SlideShare a Scribd company logo
1 of 16
1
Anak dengan Hambatan Emosi dan Sosial
(Children with Emotional and Social Disability)
A. Definisi dan Konsep Anak yang Mengalami Hambatan Emosi dan
Perilaku
1. Definisi Anak yang Mengalami Hambatan Emosi dan Perilaku
Definisi atau pengertian anak yang mengalami hambatan emosi dan perilaku
masih menjadi perdebatan. Perdebatan mengenai batasan untuk definisi gangguan
emosi dan perilaku muncul karena masing – masing ahli yang mendefinisikan
anak dengan gangguan emosi dan perilaku ini masih melihat dari kajian ilmunya
masing-masing. Faktor yang menyebabkan ketidaksamaan definisi tunalaras,
sebagai berikut :
a. Para ahli dalam melakukan pengkajian ketunalarasan dari sudut pandang yang
berbeda, sesuai dengan keilmuan yang dimilikinya.
b. Para ahli memiliki dasar dan tujuan yang berbeda dalam merumuskan definisi.
c. Pengukuran/assessment yang dilakukan berbeda dalam waktu maupun alat.
d. Jenis, bentuk dan tingkat penyimpangan tingkah laku yang dialami anak
sangat bervariasi.
e. Perkembangan ilmu tentang pendidikan anak tunalaras dan pendidikannya
cukup dinamis.
Hal ini menyebabkan belum adanya definisi anak yang mengalami hambatan
emosi dan perilaku yang dapat diterima secara umum. Berbagai macam istilah
yang dapat digunakan untuk menunjukkan definisi mengenai gangguan emosi dan
perilaku, misalnya emotional disturbances, behavior disorders, dan maladjusted
children (Coleman & Weber, 2002 dalam John W. Santrock, 2007: 237). Berikut
definisi anak yang mengalami hambatan emosi dan perilaku dari pandangan ahli
dan menurut undang-undang dasar :
a. Menurut UU-AS (Rosenberg, 1992) dijelaskan sebagai berikut : Gangguan
emosi adalah suatu kondisi yang menunjukan salah satu atau lebih gejala-
gejala berikut dalam kurun waktu tertentu, pada tingkat yang tinggi, dan
mempengaruhi prestasi belajar. Gejala-gejala tersebut yaitu:
2
1) Ketidakmampuan belajar yang tidak disebabkan oleh faktor intelegensi,
syaraf, dan kesehatan.
2) Ketidakmampuan bergaul atau berhubungan baik guru maupun teman.
3) Perilaku dan perasaan yang tidak wajar pada situasi normal.
4) Perasaan depresi, sedih dan murung secara terus menerus.
5) Kecenderungan merasa takut atau cemas di dalam menghadapi masalah
pribadi maupun sekolah.
b. Menurut Nelson (1981): Seorang anak dikatakan tunalaras, apabila tingkah
laku mereka menyimpang dari ukuran menurut norma usia dan jenis
kelaminnya, dilakukan dengan frekwensi dan intensitas relatif tinggi, serta
dalam waktu yang relatif lama.
c. Kvaraceus dan Miller (Depdikbud, 1985) Memberikan batasan bahwa : Anak
tunalaras adalah individu yang tingkah lakunya tidak dewasa, melanggar
peraturan yang tertulis atau tidak tertulis dengan frekwensi yang cukup tinggi.
d. Definisi tunalaras dalam Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1989 tentang
Sistem Pendidikan Nasional, dan PP. No. 71 Tahun 1991 tentang Pendidikan
Luar Biasa, dinyatakan bahwa “tunalaras merupakan gangguan atau kelainan
tingkah laku sehingga kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap
lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat” (Puslata Universitas Terbuka,
2008: 11)
2. Faktor – Faktor Penyebab Anak Mengalami Hambatan Emosi dan
Perilaku
Sebab-sebab anak menjadi tunalaras secara garis besarnya dapat
dikelompokkan menjadi tiga kelompok (Rusli Ibrahim, 2005: 48), di antaranya:
a. Faktor Psychologis
Gangguan tingkah laku yang disebabkan terganggunya faktor psycologis.
Terganggunya faktor psycologis biasanya diwujudkan dalam bentuk tingkah laku
yang menyimpang, seperti: abnormal fixation, agresif, regresif, resignation, dan
concept of discrepancy.
b. Faktor Psychososial
3
Gangguan tingkah laku yang tidak hanya disebabkan oleh adanya frustrasi,
melainkan juga ada pengaruh dari faktor lain, seperti pengalaman masa kecil yang
tidak atau kurang menguntungkan perkembangan anak.
c. Faktor Physiologis
Gangguan tingkah laku yang disebabkan terganggunya proses aktivitas organ-
organ tubuh, sehingga tidak atau kurang berfungsi sebagaimana mestinya, seperti
terganggu atau adanya kelainan pada otak, hyper thyroid dan kelainan syaraf
motoris.
Penyebab kentunalarasan menurut Sutjihati Somantri (2007: 143-147),
meliputi :
a. Kondisi / Keadaan Fisik
Masalah kondisi fisik dalam kaitannya dengan masalah gangguan emosi dan
prilaku, yang merupakan akibat langsung maupun tidak langsung. Ada ahli yang
meyakini bahwa disfungsi kelenjar endoktrin dapat mempengaruhi timbulnya
gangguan emosi dan prilaku, atau dengan kata lain kelenjar endoktrin
berpengaruh terhadap respon emosional seseorang. Gunzburg (dalam
simanjuntak, 1947) menyimpulkan bahwa disfungsi kelenjar endoktrin merupakan
salah satu penyebab timbulnya kejahatan. Kelenjar endoktrin ini mengeluarkan
hormone yang mempengaruhi tenaga seseorang. Bila secara terus menerus
mengalami gangguan, maka dapat berakibat terganggunya perkembangan fisik
dan mental seseorang sehingga akan berpengaruh terhadap perkembangan
wataknya.
b. Masalah Perkembangan
Erikson (dalam Singgih D. Gunarsa, 1985:107) menjelaskan bahwa setiap
memasuki fase perkembangan baru, individu dihadapkan pada berbagai tantangan
atau krisis emosi. Anak biasanya dapat mengatasi krisis emosi ini jika pada
dirinya tumbuh kemampuan baru yang berasal dari adanya proses kematangan
yang menyertai perkembangan. Apabila ego dapat mengatasi krisis ini, maka
perkembangan ego yang matang akan terjadi sehingga inividu dapat
menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial atau masyarakatnya. Sebalikya,
4
apabila individu tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut maka akan
menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku. Konflik emosi ini terutama
terjadi pada masa kanak-kanak dan masa pubertas.
Adapun ciri yang menonjol yang nampak pada masa kritis ini adalah sikap
menentang dan keras kepala. Kecenderungan ini di akibatkan karena anak sedang
dalam proses memahami dirinya. anak jadi merasa tidak puas dengan otoritas
lingkungan sehingga timbul gejolak emosi yang meledak-meledak. Emosi yang
kuat sering kali meluap-luap sehingga dapat menimbulkan ketegangan dan
kecemasan. Mereka sering kali menentang dan melanggar peraturan baik di rumah
maupun di sekolah. Kondisi seperti ini biasanya terjadi pada masa pubertas.
c. Lingkungan Keluarga
Sebagai lingkungan pertama dan utama dalam kehidupan anak, keluarga
memiliki pengaruh yang demikian penting dalam membentuk kepribadian anak.
Keluarga lah peletak dasar perasaan aman (emotional security) pada anak, dalam
keluarga pula anak memperoleh pengalaman pertama mengenai perasaan dan
sikap sosial. Lingkungan keluarga yang tidak mampu memberikan dasar perasaan
aman dan dasar untuk perkembangan sosial dapat menimbulkan gangguan emosi
dan perilaku pada anak.
Aspek yang mempengaruhi masalah gangguan emosi dan perilaku di
lingkungan keluarga.
1) Kasih sayang dan perhatian
Kurangnya kasih sayang dan perhatian orang tua mengakibatkan anak
mencarinya di luar rumah. Dia bergabung dengan kawan-kawannya dan
membentuk suatu kelompok anak yang merasa senasib. Mengenai hal ini, Sofyan
S. Willis (1981) mengemukakan bahwa mereka berkelompok untuk memenuhi
kebutuhan yang hampir sama, antara lain untuk mendapatkan perhatian dari orang
tua dan masyarakat.
Tak jarang orang tua justru memberikan kasih sayang, perhatian, dan bahkan
perlindungan yang berlebihan (Over Protection). Sikap memanjakan
menyebabkan ketergantungan pada anak sehingga jika anak mengalami kegagalan
5
dalam mencoba sesuatu ia lekas menyerah dan merasa kecewa, sehingga pada
akhirnya akan timbul rasa tidak percaya diri/rendah diri pada anak.
2) Keharmonisan keluarga
Ketidakharmonisan keluarga dapat disebabkan oleh pecahnya keluarga atau
tidak adanya kesepakatan antara orang tua dalam menerapkan disiplin dan
pendidikan terhadap anak. Kondisi keluarga yang pecah atau rumah tangga yang
kacau menyebabkan anak kurang mendapatkan bimbingan yang semestinya.
Berdasarkan hasil studinya, Hetherington (dalam Kirk dan Gallagher, 1986)
menyimpulkan bahwa hampir semua anak yang menghadapi perceraian orang tua
mengalami masa peralihan yang sangat sulit.
3) Kondisi ekonomi
Lemahnya kondisi ekonomi keluarga dapat pula menjadi salah satu penyebab
tidak terpenuhinya kebutuhan anak, padahal seperti kita ketahui pada diri anak
akan timbul keinginan – keinginan untuk dapat menyamai temannya yang lain.
Tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut di dalam keluarga dapat mendorong anak
mencari jalan sendiri yang kadang-kadang mengarah pada tindakan antisocial.
G.W. Bawengan (1977) menyatakan bahwa kondisi-kondisi seperti kemiskinan
atau pengangguran secara relatif dapat melengkapi rangsangan-rangsangan untuk
melakukan pencurian, penipuan dan perilaku menyimpang lainnya.
d. Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua setelah keluarga. Sekolah
tidak hanya sekedar membekali anak dengan sejumlah ilmu pengetahuan tetapi
sekolah juga membina kepribadian anak. Akan tetapi sekolah tidak jarang dapat
menjadi penyebab timbulnya gangguan perilaku pada anak seperti yang
dikemukakan Sofyan Willis (1978) bahwa dalam rangka pembinaan anak didik
kearah kedewasaan kadang-kadang sekolah juga penyebab dari timbulnya
kenakalan remaja.
Timbulnya gangguan tingkah laku yang disebabkan lingkungan sekolah antara
lain berasal dari guru sebagai tenaga pelaksana pendidikan dan fasilitas penunjang
6
yang dibutuhkan anak didik. Perilaku guru yang otoriter mengakibatkan anak
merasa tertekan dan takut menghadapi pelajaran. Anak lebih memilih membolos
dan berkeluyuran pada saat seharusnya ia berada di dalam kelas. Sebaliknya,
sikap guru yang terlampau lemah dan membiarkan anak didiknya tidak disiplin
mengakibatkan anak didik berbuat sesuka hati dan berani melakukan tindakan
yang menentang peraturan.
Selain guru, fasilitas pendidikan berpengaruh pula terhadap terjadinya
gangguan tingkah laku. Sekolah yang kurang mempunyai fasilitas yang
dibutuhkan anak didik untuk menyalurkan bakat dan mengisi waktu luang
mengakibatkan anak menyalurkan aktifitasnya pada hal-hal yang kurang baik.
e. Lingkungan Masyarakat
Menurut Bandura (dalam Kirk dan Gallagher, 1986), salah satu hal yang
nampak mempengaruhi pola perilaku anak dalam lingkungan sosial adalah
keteladanan, yaitu menirukan perilku orang lain.
Disamping pengaruh- pengaruh yang bersifat positif, di dalam lingkungan
masyarakat juga terdapat banyak sumber yang merupakan pengaruh negative yang
dapat memicu munculnya perilaku menyimpang. Sikap masyarakat yang negative
ditambah banyaknya hiburan yang tidak sesuai dengan perkembangan jiwa anak
merupakan sumber terjadinya kelainan tingkah laku. Hal ini terutama terjadi di
kota-kota besar dimana tersedia berbagai fasilitas tontonan dan hiburan yang tak
tersaring oleh budaya lokal.
Masuknya kebudayaan asing dapat memberi dampak negatif pada anak. Anak
menganggap bahwa kebudayaan asing itu benar, sementara dipihak lain
masyarakat masih memegang norma-norma yang bersumber pada adat istiadat
dan agama. Selanjutnya konflik juga dapat timbul pada diri anak sendiri yang
disebabkan norma yang dianut di rumah atau keluarga bertentangan dengan norma
dan kenyataan yang ada dalam masyarakat.
B. Terminologi Anak yang Mengalami Hambatan Emosi dan Perilaku
Di masyarakat kita banyak istilah untuk memberikan label kepada anak tuna
laras. Istilah yang digunakan biasanya tergantung pada sudut pandang keilmuan
7
yang mereka geluti, Seperti : Guru pada umumnya, menyebut anak sulit diatur,
anak sukar, anak nakal. Guru PLB (Pedagog), menyebut anak tuna laras. Ahli
social (Social Worker), Menyebut anak gangguan social. Ahli psikologi
(Psikolog), anak terganggu emosi atau anak terhambat emosi. Ahli hokum
(Lowyer), menyebut anak pra-nakal, anak nakal, anak pelanggar hokum. Orang
tua dan masyarakat awam, bias any menyebut anak nakal, anak keras kepala, anak
jahat, dan sebagainya.
Dalam literature asing (Inggris) yang mengupas tentang pendidikan dan
psikoterapi bagi anak yang gangguan emosi dan social, banyak ditemukan istilah
yang bermakna “sama” dengan istilah anak tuna laras, diantaranya :
a. Serious Emotional Disturbance Children (Anak yang mengalami gangguan
emosi pada taraf serius).
b. Emotional Conflict Children (Anak yang mengalami konflik emosi).
c. Emotional Distrubance Children (Anak yang terganggu perkembangan
emosi).
d. Emotional Handicap Children ( Anak yang terhambat perkembangan emosi).
e. Emotional Empairment Children ( Anak yang mengalami kerusakan fungsi
emosi).
f. Serious Emotional Disability Children (Anak yang mengalami
ketidakmampuan mengendalikan emosi secara serius).
g. Behavior Disorder Children (Anak yang berperilaku tidak
teratur/menimpang).
h. Behavior Handicap Children (Anak yang mengalami hambatan dalam
perilaku).
i. Behavior Impairment Children (Anak yang mengalami kerusakan dalam
perilaku).
j. Severe Behavior Handicap Children (Anak yang terhambat perilaku taraf
berat).
k. Social and Emotional Maladjusment Children (Anak yang tidak dapat
menyesuaikan diri karena gangguan social dan emosi).
8
l. Emotional and Behavior Disorder Children (anak yang mengalami gangguan
emosi dan perilaku tidak teratur).
m. Social and Emotional Disturbance Children (Anak yang terganggu
perkembangan social dan emosi).
n. Juvenile Delinquency (Anak/remaja nakal).
Memperhatikan istilah-istilah di atas, ada beberapa hal yang perlu dipahami,
yaitu :
a. Istilah-istilah tersebut menunjukan makna yang sama. Yaitu adanya
penyimpangan/kelainan/hambatan tingkah laku pada anak.
b. Penyimpangan tingkah laku (ketunalarasan) sebagai dampak
gangguan/hambatan perkembangan pada aspek emosi, sosial, atau kedua-
duanya.
c. Dikatakan ketunalarasan apabila gejala penyimpangan/kelainan/gangguan
pada taraf serius (berat dan sangat berat).
d. Sudut pandang yang digunakan yaitu dari kacamata Psikologi, Sosiologis,
Pedagogik, dan Hukum.
C. Karakteristik Anak yang Mengalami Hambatan Emosi dan Perilaku
Batasan anak tunalaras menurut Kauffman dalam Somantri (2006) yaitu
sebagai anak yang secara nyata dan menahun merespon lingkungan tanpa ada
kepuasan pribadi namun masih dapat diajarkan perilaku-perilaku yang dapat
diterima oleh masyarakat.dan dapat memuaskan pribadinya.
Anak tunalaras dalam berbagai disiplin ilmu memiliki kesamaan, terutama
pada karakeristiknya. Maka, dapat diketahui sebagai berikut karakteristik :
a. Ketidakmampuan untuk belajar yang tidak dapat dijelaskan oleh intelektual,
sensorik atau faktor kesehatan lainnya.
b. Ketidakmampuan untuk membangun atau mempertahankan hubungan
interpersonal yang memuaskan dengan teman sebaya maupun guru.
c. Bentuk ketidaktepatan perilaku atau perasaan dalam kondisi normal.
d. Suatu suasana hati yang mendalam dari ketidakbahagiaan atau depresi.
9
e. Kecenderungan untuk mengembangkan gejala fisik, sakit atau ketakutan yang
terkait dengan masalah pribadi atau sekolah (psikosomatis).
D. Dampak Hambatan Emosi dan Perilaku terhadap Perkembangan
