1
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATA BELAKANG
Cabai atau lombok adalah sayuran buah semusim yang termasuk dalam anggota genus
Capsi...
2
segar yang diekspor (seperti bawang merah, tomat, kentang, kubis dan wortel) cabai
termasuk salah satunya (Prajananta, 2...
3
kontribusi pada peningkatan produktifitas lahan karena telah mencapai titik jenuh
(Leveling Off) tetapi sebaliknya produ...
4
BAB II
PEMBAHASAN
1. Tanaman Cabai
Cabai merupakan tanaman sayuran buah semusim yang diperlukan oleh seluruh lapisan
mas...
5
dipakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus membelinya di pasar. Tanaman cabai
cocok ditanam pada tanah yang kaya hu...
6
Tanaman cabai merah akan tumbuh baik pada ketinggian 0 – 1300 m dpl. Bahkan pada
ketinggian 1500 m dpl pun tanaman cabai...
7
tanaman cabai atau tegak lurus dengan batang tanaman (redaksi Trubus, 2009).
Beberapa fungsi dari ajir ini adalah: memba...
8
merah sangat dipengaruhi oleh penggunaan kultivar-kultivar yang tahan dengan daya
hasil yang tinggi. Namun demikian agar...
9
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Metode Penelitian
Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperi...
10
D. Pelaksanaan Percobaan
 Persiapan Benih
Benih yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah benih cabai merah. Seb...
11
dimana setiap baris terdiri dari 10 tanaman sehingga pada setiap bedengan terdapat 30
tanaman.
a. Pembuatan lubang tana...
12
e. Pengendalian hama dan penyakit: Pengendalian hama dan penyakit tanaman
dapat dilakukan dengan memberika pestisida na...
13
Pengamatan dilakukan dengan cara menghitung jumlah cabang tanaman yang
menghasilkan bunga dan buah. Pengamatan dilakuka...
14
E. Bahan dan Alat Percobaan
a. Bahan Percobaan
Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Cabai Merah...
15
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
 Persiapan Benih
Benih yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah benih cabai merah....
16
 Penanaman
Penanaman dilakukan 3-4 minggu setelah persemaian atau bibit tanaman cabai merah
rata-rata mempunyai jumlah...
17
DAFTAR PUSTAKA
 Anonim, 2011 a. Budidaya Cabai Merah. http://epetani.deptan.go.id/budidaya/
909. 1 h. (15 Januari 2011...
18
TUGAS : KO-KURIKULER
FILD STADY
BUDIDAYA CABAI
DI DESA SARI MULYO
KECAMATAN KABANGKA
KABUPATEN MUNA
DISUSUN OLEH :
NAMA...
19
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
KENDARI
2013
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil ‘Alamin segala Puji dan Syukur Penulis Panjat...
20
DAFTAR ISI
Kata Pengantar.................................................................................................
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Studi lapangan cabe

1,186 views

Published on

0 Comments
2 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

No Downloads
Views
Total views
1,186
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
1
Actions
Shares
0
Downloads
34
Comments
0
Likes
2
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Studi lapangan cabe

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATA BELAKANG Cabai atau lombok adalah sayuran buah semusim yang termasuk dalam anggota genus Capsicum yang banyak diperlukan oleh masyarakat sebagai penyedap rasa masakan (Sunaryono, 2003). Salah satu tanaman cabai yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah tanaman cabai merah. Cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan komoditas sayuran yang banyak digemari oleh masyarakat. Ciri dari jenis sayuran ini adalah rasanya yang pedas dan aromanya yang khas, sehingga bagi orang-orang tertentu dapat membangkitkan selera makan. Karena merupakan sayuran yang dikonsumsi setiap saat, maka cabai akan terus dibutuhkan dengan jumlah yang semakin meningkat seiring dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan perekonomian nasional (Setiawati, 2005). Cabai merah mengandung berbagai macam senyawa yang berguna bagi kesehatan manusia. Kandungan vitamin dalam cabe adalah A dan C serta mengandung minyak atsiri, yang rasanya pedas dan memberikan kehangatan bila kita gunakan untuk rempah- rempah (bumbu dapur). Sun et al. (2000). melaporkan cabai merah mengandung anti oksidan yang berfungsi untuk menjaga tubuh dari radikal bebas. Radikal bebas yaitu suatu keadaan dimana suatu molekul kehilangan atau kekeurangan elektron, sehingga elektron tersebut menjadi tidak stabil dan selalu berusaha mengambil elektron dari sel- sel tubuh kita yang lainnya. Kandungan terbesar anti oksidan dalam cabai terdapat pada cabai hijau. Cabai juga mengandung Lasparaginase dan Capsaicin yang berperan sebagai zat anti kanker (Kilham 2006; Bano & Sivaramakrishnan 1980). Cabai merah (Capsicum annum L.) banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia selain karena manfaatnya bagi kesehatan juga karena cabai merah memiliki harga jual yang cukup