelemahan dan kurangnya pengalaman kami. Namun tentu saja redaksi berusaha semaksimal mungkin untuk bisa terbit pada waktunya dengan terus berusaha memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada. Semoga Allah l memberikan kemudahan kepada kita semua, amin. Pembaca yang budiman…. Siapa di antara kita yang tidak mencintai nabi dan rasul? Tentu setiap kita mencintai Beliau. Karena cinta kepada Beliau merupakan prinsip keimanan yang tidak akan sempurna iman seorang muslim kecuali dengannya. Pertanyaannya adalah, seberapa besar cita kita? Sudah benarkah cinta kita? Seperti apakah cinta kita kepadanya? Bagaimanakah cara kita menumbuhkan cinta kepadanya? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut Insya Allah akan anda temukan pada beberapa rubrik yang kami sajikan pada edisi ini. Pada edisi kali ini, kami juga menyampaikan permohonan maaf karena ada beberapa rubrik yang sementara tidak kami sajikan seperti rubrik tafsir, fiqh dan ibroh. Sebagai penggantinya kami hadirkan rubrik baru yaitu manhaj dan kesehatan. Untuk anda para remaja, rubrik for syabaab masih setia menemani tentu dengan sajian-sajian yang menarik. Akhirnya, hanya kepada Allah jualah kami memohon agar diberikan kemudahan dalam menyusun majalah tercinta ini, dan diberikan istiqomah. Selamat membaca…
  • 2. Edisi:4 Vol.12 ROSAILUKUM Akhi al-Qoori….rubrik ini kami siapkan untuk antum semua para pembaca yang budiman, sebagai ruang untuk menyampaikankritik,saran,usul,komentar yang membangun demi kelangsungan majalah al binaa tercinta dan untuk menjadikan majalah lebih baik. Silakan kirim kritik, saran dan komentar antum melalui email: redaksi@majalahalbinaa.com atau sms ke: 081398176123 / 085285107991 dengan mencantumkan nama dan identitas diri antum. ROSAILUKUM Majalah albinaa masih banyak kekurangan, majalah ini tidak memasukkan banyak fakta unik didalamnya, apalagi santrinya sendiri, banyak santrinya yang mempunyai keahlian besar dalam dunia tulis, tetapi tidak di beri kesempatan di dalam majalah albinaa, mungkin hanya sekedar puisi atau pantun yang diberikan oleh majalah albinaa. @Al-Fatih Of Islam Red: Ahlan wa sahlan akhi Al-Fatih, jazakumullah khoiron sudah bergabung dan menyapa majalah Al Binaa. Benar sekali yang antum sampaikan, masih banyak sekali kekurangan di majalah ini. Semoga kedepan lebih baik lagi. Bagi antum yang punya bakat menulis dan ingin berkontribusi, silakan kirim ke email redaksi. Insya Allah tulisan yang sesuai dengan visi majalah akan ditampilkan. Kami tunggu tulisan antum. Kita melihat cahaya islam mulai redup di negeri kita tercinta ini. Semoga Majalah Al Binaa bisa menjadi cahaya baru dalam sarana Da’wah dan Ta’lim. @ Zaid Tsabit Semoga semakin cepat diupdatenya dan kalau bisa banyakin edisi Ilmiah nya semoga Allah selalu mempermudah dalam pembuatannya. Aamiin…. @ Aqil Rabbani Nurhadi Kalau bisa ada rubrik sendiri buat santri atau orang lain seperti pada elfata ada rubrik surat pembaca atau nasehat santri atau yang lain. Semoga bermanfaat. @ Zahid Rabbani Red: Amin, semoga harapan antum semua bisa dimudahkan Allah ta’ala. Rubrik surat pembaca sudah ada sejak edisi ke dua yaitu ROSAILUKUM, silakan dimanfaatkan. Alhamdulillah senang hati ini majalah al binaa sudah edisi 4, mau langganan bagaimna caranya ya? syukron. @Abu Islam Red: Ahlan wa sahlan, silakan untuk berlangganan bisa menghubungi bagian sirkulasi. Semoga majalah albinaa semakin maju kedepannya. Disajikan dengan tema utama yang semakin menarik dan juga muatan yang lebih berkualitas. Karena ini merupakan salah satu media dakwah islamiyyah. @ Raihan Rakasiwi Alhamdulillah majalah albinaa sudah mencapai edisi 4, dan semoga diberi kemudahan dalam edisi-edisi selanjutnya dari Allah dan semoga majalah albinaa ini bisa menjadi wadah dakwah islamiyyah dan media dalam menyebarluaskan islam dan Albinaa sendiri. @ Haykal Abdi Ini adalah salah satu upaya kita untuk menyebarkan sunnah. Maka saya mendukung penuh dengan adanya Majalah Albinaa. Semoga dengan adanya Majalah Albinaa, kaum muslimin dapat belajar ilmu syari yang benar. @ Rival Candra Dwiansyah Bagi sobat-sobat sekalian yang membaca koment saya, tolong bertakbir 3x untuk majalah albinaa, karena ada kemungkinan untuk munculnya cahaya baru yang membantu dalam pengokohan agama ini, dan saya berharap mudah- mudahan semoga majalah albinaa berfaidah bermanfaat dalam kehidupan manusia di zaman ini…TOLONG BILANG AMIIN…@ Anfal Fami Faqoth Red: Jazakumullah khoiron atas dukungan dan support dari antum semua. Ini menjadi modal kami untuk bisa istiqomah dalam meneribitkan edisi-edisi berikutnya.
  • 3. 3Edisi:4 Vol.1 DAFTAR ISIEdisi ke-4 vol 1 TELADAN SALAF RESENSI BUKU FATAWA ULAMA KISAH MEREKA TIPS KESEHATAN 42 47 50 54 64 72 97 110 FOR SYABAB REPORTASE SANTRI MIMBAR SANTRI redaksi@majalahalbinaa.com Redaksi Majalah Albinaa Redaksi Majalah Albinaa Pendidikan Karakter Curang Saat Ujian Aku dan Diariku Waspada Demam Berdarah Dengue Akhwat Lolipop, Oke Fine Kita Putus, Islam is Beautiful, Agar Ukhuwah Awet dan Berkah Mukhoyam Tarbawy IX Kemerdekaan Salaf dan kekhawatiran mereka terhadap ketenaran MANHAJ AQIDAH PENDIDIKAN HADITS 4 9 SIROH 36 16 23 SAINS 30 Maka Kemana Kamu akan Pergi “Fa Aina Tadzhabun” Menumbuhkan cinta kepada Sang Kekasih Manajemen Cinta Rahasia terjadinya Hujan Menurut Al Quran Awal Dakwah Rasul & Penerima Dakwah Paling Awal Menyinergikan Pendidikan
  • 4. Edisi:4 Vol.14 MANHAJ Makna “Fa Aina Tadzhabun” Kalimat di atas tampak secara sekilas seolah susunan kalimat yang sangat biasa dan sederhana bila dilihat dari struktur maupun lafalnya. Diawali dengan huruf “fa” , dilanjutkan dengan kata tanya “aina" yang berarti ‘di mana’, dan diakhiri dengan “tadzhabun” yaitu kata kerja untuk kata ganti antum (jamak). Kalau diartikan secara harfiah, maka kita dapatkan maknanya, ” maka, ke mana kamu akan pergi ?" Namun, susunan kalimat ini bukanlah diambil dari sumber sembarangan atau ucapan seseorang, apalagi hanya untuk contoh gramatika bahasa Arab saja. Ini adalah “ kalamullah “ , ‘firman Allah l dalam surat at-Takwir ayat: 26. Sehingga, tidak dengan mudah dan begitu saja bisa kita artikan secara kata per kata dan hanya melihat apa yang tampak secara dhahir semata. Kamu Akan Pergi?” “Maka ke Mana َ‫ن‬ْ‫و‬ُ‫ب‬�َ‫ه‬ْ‫ذ‬َ‫ت‬ َ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫أ‬َ‫ف‬ Oleh: Aslam Muhsin Abidin, Lc.
  • 5. MANHAJ 5Edisi:4 Vol.1 Kandungan Makna Sebelum ayat ”fa aina tadzhabun”, ada gugusan ayat dalam surat at-Takwir yang mengawali rangkaian di mana Allahk menjelaskan tentang hujjah Al-Quran yang selama ini – saat pertama Al-Quran diwahyukan kepada Nabi Muhammad n ditolak mentah-mentah oleh orang-orang kafir Quraisy. Di antara gugusan ayat-ayat sebelumnya, bisa dijelaskan dalam pointer berikut ini. 1. Dimulai dengan bagaimana proses kiamat itu terjadi: matahari telah digulung, bintang-bintang berjatuhan, gunung-gunung diterbangkan, onta-onta bunting berguguran, hewan-hewan liar dikumpulkan, air laut membludak, semua manusia dipilah-pilah, bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup- hidup ditanya karena dosa apakah bayi-bayi perempuan itu dibunuh, ketika lembaran- lembaran catatan amal dibagi- bagikan, ketika langit dilepas ikatannya, ketika api Neraka Jahim dinyalakan, ketika Surga didekatkan kepada orang-orang yang taat kepada Allah dan bertauhid, saat itu manusia baru menyadari akan amal apa yang telah ia kerjakan di dunia. 2. Kemudian dengan perkasanya bagaimana Allah k bersumpah dengan bintang- bintang di langit yang bersinar dan berkelip di malam hari dan menghilang saat fajar dan siang menjelang. Bintang-bintang ini bukan hanya datang dan pergi sesuka hati tetapi menuruti perintah Al-Kholiq Rabbul alamin. Bagaimana Allah l bersumpah dengan gelapnya sang malam bila telah datang dan bersumpah dengan pagi saat menyapa dunia dengan sinarnya. Semua itu dan sunnatullah yang lainnya menunjukkan tentang qudrah dan iradah Allah k yang sangat perkasa dan tidak terbatas. 3. Selanjutnya, Sang Pencipta َ‫ن‬ْ‫و‬ُ‫ب‬�َ‫ه‬ْ‫ذ‬َ‫ت‬ َ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫أ‬َ‫ف‬
  • 6. Edisi:4 Vol.16 Rabbul alamin melanjutkan hujjah yang begitu nyata dan terang tersebut dengan qudrah dan irodah yang lain yaitu dengan menyampaikan bahwa Al-Quran ini bukanlah rekayasa Muhammad n, bukan tulisan dan karangannya atau hasil penelitian dan eksperimennya. Tetapi Al-Quran ini telah dibawa kepada Nabi Muhammad n oleh “Rasul kariim”, ‘seorang utusan Allah yang mulia', yaitu Malaikat Jibril p, bukan hanya mulia karena dimuliakan Allah k, namun juga Malaikat Jibril dibekali dengan kekuatan yang mahadahsyat karena turun dan naik ke langit dunia menyampaikan wahyu kepada baginda yang mulia Nabi Muhammad n dalam kurun waktu yang sangat panjang selama kurang lebih 23 tahun. Kemudian, Allahl menambahkan lagi kemuliaan Malaikat Jibril dengan kedudukan Beliau yang khusus di sisi Allahl, sangat ditaati dan dihormati di kalangan para malaikat yang mulia u. Pamungkas di antara sifat Malaikat Jibril p yang disebut dalam surat at- Takwir adalah “amiin”, ‘sangat amanah’, ‘sangat terpercaya’. Dengan karakter yang begitu agung dan berwibawa serta sifat superdahsyat seperti inilah kemudian tugas menyampaikan wahyu dibebankan kepada Malaikat Jibril p. 4. Adapun hujjah selanjutnya adalah penjelasan tentang siapa Nabi kita yang mulia, baginda Muhammad n. Maka Allah k menyampaikan dengan bahasa yang tidak mungkin orang-orang kafir Quraisy bisa membantahnya tentang siapa Nabi Muhammad n. Maka ayat itu berbunyi “ wa ma shohibukum bi majnun “, 'dan tidaklah teman kalian ini seorang yang gila', yaitu Muhammad yang oleh kalian sendiri wahai orang-orang Quraiys telah disematkan kepada beliau sebuah predikat prestisius di mana predikat MANHAJ
  • 7. 7Edisi:4 Vol.1 Al-Quran bukanlah perkataan syithan 'setan' yang terkutuk. Maka, atas semua hujjah dan keterangan yang begitu gamblang, jelas tanpa ada kesamaran sedikit pun ini, kemudian Allahkbertanya, “Ke manakah akal kalian, ke mana perginya akal dan pemahaman kalian, bagaimana kalian tidak bisa menerima hal yang jelas seperti ini, dipakai untuk apa akal kalian sehingga tidak bisa mengerti ???.." Al-hafizh Ibnu Katsir berkata, ” Maka, bagaimana akal kalian bisa hilang sehingga kalian mendustakan al-Quran yang sangat begitu jelas dan terang dan Al-Quran itu benar- benar turun dari Allahk” Fa Aina Tadzhabun...? Banyak yang kita fahami dari urusan dunia walaupun terasa pelik tetapi mengapa akal kita kadang sulit untuk mengerti hal-hal yang mudah dalam syariat Islam ini. Banyak perkara yang berat dalam urusan ini belum pernah diberikan kepada seorang pun sebelumnya di kalangan mereka. Orang- orang kafir Quraiys menggelari Nabi Muhammad n dengan sebutan Al-Amin yang dengan gelar tersebut amatlah mustahil kemudian Nabi Muhammad n menjadi orang yang tertuduh dalam akalnya sebagai seorang gila atau dengan akhlak yang tidak terpuji lainnya. Kemudian diakhiri dengan hujjah yang lain yang tak kalah terang benderangnya yaitu bahwa Al-hafizh Ibnu Katsir berkata, ” Maka, bagaimana akal kalian bisa hilang sehingga kalian mendustakan al-Quran yang sangat begitu jelas dan terang dan Al-Quran itu benar-benar turun dari Allahk” MANHAJ
  • 8. MANHAJ Edisi:4 Vol.18 dunia kita dan kita mampu melakukannya tanpa terbebani, ironisnya, banyak perkara yang begitu enteng dalam urusan ibadah kepada Allahk tetapi rasanya bagi kita seperti menjadi perkara yang mustahil untuk kita lakukan. Ada banyak perkara yang kita lakukan dalam urusan dunia yang kadang mengancam nyawa kita dan kita terus coba untuk mengejarnya, namun tidak sedikit ibadah kita dikurangi bahkan tidak pernah dicoba untuk dilakukan walaupun tidak mengandung risiko apa pun. Banyak yang masih belum kita terima dengan sepenuh hati dan keyakinan dari nilai-nilai yang tertuang dalam al- Quran maupun as- Sunnah baik dengan alasan di mana kita telah sangat lelah untuk terus berlari mencari-cari pembenarannya sehingga kita yakin bahwa Allahk akan memaklumi kita saat kita tidak bisa menegakkan titah dan perintah-Nya. Atau, satu waktu kita sudah kehabisan akal untuk mencari pembelaan dan dengan mudahnya kita katakan kalau “Allah l Mahatahu dengan apa yang ada dalam niat kita “, sebagai husnuzhan yang samar saat kita hampir-hampir tidak pernah melakukan apa yang menjadi niatan baik kita untuk dinyatakan menjadi amalan yang riil. Fa aina tadzhabun…? [] َ‫ن‬ْ‫و‬ُ‫ب‬َ‫ه‬ْ‫ذ‬َ‫ت‬ َ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫أ‬َ‫ف‬