1. Perkembangan Kognitif
Dalam berbagai riset IQ, anak tunalaras rata-rata berada pada rentangan dull
normal (sekitar IQ 90), dan hanya sedikit yang berada di atas normal (cerdas).
Salah satu tolok ukur kecerdasan adalah prestasi belajar. Namun keadaan tersebut
tidak dapat diberlakukan pada anak tunalaras. Misalnya prestasi anak tunalaras
rendah, hal itu tidak dapat dijadikan acuan kecerdasan anak tunalaras sebab
prestasi belajar anak tunalaras seringkali mengalami under achiever (prestasi
belajar di bawah kemampuan yang sebenarnya).
Prestasi anak tunalaras yang rendah di sekolah disebabkan mereka kehilangan
minat dan konsentrasi belajar karena masalah gangguan emosi yang mereka
alami. Kegagalan dalam belajar di sekolah seringkali menimbulkan anggapan
bahwa mereka memiliki intelegensi yang rendah. Kelemahan dalam
perkembangan kecerdasan ini justru yang menjadi penyebab timbulnya gangguan
tingkah laku. Masalah yang dihadapi anak dengan intelegensi rendah di sekolah
adalah ketidakmampuan untuk menyamai teman-temannya, padahal pada
dasarnya seorang anak tidak ingin berbeda dengan kelompoknya terutama yang
berkaitan dengan prestasi belajar. Mengenai hal ini Ny. Singgih Gunarsa (1982)
mengemukakan bahwa kecemasan dirinya berbeda dengan kelompoknya
menimbulkan kesulitan pada anak dengan cara penyelesaian yang seringkali tidak
sesuai dengan cara penyesuaian yang wajar.
Moerdiani (1987) menilai bahwa rendahnya prestasi belajar anak tunalaras di
sekolah diduga karena kehilangan minat belajar dan konsentrasi belajar rendah
akibat gangguan emosi. Di samping itu, mereka pada umumnya membenci
sekolah sebab sekolah menuntut anak tunalaras untuk mentaati peraturan atau
norma-norma yang berlaku.
Ketidakmampuan anak untuk bersaing dengan teman-temannya dalam belajar
dapat menyebabkan anak frustasi dan kehilangan kepercayaan pada dirinya
10
sendiri sehingga anak mencari kompensasi yang sifatnya negatif, misalnya:
membolos, lari dari rumah, berkelahi, mengacau dalam kelas, dan sebagainya.
Akibat lain dari kelemahan intelegensi ini terhadap gangguan tingkah laku adalah
ketidakmampuan anak untuk memperhitungkan sebab akibat dari suatu perbuatan,
mudah dipengaruhi serta mudah pula terperosok ke dalam tingkah laku yang
negatif.
2. Perkembangan Sosial-Emosi
Menurut Sutjihati Somantri (2007: 151) terganggunya perkembangan emosi
merupakan penyebab dari kelainan tingkah laku anak tunalaras. Ciri yang
menonjol pada anak tunalaras adalah kehidupan emosi yang tidak stabil,
ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara tepat, dan pengendalian diri
yang kurang sehingga anak tunalaras seringkali menjadi sangat emosional.
Terganggunya kehidupan emosi ini terjadi akibat ketidakberhasilan anak dalam
melewati fase-fase perkembangan. Kematangan emosional anak tunalaras
ditentukan dari hasil interaksi dengan lingkungannya, dimana anak belajar tentang
bagaimana emosi itu hadir dan bagaimana cara untuk mengekpresikan emosi-
emosi tersebut. Perkembangan emosi ini berlangsung secara terus menerus sesuai
dengan perkembangan usia.
Menurut Rusli Ibrahim (2005: 51) anak-anak tunalaras terlambat
perkembangan sikap-sikap sosial dan emosionalnya. Sikap-sikap tersebut dapat
diamati dalam kehidupan sehari-hari dari interaksinya dengan lingkungan, seperti
:
a. Tidak mampu menyesuaikan diri dengan pola-pola kelompok yang lebih luas
dan kesadaran sosial mereka sangat rendah.
b. Menuntut perhatian yang terus menerus dari lingkungannya dan mereka suka
bermain sendirian.
c. Dalam kelompok, biasanya selalu mengikuti bukannya memimpin.
Sikap-sikap tersebut di atas bila dibiarkan akan mengakibatkan semakin berat
dalam bersosialisai. Anak tunalaras akan menjadi sulit untuk beperilaku dewasa,
dan akan mengalami kemunduran sikap-sikap sosial dan emosional. Kondisi
11
emosi anak tunalaras cenderung tidak stabil dan ketidak stabilan aspek emosi ini
dapat dilihat pada tingkah lakunya sehari-hari. Anak tunalaras sering
menampakkan perilaku yang meyimpang, seperti mudah tersinggung, sedih, acuh
tak acuh, keras kepala, merasa cemas, agresif, menarik diri dari pergaulan dan
sebagainya.
Sebagaimana telah kita pahami bahwa anak tunalaras mengalami hambatan
dalam melakukan interaksi sosial dengan orang lain atau lingkungannya. Hal ini
tidak berarti bahwa mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk
membentuk hubungan sosial dengan semua orang. Dalam banyak kejadian
ternyata mereka dapat menjalin hubungan sosial yang sangat erat dengan teman-
temannya. Mereka mampu membentuk suatu kelompok yang kompak dan akrab
serta membangun keterikatan antara yang satu dengan yang lainnya.
Anak tunalaras memiliki penghayatan yang keliru, baik tehadap dirinya
sendiri maupun terhadap lingkungan sosialnya. Mereka menganggap dirinya tak
berguna bagi orang lain dan merasa tidak berperasaan. Oleh karena itu timbullah
kesulitan apabila akan menjalin hubungan dengan mereka. Apabila berhasil
sekalipun mereka akan menjadi sangat tergantung kepada seseorang yang pada
akhirnya dapat menjalin hubungan sosial dengannya.
Karakteristik sosial/emosional tunalaras dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Karakteristik Sosial
Masalah yang menimbulkan gangguan bagi orang lain:
1) Perilaku itu tidak diterima masyarakat, biasanya melanggar norma budaya.
2) Perilaku itu bersifat menggangu, dan dapat dikenai sanksi oleh kelompok
sosial.
3) Perilaku itu ditandai dengan tindakan agresif, yaitu :
a) Tidak mengikuti aturan.
b) Bersifat mengganggu.
c) Bersifat membangkang dan menentang.
d) Tidak dapat bekerjasama.
e) Melakukan tindakan yang melanggar hukum dan kejahatan
remaja.
12
b. Karakteristik Emosional
1) Hal-hal yang menimbulkan penderitaan bagi anak, misalnya tekanan batin dan
rasa cemas.
2) Ditandai dengan rasa gelisah, rasa malu, rendah diri, ketakutan dan sifat
perasa/sensitif.
Kelainan tingkah laku yang dialami anak tunalaras mempunyai dampak
negatif bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sosialnya. Perasaan tidak berguna
bagi orang lain, perasaan rendah diri, tidak percaya diri, perasaan bersalah
menyebabkan mereka merasakan adanya jarak dengan lingkungannya. Salah satu
dampak serius yang mereka alami adalah tekanan batin berkepanjangan sehingga
menimbulkan perasaan merusak diri mereka sendiri. Bila mereka kurang
mendapatkan perhatian dan penanganan dengan segera, maka mereka akan
semakin terperosok dan jarak yang memisahkan mereka dari lingkungannya.
Mengenai tekanan batin yang bekepanjangan ini menurut Schoss (Kirk &
Gallagher, 1986) disebabkan oleh hal-hal berikut:
a. Ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness)
Anak-anak telah mempergunakan semua perilaku penyesuaiannya untuk
mencoba mengatasi keadaan yang sulit. Ketidakmampuan mereka untuk
mengatasi kesulitan tersebut menjadi tergeneralisasi sehingga ketika mereka
mempunyai perilaku yang baik sekalipun mereka tidakmau mempergunakannya.
Mereka mengarahkan kegagalannya pada faktor yang tak terkendali, tidak dapat
merespon dengan baik terhadap stimuli sosial atau peristiwa, cenderung
mengurangi usaha yang dilakukan setelah mengalami kegagalan, dan
menunjukkan rasa rendah diri.
b. Keterampilan sosial yang minim (social skill deficiency)
Perkembangan kepribadian yang tertekan akan menimbulkan
kekurangterampilan dalam memperoleh penguatan (reinforcement) perilaku sosial
yang positif. Kondisi ini akan mengurangi terjadinya interaksi sosial yang positif.
c. Konsekuensi paksaan (coercive consequences)
13
Tekanan batin yang berlarut-larut tergantung pada konsekuensi paksaan. Jika
anak yang sedang cemas menarik diri menerima reaksi positif dari lingkungannya
(simpati, dukungan, jaminan,dll) mereka tetap gagal mengembangkan perilaku
pribadi dan keterampilan sosial yang mengarah kepada perilaku yang efektif.
Menghadapi keadaan diatas, kita hendaknya dapat mempengaruhi lingkungan
mereka, mengajar dan menguatkan keterampilan sosial antarpribadi yang lebih
efektif, serta menghindarkan mereka dari ketergantungan dan penguatan
ketakberdayaan. Bahwa perilaku menyimpang pada anak tunalaras merugikan
lingkungannya kiranya sudah jelas dan seringkali orang tua maupun guru merasa
kehabisan akal menghadapi anak dengan gangguan perilaku seperti ini.
3. Perolehan Bahasa Anak yang Mengalami Hambatan Emosi dan Perilaku
Pemerolehan bahasa dan komunikasi anak tunalaras yaitu bergaul dan
berhubungan sosial baik hanya dengan teman sebaya yang menuruti kehendaknya.
Tapi dengan orang dewasa sulit. Komunikasi dengan orang lain cenderung
menggunakan bahasa yang kasar. Anak tunalaras mengalami hambatan dalam
melakukan interaksi sosial dengan orang lain. Ketidakmampuan anak tunalaras
dalam melalui interaksi sosial yang baik dengan lingkungannya disebabkan oleh
pengalaman-pengalaman yang tidak/kurang menyenangkan. Salah satu dampak
serius yang mereka alami adalah tekanan batin berkepanjangan sehingga
menimbulkan perasaan merusak diri mereka sendiri. Bila mereka kurang
mendapatkan perhatian dan penanganan dengan segera, maka mereka akan
semakin terperosok dan jarak yang memisahkan mereka dari lingkungan sosialnya
akan semakin bertambah lebar.
Karakteristik anak tunalaras relatif berbeda dengan anak berkebutuhan khusus
lainnya ataupun anak normal pada umumnya. Perbedaan karakteristik tersebut
muncul sebagai akibat dari ketunalarasan yang disandangnya. Ketidakmatangan
emosi dan sosial selalu berdampak pada keseluruhan perilaku dan pribadinya,
termasuk dalam belajarnya. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kemampuan
berbahasa anak tunalaras memiliki perbedaan dengan anak normal, baik dalam
bahasa lisan, maupun bahasa tulisan.
14
Hambatan yang dialami oleh anak tunalaras dalam berbahasa memiliki
pengaruh yang cukup luas, terutama dalam kemampuan berkomunikasi dengan
orang lain, sebab dalam berkomunikasi terlebih dahulu harus memiliki
keterampilan berbahasa yang cukup, yaitu terampil menyimak, berbicara,
membaca, dan menulis. Hambatan berbahasa diwarnai banyak faktor yang
mempengaruhinya, diantaranya: “faktor pengajar, faktor pengajar dan faktor
sistem” (Tarigan:1987). Faktor yang mengakibatkan lemahnya kemampuan
berbahasa pada anak tunalaras, Anderson S. Lynch dalam Nursaid (1992:6),
mengemukakan:
a. Faktor lingkungan, misalnya keakuratan penyimak mendengarkan bunyi-
bunyi bahasa atau ujaran-ujaran.
b. Tingkat kesukaran kata, frase, dan kalimat-kalimat yang digunakan pengajar.
c. Kondisi kejiwaan penyimak, misalnya tidak memiliki waktu yang memadai
untuk melakukan kegiatan menyimak atau terburu-buru.
d. Kecenderungan isi pesan yang mempengaruhi sikap penyimak.
e. Faktor ekstra linguistic, misalnya kemampuan penyimak untuk
mendayagunakan isyarat-isyarat lingkungan tempat berlangsungnya proses
menyimak untuk menyusun pemahamannya.
Hallahan dan Kaufman (1977) mengemukakan bahwa “anak tunalaras banyak
mengalami kesulitan dalam satu atau lebih bidang studi, seperti membaca”.
Menurut Badudu (1990) “Pengajaran tidak ditekankan pada segi keterampilan
berbahasa, tetapi lebih banyak pada pengetahuan bahasa”. Dan hasil penelitian
Pratomo, (1995) menyimpulkan bahwa “pendekatan komunikatif mampu
membantu siswa untuk memiliki keterampilan berbahasa baik lisan maupun
tulisan”.
Pengalaman berinteraksi agar peserta didik dapat menggunakan bahasa secara
komunikatif dalam berbagai aktivitas telah direncanakan secara bervariasi melalui
berbagai rangsangan, seperti tave recorder, rangsangan gambar, bahan bacaan
penggunaan lingkungan sekitar yang relevan dengan tema dan kebutuhan
15
berkomunikasi. Dalam merencanakan evaluasi pembelajaran guru tidak hanya
merencanakan alat evaluasi untuk mengukur hasil belajar semata, tetapi telah
berusaha memahami bagaimana rumusan evaluasi yang dapat dilaksanakan
selama proses pembelajaran. Dalam perencanaan evaluasi pembelajaran, guru
menggunakan istilah asesmen, karena asesmen lebih luas cakupannya daripada
evaluasi.
Lebih lanjut Oller (1979) dalam Halimah (2002:176), mengemukakan bahwa
“evaluasi dalam berkomunikasi hendaknya lebih ditekankan pada kemampuan
menghasilkan dan memahami informasi, bukan semata-mata pada ketepatan
bahasa yang dipergunakan dan apabila terjadi kesalahan berbahasa baru
diperhitungkan apabila mengganggu kelancaran berkomunikasi”. Agar anak
tunalaras memiliki keterampilan berbahasa sebagaimana layaknya anak pada
umumnya, hendaknya dalam pembelajaran bahasa Indonesia mengembangkan
pendekatan komunikatif dan menyediakan sarana yang memadai untuk kegiatan
pembelajaran.
4. Dampak Ketunalarasan dalam Kegiatan Belajar
Sebagaimana kelompok khusus anak luar biasa, anak tunalaras memiliki
karakteristik tersendiri dalam belajarnya, yang relatif berbeda dengan kelompok
anak luar biasa yang lain ataupun anak normal. Perbedaan karakteristik tersebut
muncul sebagai akibat dari ketunalarasan yang disandangnya. Diketahui bahwa
ketidakmatangan sosial dan atau emosionalnya selalu berdampak pada
keseluruhan prilaku dan pribadinya, termasuk dalam perilaku belajarnya. Secara
umum dikatakan bahwa proses belajar akan berlangsung secara optimal, bila salah
satu diantaranya ada kesiapan psikologis dari peserta didik. Anak tunalaras karena
ketidakmatangan dalam aspek sosial dan atau emosional jelas akan menghambat
kesiapan psikologisnya, sehingga optimalisasi proses belajarnya juga akan
terhambat.
Karakteristik perilaku belajar anak tunalaras tidak jauh berbeda, bahkan sulit
dibedakan dengan kelompok anak tunagrahita dan anak berkesulitan belajar, yang
membedakan hanyalah bahwa pada anak tunalaras frekuensi lebih tinggi dan
16
selalu tertuju pada perilaku-perilaku maladaptive. Hasil studi lain juga
menunjukkan bahwa anak tunalaras pada umumnya memiliki IQ yang rendah,
prestasi rendah,dan juga berasal dari kelas sosial yang rendah pula. Mereka juga
banyak mengalami kesulitan dalam satu atau lebih bidang studi, seperti membaca
dan matematika, serta perilakunya tidak memenuhi harapan sesuai dengan usia
dan kemampuannya (Hallahan dan Kaufman, 1977 ; Chary, 1966 ;
Kvaraceus,1961 ; Scarpitti, 1964).
Terlepas dari kajian Cruickshank diatas, berikut ini merupakan ciri-ciri
menonjol yang sering dijumpai pada anak tunalaras dalam belajarnya :
a. Daya konsentrasi terbatas
b. Kurang mampu belajar dari pengalaman
c. Kurang motivasi
d. Kurang disiplin
e. Kurang memiliki motif berprestasi
f. Kurang memiliki sikap kerjasama dan toleransi
g. Sensitif terhadap hal-hal yang dianggap merugikan dirinya.
h. Kurang memiliki kesabaran
i. Kurang mampu berfikir secara komperehensif dan kemampuan analisisnya
rendah.
j. Memiliki cara-cara tersendiri dalam mengolah dan memahami informasi.
k. Cepat melakukan imitasi dan identifikasi terhadap hal-hal diluar dirinya yang
dianggap menarik.
l. Sugestible, mudah dipengaruhi dan terpengaruh oleh lingkungan
m. Cenderung mengabaikan tugas dan tanggung jawab yang diberikan
n. Cenderung tunduk pada guru tertentu yang memiliki kelebihan sesuai dengan
interesnya.

