1PSIKOANALISIS DALAM PROSA SASTRA1 Pengertian Prosa SastraProsa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi kar...
22 Pengertian Psikoanalisis dalam Prosa Sastra Menurut Para AhliMenurut Endraswara (2003:97) psikologi sastra merupakan ka...
3Psikoanalisis merupakan sejenis psikologi tentang ketidaksadaran;perhatian-perhatiannya terarah pada bidang motivasi, emo...
4Bagi Id, kenikmatan adalah keadaan yang relative inaktif atau tingkatenerji yang rendah, dan rasa sakit adalah tegangan a...
5tersedianya peluang yang resikonya minimal. Menurut Bertens (2006:33), tugasego adalah untuk mempertahankan kepribadianny...
6Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasimemakai prinsip idealistic sebagai lawan dari pr...
7sastra itu sendiri. Jadi psikoanalisis adalah studi tipe dan hukum-hukum psikologiyang diterapkan pada karya sastra.Muncu...
8adalah salah satu bentuk karya seni. Dari empat macam hubungan di atas,hubungan pertama, kedua, dan keempat bisa terjadi ...
91 Kepribadian Tokoh BuyungBuyung merupakan tokoh utama dalam novel Harimau! Harimau! Diaseorang pemuda yang dikenal baik ...
10“Baiklah, aku kembali memeriksa perangkap,” katanya, “kalianterus saja. Nanti aku susul.” (Lubis, 2004: 58).Begitu diing...
11Buyung merasa paling kecil di antara rombongan pencari damar lainnya.Hal ini menyebabkan Buyung tidak cukup percaya diri...
12perburuan ia juga menyerahkan pada Wak Katok. Padahal Buyung sebenarnyalebih pintar berburu dibandingkan dengan Wak Kato...
13Buyung sebagai seorang pemuda yang sudah berusia sembilan belas tahun,juga pandai bekerja mencari nafkah. Hal ini dapat ...
14Rasa belas kasih Buyung ia tunjukkan kepada keluarganya. Ia hendakmemberikan ibunya uang. Buyung juga mempunyai rasa per...
152 Perkembangan Kepribadian Tokoh BuyungSebagai seorang pemuda yang beranjak dewasa, Buyung mempunyaiketertarikan terhada...
16tersebut (Id). Ia tidak dapat menafsirkan sikap Zaitun yang terkadang manis danterkadang acuh tak acuh terhadap Buyung.B...
17merupakan pemuda baik – baik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yangagamis pada akhirnya melakukan bentuk kasih sa...
18identitasnya untuk menjadi laki-laki dewasa, ia ingin berkomitmen kepadaperempuan yang benar-benar dicintainya saja.Buyu...
196 SimpulanSebagai seorang pemuda yang beranjak dewasa, Buyung mempunyaikeinginan menjadi laki-laki dewasa pada umumnya. ...
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Makalah psikoanalisis prosa sastra mika

825 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
825
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Makalah psikoanalisis prosa sastra mika

  1. 1. 1PSIKOANALISIS DALAM PROSA SASTRA1 Pengertian Prosa SastraProsa adalah suatu jenis tulisan yang dibedakan dengan puisi karenavariasi ritme (rhythm) yang dimilikinya lebih besar, serta bahasanya yang lebihsesuai dengan arti leksikalnya. Kata prosa berasal dari bahasa Latin "prosa" yangartinya "terus terang". Jenis tulisan prosa biasanya digunakan untukmendeskripsikan suatu fakta atau ide. Karenanya, prosa dapat digunakan untuksurat kabar, majalah, novel, ensiklopedia, surat, serta berbagai jenis medialainnya.prosa juga dibagi dalam dua bagian,yaitu prosa lama dan prosa baru,prosalama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat,danprosa baru ialah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa pun(http://id.wikipedia.org/wiki/Prosa).Prosa dibagi menjadi dua yaitu prosa lama dan prosa baru. Prosa lamaadalah karya sastra yang belum mendapat pengaruh dari sastra atau kebudayaanbarat. Karya sastra prosa lama yang mula-mula timbul disampaikan secara lisan,disebabkan karena belum dikenalnya bentuk tulisan. Setelah agama dankebudayaan Islam masuk ke indonesia, masyarakat menjadi akrab dengan tulisan,bentuk tulisan pun mulai banyak dikenal. Sejak itulah sastra tulisan mulai dikenaldan sejak itu pulalah babak-babak sastra pertama dalam rentetan sastra indonesiamulai ada. Sedangkan prosa baru adalah karangan prosa yang timbul setelahmendapat pengaruh sastra atau budaya Barat.Prosa lama ditandai dengan sifatnya yang statis artinya pola kalimat padaprosa lama banyak yang sama bahkan temaceritapun banyak yang sama. Selainitu, cerita lama umumnya mempunyai suatu keterkaitan unsur-unsur yang sama.Prosa lama yang bersifat tradisional terbentuk di tengah-tengah masyarakat.Kebanyakan hasil sastra dalam kesusastraan lama tidak diketahui siapapengarangnya.Prosa baru menceritakan dengan jelas keadaan masyarakat. Ia jugabersifat dinamis artinya dapat diubah. Pada awalnya prosa baru muncul adalahkarena pengaruh budaya Belanda dan Inggris.
