SlideShare a Scribd company logo
Oleh :
1. M. IqramPhonna
2. Nola Hastuti
3. Sulfia Ulfa
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
TUBERKULOSIS PARU DAN EFUSI
PLEURA
Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberkulosis Paru dan Efusi Pleura
Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberkulosis Paru dan Efusi Pleura
Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberkulosis Paru dan Efusi Pleura
1. Pengertian
Tuberkulosis paru merupakan penyakit
infeksi yang menyerang parenkim paru-
paru,disebabkan oleh Mycobacterium
tuberculosis. Penyakit ini juga dapat
menyebar ke bagian tubuh lain seperti
meningen, ginjal, tulang dan nodus limfe.
Tuberkulosis pada manusia ditemukan dalam
dua bentuk yaitu:
a) Tuberkulosis
primer, jika terjadi
pada infeksi yang
pertama kali
b) Tuberkulosis sekunder, kuman yang
dorman pada tuberkulosis primer
akan aktif setelah bertahun-tahun
kemudian sebagai infeksi endogen
menjadi tuberkulosis dewasa.
Mayoritas terjadi karena adanya
penurunan imunitas, misalnya karena
malnutrisi, penggunaan alkohol,
penyakit maligna, diabetes, AIDS, dan
gagal ginjal
ETIOLOGI
Penyakit TB Paru disebabkan oleh kuman TB
(Mycobacterium tuberculosis). Kuman ini
berbentuk batang, mempunyai sifat khusus
yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan,
Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil
Tahan Asam (BTA)
Patofisiologi
Gambaran Klinis
1. Gejala sistemik:
a) Demam
b) Malaise
2. Gejala Respiratorik:
a) Batuk
b) Batuk darah
c) Sesak napas
d) Nyeri dada
Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberkulosis Paru dan Efusi Pleura
Test Diagnostik
Untuk menegakkan diagnosa TB Paru, maka tes
diagnostik yang sering dilakukan pada klien adalah:
a)Pemeriksaan Radiologis: foto rontgen thoraks
b)Pemeriksaan Laboratorium
c)Test Tuberculin (Mantoux Test)
Komplikasi
Komplikasi yang mungkin timbul pada klien TB Paru
dapat berupa:
 Malnutrisi
 Empiema
 Efusi pluera
 Hepatitis, ketulian dangangguan
gastrointestinal (sebagai efek samping obat-
obatan)
Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberkulosis Paru dan Efusi Pleura
A. Pengkajian
1) Biodata
2) Riwayat penyakit sekarang
3) Riwayat penyakit dahulu
4) Riwayat penyakit keluarga
5) Pengkajian psikososiospiritual
6) Pemeriksaan fisik
Masalah keperawatan yang dapat terjadi pada klien TB Paru
dapat berupa:
Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan
sputum yang kental.
Gangguan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan penurunan nafsu makan.
Kurangnya pengetahuan tentang TB Paru berhubungan
dengan kurangnya informasi.
B. Diagnosa Keperawatan
Untuk meengatasi diagnosa keperawatan yang ada, maka rencana
keperawatan yang dapat diberikan meliputi:
Diagnosa 1:
Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sputum yang kental.
Tujuan: bersihan jalan nafas efektif.
Kriteria hasil:
Sekret (-)
Bunyi nafas vesikuler
Reflek batuk (+)
Tanda-tanda vital normal
C. Intervensi Keperawatan
Intervensi
Kaji fungsi pernafasan: bunyi nafas,
kecepatan irama, kedalaman dan penggunaan
otot bantu.
Atur posisi kepala lebih tinggi.
Ajarkan klien latihan nafas dalam dan
batuk efektif.
Berikan cairan minimal 2500ml/hr.
Lakukan fisioterapi dada.
Kolaborasi dengan tim medis untuk
pemberian OAT dan mukolitik.
Diagnosa2:
Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan nafsu
makan.
Tujuan: Nutrisi adekuat.
Kriteria hasil:
 Nafsu makan meningkat
 Makan habis satu porsi setiap makan.
 Turgor kulit elastis dan kenyal.
 Berat badan klien dalam batas normal.
Intervensi:
 Kaji keluhan klien terhadap mual, muntah dan anoreksia.
 Anjurkan klien untuk makan sedikit tetapi sering.
 Sajikan makanan dalam keadaan hangat.
 Bantu klien untuk melakukan perawatan mulut.
 Timbang BB klien setiap minggu.
 Kolaborasi dengan ahli diet untuk menentukan komposisi diet.
Diagnosa3:
Kurangnya pengetahuan tentang TB Paru
berhubungan dengan kuranggnya informasi.
Tujuan: Klien dapat memahami penyakitnya
dan program pengobatannya..
Kriteria hasil:
Klien dapat menjawab pertanyaan yang
diajukan.
Klien mengerti tentang penjelasan yang
diberikan.
Klien tidak bertanya-tanya lagi akan
penyakitnya.
Intervensi:
Kaji tingkat pemahaman klien tentang
penyakitnya dan program pengobatannya.
Berikan penjelasan tentang penyakit
dan program pengobatan meliputi:
Pengertian TB Paru.
•Penyebab.
•Tanda dan gejala TB Paru.
•Proses penularan.
•Program pengobatan/perawatan.
Minta klien secara verbal untuk
menjelaskan kembali tentang penyakit dan
program pengobatan dengan bahasa yang
sederhana.
Berikan reinforcoment positif pada
setiap penjelasan klien.
Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberkulosis Paru dan Efusi Pleura
Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberkulosis Paru dan Efusi Pleura
Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberkulosis Paru dan Efusi Pleura
Efusi pleura adalah penimbunan cairan pada
rongga pleura (Price & Wilson 2005). Pleura
merupakan lapisan tipis yang mengandung
kolagen dan jaringan elastis yang melapisi rongga
dada (pleura parietalis) dan menyelubungi paru
(pleura visceralis). Diantara pleura parietalis dan
pleura visceralis terdapat suatu rongga yang berisi
cairan pleura yang berfungsi untuk memudahkan
kedua permukaan bergerak selama pernafasan
Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberkulosis Paru dan Efusi Pleura
Etiologi
Berbagai penyebab timbulnya efusi pleura adalah :
 Neoplasma, seperti neoplasma bronkogenik dan metastatik.
 Kardiovaskuler, seperti gagal jantung kongestif, embolus pulmonary
dan perikarditis.
 Penyakit pada abdomen, seperti pankreatitis, asites, abses dan
sindrom Meigs.
 Infeksi yang disebabkan bakteri, virus, jamur, mikobakterial dan
parasit.
 Trauma
 Penyebab lain seperti lupus eritematosus sistemik, rematoid arthritis,
sindroms nefrotik dan uremia.
Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberkulosis Paru dan Efusi Pleura
Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk
Tidak mempunyai
kaitan yang spesifik
dengan penyakit
penyebabnya.
Ditemukan pada
penyakit-penyakit
berikut: kegagalan
jantung kongestif,
sindroma nefrotik,
asites, infark paru,
lupus eritematosus
systemic, tumor dan
tuberkolosis.
Efusiunilateral
Efusi bilateral
Berdasarkan jenis cairannya dibedakan:
Hemotoraks (darah di dalamrongga pleura)
Biasanya terjadi karena cedera di dada. Penyebab lainnya
adalah: pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian
mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura. Kebocoran
aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang
kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura
Empiema(nanahdi dalamrongga pleura)
Bisa terjadi jika pneumonia atau abses paru menyebar ke dalam
rongga pleura.
GEJALA KLINIS
DISPNEA NYERI DADA BATUK
KOMPLIKASI
Fibrotoraks
Efusi pleura yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan drainase
yang baik akan terjadi perlekatan fibrosa antara pleura parietalis dan
pleura viseralis.
Atalektasis
Atalektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang
disebabkan oleh penekanan akibat efusi pleura.
Fibrosisparu
Fibrosis paru merupakan keadaan patologis dimana terdapat jaringan
ikat paru dalam jumlah yang berlebihan
KolapsParu
Pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang diakibatkan oleh tekanan
ekstrinsik pada sebagian / semua bagian paru akan mendorong udara
keluar dan mengakibatkan kolaps paru.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Rontgen Thoraks
• CT Scan Thoraks
• Ultrasound
• Torakosentesis
Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab
dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan
untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispnea.
PENATALAKSANAAN
Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberkulosis Paru dan Efusi Pleura
A. Pengkajian
a) Anamnesis
Pada umumnya tidak bergejala . Makin banyak cairan yang tertimbun makin
cepat dan jelas timbulnya keluhan karena menyebabkan sesak, disertai
demam sub febril pada kondisi tuberkulosis.
b) Kebutuhanistrahat dan aktifitas
Klien mengeluh lemah, napas pendek dengan usaha sekuat-kuatnya, kesulitan
tidur, demam pada sore atau malam hari disertai keringat banyak.
Ditemukan adanya tachicardia, tachypnea/dyspnea dengan usaha bernapas
sekuat-kuatnya, perubahan kesadaran (pada tahap lanjut), kelemahan otot,
nyeri dan stiffness (kekakuan).
c) Kebutuhanintegritas pribadi
Klien mengungkapkan faktor-faktor stress yang panjang, dan kebutuhan akan
pertolongan dan harapan
Dapat ditemukan perilaku denial / menyangkal (terutama pada tahap awal)
dan ansietas/kecemasan
d) KebutuhanKenyamanan/ Nyeri
Klien melaporkan adanya nyeri dada karena batuk
Dapat ditemukan perilaku melindungi bagian yang nyeri, distraksi, dan
kurang istirahat/kelelahan
e) KebutuhanRespirasi
Klien melaporkan batuk, baik produktif maupun non produktif, napas
pendek, nyeri dada
