ŪIHHM.  Nllmñ 531. Inišx IFIFUIHHVĄKŠW HHHHŪČ l`| l`| l`IUA`IIi„;  uIIPYIAYČJA`HŪ

}
f 
s 
f i
f
Q 7 , v
J! 
/`
J _ į į _
...
EDISI NOMOR 23, Agustus 2009

   

Pembina :  Kepala PPPPTk Matematika
Penasehat :  Kepala Bidang Program dan
Informasi
Pe...
WAWANCARA

Drs.  Kasman Sulyono,  NLM: 

S0s0k Leader yang Bersahaja

 

LIPUTAN

-.  hkPerlukali Perubahan Ná

K ęlalüūía...
Drs.  Kasman Sulyono,  M. M. : 

S0s0k Leader yang Bersahaja

l WAWANCARA

 

 

BIODATA

Nama

Drs.  H.  Kasman Sulyono, ...
LIMAS :  Apa yang menjadi misi Bapak waktu
pertama kali datang? 

KS :  Sebagai pimpinan baru,  saya harus memberi
contoh ...
harus memberi contoh dari yang terkecil dan
termudah.  Pada saat saya datang ke sini,  lingkungan
PPPPTK Matematika terlih...
Pengembangan

 

Mark Pea Mūza]
dl]

') Rina Kusumayanti

Matematika selama ini selalu menjadi pelajaran

yang dianggap ti...
tinggi antara lain UNES,  UNY,  UPI,  dan UGM. 
Workshop ini bertujuan untuk mengidentiñkasi dan
inventarisasi alat peraga...
PERU BAHAN NAMA
MATEMATIKA? 

') Sumardyono

genjang”,  lalu nama “jajar genjang” atau

“jajargenjang” pada kurikulum beri...
and their meanings are shared largely because people
have agreed to share them 

Oleh karena bagian dari simbol,  maka nam...
Makna Ethimologis Tidak Harus Sama dengan
Makna Terminologisnya

Banyak simbol matematika yang secara bahasa
berbeda denga...
10

Dalam Pembelajaran Matematika,  Makna Lebih
Dikedepankan Dibanding Simbol

Ada juga yang memberi alasan perlunya perub...
- WAWASAN

i

Strategis o

 

l) Kusaeri

Pada akhir bulan Juni 2009, media masa (elektronik maupun cetak) gencar memberit...
12

_. - '-. -

Berdasarkan uraian di atas tampak bahwa
UN/ UASBN memiliki peran dan fungsi berbeda
dengan penilaian yang ...
Keberhasilan lulus UN 100% seringkali menjadi
target kepala daerah dan hal ini berdampak dengan
cara menekan para guru,  k...
14

 

seolah-olah karakter itulah yang dianggap paling
benar.  Kaum terdidik hanya memerlukan keahlian

atau keterampilan...
PENILAIAN

 

MATEMATIKA SMP

(Tinjauan Kebijakan dari Perspektif Validity Evidence)

 

ahirnya Permendiknas RI No.  20 t...
16

 

Masalah.  Sementara itu,  apabila kita merujuk pada
Peraturan Pemerintah No.  19 th.  2005 pada Bab X
Standar Penil...
SMP/ MTs meliputi:  Bilangan,  Aljabar,  Geometri dan
Pengukuran,  serta Statistika dan Peluang. 

Kalau kita perhatikan, ...
18

 

Kekurangpekaan perbedaan budaya dapat
berpengaruh pada cara bagaimana kita menilai
prestasi akademik siswa.  Mengab...
mengakitkannya dengan 3 (tiga) aspek penilaian
hasil belajar matematika di atas,  maka dapat di
sarankan sebagai berikut: ...
20

 

7. Satu nilai dan disertai dengan deskripsi
kemajuan hasil belajar,  sangat dibutuhkan
dalam melihat track record d...
PENERAPAN

MENGGUNAKAN

UNTUK MENGAKTIFKAN SISWA

“Wahyu Cahyaning Pangestuti

A.  Pendahuluan

Dalam berbagai forum semin...
22

2 .  Memb erikan contoh-contoh

Mengenalnya dalam berbagai situasi dan
kondisi

4. Melihat hubungan antara satu fakta ...
IšlClllllljalįf` IJ l E? 

. ašį-ILE LLĮPĖHRVĆIIJMJLLAEEI ; l
IMIAIFIĮIIĮI
` , king-rain; P-ruraliraiuiįmluiuiiíi
Iiillaiu...
J ' 5 r
, i th' x t_
: s: › e . = ~
„A A ; j 
: -,*  " '
 ' t „ _„- “
  , xf J
'š /  ..   's
V
s n / - 

_/ 

 

g I]
II

...
Menjelarig matahari , terbenam,  Mr.  Jurin Laksanawisit
beserta beberapa orang delegasi dari Thailand
melaksanakan ritual...
negara masing-masing.  Presiden SEAMEO Council
juga menyampaikan harapannya tentang keberadaan
SEAMEO Centre for QITEP in ...
C n.  i.  Į  drñž* 'äi

IDiIklant E? 

SiEAMIEG) Cexzüfejäa Qímíüfėäiz

Peningkatan kualitas pendidikan matematika sudah
s...
28

Sambungan dari halaman 23

Contoh penerapan pembelajaran menggunakan
“Student Recap” dengan format DG dalam materi
Bil...
Dalam pembuatan “Student Recap” guru sebaiknya
sering mengingatkan tentang 5 point penting yang
harus diperhatikan,  yaitu...
KAJIAN ILMIAH

30

APA DAN „KL

į i  i

BEGITU : i “d” i

** Fadjar Shadiq

L . 

IU_

Abstrak

Memformulasikan definisi M...
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Limas edisi 23
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Limas edisi 23

379 views

Published on

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
379
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
2
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Limas edisi 23

