SlideShare a Scribd company logo
NAMA : ANINDA WIDYA 
KELAS : 2A 
NIM : 2012001081 
AJARAN KI HAJAR DEWANTARA 
Pendahuluan 
Ki Hadjar Dewantara 
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasKi Hadjar Dewantara 
Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 
menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan 
bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di Yogyakarta, 2 
Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959pada umur 69 tahun[1]; 
selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis 
pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan 
pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. 
Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang 
memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak 
pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. 
Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan 
Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, 
menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya 
diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar 
Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah 
tahun emisi 1998.[2] 
Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Soekarno, 
pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 
Tahun 1959, tanggal 28 November 1959)[3].
http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hadjar_Dewantara 
Tiga puluh enam tahun yang lalu, tepatnya tahun 1976, saya memulai sekolah di 
Taman Muda ( Sekolah SD di Tamansiswa), 5 tahun setelah itu masuk di Taman 
Dewasa ( Sekolah SMP di Tamansiswa) . Tahun 1988 saya mulai menjadi guru di 
Taman Dewasa ( SMP Tamansiswa ) Cibadak sampai dengan tahun 2005. Sejak 
itu saya diangkat jadi PNS dan sekarang mengajar di SMP Negeri 3 Cibadak. 
Sebuah perjalanan pendidikan yang tak bisa di lepaskan dari sosok seorang 
Soewardi Suryaningrat ( lebih terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara), Bapak 
Pendidikan kita semua, yang tanggal kelahirannya, 2 Mei di peringati sebagai 
Hari Pendidikan Nasional. 
Ki Hajar Dewantara terkenal dengan ajarannya Sistem Among ( Tutwuri 
handayani, Ing Madya mangun karsa, Ing ngarsa sung tulada) di Tamansiswa, 
ialah suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan 1) 
Kodrat Alam, sebagai syarat untuk mencapai kemajuan dengan secepatcepatnya 
dan sebaik-baiknya; 2) Kemerdekaan, sebagai syarat untuk menghidupkan dan 
menggerakkan kekuatan lahir batin anak, agar dapat memiliki pribadi yang kuat 
dan dapat berpikir serta bertindak merdeka. Sistem tersebut menurut cara 
berlakunya, juga disebut sistem Tutwuri Handayani. 
Apa yang terjadi sekarang ini? Dunia pendidikan di hebohkan dengan tawuran 
antar pelajar mulai dari anak-anak SMP, SMA/SMK sampai perguruan tinggi, 
hampir setiap hari menghiasi surat kabar dan Televisi. Para guru rame mencari 
metode dan model pengajaran yang relevan dengan era dan jaman yang serba di 
gital. Mereka lupa, bahwa kita punya seorang pahlawan pendidikan yang harus 
nya jadi tauladan dan panutan para siswa dan pendidik di negeri ini. Kita 
kehilangan karakter dan kepribadian bangsa. Erosi sikap dan perilaku sudah 
menjalar di setiap aktifitas para siswa dan guru. 
Kilas balik Sang Pahlawan Pendidikan Nasional kita. Beliau di lahirkan pada 
tanggal 2 Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. 
Ajarannya yang terkenal ialah sistem Among yang terdiri dari tut wuri handayani 
(di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah 
menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan 
memberi teladan). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 28 April 1959 dan 
dimakamkan di Yogyakarta.
” Album Kenangan Saya Bersama Peserta Didik SMP Tamansiswa Cibadak Saat 
Zarah Ke Makam Ki Hajar “ 
Kiprah dan perjuangan beliau patut jadi panutan dan motivasi buat kita. Bangsa 
ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan 
bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, 
adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus 
didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi . 
Beliau mendirikan Perguruan Tamansiswa pada tahun 1922, dimana pendidikan 
Tamansiswa berciri khas Pancadarma, yaitu 1) Kodrat Alam; 2) Kemerdekaan; 3) 
Kebudayaan; 4) Kebangsaan; 5) Kemanusian, yang berdasarkan Pancasila. 
Buah pikiran beliau tersimpan di Museum Dewantara Kirti Griya Yogyakarta (di 
Pusat Perguruan Tamansiswa Yogyakarta). Museum ini di bangun untuk 
melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam 
museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri 
Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang 
berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat 
semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan 
sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas 
bantuan Badan Arsip Nasional. Apakah kita pernah kesana? Tak sedikit diantara 
kita yang belum pernah ataupun tak tahu sama sekali. Inilah kondisi kita sekarang 
ini. 
” Album Kenangan Saya saat berkunjung Ke Majelis Luhur Tamansiswa dan 
Museum Dewantara “ 
“JAS MERAH” JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH . Ya…inilah seharusnya 
selaku warga dari bangsa yang besar jangan sekali-kali melupan sejarah. Kita bisa 
hidup nyaman, mencari ilmu setinggi-tingginya, berekspresi di manapun, salah 
satunya di kompasiana ini, tentu salah satunya adalah berkat jasa Beliau, sang 
Pahlawan Pendidikan Nusantara kita yang mulai di lupakan. 
” Ki Hajar Dewantara” pantas rasanya kita kedepankan di era sekarang ini. Era 
yang serba syarat konplik. penuh dengan demo-demo, kreatifitas yang kebablasan, 
karakter bangsa yang mulai luntur, kepribadian yang semakin sirna dari
akhlaqurkarimah, dan ego yang tinggi untuk menyelesaikam masalah semau dan 
seenaknya tanpa memikirkan orang lain. 
Prihatin rasanya kita sebagai bangsa yang besar, yang pahlawan kebangsaannya 
cukup disegani di seluruh dunia, tapi mulai melupakan para pahlawannya begitu 
saja hanya karena memikirkan sesuatu yang tak jelas. 
Pahlawan Nusantara ini lah yang menurut saya yang perlu di kedapankan dengan 
alasan : 
1) Saya di ajari, didik dan di latih di Tamansiswa, setidaknya paham dan 
mengetahui bagaimana ajaran-ajaran Ki Hajar Dewantara yang masih relevan dan 
tak usang di makan waktu, seperti sistem Among ( Tutwuri Handayani, Ing 
Madya Mangun Karsa, Ing Ngarso Sung Tulodo) yang di gunakan untuk 
mengajar, mendidik, dan melatih para siswa. 
2) Ajaran beliau tentang budi pekerti setidaknya diperlukan sekali di jaman dan 
era tawuran di kalangan pelajar sekarang ini. 
3) Perguruan Tamansiswa menyebut gurunya dengan Pamong, yang berarti harus 
ngemong dan mengawasi peserta didik setidaknya selama 24 jam, sehingga 
peserta didik akan terawasi dan terjaga dari hal-hal yang negatif. 
4) Beliau ( Ki Hajat Dewantara) adalah tokoh kebangsaan yang sepak terjangnya 
dalam dunia pendidikan di akui secara nasional dan internasional. 
5) Jiwa jurnalis, wartawan, aktif di organisasi sosial dan politik, serta jiwa 
kebangsaannya tak perlu di ragukan lagi. Dengan tulisannya “Seandainya Aku 
Seorang Belanda” (judul asli: “Als ik een Nederlander was”) yang isinya cukup 
pedas sekali di kalangan Hindia Belanda pada waktu itu. 
Berikut kutipannya : 
(Sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hadjar_Dewantara ) 
“Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta 
kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar 
dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk 
menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk 
menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita
keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau 
aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan 
sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi 
suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”. 
6) Jika kita mau menggali dan berjiwa kebangsaan, guru profesional itu 
sebenarnya adalah guru yang menjalankan ajaran Ki Hajar Dewantara. Ki Hadjar 
Dewantara merangkum konsep yang dikenal dengan istilah Among Methode atau 
sistem among. AMONG mempunyai pengertian menjaga, membina dan mendidik 
anak dengan kasih sayang. Pelaksana “among” (momong) disebut PAMONG, 
yang mempunyai kepandaian dan pengalaman lebih dari yang diamong. Guru atau 
dosen di Tamansiswa disebut pamong yang bertugas mendidik dan mengajar anak 
sepanjang waktu. Tujuan sistem among membangun anak didik menjadi manusia 
beriman dan bertakwa, merdeka lahir batin, budi pekerti luhur, cerdas dan 
berketrampilan, serta sehat jasmani rohani agar menjadi anggota masyarakat yang 
mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan tanah air serta manusia pada 
umumnya. 
Sistem among mengharamkan hukuman disiplin dengan paksaan/kekerasan 
karena itu akan menghilangkan jiwa merdeka anak. Kini orang banyak melihat 
tayangan kekerasan, misalnya saja film anak “Tom & Jery” yang melaksanakan 
hukuman kepada sesama dengan meledakkan dinamit. Hal ini tidak sesuai dengan 
pendidikan anak bila kita ingat sifat kodrati anak “nonton, niteni, niroke”. 
Sinetron tertentu ada yang dengan lugas melampiaskan kekerasan dan dendam. 
Sebaiknya orang tua mencermati, mengarahkan dan memilih tayangan TV di 
rumahnya. Sistem Among dilaksanakan secara “tut wuri handayani” dimana kita 
dapat “menemukenali” anak, bila perlu perilaku anak boleh dikoreksi (handayani) 
namun tetap dilaksanakan dengan kasih sayang. 
(sumber:http://www.tamansiswa.org) 
7) Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para Pahlawannya. Kenapa 
kita tidak menghargai Ki Hajar Dewantara bapak pendidikan Nasional kita mulai 
sekarang ini ? 
http://lsmkomporsmi.wordpress.com/tag/ki-hadjar-dewantara/
Ajaran Ki Hajar Dewantara Tentang Kepemimpinan 
21.24 Suwandi Suwee No comments 
Ki Hajar Dewantara adalah tokoh dan pelopor pendidikan di Indonesia, yang 
mendirikan Perguruan Taman Siswa di tahun 1922. Di dalam mengelola 
perguruan tersebut, Ki Hajar memiliki moto dalam bahasa jawa yang berbunyi: 
Ing ngarso sung tulodho, ing madaya mangun karsa, tut wuri handayani.Moto 
tersebut terjemahan langsungnya adalah “di depan memberikan teladan, di tengah 
menggerakkan, di belakang memberikan dorongan”. Moto tersebut pada mulanya 
ditujukan untuk menjadi pedoman untuk membangun kultur positif antara guru 
dan murid, namun dalam perkembangannya konsep tersebut digunakan menjadi 
konsep kepemimpinan, yang khas dan asli Indonesia. 
Seorang pemimpin sejati memandang orang lain sebagai “manusia” yang harus 
dihargai karena sifat kemanusiaannya. Seorang pemimpin sejati “nguwongake”, 
memanusiakan manusia. Kaya-miskin, besar-kecil, tinggi-pendek, manajer-karyawan 
hanyalah variasi. Hakekatnya tetap manusia. Seorang pemimpin sejati 
menghormati orang yang ‘memimpin’ dan menghormati pula orang yang 
‘dipimpin’. Memimpin-dipimpin adalah alami, bahkan tidak bisa dihindari. Sudah 
kodrat manusia untuk memimpin, dan kodrat pula untuk dipimpin. Untuk itulah 
dikotomi atasan-bawahan sebenarnya kurang tepat, karena yang sebenarnya ada 
hanyalah perbedaan peran. Dikotomi atasan bawahan menimbulkan efek 
berkuasa-tidak berkuasa, atau setidak-tidaknya mengutamakan tingkatan 
kekuasaan. Inilah yang kurang tepat. 
Pendekatan yang lebih alami adalah menempatkan manusia pada perannya 
masing-masing, dimana semuanya sama pentingnya. Seorang pemimpinpun 
demikian, harus mampu berperan pada tempat dimana ia berada, pada saat di 
depan, di tengah, maupun di belakang. 
Saat Pemimpin di Depan, Seorang pemimpin adalah panutan. Sebagai panutan, 
orang lain yang ada disekitarnya akan manut(bahasa jawa, yang artinya 
mengikuti, meniru). Disini bisa dilhat betapa besarnya tanggungjawab moral 
seorang pemimpin, karena tindak-tanduknya, tingkah lakunya, cara berfikirnya, 
bahkan kebiasaannya akan cenderung diikuti orang lain. Untuk itulah maka saat 
berada di depan, pemimpin harus memberikan teladan, memberikan contoh. Ini 
disebutkan oleh Ki Hajar dengan terminologi “ing ngarso sung tulodho”, saat di 
depan seorang pemimpin harus memberi teladan. 
Saat Pemimpin di Tengah, Seorang pemimpin yang berada di tengah-tengah 
orang-orang yang dipimpinnya, harus mampu menggerakkan, memotivasi, dan
mengatur sumberdaya yang ada (empowering). Pada dasarnya setiap orang 
memiliki kemampuan untuk memotivasi diri sendiri (intrinsic motivation), 
sehingga ada ataupun tidak adanya stimuli tetap saja akan termotivasi. Hanya saja, 
kadar motivasi dari diri sendiri sering tidak stabil kehadirannya. Untuk itulah 
maka motivasi dari luar dirinya (extrinsic motivation) tetap sangat diperlukan. 
Disinilah seorang pemimpin dapat mengambil peran. Kehadirannya membuat 
orang tergerak untuk bertindak. Itulah pemimpin sejati. 
Saat Pemimpin di Belakang, Siapa bilang seorang pemimpin tidak boleh berada di 
barisan belakang? Pemimpin sejati diperlukan kehadirannya dibarisan belakang. 
Dari belakang seorang pemimpin dapat memberikan dorongan untuk terus maju. 
Pemimpin yang berada di barisan belakang harus pandai-pandai mengikuti barisan 
di depannya, agar konsisten gerakan dan arahnya , agar terjadi apa yang disebut 
goal cogruency, suatu keadaan di mana tujuan individu yang berada dalam suatu 
organisasi konsisten dengan tujuan organisasi. Tanpa goal congruency arah 
gerakan organisasi menjadi berat karena banyaknya arah yang tidak sama dan 
mungkin justru saling berlawanan. Seorang pemimpin sejati harus bisa ngemong 
(bahasa jawa yang berarti melayani, mengasuh, take care of). Bagaimana seorang 
penggembala itik berjalan diposisi paling belakang setelah barisan itik-itik yang 
digembalanya sering digunakan sebagai ilustrasi untuk menggambarkan 
bagaimana seorang pemimpin dapat mengarahkan orang dari belakang. Setiap 
orang memiliki bakat sendiri-sendiri. Setiap orang juga memiliki kemampuan 
untuk bisa bergerak maju mendapatkan apa yang mereka mau, dan juga apa yang 
diinginkan oleh organisasi. Pemimpin sejati memberikan dorongan dari belakang, 
tetap mengarahkan agar sesuai tujuan, dan mampu memastikan bahwa orang-orang 
di dalam organisasi bekerja sesuai dengan 
arah dan strategi yang telah ditetapkan. Jadi, seorang pemimpin sejati akan tut 
wuri handayani 
http://suwandisuwee.blogspot.com/2012/07/ajaran-ki-hajar-dewantara-tentang. 
html 
Ajaran Ki Hajar Dewantara 
KI Hajar Dewantara sebagi bapak pendidikan nasional mempunyai banyak 
ajaran yang bisa digunakan sebagai landasan dalam proses pendidikan. Tiga
ajaran yang sangat terkenal dari beliau adalah ing ngarso sung tulodho, ing madyo 
mangun karso dan tut wuri handayani. Ing ngarso sung tulodho secara ringkas 
dapat dipahami bahwa seorang pemimpin (dalam profesi dan jabatan apapun) 
harus mampu menjadi contoh dalam segala aspek oleh seluruh pihak yang 
dipimpinnya, ing madyo mangun karso memberikan ajaran bahwa pemimpin 
berada di tengah-tengah pihak yang dipimpinnya dengan maksud pemimpin 
memahami riil permasalah dan mencarikan solusi terhadap permasalahan tersebut 
serta tut wuri handayani yang dapat dimaknai bahwa seorang pemimpin dituntut 
sanggup memberikan motivasi dan menciptakan suasana sehingga pihak yang 
dipimpinnya senantiasa mempunyai produktifitas tinggi 
Berdasar informasi dari media massa, dalam hal ini media televisi dan 
media cetak kita sering membaca dan melihat hitam –putih profil pemimpin kita, 
baik pemimpin di bidang eksekutif, yudikatif, maupun legislative. 
Dalam acara Indonesia lawyer club ditampilkan aneka permasalahan yang 
dialami pemimpin kita, permasalahan seputar korupsi, kolusi, nepotisme, 
penyalahgunaan wewenang dan sebagainya menjadi topik yang selalu dibahas 
dalam acara diskusi tersebut. Korupsi dengan hitungan milyar dilakukan oleh 
pemimpin-pemimpin dalam segala bidang, seperti : 
 Korupsi wisma atlet, 
 Suap pemilihan deputi Bank Indonesia, 
 Korupsi oleh pergawai ditjen pajak, 
 Pelanggaran HAM dalam kasus Mesuji, 
 Penyelewengan dana APBD, 
 Pembelanjaan bersumber dari APBN dengan alokasi yang tidak rasional dan 
lain-lain. 
Prestasi dan penghargaan yang diterima oleh para pemimpin seperti 
rangkaian penghargaan yang diterima oleh gubernur jawa tengah, capaian – 
capaian dalam penanganan kejahatan terorisme oleh institusi POLRI, pemenjaraan 
terpidana kasus korupsi oleh Komisis Pemberantasan Korupsi (KPK) dan lain-lain 
merupakan hal lain yang patut kita apresiasi. 
Karakteristik pemimpin dalam ajaran Ki Hajar Dewantara patut 
direnungkan, diapresiasi bahkan dijadikan sebagai ruh pendidikan dalam 
pengkaderan para calon pemimpin kita di segala bidang. Keserasian langkah 
semua komponen negara (eksekutif, legislative, yudikatif) dalam memberikan 
tauladan kepemimpinan yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotifme menjadi 
hal wajib yang harus dipenuhi dalam rangka memberi contoh kepada pihak yang 
dipimpinnya. 
Pandangan yang menyatakan bahwa pendidikan terjadi hanya di lembaga 
pendidikan formal selayaknya dirubah. Proses tumbuh kembang anak terjadi di 
lingkungan beragam, dimulai dari keluarga hingga teman sebaya lalu memasuki 
lingkungan pendidikan formal dan berakhir dalam masyarakat, oleh karena itu 
keterlibatan semua pihak diperlukan guna ketercapaian pembentukan karakter 
pemimpin yang bisa memberi tauladan dan memberi motifasi 
Apabila pendidikan menjadi kewajiban bersama tidak hanya kewajiban
lembaga pendidikan formal maka perlu usaha dari semua pihak yang terlibat 
dalam proses sosialisasi peserta didik. Agen-agen perubahan social : Sekolah, 
keluarga, institusi agama, media massa, teman sepermainan harus mampu 
menyatukan visi dan semangat pendidikan yang sesuai dengan ajaran Ki Hajar 
Dewantara. Lembaga pendidikan sebagai salah satu agen perubahan social yang 
berpengaruh dalam merubah pola pikir, sikap dan sifat orang menjadi lembaga 
yang mutlak harus dibenahi guna mengatasi permasalahan di atas. Sistem 
pendidikan nasional disusun sehingga mampu menciptakan output-output yang 
mempunyai karakter unggul sebagai pemimpin, kurikulum dirancang dengan 
semangat merubah peserta didik menjadi tahu dan memiliki karakter pemimpin 
dalam semua disiplian keilmuan. 
Keluarga sebagai agen perubahan lain juga berperan penting dalam 
internalisasi karakter pemimpin sebagaimana ajaran Ki Hajar Dewantara. Orang 
tua menjadi pihak pertama yang memberikan pemahaman mengenai 
kepemimpinan kepada anak, pola asuh yang ditandai dengan kekerasan fisik 
mapun psikis, anak terlalu dikekang, kurang menghargai persahabatan akan 
menciptakan pemimpin yang kurang menghargai sesame, otoriter, tidak punya 
empati dan lain-lain. 
Read more at http://critoqu.blogspot.com/2012/07/ajaran-ki-hajar-dewantara. 
html#UerxcHx1S2dtFF0w.99 
http://critoqu.blogspot.com/2012/07/ajaran-ki-hajar-dewantara.html 
Konsep Pendidikan Menurut Ajaran Ki Hadjar Dewantara 
Dalam dunia pendidikan, sosok Ki Hadjar Dewatara sebagai Bapak pendidikan 
bangsaIndonesia ini banyak mengajarkan berbagai hal yang sangat terkenal di 
bidang pendidikan. Konsep pendidikan nasional yang dikemukakan sangat 
membumi danberakar pada budaya nusantara, antara lain tutwuri handayani, 
“tripusat” pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat), tringgo (ngerti, ngroso, 
nglakoni) (Tauchid, 2004). 
1. Sistem Among, Tutwuri Handayani 
Kata among itu sendiri berasal dari bahasa Jawa, mempunyai makna seseorang 
yang bertugas ngemong dan jiwanya penuh pengabdian. Sistem among sudah 
dikenal cukup lama di lingkungan Tamansiswa. Sistem among merupakan suatu 
cara mendidik yang diterapkan dengan maksud mewajibkan kodrat alam anak-anak 
didiknya. Cara mendidik yang harus diterapkan adalah menyokong atau 
memberi tuntunan dan menyokong anak-anak tumbuh dan berkembang atas 
kodratnya sendiri. Sistem among ini meletakkan pendidikan sebagai alat dan 
syarat untuk anak-anak hidup sendiri dan berguna bagi masyarakat. Pengajaran 
bagi Tamansiswa berarti mendidik anak agar menjadi manusia yang merdeka
batinnya, merdeka pikirannya, merdeka tenaganya. Guru jangan hanya memberi 
pengetahuan yang baik dan perlu saja, akan tetapi harus juga mendidik murid agar 
dapat mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan 
umum. Pengetahuan yang baik dan perlu itu yang bermanfaat untuk keperluan 
lahir batin dalam hidup bersama. Tiap-tiap guru, dalam pola pikir Ki Hadjar 
Dewantara adalah abdi sang anak, abdi murid, bukan penguasa atas 
jiwa anak-anak (Sudarto, 2008). 
Di lingkungan Tamansiswa sebutan guru tidak digunakan dan diganti dengan 
sebutan pamong. Hubungan antara pamong dan siswa, harus dilandasi cinta 
kasih, saling percaya, jauh dari sifat otoriter dan situasi yang memanjakan. Dalam 
konsep ini, siswa bukan hanya objek, tetapi juga dalam kurun waktu yang 
bersamaan sekaligus menjadi subjek. Ki Hadjar Dewantara menjadikan tutwuri 
handayani sebagai semboyan metode among. Sudarto (2008) mengutip pendapat 
Ki Soeratman yang menyatakan bahwa sikap tutwuri merupakan perilaku pamong 
yang sifatnya memberi kebebasan kepada siswa untuk berbuat sesuatu sesuai 
dengan hasrat dan kehendaknya, sepanjang hal itu masih sesuai dengan norma-norma 
yang wajar dan tidak merugikan siapa pun.Tetapi kalau pelaksanaan 
kebebasan siswa itu ternyata menyimpang dari ketentuan yang seharusnya, seperti 
melanggar peraturan atau hukum masyarakat hingga merugikan pihak lain atau 
diri sendiri, pamong harus bersikap handayani , yakni mempengaruhi dengan 
daya kekuatannya, kalau perlu dengan paksaan dan kekerasan, apabila kebebasan 
yang diberikan itu dipergunakan untuk menyeleweng dan akan membahayakan 
diri. 
Jadi, tutwuri memberi kebebasan pada siswa untuk berbuat sekehendak hatinya, 
namun jika kebebasan itu akan menimbulkan kerugian pamong harus memberi 
peringatan. Handayani merupakan sikap yang harus ditaat oleh siswa hingga 