Dapat ditemukan peningkatan respiratory rate karena penyakit lanjut dan
fibrosis paru (parenkim) dan pleura, serta ekspansi dada yang asimetris,
fremitus vokal menurun, pekak pada perkusi, suara nafas menurun atau
tidak terdengar pada sisi yang mengalami efusi pleura. Bunyi nafas
tubular disertai pectoriloguy yang lembut dapat ditemukan pada bagian
paru yang terjadi lesi. Crackles dapat ditemukan di apex paru pada
ekspirasi pendek setelah batuk.
Karakteristik sputum : hijau/purulen, mucoid kuning atau bercak darah
Dapat pula ditemukan deviasi trakea
f) KebutuhanKeamanan
Klien mengungkapkan keadaaan imunosupresi misalnya kanker, AIDS , demam sub
febris
Dapat ditemukan keadaan demam akut sub febris
h) KebutuhanInteraksi sosial
Klien mengungkapkan perasaan terisolasi karena penyakit yang diderita, perubahan
pola peran
i) Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan perkusi
pekak, fremitus vokal menurun atau asimetris
bahkan menghilang, bising napas juga
menurun atau hilang. Gerakan pernapasan
menurun atau asimetris, lebih rendah terjadi
pada sisi paru yang mengalami efusi pleura.
j) Pemeriksaan diagnostik
Kultursputum : dapat ditemukan positif Mycobacterium tuberculosis
Apusan darahasamZehl-Neelsen: positif basil tahan asam
Skintest : positif bereaksi (area indurasi 10 mm, lebih besar, terjadi selama 48 – 72 jam
setelah injeksi.
Fotothorax : pada tuberkulosis ditemukan infiltrasi lesi pada lapang atas paru,deposit
kalsium pada lesi primer,dan adanya batas sinus frenikus kostalis yang
menghilang,serta gambaran batas cairan yang melengkung.
Biakankultur : positif Mycobacterium tuberculosis
Biopsi paru : adanya giant cells berindikasi nekrosi (tuberkulosis)
Elektrolit : tergantung lokasi dan derajat penyakit, hyponatremia disebabkan oleh
retensi air yang abnormal pada tuberkulosis lanjut yang kronis
ABGs : Abnormal tergantung lokasi dan kerusakan residu paru-paru
Fungsi paru : Penurunan vital capacity, paningkatan dead space, peningkatan rasio
residual udara ke total lung capacity, dan penyakit pleural pada tuberkulosis kronik
tahap lanjut
B. DiagnosaKeperawatan
1) Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi
paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura.
2) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
Sehubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh, pencernaan nafsu makan
akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen.
3) Cemas sehubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan
(ketidakmampuan untuk bernafas).
4) Gangguan pola tidur dan istirahat sehubungan dengan batuk yang menetap dan
sesak nafas serta perubahan suasana lingkungan.
5) Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari sehubungan dengan keletihan
(keadaan fisik yang lemah).
6) Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan pengobatan sehubungan dengan
kurang terpajang informasi.
C. Intervensi
DX1
Tujuan : Pasien mampu mempertahankan fungsi paru secara
normal
Kriteria hasil :
– Irama, frekuensi dan kedalaman pernafasan dalam batas normal
– Pada pemeriksaan sinar X dada tidak ditemukan adanya
akumulasi cairan
– Bunyi nafas terdengar jelas.
INTERVENSI
• Identifikasi faktor penyebab
• Kaji kualitas, frekuensi dan kedalaman
pernafasan, laporkan setiap perubahan yang
terjadi.
• Baringkan pasien dalam posisi yang nyaman,
dalam posisi duduk, dengan kepala tempat
tidur ditinggikan 60 – 90 derajat.
• Observasi tanda-tanda vital (suhu, nadi,
tekanan darah, RR dan respon pasien).
• Lakukan auskultasi suara nafas tiap 2-4 jam.
• Kolaborasi dengan tim medis lain untuk
pemberian O2 dan obat-obatan serta foto
thorax
RASIONAL
• Dengan mengidentifikasikan penyebab, kita dapat
menentukan jenis efusi pleura sehingga dapat
mengambil tindakan yang tepat.
• Dengan mengkaji kualitas, frekuensi dan
kedalaman pernafasan, kita dapat mengetahui
sejauh mana perubahan kondisi pasien.
• Penurunan diafragma memperluas daerah dada
sehingga ekspansi paru bisa maksimal.
• Peningkatan RR dan tachicardi merupakan indikasi
adanya penurunan fungsi paru.
• Auskultasi dapat menentukan kelainan suara nafas
pada bagian paru-paru.
• Pemberian oksigen dapat menurunkan beban
pernafasan dan mencegah terjadinya sianosis akibat
hiponia. Dengan foto thorax dapat dimonitor
kemajuan dari berkurangnya cairan dan
kembalinya daya kembang paru.
DX2
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil :
• Konsumsi lebih 40 % jumlah makanan,
• berat badan normal
• hasil laboratorium dalam batas normal.
INTERVENSI
• Beri motivasi tentang pentingnya
nutrisi.
• Auskultasi suara bising usus.
• Lakukan oral hygiene setiap hari.
• Sajikan makanan semenarik
mungkin
• Beri makanan dalam porsi kecil tapi
sering
RASIONAL
• Kebiasaan makan seseorang dipengaruhi
oleh kesukaannya, kebiasaannya, agama,
ekonomi dan pengetahuannya tentang
pentingnya nutrisi bagi tubuh.
• Bising usus yang menurun atau meningkat
menunjukkan adanya gangguan pada
fungsi pencernaan
• Bau mulut yang kurang sedap dapat
mengurangi nafsu makan.
• Penyajian makanan yang menarik dapat
meningkatkan nafsu makan.
• Makanan dalam porsi kecil tidak
membutuhkan energi, banyak selingan
memudahkan reflek.
DX3
• Tujuan: Pasien mampu memahami dan menerima keadaannya
sehingga tidak terjadi kecemasan.
Kriteria hasil :
• Pasien mampu bernafas secara normal pasien mampu beradaptasi
dengan keadaannya.
• Respon non verbal klien tampak lebih rileks dan santai
• Nafas teratur dengan frekuensi 16-24 kali permenit, nadi 80-90
kali permenit.
INTERVENSI
• Ajarkan teknik relaksasi
• Pertahankan hubungan saling
percaya antara perawat dan
pasien
• Kaji faktor yang menyebabkan
timbulnya rasa cemas
• Bantu pasien mengenali dan
mengakui rasa cemasnya
RASIONAL
• Mengurangi ketegangan otot dan kecemasan
• Hubungan saling percaya membantu proses
terapeutik
• Tindakan yang tepat diperlukan dalam
mengatasi masalah yang dihadapi klien dan
membangun kepercayaan dalam
mengurangi kecemasan.
• Rasa cemas merupakan efek emosi sehingga
apabila sudah teridentifikasi dengan baik,
perasaan yang mengganggu dapat
diketahui.
DX4
Tujuan: Tidak terjadi gangguan pola tidur dan kebutuhan istirahat
terpenuhi.
Kriteria hasil:
• Pasien tidak sesak nafas
• pasien dapat tidur dengan nyaman tanpa mengalami gangguan
• pasien dapat tertidur dengan mudah dalam waktu 30-40 menit
• pasien beristirahat atau tidur dalam waktu 3-8 jam per hari.
INTERVENSI
• Beri posisi senyaman mungkin
bagi pasien.
• Tentukan kebiasaan motivasi
sebelum tidur malam sesuai
dengan kebiasaan pasien
sebelum dirawat.
• Anjurkan pasien untuk latihan
relaksasi sebelum tidur.
RASIONAL
• Posisi semi fowler atau posisi yang
menyenangkan akan memperlancar
peredaran O2 dan CO2.
• Mengubah pola yang sudah menjadi
kebiasaan sebelum tidur akan
mengganggu proses tidur.
• Relaksasi dapat membantu mengatasi
gangguan tidur
DX5
• Tujuan :Pasien mampu melaksanakan aktivitas seoptimal
mungkin.
Kriteria hasil :
• Terpenuhinya aktivitas secara optimal
• pasien kelihatan segar dan bersemangat
• personel hygiene pasien cukup.
INTERVENSI RASIONAL
• Evaluasi respon pasien saat
beraktivitas, catat keluhan
dan tingkat aktivitas serta
adanya perubahan tanda-
tanda vital.
• Libatkan keluarga dalam
perawatan pasien.
• Jelaskan pada pasien tentang
perlunya keseimbangan
antara aktivitas dan istirahat
• Mengetahui sejauh mana
kemampuan pasien dalam
melakukan aktivitas.
• Memberi pendidikan pada Pasien
dan keluarga dalam perawatan
selanjutnya.
• Istirahat perlu untuk
menurunkan kebutuhan
metabolisme.
DX6
Tujuan : Pasien dan keluarga tahu mengenai kondisi dan aturan
pengobatan.
Kriteria hasil :
•Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman penyebab masalah.
•Pasien dan keluarga mampu mengidentifikasi tanda dan gejala yang
memerlukan evaluasi medik.
•Pasien dan keluarga mengikuti program pengobatan dan
menunjukkan perubahan pola hidup yang perlu untuk mencegah
terulangnya masalah.
INTERVENSI RASIONAL
• Identifikasi kemungkinan
kambuh atau komplikasi jangka
panjang.
• Kaji ulang tanda atau gejala
yang memerlukan evaluasi
medik cepat (contoh, nyeri dada
tiba-tiba, dispena, distress
pernafasan).
• Kaji ulang praktik kesehatan
yang baik (contoh, nutrisi baik,
istirahat, latihan).
• Penyakit paru yang ada seperti
PPOM berat, penyakit paru infeksi
dan keganasan dapat
meningkatkan insiden kambuh
• Berulangnya effusi pleura
memerlukan intervensi medik
untuk mencegah, menurunkan
potensial komplikasi
• Mempertahankan kesehatan
umum meningkatkan
penyembuhan dan dapat
mencegah kekambuhan
D. EVALUASI
• Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses
keperawatan, dimana evaluasi adalah kegiatan yang
dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien,
perawat dan anggota tim kesehatan lainnya.
• Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan
dalam rencana keperawatan tercapai dengan baik atau tidak
dan untuk melakukan pengkajian
Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberkulosis Paru dan Efusi Pleura

