SlideShare a Scribd company logo
1 of 56
PERATURAN 
BARIS BERBARIS 
MG. ROBERT F. D 
NO. 01036 - 0407
Keluaran 18 : 21 
Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu 
orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, 
orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci 
kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di 
antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, 
pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh 
orang dan pemimpin sepuluh orang.
Acuan 
PBB-TNI AKMIL, Nomor: SKEP/23/III/2002, tanggal 
4 Maret 2002 
Tujuan 
Agar peserta MGR mengerti dan dapat 
melaksanakan Peraturan Baris Berbaris sesuai 
dengan ketentuan.
Di dalam peraturan ini dibagi dalam 2 bagian yaitu 
baris berbaris dengan menggunakan senjata dan 
baris berbaris tanpa senjata. 
Peraturan baris berbaris militer tanpa senjata 
tersebut diterapkan disemua kegiatan baris 
berbaris dan tidak boleh menerapkan aturan-aturan 
sendiri.
Penjelasan tentang 
Materi 
Baris-berbaris sebagai suatu wujud latihan 
ketangkasan yang diperlukan untuk 
menanamkan kedisiplinan dalam kehidupan MGR 
yang diarahkan pada terbentuknya suatu sikap 
dan perwatakan tertentu. 
Pengetahuan dan ketangkasan 
baris berbaris merupakan bekal 
dasar yang harus dimiliki setiap 
peserta MGR sehingga 
mempunyai disiplin dan rasa 
percaya diri yang tinggi.
Seorang pelatih/komandan/pimpinan harus benar-benar 
memiliki pengetahuan dan ketangkasan 
PBB secara mendalam agar ia mampu membekali 
dan melatih segenap anggotanya dalam rangka 
mewujudkan bentuk sikap dan disiplin MGR serta 
mewujudkan jiwa korsa yang handal dalam 
satuannya.
Apa itu Baris 
Berbaris ? 
Pengertian 
Baris berbaris adalah suatu ujud 
latihan fisik, yang diperlukan guna 
menanamkan kebiasaan dalam tata 
cara kehidupan yang diarahkan 
kepada terbentuknya suatu 
perwatakan tertentu.
Maksud dan tujuan 
Untuk menumbuhkan sikap jasmani yang tegap 
dan tangkas, rasa persatuan dan disiplin 
sehingga selalu dapat mengutamakan 
kepentingan tugas diatas kepentingan pribadi 
disamping juga menanamkan rasa tanggung 
jawab. 
Yang dimaksud dengan 
menumbuhkan sikap jasmani yang 
tegap tangkas adalah mengarahkan 
pertumbuhan tubuh yang diperlukan 
oleh tugas pokok, sehingga secara 
jasmani dapat menjalankan tugas 
pokok tersebut dengan sempurna.
Yang dimaksud rasa persatuan adalah adanya 
rasa senasib sepenanggungan serta ikatan yang 
sangat diperlukan dalam menjalankan tugas. 
Yang dimaksud rasa disiplin adalah 
mengutamakan kepentingan tugas di atas 
kepentingan pribadi yang pada hakikatnya tidak 
lain daripada keikhlasan penyisihan pilihan hati 
sendiri.
Yang dimaksud rasa tanggung jawab adalah 
keberanian untuk bertindak yang mengandung 
resiko terhadap dirinya, tetapi menguntungkan 
tugas atau sebaliknya tidak mudah melakukan 
tindakan-tindakan yang akan dapat merugikan.
Aba-aba 
Pengertian 
Aba-aba adalah suatu perintah yang 
diberikan oleh seseorang Pemimpin 
kepada yang dipimpin untuk 
dilaksanakannya pada waktunya secara 
serentak atau berturut-turut.
Macam aba-aba 
Ada tiga macam aba-aba yaitu : 
1) Aba-aba petunjuk 
Aba-aba petunjuk dipergunakan 
hanya jika perlu untuk menegaskan 
maksud daripada aba-aba 
peringatan/pelaksanaan. 
Contoh: 
a) Kepada Pemimpin Upacara - Hormat - GERAK 
b) Untuk amanat-istirahat di tempat - GERAK
2) Aba-aba peringatan 
Aba-aba peringatan adalah inti 
perintah yang cukup jelas, untuk 
dapat dilaksanakan tanpa ragu-ragu. 
Contoh: 
a) Lencang kanan - GERAK 
b) Istirahat di tempat - 
GERAK
3) Aba-aba pelaksanaan 
Aba-aba pelaksanaan adalah ketegasan 
mengenai saat untuk melaksanakan aba-aba 
petunjuk/peringatan dengan cara 
serentak atau berturut-turut. 
Aba-aba pelaksanakan yang digunakan 
adalah 
a) GERAK 
b) JALAN 
c) MULAI
GERAK : adalah untuk gerakan-gerakan kaki 
yang dilakukan tanpa meninggalkan tempat dan 
gerakan-gerakan yang memakai anggota tubuh 
lain. 
JALAN : adalah utuk gerakan-gerakan kaki 
yang dilakukan dengan meninggalkan tempat. 
MULAI : adalah untuk dipakai 
pada pelaksanaan perintah yang 
harus dikerjakan berturut-turut.
Cara memberi aba-aba 
Pada waktu memberi aba-aba, pemberi aba-aba 
pada dasarnya harus berdiri dalam 
sikap sempurna dan menghadap pasukan. 
A. 
B. Apabila aba-aba yang diberikan itu berlaku 
pula untuk si pemberi aba-aba, maka pada 
saat memberi aba-aba tidak menghadap 
pasukan. 
Dalam rangka menyiapkan 
pasukan pada saat Irup 
memasuki lapangan upacara dan 
setelah amanat Irup selesai , 
Dan Up tidak menghadap 
pasukan. 
C.
D. Pada taraf permulaan latihan , aba-aba yang 
ditujukan kepada pasukan yang sedang 
bergerak (berjalan/berlari), aba-aba 
pelaksanaannya harus selalu bertepatan 
dengan jatuhnya salahsatu kaki tertentu 
yang pelaksanaan geraknya dilakukan 
dengan tambahan : satu langkah pada waktu 
berjalan atau tiga langkah pada waktu 
berlari.
Pada taraf lanjutan, aba-aba pelaksanaan dapat 
diberikan bertepatan dengan jatuhnya kaki 
yang berlawanan yang pelaksanaan 
gerakannya dilakukan dengan tambahan dua 
langkah pada waktu berjalan atau empat 
langkah pada waktu berlari, kemudian berhenti 
atau maju dengan mengubah bentuk dan arah 
pada pasukan. 
E.
F. Semua aba-aba diucapkan dengan suara 
nyaring, tegas dan bersemangat 
G. 
Pemberian aba-aba petunjuk yang 
dirangkaikan dengan aba-aba peringatan dan 
pelaksanaan, pengucapannya tidak diberi 
nada. 
H. 
Pemberian aba-aba peringatan 
wajib diberi nada pada suku kata 
pertama dan terakhir. Nada suku 
kata terakhir diucapkan lebih 
panjang menurut besar kecilnya 
pasukan. Aba-aba pelaksanaan 
senantiasa diucapkan dengan 
cara yang di“hentakkan”.
I. Waktu antara aba-aba peringatan dengan aba-aba 
pelaksanaan diperpanjang sesuai dengan 
besar kecilnya pasukan dan atau tingkatan 
perhatian pasukan (konsentrasi perhatian). 
Dilarang memberikan keterangan-keterangan 
lain di sela-sela aba-aba pelaksanaan. 
J. Bila ada suatu bagian aba-aba yang diperlukan 
pembetulan, maka dikeluarkan perintah 
“ulangi”.
CARA MELATIH BERHIMPUN 
Formasi 
Berhimpun, 
bentuknya 
mengikat, jumlah 
saf tidak mengikat
Pada dasarnya berkumpul selalu dilakukan 
dengan bersaf, kecuali jika keadaan ruang tidak 
memungkinkan. 
Aba-aba : “Bersaf, kumpul … MULAI!” 
Pelaksanaan: 
Komandan/pelatih menunjuk 
seorang anggota untuk berdiri 
kurang lebih 4 langkah 
didepannya, sebagai penjuru. 
Perintahnya sebagai berikut, 
