SlideShare a Scribd company logo
Hendro Sangkoyo: Kita
sekarang berada pada garis
depan kemajuan dari lex
mercatoria, rezim hukum
untuk membela kepentingan
dagang
29 October 2014
Hendro Sangkoyo, Rio Apinino
Left Book Review
Sikuit akumulasi kapital, ‘M-C-M’’ atau ‘Uang-Barang-Uang yang lebih besar’ memang
tidak hanya terjadi di dinding-dinding pabrik tempat sebuah komoditas diproduksi oleh
para buruh. Lebih luas dari itu, sirkuit akumulasi kapital selalu mensyaratkan relasinya
dengan alam. Untuk menghasilkan sebuah komoditas, terlebih dahulu seorang kapitalis
mengambil bahan baku dari alam, atau dalam ilmu ekonomi merupakan bagian dari
kapital konstan. Dalam skemanya, tidak pernah ada kata berhenti dalam corak produksi
kapitalisme, sebaliknya, kapitalisme adalah akumulasi kapital yang tidak pernah
berujung. Dalam hal itu, artinya proses ekstraksi bahan baku dari alam pun akan selalu
dilakukan. Disinilah persisnya krisis sosial-ekologis terjadi. Sumber daya alam yang
terbatas dihantam oleh kebutuhan akumulasi kapital yang tidak berbatas. Selain itu,
krisis ekologis akan selalu bersamaan dengan krisis sosial, sebab, yang dirusak oleh
kapitalisme tidak lain adalah ruang hidup tempat manusia tinggal.
Untuk membahas krisis sosial ekologis yang disebabkan oleh akumulasi kapital, pada
edisi kali ini Rio Apinino dariLeft Book Review (LBR) melakukan perbincangan dengan
Hendro Sangkoyo, pendiri Sekolah Demokrasi Ekonomi (SDE), sebuah kelompok
belajar bersama yang digunakan untuk melawan kerusakan sosial-ekologis tersebut.
Berikut petikannya:
Bisa ceritakan pengalaman intelektual Anda?
Saya pikir pergulatan pemikiran pada tingkat pribadi baik untuk ditaruh pada zona
ruang-waktu yang lebih spesifik, di dalam keragaman semangat zaman yang
menggelora atau justru meredup di masa itu. Masa terpenting yang menjadi basis
pengalaman batin yang sengit pada masa hidup saya adalah perioda Suharto dan rezim
sesudahnya dengan berbagi kesamaan karakter ekonomi-politik.
Angkatan sebaya saya masuk ke sekolah tinggi di awal tahun 1970an, ketika perluasan
medan akumulasi, khususnya di cabang-cabang industri keruk, berkelindan dengan
kemampuan negara untuk menguatkan kehadirannya lewat cadangan devisa dari rente
minyak bumi, lewat berbagai proyek rekayasa pengubahan bentang alam, kontrol atas
pikiran dan gerakan politik, serta efek stres sosial setelah pengalaman traumatik 1965.
Sekolah-sekolah tinggi menjadi loket karcis untuk menghuni birokrasi negara atau
menjadi anggota masyarakat profesi di berbagai cabang bisnis besar. Tuntutan
‘pembangunan’ dan syarat ketaatannya adalah kata kunci untuk propaganda dan
pasifikasi, dengan imbalan kenyamanan dari keanggotaan dalam rezim sebagai
pemikatnya.
Secara umum generasi saya adalah generasi yang mengalami percobaan pengkerdilan
imajinasi, nyali, bacaan, dan rentang pengalaman berpolitiknya. Percobaan ini tidak
sepenuhnya sukses, setidaknya karena dua hal.
Pertama, apa yang bisa/tidak bisa dikontrol pada masa Suharto dan rezim neoliberal
setelahnya tidak terpisahkan dari dinamika perluasan kapital. Dekade 1970an ditandai
dengan tamatnya rezim keuangan Bretton Woods tahun 1971 lewat aksi sepihak AS,
krisis minyak di negara-industri maju di 1973-1974 karena embargo OPEC, dan di 1979
karena pecahnya revolusi Iran. Industrialisasi pengganti impor sebagai antidote dari
turunnya nilai tukar produk primer negara dunia ketiga dibandingkan produk industri
negara industri maju, pemicu kerangka-teori dependencia di 1970an, kehilangan basis
materialnya dalam dinamika perluasan medan akumulasi global dalam tiga dekade
berikutnya. Di sepanjang proses tersebut, di Indonesia memang tumbuh generasi
lulusan sekolah yang berkesediaan untuk membayar karcis keanggotaan dalam
berbagai lapisan dan cabang rezim perluasan kapital dan mesin politiknya. Sebetulnya
seluruh cerita tadi itu serta-merta merupakan karikatur dari pendidikan. Tidak usah
dituturkan lagi pendidikan itu tepat atau tidak. Semua kurikulum dari SD sampai SMA
dan Sekolah Tinggi itu instruksinya apa? Kita dilatih untuk apa? Dilatih berpikir seperti
apa. Itu sudah jelas sekali. Puyeng maksud saya itu. Dari kepentingan kapital, pelatihan
keterampilan dan kepatuhan calon pekerja mungkin lebih tepat daripada pendidikan.
Tentu, pendidikan yang tidak melatih pelajarnya untuk memeriksa duduk perkara
kenyataan dengan kritis, tidak beda dengan indoktrinasi.
Meskipun dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan besar-besaran, kontrol pikiran juga
dihadapkan pada kenyataan kacau-balaunya kenyataan ‘pembangunan’ di ruang-ruang
hidup warga negara sehari-hari. Kenyataan perubahan yang kasar dan hiruk-pikuk jauh
lebih meyakinkan daripada kursus-kursus indoktrinasi ‘pedoman penghayatan dan
pengamalan Pancasila’ di sekolah tinggi dan di kantor-kantor. Itulah sebabnya, bahkan
dengan isolasi desa dari kemungkinan mobilisasi politik sejak akhir 1960an, pengawalan
wilayah-wilayah industri dengan senjata, serta ‘normalisasi kehidupan kampus’ di
perkotaan satu dekade kemudian, percobaan satu generasi dari rezim Suharto terpaksa
berakhir secara mendadak.
Kedua, terbatasnya daya cengkeram dari percobaan politik otoriter di Indonesia juga
disebabkan oleh watak klien dari negara orde-baru dan penerusnya, yang memperluas
dan mempercepat destabilisasi sosial-ekologis. Mediokritas, kemiskinan imajinasi sosial-
ekologis dan kemalasan para manajer negara yang mengurus perluasan kapital —gagal
dalam transformasi industri pertanian rakyat, gagal dalam membangkitkan industri
pengolahan, sibuk menghitung pembesaran rente dari industri keruk semata— telah
menghasilkan bukti berlimpah. Hanya dalam dua putaran ‘pembangunan lima tahun’, 1/3
jumlah sungai penting di kepulauan dinyatakan rusak parah karena pembongkaran
bentang alam besar-besaran. Dalam dua putaran berikutnya, sungai yang bangkrut naik
menjadi 2/3 dari 89 wilayah pengurusan sungai. Di pulau-pulau padat-huni, pabrik-pabrik
baru berdiri di pinggiran perdesaan, membuka peluang menjadi buruh pabrik dan
pekerja kontrak dari proyek-proyek konstruksi raksasa, sekaligus merintis zaman baru
pencaplokan tanah berskala ribuan hektar. Gejolak politik, gerakan-gerakan protes
warga-negara yang memberikan sinyal peringatan politik, veto, atau bersifat korektif,
dianggap ancaman bagi stabilitas rezim, dan menjadi obyek kekerasan sistematis.
Dinamika politik dalam negeri rakitan rezim itu seperti kita tahu justru memperluas basis
perlawanan bawah-tanah dan terbuka yang ikut mendorong tahap akhir kejatuhan
Suharto. Meskipun keterlibatan aktif rakyat jelata terbatas, dan meskipun tidak
sepenuhnya didorong oleh kekuatan di dalam negeri, 1998 menandai tamatnya sebuah
zaman ‘penjajahan untuk pembesaran kapital’.
Bagaimana anda melihat kapitalisme hari ini dalam kaitannya dengan krisis sosial
ekologis?
Setelah berangus politik dibuka, siapa bisa menyuarakan kepentingannya, dan siapa
yang paling diperkaya? Dalam 16 tahun setelah rezim Suharto turun, apakah ada
perubahan politik mendasar, atau justru terjadi pergeseran ke zaman ‘normal’ orde-
Suharto? Generasi yang sekarang masuk di sekolah-sekolah tinggi, dan baru memulai
karir di sekolah dasar ketika Suharto turun, dibesarkan dalam modalitas pengendalian
partisipasi politik warga negara dalam acara-acara reproduksi politik berkala lewat
perpipaan partai politik. Spektrum ‘ideologis’ dari politik kepartaian tidak lagi tercermin
dalam garis atau program partai, karena dalam satu setengah dekade ini sangat
mencolok naiknya peran korporasi dalam mendominasi proses produksi-konsumsi sosial
lewat privatisasi cabang-cabang produksi barang dan jasa publik. Dalam siratan dan
kenyataan, Reformasi tidak jauh dari proses liberalisasi alir kapital yang di samping
berwatak rentier dan komprador, juga bertitik berat pada ekstraktivisme yang lebih
brutal. Kesemuanya berjalan tanpa perubahan berarti antar perioda kepresidenan,
dengan restu dari borjuasi dan partisipasi dari golongan terdidiknya. Janji desentralisasi
politik dan fiskal juga menjadikan kabupaten dan kota sebagai petuanan baru, situs
ekstraksi rente dari aneka bahan mentah serta penarikan pajak, sekaligus medan utama
politik partai dan sumber penting bagi pembangkitan dana politiknya.
Apa yang hanya sedikit dituturkan dari cerita perayaan kebebasan bersuara setelah
Suharto? Dalam proses liberalisasi ekonomi-politik itu, partisipasi kewargaan didorong
dan ditumbuhkan dengan aliran dana-dana hibah. Serupa dengan politik kepartaian
pasca Reformasi, perbaikan untuk warga bukan lah proses politik tandingan terhadap
dominasi kebudayaan dari kelas penguasa, tetapi sebagai bukti pro forma bahwa proses
kritik dan politik oposisi yang ‘profesional’ dan ‘terpelajar’ bisa terus berlangsung tanpa
perubahan watak rezim. Dengan proses partisipasi politik rakitan semacam itu, ragam
identitas sosial sekaligus menjadi batas-batas dari solidaritas, tanpa kebutuhan
mendesak untuk menemukan basis solidaritas baru pada kesamaan kepentingan jangka
panjang dalam krisis. Terserpihnya politik tandingan sekarang tidak sepenuhnya
berbeda dari citra masyarakat (koloni) majemuk di bawah rezim Hindia Belanda, yang
tidak akan berkumpul kecuali di pasar. Salah satu wujud utama dari keadaan ini dapat
kita lihat pada lemahnya ikatan dan ingatan sosial pada ruang-hidup bersama. Dalam
hal ini, kesadaran terserpih merupakan sisi lain dari pudarnya ingatan bersama akan
ruang hidup sebagai kesatuan-kesatuan sosial-ekologis —yang bingkainya adalah
bentang-alam dan kesamaan pengalaman ruang-waktu sebagai subyek perubahan di
situ. Absennya politik reproduksi ruang-waktu dalam tuturan perubahan ikut
menjelaskan kenapa perusakan ruang hidup dan syarat-syarat kelayakan hidup rakyat
meluas makin cepat.
Tentu gejala tadi hanya menuturkan sebagian cerita. Perusakan yang sekarang
berlangsung pada skala pulau sesungguhnya menciptakan syarat-syarat kekacauannya
sendiri. Sebagai metafora kartografis dari ruang-hidup, delineasi batas-batas ‘kesatuan
sosial-ekologis’ yang hendak dibela —dalam keragaman corak kesamaan kepentingan
dan kemajemukan skala— membuka jalan untuk memperluas praktik sosial melawan
perusakan dengan jangkar pengalaman ruang-waktu yang mudah dipahami.
Dalam alur pikiran tadi, ekonomika dipertimbangkan kembali sebagai tuturan
pengetahuan tentang dinamika perubahan sosial-ekologis di sepanjang proses
perluasan medan produksi-konsumsi sosial, serta sebagai rujukan bagi praktik sosial
untuk membalik kecenderungan dominan pemburukan krisis dari rezim produksi-
konsumsi kapitalistik yang ada sekarang. Moda produksi-konsumsi yang merupakan
tumpuan kehidupan sosial dan pengurusannya menjadi fokus pemeriksaan dan medan
perombakan. Dalam hal ini, ekonomi sebuah kesatuan sosial-ekologis mencakup bukan
saja syarat-syarat kepentingan bersama sebagai tandingan penggumpalan kekayaan
lewat proses akumulasi kapital, tapi juga keutuhan fungsi-fungsi faal lapisan bumi yang
dapat ditinggali manusia. Syarat ekologis tersebut menemukan dimensi sosialnya
sebagai syarat kepentingan bersama yang dimensi waktunya jauh lebih panjang dari
panjang-usia sebuah generasi. Dengan demikian medan perubahan yang menuntut
tindakan kolektif bercakupan sosial-ekologis.
Seperti apa konsekuensi dari penglihatan seperti ini? Sementara perombakan politik
boleh jadi harus dibayangkan masih akan berjalan dalam batas-batas negeri, syarat-
syarat sosial-ekologis yang menentukan berguna tidaknya sebuah pembaruan politik
‘nasional’ harus dipelajari, dimengerti dan dipenuhi pada tingkat asasi —dengan
keberlakuan melampaui batas-batas geopolitik formal yang ada saat ini.
Bisa jelaskan mengenai finansialisasi, dan mengapa ia menjadi corak yang khas
dalam kapitalisme?
Cerita tentang finansialisasi punya banyak sisi. Finansialisasi mengacu pada pola baru
akumulasi melalui pipa-pipa keuangan yang mengungguli penciptaan nilai lewat
produksi dan perdagangan barang. Cerminannya dalam proses sosial antara lain adalah
meningkatnya kuasa politik dan ekonomik dari ‘kelas rentier’. Daya dorong dari institusi
dan mekanisme politik elektoral memudar di hadapan gejala finansialisasi segalanya
tersebut. Alir keuangan publik menjadi bagian dari medan akumulasi kapital keuangan
global. Barang kebutuhan publik seperti sumber energi primer secara sistematis diubah
makna sosialnya, dari ‘infratruktur ekonomik’ menjadi barang, yang alirnya dipandu oleh
mekanisme harga internasional. Mandat pengurus negara untuk menjamin keselamatan
warga dan keutuhan ruang-hidupnya menjadi subordinat dari terpeliharanya kelancaran
alir kapital dan perluasan sirkuit-sirkuitnya. Ruang-ruang hidup warga di darat dan di laut
beserta kandungan bahan mentahnya resmi diperlakukan sebagai bagian dari medan
akumulasi keuangan.
Finansialisasi juga merupakan sisi lain dari hegemoni dolar AS dalam transaksi
keuangan di seluruh dunia, setelah tamatnya rezim Bretton Woods. Di bawah kuasa
kapital keuangan dan cairnya alir keuangan antar negara, negara-negara yang hendak