menimbulkan ketertundukan. Dengan demikian, sebagai subjek siswa memiliki 
kebebasan, sebagai objek siswa memiliki ketertundukan sebagai kewajibannya. 
Ki Hadjar memberi kias sistem among dengan gambaran bahwa guru terhadap 
murid harus berpikir, berperasaan dan bersikap sebagai Juru Tani terhadap 
tanaman peliharaannya, bukannya tanaman ditaklukan oleh kemauan dan 
keinginan Juru Tani. Juru Tani menyerahkan dan mengabdikan dirinya pada 
kepentingan kesuburan tanamannya itu. Kesuburan tanaman inilah yang menjadi 
kepentingan Juru Tani. Juru Tani tidak bisa mengubah sifat dan jenis tanaman 
menjadi tanaman jenis lain yang berbeda dasar sifatnya. Dia hanya bisa 
memperbaiki dan memperindah jenis dan usaha-usaha yang mendorong perbaikan 
perkembangan jenis itu. Juru Tani tidak bisa memaksa tanaman padi mempercepat 
buahnya supaya lekas masak menurut kemauannya karena kepentingan yang 
mendesak, tapi semua itu harus diikuti dengan kesabaran. Oleh sebab itu, Juru 
Tani harus tani harus tahu akan sifat dan watak serta jenis tanaman, perbedaan 
antara padi dan jagung, serta tanaman-tanaman lainnya dalam keperluan masing-masing 
agar tumbuh berkembang dengan subur dan hasil yang baik. Juru Tani 
harus faham akan ilmu mengasuh tanaman, untuk dapat bercocok tanam dengan
baik, agar dapat menghasilkan tanaman yang subur dan buah yang baik. 
Menurut Ki Hadjar Dewantara, Juru Tani tidak boleh membeda-bedakan dari 
mana asalnya pupuk, asal alat kelengkapan atau asalnya ilmu pengetahuan dan 
sebagainya. Namun, harus dimanfaatkan segala yang menyuburkan tanaman 
menurut kodrat alam. Pamong harus punya karakter seperti Juru Tani ini, tidak 
membeda-bedakan anak didik, tetapi berusaha menciptakan agar anak-anak 
didiknya itu tumbuh menjadi anak-anak yang pintar, berjiwa merdeka, tidak 
bergantung dan berharap bantuan orang lain. Metode atau sistem among ini 
tampaknya menjadi ciri khas Tamansiswa, kiranya masih relevan untuk masa 
sekarang ini. Sebab keseimbangan pelaksanaan hak kebebasan 
dan kewajiban dalam metode tersebut merupakan jaminan adanya ketertiban dan 
kedamaian, serta jauh dari ketegangan dan anarki. Dalam dunia pendidikan anak 
didik akan tumbuh dan berkembang, seluruh potensi kodratinya sesuai dengan 
perkembangan alaminya dan wajar tanpa mengalami hambatan dan rintangan. 
Ajaran Ki Hadjar Dewantara ini memberi kebebasan anak didik, yang diharapkan 
anak didik akan tumbuh kemampuannya berinisiatif serta kreatif untuk 
mewujudkan eksistensi manusia. 
Ajaran Ki Hadjar Dewantara selain sistem atau metode among, yakni sistem 
paguron . Sistem paguron ini dinilai mempunyai kecocokan dengan kepribadian 
di Indonesia. Dalam perkembangannya kita melihat implementasinya melalui 
system pendidikan pesantren atau pendidikan asrama. endidiikan system paguron. 
Sistem paguron atau pawiyatan yang digagas beliau, mewujudkan rumah guru 
atau pamong sebagai tempat yang dikunjungi anak didik. Anak didik itulah yang 
dititipkan orang tuanya agar memperoleh pendidikan lanjutan yang terarah, 
terprogram, terkonsep, untuk jenjang kedewasaan yang lebih baik. 
Sistem paguron ini memiliki perbebedaan dengan sistem sekolah. Pada sistem 
paguron, guru dan anak didik berada pada lokasi yang sama dalam kehidupan 
sehari-hari, baik saat di sekolah maupun ketika melakukan interaksi setiap 
harinya, siang, pagi, malam dan berlangsung berbulan-bulan. Sedangkan pada 
sistem sekolah, guru dan anak 
didik sama-sama datang ke tempat pendidikan dalam waktu kurun tertentu, 
kemudian kembali ke tempat mereka masing-masing. Sehingga sistem sekolah 
sifatnya hanya sesaat. Efek paguron lebih baik, karena antara guru dan anak didik 
terjadi transformasi kehidupan yang menyentuh, integral, dan sangat efektif. Di 
dalam paguron dibutuhkan 
para pendidik yang selain memahami ilmu pengetahuan juga memiliki 
kepribadian, baik tingkah lakunya, tutur katanya, sehingga menjadi cermin dan 
panutan. Dengan demikian, anak didik akan mewarisi nilai-nilai kepribadian sang 
guru. 
2. Tringa; Ngerti-Ngrasa-Ngalokoni 
Lickona (1991) dalam bukunya Educating for Character, menekankan pentingnya 
diperhatikan tiga komponen karakter yang baik yakni pengetahuan
tentang moral(moral knowing), perasaan tentang moral (moral feeling) dan 
tindakan moral (moral action). Unsur pengertian moral adalah kesadaran moral, 
pengertian akan nilai, kemampuan untuk mengambil gagasan orang lain, 
rasionalitas moral (alasan mengapa harus melakukan hal itu), pengambilan 
tentang keputusan berdasarkan nilai moral, dan pengertian mendalam tentang 
dirinya sendiri. Segi pengertian atau kognitif ini cukup jelas dapat dikembangkan 
dalam pendalaman bersama di kelas maupun masukan orang lain. Dari segi 
kognitif ini, siswa dibantu untuk mengerti apa isi nilai yang digeluti dan mengapa 
nilai itu harus dilakukan dalam hidup mereka. 
Dengan demikian siswa sungguh mengerti apa yang akan dilakukan dan sadar 
akan apa yang dilakukan. Unsur perasaan moral meliputi suara hati (kesadaran 
akan yang baik dan tidak baik), harga diri seseorang, sikap empati terhadap orang 
lain, perasaan mencintai kebaikan, kontrol diri, dan rendah hati. Perasaan moral 
ini sangat mempengaruhi seseorang untuk mudah atau sulit bertindak baik atau 
jahat; maka perlu mendapat perhatian. Dalam pendidikan nilai, segi perasaan 
moral ini perlu mendapat tempatnya. Siswa dibantu untuk menjadi lebih tertarik 
dan merasakan bahwa nilai itu sungguh baik dan perlu dilakukan. Unsur tindakan 
moral adalah kompetensi (kemampuan untuk mengaplikasikan 
keputusan dan perasaan moral dalam tindakan konkret), kemauan, dan kebiasaan. 
Tanpa kemauan kuat, meski orang sudah tahu tentang tindakan baik yang harus 
dilakukan, ia tidak akan melakukaknnya. Dalam pendidikan karakter, kemampuan 
untuk melaksanakan dalam tindakan nyata, disertai kemauan dan kebiasaan 
melakukan moral harus dimunculkan dan ditingkatkan. Dengan demikian tampak 
jelas bahwa pendidikan karakter diperlukan ketiga unsur pengertian, perasaan, dan 
tindakan harus ada. Pendidikan karakter yang terlalu fokus pada pengembangan 
kognitif tingkat rendah, perlu dilengkapi dengan pengembangan kognitif tingkat 
tinggi sampai subjek didik memiliki keterampilan membuat keputusan moral yang 
tepat secara mandiri, memiliki komitmen yang tinggi untuk bertindak selaras 
dengan keputusan moral tersebut, dan memiliki kebiasaan (habit) untuk 
melakukan tindakan bermoral. 
Ki Hadjar mengartikan pendidikan sebagai daya upaya memajukan budi pekerti, 
pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu 
hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. 
Salah satu nilai luhur bangsa Indonesia yang merupakan falsafah peninggalan Ki 
Hadjar Dewantara yang dapat diterapkan yakni tringa yang meliputi ngerti, 
ngrasa, dan nglakoni . Ki Hadjar mengingatkan, bahwa terhadap segala ajaran 
hidup, cita-cita hidup yang kita anut diperlukan pengertian, kesadaran dan 
kesungguhan pelaksanaannya. Tahu dan mengerti saja tidak cukup, kalau tidak 
merasakan menyadari, dan tidak ada artinya kalau tidak melaksanakan dan tidak 
memperjuangkannya. 
Merasa saja dengan tidak pengertian dan tidak melaksanakan, menjalankan tanpa 
kesadaran dan tanpa pengertian tidak akan membawa hasil. Sebab itu prasyarat 
bagi peserta tiap perjuangan cita-cita, ia harus tahu, mengerti apa maksudnya, apa
tujuannya. Ia harus merasa dan sadar akan arti dan cita-cita itu dan merasa pula 
perlunya bagi 
dirinya dan bagi masyarakat, dan harus mengamalkan perjuangan itu. “Ilmu tanpa 
amal seperti pohon kayu yang tidak berbuah”, “Ngelmu tanpa laku kothong”, laku 
tanpa ngelmu cupet”. Ilmu tanpa perbuatan adalah kosong, perbuatan tanpa ilmu 
pincang. Oleh sebab itu, agar tidak kosong ilmu harus dengan perbuatan, agar 
tidak pincang perbuatan harus dengan ilmu. 
http://hafismuaddab.wordpress.com/2011/05/02/konsep-pendidikan-menurut-ajaran- 
ki-hadjar-dewantara/ 
Fatwa untuk Hidup Merdeka - KHD 
Jum'at, 20 Agustus 2010 
Salam dan bahagia. 
Untuk peneguh keyakinan perjuangan kita, Ki Hadjar Dewantara memberikan kita bundelan 
dan beberapa ajarannya yang disebut "10 Fatwa akan Sendi Hidup Merdeka", untuk diingat-ingat, 
direnungkan, dan diamalkan: 
1. "Lawan Sastra Ngesti Mulya"Dengan pengetahuan kita menuju kemuliaan. lnilah 
yang dicita-citakan Ki Hadjar dengan Tamansiswanya, untuk kemuliaan nusa bangsa 
dan rakyat. Sastra herjendrayuningrat pangruwating dyu, ilmu yang luhur dan mulia 
menyelamatkan dunia serta melenyapkan kebiadaban. Fatwa ini adalah juga 
candrasengkala, mencatat lahirnya Tamansiswa (tahun 1922). 
2. "Suci Tata Ngesti Tunggal"Dengan suci batinnya, tertib lahirnya menuju 
kesempurnaan, sebagai janji yang harus diamalkan oleh tiap-tiap peserta perjuangan 
Tamansiswa. Fatwa ini juga sebagai candrasengkala, mencatat lahirnya Persatuan 
Tamansiswa (Tahun 1923). 
3. "Hak diri untuk menuntut salam dan bahagia"Berdasarkan asas Tamansiswa, yang 
menjadi syarat hidup merdeka berdasarkan pada ajaran agama, bahwa bagi Tuhan 
semua manusia itu pada dasarnya sama; sama haknya dan sama kewajibannya. Sama 
haknya mengatur hidupnya serta sama haknya menjaIankan kewajiban kemanusiaan, 
untuk mengejar keselamatan hidup lahir dan bahagia daIam hidup batinnya. Jangan 
kita hanya mengejar keselamatan lahir, dan jangan pula hanya mengejar kebahagiaan 
hidup batin. 
4. "Salam bahagia diri tak boleh menyalahi damainya masyarakat"Sebagai peringatan, 
bahwa kemerdekaan diri kita dibatasi oleh kepentingan keselamatan masyarakat. 
Batas kemerdekaan diri kita iaIah hak-hak orang lain yang seperti kita masing-masing 
sama-sama mengejar kebahagiaan hidup. Segala kepentingan bersama harus 
diletakkan di atas kepentingan diri masing-masing akan hidup selamat dan bahagia, 
apabila masyarakat kita terganggu, tidak tertib dan damai. Janganlah mengucapkan 
"hak diri" kalau tidak bersama-sama dengan ucapan "tertib damainya masyarakat",
agar jangan sampai hak diri itu merusak hak diri orang lain sesama kita, yang berarti 
merusak keselamatan hidup bersama, yang juga merusak kita masing-masing. 
5. "Kodrat alam penunjuk untuk hidup sempurna"Sebagai pengakuan bahwa kodrat 
alam, yaitu segala kekuatan dan kekuasaan yang mengelilingi dan melingkungi hidup 
kita itu adalah sifat lahirnya kekuasaan Tuhan yang maha kuasa, yang berjalan tertib 
dan sempuma di atas segala kekuasaan manusia. Janganlah hidup kita bertentangan 
dengan ketertiban kodrat alam. Petunjuk dalam kodrat alam kita jadikan pedoman 
hidup kita, baik sebagai alam kita jadikan pedoman hidup kita, baik sebagai orang 
seorang atau individu, sebagai bangsa maupun sebagai anggota dari alarn 
kemanusiaan. 
6. "Alam hidup manusia adalah alam hidup berbulatan"Berarti bahwa hidup kita masing-masing 
itu ada dalam lingkungan berbagai alam-alam khusus, yang saling 
berhubungan dan berpengaruh. Alam khusus ialah alarn diri, alam kebangsaan dan 
alam kemanusiaan. Rasa diri, rasa bangsa dan rasa kemanusiaan ketiga-tiganya hidup 
dalam tiap-tiap sanubari kita masing-masing manusia. Adanya perasaan ini tidak 
dapat diungkiri. 
7. "Dengan bebas dari segala ikatan dan suci hati berhambalah kita kepada Sang 
Anak"Penghambaan kepada Sang Anak tidak lain daripada penghambaan kita sendiri. 
Sungguhpun pengorbanan kita itu kita tujukan kepada Sang Anak, tetapi yang 
memerintahkan kita dan memberi titah untuk berhamba dan berkorban itu bukan si 
anak, tetapi kita sendiri masing-masing. Di sarnping itu kita menghambakan diri 
kepada bangsa, negara, pada rakyat dan agama atau terhadap lainnya. Semua itu tak 
lain penghambaan pada diri sendiri, untuk mencapai rasa bahagia dan rasa damai 
dalam jiwa kita sendiri. 
8. "Tetep – Mantep – Antep"Dalam melaksanakan tugas perjungan kita, kita harus tetap 
hati. Tekun bekerja, tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Kita harus tetap tertib dan 
berjalan maju. Kita harus selalu "mantep", setia dan taat pada asas itu, teguh iman 
hingga tak ada yang akan dapat menahan gerak kita atau membelokkan aliran 
kita.Sesudah kita tetap dalam gerak lahir kita dan mantep dan tabah batin kita, segala 
perbuatan kita akan "antep", berat berisi dan berharga. Tak mudah dihambat, ditahan-tahan 
dan dilawan oleh orang lain. 
9. "Ngandel – Kendel – Bandel"Kita harus "ngandel', percaya, jika kepada kekuasaan 
Tuhan dan percaya kepada diri sendiri. "Kendel", berani, tidak ketakutan dan was-was 
oleh karena kita percaya kepada Tuhan dan kepada diri sendiri. "Bandel", yang berarti 
tahan, dan tawakal. Dengan demikian maka kita menjadi "kendel", tebal, kuat lahir 
batin kita, berjuang untuk cita-cita kita. 
10. "Neng – Ning – Nung – Nang"Dengan "meneng", tenteram lahir batin, tidak nervous, 
kita menjadi "ning", wening, bening, jernih pikiran kita, mudah membedakan mana 
hak dan mana batil, mana benar dan salah, kita menjadi "nung', hanung, kuat sentosa, 
kokoh lahir dan batin untuk mencapai cita-cita. Akhimya "nang", menang, dan dapat 
wewenang, berhak dan kuasa atas usaha kita.
Salam. 
http://www.lp3m.ustjogja.ac.id/list_detail.php?k=1&act=view&id=118 
"Menurut Ki Hadjar Dewantara terdapat lima asas dalam pendidikan yaitu : 
1. Asas kemerdekaan; Memberikan kemerdekaan kepada anak didik, tetapi bukan 
kebebasan yang leluasa, terbuka (semau gue), melainkan kebebasan yang dituntun 
oleh kodrat alam, baik dalam kehidupan individu maupun sebagai anggota 
masyarakat. 
2. Asas kodrat Alam; Pada dasarnya manusia itu sebagai makhluk yang menjadi 
satu dengan kodrat alam, tidak dapat lepas dari aturan main (Sunatullah), tiap 
orang diberi keleluasaan, dibiarkan, dibimbing untuk berkembang secara wajar 
menurut kodratnya. 
3. Asas kebudayaan; Berakar dari kebudayaan bangsa, namun mengikuti 
kebudyaan luar yang telah maju sesuai dengan jaman. Kemajuan dunia terus 
diikuti, namun kebudayaan sendiri tetap menjadi acauan utama (jati diri). 
4. Asas kebangsaan; Membina kesatuan kebangsaan, perasaan satu dalam suka 
dan duka, perjuangan bangsa, dengan tetap menghargai bangsa lain, menciptakan 
keserasian dengan bangsa lain. 
5. Asas kemanusiaan; Mendidik anak menjadi manusia yang manusiawi sesuai 
dengan kodratnya sebagai makhluk Tuhan. 
Menurut Tilaar (2000 : 16) ada tiga hal yang perlu di kaji kembali dalam 
pendidikan. Pertama, pendidikan tidak dapat dibatasi hanya sebagai schooling 
belaka. Dengan membatasi pendidikan sebagai schooling maka pendidikan 
terasing dari kehidupan yang nyata dan masyarakat terlempar dari tanggung 
jawabnya dalam pendidikan. Oleh sebab itu, rumusan mengenai pendidikan dan 
kurikulumnya yang hanya membedakan antara pendidikan formal dan non formal 
perlu disempurnakan lagi dengan menempatkan pendidikan informal yang justru 
akan semakin memegang peranan penting didalam pembentukan tingkah laku 
manusia dalam kehidupan global yang terbuka. Kedua, pendidikan bukan hanya 
untuk mengembangkan intelegensi akademik peserta didik. Pengembangan 
seluruh spektrum intelegensi manusia baik jasmaniah maupun rohaniyahnya perlu 
diberikan kesempatan didalam program kurikulum yang luas dan fleksibel, baik 
didalam pendidikan formal, non formal dan informal. Ketiga, pendidikan ternyata 
bukan hanya membuat manusia pintar tetapi yang lebih penting ialah manusia 
yang berbudaya dan menyadari hakikat tujuan penciptaannya. Hal ini sesuai 
dengan pendapat Sindhunata (2000 : 14) bahwa tujuan pendidikan bukan hanya 
manusia yang terpelajar tetapi manusia yang berbudaya (educated and Civized 
human being).
Dengan demikian proses pendidikan dapat kita rumuskan sebagai proses 
hominisasi dan humanisasi yang berakar pada nilai-nilai moral dan agama, yang 
berlangsung baik di dalam lingkungan hidup pribadi, keluarga, masyarakat dan 
bangsa, kini dan masa depan. 
Untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yaitu masyarakat madani yang 
diridhoi Allah swt. tentunya memerlukan paradigma baru. Paradigma lama tidak 
memadai lagi bahkan mungkin sudah tidak layak lagi digunakan. Suatu 
masyarakat yang religius dan demokratis tentunya memerlukan berbagai praksis 
pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang religius dan 
demokratis pula. Masyarakat yang tertutup, yang sentralistik, yang mematikan 
inisiatif berfikir manusia dan jauh dari nilai-nilai moral dan agama Islam bukanlah 
merupakan pendidikan yang kita inginkan. Pada dasarnya paradigma pendidikan 
nasional yang baru harus dapat mengembangkan tingkah laku yang menjawab 
tantangan internal dan global dengan tetap memiliki keyakinan yang kuat terhadap 
Allah dan Syariatnya. Paradigma tersebut haruslah mengarah kepada lahirnya 
suatu bangsa Indonesia yang bersatu, demokratis dan religius yang sesuai dengan 
kehendaknya sebagai wujud nyata fungsi kekhalifahan manusia dimuka bumi. 
Oleh sebab itu, penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik dan sekurelistik 
baik didalam manajemen maupun didalam penyusunan kurikulum yang kering 
dari nilai-nilai moral dan agama harus diubah dan disesuaikan kepada tuntutan 
pendidikan yang demokratis dan religius. Demikian pula di dalam menghadapi 
kehidupan global yang kompetitif dan inovatif, maka proses pendidikan haruslah 
mampu mengembangkan kemampuan untuk berkompetensi didalam kerja sama, 
mengembangkan sikap inovatif dan ingin selalu meningkatkan kualitas. Demikian 
pula paradigma pendidikan baru bukanlah mematikan kebhinekaan malahan 
mengembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat 
Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan mayarakat dan bangsa 
Indonesia. 
http://feryaguswijaya.blogspot.com/2009/12/lima-asas-pendidikan-menurut-ki-hadjar. 
html 
Pada Perguruan Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara (Djumhur, Danasupatra : 
1976 : 174-176), mengembangkan lima asas dalam pendidikan yang 
dikonsepkan sebagai Panca Darma, yaitu:
3.1. Asas Kodrat Alam 
Sesuai dengan kodratnya, manusia berbeda dengan makhluk hidup lainya, yaitu 
dikaruniai akal-pikiran yang berkembang dan dapat dikembangkan. Oleh karena 
itu, sesuai dengan kodratnya manusia dikategorikan sebagai makhluk budaya. 
3.2. Asas Kemerdekaan 
Proses kegiatan pendidikan yang berpegang pada asas kemerdekaan, berarti 
memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensinya 
menjadi kemampuan, dalam suasana yang penuh dengan tanggung jawab. 
Pengembangan dan penerapan asas kemerdekaan pada proses kegiatan 
pendidikan, berarti membimbing peserta didik dengan penuh tanggung jawab 
tanpa tekanan, untuk menjadi SDM yang berkemampuan sesuai dengan 
hakikatnya sebagai makhluk budaya dan juga makhluk sosial. 
3.3. Asas Kebudayaan 
Dengan menerapkan asas kebudayaan , peserta didik dibimbing untuk menerima 
warisan generasi , namun juga didorong untuk memajukan kebudayaan tersebut 
sesuai dengan konstelasi global yang terus berkembang. 
Melalui penerapan asas kebudayaan ini, peserta didik tetap menerima warisan 
budaya bangsa sendiri (local genius), namun juga dipacu untuk meningkatkan 
kemampuan budaya tersebut sesuai dengan kemajuan jaman. Dengan demikian 
SDM tersebut diberdayakan menjadi SDM yang selalu segar (evergreen), modern, 
terhindar dari keusangan sikap mental. 
3.4. Asas Kebangsaan 
Pengembangan dan penerapan asas kebangsaan pada proses kegiatan pendidikan 
di Indonesia, selain berdasarkan fakta, juga mendukung kebhinekaan atau 
kemajemukan yang menjadi salah satu ciri utama bangsa Indonesia. 
Proses kegiatan pendidikan yang berasaskan kebangsaan, harus mampu 
menanamkan, meningkatkan rasa kebangsaan kepada peserta didik, untuk menjadi 
SDM yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. 
3.5. Asas Kemanusiaan 
Melalui penerapan asas kemanusiaan, peserta didik dibimbing menyadari harga 
dan martabat diri, serta nilai kemanusiaan yang secara kodrati melekat pada
manusia dengan kehidupanya selaku umat yang sederajat atau sama di hadapan 
Tuhan. Dengan menerapkan asas kemanusiaan tersebut, peserta didik tidak hanya 
dikembangkan nalar emosionalnya, melainkan juga dibina nalar spiritualnya 
selaku umat. Oleh karena itu asas kemanusiaan berkedudukan strategis dalam 
proses kegiatan pendidikan untuk menciptakan SDM yang manusiawi dan 
religius. 
Sumber:http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2242249-panca-darma-taman- 
siswa/#ixzz2QOd7Msqi 
Tiga Ajaran Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara 
alam perjalanan hidupnya Ki Hajar Dewantara tidak hanya dikenal sebagai bapak 
Pendidikan , namun juga sebagai pemimpin yang tangguh. Dimana ia memotivasi 
orang - orang untuk terus menerus belajar dan belajar tanpa henti . Kharismanya 
sebagai pemimpin dalam memajukan pendidikan menjadikan ajarannya terus 
menjadi motivasi hingga sekarang . 
Adapun ketiga ajarannya , yakni Ing Ngarso Sun Tulodo , Ing Madyo Mbangun 
Karso , dan Tut Wuri Handayani akan kami bahas pada penjelasan berikut: 
Ing Ngarso Sun Tulodo 
Ing ngarso mempunyai arti di depan / di muka, Sun berasal dari kata Ingsun yang 
artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah 
menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang - 
orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah 
kata suri tauladan. 
Dalam ajaran Ki Hajar yang pertama ini menggambarkan situasi dimana seorang 
pemimpin bukan hanya sebagai orang yang berjalan di depan , namun juga harus 
menjadi teladan bagi orang - orang yang mengikutinya . Kata Ing Ngarso tidak 
dapat berdiri sendiri , jika tidak mendapatkan kalimat penjelas dibelakangnya . 
Artinya seorang yang berada di depan jika belum memberi teladan maka belum 
pantas menyandang gelar 'pemimpin' . Jika kita melihat kepemimpinan dari orang
- orang dalam sejarah , maka dapat kita lihat betapa perbuatan sang pemimpin 
menjadi inspirasi bagi orang yang dipimpinnya . 