  1. 1. ŪIHHM. Nllmñ 531. Inišx IFIFUIHHVĄKŠW HHHHŪČ l`| l`| l`IUA`IIi„; uIIPYIAYČJA`HŪ } f s f i f Q 7 , v J! /` J _ į į _ Į. į į „ _ į' al“ . - Š. /k . „w ; v . af J_ y” ` -ą/ l ą ` į. x '~ ` J: : . 1, I , . ž. . , . . - į. ` . ` v „ ' x , . LE'- › › H / v r Ą " ga. ; . ' mūšmamm äšmllwmmà į „ Į › [hmm/ Baisa íįgfgo; Ū RagPre-Iaa-Iling " Ą Į ' ę ŠEŪĖJXĖFQ 17517 IP h Mathemaūies “ ūzūàtàadíaüi MJ ~ ŪEIIJ m? ir' , . _ - _ o s, ,v . o . 1:41" . v . .*" U. o 17 ' Į” ' gp' _ . - - 4_'- . į' 'į WWW l NW IZ| N TERBIT: No.2426/SK/ Difjen PPG/ STT/1998 'SSN 18296657
  2. 2. EDISI NOMOR 23, Agustus 2009 Pembina : Kepala PPPPTk Matematika Penasehat : Kepala Bidang Program dan Informasi Penanggung : Kepala Seksi Data dan Jawab Informasi Pemimpin : Rina Kusumayanti, S. Sos Redaksi Redaktur : Fadjar Shadiq M. App. Sc Pelaksana Anna Tri Lestari, S. IP Redaktur : Dra. Pujiati, M. Ed . Adi Wijaya, S. Pd. , M. A. Sri Wulandari D, M. Pd M. Tamimmudin H, M. T Marfuah, M. T Sekretariat : Estina Ekawati, M. Pd Redaksi Suhadi, S. Pd Cahyo Sasongko, S. Sn R. Haryojagad Panuntun, S.H M. Fauzi Seksi Data dan Informasi PPPPTK Matematika Yogyakarta JI. Kaliurang Km.6, Sambisari, Depok, Sleman, Yogyakarta, Kotak Pos 31 Yk-Bs Yogyakarta : (0274) 885725, 881717 ext.229 Įä' : (0274) 885752 : www. p4tkmatematika. com : p4tkmatematika@yahoo. com Diterbitkan : Pusat Pengembangan dan PemberdayaanPendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika Izin terbit : No.2426/Ditjen PPG/ STF/1998 Redaksi menerima tulisan atau artikel dari pembaca. Artikel yang dimuat akan mendapatkan imbalan sepantasnya, sedangkan yang tidak dimuat akan dikembalikan biIa disertai perangko secukupnya. Redaksi berhak memperbaiki naskah yang akan dimuat tanpa mengubah makna/ isinya. Kritik atau saran dapat dikirimkan Iangsung ke redaksi | .|M Ši S salam redaksi 'wlaclnlln| lnlbäiič_llln w vm "annbnt 3 „huvhà vnmyixųrnhnnniu. "auįangöliml hliun JOIN hl' 'omnvnlž , oxaiíníknvn mm; laikui II sauniai hugmmgön "v"v"v"`"í LVAlP-liàlllnlñiäi. 'fniu`n| n|ųvn, 'oxanltullnųvn : nam: human Ilc. Lmmnn iäulwcnxc. ;mm aabmym' Lapnm "v"v"v" E Avielįanr-'Iíiíąve nnn ofn-. mnllząr-Iulnųvn Häwwnui; .anna is: IIĖ' n Avmüxannlü š. nunu: Fu, ,mum . Jmrvi atlbí 'ygumiuu ML tankus-f nnanvnųäfráen „omxíl Eįagnm "v"v"v"`š sumiannnlílre nnaklluí v. vnrnnnx„-. |n mm; kami qiäizlt-. ultmu : aqnlmí unim nxaugaml , audiniai m. íįananmn : ällluumu mhm mn nuaugaieiiul' : m: : nu: mm; lami qhnpni : tahun: :tayxaumummmųvn. 'Imu Iųm huge temu' mälíščíall hpxumu nnausannl' : main-mn "lävkllnl : bring Šüfwkvd; :mn: ?n Įlíí' h Mhllñtannlū: mm; ųliniis-nnmitmn guma hlliàšgäl mn ” ml Jum. Jaarn: tu, tundra-antra: mm; man» man ofxxaímy kaumnn „buvęs m3; : mur pxamųu: :langai: `| III'L1›: |I› tlulrmn mur; nuanmü! slaugai: tam: mm; įrangą-du. Kaunui” iUvnvwš `n| ` maųhlųl aunma lníummí oru bxamnnlíeni 'amy *man vammlmmh. “Vklüälálklllllnlfälk. llll w mu
  3. 3. WAWANCARA Drs. Kasman Sulyono, NLM: S0s0k Leader yang Bersahaja LIPUTAN -. hkPerlukali Perubahan Ná K ęlalüūíatelnštika? ? „ Ū V -Niiaisíçaijęgiš i 'p- . „Ujiail Nasional (tUN). | „i, ; VĆM Ė 'e Ž* o: ' L r- : wx n-w w ~ | - ę, k . t _, .. ` Penerapan Pelnbelajaran 2 : Nlenggunakan Student Recap untuk 1'le|1gaktif`i(a|1 Siswa lt Validitas Peni "iau Hasil Beiajapíšiiaternatika SMP t“ DAFTAR ISI KAJIAN ILMIAH Apa dan iyfengapa Nlatematíka Begitu : ' at. Pentlngíhnų_ ` ` , i TANYA JAWAB J asvaban Níasalah “Peluang” ktf11j1111ga11 MGMP lvlatelñatüka Kab. Pekalongan - ProvinšįJavva Tengah ke ' PPP . ' Mätelnätika Yogyakarta Ra u Jun' 008* f~ TIPS DAN TRIK Mencari Gambar di Google Intuges . 'a-Pėllgubilran į s. . x " [Jínikęengan Tranšfonmasi Š Lebih Kontekstual Dengan Bentuk Alamiah Luas-Daerah 'Jajanfgenjzulg Edisi 23, Agustus 2009 1
  4. 4. Drs. Kasman Sulyono, M. M. : S0s0k Leader yang Bersahaja l WAWANCARA BIODATA Nama Drs. H. Kasman Sulyono, M. M Tempat dan tanggal lahír Surakarta, 27 Juli 1949 Agama Islam Pendidíkan S2 Magister Managemen Ríwayat J ahatan ' Kasubbag Kepegawaian di Direktorat Pembinaan Kesiswaan Tahun 1990 ' Kepala Seksi di Direktorat Pembinaan Kesiswaan Tahun 1994 I Kepala Bagian Tata Usaha di Direktorat Pembinaan Kesiswaan Tahun 1998 Kepala B PG Yogyakarta Tahun 1999 Kepala LPMP Provinsi DI. Yogyakarta Tahun 2000 Kepala PPPG Matematika Yo gyakarta Tahun 2005 Kepala PPPPTK Matematika Yo gyakarta Tahun 2007 Penghargaan ' Satya Lencana Karya Satya 20 Tahun tanggal 14April 1999 ' Satya Lencana Karya Satya 30 Tahun tanggal 17 Agustus 2001 S eorang pemimpin merupakan ujung tombak suatu organisasi. Pemimpin harus memiliki sikap tegas dan menjadi teladan bagi karyawannya. Sebagai Kepala PPPPTK Matematika, Drs. Kasman Sulyono, MM, selalu berupaya membawa lernbaga yang dipimpinnya menuju arah yang lebih baik. Perubahan pola pikir dan wawasan sumber daya manusia menjadi target awal untuk menunjang kemajuan dan memenuhi tantangan masa depan lembaga. Tidak hanya perubahan pola pikir yang menjadi concem beliau, peningkatan kualitas SDM sangat diperhatikan karena SDM merupakan kunci investasi dalam pengembangan lembaga. Kepala Bagian Umum PPPPTK Matematika, Dra. Ganung Anggraini, M. Pd, mengungkapkan bahwa dalam berbagai kesempatan, Drs. Kasman Sulyono, MM. , selalu mendorong dan memberi kesempatan kepada karyawan untuk meningkatkan kompetensi dan kualiñkasi melalui pendidikan gelar maupun non gelar seperti pelatihan-pelatihan. ĮIMĮL-S Masalah peningkatan kesejahteraan pegawai juga menjadi titik perhatian Drs. Kasman Sulyono, MM. Hal tersebut diakui oleh para karyawan PPPPTK Matematika. Salah seorang widyaiswara, Dra. Sri Wardhani, M. Pd berkata, “Pak Kasman adalah pribadi yang tegas dan berani mengambil resiko untuk tidak populer. Namun beliau memberi perhatian besar pada kesejahteraan pegawai dan peduli terhadap organisasi-organisasi di PPPPTK Matematika seperti dharma wanita, koperasi dan FUI. Dalam menjalankan roda kepemimpinannya, Drs. Kasman Sulyono, MM. , dikenal memiliki disiplin yang tinggi, apalagi menyangkut kinerja pegawai. Nanang, salah seorang karyawan honorer, berkata, ”Pak Kasman orangnya baik dan mengutamakan disiplin. Beliau tidak pernah memandang pegawai tingkat apapun dan selalu memberi dukungan untuk melakukan yang terbaik”. Sikap disiplin yang ditegakkan Beliau bagi sebagian kecil karyawan dinilai cukup keras, namun hal tersebut dilakukan untuk kebaikan karyawan. Selama menjabat sebagai Kepala PPPPTK Matematika sejak 29 Juni 2005 hingga akhir masa jabatannya pada tanggal 31 Juli 2009, berbagai terobosan telah dilakukan, diantaranya adalah perubahan pola pikir karyawan, peningkatan kualitas SDM, penataan lingkungan dan peningkatan kualitas layanan jasa. Kepada redaksi LIMAS, beliau mengungkapkan apa saja yang menjadi harapan dan cita-citanya untuk kemajuan PPPPTK Matematika. Berikut petikan wawancara yang dilakukan redaksi LIMAS dengan Bapak Drs. Kasman Sulyono, M. M : Redaksi LIMAS (LIMAS) : Apa yang berkesan bagi Bapak ketíka pertama kali datang di PPPPTK Mateamtika? Drs. Kasman Su1y0n0,M. M(KS): PPPPTK merupakan lembaga pelatihan guru tingkat nasional yang punya potensi meningkatkan kompetensi guru khususnya matematika. Oleh karena itu kesan pertama bagaimana agar setiap peserta diklat atau tamu yang datang ke PPPPTK Matematika memiliki kesan yang baik. Ke san baik itu nomor satu bagi saya. Maka perlu ditingkatkan kondisi lingkungan, layanan, sumberdaya, dan komunikasi sehingga para tamu punya kesan mendalam terhadap PPPPTK sehingga ingin kembali lagi ke PPPPTK.
  5. 5. LIMAS : Apa yang menjadi misi Bapak waktu pertama kali datang? KS : Sebagai pimpinan baru, saya harus memberi contoh kepada karyawan mulai dari yang terkecil sampai pada bagaimana upaya mengubah pola pikir dan wawasan ke seluruh SDM yang ada ke arah perubahan yang lebih baik. LIMAS: Selama Bapak menj adi kepala PPPPTK Matematika, apakah Bapak sudah merasa lembaga ini optimal menj alankan tugasnya dalam pengembangan dan pemberdayaan PTK matematika? KS: Apabila dicermati tentu masih bisa ditingkatkan karena potensi di PPPPTK Matematika sangat banyak, dan masih bisa dikembangkan atas dasar kebutuhan dan kondisi pasar khususnya matematika. Tidak hanya guru matematika, tetapi kepada semua tenaga kependidikan matematika dan bila perlu sampai kepada semua siswa karena memang PPPPTK didukung berbagai sumber daya. LIMAS: Hal apa yang perlu ditingkatkan untuk kemaj uan PPPPK Matematika? KS: Pertama adalah SDM, karena SDM merupakan kunci investasi dalam pengembangan lembaga baik untuk saat ini maupun di masa depan. Oleh karena itu, diawal kehadiran, saya berusaha melakukan perubahan pola pikir terhadap setiap SDM yang ada di PPPPTK Matematika, yakni perubahan yang lebih baik dan mengedepan. Selain itu, perlu ditingkatkan pula kondisi supportíng unit, kondisi perkantoran, kondisi sarana penunjang akademik dan tenaga pelayanan yang sangat menunjang kesan terhadap PPPPTK Matematika. LIMAS: Terkait SDM, menurut Bapak bagaimana kinerja SDM di lingkungan PPPPTK Matematika? KS: Pada saat awal, saya melihat SDM kita perlu dimotivasi karena terbiasa mengerjakan sesuatu seakan-akan hanya sebagai rutinitas. Sehingga untuk meningkatkan layanan sekaligus memenuhi tantangan masa depan, SDM harus ditingkatkan melalui pola pikir positif, ikhlas bekerja, tanpa dikomando dan melakukan pekerjaan yang menantang. Itu yang harus ditanamkan ke generasi muda sekarang. Upaya mengubah pola pikir ini antara lain melalui pendidikan. Oleh karena itu saya mendorong adanya peningkatan kesempatan melanjutkan pendidikan bagi mereka yang ingin maju. Pada saat saya datangjumlah S3 hanya l orang, sekarang 5 orang. Untuk S2 cukup banyak. Alhamdulillah teman-teman dapat menggtmakan peluang ini dengan sebaik-baiknya. Namun kita harus selektif dalam memilih pendidikan apa yang akan ditempuh, tentunya yang menunjang kemajuan lembaga dan memenuhi tantangan masa depan lembaga. LIMAS: Selama kepemimpinan Bapak, adakah perubahan signifikan terhadap kinerja pegawai? KS : Khususnya yang menerima pola pikir saya, tentu ada progress. Tapi bagi yang sulit menerima pola pikir saya mungkin justru menjadi beban. Hal inilah yg menjadi PR ke depan bagi lembaga kita, bagaimana mengubah beban itu agar berubah menj adi bekal untuk lebih maju lagi. LIMAS: Terkait dengan supportíng unit, seperti kita ketahui belum semua supportíng unit diberdayakan. Apa saran Bap ak? KS: Asrama perlu ditingkatkan, setidaknya setara hotel bintang 2. Kemudian untuk unit akademik seperti alat peraga bagaimana supaya bisa ditingkatkan. Diperlukan tenaga yang bisa menjual produk-produk PPPPTK Matematika. Saran saya, perlu direkrut tenaga manajemen pemasaran/ marketing untuk menjual produk-produk kita dan perlu melakukan kerja sama dengan lembaga yang terkait produk-produk pendidikan sesuai ketentuan berlaku. Selain itu, turut menentukan juga seksi informasi dan komunikasi yang ada di lembaga m1. LIMAS: Inovasi atau terobosan apa saja yang sudah Bapak lakukan selama memimpin di PPPPTK Matematika? KS: Setidaknya terjadi perubahan pola pikir, khususnya para pej abat. Saya selalu katakan sebagai leader tidak mudah, karena leader adalah tantangan dan tanggungjawab. Leader mempunyai kewajiban memajukan lingkungan kepemimpinannya sendiri. Dan saya memahami mengubah pola pikir itu tidak mudah dilakukan, apalagi saya relatif hanya 3 sampai 4 tahun. LIMAS: Apa kendala yang Bapak hadapi dalam mengubah pola pikir? KS: Karena memang kebiasaan lama kita bekerja santai, tenang, dan tidak ada tekanan. Sedangkan untuk ke depan kita dihadapkan pada tantangan, tuntutan dan peluang. Sehingga sedapat mungkín kita Edisi 23, Agustus 2009
  6. 6. harus memberi contoh dari yang terkecil dan termudah. Pada saat saya datang ke sini, lingkungan PPPPTK Matematika terlihat gersang dan kurang terpelihara. Pada awal saya datang, saya membawa bunga dan saya tanam. Saya ingin tahu bagaimana perhatian teman-teman. Ternyata gedung yang bagus, bersih dan diberi hiasan tanaman menambah kesejukan dan keindahan sehingga memberikan kesan baik bagi seluruh tamu. LIMAS: Ketika Bapak berupaya mengubah pola pikir, ada beberapa yang tidak siap menerima perubahan. Bagaimana Bapak menyikapi hal itu? KS: Kita terus menerus mulai dari yang termudah. Setiap akan melakukan pekerjaan, kita cek mulai dari di bawah saya hingga di lapangan, sejauh mana keterlaksanaan itu dan mereka kita aj ak untuk melihat apa saja yang perlu menjadi perhatian bersama sehingga lama kelamaan mereka akan mau walaupun saya tidak tahu apakah mereka terpaksa atau tidak. Yang jelas kita ajak mereka ke lapangan melihat kegiatan, menyikapi, melakukan supervisi mulai dari pekerj aan administrasi hingga pekerj aan lapangan. LIMAS: Adakah cita-cita Bapak yang belum terwujud di PPPPTK Matematika? KS: lnginnya PPPPTK setara dengan lembaga training internasional lain. LIMAS : Walaupun sekarang sudah ada QITEP? KS: Itu kan milik lembaga lain. Cita-cita saya dahulu bagaimana supaya PPPPTK Matematika sendiri memiliki International Training Division, dan ini belum terlaksana. Walaupun ada QITEP, ini hal yang berbeda. Karena pasar PPPPTK Matematika seluruh Indonesia sedangkan QITEP untuk Asia Tenggara. Karena yang sangat diperlukan Indonesia adalah bagaimana matematika memberikan layanan pengembangan pendidikan matematika khususnya SD dan SMP, yang dapat digunakan sekolah bertaraf internasional. Kita belum memiliki bahan, dosen, lisensi sehingga inilah yang saya katakan PPPPTK Matematika terlambat mengimbangi sekolah- sekolah bertarafinternasional. LIMAS: Hal apa yang membuat Bapak bangga terhadap PPPPTKMatematika? KS: Saya katakan sekian persen saya dapat mengubah pola pikir khususnya pejabat dan generasi muda. Siapa pun yang