  • 9. Edisi:4 Vol.1 9 AQIDAH kepada SANG KEKASIH MENUMBUHKAN CINTA Oleh: Abu Usaid Al Banyumasi Alhamdulillah, segala puji bagi Allah l, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah n, keluarga, para sahabatnya dan seluruh pengikutnya sampai hari Kiamat. Amin. Saudaraku pembaca yang budiman ..., Setiap kita tentu ingin memiliki “Sang Kekasih”, seseorang yang ingin selalu memandang kepadanya, duduk dekat di sampingnya, rindu kepadanya, dan mendengarkan ucapan- ucapannya. Alangkah indahnya kalau hati kita terpenuhi dengan bunga-bunga cinta nan indah kepada “Sang Kekasih”. Apalagi kalau “Sang Kekasih” tersebut adalah manusia terbaik di alam semesta ini. Sosok “Sang Kekasih” yang tidak akan sempurna keimanan kita kecuali dengan mencintainya, dialah nabi dan rasul kita Muhammad n (kekasih Allah). Dan kecintaan kepada “Sang Kekasih” , Rasulullah, adalah salah satu prinsip dari prinsip- prinsip aqidah ahlus sunnah wal jama’ah. Saudaraku pembaca yang budiman…, Seorang muslim hakiki pasti merindukan “Sang Kekasih”
  • 10. AQIDAH Edisi:4 Vol.110 Rasulullah n, berangan-angan seandainya ia menjadi salah seorang sahabatnya, sehingga bisa duduk di majelisnya untuk memandang wajahnya yang mulia, mendengar hadits- haditsnya, melihat betapa tinggi dan mulia akhlaknya sekalipun ia harus mencurahkan segala apa yang dimilikinya. Demikianlah “Sang Kekasih” pernah bersabda: َ‫ون‬ُ‫ن‬‫و‬ُ‫ك‬َ‫ي‬ ٌ‫اس‬َ‫ن‬ ‫ا‬ًّ‫ب‬ ُ‫ح‬ ِ‫ي‬‫ل‬ ‫ي‬ِ‫ت‬َّ‫م‬ُ‫أ‬ ِّ‫د‬َ‫ش‬َ‫أ‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ِ‫ه‬ِ‫ل‬ْ‫ه‬َ‫أ‬ِ‫ب‬ ِ‫ي‬‫آن‬َ‫ر‬ ْ‫و‬َ‫ل‬ ْ‫م‬ُ‫ه‬ُ‫د‬َ‫ح‬َ‫أ‬ ُّ‫د‬َ‫و‬َ‫ي‬ ‫ي‬ِ‫د‬ْ‫ع‬َ‫ب‬ ِ‫ه‬ِ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬َ‫و‬ “Di antara umatku yang paling besar kecintaannya kepadaku adalah orang-orang yang hidup sepeninggalku dan salah serorang dari mereka ingin seandainya bisa melihat aku dengan keluarga dan hartanya” (HR. Muslim no. 2832) Para tabi’in sebagai generasi umat Islam terbaik kedua setelah generasi sahabat, begitu besar kecintaan dan kerinduan mereka kepada “Sang Kekasih” Nabi Muhammad n. Simaklah betapa kerinduan mereka kepada Nabi begitu besar. Ibnu Sirin berkata kepada Ubaidah bin ‘Amr t, “Kami memiliki beberapa helai rambut Nabi n dari Anas bin Malik. Maka, Ubaidah berkata, “Seandainya aku memiliki satu helai rambut darinya, itu lebih aku cintai daripada dunia beserta isinya.” Imam Adz Dzahabi berkomentar, “Kalimat yang seperti ini diucapkan oleh seorang Imam (Ubaidah) setelah Ilustrasi : Hamdan-graphic.deviant.com
  • 11. AQIDAH Edisi:4 Vol.1 11 50 tahun wafatnya Nabi n Lalu apa yang akan kita ucapkan seandainya kita mendapatkan beberapa helai rambut beliau dengan sanad yang kuat di masa kita ini..???” Jubair bin Nufail t berkata, “Suatu hari kami duduk di sisi Al Miqdad bin Al Aswad z. Tiba-tiba ada seseorang yang lewat dan berkata, “Keberuntungan bagi kedua bola mata ini yang telah melihat Rasulullah n, sungguh kami berkeinginan seandainya kami bisa melihat seperti yang Anda lihat, dan menyaksikan apa yang Anda saksikan”. Adalah Tsabit Al Banaani t apabila melihat Anas bin Malik zpelayan Rasulullah n, Beliau menghampirinya dan mencium tangannya seraya berkata, ”Ini adalah tangan yang pernah menyentuh tangan Rasulullah n”. Begitu pula yang dilakukan oleh Yahya bin Al Harits t kepada Watsilah bin Al Asqa’zdan beberapa tabi’in kepada Salamah bin Al Akwa’ z,mereka mencium tangan (sahabat) yang telah membai’at Rasulullah n. Kalau saja kecintaan dan kerinduan para tabi’in kepada “Sang Kekasih” begitu besar dan menggelora, maka adakah kecintaan dan kerinduan kepada “Sang Kekasih” bersemi dalam hati kita???? Wasilah untuk Menumbuhkan Cinta kepada “Sang Kekasih” Saudaraku pembaca yang budiman…., Berikut ini adalah beberapa wasilah/sarana untuk menumbuhkan cinta dalam hati kita kepada Rasulullah n “Sang Kekasih”, di antaranya: 1. Hendaklah setiap muslim mengetahui bahwa tidak ada jalan masuk Surga kecuali dengan ittiba’ (mengikuti) sunnah Rasul n dan tidak akan diterima suatu ibadah pun kecuali apabila sesuai dengan sunnah Rasul n. Perhatikanlah firman Allah l berikut:
  • 12. Edisi:4 Vol.112 AQIDAH ِ‫ي‬‫ون‬ُ‫ع‬ِ‫ب‬َّ‫ت‬‫ا‬َ‫ف‬ َ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َ‫ون‬ُّ‫ب‬ِ‫ح‬ُ‫ت‬ ْ‫ُم‬‫ت‬ْ‫ن‬ُ‫ك‬ ْ‫ن‬ِ‫إ‬ ْ‫ل‬ُ‫ق‬ ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬َ‫و‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ب‬‫و‬ُ‫ن‬ُ‫ذ‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ل‬ ْ‫ر‬ِ‫ف‬ْ‫غ‬َ‫ي‬َ‫و‬ ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ ُ‫م‬ُ‫ك‬ْ‫ب‬ِ‫ب‬ْ‫ُح‬‫ي‬ )٣١( ٌ‫يم‬ِ‫ح‬َ‫ر‬ ٌ‫ر‬‫و‬ُ‫ف‬َ‫غ‬ ''Katakanlah, 'Jika kamu (benar- benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'" (QS. Ali Imron: 31) 2.Mengetahui bahwa Rasul adalah sosok yang memiliki kedudukan agung dan mulia di sisi Allah l, Beliau dipilih atas seluruh manusia yang ada, diutamakan atas seluruh nabi dan rasul. Allah l telah melapangkan dada Beliau, mengangkat namanya, menghapuskan seluruh dosanya dan meninggikan derajatnya. Ketika seorang muslim mengenal bahwa Sang Kekasihnya adalah manusia pilihan, terbaik, dan diutamakan dengan berbagai macam kelebihan, maka akan tumbuh dalam kalbunya rasa cinta dan rindu kepadanya. Apalagi Allah ltelah menyucikannya dari berbagai macam kekurangan. - Allah telah men-tazkiyah (menyucikan) akal Beliau dalam firman-Nya; )٢( ‫ى‬َ‫و‬َ‫غ‬ ‫ا‬َ‫م‬َ‫و‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬ُ‫ب‬ِ‫اح‬ َ‫ص‬ َّ‫ل‬ َ‫ض‬ ‫ا‬َ‫م‬ “Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.” (QS. An Najm: 2) - Allah l telah men-tazkiyah penglihatan Beliau dalam firman-Nya; )١١( ‫ى‬َ‫أ‬َ‫ر‬ ‫ا‬َ‫م‬ ُ‫د‬‫ا‬َ‫ؤ‬ُ‫ف‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫ب‬َ‫ذ‬َ‫ك‬ ‫ا‬َ‫م‬ ”Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. “ (QS. An Najm: 11) - Allah telah men-tazkiyah akhak Beliau dalam firman-Nya; )٤( ٍ‫يم‬ِ‫َظ‬‫ع‬ ٍ‫ق‬ُ‫ل‬ ُ‫خ‬ ‫ىل‬َ‫ع‬َ‫ل‬ َ‫ك‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫و‬ “Dan sesungguhnya kamu benar- benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qolam: 4) Di dalam Ash Shohiihain (shahih Bukhari dan Muslim) dari hadits Abu Hurairah zbahwa Nabi n bersabda, ”Perumpamaanku dan nabi- nabi sebelumku seperti seseorang
  • 13. 13Edisi:4 Vol.1 AQIDAH yang membangun suatu rumah lalu dia membaguskannya dan memperindahnya kecuali ada satu labinah (tempat lubang batu bata yang tertinggal belum diselesaikan) yang berada di dinding samping rumah tersebut, lalu manusia mengelilinginya dan mereka terkagum-kagum sambil berkata; ‘Duh seandainya ada orang yang meletakkan labinah (batu bata) di tempatnya ini”. Beliau bersabda: ”Maka akulah labinah itu dan aku adalah penutup para nabi.” (HR. Al Bukhori no. 3535, Muslim no. 2286). 3.Agar tumbuh rasa cinta kepada “Sang Kekasih” , Rasulullah, maka hendaklah setiap muslim mengingat akan besarnya rasa kasih sayang Beliau kepada ummatnya. Lantaran setiap jiwa terfitrahkan untuk mencintai orang yang mencintainya dan berbuat kebajikan kepadanya. Saudaraku para pembaca yang budiman…., Lihatlah betapa sayangnya Rasulullah kepada kita, sehingga pada suatu hari Beliau membaca firman Allah l tentang ucapan Nabi Isa q; ْ‫ر‬ِ‫ف‬ْ‫غ‬َ‫ت‬ ْ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫و‬ َ‫ُك‬‫د‬‫ا‬َ‫ب‬ِ‫ع‬ ْ‫ُم‬‫ه‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ ْ‫ُم‬‫ه‬ْ‫ب‬ِّ‫ذ‬َ‫ع‬ُ‫ت‬ ْ‫ن‬ِ‫إ‬ )١١٨( ُ‫يم‬ِ‫ك‬َ‫ح‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ز‬‫ي‬ِ‫ز‬َ‫ع‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫ت‬ْ‫ن‬َ‫أ‬ َ‫ك‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ ْ‫ُم‬‫ه‬َ‫ل‬ “Jika Engkau menyiksa mereka, Maka Sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, Maka Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Maaidah: 118) Maka Beliau menangis, sehingga Allah l mengutus malaikat Jibril seraya berfirman, Dari Abu Huroiroh z, bahwa Nabi n bersabda, “Setiap Nabi memiliki doa mustajab yang dia berdoa dengannya, dan aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku di hari akhir” (Muttafaqun ’alaih)
  • 14. AQIDAH Edisi:4 Vol.114 “Wahai Jibril, tanyakan kepada Muhammad apa yang membuatmu menangis (Dan Allah Maha Mengetahui)??”, lalu Jibril-pun turun dan bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang membuat engkau menangis?”, Beliau menjawab, “Umatku…. umatku wahai Jibril”. Jibril kemudian naik menghadap kepada Allah seraya berkata, “(dan Allah Maha Mengetahui) Dia menangis atas umatnya. Allah berfirman n kepada Jibril, “Turunlah kepada Muhammad dan katakan kepadanya, “Sesungguhnya kami akan membuat kamu ridla terhadap umatmu” (HR. Muslim no. 202) Dari Abu Huroiroh z, bahwa Nabi n bersabda, “Setiap Nabi memiliki doa mustajab yang dia berdoa dengannya, dan aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku di hari akhir” (Muttafaqun’alaih) Saudaraku pembaca yang budiman…. Tidakkah tumbuh kecintaan dan kerinduan kita kepada Sang Kekasih yang selalu mengingat kita, menyayangi kita dan memperhatikan kebaikan untuk kita??? 4.Termasuk wasilah/sarana untuk menumbuhkan cinta kepada Sang Kekasih adalah mengingat syafa’at yang beliau berikan kepada umatnya di hari kiamat. Siapa yang tidak membutuhkan syafaat di hari Kiamat?? Tidak ada seorang pun dari kita kecuali membutuhkan syafaat pada hari tersebut. Pada hari di mana harta dan anak keturunan sudah tidak akan bermanfaat lagi kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat. Pada hari di mana setiap orang akan mejauh dari saudaranya, menjauh dari ayah dan ibunya, menjauh dari isteri dan anak-anaknya. Pada hari di mana para rasul yang bergelar Ulul Azmi menolak untuk memberikan syafaat uzhma, kecuali “Sang Kekasih” Rasulullah n. Sehingga, kalau
  • 15. AQIDAH 15Edisi:4 Vol.1 kita berharap mendapatkan syafaat dari “Sang Kekasih”, maka tidak ada jalan kecuali dengan mencintainya. Cinta yang diwujudkan dengan melaksanakan tauhid yang benar kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya, memperbanyak shalat nafilah, memperbanyak shalawat kepadanya. 5.Hendaklah setiap muslim mengenal sirah (sejarah) Beliau yang harum, mengetahui petunjuk Beliau yang lurus, keluhuran akhlak dan keutamaan Beliau. Setiap muslim yang membaca sirah dan perjalanan hidup “Sang Kekasih” niscaya akan bersemi dan tumbuh dalam jiwanya kecintaan dan kerinduan. Dia akan mendapatkan sirah Beliau penuh dengan taburan bunga- bunga indah dan harum semerbak, penuh dengan petunjuk dan keteladanan, penuh dengan keluhuran akhlak. Ummul mukminin Khadijah jmenggambarkan kepada kita betapa luhurnya akhlak “Sang Kekasih”. Beliau berkata, “Demi Allah, sesungguhnya Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Bukankah engkau suka bersilaturahmi, senantiasa berkata jujur, suka menolong orang yang kesusahan, senantiasa memuliakan tamu, dan membantu orang-orang yang tertima musibah?" Saudaraku para pembaca yang budiman…, Demikianlah beberapa wasilah dan sarana untuk menumbuhkan cinta dan kerinduan kepada “Sang Kekasih”. Semoga Allahl menjadikan kita semua umat Muhammad n yang benar- benar tulus dalam mencintai “Sang Kekasih”, sehingga di hari Kiamat kelak kita dikumpulkan bersamanya. Amin. Wallahu a’lam. Sumber Bacaan: 1.Yaumun Ma’a Habiibika, Abu Kholid Aiman bin Abdul Aziz Abanami 2. http://www.saaid.net/mohamed/357. htm
  • 16. HADITS edisi:4 Vol.116 Abdullah bin Hisyama berkata; َ‫و‬ُ‫ه‬َ‫و‬ َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫س‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َّ‫ى‬‫ل‬ َ‫ص‬ ِّ‫ي‬ِ‫ب‬َّ‫ن‬‫ال‬ َ‫ع‬َ‫م‬ ‫َّا‬‫ن‬ُ‫ك‬ ُ‫ر‬َ‫م‬ُ‫ع‬ ُ‫ه‬َ‫ل‬ َ‫ال‬َ‫ق‬َ‫ف‬ ِ‫اب‬َّ‫ط‬َ‫خ‬ْ‫ل‬‫ا‬ ِ‫ن‬ْ‫ب‬ َ‫ر‬َ‫م‬ُ‫ع‬ ِ‫د‬َ‫ي‬ِ‫ب‬ ٌ‫ذ‬ِ‫آخ‬ ِّ‫ل‬ُ‫ك‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ََّ‫ي‬‫ل‬ِ‫إ‬ ُّ‫ب‬َ‫ح‬َ‫أ‬ َ‫ت‬ْ‫ن‬َ َ‫أ‬‫ل‬ ِ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َ‫ول‬ُ‫س‬َ‫ر‬ ‫ا‬َ‫ي‬ ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َّ‫ى‬‫ل‬ َ‫ص‬ ُّ‫ي‬ِ‫ب‬َّ‫ن‬‫ال‬ َ‫ال‬َ‫ق‬َ‫ف‬ ِ‫ي‬‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ َّ‫ا‬‫ل‬ِ‫إ‬ ٍ‫ء‬ْ َ‫ي‬‫ش‬ ‫َّى‬‫ت‬َ‫ح‬ ِ‫ه‬ِ‫د‬َ‫ي‬ِ‫ب‬ ِ‫ي‬‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ ‫ي‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬َ‫و‬ َ‫ا‬‫ل‬ َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫س‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ُ‫ه‬َ‫ل‬ َ‫ال‬َ‫ق‬َ‫ف‬ َ‫ك‬ِ‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ َ‫ك‬ْ‫ي‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ َّ‫ب‬َ‫ح‬َ‫أ‬ َ‫ون‬ُ‫ك‬َ‫أ‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ََّ‫ي‬‫ل‬ِ‫إ‬ ُّ‫ب‬َ‫ح‬َ‫أ‬ َ‫ت‬ْ‫ن‬َ َ‫أ‬‫ل‬ ِ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬َ‫و‬ َ‫ن‬ ْ‫آ‬‫ال‬ ُ‫ه‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ ُ‫ر‬َ‫م‬ُ‫ع‬ َ‫م‬َّ‫ل‬َ‫س‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َّ‫ى‬‫ل‬ َ‫ص‬ ُّ‫ي‬ِ‫ب‬َّ‫ن‬‫ال‬ َ‫ال‬َ‫ق‬َ‫ف‬ ِ‫ي‬‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ ُ‫ر‬َ‫م‬ُ‫ع‬ ‫ا‬َ‫ي‬ َ‫ن‬ ْ‫آ‬‫ال‬ «Pernah kami bersama Rasulullah n ketika Beliau meraih tangan Umar bin Khatthab a. Umar berkata, «Wahai Rasulullah, Engkau betul-betul adalah sosok yang paling aku cintai dari siapa pun juga kecuali diriku sendiri.» Rasulullah n bersabda, «Demi Allah, Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah engkau mencintaiku secara sempurna hingga engkau lebih mencintaiku bahkan dari cintamu kepada dirimu sendiri.» Mendengarnya, Umar a segera berkata, «Demi Allah, kalau demikian maka mulai saat ini, sungguh engkau lebih aku cintai wahai Rasulullah dari diriku sendiri.» Rasulullah n bersabda, «Sekarang (sempurnalah kecintaanmu itu) wahai Umar.» (HR. Bukhari) Foto : forumjualbeli.com Cinta Manajemen Oleh: Muhammad Irfan Zain. Lc