misal: “Robert sebagai penjuru!” 
a.
b. Anggota yang ditunjuk sebagai penjuru 
mengambil sikap sempurna dan menghadap 
penuh kepada pemberi perintah, selanjutnya 
mengulangi perintah sbb : “Siap, “Robert 
sebagai penjuru”. 
c. Penjuru mengambil sikap untuk berlari 
kemudian berlari menuju pemberi perintah. 
d. Pada waktu aba-aba bersaf/ berbanjar kumpul, 
maka seluruh anggota lainnya mengambil sikap 
sempurna dan menghadap penuh pada pemberi 
aba-aba.
Pada aba-aba pelaksanaan: “MULAI”, anggota 
lainnya dengan serentak mengambil sikap lari 
dan berlari menuju disamping kiri/belakang 
penjuru secara berturut-turut. Selanjutnya 
penjuru memberi isyarat: “LURUSKAN”, anggota 
secara berturut-turut meluruskan diri. 
e. 
Cara meluruskan diri ke samping (jika bersaf) 
sbb: Meluruskan lengan kanan ke samping 
kanan dengan tangan digenggam disentuhkan 
bahu kiri orang di sebelah kanannya, punggung 
tangan menghadap ke atas. 
f.
Kepala dipalingkan ke kanan dan meluruskan diri, 
hingga dapat melihat dada orang-orang di sebelah 
kanannya. Penjuru yang ditunjuk pada waktu 
berkumpul melihat ke kiri, setelah barisan 
terlihat lurus maka penjuru memberikan isyarat 
dengan mengucapkan: “LURUS”, lengan 
diturunkan serempak sambil mengembalikan 
pandangan ke arah depan.
Cara meluruskan diri ke depan (jika berbanjar) 
sbb: Meluruskan lengan kanannya ke depan 
dengan tangan digenggam, punggung tangan 
menghadap ke atas dan mengambil jarak satu 
lengan ditambah dua kepal dari orang yang ada 
di depannya serta meluruskan diri ke depan. 
g. 
Setelah orang yang paling 
belakang/banjar kanan yang paling 
belakang melihat barisannya sudah 
lurus maka ia memberikan isyarat 
dengan mengucapkan: “LURUS”. 
Pada isyarat ini serentak 
menurunkan lengan kanan dan 
kembali ke sikap sempurna.
MELATIH MENINGGALKAN BARISAN 
Apabila pelatih/komandan memberikan perintah 
kepada seseorang dari barisannya, terlebih dahulu 
ia memanggil orang itu keluar barisan dan 
memberikan perintahnya setelah orang itu telah 
berdiri dalam keadaan sikap sempurna. Orang yang 
menerima perintah ini harus mengulangi perintah 
tersebut sebelum melaksanakan perintah itu 
dengan semangat.
Tata cara keluar barisan 
Bila pasukan bersaf 
Untuk saf depan, tidak perlu balik kanan tetapi 
langsung menuju ke arah yang memanggil. 
1. 
2. Untuk saf tengah dan belakang, balik kanan 
kemudian melalui belakang saf paling 
belakang, selanjutnya memilih jalan terdekat 
menuju arah pemanggil. 
Untuk orang yang berada di 
ujung kanan atau kiri tanpa 
balik kanan langsung menuju 
arah yang memanggil 
(termasuk saf tengah: 2, 3, …). 
3.
Bila pasukan berbanjar 
Untuk saf depan, tidak perlu balik kanan tetapi 
langsung menuju ke arah yang memanggil. 
1. 
Untuk saf dibelakang saf pertama, untuk 
banjar tengah setelah balik kanan kemudian 
melalui belakang safnya sendiri, selanjutnya 
memilih jalan terdekat menuju arah pemanggil. 
Untuk banjar kanan/kiri tanpa balik kanan 
terus memilih jalan yang terdekat menuju arah 
yang memanggil. 
2.
Cara menyampaikan laporan apabila anggota 
pasukan dipanggil ketika sedang dalam barisan: 
Pelatih/komandan memanggil seorang 
anggotanya yang bernama Robert: “Robert tampil 
ke depan !”. Kemudian Robert menjawab dalam 
posisi sikap sempurna: “Siap, Robert tampil ke 
depan”, kemudian keluar barisan dengan 
tatacara keluar barisan dan menghadap 4-6 
langkah didepan pemanggil. 
1.
Kemudian mengucapkan: “Lapor, siap 
menghadap”. Selanjutnya menunggu perintah. 
2. 
3. Setelah menerima perintah/petunjuk, ia 
mengulangi perintah tersebut. 
Contoh : “Berikan aba-aba di tempat!” 
Mengulangi : ”Berikan aba-aba di tempat”. 
Selanjutnya melaksanakan perintah yang 
diberikan oleh pemanggil, yaitu memberikan 
aba-aba ditempat.
4. Setelah selesai melaksanakan perintah/petunjuk 
kemudian menghadap 4-6 langkah di depan 
pemberi perintah/yang memanggil dan 
mengucapkan: “Memberikan aba-aba ditempat 
telah dilaksanakan, laporan selesai”. 
5. Setelah mendapat perintah: “Kembali ke 
tempat!”, anggota tersebut mengulangi perintah 
kemudian balik kanan dan kembali ke tempat.
Gerakan Perorangan – Gerakan Dasar 
Sikap sempurna 
Aba-aba : Siap - GERAK. 
Pelaksanaan: 
Pada aba-aba pelaksanaan 
badan/tubuh berdiri tegap, 
ke dua tumit rapat, ke dua 
telapak kaki membentuk 
sudut 60…
lutut lurus paha dirapatkan, berat badan di atas ke 
dua kaki, perut ditarik sedikit, dada dibusungkan, 
pundak ditarik sedikit ke belakang dan tidak 
dinaikkan, lengan rapat pada badan, pergelangan 
tangan lurus, jari-jari tangan menggenggam tidak 
terpaksa rapat pada paha, ibu jari segaris dengan 
jahitan celana, leher lurus, dagu ditarik, mulut 
ditutup, gigi dirapatkan, mata memandang tajam ke 
depan, benafas sewajarnya.
Istirahat 
Aba-aba : istirahat ditempat – GERAK 
Pada aba-aba pelaksanaan, kaki kiri dipindahkan ke 
samping kiri dengan jarak sepanjang telapak kaki 
(30cm) 
Ke dua belah tangan dibawa ke 
belakang dan dibawah pinggang, 
punggung tangan kanan di atas 
telapak tangan kiri, tangan kanan 
dikepalkan dengan dilemaskan, 
tangan kiri memegang pergelangan 
tangan kanan di antara ibu jari dan 
telunjuk, ke dua tangan 
dilemaskan, badan dapat bergerak.
LENCANG KANAN/KIRI 
Dilakukan hanya dalam bentuk bersaf, 
aba-aba: “Lencang kanan/kiri … GERAK!” 
Pelaksanaan : 
Gerakan ini dilaksanakan dalam 
sikap sempurna. Pada aba-aba 
pelaksanaan semua mengangkat 
lengan kanan/kiri ke samping 
kanan/kiri, jari-jari menggenggam 
disentuhkan bahu kiri/kanan orang 
di sebelah kanan/kirinya, punggung 
tangan menghadap ke atas.
Kepala dipalingkan ke kanan/kiri dan meluruskan 
diri, kecuali penjuru kanan/kiri (tetap menghadap 
ke depan, sikap sempurna), hingga dapat melihat 
dada orang-orang di sebelah kanan/kirinya. 
(Acuan kelurusan adalah tumit sepatu, bukan 
ujung. Pelatih/komandan dapat memberikan 
acuan kelurusan dari samping barisan). 
Catatan: kalau lebih dari satu saf, 
maka bagi mereka yang tidak 
berada di saf depan, kecuali 
penjuru, setelah meluruskan ke 
depan dengan pandangan mata, 
ikut pula memalingkan muka ke 
samping dengan tidak mengangkat 
lengan.
Penjuru pada saf bukan paling depan mengambil 
antara ke depan dan setelah lurus menurunkan 
lengan. Setelah masing-masing dirinya berdiri 
lurus dalam barisan, maka semua berdiri di 
tempatnya dengan memalingkan muka ke arah 
penjuru. 
Pada aba-aba: “Tegak …GERAK!”, 
semua anggota menurunkan 