More Related Content

What's hot

Pneumonia
PneumoniaPneumonia
Pneumonia
Fais PPT
 
PPT Efusi Pleura
PPT Efusi Pleura PPT Efusi Pleura
PPT Efusi Pleura
Wina Rizky Arfi Insani
 
Pneumonia
PneumoniaPneumonia
0 modul sesak
0 modul sesak0 modul sesak
0 modul sesak
Ahmad Abqari
 
Laporan pendahuluan asma
Laporan pendahuluan asmaLaporan pendahuluan asma
Laporan pendahuluan asma
Sujana Pkm
 
PPOK (emfisema dan bronkitis kronik) definisi - Tatalaksana
PPOK (emfisema dan bronkitis kronik) definisi - TatalaksanaPPOK (emfisema dan bronkitis kronik) definisi - Tatalaksana
PPOK (emfisema dan bronkitis kronik) definisi - Tatalaksana
Gabriella Cereira Angelina
 
Referrat efusi pleura
Referrat efusi pleuraReferrat efusi pleura
Referrat efusi pleura
unikindarwati
 
pertusis.pptx
pertusis.pptxpertusis.pptx
pertusis.pptx
ZhafhafCelluler
 
Makalah febris
Makalah febrisMakalah febris
Makalah febris
Warnet Raha
 
Askep kolitis
Askep kolitisAskep kolitis
Askep kolitis
Neni Rochmayati
 
Pemeriksaan fisik thorax
Pemeriksaan fisik thoraxPemeriksaan fisik thorax
Pemeriksaan fisik thorax
Maria Haryanthi Butar-Butar
 
Sindrom steven johnson (ssj)
Sindrom steven johnson (ssj)Sindrom steven johnson (ssj)
Sindrom steven johnson (ssj)
Kaze Va
 
Lp tb paru
Lp tb paruLp tb paru
Lp tb paru
Yabniel Lit Jingga
 
Edema paru
Edema paruEdema paru
Edema paru
su darto
 
Tuberkulosis ppt
Tuberkulosis pptTuberkulosis ppt
Tuberkulosis ppt
Gabriella Jermia
 
Pem fisik sist.kardiovaskuler
Pem fisik sist.kardiovaskulerPem fisik sist.kardiovaskuler
Pem fisik sist.kardiovaskuler
Jafar Nyan
 
Laporan kasus ppok
Laporan kasus ppokLaporan kasus ppok
Laporan kasus ppok
sutiasih aidah
 

What's hot (20)

Pneumonia
PneumoniaPneumonia
Pneumonia
 
PPT Efusi Pleura
PPT Efusi Pleura PPT Efusi Pleura
PPT Efusi Pleura
 
Pneumonia
PneumoniaPneumonia
Pneumonia
 
Askep pada pasien ppok
Askep pada pasien ppokAskep pada pasien ppok
Askep pada pasien ppok
 
0 modul sesak
0 modul sesak0 modul sesak
0 modul sesak
 
Laporan pendahuluan asma
Laporan pendahuluan asmaLaporan pendahuluan asma
Laporan pendahuluan asma
 