datang ke sini, kesannya cukup baik, bersih, rapi, teratur dan cukup komunikatif. Dan banyak perubahan lain, termasuk kesejahteraan. LIMJ/ S Untuk PPPPTK Matematika, kesejahteraan kita serahkan ke lembaga yang memiliki tugas demikian, yakni koperasi karyawan. Kita berusaha menggerakkan koperasi agar lebih maju dan bisa memberikan kesej ahteraan karyawan yang bermuara pada peningkatan kinerja. Saat ini peran koperasi sangat tepat untuk ditingkatkan, dan itu sah-sah saja. Selain berbadan hukum dan sesuai ketentuan yang berlaku, keuntungan koperasi dapat ditujukan bagi seluruh anggota koperasi. LIMAS: Pernahkah terbersit oleh Bapak akan memimpin 200-an pegawai PPPPTK Matematika? KS: Sama sekali tidak. Saya hanya mengerjakan dengan baik apa yang saya hadapi. Semua berjalan dengan baik karena saya membiasakan membagi waktu. Sejak kecil saya dibiasakan untuk bekerja dengan ikhlas, “Kerjakan dan lakukan, Tuhan tidak tidur”. Waktu kecil saya sering menonton wayang kulit, dan percakapan para satria menginspirasi saya untuk tahan menghadapi cobaan. Apabila kita tahan menghadapi cobaan Tuhan akan memberikan wahyu. LIMAS: Adakah tokoh wayang yang menjadi favorit Bapak? KS: Tentu ada, Bima. Tokoh wayang ini apa yang dikatakannya sesuai dengan apa yang diperbuatnya. Hal lain dari perwayangan yang saya pelajari adalah sikap sebagai ksatria, yakni harus dapat membedakan mana yang baik dan buruk serta tahan menghadapi cobaan. LIMAS : Apa aktivitas Bapak sehari-hari setelah purnatugas? KS: Saya ingin menikmati kemerdekaan, ha. .ha. .ha! Selama 38 tahun saya bekerja, dapat dihitung jumlah cuti yang saya ambil. Pagi hari olahraga mengitari Candi Prambanan. Juga meningkatkan ibadah, momong anak cucu. Saya juga mengerjakan pekerjaan rumah, saya tidak pernah menolak pekerj aan yang menurut saya bisa saya kerj akan. Saat ini Drs. Kasman Sulyono, M. M., sudah tidak lagi menjadi Kepala PPPPTK Matematika, namun apa yang telah dirintis dan dilakukan beliau untuk kemajuan lembaga ini sebaiknya dij adikan pedoman dan diteruskan oleh kepemimpinan yang baru. (Rina Kusumayanti)
  7. 7. Pengembangan Mark Pea Mūza] dl] ') Rina Kusumayanti Matematika selama ini selalu menjadi pelajaran yang dianggap tidak menarik bagi sebagian besar siswa. Padahal sebenamya matematika bisa menj adi pelajaran yang menyenangkan dan mengasyikkan bagi siswa jika guru tahu cara mengajarkannya dengan benar. Salah satu cara menjadikan pembelajaran matematika menjadi menarik adalah dengan menggunakan alat peraga untuk membantu siswa memahami suatu konsep tertentu, misalnya menghitung hasil operasi dengan menggunakan blok pecahan. Alat peraga matematika sudah banyak beredar di pasaran, namun masih terbatas baik dari segi jenis maupun kualitasnya. Berangkat dari hal tersebut, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah meluncurkan MEQIP (Mathematics Education Quality Improvement Programme) atau program peningkatan mutu pembelaj aran matematika. Tuj uan yang ingin dicapai melalui program ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika melalui pemanfaatan alat peraga matematika sehingga siswa tidak hanya menghafal tetapi memahami konsep, bernalar dan berkomunikasi. Diharapkan melalui program ini mutu pendidikan matematika kedepan akan lebih baik lagi. Pada awalnya MEQIP merupakan adaptasi dari program sejenis yaitu SEQIP (Science Education Quality Improvement Project), yang menghasilkan alat peraga IPA. MEQIP diluncurkan untuk menghasilkan alat peraga matematika yang sesuai dengan kriteria yang diharapkan dari kurikulum pendidikan matematika di Indonesia. Jika SEQIP menggunakan konsultan dari Jerman, maka untuk MEQIP pihak Direktorat Pembinaan TK dan SD meminta PPPPTK Matematika (dahulu PPPG) sebagai leading sector untuk pengembangan alat peraga matematika sesuai dengan salah satu tugas yang dimiliki PPPPTK Matematika yaitu melakukan pengembangan dan pengkaj ian alat peraga. Berkaitan dengan media atau alat peraga matematika, PPPPTK Matematika sudah menghasilkan banyak pengembangan alat peraga, baik hasil desain widyaiswara/ matematikawan maupun guru yang melaksanakan diklat di PPPPTK Matematika. Unit yang bertanggung jawab terhadap pengembangan media/ alat peraga adalah unit/ laboratorium alat peraga dan unit workshop. Pada unit-unit tersebut tersimpan hasil pengembangan media/ alat peraga yang dikembangkan oleh guru dan widyaiswara/ matematikawan PPPPTK Matematika. Selain mengembangkan media/ alat peraga, PPPPTK Matematika juga menjadi rujukan bagi guru atau pengembang alat peraga matematika untuk penilaian kelayakan alat bila digunakan di sekolah, contoh: alat peraga yang didesain oleh Sirajudin, guru SD dari MataramNTB. Program MEQIP sendiri telah dirintis sejak tahun 2004 dengan diadakannya workshop oleh Direktorat Pembinaan TK dan SD yang dihadiri sekitar 60 orang, terdiri dari guru dan kepala SD, widyaiswara PPPPTK Matematika dan LPMP, dosen perguruan Edisi 23, Agustus 2009 5
  8. 8. tinggi antara lain UNES, UNY, UPI, dan UGM. Workshop ini bertujuan untuk mengidentiñkasi dan inventarisasi alat peraga matematika (kebanyakan sudah ada di PPPPTK Matematika meskipun dengan bahan sederhana dan dibutuhkan di SD/ MI). Hasil kegiatan workshop tersebut digunakan sebagai acuan dalam pembuatanprototype alat peraga matematika. Ada 50 item yang telah dibuat dan diujicobakan (dengan dikoordinir oleh UNES) untuk 6 provinsi, yaitu: Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, NTB, Jawa Tengah, dan Sumatera Utara. Uji coba tersebut dilakukan selama tahun 2004 hingga 2005. Berdasarkan kajian terhadap hasil uji coba tersebut, pada tahap pertama PPPPTK Matematika memberikan Rekomendasi Spesifikasi Prototype Alat Peraga Matematika SD sebanyak 30 item kepada Direktorat Pembinaan TK dan SD pada tanggal 2 Mei 2006. Selain rekomendasi, PPPPTK Matematika juga mengharapkan tindak lanjut dari kegiatan tersebut melalui beberapa tahapan kegiatan lanjutan, yaitu: 1. Surat Penetapan Direktur Pembinaan TK dan SD tentang spesifikasi prototype alat peraga matematika SD 2. penyusunan petunjuk penggunaan alat peraga matematika dan ñnalisasinya 3. pelatihan-pelatihan dan sosialisasi penggtmaan alat peraga matematika 4. monitoring evaluasi di lapangan setelah alat peraga matematika didistribusikan ke sekolah Berdasarkan surat rekomendasi tersebut, pihak Direktorat Pembinaan TK dan SD, menetapkan Alat Peraga Matematika melalui Surat Penetapan Nomor: 1190.a/ C2.1/LL/2006, pada tanggal 1 Juni 2006. Dalam surat penetapan tersebut Direktur Pembinaan TK dan SD menetapkan 30 Alat Peraga Matematika Sekolah Dasarbeserta spe siñkasinya. Selanjutnya pada tahap kedua, PPPPTK Matematika mengeluarkan revisi terhadap spesifikasi Prototype Alat Peraga Matematika SD, yang semula ada 30 item disempurnakan menjadi 46 item. Revisi tersebut dilakukan setelah melalui rangkaian evaluasi terhadap hasil uji coba terdahulu. Hasil revisi tersebut kemudian direkomendasikan ke Direktorat Pembinaan TK dan SD yang diharapkan dapat ditindaklanjuti untuk dikembangkan secara luas ke khalayak. Untuk kedua kalinya Direktorat Pembinaan TK dan SD menetapkan revisi mengenai Alat Peraga Matematika melalui Surat Penetapan Nomor: 0920/C2.1/LK/2007, tanggal 6 Maret 2007. Llívlí/ S Dalam surat tersebut ditetapkan sebanyak 46 item Alat Peraga Matematika Sekolah Dasar beserta spesiñkasinya. Kerjasama yang dilakukan antara PPPPTK Matematika dan Direktorat Pembinaan TK dan SD dalam dalam hal peningkatan kualitas pembelajaran matematika untuk jenjang SD/ MI melalui pemberdayaan alat peraga matematika ini dituangkan secara resmi dalam nota kesepahaman. Nota kesepahaman tersebut ditandatangani tanggal 23 September 2006 di PPPPTK Matematika. Di dalam nota kesepahaman tersebut disebutkan bahwa bidang kegiatan kerjasama meliputi 6 aspek, yaitu: 1. peningkatan uji coba dan pengembangan media pembelaj aran matematika khususnya alat peraga 2. produksi contoh model (prototype) alat peraga matematika Sekolah Dasar yang akan dikembangkan 3. pengembangan sistem dan bahan pelatihan bagi pendidik dan tenaga kependidikan 4. peningkatan pelatihan pendidik dan tenaga kependidikan dan pembinaan program tindak lanj ut paska pelatihan 5. pemberdayaan manajemen peningkatan mutu pembelaj aran matematika sekolah dasar 6. penyelenggaraan sistem monitoring dan evaluasi terhadap peningkatan mutu pembelajaran matematika sekolah dasar Sesuai dengan salah satu fungsi PPPPTK Matematika yaitu memberikan fasilitasi bagi peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan matematika, maka pengembangan alat peraga adalah salah satu implementasi dari bentuk fasilitasi tersebut. Peran PPPPTK Matematika dalam pengembangan alat peraga matematika SD melalui MEQIP adalah sampai kepada pelaksanaan uji coba dan rekomendasi terhadap spesifikasi dan prototype alat peraga matematika. Dalam penggandaan dan distribusi alat peraga matematika tersebut, diberikan kesempatan seluas-luasnya kepada pihak-pihak yang mempunyai kewenangan untuk menggandakan dan memasarkan sesuai dengan aturan-aturan dan ketentuan yang berlaku.
  9. 9. PERU BAHAN NAMA MATEMATIKA? ') Sumardyono genjang”, lalu nama “jajar genjang” atau “jajargenjang” pada kurikulum berikutnya. Maksud penggantian ini, konon karena istilah “jajaran genjang” tidak sesuai kaidah Bahasa Indonesia. Nama “bujursangkar” pada kurikulum 1987 diganti “persegi” (dimulai pada kurikulum 1994). Alasannya, nama “bujursangkar” diyakini mengacu bentuk dasar (alas) sangkar burung, namun sekarang bentuk dasar sangkar telah bervariasi. Alasan lain bahwa nama “persegi” lebih tepat karena satuan luas juga menggLmakan nama “persegi”, misalnya “meter persegi”. Tetapi benarkah perubahan-perubahan itu diperlukan? Apakah kosakata matematika harus selalu selaras dengan kaidah bahasa (Indonesia)? Apakah untuk kebutuhan pendidikan (sekolah), perlu perubahan kosakata matematika di sekolah? Pada kurikulum 1975, terdapat nama “jajaran Nama Istilah Matematika: Bagian dari Simbol Matematika Nama istilah matematika, seperti “segitiga”, “luas”, “bilangan”, “simetri” atau dalam bahasa Inggris: triangle, area, numbers, symmetry, merupakan simbol dalam matematika. Skemp (1971: 94-113) membedakan dua macam simbol matematika, yaitu: simbol Visual dan simbol verbal. Simbol Visual adalah simbol yang mewakili konsep matematika melalui gambar, diagram, kurva, dan bentuk piktorial (gambar) lainnya. Sementara simbol Verbal adalah simbol yang mewakili konsep matematika melalui simbol aljabar (notasi matematika) atau simbol auditori (nama istilah matematika), baik yang ditulis (written) maupun yang diucapkan (spoken). Dari penjelasan Skemp di atas, dapat dibagankan klasiñkasi simbol matematika, sebagai berikut: Simbol auditori Simbol aljabar Simbol Matematika Nama istilah matematika juga merupakan simbol, dipertegas oleh Gardner et al tahun 1974 (dalam Wittrock, 1986: 467) menyatakan bahwa: "A symbol is anything that can be used in a referential way, and that can be organized into systems Secara lebih teknis, Brumñel, Eicholz, & Shank (1962: 3) menyatakan: “A symbol is a mark, an object, a sign, or a word that represents another object or an idea”. Pengertian yang serupa dikemukakan pula oleh Resnick&Ford(1981: 113), "A symbol is a word or mark that stands for something but in no way resembles that things. It is completely abstract. . Symbols are invented by people to refer to certain objects, events, and ideas, Edisi 23, Agustus 2009
  10. 10. and their meanings are shared largely because people have agreed to share them Oleh karena bagian dari simbol, maka nama istilah matematika sesungguhnya bebas (independent) dari pengaruh makna bahasa, termasuk dalam Bahasa Indonesia. Simbol adalah simbol. Rubenstein & Thompson menyatakan, “symbolism is a form of mathematical language that is Compact, abstract, Specific, and formal. .. .” (2000: 268). Konsep Lebih Penting dari Nama Konsep Usiskin dalam “Mathematics as Language” menyatakan: “Mathematical symbols are the means by which we write mathematics and communicate mathematical meaning”. (Rubenstein & Thompson, 2001). Sharp, juga membedakan antara konsep matematika dan simbol matematika, “sharp distinctions are made between the concept of mathematics, which are ideas that we think about, and the symbols of mathematics, which are marks that we write in order to communicate with one another". (Brumñel, Eicholz, & Shanks, 1962: V). Kita harus dapat membedakan mana yang merupakan simbol dan mana konsep atau ide matematika yang diwakilinya. Seperti yang dinyatakan oleh Brumñel, Eicholz, & Shanks (1962: 4): “In using a symbol we must be sure that we know what it stands for. That is, we must know the object, or idea, which it represents. ” Di banding simbol-simbol matematika, maka konsep yang diwakilinya jauh lebih penting. Oleh karena itu, pemahaman simbol dan istilah matematika haruslah ditekankan pada pemahaman konsep-konsep matematika yang diwakilinya, bukan pada pemahaman simbol itu sendiri sebagai sebuah kata Bahasa Indonesia. Oleh karena itu, Brumñel, Eicholz, & Shanks menegaskan: “Doing mathemati cs consists of thinking about concepts rather than arranging symbols upon paper” (1962: V). Jika kita berbicara tentang “garis singgung” maka haruslah dipahami sebagai sebuah konsep matematika. Karena konsep dalam matematika berbeda dengan pengertian kata “singgung” dalam percakapan Bahasa Indonesia sehari-hari. Begitu pula dengan nama istilah “tinggi”, “alas”, dan lain-lain. Menyinggung kasus penggantian “bujursangkar” dengan “persegi””, banyak yang dapat dipertanyakan lebih lanjut. Jika memang karena masalah perubahan sosial budaya (jenis sangkar burung) memaksa ide perubahan tersebut, mengapa nama istilah “layang- Llívíįs : Q c i „ „ . _ O f` __j (i A4 / __/ FM V Li) J); 4 V? m (7 LS à_> « Ū Ū Ū' Ū x7 „ - _<`? O -i 3 7; i' ` " `Lf: .. : > c ~ f, layang” juga tidak diganti dengan nama lain? Bukankah sekarang juga telah amat beragam bentuk dari layang-layang? Lagi, jika kita membandingkan bangun “persegi” dengan “persegipanjang”, maka secara bahasa tampak ada se suatu yang janggal. Kata “persegipanjang” secara bahasa dapat berarti “persegi yang panjang”. Bukankah ini bertentangan dengan konsep “persegi” itu sendiri? J adi, sekali lagi nama istilah matematika adalah suatu simbol. Tidak selalu pengertian atau konsep matematika yang dimaksudkan dapat terbaca eksplisit dari arti kata (ethimologi). Oleh karena itu, tidak cukup hanya mengenal nama istilah matematika, yang terpenting sesungguhnya memahami konsep yang diwakili oleh nama istilah matematika tersebut. Cooper, F. M (1980: 136) menyatakan, "however, it is not enough to teach word recognition, there is a whole other factor, the understanding behind the symbol Munro (1980: 231) menegaskan, "many students fail in mathematics learning because they are unable to comprehend the meanings of symbols used Rubenstein & Thompson (2000: 268-270) juga menyatakan, In general, teachers must be aware of the difficulties that symbolism creates for students. Symbolism is a form of mathematical language that is compact, abstract, Specific, and formal. . Often a difficulty in learning mathematical symbolism is that students record the symbols used in class, but the words that give meaning to those symbols are not recorded. Consequently, students miss the essential sense-making links.