menempuh jalan lain dengan mudah bisa ‘dihukum’ lewat berbagai mekanisme. Kalau
kita lihat rontoknya Wall Street di AS di 2008 sebagai jantung kapital keuangan global
dalam lintasan perkembangannya sejak Depresi Besar 1929, jelas bahwa gejala
finansialisasi tidak akan mengatasi cacat genetik kapitalisme keuangan yaitu ketidak-
stabilan sistemnya sendiri.
Kekuatan sebuah ekonomi dengan finansialisasi terletak pada kemampuannya
menciptakan kredit dari nol, meminjamkan dan menarik bunganya, dan memilih
menyalurkan labanya pada sirkuit yang sama. Di 2012 nilai nominal dari instrumen
derivatives ditaksir lebih dari 600 Triliun dolar AS, atau setara dengan sembilan kali
GDP dunia. Dengan kecepatan pengaliran dana ke manapun dalam hitungan menit,
kecepatan perluasan pasar lahan global dan mekanisme rampas lahannya lewat
berbagai instrumen keuangan juga ikut naik. Syarat dari penguasaan lahan dalam hal ini
adalah terpenuhinya syarat legalitas lahan sebagai sebuah kelas aset. Redistribusi
lahan-tani dengan sertifikasi dapat dibaca sebagai akuisisi finansial, bukan transfer aset
ke pekerja-tani. Bicara reforma agraria artinya kita harus bicara tentang transformasi,
bukan redistribusi lahan. Apa gunanya kita mengolah lahan satu hektar kalau seluruh
aliran uang dari rente dan surplusnya dirancang untuk menghisap produsennya?
Sertifikasi aset bukan saja menyangkut lahan, tetapi juga berbagai jenis infrastruktur —
salah satu kelas aset yang tertinggi produktivitas asetnya. Lakon percepatan konstruksi
infrastruktur di Asia tenggara, sebagai contoh, dapat diperiksa berdasarkan logika
tersebut tadi. Dalam propaganda mengenai makna kenaikan GDP sebagai peningkatan
kesejahteraan, siapa yang diuntungkan dalam cerita itu?
Sisi lain dari percepatan penguasaan ruang lewat mekanisme kapital keuangan tersebut
adalah berlangsungnya percepatan pembongkaran dan perubahan bentang alam
beserta infrastruktur ekologisnya. Air dan pegunungan sebagai wilayah resapan dikenai
valorisasi finansial, lewat transformasi keberadaaannya menjadi barang-barang yang
dapat dikuantifikasi. Fungsi ekologis yang rumit dari karst dapat disetarakan dengan
berat keseluruhan gamping yang membentuknya, diukur dalam satuan ton. Ekosistem
hutan yang begitu rumit bangunan dan fungsi-fungsi faalnya direduksi menjadi bobot
karbon yang terkandung pada pohon dan lapisan akarnya, untuk dikonversi nilai
finansialnya. Pelepasan makna dari fungsi makin panjang daftarnya. Kajian lingkungan
hidup strategis bahkan bisa digunakan untuk mengkonversi ‘derita’ atau kenaikan
entropi sosial ke dalam kuanta. Lebih dari semata perubahan dalam moda dominan
akumulasi, gejala finansialisasi juga memicu destabilisasi sosial-ekologis secara besar-
besaran, yang belum pernah berlangsung pada episoda perkembangan kapitalisme
sebelumnya. Integrasi ekonomi tempatan di Asia yang meminta syarat-syarat kepatuhan
sosial yang lebih ketat boleh jadi akan mendorong pembesaran basis gerakan buruh
pabrik serta perlawanan terhadap pencaplokan ruang-ruang hidup di situs-situs industri
keruk.
Lebih jauh, gejala finansialisasi juga mencerminkan proses sosialisasi resiko dan
privatisasi segalanya dari proses akumulasi. Kita sekarang berada pada garis depan
kemajuan dari lex mercatoria, rezim hukum untuk membela kepentingan dagang.
Kontradiksi di antara berbagai institusi, mekanisme dan instrumen kenegaraan dewasa
ini kecil sekali kemungkinannya untuk diatasi dari dalam tubuh birokrasi negara.
Privatisasi proses legislasi dan peradilan menjadikannya mustahil dilakukan. Tanpa
penguatan desakan rakyat, pengurus negara dan kantor-kantor negara akan melindungi
dan menjamin kelancaran aliran investasi, bukan pemenuhan hak rakyat.
Pertanyaan yang menurut hemat saya penting begini: kalau kapital keuangan adalah
mekanisme alir kapital, seperti apakah transformasi sosial-ekologis yang didorongnya?
Lebih dari sekedar ‘finansialisasi produksi-konsumsi barang’, kelihatannya kita tengah
dipertalikan oleh sebentuk protokol reproduksi-kehidupan yang patuh bukan pada etika
reproduksi kehidupan yang memulihkan dan memperbaiki, melainkan pada logika
akumulasi.
Bisa ceritakan tentang SDE (Sekolah Demokrasi Ekonomi)?
Dorongan awal penumbuhan SDE adalah kehendak untuk menciptakan cara dan ruang-
bertutur tandingan mengenai dinamika krisis berdimensi ekologis dan kemanusiaan,
terutama yang dipicu oleh pembesaran rerantai ekonomik. Jika perubahan bisa
dituturkan dalam kerangka ruang-waktu dan pengalaman sang subjek di dalam ruang-
hidupnya sendiri, yang bersangkutan akan terlibat dalam proses belajar memahami
medan interaksi di antara perubahan dalam rerantai ekonomik dengan perubahan dalam
rerantai kemasyarakatan/kemanusiaan kehidupannya serta rerantai ekologis dari
bentang alam yang merumahinya, dan memudahkan perumusan tindakan untuk
mempengaruhi arah perubahan di situ. Apabila perambatan dan pengayaan
pengetahuan/pengalaman bertindak lewat proses belajar tersebut bisa dikelola dengan
baik, pembalikan kecenderungan percepatan pemburukan krisis akan berlangsung
sebagai praktik sosial di berbagai konteks institusional dari para pelajarnya. Dengan
beberapa kelengkapan alat bantu bercakap-cakap, tuturan mengenai perubahan yang
sekarang didominasi oleh sistem bertutur dari dalam rerantai ekonomik dapat dipetakan
duduk perkaranya dengan menaruhnya kembali di dalam rerantai sosial dan rerantai
ekologis. Sebagai ilustrasi, terdapat perbedaan mendasar di antara sistem bertutur yang
berpusat pada rerantai ekonomik, sosial dan ekologis, dalam tuturan tentang waktu,
ruang, daya ubah, identitas genetik yang mengalami perubahan dan logika perubahan.
Konstruksi sosial dari tuturan dominan tentang ekonomi politik energi, misalnya, bukan
saja punya bias mencolok pada sisi pasokan, tetapi juga mengerutkan soal energi
sebagai urusan energetika bagi reproduksi sosial-ekologis, menjadi urusan kecukupan
sumber energi primer untuk kesinambungan industrialisme kapitalistik. Keselarasan
ruang-waktu bagi proses reproduksi rerantai sosial dan rerantai ekologis hilang dari
pertimbangan dan penglihatan publik. Pasokan listrik poros kapital keuangan Sudirman-
Thamrin di Jakarta sepanjang 6.3 km diperkirakan tak jauh berbeda dari pasokan listrik
seluruh propinsi Kalimantan Timur. Jakarta dengan populasi 10 juta, luas 661.5 km2,
setara pasokan listriknya dengan pulau Sumatra yang memiliki populasi 50 juta dan luas
443065 km2. Cerita seperti ini menunjukkan bahwa moda perubahan di ketiga rerantai
berlangsung dalam ‘jenis waktu’ atau chronotype yang berbeda. Percepatan konsumsi
sumber energi fosil untuk pembangkitan daya listrik tidak mengacu pada metabolisme
sosial di sebuah ruang-hidup, melainkan pada pertimbangan perluasan rerantai
ekonomik. Serupa, percobaan penyatuan zona waktu di seluruh kepulauan Indonesia
untuk kelancaran finansialisasi ekonomi mengecil-ngecilkan pentingnya perbedaan zona
waktu di ujung barat laut Sumatra dengan di ujung timur Papua bagi kehidupan sehari-
hari warga masyarakat, yang mustahil dikuantifikasi, apalagi dinilai harga uangnya.
Dalam proses belajar-bersama atau social-learning ini, bagaimana orang menemukan
tubuh dari perlawanannya? Kata organisasi sendiri kan kita harus pertanyakan kembali.
Kita bicara sebuah proses sosial yang pada kenyataannya tidak berlangsung menurut
batas-batas institusional. Pada saat yang sama kita juga lihat bahwa krisis sosial itu
tidak berlangsung di ruang hampa. Di Kalimantan Timur misalnya, kita harus bicara
krisis yang bagaimana, sangat spesifik zona ruang-waktunya. Kita bicara sosialnya,
bicara ekologisnya, bicara yang kita lawan, ekonominya begini, lalu setelah itu kita
meski ngapain? Sense itu penting sekali untuk kita mengerti. Oleh karena itu kemudian
kita menggunakan sebuah alat bercakap-cakap, ‘kesatuan sosial-ekologis menyejarah’,
sebuah construct yang menunggu dimaknai oleh pengalaman batin sang subjek belajar.
Dengan begitu yang bersangkutan bisa mempertautkan apa yang tengah atau sudah
menjadi kenyataan secara ex-post. Yang hilang dalam abstraksi, pemodelan berlebihan
atau yang merancukan tuturan rerantai ekonomik dengan yang sosial dan ekologis,
menemukan tuturan yang lebih utuh. Masalah ‘penglihatan terbalik’ dalam kajian
ideologi, karena efek kamar-gelap atau camera obscura, dapat diperiksa dengan cepat.
Kita sekarang hidup dalam sebuah pelapisan proses kehilangan, seperti yang disiratkan
oleh penulis Kiran Desai dalam ‘The Inheritance of Loss’. Warga kampung mewarisi
kehilangan, dan dalam pemburukan krisis, peran sejarahnya adalah mewariskan
kehilangan yang berlapis-lapis.
Ketika sebuah rombongan belajar di sebuah situs krisis memutuskan untuk belajar
bersama melawan perusakan dan memulihkan, proses sengit untuk menuturkan ‘siapa
kami’, ‘gambaran tentang ruang hidup kami’ dan ‘apakah kami merupakan bagian dari
subyek sejarah yang lebih besar yang sama-sama mengalami krisis’ menjadi titik
berangkat dari proses pemetaan perubahan di wilayah hidup si rombongan. Ketiganya
bersifat vital untuk memulai perubahan secara kolaboratif, yang tepi ruang-waktunya
diputuskan si pelajar. Untuk melakukan ‘dekolonisasi’ terhadap tuturan ekonomika
neoklasik mengenai rerantai ekonomik di situ, pelajar belajar memetakan lintasan
perubahan sosial dan ekologis dari dinamika produksi-konsumsi energi dan bahan di
situ ke dalam kategorisasi mendasar, mana-mana yang mendorong destabilisasi sosial
atau ekologis, dan mana yang memulihkan kerusakan atau menguatkan. Kualifikasi
diperiksa dengan mengacu pada syarat-syarat keselamatan dan keutuhan ruang-hidup
yang dirumuskan oleh si rombongan belajar. Rombongan belajar dapat berkolaborasi
dengan rombongan lain dan menggunakan berbagai alat bantu yang lebih lengkap, jika
dibutuhkan pemeriksaan lebih seksama terhadap vektor-vektor pendorong perubahan,
misalnya untuk sebuah pulau berukuran 5000 kilometer persegi, atau untuk
merumuskan bagaimana pengurusan tandingan konsumsi air pada skala negeri atau
bumi, atau memeriksa daur-hidup beberapa cabang industri yang memicu pemburukan
krisis.
Untuk memotong proses melingkar pemburukan krisis oleh moda pengurusan publik
buta krisis dan moda perluasan ekonomik pendorong krisis, harus dinyatakan adanya
sebuah imperatif pembalikan krisis. Agenda belajar-bersama yang mendesak adalah
menaruh kembali seluruh rerantai ekonomik sebagai urusan rumah-tangga dari rerantai
sosial dengan segenap persyaratan keselamatan dan keadilan di dalamnya, dan
bersamaan dengan itu, menempatkan kembali proses sosial —termasuk penyelarasan
rerantai ekonomik pada logika metabolisme sosial— di dalam ikhtiar menjawab
pemburukan krisis ekologis berskala bumi sekarang. Pada tataran praktik sosial, proses
belajar mencakup tiga agenda belajar. Pertama, penerapan logika tandingan dari
produksi-konsumsi bahan dan energi, merujuk pada syarat-syarat keselamatan manusia
dan keutuhan fungsi-fungsi faal biosfera. Kedua, perumusan dan penerapan protokol
tandingan pengurusan perubahan yang bertujuan membalik kecenderungan
pemburukan krisis. Ketiga, menumbuhkan praktik belajar-bersama yang bersifat
membongkar sekat-sekat antar rombongan dan institusi, serta berskala majemuk,
bergantung pada kekhasan konteks sosial-ekologis dari subyek dan wilayah belajarnya.
Dari perjalanan awal selama empat-belas semester ini, proses belajar SDE di kepulauan
juga menjadi bagian dari prakarsa-prakarsa belajar serupa di dan mengenai Asia
daratan, Amerika utara dan selatan, Eropa dan Afrika. Tafsir mekanistik bahwa
kemajuan dalam proses akumulasi kapital harus disambut hangat karena akan
mendorong penguatan politik kelas pekerja-tanpa-aset terbukti meleset. Pemburukan
krisis dalam rerantai ekologis dari biosfera menurut hemat kami merupakan sebuah
medan baru yang baru sedikit sekali kita mengerti dan petakan. Pertanyaannya,
bagaimana mempercepat cara belajarnya, tanpa menebalkan sekat-sekat fragmentasi
bagi yang berkesediaan melawannya.
Proses sosial yang meminta keterlibatan kita sekarang mirip dengan sebuah proses
belajar menguasai kembali kecakapan berbahasa, menemukan kata untuk menuturkan
kerumitan krisis, dan untuk membayangkan apa yang harus kita kerjakan dan harus kita
urus. Pembebasan dari segala yang buruk yang kita warisi dan wariskan menuntut
ontologi tandingan tentang rerantai ekonomik yang patuh pada etika kemanusiaan dan
ekologis. Bukan sebagai lokasi ruang-waktu impian, tetapi sebagai sumber inspirasi
untuk merintisnya. Di berbagai wilayah krisis tersebut, hilangnya ruang-hidup-bersama,
atau commons, menjadi salah satu garis depan dalam memahami duduk-perkaranya,
menemukan cerita tandingannya, dan merintis praktik belajar-bersama untuk
menumbuhkan/merebutnya kembali. Ekonomika menjadi sebuah cerita mengurus
rumah-tangga dari berbagai jejaring belajar masyarakat pekerja dan mereka yang
mewarisi kehilangan. Dalam praktik belajar bersama itu, kata kerja melawan perusakan
dan memulihkan juga menjadi rujukan bagi riset dan pertukaran pengetahuan antar
berbagai jejaring belajar.