  2. 2. 22 Pengertian Psikoanalisis dalam Prosa Sastra Menurut Para AhliMenurut Endraswara (2003:97) psikologi sastra merupakan kajian yangmemandang karya sastra sebagai aktivitas kejiwaan. Dalam arti luas bahwa karyasastra tidak lepas dari kehidupan yang menggambarkan berbagai rangkaiankepribadian manusia. Ratna (dalam Albertine, 2010:54) berpendapat psikologi,khususnya psikologi analitik diharapkan mampu menemukan aspek-aspekketaksadaran yang diduga merupakan sumber-sumber penyimpangan psikologissekaligus dengan terapinya. Selain itu, teknologi dengan berbagai dampaknegatifnya dan lingkungan hidup merupakan salah satu sebab utama terjadinyagangguan psikologis.Psikologi sastra tidak bermaksud memecahkan masalah psikologis. Namunsecara definitif, tujuan psikologi sastra ialah memahami aspek-aspek kejiwaanyang terkandung dalam suatu karya. Psikologi lahir untuk mempelajari kejiwaanmanusia, yakni manusia yang ada di bumi inilah yang menjadi objek penelitianpsikologi, sastra lahir dari masyarakat, pengarang hidup dalam tengah-tengahmasyarakat dan pengarang juga menciptakan karya sastranya termasuk tokoh yangada didalamnya. Tokoh yang diciptakan secara tidak sadar oleh pengarangmemiliki muatan kejiwaan yang timbul dari proyeksi pelaku yang ada dalammasyarakat, karya sastra berupa novel lebih panjang dan terperinci dalampenggambaran tokohnya, oleh karena itu kejiwaan yang ada dalam novel lebihkental pula. Pendapat yang sama mengenai kejiwaan tokoh dalam karya sastra,dikemukakan oleh Ratna (dalam Albertine 2010:54) ialah berpendapat bahwapada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah unsurkejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam karya.3 Teori Psikoanalisis Sigmund FreudMenurut Albertine (2010:11), psikoanalisis adalah disiplin ilmu yangdimulai sekitar tahun 1900-an oleh Sigmund Freud. Teori psikoanalisis iniberhubungan dengan fungsi dan perkembangan mental manusia, serta ilmu inimerupakan bagian dari psikologi yang memberikan kontibusi besar dan dibuatuntuk psikologi manusia selama ini.
  3. 3. 3Psikoanalisis merupakan sejenis psikologi tentang ketidaksadaran;perhatian-perhatiannya terarah pada bidang motivasi, emosi, konflik, sistemneurotic, mimpi-mimpi, dan sifat-sifat karakter. Menurut Freud (dalamSuryabrata, 2002:3), psikoanalisis adalah sebuah metode perawatan medis bagiorang-orang yang menderita gangguan syaraf. Psikoanalisis merupakan suatujenis terapi yang bertujuan untuk mengobati seseorang yang mengalamipenyimpangan mental dan syaraf.Dalam struktur kepribadian Freud, ada tiga unsur sistem penting, yakni id,ego, dan superego. Menurut Bertens (2006:32) istilah lain dari tiga faktor tersebutdalam psikoanalisis dikenal sebagai tiga “instansi” yang menandai hidup psikis.Dari ketiga sistem atau ketiga instansi ini satu sama lain saling berkaitan sehinggamembentuk suatu kekuatan atau totalitas. Maka dari itu untuk mempermudahpembahasan mengenai kepribadian pada kerangka psikoanalisa, kita jabarkansistem kepribadian ini.a. IdMenurut Bertens (2006:32-33), id merupakan lapisan psikis yang palingmendasar sekaligus id menjadi bahan dasar bagi pembentukan hidup psikis lebihlanjut. Artinya id merupakan sisitem kepribadian asli paling dasar yakni yangdibawa sejak lahir. Dari id ini kemudian akan muncul ego dan superego. Saatdilahirkan, id berisi semua aspek psikologik yang diturunkan, seperti insting,impuls, dan drives. Id berada dan beroperasi dalam daerah unconscious, mewakilisubyektivitas yang tidak pernah disadari sepanjang usia. Id berhubungan eratdengan proses fisik untuk mendapatkan energi psikis yang digunakan untukmengoperasikan sistem dari struktur kepribadian lainnya. Energi psikis dalam iditu dapat meningkat oleh karena perangsang, dan apabila energi itu meningkatmaka menimbulkan tegangan dan ini menimbulkan pengalaman tidak enak (tidakmenyenangkan). Dari situlah id harus mereduksikan energi untuk menghilangkanrasa tidak enak dan mengejar keenakan. Id beroperasi berdasarkan prinsipkenikmatan (pleasure principle), yaitu berusaha memperoleh kenikmatan danmenghindari rasa sakit.