  11. 11. Makna Ethimologis Tidak Harus Sama dengan Makna Terminologisnya Banyak simbol matematika yang secara bahasa berbeda dengan konsep yang diwakilinya. Contohnya notasi bilangan = 3,1415926.. . , hasil bagi keliling sebarang lingkaran dengan jari-jarinya. Tetapi secara bahasa, huruf ini berasal dari kata Yunani atau “perimetros” yang berarti keliling. Jadi, secara logika mestinya lambang bukan untuk 3,1415926. . . tetapi untuk “keliling lingkaran”. Contoh lain adalah nama istilah “tinggi” (atau dalam nama istilah bahasa Inggrisnya, high). Konsep “tinggi” suatu bangun datar dalam geometri berbeda dengan konsep “tinggi” dalam ilmu fisika atau pada kehidupan sehari-hari. Tinggi suatu segitiga tidak diukur dari “atas” ke “bawah”, tetapi dari “titik puncak segitiga” tegak lurus ke “alas segitiga”; tidak peduli kita menggambar segitiga tersebut dalam posisi apapun. Untuk menyebut beberapa contoh lainnya yang dapat berbeda dengan arti bahasa sehari-hari, antara lain: “bersinggungan”, “himpunan”, “alas”, “titik puncak”, “irasional”, “sisi miring”, “pangkat”, “akar”, “bersilangan”, “geometri”, “keliling”. Jika memang ide perubahan nama istilah yang diselaraskan dengan makna bahasa menjadi perlu, maka dapat terj adi banyak istilah penting matematika yang harus diganti namanya. Adda (dalam Benjañeld, 1992: 317) menegaskan, “like physics concepts, mathematical symbols often have a technical meaning that is different from the ordinary meaningofthesamesymbol. " Notasi dan Nama Istilah Matematika adalah Konvensi Secara Kultura] Berbeda dengan sains atau IPA, notasi dan nama istilah dalam matematika diterima luas masyarakat matematika bukan karena peraturan resmi. Jika pada sains ada badan resmi bertaraf intemasional yang mengatur tentang nomenklatur, tidak demikian halnya pada matematika. Simbol matematika termasuk istilah matematika merupakan konvensi (kesepakatan) yang dipergunakan setelah melewati kurun waktu yang lama. Jadi, konvensi simbol matematika tidak terj adi di ruang pertemuan, tidak pula oleh suatu aturan perundang-undangan yang mengikat, dan yang jelas juga tidak terjadi dalam kurun waktu yang singkat. Dalam kasus Bahasa Inggris, Wilder (1981: 8) menegaskan: “But most of the names that we use are not invented by us; they were assigned to their designatees long before we were born. ” Lebih lanjut, Raymond L. Wilder menegaskan: For us, they are sign, and they are most important; how could we exist as a society we continually exercised our symbolicfaculties to give new names to things from one generation to another, for instance? To be sure, over the long term, names and all words change, but they do so very gradaally so that a given generation does not notice the change. " (Wilder, 198128) Selain itu, beberapa nama istilah matematika terutama yang teorema (dalil) atau metode (algoritma) menggunakan nama orang atau matematikawan. Sebagian besar berdasarkan asumsi bahwa teorema atau algoritma tersebut pertama kali ditemukan oleh orang atau matematikawan tersebut. Contohnya “Segitiga Pascal” atau “Teorema Pythagoras”. Tetapi, Wilder menyatakan, “the custom of naming theorems, methods, concepts and the like for their supposed originators many of whom, later historical research shows, were preceded by earlier creators. " (Wilder: h. 146). Jadi, misalnya konsep “Teorema Pythagoras” telah ditemukan oleh bangsa Babilonia atau Mesir Kuno, jauh sebelum jaman Pythagoras. Juga, sebelum Pascal, konsep “Segitiga Pascal” telah ditemukan oleh matematikawan India yang mereka sebut “kuttaka”, atau oleh al-Kasyi yang mengulasnya dengan lebih detil. Walaupun demikian, tidak ada perubahan terhadap nama konsep-konsep matematika tersebut yang sudah terlanjur dikenal luas. Edisi 23, Agustus 2009
  12. 12. 10 Dalam Pembelajaran Matematika, Makna Lebih Dikedepankan Dibanding Simbol Ada juga yang memberi alasan perlunya perubahan nama istilah, karena untuk memudahkan siswa dalam mempelajari matematika. Bila siswa telah dihadapkan pada nama istilah yang “rancu”, bagaimana mungkin ia dapat memperoleh pemahaman yang benar? Sekarang, mari kita melihat kasus pembelajaran “persegipanjang”. Secara pedagogik (ilmu pendidikan), tidaklah disarankan bahwa siswa dihadapkan pada nama istilah “persegipanjang” lebih dulu, lalu mencari contoh- contoh bentuk persegipanjang. Untuk pembelajaran yang bermakna (meaningful learning), siswa seharusnya diajak berkolaborasi dengan berbagai contoh bentuk geometris (datar) untuk diarahkan pada kelompok bentuk bujursangkar. Setelah siswa mencermati dan memahami karakteristik bentuk tersebut, barulah sebuah nama “persegipanjang” diperkenalkan. Jadi, pembelajaran yang bermakna, selalu dimulai dari pengertian baru kemudian penamaan. Arah yang lebih tegas, dapat dilihat pada model pembelajaran matematika realistik yang lebih mendahulukan emergent model (pada taraf matematisasi horizontal). Jadi, begitu siswa memahami konsep maka notasi atau nama konsep bukanlah suatu penghalang lagi. Ketika siswa telah lancar menyampaikan ide yang sesuai dengan konsepnya maka barulah dihubungkan dengan simbol-simbol matematikanya. “Delaying the introduction of symbolism until these children were verbally "ready" proved to be beneficial in connecting ideas with symbol” Hamrick (1979) dalam Van De Walle (1990). Selain itu, pengenalan simbol matematika yang terlalu cepat juga dapat memunculkan miskonsepsi, “the introduction of mathematical symbol too soon, without an adequate understanding of the deep structure, is a major cause of alienation”, demikian yang dinyatakan Orton (1992: 137). Istilah deep structure menunjukkan konsep yang diwakili simbol. Penutup Berdasar pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa ide perubahan nama istilah matematika yang telah dikenal menjadi tidak perlu dan tidak penting, termasuk dengan alasan penyelarasan arti bahasa (ethimologi). LIMJ/ S Bahan Bacaan Benjafield, John. G. 1992. Cognition. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Brumfiel, C. F., Eicholz, R. E., & Shanks, M. E. 1962. Fundamental Concepts of Elementary Mathematics Bab Symbols and Numeral. Massachusetts: Addison-Wesley Publishing Company, Inc. Cooper, F. M. 1980. "Reading in Mathematics" dalam Learning To Love Mathematics. Editor: Phil Williamson. Mathematics Association of Victoria Seventeenth Annual Conference. Victoria: The Mathematical Association of Victoria. Orton, Anthony. 1992. Learning Mathematics: Issues, Theory and Classroom Practice. Norfolk: Fakenham Phnoneting Ltd. Munro, J. 1980. "Language and Mathematics Learning" dalam Mathematics Theory to Practice. Penyunting Doug William. Australian Association of Mathematics Teachers. Eighth Biennial Conference, January 14'“ 18'“ 1980. Canberra: The Canberra Mathematical Association. Resnick, Lauren B. & Ford, Wendy W. 1981. The Psychology of Mathematics for Instruction. Hillsdale, New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates Publishers. Rubenstein, Rheta N. & Thompson, Denisse R. 2001 . "Learning Mathematical Symbolism: Challenges and Instructional Strategies" dalam Mathematics Teacher Volume 94 Number 4 (April 2001): 265 271. Reston, Virginia (VA): NCTM Skemp, Richard R. 1971. The Psychology of LearningMathematics. NY: Penguin Books. Van De Walle, John A. (1990), Elementary School Mathematics, teaching developmentally. 1990. New York: Longman. Wilder, Raymond L. 1981. Mathematics as A Cultural System. NY: Pergamon Press Wittrock, Merlin C. 1986. Handbook of Research on Teaching. The American Educational Research Association. New York. Macmillan Publishing Company. *)Sumardyono, M. Pd. Kepala Unit Riset dan Pengembangan PPPPTK Matematika
  13. 13. - WAWASAN i Strategis o l) Kusaeri Pada akhir bulan Juni 2009, media masa (elektronik maupun cetak) gencar memberitakan tentang ujian nasional (UN), mulai dari isu bocomya kunci jawaban, beragam kecurangan baik yang dilakukan oleh siswa ataupun oknum guru, beberapa protes yang menentang pelaksanaan UN, dan pro-kontra pelaksanaan UN pengganti. Pertanyaan yang muncul: “Mengapa pemerintah bergeming dengan berbagai kritik dan sorotan media serta tetap melaksanakan UN? ” Terkait dengan kebijakan UN tersebut, maka tulisan ini mencoba menganalisis dari sudut “teori pengukuran dan penilaian” dan sebuah tawaran solutif agar UN di masa yang akan datang tidak lagi kisruh dengan berbagai kecurangan seperti yang terj adi belakangan ini. Mengapa UN Penting? Sistem penilaian yang baik bergantung pada jenis penilaian yang sesuai dan informasinya dapat dengan mudah dipahami oleh orang yang membutuhkan. Di samping itu, keputusan hasil penilaian dapat digunakan untuk memaksimalkan potensi siswa dalam pembelajaran. Drake (2007) membagi jenis penilaian ke dalam 3 kelompok, yakni Assessment for Learning (AFL), Assessment of Learning (AOL), dan Assessment as Learning (AAL). Namun, AAL tidak banyak literature yang membahas. Oleh karena itu, hanya akan dibahas peran dan perbedaan antaraAFL dan AOL. AFL bertujuan untuk memberikan informasi kepada siswa, guru, dan orang tua. Dalam hal ini guru harus tahu target pembelajaran di kelas, karena AFL berbasis pada classroom assessment (Mansyur, 2009). Fungsi AFL sebagai quality assurance. Di sisi lain, AOL bertujuan untuk mengetahui seberapa banyak siswa sudah belajar dalam waktu tertentu, dan AOL berfungsi sebagai quality control (Swediaty, 2009). Perbedaan antara AFL dan AOL dapat dijelaskan sebagaimana Tabel 1 . Overview Assessntetzt (Į/ 'Learvzing Assessntetztfžtr' Learning 1. Alasan Laporan status prestasi Membantu untuk belajar lebih banyak 2. Mengínformasí- Kepada orang lain tentang Kepada siswa sendiri kan siswa 3. Fokus Prestasi standar Target -target prestasi turunan standar 4. Contoh Ujian Nasional (UN), Penilaian yang mendiagnosis UASBN, tes prestasi belajar, atau membentuk siswa TIMSS, PIRL 5. Waktu Sesudah belaj ar j angka Dalam proses belaj ar panjang Sumber: Swediati (2009) Edisi 23, Agustus 2009 1 1
  14. 14. 12 _. - '-. - Berdasarkan uraian di atas tampak bahwa UN/ UASBN memiliki peran dan fungsi berbeda dengan penilaian yang seharusnya dilakukan oleh guru. Bila dicermati Undang-undang Sisdiknas No. 20 th. 2003 terkait peran evaluasi, pasal 57 menyebutkan bahwa evaluasi dilaksanakan dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggaran pendidikan kepada pihak-pihak berkepentingan. Hal ini diperkuat dengan Permendiknas No 78 th. 2008 pasal 2 yang menyebutkan UN bertujuan menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan demikian, wajarlah bila pemerintah masih menyelenggarakan UN karena untuk mengukur sej auh mana tingkat pencapaian Standar Kompetensi Lulusan (SKL) bagi satuan pendidikan yang bersangkutan. UN perlu dilakukan sebagai bentuk akuntabilitas penyelenggara pendidikan terhadap pihak-pihak yang berkepentingan. UN juga perlu dilakukan mengingat perbedaan kualitas sekolah yang satu dengan yang lain amat beragam (Widdiarto dan Kusaeri, 2009). Di sisi lain, munculnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sejak tahun 2006 telah memunculkan pemahaman yang beragam dan banyak orang mengatakan ”Apakah dengan diberlakukannya KTSP maka UN masih diperlukan? ” Jawaban sederhana dari pertanyaan tersebut adalah bila dalam KTSP masing-masing sekolah diberikan kebebasan mengembangkan soal ujian untuk siswanya, maka sangatlah logis apabila mereka akan menyusun soal yang membuat siswanya semua lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. “X” misalnya, yang berada di pinggiran kota LIixAJTS. dengan banyak siswa hanya 12 orang dan oleh masyarakat dikenal hampir “sekara ” berhasil dengan tingkat kelulusan 97% dengan nilai rata-rata 87 ,50, sementara SMA “Y” yang cukup dikenal sebagai sekolah favorit, berhasil dengan tingkat kelulusan 90% dengan nilai rata-rata 86,00. Apakah kita bisa mengatakan bahwa SMA “X” lebih bagus dari pada SMA “Y”, yang secara nyata instrumen untuk mengukurnya berbeda? Disinilah urgensinya UN sebagai alat ukur yang bisa digunakan sebagai benchmarking tatkala marginalitas kemampuan antara sekolah yang beragam antara satu sekolah dengan yang lain. Pada level nasional, hasil UN setidaknya akan dapat digunakan sebagai alat untuk memetakan bagaimana capaian siswa, sekolah, atau daerah tertentu pada standar nasional yang dipersyaratkan. Bukan tidak mungkin ketika semua sekolah sudah siap, ke depan bukan tidak mungkin UN akan ditiadakan dan sekolah dipersilakan melaksanakan ujian sendiri- sendiri. Meminimalísir Kecurangan dalam UN: Sebuah Tantangan Target Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) menjadikan hasil UN SMA dan Madrasah Aliyah sebagai bahan pertimbangan seleksi penerimaan mahasiswa baru di perguruan tinggi negeri (PTN) pada 2012 tampaknya tidak akan mudah. Pasalnya, PTN menilai pelaksanaan UN masih butuh pembenahan serius agar lebih kredibel. Kecurangan dan ketidakjujuran yang dilakukan kepala sekolah dan guru, kebocoran soal, beredamya kunci jawaban dan berbagai jenis tindakan tidak terpuji lainnya masih seringkali terungkap setiap kali dalam pelaksanaan UN. Bahkan 33 sekolah di Indonesia diidentifikasi melakukan kecurangan secara sistematik dan masif sehingga kepada mereka harus dilakukan UN pengganti. Mengapa hal itu bisa terjadi? Bila ditelusuri ternyata penentuan standar kelulusan yang digunakan dan setiap tahun dinaikan cenderung memicu terjadi beragam kecurangan dan masif secara sistematik tersebut. Bukankah hasil UN seringkali dijadikan indikator keberhasilan (gengsi) sekolah? Bahkan para pemangku kepentingan pun (Dinas Pendidikan dan pemerintah daerah) ikut-ikutan menganggap keberhasilan UN merupakan indikator keberhasilannya.