More Related Content

What's hot

Contoh rpp kurikulum 2013
Contoh rpp kurikulum 2013Contoh rpp kurikulum 2013
Contoh rpp kurikulum 2013
Nia Piliang
 
STRATEGI PEMBELAJARAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
STRATEGI PEMBELAJARAN  BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUSSTRATEGI PEMBELAJARAN  BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
STRATEGI PEMBELAJARAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
Warman Tateuteu
 
LK 2.1 Eksplorasi Alternatif Solusi 4 Agustus 2022.docx
LK 2.1 Eksplorasi Alternatif Solusi 4 Agustus 2022.docxLK 2.1 Eksplorasi Alternatif Solusi 4 Agustus 2022.docx
LK 2.1 Eksplorasi Alternatif Solusi 4 Agustus 2022.docx
shananah
 
Pengaruh detergen thdp prkcmbhan
Pengaruh detergen thdp prkcmbhanPengaruh detergen thdp prkcmbhan
Pengaruh detergen thdp prkcmbhan
Rizal Fahmi
 
Lembar observasi siswa
Lembar observasi siswaLembar observasi siswa
Lembar observasi siswa
Alby Alyubi
 
Ringkasan Materi Kuliah PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
Ringkasan Materi Kuliah PERKEMBANGAN  PESERTA DIDIKRingkasan Materi Kuliah PERKEMBANGAN  PESERTA DIDIK
Ringkasan Materi Kuliah PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
sintaroyani
 

What's hot (20)

Kesulitan belajar dan identifikasi kesulitan belajar
Kesulitan belajar dan identifikasi kesulitan belajarKesulitan belajar dan identifikasi kesulitan belajar
Kesulitan belajar dan identifikasi kesulitan belajar
 
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab masalah.pptx
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab masalah.pptxLK. 1.2 Eksplorasi Penyebab masalah.pptx
LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab masalah.pptx
 