  4. 4. 4Bagi Id, kenikmatan adalah keadaan yang relative inaktif atau tingkatenerji yang rendah, dan rasa sakit adalah tegangan atau peningkatan enerji yangmendambakan kepuasan. Jadi ketika ada stimulasi yang memicu enerji untukbekerja-timbul tegangan energi-id beroperasi dengan prinsip kenikmatan;berusaha mengurangi atau menghilangkan tegangan itu; mengembalikan diri ketingkat energi rendah. Penerjemahan dari kebutuhan menjadi keinginan ini disebutdengan proses primer. Proses primer ialah reaksi membayangkan ataumengkhayal sesuatu yang dapat mengurangi atau menghilangkan tegangan-dipakai untuk menangani stimulus kompleks, seperti bayi yang laparmembayangkan makanan atau putting ibunya. Id hanya mampu membayangkansesuatu, tanpa mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang benar-benar memuaskan kebutuhan. Id tidak mampu menilai atau membedakan benar-salah , tidak tahu moral. Jadi harus dikembangkan jalan memperoleh khayalan itusecara nyata, yang member kepuasan tanpa menimbulkan ketegangan barukhususnya masalah moral. Alasan inilah yang kemudian membuat idmemunculkan ego.b. EgoEgo adalah aspek psikologis daripada kepribadian dan timbul karenakebutuhan organisme untuk berhubungan secara baik dengan dunia kenyataanatau realita (Freud dalam Suryabrata 2010:126). Ego berbeda dengan id. MenurutKoeswara (1991:33-34), ego adalah sistem kepribadian yang bertindak sebagaipengaruh individu kepada objek dari kenyataan, dan menjalankan fungsinyaberdasarkan prinsip kenyataan. Menurut (Freud dalam Bertens 2006:33), egoterbentuk dengan diferensiasi dari id karena kontaknya dengan dunia luar,khususnya orang di sekitar bayi kecil seperti orang tua, pengasuh, dan kakak adik.Ego timbul karena adanya kebutuhan-kebutuhan organisme memerlukantransaksi-transaksi yang sesuai dengan dunia realita atau kenyataan.Ego adalah eksekutif (pelaksana) dari kepribadian, yang memiliki duatugas utama; pertama, memilih stimuli mana yang hendak direspon dan atauinsting mana yang akan dipuaskan sesuai dengan prioritas kebutuhan. Kedua,menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dipuaskan sesuai dengan
  5. 5. 5tersedianya peluang yang resikonya minimal. Menurut Bertens (2006:33), tugasego adalah untuk mempertahankan kepribadiannya sendiri dan menjaminpenyesuaian dengan lingkungan sekitar, lagi untuk memecahkan konflik-konflikdengan realitas dan konflik-konflik antara keinginan-keinginan yang tidak cocoksatu sama lain. Dengan kata lain, ego sebagai eksekutif kepribadian berusahamemenuhi kebutuhan id sekaligus juga memenuhi kebutuhan moral dankebutuhan berkembang-mencapai-kesempurnaan dari superego.Ego sesungguhnya bekerja untuk memuaskan id, karena itu ego yang tidakmemiliki energi sendiri akan memperoleh energi dari id. Untuk itu sekali lagimemahami apa yang dimaksudkan dengan proses sekunder, perlu untuk melihatsampai dimana proses primer membawa seorang individu dalam pemuasankeinginan sehingga dapat diwujudkan dalam sebuah kenyataan. Proses sekunderterdiri dari usaha menemukan atau menghasilkan kenyataan dengan jalan suaturencana tindakan yang telah dikembangkan melalui pikiran dan oral (pengenalan).c. SuperegoMenurut Bertens (2006:33-34), superego dibentuk melalui internalisasi(internalization), artinya larangan-larangan atau perintah-perintah yang berasaldari luar (para pengasuh, khususnya orang tua) diolah sedemikian rupa sehinggaakhirnya terpancar dari dalam. Dengan kata lain, superego adalah buah hasilproses internalisasi, sejauh larangan-larangan dan perintah-perintah yang tadinyamerupakan sesuatu yang “asing” bagi si subyek, akhirnya dianggap sebagaisesuatu yang berasal dari subyek sendiri, seperti “Engkau tidak boleh…atauengkau harus…” menjadi “Aku tidak boleh…atau aku harus…”Menurut Freud (dalam Suryabrata, 2010:127) Super Ego adalah aspeksosiologi kepribadian, merupakan wakil dari nilai-nilai tradisional serta cita-citamasyarakat sebagaimana ditafsirkan orang tua kepada anak-anaknya yangdimasukkan dengan berbagai perintah dan larangan. Super Ego lebih merupakankesempurnaan daripada kesenangan. Oleh karena itu, Super Ego dapat puladianggap sebagai aspek moral kepribadian. Fungsinya yang pokok ialahmenentukan apakah sesuatu benar atau salah, pantas atau tidak, susila atau tidak,dan dengan demikian pribadi dapat bertindak sesuai dengan moral masyarakat.
  6. 6. 6Superego adalah kekuatan moral dan etik dari kepribadian, yang beroperasimemakai prinsip idealistic sebagai lawan dari prinsip kepuasan id dan prinsiprealitik dari ego. Superego bersifat nonrasional dalam menuntut kesempurnaan,menghukum dengan keras kesalahan ego, baik yang telah dilakukan maupun barudalam fikiran. Superego dalam hal mengontrol id, bukan hanya menundapemuasan tapi merintangi pemenuhannya.1 Fungsi utama dari superego yang dihadirkan antara lain adalah:Sebagai pengendali dorongan atau impuls-impuls naluri id agar impuls-impuls tersebut disalurkan dengan cara atau bentuk yang dapat diterimaoleh masyarakat.2 Untuk mengarahkan ego pada tujuan-yang sesuai dengan moral ketimbangdengan kenyataan.3 Mendorong individu kepada kesempurnaan. Superego senantiasa memaksaego untuk menekan hasrat-hasrat yang berbeda kealam sadar. Superegobersama dengan id, berada dialam bawah sadar (Hall dan Lindzey,1993:67-68).Jadi superego cenderung untuk menentang, baik ego maupun id, danmembuat dunia menurut konsepsi yang ideal. Ketiga aspek tersebut meskimemiliki karakteristik sendiri-sendiri dalam prakteknya, namun ketiganya selaluberinteraksi secara dinamis.Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh SigmundFreud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia.Psikoanalisis dalam sastra memiliki empat kemungkinan pengertian. Yangpertama adalah studi psikologi pengarang sebagai tipe atau sebagai pribadi. Yangkedua adalah studi proses kreatif. Yang ketiga adalah studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra.Yang keempat adalahmempelajari dampak sastra pada pembaca. Namun, yang digunakan dalampsikoanalisis adalah yang ketiga karena sangat berkaitan dalam bidang sastra.Asal usul dan penciptaan karya sastra dijadikan pegangan dalam penilaian karya
