SlideShare a Scribd company logo

Proposal yani terung

KABUPATEN MUNA

1 of 22
Download to read offline
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tanaman terung (Solanum melongena L.) berasal dari Indonesia dan India,
pertama kali dibudidayakan oleh Asia, terutama suku India dan Birma pada tahun700
sm. Kapan tanaman ini mulai dibudidayakan oleh manusia belum ditemukan data
pastinya. Beberapa petunjuk menyatakan bahwa tanaman terung banyak tumbuh di
Cina.Dari daerah ini kemudian dibawa ke Spanyol dan disebarluaskan kenegara-
negara lain di Eropa, Afrika, Amerika selatan, Malaysia dan Indonesia. Dikedua
kawasan ini terdapat aneka jenis terung, baik yang dibudidayakan atau tumbuh secara
liar. Pusat keanekaragamannya yang kedua adalah Cina. Pada perkembangannya
dibanyak Negara minsalnya daerah Karibia, Malaysia, Afrika Tenggara, Afrika
Timur, Afrika Barat, Amerika Selatan, dan daerah tropika pada umumnya ( Siregar,
1992 ).
Terung merupakan jenis tanaman sayur-sayuran berbentuk buah yang
mempunyai rasa enak untuk dikonsumsi, baik berupa buah segar maupun dalam
bentuk lalap (sayuran segar) atau disayur rebus, gulai, sambal dan lain sebagainya.
Tanaman terung banyak digemari karena selain rasanya enak dan harganya relatif
murah, kandungan gizinya pun cukup lengkap yaitu protein, lemak, karbohidrat,
vitamin A, vitamin B, vitamin C, Posfor, dan zat besi. Terung mempunyai nilai
ekonomis yang cukup tinggi dan telah mampu menerobos pasaran ekspor. (Soetasad
dan Sri Muryanti,1999).
Manfaat dan Kegunaan Terung. Anti kejang, anti kanker, dan pendepak
gagguan pembuluh darah, Manfaat lain buah terung yang matang bisa untuk sirop,
sup, adonan pengisi (perut ayam, dan sebagainya) dan untuk rujak. Buah yang dibelah
dapat digunakan sebagai bumbu, serta dibakar atau dipanggang untuk digunakan
sebagai sayuran. Buah yang matang di pohon yang dipelihara pada lingkungan yang
cocok saja yang rasa dan aromanya enak. Buah yang dimatangkan sebaik-baiknya
juga penting agar dihasilkan sirup, jell, selai, pencuci mulut dan sebagai hiasan es
krim yang berkualitas baik. Bijinya yang keras itu dapat dibuang setelah digodok. Air
kapur dan gula dapat ditambahkan agar rasanya lebih enak (Spilane, 1995).
Rata-rata produksi terung di Kabupaten Bungo pada tahun 2009 adalah sebesar
5,83 ton/ha (Dinas TPH Kabupaten Bungo, 2010). Untuk Provinsi Jambi menurut
BPS Jambi (2008) adalah sebesar 7,46 ton/ha. Sedangkan rata-rata produksi terung
unggul yang dibudidayakan secara intensif dapat mencapai 50 – 60 ton/ha (Soetasad
dan Sri Muryanti 1999).
Rendahnya produksi tersebut disebabkan belum mengunakan varietas unggul,
teknik budidaya yang belum sempurna, masalah tanah masam dan pengendalian
hama penyakit. Salah satu tehnik budidaya yang perlu mendapat perhatian adalah
masalah pemupukan. Pemupukan dapat mengunakan bahan an organik dan organik.
Pemupukan yang berasal dari bahan an organik dapat menyebabkan kerusakan tanah
dan lingkungan. Pupuk organik merupakan salah satu upaya untuk menambah unsur
hara tanah yang sedang digalakkan pada saat ini karena pupuk organik harganya
murah, mudah didapat dan ramah lingkungan. Salah satu pupuk organik yang dapat
digunakan yaitu dengan megunakan kompos kulit buah kakao. (Wood, 1973 dalam
Irwandi, 2000).
Sutanto dan Utami (1995) mengemukakan bahwa secara garis besar Pupuk
Kompos Kulit Buah Kakao atau pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa-
sisa organisme hidup. Pupuk organik yang sering digunakan adalah pupuk kandang
dan kompos.
Keuntungan yang diperoleh dengan memanfaatkan pupuk organik adalah
mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologis tanah. Kompos adalah bahan organik
mentah yang telah mengalami proses dekomposisi secara alami. Proses pengomposan
memerlukan waktu yang panjang tergantung pada jenis biomassanya. Percepatan
waktu pengomposan dapat ditempuh melalui kombinasi pencacahan bahan baku dan
pemberian aktivator dekomposisi.
Berdasarkan hasil penelitian Sutanto dan Utami (1995) salah satu limbah
pertanian yang baru sedikit dimanfaatkan adalah limbah dari perkebunan kakao yaitu
kulit buah kakao. Mengemukakan bahwa limbah kulit buah kakao berpengaruh
