Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.
BAB IV
PENLTLISAN ARTIKEL ILMIAH DARI SKRIPSI/ TUGAS AKHIR

A.  Pengertian Artikel Ilmiah

Artikel ilmiah (dalam edaran di...
(afiliasi:  nama prodi,  lakultas.  universitas) dan dianjurkan ntcncanttttnkan
alamat etnail. 

3. . Ilbslrak satu paragr...
(bahasa Indonesia)

(bahasa Inggris)

Kata kunci:  .. ... . . ., . ... ... . . ., . ... ... .. . ., . ... ... . . ., . ......
----------------------------------------- -- (dst. )
Sub-subjudul Pembahasan (jika diperlukan)

Simpulan dan Saran

Persan...
Bahan:  alm . Sl-Ismi Indonesia dalam Peningkatan F*su~{{i. ;_çg, ,,, g;g_r: :.
Cium (hlm l-Si).  lhadang:  Citra Budaya I...
S.  Artikel ilmiah nlircviu kembali oleh pcznbimbing sehingga naendapat
persetujuan penahirzxbizmg. 

6. Artikel ilmiah ya...
H.  Contoh Halaman Persetujuan Artikel

PERSETUJUAN PEMBIMBING
Judul Artikel

Nama Penulis Skripsi

s-

Artikel ini disusu...
't : :w
it, ...  .. , __

-. .-~~-

l.  Contoh Abstrak Berbahasa Indonesia dan Inggris

Abstrak

Artikel  ditulis untuk (l...
Cetak Lepas

Jurnal Kependidikan Volume 10, Nomu; 

Pen', -elc-rng. ;gaxaan Proses Pembelajaran sebagai Ibadah dan Motif y...
ISSN:  1441-6928

JURNAL KEPENDIDIKAN T. 

PROGRAM PASCASARJANA UNP ñ
filsafat,  Teori,  Analbis,  dan inovasi Pendidikan
...
.___ç___. ..

~`. __. .~. .- - - . .-i

PENYELENGGARAAN PROSES PEMBELAJARAN SEBAGA] IBADAH
DAN MOTIF YANG IVIELATARBELAKAN...
pengembangan fitrah peserta didik sehingga
tidak berhasil meningkatkat) kualitas kehidupan
manusia.  Hal ini disebabkan ol...
itu,  pendidikan harus berorientasi pada
pengembangan semua potensi manusia
seoptimal mungkin agar mampu memikul
tanggung ...
Dalam posisinya sebagai ibadah.  semua
kegiatan pendidikan seharusnya mengandung
makna ketundukan dan kerendahan secara
op...
ibadah) yang dapat dikembangkan di balik
tingkah laku seseorang.  Artinya,  selain motif
intrinsik dan ckstrinsik terdapat...
Dahlan,  Pedro/ anggaran! : Proses . P.-"-: ~'~; ~!. :,v`. :: . 

pembelajaran,  yaitu komponen yang aktif
mengembangkan p...
pembelajaran,  dan (e) menilai lmsil
pembelajaran.  Penguasaan dan aplikasi unsur-
unsur kewiyataan itu terhadap peserta d...
Dai/ ian,  Fenycleizggartlcm f'rusc. v lwmnv/ kn-arcyzi. Yvhrtsni Ikrar/ ali.  s

sertifikasi sesuai dengan jenjang kewena...
DAFTAR RUJUKAN
AI-Gazali.  I997. llryu` Ulun:  u!  Din Kairo.  Da! 

Al-Manar. 

Al-Nasvawi.  200!.  .lI-, Irl-u 'in ul-
N...
Panduan penulisan jurnal ilmiah (artikel)
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Panduan penulisan jurnal ilmiah (artikel)

5,507 views

Published on

  • Be the first to comment

Panduan penulisan jurnal ilmiah (artikel)