More Related Content

What's hot

Makalah memberikan keadian
Makalah memberikan keadianMakalah memberikan keadian
Makalah memberikan keadian
miftahul Ghofur
 
Geosospol + Statak + Sistem Kaderisasi
Geosospol + Statak + Sistem KaderisasiGeosospol + Statak + Sistem Kaderisasi
Geosospol + Statak + Sistem Kaderisasi
PMII
 
88838080 ideologi-liberalisme
88838080 ideologi-liberalisme88838080 ideologi-liberalisme
88838080 ideologi-liberalisme
Muhammad Junaidi
 
Bab ii teori pertumbuhan ekonomi
Bab ii   teori pertumbuhan ekonomiBab ii   teori pertumbuhan ekonomi
Bab ii teori pertumbuhan ekonomi
Opy Cynthia
 
Falsafah dan ideologi ekonomi kerakyatan (nur rachmaniar)
Falsafah dan ideologi ekonomi kerakyatan (nur rachmaniar)Falsafah dan ideologi ekonomi kerakyatan (nur rachmaniar)
Falsafah dan ideologi ekonomi kerakyatan (nur rachmaniar)
Nur Rachmaniar
 
Ekonomi kerakyatan
Ekonomi kerakyatanEkonomi kerakyatan
Ekonomi kerakyatan
dinnianggra
 
Ekonomi kerakyatan
Ekonomi kerakyatanEkonomi kerakyatan
Ekonomi kerakyatan
Himajie FeUh
 
Selebaran may-day-2015
Selebaran may-day-2015Selebaran may-day-2015
Selebaran may-day-2015
Aprili Danang
 
Kesejahteraan adalah kondisi
Kesejahteraan adalah kondisiKesejahteraan adalah kondisi
Kesejahteraan adalah kondisi
janroi
 
Perkembangan Sosiologi Perancis
Perkembangan Sosiologi PerancisPerkembangan Sosiologi Perancis
Perkembangan Sosiologi Perancis
Lingga Lugina S
 