terhadap diameter batang, pertumbuhan dan hasil tanaman terung.
Berdasarkan uraian diatas, penulis mencoba melakukan penelitian yang
berjudul “Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Buah Kakao Terhadap
Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Terung ( Solanum melongena L. ) Di
Polybag”
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai
berikut :
1. Apakah terdapat pengaruh kompos kulit buah kakao terhadap pertumbuhan dan
hasil tanaman Terung(Solanum melongena L) ?
2. Berapakah dosis optimum kompos kulit buah kakao yang memberikan pengaruh
terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Terung(Solanum melongena L) ?
1.3. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompos kulit buah kakao
terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Terung (Solanum melongena L).Sedangkan
kegunaan penelitian ini agar dapat memberikan informasi yang berguna dalam usaha
pengembangan budidaya tanaman terung khususnya pada fase pertumbuhan dan hasil
tanaman terung.
1.4. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat dikemukakan suatu hipotesis bahwa
Pengunaan kompos kulit buah kakao dapat memberikan pengaruh pertumbuhan dan
hasil tanaman terung lebih baik.
Dosis yang memberikan pengaruh terhadap pertumbuahan dan hasil tanaman
terung adalah 1.500 g / polybag dengan hasil yang terbaik terhadap tinggi tanaman
terung.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Botani Tanaman Terung
Menurut Prahasta (2009) Klasifikasi tanaman terung (Solanum melongena
L).sebagai berikut.: Divisio Magnoliophyta, Kelas
Magnoliopsida, Ordo Solanales, Family Solanaceae, Genus Solanum, dan
Spesies Solanum melongena L.
Tanaman terung (Solanum melongena L) adalah tanaman setahun berjenis perdu,
pohon dengan percabangan rendah dan tingginya dapat mencapai 1 m dpt. Batang
tanaman terung dibedakan menjadi dua macam, yaitu batang utama (primer) dan
percabangan (sekunder). Dalam perkembangan batangnya batang sekunder ini akan
mempunyai percabangan baru. Batang utama merupakan penyangga berdirinya
tanaman, sedangkan percabangan adalah bagian tanaman yang akan mengeluarkan
bunga (Soetasad dan Sri Muryanti, 1999).
Tanaman terung mempunyai akar tunggang (radix primaria). Pertumbuhan akar
serabut bisa mencapai diameter 30 cm kearah samping dan akar tunggang berdiameter
35 cm ke arah bawah. Tanaman terung yang diperbanyak dengan cara generatif pada
awal pertumbuahnnya sudah mempunyai akar tunggang yang berukuran pendek dan
disertai dengan akar serabut yang mengelilingi akar tunggang, banyak perkembangan
akar dipengaruhi oleh faktor struktur tanah, air tanah dan drainase didalam tanah,
pada akar tunggang akan tumbuh akar-akar serabut dan akar cabang (Siregar, 1992).
Bentuk daun terung terdiri dari atas tangkai daun (petiolus) dan helaian daun
(lamina). Daun seperti ini lazim dikenal dengan nama daun bertangkai. Tangkai daun
berbentuk silindris dengan sisi agak pipih dan menebal dibagian pangkal, panjangnya
berkisar antara 5 – 8 cm. Helaian daun terdiri atas ibu tulang daun, tulang cabang,
dan urat-urat daun. Ibu tulang daun merupakan perpanjangan dari tangkai daun yang
makin mengecil kearah pucuk daun. Lebar helaian daun 7 – 9 cm atau lebih sesuai
varietasnya. Panjang daun antara 12 - 20 cm. Bagun daun berupa belah ketupat
hingga oval, bagian ujung daun tumpul, pangkal daun meruncing, dan sisi bertoreh
(Soetasad dan Sri Muryati, 1999).
Bunga terung merupakan bunga banci atau lebih dikenal dengan bunga
berkelamin dua, dalam satu bunga terdapat alat kelamin jantan dan betina (benang
sari dan Putik), bunga seperti ini sering dinamakan bunga lengkap, perhiasan bunga
yang dimiliki adalah kelopak bunga, mahkota bunga, dan tangkai bunga. Pada saat
bunga mekar diameter bunga rata-rata 2,5 – 3 cm. Letaknya mengantung. Mahkota
bunga berjumlah 5 – 8 buah dan akan digugurkan sewaktu buah berkembang.
Mahkota ini tersusun rapi yang membentuk bangun bintang. Benang sari berjumlah 5
– 6 buah. Putik berjumlah 2 buah yang terletak dalam satu lingkaran bunga yang
letaknya menonjol di dasar bunga (Soetasad dan Sri Muryanti,1999).
Ad

