SlideShare a Scribd company logo
1
BIOGRAFI DAN PANDANGAN PENDIDIKAN ISLAM IMAM SYAFI’I
SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM
DI INDONESIA
Nurul Safiqa (202127019)
Jurusan Manajemen Pendidikan Islam
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe
Jalan Medan - Banda Aceh, Alue Awe, Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Aceh 24352
e-mail: nurulsafiqa30@gmail.com
Abstrak
Tulisan ini mengungkap pemikiran Imam Syafi’i tentang pendidikan. Imam Syafi’i
lebih dikenali sebagai ulama fiqh, namun beliau memberi sumbangan yang tidak kurang
hebatnya dalam bidang pendidikan. Beliau lebih mengedepankan masalah adab/akhlak dalam
kurikulum pendidikannya. Hal ini terlihat dari berbagai syair beliau yang mengedepankan
masalah adab bagi para penuntut ilmu. Ada tiga sumbangan besar Imam Syafi’i dalam
pendidikan, yaitu: konsep ilmu, menuntut ilmu harus memiliki landasan (hujjah) dan etika
dalam menuntut ilmu. Maka beliau menegaskan bahwa kesuksesan dalam menuntut ilmu akan
didapatkan bila kita para penuntut ilmu memiliki 6 ciri di antaranya: (1) kecerdasan, (2)
semangat, (3) bersungguh-sungguh, (4) dirham (kesediaan keluarkan uang), (5) bersahabat
dengan ustadz, (6) memerlukan waktu yang lama.
Kata Kunci: pemikiran, pendidikan, Imam Syafi’i.
Pendahuluan
Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i atau dikenali sebagai Imam Syafi’i merupakan
seorang tokoh Islam yang mempunyai nama yang cukup besar dalam mengulurkan sumbangan
dan kebaikan terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan kepada seluruh umat
Islam. Ketinggian ilmunya melebihi pujian yang diucapkan kepadanya. Penguasaan ilmu
pengetahuannya yang bersumberkan kepada rujukan Alquranul karim dan Sunnah Nabi amat
disegani oleh pihak kawan maupun lawan. Beliau telah menghabiskan sisa hidupnya dengan
menimba berbagai ilmu pengetahuan untuk ditaburkan kembali dalam tarbiyah (pendidikan)
dan pembangunan masyarakat. Tidak dapat dinafikan, beliau merupakan qudwatun hasanah
(ikutan atau tauladan yang baik) sebagai ulama mulia yang memperjuangkan mazhab ahlus-
Sunnah wal-Jamaah. Beliau juga telah mengangkat martabat Islam ke makam (kedudukan)
yang terpuji di sisi Allah swt. Sesungguhnya, kehebatan Imam Syafi’i amat menonjol dan
tersohor sebagai seorang pelopor dan perumus pertama metodologi hukum Islam mengikut
furuk (cabang) ilmu pengetahuan.
Ushul fiqh (metodologi hukum Islam) ‘lahir’ setelah Imam Syafi’i menulis karya-
karyanya yang begitu hebat dan amat menakjubkan dalam dunia keilmuan Islam dan Barat.
Pada masa kini, Mazhab Syafi’i telahpun diikuti, diamalkan dan dijadikan panduan serta
pedoman oleh 28% umat Islam seluruh dunia. Malah, merupakan mazhab yang kedua terbesar
pengikutnya setelah Mazhab Hanafi. Dalam perkembangan pemikirannya, Imam Syafi’i
mempunyai dua pendapat yang berbeda. Kedua pendapat ini biasa dikenal dengan qaul qadīm
2
dan qaul jadīd. Berbagai tafsiran muncul berkisar hal ini, ada yang menyelidiki kemungkinan
pengaruh sosio-kultural yang sangat kontras antara Irak dan Mesir, serta ada juga yang
melihatnya sebagai peristiwa ralat biasa yang disebabkan penemuan hadith baru yang lebih
kuat.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dengan jenis penelitian
kepustakaan (library research). Data dikumpulkan dari sumber buku besar atau jurnal
penelitian yang relevan. Sumber referensi yang digunakan berkaitan dengan topik pemikiran
pendidikan Islam, Imam Syafi’i dan pemikirannya, pandangan pendidikan Islam Imam Syafi’i
dan implikasinya terhadap pendidikan Islam di Indonesia.
Pembahasan
A. Biografi Imam Syafi’i
Imam Syafi’i keturunan Mutthalib dari sisi ayahnya, silsilah nasabnya adalah
Muhammad ibn Idris ibn Abbas ibn Utsman ibni Syafi’i ibn Saib ibn Abdul Yazid Ibnu Hisyam
ibn Muthalib ibn Abdul Manaf. Nasab as-Syafi’i bertemu dengan Rasulullah SAW di Abdul
Manaf.1
Imam Syafi’i lahir pada tahun wafatnya Imam Abu Hanifah, beliau Lahir di Ghazzah
Palestina pada tahun 150 H/767 M.2
Yang dimaksud Ghazza di sini adalah suatu kampung yang
termasuk jajahan Palestina yang masih masuk wilayah Asqolan. Kemudian beliau dibawa oleh
ibunya ke Makkah dan dibesarkan di sana.3
Beliau wafat pada usia 54 tahun di Fustat (Kairo)
Mesir pada akhir bulan Rajab tahun 204 H/20 Januari 820 M bertepatan malam Jum’at setelah
Isya’ akhir.4
Beliau adalah ulama’ mujtahid (ahli ijtihad) dibidang fiqh dan salah seorang dari
empat Imam Mazhab yang terkenal dalam Islam. Dia hidup di masa pemerintahan khalifah
Harun ar-Rasyid al-Amin dan al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah.5
Setelah beliau menjadi ulama’ besar dan pendapatnya banyak diikuti maka beliau lebih
akrab dengan panggilan al-Syafi’i yang dinisbahkan kepada nama kakeknya yang ketiga, yaitu
al Syafi’i ibn as-Sa’ib ibn Abid ibn Abd Yazid ibn Hasyim ibn al Muthalib ibn Abd Manaf,
Abd Manaf ibn Qusay kakek kesembilan dari kesembilan dari Imam Syafi’i adalah Abdul
Manaf ibn Qusay kakek ke empat dari Nabi Muhammad saw. Sedangkan ibunya bernama
Fatimah Binti Abdullah ibn Husain ibn Ali ibn Abi Thalib. Ia adalah cicit dari Ali ibn Abi
Thalib. Dengan demikian kedua orang tua imam Syafi’i berasal dari bangsawan Arab Qurasy.6
B. Pendidikan Imam Syafi’i
Imam asy-Syafi'i tumbuh di negeri Ghazzah sebagai seorang yatim setelah ayahnya
meninggal. Oleh karena itu, berkumpullah pada dirinya kefakiran, keyatiman, dan keterasingan
dari keluarga. Namun, kondisi ini tidak menjadikannya lemah dalam menghadapi kehidupan
setelah Allah memberinya taufik untuk menempuh jalan yang benar. Setelah sang ibu
1
Muhammad Fakhruddin al-Razi, Tahqiq Ahmad Hajazi al-Saqqa’, Manaqib al-Imam al-Syafi’i, (Mesir:
Maktabah al-Kulliyah al-Azhariyah, 1986), h. 23.
2
Muhammad Fakhruddin al-Razi, Tahqiq Ahmad Hajazi al-Saqqa’, Manaqib al-Imam al-Syafi’i...h. 34.
3
Syekh Muhammad al-Hadlori bik, Tarikh al-Tasyri al-Islamiyah, (Surabaya: al-Hidayah), h. 251.
4
Muhammad Fakhruddin al-Razi, Tahqiq Ahmad Hajazi al-Saqqa’, Manaqib al-Imam al-Syafi’i...h. 34.
5
M. Shiddiq al Minsyawi, 100 Tokoh Zuhud, (Jakarta: Senayan Abdi Pblishing, 2007), h. 431.
6
Muhammad Fakhruddin al-Razi, Tahqiq Ahmad Hajazi al-Saqqa’, Manaqib al-Imam al-Syafi’i...h. 35.
3
membawanya ke tanah Hijaz, yakni kota Makkah, menurut riwayat terbanyak atau tempat
dekat Makkah.7
Imam Syafi'i bercerita: “Aku hidup sebagai yatim di dalam asuhan lbuku.
Ibuku tidak mampu membayar seorang guru untuk mengajariku. Tetapi, guru itu ridha dan
senang jika aku menjadi penggantinya.8
Maka setelah aku menamatkan al-Qur-an, aku hadir di
masjid dan berkumpul bersama para ulama untuk menghafal hadits atau masalah agama,
sementara tempat tinggal kami terletak di jalan Bukit al-Khaif. Aku menulis (apa yang aku
dapatkan) di atas tulang. Setelah banyak, tulang-tulang (yang berisi tulisan itu) aku masukkan
ke dalam sebuah bejana besar.”9
Aktivitas pendidikannya dimulai dengan studi al-Qur’an dalam hal tilawah, tajwid dan
tafsirnya dengan guru-guru yang ada di Masjid al-Haram. Kesungguhan dan ketekunannya
dalam menghafal al-Qur’an terlihat ketika pada usia sembilan tahun beliau telah mampu
menghafal al-Qur’an dan beberapa hadits di luar kepala. Hafalannya terhadap banyak hadits
lebih merupakan akibat dari kurangnya sarana untuk menulis pelajaran yang diterimanya. Di
Masjid al-Haram inilah dia pernah berguru kepada Muslim bin Khaiid (w.180 H), Sufyan bin
‘Uyainah di bidang hadits dan fiqh, Isma'ii bin Qasthantin dalam ilmu al-Qur’an, juga pernah
bertemu dengan al-Lais bin Sa'ad, ahli fiqh yang juga ahli dalam bidang sastra dan bahasa. Al-
Lais ini adalah Mujtahid Mesir yang di kemudian hari kelak akan diikuti jejaknya oleh al-
Syafi'i.10
Dalam bidang hadits, di Makkah beliau belajar dan bahkan sampai menghafal kitab al-
Muwatha’ karya Imam Malik kepada Sufyan bin ‘Uyainah. Menginjak usianya yang kedua
puluh dia mendengar kebesaran nama Imam Malik penulis buku yang telah dia hafal. Dengan
berbekal do'a dari ibu dan surat pengantar dari wali kota Makkah berangkatlah al-Syafi’i muda
ke Madinah untuk memasuki jenjang pendidikan tahap selanjutnya di bawah bimbingan
langsung Imam Malik bin Anas. Di Madinah beliau ditanggung kehidupannya oleh Imam
Malik sebagai seorang ulama yang kaya, dan seperti kebiasaannya yang dulu al-Syafi’i sering
mengunjungi daerah pedesaan untuk mempelajari kehidupan mereka sehari-hari, sehingga
disinyalir al-Syafi’i tidak bisa selalu bersama Imam Malik.11
Namun demikian tugas pokoknya
untuk belajar langsung kitab al-Muwatha’ dari Imam Malik dapat terlaksana bahkan hanya
dalam beberapa hari saja.
Setelah Imam Malik wafat pada tahun 179 H., Imam Syafi’i mengalami kesulitan
ekonomi, sehingga ia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kemudian ia pindah
ke Yaman dan beliau sempat belajar kepada ulama-ulama di Yaman, seperti Muthorrif bin
Mazin (w.191 H), Hisyam bin Yusuf al-Qadhi (w. 197 H.), Amr bin Abi Salmah dan Yahya
bin Hasan. Dengan demikian ilmunya semakin lengkap dan luas. Dikarenakan tuduhan terlibat
dalam kegiatan politik kelompok syi’ah yang menentang khalifah pada tahun 184 H., beliau
digiring ke Baghdad (Irak), di sinipun beliau memanfaatkan kesempatan baik tersebut untuk
berkenalan dengan tokoh ulama Hanafiyah, Muhammad ibn al- Hasan al-Syaibani (w.189 H.),
yang ketika itu menjadi qadhi kerajaan Abbasiyah. Setelah lepas dari tuntutan tersebut, ia pun
7
Muhammad ‘Aqil, Biografi Imam asy-Syafi'i, Riwayat Pendidikan dan Kegiatan Keilmuannya,
(Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2015), h. 8.
8
Muhaqqiq Sa’ad al-Din bin Muhammad al-Kabbi, Wasiyah al-Imam as-Syafi’i, (Bairut: al-Maktab al-
Islami, 1994), h. 13.
9
al-Baihaqi, Manaaqibusy Syafi'i, Tahqiq Ahmad Saqar, (al-Qahirah: Dar al-Turas, tt) Jilid I, h. 75.
10
Munawar Khalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab, (Jakarta: Bulan BIntang, 1955), h. 153.
11
Abdurrahman al- Syarqawi, Aimmah al-Fiqh al-Tish'ah, (Beirut: Dar 'iqra', 1981), h. 103-104.
4
memanfaatkan kesempatan untuk mempelajari seluk-beluk ilmu fikih yang berkembang dalam
aliran Ahl al-Ra’yi.12
Diketahui bahwa Imam Syafi’i menghabiskan waktu secara total
mendalami kajian ilmu fiqh kepada Muhammad bin Hasan, hingga ia bisa tuntas menyimak
dan mendengar banyak kitab karyanya seberat muatan seekor unta. Berkaitan dengan hal
itu,Imam Syafi’i berkata “Allah telah menolongku dengan dua orang tokoh ulama; dalam
masalah ilmu hadits oleh Ibn Uyainah, dalam masalah fiqh oleh Muhammad Bin Hasan As-
Syaibani.”
C. Karya Imam Syafi’i
Sebagaimana Imam Malik, di mana pemikiran beliau banyak dipengaruhi oleh tingkat