tinggi. Purwanto (2007), menyatakan bahwa cabai menempati urutan paling atas diantara delapan belas jenis sayuran komersial yang dibudidayakan di Indonesia selama beberapa tahun teakhir ini. Oleh karena itu permintaan cabai merah cenderung meningkat tiap tahunnya. Gani (2011) mengatakan bahwa, berdasarkan pemantauan harga disejumlah pasar terhadap komoditas cabai. Harga cabai merah keriting naik 25 persen dari Rp 40.000/kg menjadi Rp 50.000/kg, cabai merah besar naik 50 persen dari Rp 40.000/kg kini menjadi Rp 60.000/kg. Hal yang sama juga berlaku untuk cabai rawit yang naik 33 persen dari semula Rp 60.000/kg menjadi Rp 80.000/kg. Permintaan akan cabai yang meningkat dari waktu kewaktu ini menyebabkan cabai dapat diandalkan sebagai komoditas ekspor nonmigas. Hal ini terbukti dari enam besar komoditas sayuran
  2. 2. 2 segar yang diekspor (seperti bawang merah, tomat, kentang, kubis dan wortel) cabai termasuk salah satunya (Prajananta, 2007). Menurut data statistik Indonesia tahun 2009, luas panen, produksi dan hasil perhektar cabai besar SULAWESI TENGGARA adalah 8,08 ton/ha, masih jauh di atas Bali yang hasil panen perhektaranya 11,55 ton/ha. Namun jika kita bandingkan dengan hasil panen perhektar cabai merah SULAWESI TENGGARA yang jumlahnya sebesar 5,87 ton/ha, maka produksi cabai merah SULTRA masih jauh lebih besar. Begitupun jika kita bandingkan dengan pulau Sumatra, Jawa, Kalimantan dan Maluku yang rata-rata hasil panen perhektarnya sebesar 6,03 ton/ha, 7,56 ton/ha, 5,19 ton/ha, 4,00 ton ha dan 4,57 ton/ha, maka hasil produksi tanaman cabai besar SULTRA masih jauh lebih tinggi (BPS-Indonesia, 2010). Bertanam cabai dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko) diantaranya: teknis budidaya, kekahatan hara dalam tanah, serangan hama dan penyakit. Maka dari itu perlu dukungan teknologi budidaya intensif baik itu terkait dengan pemupukan, proses pengolahan lahan, pemeliharaan, maupun penerapan-penerapan teknologi tepat guna sederhana dalam membudidayakannya (Prabowo, 2011). Pemberian unsur hara yang tepat sesuai dengan kebutuhan, waktu tanam dan penempatan hara pada daerah serapan akar juga menjadi pendukung dalam keberhasilan budidaya tanaman cabai. Salah satu cara untuk meningkatkan produksi cabai besar sekaligus menanggulangi bayaknya permintaan masyarakat tersebut adalah dengan manajemen pemupukan yang menjadi bagian dari intensifikasi pertanian (Suriyadikarta, 2006). Pemupukan merupakan tindakan yang bertujuan untuk menambah unsur hara yang sudah berada dalam tanah, memberikan unsur hara yang memang belum tersedia dalam tanah dan mengganti unsur hara yang diangkut oleh tanaman melalui panen. Sedangkan bahan penyubur tanaman yang ditambahkan kedalam tanah atau diberikan langsung kepada tanaman melalui penyemprotan pada permukaan daun disebut dengan pupuk (Mulyati dan Lolita, 2010). Sejarah mencatat bahwa penggunaan pupuk kimia meningkatkan produksi pertanian karena terbukti mampu memenuhi kebutuhan pangan penduduk dunia yang terus meningkat populasinya. Namun akibat penggunaan pupuk kimia yang terus menerus tersebut dapat mengganggu keseimbangan kimia tanah sehingga produktifitas tanah menurun (Soleh, 2011). Pemakain pupuk kimia secara terus menerus menyebabkan terjadinya residu yang berlebihan dalam tanah. Tumpukan residu pupuk ini dalam tanah akan menjadi racun tanah yang mengakibatkan tanah menjadi sakit. Pada tanah yang sakit ini akan terjadi degradasi mikrobia pengendali keseimbangan kesuburan tanah, ketidak seimbangan hara, dan munculnya mutan-mutan hama dan penyakit tanaman. Menurut Go Ban Hong (1998), berbagai upaya program intensifikasi pada lahan sawah tidak lagi memberikan
  3. 3. 3 kontribusi pada peningkatan produktifitas lahan karena telah mencapai titik jenuh (Leveling Off) tetapi sebaliknya produktifitas lahan justru cenderung menurun. Disamping itu juga penggunaan pupuk sebagai salah satu sumber nutrisi tanaman apabila diberikan secara tidak bijaksana dapat menyebabkan penurunan kualitas dan produksi tanaman, dapat menimbulkan pencermaran lingkungan hidup dan dapat menurunkan ketahanan alami tanaman melawan gangguan lingkungan, hama dan penyakit. B. TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN TujuanPenelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis perbandingan pupuk organik dengan anorganik dalam menekan penggunaan pupuk anorganik aplikasinya terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai besar. C. KEGUNAAN PENELITIAN Hasil dari penelitian dilapangan diharapkan dapat dijadikan sebagai acuan untuk menggunakan pupuk organik dalam budidaya cabai merah serta tambahan informasi bagi peneliti selanjutnya. D. HIPOTESIS Untuk mengarahkan jalannya penelitian ini maka diajukan hipotesis bahwa penggunaan jenis pupuk dengan dosis perbandingan yang berbeda pada tanaman cabai merah akan memberikan hasil yang berbeda-beda.