Ing Madyo Mbangun Karso 
Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mbangun berarti membangkitan atau 
menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna 
dari kata itu adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu 
membangkitkan atau menggugah semangat . Karena itu seseorang juga harus 
mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan 
suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan. 
Ajaran kedua ini sarat dengan makna kebersamaan , kekompakan , dan 
kerjasama . Seorang pemimpin tidak hanya melihat kepada orang yang 
dipimpinnya , melainkan ia juga harus berada di tengah - tengah orang yang 
dipimpinnya . Maka sangat tidak terpuji bila seorang pemimpin hanya diam dan 
tak berbuat apa - apa sedangkan orang yang dipimpinnya menderita. 
Selain itu pemimpin harus kreatif dalam memimpin , sehingga orang yang 
dipimpinnya mempunyai wawasan baru dalam bertindak . Ditambahlagi seorang 
pemimpin harus melindungi segenap orang yang dipimpinnya. 
Tut Wuri Handayani 
Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan 
dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani 
ialah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari 
belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang - orang disekitar kita 
menumbuhkan motivasi dan semangat. 
Ajaran kepemimpinan yang ketiga ini merupakan semboyan dari dunia 
Pendidikan , yang tentunya mempunyai makna yang mendalam . Jika diartikan 
secara keseluruhan Tut Wuri Handayani bertujuan untuk menciptakan pribadi 
yang Mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain . Dan diharapkan akan 
muncul generasi baru yang akan berani memimpin tanpa menunggu orang lain 
untuk memimpin . 
Adapun dorongan tersebut dapat berupa moral dan semangat kepada orang lain . 
Maka dari itu pendidikan mengambil semboyan ini , agar pendidikan menjadi 
sebuah perantara membentuk generasi mandiri dan tidak bergantung pada orang
lain . Maka dimasa yang akan datang dengan pendidikan yang dimilikinya orang 
tersebut tidak akan mudah untuk diperalat. 
http://www.gudangmateri.com/2011/04/tiga-ajaran-kepemimpinan-ki-hajar.html 
(Arti dari Ajaran Ki Hajar Dewantara – Tutwuri Handayani) – Salah satu Ajaran 
dari Ki Hajar Dewantarayang sangat populer adalah “Seorang pemimpin harus 
memiliki tiga sifat yang terangkum pada: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo 
Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”, dimana ketiga kalimat tersebut memiliki 
arti sebagai berikut: 
1. Ing Ngarso Sun Tulodo artinya Ing ngarso itu didepan / dimuka, Sun 
berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi 
makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus 
mampu memberikan suri tauladan bagi orang – orang disekitarnya. 
Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri 
tauladan. 
2. Ing Madyo Mangun Karso, Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mangun 
berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk 
kemauan atau niat. Jadi makna dari kata itu adalah seseorang ditengah 
kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah 
semangat . Karena itu seseorang juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi 
dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kodusif 
untuk keamanan dan kenyamanan. 
3. Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan 
handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. 
Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seseorang harus memberikan 
dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini 
sangat dibutuhkan oleh orang – orang disekitar kita menumbuhkan 
motivasi dan semangat. 
Jadi secara tersirat Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri 
Handayani berarti figur seseorang yang baik adalah disamping menjadi suri 
tauladan atau panutan, tetapi juga harus mampu menggugah semangat dan 
memberikan dorongan moral dari belakang agar orang – orang disekitarnya dapat 
merasa situasi yang baik dan bersahabat . Sehingga kita dapat menjadi manusia 
yang bermanfaat di masyarakat. 
http://www.diwarta.com/arti-dari-ajaran-ki-hajar-dewantara-tutwuri-handayani/ 
768/
Tiga puluh enam tahun yang lalu, tepatnya tahun 1976, saya memulai sekolah di 
Taman Muda ( Sekolah SD di Tamansiswa), 5 tahun setelah itu masuk di Taman 
Dewasa ( Sekolah SMP di Tamansiswa) . Tahun 1988 saya mulai menjadi guru di 
Taman Dewasa ( SMP Tamansiswa ) Cibadak sampai dengan tahun 2005. Sejak 
itu saya diangkat jadi PNS dan sekarang mengajar di SMP Negeri 3 Cibadak. 
Sebuah perjalanan pendidikan yang tak bisa di lepaskan dari sosok seorang 
Soewardi Suryaningrat ( lebih terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara), Bapak 
Pendidikan kita semua, yang tanggal kelahirannya, 2 Mei di peringati sebagai 
Hari Pendidikan Nasional. 
Ki Hajar Dewantara terkenal dengan ajarannya Sistem Among ( Tutwuri 
handayani, Ing Madya mangun karsa, Ing ngarsa sung tulada) di Tamansiswa, 
ialah suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan 1) 
Kodrat Alam, sebagai syarat untuk mencapai kemajuan dengan secepatcepatnya 
dan sebaik-baiknya; 2) Kemerdekaan, sebagai syarat untuk menghidupkan dan 
menggerakkan kekuatan lahir batin anak, agar dapat memiliki pribadi yang kuat 
dan dapat berpikir serta bertindak merdeka. Sistem tersebut menurut cara 
berlakunya, juga disebut sistem Tutwuri Handayani. 
Apa yang terjadi sekarang ini? Dunia pendidikan di hebohkan dengan tawuran 
antar pelajar mulai dari anak-anak SMP, SMA/SMK sampai perguruan tinggi, 
hampir setiap hari menghiasi surat kabar dan Televisi. Para guru rame mencari 
metode dan model pengajaran yang relevan dengan era dan jaman yang serba di 
gital. Mereka lupa, bahwa kita punya seorang pahlawan pendidikan yang harus 
nya jadi tauladan dan panutan para siswa dan pendidik di negeri ini. Kita 
kehilangan karakter dan kepribadian bangsa. Erosi sikap dan perilaku sudah 
menjalar di setiap aktifitas para siswa dan guru. 
Kilas balik Sang Pahlawan Pendidikan Nasional kita. Beliau di lahirkan pada 
tanggal 2 Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. 
Ajarannya yang terkenal ialah sistem Among yang terdiri dari tut wuri handayani 
(di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah 
menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan 
memberi teladan). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 28 April 1959 dan 
dimakamkan di Yogyakarta. 
Tiga puluh enam tahun yang lalu, tepatnya tahun 1976, saya memulai sekolah di 
Taman Muda ( Sekolah SD di Tamansiswa), 5 tahun setelah itu masuk di Taman 
Dewasa ( Sekolah SMP di Tamansiswa) . Tahun 1988 saya mulai menjadi guru di 
Taman Dewasa ( SMP Tamansiswa ) Cibadak sampai dengan tahun 2005. Sejak 
itu saya diangkat jadi PNS dan sekarang mengajar di SMP Negeri 3 Cibadak. 
Sebuah perjalanan pendidikan yang tak bisa di lepaskan dari sosok seorang 
Soewardi Suryaningrat ( lebih terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara), Bapak 
Pendidikan kita semua, yang tanggal kelahirannya, 2 Mei di peringati sebagai 
Hari Pendidikan Nasional.
Ki Hajar Dewantara terkenal dengan ajarannya Sistem Among ( Tutwuri 
handayani, Ing Madya mangun karsa, Ing ngarsa sung tulada) di Tamansiswa, 
ialah suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan 1) 
Kodrat Alam, sebagai syarat untuk mencapai kemajuan dengan secepatcepatnya 
dan sebaik-baiknya; 2) Kemerdekaan, sebagai syarat untuk menghidupkan dan 
menggerakkan kekuatan lahir batin anak, agar dapat memiliki pribadi yang kuat 
dan dapat berpikir serta bertindak merdeka. Sistem tersebut menurut cara 
berlakunya, juga disebut sistem Tutwuri Handayani. 
Apa yang terjadi sekarang ini? Dunia pendidikan di hebohkan dengan tawuran 
antar pelajar mulai dari anak-anak SMP, SMA/SMK sampai perguruan tinggi, 
hampir setiap hari menghiasi surat kabar dan Televisi. Para guru rame mencari 
metode dan model pengajaran yang relevan dengan era dan jaman yang serba di 
gital. Mereka lupa, bahwa kita punya seorang pahlawan pendidikan yang harus 
nya jadi tauladan dan panutan para siswa dan pendidik di negeri ini. Kita 
kehilangan karakter dan kepribadian bangsa. Erosi sikap dan perilaku sudah 
menjalar di setiap aktifitas para siswa dan guru. 
Kilas balik Sang Pahlawan Pendidikan Nasional kita. Beliau di lahirkan pada 
tanggal 2 Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. 
Ajarannya yang terkenal ialah sistem Among yang terdiri dari tut wuri handayani 
(di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah 
menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan 
memberi teladan). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 28 April 1959 dan 
dimakamkan di Yogyakarta. 
SISTEM AMONG 
Desember 15, 2009 pada 9:13 am (Uncategorized) 
Sistem Among adalah cara pelaksanaan pendidikan dalam Gerakan Pramuka. 
Sitem Among adalah hasil pemikiran Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau 
dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan dan pendiri Perguruan 
Taman Siswa. 
Ki Hajar Dewantara, menjabat Menteri Pendidikan pada Kabinet RI pertama. KI 
Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889 dan wafat pada tanggal 28 April 
1959. 
Kata Among berarti mengasuh, memelihara atau menjaga. Dan orang yang 
melakukannya disebut PAMONG. Sistem Among tampak jelas pada kalimat “ 
ING NGARSO SUNG TULODO, ING MADYA MANGUN KASRO, TUT 
WURI HANDAYANI “ yang artinya “ DI DEPAN MEMBANGUN /
MELAKSANAKAN, DAN DI BELAKANG MEMBERI DORONGAN / 
BANTUAN KE ARAH MANDIRI”. 
(1) Pendidikan dalam Gerakan Pramuka ditinjau dari hubungan antara pembina 
dengan anggota muda dan anggota dewasa muda menggunakan sistem among. 
(2) Sistem Among berarti mendidik anggota Gerakan 
Pramuka menjadi insan merdeka jasmani, rokhani, dan pikirannya, disertai rasa 
tanggungjawab dan kesadaran akan pentingnya bermitra dengan orang lain. 
(3) Sistem among mewajibkan anggota dewasa Gerakan Pramuka melaksanakan 
prinsip-prinsip kepemimpinan sebagai berikut: 
a. Ing ngarso sung tulodo maksudnya di depan menjadi teladan; 
b. Ing madyo mangun karso maksudnya di tengah membangun kemauan; 
c. Tut wuri handayani maksudnya dari belakang memberi dorongan dan pengaruh 
yang baik ke arah kemandirian. 
(4) Dalam melaksanakan tugasnya anggota dewasa wajib bersikap dan berperilaku 
berdasarkan: 
a. Cinta kasih, kejujuran, keadilan, kepatutan, kesederhanaan, kesanggupan 
berkorban dan rasa kesetiakawanan sosial. 
b. Disiplin disertai inisiatif dan tanggungjawab terhadap diri sendiri, sesama 
manusia, negara dan bangsa, alam dan lingkungan hidup, serta bertanggung-jawab 
kepada Tuhan Yang Maha Esa. 
(5) Hubungan anggota dewasa dengan anggota muda dan anggota dewasa muda 
merupakan hubungan khas, yaitu setiap anggota dewasa wajib memperhatikan 
perkembangan anggota muda dan anggota dewasa muda secara pribadi agar 
perhatian terhadap pembinaannya dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan 
kepramukaan. 
(6) Anggota Dewasa berusaha secara bertahap menyerahkan pimpinan kegiatan 
sebanyak mungkin kepada anggota dewasa muda, sedangkan anggota dewasa 
secara kemitraan memberi semangat,dorongan dan pengaruh yang baik. 
About these ads
http://materipramukasatryarovers.wordpress.com/2009/12/15/sistem-among/ 
3 Ajaran Ki Hadjar Dewantara untuk Pemimpin Ideal 
· 
Addthis 
Akhir-akhir ini kita menyaksikan betapa pendidikan belum bisa merubah karakter 
anak bangsa secara keseluruhan. Masih ada saja kasus tawuran antar pelajar dan 
tawuran antar mahasiswa. Sikap kaum terpelajar tidak tampak lagi di tunjukan 
para remaja dan pemuda yang masih mengenyam pendidikan di sekolah maupun 
bangku perkuliahan. 
Tingkat kemandirian juga belum begitu tampak dalam diri generasi muda. Banyak 
dari mereka setelah lulus sekolah maupun kuliah berbondong-bondong memenuhi 
pameran Job Fair untuk mencari pekerjaan. 
Muncul juga para pemimpin muda yang terjerat korupsi. Mereka tidak mampu 
memberi contoh tauladan yang baik bagi organisasi yang dipimpinnya. 
Produk-produk buatan anak negeri belum begitu nampak menjadi kebanggaan di 
negeri sendiri. Anak-anak muda banyak yang lebih bangga menggunakan produk 
impor. 
Melihat itu semua tetu kita sangan prihatin. Padahal kita memiliki banyak tokoh 
pendiri bangsa yang patut kita contoh baik kepribadian dan ajarannya. 
Sesungguhnya kita punya tokoh pendidikan yang ajarannya tidak bisa lengkang 
oleh zaman. Ajaran beliau akan tetap relevan di terapkan sampai sekarang. Beliau 
adalah Ki Hajar Dewantara, Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 
1889.Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari 
lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat 
genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki 
Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar 
kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas 
dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. 
3 ajaran beliau yang harus menjadi landasan pendidikan di negeri adalah 
1. Ing Ngarso Sun Tulodo. 
2. Ing Madyo Mbangun Karso. 
3. Tut Wuri Handayani.
Ing Ngarso Sun Tulodo 
Ing ngarso mempunyai arti di depan / di muka, Sun berasal dari kata Ingsun yang 
artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah 
menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang - 
orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah 
kata suri tauladan. 
Dalam ajaran Ki Hajar yang pertama ini menggambarkan situasi dimana seorang 
pemimpin bukan hanya sebagai orang yang berjalan di depan , namun juga harus 
menjadi teladan bagi orang - orang yang mengikutinya . Kata Ing Ngarso tidak 
dapat berdiri sendiri , jika tidak mendapatkan kalimat penjelas dibelakangnya . 
Artinya seorang yang berada di depan jika belum memberi teladan maka belum 
pantas menyandang gelar ‘pemimpin’ . Jika kita melihat kepemimpinan dari orang 
- orang dalam sejarah , maka dapat kita lihat betapa perbuatan sang pemimpin 
menjadi inspirasi bagi orang yang dipimpinnya . 
Ing Madyo Mbangun Karso 
Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mbangun berarti membangkitan atau 
menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna 
dari kata itu adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu 
membangkitkan atau menggugah semangat . Karena itu seseorang juga harus 
mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan 
suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan. 
Ajaran kedua ini sarat dengan makna kebersamaan , kekompakan , dan 
kerjasama . Seorang pemimpin tidak hanya melihat kepada orang yang 
dipimpinnya , melainkan ia juga harus berada di tengah - tengah orang yang 
dipimpinnya . Maka sangat tidak terpuji bila seorang pemimpin hanya diam dan 
tak berbuat apa - apa sedangkan orang yang dipimpinnya menderita. 
Selain itu pemimpin harus kreatif dalam memimpin , sehingga orang yang 
dipimpinnya mempunyai wawasan baru dalam bertindak . Ditambahlagi seorang 
pemimpin harus melindungi segenap orang yang dipimpinnya. 
Tut Wuri Handayani 
Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan 
dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani 
ialah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari 
belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang - orang disekitar kita 
menumbuhkan motivasi dan semangat. 
Ajaran kepemimpinan yang ketiga ini merupakan semboyan dari dunia 
Pendidikan , yang tentunya mempunyai makna yang mendalam . Jika diartikan
secara keseluruhan Tut Wuri Handayani bertujuan untuk menciptakan pribadi 
yang Mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain . Dan diharapkan akan 
muncul generasi baru yang akan berani memimpin tanpa menunggu orang lain 
untuk memimpin . 
Adapun dorongan tersebut dapat berupa moral dan semangat kepada orang lain . 
Maka dari itu pendidikan mengambil semboyan ini , agar pendidikan menjadi 
sebuah perantara membentuk generasi mandiri dan tidak bergantung pada orang 
lain . Maka dimasa yang akan datang dengan pendidikan yang dimilikinya orang 
tersebut tidak akan mudah untuk diperalat. 
Ketiga ajaran tersebut meiliki nilai luar biasa apabila mampu di terapkan di negeri 
ini. Ki Hadjar Dewantara pasti sudah melihat bagaimana membuat konsep 
pendidikan yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. 
Saya yakin apabila ajaran tersebut di terapakan dengan benar dan konsisten tidak 
ada lagi pemimpin yang korupsi, tidak ada lagi tawuran antar pelajar dan tidak ada 
lagi generasi pengekor. Mari kita sama-sama mewujudkan ajaran Ki Hadjar 
Dewantara sehingga akan terlahir pemimpin yang berkarakter di negeri ini. 
http://www.wiwinkatingan.com/artikel-2/75-3-ajaran-ki-hadjar-dewantara-untuk-pemimpin- 
ideal.html 
AJARAN KI HAJAR DEWANTARA 
Home > Renungan > Ajaran Ki Hajar Dewantara 
Ki Hajar Dewantara seorang tokoh yang tidak hanya dikenal sebagai bapak 
Pendidikan, namun juga sebagai pemimpin yang tangguh. Dimana ia memotivasi 
orang - orang untuk terus menerus belajar dan belajar tanpa henti . Kharismanya 
sebagai pemimpin dalam memajukan pendidikan menjadikan ajarannya terus 
menjadi motivasi hingga sekarang. 
Adapun ajaran dari Ki Hajar Dewantara, Yaitu Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing 
Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani. Adapun penjelasannya adalah 
sebagai berikut: 
Ing Ngarso Sun Tulodo 
Ing ngarso mempunyai arti di depan / di muka, Sun berasal dari kata Ingsun yang 
artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah 
menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang - 
orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah
kata suri tauladan. 
Dalam ajaran Ki Hajar yang pertama ini menggambarkan situasi dimana seorang 
pemimpin bukan hanya sebagai orang yang berjalan di depan, namun juga harus 
menjadi teladan bagi orang - orang yang mengikutinya. Kata Ing Ngarso tidak 
dapat berdiri sendiri, jika tidak mendapatkan kalimat penjelas dibelakangnya. 
Ing Madyo Mangun Karso 
Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mangun berarti membangkitan atau 
menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna 
dari kata itu adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu 
membangkitkan atau menggugah semangat. Karena itu seseorang juga harus 
mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan 
suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan. 
Ajaran kedua ini sarat dengan makna kebersamaan, kekompakan, dan kerjasama. 
Seorang pemimpin tidak hanya melihat kepada orang yang dipimpinnya, 
melainkan ia juga harus berada di tengah - tengah orang yang dipimpinnya. Maka 
sangat tidak terpuji bila seorang pemimpin hanya diam dan tak berbuat apa - apa 
sedangkan orang yang dipimpinnya menderita. 
Tut Wuri Handayani 
Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan 
dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani 
ialah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari 
belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang - orang disekitar kita 
menumbuhkan motivasi dan semangat. 
Ajaran kepemimpinan yang ketiga ini merupakan semboyan dari dunia 
Pendidikan, yang tentunya mempunyai makna yang mendalam. Jika diartikan 
secara keseluruhan Tut Wuri Handayani bertujuan untuk menciptakan pribadi 
yang Mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Dan diharapkan akan 
muncul generasi baru yang akan berani memimpin tanpa menunggu orang lain 
untuk memimpin. 
Adapun dorongan tersebut dapat berupa moral dan semangat kepada orang lain. 
Maka dari itu pendidikan mengambil semboyan ini, agar pendidikan menjadi 
sebuah perantara membentuk generasi mandiri dan tidak bergantung pada orang 
lain. Maka dimasa yang akan datang dengan pendidikan yang dimilikinya orang 
tersebut tidak akan mudah untuk diperalat 
http://edokumen.blogspot.com/2012/05/ajaran-ki-hajar-dewantara.html
KESIMPULAN 
Bahwa Ki Hajar Dewantara Memiliki banyak ajaran yang berguna bagi kita baik 
dalam bidang pendidikan dan juga bidang kepemimpinan. 
Dalam ajaran Ki hajar Dewantara adanya kemerdekaan atau kebebasan seorang 
manusia untuk melakukan sesuai keinginannya namun ada batasan – batasannya. 
Ajaran yang paling terkenal adalah Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun 
Karso, dan Tut Wuri Handayani . Khususnya bidang pendidikan adalah Tut Wuri 
Handayani bertujuan untuk menciptakan pribadi yang Mandiri dan tidak 
bergantung kepada orang lain. Dan diharapkan akan muncul generasi baru yang 
akan berani memimpin tanpa menunggu orang lain untuk memimpin. 
Secara keseleruhuan makna Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, 
Tut Wuri Handayani merupakan kriteria bagi pemimpin maupun calon 
pemimpin . Mulai dari ajaran Ing Ngarso Sun Tulodo yang mengharuskan 
pemimpin menjadi teladan , Ing Madyo Mbangun Karso seorang pemimpin harus 
berbaur , dan Tut Wuri Handayani yang mengajarkan sikap mandiri dan tidak 
tergantung pada orang lain . 
Bilamana seseorang telah berhasil menerapkan dengan tepat ajaran kepemimpinan 
Ki Hajar Dewantara ini maka niscaya kemakmuran dan kesejahteraan akan 
meliputi oranh yang dipimpinnya . 
Ada juga Sistem Among sistem atau cara pendidikan yang dilakukan di 
tamansiswa dengan cara Tut Wuri Handayani. 
Jika kita seorang guru kita harus memberikan kebebasan pada murid – murid kita 
sesuai dengan keinginannya tapi kita juga harus tegas ketika kebebasan yang kita 
berikan disalah gunakan dan akan membahayakan keselamatannya dan orang lain. 
Ada juga ajaran Ki Hajar Dewantara yaitu Panca Darma yaitu 
3.1. Asas Kodrat Alam 
3.2. Asas Kemerdekaan 
3.3. Asas Kebudayaan 
3.4. Asas Kebangsaan 
3.5. Asas Kemanusiaan
Semua ajaran Ki Hajar Dewantara selalu memberikan nilai dan contoh positif bagi 
yang melaksanakannya.