  15. 15. Keberhasilan lulus UN 100% seringkali menjadi target kepala daerah dan hal ini berdampak dengan cara menekan para guru, kepala sekolah, dan dinas pendidikan. Bila mereka tidak dapat memenuhi target itu, guru, kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan diancam dimutasi atau bahkan di nonjob kan. Akibatnya, berbagai cara dilakukan oleh guru, kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan agar dapat memenuhi ambisi kepala daerah. Mencermati fenomena itu, maka sudah waktunya ke depan pola kebijakan UN dapat meniru pola UASBN yang sudah berjalan 3 tahun. Artinya, hasil UN tidak dijadikan sebagai penentu kelulusan siswa tetapi lebih merupakan pemetaan mutu program dan/ atau satuan pendidikan. Dengan demikian, beragam kecurangan dalam UN yang seringkali terj adi dapat diminimalisir seperti halnya sepinya kecurangan yang terjadi pada UASBN yang tidak pernah kita dengar. Dengan demikian, UN akan semakin kredibel di mata pimpinan PTN sehingga keinginan hasil UN menj adi dasar seleksi masuk jenjang PTN segera terwujud. Dengan mengubah pola kebijakan UN meniru UASBN maka hasil UN semakin dapat dijadikan dasar pembinaan serta pemberian bantuan kepada satuan pendidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Dari sini, akan terlihat dengan jelas mutu pendidikan kita di seluruh Indonesia. Dari hasil itu pula akan tampak, mana satuan pendidikan yang perlu dibantu agar mutunya bisa ditingkatkan (www. un. snmptn. or. id, 2009-a). Karena itu, tidak boleh ada pemaksaan atau penyeragaman kriteria kelulusan UN yang tidak sesuai dengan keputusan sekolah. Berapapun nilai minimal yang sudah ditentukan oleh sekolah, maka hal itu harus diterima oleh pemerintah daerah. Nah, dengan pemberian kewenangan kriteria kelulusan kepada masing-masing sekolah inilah, upaya untuk ir“ " i l w! : -e 51 ' 'J i _ Np „į, J z , :r IA į, _ į " t. . i l ų' . nm mendapatkan pemetaan sebagaimana yang diinginkan dari hasil UN menjadi akan terpenuhi. Sebab dengan cara itulah kondisi sebenarnya dari masing-masing sekolah akan terlihat. Refleksi Fenomena kecurangan dan ketidakjujuran dalam UN menarik untuk dicermati. Mengapa? Karena dengan masih suburnya kecurangan dan ketidakjujuran UN maka semakin tipislah harapan Depdiknas meyakinkan pimpinan PTN agar hasil UN menjadi dasar seleksi masuk PTN pada tahun 2012. Semua pihak juga harus menyadari, dengan adanya kecurangan dan ketidakjujuran pada UN inilah para siswa diajari dan dikenalkan cara-cara yang busuk, menghalalkan segala cara, yang jelas-jelas melanggar aturan main yang bisa menimbulkan friksi-friksi tidak sehat. Bagi kita yang berkecimpung di dunia pendidikan, tentu ini meracuni dan akan merugikan kepentingan generasi penerus bangsa dalam jangka panjang. Inilah proses pembusukan karakter yang sistematik dan masif. Dalam konteks inilah kita perlu merenung dan melakukan refleksi. Dengan cara-cara itu, tujuan dicapai dengan menghalalkan segala cara. Generasi penerus bangsa diajari untuk berbangga pada hasil, walaupun proses untuk mendapatkannya penuh kecurangan dan ketidakjujuran. Hal penting yang tertancap abadi di benak mereka adalah ketidakjujuran yang dilegalkan bukanlah perbuatan melanggar norma hukum. Legalitas terhadap ketidakjujuran itu lambat laun menj adi etos kerj a, yang tercermin melalui komitmen pribadi. Mereka mendefinisikan pengertian profesional sebagai usaha untuk hidup layak dengan berbagai cara yang dilegalkan. Semakin permisif sikap suatu bangsa terhadap hal tersebut, maka Edisi 23, Agustus 2009 13
  16. 16. 14 seolah-olah karakter itulah yang dianggap paling benar. Kaum terdidik hanya memerlukan keahlian atau keterampilan saja. Komitmen moral boleh dinomor duakan (www. un. snmptn. or. id, 2009-b). Padahal apa pun profesinya diperlukan komitmen moral yang tinggi. Tanpa landasan itu, keahlian atau jabatan seseorang mudah disalahgtmakan. Mereka masuk ke dalam ranah penuh dengan perilaku maña. Mafia pendidikan, mafia pengadilan, mafia pertanahan, maña perizinan, mafia pelayanan, dan sebagainya. Kalau terj adi, seahli-ahlinya maña, tidak dapat dianggap profesional dalam pengertian sebenarnya. Apa untungnya jika pendidikan di proses ala mafia? Yang pasti, usaha untuk melakukan pemetaan kwalitas pendidikan berdasarkan hasil UN menjadi lebih bersifat semu. Sekolah jelek mutunya dianggap bagus. Gambar bagus tidak mencerminkan keadaan sebenarnya. Lembah digambar gunung. Comberan dikatakan danau jernih. Semak belukar dianggap sawah siap panen. Begitulah kira-kira hasil kinerja para maña yang ahli membuat wajah berseri-seri, untuk menutupi realita yang selalu jujur. Kalau masih mungkin berharap, dunia pendidikan seyogianya jangan disusupi oleh mentalitas maña. Dalam jangka panjang jelas akan menghancurkan negeri ini. Ketidakjujuran yang memenuhi azas legalitas pada hakikatnya tetap sebagai ketidakjujuran. Manakala nilai itu dijadikan komitmen moralitas, maka akan semakin merebak operasi ala maña yang pragmatik. Kita berharap hal itu tidak terj adi, khususnya di dunia pendidikan. Kokoh atau robohnya suatu bangsa dimulai dari sini. Oleh karena itulah, sudah saatnya dipikirkan kebijakan UN yang tidak lagi mengedepankan standar kelulusan secara seragam. Vlungkin pola UASBN dapat digLmakan mengganti Liixafs. pola UN yang digunakan selama ini agar kehancuran bangsa Indonesia di masa mendatang tidak terjadi. Dengan demikian maka UN akan memiliki makna strategis dalam dunia pendidikan di Indonesia. Referensi Drake, Susan M. , 2007. Creating Standards-Based Integrated Curriculum (A ligning Curriculum, Content, Assessment, and Instruction). California: A Sage Publication Company. Mansyur, 2009. Pengembangan Model Assessment for Learning pada Pembelaj aran Matematika di SMP. Ringkasan Disertasi tidak dipublikasikan. Yogyakarta: PPs Universitas Ne geri Yogyakarta. Nilai Sebuah Kejujuran dalam Ujian Nasional, 2009- b. Dalam hįpz/ /unsnmptnorid/ nilai- sebuah-kejujuran-dalam-ujian-nasi0nal/ . Diakses tanggal 15 Juli 2009. Peraturan Menteri, 2008. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional, Nomor 78 Tahun 2008 tentang Ujian Nasional Sekolah Menengah Pertama/ Madrasah Isanawiyah/ Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMP/ MIs/ SMPLB), Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SMALB) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Tahun Pelajaran 2008/2009. UASBN Sebagai Pemetaan Mutu dan Pengawasan Pendidikan, 2009-a. Dalam http: //un. snmptn. or. id/ uasbn-sebagai- pemetaan-mutu-dan-pengawasan- pendidikanl. Diakses tanggal 15 Juli 2009. Undang-Undang, 2003. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Swediati, Nony, 2009. Assessment for Learning dan Assessment of Learning. Materi kuliah disampaikan pada tanggal 24 April 2009 Matakuliah Teori Respon Butir Lanjut. Yogyakarta: PPS Universitas Negeri Yogyakarta. Widdiarto, Rahmadi dan Kusaeri, 2009. Pemilu, Ujian Nasional (Unas) dan Masyarakat. Opini pada SKH Kedaulatan Rakyat tanggal 4 April 2009. “Kusaeri Staf pengajar IAIN Sunan Ampel Surabaya, Sekolah Tinggi Teknik (STTQ) Gresik dan Universitas Islam Malang (UN ISMA).
  17. 17. PENILAIAN MATEMATIKA SMP (Tinjauan Kebijakan dari Perspektif Validity Evidence) ahirnya Permendiknas RI No. 20 th. 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan tertanggal 11 Juni 2007 masih disikapi beragam oleh banyak kalangan praktisi pendidikan, guru misalnya. Sebagai implementasi dari produk hukum Peraturan Pemerintah No. 19 th. 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, kelahiran Permendiknas ini tergolong agak bungsu apabila dibanding dengan Standar Pendidikan yang lain. Sebelum munculnya Permendiknas tentang Standar Penilaian Pendidikan, cukup beragam penilaian yang dilakukan oleh para guru di masing-masing sekolah. Keragaman ini makin bervariasi apabila kita mencoba melihat lebih dalam di masing-masing mata pelajaran, Matematika SMP misalnya. Dari Laporan Monitoring dan Evaluasi Pasca Diklat PPPPTK Matematika Yogyakarta Th. 2007 di beberapa daerah, penulisan aspek-aspek atau komponen penilaian Pembelajaran Matematika dalam buku rapor cukup beragam. Ada beberapa daerah yang di l) Rachmadi Widdiharto bawah mata pelajaran matematika, mereka mencantumkan: (1) Kognitif, (2) Penerapan; ada yang (1) Aljabar, (2) Aritmetika, (3) Geometri (4) Statistika; ada juga yang mencantumkan (1) Konsep, (2) Pemecahan Masalah, dan masih banyak lagi yang mengkombinasikan atau menambahnya, sesuai dengan pemahaman di daerah masing-masing. Kebingungan dan kegamangan para guru dan praktisi pendidikan di lapangan muncul pada Standar Penilaian Pendidikan pada Bagian D. Mekanisme dan Prosedur Penilaian butir ke (13) “Hasil Penilaian oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan disampaikan dalam bentuk satu nilai pencapaian kompetensi mata pelajaran, disertai dengan deskripsi kemajuan belajar”. Ini terjadi karena sebelumnya pernah muncul Peraturan Dirj en Dikdasmen Depdiknas No. 506/C/ PP/2004 tanggal 11 November 2004 tentang penilaian perkembangan anak didik SMP yang meliputi 3 Įtiga) asgek yakni (1) Pemahaman konsep (2) Penalaran dan komunikasi (3) Pemecahan Edisi 23, Agustus 2009 15
  18. 18. 16 Masalah. Sementara itu, apabila kita merujuk pada Peraturan Pemerintah No. 19 th. 2005 pada Bab X Standar Penilaian Pendidikan pasal 64. ayat (4) menyebutkan bahwa: “Penilaian hasil belajar kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi diukur melalui ulangan, penugasan, dan/ atau bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik materi yang dinilai”. Dengan memperhatikan sekilas dinamika penilaian hasil belajar matematika yang dilakukan oleh guru dan produk hukum yang ada amatlah mungkin memunculkan bias/ penyimpangan, miss- interpretation, yang mungkin berakibat pada ketidakvalidan dalam penilaian yang dilakukan. Kane (2008:79) menyebutkan “Validity is contingent in the sense that the evidence required to evaluate dependens on the interpretations and uses that are being proposed Standar Penilaian Pendidikan yang belum genap berusia dua tahun ini memang masih terbuka dalam menafsirkannya, sehingga tidak tertutup kemungkinan memunculkan fenomena validity evidence, atau cultural validity in assessment. Tulisan ini mencoba melihat apa sebenarnya kompetensi yang harus diukur sebagai hasil pembelajaran matematika SMP, bagaimana validitas dari penilaian guru matematika selama ini, dan tentunya ini dalam perspektifkebij akan yang ada dan terkait. Validitas yang dimaksud di sini lebih kepada kesesuaian antara kompetensi dengan prosedur penilaiannya, dan kurang menyoroti pada internal validity, construct validity, content validity maupun external validity yang biasa dan telah banyak dilakukan pada penyusunan instrumen item soal. i-įu-: ų LIMĮLS Kompetensi dan Tujuan Pembelajaran Matematika Apabila kita menengok sejenak kemampuan/ kecakapan seseorang dalam berbahasa Inggris (English Proficiency), ada beberapa keahlian/ kompetensi yang harus mereka tunjukkan misalnya dalam aspek listening (pendengaran), writing (penulisan), speaking (pembicaraan/ pe- cakapan), atau mungkin reading comprehension-nya. Bagaimana dengan belaj ar matematika, kompetensi apa yang harus dikuasai seseorang/ siswa dalam belajar matematika? NCTM (National Council of Teachers of Mathematics), sebuah organisi profesi yang didirikan sekitar th. 1920 di Califomia, Amerika Serikat, untuk pertama kalinya pada tahun 1989 mengeluarkan Curriculum and Evaluation Standards for School Mathematics dan Professional Standards for Teaching Mathematics, dan yang untuk Curriculum Standards th 2000 bisa diakses pada www. nctm. org. Dalam Standar Kurikulum tersebut disebutkan bahwa ada 4 (empat) stressing/ penekanan yang harus dituju/ disajikan dalam mempelajari matematika yakni: mathematics as problem solving, mathematics as communication, mathematics as reasoning, and mathematical connections. Dengan mengacu pada 4 prioritas di atas, maka keahlian yang harus dimiliki dalam mempelajari matematika adalah: problem solving skills, communicating and reasoning skills, and connecting idea skills (Posamentier; 199924) Kalau kita menengok bagaimana Kurikulum Matematika di Indonesia mengarah pada kompetensi, baru sekitar tahun 2004 muncul dengan label Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), kemudian dilanjutkan dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dengan disempumakan adanya Standar Isi (SI) Mata Pelajaran Matematika Permendiknas No. 22 th. 2006. Pada Lampiran dari Permendiknas tersebut dicantumkan bahwa Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) matematika dalam dokumen itu disusun selain untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis, logis, analitis, kreatif dan sistematis, juga sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain. Sementara itu, masih dalam Standar Isi disebutkan pula bahwa ruang lingkup mata pelaj aran matematika