  1. 1. BAB IV PENLTLISAN ARTIKEL ILMIAH DARI SKRIPSI/ TUGAS AKHIR A. Pengertian Artikel Ilmiah Artikel ilmiah (dalam edaran disebut makalah) yang dimaksud di sini adalah artikel ilmiah yang ditulis berdasarkan tugas akhir mahasiswa (makalah, skripsi, karya akhir). Artikel ilmiah tersebut harus diperiksa dan disetujui oleh kedua pembimbing sebelum diserahkan kepada Ketua Program Studi. B. Syarat-syarat Artikel Ilmiah l. h) Syarat-syarat artikel ilmiah tersebut adalah sebagai berikut. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau Inggris (untuk jurusan bahasadan sastra Inggris). , Artikel dilengkapi carter, persetujuan pembimbing, dan abstrak berbahasa Indonesia dan Inggris (lihat contoh terlampir). Panjang abstrak antara 100-150 kata. Menggunakan huruf ukuran 12 jenis Times New Roman dengan spasi 2 (kecuali abstrak l spasi). Menggunakan kertas A4 dan panjang artikel sekitar 15-20 halaman tennasuk daftar rujukan. Diserahkan sebelum wisuda kepada Ketua Prodi dalam bentuk print-out sebanyak l eksemplar dan saji copy dalam bentuk CD. C. Bagian-bagian Artikel Ilmiah Penjelasan bagian-bagian artikel yang ditulis berdasarkan tugas akhir jenis penelitian adalah sebagai berikut. l. 2. Judul artikel infonnatif dan disarankan tidak lebih dari l2 kata untuk artikel berbahasa Indonesia atau lO kata untuk anikel berbahasa Inggris. Penulis adalah nama penulis skripsi sebagai penulis pcnama dan pembimbing l sebagai penulis kedua, serta ; iembimbing ll sebagai penulis Ja- jati-: 4.__. _. 43 -- : r-: lxl-s- ketiga (penulis ilahi. atas persetujuan kedua . ..ng- y-. .. U`A _. . _. . pembimbing). ?Isme ; .=e: .-'. ..= :_'. _:: . ; - _- . .r disertai nama lembaga
  2. 2. (afiliasi: nama prodi, lakultas. universitas) dan dianjurkan ntcncanttttnkan alamat etnail. 3. . Ilbslrak satu paragraf (atur-tra 100--150 kata) dalam bahasa inggris dan bahasa indonesia yang berisi tujuan, metode, dan hasil penelitian. 4. Kata kunci sebanyak 4-5 kata. Kata kunci mencerminkan konsep-konsep yang terdapat di dalam artikel. S. Pendahuluan berisi pcnnasalahan, dikaitkan dengan teori, dan diakhiri tujuan penelitian. (6--8 halaman, diolah dari Bab I dan Bab ll skripsi) 6. Metode ringkas dan padat. (l--2 halaman, diolah dari Bab III skripsi) 7. Pembahasan/ Hasil dan Pembahasan dapat dibagi dalam beberapa subbagian. Pembahasan digunakan untuk hasil penelitian kualitatif dan Hasil dan Pembahasan digunakan untuk hasil penelitian kuantitatif. (6--8 halaman, diolah dari Bab lV skripsi) 8. Simpulan dan saran. (l--2 halaman, diolah dari Bab V skripsi) 9. Dapur Rujukan hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk. 10. Persanlunan: penjelasan bahwa artikel diolah dari skripsi dengan judul dan ucapan terima kasih kepada pembimbing I dan pembimbing 2.. .. D. Format Artikel Format artikel adalah sebagai berikut. JUDUL ARTIKEL ' Nama Penulis Skripsi, Pembimbing l, Pembimbing ll Nama Prodi FBS Universitas Negeri Padang Email: .. ... .. . . (disarankan) Abstract 30
  3. 3. (bahasa Indonesia) (bahasa Inggris) Kata kunci: .. ... . . ., . ... ... . . ., . ... ... .. . ., . ... ... . . ., . ... ... .. . . Pendahuluan --m . ... ... ... ... -. ._. _. . .--_. .---. .-. ... .--. _____. . . ... .. . ..- (dst. ) Metode -. ... ... ... ... .--. .-. ... --. ..; .._. .._. ... .__. ... .-. .-. A----- . - . . -. --. .- ---. ----. . -. .-. _._----. .---_. .-----. ... --. ;.. -.. .._. ._-. _.. ..--_. -------- ---. - - -------. .-. .------ . - . .._. ... ... ..-. ... ..-. .-. -.-. -.. .-. ._. ._ ~-_-«-------~--. ---------_-. .---. ... (dst. ) Pembahasan (untuk Penelitian Kualitatifll Hasil dan Pembahasan (untuk Penelitian Kuantitatif) --_--. ..---. ... ._. ..--. ... .-_: .. . ..-. ... ... .--. ... .--. -.--_. ... .. 3.. -.. .. ... ... ... ... -. ._. ... -.. ___. ... ... ... ..-. ..-. ... ... ... . . ... .. . ..--. _.. ... --. ... . -mi-gA ----------------------------- u- (dst. ) Subjudul Pembahasan (jika diperlukan)
  4. 4. ----------------------------------------- -- (dst. ) Sub-subjudul Pembahasan (jika diperlukan) Simpulan dan Saran Persantunan: penjelasan bahwa artikel diolah dari skripsi dengan judul ' dan ucapan terima kasih kepada pembimbing l dan pembimbing E. Penulisan Daftar Rujukan Dañar rujukan hanya memuat sumber-sumber yang dirujuk. Rujukan disusun secara alfabelis dan kronologis sepeni berikut ini. l. Rujukan dari Buku Aronoñ) Mark & Fudeman, Kirsten. 2005. What is Morphology? MaldenzBlackwcll Publishing Boiij, Geert. 2005. The Grammar of Words: An Introduction to Linguistic Morphohuvzy. New York: Oxford University Press. 2. Rujukan dari Artikel dalam Buku Kumpulan Artikel (ada Editor) Alwasilah, A Chaedar, 2009. “Metodologi Pembelajaran Bahasa yang Profesional". Dalam Hasanuddin & Ennanto (East. . Seminar Nasional: Pengembangan Pendidikan . far-t H. " ; .
  5. 5. Bahan: alm . Sl-Ismi Indonesia dalam Peningkatan F*su~{{i. ;_çg, ,,, g;g_r: :. Cium (hlm l-Si). lhadang: Citra Budaya Indonesia. 3. Rujukan dari Anil-rel dalam Jurnal . | Implikasinya terhadap Pendidikan di Pesantren". Jurnal Ilmu Pendidikan, lS (3), 140-149. Towaf, Siti hialikhah, 2008. “Peran Perempuan, Wawasan Gender, dan 4. Rujukan dari Laporan Penelitian, Skripsi, Tesis, atau Disertasi Ennanto. 2008. "Derivasi dan lnfleksi Verba Bahasa Indonesia". Disertasi tidak Diterbitkan. Surakarta: Program Pascasarjana Universitas Negeri Sebelas Maret. 5. Rujukan dari Makalah Seminar, Penataran, Lokakarya Huda, N. 1991. "Penulisan Laporan Penelitian untuk Jumal". Ala/ adah disajikan dalam Lokakarya Penelitian Tingkat Dasar bagi Dosen PTN dan PTS di Malang, Pusat Penelitian IKIP Malang, Malang, l2 Juli. 6. Rujukan dari Sumber Online Kumaidi. 1998. "Pengukuran Bekal Awal Belajar dan Pengembangan Tesnya". Jurnal ilmu Pendidikan (an/ inc), 5 (4), httpzllurww. malpneacjd, diakses 20 Januari 2000. F. Alur Penulisan dan Penyerahan Artikel Kepada Prodi Alur penulisan dan penyerahan artikel ilmiah berdasarkan tugas akhir (makalah, skripsi, karya akhir) kepada Ketua Program Studi (Kaprodi) adalah sebagai berikut. l. Setelah skripsi/ tugas akhir disetujui pembimbing untuk diujikan, mahasiswa menulis draf artikel ilmiah (berkonsultasi dengar, pembimbing). 2. Setelah skripsi/ tugas akhir diujikan. , mahasiswa rnerexisi draf artikei ilmiah sesuai masukan : im péançuii ; uda vdlvtt ujian (berkonsultasi dengan pembimbing). 3. Draf anikel ilmiah diserahkan kepada pembimbing tzrçruk dibaca dan diberikan masukan ole? " case: ;efêzr-. .tszg 4. Mahasiswa memperbsg. :r: :in: gizi' : ::-: ”l” li-i31'_, i|nbjng_