Recommended

sistem pertanian tropika (karakteristik ekosistem tropika)
sistem pertanian tropika (karakteristik ekosistem tropika)sistem pertanian tropika (karakteristik ekosistem tropika)
sistem pertanian tropika (karakteristik ekosistem tropika)Riva Anggraeni
 
5. sumberdaya-dalam-pertanian
5. sumberdaya-dalam-pertanian5. sumberdaya-dalam-pertanian
5. sumberdaya-dalam-pertanianMuhammad Sabrin
 
225366239 laporan-praktiku-uji-vigor-asli
225366239 laporan-praktiku-uji-vigor-asli225366239 laporan-praktiku-uji-vigor-asli
225366239 laporan-praktiku-uji-vigor-asliVanyWardani
 
I SOSIOLOGI PERTANIAN.ppt
I SOSIOLOGI PERTANIAN.pptI SOSIOLOGI PERTANIAN.ppt
I SOSIOLOGI PERTANIAN.pptMUHAMMADAZUAN5
 
290158421 budidaya-tanaman-hortikultura
290158421 budidaya-tanaman-hortikultura290158421 budidaya-tanaman-hortikultura
290158421 budidaya-tanaman-hortikulturaAndrew Hutabarat
 
Pengaruh Lingkungan Terhadap Respon Tumbuhan
Pengaruh Lingkungan Terhadap Respon TumbuhanPengaruh Lingkungan Terhadap Respon Tumbuhan
Pengaruh Lingkungan Terhadap Respon TumbuhanNURSAPTIA PURWA ASMARA
 
Kearifan lokal dalam bidang pertanian
Kearifan lokal dalam bidang pertanianKearifan lokal dalam bidang pertanian
Kearifan lokal dalam bidang pertanianAnisa Salma
 

More Related Content

What's hot

Nilai kesetaraan lahan
Nilai kesetaraan lahan Nilai kesetaraan lahan
Nilai kesetaraan lahan Puan Habibah
 
LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN DI PERSEMAIAN PERMANEN BALAI PEN...
LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN DI PERSEMAIAN PERMANEN BALAI PEN...LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN DI PERSEMAIAN PERMANEN BALAI PEN...
LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN DI PERSEMAIAN PERMANEN BALAI PEN...Moh Masnur
 
LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG “PENGAMATAN HAMA dan PENYAKIT TANAMAN PADI (Oryza sa...
LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG “PENGAMATAN HAMA dan PENYAKIT TANAMAN PADI (Oryza sa...LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG “PENGAMATAN HAMA dan PENYAKIT TANAMAN PADI (Oryza sa...
LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG “PENGAMATAN HAMA dan PENYAKIT TANAMAN PADI (Oryza sa...Moh Masnur
 
EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN
EKONOMI SUMBER DAYA HUTANEKONOMI SUMBER DAYA HUTAN
EKONOMI SUMBER DAYA HUTANEDIS BLOG
 
LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT TANAMAN
LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT TANAMANLAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT TANAMAN
LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT TANAMANdyahpuspita73
 
TEKNIK PERSILANGA,N BUATAN
TEKNIK PERSILANGA,N BUATANTEKNIK PERSILANGA,N BUATAN
TEKNIK PERSILANGA,N BUATANRepository Ipb
 
Penyakit Pada Tanaman Kopi dan Teknik Pengendaliannya
Penyakit Pada Tanaman Kopi dan Teknik PengendaliannyaPenyakit Pada Tanaman Kopi dan Teknik Pengendaliannya
Penyakit Pada Tanaman Kopi dan Teknik PengendaliannyaAnkardiansyah Pandu Pradana
 
Ekonomi produksi-pertanian
Ekonomi produksi-pertanianEkonomi produksi-pertanian
Ekonomi produksi-pertanianAchmad Ridha
 
Laporan Praktkum Kultur Jaringan Tumbuhan: Pembuatan Media MS (Murashige & Sk...
Laporan Praktkum Kultur Jaringan Tumbuhan: Pembuatan Media MS (Murashige & Sk...Laporan Praktkum Kultur Jaringan Tumbuhan: Pembuatan Media MS (Murashige & Sk...
Laporan Praktkum Kultur Jaringan Tumbuhan: Pembuatan Media MS (Murashige & Sk...UNESA
 
Pengambilan contoh benih (materi analisis mutu benih)
Pengambilan contoh benih (materi analisis mutu benih)Pengambilan contoh benih (materi analisis mutu benih)
Pengambilan contoh benih (materi analisis mutu benih)Issuchii Liescahyani
 
Laporan kadar air benih (autosaved)
Laporan kadar air benih (autosaved)Laporan kadar air benih (autosaved)
Laporan kadar air benih (autosaved)Mohammad Muttaqien
 
praktikum kultur jaringan sterilisasi peralatan
praktikum kultur jaringan sterilisasi peralatanpraktikum kultur jaringan sterilisasi peralatan
praktikum kultur jaringan sterilisasi peralatanLaksamana Indra
 
Laporan praktikum pengujian daya tumbuh benih
Laporan praktikum pengujian daya tumbuh benihLaporan praktikum pengujian daya tumbuh benih
Laporan praktikum pengujian daya tumbuh benihTidar University
 
Peranan Naungan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman
Peranan Naungan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi TanamanPeranan Naungan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman
Peranan Naungan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanamanita wahyu
 

What's hot (20)

Nilai kesetaraan lahan
Nilai kesetaraan lahan Nilai kesetaraan lahan
Nilai kesetaraan lahan
 
LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN DI PERSEMAIAN PERMANEN BALAI PEN...
LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN DI PERSEMAIAN PERMANEN BALAI PEN...LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN DI PERSEMAIAN PERMANEN BALAI PEN...
LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN DI PERSEMAIAN PERMANEN BALAI PEN...
 
Pertanian berkelanjutan
Pertanian berkelanjutanPertanian berkelanjutan
Pertanian berkelanjutan
 
Proposal penelitian tanaman tomat
Proposal penelitian tanaman tomatProposal penelitian tanaman tomat
Proposal penelitian tanaman tomat
 
LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG “PENGAMATAN HAMA dan PENYAKIT TANAMAN PADI (Oryza sa...
LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG “PENGAMATAN HAMA dan PENYAKIT TANAMAN PADI (Oryza sa...LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG “PENGAMATAN HAMA dan PENYAKIT TANAMAN PADI (Oryza sa...
LAPORAN PRAKTIKUM LAPANG “PENGAMATAN HAMA dan PENYAKIT TANAMAN PADI (Oryza sa...
 