Modul 2. Pengembangan Tes Hasil Belajar
Modul 2. Pengembangan Tes Hasil BelajarModul 2. Pengembangan Tes Hasil Belajar
Modul 2. Pengembangan Tes Hasil Belajar
 
Perkembangan Intelektual pada Fase Remaja
Perkembangan Intelektual pada Fase RemajaPerkembangan Intelektual pada Fase Remaja
Perkembangan Intelektual pada Fase Remaja
 
Contoh rpp kurikulum 2013
Contoh rpp kurikulum 2013Contoh rpp kurikulum 2013
Contoh rpp kurikulum 2013
 
Kemampuan Awal Peserta Didik
Kemampuan Awal Peserta DidikKemampuan Awal Peserta Didik
Kemampuan Awal Peserta Didik
 
PENILAIAN KOGNITIF, AFEKTIF. DAN PSIKOMOTORIK
PENILAIAN KOGNITIF, AFEKTIF. DAN PSIKOMOTORIKPENILAIAN KOGNITIF, AFEKTIF. DAN PSIKOMOTORIK
PENILAIAN KOGNITIF, AFEKTIF. DAN PSIKOMOTORIK
 
STRATEGI PEMBELAJARAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
STRATEGI PEMBELAJARAN  BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUSSTRATEGI PEMBELAJARAN  BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
STRATEGI PEMBELAJARAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS
 
LK 2.1 Eksplorasi Alternatif Solusi 4 Agustus 2022.docx
LK 2.1 Eksplorasi Alternatif Solusi 4 Agustus 2022.docxLK 2.1 Eksplorasi Alternatif Solusi 4 Agustus 2022.docx
LK 2.1 Eksplorasi Alternatif Solusi 4 Agustus 2022.docx
 
Memberikan skor-dan-nilai
Memberikan skor-dan-nilaiMemberikan skor-dan-nilai
Memberikan skor-dan-nilai
 
Ppt Motivasi Belajar
Ppt Motivasi BelajarPpt Motivasi Belajar
Ppt Motivasi Belajar
 
Pengaruh detergen thdp prkcmbhan
Pengaruh detergen thdp prkcmbhanPengaruh detergen thdp prkcmbhan
Pengaruh detergen thdp prkcmbhan
 
Ruang Kolaborasi & Demostrasi Kontekstual_PSE_Topik 2.pptx
Ruang Kolaborasi & Demostrasi Kontekstual_PSE_Topik 2.pptxRuang Kolaborasi & Demostrasi Kontekstual_PSE_Topik 2.pptx
Ruang Kolaborasi & Demostrasi Kontekstual_PSE_Topik 2.pptx
 
Laporan observasi Perkembangan Siswa Sekolah Dasar Negeri 04 Jaten kec.Jaten ...
Laporan observasi Perkembangan Siswa Sekolah Dasar Negeri 04 Jaten kec.Jaten ...Laporan observasi Perkembangan Siswa Sekolah Dasar Negeri 04 Jaten kec.Jaten ...
Laporan observasi Perkembangan Siswa Sekolah Dasar Negeri 04 Jaten kec.Jaten ...
 
Ppt melawan bullying
Ppt melawan bullyingPpt melawan bullying
Ppt melawan bullying
 
Belajar Sebagai Perubahan Tingkah Laku (Makalah Belajar dan Pembelajaran)
Belajar Sebagai Perubahan Tingkah Laku (Makalah Belajar dan Pembelajaran)Belajar Sebagai Perubahan Tingkah Laku (Makalah Belajar dan Pembelajaran)
Belajar Sebagai Perubahan Tingkah Laku (Makalah Belajar dan Pembelajaran)
 
desain instruksional
desain instruksionaldesain instruksional
desain instruksional
 
Lembar observasi siswa
Lembar observasi siswaLembar observasi siswa
Lembar observasi siswa
 
Laporan PPL PPG Pasca SM-3T MUHAMAD YOGI SMAN 7 BANDUNG
Laporan PPL PPG Pasca SM-3T MUHAMAD YOGI SMAN 7 BANDUNGLaporan PPL PPG Pasca SM-3T MUHAMAD YOGI SMAN 7 BANDUNG
Laporan PPL PPG Pasca SM-3T MUHAMAD YOGI SMAN 7 BANDUNG
 
Ringkasan Materi Kuliah PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
Ringkasan Materi Kuliah PERKEMBANGAN  PESERTA DIDIKRingkasan Materi Kuliah PERKEMBANGAN  PESERTA DIDIK
Ringkasan Materi Kuliah PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK
 

Viewers also liked

Analisis hambatan emosi dan prilaku yang ebdm
Analisis hambatan emosi dan prilaku yang ebdmAnalisis hambatan emosi dan prilaku yang ebdm
Analisis hambatan emosi dan prilaku yang ebdm
naon9
 
Dampak gangguan prilaku terhadap aspek perkembangan
Dampak gangguan prilaku terhadap aspek perkembanganDampak gangguan prilaku terhadap aspek perkembangan
Dampak gangguan prilaku terhadap aspek perkembangan
erna_juwita
 
Metode Pengajaran dan Pengembangan Bahasa untuk Anak dengan Autisme
Metode Pengajaran dan Pengembangan Bahasa untuk Anak dengan AutismeMetode Pengajaran dan Pengembangan Bahasa untuk Anak dengan Autisme
Metode Pengajaran dan Pengembangan Bahasa untuk Anak dengan Autisme
Alifia_mia
 
Pendidikan anak berkebutuhan khusus (abk) pada anak yang menderita tunagrahit...
Pendidikan anak berkebutuhan khusus (abk) pada anak yang menderita tunagrahit...Pendidikan anak berkebutuhan khusus (abk) pada anak yang menderita tunagrahit...
Pendidikan anak berkebutuhan khusus (abk) pada anak yang menderita tunagrahit...
Tjoetnyak Izzatie
 
Perkembangan hubungan sosial
Perkembangan hubungan sosialPerkembangan hubungan sosial
Perkembangan hubungan sosial
mizwarsaputra69
 
Pengembangan interaksi sosial dan komunikasi anak autis
Pengembangan interaksi sosial dan komunikasi anak autisPengembangan interaksi sosial dan komunikasi anak autis
Pengembangan interaksi sosial dan komunikasi anak autis
Tiya Widiyanti
 
Makalah Psikologi Pendidikan : Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Makalah Psikologi Pendidikan : Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)Makalah Psikologi Pendidikan : Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Makalah Psikologi Pendidikan : Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Ali Murfi
 
Remaja; Perkembangan Fisik, Psikis dan Kognitif
Remaja; Perkembangan Fisik, Psikis dan KognitifRemaja; Perkembangan Fisik, Psikis dan Kognitif
Remaja; Perkembangan Fisik, Psikis dan Kognitif
Iwan Wahidin
 

Viewers also liked (20)

Analisis hambatan emosi dan prilaku yang ebdm
Analisis hambatan emosi dan prilaku yang ebdmAnalisis hambatan emosi dan prilaku yang ebdm
Analisis hambatan emosi dan prilaku yang ebdm
 
hambatan-hambatan perkembangan mata kuliah psikologi perkembangan STAIN Salatiga
hambatan-hambatan perkembangan mata kuliah psikologi perkembangan STAIN Salatigahambatan-hambatan perkembangan mata kuliah psikologi perkembangan STAIN Salatiga
hambatan-hambatan perkembangan mata kuliah psikologi perkembangan STAIN Salatiga
 
Dampak gangguan prilaku terhadap aspek perkembangan
Dampak gangguan prilaku terhadap aspek perkembanganDampak gangguan prilaku terhadap aspek perkembangan
Dampak gangguan prilaku terhadap aspek perkembangan
 
Metode Pengajaran dan Pengembangan Bahasa untuk Anak dengan Autisme
Metode Pengajaran dan Pengembangan Bahasa untuk Anak dengan AutismeMetode Pengajaran dan Pengembangan Bahasa untuk Anak dengan Autisme
Metode Pengajaran dan Pengembangan Bahasa untuk Anak dengan Autisme
 
1. anak non normatif 2012 baru
1. anak non normatif 2012 baru1. anak non normatif 2012 baru
1. anak non normatif 2012 baru
 
Pendidikan anak berkebutuhan khusus (abk) pada anak yang menderita tunagrahit...
Pendidikan anak berkebutuhan khusus (abk) pada anak yang menderita tunagrahit...Pendidikan anak berkebutuhan khusus (abk) pada anak yang menderita tunagrahit...
Pendidikan anak berkebutuhan khusus (abk) pada anak yang menderita tunagrahit...
 
Makalah Psikologi Pendidikan ABK Kesulitan Belajar
Makalah Psikologi Pendidikan ABK Kesulitan BelajarMakalah Psikologi Pendidikan ABK Kesulitan Belajar
Makalah Psikologi Pendidikan ABK Kesulitan Belajar
 
Leaflet anak autisme
Leaflet anak autismeLeaflet anak autisme
Leaflet anak autisme
 
Perkembangan sosial, moral. agama dan kepribadian masa akhir kanak kanak
Perkembangan sosial, moral. agama dan kepribadian masa akhir kanak kanakPerkembangan sosial, moral. agama dan kepribadian masa akhir kanak kanak
Perkembangan sosial, moral. agama dan kepribadian masa akhir kanak kanak
 
Perkembangan hubungan sosial
Perkembangan hubungan sosialPerkembangan hubungan sosial
Perkembangan hubungan sosial
 
Draft Pedoman Konseling Adiksi Napza
Draft Pedoman Konseling Adiksi NapzaDraft Pedoman Konseling Adiksi Napza
Draft Pedoman Konseling Adiksi Napza
 
Makalah tahapan pertumbuhan dan perkembangan pada masa remaja
Makalah tahapan pertumbuhan dan perkembangan pada masa remajaMakalah tahapan pertumbuhan dan perkembangan pada masa remaja
Makalah tahapan pertumbuhan dan perkembangan pada masa remaja
 
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT MELAYU PESISIR DAN NELAYAN
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT MELAYU PESISIR DAN NELAYANKEARIFAN LOKAL MASYARAKAT MELAYU PESISIR DAN NELAYAN
KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT MELAYU PESISIR DAN NELAYAN
 
Pengembangan interaksi sosial dan komunikasi anak autis
Pengembangan interaksi sosial dan komunikasi anak autisPengembangan interaksi sosial dan komunikasi anak autis
Pengembangan interaksi sosial dan komunikasi anak autis
 
Makalah Psikologi Pendidikan : Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Makalah Psikologi Pendidikan : Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)Makalah Psikologi Pendidikan : Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Makalah Psikologi Pendidikan : Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
 
Konsep dan Perkembangan Anak Berbakat (Gifted)
Konsep dan Perkembangan Anak Berbakat (Gifted)Konsep dan Perkembangan Anak Berbakat (Gifted)
Konsep dan Perkembangan Anak Berbakat (Gifted)
 
Pertumbuhan fisik & motorik anak usia dini, kanak-kanak dan masa remaja
Pertumbuhan fisik & motorik anak usia dini, kanak-kanak dan masa remajaPertumbuhan fisik & motorik anak usia dini, kanak-kanak dan masa remaja
Pertumbuhan fisik & motorik anak usia dini, kanak-kanak dan masa remaja
 
Remaja; Perkembangan Fisik, Psikis dan Kognitif
Remaja; Perkembangan Fisik, Psikis dan KognitifRemaja; Perkembangan Fisik, Psikis dan Kognitif
Remaja; Perkembangan Fisik, Psikis dan Kognitif
 
Masa Dewasa
Masa DewasaMasa Dewasa
Masa Dewasa
 
Permasalahan Perkembangan pada Masa Kanak-Kanak
Permasalahan Perkembangan pada Masa Kanak-KanakPermasalahan Perkembangan pada Masa Kanak-Kanak
Permasalahan Perkembangan pada Masa Kanak-Kanak
 

Similar to Konsep dan Perkembangan Anak dengan hambatan emosi dan sosial (Tunalaras)

Makalah paud gangguan penyesuaian diri
Makalah paud gangguan penyesuaian diriMakalah paud gangguan penyesuaian diri
Makalah paud gangguan penyesuaian diri
Poetra Chebhungsu
 
Perkembangan peserta didik
Perkembangan peserta didikPerkembangan peserta didik
Perkembangan peserta didik
fajar riansyah
 