  • 17. 17Edisi:4 Vol.1 HADITS Pendahuluan Cinta adalah satu kata yang singkat namun sarat akan arti dan makna. Cinta dapat mengubah kehidupan seseorang. Dengan cinta, seseorang akan sanggup mengorbankan segala yang dimilikinya untuk meraih hati yang dicintainya. Makna cinta yang sempurna, hal ini yang hendak diajarkan Rasulullah n kepada ummatnya melalui Umar bin Khatthaab a, «Mencintai Beliau lebih dari rasa cinta kepada siapa pun, bahkan termasuk kepada diri sendiri.» Dengan rasa cinta seperti inilah seseorang baru dapat merasakan dengan sesungguhnya manisnya imam. Rasulullah n bersabda: ِ‫ان‬َ‫مي‬ِْ‫إ‬‫ال‬ َ‫ة‬َ‫و‬ َ‫ا‬‫ل‬َ‫ح‬ َ‫د‬َ‫ج‬َ‫و‬ ِ‫ه‬‫ي‬ِ‫ف‬ َّ‫ن‬ُ‫ك‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ٌ‫ث‬ َ‫ا‬‫ل‬َ‫ث‬� ُ‫ه‬ُ‫ل‬‫و‬ُ‫س‬َ‫ر‬َ‫و‬ ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َ‫ون‬ُ‫ك‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫أ‬ -‫منها‬ ‫–وذكر‬ .... َ‫ا‬‫م‬ُ‫اه‬َ‫و‬ِ‫س‬ َّ‫ا‬‫م‬ِ‫م‬ ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬ِ‫إ‬ َّ‫ب‬َ‫ح‬َ‫أ‬ «Tiga perkara yang dengannya seorang akan dapat merasakan manisnya iman–di antaranya adalah engkau cinta kepada Allah dan Rasul-Nya n lebih dari kecintaanmu kepada yang selain keduanya.» (HR. Bukhari) Cinta yang Menjadi Pilihan Cinta yang didasarkan pada kesadaran dan pemahaman akan keberhakan yang dicintai untuk menerima rasa itu adalah bagian dari iman. Hal ini terlihat jelas dari perubahan jawaban Umar a yang begitu cepat; dari pernyataan sebelumnya, «Wahai Rasulullah, Engkau betul-betul adalah sosok yang paling aku cintai dari siapa pun juga kecuali diriku sendiri», kepada pernyataan Beliau selanjutnya, «Demi Allah, kalau demikian maka mulai saat ini, sungguh engkau lebih aku cintai wahai Rasulullah dari diriku sendiri.» Perubahan yang begitu drastis namun sangat cepat, bersamaan dengan pengetahuan kita tentang ketegaran dan kekokohan hati seorang Umara. Perubahan seperti ini tentu menyisakan pertanyaan besar dalam sanubari kita,
  • 18. HADITS Edisi:4 Vol.118 «Apa gerangan yang melandasi perubahan sikap tersebut ?!.» «Kesadaran dan pemahaman akan keberhakan yang dicintai untuk menerima rasa itu.» Inilah kiranya yang menjadi jawaban dari pertanyaan besar tadi. Kecintaan seseorang kepada diri sendiri adalah naluri manusiawi (thabi>ie) yang tentu dan pasti dimiliki oleh setiap orang –meski tidak dibahas. Namun, kecintaan kepada Rasulullah n adalah kecintaan yang bersifat pilihan. Kecintaan seperti inilah yang diinginkan oleh Rasulullah n lewat pernyataannya kepada Umar, «Demi Allah, Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman- Nya, tidaklah engkau mencintaiku secara sempurna hingga engkau lebih mencintaiku bahkan dari cintamu kepada dirimu sendiri.» Menyadari maksud Rasulullah n ini, secara spontan dan dengan penuh kesadaran dan pemahaman Beliau berkata, «Demi Allah, kalau demikian maka mulai saat ini, sungguh engkau lebih aku cintai wahai Rasulullah –bahkan- dari diriku sendiri.» Beliau sadar dan paham bahwa Rasulullah n yang menjadi sebab utama dari keselamatannya di dunia dan di akhirat, maka tiada pilihan bagi Beliau melainkan menyerahkan sepenuh cintanya «Demi Allah, Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman- Nya, tidaklah engkau mencintaiku secara sempurna hingga engkau lebih mencintaiku bahkan dari cintamu kepada dirimu sendiri.»
  • 19. HADITS Edisi:4 Vol.1 19 kepada Rasulullah n bahkan meski harus mengorbankan diri sendiri. Cinta adalah Asas dalam Agama (Ushuluddin) Dalam agama, cinta menempati posisi yang sangat penting. Begitu pentingnya cinta, hingga Allah berfirman; ْ‫م‬ُ‫ْك‬‫ن‬ِ‫م‬ َّ‫د‬َ‫ت‬ْ‫ر‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ‫ُوا‬‫ن‬َ‫م‬‫آ‬ َ‫ين‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬ ‫َا‬‫ه‬ُّ‫ي‬َ‫اأ‬َ‫ي‬{ ٍ‫م‬ْ‫و‬َ‫ق‬ِ‫ب‬ ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ ِ‫ي‬‫ت‬ْ‫أ‬َ‫ي‬ َ‫ف‬ْ‫و‬ َ‫س‬َ‫ف‬ ِ‫ه‬ِ‫ن‬‫ي‬ِ‫د‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬ ]54 :‫[املائدة‬ }ُ‫ه‬َ‫ن‬‫و‬ُّ‫ب‬ِ‫ُح‬‫ي‬َ‫و‬ ْ‫ُم‬‫ه‬ُّ‫ب‬ِ‫ُح‬‫ي‬ «Wahai orang-orang yang beriman barangsiapa di antara kalian yang keluar dari agamanya niscaya Allah akan menggantinya dengan sebuah kaum yang Ia cintai dan mereka cinta kepada Nya.» (al Maaidah: 54). Makna tersirat dari ayat ini bahwa satu di antara ciri mendasar orang- orang murtad (keluar dari agama) adalah lenyapnya rasa cinta. Oleh karena itu, Allah akan menggantinya dengan kaum yang beriman, yang memiliki karakter dasar berupa rasa cinta kepada-Nya, hingga Allah pun cinta kepada mereka. Ciri mendasar yang lekat dalam diri mukmin ini (cinta kepada Allah), lebih tegas Allah jelaskan lewat firman-Nya: ِ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ ِ‫ُون‬‫د‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ُ‫ذ‬ِ‫َّخ‬‫ت‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ِ‫َّاس‬‫ن‬‫ال‬ َ‫ن‬ِ‫م‬َ‫و‬ َ‫ين‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬َ‫و‬ ِ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ ِّ‫ب‬ُ‫ح‬َ‫ك‬ ْ‫ُم‬‫ه‬َ‫ن‬‫و‬ُّ‫ب‬ِ‫ُح‬‫ي‬ ‫ًا‬‫د‬‫َا‬‫د‬ْ‫ن‬َ‫أ‬ ]165 :‫[البقرة‬ ِ‫ه‬َّ‫ل‬ِ‫ل‬ ‫ا‬ًّ‫ب‬ُ‫ح‬ ُّ‫د‬َ‫ش‬َ‫أ‬ ‫ُوا‬‫ن‬َ‫م‬‫آ‬ «Di antara golongan manusia ada orang-orang yang mengangkat tandingan- tandingan bagi Allah, mereka cinta kepadanya sebagaimana cinta mereka kepada Allah. Adapun orang-orang mukmin, maka kecintaan mereka kepada Allah adalah lebih besar daripada kecintaan orang-orang selain mereka (golongan kafir) kepada tandingan-tandingan yang mereka ada-adakan bagi Allah.» (al Baqarah: 165) Cinta Rasul, Cinta Allah Dua kalimat syahadat yang menjadi syarat utama masuknya seorang ke dalam
  • 20. HADITS Edisi:4 Vol.120 Islam adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Segala yang merupakan konsekuensi dari kesaksian yang pertama (kalimat syahadat pertama), pun menjadi konsekuensi dari kesaksiannya yang kedua –kecuali seluruh hal yang merupakan kekhususan bagi Allah saja-. Satu di antara konsekuensi itu adalah cinta, ketundukan dan loyalitas. Barangsiapa yang mengaku cinta kepada Allah, tunduk dan loyal kepada-Nya, maka wajib pula atasnya untuk cinta, tunduk, dan loyal kepada Rasul-Nya n . Allah berfirman: ِ‫ي‬‫ون‬ُ‫ع‬ِ‫ب‬َّ‫ت‬‫ا‬َ‫ف‬ َ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َ‫ون‬ُّ‫ب‬ِ‫ح‬ُ‫ت‬ ْ‫ُم‬‫ت‬ْ‫ن‬ُ‫ك‬ ْ‫ن‬ِ‫إ‬ ْ‫ل‬ُ‫ق‬ )٣١( ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ب‬‫و‬ُ‫ن‬ُ‫ذ‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫ل‬ ْ‫ر‬ِ‫ف‬ْ‫غ‬َ‫ي‬َ‫و‬ ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ ُ‫م‬ُ‫ك‬ْ‫ب‬ِ‫ب‬ْ‫ُح‬‫ي‬ «Katakanlah wahai Muhammad kepada ummatmu, jika kalian cinta kepada-Ku (Allah) maka ikutilah aku (Muhammad n; dengan itu niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.» (Ali Imraan: 31) ْ‫ن‬َ‫م‬َ‫و‬ َ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َ‫اع‬َ‫ط‬َ‫أ‬ ْ‫د‬َ‫ق‬َ‫ف‬ َ‫ول‬ُ‫س‬َّ‫ر‬‫ال‬ ِ‫ع‬ِ‫ُط‬‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ )٨٠( ‫ا‬ً‫يظ‬ِ‫ف‬َ‫ح‬ ْ‫م‬ِ‫ه‬ْ‫ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ َ‫َاك‬‫ن‬ْ‫ل‬َ‫س‬ْ‫ر‬َ‫أ‬ َ‫ا‬‫م‬َ‫ف‬ َّ‫ى‬‫ل‬َ‫و‬َ‫ت‬ «Barangsiapa taat kepada Rasulullah maka sungguh ia telah taat kepada Allah. Dan barangsiapa berpaling, maka sesungguhnya tidaklah Kami mengutusmu wahai Muhammad sebagai pemutus perkara mereka.» (An-Nisaa: 80). Abu Hurairah a berkata, Rasulullah n bersabda, Allah berfirman; « ِ‫ب‬ْ‫ر‬َ‫ح‬ْ‫ل‬‫ا‬ِ‫ب‬ ُ‫ه‬ُ‫ت‬ْ‫ن‬َ‫ذ‬‫آ‬ ْ‫د‬َ‫ق‬َ‫ف‬ ‫ا‬ًّ‫ي‬ِ‫ل‬َ‫و‬ ِ‫ي‬‫ل‬ ‫َى‬‫د‬‫َا‬‫ع‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ Barangsiapa yang memusuhi orang yang Kucintai, maka Foto : Rose on wood Bw
  • 21. HADITS 21Edisi:4 Vol.1 sungguh Aku telah mengumumkan perang kepadanya.» (HR. Bukhari) Wujudkan Cintamu Secara Benar Mewujudkan dan mengarahkan cinta secara benar adalah hal yang harus diketahui dan dijalani agar mendapat balasan cinta dari sang kekasih. Jika tidak diwujudkan dan diarahkan secara benar, maka alih-alih dapat kesenangan, malah kehancuran yang akan menunggu. Jika tidak dilakukan secara benar, maka alih-alih dapat restu dari yang dicintai, malah sang kekasih akan semakin benci. Lantas adakah benar pengakuan cinta seseorang, sementara ia menyelisihi hal yang disenangi oleh kekasihnya ? Benarkah pengakuan cinta seseorang, sementara ia terus melakukan hal yang dibenci oleh kekasihnya ? Seorang penyair pernah berkata: ‫مطيع‬ ‫يحب‬ ‫ملن‬ ‫املحب‬ ‫إن‬ «Seorang yang cinta akan selalu ikut kesenangan kekasihnya.». Atau benarkah pengakuan cinta seseorang ketika ia melakukan sesuatu yang menurut anggapannya benar tetapi justru hal itu ternyata tidak dituntunkannya? Jawabannya, «Tidak». Kecintaan dan ketundukan yang sempurna ditunjukkan dengan seberapa taat dan patuhnya kita terhadap ajarannya, dengan tidak menambah dan tidak juga menguranginya. Rasulullah n bersabda: ِ‫ه‬‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫س‬ْ‫ي‬َ‫ل‬ ‫ا‬َ‫م‬ ‫ا‬َ‫ذ‬َ‫ه‬ ‫ا‬َ‫ن‬ِ‫ر‬ْ‫م‬َ‫أ‬ ِ‫ي‬‫ف‬ َ‫َث‬‫د‬ْ‫ح‬َ‫أ‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ٌّ‫د‬َ‫ر‬ َ‫و‬ُ‫ه‬َ‫ف‬ «Barangsiapa mengada- adakan sesuatu yang barupa ritual-ritual agama baru dalam agama ini yang tidak kami contohkan, sesungguhnya
  • 22. HADITS Edisi:4 Vol.122 yang diada-adakannya itu akan tertolak.» (HR. Bukhari) Oleh karena itu, barangsiapa yang mengatakan ini ajaran agama, ini ajaran Allah, ini ajaran Rasulullah n secara dusta, dan ia menyadari bahwa ia berdusta, maka Rasulullah n bersabda mengingatkan mereka, ُ‫ه‬َ‫د‬َ‫ع‬ْ‫ق‬َ‫م‬ ْ‫أ‬َّ‫و‬َ‫ب‬َ‫ت‬َ‫ي‬ْ‫ل‬َ‫ف‬ ‫ًا‬‫د‬ِّ‫م‬َ‫ع‬َ‫ت‬ُ‫م‬ َّ َ‫ي‬‫َل‬‫ع‬ َ‫ب‬َ‫ذ‬َ‫ك‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ِ‫ر‬‫َّا‬‫ن‬‫ال‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ «Barangsiapa yang berdusta mengatasnamakan diriku, maka persiapkanlah tempat duduknya kelak di neraka.». (HR. Bukhari) Pada akhirnya, semoga Allah menjadikan kita sebagai orang- orang yang mampu mewujudkan kecintaan kita secara benar kepada Allah dan kepada Rasul- Nya. Semoga Ia mengumpulkan kita kelak bersama para nabi, orang-orang yang benar, para syahid di jalan Allah dan bersama orang- orang yang saleh. Mereka itulah kelak yang akan menjadi sebaik-baik teman. Waffaqallahu al jamiiá lima yuhibbu wa yardha. Walhamdulillahi Rabbil 'Aalamiin. Referensi 1. Al Quran al Kariim 2. Al Jaami’e Al Musnad As Shahiih, oleh Imam Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al Bukhari. 3. FathulBaari, Abu al Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Hajar al Asqalaaniy. 4. Rekaman ceramah syaikh Muhammad Hasan ad Dudu, «Ma>a an Nabi» 5. Rekaman khutbah syaikh Muhammad Hassaan, «Alamaatu Mahabbati an Nabi»
  • 23. Edisi:4 Vol.1 23 PENDIDIKAN tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh”. Dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa orang-orang saleh-lah yang pantas mewarisi bumi dan segala isinya, sebab merekalah yang akan mampu untuk menerima tugas dan amanat ini untuk dikelola sesuai tuntunan Allah l. Yang tak kalah pentingnya, bahwa dengan memiliki anak saleh akan menjadi amal yang terus-menerus mengalir bagi kedua orang tuanya meskipun Memiliki anak yang saleh dan salehah merupakan dambaan dan impian setiap orang tua karena kehadiran anak saleh di tengah-tengah kehidupan keluarga akan menjadi penyejuk jiwa dan kedamain, pelipur lara bagi kedua orang tuanya. Anak saleh bagi orang tua merupakan bekal kehidupan di dunia dan akhirat, disebutkan di dalam Al Qur’an surat Al Anbiya ayat 105: “Dan sungguh telah kami tulis di dalam Zabur sesudah (Kami Foto : Dok. Al Binaa MENYINERGIKAN PENDIDIKAN KELUARGA DENGAN SEKOLAH MENUJU GENERASI YANG SALEH Oleh: Ustadz Hasyim Nur, S.Pd.