kehidupan sosial masyarakat dimana beliau tinggal, maka demikian pula Imam Syafi’i, ketika
beliau berada di Hijaz, sunnah dan hadits dengan tatanan kehidupan sosial yang sederhana
hingga relatif tidak banyak timbul masalah kemasyarakatan dan cara pengambilan yang
langsung dari teks al-Qur’an serta sunnah telah mamadahi untuk menyelesaikannya, maka
wajar sekali jika Imam Syafi’i lalu cenderung kepada aliran ahli hadits, karena memang beliau
belajar dari Imam tersebut. Akan tetapi setelah beliau mengembara ke Baghdad (Irak) dan
menetap untuk beberapa tahun lamanya serta mempelajari fiqh Abu Hanifah dan Madzhab ahli
ra’yu, maka mulailah beliau condong kepada aliran rasional ini. Walhasil, pada akhirnya Imam
Syafi’i mampu mengkombinasikan antara aliran hadist dan aliran ra’yi. Para ulama telah
menyebutkan karangan Imam Syafi'i yang tidak sedikit, Qadi Imam Abu Muhammad bin
Husain bin Muhammad al-Muzani, yaitu salah seorang murid Imam Syafi’i yang mengatakan
bahwa Imam Syafi’i telah mengarang kitab sebanyak 113 kitab, baik kitab dalam ilmu Ushul
Fiqh, dan lain-lain, di antara karangannya adalah:13
1. Kitab Al-Umm
Sebuah kitab tebal yang terdiri dari empat jilid (volume) dan berisi 128 masalah. Al-
Hafizh Ibnu Hajar berkaia: "Jumlah Kitab (masalah) dalam kitab al-Umm lebih dari 140 BAB-
-Wallaahu a'lam-. Dimulai dari Kitab “tha-Thahaarah” (masalah bersuci) kemudian Kitab
“as-Shalaah” (masalah shalat). Begitu seterusnya yang beliau susun berdasarkan bab-bab
fiqih. Sebagian orang ada yang menyangka bahwa kitab ini bukanlah buah pena dari Imam
Syafi'i, melainkan karangan al-Buwaithi yang disusun oleh ar-Rabi' bin Sulaiman al-Muradi.
Pen-tahqiq kitab Manaaqibusy Syafi'i Imam al-Baihaqi, telah membantah sangkaan itu
sebagaimana Syaikh Ahmad Syakir membantahnya saat men-tahqiq kitab ar-Risaalah karya
Imam Syafi'i.
2. Kitab Ar-Risalah al-Jadidah
Sebuah kitab yang dilatari surat menyurat antara Imam ar-Rabi’ bin Sulaiman dan
Imam Syafi’i yang kemudian dibukukan. Kitab ini terdiri dari satu jilid besar. Dalam kitab ini
Imam Syafi'i berbicara tentang al-Qur’an dan penjelasannya, juga membahas tentang as-
Sunnah berikut kedudukannya dari al-Qur’an al-Karim. Beliau mengemukakan bahwa banyak
dalil mengenai keharusan berhujjah dan berargumentasi dengan as-Sunnah. Beliau juga
mengupas masalah Nasikh dan Mansukh dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, menguraikan tentang
12
Rahmat Hidayat, Pemikiran Pendidikan Islam Imam As-Syafi’i, Almufida Vol III No. 01 Januari-Juni
2018, h. 114.
13
Muhammad ‘Aqil, Biografi Imam asy-Syafi'i, Riwayat Pendidikan dan Kegiatan Keilmuannya,
(Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2015), h. 43.
5
‘hal ‘ilal ('illat/cacat) yang terdapat pada sebagian hadits dan alasan dari keharusan mengambil
hadits ahad sebagai hujjah dan dasar hukum, serta apa yang boleh diperselisihkan dan yang
tidak boleh diperselisih-kan di dalamnya.
3. Ad-Diwan
Diwan bisa diartikan sebagai kumpulan tulisan. Dalam hal ini Kitab “Diwan Syafi’i”,
merupakan salah satu kitab yang berisi kumpulan gubahan syair Imam Syafi’i. Dalam kitab
tersebut terdapat beragam syair tentang pendidikan dan akhlak.
4. Wasiyah al-Imam As-Syafi’i
Kitab ini di Tahqiq oleh Imam Sa’ad al-Din bin Muhammad al-Kabbi. Kitab ini berisi
wasiat-wasiat keilmuan Imam Syafi’i yang diceritakan muridnya melalui jalur sanad yang
lengkap sampai kepada beliau. Kitab tersebut lebih banyak menerangkan tentang pernyataan-
pernyataan Imam Syafi’i tentang pendidikan akidah yang benar sebagai bantahan atas
pemikiran akidah yang keliru pada saat itu.
D. Sumbangan Imam Syafi’i dalam Bidang Pendidikan
1. Konsep Ilmu Menurut Imam Syafi’i
Selain beliau, Syaikh Bin Bazz telah menyatakan, “Sesungguhnya (kata) ilmu itu
dilontarkan untuk banyak hal, akan tetapi menurut para ulama Islam, yang dimaksud dengan
ilmu adalah ilmu syar’i. Inilah yang dimaksud dalam Kitabullah dan Sunnah RasulNya
shollallohu ‘alaihi wa sallam secara mutlak, yaitu ilmu tentang Alloh, Asma’-Nya, SifatNya,
ilmu tentang hakNya atas hambaNya dan tentang segala sesuatu yang disyariatkan untuk
mereka oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala.“
2. Menuntut Ilmu harus Memiliki Landasan (Hujjah)
Hujjah adalah dasar dan landasan yang dijadikan sebagai penguat ilmu syariat tersebut.
Imam Syafi’i telah membuat perumpamaan bagi penuntut ilmu syar’i yang tidak berdasarkan
hujjah. Al-Muzani atau ar-Robi’ pernah menceritakan, “Kami pada suatu hari pernah berada di
sisi Imam Syafi’i. Tiba-tiba ada seorang syaikh yang memakai pakaian dari shuf (wol),
sedangkan di tangannya terdapat tongkat. Lalu asy-Syafi’i bangkit dan merapikan pakaiannya
dan syaikh itu memberi salam kepada beliau lalu duduk. Syafi’i melihat syaikh tersebut dengan
keadaan segan kepadanya.
Syaikh itu berkata, “Apakah aku boleh bertanya kepadamu?” Syafi’i menjawab,
“Bertanyalah!” Orang itu berkata, “Apakah hujjah dalam agama Allah?” Asy-Syafi’i
menjawab, “Kitabullah.” Maka kunci untuk dapat selamat dari kesesatan adalah dengan
berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. Jika para penuntut ilmu tidak
berpegang kepada kedua hujjah ini maka ia akan mendapatkan masalah besar dalam
kehidupannya.
Disisi lain, dalam wasiat tersebut, Imam Syafi’i menjelaskan tentang resiko dan bahaya
yang akan menimpa seorang penuntut ilmu apabila tidak berdasarkan kepada hujjah dalam
mempelajari ilmu yaitu akan tersesat tanpa disadarinya. Apabila seseorang mempelajari ilmu
syariat tanpa dasar Alquran dan Hadits yang shohih, maka akhirnya adalah berupa
penyimpangan, kekeliruan dan kesesatan. Di antara contohnya adalah:
1. Menyangka tauhid, padahal syirik. Apabila tidak berdasarkan dalil dari Kitabullah atau
Sunnah Rasulullah saw. dalam menetapkan aqidah tauhidulloh, maka bisa saja meyakini
6
bahwa suatu masalah adalah tauhid, padahal itu adalah kesyirikan kepada Allah ‘Azza wa
Jalla.
2. Mengira sunnah, padahal bid’ah. Apabila mempelajari perkara-perkara yang disyariatkan
oleh Rasulullah saw. akan tetapi tidak kembali kepada al-Qur’an dan Hadits yang shohih
dari beliau, tetapi hanya perpegang kepada pendapat Imam Fulan dan Imam Fulan saja,
maka bisa saja seseorang terjatuh dalam kebid’ahan, akan tetapi disangka termasuk sunnah
Rasulullah saw.
3. Terjatuh ke dalam taklid yang terlarang. Tatkala seorang penuntut ilmu mengikuti suatu
pendapat di antara pendapat-pendapat ulama, akan tetapi tidak mengetahui dalil yang
dijadikan sebagai landasannya, maka telah terjatuh ke dalam taklid yang terlarang.
4. Menyangka suatu amalan mengandung keutamaan, padahal terdapat penyimpangan.
Tatkala dalil syar’i ditinggalkan dalam mempelajari ilmu syar’i, maka seseorang akan
memperhatikan dan mengagungkan suatu amalan yang disangka mengandung keutamaan,
padahal amalan tersebut menyimpang.
5. Apabila mendakwahkan kesesatan, maka akan menyesatkan. Apabila perkara-perkara yang
termasuk syirik, atau kekufuran atau kebid’ahan atau penyimpangan-penyimpangan syariat
disampaikan kepada orang lain, maka orang yang menyampaikan ilmu syar’i tanpa dalil
tersebut akan menjadi penyesat bagi orang lain.
3. Etika dalam Menuntut Ilmu
Menurut Imam Syafi’i ada beberapa etika yang harus dimiliki oleh seseorang yang
sedang menuntut ilmu, di antaranya:
a. Kesungguhan dan semangat dalam menuntut ilmu
Pada suatu hari, ibunya mengantarkannya kepada seorang guru, agar ia bisa belajar.
Akan tetapi, ibunya tidak punya uang untuk membayar guru tersebut yang mengajar anaknya.
Akhirnya, guru tersebut rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan cepatnya hapalan
Imam Syafi’i. Setelah selesai menghapal al-Qur’an, beliau masuk ke dalam masjid duduk
bersama para ulama. Imam Syafi’i mendengarkan satu permasalahan atau satu hadits, lalu
menghapalkannya. Ibunya tidak mempunyai harta untuk diberikan kepada beliau untuk
membeli lembaran atau kertas sebagai tempat beliau menulis. Beliau pun mencari tulang,
tembikar, tulang pundak unta, dan pelepah kurma, lalu menulis hadits padanya. Bila sudah
penuh, beliau menaruhnya dalam tempayan yang ada di rumahnya, sehingga tempayan-
tempayan yang ada di rumah beliau pun menjadi banyak. Ibunya berkata kepada beliau:
“Sesungguhnya tempayan-tempayan ini telah menjadikan rumah kita sempit.” Maka beliau pun
mendatangi tempayan-tempayan ini, menghapal apa yang ada padanya, kemudian
membuangnya. Setelah itu, Allah subhanahu wata’ala memudahkan beliau untuk melakukan
safar ke negeri Yaman.
Imam Syafi’i pernah ditanya, “Bagaimana ambisi anda untuk mendapatkan ilmu?”
Beliau menjawab, “Seperti ambisi orang yang tamak terhadap dunia dan bakhil ketika
memperoleh kelezatan harta.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Seperti apakah anda di dalam
mencari ilmu?” Beliau menjawab, “Seperti pencarian seorang wanita yang kehilangan anak
satu-satunya.”
Ketika Imam Syafi’i duduk di hadapan Imam Malik dan belajar kepadanya, ia membuat
Imam Malik kagum akan kecerdasan, kejelian dan kesempurnaan pemahamannya. Imam Malik
7
berkata, “Sesungguhnya aku melihat Allah swt. telah memberikan cahaya atas hatimu. Maka
janganlah kamu padamkan cahaya itu dengan gelapnya perbuatan maksiat.”
Penjelasan di atas menunjukkan bahwa dalam menuntut ilmu dibutuhkan kesungguhan
dan semangat yang kuat. Kesungguhan dan semangat yang kuat inilah yang dapat
menghantarkan kita kepada keberhasilan dalam menuntut ilmu.
b. Ketawadhu’an
Imam Syafi’i adalah seorang yang rendah hati (tawadhu’). Beliau pernah berkata, “Aku
ingin, apabila manusia mempelajari ilmu ini-maksudnya kitab-kitab beliau-, hendaklah mereka
tidak menyandarkan sesuatu pun dari kitab-kitab tersebut kepadaku.”
Beliau pernah berkata kepada Imam Ahmad-salah satu murid beliau-, “Kamu lebih
berilmu tentang hadits yang shahih dibanding aku. Maka apabila engkau mengetahui tentang
sebuah hadits yang shahih, maka beritahukanlah kepadaku hingga aku berpegang dengan
pendapat tersebut. Baik hadits tersebut datang dari penduduk Kufah, Bashrah (nama kota di
Iraq), maupun Syam.”
Sifat beliau ini menunjukkan kepada kita bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dan
kekurangan. Maka bagi orang berlebih dalam suatu bidang jangan menjadi sombong,
sedangkan seseorang yang kurang dalam suatu bidang jangan pula menjadi rendah diri.
c. Keteladanan dalam membagi waktu malam
Imam Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi 3 bagian, sepertiga malam yang
pertama untuk menulis, sepertiga malam yang kedua untuk shalat dan sepertiga malam yang
ketiga untuk tidur. Inilah nasehat Imam Syafi'i kepada para penuntut ilmu. Sesungguhnya yang
dimaksud dirham bukanlah banyaknya harta, tetapi terutama kesediaan/kerelaan hati