Masa puber, remaja dan gadis remaja
Masa puber, remaja dan gadis remajaMasa puber, remaja dan gadis remaja
Masa puber, remaja dan gadis remaja
Nova Ci Necis
 
Analisis hambatan emosi dan prilaku yang ebdn
Analisis hambatan emosi dan prilaku yang ebdnAnalisis hambatan emosi dan prilaku yang ebdn
Analisis hambatan emosi dan prilaku yang ebdn
naon9
 
30.9 pendekatan teori psikologi kanak2
30.9 pendekatan teori psikologi kanak230.9 pendekatan teori psikologi kanak2
30.9 pendekatan teori psikologi kanak2
wakzar
 
Td10003 latihan 1 jenry saiparudin
Td10003 latihan 1 jenry saiparudinTd10003 latihan 1 jenry saiparudin
Td10003 latihan 1 jenry saiparudin
Jenry Saiparudin
 
Faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan individu
Faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan individuFaktor faktor yang mempengaruhi perkembangan individu
Faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan individu
fara dillah
 
Faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan individu
Faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan individuFaktor faktor yang mempengaruhi perkembangan individu
Faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan individu
fara dillah
 
prilaku menyimpang
prilaku menyimpang prilaku menyimpang
prilaku menyimpang
mellisaimell
 
Konseling Anak
Konseling AnakKonseling Anak
Konseling Anak
Nira Nufus
 
Perkembangan peserta didik
Perkembangan peserta didikPerkembangan peserta didik
Perkembangan peserta didik
immochacha
 
11410069_Bab_1.pdf
11410069_Bab_1.pdf11410069_Bab_1.pdf
11410069_Bab_1.pdf
phpqnz
 

Similar to Konsep dan Perkembangan Anak dengan hambatan emosi dan sosial (Tunalaras) (20)

Makalah permasalahan anak siti zalna sese
Makalah permasalahan anak siti zalna seseMakalah permasalahan anak siti zalna sese
Makalah permasalahan anak siti zalna sese
 
Makalah paud gangguan penyesuaian diri
Makalah paud gangguan penyesuaian diriMakalah paud gangguan penyesuaian diri
Makalah paud gangguan penyesuaian diri
 
Perkembangan peserta didik
Perkembangan peserta didikPerkembangan peserta didik
Perkembangan peserta didik
 
Masa puber, remaja dan gadis remaja
Masa puber, remaja dan gadis remajaMasa puber, remaja dan gadis remaja
Masa puber, remaja dan gadis remaja
 
Analisis hambatan emosi dan prilaku yang ebdn
Analisis hambatan emosi dan prilaku yang ebdnAnalisis hambatan emosi dan prilaku yang ebdn
Analisis hambatan emosi dan prilaku yang ebdn
 
Memahami Perilaku Siswa Berkebutuhan Khusus
Memahami Perilaku Siswa Berkebutuhan KhususMemahami Perilaku Siswa Berkebutuhan Khusus
Memahami Perilaku Siswa Berkebutuhan Khusus
 
Hdps 4103 Perancangan dan Pengajaran Afektif
Hdps 4103 Perancangan dan Pengajaran AfektifHdps 4103 Perancangan dan Pengajaran Afektif
Hdps 4103 Perancangan dan Pengajaran Afektif
 
30.9 pendekatan teori psikologi kanak2
30.9 pendekatan teori psikologi kanak230.9 pendekatan teori psikologi kanak2
30.9 pendekatan teori psikologi kanak2
 
Makalah permasalahan anak marlina
Makalah permasalahan anak marlinaMakalah permasalahan anak marlina
Makalah permasalahan anak marlina
 
Td10003 latihan 1 jenry saiparudin
Td10003 latihan 1 jenry saiparudinTd10003 latihan 1 jenry saiparudin
Td10003 latihan 1 jenry saiparudin
 
Faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan individu
Faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan individuFaktor faktor yang mempengaruhi perkembangan individu
Faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan individu
 
Faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan individu
Faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan individuFaktor faktor yang mempengaruhi perkembangan individu
Faktor faktor yang mempengaruhi perkembangan individu
 
prilaku menyimpang
prilaku menyimpang prilaku menyimpang
prilaku menyimpang
 
SOSiologi dwi.pdf
SOSiologi dwi.pdfSOSiologi dwi.pdf
SOSiologi dwi.pdf
 
Konseling Anak
Konseling AnakKonseling Anak
Konseling Anak
 
Permasalahan pgaud 2
Permasalahan pgaud 2Permasalahan pgaud 2
Permasalahan pgaud 2
 
Perkembangan peserta didik
Perkembangan peserta didikPerkembangan peserta didik
Perkembangan peserta didik
 
Makalah permasalahan anak siti zalna sese
Makalah permasalahan anak siti zalna seseMakalah permasalahan anak siti zalna sese
Makalah permasalahan anak siti zalna sese
 
11410069_Bab_1.pdf
11410069_Bab_1.pdf11410069_Bab_1.pdf
11410069_Bab_1.pdf
 
IMPLIKASI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN DIDALAM PENDIDIKAN : MATA KULIAH PSIKOLOGI ...
IMPLIKASI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN  DIDALAM PENDIDIKAN : MATA KULIAH PSIKOLOGI ...IMPLIKASI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN  DIDALAM PENDIDIKAN : MATA KULIAH PSIKOLOGI ...
IMPLIKASI PSIKOLOGI PERKEMBANGAN DIDALAM PENDIDIKAN : MATA KULIAH PSIKOLOGI ...
 

More from Wulan Yulian (9)

Pedoman Orientasi Mobilitas
Pedoman Orientasi Mobilitas Pedoman Orientasi Mobilitas
Pedoman Orientasi Mobilitas
 
Laporan Media Pembelajaran Membaca Permulaan dan Menulis
Laporan Media Pembelajaran Membaca Permulaan dan MenulisLaporan Media Pembelajaran Membaca Permulaan dan Menulis
Laporan Media Pembelajaran Membaca Permulaan dan Menulis
 
Konsep Anak dengan ADHD
Konsep Anak dengan ADHDKonsep Anak dengan ADHD
Konsep Anak dengan ADHD
 
Hellen Keller : Sebuah perkecualian yang menakjubkan
Hellen Keller : Sebuah perkecualian yang menakjubkanHellen Keller : Sebuah perkecualian yang menakjubkan
Hellen Keller : Sebuah perkecualian yang menakjubkan
 
Pendidikan inklusi
Pendidikan inklusiPendidikan inklusi
Pendidikan inklusi
 
Makalah teori teori motivasi (psikologi pendidikan)
Makalah teori teori motivasi (psikologi pendidikan)Makalah teori teori motivasi (psikologi pendidikan)
Makalah teori teori motivasi (psikologi pendidikan)
 
Makalah dampak globalisasi di beberapa aspek kehidupan
Makalah dampak globalisasi di beberapa aspek kehidupanMakalah dampak globalisasi di beberapa aspek kehidupan
Makalah dampak globalisasi di beberapa aspek kehidupan
 
Makalah anatomi dan fisiologi indra penglihatan
Makalah anatomi dan fisiologi indra  penglihatanMakalah anatomi dan fisiologi indra  penglihatan
Makalah anatomi dan fisiologi indra penglihatan
 
Landasan pendidikan (Pengertian Landasan Pendidikan)
Landasan pendidikan (Pengertian Landasan Pendidikan)Landasan pendidikan (Pengertian Landasan Pendidikan)
Landasan pendidikan (Pengertian Landasan Pendidikan)
 

Recently uploaded

Power point materi IPA pada materi unsur
Power point materi IPA pada materi unsurPower point materi IPA pada materi unsur
Power point materi IPA pada materi unsur
DoddiKELAS7A
 
ATP MM FASE E MATEMATIKA KELAS X KURIKULUM MERDEKA
ATP MM FASE E MATEMATIKA KELAS X KURIKULUM MERDEKAATP MM FASE E MATEMATIKA KELAS X KURIKULUM MERDEKA
ATP MM FASE E MATEMATIKA KELAS X KURIKULUM MERDEKA
VeonaHartanti
 
konsep pidato Bahaya Merokok bagi kesehatan
konsep pidato Bahaya Merokok bagi kesehatankonsep pidato Bahaya Merokok bagi kesehatan
konsep pidato Bahaya Merokok bagi kesehatan
SuzanDwiPutra
 
PPt-Juknis-PPDB-2024 (TerbarU) kabupaten GIanyar.pptx
PPt-Juknis-PPDB-2024 (TerbarU) kabupaten GIanyar.pptxPPt-Juknis-PPDB-2024 (TerbarU) kabupaten GIanyar.pptx
PPt-Juknis-PPDB-2024 (TerbarU) kabupaten GIanyar.pptx
iwidyastama85
 
Penyuluhan_pHIV_AIDS (1).ppt pada tahun 2024 di klungkung
Penyuluhan_pHIV_AIDS (1).ppt pada tahun 2024 di klungkungPenyuluhan_pHIV_AIDS (1).ppt pada tahun 2024 di klungkung
Penyuluhan_pHIV_AIDS (1).ppt pada tahun 2024 di klungkung
SemediGiri2
 
443016507-Sediaan-obat-PHYCOPHYTA-MYOPHYTA-dan-MYCOPHYTA-pptx.pptx
443016507-Sediaan-obat-PHYCOPHYTA-MYOPHYTA-dan-MYCOPHYTA-pptx.pptx443016507-Sediaan-obat-PHYCOPHYTA-MYOPHYTA-dan-MYCOPHYTA-pptx.pptx
443016507-Sediaan-obat-PHYCOPHYTA-MYOPHYTA-dan-MYCOPHYTA-pptx.pptx
ErikaPutriJayantini
 

Recently uploaded (20)

MODUL AJAR SENI TARI KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR SENI TARI KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR SENI TARI KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
Kegiatan Komunitas Belajar dalam sekolah .pptx
Kegiatan Komunitas Belajar dalam sekolah .pptxKegiatan Komunitas Belajar dalam sekolah .pptx
Kegiatan Komunitas Belajar dalam sekolah .pptx
 
MODUL AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM & BUDI PEKERTI (PAIBP) KELAS 6.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM & BUDI PEKERTI (PAIBP) KELAS 6.pdfMODUL AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM & BUDI PEKERTI (PAIBP) KELAS 6.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM & BUDI PEKERTI (PAIBP) KELAS 6.pdf
 
MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 4 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
Power point materi IPA pada materi unsur
Power point materi IPA pada materi unsurPower point materi IPA pada materi unsur
Power point materi IPA pada materi unsur
 
Materi Asuransi Kesehatan di Indonesia ppt
Materi Asuransi Kesehatan di Indonesia pptMateri Asuransi Kesehatan di Indonesia ppt
Materi Asuransi Kesehatan di Indonesia ppt
 
ATP MM FASE E MATEMATIKA KELAS X KURIKULUM MERDEKA
ATP MM FASE E MATEMATIKA KELAS X KURIKULUM MERDEKAATP MM FASE E MATEMATIKA KELAS X KURIKULUM MERDEKA
ATP MM FASE E MATEMATIKA KELAS X KURIKULUM MERDEKA
 
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR BAHASA INDONESIA KELAS 2 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
Informatika Latihan Soal Kelas Tujuh.pptx
Informatika Latihan Soal Kelas Tujuh.pptxInformatika Latihan Soal Kelas Tujuh.pptx
Informatika Latihan Soal Kelas Tujuh.pptx
 
SISTEM SARAF OTONOM_.SISTEM SARAF OTONOM
SISTEM SARAF OTONOM_.SISTEM SARAF OTONOMSISTEM SARAF OTONOM_.SISTEM SARAF OTONOM
SISTEM SARAF OTONOM_.SISTEM SARAF OTONOM
 
konsep pidato Bahaya Merokok bagi kesehatan
konsep pidato Bahaya Merokok bagi kesehatankonsep pidato Bahaya Merokok bagi kesehatan
konsep pidato Bahaya Merokok bagi kesehatan
 
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdfMODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
MODUL AJAR PENDIDIKAN PANCASILA KELAS 5 KURIKULUM MERDEKA.pdf
 