Sifat Biologi Tanah PPT
Sifat Biologi Tanah PPTSifat Biologi Tanah PPT
Sifat Biologi Tanah PPT
 
EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN
EKONOMI SUMBER DAYA HUTANEKONOMI SUMBER DAYA HUTAN
EKONOMI SUMBER DAYA HUTAN
 
LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT TANAMAN
LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT TANAMANLAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT TANAMAN
LAPORAN PRAKTIKUM PENYAKIT TANAMAN
 
TEKNIK PERSILANGA,N BUATAN
TEKNIK PERSILANGA,N BUATANTEKNIK PERSILANGA,N BUATAN
TEKNIK PERSILANGA,N BUATAN
 
Penyakit Pada Tanaman Kopi dan Teknik Pengendaliannya
Penyakit Pada Tanaman Kopi dan Teknik PengendaliannyaPenyakit Pada Tanaman Kopi dan Teknik Pengendaliannya
Penyakit Pada Tanaman Kopi dan Teknik Pengendaliannya
 
Ekonomi produksi-pertanian
Ekonomi produksi-pertanianEkonomi produksi-pertanian
Ekonomi produksi-pertanian
 
Jurnal kultur jaringan
Jurnal kultur jaringanJurnal kultur jaringan
Jurnal kultur jaringan
 
Laporan Praktkum Kultur Jaringan Tumbuhan: Pembuatan Media MS (Murashige & Sk...
Laporan Praktkum Kultur Jaringan Tumbuhan: Pembuatan Media MS (Murashige & Sk...Laporan Praktkum Kultur Jaringan Tumbuhan: Pembuatan Media MS (Murashige & Sk...
Laporan Praktkum Kultur Jaringan Tumbuhan: Pembuatan Media MS (Murashige & Sk...
 
Pengambilan contoh benih (materi analisis mutu benih)
Pengambilan contoh benih (materi analisis mutu benih)Pengambilan contoh benih (materi analisis mutu benih)
Pengambilan contoh benih (materi analisis mutu benih)
 
2.ciri ciri pertanian di indonesia
2.ciri ciri pertanian di indonesia2.ciri ciri pertanian di indonesia
2.ciri ciri pertanian di indonesia
 
Laporan kadar air benih (autosaved)
Laporan kadar air benih (autosaved)Laporan kadar air benih (autosaved)
Laporan kadar air benih (autosaved)
 
praktikum kultur jaringan sterilisasi peralatan
praktikum kultur jaringan sterilisasi peralatanpraktikum kultur jaringan sterilisasi peralatan
praktikum kultur jaringan sterilisasi peralatan
 
Laporan praktikum pengujian daya tumbuh benih
Laporan praktikum pengujian daya tumbuh benihLaporan praktikum pengujian daya tumbuh benih
Laporan praktikum pengujian daya tumbuh benih
 
biosaka materi new.pptx
biosaka materi new.pptxbiosaka materi new.pptx
biosaka materi new.pptx
 
Peranan Naungan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman
Peranan Naungan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi TanamanPeranan Naungan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman
Peranan Naungan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman
 

Viewers also liked

Budidaya tanaman terong
Budidaya tanaman terongBudidaya tanaman terong
Budidaya tanaman terongRere Vezhiama
 
Makalah budidaya tanaman perkebunan kelompok
Makalah budidaya tanaman perkebunan kelompokMakalah budidaya tanaman perkebunan kelompok
Makalah budidaya tanaman perkebunan kelompokSuparmanto Alam
 
106570191 membuat-bioetanol-sendiri-di-rumah
106570191 membuat-bioetanol-sendiri-di-rumah106570191 membuat-bioetanol-sendiri-di-rumah
106570191 membuat-bioetanol-sendiri-di-rumahDidin Orgcjr
 
Laporan pengaruh pertumbuhan kacang hijau
Laporan pengaruh pertumbuhan kacang hijau Laporan pengaruh pertumbuhan kacang hijau
Laporan pengaruh pertumbuhan kacang hijau Nia Hardianti
 
Aplikasi dan dosis pupuk
Aplikasi dan dosis pupukAplikasi dan dosis pupuk
Aplikasi dan dosis pupukDidin Orgcjr
 
Booklet pestisida nabati
Booklet pestisida nabatiBooklet pestisida nabati
Booklet pestisida nabatiRisqa29
 