Ensiklik Mater et Magistra (Seri-ASG)
Ensiklik Mater et Magistra (Seri-ASG)Ensiklik Mater et Magistra (Seri-ASG)
Ensiklik Mater et Magistra (Seri-ASG)
Lusius Sinurat
 
Sosiologi Politik Summary
Sosiologi Politik SummarySosiologi Politik Summary
Sosiologi Politik Summary
Bakrie University
 
Kekuatan Sosial yang Berperan dalam Perkembangan Teori Sosiologi
Kekuatan Sosial yang Berperan dalam Perkembangan Teori SosiologiKekuatan Sosial yang Berperan dalam Perkembangan Teori Sosiologi
Kekuatan Sosial yang Berperan dalam Perkembangan Teori Sosiologi
Lingga Lugina S
 

What's hot (15)

Makalah memberikan keadian
Makalah memberikan keadianMakalah memberikan keadian
Makalah memberikan keadian
 
Geosospol + Statak + Sistem Kaderisasi
Geosospol + Statak + Sistem KaderisasiGeosospol + Statak + Sistem Kaderisasi
Geosospol + Statak + Sistem Kaderisasi
 
88838080 ideologi-liberalisme
88838080 ideologi-liberalisme88838080 ideologi-liberalisme
88838080 ideologi-liberalisme
 
Bab ii teori pertumbuhan ekonomi
Bab ii   teori pertumbuhan ekonomiBab ii   teori pertumbuhan ekonomi
Bab ii teori pertumbuhan ekonomi
 
Falsafah dan ideologi ekonomi kerakyatan (nur rachmaniar)
Falsafah dan ideologi ekonomi kerakyatan (nur rachmaniar)Falsafah dan ideologi ekonomi kerakyatan (nur rachmaniar)
Falsafah dan ideologi ekonomi kerakyatan (nur rachmaniar)
 
Ekonomi kerakyatan
Ekonomi kerakyatanEkonomi kerakyatan
Ekonomi kerakyatan
 
Ekonomi kerakyatan
Ekonomi kerakyatanEkonomi kerakyatan
Ekonomi kerakyatan
 
Ekonomi kerakyatan
Ekonomi kerakyatanEkonomi kerakyatan
Ekonomi kerakyatan
 
Bab x-konflik-sosial
Bab x-konflik-sosialBab x-konflik-sosial
Bab x-konflik-sosial
 
Selebaran may-day-2015
Selebaran may-day-2015Selebaran may-day-2015
Selebaran may-day-2015
 
Kesejahteraan adalah kondisi
Kesejahteraan adalah kondisiKesejahteraan adalah kondisi
Kesejahteraan adalah kondisi
 
Perkembangan Sosiologi Perancis
Perkembangan Sosiologi PerancisPerkembangan Sosiologi Perancis
Perkembangan Sosiologi Perancis
 
Ensiklik Mater et Magistra (Seri-ASG)
Ensiklik Mater et Magistra (Seri-ASG)Ensiklik Mater et Magistra (Seri-ASG)
Ensiklik Mater et Magistra (Seri-ASG)
 
Sosiologi Politik Summary
Sosiologi Politik SummarySosiologi Politik Summary
Sosiologi Politik Summary
 
Kekuatan Sosial yang Berperan dalam Perkembangan Teori Sosiologi
Kekuatan Sosial yang Berperan dalam Perkembangan Teori SosiologiKekuatan Sosial yang Berperan dalam Perkembangan Teori Sosiologi
Kekuatan Sosial yang Berperan dalam Perkembangan Teori Sosiologi
 

Viewers also liked

Penyusunan hvca dengan pra
Penyusunan hvca dengan praPenyusunan hvca dengan pra
Penyusunan hvca dengan pra
V-cool Ndayak
 
Identification of badh2 mutation type among indonesian fragrant rice varieties
Identification of badh2 mutation type among indonesian fragrant rice varietiesIdentification of badh2 mutation type among indonesian fragrant rice varieties
Identification of badh2 mutation type among indonesian fragrant rice varieties
Alexander Decker
 
42nd Parliament of Canada contact details slides 7 of 10 (Manitoba & Sask)
42nd Parliament of Canada contact details slides 7 of 10 (Manitoba & Sask)42nd Parliament of Canada contact details slides 7 of 10 (Manitoba & Sask)
42nd Parliament of Canada contact details slides 7 of 10 (Manitoba & Sask)
Sam Vekemans
 
Monev
MonevMonev
แนวข้อสอบนายทหารโภชนาการ กองทัพอากาศ
แนวข้อสอบนายทหารโภชนาการ กองทัพอากาศแนวข้อสอบนายทหารโภชนาการ กองทัพอากาศ
แนวข้อสอบนายทหารโภชนาการ กองทัพอากาศ
kidsana pajjaika
 
Housing conditions and health in rural nigeria (2)
Housing conditions and health in rural nigeria (2)Housing conditions and health in rural nigeria (2)
Housing conditions and health in rural nigeria (2)
Alexander Decker
 
Etiopia, oficial Republica Federală Democratică a Etiopiei
Etiopia, oficial Republica Federală Democratică a Etiopiei Etiopia, oficial Republica Federală Democratică a Etiopiei
Etiopia, oficial Republica Federală Democratică a Etiopiei
dalex4c
 
Armenia Republica Armenia 28 Mai 1918
Armenia Republica Armenia 28 Mai 1918 �Armenia Republica Armenia 28 Mai 1918 �
Armenia Republica Armenia 28 Mai 1918
dalex4c
 

Viewers also liked (8)

Penyusunan hvca dengan pra
Penyusunan hvca dengan praPenyusunan hvca dengan pra
Penyusunan hvca dengan pra
 
Identification of badh2 mutation type among indonesian fragrant rice varieties
Identification of badh2 mutation type among indonesian fragrant rice varietiesIdentification of badh2 mutation type among indonesian fragrant rice varieties
Identification of badh2 mutation type among indonesian fragrant rice varieties
 
42nd Parliament of Canada contact details slides 7 of 10 (Manitoba & Sask)
42nd Parliament of Canada contact details slides 7 of 10 (Manitoba & Sask)42nd Parliament of Canada contact details slides 7 of 10 (Manitoba & Sask)
42nd Parliament of Canada contact details slides 7 of 10 (Manitoba & Sask)
 
Monev
MonevMonev
Monev
 
แนวข้อสอบนายทหารโภชนาการ กองทัพอากาศ
แนวข้อสอบนายทหารโภชนาการ กองทัพอากาศแนวข้อสอบนายทหารโภชนาการ กองทัพอากาศ
แนวข้อสอบนายทหารโภชนาการ กองทัพอากาศ
 
Housing conditions and health in rural nigeria (2)
Housing conditions and health in rural nigeria (2)Housing conditions and health in rural nigeria (2)
Housing conditions and health in rural nigeria (2)
 
Etiopia, oficial Republica Federală Democratică a Etiopiei
Etiopia, oficial Republica Federală Democratică a Etiopiei Etiopia, oficial Republica Federală Democratică a Etiopiei
Etiopia, oficial Republica Federală Democratică a Etiopiei
 
Armenia Republica Armenia 28 Mai 1918
Armenia Republica Armenia 28 Mai 1918 �Armenia Republica Armenia 28 Mai 1918 �
Armenia Republica Armenia 28 Mai 1918
 

Similar to Kapitalisasi

72523867 pembangunan-politik
72523867 pembangunan-politik72523867 pembangunan-politik
72523867 pembangunan-politik
Operator Warnet Vast Raha
 
Pendidikan dan demokrasi dalam transisi (prakondisi menuju era globaliasi)
Pendidikan dan demokrasi dalam transisi (prakondisi menuju era globaliasi)Pendidikan dan demokrasi dalam transisi (prakondisi menuju era globaliasi)
Pendidikan dan demokrasi dalam transisi (prakondisi menuju era globaliasi)
pendidikan pancasila dan kewarganegaraan
 
Neoliberalisme dan globalisasi
Neoliberalisme dan globalisasiNeoliberalisme dan globalisasi
Neoliberalisme dan globalisasi
virmannsyah
 
Ketika gerakan mahasiswa di pasung
Ketika gerakan mahasiswa di pasungKetika gerakan mahasiswa di pasung
Ketika gerakan mahasiswa di pasung
BUNG FESDIAMON
 
Revolusi mental dalam Perspektif Pancasila
Revolusi mental dalam Perspektif PancasilaRevolusi mental dalam Perspektif Pancasila
Revolusi mental dalam Perspektif Pancasila
Agus Widiyanto
 
Mahasiswa dan tanggung jawab sosial
Mahasiswa dan tanggung jawab sosialMahasiswa dan tanggung jawab sosial
Mahasiswa dan tanggung jawab sosial
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)
 
Makalah globalisasi
Makalah globalisasiMakalah globalisasi
Makalah globalisasi
Dewi Zulaeva
 
MASALAH-MASALAH DEMOKRASI & KEBANGSAAN ERA REFORMASI
MASALAH-MASALAH DEMOKRASI & KEBANGSAAN ERA REFORMASIMASALAH-MASALAH DEMOKRASI & KEBANGSAAN ERA REFORMASI
MASALAH-MASALAH DEMOKRASI & KEBANGSAAN ERA REFORMASI
pendidikan pancasila dan kewarganegaraan
 
Sejarah reformasi
Sejarah reformasiSejarah reformasi
Sejarah reformasi
ANAKilang81
 
Globalisasi
GlobalisasiGlobalisasi
Globalisasi
Aussie Komala Rani
 
Revolusi ketergantungan internasional mentah
Revolusi ketergantungan internasional mentahRevolusi ketergantungan internasional mentah
Revolusi ketergantungan internasional mentah
Ayu Sefryna sari
 
Dasar ilmu politik
Dasar ilmu politikDasar ilmu politik
Dasar ilmu politik
Rasyidmaruf
 
PPT ppkn Sejarah dan Perkembangan Civil Society.pptx
PPT ppkn Sejarah dan Perkembangan Civil Society.pptxPPT ppkn Sejarah dan Perkembangan Civil Society.pptx
PPT ppkn Sejarah dan Perkembangan Civil Society.pptx
Ireclever
 
A kelompok 8 minggu 13
A kelompok 8 minggu 13A kelompok 8 minggu 13
A kelompok 8 minggu 13
Bilqis Putri
 
Prospek dan-tantangan-ekonomi-islam
Prospek dan-tantangan-ekonomi-islamProspek dan-tantangan-ekonomi-islam
Prospek dan-tantangan-ekonomi-islam
Muhammad Idris
 
Mengenal ideologi besar dunia oleh saddam cahyo
Mengenal ideologi besar dunia oleh saddam cahyoMengenal ideologi besar dunia oleh saddam cahyo
Mengenal ideologi besar dunia oleh saddam cahyo
Saddam Tjahyo
 