  19. 19. SMP/ MTs meliputi: Bilangan, Aljabar, Geometri dan Pengukuran, serta Statistika dan Peluang. Kalau kita perhatikan, ada beberapa kesamaan tujuan dan kompetensi antara yang ada di SI (atau kalau boleh dikatakan mengadopsi dan dikembangkan) dengan yang disampaikan oleh NCTM. Demikian juga apa yang disampaikan pada Peraturan Dirjen Dikdasmen Depdiknas No. 506/C/ PP/2004 tanggal 11 November 2004 tentang penilaian perkembangan anak didik SMP yang meliputi aspek (1) Pemahaman konsep (2) Penalaran dan komunikasi (3) Pemecahan masalah, juga masih dalam koridor yang sama, bahkan lebih concise formulasinya, dan 3 (tiga) aspek ini yang menurut pengamatan penulis lebih sesuai dengan kompetensi pembelajaran matematika yang memang harus diukur. Bukti Validitas (Validity evidence) dalam penilaian. Sebagian besar literatur pengukuran (measurement) lebih banyak membahas tentang construct validity, content validity, internal validity maupun, external validity . Akhir-akhir ini mulai berkembang pada validity evidence dengan segala variasinya. Kane (2008: 77) menyebutkan: Current validation models are defined quite broadly to include a wide range of possible interpretations and uses, and they seek to match the kinds of validity evidence employed (content-related evidence, correlational evidence, evidence based on theory- based inferences, evidence derived from experimental studies) to the proposed interpreatations and uses. (Model-model validitas saat ini didefinisikan secara luas untuk mencakup berbagai penggunaan dan interpretasi yang mungkin, para ahli tengah mencari yang sesuai jenis-jenis bukti Validitas (bukti terkait dengan isi, bukti keterhubungan, bukti berdasarkan penarikan kesimpulan dari teori, bukti yang diturunkan dari penelitian atau kajian-kajian) yang diarahkan pada penggunaan dan interpretasi yang dimaksud) Sementara itu, Gorin (20072 461) menyebutkan: Validity is ajudgment, and like all judgments it is relative and ever evolving. It can be, and should be, evaluated in light of new evidence, and desire interpretations, making validity and validation an ongoingprocess. (Validitas adalah sebuah keputusan, dan seperti halnya semua keputusan adalah relatif dan terus berkembang. Sangat mungkin, dan mestinya mungkin, dievaluasi dalam kej elasan dari bukti baru, interpretasi tertentu, pembuatan validitas, dan pemvalidasian adalah pro ses yang berj alan terus) Brennan (20062 312) menyebutkan bahwa terkait dengan validity evidence , desain tes juga harus diperhatikanjuga legal consideration yang salah satu diantaranya adalah curicular val idity. Artinya, bahwa desain suatu tes harus merujuk pada kurikulum yang berlaku dan yang diaj arkan di sekolah. Sementara itu, terkait dengan pendekatan dalam validitas, Messick (1994) yang dikutip oleh Samuelsen & Lissitz (20072 441) menyebutkan bahwa pendekatan dalam validasi juga mengukur kompleksitas pengetahuan, keahlian, atau indikator lainnya yang tergantung pada masyarakat dalam menilainya. Lebih lanjut, Guilarmo Solano-Flores (http2// www. edgateway. net/ cs/ cvap/ print/ cvap/ news į diakses tgl. 17 Januari 2009) Terkait dengan masyarakat dalam menilai atau menginterpretasinya, tentunya tak lepas pula dengan budaya yang melingkupinya, dan mensinyalir adanya apa yang disebut dengan Cultural validity in assessment. Ia menegaskan, bahwa budaya mempengaruhi bagaimana kita bertindak/ bersikap, apa yang kita yakini, bagaimana kita bersosialisasi dengan lingkungan, dan bagaimana kita nyaman dengan pengalaman kita. Kekurangpekaan atau kesadaran atas keragaman budaya akan mengarah pada perbedaan tingkah laku, keyakinan, sistem nilai, gaya bersosialisasi dan pembelajaran, yang tentunya juga dapat membahayakan pemahaman antar individu. Edisi 23, Agustus 2009 17
  20. 20. 18 Kekurangpekaan perbedaan budaya dapat berpengaruh pada cara bagaimana kita menilai prestasi akademik siswa. Mengabaikan pentingnya keragaman budaya juga akan mengarah pada unfair testingpractices. Merujuk apa yang disinyalir oleh Guilermo yakni di Amerika Serikat yang memiliki keragaman budaya, bangsa Indonesia yang secara geografis juga memiliki keragaman etnik, suku bangsa, agama, dan budaya, perlu juga wacana ini di gulirkan dan disikapi sebagai bahan diskusi dan penelitian. Istilah lain menyebutkan sebagai validitas antar-budaya (Ancok dalam Singarimbun, 1998) Penilaian Hasil Belajar Matematika, Policy Validity? Dengan merujuk pada fenomena di mana terjadi keragaman penggunaan aspek penilaian hasil belajar matematika (seperti: kognitif & penerapan; aljabar, aritmetika, geometri & statistika; dan seterusnya) serta seputar trends validitas dalam penilaian sebagaimana telah disebutkan di atas, bagaimana ini terjadi, apakah ini merupakan validity evidence, policy validity, atau bahkan telah menjadi cultural validity in assessment? Mereka (para guru) yang menggunakan aspek: kognitif dan penerapan dalam penilaian hasil belajar matematika, mengacu pada content domain pembelaj aran pada umumnya (yakni2kognitif, afektif dan psikomotorik - dan kebetulan matematika lebih banyak pada aspek kognitifnya) dan tidak mengacu pada kompetensi yang hendak dinilai. Mereka yang menggunakan aspek: aljabar, aritmetika, geometri, dan statistika dalam penilaian hasil belajar LIMJ matematika, mengacu pada ruang lingkup (coverage area) atau topik/ sub topik dalam pelajaran matematika, dan tidak mengacu pada kompetensi matematika yang hendak diukur. Sementara itu, mereka yang menggunakan aspek konsep dan pemecahan masalah nampaknya sudah mulai mengacu pada kompetensi pembelaj aran matematika seperti telah disebutkan di atas, namun meninggalkan untuk aspek penalaran dan komunikasi. Apakah ini karena keterbatasan pemahamannya atau belum tahu bagaimana menyusun indikator untuk kompetensi penalaran dan komunikasi itu. Hal ini masih perlu dikaji lebihjauh. Apabila kita merujuk curricular val idity sebagimana yang disampaikan Brennan di atas, maka kesalahan atau ketidaksesuaian dalam menggunakan aspek penilaian hasil belajar matematika para guru di atas bisa dikategorikan sebagai validity evidence atau lebih spesifik lagi adalah policy validity. Hal ini karena mereka menggunakan aspek-aspek tersebut lebih disebabkan silih bergantinya produk dari kebijakan yang ada dan petunjuk yang mengatur hal itu memang belum sesuai. Yang jelas, bukan karena kebiasaan guru kita atau budaya guru kita yang kadang kurang kritis, hanya “mengekor” dari atas, dengan kebijakan top-down-nya yang sentralistis, atau karena sikap apatis sebagian guru kita yang menyebutkan bahwa dulu-dulunya juga begitu dan tidak ada masalah, atau kenapa harus repot-repot, yang praktis-praktis saja. Kalau hal itu yang terjadi, bolehjadi bukan lagi policy validity, tetapi mengarah ke cultural validity in assessment. Sementara itu kalau merujuk pada pendapat Brennan (20062 311) tentang legal considerations terkait dengan vailiditas kebij akan dibutuhkan waktu sekitar 4-5 tahun untuk sosialisasinya. Artinya bahwa validitas penilaian hasil belajar matematika siswa SMP oleh para guru matematika, dibutuhkan waktu sekitar 4 5 tahun. Sehingga, harapannya pada tahun 2010/2011 nanti para guru matematika di Indonesia telah mampu mengukur kompetensi matematika siswa dengan benar. Menyikapi Standar Penilaian Pendidikan. Terhadap Standar Penilaian Pendidikan pada Bagian D butir ke - (13) “Hasil Penilaian oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan disampaikan dalam bentuk @ į pencapaian kompetensi mata pelaj aran, disertai dengan deskripsi kemaj uan belaj ar” dan
  21. 21. mengakitkannya dengan 3 (tiga) aspek penilaian hasil belajar matematika di atas, maka dapat di sarankan sebagai berikut: 1. Sependapat dengan butir ke - (13) pada Standar Penilaian Pendidikan yakni dengan satu nilai @ disertai dengan deskripsi kemajuan belaj ar. Satu nilai tersebut diperoleh dari 3 aspek penilaian hasil belajar matematika sesuai dengan Peraturan Dirjen Dikdasmen Depdiknas No. 506/C/ PP/2004 tanggal 11 November 2004 tentang penilaian perkembangan anak didik SMP yang meliputi į (tiga) aspek yakni (1) Pemahaman konsep (2) Penalaran dan komunikasi (3) Pemecahan masalah. Tiga aspek pada Peraturan Dirjen itu dipilih karena dari kajian akademik-keilmuan (dari NCTM di atas) telah sesuai dengan kompetensi pembelaj aran Matematika Tiga aspek pada Peraturan Dirjen itu dipilih karena telah memuat indikator-indikator yang dibutuhkan untuk pengukuran kompetensi, yang notabene dibutuhkan oleh para guru di lapangan. Sebagai hal “baru” mereka masih butuh “guidance” awal untuk menunjang proses kreativitas dan kemandirian, utamanya mengarah ke KTSP. Indikator-indikator sebagaimana yang dimaksud pada poin ke-4 adalah sebagai berikut: (a). Indikator bahwa siswa memahami konsep ditunj ukkan oleh kemampuan: - menyatakan ulang sebuah konsep - mengklasifikasi objek menurut sifat- sifat tertentu sesuai dengan konsepnya - memberi contoh dan non-contoh dari konsep - menyajikan konsep dalam berbagai bentuk representasi matematis - mengembangkan syarat perlu atau syarat cukup dari suatu konsep - menggunakan, memanfaatkan dan memilih prosedur atau operasi tertentu - mengaplikasikan konsep atau algoritma ke pemecahan masalah (b). Indikator keberhasilan melakukan penalaran dan komunikasi ditunjukkan oleh kemampuan: - menyajikan pernyataan matematika secara lisan, tertulis, gambar, diagram - mengajukan dugaan - melakukan manipulasi matematika - menarik kesimpulan, menyusun bukti, memberikan alasan, atau bukti terhadap kebenaran solus - menarik ke simpulan dari pernyataan - memeriksa kesahihan suatu argumen - menemukan pola atau sifat dari gej ala matemati s untuk membuat generalisasi (c). Indikator keberhasilan memecahkan masalah ditunjukkan oleh kemampuan: - menunjukkan pemahaman masalah - mengorganisasi data dan memilih informasi yang relevan dalam pemecahan masalah - menyaj ikan masalah secara matematik dalam berbagai bentuk - memilih pendekatan dan metode pemecahan masalah secara tepat - mengembangkan strategi pemecahan masalah - membuat dan menafsirkan model matematika dari suatu masalah menyelesaikan masalah yang tidak rutin . Untuk menjadi satu nilai dari tiga aspek kompetensi hasil belajar matematika itu į diperoleh dari rata-ratanya, akan tetapi secara proporsional (persentase) dari masing-masing aspek dengan merujuk dan mencermati pada eksistensi 3 aspek tersebut dalam setiap Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang ada di Standar Isi. Edisi 23, Agustus 2009 19
  22. 22. 20 7. Satu nilai dan disertai dengan deskripsi kemajuan hasil belajar, sangat dibutuhkan dalam melihat track record dan progress belajarnya. Deskripsi ini mengacu pada tingkat pencapaian SK dan KD dari siswa tersebut dalam pencapaian Standar Ketuntasan Minimal (SKM) 8. Deskripsi ini harus menjadi feedback bagi remediasi ataupun perbaikan dan peningkatan kualitas pembelaj aran matematika di kelas. Penutup Lahirnya Standar Nasional Pendidikan yang kemudian ditindaklanjuti dengan Permendiknas RI No. 20 th. 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan perlu menjadi acuan bagi penilaian hasil belajar (Matematika SMP) dengan tetap merujuk pada Peraturan Dirjen Dikdasmen Depdiknas No. 506/C/ PP/2004 tentang Penilaian perkembangan anak didik SMP yang meliputi 3 (tiga) aspek yakni (1) Pemahaman konsep (2) Penalaran dan komunikasi (3) Pemecahan masalah. Perubahan berbagai kebijakan terkait dengan penilaian hasil belajar Matematika SMP serta keragaman interpretasi terhadap kebijakan tersebut yang terlihat pada keragaman pencantuman aspek penilaian, memungkinkan munculnya bias, miss- interpretations ataupun kegamangan validitas penilaian kita, atau diperlukan adanya validity evidence, atau lebih spesifik sebagai kategori policy validity. Hal lain yang perlu disadari adalah bahwa muara dan esensi dari validitas penilaian ini adalah bagaimana hasil penilain ini dapat digunakan sebagaifeedback atau input bagi peningkatan, diagnosis, dan perbaikan kualitas pembelaj aran di kelas. Inilah yang LIMJ/ S sebenarnya harus dilakukan oleh para guru maupun praktisi pendidikan lainnya, tidak hanya Assessment of Learning (AOL), tetapi juga Assessment for Learning (AFL). Dengan perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran di kelas inilah yang pada gilirannya nanti akan meningkatkan prestasi belajar matematika anak bangsa ini di kelak kemudian hari, semoga! Referensi Brennan, Robert L (2006). E ducational M easurement (Fourth Edition), American Council on Education, Praeger Publishers. CT Gorin, Joanna S (2007). Reconsidering Issue in Validity Theory, EducationalResearcher Vol.36, No. 8 , November 2007 Kane, Michael T (2008). Terminology, Emphasis, and Utility in Validations, Educational Researcher Vol.37, No. 2 , March 2008 Permendiknas RI No. 20 th. 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan Peraturan Dirjen Dikdasmen Depdiknas No. 506/C/ PP/2004 tentang Penilaian perkembangan anak didik SMP Posamentier, Alfred S & Stepelman, Jay (1999) Teaching Secondary Mathematics, Techniques and Enrichment Units, Printice Hall Inc, New Jersey Singarimbun, Masri & Efendi, Soñan (1998). Metode Penelitian Survai, LP3ES, Jakarta Samuelses, Karen & Lissitz, Robert W (2007). A Suggested Change in Terminology and Emphasis Regarding Validity and Education, Educational Researcher Vol.36, No. 8 , November 2007 Http2// www. edgateway. net/ cs/ cvap/ print/ docs/ cvap/ news. htm What is Cultural Validity in Assessment? By Guilermo Solano-Flores, diakses tgl 17 Januari 2009. " Drs. Rachmadi Widdiharto, M. A. Widyaiswara PPPPTK Matematika Yogyakarta.