Metode penyuluhan pertanian seri 1.
Metode penyuluhan pertanian seri 1.Metode penyuluhan pertanian seri 1.
Metode penyuluhan pertanian seri 1.wika_wibowo
 
Proposal Usaha Ikan Lele
Proposal Usaha Ikan LeleProposal Usaha Ikan Lele
Proposal Usaha Ikan LeleAmy Puspita
 
PERENCANAAN PROGRAM PENYULUHAN
PERENCANAAN PROGRAM PENYULUHAN PERENCANAAN PROGRAM PENYULUHAN
PERENCANAAN PROGRAM PENYULUHAN Muhammad Eko
 
Soal usbn pai sma k p4
Soal usbn pai sma k p4Soal usbn pai sma k p4
Soal usbn pai sma k p4ikmalabas
 
Proposal praktikum biologi "Pengaruh Kelembaban Tanah terhadap Pertumbuhan Ke...
Proposal praktikum biologi "Pengaruh Kelembaban Tanah terhadap Pertumbuhan Ke...Proposal praktikum biologi "Pengaruh Kelembaban Tanah terhadap Pertumbuhan Ke...
Proposal praktikum biologi "Pengaruh Kelembaban Tanah terhadap Pertumbuhan Ke...Fitroh NH
 

Viewers also liked (16)

Budidaya tanaman terong
Budidaya tanaman terongBudidaya tanaman terong
Budidaya tanaman terong
 
Makalah budidaya tanaman perkebunan kelompok
Makalah budidaya tanaman perkebunan kelompokMakalah budidaya tanaman perkebunan kelompok
Makalah budidaya tanaman perkebunan kelompok
 
TERONG UNGU
TERONG UNGUTERONG UNGU
TERONG UNGU
 
106570191 membuat-bioetanol-sendiri-di-rumah
106570191 membuat-bioetanol-sendiri-di-rumah106570191 membuat-bioetanol-sendiri-di-rumah
106570191 membuat-bioetanol-sendiri-di-rumah
 
Laporan pengaruh pertumbuhan kacang hijau
Laporan pengaruh pertumbuhan kacang hijau Laporan pengaruh pertumbuhan kacang hijau
Laporan pengaruh pertumbuhan kacang hijau
 
Aplikasi dan dosis pupuk
Aplikasi dan dosis pupukAplikasi dan dosis pupuk
Aplikasi dan dosis pupuk
 
Booklet pestisida nabati
Booklet pestisida nabatiBooklet pestisida nabati
Booklet pestisida nabati
 
Metode penyuluhan pertanian seri 1.
Metode penyuluhan pertanian seri 1.Metode penyuluhan pertanian seri 1.
Metode penyuluhan pertanian seri 1.
 
Proposal penelitian tanaman tomat
Proposal penelitian tanaman tomatProposal penelitian tanaman tomat
Proposal penelitian tanaman tomat
 
Proposal Usaha Ikan Lele
Proposal Usaha Ikan LeleProposal Usaha Ikan Lele
Proposal Usaha Ikan Lele
 
Proposal budidaya lele kabupaten muna (pure)
Proposal budidaya lele kabupaten muna (pure)Proposal budidaya lele kabupaten muna (pure)
Proposal budidaya lele kabupaten muna (pure)
 
Surat pernyataan nusantara sehat
Surat pernyataan nusantara sehatSurat pernyataan nusantara sehat
Surat pernyataan nusantara sehat
 
PERENCANAAN PROGRAM PENYULUHAN
PERENCANAAN PROGRAM PENYULUHAN PERENCANAAN PROGRAM PENYULUHAN
PERENCANAAN PROGRAM PENYULUHAN
 
Soal usbn pai sma k p4
Soal usbn pai sma k p4Soal usbn pai sma k p4
Soal usbn pai sma k p4
 
Proposal praktikum biologi "Pengaruh Kelembaban Tanah terhadap Pertumbuhan Ke...
Proposal praktikum biologi "Pengaruh Kelembaban Tanah terhadap Pertumbuhan Ke...Proposal praktikum biologi "Pengaruh Kelembaban Tanah terhadap Pertumbuhan Ke...
Proposal praktikum biologi "Pengaruh Kelembaban Tanah terhadap Pertumbuhan Ke...
 