mengeluarkan uang untuk meraih ilmu. Berpijak pada nasehat yang ditanamkan di awal belajar,
lapar itu lebih disukai santri asalkan dapat membeli buku. Mereka justru akrab dengan rasa
lapar. Tetapi mereka amat bersemangat. Lapar kerap jadi pilihan karena mendahulukan ilmu
dan mereka justru menjadi cemerlang justru karena itu. Perhatian hanya tertuju pada belajar.
Tidak disibukkan oleh urusan makanan.
Selanjutnya bersahabat dengan ustadz (guru). Bersahabat dengan Ustadz bukan karena
mengharap nilai yang bagus, tapi untuk meraup ilmu yang barakah dan berlimpah. Dulu
kesempatan memijat ustadz merupakan kesempatan penuh manfaat. Memijat merupakan
kesempatan mendengar limpahan nasehat ustadz. Ini bukanlah soal joyful learning. Justru ini
soal kesediaan berpayah-payah demi meraih ilmu yang lebih utama. Ada semangat di sana.
Bersahabat dengan ustadz bahkan tak hanya terkait kesempatan meraup kesempatan
lebih banyak untuk memperoleh curahan ilmu darinya. Lebih dari itu adalah ikatan jiwa antara
murid dan guru. Teringat, ketika guru sakit, sedih sekali perasaan ini & bersegera mendo'akan.
Ikatan semacam ini menjadikan kehadiran guru senantiasa dinanti dan tutur katanya
didengarkan sepenuh hati. Inilah bekal amat berharga.
Ketika murid benar-benar memiliki keterikatan hati dengan guru, cara mengajar yang
monoton pun tetap membangkitkan antusiasme. Sebaliknya, ketika guru semata hanya
mengandalkan metode mengajar, cara yang atraktif pun tak jarang hanya memikat sesaat di
kelas. Murid betah mendengarnya karena menarik dan lucu, tapi tak menumbuhkan antusiasme
untuk belajar lebih serius di luar kelas. Apalagi jika salah memahami istilah belajar tuntas
sehingga seakan tak perlu lagi belajar setiba di rumah, bahkan hingga tertidur pulas di malam
8
hari. Padahal antusiasnya anak belajar sepulang sekolah merupakan salah satu tanda belajar
otentik. Jika kita sangat meminati sesuatu, sakit pun tak menghalangi untuk menekuninya.
Prinsip lain yang dinasehatkan oleh Imam Syafi'i rahimahullah bagi penuntut ilmu
adalah memerlukan waktu lama. Seorang santri (murid) harus menyiapkan diri menghabiskan
waktu yang panjang untuk mencapai pemahaman yang mendalam terhadap ilmu. Jauhi sikap
instant dan tergesa-gesa (isti'jal) ingin menguasai ilmu dengan segera. Penghambat tafaqquh
(upaya memahami secara sangat mendalam) adalah sikap tergesa-gesa. Pengetahuan dapat
diperoleh dengan cepat, tetapi pemahaman yang matang dan mendalam hanya dapat diraih
dengan kesabaran dan kesungguhan. Grabbing informations dapat dicapai dengan speed
reading. Tetapi untuk pemahaman mendalam, yang diperlukan adalah deep reading.
Sebagian ilmu menuntut ketekunan untuk masa yang panjang. Keduanya diperlukan.
Ini memerlukan daya tahan yang tinggi. Ada orang yang cerdas sehingga mudah memahami.
Tapi ada sebagian ilmu yang menuntut ketekunan, masa yang panjang dan sekaligus
kecerdasan. Dalam bidang sains pun sabar, tekun dan cerdas diperlukan secara bersamaan.
Semisal untuk bidang yang memerlukan observasi longitudinal.
Jika ada guru yang bertanya, apa bekal penting bagi seorang murid, maka nasehat Imam
Syafi’i ini yang seharusnya ditanamkan kuat-kuat. Ditanamkan kuat-kuat hingga membekas.
Bukan sekedar menjadi pengetahuan sekilas. Semoga ini dapat membentuk sikap belajar yang
kuat dan mantap. Jika adab tertanam kuat dan sikap belajar mengakar dalam diri murid, maka
guru yang monoton pun akan didengar sepenuh perhatian. Lebih-lebih guru yang bagus
kemampuannya mengajar. Tetapi sekedar pintar mengajar, tak bermakna jika murid lemah
adabnya buruk sikapnya.
E. Implikasi Pemikiran as-Syafi’i Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia
Dunia keilmuan Islam, khususnya dalam Fiqh dan Ushul al-Fiqh, tak mungkin dapat
dipisahkan dari sosok Imam as-Syafi’i radliyallahu ‘Anhu. Beliau adalah salah satu pendiri
empat Madzhab Fiqih yang diikuti oleh ummat Islam yang menganut faham Ahlussunnah wal
Jama’ah, yang populer disebut dengan Madzhab Syafi’i. Dalam perkembangannya sampai saat
ini, Madzhab Syafi’i adalah madzhab fiqh yang paling banyak diikuti oleh ummat Islam di
dunia, khususnya di negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Mesir, Yaman, Syria, Irak, dan
masih banyak lagi. Kenyataan ini menunjukkan bahwa cara berfiqh yang digali dan
dikembangkan oleh Imam Syafi’i dan para penerusnya, memiliki kemampuan untuk tetap
relevan dalam perkembangan sepanjang sejarah dan heterogenitas ummat Islam (geografi,
demografi, kultur, etnis, ras, bahasa, dan tingkat perkembangan sosialnya). Di Indonesia,
madzhab ini telah menjadi inti dalam membentuk sebuah komunitas Alussunnah wal Jamaah
semenjak berabad-abad lamanya, sehingga mustahil untuk ditandingi oleh madzhab lain seperti
Hanafi, Hambali, dan Maliki. Lembaga-lembaga pendidikan dan pengajaran Islam semenjak
kehadiran agama ini di Nusantara, baik formal maupun non formal, telah mengembangkan
madzhab ini mengikuti perkembangan sosial dan budaya serta kebutuhan yang ada. Ibarat
pohon makin kuatlah akarnya menancap di bumi Indonesia, makin rimbun pula daunnya
menaungi ummat Islam, serta beranak-pinak cabang-cabangnya untuk dimanfaatkan mereka
yang memerlukannya. Dengan kata lain, Madzhab Syafi’i adalah sama dan sebangun dengan
pertumbuhan dan perkembangan Islam di Indonesia. Mengembangkan Islam di Indonesia
berarti pula melakukan pengembangan madzhab ini sebagai salah satu pijakan utamanya. Itulah
9
sebabnya menjadi sangat penting bagi para pelajar, mahasiswa, dan santri ponpes yang
memiliki keinginan kuat untuk tafaqquh fid dien melalui pendalaman ilmu fiqh, untuk
memahami sosok beliau secara komprehensif, sebagai tauladan (uswah) dan referensi utama
sehingga dapat mengambil hikmah dari pergumulan intelektual beliau. Dengan mempelajari
secara mendalam pribadi dan perjalanan kehidupan kecendekiawanan (intellectual biography)
Imam Syafi’i maka akan diperoleh manfaat berupa pemahaman yang lebih mendalam dan
kontekstual terhadap pemikiran dan pergumulan beliau dalam ilmu fiqh. Selanjutnya
pemahaman tersebut akan bisa menjadi obor penerang bagi perjalanan para santri, pelajar,
mahasiswa dan siapapun yang ingin memajukan fiqh dan menjadikannya tetap mampu
menjawab berbagai tantangan yang dihadapi oleh masyarakat yang terus menerus berubah.
Pemikiran as-Syafi’i tentang Fiqh cukup berkembang luas di Asia Tenggara, begitu
juga di Indonesia. Mayoritas masyarakat Islam Indonesia memegang teguh Madzhab Syafi’i
dalam menjalankan ritual agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Kitab-kitab beliau tidak
hanya dipelajari dalam lembaga-lembaga pendidikan formal seperti pesantren dan madrasah,
namun juga dijadikan kitab wajib dalam pembahasan fiqh dalam pendidikan non formal seperti
majelis ta’lim dan majelis ilmu. Bangunan etika yang begitu kuat dalam menuntut ilmu,
menjadikan Imam Syafi’i sebagai tauladan para santri pesantren dan madrasah di Indonesia.
Para penuntut ilmu diharapkan memiliki 6 ciri di antaranya: (1) kecerdasan, (2) semangat, (3)
bersungguh-sungguh, (4) dirham (kesediaan keluarkan uang), (5) bersahabat dengan ustadz,
(6) memerlukan waktu yang lama.
Kesimpulan
Imam Syafi’i lebih dikenali sebagai ulama fiqh, namun beliau memberi sumbangan
yang tidak kurang hebatnya dalam bidang pendidikan. Beliau lebih mengedepankan masalah
adab/akhlak dalam kurikulum pendidikannya. Hal ini terlihat dari berbagai syair beliau yang
mengedepankan masalah adab bagi para penuntut ilmu. Maka beliau menegaskan bahwa
kesuksesan dalam menuntut ilmu akan didapatkan bila kita para penuntut ilmu memiliki 6 ciri
di antaranya: (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) bersungguh-sungguh, (4) dirham (kesediaan
keluarkan uang), (5) bersahabat dengan ustadz, (6) memerlukan waktu yang lama.
Daftar Pustaka
Abdurrahman al-Syarqawi. 1981. Aimmah al-Fiqh al-Tish'ah. Beirut: Dar 'iqra'.
Ahmad Syurashi. 2006. Biografi Empat Imam Mazhab. Solo: Media Insani Press.
Ahmad Asy-Syurbasi. 2001. Sejarah dan Biografi Empat Imam Mazhab. Jakarta: Amzah.
Al-Asqalani Ibnu Hajar. 1421 H/2000M. Fath al-Bari. Riyadh: Darus Salam.
Al-Baihaqi. Manaqib al-Syafi’i, tahqiq Ahmad Saqar. tt. al-Qahirah: Dar al-Turas.
Al-Imam Abi Abdullah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i. al-Umm, Darul Fikr, t.th Imam Al-
Syafi’i. 1986. Ar-Risalah, Penerjemah: Ahmadie Thoha, Jakarta: Pustaka Firdaus.
Ahmad Nahrawi ‘Abd al-Salam. 1994. al-Imam al-Syafi'i fi Madzhabaih fi al-Qa-dim wa al-
Jadid. Kairo: Dar al-Kutub.
Abdullah Mustofa Al Maraghi. 2001. Fath Al Mubin fi Tabaqat Al Usuliyyin, Terj. Husein
Muhammad, Pakar-pakar Fiqh Sepanjang Sejarah. Yogyakarta: LKPSM.
Asy-Syarqawi, Abdurrahman, 2000. Riwayat Sembilan Imam Fiqih, translated: H.M.H. al-
Hamid al-Husaini. Bandung: Pustaka Hidayah.
10
Fikri Ali. 2003. Ahsan al-Qhashash, Terj. "Kisah-kisah para imam Madzhab". Yogyakarta:
Mitra Pustaka.
Jaih Mubarok. 2000. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Mahmud Syalthut. 2000. Fiqih Tujuh Madzhab, terj. Abdullah Zakiy al-Kaaf. Bandung: CV
Pustaka Setia.
Mahmud Mathroji. 1417 H. Muqoddimah al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, jilid 1. Beirut:
Darul Fikr.
M. Shiddiq al Minsyawi. 2007. 100 Tokoh Zuhud. Jakarta: Senayan Abdi Pblishing.
Muhammad ‘Aqil. 2015. Biografi Imam asy-Syafi'i, Riwayat Pendidikan dan Kegiatan
Keilmuannya. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i.
Muhammad ibnu Idris asy-Syafi’i. 1974. Diwan al-Imam Asy-Syafi’i. Beirut, Lebanon: Dar
al-Jil.
Muhammad Fakhruddin al-Razi. 1986. Manaqib al-Imam al-Syafi’i, Tahqiq Ahmad Hajazi al-
Saqqa’. Mesir: Maktabah al-Kulliyah al-Azhariyah.
Muhaqqiq Sa’ad al-Din bin Muhammad al-Kabbi. 1994. Wasiyah al-Imam as-Syafi’i. Bairut:
al-Maktab al-Islami.
Munawar Khalil. 1955. Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab. Jakarta: Bulan BIntang.
Rahmat Hidayat. 2018. Pemikiran Pendidikan Islam Imam As-Syafi’i, dalam Almufida Vol III.
Said Agil Husin al-Munawwar. 2002. Madzhab Fiqh, dalam Taufik Abdullah (ed.),
Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid III. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.
Siradjuddin Abbas, 2004. Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i. Jakarta: Pustaka Tarbiyah.
Syaikh Ahmad Farid. 2006. Min A'lam As-Salaf, Terj. Masturi Irham dan Asmu'i Taman, "60
Biografi Ulama Salaf". Jakarta: Pustaka Al-kautsar.
Syekh Muhammad al-Hadlori bik. Tarikh al-Tasyri al-Islamiyah. Surabaya: al-Hidayah.
TM. Hasbi Ash Shiddieqy. 1997. Pokok-Pokok Pegangan Imam Madzhab. Semarang: PT.
Putaka Rizki Putra.
Yahya bin Sharaf al-Nawāwy. tt. al-Majmū’. Beirut: Dar al-Fikr.