PPOK (emfisema dan bronkitis kronik) definisi - Tatalaksana
PPOK (emfisema dan bronkitis kronik) definisi - TatalaksanaPPOK (emfisema dan bronkitis kronik) definisi - Tatalaksana
PPOK (emfisema dan bronkitis kronik) definisi - Tatalaksana
 
Referrat efusi pleura
Referrat efusi pleuraReferrat efusi pleura
Referrat efusi pleura
 
pertusis.pptx
pertusis.pptxpertusis.pptx
pertusis.pptx
 
Makalah febris
Makalah febrisMakalah febris
Makalah febris
 
Askep kolitis
Askep kolitisAskep kolitis
Askep kolitis
 
Pemeriksaan fisik thorax
Pemeriksaan fisik thoraxPemeriksaan fisik thorax
Pemeriksaan fisik thorax
 
Sindrom steven johnson (ssj)
Sindrom steven johnson (ssj)Sindrom steven johnson (ssj)
Sindrom steven johnson (ssj)
 
Lp tb paru
Lp tb paruLp tb paru
Lp tb paru
 
TB Paru.Ppt
TB Paru.PptTB Paru.Ppt
TB Paru.Ppt
 
Ppt pneumonia
Ppt pneumoniaPpt pneumonia
Ppt pneumonia
 
Edema paru
Edema paruEdema paru
Edema paru
 
Tuberkulosis ppt
Tuberkulosis pptTuberkulosis ppt
Tuberkulosis ppt
 
Pem fisik sist.kardiovaskuler
Pem fisik sist.kardiovaskulerPem fisik sist.kardiovaskuler
Pem fisik sist.kardiovaskuler
 
Laporan kasus ppok
Laporan kasus ppokLaporan kasus ppok
Laporan kasus ppok
 

Similar to Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberkulosis Paru dan Efusi Pleura

copy-of-infeksi.pptx
copy-of-infeksi.pptxcopy-of-infeksi.pptx
copy-of-infeksi.pptx
AyuAgustriani1
 
Askep pneumonia pipin
Askep pneumonia pipinAskep pneumonia pipin
Askep pneumonia pipin
Operator Warnet Vast Raha
 
Penyakit_Pernapasan.pptx
Penyakit_Pernapasan.pptxPenyakit_Pernapasan.pptx
Penyakit_Pernapasan.pptx
IndriaPermata1
 
Tugas hiv (tbc)
Tugas hiv (tbc)Tugas hiv (tbc)
Tugas hiv (tbc)
jcmc0205
 
Ppt ppom
Ppt ppomPpt ppom
Ppt ppom
170691
 
Penyakit Pernapasan HIHKKNKNJHJBBMKKKN,KIJI
Penyakit Pernapasan HIHKKNKNJHJBBMKKKN,KIJIPenyakit Pernapasan HIHKKNKNJHJBBMKKKN,KIJI
Penyakit Pernapasan HIHKKNKNJHJBBMKKKN,KIJI
VikiyRamadhanRachim
 
PPT Sistem Ekskresi Pertemuan 3 dan ke 4.pptx
PPT Sistem Ekskresi Pertemuan 3 dan ke 4.pptxPPT Sistem Ekskresi Pertemuan 3 dan ke 4.pptx
PPT Sistem Ekskresi Pertemuan 3 dan ke 4.pptx
SiskaPane
 
Effusi pleura
Effusi pleuraEffusi pleura
Asma
AsmaAsma
Abses paru by dr.Yanuarman
Abses paru by dr.Yanuarman Abses paru by dr.Yanuarman
Abses paru by dr.Yanuarman
Ajo Yayan
 
Asuhan Keperawatan Pneumonia
Asuhan Keperawatan PneumoniaAsuhan Keperawatan Pneumonia
Asuhan Keperawatan Pneumonia
Bella Citra H
 
Tb
TbTb
Pneumonia
PneumoniaPneumonia
Pneumonia
Noti Setiani
 
Kliping penyakit sistem pernafasan 2
Kliping penyakit sistem pernafasan 2Kliping penyakit sistem pernafasan 2
Kliping penyakit sistem pernafasan 2
Photo Setudio Planet solo grand mall
 
A1 PNEUMONIA.pptx
A1 PNEUMONIA.pptxA1 PNEUMONIA.pptx
A1 PNEUMONIA.pptx
dinaayuSeptiani
 
Askep indry AKPER PEMKAB MUNA
Askep indry AKPER PEMKAB MUNAAskep indry AKPER PEMKAB MUNA
Askep indry AKPER PEMKAB MUNA
Operator Warnet Vast Raha
 
Respons tubuh terhadap gangguan sistem pernapasan
Respons tubuh terhadap gangguan sistem pernapasanRespons tubuh terhadap gangguan sistem pernapasan
Respons tubuh terhadap gangguan sistem pernapasan
Yuli Thamrin
 
PPOM
PPOMPPOM

Similar to Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberkulosis Paru dan Efusi Pleura (20)

copy-of-infeksi.pptx
copy-of-infeksi.pptxcopy-of-infeksi.pptx
copy-of-infeksi.pptx
 
Askep pneumonia pipin
Askep pneumonia pipinAskep pneumonia pipin
Askep pneumonia pipin
 
Penyakit_Pernapasan.pptx
Penyakit_Pernapasan.pptxPenyakit_Pernapasan.pptx
Penyakit_Pernapasan.pptx
 
Tugas hiv (tbc)
Tugas hiv (tbc)Tugas hiv (tbc)
Tugas hiv (tbc)
 
Ppt ppom
Ppt ppomPpt ppom
Ppt ppom
 
Penyakit Pernapasan HIHKKNKNJHJBBMKKKN,KIJI
Penyakit Pernapasan HIHKKNKNJHJBBMKKKN,KIJIPenyakit Pernapasan HIHKKNKNJHJBBMKKKN,KIJI
Penyakit Pernapasan HIHKKNKNJHJBBMKKKN,KIJI
 
PPT Sistem Ekskresi Pertemuan 3 dan ke 4.pptx
PPT Sistem Ekskresi Pertemuan 3 dan ke 4.pptxPPT Sistem Ekskresi Pertemuan 3 dan ke 4.pptx
PPT Sistem Ekskresi Pertemuan 3 dan ke 4.pptx
 
Effusi pleura
Effusi pleuraEffusi pleura
Effusi pleura
 
Asma
AsmaAsma
Asma
 
Abses paru by dr.Yanuarman
Abses paru by dr.Yanuarman Abses paru by dr.Yanuarman
Abses paru by dr.Yanuarman
 
Asuhan Keperawatan Pneumonia
Asuhan Keperawatan PneumoniaAsuhan Keperawatan Pneumonia
Asuhan Keperawatan Pneumonia
 
Tb
TbTb
Tb
 
Pneumonia
PneumoniaPneumonia
Pneumonia
 
Materi abses paru
Materi abses paruMateri abses paru
Materi abses paru
 
Kliping penyakit sistem pernafasan 2
Kliping penyakit sistem pernafasan 2Kliping penyakit sistem pernafasan 2
Kliping penyakit sistem pernafasan 2
 
A1 PNEUMONIA.pptx
A1 PNEUMONIA.pptxA1 PNEUMONIA.pptx
A1 PNEUMONIA.pptx
 
Askep indry AKPER PEMKAB MUNA
Askep indry AKPER PEMKAB MUNAAskep indry AKPER PEMKAB MUNA
Askep indry AKPER PEMKAB MUNA
 
Respons tubuh terhadap gangguan sistem pernapasan
Respons tubuh terhadap gangguan sistem pernapasanRespons tubuh terhadap gangguan sistem pernapasan
Respons tubuh terhadap gangguan sistem pernapasan
 