lengan dengan serempak sambil 
mengembalikan pandangan ke 
arah depan, sikap sempurna.
SETENGAH LENGAN LENCANG KANAN/KIRI 
Aba-aba: 
“Setengah lengan, lencang kanan/kiri … GERAK!”. 
Pelaksanaan: seperti lencang kanan/kiri, tetapi 
tangan kanan/kiri di pinggang dengan siku 
menyentuh lengan orang di sebelah kanan/kirinya, 
pergelangan tangan lurus, ibu jari di sebelah 
belakang, keempat jari lainnya rapat di sebelah 
depan.
LENCANG DEPAN 
Hanya dalam bentuk berbanjar, 
aba-aba: “Lencang depan … GERAK!”. 
Pelaksanaan: 
penjuru tetap sikap sempurna, orang 
ke-dua dan seterusnya meluruskan 
ke depan dengan mengangkat 
lengan. Bila lebih dari satu banjar, 
maka saf terdepan mengambil 
antara satu setengah lengan di 
samping kanan, setelah lurus 
menurunkan lengan serta 
menegakkan kepala kembali dengan 
serempak.
CARA BERHITUNG 
Aba-aba: “Hitung … MULAI!”. 
Pelaksanaan: 
jika bersaf, maka pada aba-aba peringatan, penjuru 
tetap melihat ke depan sedangkan anggota lainnya 
pada saf depan memalingkan muka ke kanan. Pada 
aba-aba pelaksanaan, berturut-turut tiap anggota 
mulai dari penjuru kanan menyebut nomornya sambil 
memalingkan muka kembali ke depan.
Jika berbanjar, pada aba-aba peringatan semua 
tetap pada sikap sempurna.pada aba-aba 
pelaksanaan tiap anggota mulai dari penjuru depan 
ke belakang menyebut nomornya masing-masing. 
Penyebutan nomor diucapkan penuh.
PERUBAHAN ARAH 
Hadap kanan/kiri 
Aba-aba: “Hadap kanan/kiri … GERAK!”. 
Pelaksanaan: kaki kiri/kanan diajukan melintang 
didepan kaki kanan/kiri, lekuk kaki kiri/kanan 
beradadi ujung kaki kanan/kiri, berat badan 
berpindah ke kaki kiri/kanan. Tumit kaki kanan/kiri 
dengan badan diputar ke kanan/kiri 90°. 
Tumit kaki kanan/kiri dengan 
badan diputar ke kanan/kiri 90°. 
Kaki kiri/kanan dirapatkan 
kembali ke kaki kanan/kiri seperti 
posisi sikap sempurna.
Hadap serong kanan/kiri 
Aba-aba: “Hadap serong kanan/kiri … GERAK!”. 
Pelaksanaan: kaki kiri/kanan diajukan ke depan 
sejajar kaki kanan/kiri. Tumit kaki kanan/kiri 
dengan badan diputar ke kanan/kiri 45°. Kaki 
kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri 
seperti posisi sikap sempurna.
Balik kanan 
Aba-aba: “Balik kanan … GERAK!”. 
Pelaksanaan: kaki kiri diajukan melintang (lebih 
dalam) didepan kaki kanan, berat badan 
berpindah ke kaki kiri. Tumit kaki kanan dengan 
badan diputar ke kanan 180°. Kaki kiri dirapatkan 
kembali ke kaki kanan seperti posisi sikap 
sempurna.
MEMBUKA/MENUTUP BARISAN 
Buka barisan 
Aba-aba: “Buka barisan … JALAN!” 
Pelaksanaan: pada aba-aba pelaksanaan banjar 
kanan dan kiri masing-masing membuat langkah 
ke samping kanan dan kiri satu langkah. Banjar 
tengah tetap di tempat.
Tutup barisan 
Aba-aba : “Tutup barisan … JALAN!”. 
Pelaksanaan: pada aba-aba pelaksanaan banjar 
kanan dan kiri masing-masing membuat langkah 
ke samping kiri dan kanan satu langkah, kembali 
ke posisi semula. Banjar tengah tetap di tempat.
BUBAR 
Aba-aba : “Bubar …JALAN!”. 
Pelaksanaan: pada aba-aba pelaksanaan setiap 
anggota menyampaikan penghormatan kepada 
pelatih/komandan, setelah dibalas kembali ke sikap 
sempurna, melakukan gerakan ‘balik kanan’ dan 
pada hitungan tertentu (dalam hati) melakukan 
gerakan seperti langkah pertama dalam gerakan 
‘maju … jalan’, selanjutnya bubar menuju ke tempat 
masing-masing.
Bila pelatih/komandan menghendaki tidak ada 
penghormatan, aba-aba didahului dengan aba-aba-aba 
petunjuk: “Tanpa penghormatan, bubar … 
JALAN!”. Pasukan langsung balik kanan tanpa 
memberikan penghormatan dahulu, dst.
MAJU JALAN 
Dari sikap sempurna, aba-aba : “Maju … JALAN!” 
Pada aba-aba pelaksanaan, kaki kiri diajukan ke 
depan, lutut lurus, telapak kaki diangkat rata 
sejajar dengan tanah setinggi + 20 cm, kemudian 
dihentakkan ke tanah dengan jarak satu langkah, 
dan selanjutnya berjalan dengan langkah biasa. 
Langkah pertama dilakukan dengan 
melenggangkan lengan kanan ke 
depan 90°, lengan kiri ke belakang 
30° dengan tangan menggenggam.
Pada langkah-langkah selanjutnya lengan atas dan 
bawah lurus dilenggangkan ke depan 45° dan ke 
belakang 30°. Tangan kanan depan mengambil dua 
titik yang terletak dalam satu garis sebagai arah 
barisan. Seluruh anggota meluruskan barisan ke 
depan dengan melihat pada belakang leher. 
Dilarang berbicara ataupun melihat ke kanan/kiri. 
Pada waktu melenggang, lengan tidak kaku. 
Dari langkah biasa, aba-aba: 
“Langkah tegap … JALAN!” 
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan 
diberikan pada waktu kaki kiri 
jatuh di tanah, ditambah satu 
langkah kemudian mulai berjalan 
langkah tegap.
LANGKAH TEGAP 
Dari sikap sempurna, aba-aba: “Langkah tegap, 
maju … JALAN!”. 
Pelaksanaan: mulai berjalan dengan kaki kiri, 
langkah pertama tidak berlebihan, telapak kaki 
rapat dan sejajar dengan tanah, lutut lurus, kaki 
diangkat tidak terlalu tinggi. Bersamaan dengan 
langkah pertama, tangan menggenggam, punggung 
tangan menghadap ke samping luar, ibu jari tangan 
menghadap ke atas. Lenggang lengan ke depan 90° 
dan ke belakang 30°.
Ketika sedang berjalan ‘langkah tegap’ kembali ke 
langkah biasa. 
Aba-aba: “Langkah biasa … JALAN!” 
Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan diberikan 
sewaktu kaki kiri/kanan jatuh di tanah ditambah 
satu langkah, langkah pertama dihentakkan dan 
mulai berjalan dengan langkah biasa.
LANGKAH SEWAKTU 
LDAarRi Isikap sempurna. 
Aba-aba: “Lari, maju … JALAN!”. 
Pelaksanaan: pada aba-aba peringatan, kedua 
tangan dikepalkan lemas dan diletakkan di 
pinggang sebelah depan dengan punggung tangan 
menghadap ke luar, kedua siku sedikit ke belakang, 
badan agak dicondongkan ke depan. 
Pada aba-aba pelaksanaan, dimulai 
lari dengan menghentakkan kaki kiri 
satu langkah dan selanjutnya lari 
dengan panjang langkah 80 cm, 
tempo 165 langkah/menit. Kaki 
diangkat secukupnya, telapak kaki 
diletakkan mengenai tanah pada 
ujungnya terlebih dahulu, lengan 
dilenggangkan lemas.
Dari langkah biasa, aba-aba: “Lari … JALAN!”. 
Pada aba-aba peringatan, gerakan sama dengan 
poin a, aba-aba pelaksanaan diberikan saat kaki 
kiri/kanan jatuh ke tanah, kemudian ditambah 
satu langkah, dst. 
Kembali ke langkah biasa, 
Aba-aba: “Langkah biasa … JALAN!”. 
Aba-aba pelaksanaan diberikan 
saat kaki kiri jatuh di tanah 
ditambah tiga langkah, kemudian 
berjalandengan langkah biasa 
dimulai dengan kaki kiri yang 
dihentakkan disertai dengan 
lenggangan tangan.
1 pbb