  • 24. PENDIDIKANPENDIDIKAN Edisi:4 Vol.124 keduanya telah meninggal dunia. Dari Abu Hurairah z, ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda: ْ‫ن‬ِ‫م‬ َّ‫ا‬‫ل‬ِ‫إ‬ ُ‫ه‬ُ‫ل‬َ‫م‬َ‫ع‬ َ‫ع‬َ‫ط‬َ‫ق‬ْ‫ن‬‫ا‬ ُ‫ان‬ َ‫س‬ْ‫ن‬ِْ‫إ‬‫ال‬ َ‫ات‬َ‫م‬ ‫ا‬َ‫ذ‬ِ‫إ‬ ُ‫ع‬َ‫ف‬َ‫ت‬ْ‫ن‬ُ‫ي‬ ٍ‫م‬ْ‫ل‬ِ‫ع‬َ‫و‬ ٍ‫ة‬َ‫ي‬ِ‫ر‬‫ا‬َ‫ج‬ ٍ‫ة‬َ‫ق‬َ‫د‬ َ‫ص‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ٍ‫ة‬َ‫اَث‬‫ل‬َ‫ث‬� ُ‫ه‬َ‫ل‬ ‫و‬ُ‫ْع‬‫د‬َ‫ي‬ ٍ‫ح‬ِ‫ل‬‫ا‬ َ‫ص‬ ٍ‫د‬َ‫ل‬َ‫و‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ “Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau do’a anak yang saleh” (HR. Muslim no. 1631). Tentu ketika menyebutkan kata saleh maka rujukan kita adalah Kitabullah dan sunnah Rasulullah n. Secara etimologi, kata saleh berasal dari ً‫ا‬‫ح‬َ‫ال‬ َ‫ص‬ - ُ‫ح‬ُ‫ل‬ ْ‫ص‬َ‫ي‬ - َ‫ح‬ُ‫ل‬ َ‫ص‬ shaluha-yashluhu – shalahan yang artinya ‘baik’, ‘tidak rusak’ dan ‘patut’. Sedangkan Saleh (‫)صالح‬ merupakan isim fa’il dari kata tersebut di atas yang berarti orang yang baik, orang yang tidak rusak dan orang yang patut. Sedangkan saleh menurut definisi Al-Qur’an adalah sebagaimana yang terdapat di dalam surat Ali Imran: 113 – 114 dan surat Al Ankabut: 9 “Mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedangkan mereka juga bersujud” (QS. Ali Imran: 113) “Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) berbagai kebajikan; mereka itulah termasuk orang-orang yang saleh”. (QS. Ali Imran: 114) “Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh benar-benar akan kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang saleh” (Al Ankabut: 9). Berdasarkan ayat tersebut, maka orang saleh adalah orang yang berperilaku baik akhlaknya sesuai dengan ajaran Al-Quran dan As-Sunnah sebagaimana ciri-ciri orang saleh yang disebutkan di dalam Al Quran
  • 25. 25Edisi:4 Vol.1 surat Ali Imran: 113-114. Namun, bagaimanakah meyinergikan pendidikan keluarga dengan sekolah untuk menuju generasi yang saleh? Perlu diyakini, bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini semuanya atas kehendak dan ketetapan Allah k. Tidaklah selembar daun yang jatuh dari pohonnya kecuali jauh sebelumnya telah dicatat di lauh mahfudz. Tidaklah terwujud ketinggian akhlak dan kesalehan anak kecuali sebelumnya telah dituliskan ketetapannya oleh Allahk. Namun, tidak lantaran karena sudah ditetapkan oleh Allah, lantas kita berpangku tangan menunggu kesalehan anak datang secara tiba-tiba. Iman yang benar adalah meyakini atas segala ketetapan Allah dengan tidak ragu sedikit pun, yang disertai usaha optimal. Ditegaskan dalam sebuah riwayat, bahwa seorang Arab Badui datang menghadap Nabi n. Orang itu datang dengan menunggang kuda. Setelah sampai, ia turun dari kudanya dan langsung menghadap Nabi, tanpa terlebih dahulu mengikat kudanya. Nabi menegur orang itu, ”Mengapa kuda itu tidak engkau ikat?” Orang Arab Badui itu menjawab, ”Biarlah, saya bertawakkal kepada Allah.” Nabi pun bersabda, ”Ikatlah kudamu, setelah itu bertawakkalah kepada Allah.” Dari riwayat tersebut di atas jelaslah bahwa walaupun Allah telah menentukan segala sesuatu, namun manusia tetap berkewajiban untuk berusaha. Menyinergikan pendidikan keluarga dengan sekolah merupakan bagian dari usaha Dari kisah tersebut jelaslah bahwa walaupun Allah telah menentukan segala sesuatu, namun manusia tetap berkewajiban untuk berusaha. PENDIDIKAN
  • 26. PENDIDIKAN Edisi:4 Vol.126 orang tua, yaitu orang tua memilih sekolah yang sesuai atau yang saling menguatkan pola pendidikan di rumah dengan pendidikan di sekolah. Demikian pula sebaliknya bahwa pola pendidikan di rumah menguatkan pola pendidikan di sekolah. Jangan sampai terjadi paradok, misalnya di sekolah mengajarkan wajibnya shalat berjamaah di masjid, sedangkan di lingkungan keluarga cukup dengan shalat di rumah. Atau sebaliknya di rumah sangat memperhatikan pendidikan akhlak, sopan santun, perkataan yang baik, tetapi di sekolah berperilaku tidak santun, berkata-kata yang kasar dan menyimpang dianggap bagian dari kreatifitas yang tidak perlu diatur. Jika demikian yang terjadi, proses pendidikan tidak berjalan maksimal. Menyinergikan Pendidikan Keluarga dengan Sekolah serta Langkah-Langkahnya. 1. Membangun komitmen bersama Unsur-unsur yang membangun pendidikan keluarga tidak jauh berbeda dengan unsur-unsur pendidikan di sekolah. Kita boleh menganalogikan rumah merupakan madrasah, ayah dan ibu merupakan pendidik (guru), anak adalah murid-murid yang istimewa, dan norma-norma yang ditanamkan kepada anak adalah sistem nilai layaknya seperti kurikulum sekolah. Namun, untuk menyinergikan unsur pendidikan keluarga tersebut penting adanya visi orang tua yaitu kesepahaman kedua orang tua tentang arah dan tujuan pendidikan bagi anak-anaknya sebagaimana juga di sekolah adanya visi sekolah karena keberadaan visi bertujuan untuk mengarahkan segenap potensi agar tidak melenceng dari tujuan. Oleh karena itu, sebaiknya orang tua dari sejak awal bahkan sebelum dikaruniai anak, harus membangun komitmen bersama untuk
  • 27. PENDIDIKAN Edisi:4 Vol.1 27 mengarahkan anak-anaknya menjadi anak-anak yang saleh sebagaimana doa Nabi Ibrahim dalam Al Qu’an surat Shaffat ayat 100. َ‫ن‬ْ‫ي‬ ِ‫ِح‬‫ل‬‫ا‬ َّ‫الص‬ َ‫ِن‬‫م‬ ْ‫ِي‬‫ل‬ ْ‫ب‬َ‫ه‬ ِّ‫ب‬َ‫ر‬ Wahai Tuhanku, karuniakanlah kepadaku anak yang termasuk anak-anak yang sholeh. (QS. Ash-Shaffat: 100). Bersamaan dengan itu orang tua juga berusaha untuk menjauhkan anak dari tempat-tempat keburukan dan kelalaian. Jangan biarkan mereka dididik dengan cara yang buruk, baik melalui tayangan televisi, bacaan- bacaan, atau video-video yang menyimpang atau selainnya. Jangan kita mengharapkan kesalehan sementara enggan melarang dengan berbagai pertimbangan. Ingat pepatah yang menyebutkan, “Orang yang menanam duri tidak akan memanen anggur.” 2. Ikhlas dalam mendidik Langkah selanjutnya adalah selalu menghadirkan keikhlasan dalam mendidik anak dan senantiasa mengharapkan pertolongan dari Allah l karena betapa kita menyadari mendidik anak bukan pekerjaan yang mudah, tidak cukup hanya bermodal ilmu dan pengalaman atau kekuatan harta atau jabatan karena yang membolak-balikakkan hati adalah Allah l, oleh karena itu, dalam mendidik anak kita membutuhkan keikhlasan dan mengharap pertolongan Allah l. Allah l berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadanya.” (QS. Al Bayyinah: 5). Nabi Ibrahim pun berdoa kepada Allah agar dikaruniai anak yang saleh demikian pula Nabi Zakaria sebagaimana Firman Allah l: “Di sanalah Zakariya berdoa kepada Tuhannya seraya berkata: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang
  • 28. PENDIDIKAN Edisi:4 Vol.128 anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (QS. Ali Imran:38) Adakah kita meluangkan waktu sejenak untuk mengintrospeksi diri, seberapa ikhlaskah kita dalam mendidik anak karena keikhlasan ini akan mempengaruhi kualitas ketulusan, cinta, dan sayang kita kepada anak. Bersungguh- sungguhlah untuk menjauhkan dari sikap amarah, kekerasan baik dalam bentuk fisik maupun psikis. Rangkul dan belailah mereka dengan ketulusan, bahwa kita sangat mencintainya. 3. Menjadi imam dan teladan Langkah berikutnya adalah berusaha tampil berperan sebagai orang tua yang dapat menjadi imam sebagai pemimpin keluarga, menjadi pendidik yang dapat diteladani, menjadi sahabat yang dapat diajak diskusi. Adakalanya orang tua harus tegas, hal ini dilakukan manakala nasihat, peringatan dan keteladanan sudah ditunjukkan. Terkadang pula anak diajak diskusi. 4. Mengajarkan ilmu dan mengamalkan Langkah selanjutnya adalah mengajarkan ilmu tentang dasar-dasar keislaman dan membiasakan anak mengerjakan amalan-amalan yang dapat menstimulasi anak menuju kesalehan. Di antara yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: a. Menumbuhkan kecintaan anak kepada Allah l dan Rasul-Nya serta mencintai ajaran Islam. Hal ini sangat penting untuk mengokohkan aqidah sebagai benteng keimanan. Dan pengajaran ini terus menerus dilakukan. www.liputan6.com
  • 29. PENDIDIKAN 29Edisi:4 Vol.1 b. Mengajarkan keikhlasan, kejujuran, dan kesederhanaan dalam hidup serta menjaling hubungan baik dengan orang lain. c. Memberi keteladanan dalam pelaksanaan shalat dan menyuruh untuk menegakkan shalat. ٍ‫ع‬ْ‫ب‬َ‫س‬ ُ‫ء‬‫َا‬‫ن‬ْ‫ب‬َ‫أ‬ ْ‫م‬ُ‫ه‬َ‫و‬ ِ‫ة‬ َ‫ا‬‫ل‬ َّ‫الص‬ِ‫ب‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َ‫د‬َ‫ال‬ْ‫و‬َ‫أ‬ ‫ا‬ْ‫و‬ُ‫ر‬ُ‫م‬ "Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan shalat saat mereka berusia tujuh tahun." d. Mengajarkan Al Qur’an secara bertahap beserta doa-doa harian dan membiasakan dalam pengamalannya. e. Memberi keteladanan dalam beradab; bertutur kata, bersikap, dan bermuamalah dengan orang lain. f. Memfasilitasi dengan pengadaan buku-buku bacaan yang islami, kisah para nabi dan rasul, kisah sahabat. Buku-buku ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah mendapatkan pemurnian dari konten yang menyimpang. g. Memberikan keteladanan dalam berdisiplin. Hal ini dapat dilakukan dengan mengajarkan dari hal-hal yang sederhana, misalnya bangun tidur tepat pada waktunya, menyimpan sendal atau sepatu pada tempatnya, serta merapikan kembali mainan yang telah dipakai. Setelah pola pendidikan keluarga diterapkan secara optimal, maka tugas orang tua berikutnya adalah memasukkan anak di sekolah yang memiliki persamaan visi dan misi, prinsip-prinsip dalam mendidik, keikhlasan dan keteladananan para pendidik, kurikulum, dan aturan sekolah yang diterapkan. Semoga Allah l melimpahkan taufiknya kepada kita dalam mendidik serta menganugerahi kita anak-anak yang saleh dan salehah. Referensi: 1. Al Qur’an 2. Buletinmi.com