  4. 4. 4 BAB II PEMBAHASAN 1. Tanaman Cabai Cabai merupakan tanaman sayuran buah semusim yang diperlukan oleh seluruh lapisan masyarakat sebagi bumbu atau penyedap makanan. Tanaman cabai memiliki banyak nama populer diberbagai negara. Namun secara umum tanaman cabai disebut sebagai pepper atau chili. Nama pepper lebih umum digunakan untuk menyebut berbagai jenis cabai besar, cabai manis, atau paprika. Sedangkan chili, biasanya digunakan untuk menyebut cabai pedas, misalnya cabai rawit. Di Indonesia sendiri, penamaan cabai juga bermacam-macam tergantung daerahnya. Cabai sering disebut dengan berbagai nama lain, misalnya, lombok, mengkreng, rawit, cengis, cengek, Sebie dan sebutan lainnya (Anonim, 2011 a). Sejarah Penyebaran Ditinjau dari segi sejarahnya. Tanaman cabai berasal dari dunia baru (Meksiko, Amerika Tengah dan Pegunungan Andes di Amerika Selatan), kemudian menyebar ke Eropa pada abad ke-15. Kini tanaman cabai sudah mulai menyebar ke berbagai Negara tropik, terutama di Asia, Afrika Tropika, Amerika Selatan dan Karibia. Di Indonesia, tanaman cabai tersebar luas diberbagai daerah seperti: Purworejo, Kebumen, Tegal, Pekalongan, Pati, Padang, Bengkulu dan lain sebaginya (Sunaryono, 2003). Klasifikasi tanaman cabai Secara umum klasifikasi tanaman cabai adalah sebagai berikut: Kingdom : Plantae (Tumbuhan) Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) Sub Kelas : Asteridae Ordo : Solanales Famili : Solanaceae (suku terung-terungan) Genus : Capsicum Spesies : Capsicum annum L. Cabai masuk dalam suku terong-terongan (Solanaceae) dan merupakan tanaman yang mudah ditanam di dataran rendah ataupun di dataran tinggi. Tanaman cabai banyak mengandung vitamin A dan vitamin C serta mengandung minyak atsiri capsaicin, yang menyebabkan rasa pedas dan memberikan kehangatan dan panas bila digunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur). Cabai dapat ditanam dengan mudah sehingga bisa
  5. 5. 5 dipakai untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus membelinya di pasar. Tanaman cabai cocok ditanam pada tanah yang kaya humus, gembur dan sarang serta tidak tergenang air (Prabowo, 2011). Morfologi tanaman cabai besar 2. Keadaan Iklim Tanama cabai lebih senang tumbuh di daerah yang tipe iklimnya lembab sampai agak lembab, daerah yang memiliki tipe iklim ABACD, BABC, CABC, DABC (Menrut Schmidt dan Ferguson). Tanaman cabai tidak senang terhadap curah hujan lebat, tetapi pada stadia tertentu perlu banyak air. Di daerah yang iklimnya sangat basah tanaman mudah terserang penyakit daun seperti bercak hitam (Antraknosa). Oleh karena itu tanaman cabai sangat baik ditanam pada awal musim kemarau. Pada musim hujan tanaman juga mudah mengalami tekanan (stress), sehingga bunganya sedikit, dan banyak bunga yang tidak mampu menjadi buah. Kalaupun bisa berbuah, buahnya akan mudah sekali gugur karena tekanan air hujan yang lebat (Sunaryono, 2003). Curah hujan yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai berkisar antara 600 – 1200 mm/tahun dengan jumlah bulan basah 3-9 bulan. Walaupun demikian apabila pada waktu berbunga tanaman cabai kekuranga air, maka banyak bunganya yang akan gugur tidak mampu menjadi buah. Pada umumnya tanaman cabai lebih senang ditanaman di daerah yang terbuka (Martodiresi, 2011). 3. Suhu Udara Suhu udara yang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman cabai berkisar antara 210C – 280C. Suhu harian yang terlalu terik, yakni di atas 320C menyebabkan tepung sari tanaman cabai tidak berfungsi untuk melakukan pembuahan. Selain itu juga suhu harian yang terik dapat menyebabkan bunga dan buahnya terbakar. Suhu tanahpun juga berpengaruh terhadap penyerapan unsur hara terutama N dan P. Apabila pada waktu berbunga suhu turun di bawah 150C, maka pembuahan dan pembijiannya terganggu. Pada suhu ini, unsur mikro yang penting untuk pertumbuhan buah sukar diserap oleh tanaman cabai sehingga terjadi buah tanpa biji atau parteokarpi. Suhu udara yang rendah, menyebabkan banyak cendawan penyakit daun menyerang tanaman cabai, teutama apabila disertai dengan kelembaban tinggi (Sunaryono, 2003). 4. Tanah Tanah yang subur dan banyak mengandung humus (bahan organik), gembur dan memiliki drainase baik sanagt cocok untuk budidaya tanaman cabai merah. Tanaman cabai sebenarnya dapat tumbuh disegala macam tipe tanah, dan ketinggian tempat.