More Related Content

Similar to Biografi dan Pandangan Pendidikan Islam Imam Syafi'i serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia

Bab 1 sejarah perkembangan mazhab syafie
Bab 1 sejarah perkembangan mazhab syafieBab 1 sejarah perkembangan mazhab syafie
Bab 1 sejarah perkembangan mazhab syafie
wmkfirdaus
 
Buku fiqih 5 mazhab
Buku fiqih 5 mazhabBuku fiqih 5 mazhab
Buku fiqih 5 mazhab
husayn12
 
Biografi dan pemikiran imam syafi'i dan imam hambali
Biografi dan pemikiran imam syafi'i dan imam hambaliBiografi dan pemikiran imam syafi'i dan imam hambali
Biografi dan pemikiran imam syafi'i dan imam hambali
Abdul Fauzan
 
Paparan sejarah islam
Paparan sejarah islamPaparan sejarah islam
Paparan sejarah islam
Operator Warnet Vast Raha
 
Siapa Itu Wahbah 12.docx
Siapa Itu Wahbah 12.docxSiapa Itu Wahbah 12.docx
Siapa Itu Wahbah 12.docx
ssuser34c8fe
 
Penetapan Hukum Islam Pada Masa Abad Ke 2 H Hingga Pertengahan Abad Ke 4 H Da...
Penetapan Hukum Islam Pada Masa Abad Ke 2 H Hingga Pertengahan Abad Ke 4 H Da...Penetapan Hukum Islam Pada Masa Abad Ke 2 H Hingga Pertengahan Abad Ke 4 H Da...
Penetapan Hukum Islam Pada Masa Abad Ke 2 H Hingga Pertengahan Abad Ke 4 H Da...
desi_aoi
 
Biografi imam syafi`i
Biografi imam syafi`iBiografi imam syafi`i
Biografi imam syafi`i
Muhammad Idris
 
Pertumbuhan ilmu pengetahuan pada masa bani cxz
Pertumbuhan ilmu pengetahuan pada masa bani cxzPertumbuhan ilmu pengetahuan pada masa bani cxz
Pertumbuhan ilmu pengetahuan pada masa bani cxz
somaoma
 
Pgsd 3 memahami-mazhab_(munawar)
Pgsd 3 memahami-mazhab_(munawar)Pgsd 3 memahami-mazhab_(munawar)
Pgsd 3 memahami-mazhab_(munawar)
Bahagie Putra
 
Iman malik lahir pada tahun 93
Iman malik lahir pada tahun 93Iman malik lahir pada tahun 93
Iman malik lahir pada tahun 93
Nur Alfiyatur Rochmah
 
Iman malik lahir pada tahun 93
Iman malik lahir pada tahun 93Iman malik lahir pada tahun 93
Iman malik lahir pada tahun 93
Nur Alfiyatur Rochmah
 
Biografi imam al baghawi
Biografi imam al baghawiBiografi imam al baghawi
Biografi imam al baghawi
Sidqi Maulana
 
Manhaj Tafsir Al-Azhar.doc
Manhaj Tafsir Al-Azhar.docManhaj Tafsir Al-Azhar.doc
Manhaj Tafsir Al-Azhar.doc
Rahmat Hidayat
 
KONSEP PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH
 KONSEP PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH KONSEP PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH
KONSEP PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH
annisa arsya wardani
 
Bagi_Makalah_biografi_4_Imam_Mazhab.docx
Bagi_Makalah_biografi_4_Imam_Mazhab.docxBagi_Makalah_biografi_4_Imam_Mazhab.docx
Bagi_Makalah_biografi_4_Imam_Mazhab.docx
KhoirulikhsanNurarif
 
Tokoh-Tokoh Islam Presentasi PAI SMA/SMK.pdf
Tokoh-Tokoh Islam Presentasi PAI SMA/SMK.pdfTokoh-Tokoh Islam Presentasi PAI SMA/SMK.pdf
Tokoh-Tokoh Islam Presentasi PAI SMA/SMK.pdf
RizkiRioChandrawinta
 

Similar to Biografi dan Pandangan Pendidikan Islam Imam Syafi'i serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia (20)

Bab 1 sejarah perkembangan mazhab syafie
Bab 1 sejarah perkembangan mazhab syafieBab 1 sejarah perkembangan mazhab syafie
Bab 1 sejarah perkembangan mazhab syafie
 
Buku fiqih 5 mazhab
Buku fiqih 5 mazhabBuku fiqih 5 mazhab
Buku fiqih 5 mazhab
 
Biografi dan pemikiran imam syafi'i dan imam hambali
Biografi dan pemikiran imam syafi'i dan imam hambaliBiografi dan pemikiran imam syafi'i dan imam hambali
Biografi dan pemikiran imam syafi'i dan imam hambali
 
Sshi
SshiSshi
Sshi
 
Paparan sejarah islam
Paparan sejarah islamPaparan sejarah islam
Paparan sejarah islam
 
Pemikiran hukum
Pemikiran hukum Pemikiran hukum
Pemikiran hukum
 
Pemikiran hukum
Pemikiran hukum Pemikiran hukum
Pemikiran hukum
 
Siapa Itu Wahbah 12.docx
Siapa Itu Wahbah 12.docxSiapa Itu Wahbah 12.docx
Siapa Itu Wahbah 12.docx
 
Penetapan Hukum Islam Pada Masa Abad Ke 2 H Hingga Pertengahan Abad Ke 4 H Da...
Penetapan Hukum Islam Pada Masa Abad Ke 2 H Hingga Pertengahan Abad Ke 4 H Da...Penetapan Hukum Islam Pada Masa Abad Ke 2 H Hingga Pertengahan Abad Ke 4 H Da...
Penetapan Hukum Islam Pada Masa Abad Ke 2 H Hingga Pertengahan Abad Ke 4 H Da...
 
Biografi imam syafi`i
Biografi imam syafi`iBiografi imam syafi`i
Biografi imam syafi`i
 
Biografi imam syafi`i
Biografi imam syafi`iBiografi imam syafi`i
Biografi imam syafi`i
 
Pertumbuhan ilmu pengetahuan pada masa bani cxz
Pertumbuhan ilmu pengetahuan pada masa bani cxzPertumbuhan ilmu pengetahuan pada masa bani cxz
Pertumbuhan ilmu pengetahuan pada masa bani cxz
 
Pgsd 3 memahami-mazhab_(munawar)
Pgsd 3 memahami-mazhab_(munawar)Pgsd 3 memahami-mazhab_(munawar)
Pgsd 3 memahami-mazhab_(munawar)
 
Iman malik lahir pada tahun 93
Iman malik lahir pada tahun 93Iman malik lahir pada tahun 93
Iman malik lahir pada tahun 93
 
Iman malik lahir pada tahun 93
Iman malik lahir pada tahun 93Iman malik lahir pada tahun 93
Iman malik lahir pada tahun 93
 
Biografi imam al baghawi
Biografi imam al baghawiBiografi imam al baghawi
Biografi imam al baghawi
 
Manhaj Tafsir Al-Azhar.doc
Manhaj Tafsir Al-Azhar.docManhaj Tafsir Al-Azhar.doc
Manhaj Tafsir Al-Azhar.doc
 
KONSEP PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH
 KONSEP PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH KONSEP PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH
KONSEP PEMIKIRAN PENDIDIKAN IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH
 
Bagi_Makalah_biografi_4_Imam_Mazhab.docx
Bagi_Makalah_biografi_4_Imam_Mazhab.docxBagi_Makalah_biografi_4_Imam_Mazhab.docx
Bagi_Makalah_biografi_4_Imam_Mazhab.docx
 
Tokoh-Tokoh Islam Presentasi PAI SMA/SMK.pdf
Tokoh-Tokoh Islam Presentasi PAI SMA/SMK.pdfTokoh-Tokoh Islam Presentasi PAI SMA/SMK.pdf
Tokoh-Tokoh Islam Presentasi PAI SMA/SMK.pdf
 

More from Nurul Safiqa

Hakikat Metode Pendidikan dalam Islam
Hakikat Metode Pendidikan dalam IslamHakikat Metode Pendidikan dalam Islam
Hakikat Metode Pendidikan dalam Islam
Nurul Safiqa
 
Hakikat Kurikulum Pendidikan dalam Islam
Hakikat Kurikulum Pendidikan dalam IslamHakikat Kurikulum Pendidikan dalam Islam
Hakikat Kurikulum Pendidikan dalam Islam
Nurul Safiqa
 
Hakikat Tujuan Pendidikan dalam Islam
Hakikat Tujuan Pendidikan dalam IslamHakikat Tujuan Pendidikan dalam Islam
Hakikat Tujuan Pendidikan dalam Islam
Nurul Safiqa
 
Hakikat Peserta Didik dalam Islam
Hakikat Peserta Didik dalam IslamHakikat Peserta Didik dalam Islam
Hakikat Peserta Didik dalam Islam
Nurul Safiqa
 
Hakikat Pendidik dalam Islam
Hakikat Pendidik dalam IslamHakikat Pendidik dalam Islam
Hakikat Pendidik dalam Islam
Nurul Safiqa
 
Terminologi Pendidikan dalam Islam
Terminologi Pendidikan dalam IslamTerminologi Pendidikan dalam Islam
Terminologi Pendidikan dalam Islam
Nurul Safiqa
 
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAMFILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
Nurul Safiqa
 

More from Nurul Safiqa (7)

Hakikat Metode Pendidikan dalam Islam
Hakikat Metode Pendidikan dalam IslamHakikat Metode Pendidikan dalam Islam
Hakikat Metode Pendidikan dalam Islam
 
Hakikat Kurikulum Pendidikan dalam Islam
Hakikat Kurikulum Pendidikan dalam IslamHakikat Kurikulum Pendidikan dalam Islam
Hakikat Kurikulum Pendidikan dalam Islam
 
Hakikat Tujuan Pendidikan dalam Islam
Hakikat Tujuan Pendidikan dalam IslamHakikat Tujuan Pendidikan dalam Islam
Hakikat Tujuan Pendidikan dalam Islam
 
Hakikat Peserta Didik dalam Islam
Hakikat Peserta Didik dalam IslamHakikat Peserta Didik dalam Islam
Hakikat Peserta Didik dalam Islam
 
Hakikat Pendidik dalam Islam
Hakikat Pendidik dalam IslamHakikat Pendidik dalam Islam
Hakikat Pendidik dalam Islam
 
Terminologi Pendidikan dalam Islam
Terminologi Pendidikan dalam IslamTerminologi Pendidikan dalam Islam
Terminologi Pendidikan dalam Islam
 
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAMFILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM
 

Recently uploaded

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah_LITERASI DIGITAL
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah_LITERASI DIGITALMasa Pengenalan Lingkungan Sekolah_LITERASI DIGITAL
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah_LITERASI DIGITAL
DeriSeptiEfendi
 
Modul ajar PJOK kelas 10 fase E kurikulum merdeka
Modul ajar PJOK kelas 10 fase E kurikulum merdekaModul ajar PJOK kelas 10 fase E kurikulum merdeka
Modul ajar PJOK kelas 10 fase E kurikulum merdeka
Fathan Emran
 