  7. 7. 7sastra itu sendiri. Jadi psikoanalisis adalah studi tipe dan hukum-hukum psikologiyang diterapkan pada karya sastra.Munculnya pendekatan psikologi dalam sastra disebabkan oleh meluasnyaperkenalan sarjana-sarjana sastra dengan ajaran-ajaran Freud yang mulaiditerbitkan dalam bahasa Inggris. Yaitu Tafsiran Mimpi (The Interpretation ofDreams) dan Three Contributions to A Theory of Sex atau Tiga SumbanganPikiran ke Arah Teori Seks dalam dekade menjelang perang dunia. Pembahasansastra dilakukan sebagai eksperimen tekhnik simbolisme mimpi, pengungkapanaliran kesadaran jiwa, dan pengertian libido ala Freud menjadi semacam sumberdukungan terhadap pemberontakan sosial melawan Puritanisme(kerohanian ketat)dan tata cara Viktorianoisme (pergaulan kaku).Psikoanalisis dapat digunakan untuk menilai karya sastra karena psikologidapat menjelaskan proses kreatif. Misalnya, kebiasaan pengarang merevisi danmenulis kembali karyanya. Yang lebih bermanfaat dalam psikoanalisis adalahstudi mengenai perbaikan naskah, koreksi, dan seterusnya. Hal itu, berguna karenajika dipakai dengan tepat dapat membantu kita melihat keretakan (fissure),ketidakteraturan, perubahan, dan distorsi yang sangat penting dalam suatu karyasastra. Psikoanalisis dalam karya sastra berguna untuk menganalisis secarapsikologis tokoh-tokoh dalam drama dan novel. Terkadang pengarang secara tidaksadar maupun secara sadar dapat memasukan teori psikologi yang dianutnya.Psikoanalisis juga dapat menganalisis jiwa pengarang lewat karya sastranya.4 Psikoanalisis dalam Prosa Sastra IndonesiaDalam sastra Indonesia pendekatan psikologi berkembang sejak tahunenam puluhan, antara lain oleh Hutagalung dan Oemarjati dalam bukupembahasan masing-masing atas Jalan Tak Ada Ujung dan Atheis. Berbicaratentang psikologi dan sastra, Rene Wellek dan Austin Warren menulis bahwaistilah “psikologi sastra” memunyai empat kemungkinan pengertian. Pertama,studi psikologi pengarang sebagai tipe atau pribadi. Kedua, studi proses kreatif.Ketiga, studi tipe dan hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra.Keempat, studi tentang dampak sastra pada pembaca (psikologi pembaca). Sastra
  8. 8. 8adalah salah satu bentuk karya seni. Dari empat macam hubungan di atas,hubungan pertama, kedua, dan keempat bisa terjadi pada segala bentuk seni. Yangkhas sastra mungkin hanya hubungan ketiga, itu pun sastra yang berupa cerita(prosa dan drama).Di antara berbagai aliran dalam psikologi, psikoanalisis adalah aliran yangpaling akrab dengan seni. Sigmund Freud, pendiri psikoanalisis, adalah seorangyang menghargai kebudayaan, menyukai seni, dan gemar membaca sastra sejakmuda. Tidak heran kalau kemudian ia menjadikan sastra sebagai medan penelitiansekaligus ilustrasi untuk membuktikan teori-teori yang dikembangkannya. Dalamkarya-karya sastra besar, misalnya Oedipus (Sophokles), Hamlet (Shakespeare),dan The Brother Karamazov (Dostoyevsky), Freud menemukan tipe-tipe manusiayang menyerupai dan sesuai dengan pemikirannya.5 Psikoanalisis tokoh Buyung dalam Novel Harimau! Harimau!SEBUAH PENCARIAN JATI DIRINovel Harimau! Harimau! karya Mochtar Lubis menampilkan tokohBuyung dengan perkembangan kepribadiannya yang menarik untuk dikaji.Buyung, pemuda 19 tahun, jatuh cinta kepada teman sepermainannya waktu kecil,Zaitun. Keraguannya akan kecintaan Ziatun terhadap dirinya membuat iabungkam, tak mengungkapkan perasaannya kepada gadis pujaannya itu.Bagaimanapun usahanya untuk menyimpan perasaannya kepada seorang yangsangat ia cintai tidak mampu mengelakkan hasratnya sebagai seorang pemudayang beranjak dewasa untuk mencintai dan merasa dibutuhkan oleh seorangperempuan. Hasrat Buyung yang demikian tersebut pada akhirnya berujung padabentuk aktualisasi cinta yang keliru. Ia meniduri Siti Rubiyah, seorang perempuanyang secara psikologis membutuhkan kasih sayang seorang laki-laki. Dari sinilahawal kepribadian Buyung terbentuk. Perenungannya akan „dosa‟ beserta norma-norma agama dan masyarakat menuntunnya menemukan „jalan kebenaran‟kembali.
  9. 9. 91 Kepribadian Tokoh BuyungBuyung merupakan tokoh utama dalam novel Harimau! Harimau! Diaseorang pemuda yang dikenal baik dan sopan di kampungnya. Dalamkesehariannya, Buyung bertindak wajar seperti pemuda-pemuda lainnya yangtinggal di Desa Air Jernih.“Sutan, Buyung, Talib, dan Sanip juga termasuk anak muda yangdianggap sopan dan baik di kampung.”“Mereka orang-orang wajar seperti sebagaian terbesar orang dikampung. Mereka baik dalam pergaulan, pergi sembahyang kemesjid, duduk mengobrol di kedai kopi seperti orang lain, merekaikut bekerja bersama-sama ketika ada orang membangun rumah,memperbaiki jalan-jalan, Bandar atau pun menyelenggarakanperhelatan….” (Lubis, 2004: 6).Buyung dibesarkan secara Islamiah, sebagai seorang yang menganut agamaIslam ia mengenal shalat, mengaji dan berusaha menjauhkan diri pada perbuatandosa. Bahkan dalam kutipan di atas dijelaskan bahwa Buyung juga pergi kemasjid untuk bersembahyang. Usaha Buyung untuk menghindari dirinya dariperbuatan dosa ada pada kutipan di bawah ini.“Aduh aku lupa memeriksa perangkap kancil,” katanya kepadaSutan yang berjalan di depannya.“Siapa tahu barangkali ada isinya pagi ini.”“Mengapa engkau tak kembali memeriksanya?” Kata Sutan.“Sayang bukan.”“Tetapi kita telah jauh.”“Mana jauh, baru jalan setengah jam. Tinggalkan sajakeranjangmu di pinggir jalan, tak aka nada orang yangmencurinya. Demikian engkau akan dapat berjalan lebih cepat.Susul kami nanti di tempat bermalam.”“Ah, biarlah,” kata Buyung, masih ragu-ragu.“Tetapi kalau ada isinya, kancilnya bisa mati kelaparan,” kataTalib. “Berdosa engkau.”Buyung tampak ragu. Ucapan Talib menyebabkan diamengambil keputusan untuk kembali.