PPt-Juknis-PPDB-2024 (TerbarU) kabupaten GIanyar.pptx
PPt-Juknis-PPDB-2024 (TerbarU) kabupaten GIanyar.pptxPPt-Juknis-PPDB-2024 (TerbarU) kabupaten GIanyar.pptx
PPt-Juknis-PPDB-2024 (TerbarU) kabupaten GIanyar.pptx
 
Lokakarya tentang Kepemimpinan Sekolah 1.pptx
Lokakarya tentang Kepemimpinan Sekolah 1.pptxLokakarya tentang Kepemimpinan Sekolah 1.pptx
Lokakarya tentang Kepemimpinan Sekolah 1.pptx
 
P5 Gaya Hidup berkelanjutan gaya hidup b
P5 Gaya Hidup berkelanjutan gaya hidup bP5 Gaya Hidup berkelanjutan gaya hidup b
P5 Gaya Hidup berkelanjutan gaya hidup b
 
Bioteknologi Konvensional dan Modern kelas 9 SMP
Bioteknologi Konvensional dan Modern  kelas 9 SMPBioteknologi Konvensional dan Modern  kelas 9 SMP
Bioteknologi Konvensional dan Modern kelas 9 SMP
 
Penyuluhan_pHIV_AIDS (1).ppt pada tahun 2024 di klungkung
Penyuluhan_pHIV_AIDS (1).ppt pada tahun 2024 di klungkungPenyuluhan_pHIV_AIDS (1).ppt pada tahun 2024 di klungkung
Penyuluhan_pHIV_AIDS (1).ppt pada tahun 2024 di klungkung
 
PELAKSANAAN + Link2 MATERI Training_ "AUDIT INTERNAL + SISTEM MANAJEMEN MUTU ...
PELAKSANAAN + Link2 MATERI Training_ "AUDIT INTERNAL + SISTEM MANAJEMEN MUTU ...PELAKSANAAN + Link2 MATERI Training_ "AUDIT INTERNAL + SISTEM MANAJEMEN MUTU ...
PELAKSANAAN + Link2 MATERI Training_ "AUDIT INTERNAL + SISTEM MANAJEMEN MUTU ...
 
Pembahasan Soal Ujian Komprehensif Farmasi Perapotekan
Pembahasan Soal Ujian Komprehensif Farmasi PerapotekanPembahasan Soal Ujian Komprehensif Farmasi Perapotekan
Pembahasan Soal Ujian Komprehensif Farmasi Perapotekan
 
443016507-Sediaan-obat-PHYCOPHYTA-MYOPHYTA-dan-MYCOPHYTA-pptx.pptx
443016507-Sediaan-obat-PHYCOPHYTA-MYOPHYTA-dan-MYCOPHYTA-pptx.pptx443016507-Sediaan-obat-PHYCOPHYTA-MYOPHYTA-dan-MYCOPHYTA-pptx.pptx
443016507-Sediaan-obat-PHYCOPHYTA-MYOPHYTA-dan-MYCOPHYTA-pptx.pptx
 

Konsep dan Perkembangan Anak dengan hambatan emosi dan sosial (Tunalaras)