Pneumonia AKPER PEMKAB MUNA
Pneumonia AKPER PEMKAB MUNAPneumonia AKPER PEMKAB MUNA
Pneumonia AKPER PEMKAB MUNA
 
PPOM
PPOMPPOM
PPOM
 

Recently uploaded

Presentasi Pemenuhan Gizi pada Lansia .pptx
Presentasi Pemenuhan Gizi pada Lansia .pptxPresentasi Pemenuhan Gizi pada Lansia .pptx
Presentasi Pemenuhan Gizi pada Lansia .pptx
ssuserdbc1db1
 
MATERI MPLS SMP ASH SIDDIQ TH 2023.pptx
MATERI  MPLS SMP ASH SIDDIQ TH 2023.pptxMATERI  MPLS SMP ASH SIDDIQ TH 2023.pptx
MATERI MPLS SMP ASH SIDDIQ TH 2023.pptx
milaintan
 
Materi Penangan Korban Kecelakaan PT. MSO.pdf
Materi Penangan Korban Kecelakaan PT. MSO.pdfMateri Penangan Korban Kecelakaan PT. MSO.pdf
Materi Penangan Korban Kecelakaan PT. MSO.pdf
ImamRivai3
 
Arthritis Septik - sxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Arthritis Septik - sxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxArthritis Septik - sxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Arthritis Septik - sxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
SilviaIhda
 
materi Amylum Farmakognosi kelas XI.pptx
materi Amylum Farmakognosi kelas XI.pptxmateri Amylum Farmakognosi kelas XI.pptx
materi Amylum Farmakognosi kelas XI.pptx
LindaIndriani6
 
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DI INSTITUSI PENDIDIKAN/PESANTREN.ppt
PERILAKU HIDUP BERSIHDAN SEHAT (PHBS) DI INSTITUSI PENDIDIKAN/PESANTREN.pptPERILAKU HIDUP BERSIHDAN SEHAT (PHBS) DI INSTITUSI PENDIDIKAN/PESANTREN.ppt
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DI INSTITUSI PENDIDIKAN/PESANTREN.ppt
novi817167
 
pentingnya Kesehatan reproduksi Remaja.ppt
pentingnya Kesehatan reproduksi Remaja.pptpentingnya Kesehatan reproduksi Remaja.ppt
pentingnya Kesehatan reproduksi Remaja.ppt
ErickUntono
 
PPT SOSIALISASI PMT LOKAL .pptx
PPT SOSIALISASI PMT LOKAL          .pptxPPT SOSIALISASI PMT LOKAL          .pptx
PPT SOSIALISASI PMT LOKAL .pptx
azmisetiawan
 
Celebrity Girls Call Delhi 🛵🚡9711199171 💃 Choose Best And Top Girl Service An...
Celebrity Girls Call Delhi 🛵🚡9711199171 💃 Choose Best And Top Girl Service An...Celebrity Girls Call Delhi 🛵🚡9711199171 💃 Choose Best And Top Girl Service An...
Celebrity Girls Call Delhi 🛵🚡9711199171 💃 Choose Best And Top Girl Service An...
kimmi singla$A17
 
kesehQN SEKOLAH PENYULUHA KESEHATAN SEKOLAH
kesehQN SEKOLAH PENYULUHA KESEHATAN SEKOLAHkesehQN SEKOLAH PENYULUHA KESEHATAN SEKOLAH
kesehQN SEKOLAH PENYULUHA KESEHATAN SEKOLAH
YasirHuseinNasution1
 
Deteksi Dini dan Konseling Adiksi Nikotin
Deteksi Dini dan Konseling Adiksi NikotinDeteksi Dini dan Konseling Adiksi Nikotin
Deteksi Dini dan Konseling Adiksi Nikotin
RikaHarwinanto
 
Penyuluhan POWER_POINT_Pola hidup bersih dan sehat.ppt
Penyuluhan POWER_POINT_Pola hidup bersih dan sehat.pptPenyuluhan POWER_POINT_Pola hidup bersih dan sehat.ppt
Penyuluhan POWER_POINT_Pola hidup bersih dan sehat.ppt
HamdanRakha
 
PENYULUHAN_PENYAKIT_ANEMIA_REMAJA.pptx.pptx
PENYULUHAN_PENYAKIT_ANEMIA_REMAJA.pptx.pptxPENYULUHAN_PENYAKIT_ANEMIA_REMAJA.pptx.pptx
PENYULUHAN_PENYAKIT_ANEMIA_REMAJA.pptx.pptx
ErickUntono
 
316635660-Materi-Penyuluhan-Kespro-Anak-Sd.pptx
316635660-Materi-Penyuluhan-Kespro-Anak-Sd.pptx316635660-Materi-Penyuluhan-Kespro-Anak-Sd.pptx
316635660-Materi-Penyuluhan-Kespro-Anak-Sd.pptx
DheIrmhaCliQuers
 
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KEJANG DEMAM.pptx
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KEJANG DEMAM.pptxASUHAN KEPERAWATAN PADA KEJANG DEMAM.pptx
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KEJANG DEMAM.pptx
sellamentari
 
SOP KOMUNIKASI EFEKTIF TEAM AKREDITASSSS
SOP KOMUNIKASI EFEKTIF TEAM AKREDITASSSSSOP KOMUNIKASI EFEKTIF TEAM AKREDITASSSS
SOP KOMUNIKASI EFEKTIF TEAM AKREDITASSSS
nova927669
 
MATERI PPT PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
MATERI PPT PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHATMATERI PPT PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
MATERI PPT PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
athirah40
 
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI SEKOLAH
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI SEKOLAHPERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI SEKOLAH
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI SEKOLAH
MarisaIsma1
 
1. Kebijakan Posyandu Integrasi Layanan Primer.pptx
1. Kebijakan Posyandu Integrasi Layanan Primer.pptx1. Kebijakan Posyandu Integrasi Layanan Primer.pptx
1. Kebijakan Posyandu Integrasi Layanan Primer.pptx
AnindyaPutriH
 
Paparan BPJS tentang rujukan dari Fasilitas kesehatan tingkat pertama ke fasi...
Paparan BPJS tentang rujukan dari Fasilitas kesehatan tingkat pertama ke fasi...Paparan BPJS tentang rujukan dari Fasilitas kesehatan tingkat pertama ke fasi...
Paparan BPJS tentang rujukan dari Fasilitas kesehatan tingkat pertama ke fasi...
ssuser4219cb
 

Recently uploaded (20)

Presentasi Pemenuhan Gizi pada Lansia .pptx
Presentasi Pemenuhan Gizi pada Lansia .pptxPresentasi Pemenuhan Gizi pada Lansia .pptx
Presentasi Pemenuhan Gizi pada Lansia .pptx
 
MATERI MPLS SMP ASH SIDDIQ TH 2023.pptx
MATERI  MPLS SMP ASH SIDDIQ TH 2023.pptxMATERI  MPLS SMP ASH SIDDIQ TH 2023.pptx
MATERI MPLS SMP ASH SIDDIQ TH 2023.pptx
 
Materi Penangan Korban Kecelakaan PT. MSO.pdf
Materi Penangan Korban Kecelakaan PT. MSO.pdfMateri Penangan Korban Kecelakaan PT. MSO.pdf
Materi Penangan Korban Kecelakaan PT. MSO.pdf
 
Arthritis Septik - sxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Arthritis Septik - sxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxArthritis Septik - sxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Arthritis Septik - sxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
 
materi Amylum Farmakognosi kelas XI.pptx
materi Amylum Farmakognosi kelas XI.pptxmateri Amylum Farmakognosi kelas XI.pptx
materi Amylum Farmakognosi kelas XI.pptx
 