More Related Content

What's hot

Sambutan mendikbud untuk hardiknas 2015
Sambutan mendikbud untuk hardiknas 2015Sambutan mendikbud untuk hardiknas 2015
Sambutan mendikbud untuk hardiknas 2015
Khoiri Nurrahmani
 
Buku panduan dakwah pelajar ipm
Buku panduan dakwah pelajar ipmBuku panduan dakwah pelajar ipm
Buku panduan dakwah pelajar ipm
Ilham Azzam Khairur Rizqi
 
Sambutan mendikbud untuk hardiknas 2015
Sambutan mendikbud untuk hardiknas 2015Sambutan mendikbud untuk hardiknas 2015
Sambutan mendikbud untuk hardiknas 2015
Deny Theganganasam
 
Wawasan multikultural
Wawasan multikulturalWawasan multikultural
Wawasan multikultural
Salma Van Licht
 
Pendidikan Multikultural
Pendidikan MultikulturalPendidikan Multikultural
Pendidikan Multikultural
Noviana Ulfa
 
Latar Belakang Masalah "Pendidikan Multikultural"
Latar Belakang Masalah "Pendidikan Multikultural"Latar Belakang Masalah "Pendidikan Multikultural"
Latar Belakang Masalah "Pendidikan Multikultural"
Ali Murfi
 
Tugas sosioantropologi
Tugas sosioantropologiTugas sosioantropologi
Tugas sosioantropologi
Zurie Hafiez
 
Pendidikan agama islam sebagai sub sistem pendidikan nasional
Pendidikan agama islam sebagai sub sistem pendidikan nasionalPendidikan agama islam sebagai sub sistem pendidikan nasional
Pendidikan agama islam sebagai sub sistem pendidikan nasional
Neng Pupu Rohilah
 
9.isuesosial
9.isuesosial9.isuesosial
9.isuesosial
Ijal Mustofa
 
Kewarganegaraan
KewarganegaraanKewarganegaraan
Kewarganegaraan
Anto Kolarov
 
Pendidikan multikultural-artiklel
Pendidikan multikultural-artiklelPendidikan multikultural-artiklel
Pendidikan multikultural-artiklel
Felix Baskara
 
Edu 3063 budaya dan pembelajaran
Edu 3063 budaya dan pembelajaranEdu 3063 budaya dan pembelajaran
Edu 3063 budaya dan pembelajaran
Zahrul Azman Selamat
 
Uu no.20 tahun2003tentangsistempendidikannasional
Uu no.20 tahun2003tentangsistempendidikannasionalUu no.20 tahun2003tentangsistempendidikannasional
Uu no.20 tahun2003tentangsistempendidikannasional
akuayucantik
 
Uu sisdiknas no 20 tahun 2003
Uu sisdiknas no 20 tahun 2003Uu sisdiknas no 20 tahun 2003
Uu sisdiknas no 20 tahun 2003
Reni Nazta
 
Buku fiqih guru_kelas_11_-_ma
Buku fiqih guru_kelas_11_-_maBuku fiqih guru_kelas_11_-_ma
Buku fiqih guru_kelas_11_-_ma
aamridwan
 
01.1 uu tahun2003 nomor020 sisdiknas
01.1 uu tahun2003 nomor020 sisdiknas01.1 uu tahun2003 nomor020 sisdiknas
01.1 uu tahun2003 nomor020 sisdiknas
Drs. HM. Yunus
 
Undang undang-no-20-tentang-sisdiknas
Undang undang-no-20-tentang-sisdiknasUndang undang-no-20-tentang-sisdiknas
Undang undang-no-20-tentang-sisdiknas
Erlita Izzatunnisa
 
1. Sisdiknas uu no.20 tahun 2003 (pdf)
1. Sisdiknas uu no.20 tahun 2003 (pdf)1. Sisdiknas uu no.20 tahun 2003 (pdf)
1. Sisdiknas uu no.20 tahun 2003 (pdf)
Harun Ar
 

What's hot (19)

Sambutan mendikbud untuk hardiknas 2015
Sambutan mendikbud untuk hardiknas 2015Sambutan mendikbud untuk hardiknas 2015
Sambutan mendikbud untuk hardiknas 2015
 
Buku panduan dakwah pelajar ipm
Buku panduan dakwah pelajar ipmBuku panduan dakwah pelajar ipm
Buku panduan dakwah pelajar ipm
 
Sambutan mendikbud untuk hardiknas 2015
Sambutan mendikbud untuk hardiknas 2015Sambutan mendikbud untuk hardiknas 2015
Sambutan mendikbud untuk hardiknas 2015
 
Wawasan multikultural
Wawasan multikulturalWawasan multikultural
Wawasan multikultural
 
Pendidikan Multikultural
Pendidikan MultikulturalPendidikan Multikultural
Pendidikan Multikultural
 
Tugas pkn
Tugas pknTugas pkn
Tugas pkn
 
Latar Belakang Masalah "Pendidikan Multikultural"
Latar Belakang Masalah "Pendidikan Multikultural"Latar Belakang Masalah "Pendidikan Multikultural"
Latar Belakang Masalah "Pendidikan Multikultural"
 
Tugas sosioantropologi
Tugas sosioantropologiTugas sosioantropologi
Tugas sosioantropologi
 
Pendidikan agama islam sebagai sub sistem pendidikan nasional
Pendidikan agama islam sebagai sub sistem pendidikan nasionalPendidikan agama islam sebagai sub sistem pendidikan nasional
Pendidikan agama islam sebagai sub sistem pendidikan nasional
 
9.isuesosial
9.isuesosial9.isuesosial
9.isuesosial
 
Kewarganegaraan
KewarganegaraanKewarganegaraan
Kewarganegaraan
 
Pendidikan multikultural-artiklel
Pendidikan multikultural-artiklelPendidikan multikultural-artiklel
Pendidikan multikultural-artiklel
 
Edu 3063 budaya dan pembelajaran
Edu 3063 budaya dan pembelajaranEdu 3063 budaya dan pembelajaran
Edu 3063 budaya dan pembelajaran
 
Uu no.20 tahun2003tentangsistempendidikannasional
Uu no.20 tahun2003tentangsistempendidikannasionalUu no.20 tahun2003tentangsistempendidikannasional
Uu no.20 tahun2003tentangsistempendidikannasional
 
Uu sisdiknas no 20 tahun 2003
Uu sisdiknas no 20 tahun 2003Uu sisdiknas no 20 tahun 2003
Uu sisdiknas no 20 tahun 2003
 
Buku fiqih guru_kelas_11_-_ma
Buku fiqih guru_kelas_11_-_maBuku fiqih guru_kelas_11_-_ma
Buku fiqih guru_kelas_11_-_ma
 
01.1 uu tahun2003 nomor020 sisdiknas
01.1 uu tahun2003 nomor020 sisdiknas01.1 uu tahun2003 nomor020 sisdiknas
01.1 uu tahun2003 nomor020 sisdiknas
 
Undang undang-no-20-tentang-sisdiknas
Undang undang-no-20-tentang-sisdiknasUndang undang-no-20-tentang-sisdiknas
Undang undang-no-20-tentang-sisdiknas
 
1. Sisdiknas uu no.20 tahun 2003 (pdf)
1. Sisdiknas uu no.20 tahun 2003 (pdf)1. Sisdiknas uu no.20 tahun 2003 (pdf)
1. Sisdiknas uu no.20 tahun 2003 (pdf)
 

Viewers also liked

Model jaringan (network)
Model jaringan (network)Model jaringan (network)
Model jaringan (network)
Khoiruddin Ahmuatd
 
Sepuluh Sendi - Sendi Ajaran Ki Hajar Dewantara Dan Aplikasinya Dalam Masyarakat
Sepuluh Sendi - Sendi Ajaran Ki Hajar Dewantara Dan Aplikasinya Dalam MasyarakatSepuluh Sendi - Sendi Ajaran Ki Hajar Dewantara Dan Aplikasinya Dalam Masyarakat
Sepuluh Sendi - Sendi Ajaran Ki Hajar Dewantara Dan Aplikasinya Dalam Masyarakat
Cyprian5
 
Kurikulum Terpadu Model Terhubung/Connected
Kurikulum Terpadu Model Terhubung/ConnectedKurikulum Terpadu Model Terhubung/Connected
Kurikulum Terpadu Model Terhubung/Connected
alvinnoor
 
Pembelajaran Tematik Kelas 2 SD Tema 2 Bermain Di Lingkunganku Sub Tema 3 Ber...
Pembelajaran Tematik Kelas 2 SD Tema 2 Bermain Di Lingkunganku Sub Tema 3 Ber...Pembelajaran Tematik Kelas 2 SD Tema 2 Bermain Di Lingkunganku Sub Tema 3 Ber...
Pembelajaran Tematik Kelas 2 SD Tema 2 Bermain Di Lingkunganku Sub Tema 3 Ber...
HIndriNA
 
Penerapan Asas Tut Wuri Handayani Sebagai Landasan Sejarah Pendidikan Nasion...
Penerapan Asas Tut Wuri Handayani Sebagai Landasan Sejarah  Pendidikan Nasion...Penerapan Asas Tut Wuri Handayani Sebagai Landasan Sejarah  Pendidikan Nasion...
Penerapan Asas Tut Wuri Handayani Sebagai Landasan Sejarah Pendidikan Nasion...
Rahma Siska Utari
 
Model pembelajaran-terpadu-immersed
Model pembelajaran-terpadu-immersedModel pembelajaran-terpadu-immersed
Model pembelajaran-terpadu-immersed
obrilian
 
Ppt pembelajaran terpadu tipe sequenced
Ppt pembelajaran terpadu tipe sequencedPpt pembelajaran terpadu tipe sequenced
Ppt pembelajaran terpadu tipe sequenced
Cha-cha Taulanys
 
pembelajaran terpadu tipe connected
pembelajaran terpadu tipe connectedpembelajaran terpadu tipe connected
pembelajaran terpadu tipe connected
Cha-cha Taulanys
 
Ppt pembelajaran terpadu model networked
Ppt pembelajaran terpadu model networkedPpt pembelajaran terpadu model networked
Ppt pembelajaran terpadu model networked
Cha-cha Taulanys
 
ppt Pembelajaran terpadu model integreted
ppt Pembelajaran terpadu model integretedppt Pembelajaran terpadu model integreted
ppt Pembelajaran terpadu model integreted
rizka_pratiwi
 
Guru sebagai pendidik
Guru sebagai pendidikGuru sebagai pendidik
Guru sebagai pendidik
ayu Naoman
 

Viewers also liked (12)

Model jaringan (network)
Model jaringan (network)Model jaringan (network)
Model jaringan (network)
 
Pembelajaran terpadu model connected
Pembelajaran terpadu model connectedPembelajaran terpadu model connected
Pembelajaran terpadu model connected
 
Sepuluh Sendi - Sendi Ajaran Ki Hajar Dewantara Dan Aplikasinya Dalam Masyarakat
Sepuluh Sendi - Sendi Ajaran Ki Hajar Dewantara Dan Aplikasinya Dalam MasyarakatSepuluh Sendi - Sendi Ajaran Ki Hajar Dewantara Dan Aplikasinya Dalam Masyarakat
Sepuluh Sendi - Sendi Ajaran Ki Hajar Dewantara Dan Aplikasinya Dalam Masyarakat
 
Kurikulum Terpadu Model Terhubung/Connected
Kurikulum Terpadu Model Terhubung/ConnectedKurikulum Terpadu Model Terhubung/Connected
Kurikulum Terpadu Model Terhubung/Connected
 
Pembelajaran Tematik Kelas 2 SD Tema 2 Bermain Di Lingkunganku Sub Tema 3 Ber...
Pembelajaran Tematik Kelas 2 SD Tema 2 Bermain Di Lingkunganku Sub Tema 3 Ber...Pembelajaran Tematik Kelas 2 SD Tema 2 Bermain Di Lingkunganku Sub Tema 3 Ber...
Pembelajaran Tematik Kelas 2 SD Tema 2 Bermain Di Lingkunganku Sub Tema 3 Ber...
 