  23. 23. PENERAPAN MENGGUNAKAN UNTUK MENGAKTIFKAN SISWA “Wahyu Cahyaning Pangestuti A. Pendahuluan Dalam berbagai forum seminar yang penulis ikuti muncul berbagai kritik, antara lain: konsep pendidikan telah tereduksi menjadi pengajaran, dan pengaj aran lalu menyempit menj adi kegiatan di kelas. Kegiatan di kelas tak lebih dari kegiatan guru mengajar murid dengan target kurikulum dan mengejar NUN (Nilai Ujian Nasional). Pendidikan dan Pengajaran adalah dua hal yang berbeda. Di lapangan banyak guru hanya menitikberatkan pengajaran sehingga mengesampingkan pendidikan. Proses pengajaran yang menitikberatkan pada aspek kognitif dan kemampuan teknis semata akan melahirkan manusia tukang dan bukan seorang pemimpin yang kaya dengan inovasi serta memiliki komitmen sosial yang kuat. Agar di dalam kelas tercipta kegiatan pendidikan yang diidamkan, maka salah satunya adalah dengan meningkatkan keaktifan siswa dan lebih memberdayakan kemampuannya dalam pembelajaran. Dengan keaktifan siswa yang meningkat serta kemampuan siswa yang diberdayakan, maka akan meningkatkan hasil belajar siswa. Hal itu, sejalan dengan pendapat Komarudin Hidayat (2002: xxi) untuk mempelajari sesuatu dengan baik, belajar aktif membantu untuk mendengarkannya, melihatnya, mengajukan pertanyaan tentang materi tertentu, dan mendiskusikannya dengan yang lain. Yang paling penting, peserta didik perlu memecahkan masalah sendiri, menemukan contoh-contoh, mencoba keterampilan-keterampilan, dan melakukan tugas-tugas sesuai dengan pengetahuan yan g telah mereka miliki. Seperti kata pepatah banyak jalan menuju Roma, banyak cara untuk mengaktifkan siswa, antara lain dengan: melaksanakan model-model pembelajaran maupun mengunakan berbagai media pembelajaran, seperti: alat peraga, ICT, dan sebagainya. Menurut Mel Silberman (2002:237), ada 101 cara untuk mengaktifkan siswa belajar, salah satunya adalah dengan "Student Recap" (ikhtisar siswa). Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan dibahas penggunaan "Student Recap " untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelaj aran matematika. . Landasan Teori Istilah “Student Recap " dapat diartikan sebagai ikhtisar/ rangkuman siswa. Strategi ini memberikan kesempatan siswa aktif untuk meringkas/ merangkum apa yang telah mereka pelajari dengan caranya sendiri di akhir pembelaj aran dan menyampaikannya kepada oranglain. Hal itu sesuai dengan pendapat John Holt (1967: 76), bahwa belajar menj adi semakin baik apabila siswa diminta untuk melakukan hal-hal sebagai berikut. 1. Mengtmgkapkan informasi dengan bahasa mereka sendiri Edisi 23, Agustus 2009 21
  24. 24. 22 2 . Memb erikan contoh-contoh Mengenalnya dalam berbagai situasi dan kondisi 4. Melihat hubungan antara satu fakta atau gagasan dengan yang lain 5 . Menggunakannya dengan berb agai cara 6. Memp erkirakan beberapa konsekuensinya 7. Mengungkapkan lawan atau sebaliknya U) Sejalan dengan pendapat tersebut, Gorys Keraf (1980: 46) menyatakan: “Ringkasan merupakan cara penyajian singkat dari pokok bahasan yang masih mempertahankan urutan isi. Di dalam ringkasan mengandung pokok-pokok pikiran dari pokok bahasan atau materi pelajaran yang dipersempit cara penyajiannya, namun tidak mengurangi isi dan maksud dari aslinya. Sehingga hal-hal yang kurang penting, seperti gaya bahasa, ilustrasi, serta penjelasan yang terperinci dihilangkan. Namun inti dari pokok bahasan atau materi pelaj aran tetap ada. Untuk mempermudah dalam menyusun ringkasan, harus mengikuti langkah- langkah tersendiri seperti membaca pokok bahasan dengan teliti, topik-topik penting ditandai atau digarisbawahi, kemudian menyusun kembali pokok bahasan yang penting ditambah dengan pikiran penjelas sehingga menj adi ikhtisar yang mudah difahami”. Penulis mengembangkan strategi"Student Recap " dengan menggunakan tiga jenis format, yaitu: DG (Dibantu Guru), DGS (Dibantu Guru Sedikit), dan SKS (Sepenuhnya Kreasi Siswa). Prosedur dalam menerapkan `Student Recap” adalah sebagai berikut. 1. Dijelaskan kepada siswa bahwa bagi guru menyediakan ikhtisar pelajaran adalah bertentangan dengan prinsip belaj ar aktif. 2. Siswa dikelompokkan, masing-masing beranggotakan 2 sampai 4 orang 3 . Setiap kelompok diminta membuat ikhtisar sesi pelajaran hari itu. Guru mendorong siswa untuk membuat out-line, peta pikiran, atau “jembatan k e l e d ai” yang akan memudahkan mereka untuk mengkomunikasikan ikhtisar kepada yang lain. 4. Menggunakan format untuk membimbing kerja siswa, yaitu2 a. Format DG o menuliskan poin-poin penting yang LIMJ/ S muncul dalam pelaj aran hari itu, kemudian siswa mengembangkannya dengan bimbingan guru o mengingatkan pada siswa agar merangkum sebaik mungkin, karena ada kemungkinan membacakannya di depan kelas. b. Format DGS Guru mengaj ukan pertanyaan- pertanyaan ataupun perintah berikut pada siswa: o poin-poin apa yang muncul dalam pelaj aran hari ini? o pengalaman apa yang siswa peroleh hari ini? Apa yang telah siswa ambil dari pengalaman tersebut? o ide-ide atau saran-saran apa yang dapat kamu berikan pada pelajaran hari ini? o rangkumlah pelajaran hari ini sebaik mungkin karena ada kemungkinan untuk membacakannya di depan kelas! c. Format SKS Guru memberikan perintah pada siswa sebagai berikut. o Rangkumlah pelajaran hari ini, dengan caramu sendiri o Rangkumlah pelajaran hari ini sebaik mungkin karena ada kemungkinan untuk membacakannya di depan kelas! 5. Ajaklah kelompok atau perorangan untuk berbagi rangkuman mereka. Berikan tepuk tangan atas usaha mereka. 6. Memberi skor A, B, C, D, atau E pada hasil rangkumanmereka. Contoh Penerapan Pembelajaran Dengan “StadentRecap” Jika penerapan “Student Recap” merupakan hal pertama kali dilakukan pada suatu kelas, maka siswa dibimbing menggunakan format DG, DGS, dan SKS masing-masing minimal 2 kali pertemuan. Setelah terbiasa, siswa dapat melaksanakan “Student Recap” menggunakan format SKS. Contoh format beserta materinya adalah sebagai berikut.
  25. 25. IšlClllllljalįf` IJ l E? . ašį-ILE LLĮPĖHRVĆIIJMJLLAEEI ; l IMIAIFIĮIIĮI ` , king-rain; P-ruraliraiuiįmluiuiiíi Iiillaiuigraiui IPHHŪEĮII ; liai lällí ímluiuiíi ; Planrallraiuušlaiuíllauíi IMIHJĮVHĆla“lilllillíillįpäldälllälll - įmlaníbiaiuríiinglgaiuuílauiįmlauiguiuuillgaiui; P-. rcrallraiui Iif-ílgaijlallalli ilallauni ílialluiuiijuxulllt Illlilllí : niauraiuigllguiiii ; niairaiuíl ; hraiíi inti ; Paiilraiíllgaiui įlgairai Illllllíb-ílįalial liuuuíi luxaiíllguiį, Iliauiiurífiaiui Ilgainliiaiuiglgaiui ; igaiuugįlguiuillalbi uákaíllt : niuuiglgiui ilgam-turai ariiai Iliainiuingílíiuraiui Ilgainiui , viaing allgaui ; niainibrarcrallgaiuųuainglguuiiaiuuiiiairaiílįhraiíi inti ; L ; il-rcraliraiuįmluiuiíuílauuruuiruläiumai ŽP-rurallraiui ? iki lallt ; Mluiuiíuílaiuuciuuirulliųuai ČP-rcialirainšlaiíllaíuílaiuucruiuiruíiiuguai (Ilaiirauniaiugyr-rílaliraurallgaiųuxararailrauuílauuuoinrdiuimai Ūaivraunianlbraiuríiinglgauųruxararaliraiuudlauuruiuiruläiumai (IIŽSĮHIJJEĮIĮQĮĮIlllliillųípiàiüilllälllílillidllllillllųįlai ; PaiuugallaiuiiaiuLaųJ-rai , viaing Ilgaiuiiuiįuxaiurullaíli ; braivti inti” , Ai-rai painus*tallaliilgainiu-aiuilbñhílaiíįuxaiuugallainiaiuuraiuaraihui ' Ililaalíla aiiaiui : iaiiraiumraiiraiui aųprai , viaing ilaųpraií Ilgainiui Biaiíllgaiuųpraiílaųuxallaįrairaiuilraiíi inti' . far „à : gilų r' i' a įlCĮl! 'l; bAlf' I) K? ; Kid-ILE į/ Ll ŽHiIiČII5M_lŪLA`įEF1 ; MIAIFYJIĮI Žiillaiuigąaiui ; P-. rcraliraiui ŽLIauíluiialL„ ; Penilaian čiau: IPaiunílL i Iiiaílgaijlallaüi : lilllíhíb-rälälllíūíi llllilllí : niairrauigįlguiuii : niaiiaiuíi Įlraiíi 'inti ; Pairllraiíllgaiui ; lgaiiai Illllllíb-iltiliäl Ilguiuruii äxaiíllguit, 5» ílçauniuuíliauii ílgaiuilbrainglgant ; igaiuigilguuníialli ualbualílt ; niuuiglgiui ilgam-turai arílai Ilgainiuinglíiuraiui Ilgainiui , viaing allgaui II ; niaiuiibrarcrallgaiuųuainglguiniaiuuiiiairaiíliraiíi inti ; L , Aliturai-railrainullaiūuiialiįuiíiaarallnyaiSima) 21. ; Mlaiuiíhullaillgaiui pxacraliraiui ílaraūuiiall : rainipraíi : raliui aiiaiui Ćlllaliälllįptaliíläluàlllall St ; Mlauyiaiiallgaiui ; uxucraliraiui ílauíluiiall ; liai ; uxarualiraiui bíiauraii craiuųpuuraiuuálauuaraihrallllgugyai . AXIüípiàiíiülil! ųgpxiįlšíiįlltllàüliíllįįlalaIIĖLIJIWĮ) IWIHJĮV/ iliälllälll JIXHQiŪEĮII -Juxaiuraiui ; li-u *Jualüiíllilll kiaurai Iiaiuųuiuuraiuuí. lauumiurallllgųuai , Ainūgiu-railrauųruxaiuníliĮníiaraliugnauaiíítäuüim) ; Mlaiųvialiallgaiui ; xarcrallraiui *Juiaiįllíll Ilga ; prildälllilll äíiauraui Hilllįplllilliílilllülälbläįülílįįįal LPiĮIĮgaĮliĮIJEĮILaĮJIIaI , viaing ilgainiui , Juxaurullaíli Ilraiíi inti' . Ai-rai *yiaingrallaliilgaiuiiu-aiuilbñkílaiíįuxaiuugallainiaiuuraiuralhuià' Ililwlíla aiiaiui üallillb-üillilll aųurai , viaing ilaųpaií Ilgainiui luaiíllgaiuųuraiílaųuralianauraiuilraiíi inti' . =1Į= Iii= `i~iIi= .vIr'; rasatas ; ili . IL ; Ūšíl ĮPLHĮFŽTI HMJL EARN ; l V : ĮI Qplilliluílinilllįgįptälíläl Pdüilllilll Į) „nųgçílçuuiiiįlraiii ; Įlliriüliil Iiuauifi lįlll íkuiųgrauii ; ĮllilllijlxiįlŪlllbtallįglíillųpxälliallįįlilillurpiàlíiallįįlilalllbiälíílíllí ; L ; Puninįuxumi Ilguuruíi antai , viauig : niuuruulJ iiallaini ; uxallaílairaiuilraiíi inti' J. äuigrallaiuiiaiunaįurai , įlällįįįIltílllllųíplilllílälll ; braiíi ini' , Aj-rai , įlallįgfiillalliltallllliillllbñhílalfįrpiäįlįgįaílallliallliäįlüiíhĮl ' : t IEla-Jiílai aiiaiui araiiraiuwrairaui antai Įlilllg, ílaųprait Ilgainiui äxaiíllgaiuųypraiílaųuxaílaílairaiuilraiíi inti' -AL ; lgaiuiglguiuillalli : Jliūíliílällilll ; braiíi inti eraibraíllt : niuiuugílgíui Ilgaixaiurai aršiai Iliaiuiiuiuiglíluraiui llllilllí : niaiuilbraiarallgaiuuigviai íiuíląuraiuilgaílauaad šlilįägmbaíf' IBHFJĮRCIĄ HĮEĄALIRĆZ. ŽHĮĮFŽIIĮĮMJLLAEBFX ; MIAIĮBĮRĮI CįįuxaurauaílIPaiuiglgaitv-rarílai IPHHiŪIiĮII įli. auiųg_. rjl«„uuiiilraiii ; niraiziauifi Įluauifi Ćtįuifi dkuiųgeauii : niauųuxaiiíiuilkainglgaiu„rajiaumaraiuuruxaiiiaiųnaraiuihxaiíllguit ; L ; tampi-mi Ilguuruíi aĮurai yiaing, :niuuruulJ ílallaini Juiàllfaflallallíllilíl iki' 2. I-Pällįguílällllülltáįjüal yang, flgaiuiiuųuxauruílalbi ; braiuíi ini' , Aįurai mina? tallaliilgainiu-aiuillílliílaiígruxauugllainiaiuuraiuraihuii' I : t íililaulíla airaiui erairraiuwrairaiui aųprai ; įlalllg ílaįpraií Ilgainiui blilíllíillįjllilíliųpxiíįllíllíllílíl AL ; lgaiuiglguiuillalli ; pxiíläílälülll ; braiuíi inti eraikaíllt : niuiuugįlgíui Ilgair-iuraiarílai Ilgainiuiuiglíluraiui llllilllí : niauilbrarcrallgaiuuigviai dludląuraiuilgaílarai ŠHILAEMLĄII' I, „IĮEJKCIĄ įNCĮĮIBljAIŽI` šįfššl Slįlllíllül „IIJĮĖPŽŪĄ įųllįlzalfįtiíffllàšä ŠIJŠUIIAE) šlįíįįįlšífa. ĮPEĮEČIIHM ILIINBI Žl ; MĮAIFIĮĮRĮI : Pinigaiílalliuíäįllilllu *Žíhaikaii ; igaingįlguinllalhi : niairaiuíi ; braiuíi inti, erainiauniuiui Ilgainiui 'JulhallalluaraiiiiuranaųuraianuuhyauigiuigíiuIlgainiuuiraiuugllguini . eišri, iųmjtiir' *galiausiai šlįíįįílšíšäįilíįtžfr' „ i ; MIAIFLBĮRĮI Cįuxanraiaíl amiullęJiįkaihiaii ; igaiuiglguinllalli : niaitaiíi ; braiii inti, Hillllilllįplll Ilgainiui 'Julhallalluaraiiiiura-aųuraianuuhyaingiuigíiullgainiuuiraiuigilguiuii : iàri, iųi~itiir' ŠHIŽJICFĄ I ; lCll! )lja! lf'Jlüüulhíašąütįrli íįllljlll SLI! ! (ZII) i ; lcįliülįalįfJlílüulhíašąürįfll çiuriili šlįtįlllíįfiį)
  26. 26. J ' 5 r , i th' x t_ : s: › e . = ~ „A A ; j : -,* " ' ' t „ _„- “ , xf J 'š / .. 's V s n / - _/ g I] II r Pre-lalunhoing SEAMEO Conümfw QHTEPIZJ; J alan panjang yang dilalui PPPPTK Matematika untuk menjadi regional centre pembelajaran matematika akhimya membuahkan hasil. Pada tanggal 12 s. d. 13 Juli 2009, dilakukan rangkaian kegiatan pre-launching SEAMEO Centre for Quality Improvement of Teachers and Education Personnel (QITEP) in Mathematics. Kegiatan ini merupakan bagian dari launching tiga SEAMEO Centre for QITEP, yakni SEAMEO Centre for QITEP in Mathematics, Science, dan Language. SEAMEO (Southeast Asian Minister of Education Organisation) merupakan forum bagi menteri-menteri pendidikan nasional di Asia Tenggara. Saat ini SEAMEO memiliki 16 centre yang terletak di 8 dari ll negara anggota. Sebagai salah satu centre, SEAMEO Centre for QITEP in Mathematics memiliki komitmen untuk meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan bidang matematika di Asia Tenggara. Tamu undangan yang terdiri dari Mr. Jurin Laksanawisit (Presiden SEAMEO Council) beserta delegasi tiba di Bandara Adisutjipto Yogyakarta tanggal 12 Juli 2009 . Rombongan disambut oleh Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK), Dr. Baedhowi beserta pejabat di lingkungan Direktorat Jenderal PMPTK dengan didampingi oleh Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN) Dr. R. Agus Sartono, MBA, Kepala PPPPTK Matematika Drs. Kasman Sulyono, M. M dan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Propinsi DIY Prof. Suwarsih Madya, Ph. D. Sebagai bentuk penghormatan, Presiden SEAMEO Council menerima pengalungan bunga dari putra dan putri Paskibraka Yo gyakarta yang mengenakan busana adatJawa. Setelah dilakukan ramah tamah, selanjutnya rombongan menuju Candi Borobudur, salah satu tempat wisata kebanggaan bangsa Indonesia yang terletak di perbatasan DIY-Jawa Tengah. Mr. Jurin Laksanawisit beserta rombongan sangat antusias mendengarkan penjelasan tentang candi Borobudur dari pemandu wisata yang telah disiapkan oleh panitia. į24