More Related Content

Similar to 1 pbb

Ekstrakurikuler Pramuka Kelas VII & VIII.pptx
Ekstrakurikuler Pramuka Kelas VII & VIII.pptxEkstrakurikuler Pramuka Kelas VII & VIII.pptx
Ekstrakurikuler Pramuka Kelas VII & VIII.pptx
ImamMansyur3
 
Peraturan baris-berbaris
Peraturan baris-berbarisPeraturan baris-berbaris
Peraturan baris-berbaris
Brama Kumbara
 
Tugas pengetahuan pjok
Tugas pengetahuan pjokTugas pengetahuan pjok
Tugas pengetahuan pjok
Mila Putri
 
Tugas kelompok 12 motorik
Tugas kelompok 12 motorikTugas kelompok 12 motorik
Tugas kelompok 12 motorik
porja_b
 
Materi pelajaran penjas
Materi pelajaran penjasMateri pelajaran penjas
Materi pelajaran penjas
Safa Syakila
 

Similar to 1 pbb (20)

Ekstrakurikuler Pramuka Kelas VII & VIII.pptx
Ekstrakurikuler Pramuka Kelas VII & VIII.pptxEkstrakurikuler Pramuka Kelas VII & VIII.pptx
Ekstrakurikuler Pramuka Kelas VII & VIII.pptx
 
Peraturan baris berbaris
Peraturan baris berbarisPeraturan baris berbaris
Peraturan baris berbaris
 
120105040-PANDUAN-KAWAD-KRS-DAN-TKRS.doc
120105040-PANDUAN-KAWAD-KRS-DAN-TKRS.doc120105040-PANDUAN-KAWAD-KRS-DAN-TKRS.doc
120105040-PANDUAN-KAWAD-KRS-DAN-TKRS.doc
 