  • 30. Edisi:4 Vol.130 SAINS )٦٨( َ‫ون‬ُ‫ب‬َ‫ر‬ ْ‫ش‬َ‫ت‬ ‫ِي‬‫ذ‬َّ‫ال‬ َ‫ء‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫�ي‬َ‫أ‬َ‫ر‬ َ‫�ف‬َ‫أ‬ ُ‫ن‬ ْ‫ح‬َ‫ن‬ ْ‫م‬َ‫أ‬ ِ‫ن‬ْ‫ز‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫ِن‬‫م‬ ُ‫ه‬‫و‬ُ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫ل‬َ‫ز‬ْ‫�ن‬َ‫أ‬ ْ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫�ن‬َ‫أ‬َ‫أ‬ ُ‫ه‬‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ل‬َ‫ع‬َ‫ج‬ ُ‫ء‬‫ا‬ َ‫ش‬َ‫ن‬ ْ‫و‬َ‫ل‬)٦٩( َ‫ون‬ُ‫ل‬ِ‫ز‬ْ‫ن‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ )٧٠( َ‫ون‬ُ‫ر‬ُ‫ك‬ ْ‫ش‬َ‫ت‬ ‫ال‬ْ‫و‬َ‫ل‬ َ‫�ف‬ ‫ا‬ً‫اج‬َ‫ج‬ُ‫أ‬ “Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum, kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya? Kalau Kami kehendaki, niscaya Kami jadikan dia asin. Maka, mengapakah kamu tidak bersyukur?” ( QS: Al Waqi’ah : 68 – 70 ) Sebagai seorang muslim, jika kita merenungkan ayat di atas, kita akan menyadari betapa kebesaran dan nikmat Allah. Karena, setiap hari pasti kita minum air. Nah, saat kita minum itu coba kita ingat dari mana air itu asalnya? Apakah kita yang menurunkan air…? Masyaa Allah !! Apakah pantas kita mengingkari nikmat Allah berupa air … yang kita butuhkan setiap hari? Mari kita kaji lebih mendalam lagi. Bukankah air itu dari hujan, dan sadarkah kita bagaimana hujan terjadi? Bagaimana Al- quran mengungkap tentang terjadinya hujan? Mari kita pahami bersama… Foto : radaronline.co.id Oleh: Sofyan Toha, S.Si. menurut Al Quran Rahasia Terjadinya Hujan
  • 31. SAINS 31Edisi:4 Vol.1 Allah Berfirman : ُ‫ف‬ِّ‫ل‬َ‫ؤ‬ُ‫�ي‬ َّ‫ُم‬‫ث‬ ‫ا‬ً‫ب‬‫ا‬ َ‫ح‬َ‫س‬ ‫ي‬ِ‫ج‬ْ‫ز‬ُ‫�ي‬ َ‫ه‬َّ‫الل‬ َّ‫ن‬َ‫أ‬ َ‫ر‬َ‫�ت‬ ْ‫م‬َ‫ل‬َ‫أ‬ َ‫ق‬ْ‫د‬َ‫و‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ى‬َ‫ر‬َ‫�ت‬ َ‫�ف‬ ‫ا‬ً‫م‬‫ا‬َ‫ك‬ُ‫ر‬ ُ‫ه‬ُ‫ل‬َ‫ع‬ ْ‫ج‬َ‫ي‬ َّ‫ُم‬‫ث‬ ُ‫ه‬َ‫ن‬ْ‫�ي‬َ‫ب‬� ِ‫ء‬‫ا‬َ‫م‬ َّ‫الس‬ َ‫ِن‬‫م‬ ُ‫ل‬ِّ‫ز‬َ‫�ن‬ُ‫�ي‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ِ‫ل‬‫ال‬ِ‫خ‬ ْ‫ِن‬‫م‬ ُ‫ج‬ُ‫ر‬ ْ‫خ‬َ‫ي‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ ُ‫يب‬ ِ‫ص‬ُ‫ي‬ َ‫�ف‬ ٍ‫د‬َ‫ر‬َ‫ب‬� ْ‫ِن‬‫م‬ ‫ا‬َ‫ه‬‫ِي‬‫ف‬ ٍ‫ال‬َ‫ب‬ِ‫ج‬ ْ‫ِن‬‫م‬ ُ‫د‬‫ا‬َ‫ك‬َ‫ي‬ ُ‫ء‬‫ا‬ َ‫ش‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ْ‫ن‬َ‫ع‬ ُ‫ه‬ُ‫ف‬ِ‫ر‬ ْ‫ص‬َ‫ي‬َ‫و‬ ُ‫ء‬‫ا‬ َ‫ش‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ )٤٣( ِ‫ر‬‫ا‬ َ‫ص‬ْ‫ب‬‫ِاأل‬‫ب‬ ُ‫ب‬َ‫ه‬ْ‫ذ‬َ‫ي‬ ِ‫ه‬ِ‫ق‬ْ‫ر‬َ‫ب‬� ‫ا‬َ‫ن‬َ‫س‬ “Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan- gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran- butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan.” (Al Qur’an, 24:43) Para ilmuwan yang mempelajari jenis-jenis awan mendapatkan temuan yang mengejutkan, berkenaan dengan proses pembentukan awan hujan. Terbentuknya awan hujan yang mengambil bentuk tertentu, terjadi melalui sistem dan tahapan tertentu pula. Tahap-tahap pembentukan kumulonimbus, sejenis awan hujan, adalah sebagai berikut: TAHAP – 1, Pergerakan awan oleh angin: Awan-awan dibawa, dengan kata lain, ditiup oleh angin. TAHAP – 2, Pembentukan awan yang lebih besar: Kemudian awan-awan kecil (awan kumulus) yang digerakkan angin, saling bergabung dan membentuk awan yang lebih besar. TAHAP – 3, Pembentukan awan yang bertumpang tindih: Ketika awan awan kecil saling bertemu dan bergabung membentuk awan yang lebih besar, gerakan udara vertikal ke atas terjadi di
  • 32. SAINS Edisi:4 Vol.132 dalamnya meningkat. Gerakan udara vertikal ini lebih kuat di bagian tengah dibandingkan di bagian tepinya. Gerakan udara ini menyebabkan gumpalan awan tumbuh membesar secara vertikal, sehingga menyebabkan awan saling bertindih-tindih. Membesarnya awan secara vertikal ini menyebabkan gumpalan besar awan tersebut mencapai wilayah-wilayah atmosfer yang bersuhu lebih dingin, di mana butiran-butiran air dan es mulai terbentuk dan tumbuh semakin membesar. Ketika butiran air dan es ini telah menjadi berat sehingga tak lagi mampu ditopang oleh hembusan angin vertikal, mereka mulai lepas dari awan dan jatuh ke bawah sebagai hujan air, hujan es, dan sebagainya. (Anthes, Richard A.; John J. Cahir; Alistair B. Fraser; and Hans A. Panofsky, 1981, The Atmosphere, s. 269; Millers, Albert; andJack C. Thompson, 1975, Element s of Meteorology, s. 141-142) Kita harus ingat bahwa para ahli meteorologi baru akhir- akhir ini saja mengetahui proses pembentukan awan hujan ini secara rinci, beserta bentuk dan fungsinya, dengan menggunakan peralatan mutakhir seperti pesawat terbang, satelit, komputer, dan sebagainya. Sungguh jelas bahwa Allah telah memberitahu kita suatu informasi yang tak mungkin dapat diketahui 1400 tahun yang lalu. Gambar di atas memperlihatkan tahap-tahap pembentukan gelombang air.
  • 33. SAINS 33Edisi:4 Vol.1 Gelombang air terbentuk ketika angin meniup permukaan air. Akibat pengaruh angin ini, pertikel-partikel air mulai bergerak melingkar. Pergerakan ini kemudian mendorong terbentuknya gelombang air yang silih berganti, dan butiran-butiran air kemudian terbentuk oleh gelombang ini yang kemudian tersebar dan beterbangan di udara. Dalam sebuah ayat Al Quran disebutkan sifat angin yang mengawinkan dan terbentuknya hujan karenanya. َ‫ِن‬‫م‬ ‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ل‬َ‫ز‬ْ‫�ن‬َ‫أ‬َ‫ف‬ َ‫ِح‬‫ق‬‫ا‬َ‫و‬َ‫ل‬ َ‫اح‬َ‫ي‬ِّ‫الر‬ ‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ل‬َ‫س‬ْ‫ر‬َ‫أ‬َ‫و‬ ُ‫ه‬َ‫ل‬ ْ‫م‬ُ‫ت‬ْ‫�ن‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫م‬َ‫و‬ ُ‫ه‬‫و‬ُ‫م‬ُ‫اك‬َ‫ن‬ْ‫َ�ي‬‫ق‬ْ‫س‬َ‫أ‬َ‫ف‬ ً‫ء‬‫ا‬َ‫م‬ ِ‫ء‬‫ا‬َ‫م‬ َّ‫الس‬ )٢٢( َ‫ِين‬‫ن‬ِ‫ز‬‫ا‬ َ‫ِخ‬‫ب‬ «Dan kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya.» (Al Qur>an, 15:22) Dalam ayat ini ditekankan bahwa fase pertama dalam pembentukan hujan adalah angin. Hingga awal abad ke-20, satu-satunya hubungan antara angin dan hujan yang diketahui hanyalah bahwa angin yang menggerakkan awan. Namun penemuan ilmu meteorologi modern telah menunjukkan peran «mengawinkan» dari angin dalam pembentukan hujan. Fungsi mengawinkan pada angin ini terjadi sebagaimana berikut. Di atas permukaan laut dan samudera, gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih. Pada saat gelembung- gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil dengan diameter seperseratus milimeter, terlempar ke udara. Partikel- partikel ini, yang dikenal sebagai aerosol, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer. Partikel-partikel ini dibawa naik
  • 34. SAINS Edisi:4 Vol.134 lebih tinggi ke atas oleh angin dan bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun di sekitar partikel-partikel ini dan berubah menjadi butiran- butiran air. Butiran-butiran air ini mula-mula berkumpul dan membentuk awan, kemudian jatuh ke bumi dalam bentuk hujan. Sebagaimana terlihat, angin “mengawinkan” uap air yang melayang di udara dengan partikel-partikel yang dibawanya dari laut dan akhirnya membantu pembentukan awan hujan. Apabila angin tidak memiliki sifat ini, butiran- butiran air di atmosfer bagian atas tidak akan pernah terbentuk dan hujan pun tidak akan pernah terjadi. Hal terpenting di sini adalah bahwa peran utama dari angin dalam pembentukan hujan telah dinyatakan berabad-abad yang lalu dalam sebuah ayat Al Qur’an, pada saat orang hanya mengetahui sedikit saja tentang fenomena alam. Allah berfirman : ‫ا‬ً‫ب‬‫ا‬ َ‫ح‬َ‫س‬ ُ‫ِير‬‫ث‬ُ‫ت‬ َ‫�ف‬ َ‫اح‬َ‫ي‬ِّ‫الر‬ ُ‫ل‬ِ‫س‬ْ‫ر‬ُ‫�ي‬ ‫ِي‬‫ذ‬َّ‫ال‬ ُ‫ه‬َّ‫الل‬ ُ‫ء‬‫ا‬ َ‫ش‬َ‫ي‬ َ‫ف‬ْ‫ي‬َ‫ك‬ِ‫ء‬‫ا‬َ‫م‬ َّ‫الس‬ ‫ِي‬‫ف‬ ُ‫ه‬ُ‫ط‬ ُ‫س‬ْ‫ب‬َ‫ي‬ َ‫�ف‬ ْ‫ِن‬‫م‬ ُ‫ج‬ُ‫ر‬ ْ‫خ‬َ‫ي‬ َ‫ق‬ْ‫د‬َ‫و‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ى‬َ‫ر‬َ‫�ت‬ َ‫�ف‬ ‫ًا‬‫ف‬ َ‫س‬ِ‫ك‬ُ‫ه‬ُ‫ل‬َ‫ع‬ ْ‫ج‬َ‫ي‬َ‫و‬ ْ‫ِن‬‫م‬ ُ‫ء‬‫ا‬ َ‫ش‬َ‫ي‬ ْ‫ن‬َ‫م‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ َ‫اب‬ َ‫ص‬َ‫أ‬ ‫َا‬‫ذ‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ ِ‫ه‬ِ‫ل‬‫ال‬ِ‫خ‬ َ‫ون‬ُ‫ر‬ ِ‫ش‬ْ‫ب‬َ‫ت‬ ْ‫س‬َ‫ي‬ ْ‫م‬ُ‫ه‬ ‫َا‬‫ذ‬ِ‫إ‬ ِ‫ه‬ِ‫د‬‫ا‬َ‫ِب‬‫ع‬ «Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal- gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira» (Al Qur>an, 30:48) Hujan adalah rahmat : َ‫ن‬ْ‫ي‬َ‫ب‬� ‫ا‬ً‫ر‬ ْ‫ش‬ُ‫ب‬ َ‫اح‬َ‫ي‬ِّ‫الر‬ ُ‫ل‬ِ‫س‬ْ‫ر‬ُ‫�ي‬ ‫ِي‬‫ذ‬َّ‫ال‬ َ‫و‬ُ‫ه‬َ‫و‬ ‫ا‬ً‫ب‬‫ا‬ َ‫ح‬َ‫س‬ ْ‫ت‬َّ‫ل‬ َ‫�ق‬َ‫أ‬ ‫َا‬‫ذ‬ِ‫إ‬ ‫َّى‬‫ت‬َ‫ح‬ ِ‫ه‬ِ‫ت‬َ‫م‬ْ‫ح‬َ‫ر‬ ْ‫ي‬َ‫د‬َ‫ي‬ َ‫ء‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ ‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ل‬َ‫ز‬ْ‫�ن‬َ‫أ‬َ‫ف‬ ٍ‫ت‬ِّ‫ي‬َ‫م‬ ٍ‫د‬َ‫ل‬َ‫ب‬�ِ‫ل‬ ُ‫ه‬‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ق‬ُ‫س‬ ‫َاال‬‫ق‬ِ‫ث‬ َ‫ِك‬‫ل‬َ‫ذ‬َ‫ك‬ ِ‫ات‬َ‫ر‬َ‫م‬َّ‫ث‬‫ال‬ ِّ‫ل‬ُ‫ك‬ ْ‫ِن‬‫م‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ ‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ج‬َ‫ر‬ْ‫خ‬َ‫أ‬َ‫ف‬ َ‫ون‬ُ‫ر‬َّ‫ك‬َ‫ذ‬َ‫ت‬ ْ‫م‬ُ‫ك‬َّ‫ل‬َ‫ع‬َ‫ل‬ ‫ى‬َ‫ت‬ْ‫و‬َ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ج‬ِ‫ر‬ ْ‫خ‬ُ‫ن‬