ATP pembelajaran KELAS 5 2024-2025.docx
ATP pembelajaran  KELAS 5 2024-2025.docxATP pembelajaran  KELAS 5 2024-2025.docx
ATP pembelajaran KELAS 5 2024-2025.docx
kkgbsunda
 
Kelompok 8 Hasil Pembelajaran Mata Kuliah Pengantar Filsafat Ilmu
Kelompok 8 Hasil Pembelajaran Mata Kuliah Pengantar Filsafat IlmuKelompok 8 Hasil Pembelajaran Mata Kuliah Pengantar Filsafat Ilmu
Kelompok 8 Hasil Pembelajaran Mata Kuliah Pengantar Filsafat Ilmu
intanayup65
 
TP ATP INFOR FASE E SMA - HERRY (2425).pdf
TP ATP INFOR FASE E SMA - HERRY (2425).pdfTP ATP INFOR FASE E SMA - HERRY (2425).pdf
TP ATP INFOR FASE E SMA - HERRY (2425).pdf
smabarunawati
 
bullying materi mpls disekolah menengah atas
bullying materi mpls disekolah menengah atasbullying materi mpls disekolah menengah atas
bullying materi mpls disekolah menengah atas
NorAyat2
 
TP ATP EKONOMI KELAS 11 & 12 PKBM VIRTUAL.pdf
TP ATP EKONOMI KELAS 11 & 12 PKBM VIRTUAL.pdfTP ATP EKONOMI KELAS 11 & 12 PKBM VIRTUAL.pdf
TP ATP EKONOMI KELAS 11 & 12 PKBM VIRTUAL.pdf
ferryst03
 
Refleksi Diri dan Umpan Balik yang Membangun .pptx
Refleksi Diri dan Umpan Balik yang Membangun .pptxRefleksi Diri dan Umpan Balik yang Membangun .pptx
Refleksi Diri dan Umpan Balik yang Membangun .pptx
HidayatulMabrur1
 
Aksi nyata Modul 1.1.pptx Filosofi Ki Hajar Dewantara
Aksi nyata Modul 1.1.pptx Filosofi Ki Hajar DewantaraAksi nyata Modul 1.1.pptx Filosofi Ki Hajar Dewantara
Aksi nyata Modul 1.1.pptx Filosofi Ki Hajar Dewantara
SudarmiatiSudarmiati3
 
2.2.A.8 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2.pdf
2.2.A.8 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2.pdf2.2.A.8 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2.pdf
2.2.A.8 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2.pdf
Thahir9
 
modul 1.2 tugas ruang kolaborasi kelompok 2.pptx
modul 1.2 tugas ruang kolaborasi kelompok 2.pptxmodul 1.2 tugas ruang kolaborasi kelompok 2.pptx
modul 1.2 tugas ruang kolaborasi kelompok 2.pptx
septiyaniputri49
 
Slide PPT Materi PENGANTAR FILSAFAT ILMU UNTAG SURABAYA (kel 3).pptx
Slide PPT Materi PENGANTAR FILSAFAT ILMU UNTAG SURABAYA (kel 3).pptxSlide PPT Materi PENGANTAR FILSAFAT ILMU UNTAG SURABAYA (kel 3).pptx
Slide PPT Materi PENGANTAR FILSAFAT ILMU UNTAG SURABAYA (kel 3).pptx
alfinaachmaramadhani
 
PROGRAM MPLS SD kelas 1 SD N 1 Karang Anyar
PROGRAM MPLS SD kelas 1 SD N 1 Karang AnyarPROGRAM MPLS SD kelas 1 SD N 1 Karang Anyar
PROGRAM MPLS SD kelas 1 SD N 1 Karang Anyar
laksmi471
 
Aksi Nyata Calon Guru Penggerak Angkatan 11. Modul 1.1 Filosofi Ki Hajar Dewa...
Aksi Nyata Calon Guru Penggerak Angkatan 11. Modul 1.1 Filosofi Ki Hajar Dewa...Aksi Nyata Calon Guru Penggerak Angkatan 11. Modul 1.1 Filosofi Ki Hajar Dewa...
Aksi Nyata Calon Guru Penggerak Angkatan 11. Modul 1.1 Filosofi Ki Hajar Dewa...
virginfadhillah33
 
PPT RUKOL 1.2 Sesi 1.pptx guru penggerak
PPT RUKOL 1.2 Sesi 1.pptx guru penggerakPPT RUKOL 1.2 Sesi 1.pptx guru penggerak
PPT RUKOL 1.2 Sesi 1.pptx guru penggerak
edysutrisno33
 
LAPORAN PPDB MIS PILADANG TP.2024-2025.docx
LAPORAN PPDB MIS PILADANG TP.2024-2025.docxLAPORAN PPDB MIS PILADANG TP.2024-2025.docx
LAPORAN PPDB MIS PILADANG TP.2024-2025.docx
salimahathira
 
Koneksi Antar Materi Modul 2.2cgpa10.pdf
Koneksi Antar Materi Modul 2.2cgpa10.pdfKoneksi Antar Materi Modul 2.2cgpa10.pdf
Koneksi Antar Materi Modul 2.2cgpa10.pdf
roviqoevi1
 
Modul Ajar Geografi Kelas 10 Fase E Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Geografi Kelas 10 Fase E Kurikulum MerdekaModul Ajar Geografi Kelas 10 Fase E Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Geografi Kelas 10 Fase E Kurikulum Merdeka
Fathan Emran
 
Tugas KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2.pdf
Tugas KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2.pdfTugas KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2.pdf
Tugas KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2.pdf
Thahir9
 
TUGAS KELOMPOK RUANG KOLABORASI MODUL 1.2.pptx
TUGAS KELOMPOK RUANG KOLABORASI MODUL 1.2.pptxTUGAS KELOMPOK RUANG KOLABORASI MODUL 1.2.pptx
TUGAS KELOMPOK RUANG KOLABORASI MODUL 1.2.pptx
EriDanapriatna
 

Recently uploaded (20)

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah_LITERASI DIGITAL
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah_LITERASI DIGITALMasa Pengenalan Lingkungan Sekolah_LITERASI DIGITAL
Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah_LITERASI DIGITAL
 
Modul ajar PJOK kelas 10 fase E kurikulum merdeka
Modul ajar PJOK kelas 10 fase E kurikulum merdekaModul ajar PJOK kelas 10 fase E kurikulum merdeka
Modul ajar PJOK kelas 10 fase E kurikulum merdeka
 
ATP pembelajaran KELAS 5 2024-2025.docx
ATP pembelajaran  KELAS 5 2024-2025.docxATP pembelajaran  KELAS 5 2024-2025.docx
ATP pembelajaran KELAS 5 2024-2025.docx
 
Kelompok 8 Hasil Pembelajaran Mata Kuliah Pengantar Filsafat Ilmu
Kelompok 8 Hasil Pembelajaran Mata Kuliah Pengantar Filsafat IlmuKelompok 8 Hasil Pembelajaran Mata Kuliah Pengantar Filsafat Ilmu
Kelompok 8 Hasil Pembelajaran Mata Kuliah Pengantar Filsafat Ilmu
 
TP ATP INFOR FASE E SMA - HERRY (2425).pdf
TP ATP INFOR FASE E SMA - HERRY (2425).pdfTP ATP INFOR FASE E SMA - HERRY (2425).pdf
TP ATP INFOR FASE E SMA - HERRY (2425).pdf
 
bullying materi mpls disekolah menengah atas
bullying materi mpls disekolah menengah atasbullying materi mpls disekolah menengah atas
bullying materi mpls disekolah menengah atas
 
TP ATP EKONOMI KELAS 11 & 12 PKBM VIRTUAL.pdf
TP ATP EKONOMI KELAS 11 & 12 PKBM VIRTUAL.pdfTP ATP EKONOMI KELAS 11 & 12 PKBM VIRTUAL.pdf
TP ATP EKONOMI KELAS 11 & 12 PKBM VIRTUAL.pdf
 
Refleksi Diri dan Umpan Balik yang Membangun .pptx
Refleksi Diri dan Umpan Balik yang Membangun .pptxRefleksi Diri dan Umpan Balik yang Membangun .pptx
Refleksi Diri dan Umpan Balik yang Membangun .pptx
 
Aksi nyata Modul 1.1.pptx Filosofi Ki Hajar Dewantara
Aksi nyata Modul 1.1.pptx Filosofi Ki Hajar DewantaraAksi nyata Modul 1.1.pptx Filosofi Ki Hajar Dewantara
Aksi nyata Modul 1.1.pptx Filosofi Ki Hajar Dewantara
 
2.2.A.8 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2.pdf
2.2.A.8 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2.pdf2.2.A.8 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2.pdf
2.2.A.8 KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2.pdf
 
modul 1.2 tugas ruang kolaborasi kelompok 2.pptx
modul 1.2 tugas ruang kolaborasi kelompok 2.pptxmodul 1.2 tugas ruang kolaborasi kelompok 2.pptx
modul 1.2 tugas ruang kolaborasi kelompok 2.pptx
 
Slide PPT Materi PENGANTAR FILSAFAT ILMU UNTAG SURABAYA (kel 3).pptx
Slide PPT Materi PENGANTAR FILSAFAT ILMU UNTAG SURABAYA (kel 3).pptxSlide PPT Materi PENGANTAR FILSAFAT ILMU UNTAG SURABAYA (kel 3).pptx
Slide PPT Materi PENGANTAR FILSAFAT ILMU UNTAG SURABAYA (kel 3).pptx
 
PROGRAM MPLS SD kelas 1 SD N 1 Karang Anyar
PROGRAM MPLS SD kelas 1 SD N 1 Karang AnyarPROGRAM MPLS SD kelas 1 SD N 1 Karang Anyar
PROGRAM MPLS SD kelas 1 SD N 1 Karang Anyar
 
Aksi Nyata Calon Guru Penggerak Angkatan 11. Modul 1.1 Filosofi Ki Hajar Dewa...
Aksi Nyata Calon Guru Penggerak Angkatan 11. Modul 1.1 Filosofi Ki Hajar Dewa...Aksi Nyata Calon Guru Penggerak Angkatan 11. Modul 1.1 Filosofi Ki Hajar Dewa...
Aksi Nyata Calon Guru Penggerak Angkatan 11. Modul 1.1 Filosofi Ki Hajar Dewa...
 
PPT RUKOL 1.2 Sesi 1.pptx guru penggerak
PPT RUKOL 1.2 Sesi 1.pptx guru penggerakPPT RUKOL 1.2 Sesi 1.pptx guru penggerak
PPT RUKOL 1.2 Sesi 1.pptx guru penggerak
 
LAPORAN PPDB MIS PILADANG TP.2024-2025.docx
LAPORAN PPDB MIS PILADANG TP.2024-2025.docxLAPORAN PPDB MIS PILADANG TP.2024-2025.docx
LAPORAN PPDB MIS PILADANG TP.2024-2025.docx
 
Koneksi Antar Materi Modul 2.2cgpa10.pdf
Koneksi Antar Materi Modul 2.2cgpa10.pdfKoneksi Antar Materi Modul 2.2cgpa10.pdf
Koneksi Antar Materi Modul 2.2cgpa10.pdf
 
Modul Ajar Geografi Kelas 10 Fase E Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Geografi Kelas 10 Fase E Kurikulum MerdekaModul Ajar Geografi Kelas 10 Fase E Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Geografi Kelas 10 Fase E Kurikulum Merdeka
 
Tugas KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2.pdf
Tugas KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2.pdfTugas KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2.pdf
Tugas KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2.pdf
 
TUGAS KELOMPOK RUANG KOLABORASI MODUL 1.2.pptx
TUGAS KELOMPOK RUANG KOLABORASI MODUL 1.2.pptxTUGAS KELOMPOK RUANG KOLABORASI MODUL 1.2.pptx
TUGAS KELOMPOK RUANG KOLABORASI MODUL 1.2.pptx
 

Biografi dan Pandangan Pendidikan Islam Imam Syafi'i serta Implikasinya Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia

  • 1. 1 BIOGRAFI DAN PANDANGAN PENDIDIKAN ISLAM IMAM SYAFI’I SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA Nurul Safiqa (202127019) Jurusan Manajemen Pendidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe Jalan Medan - Banda Aceh, Alue Awe, Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Aceh 24352 e-mail: nurulsafiqa30@gmail.com Abstrak Tulisan ini mengungkap pemikiran Imam Syafi’i tentang pendidikan. Imam Syafi’i lebih dikenali sebagai ulama fiqh, namun beliau memberi sumbangan yang tidak kurang hebatnya dalam bidang pendidikan. Beliau lebih mengedepankan masalah adab/akhlak dalam kurikulum pendidikannya. Hal ini terlihat dari berbagai syair beliau yang mengedepankan masalah adab bagi para penuntut ilmu. Ada tiga sumbangan besar Imam Syafi’i dalam pendidikan, yaitu: konsep ilmu, menuntut ilmu harus memiliki landasan (hujjah) dan etika dalam menuntut ilmu. Maka beliau menegaskan bahwa kesuksesan dalam menuntut ilmu akan didapatkan bila kita para penuntut ilmu memiliki 6 ciri di antaranya: (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) bersungguh-sungguh, (4) dirham (kesediaan keluarkan uang), (5) bersahabat dengan ustadz, (6) memerlukan waktu yang lama. Kata Kunci: pemikiran, pendidikan, Imam Syafi’i. Pendahuluan Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i atau dikenali sebagai Imam Syafi’i merupakan seorang tokoh Islam yang mempunyai nama yang cukup besar dalam mengulurkan sumbangan dan kebaikan terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan pendidikan kepada seluruh umat Islam. Ketinggian ilmunya melebihi pujian yang diucapkan kepadanya. Penguasaan ilmu pengetahuannya yang bersumberkan kepada rujukan Alquranul karim dan Sunnah Nabi amat disegani oleh pihak kawan maupun lawan. Beliau telah menghabiskan sisa hidupnya dengan menimba berbagai ilmu pengetahuan untuk ditaburkan kembali dalam tarbiyah (pendidikan) dan pembangunan masyarakat. Tidak dapat dinafikan, beliau merupakan qudwatun hasanah (ikutan atau tauladan yang baik) sebagai ulama mulia yang memperjuangkan mazhab ahlus- Sunnah wal-Jamaah. Beliau juga telah mengangkat martabat Islam ke makam (kedudukan) yang terpuji di sisi Allah swt. Sesungguhnya, kehebatan Imam Syafi’i amat menonjol dan tersohor sebagai seorang pelopor dan perumus pertama metodologi hukum Islam mengikut furuk (cabang) ilmu pengetahuan. Ushul fiqh (metodologi hukum Islam) ‘lahir’ setelah Imam Syafi’i menulis karya- karyanya yang begitu hebat dan amat menakjubkan dalam dunia keilmuan Islam dan Barat. Pada masa kini, Mazhab Syafi’i telahpun diikuti, diamalkan dan dijadikan panduan serta pedoman oleh 28% umat Islam seluruh dunia. Malah, merupakan mazhab yang kedua terbesar pengikutnya setelah Mazhab Hanafi. Dalam perkembangan pemikirannya, Imam Syafi’i mempunyai dua pendapat yang berbeda. Kedua pendapat ini biasa dikenal dengan qaul qadīm
  • 2. 2 dan qaul jadīd. Berbagai tafsiran muncul berkisar hal ini, ada yang menyelidiki kemungkinan pengaruh sosio-kultural yang sangat kontras antara Irak dan Mesir, serta ada juga yang melihatnya sebagai peristiwa ralat biasa yang disebabkan penemuan hadith baru yang lebih kuat. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Data dikumpulkan dari sumber buku besar atau jurnal penelitian yang relevan. Sumber referensi yang digunakan berkaitan dengan topik pemikiran pendidikan Islam, Imam Syafi’i dan pemikirannya, pandangan pendidikan Islam Imam Syafi’i dan implikasinya terhadap pendidikan Islam di Indonesia. Pembahasan A. Biografi Imam Syafi’i Imam Syafi’i keturunan Mutthalib dari sisi ayahnya, silsilah nasabnya adalah Muhammad ibn Idris ibn Abbas ibn Utsman ibni Syafi’i ibn Saib ibn Abdul Yazid Ibnu Hisyam ibn Muthalib ibn Abdul Manaf. Nasab as-Syafi’i bertemu dengan Rasulullah SAW di Abdul Manaf.1 Imam Syafi’i lahir pada tahun wafatnya Imam Abu Hanifah, beliau Lahir di Ghazzah Palestina pada tahun 150 H/767 M.2 Yang dimaksud Ghazza di sini adalah suatu kampung yang termasuk jajahan Palestina yang masih masuk wilayah Asqolan. Kemudian beliau dibawa oleh ibunya ke Makkah dan dibesarkan di sana.3 Beliau wafat pada usia 54 tahun di Fustat (Kairo) Mesir pada akhir bulan Rajab tahun 204 H/20 Januari 820 M bertepatan malam Jum’at setelah Isya’ akhir.4 Beliau adalah ulama’ mujtahid (ahli ijtihad) dibidang fiqh dan salah seorang dari empat Imam Mazhab yang terkenal dalam Islam. Dia hidup di masa pemerintahan khalifah Harun ar-Rasyid al-Amin dan al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah.5 Setelah beliau menjadi ulama’ besar dan pendapatnya banyak diikuti maka beliau lebih akrab dengan panggilan al-Syafi’i yang dinisbahkan kepada nama kakeknya yang ketiga, yaitu al Syafi’i ibn as-Sa’ib ibn Abid ibn Abd Yazid ibn Hasyim ibn al Muthalib ibn Abd Manaf, Abd Manaf ibn Qusay kakek kesembilan dari kesembilan dari Imam Syafi’i adalah Abdul Manaf ibn Qusay kakek ke empat dari Nabi Muhammad saw. Sedangkan ibunya bernama Fatimah Binti Abdullah ibn Husain ibn Ali ibn Abi Thalib. Ia adalah cicit dari Ali ibn Abi Thalib. Dengan demikian kedua orang tua imam Syafi’i berasal dari bangsawan Arab Qurasy.6 B. Pendidikan Imam Syafi’i Imam asy-Syafi'i tumbuh di negeri Ghazzah sebagai seorang yatim setelah ayahnya meninggal. Oleh karena itu, berkumpullah pada dirinya kefakiran, keyatiman, dan keterasingan dari keluarga. Namun, kondisi ini tidak menjadikannya lemah dalam menghadapi kehidupan setelah Allah memberinya taufik untuk menempuh jalan yang benar. Setelah sang ibu 1 Muhammad Fakhruddin al-Razi, Tahqiq Ahmad Hajazi al-Saqqa’, Manaqib al-Imam al-Syafi’i, (Mesir: Maktabah al-Kulliyah al-Azhariyah, 1986), h. 23. 2 Muhammad Fakhruddin al-Razi, Tahqiq Ahmad Hajazi al-Saqqa’, Manaqib al-Imam al-Syafi’i...h. 34. 3 Syekh Muhammad al-Hadlori bik, Tarikh al-Tasyri al-Islamiyah, (Surabaya: al-Hidayah), h. 251. 4 Muhammad Fakhruddin al-Razi, Tahqiq Ahmad Hajazi al-Saqqa’, Manaqib al-Imam al-Syafi’i...h. 34. 5 M. Shiddiq al Minsyawi, 100 Tokoh Zuhud, (Jakarta: Senayan Abdi Pblishing, 2007), h. 431. 6 Muhammad Fakhruddin al-Razi, Tahqiq Ahmad Hajazi al-Saqqa’, Manaqib al-Imam al-Syafi’i...h. 35.
  • 3. 3 membawanya ke tanah Hijaz, yakni kota Makkah, menurut riwayat terbanyak atau tempat dekat Makkah.7 Imam Syafi'i bercerita: “Aku hidup sebagai yatim di dalam asuhan lbuku. Ibuku tidak mampu membayar seorang guru untuk mengajariku. Tetapi, guru itu ridha dan senang jika aku menjadi penggantinya.8 Maka setelah aku menamatkan al-Qur-an, aku hadir di masjid dan berkumpul bersama para ulama untuk menghafal hadits atau masalah agama, sementara tempat tinggal kami terletak di jalan Bukit al-Khaif. Aku menulis (apa yang aku dapatkan) di atas tulang. Setelah banyak, tulang-tulang (yang berisi tulisan itu) aku masukkan ke dalam sebuah bejana besar.”9 Aktivitas pendidikannya dimulai dengan studi al-Qur’an dalam hal tilawah, tajwid dan tafsirnya dengan guru-guru yang ada di Masjid al-Haram. Kesungguhan dan ketekunannya dalam menghafal al-Qur’an terlihat ketika pada usia sembilan tahun beliau telah mampu menghafal al-Qur’an dan beberapa hadits di luar kepala. Hafalannya terhadap banyak hadits lebih merupakan akibat dari kurangnya sarana untuk menulis pelajaran yang diterimanya. Di Masjid al-Haram inilah dia pernah berguru kepada Muslim bin Khaiid (w.180 H), Sufyan bin ‘Uyainah di bidang hadits dan fiqh, Isma'ii bin Qasthantin dalam ilmu al-Qur’an, juga pernah bertemu dengan al-Lais bin Sa'ad, ahli fiqh yang juga ahli dalam bidang sastra dan bahasa. Al- Lais ini adalah Mujtahid Mesir yang di kemudian hari kelak akan diikuti jejaknya oleh al- Syafi'i.10 Dalam bidang hadits, di Makkah beliau belajar dan bahkan sampai menghafal kitab al- Muwatha’ karya Imam Malik kepada Sufyan bin ‘Uyainah. Menginjak usianya yang kedua puluh dia mendengar kebesaran nama Imam Malik penulis buku yang telah dia hafal. Dengan berbekal do'a dari ibu dan surat pengantar dari wali kota Makkah berangkatlah al-Syafi’i muda ke Madinah untuk memasuki jenjang pendidikan tahap selanjutnya di bawah bimbingan langsung Imam Malik bin Anas. Di Madinah beliau ditanggung kehidupannya oleh Imam Malik sebagai seorang ulama yang kaya, dan seperti kebiasaannya yang dulu al-Syafi’i sering mengunjungi daerah pedesaan untuk mempelajari kehidupan mereka sehari-hari, sehingga disinyalir al-Syafi’i tidak bisa selalu bersama Imam Malik.11 Namun demikian tugas pokoknya untuk belajar langsung kitab al-Muwatha’ dari Imam Malik dapat terlaksana bahkan hanya dalam beberapa hari saja. Setelah Imam Malik wafat pada tahun 179 H., Imam Syafi’i mengalami kesulitan ekonomi, sehingga ia harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, kemudian ia pindah ke Yaman dan beliau sempat belajar kepada ulama-ulama di Yaman, seperti Muthorrif bin Mazin (w.191 H), Hisyam bin Yusuf al-Qadhi (w. 197 H.), Amr bin Abi Salmah dan Yahya bin Hasan. Dengan demikian ilmunya semakin lengkap dan luas. Dikarenakan tuduhan terlibat dalam kegiatan politik kelompok syi’ah yang menentang khalifah pada tahun 184 H., beliau digiring ke Baghdad (Irak), di sinipun beliau memanfaatkan kesempatan baik tersebut untuk berkenalan dengan tokoh ulama Hanafiyah, Muhammad ibn al- Hasan al-Syaibani (w.189 H.), yang ketika itu menjadi qadhi kerajaan Abbasiyah. Setelah lepas dari tuntutan tersebut, ia pun 7 Muhammad ‘Aqil, Biografi Imam asy-Syafi'i, Riwayat Pendidikan dan Kegiatan Keilmuannya, (Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2015), h. 8. 8 Muhaqqiq Sa’ad al-Din bin Muhammad al-Kabbi, Wasiyah al-Imam as-Syafi’i, (Bairut: al-Maktab al- Islami, 1994), h. 13. 9 al-Baihaqi, Manaaqibusy Syafi'i, Tahqiq Ahmad Saqar, (al-Qahirah: Dar al-Turas, tt) Jilid I, h. 75. 10 Munawar Khalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab, (Jakarta: Bulan BIntang, 1955), h. 153. 11 Abdurrahman al- Syarqawi, Aimmah al-Fiqh al-Tish'ah, (Beirut: Dar 'iqra', 1981), h. 103-104.