120105040 panduan-kawad-krs-dan-tkrs
120105040 panduan-kawad-krs-dan-tkrs120105040 panduan-kawad-krs-dan-tkrs
120105040 panduan-kawad-krs-dan-tkrs
 
Materi PBB.pdf
Materi PBB.pdfMateri PBB.pdf
Materi PBB.pdf
 
Materi baris-berbaris Pramuka
Materi baris-berbaris PramukaMateri baris-berbaris Pramuka
Materi baris-berbaris Pramuka
 
Peraturan baris-berbaris
Peraturan baris-berbarisPeraturan baris-berbaris
Peraturan baris-berbaris
 
Peraturan baris-berbaris
Peraturan baris-berbarisPeraturan baris-berbaris
Peraturan baris-berbaris
 
Soalan spot
Soalan spotSoalan spot
Soalan spot
 
Tugas pengetahuan pjok
Tugas pengetahuan pjokTugas pengetahuan pjok
Tugas pengetahuan pjok
 
100899473 senam-lantai
100899473 senam-lantai100899473 senam-lantai
100899473 senam-lantai
 
341832468-Kawad-Kaki.pptx
341832468-Kawad-Kaki.pptx341832468-Kawad-Kaki.pptx
341832468-Kawad-Kaki.pptx
 
Makalah tolak peluru, mapel olahraga
Makalah tolak peluru, mapel olahragaMakalah tolak peluru, mapel olahraga
Makalah tolak peluru, mapel olahraga
 
Makalah Olahraga Lari
Makalah Olahraga LariMakalah Olahraga Lari
Makalah Olahraga Lari
 
Bab ii
Bab iiBab ii
Bab ii
 
Pengertian upacara bendera
Pengertian upacara benderaPengertian upacara bendera
Pengertian upacara bendera
 
Tugas kelompok 12 motorik
Tugas kelompok 12 motorikTugas kelompok 12 motorik
Tugas kelompok 12 motorik
 
Materi penjasorkes kelas x smstr 1 dan 2
Materi penjasorkes kelas x smstr 1 dan 2Materi penjasorkes kelas x smstr 1 dan 2
Materi penjasorkes kelas x smstr 1 dan 2
 
Lompat jangkit
Lompat jangkitLompat jangkit
Lompat jangkit
 
Materi pelajaran penjas
Materi pelajaran penjasMateri pelajaran penjas
Materi pelajaran penjas
 

More from Agus Hariyatno (11)

2 peraturan akademik_dan_tata_tertib
2 peraturan akademik_dan_tata_tertib2 peraturan akademik_dan_tata_tertib
2 peraturan akademik_dan_tata_tertib
 
Program kerja wakasek
Program kerja wakasekProgram kerja wakasek
Program kerja wakasek
 
Sk ppjb-tahun-2015
Sk ppjb-tahun-2015Sk ppjb-tahun-2015
Sk ppjb-tahun-2015
 
apa ya
apa yaapa ya
apa ya
 
1 sm
1 sm1 sm
1 sm
 
4 pengelolaan-sapras
4 pengelolaan-sapras4 pengelolaan-sapras
4 pengelolaan-sapras
 
1 pbb
1 pbb1 pbb
1 pbb
 
Kls 8 buku siswa ipa kurikulum 2013
Kls 8 buku siswa ipa kurikulum 2013Kls 8 buku siswa ipa kurikulum 2013
Kls 8 buku siswa ipa kurikulum 2013
 
1. gerak lurus1
1. gerak lurus11. gerak lurus1
1. gerak lurus1
 
Ipa 2 a
Ipa 2 aIpa 2 a
Ipa 2 a
 
Ktsp smp n 1 btrd terbaru
Ktsp smp n 1 btrd terbaruKtsp smp n 1 btrd terbaru
Ktsp smp n 1 btrd terbaru
 