  6. 6. 6 Tanaman cabai merah akan tumbuh baik pada ketinggian 0 – 1300 m dpl. Bahkan pada ketinggian 1500 m dpl pun tanaman cabai merah masih mampu tumbuh dan berbuah baik. Tanah yang air tanahnya dangkal dan prositasnya rendah menyebabkan tanaman cabai mudah terserang hama dan penyakit akar, penyakit layu dan keguguran pada daun dan buahnya. pH tanah yang baik untuk tanaman cabai berkisar antara 51/2 – 61/2. Namun begitu tanaman cabai sangat toleran terhadap tanah masam yang pH-nya kurang dari 5 hanya saja buahnya kurang lebat dan pertumbuhannya kerdil (Martodireso, 2011). Fase Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Cabai Merah a. Bedengan Tanaman cabai sebenarnya bisa ditanam dimana saja asal tanahnya sudah diolah terlebih dahulu agar menjadi gembur dan layak untuk ditanami sebab kalau tidak begitu maka pertumbuhan akar dan perkembangan tanaman akan terganggu. Penggunaan bedengan dalam budidaya cabai adalah salah satu cara yang tepat untuk membantu pertumbuhan akar agar mampu menyokong perkembangan tanaman cabai menjadi lebih maksimal, selain itu juga menggunakan bedengan dalam buidaya tanaman cabai membantu agar akar tanaman tidak tergenang air dan menurut beberapa ahli menggunakan bedengan dalam budidaya tanaman mampu meningkatkan hasil produksi tanaman cabai. b. Pemulsaan Pemasangan mulsa dilakukan setelah bedengan dibuat, mulsa yang bisa digunakan adalah mulsa plastik yang berwarna hitam perak. Penggunaan mulsa mutlak diperlukan apalagi jika kita melakukan budidaya cabai pada musim hujan. Salah satu keuntungan pemakain mulsa plastik ini adalah bisa menekan serangan hama dan penyakit. Keuntungan ini muncul karena warna perak akan memantulkan sinar ultra violet ke permukaan bawah daun yang banyak dihuni oleh hama aphid, thrips, tungau, ulat dan cendawan. Keuntungan lain dari penggunaan mulsa ini adalah: mengurangi penguapan air dan pupuk oleh sinar matahari sehingga mampu menekan biaya pemupukan, penyiraman bahkan penyiangan gulma, mencegah erosi bedengan pada musim hujan, menjaga kelembaban, suhu dan kegemburan tanah; mengoptimalkan sinar matahari untuk fotosintesis dengan pantulan sinar matahari dari lapisan warna perak pada mulsa; menekan pertumbuhan gulma; membantu merangsang pertumbuhan akar tanaman akibat suhu hangat dalam bedengan; mencegah hilangnya pupuk akibat siraman air hujan dan mencegah kelebihan air pada media tanam (Prajanata, 2001). c. Pengajiran Tanaman cabai perlu ditopang pertumbuhannya agar kokoh dan mampu menopang tajuknya yang rimbun. Pemasangan ajir diusahakan sedini mungkin, maksimal satu bulan setelah tanam. Ajir biasa dipasang miring membentuk sudut 450 dengan batang
  7. 7. 7 tanaman cabai atau tegak lurus dengan batang tanaman (redaksi Trubus, 2009). Beberapa fungsi dari ajir ini adalah: membantu tegaknya tanaman dari buahnya yang rimbun, tiupan angin, mengotimalkan sinar matahari pada tanaman sehingga fotosintesis berlangsung maksimal, membantu penyebaran daun dan ranting supaya teratur sehingga mempermudah penyiangan dan pemupukan. Selain itu juga penanaman cabai dengan ajir dapat menaikkan produksi buah cabai sampai 48% dan dapat mengurangi serangan hama dan penyakit (Prajanata, 2006) d. Pupuk  Pengertian Pupuk adalah material yang ditambahkan pada media tanam atau tanaman untuk mencukupi kebutuhan hara yang diperlukan tanaman sehingga mampu berproduksi dengan baik. Pupuk berbeda dari suplemen. Pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Dalam pemilihan pupuk perlu diketahui terlebih dahulu jumlah dan jenis unsur hara yang dikandungnya, serta manfaat dari berbagai unsur hara pembentuk pupuk tersebut. Pemberian pupuk harus sesuai dengan kebutuhan tumbuhan, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan (Anonim, 2011 c).  Penggolongan pupuk Pupuk digolongkan menjadi dua, yakni pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang terbuat dari sisa-sisa makhluk hidup yang diolah melalui proses pembusukan (Dekomposisi) oleh bakteri pengurai. Contohnya adalah pupuk kompos dan pupuk kandang. Pupuk kompos berasal dari sisa-sisa tanaman, dan pupuk kandang berasal dari kotoran ternak. Pupuk organik mempunyai komposisi kandungan unsur hara yang lengkap, tetapi jumlah tiap jenis unsur hara tersebut rendah. Sesuai dengan namanya, kandungan bahan organik pupuk ini termasuk tinggi (Anonim, 2011 d). Pupuk an-organik atau pupuk buatan adalah jenis pupuk yang dibuat oleh pabrik dengan cara meramu berbagai bahan kimia sehingga memiliki prosentase kandungan hara yang tinggi. Menurut jenis unsur hara yang dikandungnya, pupuk anorganik dapat dibagi menjadi dua yakni pupuk tunggal dan pupuk majemuk. Pada pupuk tunggal, jenis unsur hara yang dikandungnya hanya satu macam. Biasanya berupa unsur hara makro primer, misalnya urea hanya mengandung unsur nitrogen (Saraswati, 2011).  Pemupukan Pada Tanaman Cabai Keberhasilan budidaya cabai merah selama ini tidak lain karena dukungan program intensifikasi seperti penggunaan pupuk yang tepat, pengendalian hama dan penyakit, dan adopsi teknologi-teknologi baru. Disamping itu, peningkatan jumlah produksi cabai
  8. 8. 8 merah sangat dipengaruhi oleh penggunaan kultivar-kultivar yang tahan dengan daya hasil yang tinggi. Namun demikian agar tetap berproduksi tinggi tanaman cabai merah tetap membutuhkan pasokan unsur hara yang tinggi bagi pertumbuhan dan perkembangannya (Suryanto, 2011). Berikut beberapa tahapan dalam pemupukan tanaman cabai merah.  Waktu Pemberian Pupuk Pupuk organik seperti SP 36 dan KCL diberikan seluruhnya sebagi pupuk dasar, yaitu satu hari sebelum tanam. Untuk pupuk-pupuk seperti Urea dan ZA diberikan secara bertahap. Setengah bagian diberika sebagai pupuk susulan pertama yaitu 14 hari setelah tanam. Setengah sisanya diberikan sebagai pupuk susulan kedua, yaitu pada 28 hari setelah tanam (Anonim, 2011 e).  Pupuk Dasar dan Pupuk Susulan Pupuk dasar diberikan dengan cara ditabur secara merata dan kemudian dicampur tanah. Pupuk susulan baik pertama maupun kedua diberikan dengan cara diletakkan dalam tugal yang dibuat sedalam 5-10 cm dengan jarak 10 – 15 cm di kiri kanan tanaman atau barisan tanaman. Pupuk dasar diberikan pada awal proses penanaman (Anonim, 2011 c).  Pupuk Pelengkap Pupuk pelengkap cair diberikan 4 kali dengan dosis 1.25 cc/liter air atau 6,25 cc/500 liter air setiap kali penyemprotan. Tahap pertama diberikan pada 20 hari setelah tanam (HST), tahap kedua diberikan pada pada 30 HST dan tahap ketiga di berikan pada 40 HST, serta tahap keempat diberikan pada 40 HST.