  • 35. SIROH 35Edisi:4 Vol.1 "Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti Itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, Mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran." (Q.S. Al A'raf : 57 ) ً‫ا‬‫اج‬َّ‫َج‬‫ث‬ ‫اء‬َ‫م‬ ِ‫ات‬َ‫ر‬ ِ‫ص‬ْ‫ع‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫ِن‬‫م‬ ‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ل‬َ‫ز‬‫ن‬َ‫أ‬َ‫و‬ ٍ‫َّات‬‫ن‬َ‫ج‬َ‫و‬)١٥( ‫ا‬ً‫ت‬‫ا‬َ‫ب‬َ‫�ن‬َ‫و‬ ‫ا‬ًّ‫ب‬َ‫ح‬ ِ‫ه‬ِ‫ب‬ َ‫ج‬ِ‫ر‬ ْ‫خ‬ُ‫ن‬ِ‫ل‬ ‫ا‬ً‫ف‬‫َا‬‫ف‬ْ‫ل‬َ‫أ‬ "Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah. Supaya Kami tumbuhkan dengan air itu biji-bijian dan tumbuh-tumbuhan. Dan kebun- kebun yang lebat." (Q.S. An Naba' : 14-16) ً‫ة‬َ‫ع‬ِ‫اش‬َ‫خ‬ َ‫ض‬ْ‫ر‬‫األ‬ ‫ى‬َ‫ر‬َ‫�ت‬ َ‫ك‬َّ‫ن‬َ‫أ‬ ِ‫ه‬ِ‫ت‬‫ا‬َ‫ي‬‫آ‬ ْ‫ِن‬‫م‬َ‫و‬ ْ‫ت‬َ‫ب‬َ‫ر‬َ‫و‬ ْ‫ت‬َّ‫ز‬َ‫�ت‬ْ‫ه‬‫ا‬ َ‫ء‬‫ا‬َ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ا‬َ‫ه‬ْ‫�ي‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ‫ا‬َ‫ن‬ْ‫ل‬َ‫ز‬ْ‫�ن‬َ‫أ‬ ‫َا‬‫ذ‬ِ‫إ‬َ‫ف‬ ُ‫ه‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬ ‫ى‬َ‫ت‬ْ‫و‬َ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫ِي‬‫ي‬ ْ‫ح‬ُ‫م‬َ‫ل‬ ‫ا‬َ‫ه‬‫ا‬َ‫ي‬ْ‫ح‬َ‫أ‬ ‫ِي‬‫ذ‬َّ‫ال‬ َّ‫ِن‬‫إ‬ ٌ‫ِير‬‫د‬َ‫ق‬ ٍ‫ء‬ْ‫ي‬َ‫ش‬ ِّ‫ل‬ُ‫ك‬‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ "Dan di antara tanda-tanda- Nya (ialah) bahwa kau Lihat bumi kering dan gersang, Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Tuhan yang menghidupkannya, pastilah dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (Q.S. Fushshilat : 39 ) ‫وسلم‬ ‫عليه‬ ‫اهلل‬ ‫صلى‬ ‫اهلل‬ ‫رسول‬ ‫قال‬ ‫ورحمته‬ ‫اهلل‬ ‫بفضل‬ ‫نا‬‫ر‬‫مط‬ : ) ‫البخاري‬ ‫رواه‬ ( Rasulullah bersabda : “ kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Alloh “ ( HR. Bukhori ) Sumber : Al Qur’anul Karim Tafsir Ibnu Katsir http ://id .harunyahya.com http://www.keajaibanalquran.com
  • 36. SIROH S etelah diangkatnya Rasulullah n menjadi Nabi dan Rasul, maka Beliau pun mulai menyingsingkan lengan baju, bersungguh-sungguh untuk menyampaikan amanat risalah kepada umat. Beliau memulai dakwah. Beliau mengajak kepada tauhid, memerangi segala bentuk berhala. Itu semua adalah sebagai pengamalan dari perintah Allah k: .ْ ِّ‫ر‬‫ب‬َ‫ك‬َ‫ف‬ َ‫ك‬َّ‫ب‬َ‫ر‬َ‫و‬ .ْ‫ر‬ِ‫ذ‬ْ‫ن‬َ‫أ‬َ‫ف‬ ْ‫م‬ُ‫ق‬ .ُ‫ر‬ِّ‫دَّث‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ ‫َا‬‫ه‬ُّ‫ي‬َ‫أ‬ ‫ا‬َ‫ي‬ ْ‫ُن‬‫ن‬ْ َ‫م‬‫ت‬ َ‫ا‬‫ل‬َ‫و‬ .ْ‫ر‬ُ‫ج‬ْ‫اه‬َ‫ف‬ َ‫ز‬ْ‫ج‬ُّ‫ر‬‫ال‬َ‫و‬ .ْ‫ر‬ِّ‫ه‬َ‫ط‬َ‫ف‬ َ‫ك‬َ‫ب‬‫ا‬َ‫ي‬ِ‫َث‬‫و‬ ) 7-1 : ‫املدثر‬ ( ْ ِ‫ر‬‫ب‬ ْ‫اص‬َ‫ف‬ َ‫ك‬ِّ‫ب‬َ‫ر‬ِ‫ل‬َ‫و‬ .ُ ِ‫ر‬‫ث‬ْ‫ك‬َ‫ت‬ ْ‫س‬َ‫ت‬ «Hai orang yang berselimut!, bangunlah, lalu berilah peringatan!, dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah,dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak., dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah.“ (Qs. Al Muddatsir : 1-5 ) Misi Beliau adalah misi yang sangat berat, yang mana di waktu tersebut keadaan orang-orang Quraisy & Penerima Dakwah Paling Awal Awal Dakwah Rasulullah n Oleh: Abdusshommad Rifai, Lc.
  • 37. SIROH sudah mencapai puncak dari kesyirikan, kekufuran, kedzaliman dan segala macam keburukan. Tiga Tahun Berdakwah dengan Cara Sembunyi-Sembunyi Melihat keadaan orang - orang Quraisy yang sudah parah dalam bentuk kekufuran, kerasnya perangai mereka, bahasa mereka adalah bahasa pedang dalam menghadapi perselisihan, dan sifat buruk lainnya, di samping juga mereka adalah orang-orang yang teranggap besar di kalangan orang Arab, maka termasuk hikmah adalah menyampaikan dakwah kepada mereka di awal waktu dengan cara sembunyi – sembunyi agar tidak terlalu mengagetkan dan mengejutkan mereka. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah. Beliau mengajak kepada tauhid dengan cara sembunyi – sembunyi. Beliau ajak orang-orang yang dipandang siap untuk menerimanya, baik dari kalangan keluarga dan kerabat, dan atau juga orang-orang yang sudah dikenal dengan kebaikan, kejujuran dan penerimaan mereka kepada kebenaran. Para Penerima Dakwah Paling Awal Kebenaran adalah cahaya penerang dan juga penentram hati. Dia akan hinggap dengan mudah di hati-hati pemilik jiwa yang bersih. Begitu pulalah kebenaran yang datang dari Rasulullah. Begitu disampaikan, maka di sana ada jiwa-jiwa yang baik yang menjawab langsung tanpa ada keraguan. Mereka adalah hamba-hamba pilihan Allah yang mendapatkan keutamaan besar, yang nama- nama mereka terukir
  • 38. Edisi:4 Vol.138 dengan indah dalam sejarah Islam dengan sembutan “Assaabiquunal Awwaluun” Orang-orang pertama yang menerima dakwah Rasulullah adalah istri Beliau sendiri yaitu Khodijah, Zaid bin Haritsah z(bekas budak Beliau), sepupu Beliau, Ali bin Abi Thalib z, dan teman karib Beliau Abu Bakar z . Mereka masuk Islam di hari-hari awal dakwah Rasulullah. Abu Bakar z, dan Berkah Keislamannya Sungguh, Abu Bakar adalah hamba pilihan Allah yang mempunyai keutamaan sangat berlimpah, yang tidak akan bisa disaingi oleh satu orang pun dari umat ini. Beliau adalah laki-laki yang paling dicintai oleh Nabi. Dan lihatlah bagaimana Nabi n memuji Beliau : َ‫ن‬ِ‫م‬ َ‫س‬ْ‫ي‬َ‫ل‬ ُ‫ه‬َّ‫ن‬ِ‫إ‬(( َّ‫ن‬َ‫م‬َ‫أ‬ ٌ‫د‬َ‫ح‬َ‫أ‬ ِ‫َّاس‬‫ن‬‫ال‬ ِ‫ه‬ِ‫ل‬‫ا‬َ‫م‬َ‫و‬ ِ‫ه‬ ِ‫س‬ْ‫ف‬َ‫ن‬ ِ‫ي‬‫ف‬ ََّ‫ي‬‫ل‬َ‫ع‬ ُ‫ْت‬‫ن‬ُ‫ك‬ ْ‫و‬َ‫ل‬َ‫و‬ ،َ‫ة‬َ‫ف‬‫ا‬َ‫ح‬ُ‫ق‬ ِ‫ي‬‫ب‬َ‫أ‬ ِ‫ن‬ْ‫ب‬ ِ‫ر‬ْ‫ك‬‫ب‬ ِ‫ي‬‫ب‬َ‫أ‬ ْ‫ن‬ِ‫م‬ ‫ا‬َ‫ب‬َ‫أ‬ ُ‫ت‬ْ‫ذ‬َ‫خ‬َّ‫ت‬َ‫ال‬ ً‫يلا‬ِ‫ل‬َ‫خ‬ ِ‫َّاس‬‫ن‬‫ال‬ َ‫ن‬ِ‫م‬ ‫ا‬ً‫ذ‬ِ‫َّخ‬‫ت‬ُ‫م‬ )467 : ‫البخاري‬ ‫(رواه‬ ))ً‫يلا‬ِ‫ل‬َ‫خ‬ ٍ‫ر‬ْ‫ك‬َ‫ب‬ “Tidak ada manusia yang lebih memberi anugrah pada jiwa dan hartanya untukku melebihi Abu Bakar. Kalau aku boleh menjadikan seseorang menjadi kekasih pasti aku jadikan Abu Bakar sebagai kekasih». (HR. Bukhari : 467) Bagi penduduk Mekkah, Abu Bakar adalah orang yang sangat istimewa dan disegani. Beliau terkenal dengan kemuliaan nasab, kemuliaan perangai dan akhlak, serta dikenal sebagai ahli dalam ilmu garis keturunan kaum Arab. “Assaabiquunal Awwaluun”. Di antara mereka adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, Abu Salamah, Arqom bin Abi Arqom, Utsman bin Madz’un, Ubaidah bin Harits, Said bin Zaid, Asma binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, Khobbab bin Art, Abdullah bin Mas’ud, Umair bin Abi Waqosh, dan yang lainnya g. SIROH
  • 39. SIROH 39Edisi:4 Vol.1 Abu Bakar z adalah berkah yang membawa berkah. Begitu Beliau mendapatkan keberkahan dengan masuk ke dalam agama Islam, Beliau langsung menghubungi beberapa kawan dan menawarkan Islam kepada mereka. Maka beberapa orang pilihan, orang terpandang di kalangan penduduk Mekkah, menerima tawaran keberkahan Islam dari Abu Bakar. Mereka adalah Utsman bin Affan, Zubair bi ‘Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’d bin Abi Waqqash dan Thalhah bin Ubaidillah, g. Tidak berselang lama dari keislaman mereka, maka menyusullah orang-orang yang sudah ditakdirkan oleh Allah untuk bisa mendapatkan keutamaan manjadi “Assaabiquunal Awwaluun”. Di antara mereka adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, Abu Salamah, Arqam bin Abi Arqam, Utsman bin Madz’un, Ubaidah bin Harits, Said bin Zaid, Asma binti Abu Bakar, Aisyah binti Abu Bakar, Khabbab bin Art, Abdullah bin Mas’ud, Umair bin Abi Waqash, dan yang lainnya g. Begitulah, ternyata dengan diam-diam dan tidak terlihat di permukaan, banyak dari kalangan penduduk Mekkah yang telah masuk ke dalam agama Islam. Dan bisa jadi satu dengan yang lain tidak saling mengetahui bahwa kawannya telah masuk Islam sama dengan dirinya. Walaupun begitu, tetap Rasulullah berdakwah dengan cara sembunyi-sembunyi seperti ini, dikarenakan belum diizinkan oleh Allah untuk berdakwah dengan terang- terangan dan dikarenakan jumlah dan kekuatan kaum muslimin masihlah sangat minim yang diperkirakan belum bisa menghadapi kekuatan orang-orang kafir Quraisy. Buah dan Pelajaran yang Bisa Dipetik Dari penggalan sirah yang indah ini kita banyak mengambil kesimpulan dan pelajaran,
  • 40. SIRAH Edisi:4 Vol.140 di antaranya adalah sebagai berikut. 1. Hikmahnya Nabi n dalam dakwah Beliau, di mana Beliau memulai dakwah dengan cara yang menyesuaikan dengan kondisi masyarakat. 2. Di dalamnya terdapat penjelasan bahwa yang pertama kali masuk Islam dari kalangan wanita adalah Khodijah, dari kalangan anak belia adalah Ali bin Abu Thalib, dari kalangan laki-laki dewasa adalah Abu Bakar dan dari kalangan bekas budak adalah Zaid bin Haritsah. 3. Keutamaan Abu Bakar, yang mana Beliau mendapatkan banyak sekali keutamaan, di antaranya adalah Beliau termasuk orang-orang yang pertama kali masuk Islam. 4. Kemuliaan yang dimiliki oleh para “Assaabiquunal Awwaluun”. Dan Allah telah memuji mereka dengan pujian yang sangat luhur. Dia berfirman : َ‫ين‬ِ‫ر‬ِ‫َاج‬‫ه‬ُ‫م‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫ن‬ِ‫م‬ َ‫ون‬ُ‫ل‬َّ‫و‬َ ْ‫أ‬‫ال‬ َ‫ون‬ُ‫ق‬ِ‫ب‬‫ا‬ َّ‫الس‬َ‫و‬ ٍ‫ان‬ َ‫س‬ْ‫ح‬ِ‫إ‬ِ‫ب‬ ْ‫م‬ُ‫وه‬ُ‫ع‬َ‫ب‬َّ‫ت‬‫ا‬ َ‫ين‬ِ‫ذ‬َّ‫ل‬‫ا‬َ‫و‬ ِ‫ر‬‫ا‬ َ‫ص‬ْ‫ن‬َ ْ‫أ‬‫ال‬َ‫و‬ َّ‫د‬َ‫ع‬َ‫أ‬َ‫و‬ ُ‫ه‬ْ‫ن‬8َ‫ع‬ ‫وا‬ ُ‫ض‬َ‫ر‬َ‫و‬ ْ‫ُم‬‫ه‬ْ‫ن‬َ‫ع‬ ُ‫ه‬َّ‫ل‬‫ال‬ َ ِ‫ي‬‫ض‬َ‫ر‬ ُ‫ر‬‫َا‬‫ه‬ْ‫ن‬َ ْ‫أ‬‫ال‬ ‫َا‬‫ه‬َ‫ت‬ْ‫ح‬َ‫ت‬ ‫ي‬ِ‫ر‬ْ‫ج‬َ‫ت‬ ٍ‫َّات‬‫ن‬َ‫ج‬ ْ‫ُم‬‫ه‬َ‫ل‬ ُ‫يم‬ِ‫ظ‬َ‫ع‬ْ‫ل‬‫ا‬ ُ‫ز‬ْ‫و‬َ‫ف‬ْ‫ل‬‫ا‬ َ‫ك‬ِ‫ل‬َ‫ذ‬ ‫ًا‬‫د‬َ‫ب‬َ‫أ‬ ‫َا‬‫ه‬‫ي‬ِ‫ف‬ َ‫ين‬ِ‫د‬ِ‫ل‬‫ا‬َ‫خ‬ )100 : ‫التوبة‬ ( “ Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (Qs. At-Taubah : 100) 5. Keutamaan berdakwah di jalan Allah Dan pelajaran-pelajaran lainnya, Wallahu A’lam. Maroji : - Ar Rahiiq Almakhtuum, Syaikh Shafiyurrahman Almubarakfurie. - Haadzaa Alhabiib Ayyuhal Habib, Syaikh Abu Bakr Jabir Aljazairie.