  27. 27. Menjelarig matahari , terbenam, Mr. Jurin Laksanawisit beserta beberapa orang delegasi dari Thailand melaksanakan ritual ibadah agama Budha di depan stupa tertingi di Candi Borobudur. Dari Candi Borobudur, rombongan kemudian kembali ke Yogyakarta menuju galeri seni yang menyediakan berbagai keraj inan khas Yo gyakarta, termasuk batik. 'imt-nunu mmm 'mau-EE ' l . Ilpvgjvàrlnühlälfli 4 į I_ 'Ni Malam harinya, rombongan menghadiri Welcome Dinner sebagai bentuk perjamuan dari Menteri Pendidikan Nasional Prof. Dr. Bambang Sudibyo di Hyatt Regency Hotel Yogyakarta. Pada acara ramah tamah dilakukan tukar menukar cindera mata antara Menteri Pendidikan Nasional RI dan President SEAMEO Council. ' I l - I 5:11! j): Malam itu juga ditampilkan pentas seni oleh siswa- siswi SMKI Yogyakarta dan sendra tari Ramayana yang memikat perhatian tamu undangan. Keesokan harinya, Selasal3 Juli 2009 dilaksanakan pre-launching SEAMEO Centre for QITEP in Mathematics di PPPPTK Matematika sekaligus pembukaan diklat perdana bagi guru-guru matematika se-ASEAN dengan tema Realisthic Mathematics Education (RME). Kehadiran Presiden SEAMEO Council disambut dengan pengalungan bunga oleh salah satu peserta diklat, dan tari Mahayu-hayu yang dibawakan oleh siswa siswi SMKI Yogyakarta. Pada pembukaan Diklat RME, Dirjen PMPTK menyampaikan harapan agar seluruh peserta dapat mengambil manfaat dari pelaksanaan diklat ir1i, kemudian mengimplementasikannya sekembali ke lluųl „n“: Šnllilll ing“ . y L. ; M; .Illñc "làdlolilll n' #174“: : tik u. ä= .`l, |ą»~(; ||| u;ę lu Hlzlänlll 25 Edisi 23, Agustus 2009 rtlŽíčf-Ilh-V-'Įkil mmm-il l
  28. 28. negara masing-masing. Presiden SEAMEO Council juga menyampaikan harapannya tentang keberadaan SEAMEO Centre for QITEP in Mathematic untuk peningkatan kualitas pendidikan matematika di ASEAN. Diklat secara resmi dibuka oleh Presiden SEAMEO Council, yang berarti secara resmi SEAMEO Centre for QITEP in Mathematics telah memulai diklat perdananya. lni merupakan suatu langkah konkrit dalam perwujudan Visinya untuk menjadi pusat pengembangan profesionalitas pendidik , WELCOME ALL FAlTíI E COURSE ON “ ENHANCING = w- : c-wnzwv scHooL uà MATICS 500091 dan tenaga kependidikan matematika dalam kerangka pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Selain RME, SEAMEO Centre for QITEP in Mathematics telah merencanakan pula diklat Lesson Study in Mathematics Education dan diklat Teaching Under-Achiever and Gifted Student. Setelah upacara pembukaan diklat, kemudian dilanjutkan dengan melakukan kunjungan ke unit-unit di PPPPTK Matematika. Keberadaan unit-unit tersebut untuk mendukung kesiapan PPPPTK Matematika sebagai tempat pelaksanaan diklat bagi SEAMEO Centre for QITEP in Mathematics. Kunjungan pertama dimulai ke Unit Media Alat Peraga Matematika. Para tamu undangan menyaksikan berbagai alat peraga matematika seperti logika listrik, loncat katak dan timbangan bilangan. Kemudian dilanjutkan kunjungan ke Unit Mathematics Playground yang menyediakan berbagai model permainan matematika. Permainan ketelitian “Hilang Orang Cebol (Vanishing Leprechaun)” yang menerapkan konsep translasi dan geometri ternyata cukup mendapat perhatian dari delegasi Thailand. Delegasi dari Thailand meninggalkan kota Yo gyakarta sekitar pukul 10.00 WIB, kemudian menuju Jakarta untuk menghadiri upacara peresmian SEAMEO Regional Centre for QITEP in Mathematics, Science danLanguage. Sore harinya di PPPPTK Matematika diadakan tele- conference antara SEAMEO Centre dan tiga centre SEAMEO, yakni Mathematics, Science dan Language. Dengan menggunakan perangkat video conference milik PPPPTK Matematika, peserta video conference di SEAMEO Centre for QITEP in Mathematics dapat mengikuti upacara peresmian SEAMEO Regional Centre di J akarta dari Yo gyakarta. Pada kesempatan ini juga dilaksanakan sambung rasa antara Presiden SEAMEO Council, Menteri Pendidikan Nasional Rl, dan peserta diklat dari tiga centre SEAMEO, yakni Mathematics, Science dan Language. Para peserta diklat menyampaikan kesan, pesan dan harapan mereka dalam mengikuti diklat yang diadakan SEAMEO di masing-masing centre. Rangkaian kegiatan ini terlaksana berkat kerja sama banyak pihak. Selain PPPPTK Matematika, terlibat pula jajaran Dirjen PMPTK, BPKLN, PPPPTK Kesenian, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi DIY, LPMP DIY dan LPMP Jawa Tengah. (Marfuah, MT) LIMOS 26
  29. 29. C n. i. Į drñž* 'äi IDiIklant E? SiEAMIEG) Cexzüfejäa Qímíüfėäiz Peningkatan kualitas pendidikan matematika sudah seharusnya dimulai dari pendidikan dasar, dimana salah satu tujuan pengajaran dalam pendidikan dasar adalah membantu siswa untuk menguasai pengetahuan dan keterampilan matematika. Untuk mendorong keaktifan, membangkitkan minat dan kreatifitas belaj ar siswa dapat menggunakan model pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME). Teori RME pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh Institut Freudenthal. Teori ini mengacu pada pendapat Freudenthal yang mengatakan bahwa matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. lni berarti matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan kehidupan nyata sehaIi-hari. Dalam konsep RME siswa hams diberikan kesempatan untuk mencari, menemukan, dan membangun sendiri pengetahuan yang diperlukan sehingga pembelaj aran menj adi berpusat pada siswa. Salah satu fokus diklat yang dilaksanakan oleh SEAMEO Centre for QITEP in Mathematics adalah mengenai RME. Pada tanggal 13 Juli s. d. 7 Agustus 2009, untuk pertama kalinya SEAMEO Centre for QITEP in Mathematics menyelenggarakan diklat dengan tema Training on Realistic Mathematics Education. Diklat perdana tersebut diikuti oleh para pendidik matematika tingkat Sekolah Dasar dari kawasanASEAN sebanyak 24 orang. . Diklat RME bersamaan dengan kegiatan l/ isiting Presiden SEAMEO Council yaitu Mr. Jurin Laksanawisit dalam rangka pre-launching SEAMEO Centre for QITEP in Mathematics di PPPPTK Matematika. Pada kesempatan tersebut, pembukaan diklat sekaligus dihadiri Presiden SEAMEO Council dan Dirj en PMPTK Departemen Pendidikan Nasional. Materi pada diklat ini mencakup: Introduction to RME, Selected Topic (Numeracy for Lower and Upper Grade, Space and Shape, Chance and Data, Classroom Observation), Design Research or Product Development, dan Program Design. Sedangkan fasilitator/ nara sumber pada diklat ini adalah dosen- dosen yang merupakan Tim PMRI (Pendidikan Matematika Realistik Indonesia), yaitu: l. Prof. Dr. R. K. Sembiring (IP-PMRI ITB) 2. Prof. Dr. Sutarto Hadi (UNLAM Banj armasin) 3. Dr. Yansen MaIpaung (USD Yogyakarta) 4. Prof. Dr. Suryanto (UNY Yogyakarta) 5. Prof. Dr. Zu1kardi(UNSRIPa1embang) 6. Sitti Maesuri Patahuddin, Ph. D (UNESA Surabaya) 7. Wanty Widjaja, S.Pd. ,M. Ed. ,Ph. D. (USD Yogyakarta) 8. Prof. Ahmad Fauzan (UNP Padang) 9. Ariyadi Wij aya, M. SC. (UNY Yogyakarta) „Ą, 1 91 7 ryrįä. : . „i „v m1,. . : ›ą; ›, -. »r x n. . met? _ ` „r I „į 9 _„ : xxx * ×` 4 ` *ž `- Melalui diklat RME ini diharapkan para pendidik tingkat Sekolah Dasar memahami teori RME, meningkatkan kompetensi dalam mengajar dengan menggunakan teori RME, dan memiliki pengalaman dalam pembelajaran RME. Dengan demikian pelaksanaan diklat RME semoga menjadi pi0I1ir peningkatan kualitas penerapan RME untuk tingkat Sekolah Dasar, terutama di negara-negara Asia Tenggara. (Rina Kusumayanti)
  30. 30. 28 Sambungan dari halaman 23 Contoh penerapan pembelajaran menggunakan “Student Recap” dengan format DG dalam materi Bilangan Pecahan Desimal, Persen, dan Permil untuk mata pelaj aran matematika pada kelas VII semester 1 , dengan alokasi waktu 90 menit. Standar kompetensi adalah memahami sifat-sifat operasi bilangan dan penggunaannya dalam pemecahan masalah. Kompetensi dasar yang dipilih adalah melakukan operasi hitung bilangan bulat dan pecahan. Indikator: Mengubah bentuk pecahan ke bentuk pecahan yang lain. Dengan SK, KD dan Indikator tersebut, tujuan pembelaj arannya adalah: 1. Siswa dapat memberi contoh pecahan desimal, persen dan permil 2. Siswa dapat menyatakan bilangan dalam salah bentuk pecahan ke bentuk pecahan yang lain. Langkah-langkah kegiatan yang dilakukan adalah: 1. Pendahuluan a. Guru menginformasikan tujuan pembelaj aran b. Guru menginfomasikan cara belaj ar yang akan ditempuh yaitu pembelaj aran menggunakan "Student Recap " c. Guru mengecek kemampuan prasyarat siswa dengan tanyajawab d. Guru memotivasi siswa dengan memberikan contoh pemasalahan sehari-hari yang mudah disele saikan jika menguasai materi bilangan Pecahan Desimal, Persen dan Permil. 2. Kegiatan Inti a. Dengan tanya jawab di jelaskan pengertian pecahan desimal, persen dan permil b. Siswa diminta bekerja dalam kelompok yang telah ada. Masing-masing kelompok mengerj akan LKS. c. Dengan berdiskusi dalam kelompok masing-masing siswa diharapkan dapat lebih memahami cara menyatakan suatu bilangan pecahan ke bilanganpecahanlainnya. d. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya sedangkan kelompok lain memberikan tanggapan. Guru bertindak sebagai fasilitator. 3. Penutup a. Setiap siswa merangkum materi dengan LIMJ/ S format DG (Dibantu Guru). Kemudian satu orang terpilih hasil undian mempresentasikan hasil rangkumannya. Guru dan siswa lain memberi penghargaan dengan tepuk tangan. Guru meminta siswa mengumpulkan hasil rangkumannya untuk diberi skor. Siswa dan guru melakukan refleksi Guru memberikan tugas rumah
  31. 31. Dalam pembuatan “Student Recap” guru sebaiknya sering mengingatkan tentang 5 point penting yang harus diperhatikan, yaitu: (1 ) mencakup semua pokok pikiran dari materi hari itu, penyajiannya dipersempit/ dipersingkat yang akan memudahkan mereka untuk mengkomunikasikannya kepada yang lain; (2) mempertahankan urutan isi materi; (3) menggunakan bahasa siswa sendiri; (4) tidak mengurangi isi atau maksud dari aslinya; dan (5) ada pengalaman-pengalaman/ ide-ide/ saran yang unik yang ditulis siswa. Pembuatan “Student Recap” dan presentasinya memerlukan waktu tersendiri. Oleh karena itu agar tidak kekurangan waktu, guru dapat mengefektitkan pengelolaan waktu dengan mengoptimalkan penggunaan LKS (Lembar Kegiatan Siswa). Pada saat diskusi kelompok mengerjakan LKS atau membuat “Student Recap” akan lebih baik jika guru berkeliling kelas. Hal ini akan mengoptimalkan peranan guru sebagai fasilitator. Jika tidak dilakukan kemungkinan akan terjadi: siswa yang mendominasi diskusi, siswa yang tidak terlibat dalam diskusi, dan tujuan belaj ar kurang berhasil. Referensi 1. Keraf, Gorys, 1980. Komposisi. Ende: Nusa Indah. 2. Silberman, Mel. 2005. Active Learning. Yogyakarta: Yappendis. 3. Sumber-sumberlain g” Dra. Hj. Wahyu Cahyaning Pangestuti Guru SMP Negeri 4, Yogyakarta Edisi 23, Agustus 2009 29
  32. 32. KAJIAN ILMIAH 30 APA DAN „KL į i i BEGITU : i “d” i ** Fadjar Shadiq L . IU_ Abstrak Memformulasikan definisi Matematika tidaklah semudah yang dibayangkan. Alasannya, definisi dan tujuan pembelajaran matematika di kelas akan selalu menyesuaikan dengan tuntutan perubahan zaman. Matematika tidak seharusnya hanya berperan sebagai 'saringan' seperti yang berlaku selama ini, namun kita harus memanfaatkan matematika agar para siswa kita dapat bersaing dengan warga bangsa lain. Di samping itu, ada tLmtutan yang makin keras bahwa pembelajaran matematika di kelas tidak seharusnya selalu deduktifnamun sebaiknya dimulai secara induktif. Hal itu dilakukan agar para siswa belajar mencerna ide-ide baru, mampu menyesuaikan diri terhadap perubahan, mampu menangani ketidakpastian, mampu memecahkan masalah yang tidak lazim, dan mampu menemukan keteraturan. Deñnisi yang cocok dengan hal terakhir ini, matematika merupakan ilmu yang membahas pola atau keteraturan. Tujuan pembelajaran matematika yang sudah ditetapkan Depdiknas dan sudah sesuai dengan kecenderungan terbaru perlu mendapat dukungan semua pihak. Contohnya, soal- soal uj ian matematika harus mendukung pencapaian tujuan pembelaj aran matematika di kelas. Kata Kunci: Kebenaran nisbi, kebutuhan siswa, pola (keteraturan), berpikir, dan bernalar. Llñíiií/ S : J 'i * L x 9 1 . L . .~ " ` man r. f 1 , :ŽVŠĖK 1 „ x '- 1. A '9 M 1. H 9 x _L _ , 1 A v 7 y] . «/`/ L -4 M . + Latar Belakang Proses pembelaj aran matematika di kelas akan sangat ditentukan oleh pandangan seorang guru dan keyakinannya terhadap matematika itu sendiri. Karenanya, ketidaksempurnaan memahami 'matematika' dari seorang guru sedikit banyak akan menyebabkan ketidaksempurnaan pada proses pembelajarannya di kelas. Kata lainnya, pandangan dan keyakinan yang benar terhadap pengertian serta definisi matematika diharapkan akan dapat membantu proses pembelajaran matematika yang lebih efektif, eñsien, dan sesuai dengan tuntutan zaman. Hal itulah yang ikut mendasari penulisan artikel ini. Di samping itu, artikel ini didasari juga olehjudul buku teks matematika yang sangat terkenal yang ditulis Courant & Courant pada 1981 dengan judul: “What is Mathematics Buku tersebut tidak membahas secara khusus tentang apa itu matematika. Pada intinya, pengertian matematika yang sesuai dengan tuntutan zaman sangatlah penting dan menentukan keberhasilan pembelajarannya. Masalahnya, jawaban pertanyaan 'Apa itu Matematika' tidaklah semudah yang dibayangkan. De Lange (2005:8), seorang pakar pendidikan matematika dari Freudenthal Institute (FI), suatu lembaga di Universitas Utrecht yang sangat terkenal dengan Realistic Mathematics Education (RME) menyatakan: “' What is mathematics? ' is not a simple question to answen” Yang jelas, faktanya adalah m1,” "in,

×