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DI INSTITUSI PENDIDIKAN/PESANTREN.ppt
PERILAKU HIDUP BERSIHDAN SEHAT (PHBS) DI INSTITUSI PENDIDIKAN/PESANTREN.pptPERILAKU HIDUP BERSIHDAN SEHAT (PHBS) DI INSTITUSI PENDIDIKAN/PESANTREN.ppt
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DI INSTITUSI PENDIDIKAN/PESANTREN.ppt
 
pentingnya Kesehatan reproduksi Remaja.ppt
pentingnya Kesehatan reproduksi Remaja.pptpentingnya Kesehatan reproduksi Remaja.ppt
pentingnya Kesehatan reproduksi Remaja.ppt
 
PPT SOSIALISASI PMT LOKAL .pptx
PPT SOSIALISASI PMT LOKAL          .pptxPPT SOSIALISASI PMT LOKAL          .pptx
PPT SOSIALISASI PMT LOKAL .pptx
 
Celebrity Girls Call Delhi 🛵🚡9711199171 💃 Choose Best And Top Girl Service An...
Celebrity Girls Call Delhi 🛵🚡9711199171 💃 Choose Best And Top Girl Service An...Celebrity Girls Call Delhi 🛵🚡9711199171 💃 Choose Best And Top Girl Service An...
Celebrity Girls Call Delhi 🛵🚡9711199171 💃 Choose Best And Top Girl Service An...
 
kesehQN SEKOLAH PENYULUHA KESEHATAN SEKOLAH
kesehQN SEKOLAH PENYULUHA KESEHATAN SEKOLAHkesehQN SEKOLAH PENYULUHA KESEHATAN SEKOLAH
kesehQN SEKOLAH PENYULUHA KESEHATAN SEKOLAH
 
Deteksi Dini dan Konseling Adiksi Nikotin
Deteksi Dini dan Konseling Adiksi NikotinDeteksi Dini dan Konseling Adiksi Nikotin
Deteksi Dini dan Konseling Adiksi Nikotin
 
Penyuluhan POWER_POINT_Pola hidup bersih dan sehat.ppt
Penyuluhan POWER_POINT_Pola hidup bersih dan sehat.pptPenyuluhan POWER_POINT_Pola hidup bersih dan sehat.ppt
Penyuluhan POWER_POINT_Pola hidup bersih dan sehat.ppt
 
PENYULUHAN_PENYAKIT_ANEMIA_REMAJA.pptx.pptx
PENYULUHAN_PENYAKIT_ANEMIA_REMAJA.pptx.pptxPENYULUHAN_PENYAKIT_ANEMIA_REMAJA.pptx.pptx
PENYULUHAN_PENYAKIT_ANEMIA_REMAJA.pptx.pptx
 
316635660-Materi-Penyuluhan-Kespro-Anak-Sd.pptx
316635660-Materi-Penyuluhan-Kespro-Anak-Sd.pptx316635660-Materi-Penyuluhan-Kespro-Anak-Sd.pptx
316635660-Materi-Penyuluhan-Kespro-Anak-Sd.pptx
 
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KEJANG DEMAM.pptx
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KEJANG DEMAM.pptxASUHAN KEPERAWATAN PADA KEJANG DEMAM.pptx
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KEJANG DEMAM.pptx
 
SOP KOMUNIKASI EFEKTIF TEAM AKREDITASSSS
SOP KOMUNIKASI EFEKTIF TEAM AKREDITASSSSSOP KOMUNIKASI EFEKTIF TEAM AKREDITASSSS
SOP KOMUNIKASI EFEKTIF TEAM AKREDITASSSS
 
MATERI PPT PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
MATERI PPT PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHATMATERI PPT PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
MATERI PPT PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
 
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI SEKOLAH
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI SEKOLAHPERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI SEKOLAH
PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI SEKOLAH
 
1. Kebijakan Posyandu Integrasi Layanan Primer.pptx
1. Kebijakan Posyandu Integrasi Layanan Primer.pptx1. Kebijakan Posyandu Integrasi Layanan Primer.pptx
1. Kebijakan Posyandu Integrasi Layanan Primer.pptx
 
Paparan BPJS tentang rujukan dari Fasilitas kesehatan tingkat pertama ke fasi...
Paparan BPJS tentang rujukan dari Fasilitas kesehatan tingkat pertama ke fasi...Paparan BPJS tentang rujukan dari Fasilitas kesehatan tingkat pertama ke fasi...
Paparan BPJS tentang rujukan dari Fasilitas kesehatan tingkat pertama ke fasi...
 