  9. 9. 9 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental dengan percobaan di lapangan. Rancangan Percobaan Rancangan percobaan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok (Randomized Block Design) yang terdiri dari 5 kombinasi perlakuan yaitu:  K1 = 0,5 kg Bio-Sllurry/tanaman setara dengan 20 ton/ha + 0 gr Urea/tanaman, 0 gr TSP/tanaman dan 0 gr KCL/tanaman setara dengan 0 kg/ha Urea, 0 kg/ha TSP dan 0 kg/ha KCL  K2 = 0,38 kg Bio-Sllurry/tanaman setara 15 ton/ha + 0,94 gr Urea/tanaman, 0,63 gr TSP/tanaman dan 6,3 gr KCL/tanaman setara dengan 37,5 kg/ha Urea, 25 kg/ha TSP dan 25 kg/ha KCL  K3= 0,25 kg Bio-Sllurry/tanaman setara dengan 10 ton/ha + 1,88 gr Urea/tanaman, 1,25 gr TSP/tanaman dan 1,25 gr KCL/tanaman setara dengan 75 kg/ha Urea, 50 kg/ha TSP dan 50 kg/ha KCL  K4= 0,13 kg Bio-Sllurry/tanaman setara dengan 5 ton/ha + 2,81 gr Urea/tanaman, 1,88 gr TSP/tanaman dan 1,88 gr KCL/tanaman K setara dengan 112,5 kg/ha Urea, 75 kg/ha TSP dan 75 kg/ha KCL  K5= 0 kg Bio-Sllurry/tanaman setara dengan 0 ton/ha + 3,75 gr Urea/tanaman, 2,5 gr TSP/tanaman dan 2,5 gr KCL/tanaman setara dengan 150 kg/ha Urea, 100 kg/ha TSP dan 100 kg/ha KCL  Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak lima kali sehingga seluruh percobaan menjadi 25 petak percobaan. B. Analisis Data Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan analisis keragaman (Analisis of Variance) pada taraf nyata 5%. Beda nyata antar perlakuan diuji lanjut dengan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf nyata yang sama. C. Tempat dan Waktu Percobaan Percobaan ini akan dilaksanakan di Desa Sari Mulyo Kecamatan Kabangka Kabupaten Muna di lahan sawah milik petani. Mulai dari Bulan April – Mei 2013
  10. 10. 10 D. Pelaksanaan Percobaan  Persiapan Benih Benih yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah benih cabai merah. Sebelum disemai benih direndam dengan menggunakan air hangat dengan suhu ± 50 0C selama 1 jam dengan tujuan untuk mempercepat pertumbuhan benih Cabai. Kemudian air rendaman biji dibuang. Biji dimasukkan kedalam lubang tray yang telah diisi media semai dan sudah disemprot dengan pestisida nabati.  Persemaian Media persemaian yang akan digunakan adalah pupuk kandang sapi + pasir + tanah yang telah diayak dengan perbandingan 1:1:1 dicampur merata dan dimasukan ke dalam bak semai/seedling/ tray. Setelah media semai dimasukkan ke dalam tray kemudian disemprot dengan menggunkan pestisida nabati yang dibuat dari daun Imbe. Benih dimasukan ke dalam lubang dengan jumlah satu biji per lubang. Tray ditempatkan di rumah semai atau atap peneduh yang telah dibuatkan terlebih dahulu dari atap plastik.  Persiapan Pupuk Bio-Sllurry diambil dari tempat penampungan milik petani. Sllurry yang diambil adalah sllurry yang sudah jadi dengan cirri-ciri tidak memiliki bau dan gas-gas metananya sudah hilang. Sllurry kemudian dipisahkan antara padatan dan cairan. Sllurry padat dapat diaplikasikan melalui tanah dengan cara dibenamkan atau disebar. Sedangkan sllurry cair dapat diaplikasikan dengan cara penyemprotan atau penyiraman. Sebelum Bio-sllurry diaplikasikan pada tanaman maka harus diketahui C/N ratio dari Sllurry tersebut. C/N ratio yang baik bagi tanaman berkisar anatar 8-20. Untuk mengetahui berapa kandungan C/N ratio dari Bio-Sllurry yang digunakan maka dilakukan anlisis di laboratorium. Sllurry yang siap pakai kemudian ditimbang atau diukur sesuai dengan kebutuhan pertanamannya. Setelah ukuran didapat Sllurry kemudian disebar pada bedengan yang telah disiapkan sebelumnya.  Pembuatan Bedengan Lahan yang akan digunakan untuk penanaman dibersihkan kemudian dilakukan pengolahan lahan dengan cara dibajak. Bedengan dibuat sebanyak 30 petak dibagi dalam 3 blok. Bedengan dibuat dengan tinggi 20 cm. Jarak antar bedengan dalam satu blok yaitu 50 cm. Ukuran bedengan adalah 4m x 1m. Jarak antar blok 100 cm dengan arah blok bedengan adalah timur-barat.  Penanaman Penanaman dilakukan 3-4 minggu setelah persemaian atau bibit tanaman cabai merah rata-rata mempunyai jumlah daun 4 helai. Setiap bedengan terdiri dari 3 baris tanaman,