  • 4. 4 memanfaatkan kesempatan untuk mempelajari seluk-beluk ilmu fikih yang berkembang dalam aliran Ahl al-Ra’yi.12 Diketahui bahwa Imam Syafi’i menghabiskan waktu secara total mendalami kajian ilmu fiqh kepada Muhammad bin Hasan, hingga ia bisa tuntas menyimak dan mendengar banyak kitab karyanya seberat muatan seekor unta. Berkaitan dengan hal itu,Imam Syafi’i berkata “Allah telah menolongku dengan dua orang tokoh ulama; dalam masalah ilmu hadits oleh Ibn Uyainah, dalam masalah fiqh oleh Muhammad Bin Hasan As- Syaibani.” C. Karya Imam Syafi’i Sebagaimana Imam Malik, di mana pemikiran beliau banyak dipengaruhi oleh tingkat kehidupan sosial masyarakat dimana beliau tinggal, maka demikian pula Imam Syafi’i, ketika beliau berada di Hijaz, sunnah dan hadits dengan tatanan kehidupan sosial yang sederhana hingga relatif tidak banyak timbul masalah kemasyarakatan dan cara pengambilan yang langsung dari teks al-Qur’an serta sunnah telah mamadahi untuk menyelesaikannya, maka wajar sekali jika Imam Syafi’i lalu cenderung kepada aliran ahli hadits, karena memang beliau belajar dari Imam tersebut. Akan tetapi setelah beliau mengembara ke Baghdad (Irak) dan menetap untuk beberapa tahun lamanya serta mempelajari fiqh Abu Hanifah dan Madzhab ahli ra’yu, maka mulailah beliau condong kepada aliran rasional ini. Walhasil, pada akhirnya Imam Syafi’i mampu mengkombinasikan antara aliran hadist dan aliran ra’yi. Para ulama telah menyebutkan karangan Imam Syafi'i yang tidak sedikit, Qadi Imam Abu Muhammad bin Husain bin Muhammad al-Muzani, yaitu salah seorang murid Imam Syafi’i yang mengatakan bahwa Imam Syafi’i telah mengarang kitab sebanyak 113 kitab, baik kitab dalam ilmu Ushul Fiqh, dan lain-lain, di antara karangannya adalah:13 1. Kitab Al-Umm Sebuah kitab tebal yang terdiri dari empat jilid (volume) dan berisi 128 masalah. Al- Hafizh Ibnu Hajar berkaia: "Jumlah Kitab (masalah) dalam kitab al-Umm lebih dari 140 BAB- -Wallaahu a'lam-. Dimulai dari Kitab “tha-Thahaarah” (masalah bersuci) kemudian Kitab “as-Shalaah” (masalah shalat). Begitu seterusnya yang beliau susun berdasarkan bab-bab fiqih. Sebagian orang ada yang menyangka bahwa kitab ini bukanlah buah pena dari Imam Syafi'i, melainkan karangan al-Buwaithi yang disusun oleh ar-Rabi' bin Sulaiman al-Muradi. Pen-tahqiq kitab Manaaqibusy Syafi'i Imam al-Baihaqi, telah membantah sangkaan itu sebagaimana Syaikh Ahmad Syakir membantahnya saat men-tahqiq kitab ar-Risaalah karya Imam Syafi'i. 2. Kitab Ar-Risalah al-Jadidah Sebuah kitab yang dilatari surat menyurat antara Imam ar-Rabi’ bin Sulaiman dan Imam Syafi’i yang kemudian dibukukan. Kitab ini terdiri dari satu jilid besar. Dalam kitab ini Imam Syafi'i berbicara tentang al-Qur’an dan penjelasannya, juga membahas tentang as- Sunnah berikut kedudukannya dari al-Qur’an al-Karim. Beliau mengemukakan bahwa banyak dalil mengenai keharusan berhujjah dan berargumentasi dengan as-Sunnah. Beliau juga mengupas masalah Nasikh dan Mansukh dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, menguraikan tentang 12 Rahmat Hidayat, Pemikiran Pendidikan Islam Imam As-Syafi’i, Almufida Vol III No. 01 Januari-Juni 2018, h. 114. 13 Muhammad ‘Aqil, Biografi Imam asy-Syafi'i, Riwayat Pendidikan dan Kegiatan Keilmuannya, (Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i, 2015), h. 43.
  • 5. 5 ‘hal ‘ilal ('illat/cacat) yang terdapat pada sebagian hadits dan alasan dari keharusan mengambil hadits ahad sebagai hujjah dan dasar hukum, serta apa yang boleh diperselisihkan dan yang tidak boleh diperselisih-kan di dalamnya. 3. Ad-Diwan Diwan bisa diartikan sebagai kumpulan tulisan. Dalam hal ini Kitab “Diwan Syafi’i”, merupakan salah satu kitab yang berisi kumpulan gubahan syair Imam Syafi’i. Dalam kitab tersebut terdapat beragam syair tentang pendidikan dan akhlak. 4. Wasiyah al-Imam As-Syafi’i Kitab ini di Tahqiq oleh Imam Sa’ad al-Din bin Muhammad al-Kabbi. Kitab ini berisi wasiat-wasiat keilmuan Imam Syafi’i yang diceritakan muridnya melalui jalur sanad yang lengkap sampai kepada beliau. Kitab tersebut lebih banyak menerangkan tentang pernyataan- pernyataan Imam Syafi’i tentang pendidikan akidah yang benar sebagai bantahan atas pemikiran akidah yang keliru pada saat itu. D. Sumbangan Imam Syafi’i dalam Bidang Pendidikan 1. Konsep Ilmu Menurut Imam Syafi’i Selain beliau, Syaikh Bin Bazz telah menyatakan, “Sesungguhnya (kata) ilmu itu dilontarkan untuk banyak hal, akan tetapi menurut para ulama Islam, yang dimaksud dengan ilmu adalah ilmu syar’i. Inilah yang dimaksud dalam Kitabullah dan Sunnah RasulNya shollallohu ‘alaihi wa sallam secara mutlak, yaitu ilmu tentang Alloh, Asma’-Nya, SifatNya, ilmu tentang hakNya atas hambaNya dan tentang segala sesuatu yang disyariatkan untuk mereka oleh Alloh Subhanahu wa Ta’ala.“ 2. Menuntut Ilmu harus Memiliki Landasan (Hujjah) Hujjah adalah dasar dan landasan yang dijadikan sebagai penguat ilmu syariat tersebut. Imam Syafi’i telah membuat perumpamaan bagi penuntut ilmu syar’i yang tidak berdasarkan hujjah. Al-Muzani atau ar-Robi’ pernah menceritakan, “Kami pada suatu hari pernah berada di sisi Imam Syafi’i. Tiba-tiba ada seorang syaikh yang memakai pakaian dari shuf (wol), sedangkan di tangannya terdapat tongkat. Lalu asy-Syafi’i bangkit dan merapikan pakaiannya dan syaikh itu memberi salam kepada beliau lalu duduk. Syafi’i melihat syaikh tersebut dengan keadaan segan kepadanya. Syaikh itu berkata, “Apakah aku boleh bertanya kepadamu?” Syafi’i menjawab, “Bertanyalah!” Orang itu berkata, “Apakah hujjah dalam agama Allah?” Asy-Syafi’i menjawab, “Kitabullah.” Maka kunci untuk dapat selamat dari kesesatan adalah dengan berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah saw. Jika para penuntut ilmu tidak berpegang kepada kedua hujjah ini maka ia akan mendapatkan masalah besar dalam kehidupannya. Disisi lain, dalam wasiat tersebut, Imam Syafi’i menjelaskan tentang resiko dan bahaya yang akan menimpa seorang penuntut ilmu apabila tidak berdasarkan kepada hujjah dalam mempelajari ilmu yaitu akan tersesat tanpa disadarinya. Apabila seseorang mempelajari ilmu syariat tanpa dasar Alquran dan Hadits yang shohih, maka akhirnya adalah berupa penyimpangan, kekeliruan dan kesesatan. Di antara contohnya adalah: 1. Menyangka tauhid, padahal syirik. Apabila tidak berdasarkan dalil dari Kitabullah atau Sunnah Rasulullah saw. dalam menetapkan aqidah tauhidulloh, maka bisa saja meyakini
  • 6. 6 bahwa suatu masalah adalah tauhid, padahal itu adalah kesyirikan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. 2. Mengira sunnah, padahal bid’ah. Apabila mempelajari perkara-perkara yang disyariatkan oleh Rasulullah saw. akan tetapi tidak kembali kepada al-Qur’an dan Hadits yang shohih dari beliau, tetapi hanya perpegang kepada pendapat Imam Fulan dan Imam Fulan saja, maka bisa saja seseorang terjatuh dalam kebid’ahan, akan tetapi disangka termasuk sunnah Rasulullah saw. 3. Terjatuh ke dalam taklid yang terlarang. Tatkala seorang penuntut ilmu mengikuti suatu pendapat di antara pendapat-pendapat ulama, akan tetapi tidak mengetahui dalil yang dijadikan sebagai landasannya, maka telah terjatuh ke dalam taklid yang terlarang. 4. Menyangka suatu amalan mengandung keutamaan, padahal terdapat penyimpangan. Tatkala dalil syar’i ditinggalkan dalam mempelajari ilmu syar’i, maka seseorang akan memperhatikan dan mengagungkan suatu amalan yang disangka mengandung keutamaan, padahal amalan tersebut menyimpang. 5. Apabila mendakwahkan kesesatan, maka akan menyesatkan. Apabila perkara-perkara yang termasuk syirik, atau kekufuran atau kebid’ahan atau penyimpangan-penyimpangan syariat disampaikan kepada orang lain, maka orang yang menyampaikan ilmu syar’i tanpa dalil tersebut akan menjadi penyesat bagi orang lain. 3. Etika dalam Menuntut Ilmu Menurut Imam Syafi’i ada beberapa etika yang harus dimiliki oleh seseorang yang sedang menuntut ilmu, di antaranya: a. Kesungguhan dan semangat dalam menuntut ilmu Pada suatu hari, ibunya mengantarkannya kepada seorang guru, agar ia bisa belajar. Akan tetapi, ibunya tidak punya uang untuk membayar guru tersebut yang mengajar anaknya. Akhirnya, guru tersebut rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan cepatnya hapalan Imam Syafi’i. Setelah selesai menghapal al-Qur’an, beliau masuk ke dalam masjid duduk bersama para ulama. Imam Syafi’i mendengarkan satu permasalahan atau satu hadits, lalu menghapalkannya. Ibunya tidak mempunyai harta untuk diberikan kepada beliau untuk membeli lembaran atau kertas sebagai tempat beliau menulis. Beliau pun mencari tulang, tembikar, tulang pundak unta, dan pelepah kurma, lalu menulis hadits padanya. Bila sudah penuh, beliau menaruhnya dalam tempayan yang ada di rumahnya, sehingga tempayan- tempayan yang ada di rumah beliau pun menjadi banyak. Ibunya berkata kepada beliau: “Sesungguhnya tempayan-tempayan ini telah menjadikan rumah kita sempit.” Maka beliau pun mendatangi tempayan-tempayan ini, menghapal apa yang ada padanya, kemudian membuangnya. Setelah itu, Allah subhanahu wata’ala memudahkan beliau untuk melakukan safar ke negeri Yaman. Imam Syafi’i pernah ditanya, “Bagaimana ambisi anda untuk mendapatkan ilmu?” Beliau menjawab, “Seperti ambisi orang yang tamak terhadap dunia dan bakhil ketika memperoleh kelezatan harta.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Seperti apakah anda di dalam mencari ilmu?” Beliau menjawab, “Seperti pencarian seorang wanita yang kehilangan anak satu-satunya.” Ketika Imam Syafi’i duduk di hadapan Imam Malik dan belajar kepadanya, ia membuat Imam Malik kagum akan kecerdasan, kejelian dan kesempurnaan pemahamannya. Imam Malik
  • 7. 7 berkata, “Sesungguhnya aku melihat Allah swt. telah memberikan cahaya atas hatimu. Maka janganlah kamu padamkan cahaya itu dengan gelapnya perbuatan maksiat.” Penjelasan di atas menunjukkan bahwa dalam menuntut ilmu dibutuhkan kesungguhan dan semangat yang kuat. Kesungguhan dan semangat yang kuat inilah yang dapat menghantarkan kita kepada keberhasilan dalam menuntut ilmu. b. Ketawadhu’an Imam Syafi’i adalah seorang yang rendah hati (tawadhu’). Beliau pernah berkata, “Aku ingin, apabila manusia mempelajari ilmu ini-maksudnya kitab-kitab beliau-, hendaklah mereka tidak menyandarkan sesuatu pun dari kitab-kitab tersebut kepadaku.” Beliau pernah berkata kepada Imam Ahmad-salah satu murid beliau-, “Kamu lebih berilmu tentang hadits yang shahih dibanding aku. Maka apabila engkau mengetahui tentang sebuah hadits yang shahih, maka beritahukanlah kepadaku hingga aku berpegang dengan pendapat tersebut. Baik hadits tersebut datang dari penduduk Kufah, Bashrah (nama kota di Iraq), maupun Syam.” Sifat beliau ini menunjukkan kepada kita bahwa setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Maka bagi orang berlebih dalam suatu bidang jangan menjadi sombong, sedangkan seseorang yang kurang dalam suatu bidang jangan pula menjadi rendah diri. c. Keteladanan dalam membagi waktu malam Imam Syafi’i membagi waktu malamnya menjadi 3 bagian, sepertiga malam yang pertama untuk menulis, sepertiga malam yang kedua untuk shalat dan sepertiga malam yang ketiga untuk tidur. Inilah nasehat Imam Syafi'i kepada para penuntut ilmu. Sesungguhnya yang dimaksud dirham bukanlah banyaknya harta, tetapi terutama kesediaan/kerelaan