Asuhan Keperawatan pada Pasien Tuberkulosis Paru dan Efusi Pleura

  • 1. Oleh : 1. M. IqramPhonna 2. Nola Hastuti 3. Sulfia Ulfa ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TUBERKULOSIS PARU DAN EFUSI PLEURA
  • 5. 1. Pengertian Tuberkulosis paru merupakan penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru- paru,disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini juga dapat menyebar ke bagian tubuh lain seperti meningen, ginjal, tulang dan nodus limfe.
  • 6. Tuberkulosis pada manusia ditemukan dalam dua bentuk yaitu: a) Tuberkulosis primer, jika terjadi pada infeksi yang pertama kali b) Tuberkulosis sekunder, kuman yang dorman pada tuberkulosis primer akan aktif setelah bertahun-tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberkulosis dewasa. Mayoritas terjadi karena adanya penurunan imunitas, misalnya karena malnutrisi, penggunaan alkohol, penyakit maligna, diabetes, AIDS, dan gagal ginjal
  • 7. ETIOLOGI Penyakit TB Paru disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan, Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA)
  • 9. Gambaran Klinis 1. Gejala sistemik: a) Demam b) Malaise 2. Gejala Respiratorik: a) Batuk b) Batuk darah c) Sesak napas d) Nyeri dada
  • 11. Test Diagnostik Untuk menegakkan diagnosa TB Paru, maka tes diagnostik yang sering dilakukan pada klien adalah: a)Pemeriksaan Radiologis: foto rontgen thoraks b)Pemeriksaan Laboratorium c)Test Tuberculin (Mantoux Test)
  • 12. Komplikasi Komplikasi yang mungkin timbul pada klien TB Paru dapat berupa:  Malnutrisi  Empiema  Efusi pluera  Hepatitis, ketulian dangangguan gastrointestinal (sebagai efek samping obat- obatan)
  • 14. A. Pengkajian 1) Biodata 2) Riwayat penyakit sekarang 3) Riwayat penyakit dahulu 4) Riwayat penyakit keluarga 5) Pengkajian psikososiospiritual 6) Pemeriksaan fisik
  • 15. Masalah keperawatan yang dapat terjadi pada klien TB Paru dapat berupa: Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sputum yang kental. Gangguan nutrisi; kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan nafsu makan. Kurangnya pengetahuan tentang TB Paru berhubungan dengan kurangnya informasi. B. Diagnosa Keperawatan
  • 16. Untuk meengatasi diagnosa keperawatan yang ada, maka rencana keperawatan yang dapat diberikan meliputi: Diagnosa 1: Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan sputum yang kental. Tujuan: bersihan jalan nafas efektif. Kriteria hasil: Sekret (-) Bunyi nafas vesikuler Reflek batuk (+) Tanda-tanda vital normal C. Intervensi Keperawatan
  • 17. Intervensi Kaji fungsi pernafasan: bunyi nafas, kecepatan irama, kedalaman dan penggunaan otot bantu. Atur posisi kepala lebih tinggi. Ajarkan klien latihan nafas dalam dan batuk efektif. Berikan cairan minimal 2500ml/hr. Lakukan fisioterapi dada. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian OAT dan mukolitik.
  • 18. Diagnosa2: Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan nafsu makan. Tujuan: Nutrisi adekuat. Kriteria hasil:  Nafsu makan meningkat  Makan habis satu porsi setiap makan.  Turgor kulit elastis dan kenyal.  Berat badan klien dalam batas normal. Intervensi:  Kaji keluhan klien terhadap mual, muntah dan anoreksia.  Anjurkan klien untuk makan sedikit tetapi sering.  Sajikan makanan dalam keadaan hangat.  Bantu klien untuk melakukan perawatan mulut.  Timbang BB klien setiap minggu.  Kolaborasi dengan ahli diet untuk menentukan komposisi diet.
  • 19. Diagnosa3: Kurangnya pengetahuan tentang TB Paru berhubungan dengan kuranggnya informasi. Tujuan: Klien dapat memahami penyakitnya dan program pengobatannya.. Kriteria hasil: Klien dapat menjawab pertanyaan yang diajukan. Klien mengerti tentang penjelasan yang diberikan. Klien tidak bertanya-tanya lagi akan penyakitnya. Intervensi: Kaji tingkat pemahaman klien tentang penyakitnya dan program pengobatannya. Berikan penjelasan tentang penyakit dan program pengobatan meliputi: Pengertian TB Paru. •Penyebab. •Tanda dan gejala TB Paru. •Proses penularan. •Program pengobatan/perawatan. Minta klien secara verbal untuk menjelaskan kembali tentang penyakit dan program pengobatan dengan bahasa yang sederhana. Berikan reinforcoment positif pada setiap penjelasan klien.
  • 23. Efusi pleura adalah penimbunan cairan pada rongga pleura (Price & Wilson 2005). Pleura merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis yang melapisi rongga dada (pleura parietalis) dan menyelubungi paru (pleura visceralis). Diantara pleura parietalis dan pleura visceralis terdapat suatu rongga yang berisi cairan pleura yang berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan bergerak selama pernafasan
  • 25. Etiologi Berbagai penyebab timbulnya efusi pleura adalah :  Neoplasma, seperti neoplasma bronkogenik dan metastatik.  Kardiovaskuler, seperti gagal jantung kongestif, embolus pulmonary dan perikarditis.  Penyakit pada abdomen, seperti pankreatitis, asites, abses dan sindrom Meigs.  Infeksi yang disebabkan bakteri, virus, jamur, mikobakterial dan parasit.  Trauma  Penyebab lain seperti lupus eritematosus sistemik, rematoid arthritis, sindroms nefrotik dan uremia.
  • 27. Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk Tidak mempunyai kaitan yang spesifik dengan penyakit penyebabnya. Ditemukan pada penyakit-penyakit berikut: kegagalan jantung kongestif, sindroma nefrotik, asites, infark paru, lupus eritematosus systemic, tumor dan tuberkolosis. Efusiunilateral Efusi bilateral
  • 28. Berdasarkan jenis cairannya dibedakan: Hemotoraks (darah di dalamrongga pleura) Biasanya terjadi karena cedera di dada. Penyebab lainnya adalah: pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura. Kebocoran aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura Empiema(nanahdi dalamrongga pleura) Bisa terjadi jika pneumonia atau abses paru menyebar ke dalam rongga pleura.
  • 30. KOMPLIKASI Fibrotoraks Efusi pleura yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan drainase yang baik akan terjadi perlekatan fibrosa antara pleura parietalis dan pleura viseralis. Atalektasis Atalektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang disebabkan oleh penekanan akibat efusi pleura. Fibrosisparu Fibrosis paru merupakan keadaan patologis dimana terdapat jaringan ikat paru dalam jumlah yang berlebihan KolapsParu Pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang diakibatkan oleh tekanan ekstrinsik pada sebagian / semua bagian paru akan mendorong udara keluar dan mengakibatkan kolaps paru.
  • 31. PEMERIKSAAN PENUNJANG • Rontgen Thoraks • CT Scan Thoraks • Ultrasound • Torakosentesis
  • 32. Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispnea. PENATALAKSANAAN
  • 34. A. Pengkajian a) Anamnesis Pada umumnya tidak bergejala . Makin banyak cairan yang tertimbun makin cepat dan jelas timbulnya keluhan karena menyebabkan sesak, disertai demam sub febril pada kondisi tuberkulosis. b) Kebutuhanistrahat dan aktifitas Klien mengeluh lemah, napas pendek dengan usaha sekuat-kuatnya, kesulitan tidur, demam pada sore atau malam hari disertai keringat banyak. Ditemukan adanya tachicardia, tachypnea/dyspnea dengan usaha bernapas sekuat-kuatnya, perubahan kesadaran (pada tahap lanjut), kelemahan otot, nyeri dan stiffness (kekakuan).
  • 35. c) Kebutuhanintegritas pribadi Klien mengungkapkan faktor-faktor stress yang panjang, dan kebutuhan akan pertolongan dan harapan Dapat ditemukan perilaku denial / menyangkal (terutama pada tahap awal) dan ansietas/kecemasan d) KebutuhanKenyamanan/ Nyeri Klien melaporkan adanya nyeri dada karena batuk Dapat ditemukan perilaku melindungi bagian yang nyeri, distraksi, dan kurang istirahat/kelelahan
  • 36. e) KebutuhanRespirasi Klien melaporkan batuk, baik produktif maupun non produktif, napas pendek, nyeri dada Dapat ditemukan peningkatan respiratory rate karena penyakit lanjut dan fibrosis paru (parenkim) dan pleura, serta ekspansi dada yang asimetris, fremitus vokal menurun, pekak pada perkusi, suara nafas menurun atau tidak terdengar pada sisi yang mengalami efusi pleura. Bunyi nafas tubular disertai pectoriloguy yang lembut dapat ditemukan pada bagian paru yang terjadi lesi. Crackles dapat ditemukan di apex paru pada ekspirasi pendek setelah batuk. Karakteristik sputum : hijau/purulen, mucoid kuning atau bercak darah Dapat pula ditemukan deviasi trakea