  11. 11. 11 dimana setiap baris terdiri dari 10 tanaman sehingga pada setiap bedengan terdapat 30 tanaman. a. Pembuatan lubang tanam Pembuatan lubang tanam dilakukan menggunakan kaleng bekas dengan diameter lingkaran 10 cm. Kedalaman lubang tanam adalah 10 cm dari permukaan bedengan. b. Penentuan jarak tanam Jarak tanam yang digunakan adalah 50 cm antar baris dan 50 cm antar tanaman dalam baris. ini bertujuan untuk memperlancar sirkulasi udara dan sinar matahari sehingga kelembaban bisa ditekan dan penyakit tidak mudah berkembang.  Pemasangan Ajir Pemasangan ajir pada penelitian ini menggunakan sistem posisi ajir tegak. Ajir terbuat dari bilah bambu dengan panjang 150 cm. Ajir dipasang 2 minggu setelah penanaman dilakukan.  Pemeliharaan Penyiraman: Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari sampai tanaman berumur 2 minggu setelah tanam. Pemupukan: Pemberian pupuk sebanyak 20 ton/ha pupuk kandang atau 15 kg/bedeng, 150 kg/ha pupuk urea atau 3,75 g/tanaman, 100 kg/ha pupuk TSP atau 2,5 g/tanaman, dan 100 kg/ha pupuk KCl atau 2.5 g/tanaman. Pupuk diberikan dengan dua cara yaitu: dengan cara ditugal/ditanam disekitar batang tanaman dan dengan cara disebar merata pada bedengan. Pupuk sllurry diberikan satu minggu sebelum tanam sedangkan untuk pupuk seperti TSP dan KCL diberikan satu hari sebelum tanamam. Pupuk urea diberikan dengan dua tahapan yaitu tahap pertama pada saat tanaman berumur 14 hari dan tahap kedua saat tanaman berumur 28 hari. a. Penyulaman: Penyulaman dilakukan seminggu setelah tanam pada tanaman- tanaman yang mati atau pertumbuhanya kurang baik diganti dengan bibit baru yang telah disiapkan. b. Perompesan: Perompesan dilakukan dengan tujuan memperoleh buah yang berkualitas baik dan mencegah terjadinya penyakit. Perompesan dilakukan pada tunas-tunas muda yang tumbuh di ketiak cabang/batang. c. Pembubunan: Pembubunan dilakukan jika tanah disekitar perakaran atau batang bawah tanaman cabai berkurang akibat air hujan ataupun karena penyiraman. d. Sanitasi kebun: salah satu perawatan yang juga harus dilakukan adalah menjaga sanitasi kebun, meliputi penjagaan areal kebersihan kebun. Sanitasi kebun dilakukan dengan membuang daun, buah dan batang tunas hasil perampelan.
  12. 12. 12 e. Pengendalian hama dan penyakit: Pengendalian hama dan penyakit tanaman dapat dilakukan dengan memberika pestisida nabati yang berasal dari daun imbe dengan cara penyemprotan secara teratur. Usaha lain adalah menyiangi kemungkinan adanya gulma serta pengawasan secara rutin dan berkala terhadap tanaman, sehingga ketika gejala hama dan penyakit menyerang, dapat sedini mungkin teratasi.  Pemanenan Panen pertama akan dilakukan setelah buah cabai menunjukan kematangan dengan kriteria matang 80-90 % dan pemetikan dilakukan pada pagi atau sore hari untuk mengurangi penyusutan kuantitas dan kandungan gizi buah.  Pengamatan 1. Penentuan Tanaman Sampel Dalam satu petak terdapat 30 tanaman. Dalam setiap petak perlakuan ditentukan 5 tanaman sampel. Tanaman sampel ditentukan secara acak pada masing-masing petak dengan system sistematis randem sampling. Dimana yang diacak hanya tanaman pertaman pada tiap bedengan. Baru kemudian tanaman sampel berikutnya ditentukan selang tiga tanaman dari tanaman pertama dan seterusnya untuk sampel berikutnya. 2. Parameter Pengamatan Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah: tinggi tanaman, jumlah daun, umur tanaman saat berbunga, jumlah cabang produktif, umur tanaman saat berbuah, persen bunga menjadi buah, berat buah per buah, berat buah per petak, berat buah per tanaman, jumlah buah pertanaman, berat kering tanaman, Panjang Buah dan diameter buah. Cara Pengamatan a. Tinggi tanaman (cm) Pengamatan tinggi tanaman dilakukan dengan cara mengukur batang utama tanaman dari atas permukaan media tumbuh sampai titik tumbuh tertinggi. Pengukuran tinggi tanaman dilakukan sejak tanaman berumur 7, 14, 21, 28, 35, 42, dan 49 hari setelah tanam. b. Jumlah daun (helai) Pengamatan jumlah daun dilakukan pada umur 7, 14, 21, 28, 35, 42, dan 49 hari setelah tanam. Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah daun tanaman. c. Umur tanaman Saat Berbunga (hst) Pengamatan dilakukan dengan cara menghitung umur tanaman dari saat tanam sampai tanaman membentuk bunga pada masing-masing petak perlakuan. d. Jumlah Cabang Produktif