1 pbb

  • 1. PERATURAN BARIS BERBARIS MG. ROBERT F. D NO. 01036 - 0407
  • 2. Keluaran 18 : 21 Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang.
  • 3. Acuan PBB-TNI AKMIL, Nomor: SKEP/23/III/2002, tanggal 4 Maret 2002 Tujuan Agar peserta MGR mengerti dan dapat melaksanakan Peraturan Baris Berbaris sesuai dengan ketentuan.
  • 4. Di dalam peraturan ini dibagi dalam 2 bagian yaitu baris berbaris dengan menggunakan senjata dan baris berbaris tanpa senjata. Peraturan baris berbaris militer tanpa senjata tersebut diterapkan disemua kegiatan baris berbaris dan tidak boleh menerapkan aturan-aturan sendiri.
  • 5. Penjelasan tentang Materi Baris-berbaris sebagai suatu wujud latihan ketangkasan yang diperlukan untuk menanamkan kedisiplinan dalam kehidupan MGR yang diarahkan pada terbentuknya suatu sikap dan perwatakan tertentu. Pengetahuan dan ketangkasan baris berbaris merupakan bekal dasar yang harus dimiliki setiap peserta MGR sehingga mempunyai disiplin dan rasa percaya diri yang tinggi.
  • 6. Seorang pelatih/komandan/pimpinan harus benar-benar memiliki pengetahuan dan ketangkasan PBB secara mendalam agar ia mampu membekali dan melatih segenap anggotanya dalam rangka mewujudkan bentuk sikap dan disiplin MGR serta mewujudkan jiwa korsa yang handal dalam satuannya.
  • 7. Apa itu Baris Berbaris ? Pengertian Baris berbaris adalah suatu ujud latihan fisik, yang diperlukan guna menanamkan kebiasaan dalam tata cara kehidupan yang diarahkan kepada terbentuknya suatu perwatakan tertentu.
  • 8. Maksud dan tujuan Untuk menumbuhkan sikap jasmani yang tegap dan tangkas, rasa persatuan dan disiplin sehingga selalu dapat mengutamakan kepentingan tugas diatas kepentingan pribadi disamping juga menanamkan rasa tanggung jawab. Yang dimaksud dengan menumbuhkan sikap jasmani yang tegap tangkas adalah mengarahkan pertumbuhan tubuh yang diperlukan oleh tugas pokok, sehingga secara jasmani dapat menjalankan tugas pokok tersebut dengan sempurna.
  • 9. Yang dimaksud rasa persatuan adalah adanya rasa senasib sepenanggungan serta ikatan yang sangat diperlukan dalam menjalankan tugas. Yang dimaksud rasa disiplin adalah mengutamakan kepentingan tugas di atas kepentingan pribadi yang pada hakikatnya tidak lain daripada keikhlasan penyisihan pilihan hati sendiri.
  • 10. Yang dimaksud rasa tanggung jawab adalah keberanian untuk bertindak yang mengandung resiko terhadap dirinya, tetapi menguntungkan tugas atau sebaliknya tidak mudah melakukan tindakan-tindakan yang akan dapat merugikan.
  • 11. Aba-aba Pengertian Aba-aba adalah suatu perintah yang diberikan oleh seseorang Pemimpin kepada yang dipimpin untuk dilaksanakannya pada waktunya secara serentak atau berturut-turut.
  • 12. Macam aba-aba Ada tiga macam aba-aba yaitu : 1) Aba-aba petunjuk Aba-aba petunjuk dipergunakan hanya jika perlu untuk menegaskan maksud daripada aba-aba peringatan/pelaksanaan. Contoh: a) Kepada Pemimpin Upacara - Hormat - GERAK b) Untuk amanat-istirahat di tempat - GERAK
  • 13. 2) Aba-aba peringatan Aba-aba peringatan adalah inti perintah yang cukup jelas, untuk dapat dilaksanakan tanpa ragu-ragu. Contoh: a) Lencang kanan - GERAK b) Istirahat di tempat - GERAK
  • 14. 3) Aba-aba pelaksanaan Aba-aba pelaksanaan adalah ketegasan mengenai saat untuk melaksanakan aba-aba petunjuk/peringatan dengan cara serentak atau berturut-turut. Aba-aba pelaksanakan yang digunakan adalah a) GERAK b) JALAN c) MULAI
  • 15. GERAK : adalah untuk gerakan-gerakan kaki yang dilakukan tanpa meninggalkan tempat dan gerakan-gerakan yang memakai anggota tubuh lain. JALAN : adalah utuk gerakan-gerakan kaki yang dilakukan dengan meninggalkan tempat. MULAI : adalah untuk dipakai pada pelaksanaan perintah yang harus dikerjakan berturut-turut.
  • 16. Cara memberi aba-aba Pada waktu memberi aba-aba, pemberi aba-aba pada dasarnya harus berdiri dalam sikap sempurna dan menghadap pasukan. A. B. Apabila aba-aba yang diberikan itu berlaku pula untuk si pemberi aba-aba, maka pada saat memberi aba-aba tidak menghadap pasukan. Dalam rangka menyiapkan pasukan pada saat Irup memasuki lapangan upacara dan setelah amanat Irup selesai , Dan Up tidak menghadap pasukan. C.
  • 17. D. Pada taraf permulaan latihan , aba-aba yang ditujukan kepada pasukan yang sedang bergerak (berjalan/berlari), aba-aba pelaksanaannya harus selalu bertepatan dengan jatuhnya salahsatu kaki tertentu yang pelaksanaan geraknya dilakukan dengan tambahan : satu langkah pada waktu berjalan atau tiga langkah pada waktu berlari.
  • 18. Pada taraf lanjutan, aba-aba pelaksanaan dapat diberikan bertepatan dengan jatuhnya kaki yang berlawanan yang pelaksanaan gerakannya dilakukan dengan tambahan dua langkah pada waktu berjalan atau empat langkah pada waktu berlari, kemudian berhenti atau maju dengan mengubah bentuk dan arah pada pasukan. E.
  • 19. F. Semua aba-aba diucapkan dengan suara nyaring, tegas dan bersemangat G. Pemberian aba-aba petunjuk yang dirangkaikan dengan aba-aba peringatan dan pelaksanaan, pengucapannya tidak diberi nada. H. Pemberian aba-aba peringatan wajib diberi nada pada suku kata pertama dan terakhir. Nada suku kata terakhir diucapkan lebih panjang menurut besar kecilnya pasukan. Aba-aba pelaksanaan senantiasa diucapkan dengan cara yang di“hentakkan”.
  • 20. I. Waktu antara aba-aba peringatan dengan aba-aba pelaksanaan diperpanjang sesuai dengan besar kecilnya pasukan dan atau tingkatan perhatian pasukan (konsentrasi perhatian). Dilarang memberikan keterangan-keterangan lain di sela-sela aba-aba pelaksanaan. J. Bila ada suatu bagian aba-aba yang diperlukan pembetulan, maka dikeluarkan perintah “ulangi”.
  • 21. CARA MELATIH BERHIMPUN Formasi Berhimpun, bentuknya mengikat, jumlah saf tidak mengikat
  • 22. Pada dasarnya berkumpul selalu dilakukan dengan bersaf, kecuali jika keadaan ruang tidak memungkinkan. Aba-aba : “Bersaf, kumpul … MULAI!” Pelaksanaan: Komandan/pelatih menunjuk seorang anggota untuk berdiri kurang lebih 4 langkah didepannya, sebagai penjuru. Perintahnya sebagai berikut, misal: “Robert sebagai penjuru!” a.