  • 37. f) KebutuhanKeamanan Klien mengungkapkan keadaaan imunosupresi misalnya kanker, AIDS , demam sub febris Dapat ditemukan keadaan demam akut sub febris h) KebutuhanInteraksi sosial Klien mengungkapkan perasaan terisolasi karena penyakit yang diderita, perubahan pola peran
  • 38. i) Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik didapatkan perkusi pekak, fremitus vokal menurun atau asimetris bahkan menghilang, bising napas juga menurun atau hilang. Gerakan pernapasan menurun atau asimetris, lebih rendah terjadi pada sisi paru yang mengalami efusi pleura.
  • 39. j) Pemeriksaan diagnostik Kultursputum : dapat ditemukan positif Mycobacterium tuberculosis Apusan darahasamZehl-Neelsen: positif basil tahan asam Skintest : positif bereaksi (area indurasi 10 mm, lebih besar, terjadi selama 48 – 72 jam setelah injeksi. Fotothorax : pada tuberkulosis ditemukan infiltrasi lesi pada lapang atas paru,deposit kalsium pada lesi primer,dan adanya batas sinus frenikus kostalis yang menghilang,serta gambaran batas cairan yang melengkung. Biakankultur : positif Mycobacterium tuberculosis Biopsi paru : adanya giant cells berindikasi nekrosi (tuberkulosis) Elektrolit : tergantung lokasi dan derajat penyakit, hyponatremia disebabkan oleh retensi air yang abnormal pada tuberkulosis lanjut yang kronis ABGs : Abnormal tergantung lokasi dan kerusakan residu paru-paru Fungsi paru : Penurunan vital capacity, paningkatan dead space, peningkatan rasio residual udara ke total lung capacity, dan penyakit pleural pada tuberkulosis kronik tahap lanjut
  • 40. B. DiagnosaKeperawatan 1) Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukkan cairan dalam rongga pleura. 2) Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh. Sehubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh, pencernaan nafsu makan akibat sesak nafas sekunder terhadap penekanan struktur abdomen. 3) Cemas sehubungan dengan adanya ancaman kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas). 4) Gangguan pola tidur dan istirahat sehubungan dengan batuk yang menetap dan sesak nafas serta perubahan suasana lingkungan. 5) Ketidakmampuan melakukan aktivitas sehari-hari sehubungan dengan keletihan (keadaan fisik yang lemah). 6) Kurang pengetahuan mengenai kondisi, aturan pengobatan sehubungan dengan kurang terpajang informasi.
  • 41. C. Intervensi DX1 Tujuan : Pasien mampu mempertahankan fungsi paru secara normal Kriteria hasil : – Irama, frekuensi dan kedalaman pernafasan dalam batas normal – Pada pemeriksaan sinar X dada tidak ditemukan adanya akumulasi cairan – Bunyi nafas terdengar jelas.
  • 42. INTERVENSI • Identifikasi faktor penyebab • Kaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, laporkan setiap perubahan yang terjadi. • Baringkan pasien dalam posisi yang nyaman, dalam posisi duduk, dengan kepala tempat tidur ditinggikan 60 – 90 derajat. • Observasi tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah, RR dan respon pasien). • Lakukan auskultasi suara nafas tiap 2-4 jam. • Kolaborasi dengan tim medis lain untuk pemberian O2 dan obat-obatan serta foto thorax RASIONAL • Dengan mengidentifikasikan penyebab, kita dapat menentukan jenis efusi pleura sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat. • Dengan mengkaji kualitas, frekuensi dan kedalaman pernafasan, kita dapat mengetahui sejauh mana perubahan kondisi pasien. • Penurunan diafragma memperluas daerah dada sehingga ekspansi paru bisa maksimal. • Peningkatan RR dan tachicardi merupakan indikasi adanya penurunan fungsi paru. • Auskultasi dapat menentukan kelainan suara nafas pada bagian paru-paru. • Pemberian oksigen dapat menurunkan beban pernafasan dan mencegah terjadinya sianosis akibat hiponia. Dengan foto thorax dapat dimonitor kemajuan dari berkurangnya cairan dan kembalinya daya kembang paru.
  • 43. DX2 Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi Kriteria hasil : • Konsumsi lebih 40 % jumlah makanan, • berat badan normal • hasil laboratorium dalam batas normal.
  • 44. INTERVENSI • Beri motivasi tentang pentingnya nutrisi. • Auskultasi suara bising usus. • Lakukan oral hygiene setiap hari. • Sajikan makanan semenarik mungkin • Beri makanan dalam porsi kecil tapi sering RASIONAL • Kebiasaan makan seseorang dipengaruhi oleh kesukaannya, kebiasaannya, agama, ekonomi dan pengetahuannya tentang pentingnya nutrisi bagi tubuh. • Bising usus yang menurun atau meningkat menunjukkan adanya gangguan pada fungsi pencernaan • Bau mulut yang kurang sedap dapat mengurangi nafsu makan. • Penyajian makanan yang menarik dapat meningkatkan nafsu makan. • Makanan dalam porsi kecil tidak membutuhkan energi, banyak selingan memudahkan reflek.
  • 45. DX3 • Tujuan: Pasien mampu memahami dan menerima keadaannya sehingga tidak terjadi kecemasan. Kriteria hasil : • Pasien mampu bernafas secara normal pasien mampu beradaptasi dengan keadaannya. • Respon non verbal klien tampak lebih rileks dan santai • Nafas teratur dengan frekuensi 16-24 kali permenit, nadi 80-90 kali permenit.
  • 46. INTERVENSI • Ajarkan teknik relaksasi • Pertahankan hubungan saling percaya antara perawat dan pasien • Kaji faktor yang menyebabkan timbulnya rasa cemas • Bantu pasien mengenali dan mengakui rasa cemasnya RASIONAL • Mengurangi ketegangan otot dan kecemasan • Hubungan saling percaya membantu proses terapeutik • Tindakan yang tepat diperlukan dalam mengatasi masalah yang dihadapi klien dan membangun kepercayaan dalam mengurangi kecemasan. • Rasa cemas merupakan efek emosi sehingga apabila sudah teridentifikasi dengan baik, perasaan yang mengganggu dapat diketahui.
  • 47. DX4 Tujuan: Tidak terjadi gangguan pola tidur dan kebutuhan istirahat terpenuhi. Kriteria hasil: • Pasien tidak sesak nafas • pasien dapat tidur dengan nyaman tanpa mengalami gangguan • pasien dapat tertidur dengan mudah dalam waktu 30-40 menit • pasien beristirahat atau tidur dalam waktu 3-8 jam per hari.
  • 48. INTERVENSI • Beri posisi senyaman mungkin bagi pasien. • Tentukan kebiasaan motivasi sebelum tidur malam sesuai dengan kebiasaan pasien sebelum dirawat. • Anjurkan pasien untuk latihan relaksasi sebelum tidur. RASIONAL • Posisi semi fowler atau posisi yang menyenangkan akan memperlancar peredaran O2 dan CO2. • Mengubah pola yang sudah menjadi kebiasaan sebelum tidur akan mengganggu proses tidur. • Relaksasi dapat membantu mengatasi gangguan tidur
  • 49. DX5 • Tujuan :Pasien mampu melaksanakan aktivitas seoptimal mungkin. Kriteria hasil : • Terpenuhinya aktivitas secara optimal • pasien kelihatan segar dan bersemangat • personel hygiene pasien cukup.
  • 50. INTERVENSI RASIONAL • Evaluasi respon pasien saat beraktivitas, catat keluhan dan tingkat aktivitas serta adanya perubahan tanda- tanda vital. • Libatkan keluarga dalam perawatan pasien. • Jelaskan pada pasien tentang perlunya keseimbangan antara aktivitas dan istirahat • Mengetahui sejauh mana kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas. • Memberi pendidikan pada Pasien dan keluarga dalam perawatan selanjutnya. • Istirahat perlu untuk menurunkan kebutuhan metabolisme.
  • 51. DX6 Tujuan : Pasien dan keluarga tahu mengenai kondisi dan aturan pengobatan. Kriteria hasil : •Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman penyebab masalah. •Pasien dan keluarga mampu mengidentifikasi tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi medik. •Pasien dan keluarga mengikuti program pengobatan dan menunjukkan perubahan pola hidup yang perlu untuk mencegah terulangnya masalah.
  • 52. INTERVENSI RASIONAL • Identifikasi kemungkinan kambuh atau komplikasi jangka panjang. • Kaji ulang tanda atau gejala yang memerlukan evaluasi medik cepat (contoh, nyeri dada tiba-tiba, dispena, distress pernafasan). • Kaji ulang praktik kesehatan yang baik (contoh, nutrisi baik, istirahat, latihan). • Penyakit paru yang ada seperti PPOM berat, penyakit paru infeksi dan keganasan dapat meningkatkan insiden kambuh • Berulangnya effusi pleura memerlukan intervensi medik untuk mencegah, menurunkan potensial komplikasi • Mempertahankan kesehatan umum meningkatkan penyembuhan dan dapat mencegah kekambuhan
  • 53. D. EVALUASI • Evaluasi merupakan langkah terakhir dalam proses keperawatan, dimana evaluasi adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan melibatkan pasien, perawat dan anggota tim kesehatan lainnya. • Tujuan dari evaluasi ini adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai dengan baik atau tidak dan untuk melakukan pengkajian