  • 1. 1 Anak dengan Hambatan Emosi dan Sosial (Children with Emotional and Social Disability) A. Definisi dan Konsep Anak yang Mengalami Hambatan Emosi dan Perilaku 1. Definisi Anak yang Mengalami Hambatan Emosi dan Perilaku Definisi atau pengertian anak yang mengalami hambatan emosi dan perilaku masih menjadi perdebatan. Perdebatan mengenai batasan untuk definisi gangguan emosi dan perilaku muncul karena masing – masing ahli yang mendefinisikan anak dengan gangguan emosi dan perilaku ini masih melihat dari kajian ilmunya masing-masing. Faktor yang menyebabkan ketidaksamaan definisi tunalaras, sebagai berikut : a. Para ahli dalam melakukan pengkajian ketunalarasan dari sudut pandang yang berbeda, sesuai dengan keilmuan yang dimilikinya. b. Para ahli memiliki dasar dan tujuan yang berbeda dalam merumuskan definisi. c. Pengukuran/assessment yang dilakukan berbeda dalam waktu maupun alat. d. Jenis, bentuk dan tingkat penyimpangan tingkah laku yang dialami anak sangat bervariasi. e. Perkembangan ilmu tentang pendidikan anak tunalaras dan pendidikannya cukup dinamis. Hal ini menyebabkan belum adanya definisi anak yang mengalami hambatan emosi dan perilaku yang dapat diterima secara umum. Berbagai macam istilah yang dapat digunakan untuk menunjukkan definisi mengenai gangguan emosi dan perilaku, misalnya emotional disturbances, behavior disorders, dan maladjusted children (Coleman & Weber, 2002 dalam John W. Santrock, 2007: 237). Berikut definisi anak yang mengalami hambatan emosi dan perilaku dari pandangan ahli dan menurut undang-undang dasar : a. Menurut UU-AS (Rosenberg, 1992) dijelaskan sebagai berikut : Gangguan emosi adalah suatu kondisi yang menunjukan salah satu atau lebih gejala- gejala berikut dalam kurun waktu tertentu, pada tingkat yang tinggi, dan mempengaruhi prestasi belajar. Gejala-gejala tersebut yaitu:
  • 2. 2 1) Ketidakmampuan belajar yang tidak disebabkan oleh faktor intelegensi, syaraf, dan kesehatan. 2) Ketidakmampuan bergaul atau berhubungan baik guru maupun teman. 3) Perilaku dan perasaan yang tidak wajar pada situasi normal. 4) Perasaan depresi, sedih dan murung secara terus menerus. 5) Kecenderungan merasa takut atau cemas di dalam menghadapi masalah pribadi maupun sekolah. b. Menurut Nelson (1981): Seorang anak dikatakan tunalaras, apabila tingkah laku mereka menyimpang dari ukuran menurut norma usia dan jenis kelaminnya, dilakukan dengan frekwensi dan intensitas relatif tinggi, serta dalam waktu yang relatif lama. c. Kvaraceus dan Miller (Depdikbud, 1985) Memberikan batasan bahwa : Anak tunalaras adalah individu yang tingkah lakunya tidak dewasa, melanggar peraturan yang tertulis atau tidak tertulis dengan frekwensi yang cukup tinggi. d. Definisi tunalaras dalam Peraturan Pemerintah No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan PP. No. 71 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Biasa, dinyatakan bahwa “tunalaras merupakan gangguan atau kelainan tingkah laku sehingga kurang dapat menyesuaikan diri dengan baik terhadap lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat” (Puslata Universitas Terbuka, 2008: 11) 2. Faktor – Faktor Penyebab Anak Mengalami Hambatan Emosi dan Perilaku Sebab-sebab anak menjadi tunalaras secara garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok (Rusli Ibrahim, 2005: 48), di antaranya: a. Faktor Psychologis Gangguan tingkah laku yang disebabkan terganggunya faktor psycologis. Terganggunya faktor psycologis biasanya diwujudkan dalam bentuk tingkah laku yang menyimpang, seperti: abnormal fixation, agresif, regresif, resignation, dan concept of discrepancy. b. Faktor Psychososial
  • 3. 3 Gangguan tingkah laku yang tidak hanya disebabkan oleh adanya frustrasi, melainkan juga ada pengaruh dari faktor lain, seperti pengalaman masa kecil yang tidak atau kurang menguntungkan perkembangan anak. c. Faktor Physiologis Gangguan tingkah laku yang disebabkan terganggunya proses aktivitas organ- organ tubuh, sehingga tidak atau kurang berfungsi sebagaimana mestinya, seperti terganggu atau adanya kelainan pada otak, hyper thyroid dan kelainan syaraf motoris. Penyebab kentunalarasan menurut Sutjihati Somantri (2007: 143-147), meliputi : a. Kondisi / Keadaan Fisik Masalah kondisi fisik dalam kaitannya dengan masalah gangguan emosi dan prilaku, yang merupakan akibat langsung maupun tidak langsung. Ada ahli yang meyakini bahwa disfungsi kelenjar endoktrin dapat mempengaruhi timbulnya gangguan emosi dan prilaku, atau dengan kata lain kelenjar endoktrin berpengaruh terhadap respon emosional seseorang. Gunzburg (dalam simanjuntak, 1947) menyimpulkan bahwa disfungsi kelenjar endoktrin merupakan salah satu penyebab timbulnya kejahatan. Kelenjar endoktrin ini mengeluarkan hormone yang mempengaruhi tenaga seseorang. Bila secara terus menerus mengalami gangguan, maka dapat berakibat terganggunya perkembangan fisik dan mental seseorang sehingga akan berpengaruh terhadap perkembangan wataknya. b. Masalah Perkembangan Erikson (dalam Singgih D. Gunarsa, 1985:107) menjelaskan bahwa setiap memasuki fase perkembangan baru, individu dihadapkan pada berbagai tantangan atau krisis emosi. Anak biasanya dapat mengatasi krisis emosi ini jika pada dirinya tumbuh kemampuan baru yang berasal dari adanya proses kematangan yang menyertai perkembangan. Apabila ego dapat mengatasi krisis ini, maka perkembangan ego yang matang akan terjadi sehingga inividu dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial atau masyarakatnya. Sebalikya,
  • 4. 4 apabila individu tidak dapat menyelesaikan masalah tersebut maka akan menimbulkan gangguan emosi dan tingkah laku. Konflik emosi ini terutama terjadi pada masa kanak-kanak dan masa pubertas. Adapun ciri yang menonjol yang nampak pada masa kritis ini adalah sikap menentang dan keras kepala. Kecenderungan ini di akibatkan karena anak sedang dalam proses memahami dirinya. anak jadi merasa tidak puas dengan otoritas lingkungan sehingga timbul gejolak emosi yang meledak-meledak. Emosi yang kuat sering kali meluap-luap sehingga dapat menimbulkan ketegangan dan kecemasan. Mereka sering kali menentang dan melanggar peraturan baik di rumah maupun di sekolah. Kondisi seperti ini biasanya terjadi pada masa pubertas. c. Lingkungan Keluarga Sebagai lingkungan pertama dan utama dalam kehidupan anak, keluarga memiliki pengaruh yang demikian penting dalam membentuk kepribadian anak. Keluarga lah peletak dasar perasaan aman (emotional security) pada anak, dalam keluarga pula anak memperoleh pengalaman pertama mengenai perasaan dan sikap sosial. Lingkungan keluarga yang tidak mampu memberikan dasar perasaan aman dan dasar untuk perkembangan sosial dapat menimbulkan gangguan emosi dan perilaku pada anak. Aspek yang mempengaruhi masalah gangguan emosi dan perilaku di lingkungan keluarga. 1) Kasih sayang dan perhatian Kurangnya kasih sayang dan perhatian orang tua mengakibatkan anak mencarinya di luar rumah. Dia bergabung dengan kawan-kawannya dan membentuk suatu kelompok anak yang merasa senasib. Mengenai hal ini, Sofyan S. Willis (1981) mengemukakan bahwa mereka berkelompok untuk memenuhi kebutuhan yang hampir sama, antara lain untuk mendapatkan perhatian dari orang tua dan masyarakat. Tak jarang orang tua justru memberikan kasih sayang, perhatian, dan bahkan perlindungan yang berlebihan (Over Protection). Sikap memanjakan menyebabkan ketergantungan pada anak sehingga jika anak mengalami kegagalan
  • 5. 5 dalam mencoba sesuatu ia lekas menyerah dan merasa kecewa, sehingga pada akhirnya akan timbul rasa tidak percaya diri/rendah diri pada anak. 2) Keharmonisan keluarga Ketidakharmonisan keluarga dapat disebabkan oleh pecahnya keluarga atau tidak adanya kesepakatan antara orang tua dalam menerapkan disiplin dan pendidikan terhadap anak. Kondisi keluarga yang pecah atau rumah tangga yang kacau menyebabkan anak kurang mendapatkan bimbingan yang semestinya. Berdasarkan hasil studinya, Hetherington (dalam Kirk dan Gallagher, 1986) menyimpulkan bahwa hampir semua anak yang menghadapi perceraian orang tua mengalami masa peralihan yang sangat sulit. 3) Kondisi ekonomi Lemahnya kondisi ekonomi keluarga dapat pula menjadi salah satu penyebab tidak terpenuhinya kebutuhan anak, padahal seperti kita ketahui pada diri anak akan timbul keinginan – keinginan untuk dapat menyamai temannya yang lain. Tidak terpenuhinya kebutuhan tersebut di dalam keluarga dapat mendorong anak mencari jalan sendiri yang kadang-kadang mengarah pada tindakan antisocial. G.W. Bawengan (1977) menyatakan bahwa kondisi-kondisi seperti kemiskinan atau pengangguran secara relatif dapat melengkapi rangsangan-rangsangan untuk melakukan pencurian, penipuan dan perilaku menyimpang lainnya. d. Lingkungan Sekolah Sekolah merupakan tempat pendidikan yang kedua setelah keluarga. Sekolah tidak hanya sekedar membekali anak dengan sejumlah ilmu pengetahuan tetapi sekolah juga membina kepribadian anak. Akan tetapi sekolah tidak jarang dapat menjadi penyebab timbulnya gangguan perilaku pada anak seperti yang dikemukakan Sofyan Willis (1978) bahwa dalam rangka pembinaan anak didik kearah kedewasaan kadang-kadang sekolah juga penyebab dari timbulnya kenakalan remaja. Timbulnya gangguan tingkah laku yang disebabkan lingkungan sekolah antara lain berasal dari guru sebagai tenaga pelaksana pendidikan dan fasilitas penunjang
  • 6. 6 yang dibutuhkan anak didik. Perilaku guru yang otoriter mengakibatkan anak merasa tertekan dan takut menghadapi pelajaran. Anak lebih memilih membolos dan berkeluyuran pada saat seharusnya ia berada di dalam kelas. Sebaliknya, sikap guru yang terlampau lemah dan membiarkan anak didiknya tidak disiplin mengakibatkan anak didik berbuat sesuka hati dan berani melakukan tindakan yang menentang peraturan. Selain guru, fasilitas pendidikan berpengaruh pula terhadap terjadinya gangguan tingkah laku. Sekolah yang kurang mempunyai fasilitas yang dibutuhkan anak didik untuk menyalurkan bakat dan mengisi waktu luang mengakibatkan anak menyalurkan aktifitasnya pada hal-hal yang kurang baik. e. Lingkungan Masyarakat Menurut Bandura (dalam Kirk dan Gallagher, 1986), salah satu hal yang nampak mempengaruhi pola perilaku anak dalam lingkungan sosial adalah keteladanan, yaitu menirukan perilku orang lain. Disamping pengaruh- pengaruh yang bersifat positif, di dalam lingkungan masyarakat juga terdapat banyak sumber yang merupakan pengaruh negative yang dapat memicu munculnya perilaku menyimpang. Sikap masyarakat yang negative ditambah banyaknya hiburan yang tidak sesuai dengan perkembangan jiwa anak merupakan sumber terjadinya kelainan tingkah laku. Hal ini terutama terjadi di kota-kota besar dimana tersedia berbagai fasilitas tontonan dan hiburan yang tak tersaring oleh budaya lokal. Masuknya kebudayaan asing dapat memberi dampak negatif pada anak. Anak menganggap bahwa kebudayaan asing itu benar, sementara dipihak lain masyarakat masih memegang norma-norma yang bersumber pada adat istiadat dan agama. Selanjutnya konflik juga dapat timbul pada diri anak sendiri yang disebabkan norma yang dianut di rumah atau keluarga bertentangan dengan norma dan kenyataan yang ada dalam masyarakat. B. Terminologi Anak yang Mengalami Hambatan Emosi dan Perilaku Di masyarakat kita banyak istilah untuk memberikan label kepada anak tuna laras. Istilah yang digunakan biasanya tergantung pada sudut pandang keilmuan
  • 7. 7 yang mereka geluti, Seperti : Guru pada umumnya, menyebut anak sulit diatur, anak sukar, anak nakal. Guru PLB (Pedagog), menyebut anak tuna laras. Ahli social (Social Worker), Menyebut anak gangguan social. Ahli psikologi (Psikolog), anak terganggu emosi atau anak terhambat emosi. Ahli hokum (Lowyer), menyebut anak pra-nakal, anak nakal, anak pelanggar hokum. Orang tua dan masyarakat awam, bias any menyebut anak nakal, anak keras kepala, anak jahat, dan sebagainya. Dalam literature asing (Inggris) yang mengupas tentang pendidikan dan psikoterapi bagi anak yang gangguan emosi dan social, banyak ditemukan istilah yang bermakna “sama” dengan istilah anak tuna laras, diantaranya : a. Serious Emotional Disturbance Children (Anak yang mengalami gangguan emosi pada taraf serius). b. Emotional Conflict Children (Anak yang mengalami konflik emosi). c. Emotional Distrubance Children (Anak yang terganggu perkembangan emosi). d. Emotional Handicap Children ( Anak yang terhambat perkembangan emosi). e. Emotional Empairment Children ( Anak yang mengalami kerusakan fungsi emosi). f. Serious Emotional Disability Children (Anak yang mengalami ketidakmampuan mengendalikan emosi secara serius). g. Behavior Disorder Children (Anak yang berperilaku tidak teratur/menimpang). h. Behavior Handicap Children (Anak yang mengalami hambatan dalam perilaku). i. Behavior Impairment Children (Anak yang mengalami kerusakan dalam perilaku). j. Severe Behavior Handicap Children (Anak yang terhambat perilaku taraf berat). k. Social and Emotional Maladjusment Children (Anak yang tidak dapat menyesuaikan diri karena gangguan social dan emosi).
  • 8. 8 l. Emotional and Behavior Disorder Children (anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku tidak teratur). m. Social and Emotional Disturbance Children (Anak yang terganggu perkembangan social dan emosi). n. Juvenile Delinquency (Anak/remaja nakal). Memperhatikan istilah-istilah di atas, ada beberapa hal yang perlu dipahami, yaitu : a. Istilah-istilah tersebut menunjukan makna yang sama. Yaitu adanya penyimpangan/kelainan/hambatan tingkah laku pada anak. b. Penyimpangan tingkah laku (ketunalarasan) sebagai dampak gangguan/hambatan perkembangan pada aspek emosi, sosial, atau kedua- duanya. c. Dikatakan ketunalarasan apabila gejala penyimpangan/kelainan/gangguan pada taraf serius (berat dan sangat berat). d. Sudut pandang yang digunakan yaitu dari kacamata Psikologi, Sosiologis, Pedagogik, dan Hukum. C. Karakteristik Anak yang Mengalami Hambatan Emosi dan Perilaku Batasan anak tunalaras menurut Kauffman dalam Somantri (2006) yaitu sebagai anak yang secara nyata dan menahun merespon lingkungan tanpa ada kepuasan pribadi namun masih dapat diajarkan perilaku-perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat.dan dapat memuaskan pribadinya. Anak tunalaras dalam berbagai disiplin ilmu memiliki kesamaan, terutama pada karakeristiknya. Maka, dapat diketahui sebagai berikut karakteristik : a. Ketidakmampuan untuk belajar yang tidak dapat dijelaskan oleh intelektual, sensorik atau faktor kesehatan lainnya. b. Ketidakmampuan untuk membangun atau mempertahankan hubungan interpersonal yang memuaskan dengan teman sebaya maupun guru. c. Bentuk ketidaktepatan perilaku atau perasaan dalam kondisi normal. d. Suatu suasana hati yang mendalam dari ketidakbahagiaan atau depresi.