  • 41. 41Edisi:4 Vol.1 DOA KELUAR RUMAH “Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah.” ( Shohih At-Tirmizi : 3/151) ،ِ‫ه‬َّ‫الل‬ ‫ى‬َ‫ل‬َ‫ع‬ ُ‫ت‬ْ‫ل‬َّ‫ك‬َ‫و‬َ‫�ت‬ ِ‫ه‬َّ‫الل‬ ِ‫م‬ ْ‫ِس‬‫ب‬ ِ‫ه‬َّ‫ِالل‬‫ب‬ َّ‫لا‬ِ‫إ‬ َ‫ة‬َّ‫و‬ ُ‫�ق‬ َ‫لا‬َ‫و‬ َ‫ل‬ْ‫و‬َ‫ح‬ َ‫لا‬
  • 42. Edisi:4 Vol.142 P embaca yang budiman. Ketenaran didambakan oleh banyak orang, karena manusia itu memiliki kecenderungan untuk dikenal, dipuji, dan disanjung. Namun, ketenaran itu akan menjerumuskan seseorang ke dalam fitnah yang membahayakan dirinya, karena di saat seseorang mendambakan dan mencari ketenaran ia akan sangat gembira jika kebaikannya disebut-sebut dan tidak senang jika ada orang lain yang memiliki kelebihan, sehingga hatinya berada dalam dua kondisi yang sangat tercela, yaitu antara riya’ dan hasad. Ketenaran menjauhkan seseorang dari sifat keikhlasan yang merupakan syarat diterimanya amal kebaikan. Diriwayatkan, bahwa suatu kali terlihat ada kesedihan di muka Imam Ahmad, karena beliau telah dipuji oleh seseorang. Dikatakan kapada Beliau,“Semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepadamu atas jasamu terhadap Islam.” Beliau menjawab: “Tidak, tetapi semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada Islam, karena telah berjasa kepadaku.” Para ulama dengan keilmuan dan keshalihan mereka adalah orang yang paling pantas untuk dikenal dan menjadi orang- orang yang tenar, namun mereka sangat berhati-hati dengan ketenaran ini dan berusaha dan Kekhawatiran Mereka terhadap Ketenaran Salaf Oleh: Nuralim, Lc. TELADAN SALAF
  • 43. TELADAN SALAF 43Edisi:4 Vol.1 untuk menjauhinya serta mereka selalu berusaha menjaga keikhlasan. Pembaca yang budiman. Marilah kita simak kisah- kisah beberapa ulama salaf berikut ini, yang mengkisahkan tentang upaya mereka untuk menghindari ketenaran dan menjauhi bahayanya. 1.Abdullah Ibnul Mubarak tidak dikenal orang dan tidak ingin pendapatnya ditulis. Al Hasan, salah seorang Murid Ibnul Mubarak berkata: “Suatu hari aku bersama Abdullah ibnu Al Mubarak. Kami berdua menuju ke sebuah tempat air minum. Orang-orang sedang meminum di tempat itu, kemudian kami berdua mendekati tempat itu untuk minum. Orang-orang tersebut tidak ada yang mengenal beliau, sehingga mereka berdesakan dengan beliau dan mendorongnya. Ketika keluar, Abdullah ibnu bin Al Mubarok berkata kepadaku, “Seperti inilah hidup itu. Di mana seseorang tidak dikenal maka ia tidak akan dihormati.” Al Hasan juga berkata: “Ketika Abdullah ibnu Al Mubarok di Kufah, dibacakan kepada beliau kitab Manasik Haji. Setelah sampai kepada sebuah hadits, kemudian tertulis setelahnya perkataan “Abdullah berkata: “Kami berpegang dengan hadits ini,” Abdullah ibnu Al Mubarak berkata: “Siapa yang menulis pendapatku ini?” Aku Menjawab: “Penulisnya yang menulis.” Beliau mengerik tulisan itu hingga hilang dan berkata: “Siapa aku ini. Hingga pendapatku ditulis?” 2.Ibnu Mas’ud tidak ingin diikuti dari belakang. Hubaib bin Abi Tsabit berkata: “Suatu hari Ibnu Mas’ud keluar dan orang-orang mengikutinya dari belakang. Beliau bertanya kepada mereka: “Apakah kalian memiliki keperluan?” Mereka menjawab: “Tidak, tetapi kami ingin berjalan bersama anda.” Ibnu Mas’ud berkata: “Kembalilah! Sesungguhnya
  • 44. TELADAN SALAF Edisi:4 Vol.144 hal ini membuat hina bagi orang yang mengikuti dan menimbulkan fitnah bagi yang diikuti.” 3.Ibnul Munkadir dan seorang tukang sepatu. Muhammad bin Al Munkadir berkata: “Dahulu aku selalu berada di salah satu tiang masjid Rasulullah n untuk duduk dan sholat malam di situ. Penduduk Madinah mengalami musibah kekeringan selama satu tahun, mereka keluar memohon kepada Allah agar diturunkan air hujan, namun Allah tidak menurunkan hujan kepada mereka. Pada suatu malam aku shalat Isya’ di masjid Rasulullah n, kemudian aku bersandar di tiang yang biasa aku tempati. Lalu datang seseorang yang berkulit hitam kekuning-kuningan. Ia bersarung dengan sehelai kain dan berselendang dengan sehelai kain di lehernya. Orang itu maju ke arah tiang yang ada di depanku, sehingga aku berada di belakangnya. Ia shalat dua rakaat kemudian duduk untuk berdoa. Dalam doanya ia berkata, “Wahai Rabb, penduduk kota suci Nabi Mu telah keluar memohon hujan kepada Mu, namun Engkau tidak memberikan hujan kepada mereka. Aku bersumpah kepada Mu agar Engkau menurunkan hujan kepada mereka.” Aku berkata, “Orang ini gila.” Tidaklah sampai orang itu menurunkan tangannya selesai berdoa, aku mendengar bunyi petir kemudian turun hujan, dan aku sempat ingin pulang kepada keluargku. Ketika mendengar hujan turun, orang itu memuji Allah dengan pujian yang tidak pernah aku dengar sebelumnya. Kemudian ia berkata, “Siapa Dalam doanya ia berkata: “Wahai Rabb, penduduk kota suci NabiMu telah keluar memohon hujan kepadaMu, namun Engkau tidak memberikan hujan kepada mereka. Aku bersumpah kepadaMu agar Engkau menurunkan hujan kepada mereka.”
  • 45. TELADAN SALAF 45Edisi:4 Vol.1edisi:4 Vol.1 45 aku ini, sehingga Engkau mengabulkan doaku. Padahal aku hanya kembali kepada Mu dengan segala pujian dan keutamaan Mu. Kemudian ia berdiri dan menjadikan kain sarungnya sebagai baju dan meletakkan kain yang ada di lehernya di kedua kakinya. Ia melaksanakan shalat terus menerus hingga apabila merasa Shubuh akan tiba, ia sujud dan shalat witir lalu shalat dua rakaat sebelum Shubuh. Iqamah Shubuh pun dikumandangkan, ia masuk ke dalam shaf untuk shalat berjamah bersama orang-orang dan aku juga masuk shaf bersamanya. Ketika imam salam dari shalatnya, ia berdiri kemudian keluar dan aku ikut keluar di belakangnya hingga sampai pintu masjid. Ia keluar dari masjid dengan mengangkat bajunya karena melewati genangan air. Aku ikut keluar di belakangnya dengan mengangkat bajuku karena melewati genangan air, namun setelah itu aku tidak tahu ke mana ia pergi. Di malam berikutnya, aku shalat Isya’ di masjid Rasulullah n lalu menuju tiang yang biasa aku duduk di situ kemudian bersandar padanya. Orang itu datang, ia berdiri dengan menjadikan sarungnya sebagai baju dan meletakkan kain selendangnya di kedua kakinya. Ia shalat terus menerus hingga ketika Shubuh akan tiba ia sujud dan shalat witir kemudian shalat dua rakaat sebelum Shubuh. Iqamat Shubuh dikumandangkan, ia masuk ke dalam jama’ah Shubuh bersama orang-orang dan aku masuk bersamanya. Ketika imam salam dari shalatnya, ia keluar dari masjid dan aku keluar di belakangnya. Ia terus berjalan, aku mengikutinya hingga ia masuk ke dalam sebuah rumah di Madinah yang sudah aku ketahui sebelumnya lalu aku kembali ke masjid. Ketika matahari terbit dan aku telah selesai shalat, aku keluar menuju rumah orang itu.
  • 46. TELADAN SALAF Edisi:4 Vol.146 Aku melihat orang itu sedang menjahit sepatu dan ia adalah seorang tukang sepatu. Ketika melihatku ia mengenalku, kemudian bertanya: “Selamat datang wahai Abu Abdillah! Ada perlu apa? Apakah anda ingin aku buatkan sepatu?” Aku duduk seraya berkata: “Bukankah kamu teman shalatku kemarin malam?” Muka orang itu berubah menjadi hitam dan berteriak kepadaku seraya berkata, “Wahai Ibnul Munkadir! Apa urusanmu dengan shalatku itu?” orang itu marah. Aku menjadi takut kepadanya, kemudian pergi darinya. Di malam beriktunya lagi, aku Shalat Isya’ di masjid Rasulullah n, kemudian menuju ke tiang yang biasa aku duduk di situ lalu bersandar kepadanya. Orang itu tidak datang lagi. Aku berkata. “Innalillahi, apa yang telah aku lakukan?” Ketika waktu pagi telah tiba, aku duduk di masjid hingga terbit matahari, kemudian keluar menuju rumah yang ditempati orang tersebut. Aku mendapatkan pintu rumahnya terbuka dan di dalamnya tidak ada apa-apa. Orang-orang yang ada di situ bertanya kepadaku, “Wahai Abu Abdillah? Apa yang terjadi antara Anda dengan orang itu kemarin?” Aku menjawab, “Ada apa dengannya?” mereka berkata: “Setelah Anda pergi darinya kemarin, ia membentangkan kainnya di tengah rumahnya, kemudian tidak ada satu pun barang yang ada di rumahnya kecuali ia letakkan di kainnnya itu, lalu ia membawanya pergi dan kami tidak tahu ke mana ia pergi?” Selanjutnya Ibnul Munkadir berkata, “Aku telah mendatangi setiap rumah yang aku kenal di Madinah untuk mencari orang itu, namun aku tidak mendapatkannya pula.” Referensi: Aina Nahnu min Akhlaqissalaf, Abdul Aziz bin Nasir Al Jalil dan Bahauddin bin Fatih Aqil.
  • 47. 47Edisi:4 Vol.1 RESENSI BUKU Membentuk Karakter Anak Ala Rasulullah Oleh: Suratman, S.Pd. A. Identitas Buku 1. Judul buku : Pendidikan Karakter Berbasis Sunnah Nabi 2. Penulis : M. Mujib Ansor, S.H., M.Pd.I. 3. Penerbit, Kota: Pustaka Al-Umm, Malang 4. Tahun terbit : 2013 Masehi 5. Ukuran buku : 14 cm X 21 cm, 254 halaman 6. Harga : Rp35.000,00 B. Pendahuluan Dewasa ini, kita umat Islam secara khusus, dan warga negara Republik Indonesia secara umum, tengah melewati masa yang dapat kita sebut “krisis pendidikan” utamanya yang berkenaan dengan “karakter” atau “perilaku”. Akibatnya, bangsa ini tengah mengalami krisis moral yang hebat. Betapa tidak? Seorang intelek berpendidikan tinggi tetapi merasa tenang-tenang saja melakukan tindak korupsi milayaran rupiah. Seorang yang ditokohkan (diidolakan) masyarakat, tetapi dengan tanpa rasa malu melakukan perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh seorang yang menjadi teladan umat. Begitu pula masyarakat pengagumnya juga tidak berkurang rasa kagumnya walaupun tokoh idolanya melakukan hal tersebut. Kondisi tersebut rupanya sudah mulai disadari oleh pemerintah Indonesia dengan menyusun Kuri- kulum 2013 yang berbasis karakter. Atas dasar itulah, yaitu Kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis karakter, penulis buku ini merasa tertantang untuk menggali sejarah yang ditempuh Rasulullah n dalam membentukkaraktergenerasiterbaik yaitu para sahabat yang menemani Beliau. hanya dalam kurun waktu kurang lebih 23 tahun. C. Ringkasan Isi Buku Buku ini berasal dari tesis di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) Jombang, Jawa Timur yang berjudul “ Konsep dan Metodologi Nabi n dalam Pendidikan Karakter”. Buku ini diawali dengan menggambarkan sosok Rasulullah n sebagai Sang Guru Teladan yang disegani oleh tokoh nonmuslim sekalipun seperti Michael H. Hart dan Mahatma Gandhi. Kemudian dilanjutkan dengan pujian Allah kepada Rasulullah, dan bukti-bukti sejarah (sirah) yang menguatkan betapa cemerlangnya hasil didikan
  • 48. RESENSI BUKU Edisi:4 Vol.148 Rasulullah kepada para sahabatnya. Pada bab-bab selanjutnya, penulis buku menjelaskan konsep-konsep atau istilah yang digunakannya dalam penelitian tersebut (bab 2), memperkenalkan sosok Rasulullah dan akhlak mulia Beliau yaitu amanah, jujur, lemah lembut, kasih sayang, dan rendah hati (bab 3). Pembahasan selanjutnya (bab 4), penulis buku menggambarkan inti pertamakonsepNabishalallahualaihi wasallam dalam mendidik karakter antara lain: (1)membentuk manusia yang hanya beribadah kepada Allah semata, (2) mendidik sejak kecil, (3) menyadarkan kewajiban menuntut ilmu dan menyampaikannya, (4) mengikatkan ilmu dengan amal, (5) belajar sepanjang hayat, (6) tidak sekuler, dan (7) menekankan pendidikan akhlak mulia. Dalam bab ini dibahas pula dasar atau landasan pendidikan, konsep niat, konsep ilmu, tujuan pendidikan Nabi, kurikulum pendidikan Nabi, guru dan murid, tempat pendidikan, dan diakhiri dengan evaluasi dan lulusan pendidikan. Inti kedua dalam buku ini adalah metodologi Nabi n dalam mendidik karakter. Pada inti kedua inilah kelemahan pola pendidikan yang kita jumpai di Indonesia sehingga menghasilkan lulusan yang kering dari karakter (akhlak) mulia. Metodologi Nabi dalam mendidik karaktertersebutadalah(1)mendidik melalui teladan; (2) melatih dan membiasakan; (3) membimbing, mengarahkan, dan menasihati; (3)metode kisah atau cerita yang konstruktif; (4) menjelaskan dengan perumpamaan; (5) lemah lembut dalam memberikan pengajaran; (6) memberikan pujian, memuliakan, perlombaan, dan hadiah; (6) segera meluruskan kesalahan; dan (7) menghukum anak. Dari ketujuh metodologi Nabi tersebut, metodologi keenam dan ketujuh ini yang perlu mendapatkan perhatian kita sebagai pendidik karena hal ini sering disalahpahami oleh kita, sebagai pendidik, dengan pemahaman bentuk kasih sayang kepada anak yang sebenarnya keliru. Dalam meluruskan kesalahan, Rasulullah menempuh langkah- langkah: (1) melalui teguran langsung, (2) melalui sindiran, (3) melalui celaan, (4) melalui pemukulan, (5)melalui isolasi (pemutusan dari jamaah[kelompok]). Adapun dalam menghukum anak, Rasulullah menempuh tahapan: (1) memperlihatkan cambuk kepada anak, (2) menjewer daun telinga, (3) memukul anak dengan rincian: usia anak yang boleh dipukul, jumlah pukulan, cara memukul, bagian yang boleh dipukul, maupun kapan harus berhenti memukul. Pada bab 6, penulis buku membahas pengaplikasian konsep dan metode Nabi n dalam mendidik karakter di sekolah atau madrasah yaitu: (1) penguatan pelajaran agama (Islam) untuk menanamkan aqidah yang kuat dan akhlak yang mulia; (2)
  • 49. RESENSI BUKU 49Edisi:4 Vol.1 figur pendidik yang berakhlak mulia sebagai teladan; (3) melaksanakan metodeNabidenganurutanmemberi teladan, melatih dan membiasakan, dan pemberian hukuman; (4) melatih dan membiasakan yang hal tersebut harus dibiasakan sejak kecil (tingkat dasar); (5) bimbingan dan konseling; dan (6) sistem evaluasi yang harus menyeluruh yaitu aspek kognitif, afektif (sikap), psikomotor, konasi (kegiatan mental), dan iman. Pada bab terakhir (bab 7), penulis bukumenyimpulkandanmemberikan tiga saran bagi: (1) para pengambil kebijakan untuk mengaplikasikan konsep dan metode Nabi dalam pendidikan karakter; (2) para praktisi pendidikan hendaknya melakukan rekonstruksi dan reformulasi pelaksanaan pendidikan karakter; dan (3) evaluasi pembelajaran harus mencakup aspek kognitif, afektif, psikomotor, dan agama. D.Resensi Buku Isi buku Pendidikan Karakter Berbasis Sunnah Nabi n (Kunci Sukses Membangun Karakter Anak Bangsa) merupakan salah satu buku rujukan yang tepat bagi ummat Islam, khususnya di Indonesia, untuk membimbing para pendidik dalam melaksanakan tugas mendidik dalam rangka membentuk generasi berkarakter (berakhlak) mulia sesuai konsep dan metode Nabi n. Mengapa?Karenabukuinimerupakan penelitian ilmiah yang dilakukan oleh seorang pendidik di lapangan yang sudah berpengalaman. Di samping itu, penulisnya juga seorang yang bermanhaj lurus, insya Allah, sesuai dengan pemahaman ahlussunnah wal jamaah di atas manhaj salafus shalih. Bagi para praktisi pendidikan, baik orang tua maupun guru di sekolah/ madrasah, buku ini sangat membantu tugasnya. Apalagi penyusunan buku ini disertai kutipan dalil-dalil dari Alquran, Alhadits, dan buku-buku ulama terkemuka dan para ahli pendidikan yang banyak dijadikan pedoman dalam mendidik anak. Selain kelebihan-kelebihan di atas, tentu saja ada pula kekurangannya karena kitab yang tidak ada kesalahan hanyalah Alquran. Namun, beberapa kesalahan yang ada hanyalah kesalahan yang kurang berarti seperti penulisan beberapa kata yang tidak baku sesuai Ejaan yang Disempurnakan dan penulisan daftar pustaka yang tidak standar seperti yang dianut oleh banyak perguruan tinggi di Indonesia. Kekurangan lain yaitu buku ini tidak dijual bebas di toko-toko buku karena faktor teknis pendistribusian atau pemasaran yang kurang profesional. Buku ini hanya dapat diperoleh dengan cara memesan langsung ke penerbit yang tentu saja harus dikenai biaya tambahan sebagai ongkos kirim. Lagi pula dengan cara begitu, maksud penulis agar masyarakat luas dapat membaca buku tersebut akan terhambat karena jarang orang yang tahu tentang adanya buku tersebut. Wallahu a’lam bishawwab.