Penerapan Asas Tut Wuri Handayani Sebagai Landasan Sejarah Pendidikan Nasion...
Penerapan Asas Tut Wuri Handayani Sebagai Landasan Sejarah  Pendidikan Nasion...Penerapan Asas Tut Wuri Handayani Sebagai Landasan Sejarah  Pendidikan Nasion...
Penerapan Asas Tut Wuri Handayani Sebagai Landasan Sejarah Pendidikan Nasion...
 
Model pembelajaran-terpadu-immersed
Model pembelajaran-terpadu-immersedModel pembelajaran-terpadu-immersed
Model pembelajaran-terpadu-immersed
 
Ppt pembelajaran terpadu tipe sequenced
Ppt pembelajaran terpadu tipe sequencedPpt pembelajaran terpadu tipe sequenced
Ppt pembelajaran terpadu tipe sequenced
 
pembelajaran terpadu tipe connected
pembelajaran terpadu tipe connectedpembelajaran terpadu tipe connected
pembelajaran terpadu tipe connected
 
Ppt pembelajaran terpadu model networked
Ppt pembelajaran terpadu model networkedPpt pembelajaran terpadu model networked
Ppt pembelajaran terpadu model networked
 
ppt Pembelajaran terpadu model integreted
ppt Pembelajaran terpadu model integretedppt Pembelajaran terpadu model integreted
ppt Pembelajaran terpadu model integreted
 
Guru sebagai pendidik
Guru sebagai pendidikGuru sebagai pendidik
Guru sebagai pendidik
 

Similar to instrumen

Filosofi pendidikan.pptx
Filosofi pendidikan.pptxFilosofi pendidikan.pptx
Filosofi pendidikan.pptx
EdiiSusanto
 
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptxmmmmmmmmmmmmmm
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptxmmmmmmmmmmmmmmTeori_Belajar_KH_Dewantara.pptxmmmmmmmmmmmmmm
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptxmmmmmmmmmmmmmm
RobertusLolok1
 
soekarno
soekarnosoekarno
Biografi ki hajar dewantara
Biografi ki hajar dewantaraBiografi ki hajar dewantara
Biografi ki hajar dewantara
etto kono
 
filsafat ilmu kI Hajar Dewantara
filsafat ilmu kI Hajar Dewantarafilsafat ilmu kI Hajar Dewantara
filsafat ilmu kI Hajar Dewantara
QoidRofiulFarhan
 
Aksi Nyata Topik 1 Merdeka Belajar Arip Kurniawan S,Pd.ppt
Aksi Nyata Topik 1 Merdeka Belajar Arip Kurniawan S,Pd.pptAksi Nyata Topik 1 Merdeka Belajar Arip Kurniawan S,Pd.ppt
Aksi Nyata Topik 1 Merdeka Belajar Arip Kurniawan S,Pd.ppt
AripKurniawan6
 
Ki hajar dewantara
Ki hajar dewantaraKi hajar dewantara
Ki hajar dewantara
diahaisyah01
 
Aksi Nyata Topik 1 Merdeka BelajaR DEDI MULYADI.ppt
Aksi Nyata Topik 1 Merdeka BelajaR DEDI MULYADI.pptAksi Nyata Topik 1 Merdeka BelajaR DEDI MULYADI.ppt
Aksi Nyata Topik 1 Merdeka BelajaR DEDI MULYADI.ppt
AripKurniawan6
 
ALIRAN - ALIRAN PENDIDIKAN
ALIRAN - ALIRAN PENDIDIKANALIRAN - ALIRAN PENDIDIKAN
ALIRAN - ALIRAN PENDIDIKAN
Hanifa Zulfitri
 
Ki hajar dewantara
Ki hajar dewantaraKi hajar dewantara
Ki hajar dewantara
nurainiai
 
AKSI NYATA.docx
AKSI NYATA.docxAKSI NYATA.docx
AKSI NYATA.docx
AhmadMisbah10
 
T1-7. Koneksi Antar Materi - Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional.pptx
T1-7. Koneksi Antar Materi - Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional.pptxT1-7. Koneksi Antar Materi - Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional.pptx
T1-7. Koneksi Antar Materi - Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional.pptx
AndiniHasry
 
Biografi Bapak Pendidikan Nasional.pdf
Biografi Bapak Pendidikan Nasional.pdfBiografi Bapak Pendidikan Nasional.pdf
Biografi Bapak Pendidikan Nasional.pdf
NurindahSetyawati1
 
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptx
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptxTeori_Belajar_KH_Dewantara.pptx
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptx
RobinhotTumanggor
 
Ki Hajar Dewantara dan Sekilas Filsafat Pendidikannya
Ki Hajar Dewantara dan Sekilas Filsafat PendidikannyaKi Hajar Dewantara dan Sekilas Filsafat Pendidikannya
Ki Hajar Dewantara dan Sekilas Filsafat Pendidikannya
ariefbudimansarah
 
Ki hajar dewantara
Ki hajar dewantaraKi hajar dewantara
Ki hajar dewantara
nurainiai
 
DRIYARKARA _ Zakhir Wikan.pptx
DRIYARKARA _ Zakhir Wikan.pptxDRIYARKARA _ Zakhir Wikan.pptx
DRIYARKARA _ Zakhir Wikan.pptx
ZakhirWikan4
 
Sejarah Ki Hajar Dewantara.docx
Sejarah Ki Hajar Dewantara.docxSejarah Ki Hajar Dewantara.docx
Sejarah Ki Hajar Dewantara.docx
haryoanggit
 
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptx
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptxTeori_Belajar_KH_Dewantara.pptx
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptx
AmanFarikhi1
 
Pip aliran aliran pendidikan-bab5
Pip aliran aliran pendidikan-bab5Pip aliran aliran pendidikan-bab5
Pip aliran aliran pendidikan-bab5
DwiAlfiani2000
 

Similar to instrumen (20)

Filosofi pendidikan.pptx
Filosofi pendidikan.pptxFilosofi pendidikan.pptx
Filosofi pendidikan.pptx
 
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptxmmmmmmmmmmmmmm
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptxmmmmmmmmmmmmmmTeori_Belajar_KH_Dewantara.pptxmmmmmmmmmmmmmm
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptxmmmmmmmmmmmmmm
 
soekarno
soekarnosoekarno
soekarno
 
Biografi ki hajar dewantara
Biografi ki hajar dewantaraBiografi ki hajar dewantara
Biografi ki hajar dewantara
 
filsafat ilmu kI Hajar Dewantara
filsafat ilmu kI Hajar Dewantarafilsafat ilmu kI Hajar Dewantara
filsafat ilmu kI Hajar Dewantara
 
Aksi Nyata Topik 1 Merdeka Belajar Arip Kurniawan S,Pd.ppt
Aksi Nyata Topik 1 Merdeka Belajar Arip Kurniawan S,Pd.pptAksi Nyata Topik 1 Merdeka Belajar Arip Kurniawan S,Pd.ppt
Aksi Nyata Topik 1 Merdeka Belajar Arip Kurniawan S,Pd.ppt
 
Ki hajar dewantara
Ki hajar dewantaraKi hajar dewantara
Ki hajar dewantara
 
Aksi Nyata Topik 1 Merdeka BelajaR DEDI MULYADI.ppt
Aksi Nyata Topik 1 Merdeka BelajaR DEDI MULYADI.pptAksi Nyata Topik 1 Merdeka BelajaR DEDI MULYADI.ppt
Aksi Nyata Topik 1 Merdeka BelajaR DEDI MULYADI.ppt
 
ALIRAN - ALIRAN PENDIDIKAN
ALIRAN - ALIRAN PENDIDIKANALIRAN - ALIRAN PENDIDIKAN
ALIRAN - ALIRAN PENDIDIKAN
 
Ki hajar dewantara
Ki hajar dewantaraKi hajar dewantara
Ki hajar dewantara
 
AKSI NYATA.docx
AKSI NYATA.docxAKSI NYATA.docx
AKSI NYATA.docx
 
T1-7. Koneksi Antar Materi - Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional.pptx
T1-7. Koneksi Antar Materi - Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional.pptxT1-7. Koneksi Antar Materi - Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional.pptx
T1-7. Koneksi Antar Materi - Relevansi Perjalanan Pendidikan Nasional.pptx
 
Biografi Bapak Pendidikan Nasional.pdf
Biografi Bapak Pendidikan Nasional.pdfBiografi Bapak Pendidikan Nasional.pdf
Biografi Bapak Pendidikan Nasional.pdf
 
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptx
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptxTeori_Belajar_KH_Dewantara.pptx
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptx
 
Ki Hajar Dewantara dan Sekilas Filsafat Pendidikannya
Ki Hajar Dewantara dan Sekilas Filsafat PendidikannyaKi Hajar Dewantara dan Sekilas Filsafat Pendidikannya
Ki Hajar Dewantara dan Sekilas Filsafat Pendidikannya
 
Ki hajar dewantara
Ki hajar dewantaraKi hajar dewantara
Ki hajar dewantara
 
DRIYARKARA _ Zakhir Wikan.pptx
DRIYARKARA _ Zakhir Wikan.pptxDRIYARKARA _ Zakhir Wikan.pptx
DRIYARKARA _ Zakhir Wikan.pptx
 
Sejarah Ki Hajar Dewantara.docx
Sejarah Ki Hajar Dewantara.docxSejarah Ki Hajar Dewantara.docx
Sejarah Ki Hajar Dewantara.docx
 
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptx
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptxTeori_Belajar_KH_Dewantara.pptx
Teori_Belajar_KH_Dewantara.pptx
 
Pip aliran aliran pendidikan-bab5
Pip aliran aliran pendidikan-bab5Pip aliran aliran pendidikan-bab5
Pip aliran aliran pendidikan-bab5
 

