From Cybersecurity to Cognitive Security
Bayangkan sebuah negara yang bisa diguncang tanpa satu pun serangan siber terjadi. Tidak ada server yang diretas, tidak ada pusat data yang tumbang, namun kepanikan publik menyebar seperti api. Itulah pertanyaan provokatif yang saya sampaikan sebagai salah satu distinguish speaker di Indonesia Cyber Security Summit (ICSS) 2025.
Peristiwa Agustus Kelabu menjadi contoh telanjang bagaimana bangsa ini bisa digoyang bukan melalui jalur digital yang kita jaga siang malam, tetapi melalui pikiran warganya. Dalam hitungan jam, rumor, video tanpa konteks, dan narasi yang dipelintir memicu eskalasi sosial hingga menyebabkan pembakaran Gedung DPRD Makassar, Gedung Grahadi Surabaya, pos polisi, dan fasilitas publik lainnya. Inilah bentuk serangan baru. Serangan terhadap persepsi, emosi, dan nalar publik.
Dalam forum ini, saya menunjukkan bagaimana analisis Drone Emprit selama Agustus Kelabu mengungkap pola koordinasi yang rapi. Botnet yang bergerak serentak, akun‐akun amplifier yang memompa emosi massa, dan narrative flooding yang menutup ruang klarifikasi.
Ketika AI semakin murah, semakin cepat, dan semakin mampu meniru bahasa manusia, ancaman terhadap pikiran publik meningkat secara eksponensial. Karena itu saya menekankan bahwa keamanan digital tidak lagi bisa berhenti pada cybersecurity dan information security.
Kita harus mengakui keberadaan lapisan ketiga yang selama ini luput: Cognitive Security, yaitu upaya melindungi integritas nalar publik dari manipulasi berbasis AI, algoritma, dan bias kognitif.
Saya mengajak para pemimpin, regulator, dan para ahli siber di ruangan ini untuk melihat kenyataan baru, bahwa stabilitas nasional kini sangat ditentukan oleh kemampuan kita menjaga pikiran publik. Jika persepsi dapat direkayasa, maka negara dapat digoyang tanpa satu pun kabel jaringan disentuh.