  6. 6. S. Artikel ilmiah nlircviu kembali oleh pcznbimbing sehingga naendapat persetujuan penahirzxbizmg. 6. Artikel ilmiah yang telah direviu dan disetujui pembimbing çprrnpou; 1 eksemplar dan soft copy dalam bentuk CD) diserahkan kepada Ketua Program Studi. 7. Mahasiswa mendapatkan 1 bukti penyerahan artikel sebagai syarat wisuda/ mendapatkan ijazah asli dari Ketua Program Studi. G. Contoh Cover Artikel JUDUL- ARTIKEL Lambang UNP NAMA PENULIS SKRIPSI PROGRAM STUDI FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI__PADANG Wisuda Pc; - i-. nale Tv7aref2m3
  7. 7. H. Contoh Halaman Persetujuan Artikel PERSETUJUAN PEMBIMBING Judul Artikel Nama Penulis Skripsi s- Artikel ini disusun berdasarkan skripsi . ... ... .. . . untuk persyaratan wisuda periode Maret 2013 dan telah dircviu dan disetujui oleh kedua pembimbing. Padang, .. ... ... ... ..2013 Pembimbing I Pembimbing II
  8. 8. 't : :w it, ... .. , __ -. .-~~- l. Contoh Abstrak Berbahasa Indonesia dan Inggris Abstrak Artikel ditulis untuk (l) mendeskripsikan persentase tingka kekerabatan bahasa Minangkabau dan bahasa Mandailing, (2) menghitung lama Wah" Pisah . dan menentukan waktu pisah antar kedua bahasa itu. Data penelitian ini adalah dua ratus kosakata dasar (inti) dari dua bahasa. Sumber dat: penelitian ini adalah sumber lisan sebagai sumber primer yang dituturkan langsung oleh infonnan sebagai penutur aslinya. Data dikumpulkan denga: menggunakan metode simak dan teknik rekam serta teknik catat sebagai tekni]- lanjutan. Temuan penelitian yaitu kosakata kerabat antardua bahasa tersebu ditemukan sebanyak 108 kata kerabat (54%). Dengan perhitungan glotokronologi waktu pisah antara kedua bahasa yaitu 1419 tahun lalu. Abstract This article was written to (l) describe the percentage of kinship level between the Minangkabaunesc and hlandailingnese, (2) calculate the length of time separation and determine the time of separation between the two languages. The data of this study were two hundred basic vocabularies (core) from both ot the languages. The primary source of duta »vere oral utterances utteurd by native speaker informants. Data were collected by using Observation methods and record technique and note taking as an advanced technique. The iindings of the study showed that the kinship ofvocabtrlary between the two languages were as much as 108 relative words (54%). Then, based on glotochronology calculation, the time of separation between the two languages was approximately 14 l 9 years ago.
  9. 9. Cetak Lepas Jurnal Kependidikan Volume 10, Nomu; Pen', -elc-rng. ;gaxaan Proses Pembelajaran sebagai Ibadah dan Motif y. '.. ~. Dahlan (IAIN Sultan Thaha Saifudin Jambi . ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ... ..
  10. 10. ISSN: 1441-6928 JURNAL KEPENDIDIKAN T. PROGRAM PASCASARJANA UNP ñ filsafat, Teori, Analbis, dan inovasi Pendidikan Volume IO, Nomor l. Juni 2009 ` Ketua Dewan Penyunting; Prof. Dr. Anas Yasin, MA. Wakil Ketua Dewan Penyunting: Dr. Ngtsman Abdul M anal' . M. Hum. Penyunting Ahli: Pro! ! Dr. Prayhno, M. S<; Ed. (Universitas Negeri Padang) Prof Dr. Gusril, M. Pd. (Universitas Negeri Padang) Prof. l). Fauzan, M. Pd. , MSc. (Universitas Negeri Padang) Prof. Dr . RusdinaL MPd (Universitas Negeri Padang) Prof. Dr. Sutjipto (Ilniversitas Negeri Jakarta) Dr. Arif'l`rro (Universitas Negeri Malcasar) Prof. Dr. Sukamto (Universitas Negeri Yogyakarta) Dr. Mulyadi Eko Purnano (Universitas Sriwijaya) Dr. Sudirman Willian, M. A(Univcrsitas Negeri Mataram) Dr. Subyanta-o (Universitas Negeri Semarang) Dr. Prima Gustiyanti (Universitas HAMKA) Redaktur Pelaksam: Prof. Dr. Ermanto, MJ-Ium. , Prof. Dr. Syahrul R. , MPd. , Prof. Dr. Firman, M. S. Prof. Dr. Jun-im], MJ-ltrrn. , ProlI Dr. Agustina, MHum. , Prof. Dr. [snm-mi, M. Pd. , M. A. Prof. Dr. FestiyegMPd. , Prof. Dr. Syafrudin, MPd, Dr. Susi Evanita, MS. Dr. Wakhinuddin, MPd. , Dr, Farida F. . M. T, M. Pd. -a Pelaksana Tata Usaha: Junaidi Il) as, Asmiarni, Bambang S. , Yunasri B. , Hesti Palupi, Syañil, Zamril, Diki Atmarizon Atlamnr Penyunting dan tata usaha: Kantor Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang (UNP), Jl. Prof. Dr. Hamka Kompleks UNP, Air Tawar Padang, Telp. (07S1)-705l 147, 445087. Fax. (0750-445088 . lunul Kependidikan diterbitkan oleh Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang Pelindung: Rektor Universitas Negeri Padang, Penanggung jawab: Direktur Program ; w - -- 4:. ; l v -' x . L`s'.
  11. 11. .___ç___. .. ~`. __. .~. .- - - . .-i PENYELENGGARAAN PROSES PEMBELAJARAN SEBAGA] IBADAH DAN MOTIF YANG IVIELATARBELAKANGINyA Dahlan (IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi) Abstract: A more producrive learning outcome. : can be achieved when there teacher: and Sinden! ! work hard and create a good relation. This article discusses a number o/ _m-aregies ro make a prodttctive teaching and learning process. Teachers and students have to understand that learning i: on activity to worship Allah. Apart ji-om the teaching Strategies. the teaching and learning process should be inspired by the spirits to worship .4 Ilah. Kata kunci z motif ibadah, pembelajaran, kewibawaan, kewiyataan' PENDAHULUAN Pendidikan merupakan suatu kegiatan pembelajaran sepanjang hayat untuk mengembangkan potensi (fitrah) peserta didik ke tingkat yang optimal sampai hasilnya tercflcksikan dalam perilaku mereka, baik perilaku kognitif, afektif, maupun psikomotor. Pada ranah kognitif, misalnya, akan terjadi perubahan cara dan tingkat berpikir, mulai dari mengetahui, mengingat, memahami sampai kepada ranah kognitif tingkat tinggi seperti kemampuan mengevaluasi dan kreasi. Di ranah afektif, terjadi perubahan sikap atau tingkah laku, mulai dari menerima nilai-nilai luhur yang berkembang menjadi internalisasi sampai meningkat menjadi pengamalan nilai-nilai itu sehingga mentpakan bagian yang integral dari karakter atau pribadi peserta didik. Begitu pula pada ranah psikomotor, terjadi perubahan keterampilan fisik motorik yang menyatu dengan kematangan kedua ranah terdahulu seperti terlihat pada kepribadian peserta didik. Sasaran pendidikan merupakan tujuan pendidikan nasional Indonesia seperti ditetapkan pada pasal l ayat l Ketentuan Umum dan pasal 3 bab Il UU. No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU- SPN). Oleh sebab itu, ñmgsi pendidikan for-trial dan informal adalah untuk mengungkapkan potensi-potensi yang tersembunyi melalui proses pembelajaran yang kondusif. Sebab, setiap peserta didik adalah individu yang unik yang mempunyai kesiapan dan kemampuan pisik. psikis dan intelektual yang berbeda satu sama lainnya, sehingga fungsi pendidikan perlu pula menyediakan layanan bimbingan yang sesuai dengan keberagaman individu peserta didik (individual dtferences) untuk memfasilitasi optimalisasi potensi setiap pcsçna didik . Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW befsabda seperti berikut ini. sam! ? "Hak dilahirkan dalam keadaan fitrah- hingga lisannya dapat '””"8""8k0pkzn1 kehendak dirinya! . Ina/ ta kedua orang tuanya/ uh yang nrenjudikanrzya sebagai' orang Yahudi. Nmmm' atau orang A/ Iajusi (IIR. Brtkhari da, , Muh-m dan* Ah, " Ifurairah). Maksudnya, bahwa setiap anak memiliki P°*°“5' YME PCNU pembiasaart di rumah *anggita dikembangkan di sekolah/ madrasah pengembangan 'Helmi pembelanjaan dan diberikan keteladanan di mmah tangan, sekam. ” da, , masyarakat. Karena sangat strategisnya 13597343311 fitrah tersebut, Langgulung 09917351) memkomendasikan perlunya fitrah itu dioptimalkan penambahan, ,, m, , da, ,, mendekati sifat-sifat Tuhan yang berjumlah 99 buah “ngan nama-nama yang indahtal-Asma 0l'”"5”0)- &lain itu, Allah mengamanatkan 33'" “mms” memanfaatkan potensi itu agar mampu berperan sebagai khalifah di atas bumi. Hal lm menggambarkan betapa besar dan berharganya potensi yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Jika ia diletakkan di sebuah alatn sekitar tanpa 3umm_summr hidup sama sekali, ia tetap akan survive, smm! lama masyarakat meyakini bahwa Pmdidlka" di Sekolah sebagai sarana menmgkalkan kualitas sumber daya manusia Untuk membentuk generasi muda berwawasan irasional yang kuat. Akhir-akhir ini, 1653H tersebut mulai bergeser, karena ada indikasi bahwa pendidikan (sekang) kutang fokus pada 22 Jurnal Kependidikan. 701.10 Nomor I, Juni 2009.
  12. 12. pengembangan fitrah peserta didik sehingga tidak berhasil meningkatkat) kualitas kehidupan manusia. Hal ini disebabkan oleh proses pendidikan yang kurang fokus pada pengembangan potensi peserta didik, tetapi lebih fokus pada pengajaran aspek kognitif, afektif, dan psikomotor secara terpisah-pisah, belum fokus pada pengembangan dan pengintegrasian ketiga aspek tersebut melalui proses pembelajaran. Padahal, proses pembelajaran yang dilaksanakan dalam sistem pendidikan nasional Indonesia merupakan manifestasi nyata dari usaha peningkatan kualitas manusia Indonesia. Artinya, kelangsungan pengembangan setiap manusia itu haruslah merupakan jalinan yang sinergis dari berbagai smnber daya yang saling mendukung. Optimalisasi pengembangan fitrah atau potensi setiap manusia itulah yang hams menjadi subjek pendidikan agar terlahir pelaku- pelaku pembangunan yang diinginkan. Dengan perkataan lain, manusia yang bermental pembangunan yang dibutuhkan hanya akan tercipta jika fokus pendidikan diarahkan pada pengembangan kemampuan mengembangkan diri (sell-developznenr) setiap peserta didik dan secara bersama bertanggung jawab atas pembangunan bangsanya. Sebaliknya, jiwa pembangunan itu tidak akan terwujud jika pendidikan terbatas pada pengembangan ranah kognitif peserta didik saja. Hal itu pun terbatas pada tingkat ranah kognitif paling rendah yaitu sekedar mengetahui (to imcw) saja, belum sampai pada tingkat ro understand. dan ro apply, apalagi pada tingkat analisis, sintesis, evalumi dan kreasi. Akibatnya, pengembangan semua potensi peserta didik tidak pemah optimal, sehingga upaya untuk membuat mereka sebagai orang yang terdidik dan ñmgsional di masyarakat sangat sukar diwujudkan. Artinya, kebutuhan sumber daya manusia yang berkualitas seringkali masih diartikan secara terbatas. Sebab, pendidikan masih tertuju pada tingkat keterampilan dan kemampuan intelektual saja, sedangkan aspek afektif seperti moralitas, kejujuran, kebersihan hati kurang mendapat perhatian yang serius. Tidak ada cara yang dapat dilakukan kecuali melalui perbaikan pendidikan yang dirancang agar fokus-pada optimalisasi semua potensi setiap manusia Indonesia. Pendidikan merupakan kegiatan khas tnztnnsia yang pada dasamya adalah dari manusia oleh manusia dan untuk manusia. Jadi, manusia sgf-. .zligus sebagai sumber, sasaran, dan pelaksana pendidikan. Mengingat pentingnya kedudukan mmmsia. benarlah hal yang direkomendasikan oleh Pokja Pengembangan Peta Keilmuan Pendidikan (P3KP, 2005: ll) bahwa ”Ilmu pendidikan meliputi kajian tentang manusia yang memerlukan dan dapat melaksanakan pendidikan. tujuan pendidikan, peserta didik dan pendidik, serta proses pembelajaran sebagai wujud pelaksanaan kegiatan pendidikan P3KP, (2005: l6--l7) dan Prayitno, (2005: ll) mengungkapkan bahwa kajian tentang hakikat manusia menjadi dasa: bagi teori dan praktik pendidikan. Landasan kegiatan pendidikan semestinya berdasarkan pandangan tentang hakikat manusia. Hakikat manusia mencerminkan harkat dan martabat manusia (HMM) yang ' dimaksudkan itu nlengandung pengertian dasar bahwa manusia adalah (l) makhluk yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang hlalialmasa; (2) makhluk yang terindah dalam kelengkapan dan bentuk penciptaannya; (3) makhluk yang tertinggi derajatnya; (4) khalifah di muka bumi; dan (S) pemilik hak-hak asasi manusia (HAM). Pemahaman di atas sesuai dengan firman Allah surat Al-Tiin (9524) bahwa manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna di antara makhluk lainnya, dan surat : xl-Baqarah (230) bahwa Allah menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Berdasarkan surat . Al-Baqarah ini, ternyata salah satu fungsi manusia adalah menjadi pemimpin , ~ untuk mengelola bumi bagi kesejahteraan . manusia dan pemeliharaan bumi itu sendiri. Agar manusia mampu melaksanakan tugas kekhalifahan itu, Allah membekalinya dengan seperangkat potensi (fitrah) yang dapat dikembangkan secara optimal. Dari itu, pendidikan dengan semua kegiatan yang dilakukan pada dasarnya mempakan ibadah yang mempersiapkan manusia menjalani kehidupannya, memalsuka- kan jalan untuk mempcrkcmbangknn kehidupannya mencapai tujuan kehidupannya, yaitu kebahagiaan di dunia dan . :J: 7. Selain itu, dari fungsinya. maa'. s.a sebagai pemimpin ii " e. . 'J'; .."`2 - --n-z mengabdi kepada Allah rar; CL: : I~. ._. ...