Makalah pengaruh globalisasi
Makalah pengaruh globalisasiMakalah pengaruh globalisasi
Makalah pengaruh globalisasi
Bayu Setiawan
 
Globalisasi dalam perkeonomian negara berkembang
Globalisasi dalam perkeonomian negara berkembangGlobalisasi dalam perkeonomian negara berkembang
Globalisasi dalam perkeonomian negara berkembang
Utam Ejaz
 

Similar to Kapitalisasi (20)

72523867 pembangunan-politik
72523867 pembangunan-politik72523867 pembangunan-politik
72523867 pembangunan-politik
 
Pendidikan dan demokrasi dalam transisi (prakondisi menuju era globaliasi)
Pendidikan dan demokrasi dalam transisi (prakondisi menuju era globaliasi)Pendidikan dan demokrasi dalam transisi (prakondisi menuju era globaliasi)
Pendidikan dan demokrasi dalam transisi (prakondisi menuju era globaliasi)
 
Neoliberalisme dan globalisasi
Neoliberalisme dan globalisasiNeoliberalisme dan globalisasi
Neoliberalisme dan globalisasi
 
Ketika gerakan mahasiswa di pasung
Ketika gerakan mahasiswa di pasungKetika gerakan mahasiswa di pasung
Ketika gerakan mahasiswa di pasung
 
Revolusi mental dalam Perspektif Pancasila
Revolusi mental dalam Perspektif PancasilaRevolusi mental dalam Perspektif Pancasila
Revolusi mental dalam Perspektif Pancasila
 
Mahasiswa dan tanggung jawab sosial
Mahasiswa dan tanggung jawab sosialMahasiswa dan tanggung jawab sosial
Mahasiswa dan tanggung jawab sosial
 
Makalah globalisasi
Makalah globalisasiMakalah globalisasi
Makalah globalisasi
 
MASALAH-MASALAH DEMOKRASI & KEBANGSAAN ERA REFORMASI
MASALAH-MASALAH DEMOKRASI & KEBANGSAAN ERA REFORMASIMASALAH-MASALAH DEMOKRASI & KEBANGSAAN ERA REFORMASI
MASALAH-MASALAH DEMOKRASI & KEBANGSAAN ERA REFORMASI
 
Pembangunanpolitik 130805210239-phpapp01
Pembangunanpolitik 130805210239-phpapp01Pembangunanpolitik 130805210239-phpapp01
Pembangunanpolitik 130805210239-phpapp01
 
Sejarah reformasi
Sejarah reformasiSejarah reformasi
Sejarah reformasi
 
Globalisasi
GlobalisasiGlobalisasi
Globalisasi
 
Revolusi ketergantungan internasional mentah
Revolusi ketergantungan internasional mentahRevolusi ketergantungan internasional mentah
Revolusi ketergantungan internasional mentah
 
Dasar ilmu politik
Dasar ilmu politikDasar ilmu politik
Dasar ilmu politik
 
PPT ppkn Sejarah dan Perkembangan Civil Society.pptx
PPT ppkn Sejarah dan Perkembangan Civil Society.pptxPPT ppkn Sejarah dan Perkembangan Civil Society.pptx
PPT ppkn Sejarah dan Perkembangan Civil Society.pptx
 
A kelompok 8 minggu 13
A kelompok 8 minggu 13A kelompok 8 minggu 13
A kelompok 8 minggu 13
 
Revormasi di indonesia
Revormasi di indonesiaRevormasi di indonesia
Revormasi di indonesia
 
Prospek dan-tantangan-ekonomi-islam
Prospek dan-tantangan-ekonomi-islamProspek dan-tantangan-ekonomi-islam
Prospek dan-tantangan-ekonomi-islam
 
Mengenal ideologi besar dunia oleh saddam cahyo
Mengenal ideologi besar dunia oleh saddam cahyoMengenal ideologi besar dunia oleh saddam cahyo
Mengenal ideologi besar dunia oleh saddam cahyo
 
Makalah pengaruh globalisasi
Makalah pengaruh globalisasiMakalah pengaruh globalisasi
Makalah pengaruh globalisasi
 
Globalisasi dalam perkeonomian negara berkembang
Globalisasi dalam perkeonomian negara berkembangGlobalisasi dalam perkeonomian negara berkembang
Globalisasi dalam perkeonomian negara berkembang
 

More from V-cool Ndayak

Kapitalisasi
KapitalisasiKapitalisasi
Kapitalisasi
V-cool Ndayak
 
Kapitalisasi
KapitalisasiKapitalisasi
Kapitalisasi
V-cool Ndayak
 
Kapitalisasi
KapitalisasiKapitalisasi
Kapitalisasi
V-cool Ndayak
 
Kapitalis
KapitalisKapitalis
Kapitalis
V-cool Ndayak
 
Logo bpbd mentawai
Logo bpbd mentawaiLogo bpbd mentawai
Logo bpbd mentawai
V-cool Ndayak
 
Tabel angka romawai
Tabel angka romawaiTabel angka romawai
Tabel angka romawai
V-cool Ndayak
 
Statuta forum-prb-diy
Statuta forum-prb-diyStatuta forum-prb-diy
Statuta forum-prb-diy
V-cool Ndayak
 
Tata cara berkomunikasi menggunakan radio komunikasi
Tata cara berkomunikasi menggunakan radio komunikasiTata cara berkomunikasi menggunakan radio komunikasi
Tata cara berkomunikasi menggunakan radio komunikasi
V-cool Ndayak
 
Monitoring evaluation-and-reporting-1299571066-phpapp02 (1)
Monitoring evaluation-and-reporting-1299571066-phpapp02 (1)Monitoring evaluation-and-reporting-1299571066-phpapp02 (1)
Monitoring evaluation-and-reporting-1299571066-phpapp02 (1)
V-cool Ndayak
 
Tsunami dari bnpb
Tsunami dari bnpbTsunami dari bnpb
Tsunami dari bnpb
V-cool Ndayak
 
Peran dan tugas kodam dalam penanggulangan bencana sebagai perwujudan operasi...
Peran dan tugas kodam dalam penanggulangan bencana sebagai perwujudan operasi...Peran dan tugas kodam dalam penanggulangan bencana sebagai perwujudan operasi...
Peran dan tugas kodam dalam penanggulangan bencana sebagai perwujudan operasi...
V-cool Ndayak
 

More from V-cool Ndayak (11)

Kapitalisasi
KapitalisasiKapitalisasi
Kapitalisasi
 
Kapitalisasi
KapitalisasiKapitalisasi
Kapitalisasi
 
Kapitalisasi
KapitalisasiKapitalisasi
Kapitalisasi
 
Kapitalis
KapitalisKapitalis
Kapitalis
 
Logo bpbd mentawai
Logo bpbd mentawaiLogo bpbd mentawai
Logo bpbd mentawai
 
Tabel angka romawai
Tabel angka romawaiTabel angka romawai
Tabel angka romawai
 
Statuta forum-prb-diy
Statuta forum-prb-diyStatuta forum-prb-diy
Statuta forum-prb-diy
 
Tata cara berkomunikasi menggunakan radio komunikasi
Tata cara berkomunikasi menggunakan radio komunikasiTata cara berkomunikasi menggunakan radio komunikasi
Tata cara berkomunikasi menggunakan radio komunikasi
 
Monitoring evaluation-and-reporting-1299571066-phpapp02 (1)
Monitoring evaluation-and-reporting-1299571066-phpapp02 (1)Monitoring evaluation-and-reporting-1299571066-phpapp02 (1)
Monitoring evaluation-and-reporting-1299571066-phpapp02 (1)
 
Tsunami dari bnpb
Tsunami dari bnpbTsunami dari bnpb
Tsunami dari bnpb
 
Peran dan tugas kodam dalam penanggulangan bencana sebagai perwujudan operasi...
Peran dan tugas kodam dalam penanggulangan bencana sebagai perwujudan operasi...Peran dan tugas kodam dalam penanggulangan bencana sebagai perwujudan operasi...
Peran dan tugas kodam dalam penanggulangan bencana sebagai perwujudan operasi...
 

Recently uploaded

aasdasdasdTATA-KRAMA-DAN-BUDI-PEKERTI.ppt
aasdasdasdTATA-KRAMA-DAN-BUDI-PEKERTI.pptaasdasdasdTATA-KRAMA-DAN-BUDI-PEKERTI.ppt
aasdasdasdTATA-KRAMA-DAN-BUDI-PEKERTI.ppt
Wanto Agmi
 
materi dasamisma format excel CATATAN KELUARGA dasawisma.docx
materi dasamisma format excel CATATAN KELUARGA dasawisma.docxmateri dasamisma format excel CATATAN KELUARGA dasawisma.docx
materi dasamisma format excel CATATAN KELUARGA dasawisma.docx
MarioTriputra
 
1.1.g.2. Unggah Tugas Ruang Kolaborasi - Modul 1.1 Kelompok 1 083B (kab.Pacit...
1.1.g.2. Unggah Tugas Ruang Kolaborasi - Modul 1.1 Kelompok 1 083B (kab.Pacit...1.1.g.2. Unggah Tugas Ruang Kolaborasi - Modul 1.1 Kelompok 1 083B (kab.Pacit...
1.1.g.2. Unggah Tugas Ruang Kolaborasi - Modul 1.1 Kelompok 1 083B (kab.Pacit...
muhammadnuroni11
 
Penyusunan Kajian Teknis Pembuangan Air Limbah Ke Laut
Penyusunan Kajian Teknis Pembuangan Air Limbah Ke LautPenyusunan Kajian Teknis Pembuangan Air Limbah Ke Laut
Penyusunan Kajian Teknis Pembuangan Air Limbah Ke Laut
Hasanuddin University
 
Tanggap_darurat_Pertemuan_ke-5 bahaya tumpahan bahan kimia
Tanggap_darurat_Pertemuan_ke-5 bahaya tumpahan bahan kimiaTanggap_darurat_Pertemuan_ke-5 bahaya tumpahan bahan kimia
Tanggap_darurat_Pertemuan_ke-5 bahaya tumpahan bahan kimia
AbdulGhofur379105
 
Presentasi pemahaman 14001_PT Gadjah Ruku.pdf
Presentasi pemahaman 14001_PT Gadjah Ruku.pdfPresentasi pemahaman 14001_PT Gadjah Ruku.pdf
Presentasi pemahaman 14001_PT Gadjah Ruku.pdf
BambangSugiyono5
 
Analisis-Regresi-Dan-Korelasi statistika terapan.pptx
Analisis-Regresi-Dan-Korelasi statistika terapan.pptxAnalisis-Regresi-Dan-Korelasi statistika terapan.pptx
Analisis-Regresi-Dan-Korelasi statistika terapan.pptx
HendrickPutra1
 

Recently uploaded (7)

aasdasdasdTATA-KRAMA-DAN-BUDI-PEKERTI.ppt
aasdasdasdTATA-KRAMA-DAN-BUDI-PEKERTI.pptaasdasdasdTATA-KRAMA-DAN-BUDI-PEKERTI.ppt
aasdasdasdTATA-KRAMA-DAN-BUDI-PEKERTI.ppt
 
materi dasamisma format excel CATATAN KELUARGA dasawisma.docx
materi dasamisma format excel CATATAN KELUARGA dasawisma.docxmateri dasamisma format excel CATATAN KELUARGA dasawisma.docx
materi dasamisma format excel CATATAN KELUARGA dasawisma.docx
 
1.1.g.2. Unggah Tugas Ruang Kolaborasi - Modul 1.1 Kelompok 1 083B (kab.Pacit...
1.1.g.2. Unggah Tugas Ruang Kolaborasi - Modul 1.1 Kelompok 1 083B (kab.Pacit...1.1.g.2. Unggah Tugas Ruang Kolaborasi - Modul 1.1 Kelompok 1 083B (kab.Pacit...
1.1.g.2. Unggah Tugas Ruang Kolaborasi - Modul 1.1 Kelompok 1 083B (kab.Pacit...
 