  10. 10. 10“Baiklah, aku kembali memeriksa perangkap,” katanya, “kalianterus saja. Nanti aku susul.” (Lubis, 2004: 58).Begitu diingatkan Talib akan dosa, Buyung berusaha sebisa mungkinuntuk menjauhkan diri dari perbuatan dosa. Ia bersedia kembali untuk memeriksaperangkap kancil yang lupa diperiksanya saat akan melanjutkan perjalananpulang. Ia takut berdosa menyiksa kancil yang mungkin akan mati kelaparan jikatidak ia selamatkan dari perangkapnya.Walaupun demikian, Buyung masih mempercayai takhayul karena iatinggal di desa terpencil yang kuat kepercayaannya pada sesuatu yang bersifattakhayul. Dia percaya pada ilmu sihir, dan jimat-jimat Wak Katok. Buyung jugamenjadi murid ilmu sihir Wak Katok.“……dan Buyung, yang termuda diantara mereka, baruberumur sembilan belas tahun. Anak-anak muda itu semuanyamurid pencak Wak Katok. Mereka juga belajar ilmu sihir dangaib padanya” (Lubis, 2004: 4).Buyung dan kawan-kaeannya selalu bermimpi akan diberipelajaran oleh Wak Katok ilmu sihir yang dahsyat. Diaterutama sekali ingin dapat belajar mantera pemikat hatigadis…. (Lubis, 2004: 10)Buyung dan kawan-kawannya juga amat ingin mendapat ilmumenghilanh. Dia telah bermimpi tentang hal-hal yang dapatdilakukannya…. (Lubis, 2004: 11).Namun pada perkembangannya, Buyung tahu bahwa ilmu-ilmu WakKatok palsu dan ia tidak percaya lagi.“Jimat-jimatmu palsu, mantera-manteramu palsu. Inilah jimat-jimat yang dipakai juga oleh Pak Balam, oleh Talib, oleh Sutan,lihatlah, dimana mereka kini, mereka mempercayaiengkau…mereka telah mati, telah binasa…. Wak Katok diamsaja.” Buyung – kepada Wak Katok (Lubis, 2004: 192).
  11. 11. 11Buyung merasa paling kecil di antara rombongan pencari damar lainnya.Hal ini menyebabkan Buyung tidak cukup percaya diri. Terutama masalah cinta,ia tidak berani mengungkapkan cintanya kepada gadis pujaan hatinya, Zaitun.Dia terutama sekali ingin dapat belajar mantera pemikat hatigadis. Telah jatuh cinta benar kepada si Zaitun, anak WakHamdan, akan tetapi sang gadis seakan acuh tak acuh saja(Lubis, 2004: 10).Bagaimana hendak memikat hati gadis yang demikian, kalautidak dengan mantera Wak Katok? Buyung bersedia melakukanapa saja, asal Wak Katok mengajarkan mantera yangdiperlukan (Lubis, 2004: 12).Sikap Buyung yang tidak percaya diri dan takut ditolak cintanya olehZaitun mendorong Buyung untuk meminta mantera kepada Wak Katok agarBuyung dapat menggunakannya untuk memikat hati Zaitun tanpa takut cintanyaditolak. Namun pada perkembangan psikologinya, tokoh Buyung mempunyaikeberanian dan hendak mengungkapkan cintanya kepada Zaitun tanpamenggunakan mantera dan jimat dari Wak Katok.“… aku akan kawin denganZaitun, karena dia cinta padaku, dan bukan karena mantera dan jimat.” (Lubis,2004: 202).Selain tidak percaya diri akan cintanya, pada awal penceritaan Buyungjuga tidak memiliki rasa percaya diri pada kemampuan yang dimilikinya. Iamenganggap bahwa orang lain lebih unggul darinya.Dalam hati Buyung amat ingin lekas menjadi dewasa dan lelakiyang matang, seperti kawan-kawannya yang lain. UmpamanyaSutan yang lebih pandai bersilat dari dia, meskipun merekasama-sama murid Wak Katok, yang telah menikah dan amatpandainya bergaul dengan perempuan, tua atau muda, danpandai pula bekerja mencari uang. Sanip pandai bermaindangung-dangung. Dia ingin semudah Sanip menyanyi danmenari dan bercerita. (Lubis, 2004:15-16)Sikap Buyung yang tidak percaya diri membawa Buyung untuk selalu taatdan patuh pada apa yang diperintahkan oleh orang lain. Dalam memimpin
  12. 12. 12perburuan ia juga menyerahkan pada Wak Katok. Padahal Buyung sebenarnyalebih pintar berburu dibandingkan dengan Wak Katok. Namun dalamperkembangannya, tokoh Buyung menjadi pribadi yang memiliki rasa percayadiri. Ia percaya pada kemampuan yang dimilikinya. Ia lalu memimpin perburuanmenggantikan Wak Katok.