  13. 13. itu, pendidikan harus berorientasi pada pengembangan semua potensi manusia seoptimal mungkin agar mampu memikul tanggung _jawab Scbugui khalifah berdasarkan jiwa pengabdian kepada Allah semata. Hal ini berarti, manusia dalam mengemban misi dan amanat untuk menjadi pemimpin di dunia, mereka harus selalu setia pada hak dan kewajiban kepada Allah, Pendidikan yang intinya proses pembelajaran yang mengoptimalkan pengembangan potensi (fitrah) peserta didik merupakan perbuatan yang sangat mulia; sebagai ibadah yang sangat tinggi nilainya. Nuansa pembelajaran telah dinukilkan oleh Allah SWT yang intinya adalah bahwa manusia disuruh membaca atau mempelajari ayat-ayat Allah. Dalam kaitan ini Nabi Muhammad SAW bahkan mengajarkan manusia belajar sejauh mungkin, kalau perlu "ke negeri Cina”. Lebih jauh, nilai hasil pembelajaran yang diberikan oleh pendidik amatlah luar biasa Adalah menjadi amal jariah tersendiri _vang membuahkan pahala apabila seseorang (pendidik) berhasil mcmbelajarkan seseorang atau siapapun juga yang kemudian diamalkannya untuk kebaikan. Demikianlah, betapa mulianya kegiatan pembelajaran sebagai ibadah. Penulis meyakini bahwa penyelenggaraan proses pembelajaran merupakan perbuatan ibadah, Melalui proses pembelajaran seseorang melakukan suatu ibadah. Perbuatan ibadah ini dilatarbelakangi oleh motif-motif tertentu oleh pelakunya, terutama pendidik dan peserta didik yang secara langsung terlibat di dalamnya. Oleh sebab itu, dalam kedudukannya sebagai ibadah, pendidikan yang dilakukan hendaklah bennotit' ibadah pula, yaitu kekuatan batin yang muncul dalam diri seseorang berupa niat untuk berbuat sesuatu kebaikan bagi kemaslahatan umat dan penuh tanggung jawab untuk mendapatkan keridaan dari Allah (ikhlas) semata. Nilai ibadah akan lebih kelihatan apabila seorang pendidik mengaplikasikan kewibawaan dan kewiyataan sesuai dengan tuntunan dari Allah SWT. Dalam posisinya sebagai ibadah, semua kegiatan pendidikan seharusnya mengandung makna ketundukan dan kerendahan se: :- optimal dan komitmen tinggi yang muncul : :I kecintaan, yang membuat seorang manusa menghambakan diri kepada Allah. Bentuk nyata dan' kegiatan pendidikan menurut PSK? (2005: 23) adalah proses pembelajaran, bahkan tlitegaskan lagi bahwa “tiada pendidikan tanpa proses pembelajaran". Dari itu, semua usaha yang dilakukan manusia untuk mempersiapkan kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat inilah yang menjadi tujuan kehidupan manusia. Hal ini pula yang menjadi tujuan ibadah. Jadi, kegiatan pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk proses pembelajaran itu penuh dengan nilai ibadah, karena pendidik dan peserta didik sedang melaksanakan suatu kewajiban belajar dan mengajar untuk memperoleh ilmu yang sangat dianjurkan oleh Allah dan Rasul-Nya. METODE Desain penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bertolak dari pandangan fenomenologis yang meletakkan tckanannya pada versrehen, yaitu pemahaman makna perilaku pelaku utama penyelenggaraan proses pembelajaran yang terdiri dari pendidik dan peserta didik. Pemaknaan perilaku tersebut dilihat kadar motif ibadah yang dikandungnya. Data yang diperoleh merupakan hasil obeseryasi partisipan yang dilakukan secara mendalam (in-depth study), wawancara dan studi dokumentasi. Untuk memperoleh kebenaran data, peneliti memperpanjang observasi, meningkatkan ketekunan, melakukan triangulasi dan member check. PEMBAHASAN Pekerjaan Mendidik/ Mengajar sebagai Ibadah Mendidik berarti memelihara dan memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran (Depdikbud, |999 232). Artinya, tugas pendidik dalam proses pembelajaran adalah memelihara. melatih, mengajar, menuntun dan memimpin peserta didik mencapai tujuan hidupnya, Secara implisit, hal itu berarti ada sesuatu yang hants dipelihara atau dilatih. _ "Sesuatu" llU adalah potensi (fitrah) yang sudah ada _pada diri peserta didik yang sudah dibawa sejak lahir, Oleh sebab itu, pendidik bertugas mengajar. menuntun dan memimpin ' 'a ' " "^'-: ::si tersebut sesuai dengan t- . -._. . , .. SWT Pengembangan fitrah "T menurut Langgulung (1991:
  14. 14. Dalam posisinya sebagai ibadah. semua kegiatan pendidikan seharusnya mengandung makna ketundukan dan kerendahan secara optimal dan kitunittrten tinggi yang muncul dan' kecintaan, yang membuat seorang manusia mengbambakan din' kepada Allah. Bentuk nyata dari kegiatan pendidikan menurut PJKP (2005: 23) adalah proses pembelajaran, bahkan ditegaskan lagi bahwa “tiada pendidikan tanpa proses pembelajaran". Lebih jauh lagi, Prayitno (2002:l) mengungkapkan kegiatan pendidikan mempakan upaya yang istimewa, karena dengan pendidikan itulah (individu-individu) manusia dipersiapkan untuk menjalani kehidupannya, dibukakan jalan untuk memperkembangkan kehidupannya, serta diarahkan dan dimungkinkan untuk mencapai mjuan kehidupannya, yaitu kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Hal ini sejalan dengan tujuan ibadah. Jadi, kegiatan pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk proses pembelajaran itu penuh dengan ttilni ibadah, karena pendidik dan peserta didik sedang melaksanakan suatu kewajiban mengajar dan belajar untuk memperoleh ilmu yang sangat dianjurkan oleh Allah sebagaimana yang dimaksud dalam ñnnan Allah surat al-Alaq/96:l- 5. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: ”Menuntut ilmu lebih ulama dari shalat, puasa, haji dan berjihad di jalan Allah, sehingga proses pembelajaran yang dilakukan akan bernilai ibadah. Nilai ibadah pada perilaku seseorang memiliki ciri: (l) kepatuhan dan ketaatan untuk mengagungkan Allah, (2) perbuatan baik yang diridai Allah, (3) fokus saat melakukan kewajiban, (4) diniati untuk benbadah, (S) dilakukan dengan aI-lltran. yaitu berhati-hati serta menghadirkan kebesaran dan kemuliaan Allah ketika melakukan kewajiban (Al- Nawawi, 200157). (6) dilakukan dengan keikhlasan, yaitu ketulusan hati, kejujuran dan kerelaan (Depdikbud, 19.99: 368). Keikhlasan seperti tersebut dalam firman Allah surat a/ -Baryinalz/98: S, al- Zumar/39: 2 dan ll, aI-. -l 'ray/ V 29, seringkali dihubungkan dengan niat yang dipasang pada setiap amal perbuatan. keikhlasan menempati posisi yan; j: : _w-M- perilaku pendidikan. 5 . akan ruh semu: 8.725 : A. _ 298422) yang 3$&". ___. ... .. _ga . ..mnt setiap aktivitas sangat bergantung kepada niat. Niat itu identik dengan motif ibadah berupa nilai rohani yang menentukan ikhlas atau tidaknya perbuatan seseorang, sesuai ñnnan Allah QS. Al- fhrihah/ hs. Hal itulah sebabnya mengapa Allah SWT tidak akan menerima amal seseorang kalau tidak berdasarkan keikhlasan. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, nilai ibadah akan lebih kelihatan apabila seorang pendidik dengan penuh keikhlasan mengaplikasikan kewibawaan sebagai alat pendidikan. Artinya, semua perilaku pembelajaran yang bernilai ibadah dapat diteladani oleh peserta didik dan dapat menerapkannya dalam kehidupannya kelak. Tentu saja, perilaku pendidik tersebut adalah yang sesuai dengan tuntunan agama, sehingga pendidik berhak atas pujian seperti yang terpatri di dalam hymne guru. Motildan Motif Ibadah Beberapa ahli mengemukakan pengertian dari motif, yaitu dorongan yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini hidup pada din' seseorang dan setiap kali mengusik serta menggerakkan orang itu untuk melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang terkandung di dalam dorongan itu sendiri (Usman, 1996; Kemtelh, 1992; Suryabrata, 2002; Dimyati dan Mudjiono, 1999; Robert Ulieh l96l; Prayitno, l999). Motif tersebut terdiri dari motif intrinsik dan ekstrinsik. Motif intrinsik merupakan tenaga pendorong siram perbuatan yang dilakukan orang, sehingga orang itu senang dan termotivasi melakukannya secara tenis menerus serta memberi energi dan motivasi berprestasi, sedangkan motif ekstrinstk merupakan dorongan seseorang untuk melakukan-sesuatu dari luar, seperti ajakan, suruhan, paksaan, hadiah atau "reward" (Kenneth. 1992) atau menghindari hukuman (Madsen, 196l). Prayitno (1999: l5&lS7) mengungkapkan bahwa motif intrinsik muncul apabila isi atau tema pokok tingkah laku sesuai dengan, atau berada di dalam isi atau tema pokok objek tingkah laku itu, sedangkan motif ekstrinsik dapat dijumpai apabila isi atau tema pokok tingkah laku tidak bersesuaian atau berada di luar isi atau tema pokok objeknya. Selama ini, hanya dikenal duajenis motif dan motivasi, yaitu intrinsik dan ekstrinsik seperti telah disebutkan di atas, tetapi Prayitno (1999) menemukan motif lain (baca motif
  15. 15. ibadah) yang dapat dikembangkan di balik tingkah laku seseorang. Artinya, selain motif intrinsik dan ckstrinsik terdapat motif lainnya. Prayitno mcncontczhkan dengan perilaku seorang ibu yang memberi makan seorang pengemis yang kelaparan. Motif intrinsiknya ialah agar pengemis itu terbebas dari rasa lapar-nya, sedangkan motif ekstrinsik mungkin si pemberi makan ingin agar dirinya dianggap sebagai dermawan _yang pemurah dan baik hati. Pada perbuatan seperti ini, dapat dikembangkan motif ibadah, yaitu menolong sesama manusia yang menderita sebagaimana diperintahkan oleh Allah dalam firman-Nya surat A1- Maaidah/ SQ, Karenanya, seseorang yang memberi makan seorang pengemis yang kelaparan dan diniati untuk beribadah serta dilaksanakan dengan penuh keikhlasan disebut perbuatannya bemtotif ibadah. Dan' uraian di atas, dapat ditegaskan bahwa motif ibadah ada di dalam suatu tingkah laku apabila tingkah laku im didasarkan atau Senduk-tidaknya diwamai oleh karakteristik untuk mengagungkan Allah. melaksanakan perintah Allah. menghindari larangan-Nya, mengharapkan ridu-Nya. ikhlas karena Allah, fokus terhadap sasaran kegiatan; dan berhati- hati dalam melaksanakan kegiatan. Pendidikan . Pendidikan merupakan kegiatan khas manusia yang pada dasarnya adalah dari manusia oleh manusia dan untuk manusia. Jadi, manusia sekaligus sebagai sumber, sasaran dan pelaksana pendidikan. Mengingat pentingnya kedudukan manusia, benarlah ha] yang direkomendasikan oleh Pokja Pengembangan Peta Keilmuan Pendidikan (P3KP, 2005: 11) bahwa "Ilmu pendidikan meliputi kajian tentang manusia yang memerlukan dan dapat melaksanakan pendidikan, tujuan pendidikan, peserta didik dan pendidik, serta proses pembelajaran sebagai wujud pelaksanaan kegiatan pendidikan". PSKP, (2005: 16-17) dan Prayitno (2005 : ll) mengungkapkan bahwa kajian tentang hakikat manusia menjadi dasar bagi teori dan praktik pendidikan. Bahkan landasan kegiatan pendidikan semestinya berdasarkan pandangan tentang hakikat manusia. Hakikat manusia menoenninkan harkat dan ntartabat manusia (MMM) yang dimaksudkan itu tncngandung pengertian dasar bahwa manusia adalah makhluk yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, makhluk yang terindah dalam kelengkapan dan bentuk penciptaannya (surat Al-iiiitl9Sr4), makhluk yang tertinggi derajatnya (surat A! - rlvñjadilah/ Slkll), menjadi khalifah di muka bumi (surat AI-Baqm-ah/ ZSO), dan pemilik hak-hak asasi manusia (HAM). Agar manusia mampu melaksanakan tugas kekhalifahan itu, Allah membekalinya dengan seperangkat potensi (fitrah) yang dapat dikembangkan secara optimal. Oleh karena itu, pendidikan harus berorientasi pada pengembangan semua potensi manusia seoptimal mungkin agar mampu memikul tanggung jawab sebagai khalifah berdasarkan jiwa pengabdian kepada Allah semata. Suderadjat (2004:3l) menyebutkan tujuan utama pendidikan adalah pembentukan manusia ntenjadi pemimpin di muka bumi sesuai amanat Allah SWT kepada manusia. Oleh sebab itu, pendidikan tidak boleh menghasilkan lulusan yang tidak menyadari statusnya sebagai hamba Allah yang harus beribadah kapada-Nya. Dia menambahkan bahwa pendidikan berorientasi ulil ulbab yang kerja/ r ialah pendidikan bemunnsa iman dan taqwa untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi agar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bermanfaat bagi dirinya. keluarga, bangsa, negara dan agamanya. Dari sisi lain, langgulung (1991563) merinci tujuan tertinggi (ultimate aim) dari pendidikan. yaitu untuk menciptakan manusia penyembah Allah dan sebagai waliy demi mencari kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Berdasarkan hal itu, tujuan pendidikan di Indonesia relevan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam ajaran Islam. Oleh karena itu, tidak tepat kalau praktik pendidikan di Indonesia masih berpusat pada pengembangan aspek kognitif (content-based) saja, tetapi harus tnenjadikan pengetahuan sebagai kendaraan (conIenI-vchicle) menuju pembentukan manusia yang kayak, yaitu manusia Indonesia yang tidak cukup hanya sebagai muslim beriman saja. Hal yang lebih penting adalah dapat berantai saleh sehingga menimbulkan rahmat bagi umat manusia, dan alam pemberian Allah ( rahmatan It' nl 'a'amin). Prayitno, 2002: 8 dan P3KP, 2005: 23) memandang pendidik sebagai seseorang yang dengan sadar dapat memenuhi apa yang ingin didapatkan oleh peserta didik dalam proses