instrumen

  • 1. NAMA : ANINDA WIDYA KELAS : 2A NIM : 2012001081 AJARAN KI HAJAR DEWANTARA Pendahuluan Ki Hadjar Dewantara Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebasKi Hadjar Dewantara Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (EYD: Suwardi Suryaningrat, sejak 1922 menjadi Ki Hadjar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantara, beberapa menuliskan bunyi bahasa Jawanya dengan Ki Hajar Dewantoro; lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 – meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959pada umur 69 tahun[1]; selanjutnya disingkat sebagai "Soewardi" atau "KHD") adalah aktivis pergerakan kemerdekaan Indonesia, kolumnis, politisi, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia dari zaman penjajahan Belanda. Ia adalah pendiri Perguruan Taman Siswa, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti halnya para priyayi maupun orang-orang Belanda. Tanggal kelahirannya sekarang diperingati di Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Bagian dari semboyan ciptaannya, tut wuri handayani, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Namanya diabadikan sebagai salah sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Potret dirinya diabadikan pada uang kertas pecahan 20.000 rupiah tahun emisi 1998.[2] Ia dikukuhkan sebagai pahlawan nasional yang ke-2 oleh Presiden RI, Soekarno, pada 28 November 1959 (Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959)[3].
  • 2. http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hadjar_Dewantara Tiga puluh enam tahun yang lalu, tepatnya tahun 1976, saya memulai sekolah di Taman Muda ( Sekolah SD di Tamansiswa), 5 tahun setelah itu masuk di Taman Dewasa ( Sekolah SMP di Tamansiswa) . Tahun 1988 saya mulai menjadi guru di Taman Dewasa ( SMP Tamansiswa ) Cibadak sampai dengan tahun 2005. Sejak itu saya diangkat jadi PNS dan sekarang mengajar di SMP Negeri 3 Cibadak. Sebuah perjalanan pendidikan yang tak bisa di lepaskan dari sosok seorang Soewardi Suryaningrat ( lebih terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara), Bapak Pendidikan kita semua, yang tanggal kelahirannya, 2 Mei di peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara terkenal dengan ajarannya Sistem Among ( Tutwuri handayani, Ing Madya mangun karsa, Ing ngarsa sung tulada) di Tamansiswa, ialah suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan 1) Kodrat Alam, sebagai syarat untuk mencapai kemajuan dengan secepatcepatnya dan sebaik-baiknya; 2) Kemerdekaan, sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir batin anak, agar dapat memiliki pribadi yang kuat dan dapat berpikir serta bertindak merdeka. Sistem tersebut menurut cara berlakunya, juga disebut sistem Tutwuri Handayani. Apa yang terjadi sekarang ini? Dunia pendidikan di hebohkan dengan tawuran antar pelajar mulai dari anak-anak SMP, SMA/SMK sampai perguruan tinggi, hampir setiap hari menghiasi surat kabar dan Televisi. Para guru rame mencari metode dan model pengajaran yang relevan dengan era dan jaman yang serba di gital. Mereka lupa, bahwa kita punya seorang pahlawan pendidikan yang harus nya jadi tauladan dan panutan para siswa dan pendidik di negeri ini. Kita kehilangan karakter dan kepribadian bangsa. Erosi sikap dan perilaku sudah menjalar di setiap aktifitas para siswa dan guru. Kilas balik Sang Pahlawan Pendidikan Nasional kita. Beliau di lahirkan pada tanggal 2 Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang terkenal ialah sistem Among yang terdiri dari tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 28 April 1959 dan dimakamkan di Yogyakarta.
  • 3. ” Album Kenangan Saya Bersama Peserta Didik SMP Tamansiswa Cibadak Saat Zarah Ke Makam Ki Hajar “ Kiprah dan perjuangan beliau patut jadi panutan dan motivasi buat kita. Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikirannya tentang tujuan pendidikan yaitu memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial, dan sebagainya, serta harus didasarkan kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi . Beliau mendirikan Perguruan Tamansiswa pada tahun 1922, dimana pendidikan Tamansiswa berciri khas Pancadarma, yaitu 1) Kodrat Alam; 2) Kemerdekaan; 3) Kebudayaan; 4) Kebangsaan; 5) Kemanusian, yang berdasarkan Pancasila. Buah pikiran beliau tersimpan di Museum Dewantara Kirti Griya Yogyakarta (di Pusat Perguruan Tamansiswa Yogyakarta). Museum ini di bangun untuk melestarikan nilai-nilai semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara. Dalam museum ini terdapat benda-benda atau karya-karya Ki Hadjar sebagai pendiri Tamansiswa dan kiprahnya dalam kehidupan berbangsa. Koleksi museum yang berupa karya tulis atau konsep dan risalah-risalah penting serta data surat-menyurat semasa hidup Ki Hadjar sebagai jurnalis, pendidik, budayawan dan sebagai seorang seniman telah direkam dalam mikrofilm dan dilaminasi atas bantuan Badan Arsip Nasional. Apakah kita pernah kesana? Tak sedikit diantara kita yang belum pernah ataupun tak tahu sama sekali. Inilah kondisi kita sekarang ini. ” Album Kenangan Saya saat berkunjung Ke Majelis Luhur Tamansiswa dan Museum Dewantara “ “JAS MERAH” JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH . Ya…inilah seharusnya selaku warga dari bangsa yang besar jangan sekali-kali melupan sejarah. Kita bisa hidup nyaman, mencari ilmu setinggi-tingginya, berekspresi di manapun, salah satunya di kompasiana ini, tentu salah satunya adalah berkat jasa Beliau, sang Pahlawan Pendidikan Nusantara kita yang mulai di lupakan. ” Ki Hajar Dewantara” pantas rasanya kita kedepankan di era sekarang ini. Era yang serba syarat konplik. penuh dengan demo-demo, kreatifitas yang kebablasan, karakter bangsa yang mulai luntur, kepribadian yang semakin sirna dari
  • 4. akhlaqurkarimah, dan ego yang tinggi untuk menyelesaikam masalah semau dan seenaknya tanpa memikirkan orang lain. Prihatin rasanya kita sebagai bangsa yang besar, yang pahlawan kebangsaannya cukup disegani di seluruh dunia, tapi mulai melupakan para pahlawannya begitu saja hanya karena memikirkan sesuatu yang tak jelas. Pahlawan Nusantara ini lah yang menurut saya yang perlu di kedapankan dengan alasan : 1) Saya di ajari, didik dan di latih di Tamansiswa, setidaknya paham dan mengetahui bagaimana ajaran-ajaran Ki Hajar Dewantara yang masih relevan dan tak usang di makan waktu, seperti sistem Among ( Tutwuri Handayani, Ing Madya Mangun Karsa, Ing Ngarso Sung Tulodo) yang di gunakan untuk mengajar, mendidik, dan melatih para siswa. 2) Ajaran beliau tentang budi pekerti setidaknya diperlukan sekali di jaman dan era tawuran di kalangan pelajar sekarang ini. 3) Perguruan Tamansiswa menyebut gurunya dengan Pamong, yang berarti harus ngemong dan mengawasi peserta didik setidaknya selama 24 jam, sehingga peserta didik akan terawasi dan terjaga dari hal-hal yang negatif. 4) Beliau ( Ki Hajat Dewantara) adalah tokoh kebangsaan yang sepak terjangnya dalam dunia pendidikan di akui secara nasional dan internasional. 5) Jiwa jurnalis, wartawan, aktif di organisasi sosial dan politik, serta jiwa kebangsaannya tak perlu di ragukan lagi. Dengan tulisannya “Seandainya Aku Seorang Belanda” (judul asli: “Als ik een Nederlander was”) yang isinya cukup pedas sekali di kalangan Hindia Belanda pada waktu itu. Berikut kutipannya : (Sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/Ki_Hadjar_Dewantara ) “Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita
  • 5. keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya”. 6) Jika kita mau menggali dan berjiwa kebangsaan, guru profesional itu sebenarnya adalah guru yang menjalankan ajaran Ki Hajar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara merangkum konsep yang dikenal dengan istilah Among Methode atau sistem among. AMONG mempunyai pengertian menjaga, membina dan mendidik anak dengan kasih sayang. Pelaksana “among” (momong) disebut PAMONG, yang mempunyai kepandaian dan pengalaman lebih dari yang diamong. Guru atau dosen di Tamansiswa disebut pamong yang bertugas mendidik dan mengajar anak sepanjang waktu. Tujuan sistem among membangun anak didik menjadi manusia beriman dan bertakwa, merdeka lahir batin, budi pekerti luhur, cerdas dan berketrampilan, serta sehat jasmani rohani agar menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan tanah air serta manusia pada umumnya. Sistem among mengharamkan hukuman disiplin dengan paksaan/kekerasan karena itu akan menghilangkan jiwa merdeka anak. Kini orang banyak melihat tayangan kekerasan, misalnya saja film anak “Tom & Jery” yang melaksanakan hukuman kepada sesama dengan meledakkan dinamit. Hal ini tidak sesuai dengan pendidikan anak bila kita ingat sifat kodrati anak “nonton, niteni, niroke”. Sinetron tertentu ada yang dengan lugas melampiaskan kekerasan dan dendam. Sebaiknya orang tua mencermati, mengarahkan dan memilih tayangan TV di rumahnya. Sistem Among dilaksanakan secara “tut wuri handayani” dimana kita dapat “menemukenali” anak, bila perlu perilaku anak boleh dikoreksi (handayani) namun tetap dilaksanakan dengan kasih sayang. (sumber:http://www.tamansiswa.org) 7) Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para Pahlawannya. Kenapa kita tidak menghargai Ki Hajar Dewantara bapak pendidikan Nasional kita mulai sekarang ini ? http://lsmkomporsmi.wordpress.com/tag/ki-hadjar-dewantara/
  • 6. Ajaran Ki Hajar Dewantara Tentang Kepemimpinan 21.24 Suwandi Suwee No comments Ki Hajar Dewantara adalah tokoh dan pelopor pendidikan di Indonesia, yang mendirikan Perguruan Taman Siswa di tahun 1922. Di dalam mengelola perguruan tersebut, Ki Hajar memiliki moto dalam bahasa jawa yang berbunyi: Ing ngarso sung tulodho, ing madaya mangun karsa, tut wuri handayani.Moto tersebut terjemahan langsungnya adalah “di depan memberikan teladan, di tengah menggerakkan, di belakang memberikan dorongan”. Moto tersebut pada mulanya ditujukan untuk menjadi pedoman untuk membangun kultur positif antara guru dan murid, namun dalam perkembangannya konsep tersebut digunakan menjadi konsep kepemimpinan, yang khas dan asli Indonesia. Seorang pemimpin sejati memandang orang lain sebagai “manusia” yang harus dihargai karena sifat kemanusiaannya. Seorang pemimpin sejati “nguwongake”, memanusiakan manusia. Kaya-miskin, besar-kecil, tinggi-pendek, manajer-karyawan hanyalah variasi. Hakekatnya tetap manusia. Seorang pemimpin sejati menghormati orang yang ‘memimpin’ dan menghormati pula orang yang ‘dipimpin’. Memimpin-dipimpin adalah alami, bahkan tidak bisa dihindari. Sudah kodrat manusia untuk memimpin, dan kodrat pula untuk dipimpin. Untuk itulah dikotomi atasan-bawahan sebenarnya kurang tepat, karena yang sebenarnya ada hanyalah perbedaan peran. Dikotomi atasan bawahan menimbulkan efek berkuasa-tidak berkuasa, atau setidak-tidaknya mengutamakan tingkatan kekuasaan. Inilah yang kurang tepat. Pendekatan yang lebih alami adalah menempatkan manusia pada perannya masing-masing, dimana semuanya sama pentingnya. Seorang pemimpinpun demikian, harus mampu berperan pada tempat dimana ia berada, pada saat di depan, di tengah, maupun di belakang. Saat Pemimpin di Depan, Seorang pemimpin adalah panutan. Sebagai panutan, orang lain yang ada disekitarnya akan manut(bahasa jawa, yang artinya mengikuti, meniru). Disini bisa dilhat betapa besarnya tanggungjawab moral seorang pemimpin, karena tindak-tanduknya, tingkah lakunya, cara berfikirnya, bahkan kebiasaannya akan cenderung diikuti orang lain. Untuk itulah maka saat berada di depan, pemimpin harus memberikan teladan, memberikan contoh. Ini disebutkan oleh Ki Hajar dengan terminologi “ing ngarso sung tulodho”, saat di depan seorang pemimpin harus memberi teladan. Saat Pemimpin di Tengah, Seorang pemimpin yang berada di tengah-tengah orang-orang yang dipimpinnya, harus mampu menggerakkan, memotivasi, dan
  • 7. mengatur sumberdaya yang ada (empowering). Pada dasarnya setiap orang memiliki kemampuan untuk memotivasi diri sendiri (intrinsic motivation), sehingga ada ataupun tidak adanya stimuli tetap saja akan termotivasi. Hanya saja, kadar motivasi dari diri sendiri sering tidak stabil kehadirannya. Untuk itulah maka motivasi dari luar dirinya (extrinsic motivation) tetap sangat diperlukan. Disinilah seorang pemimpin dapat mengambil peran. Kehadirannya membuat orang tergerak untuk bertindak. Itulah pemimpin sejati. Saat Pemimpin di Belakang, Siapa bilang seorang pemimpin tidak boleh berada di barisan belakang? Pemimpin sejati diperlukan kehadirannya dibarisan belakang. Dari belakang seorang pemimpin dapat memberikan dorongan untuk terus maju. Pemimpin yang berada di barisan belakang harus pandai-pandai mengikuti barisan di depannya, agar konsisten gerakan dan arahnya , agar terjadi apa yang disebut goal cogruency, suatu keadaan di mana tujuan individu yang berada dalam suatu organisasi konsisten dengan tujuan organisasi. Tanpa goal congruency arah gerakan organisasi menjadi berat karena banyaknya arah yang tidak sama dan mungkin justru saling berlawanan. Seorang pemimpin sejati harus bisa ngemong (bahasa jawa yang berarti melayani, mengasuh, take care of). Bagaimana seorang penggembala itik berjalan diposisi paling belakang setelah barisan itik-itik yang digembalanya sering digunakan sebagai ilustrasi untuk menggambarkan bagaimana seorang pemimpin dapat mengarahkan orang dari belakang. Setiap orang memiliki bakat sendiri-sendiri. Setiap orang juga memiliki kemampuan untuk bisa bergerak maju mendapatkan apa yang mereka mau, dan juga apa yang diinginkan oleh organisasi. Pemimpin sejati memberikan dorongan dari belakang, tetap mengarahkan agar sesuai tujuan, dan mampu memastikan bahwa orang-orang di dalam organisasi bekerja sesuai dengan arah dan strategi yang telah ditetapkan. Jadi, seorang pemimpin sejati akan tut wuri handayani http://suwandisuwee.blogspot.com/2012/07/ajaran-ki-hajar-dewantara-tentang. html Ajaran Ki Hajar Dewantara KI Hajar Dewantara sebagi bapak pendidikan nasional mempunyai banyak ajaran yang bisa digunakan sebagai landasan dalam proses pendidikan. Tiga
  • 8. ajaran yang sangat terkenal dari beliau adalah ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso dan tut wuri handayani. Ing ngarso sung tulodho secara ringkas dapat dipahami bahwa seorang pemimpin (dalam profesi dan jabatan apapun) harus mampu menjadi contoh dalam segala aspek oleh seluruh pihak yang dipimpinnya, ing madyo mangun karso memberikan ajaran bahwa pemimpin berada di tengah-tengah pihak yang dipimpinnya dengan maksud pemimpin memahami riil permasalah dan mencarikan solusi terhadap permasalahan tersebut serta tut wuri handayani yang dapat dimaknai bahwa seorang pemimpin dituntut sanggup memberikan motivasi dan menciptakan suasana sehingga pihak yang dipimpinnya senantiasa mempunyai produktifitas tinggi Berdasar informasi dari media massa, dalam hal ini media televisi dan media cetak kita sering membaca dan melihat hitam –putih profil pemimpin kita, baik pemimpin di bidang eksekutif, yudikatif, maupun legislative. Dalam acara Indonesia lawyer club ditampilkan aneka permasalahan yang dialami pemimpin kita, permasalahan seputar korupsi, kolusi, nepotisme, penyalahgunaan wewenang dan sebagainya menjadi topik yang selalu dibahas dalam acara diskusi tersebut. Korupsi dengan hitungan milyar dilakukan oleh pemimpin-pemimpin dalam segala bidang, seperti :  Korupsi wisma atlet,  Suap pemilihan deputi Bank Indonesia,  Korupsi oleh pergawai ditjen pajak,  Pelanggaran HAM dalam kasus Mesuji,  Penyelewengan dana APBD,  Pembelanjaan bersumber dari APBN dengan alokasi yang tidak rasional dan lain-lain. Prestasi dan penghargaan yang diterima oleh para pemimpin seperti rangkaian penghargaan yang diterima oleh gubernur jawa tengah, capaian – capaian dalam penanganan kejahatan terorisme oleh institusi POLRI, pemenjaraan terpidana kasus korupsi oleh Komisis Pemberantasan Korupsi (KPK) dan lain-lain merupakan hal lain yang patut kita apresiasi. Karakteristik pemimpin dalam ajaran Ki Hajar Dewantara patut direnungkan, diapresiasi bahkan dijadikan sebagai ruh pendidikan dalam pengkaderan para calon pemimpin kita di segala bidang. Keserasian langkah semua komponen negara (eksekutif, legislative, yudikatif) dalam memberikan tauladan kepemimpinan yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotifme menjadi hal wajib yang harus dipenuhi dalam rangka memberi contoh kepada pihak yang dipimpinnya. Pandangan yang menyatakan bahwa pendidikan terjadi hanya di lembaga pendidikan formal selayaknya dirubah. Proses tumbuh kembang anak terjadi di lingkungan beragam, dimulai dari keluarga hingga teman sebaya lalu memasuki lingkungan pendidikan formal dan berakhir dalam masyarakat, oleh karena itu keterlibatan semua pihak diperlukan guna ketercapaian pembentukan karakter pemimpin yang bisa memberi tauladan dan memberi motifasi Apabila pendidikan menjadi kewajiban bersama tidak hanya kewajiban
  • 9. lembaga pendidikan formal maka perlu usaha dari semua pihak yang terlibat dalam proses sosialisasi peserta didik. Agen-agen perubahan social : Sekolah, keluarga, institusi agama, media massa, teman sepermainan harus mampu menyatukan visi dan semangat pendidikan yang sesuai dengan ajaran Ki Hajar Dewantara. Lembaga pendidikan sebagai salah satu agen perubahan social yang berpengaruh dalam merubah pola pikir, sikap dan sifat orang menjadi lembaga yang mutlak harus dibenahi guna mengatasi permasalahan di atas. Sistem pendidikan nasional disusun sehingga mampu menciptakan output-output yang mempunyai karakter unggul sebagai pemimpin, kurikulum dirancang dengan semangat merubah peserta didik menjadi tahu dan memiliki karakter pemimpin dalam semua disiplian keilmuan. Keluarga sebagai agen perubahan lain juga berperan penting dalam internalisasi karakter pemimpin sebagaimana ajaran Ki Hajar Dewantara. Orang tua menjadi pihak pertama yang memberikan pemahaman mengenai kepemimpinan kepada anak, pola asuh yang ditandai dengan kekerasan fisik mapun psikis, anak terlalu dikekang, kurang menghargai persahabatan akan menciptakan pemimpin yang kurang menghargai sesame, otoriter, tidak punya empati dan lain-lain. Read more at http://critoqu.blogspot.com/2012/07/ajaran-ki-hajar-dewantara. html#UerxcHx1S2dtFF0w.99 http://critoqu.blogspot.com/2012/07/ajaran-ki-hajar-dewantara.html Konsep Pendidikan Menurut Ajaran Ki Hadjar Dewantara Dalam dunia pendidikan, sosok Ki Hadjar Dewatara sebagai Bapak pendidikan bangsaIndonesia ini banyak mengajarkan berbagai hal yang sangat terkenal di bidang pendidikan. Konsep pendidikan nasional yang dikemukakan sangat membumi danberakar pada budaya nusantara, antara lain tutwuri handayani, “tripusat” pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat), tringgo (ngerti, ngroso, nglakoni) (Tauchid, 2004). 1. Sistem Among, Tutwuri Handayani Kata among itu sendiri berasal dari bahasa Jawa, mempunyai makna seseorang yang bertugas ngemong dan jiwanya penuh pengabdian. Sistem among sudah dikenal cukup lama di lingkungan Tamansiswa. Sistem among merupakan suatu cara mendidik yang diterapkan dengan maksud mewajibkan kodrat alam anak-anak didiknya. Cara mendidik yang harus diterapkan adalah menyokong atau memberi tuntunan dan menyokong anak-anak tumbuh dan berkembang atas kodratnya sendiri. Sistem among ini meletakkan pendidikan sebagai alat dan syarat untuk anak-anak hidup sendiri dan berguna bagi masyarakat. Pengajaran bagi Tamansiswa berarti mendidik anak agar menjadi manusia yang merdeka