Penyusunan Kajian Teknis Pembuangan Air Limbah Ke Laut
Penyusunan Kajian Teknis Pembuangan Air Limbah Ke LautPenyusunan Kajian Teknis Pembuangan Air Limbah Ke Laut
Penyusunan Kajian Teknis Pembuangan Air Limbah Ke Laut
 
Tanggap_darurat_Pertemuan_ke-5 bahaya tumpahan bahan kimia
Tanggap_darurat_Pertemuan_ke-5 bahaya tumpahan bahan kimiaTanggap_darurat_Pertemuan_ke-5 bahaya tumpahan bahan kimia
Tanggap_darurat_Pertemuan_ke-5 bahaya tumpahan bahan kimia
 
Presentasi pemahaman 14001_PT Gadjah Ruku.pdf
Presentasi pemahaman 14001_PT Gadjah Ruku.pdfPresentasi pemahaman 14001_PT Gadjah Ruku.pdf
Presentasi pemahaman 14001_PT Gadjah Ruku.pdf
 
Analisis-Regresi-Dan-Korelasi statistika terapan.pptx
Analisis-Regresi-Dan-Korelasi statistika terapan.pptxAnalisis-Regresi-Dan-Korelasi statistika terapan.pptx
Analisis-Regresi-Dan-Korelasi statistika terapan.pptx
 