hati mengeluarkan uang untuk meraih ilmu. Berpijak pada nasehat yang ditanamkan di awal belajar, lapar itu lebih disukai santri asalkan dapat membeli buku. Mereka justru akrab dengan rasa lapar. Tetapi mereka amat bersemangat. Lapar kerap jadi pilihan karena mendahulukan ilmu dan mereka justru menjadi cemerlang justru karena itu. Perhatian hanya tertuju pada belajar. Tidak disibukkan oleh urusan makanan. Selanjutnya bersahabat dengan ustadz (guru). Bersahabat dengan Ustadz bukan karena mengharap nilai yang bagus, tapi untuk meraup ilmu yang barakah dan berlimpah. Dulu kesempatan memijat ustadz merupakan kesempatan penuh manfaat. Memijat merupakan kesempatan mendengar limpahan nasehat ustadz. Ini bukanlah soal joyful learning. Justru ini soal kesediaan berpayah-payah demi meraih ilmu yang lebih utama. Ada semangat di sana. Bersahabat dengan ustadz bahkan tak hanya terkait kesempatan meraup kesempatan lebih banyak untuk memperoleh curahan ilmu darinya. Lebih dari itu adalah ikatan jiwa antara murid dan guru. Teringat, ketika guru sakit, sedih sekali perasaan ini & bersegera mendo'akan. Ikatan semacam ini menjadikan kehadiran guru senantiasa dinanti dan tutur katanya didengarkan sepenuh hati. Inilah bekal amat berharga. Ketika murid benar-benar memiliki keterikatan hati dengan guru, cara mengajar yang monoton pun tetap membangkitkan antusiasme. Sebaliknya, ketika guru semata hanya mengandalkan metode mengajar, cara yang atraktif pun tak jarang hanya memikat sesaat di kelas. Murid betah mendengarnya karena menarik dan lucu, tapi tak menumbuhkan antusiasme untuk belajar lebih serius di luar kelas. Apalagi jika salah memahami istilah belajar tuntas sehingga seakan tak perlu lagi belajar setiba di rumah, bahkan hingga tertidur pulas di malam
  • 8. 8 hari. Padahal antusiasnya anak belajar sepulang sekolah merupakan salah satu tanda belajar otentik. Jika kita sangat meminati sesuatu, sakit pun tak menghalangi untuk menekuninya. Prinsip lain yang dinasehatkan oleh Imam Syafi'i rahimahullah bagi penuntut ilmu adalah memerlukan waktu lama. Seorang santri (murid) harus menyiapkan diri menghabiskan waktu yang panjang untuk mencapai pemahaman yang mendalam terhadap ilmu. Jauhi sikap instant dan tergesa-gesa (isti'jal) ingin menguasai ilmu dengan segera. Penghambat tafaqquh (upaya memahami secara sangat mendalam) adalah sikap tergesa-gesa. Pengetahuan dapat diperoleh dengan cepat, tetapi pemahaman yang matang dan mendalam hanya dapat diraih dengan kesabaran dan kesungguhan. Grabbing informations dapat dicapai dengan speed reading. Tetapi untuk pemahaman mendalam, yang diperlukan adalah deep reading. Sebagian ilmu menuntut ketekunan untuk masa yang panjang. Keduanya diperlukan. Ini memerlukan daya tahan yang tinggi. Ada orang yang cerdas sehingga mudah memahami. Tapi ada sebagian ilmu yang menuntut ketekunan, masa yang panjang dan sekaligus kecerdasan. Dalam bidang sains pun sabar, tekun dan cerdas diperlukan secara bersamaan. Semisal untuk bidang yang memerlukan observasi longitudinal. Jika ada guru yang bertanya, apa bekal penting bagi seorang murid, maka nasehat Imam Syafi’i ini yang seharusnya ditanamkan kuat-kuat. Ditanamkan kuat-kuat hingga membekas. Bukan sekedar menjadi pengetahuan sekilas. Semoga ini dapat membentuk sikap belajar yang kuat dan mantap. Jika adab tertanam kuat dan sikap belajar mengakar dalam diri murid, maka guru yang monoton pun akan didengar sepenuh perhatian. Lebih-lebih guru yang bagus kemampuannya mengajar. Tetapi sekedar pintar mengajar, tak bermakna jika murid lemah adabnya buruk sikapnya. E. Implikasi Pemikiran as-Syafi’i Terhadap Pendidikan Islam di Indonesia Dunia keilmuan Islam, khususnya dalam Fiqh dan Ushul al-Fiqh, tak mungkin dapat dipisahkan dari sosok Imam as-Syafi’i radliyallahu ‘Anhu. Beliau adalah salah satu pendiri empat Madzhab Fiqih yang diikuti oleh ummat Islam yang menganut faham Ahlussunnah wal Jama’ah, yang populer disebut dengan Madzhab Syafi’i. Dalam perkembangannya sampai saat ini, Madzhab Syafi’i adalah madzhab fiqh yang paling banyak diikuti oleh ummat Islam di dunia, khususnya di negara-negara seperti Indonesia, Malaysia, Mesir, Yaman, Syria, Irak, dan masih banyak lagi. Kenyataan ini menunjukkan bahwa cara berfiqh yang digali dan dikembangkan oleh Imam Syafi’i dan para penerusnya, memiliki kemampuan untuk tetap relevan dalam perkembangan sepanjang sejarah dan heterogenitas ummat Islam (geografi, demografi, kultur, etnis, ras, bahasa, dan tingkat perkembangan sosialnya). Di Indonesia, madzhab ini telah menjadi inti dalam membentuk sebuah komunitas Alussunnah wal Jamaah semenjak berabad-abad lamanya, sehingga mustahil untuk ditandingi oleh madzhab lain seperti Hanafi, Hambali, dan Maliki. Lembaga-lembaga pendidikan dan pengajaran Islam semenjak kehadiran agama ini di Nusantara, baik formal maupun non formal, telah mengembangkan madzhab ini mengikuti perkembangan sosial dan budaya serta kebutuhan yang ada. Ibarat pohon makin kuatlah akarnya menancap di bumi Indonesia, makin rimbun pula daunnya menaungi ummat Islam, serta beranak-pinak cabang-cabangnya untuk dimanfaatkan mereka yang memerlukannya. Dengan kata lain, Madzhab Syafi’i adalah sama dan sebangun dengan pertumbuhan dan perkembangan Islam di Indonesia. Mengembangkan Islam di Indonesia berarti pula melakukan pengembangan madzhab ini sebagai salah satu pijakan utamanya. Itulah
  • 9. 9 sebabnya menjadi sangat penting bagi para pelajar, mahasiswa, dan santri ponpes yang memiliki keinginan kuat untuk tafaqquh fid dien melalui pendalaman ilmu fiqh, untuk memahami sosok beliau secara komprehensif, sebagai tauladan (uswah) dan referensi utama sehingga dapat mengambil hikmah dari pergumulan intelektual beliau. Dengan mempelajari secara mendalam pribadi dan perjalanan kehidupan kecendekiawanan (intellectual biography) Imam Syafi’i maka akan diperoleh manfaat berupa pemahaman yang lebih mendalam dan kontekstual terhadap pemikiran dan pergumulan beliau dalam ilmu fiqh. Selanjutnya pemahaman tersebut akan bisa menjadi obor penerang bagi perjalanan para santri, pelajar, mahasiswa dan siapapun yang ingin memajukan fiqh dan menjadikannya tetap mampu menjawab berbagai tantangan yang dihadapi oleh masyarakat yang terus menerus berubah. Pemikiran as-Syafi’i tentang Fiqh cukup berkembang luas di Asia Tenggara, begitu juga di Indonesia. Mayoritas masyarakat Islam Indonesia memegang teguh Madzhab Syafi’i dalam menjalankan ritual agamanya dalam kehidupan sehari-hari. Kitab-kitab beliau tidak hanya dipelajari dalam lembaga-lembaga pendidikan formal seperti pesantren dan madrasah, namun juga dijadikan kitab wajib dalam pembahasan fiqh dalam pendidikan non formal seperti majelis ta’lim dan majelis ilmu. Bangunan etika yang begitu kuat dalam menuntut ilmu, menjadikan Imam Syafi’i sebagai tauladan para santri pesantren dan madrasah di Indonesia. Para penuntut ilmu diharapkan memiliki 6 ciri di antaranya: (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) bersungguh-sungguh, (4) dirham (kesediaan keluarkan uang), (5) bersahabat dengan ustadz, (6) memerlukan waktu yang lama. Kesimpulan Imam Syafi’i lebih dikenali sebagai ulama fiqh, namun beliau memberi sumbangan yang tidak kurang hebatnya dalam bidang pendidikan. Beliau lebih mengedepankan masalah adab/akhlak dalam kurikulum pendidikannya. Hal ini terlihat dari berbagai syair beliau yang mengedepankan masalah adab bagi para penuntut ilmu. Maka beliau menegaskan bahwa kesuksesan dalam menuntut ilmu akan didapatkan bila kita para penuntut ilmu memiliki 6 ciri di antaranya: (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) bersungguh-sungguh, (4) dirham (kesediaan keluarkan uang), (5) bersahabat dengan ustadz, (6) memerlukan waktu yang lama. Daftar Pustaka Abdurrahman al-Syarqawi. 1981. Aimmah al-Fiqh al-Tish'ah. Beirut: Dar 'iqra'. Ahmad Syurashi. 2006. Biografi Empat Imam Mazhab. Solo: Media Insani Press. Ahmad Asy-Syurbasi. 2001. Sejarah dan Biografi Empat Imam Mazhab. Jakarta: Amzah. Al-Asqalani Ibnu Hajar. 1421 H/2000M. Fath al-Bari. Riyadh: Darus Salam. Al-Baihaqi. Manaqib al-Syafi’i, tahqiq Ahmad Saqar. tt. al-Qahirah: Dar al-Turas. Al-Imam Abi Abdullah Muhammad Ibn Idris Al-Syafi’i. al-Umm, Darul Fikr, t.th Imam Al- Syafi’i. 1986. Ar-Risalah, Penerjemah: Ahmadie Thoha, Jakarta: Pustaka Firdaus. Ahmad Nahrawi ‘Abd al-Salam. 1994. al-Imam al-Syafi'i fi Madzhabaih fi al-Qa-dim wa al- Jadid. Kairo: Dar al-Kutub. Abdullah Mustofa Al Maraghi. 2001. Fath Al Mubin fi Tabaqat Al Usuliyyin, Terj. Husein Muhammad, Pakar-pakar Fiqh Sepanjang Sejarah. Yogyakarta: LKPSM. Asy-Syarqawi, Abdurrahman, 2000. Riwayat Sembilan Imam Fiqih, translated: H.M.H. al- Hamid al-Husaini. Bandung: Pustaka Hidayah.
  • 10. 10 Fikri Ali. 2003. Ahsan al-Qhashash, Terj. "Kisah-kisah para imam Madzhab". Yogyakarta: Mitra Pustaka. Jaih Mubarok. 2000. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Mahmud Syalthut. 2000. Fiqih Tujuh Madzhab, terj. Abdullah Zakiy al-Kaaf. Bandung: CV Pustaka Setia. Mahmud Mathroji. 1417 H. Muqoddimah al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, jilid 1. Beirut: Darul Fikr. M. Shiddiq al Minsyawi. 2007. 100 Tokoh Zuhud. Jakarta: Senayan Abdi Pblishing. Muhammad ‘Aqil. 2015. Biografi Imam asy-Syafi'i, Riwayat Pendidikan dan Kegiatan Keilmuannya. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i. Muhammad ibnu Idris asy-Syafi’i. 1974. Diwan al-Imam Asy-Syafi’i. Beirut, Lebanon: Dar al-Jil. Muhammad Fakhruddin al-Razi. 1986. Manaqib al-Imam al-Syafi’i, Tahqiq Ahmad Hajazi al- Saqqa’. Mesir: Maktabah al-Kulliyah al-Azhariyah. Muhaqqiq Sa’ad al-Din bin Muhammad al-Kabbi. 1994. Wasiyah al-Imam as-Syafi’i. Bairut: al-Maktab al-Islami. Munawar Khalil. 1955. Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab. Jakarta: Bulan BIntang. Rahmat Hidayat. 2018. Pemikiran Pendidikan Islam Imam As-Syafi’i, dalam Almufida Vol III. Said Agil Husin al-Munawwar. 2002. Madzhab Fiqh, dalam Taufik Abdullah (ed.), Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Jilid III. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve. Siradjuddin Abbas, 2004. Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’i. Jakarta: Pustaka Tarbiyah. Syaikh Ahmad Farid. 2006. Min A'lam As-Salaf, Terj. Masturi Irham dan Asmu'i Taman, "60 Biografi Ulama Salaf". Jakarta: Pustaka Al-kautsar. Syekh Muhammad al-Hadlori bik. Tarikh al-Tasyri al-Islamiyah. Surabaya: al-Hidayah. TM. Hasbi Ash Shiddieqy. 1997. Pokok-Pokok Pegangan Imam Madzhab. Semarang: PT. Putaka Rizki Putra. Yahya bin Sharaf al-Nawāwy. tt. al-Majmū’. Beirut: Dar al-Fikr.