  • 10. batinnya, merdeka pikirannya, merdeka tenaganya. Guru jangan hanya memberi pengetahuan yang baik dan perlu saja, akan tetapi harus juga mendidik murid agar dapat mencari sendiri pengetahuan itu dan memakainya guna amal keperluan umum. Pengetahuan yang baik dan perlu itu yang bermanfaat untuk keperluan lahir batin dalam hidup bersama. Tiap-tiap guru, dalam pola pikir Ki Hadjar Dewantara adalah abdi sang anak, abdi murid, bukan penguasa atas jiwa anak-anak (Sudarto, 2008). Di lingkungan Tamansiswa sebutan guru tidak digunakan dan diganti dengan sebutan pamong. Hubungan antara pamong dan siswa, harus dilandasi cinta kasih, saling percaya, jauh dari sifat otoriter dan situasi yang memanjakan. Dalam konsep ini, siswa bukan hanya objek, tetapi juga dalam kurun waktu yang bersamaan sekaligus menjadi subjek. Ki Hadjar Dewantara menjadikan tutwuri handayani sebagai semboyan metode among. Sudarto (2008) mengutip pendapat Ki Soeratman yang menyatakan bahwa sikap tutwuri merupakan perilaku pamong yang sifatnya memberi kebebasan kepada siswa untuk berbuat sesuatu sesuai dengan hasrat dan kehendaknya, sepanjang hal itu masih sesuai dengan norma-norma yang wajar dan tidak merugikan siapa pun.Tetapi kalau pelaksanaan kebebasan siswa itu ternyata menyimpang dari ketentuan yang seharusnya, seperti melanggar peraturan atau hukum masyarakat hingga merugikan pihak lain atau diri sendiri, pamong harus bersikap handayani , yakni mempengaruhi dengan daya kekuatannya, kalau perlu dengan paksaan dan kekerasan, apabila kebebasan yang diberikan itu dipergunakan untuk menyeleweng dan akan membahayakan diri. Jadi, tutwuri memberi kebebasan pada siswa untuk berbuat sekehendak hatinya, namun jika kebebasan itu akan menimbulkan kerugian pamong harus memberi peringatan. Handayani merupakan sikap yang harus ditaat oleh siswa hingga menimbulkan ketertundukan. Dengan demikian, sebagai subjek siswa memiliki kebebasan, sebagai objek siswa memiliki ketertundukan sebagai kewajibannya. Ki Hadjar memberi kias sistem among dengan gambaran bahwa guru terhadap murid harus berpikir, berperasaan dan bersikap sebagai Juru Tani terhadap tanaman peliharaannya, bukannya tanaman ditaklukan oleh kemauan dan keinginan Juru Tani. Juru Tani menyerahkan dan mengabdikan dirinya pada kepentingan kesuburan tanamannya itu. Kesuburan tanaman inilah yang menjadi kepentingan Juru Tani. Juru Tani tidak bisa mengubah sifat dan jenis tanaman menjadi tanaman jenis lain yang berbeda dasar sifatnya. Dia hanya bisa memperbaiki dan memperindah jenis dan usaha-usaha yang mendorong perbaikan perkembangan jenis itu. Juru Tani tidak bisa memaksa tanaman padi mempercepat buahnya supaya lekas masak menurut kemauannya karena kepentingan yang mendesak, tapi semua itu harus diikuti dengan kesabaran. Oleh sebab itu, Juru Tani harus tani harus tahu akan sifat dan watak serta jenis tanaman, perbedaan antara padi dan jagung, serta tanaman-tanaman lainnya dalam keperluan masing-masing agar tumbuh berkembang dengan subur dan hasil yang baik. Juru Tani harus faham akan ilmu mengasuh tanaman, untuk dapat bercocok tanam dengan
  • 11. baik, agar dapat menghasilkan tanaman yang subur dan buah yang baik. Menurut Ki Hadjar Dewantara, Juru Tani tidak boleh membeda-bedakan dari mana asalnya pupuk, asal alat kelengkapan atau asalnya ilmu pengetahuan dan sebagainya. Namun, harus dimanfaatkan segala yang menyuburkan tanaman menurut kodrat alam. Pamong harus punya karakter seperti Juru Tani ini, tidak membeda-bedakan anak didik, tetapi berusaha menciptakan agar anak-anak didiknya itu tumbuh menjadi anak-anak yang pintar, berjiwa merdeka, tidak bergantung dan berharap bantuan orang lain. Metode atau sistem among ini tampaknya menjadi ciri khas Tamansiswa, kiranya masih relevan untuk masa sekarang ini. Sebab keseimbangan pelaksanaan hak kebebasan dan kewajiban dalam metode tersebut merupakan jaminan adanya ketertiban dan kedamaian, serta jauh dari ketegangan dan anarki. Dalam dunia pendidikan anak didik akan tumbuh dan berkembang, seluruh potensi kodratinya sesuai dengan perkembangan alaminya dan wajar tanpa mengalami hambatan dan rintangan. Ajaran Ki Hadjar Dewantara ini memberi kebebasan anak didik, yang diharapkan anak didik akan tumbuh kemampuannya berinisiatif serta kreatif untuk mewujudkan eksistensi manusia. Ajaran Ki Hadjar Dewantara selain sistem atau metode among, yakni sistem paguron . Sistem paguron ini dinilai mempunyai kecocokan dengan kepribadian di Indonesia. Dalam perkembangannya kita melihat implementasinya melalui system pendidikan pesantren atau pendidikan asrama. endidiikan system paguron. Sistem paguron atau pawiyatan yang digagas beliau, mewujudkan rumah guru atau pamong sebagai tempat yang dikunjungi anak didik. Anak didik itulah yang dititipkan orang tuanya agar memperoleh pendidikan lanjutan yang terarah, terprogram, terkonsep, untuk jenjang kedewasaan yang lebih baik. Sistem paguron ini memiliki perbebedaan dengan sistem sekolah. Pada sistem paguron, guru dan anak didik berada pada lokasi yang sama dalam kehidupan sehari-hari, baik saat di sekolah maupun ketika melakukan interaksi setiap harinya, siang, pagi, malam dan berlangsung berbulan-bulan. Sedangkan pada sistem sekolah, guru dan anak didik sama-sama datang ke tempat pendidikan dalam waktu kurun tertentu, kemudian kembali ke tempat mereka masing-masing. Sehingga sistem sekolah sifatnya hanya sesaat. Efek paguron lebih baik, karena antara guru dan anak didik terjadi transformasi kehidupan yang menyentuh, integral, dan sangat efektif. Di dalam paguron dibutuhkan para pendidik yang selain memahami ilmu pengetahuan juga memiliki kepribadian, baik tingkah lakunya, tutur katanya, sehingga menjadi cermin dan panutan. Dengan demikian, anak didik akan mewarisi nilai-nilai kepribadian sang guru. 2. Tringa; Ngerti-Ngrasa-Ngalokoni Lickona (1991) dalam bukunya Educating for Character, menekankan pentingnya diperhatikan tiga komponen karakter yang baik yakni pengetahuan
  • 12. tentang moral(moral knowing), perasaan tentang moral (moral feeling) dan tindakan moral (moral action). Unsur pengertian moral adalah kesadaran moral, pengertian akan nilai, kemampuan untuk mengambil gagasan orang lain, rasionalitas moral (alasan mengapa harus melakukan hal itu), pengambilan tentang keputusan berdasarkan nilai moral, dan pengertian mendalam tentang dirinya sendiri. Segi pengertian atau kognitif ini cukup jelas dapat dikembangkan dalam pendalaman bersama di kelas maupun masukan orang lain. Dari segi kognitif ini, siswa dibantu untuk mengerti apa isi nilai yang digeluti dan mengapa nilai itu harus dilakukan dalam hidup mereka. Dengan demikian siswa sungguh mengerti apa yang akan dilakukan dan sadar akan apa yang dilakukan. Unsur perasaan moral meliputi suara hati (kesadaran akan yang baik dan tidak baik), harga diri seseorang, sikap empati terhadap orang lain, perasaan mencintai kebaikan, kontrol diri, dan rendah hati. Perasaan moral ini sangat mempengaruhi seseorang untuk mudah atau sulit bertindak baik atau jahat; maka perlu mendapat perhatian. Dalam pendidikan nilai, segi perasaan moral ini perlu mendapat tempatnya. Siswa dibantu untuk menjadi lebih tertarik dan merasakan bahwa nilai itu sungguh baik dan perlu dilakukan. Unsur tindakan moral adalah kompetensi (kemampuan untuk mengaplikasikan keputusan dan perasaan moral dalam tindakan konkret), kemauan, dan kebiasaan. Tanpa kemauan kuat, meski orang sudah tahu tentang tindakan baik yang harus dilakukan, ia tidak akan melakukaknnya. Dalam pendidikan karakter, kemampuan untuk melaksanakan dalam tindakan nyata, disertai kemauan dan kebiasaan melakukan moral harus dimunculkan dan ditingkatkan. Dengan demikian tampak jelas bahwa pendidikan karakter diperlukan ketiga unsur pengertian, perasaan, dan tindakan harus ada. Pendidikan karakter yang terlalu fokus pada pengembangan kognitif tingkat rendah, perlu dilengkapi dengan pengembangan kognitif tingkat tinggi sampai subjek didik memiliki keterampilan membuat keputusan moral yang tepat secara mandiri, memiliki komitmen yang tinggi untuk bertindak selaras dengan keputusan moral tersebut, dan memiliki kebiasaan (habit) untuk melakukan tindakan bermoral. Ki Hadjar mengartikan pendidikan sebagai daya upaya memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup, yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya. Salah satu nilai luhur bangsa Indonesia yang merupakan falsafah peninggalan Ki Hadjar Dewantara yang dapat diterapkan yakni tringa yang meliputi ngerti, ngrasa, dan nglakoni . Ki Hadjar mengingatkan, bahwa terhadap segala ajaran hidup, cita-cita hidup yang kita anut diperlukan pengertian, kesadaran dan kesungguhan pelaksanaannya. Tahu dan mengerti saja tidak cukup, kalau tidak merasakan menyadari, dan tidak ada artinya kalau tidak melaksanakan dan tidak memperjuangkannya. Merasa saja dengan tidak pengertian dan tidak melaksanakan, menjalankan tanpa kesadaran dan tanpa pengertian tidak akan membawa hasil. Sebab itu prasyarat bagi peserta tiap perjuangan cita-cita, ia harus tahu, mengerti apa maksudnya, apa
  • 13. tujuannya. Ia harus merasa dan sadar akan arti dan cita-cita itu dan merasa pula perlunya bagi dirinya dan bagi masyarakat, dan harus mengamalkan perjuangan itu. “Ilmu tanpa amal seperti pohon kayu yang tidak berbuah”, “Ngelmu tanpa laku kothong”, laku tanpa ngelmu cupet”. Ilmu tanpa perbuatan adalah kosong, perbuatan tanpa ilmu pincang. Oleh sebab itu, agar tidak kosong ilmu harus dengan perbuatan, agar tidak pincang perbuatan harus dengan ilmu. http://hafismuaddab.wordpress.com/2011/05/02/konsep-pendidikan-menurut-ajaran- ki-hadjar-dewantara/ Fatwa untuk Hidup Merdeka - KHD Jum'at, 20 Agustus 2010 Salam dan bahagia. Untuk peneguh keyakinan perjuangan kita, Ki Hadjar Dewantara memberikan kita bundelan dan beberapa ajarannya yang disebut "10 Fatwa akan Sendi Hidup Merdeka", untuk diingat-ingat, direnungkan, dan diamalkan: 1. "Lawan Sastra Ngesti Mulya"Dengan pengetahuan kita menuju kemuliaan. lnilah yang dicita-citakan Ki Hadjar dengan Tamansiswanya, untuk kemuliaan nusa bangsa dan rakyat. Sastra herjendrayuningrat pangruwating dyu, ilmu yang luhur dan mulia menyelamatkan dunia serta melenyapkan kebiadaban. Fatwa ini adalah juga candrasengkala, mencatat lahirnya Tamansiswa (tahun 1922). 2. "Suci Tata Ngesti Tunggal"Dengan suci batinnya, tertib lahirnya menuju kesempurnaan, sebagai janji yang harus diamalkan oleh tiap-tiap peserta perjuangan Tamansiswa. Fatwa ini juga sebagai candrasengkala, mencatat lahirnya Persatuan Tamansiswa (Tahun 1923). 3. "Hak diri untuk menuntut salam dan bahagia"Berdasarkan asas Tamansiswa, yang menjadi syarat hidup merdeka berdasarkan pada ajaran agama, bahwa bagi Tuhan semua manusia itu pada dasarnya sama; sama haknya dan sama kewajibannya. Sama haknya mengatur hidupnya serta sama haknya menjaIankan kewajiban kemanusiaan, untuk mengejar keselamatan hidup lahir dan bahagia daIam hidup batinnya. Jangan kita hanya mengejar keselamatan lahir, dan jangan pula hanya mengejar kebahagiaan hidup batin. 4. "Salam bahagia diri tak boleh menyalahi damainya masyarakat"Sebagai peringatan, bahwa kemerdekaan diri kita dibatasi oleh kepentingan keselamatan masyarakat. Batas kemerdekaan diri kita iaIah hak-hak orang lain yang seperti kita masing-masing sama-sama mengejar kebahagiaan hidup. Segala kepentingan bersama harus diletakkan di atas kepentingan diri masing-masing akan hidup selamat dan bahagia, apabila masyarakat kita terganggu, tidak tertib dan damai. Janganlah mengucapkan "hak diri" kalau tidak bersama-sama dengan ucapan "tertib damainya masyarakat",
  • 14. agar jangan sampai hak diri itu merusak hak diri orang lain sesama kita, yang berarti merusak keselamatan hidup bersama, yang juga merusak kita masing-masing. 5. "Kodrat alam penunjuk untuk hidup sempurna"Sebagai pengakuan bahwa kodrat alam, yaitu segala kekuatan dan kekuasaan yang mengelilingi dan melingkungi hidup kita itu adalah sifat lahirnya kekuasaan Tuhan yang maha kuasa, yang berjalan tertib dan sempuma di atas segala kekuasaan manusia. Janganlah hidup kita bertentangan dengan ketertiban kodrat alam. Petunjuk dalam kodrat alam kita jadikan pedoman hidup kita, baik sebagai alam kita jadikan pedoman hidup kita, baik sebagai orang seorang atau individu, sebagai bangsa maupun sebagai anggota dari alarn kemanusiaan. 6. "Alam hidup manusia adalah alam hidup berbulatan"Berarti bahwa hidup kita masing-masing itu ada dalam lingkungan berbagai alam-alam khusus, yang saling berhubungan dan berpengaruh. Alam khusus ialah alarn diri, alam kebangsaan dan alam kemanusiaan. Rasa diri, rasa bangsa dan rasa kemanusiaan ketiga-tiganya hidup dalam tiap-tiap sanubari kita masing-masing manusia. Adanya perasaan ini tidak dapat diungkiri. 7. "Dengan bebas dari segala ikatan dan suci hati berhambalah kita kepada Sang Anak"Penghambaan kepada Sang Anak tidak lain daripada penghambaan kita sendiri. Sungguhpun pengorbanan kita itu kita tujukan kepada Sang Anak, tetapi yang memerintahkan kita dan memberi titah untuk berhamba dan berkorban itu bukan si anak, tetapi kita sendiri masing-masing. Di sarnping itu kita menghambakan diri kepada bangsa, negara, pada rakyat dan agama atau terhadap lainnya. Semua itu tak lain penghambaan pada diri sendiri, untuk mencapai rasa bahagia dan rasa damai dalam jiwa kita sendiri. 8. "Tetep – Mantep – Antep"Dalam melaksanakan tugas perjungan kita, kita harus tetap hati. Tekun bekerja, tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Kita harus tetap tertib dan berjalan maju. Kita harus selalu "mantep", setia dan taat pada asas itu, teguh iman hingga tak ada yang akan dapat menahan gerak kita atau membelokkan aliran kita.Sesudah kita tetap dalam gerak lahir kita dan mantep dan tabah batin kita, segala perbuatan kita akan "antep", berat berisi dan berharga. Tak mudah dihambat, ditahan-tahan dan dilawan oleh orang lain. 9. "Ngandel – Kendel – Bandel"Kita harus "ngandel', percaya, jika kepada kekuasaan Tuhan dan percaya kepada diri sendiri. "Kendel", berani, tidak ketakutan dan was-was oleh karena kita percaya kepada Tuhan dan kepada diri sendiri. "Bandel", yang berarti tahan, dan tawakal. Dengan demikian maka kita menjadi "kendel", tebal, kuat lahir batin kita, berjuang untuk cita-cita kita. 10. "Neng – Ning – Nung – Nang"Dengan "meneng", tenteram lahir batin, tidak nervous, kita menjadi "ning", wening, bening, jernih pikiran kita, mudah membedakan mana hak dan mana batil, mana benar dan salah, kita menjadi "nung', hanung, kuat sentosa, kokoh lahir dan batin untuk mencapai cita-cita. Akhimya "nang", menang, dan dapat wewenang, berhak dan kuasa atas usaha kita.
  • 15. Salam. http://www.lp3m.ustjogja.ac.id/list_detail.php?k=1&act=view&id=118 "Menurut Ki Hadjar Dewantara terdapat lima asas dalam pendidikan yaitu : 1. Asas kemerdekaan; Memberikan kemerdekaan kepada anak didik, tetapi bukan kebebasan yang leluasa, terbuka (semau gue), melainkan kebebasan yang dituntun oleh kodrat alam, baik dalam kehidupan individu maupun sebagai anggota masyarakat. 2. Asas kodrat Alam; Pada dasarnya manusia itu sebagai makhluk yang menjadi satu dengan kodrat alam, tidak dapat lepas dari aturan main (Sunatullah), tiap orang diberi keleluasaan, dibiarkan, dibimbing untuk berkembang secara wajar menurut kodratnya. 3. Asas kebudayaan; Berakar dari kebudayaan bangsa, namun mengikuti kebudyaan luar yang telah maju sesuai dengan jaman. Kemajuan dunia terus diikuti, namun kebudayaan sendiri tetap menjadi acauan utama (jati diri). 4. Asas kebangsaan; Membina kesatuan kebangsaan, perasaan satu dalam suka dan duka, perjuangan bangsa, dengan tetap menghargai bangsa lain, menciptakan keserasian dengan bangsa lain. 5. Asas kemanusiaan; Mendidik anak menjadi manusia yang manusiawi sesuai dengan kodratnya sebagai makhluk Tuhan. Menurut Tilaar (2000 : 16) ada tiga hal yang perlu di kaji kembali dalam pendidikan. Pertama, pendidikan tidak dapat dibatasi hanya sebagai schooling belaka. Dengan membatasi pendidikan sebagai schooling maka pendidikan terasing dari kehidupan yang nyata dan masyarakat terlempar dari tanggung jawabnya dalam pendidikan. Oleh sebab itu, rumusan mengenai pendidikan dan kurikulumnya yang hanya membedakan antara pendidikan formal dan non formal perlu disempurnakan lagi dengan menempatkan pendidikan informal yang justru akan semakin memegang peranan penting didalam pembentukan tingkah laku manusia dalam kehidupan global yang terbuka. Kedua, pendidikan bukan hanya untuk mengembangkan intelegensi akademik peserta didik. Pengembangan seluruh spektrum intelegensi manusia baik jasmaniah maupun rohaniyahnya perlu diberikan kesempatan didalam program kurikulum yang luas dan fleksibel, baik didalam pendidikan formal, non formal dan informal. Ketiga, pendidikan ternyata bukan hanya membuat manusia pintar tetapi yang lebih penting ialah manusia yang berbudaya dan menyadari hakikat tujuan penciptaannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Sindhunata (2000 : 14) bahwa tujuan pendidikan bukan hanya manusia yang terpelajar tetapi manusia yang berbudaya (educated and Civized human being).
  • 16. Dengan demikian proses pendidikan dapat kita rumuskan sebagai proses hominisasi dan humanisasi yang berakar pada nilai-nilai moral dan agama, yang berlangsung baik di dalam lingkungan hidup pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa, kini dan masa depan. Untuk membentuk masyarakat Indonesia baru yaitu masyarakat madani yang diridhoi Allah swt. tentunya memerlukan paradigma baru. Paradigma lama tidak memadai lagi bahkan mungkin sudah tidak layak lagi digunakan. Suatu masyarakat yang religius dan demokratis tentunya memerlukan berbagai praksis pendidikan yang dapat menumbuhkan individu dan masyarakat yang religius dan demokratis pula. Masyarakat yang tertutup, yang sentralistik, yang mematikan inisiatif berfikir manusia dan jauh dari nilai-nilai moral dan agama Islam bukanlah merupakan pendidikan yang kita inginkan. Pada dasarnya paradigma pendidikan nasional yang baru harus dapat mengembangkan tingkah laku yang menjawab tantangan internal dan global dengan tetap memiliki keyakinan yang kuat terhadap Allah dan Syariatnya. Paradigma tersebut haruslah mengarah kepada lahirnya suatu bangsa Indonesia yang bersatu, demokratis dan religius yang sesuai dengan kehendaknya sebagai wujud nyata fungsi kekhalifahan manusia dimuka bumi. Oleh sebab itu, penyelenggaraan pendidikan yang sentralistik dan sekurelistik baik didalam manajemen maupun didalam penyusunan kurikulum yang kering dari nilai-nilai moral dan agama harus diubah dan disesuaikan kepada tuntutan pendidikan yang demokratis dan religius. Demikian pula di dalam menghadapi kehidupan global yang kompetitif dan inovatif, maka proses pendidikan haruslah mampu mengembangkan kemampuan untuk berkompetensi didalam kerja sama, mengembangkan sikap inovatif dan ingin selalu meningkatkan kualitas. Demikian pula paradigma pendidikan baru bukanlah mematikan kebhinekaan malahan mengembangkan kebhinekaan menuju kepada terciptanya suatu masyarakat Indonesia yang bersatu di atas kekayaan kebhinekaan mayarakat dan bangsa Indonesia. http://feryaguswijaya.blogspot.com/2009/12/lima-asas-pendidikan-menurut-ki-hadjar. html Pada Perguruan Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara (Djumhur, Danasupatra : 1976 : 174-176), mengembangkan lima asas dalam pendidikan yang dikonsepkan sebagai Panca Darma, yaitu:
  • 17. 3.1. Asas Kodrat Alam Sesuai dengan kodratnya, manusia berbeda dengan makhluk hidup lainya, yaitu dikaruniai akal-pikiran yang berkembang dan dapat dikembangkan. Oleh karena itu, sesuai dengan kodratnya manusia dikategorikan sebagai makhluk budaya. 3.2. Asas Kemerdekaan Proses kegiatan pendidikan yang berpegang pada asas kemerdekaan, berarti memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk mengembangkan potensinya menjadi kemampuan, dalam suasana yang penuh dengan tanggung jawab. Pengembangan dan penerapan asas kemerdekaan pada proses kegiatan pendidikan, berarti membimbing peserta didik dengan penuh tanggung jawab tanpa tekanan, untuk menjadi SDM yang berkemampuan sesuai dengan hakikatnya sebagai makhluk budaya dan juga makhluk sosial. 3.3. Asas Kebudayaan Dengan menerapkan asas kebudayaan , peserta didik dibimbing untuk menerima warisan generasi , namun juga didorong untuk memajukan kebudayaan tersebut sesuai dengan konstelasi global yang terus berkembang. Melalui penerapan asas kebudayaan ini, peserta didik tetap menerima warisan budaya bangsa sendiri (local genius), namun juga dipacu untuk meningkatkan kemampuan budaya tersebut sesuai dengan kemajuan jaman. Dengan demikian SDM tersebut diberdayakan menjadi SDM yang selalu segar (evergreen), modern, terhindar dari keusangan sikap mental. 3.4. Asas Kebangsaan Pengembangan dan penerapan asas kebangsaan pada proses kegiatan pendidikan di Indonesia, selain berdasarkan fakta, juga mendukung kebhinekaan atau kemajemukan yang menjadi salah satu ciri utama bangsa Indonesia. Proses kegiatan pendidikan yang berasaskan kebangsaan, harus mampu menanamkan, meningkatkan rasa kebangsaan kepada peserta didik, untuk menjadi SDM yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. 3.5. Asas Kemanusiaan Melalui penerapan asas kemanusiaan, peserta didik dibimbing menyadari harga dan martabat diri, serta nilai kemanusiaan yang secara kodrati melekat pada