  16. 16. Dahlan, Pedro/ anggaran! : Proses . P.-"-: ~'~; ~!. :,v`. :: . pembelajaran, yaitu komponen yang aktif mengembangkan proses pembelajaran untuk memfasilitasi peserta didik agar mencapai tujuan pendidikan. Al-Gazali (1997: 115) merinci sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pendidik adalah (l) memperlakukan peserta didik seperti anak sendiri; (2) mengharapkan keridaan Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya; (3) meyakinkan tujuan menuntut ilmu itu bukan untuk memperoleh kedudukan atau kebanggaan duniawi; (4) memberi teguran dengan penuh kasih sayang bukan; (5) mendorong peserta didik mencintai semua bidang studi; (6) mendidik sesuai dengan kemampuan berpikimya; (7) memperhatikan peserta didik yang lemah sehingga timbul kecintaannya terhadap pelajaran; dan (8) perbuatan pendidik sesuai dengan ilmu yang diajarkan. Artinya, seorang pendidik bukan hanya bertugas mengajar saja, tetapi melalui pengajaran tersebut harus menanamkan nilai-nilai pendidikan, memiliki kepribadian yang tinggi, sehingga diteladani peserta didik dan menimbulkan sifat-sifat ; yang positif, baik sebagai individu, pendidik, dan anggota masyarakat Analisis lebih jauh, terutama menyangkut unsununsur keilmuan pendidikan, PSK? (2005) sejalan dengan pendapat di atas, Prayitno (2005), mengungkapkan bahwa kewibawaan adalah' unsur keilmuan pendidikan yang merupakan salah satu dari dua pilar bangunan proses pembelajaran yang menjadi kewajiban pendidik melaksanakannya. Pilar pertama ini meliputi lima sub unsur, yaitu (a) penerimaan (adanya saling memahami dan menerima antara pendidik dan peserta didik), (b) kasih sayang dan kelembutan, (c) penguatan (reinforcement) terhadap peserta didik, (d) tindakan tegas yang mendidik (bukan hukuman) terhadap peserta didik, dan (e) keteladanan dari pendidik. Aplikasi kewibawaan ini terhadap peserta didik akan menghasilkan sentuhan mendalam (high touch) dari pendidik terhadap peserta didik, sehingga timbul suasana ing ngarso sung mlodo, ing madya Inungtm karsa, ru! wuri handayani. Artinya. pendidikan henis dapat memberi contoh, hzinis dapat memberikan pengaruh, dan hanis dapat mengendalikan peserta didik. Dalam mr ivuri terkandung maksud membiarkan peserta didik menuruti bakat dan kodratnya sementara gtuu v- “1.'^. ;:; .:. ~' . '.'. vt: :l. .-! : L". dan memfasilitasinya, memperhatikan berarti guni sedangkan dalam Iniridrn-*zmi mempengaruhi pesenn didik. dalam arti membimbing atau mcngsjamya. Dengan demikian, membimbing mengandung arti bersikap menentukan ke arah pembentukan manusia Indonesia seutuhnya, dan bukan mendikte peserta didik, apalagi memaksanya menurut kehendak pendidik. Artinya, semua perilaku pembelajaran yang bemilai ibadah dapat diteladani oleh pesena didik, sehingga pada gilirannya mereka dapat menerapkannya dalam kehidupannya kelak. Tentu saja, perilaku pendidik tersebut adalah yang sesuai dengan tuntunan agama sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, nilai ibadah akan lebih kelihatan apabila seorang pendidik mengaplikasikan kewibawaan sebagai ulat pendidikan. Kewibawaan tersebut menurut Prayitno, (2002: 32) adalah suatu kharisma' yang dimiliki oleh seorang pendidik agar dalam proses pembelajaran. ia diterima oleh peserta didik dengan senang hati. Esensi kewibawaan menurut Prayitno (2005: 16) adalah kualitas pengakuan pendidik yang dihayati oleh peserta didik, yang disertai oleh kasih sayang dan kelembutan, keteladanan. penguatan, dan tindakan tegas yang mendidik dari pendidik. Kita mengetahui bahwa pendidik dalam proses pembelajaran mengemban tugas sebagai orang yang memelihara, melatih, mengajar, menuntun dan memimpin potensi (fitrah) peserta didik mencapai tujuan hidupnya. Sebab, pendidik sedang berhadapan dengan 'anak manusia yang mempunyai potensi yang/ sudah dibawa sejak lahir, Oleh sebab itu; dalam proses pembelajaran, pendidik bedug& mengajar, menuntun dan memimpin pengembangan potensi tersebut sesuai dengan petunjuk Allah SWT yang telah memberikan potensi itu kepada manusia. Pengembangan fitrah melalui pendidikan menurut Langgulung (1991: 361) disebut ibadah. Pilar kedua bangunan proses pembelajaran adalah apa yang disebut kewiyataan yang meliputi subunsur kegiatan nyata pengajaran yang dilaksanakan oleh pendidik terhadap peserta didik, yaitu ta* penguasaan pendidik atas kurikulum dan materi pembelajaranKb) metoda pembelajaran. (c) i: : bantu pembelajaran, (d) lirçctrf. "
  17. 17. pembelajaran, dan (e) menilai lmsil pembelajaran. Penguasaan dan aplikasi unsur- unsur kewiyataan itu terhadap peserta didik dalam mutu yang baik yang merupakan praktek tekonologi tinggi (high lea/ r) pendidik dalam proses pembelajaran. Berdasarkan pasal l ayat (4) UU-SPN. peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu. P3KP (2005: 22) melihat peserta didik sebagai individu yang merupakan komponen pendidikan yang aktif untuk mencapai tujuan pendidikan. Eksistensi dan posisi peserta didik adalah dalam rangka mengembangkan diri sesuaiharkatdanmartabat manusia (HMM)nya untuk mencapai tujuan pendidikan. Peserta didik merupakan mbjek yang menjadi fokus, arah dan sasaran kegiatan yang dilaksanakan oleh pendidik dalam situasi pendidikan. Prayitno (2002: 7) menyebutkan bahwa peserta didik tidak harus berani manusia kecil atau manusia muda, melainkan manusia sebarang usia dan kondisi yang menghendaki memperoleh sesuatu dari hubungannya dengan pendidik. Pendapat di atas senada dengan pandangan islam bahwa peserta didik merupakan manusia yang memiliki sejumlah fitrah atau potensi dasar yang masih perlu dikembangkan. Berduarkan hal itu, hakikat utama seorang peserta didik adalah pribadi yang sedang berkembang berdasarkan potensi yang dimiliki, bertanggung jawab atas pendidikannya, pribadi yang memiliki potensi, insan unik, dan menterlukan pembinaan individual dan perlakuan manusiawi. Faktor potensi merupakan modal utama untuk berkembangnya seseorang. Hal ini sesuai dengan konsep Islam bahwa potensi yang dimiliki manusia dikenal dengan istilah fitrah. Sebagai orang yang punya fitrah, mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju ke titik optimal. Sejalan dengan isi Undang-Undang No. 14/2005 tentang Guru dan Dosen, Usman (l996:4) mengemukakan bahwa pendidik adalah jabatan atau profesi yang memiliki keahlian khusus. Tugas pendidik bukan hanya mengajar, tetapi juga melakukan tugas mendidik. Oleh karena itu, seorang pendidik harus menguasai dasar-dasar dan praktek pendidikan dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang terkait dengan pembelajaran untuk mengoptimalkan potensi masing-masing anak. Dalam kerangka ini, Ansyar (20053) mempertegas bahwa pendidikan melibatkan high-touch, bukan terpaku pada higlbtech semata. Artinya, seorang pendidik dituntut tanggung jawabnya untuk melaksanakan proses pembelajaran tersebut secara profesional, yaitu melaksanakan proses pendidikan yang didasarkan pada kaidah-kaidah keilmuan pendidikan yang sasaran akhirnya adalah pengembangan potensi setiap anak yang optimal. Oleh karena itu, dia menekankan agar dalam setiap proses pembelajaran, pendidik tidak boleh hanya mengisi proses pembelajaran dengan pemompaan maren' melalui metode pengajaran (high-tech) saja, tetapi perlu memberdayakan setiap potensi anak sesuai irama dan tempo pembelajaran sesuai dengan potensi dan kebutuhan peserta didik (high- louch). ' Dari uraian di atas, terlihat bahwa tugas utama pendidik adalah untuk memfasilitasi perkembangan potensi anak agar ia terdidik. Oleh karena itu, tanggung jawab pendidik banyak sekali. Salah satu dirinci Usman (l996: 7--l2), bahwa pendidik di samping mengajar, memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin kelas, fasilitator, pengatur lingkungan belajar, eltspeditor, perencana. supervisor, motivator, dan konselor. Artinya, tugas pendidik sebagai tenaga profesional meliputi mendidik, mengajar, melatih, membimbing untuk memfasilitasi pembelajaran peserta didik. Mendidik, berarti meneruskan 'dan mengembangkan nilai-nilai hidup. Mengajar, berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Melatih, berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada peserta didik (Usman, l996: 7). Berbeda dengan ide terdahulu. Prayitno (2005) dan P3KP (2005) mengungkapkan bahwa pendidikan perlu mengaplikasikan kewibawaan dan kewiyataan Kewibatvaan merupakan unsur-unsur yang menentukan kualitas hubungan antara pendidik' dan peserta didik, sedangkan kewiyaraair merupakan unsur-unsur menentukan isi hubungan antara Yang keduanya Suatu wass; &try-sensi pendidik dimuat caJaIrr; -_az` -" '; -;. , TKJ-SI-'TC, bahwa pezifdil. 3:45 : :zili-ci kuiiziknsi dan
  18. 18. Dai/ ian, Fenycleizggartlcm f'rusc. v lwmnv/ kn-arcyzi. Yvhrtsni Ikrar/ ali. s sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Lebih lettgkap lagi telah dimuat dalam pasal 8 UU Rl No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dan Pasal 28 ayat l PP No. l9 Th. 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (PP-SNP) memberikan rumusan tentang kompetensi pendidik, yaitu ”pendidik harus memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”. Pasal 28 ayat l PP-SNP mengaitkan: : kualifikasi akademik dan kompetensi yang harus dimiliki seorang pendidik dalam statusnya sebagai agen pembelajaran (learning agen! ) yang berperan antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik. Oleh sebab itulah, pasal l ayat l UU No. 14/2005 menyebut guru sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi pesena didik. Untuk mengemban tugas itu, pendidik harus memiliki kompetensi sebagaimana dituangkan dalam pasal 10 ayat l UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan pasal 28 ayat 3 PP-SNP, yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Dari sisi kompetensi pedaBOBiK. seorang pendidik harus mampu mengelola pembelajaran, memahami peserta didik, merancang dan melaksanakan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan didik untuk penambangan peserta mengaktualisasikan berbagai potensi yang Kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia. Kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan materi pelajaran yang memungkinkannya membimbing peserta didik. Kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/ wali, dan masyarakat sekitar. Dengan empat S. ; r: :-_ r. 1 'r. pendidik akan dapat meizlzsregv" sisa: : i: * tujuan pendidikan lily _zL yan. : 'll berkembnngwa potensi peserta didik agai menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada 'Yulian Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat. bcrtliiiu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi varga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. SINIPULAN DAN SARAN Berdasarkan pandangan di atas, pendidikan dengan semua kegiatan yang dilakukan pada dasarnya merupakan ibadah yang mempersiapkan manusia menjalani kehidupannya, membukakan jalan untuk mcmpetltcmbangkmi kehidupannya mencapai tujuan kehidupannya, yaitu kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Selain itu, dari fungsinya, manusia ditugaskan sebagai pemimpin di muka bumi yang mengabdi kepada Allah semata. Oleh karena itu, pendidikan harus berorientasi pada pengembangan semua potensi manusia seoptimal mungkin agar mampu memikul tanggung jawab sebagai khalifah berdasarkan jiwa pengabdian kepada Allah semata. llal ini berarti, manusia dalam mengemban misi dan amanat untuk menjadi pemimpin di dunia, mereka harus selalu setia pada hak dan kewajiban kepada Allah. Dalam kedudukannya sebagai ibadah, pendidikan yang dilakukan hendaklah bermotif ibadah pula, yaitu kekuatan batin yang muncul dalam diri seseorang berupa niat untuk berbuat sesuatu kebaikan bagi kemaslahatan umat dan penuh tanggung jawab untuk mendapatkan keridaan dari Allah (ikhlas) semata Pendidikan, dengan proses pembelajaran sebagai intinya perlu dijadikansebagai suatu sistem yang teratur dan mengemban misi yang cukup luas, yaitu segala sesuatu yang _Bertalian dengan perkembangan fisik, kesehatan, keterampilan, pikiran, perasaan, kemauan, sosial sampai kepada masalah kepercayaan atau keimanan. Untuk mencapai hal itu, upaya sistem yang kolaboratif dan sistematis melalui tiga jalur pendidikan, yaitu informal, formal, dan nonfortnal perlu diusahakan terus menerus. Catatan: Artikel ini ditulis dari disertasi penulis di Pascasarjana Universitas Negeri Padang dengan tim promotor Prof. Drs. Mohd. .Ansyaru PhJ). Prof. Dr. Aliasnr, ZVLEd. , dan Prof. Dr. hiukbaiyar.
  19. 19. DAFTAR RUJUKAN AI-Gazali. I997. llryu` Ulun: u! Din Kairo. Da! Al-Manar. Al-Nasvawi. 200!. .lI-, Irl-u 'in ul- Nabawiyah, Liburan, Da! lbnu Hazm. Ansyar, Mohd. . 2005. “Sekolah Efektif". Padang : Universitas Negeri Padang. Depdikbud. l999. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Dimyati dan Mudjiono. l999. Belxyur dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Crpla. Langgulung. Hasan. l99l. Kreativitas dan Pendidikan Islam. Jnkana: Pustaka A| ~ Husna. Mndsen, KB. 1961, Theories Of Avlarivaliaar. Copenhagen: Munksgaard. Pokja Pengembangan Pela Keilmuan Pendidikan. 2005. Peta Keilmuan Pendidikan. Jakarta : Depdiknas Dikti. Prayitno &t Ennan Amir 1999. Dasar-Dasar Bimbingan dan Kouscliirg. Jakarta : PT Rineka Cipta Prayitno. 2002 Iin/ rungan I'ma/ kalikan, Jakarta : Dircktornl Sl . TIK [Jikdasmer: Depdiknas. Prayitno. 2005. Susuk Keilmuan Ilmu Pendidikan, Padang : FIP Universitas Negeri Padang. Suderadjal. 2004. lmplemenlast Ktrikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Bandung: CV. Cipta Cekas Grafika. Suryabrala, Sumadi, 2002, Psikologi Pendidikan Jakarta: PT. RajaGra- findo Persada. Ulich, Robert. 1961. Philosophy of Edit-ario: :. New York. American Book Company [Isman, Uzer. 1996. J-Ierrjadi Guru Profesional, Bandung: Remaja» Rnsdakarya.

×