  • 23. b. Anggota yang ditunjuk sebagai penjuru mengambil sikap sempurna dan menghadap penuh kepada pemberi perintah, selanjutnya mengulangi perintah sbb : “Siap, “Robert sebagai penjuru”. c. Penjuru mengambil sikap untuk berlari kemudian berlari menuju pemberi perintah. d. Pada waktu aba-aba bersaf/ berbanjar kumpul, maka seluruh anggota lainnya mengambil sikap sempurna dan menghadap penuh pada pemberi aba-aba.
  • 24. Pada aba-aba pelaksanaan: “MULAI”, anggota lainnya dengan serentak mengambil sikap lari dan berlari menuju disamping kiri/belakang penjuru secara berturut-turut. Selanjutnya penjuru memberi isyarat: “LURUSKAN”, anggota secara berturut-turut meluruskan diri. e. Cara meluruskan diri ke samping (jika bersaf) sbb: Meluruskan lengan kanan ke samping kanan dengan tangan digenggam disentuhkan bahu kiri orang di sebelah kanannya, punggung tangan menghadap ke atas. f.
  • 25. Kepala dipalingkan ke kanan dan meluruskan diri, hingga dapat melihat dada orang-orang di sebelah kanannya. Penjuru yang ditunjuk pada waktu berkumpul melihat ke kiri, setelah barisan terlihat lurus maka penjuru memberikan isyarat dengan mengucapkan: “LURUS”, lengan diturunkan serempak sambil mengembalikan pandangan ke arah depan.
  • 26. Cara meluruskan diri ke depan (jika berbanjar) sbb: Meluruskan lengan kanannya ke depan dengan tangan digenggam, punggung tangan menghadap ke atas dan mengambil jarak satu lengan ditambah dua kepal dari orang yang ada di depannya serta meluruskan diri ke depan. g. Setelah orang yang paling belakang/banjar kanan yang paling belakang melihat barisannya sudah lurus maka ia memberikan isyarat dengan mengucapkan: “LURUS”. Pada isyarat ini serentak menurunkan lengan kanan dan kembali ke sikap sempurna.
  • 27. MELATIH MENINGGALKAN BARISAN Apabila pelatih/komandan memberikan perintah kepada seseorang dari barisannya, terlebih dahulu ia memanggil orang itu keluar barisan dan memberikan perintahnya setelah orang itu telah berdiri dalam keadaan sikap sempurna. Orang yang menerima perintah ini harus mengulangi perintah tersebut sebelum melaksanakan perintah itu dengan semangat.
  • 28. Tata cara keluar barisan Bila pasukan bersaf Untuk saf depan, tidak perlu balik kanan tetapi langsung menuju ke arah yang memanggil. 1. 2. Untuk saf tengah dan belakang, balik kanan kemudian melalui belakang saf paling belakang, selanjutnya memilih jalan terdekat menuju arah pemanggil. Untuk orang yang berada di ujung kanan atau kiri tanpa balik kanan langsung menuju arah yang memanggil (termasuk saf tengah: 2, 3, …). 3.
  • 29. Bila pasukan berbanjar Untuk saf depan, tidak perlu balik kanan tetapi langsung menuju ke arah yang memanggil. 1. Untuk saf dibelakang saf pertama, untuk banjar tengah setelah balik kanan kemudian melalui belakang safnya sendiri, selanjutnya memilih jalan terdekat menuju arah pemanggil. Untuk banjar kanan/kiri tanpa balik kanan terus memilih jalan yang terdekat menuju arah yang memanggil. 2.
  • 30. Cara menyampaikan laporan apabila anggota pasukan dipanggil ketika sedang dalam barisan: Pelatih/komandan memanggil seorang anggotanya yang bernama Robert: “Robert tampil ke depan !”. Kemudian Robert menjawab dalam posisi sikap sempurna: “Siap, Robert tampil ke depan”, kemudian keluar barisan dengan tatacara keluar barisan dan menghadap 4-6 langkah didepan pemanggil. 1.
  • 31. Kemudian mengucapkan: “Lapor, siap menghadap”. Selanjutnya menunggu perintah. 2. 3. Setelah menerima perintah/petunjuk, ia mengulangi perintah tersebut. Contoh : “Berikan aba-aba di tempat!” Mengulangi : ”Berikan aba-aba di tempat”. Selanjutnya melaksanakan perintah yang diberikan oleh pemanggil, yaitu memberikan aba-aba ditempat.
  • 32. 4. Setelah selesai melaksanakan perintah/petunjuk kemudian menghadap 4-6 langkah di depan pemberi perintah/yang memanggil dan mengucapkan: “Memberikan aba-aba ditempat telah dilaksanakan, laporan selesai”. 5. Setelah mendapat perintah: “Kembali ke tempat!”, anggota tersebut mengulangi perintah kemudian balik kanan dan kembali ke tempat.
  • 33. Gerakan Perorangan – Gerakan Dasar Sikap sempurna Aba-aba : Siap - GERAK. Pelaksanaan: Pada aba-aba pelaksanaan badan/tubuh berdiri tegap, ke dua tumit rapat, ke dua telapak kaki membentuk sudut 60…
  • 34. lutut lurus paha dirapatkan, berat badan di atas ke dua kaki, perut ditarik sedikit, dada dibusungkan, pundak ditarik sedikit ke belakang dan tidak dinaikkan, lengan rapat pada badan, pergelangan tangan lurus, jari-jari tangan menggenggam tidak terpaksa rapat pada paha, ibu jari segaris dengan jahitan celana, leher lurus, dagu ditarik, mulut ditutup, gigi dirapatkan, mata memandang tajam ke depan, benafas sewajarnya.
  • 35. Istirahat Aba-aba : istirahat ditempat – GERAK Pada aba-aba pelaksanaan, kaki kiri dipindahkan ke samping kiri dengan jarak sepanjang telapak kaki (30cm) Ke dua belah tangan dibawa ke belakang dan dibawah pinggang, punggung tangan kanan di atas telapak tangan kiri, tangan kanan dikepalkan dengan dilemaskan, tangan kiri memegang pergelangan tangan kanan di antara ibu jari dan telunjuk, ke dua tangan dilemaskan, badan dapat bergerak.
  • 36. LENCANG KANAN/KIRI Dilakukan hanya dalam bentuk bersaf, aba-aba: “Lencang kanan/kiri … GERAK!” Pelaksanaan : Gerakan ini dilaksanakan dalam sikap sempurna. Pada aba-aba pelaksanaan semua mengangkat lengan kanan/kiri ke samping kanan/kiri, jari-jari menggenggam disentuhkan bahu kiri/kanan orang di sebelah kanan/kirinya, punggung tangan menghadap ke atas.
  • 37. Kepala dipalingkan ke kanan/kiri dan meluruskan diri, kecuali penjuru kanan/kiri (tetap menghadap ke depan, sikap sempurna), hingga dapat melihat dada orang-orang di sebelah kanan/kirinya. (Acuan kelurusan adalah tumit sepatu, bukan ujung. Pelatih/komandan dapat memberikan acuan kelurusan dari samping barisan). Catatan: kalau lebih dari satu saf, maka bagi mereka yang tidak berada di saf depan, kecuali penjuru, setelah meluruskan ke depan dengan pandangan mata, ikut pula memalingkan muka ke samping dengan tidak mengangkat lengan.
  • 38. Penjuru pada saf bukan paling depan mengambil antara ke depan dan setelah lurus menurunkan lengan. Setelah masing-masing dirinya berdiri lurus dalam barisan, maka semua berdiri di tempatnya dengan memalingkan muka ke arah penjuru. Pada aba-aba: “Tegak …GERAK!”, semua anggota menurunkan lengan dengan serempak sambil mengembalikan pandangan ke arah depan, sikap sempurna.