“Ikat dia baik-baik!” kata Buyung. Dengan sendirinya,Buyung kini yang mengambil pimpinan antara merekaberdua. Sedang Sanip mengikat Wak Katok, Buyungmemadamkan api-api unggun lain yang telah dipasang WakKatok (Lubis, 2004: 200).Harimau itu memperhatikan tempat yang agak terbukadihadapannya dan kemudian dia menegangkan tubuhnya….Harimau itu merendahkan badannya, siap hendakmelompat. Buyung membidik hati-hati. Membidikkansenapan tepat di tengah antara kedua mata harimau.dengan gembira ia melihat tangannya tidak gemetar.Sepanjang hari hatinya selalu bertanya-tanya, dan diamerasa khawatir, apakah dia tidak akan ketakutan dan takkuasa membidik, tangannya dan seluruh badannya akangemetar jika melihat harimau. Akan tetapi kini dia merasaseluruh badannya dan pikirannya tenang. Dia tahu apayang dilakukannya, dia menginsyafi bahaya besar yangmereka hadapi, dia yakin pada dirinya sendiri (Lubis,2004: 208-209).Sebagai seorang remaja yang beranjak dewasa Buyung masih labil dalammengambil keputusan. Ia tidak tegas dalam menyikapi suatu masalah.Saat-saat yang menyuruh orang melakukan pilihan ataumengambil keputusan, pilihan yang mungkin membawanyake puncak kebahagiaan, atau juga ke dasar ngarai gelapkenistaas. Atau yang membawa kesyukuran atau kesesalanseumur hidup. Saat serupa itulah yang tiba akan tetapiberlaku kembali antara Buyung dan Siti Rubiyah (Lubis,2004: 55)
  13. 13. 13Buyung sebagai seorang pemuda yang sudah berusia sembilan belas tahun,juga pandai bekerja mencari nafkah. Hal ini dapat dilihat dari perbincangan antaraorang tua Buyung.“Si Buyung pun sudah besar. Sudah Sembilan belas tahunumurnya. Dan dia pun sudah pandai bekerja,” kataayahnya.Sedang Buyung menganggap dirinya telah dewasa. Diatelah berumur Sembilan belas tahun, dia telah tamatsekolah rakyat, dia telah tamat Qur’an sampai dua kali,dan dia pun pandai mencari nafkah sendiri (Lubis, 2004:12-13).Kepandaian Buyung dalam mencari nafkah didukung oleh kepandaiannyaberburu. Ia mahir menggunakan senapan untuk membidik hewan buruannya.Kepandaiannya dalam berburu mendapatkan pujian dari guru Buyung yaitu WakKatok. Nama Buyung pun mulai dikenal sebagai pemuda yang pandai berburu dikampungnya.….Buyung bangga benar dengan kepandaiannyamenembakkan senapan lantak. Jarang benar ia melesat.Hampir selalu kena sasarannya.Dia pernah membidik seekor babi yang sedang lari, yangdibidiknya tepat di belakang kupingnya, dan disanalahpeluru mengenai sang babi. Wak Katok sendiri pernahmemujinya, ketika dalam berburu babi ramai-ramai denganorang kampung, pelurunya menembus mata kiri seekor babiyang datang menyerang. Wak Katok dalam kemarahanhatinya ketika itu mengatakan, bahwa dia sendiri pun takdapat memperbaiki tembakan Buyung. Sungguh sebuahpujian besar datang dari Wak Katok. Buyung merasa amatbangga dan namanya sebagai penembak yang mahir mulaitermasyur di kampung.Pujian dari Wak Katok sebagai pemburu yang termahir danpenembak yang terpandai di seluruh kampung, merupakansemacam pengangkatan resmi juga untuk Buyung….. (Lubis,2004: 8-9)
  14. 14. 14Rasa belas kasih Buyung ia tunjukkan kepada keluarganya. Ia hendakmemberikan ibunya uang. Buyung juga mempunyai rasa perhatian kepada ibunya.Ia bahkan tahu warna kesukaan ibunya. Padahal itu suatu hal yang sepele.Oh, dia akan membelikan sebuah kain sembahyang yang baruuntuk ibunya. Ibunya akan senang benar dengan kainsembahyang baru nanti, sebuah kain pelekat berwarna merahtua. Itulah warna yang disenangi ibunya. Kemudian apa lagi?Oh, dia akan memberi ibunya uang untuk membantu belanja dirumah. Sejak ia pandai menyimpan uang, selalu dia memberiuang pada ibunya, meskipun ibunya mengatakan, bahwa diatak perlu memberikan uang, kata ibunya kepada Buyung(Lubis, 2004: 59).Selain pada keluarganya, Buyung juga peduli dan mempunyai rasatanggung jawab terhadap warga kampung tempat ia tinggal. Ia takut jika bahayayang sedang ia hadapi sekarang juga akan menyerang warga kampungnya,sehingga Buyung bersedia memerangi bahaya yang ada di depan matanyasebelum bahaya itu sampai ke kampung kelahirannya dan merugikan banyakorang.“dan jika tak kita buru kini, maka harimau akan datang kekampung menyerang ternak. Akan habis lembu dan kambing, dansiapa tahu orang kampung pun akan jadi korbannya.“Tetapi tidaklah itu menjadi urusan orang sekampung nanti?”kata Pak Haji, “mengapa kita saja yang memikul tugasmembunuhnya?”“Tak sampai kesana pikiranku,” kata Buyung, “menurut rasahatiku, di mana kita bertemu dengan yang jahat, dan hendakmerusak kita, atau merusak orang lain, merusak orang banyak,maka kita yang paling dekat wajib melawannya. Masa harus kitatunggu dulu diri kita yang kena bala, maka baru kita bangkitmelawannya? Masa kita berdiam diri selama diri kita yang takkena?” (Lubis, 2004: 181-182).