  13. 13. 13 Pengamatan dilakukan dengan cara menghitung jumlah cabang tanaman yang menghasilkan bunga dan buah. Pengamatan dilakukan saat tanaman berumur 9 minggu setelah tanam atau tanaman telah mulai barbunga. e. Umur tanaman saat berbuah (hst) Pengamatan dilakukan dengan cara menghitung umur tanaman dari saat tanam sampai tanaman telah menunjukan 50% populasi berbuah pada masing-masing petak perlakuan. f. Jumlah buah pertanaman Pengamatan dilakukan dengan cara menghitung jumlah buah pada setiap tanaman sampel. Pengamatan dilakukan pada saat pemanenan. g. Berat buah perbuah Pengamatan dilakukan dengan menimbang berat buah per buah pada tanaman sampel. h. Berat buah perpetak Pengamatan dilakukan dengan menimbang berat buah per petak perlakuan setiap kali panen. i. Persentase bunga menjadi buah Pengamatan dilakukan pada saat pembungaan dan pembuahan. Pengamatan dilakukan dengan menghitung jumlah bunga yang terbentuk dan menghitung buah yang tebentuk. Untuk menghitung persentase bunga menjdi buah ini dapat menggunakan rumus bunga menjadi buah= (jumlah buah)/(jumlah bunga ) x100% j. Berat Kering tanaman Pengamatan dilakukan dengan menimbang berangkasan kering tanaman sampel setelah dikering oven pada suhu 700C sampai mencapai berat konstan. Pengamatan dilakukan setelah panen terakhir dengan cara mengoven semua bagian tanaman. Sebelum dioven batang tanaman cabai dipotong menjadi ukuran yang lebih kecil agar mudah dalam pembungkusannya. k. Diameter buah (cm) Setelah buah dipanen dilakukan pengukuran diameter buah menggunakan jangka sorong. Pengukuran buah dilakukan pada tanaman sampel dengan mengukur lingkaran buah yang paling lebar. l. Panjang buah (cm) Setelah buah dipanen dilakukan pengukuran terhadap panjang buah menggunakan mistar atau penggaris. Pengukuran panjang buah dilakukan pada buah tanaman sampel dengan mengukur ujung bawah buah samapai.
  14. 14. 14 E. Bahan dan Alat Percobaan a. Bahan Percobaan Adapun bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Cabai Merah, air, tanah, pasir, sllurry biogas, Pupuk Urea, TSP, KCL, pestisida nabati. b. Alat percobaan Alat yang digunakan adalah, trey (bak semai), pisau, mulsa plastik hitam perak, kawat bendrat, cangkul, sabit, ajir bambu, alat penyemprot, gembor, penggaris, jangka sorong, tali rafia, sekop, sapu lidi, gunting pangkas, gayung, sabit, dan alat tulis menulis.
  15. 15. 15 BAB IV PENUTUP A. KESIMPULAN  Persiapan Benih Benih yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah benih cabai merah. Sebelum disemai benih direndam dengan menggunakan air hangat dengan suhu ± 50 0C selama 1 jam dengan tujuan untuk mempercepat pertumbuhan benih Cabai. Kemudian air rendaman biji dibuang. Biji dimasukkan kedalam lubang tray yang telah diisi media semai dan sudah disemprot dengan pestisida nabati.  Persemaian Media persemaian yang akan digunakan adalah pupuk kandang sapi + pasir + tanah yang telah diayak dengan perbandingan 1:1:1 dicampur merata dan dimasukan ke dalam bak semai/seedling/ tray. Setelah media semai dimasukkan ke dalam tray kemudian disemprot dengan menggunkan pestisida nabati yang dibuat dari daun Imbe. Benih dimasukan ke dalam lubang dengan jumlah satu biji per lubang. Tray ditempatkan di rumah semai atau atap peneduh yang telah dibuatkan terlebih dahulu dari atap plastik.  Persiapan Pupuk Bio-Sllurry diambil dari tempat penampungan milik petani. Sllurry yang diambil adalah sllurry yang sudah jadi dengan cirri-ciri tidak memiliki bau dan gas-gas metananya sudah hilang. Sllurry kemudian dipisahkan antara padatan dan cairan. Sllurry padat dapat diaplikasikan melalui tanah dengan cara dibenamkan atau disebar. Sedangkan sllurry cair dapat diaplikasikan dengan cara penyemprotan atau penyiraman. Sebelum Bio-sllurry diaplikasikan pada tanaman maka harus diketahui C/N ratio dari Sllurry tersebut. C/N ratio yang baik bagi tanaman berkisar anatar 8-20. Untuk mengetahui berapa kandungan C/N ratio dari Bio-Sllurry yang digunakan maka dilakukan anlisis di laboratorium. Sllurry yang siap pakai kemudian ditimbang atau diukur sesuai dengan kebutuhan pertanamannya. Setelah ukuran didapat Sllurry kemudian disebar pada bedengan yang telah disiapkan sebelumnya.  Pembuatan Bedengan Lahan yang akan digunakan untuk penanaman dibersihkan kemudian dilakukan pengolahan lahan dengan cara dibajak. Bedengan dibuat sebanyak 30 petak dibagi dalam 3 blok. Bedengan dibuat dengan tinggi 20 cm. Jarak antar bedengan dalam satu blok yaitu 50 cm. Ukuran bedengan adalah 4m x 1m. Jarak antar blok 100 cm dengan arah blok bedengan adalah timur-barat.