  • 39. SETENGAH LENGAN LENCANG KANAN/KIRI Aba-aba: “Setengah lengan, lencang kanan/kiri … GERAK!”. Pelaksanaan: seperti lencang kanan/kiri, tetapi tangan kanan/kiri di pinggang dengan siku menyentuh lengan orang di sebelah kanan/kirinya, pergelangan tangan lurus, ibu jari di sebelah belakang, keempat jari lainnya rapat di sebelah depan.
  • 40. LENCANG DEPAN Hanya dalam bentuk berbanjar, aba-aba: “Lencang depan … GERAK!”. Pelaksanaan: penjuru tetap sikap sempurna, orang ke-dua dan seterusnya meluruskan ke depan dengan mengangkat lengan. Bila lebih dari satu banjar, maka saf terdepan mengambil antara satu setengah lengan di samping kanan, setelah lurus menurunkan lengan serta menegakkan kepala kembali dengan serempak.
  • 41. CARA BERHITUNG Aba-aba: “Hitung … MULAI!”. Pelaksanaan: jika bersaf, maka pada aba-aba peringatan, penjuru tetap melihat ke depan sedangkan anggota lainnya pada saf depan memalingkan muka ke kanan. Pada aba-aba pelaksanaan, berturut-turut tiap anggota mulai dari penjuru kanan menyebut nomornya sambil memalingkan muka kembali ke depan.
  • 42. Jika berbanjar, pada aba-aba peringatan semua tetap pada sikap sempurna.pada aba-aba pelaksanaan tiap anggota mulai dari penjuru depan ke belakang menyebut nomornya masing-masing. Penyebutan nomor diucapkan penuh.
  • 43. PERUBAHAN ARAH Hadap kanan/kiri Aba-aba: “Hadap kanan/kiri … GERAK!”. Pelaksanaan: kaki kiri/kanan diajukan melintang didepan kaki kanan/kiri, lekuk kaki kiri/kanan beradadi ujung kaki kanan/kiri, berat badan berpindah ke kaki kiri/kanan. Tumit kaki kanan/kiri dengan badan diputar ke kanan/kiri 90°. Tumit kaki kanan/kiri dengan badan diputar ke kanan/kiri 90°. Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri seperti posisi sikap sempurna.
  • 44. Hadap serong kanan/kiri Aba-aba: “Hadap serong kanan/kiri … GERAK!”. Pelaksanaan: kaki kiri/kanan diajukan ke depan sejajar kaki kanan/kiri. Tumit kaki kanan/kiri dengan badan diputar ke kanan/kiri 45°. Kaki kiri/kanan dirapatkan kembali ke kaki kanan/kiri seperti posisi sikap sempurna.
  • 45. Balik kanan Aba-aba: “Balik kanan … GERAK!”. Pelaksanaan: kaki kiri diajukan melintang (lebih dalam) didepan kaki kanan, berat badan berpindah ke kaki kiri. Tumit kaki kanan dengan badan diputar ke kanan 180°. Kaki kiri dirapatkan kembali ke kaki kanan seperti posisi sikap sempurna.
  • 46. MEMBUKA/MENUTUP BARISAN Buka barisan Aba-aba: “Buka barisan … JALAN!” Pelaksanaan: pada aba-aba pelaksanaan banjar kanan dan kiri masing-masing membuat langkah ke samping kanan dan kiri satu langkah. Banjar tengah tetap di tempat.
  • 47. Tutup barisan Aba-aba : “Tutup barisan … JALAN!”. Pelaksanaan: pada aba-aba pelaksanaan banjar kanan dan kiri masing-masing membuat langkah ke samping kiri dan kanan satu langkah, kembali ke posisi semula. Banjar tengah tetap di tempat.
  • 48. BUBAR Aba-aba : “Bubar …JALAN!”. Pelaksanaan: pada aba-aba pelaksanaan setiap anggota menyampaikan penghormatan kepada pelatih/komandan, setelah dibalas kembali ke sikap sempurna, melakukan gerakan ‘balik kanan’ dan pada hitungan tertentu (dalam hati) melakukan gerakan seperti langkah pertama dalam gerakan ‘maju … jalan’, selanjutnya bubar menuju ke tempat masing-masing.
  • 49. Bila pelatih/komandan menghendaki tidak ada penghormatan, aba-aba didahului dengan aba-aba-aba petunjuk: “Tanpa penghormatan, bubar … JALAN!”. Pasukan langsung balik kanan tanpa memberikan penghormatan dahulu, dst.
  • 50. MAJU JALAN Dari sikap sempurna, aba-aba : “Maju … JALAN!” Pada aba-aba pelaksanaan, kaki kiri diajukan ke depan, lutut lurus, telapak kaki diangkat rata sejajar dengan tanah setinggi + 20 cm, kemudian dihentakkan ke tanah dengan jarak satu langkah, dan selanjutnya berjalan dengan langkah biasa. Langkah pertama dilakukan dengan melenggangkan lengan kanan ke depan 90°, lengan kiri ke belakang 30° dengan tangan menggenggam.
  • 51. Pada langkah-langkah selanjutnya lengan atas dan bawah lurus dilenggangkan ke depan 45° dan ke belakang 30°. Tangan kanan depan mengambil dua titik yang terletak dalam satu garis sebagai arah barisan. Seluruh anggota meluruskan barisan ke depan dengan melihat pada belakang leher. Dilarang berbicara ataupun melihat ke kanan/kiri. Pada waktu melenggang, lengan tidak kaku. Dari langkah biasa, aba-aba: “Langkah tegap … JALAN!” Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan diberikan pada waktu kaki kiri jatuh di tanah, ditambah satu langkah kemudian mulai berjalan langkah tegap.
  • 52. LANGKAH TEGAP Dari sikap sempurna, aba-aba: “Langkah tegap, maju … JALAN!”. Pelaksanaan: mulai berjalan dengan kaki kiri, langkah pertama tidak berlebihan, telapak kaki rapat dan sejajar dengan tanah, lutut lurus, kaki diangkat tidak terlalu tinggi. Bersamaan dengan langkah pertama, tangan menggenggam, punggung tangan menghadap ke samping luar, ibu jari tangan menghadap ke atas. Lenggang lengan ke depan 90° dan ke belakang 30°.
  • 53. Ketika sedang berjalan ‘langkah tegap’ kembali ke langkah biasa. Aba-aba: “Langkah biasa … JALAN!” Pelaksanaan: aba-aba pelaksanaan diberikan sewaktu kaki kiri/kanan jatuh di tanah ditambah satu langkah, langkah pertama dihentakkan dan mulai berjalan dengan langkah biasa.
  • 54. LANGKAH SEWAKTU LDAarRi Isikap sempurna. Aba-aba: “Lari, maju … JALAN!”. Pelaksanaan: pada aba-aba peringatan, kedua tangan dikepalkan lemas dan diletakkan di pinggang sebelah depan dengan punggung tangan menghadap ke luar, kedua siku sedikit ke belakang, badan agak dicondongkan ke depan. Pada aba-aba pelaksanaan, dimulai lari dengan menghentakkan kaki kiri satu langkah dan selanjutnya lari dengan panjang langkah 80 cm, tempo 165 langkah/menit. Kaki diangkat secukupnya, telapak kaki diletakkan mengenai tanah pada ujungnya terlebih dahulu, lengan dilenggangkan lemas.
  • 55. Dari langkah biasa, aba-aba: “Lari … JALAN!”. Pada aba-aba peringatan, gerakan sama dengan poin a, aba-aba pelaksanaan diberikan saat kaki kiri/kanan jatuh ke tanah, kemudian ditambah satu langkah, dst. Kembali ke langkah biasa, Aba-aba: “Langkah biasa … JALAN!”. Aba-aba pelaksanaan diberikan saat kaki kiri jatuh di tanah ditambah tiga langkah, kemudian berjalandengan langkah biasa dimulai dengan kaki kiri yang dihentakkan disertai dengan lenggangan tangan.