  15. 15. 152 Perkembangan Kepribadian Tokoh BuyungSebagai seorang pemuda yang beranjak dewasa, Buyung mempunyaiketertarikan terhadap lawan jenis. Dia jatuh cinta kepada Zaitun, bunga desa yangtak hanya cantik tetapi juga pintar mengaji dan menjahit. Bagi Buyung, Zaitunmerupakan potret gadis desa yang sempurna. Keinginan terbesar Buyung (Id)adalah memiliki Zaitun seutuhnya, baik jiwa maupun raga. Hal ini terlihat padapikiran Buyung:“Buyung merasa, bahwa jika Zaitun tak merasa seperti yangdirasakannya, maka rasanya tak puas hatinya akan kawindengan Zaitun, meskipun kedua orang tua mereka menyetujuiperkawinan itu. Buyung tahu, bahwa biasanya orang kawinmenurut pilihan yang dilakukan orang tua saja, akan tetapi diasendiri ingin memilih isteri, dan isterinya memilih dia pula.”(Lubis, 2008: 14).Pada kutipan di atas dapat ditarik simpulan bahwa Buyung benar-benarmemiliki keinginan untuk menjalin hubungan yang serius dengan Zaitun.Hubungan tersebut bukan hanya hubungan sebatas pacar, melainkan hubunganpernikahan yang didasari oleh cinta dan kasih sayang antara keduanya.Usia sembilan belas tahun merupakan usia yang cukup dewasa bagi seoranglaki-laki untuk dapat mandiri, tidak bergantung kepada kedua orang tua. Pada usiaini, seorang laki-laki juga ingin mendapatkan kasih sayang selain dari ibu. Begitupula dengan tokoh Buyung. Dia menginginkan dicintai dan disayangi oleh Zaitun.Selain itu, Buyung ingin merasa dibutuhkan oleh perempuan yang dicintainya.“Kadang-kadang serasa hilang akal Buyung memikirkanbagaimana dapat membuat Zaitun jatuh cinta padanya, supayaZaitun setiap saat ingat padanya, rindu padanya,…” (Lubis,2008:14).Kutipan di atas menyiratkan betapa cintanya Buyung pada Zaitun.Namun, Buyung merasa pesimis akan kemungkinan terwujudnya keinginannya
  16. 16. 16tersebut (Id). Ia tidak dapat menafsirkan sikap Zaitun yang terkadang manis danterkadang acuh tak acuh terhadap Buyung.Bagaimanapun usahanya untuk menyimpan perasaannya kepada seorangyang sangat ia cintai, ia tidak mampu mengelak dari hasratnya sebagai seorangpemuda yang beranjak dewasa untuk mencintai dan merasa dibutuhkan olehseorang perempuan. Hal ini terbukti pada saat istri muda Wak Katok, Siti Rubiyahyang sering mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya, membutuhkanpertolongan dan perlindungannya.“Akan tetapi melihat Siti Rubiyah duduk mencangkungdemikian di depannya, dan menundukkan kepala ke tanah, taksampai hatinya untuk mengaku kalah, dan tak berbuat apa –apa. Dijangkaukannya tangannya memegang bahu SitiRubiyah, dan Siti Rubiyah merebahkan kepalanya ke pangkuanBuyung, dan Buyung menghapus – hapus kening Siti Rubiyah,dan berkata:“Diamlah, diamlah Rubiyah, jangan engkau menangis.Tenanglah.” Kembali rasa lelakinya timbul mengalir kuatbersama darahnya, ketika Siti Rubiyah memegang tangannya,dan kemudian memeluk pinggangnya dan menyembunyikankepalanya ke perut Buyung sambil berkata:“Lindungi aku, Kak. Tak ada orang yang mau menolong aku,selain Kakak. Kepada siapa aku akan meminta tolong kini?”(Lubis, 2008:67).Rasa empati Buyung kepada Siti Rubiyah tercermin pada tindakan Buyungdi atas. Buyung berusaha memberikan perlindungan dan rasa aman kepada SitiRubiyah yang memang membutuhkan perlindungan dari seorang laki – laki. SikapRubiyah yang demikian ini menjadikan Buyung merasa sebagai seorang laki –laki dewasa yang dibutuhkan. Perasaan inilah yang selama ini ia inginkan dantidak ia dapatkan dari Zaitun, gadis pujaan hatinya.Rasa empati Buyung kepada Siti Rubiyah menjerumuskan merekamengaktualisasikan bentuk kasih sayang yang salah. Buyung yang pada dasarnya
  17. 17. 17merupakan pemuda baik – baik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga yangagamis pada akhirnya melakukan bentuk kasih sayang yang melanggar agama.Tindakan Buyung terhadap Siti Rubiyah tersebut pada dasarnyaadalah Ego yang merupakan perwujudan dari Id-nya (keinginan untukmendapatkan cinta Zaitun) yang ia simpan atau tekan.Pada dasarnya, Buyung mempunyai keinginan (Id) yang baik.Namun, Buyung mengambil tindakan yang salah dalam mewujudkan Id-nya. Ego-nya yaitu 1) berusaha memikat Zaitun dengan guna-guna dan 2) menyimpanperasaan cintanya kepada Zaitun yang justru dimanifestasikan dalam bentuktindakan cinta yang salah itu tidak sesuai dengan Superego-nya. Hati nurani danagama yang dianut Buyung yang merupakan Superego-nya menuntun dia untukmerenungkan hal-hal yang telah dilakukannya. “Meskipun mereka memicingkanmata, akan tetapi pikirannya tak berhenti. Ketukan Pak Balam terhadap hatinurani mereka masih berkumandang juga di dalam relung hati dan pikiran,bergema ke bawah sadar.” (Lubis, 2008:113). Kutipan tersebut mengisyaratkanbahwa Buyung memikirkan semua tindakan yang sebenarnya tidak pantas ialakukan. Hal ini juga