  • 9. 9 e. Kecenderungan untuk mengembangkan gejala fisik, sakit atau ketakutan yang terkait dengan masalah pribadi atau sekolah (psikosomatis). D. Dampak Hambatan Emosi dan Perilaku terhadap Perkembangan 1. Perkembangan Kognitif Dalam berbagai riset IQ, anak tunalaras rata-rata berada pada rentangan dull normal (sekitar IQ 90), dan hanya sedikit yang berada di atas normal (cerdas). Salah satu tolok ukur kecerdasan adalah prestasi belajar. Namun keadaan tersebut tidak dapat diberlakukan pada anak tunalaras. Misalnya prestasi anak tunalaras rendah, hal itu tidak dapat dijadikan acuan kecerdasan anak tunalaras sebab prestasi belajar anak tunalaras seringkali mengalami under achiever (prestasi belajar di bawah kemampuan yang sebenarnya). Prestasi anak tunalaras yang rendah di sekolah disebabkan mereka kehilangan minat dan konsentrasi belajar karena masalah gangguan emosi yang mereka alami. Kegagalan dalam belajar di sekolah seringkali menimbulkan anggapan bahwa mereka memiliki intelegensi yang rendah. Kelemahan dalam perkembangan kecerdasan ini justru yang menjadi penyebab timbulnya gangguan tingkah laku. Masalah yang dihadapi anak dengan intelegensi rendah di sekolah adalah ketidakmampuan untuk menyamai teman-temannya, padahal pada dasarnya seorang anak tidak ingin berbeda dengan kelompoknya terutama yang berkaitan dengan prestasi belajar. Mengenai hal ini Ny. Singgih Gunarsa (1982) mengemukakan bahwa kecemasan dirinya berbeda dengan kelompoknya menimbulkan kesulitan pada anak dengan cara penyelesaian yang seringkali tidak sesuai dengan cara penyesuaian yang wajar. Moerdiani (1987) menilai bahwa rendahnya prestasi belajar anak tunalaras di sekolah diduga karena kehilangan minat belajar dan konsentrasi belajar rendah akibat gangguan emosi. Di samping itu, mereka pada umumnya membenci sekolah sebab sekolah menuntut anak tunalaras untuk mentaati peraturan atau norma-norma yang berlaku. Ketidakmampuan anak untuk bersaing dengan teman-temannya dalam belajar dapat menyebabkan anak frustasi dan kehilangan kepercayaan pada dirinya
  • 10. 10 sendiri sehingga anak mencari kompensasi yang sifatnya negatif, misalnya: membolos, lari dari rumah, berkelahi, mengacau dalam kelas, dan sebagainya. Akibat lain dari kelemahan intelegensi ini terhadap gangguan tingkah laku adalah ketidakmampuan anak untuk memperhitungkan sebab akibat dari suatu perbuatan, mudah dipengaruhi serta mudah pula terperosok ke dalam tingkah laku yang negatif. 2. Perkembangan Sosial-Emosi Menurut Sutjihati Somantri (2007: 151) terganggunya perkembangan emosi merupakan penyebab dari kelainan tingkah laku anak tunalaras. Ciri yang menonjol pada anak tunalaras adalah kehidupan emosi yang tidak stabil, ketidakmampuan mengekspresikan emosinya secara tepat, dan pengendalian diri yang kurang sehingga anak tunalaras seringkali menjadi sangat emosional. Terganggunya kehidupan emosi ini terjadi akibat ketidakberhasilan anak dalam melewati fase-fase perkembangan. Kematangan emosional anak tunalaras ditentukan dari hasil interaksi dengan lingkungannya, dimana anak belajar tentang bagaimana emosi itu hadir dan bagaimana cara untuk mengekpresikan emosi- emosi tersebut. Perkembangan emosi ini berlangsung secara terus menerus sesuai dengan perkembangan usia. Menurut Rusli Ibrahim (2005: 51) anak-anak tunalaras terlambat perkembangan sikap-sikap sosial dan emosionalnya. Sikap-sikap tersebut dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari dari interaksinya dengan lingkungan, seperti : a. Tidak mampu menyesuaikan diri dengan pola-pola kelompok yang lebih luas dan kesadaran sosial mereka sangat rendah. b. Menuntut perhatian yang terus menerus dari lingkungannya dan mereka suka bermain sendirian. c. Dalam kelompok, biasanya selalu mengikuti bukannya memimpin. Sikap-sikap tersebut di atas bila dibiarkan akan mengakibatkan semakin berat dalam bersosialisai. Anak tunalaras akan menjadi sulit untuk beperilaku dewasa, dan akan mengalami kemunduran sikap-sikap sosial dan emosional. Kondisi
  • 11. 11 emosi anak tunalaras cenderung tidak stabil dan ketidak stabilan aspek emosi ini dapat dilihat pada tingkah lakunya sehari-hari. Anak tunalaras sering menampakkan perilaku yang meyimpang, seperti mudah tersinggung, sedih, acuh tak acuh, keras kepala, merasa cemas, agresif, menarik diri dari pergaulan dan sebagainya. Sebagaimana telah kita pahami bahwa anak tunalaras mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial dengan orang lain atau lingkungannya. Hal ini tidak berarti bahwa mereka sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk membentuk hubungan sosial dengan semua orang. Dalam banyak kejadian ternyata mereka dapat menjalin hubungan sosial yang sangat erat dengan teman- temannya. Mereka mampu membentuk suatu kelompok yang kompak dan akrab serta membangun keterikatan antara yang satu dengan yang lainnya. Anak tunalaras memiliki penghayatan yang keliru, baik tehadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan sosialnya. Mereka menganggap dirinya tak berguna bagi orang lain dan merasa tidak berperasaan. Oleh karena itu timbullah kesulitan apabila akan menjalin hubungan dengan mereka. Apabila berhasil sekalipun mereka akan menjadi sangat tergantung kepada seseorang yang pada akhirnya dapat menjalin hubungan sosial dengannya. Karakteristik sosial/emosional tunalaras dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Karakteristik Sosial Masalah yang menimbulkan gangguan bagi orang lain: 1) Perilaku itu tidak diterima masyarakat, biasanya melanggar norma budaya. 2) Perilaku itu bersifat menggangu, dan dapat dikenai sanksi oleh kelompok sosial. 3) Perilaku itu ditandai dengan tindakan agresif, yaitu : a) Tidak mengikuti aturan. b) Bersifat mengganggu. c) Bersifat membangkang dan menentang. d) Tidak dapat bekerjasama. e) Melakukan tindakan yang melanggar hukum dan kejahatan remaja.
  • 12. 12 b. Karakteristik Emosional 1) Hal-hal yang menimbulkan penderitaan bagi anak, misalnya tekanan batin dan rasa cemas. 2) Ditandai dengan rasa gelisah, rasa malu, rendah diri, ketakutan dan sifat perasa/sensitif. Kelainan tingkah laku yang dialami anak tunalaras mempunyai dampak negatif bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sosialnya. Perasaan tidak berguna bagi orang lain, perasaan rendah diri, tidak percaya diri, perasaan bersalah menyebabkan mereka merasakan adanya jarak dengan lingkungannya. Salah satu dampak serius yang mereka alami adalah tekanan batin berkepanjangan sehingga menimbulkan perasaan merusak diri mereka sendiri. Bila mereka kurang mendapatkan perhatian dan penanganan dengan segera, maka mereka akan semakin terperosok dan jarak yang memisahkan mereka dari lingkungannya. Mengenai tekanan batin yang bekepanjangan ini menurut Schoss (Kirk & Gallagher, 1986) disebabkan oleh hal-hal berikut: a. Ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness) Anak-anak telah mempergunakan semua perilaku penyesuaiannya untuk mencoba mengatasi keadaan yang sulit. Ketidakmampuan mereka untuk mengatasi kesulitan tersebut menjadi tergeneralisasi sehingga ketika mereka mempunyai perilaku yang baik sekalipun mereka tidakmau mempergunakannya. Mereka mengarahkan kegagalannya pada faktor yang tak terkendali, tidak dapat merespon dengan baik terhadap stimuli sosial atau peristiwa, cenderung mengurangi usaha yang dilakukan setelah mengalami kegagalan, dan menunjukkan rasa rendah diri. b. Keterampilan sosial yang minim (social skill deficiency) Perkembangan kepribadian yang tertekan akan menimbulkan kekurangterampilan dalam memperoleh penguatan (reinforcement) perilaku sosial yang positif. Kondisi ini akan mengurangi terjadinya interaksi sosial yang positif. c. Konsekuensi paksaan (coercive consequences)
  • 13. 13 Tekanan batin yang berlarut-larut tergantung pada konsekuensi paksaan. Jika anak yang sedang cemas menarik diri menerima reaksi positif dari lingkungannya (simpati, dukungan, jaminan,dll) mereka tetap gagal mengembangkan perilaku pribadi dan keterampilan sosial yang mengarah kepada perilaku yang efektif. Menghadapi keadaan diatas, kita hendaknya dapat mempengaruhi lingkungan mereka, mengajar dan menguatkan keterampilan sosial antarpribadi yang lebih efektif, serta menghindarkan mereka dari ketergantungan dan penguatan ketakberdayaan. Bahwa perilaku menyimpang pada anak tunalaras merugikan lingkungannya kiranya sudah jelas dan seringkali orang tua maupun guru merasa kehabisan akal menghadapi anak dengan gangguan perilaku seperti ini. 3. Perolehan Bahasa Anak yang Mengalami Hambatan Emosi dan Perilaku Pemerolehan bahasa dan komunikasi anak tunalaras yaitu bergaul dan berhubungan sosial baik hanya dengan teman sebaya yang menuruti kehendaknya. Tapi dengan orang dewasa sulit. Komunikasi dengan orang lain cenderung menggunakan bahasa yang kasar. Anak tunalaras mengalami hambatan dalam melakukan interaksi sosial dengan orang lain. Ketidakmampuan anak tunalaras dalam melalui interaksi sosial yang baik dengan lingkungannya disebabkan oleh pengalaman-pengalaman yang tidak/kurang menyenangkan. Salah satu dampak serius yang mereka alami adalah tekanan batin berkepanjangan sehingga menimbulkan perasaan merusak diri mereka sendiri. Bila mereka kurang mendapatkan perhatian dan penanganan dengan segera, maka mereka akan semakin terperosok dan jarak yang memisahkan mereka dari lingkungan sosialnya akan semakin bertambah lebar. Karakteristik anak tunalaras relatif berbeda dengan anak berkebutuhan khusus lainnya ataupun anak normal pada umumnya. Perbedaan karakteristik tersebut muncul sebagai akibat dari ketunalarasan yang disandangnya. Ketidakmatangan emosi dan sosial selalu berdampak pada keseluruhan perilaku dan pribadinya, termasuk dalam belajarnya. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa anak tunalaras memiliki perbedaan dengan anak normal, baik dalam bahasa lisan, maupun bahasa tulisan.
  • 14. 14 Hambatan yang dialami oleh anak tunalaras dalam berbahasa memiliki pengaruh yang cukup luas, terutama dalam kemampuan berkomunikasi dengan orang lain, sebab dalam berkomunikasi terlebih dahulu harus memiliki keterampilan berbahasa yang cukup, yaitu terampil menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Hambatan berbahasa diwarnai banyak faktor yang mempengaruhinya, diantaranya: “faktor pengajar, faktor pengajar dan faktor sistem” (Tarigan:1987). Faktor yang mengakibatkan lemahnya kemampuan berbahasa pada anak tunalaras, Anderson S. Lynch dalam Nursaid (1992:6), mengemukakan: a. Faktor lingkungan, misalnya keakuratan penyimak mendengarkan bunyi- bunyi bahasa atau ujaran-ujaran. b. Tingkat kesukaran kata, frase, dan kalimat-kalimat yang digunakan pengajar. c. Kondisi kejiwaan penyimak, misalnya tidak memiliki waktu yang memadai untuk melakukan kegiatan menyimak atau terburu-buru. d. Kecenderungan isi pesan yang mempengaruhi sikap penyimak. e. Faktor ekstra linguistic, misalnya kemampuan penyimak untuk mendayagunakan isyarat-isyarat lingkungan tempat berlangsungnya proses menyimak untuk menyusun pemahamannya. Hallahan dan Kaufman (1977) mengemukakan bahwa “anak tunalaras banyak mengalami kesulitan dalam satu atau lebih bidang studi, seperti membaca”. Menurut Badudu (1990) “Pengajaran tidak ditekankan pada segi keterampilan berbahasa, tetapi lebih banyak pada pengetahuan bahasa”. Dan hasil penelitian Pratomo, (1995) menyimpulkan bahwa “pendekatan komunikatif mampu membantu siswa untuk memiliki keterampilan berbahasa baik lisan maupun tulisan”. Pengalaman berinteraksi agar peserta didik dapat menggunakan bahasa secara komunikatif dalam berbagai aktivitas telah direncanakan secara bervariasi melalui berbagai rangsangan, seperti tave recorder, rangsangan gambar, bahan bacaan penggunaan lingkungan sekitar yang relevan dengan tema dan kebutuhan
  • 15. 15 berkomunikasi. Dalam merencanakan evaluasi pembelajaran guru tidak hanya merencanakan alat evaluasi untuk mengukur hasil belajar semata, tetapi telah berusaha memahami bagaimana rumusan evaluasi yang dapat dilaksanakan selama proses pembelajaran. Dalam perencanaan evaluasi pembelajaran, guru menggunakan istilah asesmen, karena asesmen lebih luas cakupannya daripada evaluasi. Lebih lanjut Oller (1979) dalam Halimah (2002:176), mengemukakan bahwa “evaluasi dalam berkomunikasi hendaknya lebih ditekankan pada kemampuan menghasilkan dan memahami informasi, bukan semata-mata pada ketepatan bahasa yang dipergunakan dan apabila terjadi kesalahan berbahasa baru diperhitungkan apabila mengganggu kelancaran berkomunikasi”. Agar anak tunalaras memiliki keterampilan berbahasa sebagaimana layaknya anak pada umumnya, hendaknya dalam pembelajaran bahasa Indonesia mengembangkan pendekatan komunikatif dan menyediakan sarana yang memadai untuk kegiatan pembelajaran. 4. Dampak Ketunalarasan dalam Kegiatan Belajar Sebagaimana kelompok khusus anak luar biasa, anak tunalaras memiliki karakteristik tersendiri dalam belajarnya, yang relatif berbeda dengan kelompok anak luar biasa yang lain ataupun anak normal. Perbedaan karakteristik tersebut muncul sebagai akibat dari ketunalarasan yang disandangnya. Diketahui bahwa ketidakmatangan sosial dan atau emosionalnya selalu berdampak pada keseluruhan prilaku dan pribadinya, termasuk dalam perilaku belajarnya. Secara umum dikatakan bahwa proses belajar akan berlangsung secara optimal, bila salah satu diantaranya ada kesiapan psikologis dari peserta didik. Anak tunalaras karena ketidakmatangan dalam aspek sosial dan atau emosional jelas akan menghambat kesiapan psikologisnya, sehingga optimalisasi proses belajarnya juga akan terhambat. Karakteristik perilaku belajar anak tunalaras tidak jauh berbeda, bahkan sulit dibedakan dengan kelompok anak tunagrahita dan anak berkesulitan belajar, yang membedakan hanyalah bahwa pada anak tunalaras frekuensi lebih tinggi dan
  • 16. 16 selalu tertuju pada perilaku-perilaku maladaptive. Hasil studi lain juga menunjukkan bahwa anak tunalaras pada umumnya memiliki IQ yang rendah, prestasi rendah,dan juga berasal dari kelas sosial yang rendah pula. Mereka juga banyak mengalami kesulitan dalam satu atau lebih bidang studi, seperti membaca dan matematika, serta perilakunya tidak memenuhi harapan sesuai dengan usia dan kemampuannya (Hallahan dan Kaufman, 1977 ; Chary, 1966 ; Kvaraceus,1961 ; Scarpitti, 1964). Terlepas dari kajian Cruickshank diatas, berikut ini merupakan ciri-ciri menonjol yang sering dijumpai pada anak tunalaras dalam belajarnya : a. Daya konsentrasi terbatas b. Kurang mampu belajar dari pengalaman c. Kurang motivasi d. Kurang disiplin e. Kurang memiliki motif berprestasi f. Kurang memiliki sikap kerjasama dan toleransi g. Sensitif terhadap hal-hal yang dianggap merugikan dirinya. h. Kurang memiliki kesabaran i. Kurang mampu berfikir secara komperehensif dan kemampuan analisisnya rendah. j. Memiliki cara-cara tersendiri dalam mengolah dan memahami informasi. k. Cepat melakukan imitasi dan identifikasi terhadap hal-hal diluar dirinya yang dianggap menarik. l. Sugestible, mudah dipengaruhi dan terpengaruh oleh lingkungan m. Cenderung mengabaikan tugas dan tanggung jawab yang diberikan n. Cenderung tunduk pada guru tertentu yang memiliki kelebihan sesuai dengan interesnya.