Kapitalisasi

  • 1. Hendro Sangkoyo: Kita sekarang berada pada garis depan kemajuan dari lex mercatoria, rezim hukum untuk membela kepentingan dagang 29 October 2014 Hendro Sangkoyo, Rio Apinino Left Book Review
  • 2. Sikuit akumulasi kapital, ‘M-C-M’’ atau ‘Uang-Barang-Uang yang lebih besar’ memang tidak hanya terjadi di dinding-dinding pabrik tempat sebuah komoditas diproduksi oleh para buruh. Lebih luas dari itu, sirkuit akumulasi kapital selalu mensyaratkan relasinya dengan alam. Untuk menghasilkan sebuah komoditas, terlebih dahulu seorang kapitalis mengambil bahan baku dari alam, atau dalam ilmu ekonomi merupakan bagian dari kapital konstan. Dalam skemanya, tidak pernah ada kata berhenti dalam corak produksi kapitalisme, sebaliknya, kapitalisme adalah akumulasi kapital yang tidak pernah berujung. Dalam hal itu, artinya proses ekstraksi bahan baku dari alam pun akan selalu dilakukan. Disinilah persisnya krisis sosial-ekologis terjadi. Sumber daya alam yang terbatas dihantam oleh kebutuhan akumulasi kapital yang tidak berbatas. Selain itu, krisis ekologis akan selalu bersamaan dengan krisis sosial, sebab, yang dirusak oleh kapitalisme tidak lain adalah ruang hidup tempat manusia tinggal.
  • 3. Untuk membahas krisis sosial ekologis yang disebabkan oleh akumulasi kapital, pada edisi kali ini Rio Apinino dariLeft Book Review (LBR) melakukan perbincangan dengan Hendro Sangkoyo, pendiri Sekolah Demokrasi Ekonomi (SDE), sebuah kelompok belajar bersama yang digunakan untuk melawan kerusakan sosial-ekologis tersebut. Berikut petikannya: Bisa ceritakan pengalaman intelektual Anda? Saya pikir pergulatan pemikiran pada tingkat pribadi baik untuk ditaruh pada zona ruang-waktu yang lebih spesifik, di dalam keragaman semangat zaman yang menggelora atau justru meredup di masa itu. Masa terpenting yang menjadi basis pengalaman batin yang sengit pada masa hidup saya adalah perioda Suharto dan rezim sesudahnya dengan berbagi kesamaan karakter ekonomi-politik. Angkatan sebaya saya masuk ke sekolah tinggi di awal tahun 1970an, ketika perluasan medan akumulasi, khususnya di cabang-cabang industri keruk, berkelindan dengan kemampuan negara untuk menguatkan kehadirannya lewat cadangan devisa dari rente minyak bumi, lewat berbagai proyek rekayasa pengubahan bentang alam, kontrol atas pikiran dan gerakan politik, serta efek stres sosial setelah pengalaman traumatik 1965. Sekolah-sekolah tinggi menjadi loket karcis untuk menghuni birokrasi negara atau menjadi anggota masyarakat profesi di berbagai cabang bisnis besar. Tuntutan ‘pembangunan’ dan syarat ketaatannya adalah kata kunci untuk propaganda dan pasifikasi, dengan imbalan kenyamanan dari keanggotaan dalam rezim sebagai pemikatnya. Secara umum generasi saya adalah generasi yang mengalami percobaan pengkerdilan imajinasi, nyali, bacaan, dan rentang pengalaman berpolitiknya. Percobaan ini tidak sepenuhnya sukses, setidaknya karena dua hal. Pertama, apa yang bisa/tidak bisa dikontrol pada masa Suharto dan rezim neoliberal setelahnya tidak terpisahkan dari dinamika perluasan kapital. Dekade 1970an ditandai dengan tamatnya rezim keuangan Bretton Woods tahun 1971 lewat aksi sepihak AS, krisis minyak di negara-industri maju di 1973-1974 karena embargo OPEC, dan di 1979 karena pecahnya revolusi Iran. Industrialisasi pengganti impor sebagai antidote dari turunnya nilai tukar produk primer negara dunia ketiga dibandingkan produk industri negara industri maju, pemicu kerangka-teori dependencia di 1970an, kehilangan basis materialnya dalam dinamika perluasan medan akumulasi global dalam tiga dekade
  • 4. berikutnya. Di sepanjang proses tersebut, di Indonesia memang tumbuh generasi lulusan sekolah yang berkesediaan untuk membayar karcis keanggotaan dalam berbagai lapisan dan cabang rezim perluasan kapital dan mesin politiknya. Sebetulnya seluruh cerita tadi itu serta-merta merupakan karikatur dari pendidikan. Tidak usah dituturkan lagi pendidikan itu tepat atau tidak. Semua kurikulum dari SD sampai SMA dan Sekolah Tinggi itu instruksinya apa? Kita dilatih untuk apa? Dilatih berpikir seperti apa. Itu sudah jelas sekali. Puyeng maksud saya itu. Dari kepentingan kapital, pelatihan keterampilan dan kepatuhan calon pekerja mungkin lebih tepat daripada pendidikan. Tentu, pendidikan yang tidak melatih pelajarnya untuk memeriksa duduk perkara kenyataan dengan kritis, tidak beda dengan indoktrinasi. Meskipun dikerjakan dengan sungguh-sungguh dan besar-besaran, kontrol pikiran juga dihadapkan pada kenyataan kacau-balaunya kenyataan ‘pembangunan’ di ruang-ruang hidup warga negara sehari-hari. Kenyataan perubahan yang kasar dan hiruk-pikuk jauh lebih meyakinkan daripada kursus-kursus indoktrinasi ‘pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila’ di sekolah tinggi dan di kantor-kantor. Itulah sebabnya, bahkan dengan isolasi desa dari kemungkinan mobilisasi politik sejak akhir 1960an, pengawalan wilayah-wilayah industri dengan senjata, serta ‘normalisasi kehidupan kampus’ di perkotaan satu dekade kemudian, percobaan satu generasi dari rezim Suharto terpaksa berakhir secara mendadak. Kedua, terbatasnya daya cengkeram dari percobaan politik otoriter di Indonesia juga disebabkan oleh watak klien dari negara orde-baru dan penerusnya, yang memperluas dan mempercepat destabilisasi sosial-ekologis. Mediokritas, kemiskinan imajinasi sosial- ekologis dan kemalasan para manajer negara yang mengurus perluasan kapital —gagal dalam transformasi industri pertanian rakyat, gagal dalam membangkitkan industri pengolahan, sibuk menghitung pembesaran rente dari industri keruk semata— telah menghasilkan bukti berlimpah. Hanya dalam dua putaran ‘pembangunan lima tahun’, 1/3 jumlah sungai penting di kepulauan dinyatakan rusak parah karena pembongkaran bentang alam besar-besaran. Dalam dua putaran berikutnya, sungai yang bangkrut naik menjadi 2/3 dari 89 wilayah pengurusan sungai. Di pulau-pulau padat-huni, pabrik-pabrik baru berdiri di pinggiran perdesaan, membuka peluang menjadi buruh pabrik dan pekerja kontrak dari proyek-proyek konstruksi raksasa, sekaligus merintis zaman baru pencaplokan tanah berskala ribuan hektar. Gejolak politik, gerakan-gerakan protes warga-negara yang memberikan sinyal peringatan politik, veto, atau bersifat korektif, dianggap ancaman bagi stabilitas rezim, dan menjadi obyek kekerasan sistematis. Dinamika politik dalam negeri rakitan rezim itu seperti kita tahu justru memperluas basis
  • 5. perlawanan bawah-tanah dan terbuka yang ikut mendorong tahap akhir kejatuhan Suharto. Meskipun keterlibatan aktif rakyat jelata terbatas, dan meskipun tidak sepenuhnya didorong oleh kekuatan di dalam negeri, 1998 menandai tamatnya sebuah zaman ‘penjajahan untuk pembesaran kapital’. Bagaimana anda melihat kapitalisme hari ini dalam kaitannya dengan krisis sosial ekologis? Setelah berangus politik dibuka, siapa bisa menyuarakan kepentingannya, dan siapa yang paling diperkaya? Dalam 16 tahun setelah rezim Suharto turun, apakah ada perubahan politik mendasar, atau justru terjadi pergeseran ke zaman ‘normal’ orde- Suharto? Generasi yang sekarang masuk di sekolah-sekolah tinggi, dan baru memulai karir di sekolah dasar ketika Suharto turun, dibesarkan dalam modalitas pengendalian partisipasi politik warga negara dalam acara-acara reproduksi politik berkala lewat perpipaan partai politik. Spektrum ‘ideologis’ dari politik kepartaian tidak lagi tercermin dalam garis atau program partai, karena dalam satu setengah dekade ini sangat mencolok naiknya peran korporasi dalam mendominasi proses produksi-konsumsi sosial lewat privatisasi cabang-cabang produksi barang dan jasa publik. Dalam siratan dan kenyataan, Reformasi tidak jauh dari proses liberalisasi alir kapital yang di samping berwatak rentier dan komprador, juga bertitik berat pada ekstraktivisme yang lebih brutal. Kesemuanya berjalan tanpa perubahan berarti antar perioda kepresidenan, dengan restu dari borjuasi dan partisipasi dari golongan terdidiknya. Janji desentralisasi politik dan fiskal juga menjadikan kabupaten dan kota sebagai petuanan baru, situs ekstraksi rente dari aneka bahan mentah serta penarikan pajak, sekaligus medan utama politik partai dan sumber penting bagi pembangkitan dana politiknya. Apa yang hanya sedikit dituturkan dari cerita perayaan kebebasan bersuara setelah Suharto? Dalam proses liberalisasi ekonomi-politik itu, partisipasi kewargaan didorong dan ditumbuhkan dengan aliran dana-dana hibah. Serupa dengan politik kepartaian pasca Reformasi, perbaikan untuk warga bukan lah proses politik tandingan terhadap dominasi kebudayaan dari kelas penguasa, tetapi sebagai bukti pro forma bahwa proses kritik dan politik oposisi yang ‘profesional’ dan ‘terpelajar’ bisa terus berlangsung tanpa perubahan watak rezim. Dengan proses partisipasi politik rakitan semacam itu, ragam identitas sosial sekaligus menjadi batas-batas dari solidaritas, tanpa kebutuhan mendesak untuk menemukan basis solidaritas baru pada kesamaan kepentingan jangka panjang dalam krisis. Terserpihnya politik tandingan sekarang tidak sepenuhnya
  • 6. berbeda dari citra masyarakat (koloni) majemuk di bawah rezim Hindia Belanda, yang tidak akan berkumpul kecuali di pasar. Salah satu wujud utama dari keadaan ini dapat kita lihat pada lemahnya ikatan dan ingatan sosial pada ruang-hidup bersama. Dalam hal ini, kesadaran terserpih merupakan sisi lain dari pudarnya ingatan bersama akan ruang hidup sebagai kesatuan-kesatuan sosial-ekologis —yang bingkainya adalah bentang-alam dan kesamaan pengalaman ruang-waktu sebagai subyek perubahan di situ. Absennya politik reproduksi ruang-waktu dalam tuturan perubahan ikut menjelaskan kenapa perusakan ruang hidup dan syarat-syarat kelayakan hidup rakyat meluas makin cepat. Tentu gejala tadi hanya menuturkan sebagian cerita. Perusakan yang sekarang berlangsung pada skala pulau sesungguhnya menciptakan syarat-syarat kekacauannya sendiri. Sebagai metafora kartografis dari ruang-hidup, delineasi batas-batas ‘kesatuan sosial-ekologis’ yang hendak dibela —dalam keragaman corak kesamaan kepentingan dan kemajemukan skala— membuka jalan untuk memperluas praktik sosial melawan perusakan dengan jangkar pengalaman ruang-waktu yang mudah dipahami. Dalam alur pikiran tadi, ekonomika dipertimbangkan kembali sebagai tuturan pengetahuan tentang dinamika perubahan sosial-ekologis di sepanjang proses perluasan medan produksi-konsumsi sosial, serta sebagai rujukan bagi praktik sosial untuk membalik kecenderungan dominan pemburukan krisis dari rezim produksi- konsumsi kapitalistik yang ada sekarang. Moda produksi-konsumsi yang merupakan tumpuan kehidupan sosial dan pengurusannya menjadi fokus pemeriksaan dan medan perombakan. Dalam hal ini, ekonomi sebuah kesatuan sosial-ekologis mencakup bukan saja syarat-syarat kepentingan bersama sebagai tandingan penggumpalan kekayaan lewat proses akumulasi kapital, tapi juga keutuhan fungsi-fungsi faal lapisan bumi yang dapat ditinggali manusia. Syarat ekologis tersebut menemukan dimensi sosialnya sebagai syarat kepentingan bersama yang dimensi waktunya jauh lebih panjang dari panjang-usia sebuah generasi. Dengan demikian medan perubahan yang menuntut tindakan kolektif bercakupan sosial-ekologis. Seperti apa konsekuensi dari penglihatan seperti ini? Sementara perombakan politik boleh jadi harus dibayangkan masih akan berjalan dalam batas-batas negeri, syarat- syarat sosial-ekologis yang menentukan berguna tidaknya sebuah pembaruan politik ‘nasional’ harus dipelajari, dimengerti dan dipenuhi pada tingkat asasi —dengan keberlakuan melampaui batas-batas geopolitik formal yang ada saat ini.
  • 7. Bisa jelaskan mengenai finansialisasi, dan mengapa ia menjadi corak yang khas dalam kapitalisme? Cerita tentang finansialisasi punya banyak sisi. Finansialisasi mengacu pada pola baru akumulasi melalui pipa-pipa keuangan yang mengungguli penciptaan nilai lewat produksi dan perdagangan barang. Cerminannya dalam proses sosial antara lain adalah meningkatnya kuasa politik dan ekonomik dari ‘kelas rentier’. Daya dorong dari institusi dan mekanisme politik elektoral memudar di hadapan gejala finansialisasi segalanya tersebut. Alir keuangan publik menjadi bagian dari medan akumulasi kapital keuangan global. Barang kebutuhan publik seperti sumber energi primer secara sistematis diubah makna sosialnya, dari ‘infratruktur ekonomik’ menjadi barang, yang alirnya dipandu oleh mekanisme harga internasional. Mandat pengurus negara untuk menjamin keselamatan warga dan keutuhan ruang-hidupnya menjadi subordinat dari terpeliharanya kelancaran alir kapital dan perluasan sirkuit-sirkuitnya. Ruang-ruang hidup warga di darat dan di laut beserta kandungan bahan mentahnya resmi diperlakukan sebagai bagian dari medan akumulasi keuangan. Finansialisasi juga merupakan sisi lain dari hegemoni dolar AS dalam transaksi keuangan di seluruh dunia, setelah tamatnya rezim Bretton Woods. Di bawah kuasa kapital keuangan dan cairnya alir keuangan antar negara, negara-negara yang hendak menempuh jalan lain dengan mudah bisa ‘dihukum’ lewat berbagai mekanisme. Kalau kita lihat rontoknya Wall Street di AS di 2008 sebagai jantung kapital keuangan global dalam lintasan perkembangannya sejak Depresi Besar 1929, jelas bahwa gejala finansialisasi tidak akan mengatasi cacat genetik kapitalisme keuangan yaitu ketidak- stabilan sistemnya sendiri. Kekuatan sebuah ekonomi dengan finansialisasi terletak pada kemampuannya menciptakan kredit dari nol, meminjamkan dan menarik bunganya, dan memilih menyalurkan labanya pada sirkuit yang sama. Di 2012 nilai nominal dari instrumen derivatives ditaksir lebih dari 600 Triliun dolar AS, atau setara dengan sembilan kali GDP dunia. Dengan kecepatan pengaliran dana ke manapun dalam hitungan menit, kecepatan perluasan pasar lahan global dan mekanisme rampas lahannya lewat berbagai instrumen keuangan juga ikut naik. Syarat dari penguasaan lahan dalam hal ini adalah terpenuhinya syarat legalitas lahan sebagai sebuah kelas aset. Redistribusi lahan-tani dengan sertifikasi dapat dibaca sebagai akuisisi finansial, bukan transfer aset ke pekerja-tani. Bicara reforma agraria artinya kita harus bicara tentang transformasi, bukan redistribusi lahan. Apa gunanya kita mengolah lahan satu hektar kalau seluruh aliran uang dari rente dan surplusnya dirancang untuk menghisap produsennya?