  • 18. manusia dengan kehidupanya selaku umat yang sederajat atau sama di hadapan Tuhan. Dengan menerapkan asas kemanusiaan tersebut, peserta didik tidak hanya dikembangkan nalar emosionalnya, melainkan juga dibina nalar spiritualnya selaku umat. Oleh karena itu asas kemanusiaan berkedudukan strategis dalam proses kegiatan pendidikan untuk menciptakan SDM yang manusiawi dan religius. Sumber:http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2242249-panca-darma-taman- siswa/#ixzz2QOd7Msqi Tiga Ajaran Kepemimpinan Ki Hajar Dewantara alam perjalanan hidupnya Ki Hajar Dewantara tidak hanya dikenal sebagai bapak Pendidikan , namun juga sebagai pemimpin yang tangguh. Dimana ia memotivasi orang - orang untuk terus menerus belajar dan belajar tanpa henti . Kharismanya sebagai pemimpin dalam memajukan pendidikan menjadikan ajarannya terus menjadi motivasi hingga sekarang . Adapun ketiga ajarannya , yakni Ing Ngarso Sun Tulodo , Ing Madyo Mbangun Karso , dan Tut Wuri Handayani akan kami bahas pada penjelasan berikut: Ing Ngarso Sun Tulodo Ing ngarso mempunyai arti di depan / di muka, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang - orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan. Dalam ajaran Ki Hajar yang pertama ini menggambarkan situasi dimana seorang pemimpin bukan hanya sebagai orang yang berjalan di depan , namun juga harus menjadi teladan bagi orang - orang yang mengikutinya . Kata Ing Ngarso tidak dapat berdiri sendiri , jika tidak mendapatkan kalimat penjelas dibelakangnya . Artinya seorang yang berada di depan jika belum memberi teladan maka belum pantas menyandang gelar 'pemimpin' . Jika kita melihat kepemimpinan dari orang
  • 19. - orang dalam sejarah , maka dapat kita lihat betapa perbuatan sang pemimpin menjadi inspirasi bagi orang yang dipimpinnya . Ing Madyo Mbangun Karso Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mbangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna dari kata itu adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat . Karena itu seseorang juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan. Ajaran kedua ini sarat dengan makna kebersamaan , kekompakan , dan kerjasama . Seorang pemimpin tidak hanya melihat kepada orang yang dipimpinnya , melainkan ia juga harus berada di tengah - tengah orang yang dipimpinnya . Maka sangat tidak terpuji bila seorang pemimpin hanya diam dan tak berbuat apa - apa sedangkan orang yang dipimpinnya menderita. Selain itu pemimpin harus kreatif dalam memimpin , sehingga orang yang dipimpinnya mempunyai wawasan baru dalam bertindak . Ditambahlagi seorang pemimpin harus melindungi segenap orang yang dipimpinnya. Tut Wuri Handayani Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang - orang disekitar kita menumbuhkan motivasi dan semangat. Ajaran kepemimpinan yang ketiga ini merupakan semboyan dari dunia Pendidikan , yang tentunya mempunyai makna yang mendalam . Jika diartikan secara keseluruhan Tut Wuri Handayani bertujuan untuk menciptakan pribadi yang Mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain . Dan diharapkan akan muncul generasi baru yang akan berani memimpin tanpa menunggu orang lain untuk memimpin . Adapun dorongan tersebut dapat berupa moral dan semangat kepada orang lain . Maka dari itu pendidikan mengambil semboyan ini , agar pendidikan menjadi sebuah perantara membentuk generasi mandiri dan tidak bergantung pada orang
  • 20. lain . Maka dimasa yang akan datang dengan pendidikan yang dimilikinya orang tersebut tidak akan mudah untuk diperalat. http://www.gudangmateri.com/2011/04/tiga-ajaran-kepemimpinan-ki-hajar.html (Arti dari Ajaran Ki Hajar Dewantara – Tutwuri Handayani) – Salah satu Ajaran dari Ki Hajar Dewantarayang sangat populer adalah “Seorang pemimpin harus memiliki tiga sifat yang terangkum pada: Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani”, dimana ketiga kalimat tersebut memiliki arti sebagai berikut: 1. Ing Ngarso Sun Tulodo artinya Ing ngarso itu didepan / dimuka, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang – orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan. 2. Ing Madyo Mangun Karso, Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna dari kata itu adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat . Karena itu seseorang juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan. 3. Tut Wuri Handayani, Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang – orang disekitar kita menumbuhkan motivasi dan semangat. Jadi secara tersirat Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani berarti figur seseorang yang baik adalah disamping menjadi suri tauladan atau panutan, tetapi juga harus mampu menggugah semangat dan memberikan dorongan moral dari belakang agar orang – orang disekitarnya dapat merasa situasi yang baik dan bersahabat . Sehingga kita dapat menjadi manusia yang bermanfaat di masyarakat. http://www.diwarta.com/arti-dari-ajaran-ki-hajar-dewantara-tutwuri-handayani/ 768/
  • 21. Tiga puluh enam tahun yang lalu, tepatnya tahun 1976, saya memulai sekolah di Taman Muda ( Sekolah SD di Tamansiswa), 5 tahun setelah itu masuk di Taman Dewasa ( Sekolah SMP di Tamansiswa) . Tahun 1988 saya mulai menjadi guru di Taman Dewasa ( SMP Tamansiswa ) Cibadak sampai dengan tahun 2005. Sejak itu saya diangkat jadi PNS dan sekarang mengajar di SMP Negeri 3 Cibadak. Sebuah perjalanan pendidikan yang tak bisa di lepaskan dari sosok seorang Soewardi Suryaningrat ( lebih terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara), Bapak Pendidikan kita semua, yang tanggal kelahirannya, 2 Mei di peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara terkenal dengan ajarannya Sistem Among ( Tutwuri handayani, Ing Madya mangun karsa, Ing ngarsa sung tulada) di Tamansiswa, ialah suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan 1) Kodrat Alam, sebagai syarat untuk mencapai kemajuan dengan secepatcepatnya dan sebaik-baiknya; 2) Kemerdekaan, sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir batin anak, agar dapat memiliki pribadi yang kuat dan dapat berpikir serta bertindak merdeka. Sistem tersebut menurut cara berlakunya, juga disebut sistem Tutwuri Handayani. Apa yang terjadi sekarang ini? Dunia pendidikan di hebohkan dengan tawuran antar pelajar mulai dari anak-anak SMP, SMA/SMK sampai perguruan tinggi, hampir setiap hari menghiasi surat kabar dan Televisi. Para guru rame mencari metode dan model pengajaran yang relevan dengan era dan jaman yang serba di gital. Mereka lupa, bahwa kita punya seorang pahlawan pendidikan yang harus nya jadi tauladan dan panutan para siswa dan pendidik di negeri ini. Kita kehilangan karakter dan kepribadian bangsa. Erosi sikap dan perilaku sudah menjalar di setiap aktifitas para siswa dan guru. Kilas balik Sang Pahlawan Pendidikan Nasional kita. Beliau di lahirkan pada tanggal 2 Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang terkenal ialah sistem Among yang terdiri dari tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 28 April 1959 dan dimakamkan di Yogyakarta. Tiga puluh enam tahun yang lalu, tepatnya tahun 1976, saya memulai sekolah di Taman Muda ( Sekolah SD di Tamansiswa), 5 tahun setelah itu masuk di Taman Dewasa ( Sekolah SMP di Tamansiswa) . Tahun 1988 saya mulai menjadi guru di Taman Dewasa ( SMP Tamansiswa ) Cibadak sampai dengan tahun 2005. Sejak itu saya diangkat jadi PNS dan sekarang mengajar di SMP Negeri 3 Cibadak. Sebuah perjalanan pendidikan yang tak bisa di lepaskan dari sosok seorang Soewardi Suryaningrat ( lebih terkenal dengan nama Ki Hajar Dewantara), Bapak Pendidikan kita semua, yang tanggal kelahirannya, 2 Mei di peringati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
  • 22. Ki Hajar Dewantara terkenal dengan ajarannya Sistem Among ( Tutwuri handayani, Ing Madya mangun karsa, Ing ngarsa sung tulada) di Tamansiswa, ialah suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan 1) Kodrat Alam, sebagai syarat untuk mencapai kemajuan dengan secepatcepatnya dan sebaik-baiknya; 2) Kemerdekaan, sebagai syarat untuk menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir batin anak, agar dapat memiliki pribadi yang kuat dan dapat berpikir serta bertindak merdeka. Sistem tersebut menurut cara berlakunya, juga disebut sistem Tutwuri Handayani. Apa yang terjadi sekarang ini? Dunia pendidikan di hebohkan dengan tawuran antar pelajar mulai dari anak-anak SMP, SMA/SMK sampai perguruan tinggi, hampir setiap hari menghiasi surat kabar dan Televisi. Para guru rame mencari metode dan model pengajaran yang relevan dengan era dan jaman yang serba di gital. Mereka lupa, bahwa kita punya seorang pahlawan pendidikan yang harus nya jadi tauladan dan panutan para siswa dan pendidik di negeri ini. Kita kehilangan karakter dan kepribadian bangsa. Erosi sikap dan perilaku sudah menjalar di setiap aktifitas para siswa dan guru. Kilas balik Sang Pahlawan Pendidikan Nasional kita. Beliau di lahirkan pada tanggal 2 Mei 1889. Hari lahirnya, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ajarannya yang terkenal ialah sistem Among yang terdiri dari tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan), ing madya mangun karsa (di tengah menciptakan peluang untuk berprakarsa), ing ngarsa sungtulada (di depan memberi teladan). Ia meninggal dunia di Yogyakarta tanggal 28 April 1959 dan dimakamkan di Yogyakarta. SISTEM AMONG Desember 15, 2009 pada 9:13 am (Uncategorized) Sistem Among adalah cara pelaksanaan pendidikan dalam Gerakan Pramuka. Sitem Among adalah hasil pemikiran Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan dan pendiri Perguruan Taman Siswa. Ki Hajar Dewantara, menjabat Menteri Pendidikan pada Kabinet RI pertama. KI Hajar Dewantara lahir pada tanggal 2 Mei 1889 dan wafat pada tanggal 28 April 1959. Kata Among berarti mengasuh, memelihara atau menjaga. Dan orang yang melakukannya disebut PAMONG. Sistem Among tampak jelas pada kalimat “ ING NGARSO SUNG TULODO, ING MADYA MANGUN KASRO, TUT WURI HANDAYANI “ yang artinya “ DI DEPAN MEMBANGUN /
  • 23. MELAKSANAKAN, DAN DI BELAKANG MEMBERI DORONGAN / BANTUAN KE ARAH MANDIRI”. (1) Pendidikan dalam Gerakan Pramuka ditinjau dari hubungan antara pembina dengan anggota muda dan anggota dewasa muda menggunakan sistem among. (2) Sistem Among berarti mendidik anggota Gerakan Pramuka menjadi insan merdeka jasmani, rokhani, dan pikirannya, disertai rasa tanggungjawab dan kesadaran akan pentingnya bermitra dengan orang lain. (3) Sistem among mewajibkan anggota dewasa Gerakan Pramuka melaksanakan prinsip-prinsip kepemimpinan sebagai berikut: a. Ing ngarso sung tulodo maksudnya di depan menjadi teladan; b. Ing madyo mangun karso maksudnya di tengah membangun kemauan; c. Tut wuri handayani maksudnya dari belakang memberi dorongan dan pengaruh yang baik ke arah kemandirian. (4) Dalam melaksanakan tugasnya anggota dewasa wajib bersikap dan berperilaku berdasarkan: a. Cinta kasih, kejujuran, keadilan, kepatutan, kesederhanaan, kesanggupan berkorban dan rasa kesetiakawanan sosial. b. Disiplin disertai inisiatif dan tanggungjawab terhadap diri sendiri, sesama manusia, negara dan bangsa, alam dan lingkungan hidup, serta bertanggung-jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa. (5) Hubungan anggota dewasa dengan anggota muda dan anggota dewasa muda merupakan hubungan khas, yaitu setiap anggota dewasa wajib memperhatikan perkembangan anggota muda dan anggota dewasa muda secara pribadi agar perhatian terhadap pembinaannya dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan kepramukaan. (6) Anggota Dewasa berusaha secara bertahap menyerahkan pimpinan kegiatan sebanyak mungkin kepada anggota dewasa muda, sedangkan anggota dewasa secara kemitraan memberi semangat,dorongan dan pengaruh yang baik. About these ads
  • 24. http://materipramukasatryarovers.wordpress.com/2009/12/15/sistem-among/ 3 Ajaran Ki Hadjar Dewantara untuk Pemimpin Ideal · Addthis Akhir-akhir ini kita menyaksikan betapa pendidikan belum bisa merubah karakter anak bangsa secara keseluruhan. Masih ada saja kasus tawuran antar pelajar dan tawuran antar mahasiswa. Sikap kaum terpelajar tidak tampak lagi di tunjukan para remaja dan pemuda yang masih mengenyam pendidikan di sekolah maupun bangku perkuliahan. Tingkat kemandirian juga belum begitu tampak dalam diri generasi muda. Banyak dari mereka setelah lulus sekolah maupun kuliah berbondong-bondong memenuhi pameran Job Fair untuk mencari pekerjaan. Muncul juga para pemimpin muda yang terjerat korupsi. Mereka tidak mampu memberi contoh tauladan yang baik bagi organisasi yang dipimpinnya. Produk-produk buatan anak negeri belum begitu nampak menjadi kebanggaan di negeri sendiri. Anak-anak muda banyak yang lebih bangga menggunakan produk impor. Melihat itu semua tetu kita sangan prihatin. Padahal kita memiliki banyak tokoh pendiri bangsa yang patut kita contoh baik kepribadian dan ajarannya. Sesungguhnya kita punya tokoh pendidikan yang ajarannya tidak bisa lengkang oleh zaman. Ajaran beliau akan tetap relevan di terapkan sampai sekarang. Beliau adalah Ki Hajar Dewantara, Lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889.Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Ia berasal dari lingkungan keluarga kraton Yogyakarta. Raden Mas Soewardi Soeryaningrat, saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara. Semenjak saat itu, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. 3 ajaran beliau yang harus menjadi landasan pendidikan di negeri adalah 1. Ing Ngarso Sun Tulodo. 2. Ing Madyo Mbangun Karso. 3. Tut Wuri Handayani.
  • 25. Ing Ngarso Sun Tulodo Ing ngarso mempunyai arti di depan / di muka, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang - orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah kata suri tauladan. Dalam ajaran Ki Hajar yang pertama ini menggambarkan situasi dimana seorang pemimpin bukan hanya sebagai orang yang berjalan di depan , namun juga harus menjadi teladan bagi orang - orang yang mengikutinya . Kata Ing Ngarso tidak dapat berdiri sendiri , jika tidak mendapatkan kalimat penjelas dibelakangnya . Artinya seorang yang berada di depan jika belum memberi teladan maka belum pantas menyandang gelar ‘pemimpin’ . Jika kita melihat kepemimpinan dari orang - orang dalam sejarah , maka dapat kita lihat betapa perbuatan sang pemimpin menjadi inspirasi bagi orang yang dipimpinnya . Ing Madyo Mbangun Karso Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mbangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna dari kata itu adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat . Karena itu seseorang juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan. Ajaran kedua ini sarat dengan makna kebersamaan , kekompakan , dan kerjasama . Seorang pemimpin tidak hanya melihat kepada orang yang dipimpinnya , melainkan ia juga harus berada di tengah - tengah orang yang dipimpinnya . Maka sangat tidak terpuji bila seorang pemimpin hanya diam dan tak berbuat apa - apa sedangkan orang yang dipimpinnya menderita. Selain itu pemimpin harus kreatif dalam memimpin , sehingga orang yang dipimpinnya mempunyai wawasan baru dalam bertindak . Ditambahlagi seorang pemimpin harus melindungi segenap orang yang dipimpinnya. Tut Wuri Handayani Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang - orang disekitar kita menumbuhkan motivasi dan semangat. Ajaran kepemimpinan yang ketiga ini merupakan semboyan dari dunia Pendidikan , yang tentunya mempunyai makna yang mendalam . Jika diartikan
  • 26. secara keseluruhan Tut Wuri Handayani bertujuan untuk menciptakan pribadi yang Mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain . Dan diharapkan akan muncul generasi baru yang akan berani memimpin tanpa menunggu orang lain untuk memimpin . Adapun dorongan tersebut dapat berupa moral dan semangat kepada orang lain . Maka dari itu pendidikan mengambil semboyan ini , agar pendidikan menjadi sebuah perantara membentuk generasi mandiri dan tidak bergantung pada orang lain . Maka dimasa yang akan datang dengan pendidikan yang dimilikinya orang tersebut tidak akan mudah untuk diperalat. Ketiga ajaran tersebut meiliki nilai luar biasa apabila mampu di terapkan di negeri ini. Ki Hadjar Dewantara pasti sudah melihat bagaimana membuat konsep pendidikan yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Saya yakin apabila ajaran tersebut di terapakan dengan benar dan konsisten tidak ada lagi pemimpin yang korupsi, tidak ada lagi tawuran antar pelajar dan tidak ada lagi generasi pengekor. Mari kita sama-sama mewujudkan ajaran Ki Hadjar Dewantara sehingga akan terlahir pemimpin yang berkarakter di negeri ini. http://www.wiwinkatingan.com/artikel-2/75-3-ajaran-ki-hadjar-dewantara-untuk-pemimpin- ideal.html AJARAN KI HAJAR DEWANTARA Home > Renungan > Ajaran Ki Hajar Dewantara Ki Hajar Dewantara seorang tokoh yang tidak hanya dikenal sebagai bapak Pendidikan, namun juga sebagai pemimpin yang tangguh. Dimana ia memotivasi orang - orang untuk terus menerus belajar dan belajar tanpa henti . Kharismanya sebagai pemimpin dalam memajukan pendidikan menjadikan ajarannya terus menjadi motivasi hingga sekarang. Adapun ajaran dari Ki Hajar Dewantara, Yaitu Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: Ing Ngarso Sun Tulodo Ing ngarso mempunyai arti di depan / di muka, Sun berasal dari kata Ingsun yang artinya saya, Tulodo berarti tauladan. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi orang - orang disekitarnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seseorang adalah
  • 27. kata suri tauladan. Dalam ajaran Ki Hajar yang pertama ini menggambarkan situasi dimana seorang pemimpin bukan hanya sebagai orang yang berjalan di depan, namun juga harus menjadi teladan bagi orang - orang yang mengikutinya. Kata Ing Ngarso tidak dapat berdiri sendiri, jika tidak mendapatkan kalimat penjelas dibelakangnya. Ing Madyo Mangun Karso Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Jadi makna dari kata itu adalah seseorang ditengah kesibukannya harus juga mampu membangkitkan atau menggugah semangat. Karena itu seseorang juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungannya dengan menciptakan suasana yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan. Ajaran kedua ini sarat dengan makna kebersamaan, kekompakan, dan kerjasama. Seorang pemimpin tidak hanya melihat kepada orang yang dipimpinnya, melainkan ia juga harus berada di tengah - tengah orang yang dipimpinnya. Maka sangat tidak terpuji bila seorang pemimpin hanya diam dan tak berbuat apa - apa sedangkan orang yang dipimpinnya menderita. Tut Wuri Handayani Tut Wuri artinya mengikuti dari belakang dan handayani berati memberikan dorongan moral atau dorongan semangat. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seseorang harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang. Dorongan moral ini sangat dibutuhkan oleh orang - orang disekitar kita menumbuhkan motivasi dan semangat. Ajaran kepemimpinan yang ketiga ini merupakan semboyan dari dunia Pendidikan, yang tentunya mempunyai makna yang mendalam. Jika diartikan secara keseluruhan Tut Wuri Handayani bertujuan untuk menciptakan pribadi yang Mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Dan diharapkan akan muncul generasi baru yang akan berani memimpin tanpa menunggu orang lain untuk memimpin. Adapun dorongan tersebut dapat berupa moral dan semangat kepada orang lain. Maka dari itu pendidikan mengambil semboyan ini, agar pendidikan menjadi sebuah perantara membentuk generasi mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Maka dimasa yang akan datang dengan pendidikan yang dimilikinya orang tersebut tidak akan mudah untuk diperalat http://edokumen.blogspot.com/2012/05/ajaran-ki-hajar-dewantara.html
  • 28. KESIMPULAN Bahwa Ki Hajar Dewantara Memiliki banyak ajaran yang berguna bagi kita baik dalam bidang pendidikan dan juga bidang kepemimpinan. Dalam ajaran Ki hajar Dewantara adanya kemerdekaan atau kebebasan seorang manusia untuk melakukan sesuai keinginannya namun ada batasan – batasannya. Ajaran yang paling terkenal adalah Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani . Khususnya bidang pendidikan adalah Tut Wuri Handayani bertujuan untuk menciptakan pribadi yang Mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Dan diharapkan akan muncul generasi baru yang akan berani memimpin tanpa menunggu orang lain untuk memimpin. Secara keseleruhuan makna Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani merupakan kriteria bagi pemimpin maupun calon pemimpin . Mulai dari ajaran Ing Ngarso Sun Tulodo yang mengharuskan pemimpin menjadi teladan , Ing Madyo Mbangun Karso seorang pemimpin harus berbaur , dan Tut Wuri Handayani yang mengajarkan sikap mandiri dan tidak tergantung pada orang lain . Bilamana seseorang telah berhasil menerapkan dengan tepat ajaran kepemimpinan Ki Hajar Dewantara ini maka niscaya kemakmuran dan kesejahteraan akan meliputi oranh yang dipimpinnya . Ada juga Sistem Among sistem atau cara pendidikan yang dilakukan di tamansiswa dengan cara Tut Wuri Handayani. Jika kita seorang guru kita harus memberikan kebebasan pada murid – murid kita sesuai dengan keinginannya tapi kita juga harus tegas ketika kebebasan yang kita berikan disalah gunakan dan akan membahayakan keselamatannya dan orang lain. Ada juga ajaran Ki Hajar Dewantara yaitu Panca Darma yaitu 3.1. Asas Kodrat Alam 3.2. Asas Kemerdekaan 3.3. Asas Kebudayaan 3.4. Asas Kebangsaan 3.5. Asas Kemanusiaan
  • 29. Semua ajaran Ki Hajar Dewantara selalu memberikan nilai dan contoh positif bagi yang melaksanakannya.