  • 50. Edisi:4 Vol.150 FATAWA ULAMA Jawaban: Syaikh Utsaimin t menjawab : Tidak diperbolehkan bagi pelajar untuk melakukan kecurangan (menyontek) saat ujian. Karena curang termasuk dosa besar. Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Nabi y: “Barangsiapa berbuat curang maka dia bukan termasuk golongan kami.” Kecurangan yang ia lakukan membuatnya lulus ujian dan mendapat surat kelulusan. Padahal, dia tidak berhak untuk mendapatkannya. Setelah lulus ia pun menduduki jabatan di sebuah negara yang mensyaratkan ijazah untuk menduduki sebuah jabatan. Jika ijazah ini diperoleh dari hasil curang maka dikhawatirkan pendapatan (gaji) yang diperolehnya menjadi haram. Karena ia mengambil sesuatu yang bukan haknya. Ia belum memiliki keahlian yang cukup untuk menduduki jabatan tersebut. Sehingga ia terjatuh ke dalam memakan harta dengan cara yang batil. Wahai saudara-saudaraku dan kalian wahai anak- anakku! Hindarilah berlaku curang saat ujian, dalam setiap mata pelajaran. Karena pemerintah telah Pertanyaan : Sebagian pelajar melakukan kecurangan (menyontek) saat ujian. Bagaimana hukum berlaku curang saat ujian? Saat Ujian Curang
  • 51. FATAWA ULAMA 51Edisi:4 Vol.1 membuat kurikulum tersebut untuk kemudian diterapkan di sekolah-sekolah maupun perguruan tinggi. Jika seorang pelajar atau mahasiswa masuk ke sekolah atau perguruan tinggi yang menerapkan kurikulum tersebut, maka wajib baginya untuk mematuhi peraturan dan tidak berbuat curang di semua pelajaran. Adapun sangkaan sebagian pelajar yang mengatakan bolehnya berlaku curang dalam pelajaran bahasa Inggris, bahasa Perancis, atau pelajaran Matematika maka ini adalah sangkaan yang salah. Karena semua pelajaran yang tercatat di dalam kurikulum harus di pelajari oleh siswa. Kelak setelah lulus nanti, ia akan diberikan ijazah sebagai bukti kalau ia sudah menguasai semua mata pelajaran. Jika ia curang pada sebagian mata pelajaran, menyontek jawaban teman, atau diisikan oleh orang lain maka ia telah berkhianat dan ia telah gagal meraih kelulusan yang sesungguhnya. Seorang penanya yang bernama Kholid berkata, “Aku telah lulus SMA. Akan tetapi semasa sekolah aku telah berbuat curang di sebagian mata pelajaran yang berkaitan dengan bahasa Inggris. Sekarang aku berada di ambang pintu masuk universitas. Apa yang mesti aku lakukan? Apakah aku harus bertaubat? Maka syaikh tpun menjawab, “Engkau wajib bertaubat kepada Allah dan tidak boleh melakukan hal seperti itu lagi. Karena curang saat ujian di pelajaran apa pun dianggap sebagai sebuah tindak kecurangan. Nabi y telah bersabda, “Barangsiapa berbuat curang maka ia bukanlah golongan kami.” Saat ini yang menjadi kewajibanmu adalah bertaubat. Masuklah ke Universitas tersebut disertai dengan taubat. Teruslah berusaha untuk menjauhi kecurangan. Dan jika engkau ditakdirkan
  • 52. FATAWA ULAMA Edisi:4 Vol.152 mendapatkan ijazah universitas tanpa kecurangan maka sesungguhnya Allah menerima taubat hamba- hambaNya dan memaafkan kesalahan-kesalahannya. -Fatawa Nur ‘Alad-Darbi- Berlepas Diri dari Harta Curian Seorang penanya berkata, “Aku telah mencuri harta orang lain. Kemudian aku bertaubat dan kembali kepada Allah. Aku ingin mengembalikan harta curian kepada pemiliknya. Akan tetapi aku takut merasa terhina dan menjadi aib bagi diriku. Bolehkan aku bersedekah dengan harta tersebut dan menjadikan sedekah tersebut untuk pemilik harta yang aku curi? Jawaban: Sesungguhnya taubat yang benar harus memenuhi empat syarat. Yaitu: 1. Berlepas diri dari maksiat. 2. Menyesali maksiat yang telah dilakukan. 3. Bertekad untuk tidak mengulangi kemaksiatan. 4. Mengembalikan hak- hak kepada pemiliknya jika kemaksiatan itu berkaitan dengan hak manusia. Sebagaimana yang terdapat dalam pertanyaan di atas, maka kewajibanmu adalah mengembalikan harta yang telah engkau curi kepada pemiliknya jika engkau mengenalnya. Kewajibanmu tidak gugur kecuali dengan cara tersebut. Engkau tidak boleh bersedekah dengan harta tersebut. Karena engkau bukan pemiliknya dan engkau juga belum diberi kewenangan untuk bersedekah atas nama mereka karena engkau mengambilnya dengan cara yang tidak benar. Rasulullah y: “Tidak halal harta seorang muslim kecuali dengan keridhaan.” HR. Ahmad, Baihaqi dan Ibnu Majah. Hadits sahih. Tapi jika pemilik harta tidak diketahui kemudian engkau bersedekah dengan harta tersebut atas nama mereka semoga kewajibanmu kepadanya gugur. -Fatawa Yasalunaka-
  • 53. 53Edisi:4 Vol.1 FAHD ABDURRAHMAN Putra ke- 3 dari Ust Edi Siswanto, M.Pd USAMAH Putra ke- 4 dari Ust Nuralim, Lc NAQIYYA FAIZA AFNAN Putri ke- 1 dari Ust Yudi Firmansyah .S.Pd. “Semoga menjadi anak shaleh shalehah, bertaqwa dan berbakti kepada orang tua. Amin...'' Ucapan Selamat KELUARGA BESAR YAYASAN BINAAUL MUSTAQBAL DAN MA’HAD AL BINAA ISLAMIC BOARDING SCHOOL MENGUCAPKAN SELAMAT ATAS KELAHIRAN :
  • 54. Edisi:4 Vol.154 KISAH MEREKA Delapan tahun yang lalu… ketika wajah-wajah mungil berkumpul pada satu wadah sebuah lembaga pendidikan bernama AL BINAA Islamic Boarding School. P ada awalnya cerita berangkat dari keterpaksaan. Adapula yang bermula dari kerelaan. Dari sana ada juga yang melakukannya dari ketidaktahuan. Ada juga yang memulainya dengan kalimat “Ahh.. daripada..”; dan sangat mungkin dari setiap orang memulainya dengan berbagai alasan yang berbeda-beda. Mengulas kembali kisah hidupku selama 6 tahun di AL BINAA tidaklah jauh berbeda dengan kisah-kisah yang telah dimuat sebelumnya pada rubrik ini. Rutinitas dan kebiasaan yang sama dilakukan oleh setiap santri AL BINAA di setiap harinya. Mulai dari terpancarnya fajar yang membentang di ufuk timur, diiringi dengan terbitnya matahari, hingga tenggelamnya di ufuk barat. Setiap komponen melaksanakan tugasnya masing-masing. Siang dan malam silih berganti. Kemarau Aku dan Diariku Oleh: Asep Ridwan Taufiq
  • 55. KISAH MEREKA 55Edisi:4 Vol.1 datang menggantikan hujan. Hujan datang menggantikan kemarau. Menyimpan banyak kisah dan pelajaran hidup yang begitu berharga. Tak kuasa kutuangkan seluruhnya dalam tulisan ini. Berikut potongan-potongan kisah dan pelajaran yang ingin kubagikan kepada pembaca sekalian. *** [kami semua santri Al Binaa … menuntut ilmu iman dan taqwa .. ] Lantunan mars yang baru pertama kali kudengar dalam hidupku pada sebuah acara Haflah Iftitah (Acara Pembukaan), menyadarkan lamunanku. Sebuah pernyataan yang menghunjam sanubari, bahwa kini aku berada pada kehidupan baru. Bukan aku yang dulu lagi. Ya, kini aku resmi diberi gelar sebagai “Santri AL BINAA” Entah bagaimana perasaanku ketika itu, tak mampu kulukiskan. Rasa bahagia diselimuti kesedihan. Pertama kalinya aku mondok dan harus berpisah dari kedua orang tua, meninggalkan tanah kelahiran, teman bermain, dan yang lainnya. Akan tetapi, apalah daya. Kedatanganku ke tempat ini sudah menjadi akhir keputusanku yang harus aku jalani. Perasaan itu harus kupendam dalam-dalam, demi keberlangsungan hidupku di tempat baruku AL BINAA. Tibalah detik-detik perpisahan dengan keluargaku. Kakakku berkata ,“Ga,apa kan Sep, ditinggal?” “Iya Aa!”[1]. jawabku, sembari menahan raut kesedihan yang membias di wajahku. Ayahku juga berpesan kepadaku, “Asep harus sabar, yang rajin belajarnya, jangan sedih” .. “Iya Pak.” [2] Beranjaklah keluargaku naik ke dalam mobil. Kunci mobil telah diputar ke arah kanan, mesin mobil pun berbunyi. Tak lama roda mobil perlahan berputar. Semua yang berada di dalamnya membuka kaca
  • 56. Edisi:4 Vol.156 dan melambaikan tangan kepadaku tanda perpisahan. Rasa sedih yang tak mampu dituangkan dalam tulisan, air mata yang kubendung pun akhirnya mengalir, degup jantung yang semakin tak karuan membuat napas menjadi terasa sesak. Semuanya datang secara alami tanpa bisa kukendalikan. Kini kusadar, kehidupan baru telah dimulai… Malam baru, kekonyolan yang tak pernah kulupakan. Setelah acara penyambutan santri baru selesai, semua santri (angkatanku) diarahkan oleh musyrif menuju ke gedung Arafah. Setiap santri dibantu dengan orang tuanya mebersihkan lemari, menata pakaian, buku, alat tulis, selimut, dan lain sebagainya. Hingga penghujung senja satu persatu orang tua berpamitan dengan anaknya, memberikan pelukan dengan penuh kehangatan, memanfaatkan waktu sebelum berpisah. “Allahu Akbar.. Allaahu Akbar” suara adzan maghrib terdengar dari masjid Jami Riyadhussalihin bersahutan dengan adzan yang terdengar dari kampung sebelah. Kami pun bergegas menuju masjid untuk menunaikan shalat mahgrib. Seusai shalat maghrib kami menuju math'am [3] untuk makan malam. Kemudian tak lama adzan Isya dikumandangkan, lalu kami menunaikan sholat Isya berjamaah. Singkat cerita, tibalah malam pertamaku berada di pesantren. Sebuah keadaan yang tak pernah kualami sebelumnya. Tidur, jauh dari kedua orang tua. Suasana ramai terasa sunyi dan sepi. Kucoba berkali-kali untuk memejamkan mata namun tak kunjung bisa. Ditambah lagi dengan nyamuk yang terus mengagguku. Hampir satu jam lebih aku tak kunjung tidur. Hingga aku berinisiatif untuk menghetikan kerumunan nyamuk yang terus mengangguku. Aku beranjak ke lemari, kucari obat nyamuk. Ohh, ternyata aku lupa tidak membelinya. “Ahha !” muncul ide konyol. KISAH MEREKA