  • 8. Sertifikasi aset bukan saja menyangkut lahan, tetapi juga berbagai jenis infrastruktur — salah satu kelas aset yang tertinggi produktivitas asetnya. Lakon percepatan konstruksi infrastruktur di Asia tenggara, sebagai contoh, dapat diperiksa berdasarkan logika tersebut tadi. Dalam propaganda mengenai makna kenaikan GDP sebagai peningkatan kesejahteraan, siapa yang diuntungkan dalam cerita itu? Sisi lain dari percepatan penguasaan ruang lewat mekanisme kapital keuangan tersebut adalah berlangsungnya percepatan pembongkaran dan perubahan bentang alam beserta infrastruktur ekologisnya. Air dan pegunungan sebagai wilayah resapan dikenai valorisasi finansial, lewat transformasi keberadaaannya menjadi barang-barang yang dapat dikuantifikasi. Fungsi ekologis yang rumit dari karst dapat disetarakan dengan berat keseluruhan gamping yang membentuknya, diukur dalam satuan ton. Ekosistem hutan yang begitu rumit bangunan dan fungsi-fungsi faalnya direduksi menjadi bobot karbon yang terkandung pada pohon dan lapisan akarnya, untuk dikonversi nilai finansialnya. Pelepasan makna dari fungsi makin panjang daftarnya. Kajian lingkungan hidup strategis bahkan bisa digunakan untuk mengkonversi ‘derita’ atau kenaikan entropi sosial ke dalam kuanta. Lebih dari semata perubahan dalam moda dominan akumulasi, gejala finansialisasi juga memicu destabilisasi sosial-ekologis secara besar- besaran, yang belum pernah berlangsung pada episoda perkembangan kapitalisme sebelumnya. Integrasi ekonomi tempatan di Asia yang meminta syarat-syarat kepatuhan sosial yang lebih ketat boleh jadi akan mendorong pembesaran basis gerakan buruh pabrik serta perlawanan terhadap pencaplokan ruang-ruang hidup di situs-situs industri keruk. Lebih jauh, gejala finansialisasi juga mencerminkan proses sosialisasi resiko dan privatisasi segalanya dari proses akumulasi. Kita sekarang berada pada garis depan kemajuan dari lex mercatoria, rezim hukum untuk membela kepentingan dagang. Kontradiksi di antara berbagai institusi, mekanisme dan instrumen kenegaraan dewasa ini kecil sekali kemungkinannya untuk diatasi dari dalam tubuh birokrasi negara. Privatisasi proses legislasi dan peradilan menjadikannya mustahil dilakukan. Tanpa penguatan desakan rakyat, pengurus negara dan kantor-kantor negara akan melindungi dan menjamin kelancaran aliran investasi, bukan pemenuhan hak rakyat. Pertanyaan yang menurut hemat saya penting begini: kalau kapital keuangan adalah mekanisme alir kapital, seperti apakah transformasi sosial-ekologis yang didorongnya? Lebih dari sekedar ‘finansialisasi produksi-konsumsi barang’, kelihatannya kita tengah dipertalikan oleh sebentuk protokol reproduksi-kehidupan yang patuh bukan pada etika
  • 9. reproduksi kehidupan yang memulihkan dan memperbaiki, melainkan pada logika akumulasi. Bisa ceritakan tentang SDE (Sekolah Demokrasi Ekonomi)? Dorongan awal penumbuhan SDE adalah kehendak untuk menciptakan cara dan ruang- bertutur tandingan mengenai dinamika krisis berdimensi ekologis dan kemanusiaan, terutama yang dipicu oleh pembesaran rerantai ekonomik. Jika perubahan bisa dituturkan dalam kerangka ruang-waktu dan pengalaman sang subjek di dalam ruang- hidupnya sendiri, yang bersangkutan akan terlibat dalam proses belajar memahami medan interaksi di antara perubahan dalam rerantai ekonomik dengan perubahan dalam rerantai kemasyarakatan/kemanusiaan kehidupannya serta rerantai ekologis dari bentang alam yang merumahinya, dan memudahkan perumusan tindakan untuk mempengaruhi arah perubahan di situ. Apabila perambatan dan pengayaan pengetahuan/pengalaman bertindak lewat proses belajar tersebut bisa dikelola dengan baik, pembalikan kecenderungan percepatan pemburukan krisis akan berlangsung sebagai praktik sosial di berbagai konteks institusional dari para pelajarnya. Dengan beberapa kelengkapan alat bantu bercakap-cakap, tuturan mengenai perubahan yang sekarang didominasi oleh sistem bertutur dari dalam rerantai ekonomik dapat dipetakan duduk perkaranya dengan menaruhnya kembali di dalam rerantai sosial dan rerantai ekologis. Sebagai ilustrasi, terdapat perbedaan mendasar di antara sistem bertutur yang berpusat pada rerantai ekonomik, sosial dan ekologis, dalam tuturan tentang waktu, ruang, daya ubah, identitas genetik yang mengalami perubahan dan logika perubahan. Konstruksi sosial dari tuturan dominan tentang ekonomi politik energi, misalnya, bukan saja punya bias mencolok pada sisi pasokan, tetapi juga mengerutkan soal energi sebagai urusan energetika bagi reproduksi sosial-ekologis, menjadi urusan kecukupan sumber energi primer untuk kesinambungan industrialisme kapitalistik. Keselarasan ruang-waktu bagi proses reproduksi rerantai sosial dan rerantai ekologis hilang dari pertimbangan dan penglihatan publik. Pasokan listrik poros kapital keuangan Sudirman- Thamrin di Jakarta sepanjang 6.3 km diperkirakan tak jauh berbeda dari pasokan listrik seluruh propinsi Kalimantan Timur. Jakarta dengan populasi 10 juta, luas 661.5 km2, setara pasokan listriknya dengan pulau Sumatra yang memiliki populasi 50 juta dan luas 443065 km2. Cerita seperti ini menunjukkan bahwa moda perubahan di ketiga rerantai berlangsung dalam ‘jenis waktu’ atau chronotype yang berbeda. Percepatan konsumsi sumber energi fosil untuk pembangkitan daya listrik tidak mengacu pada metabolisme
  • 10. sosial di sebuah ruang-hidup, melainkan pada pertimbangan perluasan rerantai ekonomik. Serupa, percobaan penyatuan zona waktu di seluruh kepulauan Indonesia untuk kelancaran finansialisasi ekonomi mengecil-ngecilkan pentingnya perbedaan zona waktu di ujung barat laut Sumatra dengan di ujung timur Papua bagi kehidupan sehari- hari warga masyarakat, yang mustahil dikuantifikasi, apalagi dinilai harga uangnya. Dalam proses belajar-bersama atau social-learning ini, bagaimana orang menemukan tubuh dari perlawanannya? Kata organisasi sendiri kan kita harus pertanyakan kembali. Kita bicara sebuah proses sosial yang pada kenyataannya tidak berlangsung menurut batas-batas institusional. Pada saat yang sama kita juga lihat bahwa krisis sosial itu tidak berlangsung di ruang hampa. Di Kalimantan Timur misalnya, kita harus bicara krisis yang bagaimana, sangat spesifik zona ruang-waktunya. Kita bicara sosialnya, bicara ekologisnya, bicara yang kita lawan, ekonominya begini, lalu setelah itu kita meski ngapain? Sense itu penting sekali untuk kita mengerti. Oleh karena itu kemudian kita menggunakan sebuah alat bercakap-cakap, ‘kesatuan sosial-ekologis menyejarah’, sebuah construct yang menunggu dimaknai oleh pengalaman batin sang subjek belajar. Dengan begitu yang bersangkutan bisa mempertautkan apa yang tengah atau sudah menjadi kenyataan secara ex-post. Yang hilang dalam abstraksi, pemodelan berlebihan atau yang merancukan tuturan rerantai ekonomik dengan yang sosial dan ekologis, menemukan tuturan yang lebih utuh. Masalah ‘penglihatan terbalik’ dalam kajian ideologi, karena efek kamar-gelap atau camera obscura, dapat diperiksa dengan cepat. Kita sekarang hidup dalam sebuah pelapisan proses kehilangan, seperti yang disiratkan oleh penulis Kiran Desai dalam ‘The Inheritance of Loss’. Warga kampung mewarisi kehilangan, dan dalam pemburukan krisis, peran sejarahnya adalah mewariskan kehilangan yang berlapis-lapis. Ketika sebuah rombongan belajar di sebuah situs krisis memutuskan untuk belajar bersama melawan perusakan dan memulihkan, proses sengit untuk menuturkan ‘siapa kami’, ‘gambaran tentang ruang hidup kami’ dan ‘apakah kami merupakan bagian dari subyek sejarah yang lebih besar yang sama-sama mengalami krisis’ menjadi titik berangkat dari proses pemetaan perubahan di wilayah hidup si rombongan. Ketiganya bersifat vital untuk memulai perubahan secara kolaboratif, yang tepi ruang-waktunya diputuskan si pelajar. Untuk melakukan ‘dekolonisasi’ terhadap tuturan ekonomika neoklasik mengenai rerantai ekonomik di situ, pelajar belajar memetakan lintasan perubahan sosial dan ekologis dari dinamika produksi-konsumsi energi dan bahan di situ ke dalam kategorisasi mendasar, mana-mana yang mendorong destabilisasi sosial atau ekologis, dan mana yang memulihkan kerusakan atau menguatkan. Kualifikasi
  • 11. diperiksa dengan mengacu pada syarat-syarat keselamatan dan keutuhan ruang-hidup yang dirumuskan oleh si rombongan belajar. Rombongan belajar dapat berkolaborasi dengan rombongan lain dan menggunakan berbagai alat bantu yang lebih lengkap, jika dibutuhkan pemeriksaan lebih seksama terhadap vektor-vektor pendorong perubahan, misalnya untuk sebuah pulau berukuran 5000 kilometer persegi, atau untuk merumuskan bagaimana pengurusan tandingan konsumsi air pada skala negeri atau bumi, atau memeriksa daur-hidup beberapa cabang industri yang memicu pemburukan krisis. Untuk memotong proses melingkar pemburukan krisis oleh moda pengurusan publik buta krisis dan moda perluasan ekonomik pendorong krisis, harus dinyatakan adanya sebuah imperatif pembalikan krisis. Agenda belajar-bersama yang mendesak adalah menaruh kembali seluruh rerantai ekonomik sebagai urusan rumah-tangga dari rerantai sosial dengan segenap persyaratan keselamatan dan keadilan di dalamnya, dan bersamaan dengan itu, menempatkan kembali proses sosial —termasuk penyelarasan rerantai ekonomik pada logika metabolisme sosial— di dalam ikhtiar menjawab pemburukan krisis ekologis berskala bumi sekarang. Pada tataran praktik sosial, proses belajar mencakup tiga agenda belajar. Pertama, penerapan logika tandingan dari produksi-konsumsi bahan dan energi, merujuk pada syarat-syarat keselamatan manusia dan keutuhan fungsi-fungsi faal biosfera. Kedua, perumusan dan penerapan protokol tandingan pengurusan perubahan yang bertujuan membalik kecenderungan pemburukan krisis. Ketiga, menumbuhkan praktik belajar-bersama yang bersifat membongkar sekat-sekat antar rombongan dan institusi, serta berskala majemuk, bergantung pada kekhasan konteks sosial-ekologis dari subyek dan wilayah belajarnya. Dari perjalanan awal selama empat-belas semester ini, proses belajar SDE di kepulauan juga menjadi bagian dari prakarsa-prakarsa belajar serupa di dan mengenai Asia daratan, Amerika utara dan selatan, Eropa dan Afrika. Tafsir mekanistik bahwa kemajuan dalam proses akumulasi kapital harus disambut hangat karena akan mendorong penguatan politik kelas pekerja-tanpa-aset terbukti meleset. Pemburukan krisis dalam rerantai ekologis dari biosfera menurut hemat kami merupakan sebuah medan baru yang baru sedikit sekali kita mengerti dan petakan. Pertanyaannya, bagaimana mempercepat cara belajarnya, tanpa menebalkan sekat-sekat fragmentasi bagi yang berkesediaan melawannya. Proses sosial yang meminta keterlibatan kita sekarang mirip dengan sebuah proses belajar menguasai kembali kecakapan berbahasa, menemukan kata untuk menuturkan kerumitan krisis, dan untuk membayangkan apa yang harus kita kerjakan dan harus kita
  • 12. urus. Pembebasan dari segala yang buruk yang kita warisi dan wariskan menuntut ontologi tandingan tentang rerantai ekonomik yang patuh pada etika kemanusiaan dan ekologis. Bukan sebagai lokasi ruang-waktu impian, tetapi sebagai sumber inspirasi untuk merintisnya. Di berbagai wilayah krisis tersebut, hilangnya ruang-hidup-bersama, atau commons, menjadi salah satu garis depan dalam memahami duduk-perkaranya, menemukan cerita tandingannya, dan merintis praktik belajar-bersama untuk menumbuhkan/merebutnya kembali. Ekonomika menjadi sebuah cerita mengurus rumah-tangga dari berbagai jejaring belajar masyarakat pekerja dan mereka yang mewarisi kehilangan. Dalam praktik belajar bersama itu, kata kerja melawan perusakan dan memulihkan juga menjadi rujukan bagi riset dan pertukaran pengetahuan antar berbagai jejaring belajar.