  16. 16. 16  Penanaman Penanaman dilakukan 3-4 minggu setelah persemaian atau bibit tanaman cabai merah rata-rata mempunyai jumlah daun 4 helai. Setiap bedengan terdiri dari 3 baris tanaman, dimana setiap baris terdiri dari 10 tanaman sehingga pada setiap bedengan terdapat 30 tanaman. c. Pembuatan lubang tanam Pembuatan lubang tanam dilakukan menggunakan kaleng bekas dengan diameter lingkaran 10 cm. Kedalaman lubang tanam adalah 10 cm dari permukaan bedengan. d. Penentuan jarak tanam Jarak tanam yang digunakan adalah 50 cm antar baris dan 50 cm antar tanaman dalam baris. ini bertujuan untuk memperlancar sirkulasi udara dan sinar matahari sehingga kelembaban bisa ditekan dan penyakit tidak mudah berkembang.  Pemasangan Ajir Pemasangan ajir pada penelitian ini menggunakan sistem posisi ajir tegak. Ajir terbuat dari bilah bambu dengan panjang 150 cm. Ajir dipasang 2 minggu setelah penanaman dilakukan.  Pemeliharaan Penyiraman: Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari sampai tanaman berumur 2 minggu setelah tanam. Pemupukan: Pemberian pupuk sebanyak 20 ton/ha pupuk kandang atau 15 kg/bedeng, 150 kg/ha pupuk urea atau 3,75 g/tanaman, 100 kg/ha pupuk TSP atau 2,5 g/tanaman, dan 100 kg/ha pupuk KCl atau 2.5 g/tanaman. Pupuk diberikan dengan dua cara yaitu: dengan cara ditugal/ditanam disekitar batang tanaman dan dengan cara disebar merata pada bedengan. Pupuk sllurry diberikan satu minggu sebelum tanam sedangkan untuk pupuk seperti TSP dan KCL diberikan satu hari sebelum tanamam. Pupuk urea diberikan dengan dua tahapan yaitu tahap pertama pada saat tanaman berumur 14 hari dan tahap kedua saat tanaman berumur 28 hari. B. SARAN makalah ini masih memiliki berbagai jenis kekurangan olehnya itu kritik yang sifatnya membangun sangat kami harapkan.
  17. 17. 17 DAFTAR PUSTAKA  Anonim, 2011 a. Budidaya Cabai Merah. http://epetani.deptan.go.id/budidaya/ 909. 1 h. (15 Januari 2011)  .2011b. Membudidayaka Tanaman Cabai. http://tipspetani.blogspot.com/2010/04. 1 ha (20 januari 2011)  .2011c. Jenis – Jenis Pupuk Dan Cara Aplikasinya. http://eone87.wordpress.com/2010/04/03/. 3h (15 Januari 2011).  .2011d. Pupuk Organik Sebagai Jembatan Pertanian Berkelanjutan. http://www.ipb.ac.id/ edit.pdf. 7ha.(15 Januari 2011).  .2011e. Nutrisi Tanaman. http://berasorganikmerden.wordpress.com/2010/07/01. 2 ha. (19 Januari 2011)
  18. 18. 18 TUGAS : KO-KURIKULER FILD STADY BUDIDAYA CABAI DI DESA SARI MULYO KECAMATAN KABANGKA KABUPATEN MUNA DISUSUN OLEH : NAMA : ALIMUDIN STAMBUK : 21208251 PRODI :ILMU PEMERINTAHAN
  19. 19. 19 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH KENDARI 2013 KATA PENGANTAR Alhamdulillahirobbil ‘Alamin segala Puji dan Syukur Penulis Panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan taufik dan hidayahnya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini, namun penulis menyadari fild stady ini belum dapat dikatakan sempurna karena mungkin masih banyak kesalahan-kesalahan. Shalawat serta salam semoga selalu dilimpahkan kepada junjunan kita semua habibana wanabiana Muhammad SAW, kepada keluarganya, kepada para sahabatnya, dan mudah-mudahan sampai kepada kita selaku umatnya. fild stady ini penulis membahas mengenai “BUDIDAYA CABAI”, dengan makalah ini penulis mengharapkan agar dapat membantu sistem pembelajaran. Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan makalah ini. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih atas segala perhatiannya. Raha, Juli 2013 Penyusun
  20. 20. 20 DAFTAR ISI Kata Pengantar......................................................................................................... i Daftar Isi................................................................................................................. ii BAB I PENDAHULUAN......................................................................................... 1 A. Latar Belakang.............................................................................................. 1 B. Tujuan Dan Kegunaan Penelitian................................................................ 3 C. Kegunaan Penelitian...................................................................................... 3 D. Hipotesis....................................................................................................... 3 BAB II PEMBAHASAN........................................................................................ 4 1. Tanaman Cabai........................................................................................... 4 2. Keadaan Iklim............................................................................................... 5 3. Suhu Udara................................................................................................... 5 4. Tanah............................................................................................................. 5 BAB III METODOLOGI PENELITIAN.................................................................. 8 A. Metode Penelitian......................................................................................... 9 B. Analisa Data............................................................................................... 9 C. Tempat Dan Waktu Percobaan.................................................................... 9 D. pelaksanaan percobaan................................................................................ 10 E. Bahan Dan Alat Percobaan........................................................................... 12 BAB IV PENUTUP................................................................................................. 15 A. Kesimpulan................................................................................................... 15 B. Saran............................................................................................................. 16 DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 17

×