terlihat pada pikiran Buyung: “Bukankah Siti Rubiyah istriorang lain?” (Lubis, 2008: 74).Dalam diri Buyung timbul pula ketakutan akan dosa-dosa yang telah ialakukan seperti terlihat pada: “Tiba-tiba Buyung teringat pada dosa-dosanyasendiri, dan pikirannya bertambah kacau…. Maka lalu ia tak dapat lagi damaidengan dosa-dosanya,…” (Lubis, 2008: 159). Konflik batin yang dialami tokohBuyung secara tidak langsung telah menghukum jiwanya. Hukuman ini berasaldari hati nuraninya sendiri dan kesadaran akan pengetahuan agama yang Buyungperoleh sejak kecil. Di sinilah peran penting Superego dibutuhkan dalammengarahkan pikiran sadar manusia untuk menjadi pribadi yang baik.Buyung juga mendapatkan pelajaran yang berharga dari Ego memendamperasaan cinta kepada Zaitun. Memendam perasaan cinta justru membawanyakepada masalah baru yang berkaitan dengan Siti Rubiyah, seorang perempuanyang tidak dicintainya. Sebagai seorang pemuda yang sedang mencari
  18. 18. 18identitasnya untuk menjadi laki-laki dewasa, ia ingin berkomitmen kepadaperempuan yang benar-benar dicintainya saja.Buyung yang pada awalnya merupakan pemuda yang masih belum dapatmengambil keputusan, kini telah mampu menentukan pilihan – pilihan hidupnya.Buyung telah memutuskan untuk tidak lagi mempercayai takhayul. Ia juga telahmenentukan sikap yang tegas atas perasaan cintanya kepada Zaitun. Ia tidak akanterlalu lama memendam perasaannya. Ia bertekad untuk menikahi Zaitun.Keberanian Buyung untuk menikah tersebut menunjukkan kematangannya dalamberpikir dan bersikap, karena menikah adalah suatu keputusan dewasa yangmengandung banyak konsekuensi.Kemampuan dalam menentukan pilihan hidup ini menunjukkan bahwa iatelah berhasil melewati proses pencarian jati diri. Semua ini tidak terlepas dariperanan Id, Ego, dan Superego yang ada pada dirinya.Id yang tidak direalisasikan akan tersimpan di dalam pikiran dan lama –lama menjadi sesuatu yang tidak disadari. Keinginan Buyung yang tidakdirealisasikan tersimpan di dalam pikiran dan lama-lama menjadi sesuatu yangtidak disadari. Bentuk ketidaksadaran ini diwujudkan dalam mimpi yang dialamioleh Buyung. Zaitun gadis yang dicintainya hadir dalam mimpinya.Keinginan Buyung untuk mendapatkan cinta Zaitun yang tertekan dalamEgo, kemudian tersimpan di dalam pikiran dan menjadi sesuatu yang tak disadari.Keinginan tersebut dimanifestasikan lewat mimpinya. Dalam mimpi tersebut,Buyung yang hendak menyeberangi danau dalam kondisi alam yang takbersahabat, dipanggil-panggil oleh Zaitun. Sikap Zaitun yang tampak dalammimpi tersebut menyiratkan bahwa ia menaruh perhatian yang besar terhadapBuyung. Zaitun khawatir akan keselamatan Buyung. Melalui mimpi ini, keinginanBuyung untuk mendapatkan cinta Zaitun terealisasi dalam alam bawah sadarnya.
  19. 19. 196 SimpulanSebagai seorang pemuda yang beranjak dewasa, Buyung mempunyaikeinginan menjadi laki-laki dewasa pada umumnya. Dia ingin menjalin hubunganyang serius dengan Zaitun. Namun keingianan (Id) Buyung tersebut terhalangoleh ketidakberaniannya dalam mengambil keputusan. Ketidakberaniannya inimenunjukkan bahwa tokoh Buyung belum memiliki jati diri sebagai laki-lakidewasa. Sikapnya ini mendorong Buyung untuk menekan perasaan cintanyakepada Zaitun, yang justru menimbulkan masalah baru yang berkaitan dengan SitiRubiyah (Ego). Hati nurani dan agama yang dianut Buyung (Superego) menuntundia untuk merenungkan hal-hal yang telah dilakukan sehingga ia pada akhirnyamenemukan jati diri sebagai seorang laki-laki dewasa. Ia menyadari bahwa cintayang sejati tidak datang karena guna-guna, tetapi muncul dengan sendirinya. Iatidak lagi percaya pada takhayul. Ia juga telah menentukan sikap yang tegas atasperasaan cintanya kepada Zaitun. Ia bertekad untuk menikahi Zaitun. KeberanianBuyung untuk menikah tersebut menunjukkan kematangannya dalam berpikir danbersikap.Kemampuan dalam menentukan pilihan hidup ini menunjukkan bahwaBuyung telah berhasil melewati proses pencarian jati diri yang tidak terlepas dariperanan Id, Ego, dan Superego yang ada pada dirinya. Dalam tokoh Buyung, Id-nya lah yang lebih dominan. Walaupun Id-nya hanya sebentuk angan yang ditekansaja, tanpa realisasi, tetapi keinginannya untuk mendapatkan cinta Zaitun inisangat kuat. Ego untuk mewujudkan Id tidak terlalu dominan karena adanyapenekanan terhadap Id tersebut. Demikian pula dengan Superego Buyung. PeranSuperego di awal kepribadian tidak terlalu menonjol sehingga Buyung melakukantindakan yang tidak sesuai dengan agama dan norma masyarakat.Disadari atau tidak, setiap orang memiliki Id, Ego, dan Superego.Ketiganya memberikan kontribusi dalam pembentukan kepribadian seseorang.Baik atau buruk kepribadian yang terbentuk ditentukan oleh bagian kepribadianmana antara Id, Ego, dan Superego yang lebih menonjol.

×