Contoh Proposal Cabe
Contoh Proposal CabeContoh Proposal Cabe
Contoh Proposal Cabe
 

Similar to Proposal yani terung

Laporan Observasi Identifikasi Tanaman Keras di SMA Negeri 6 Yogyakarta
Laporan Observasi Identifikasi Tanaman Keras di SMA Negeri 6 YogyakartaLaporan Observasi Identifikasi Tanaman Keras di SMA Negeri 6 Yogyakarta
Laporan Observasi Identifikasi Tanaman Keras di SMA Negeri 6 YogyakartaDhiarrafii Bintang Matahari
 
Pdf ta pertumbuhan bibit durian (durio zibethinus murray) asal bahan biji dur...
Pdf ta pertumbuhan bibit durian (durio zibethinus murray) asal bahan biji dur...Pdf ta pertumbuhan bibit durian (durio zibethinus murray) asal bahan biji dur...
Pdf ta pertumbuhan bibit durian (durio zibethinus murray) asal bahan biji dur...firmanahyuda
 
Khasiat buah bengkoang
Khasiat buah bengkoangKhasiat buah bengkoang
Khasiat buah bengkoangholilurrahman
 
Makalah jambu mete di kabupaten muna
Makalah jambu mete di kabupaten munaMakalah jambu mete di kabupaten muna
Makalah jambu mete di kabupaten munaSeptian Muna Barakati
 
Makalah jambu mete di kabupaten muna
Makalah jambu mete di kabupaten munaMakalah jambu mete di kabupaten muna
Makalah jambu mete di kabupaten munaSeptian Muna Barakati
 

Similar to Proposal yani terung (20)

Proposal yani terung
Proposal yani terungProposal yani terung
Proposal yani terung
 
Proposal penelitian husni
Proposal penelitian husniProposal penelitian husni
Proposal penelitian husni
 
Proposal penelitian husni
Proposal penelitian husniProposal penelitian husni
Proposal penelitian husni
 
Presentation terung filsafat yani
Presentation terung filsafat yaniPresentation terung filsafat yani
Presentation terung filsafat yani
 
Kacang panjang
Kacang panjangKacang panjang
Kacang panjang
 
Laporan Observasi Identifikasi Tanaman Keras di SMA Negeri 6 Yogyakarta
Laporan Observasi Identifikasi Tanaman Keras di SMA Negeri 6 YogyakartaLaporan Observasi Identifikasi Tanaman Keras di SMA Negeri 6 Yogyakarta
Laporan Observasi Identifikasi Tanaman Keras di SMA Negeri 6 Yogyakarta
 
Em4 pada tomat
Em4 pada tomatEm4 pada tomat
Em4 pada tomat
 
Kacang panjang
Kacang panjangKacang panjang
Kacang panjang
 
Kacang panjang
Kacang panjangKacang panjang
Kacang panjang
 
Pdf ta pertumbuhan bibit durian (durio zibethinus murray) asal bahan biji dur...
Pdf ta pertumbuhan bibit durian (durio zibethinus murray) asal bahan biji dur...Pdf ta pertumbuhan bibit durian (durio zibethinus murray) asal bahan biji dur...
Pdf ta pertumbuhan bibit durian (durio zibethinus murray) asal bahan biji dur...
 
Khasiat buah bengkoang
Khasiat buah bengkoangKhasiat buah bengkoang
Khasiat buah bengkoang
 
Skripsi akhir
Skripsi akhirSkripsi akhir
Skripsi akhir
 
Budidaya Tanaman Gambir
Budidaya Tanaman GambirBudidaya Tanaman Gambir
Budidaya Tanaman Gambir
 
Presentation terung filsafat yani
Presentation terung filsafat yaniPresentation terung filsafat yani
Presentation terung filsafat yani
 
Makalah kapulaga
Makalah kapulagaMakalah kapulaga
Makalah kapulaga
 
Makalah jambu mete di kabupaten muna
Makalah jambu mete di kabupaten munaMakalah jambu mete di kabupaten muna
Makalah jambu mete di kabupaten muna
 
Makalah jambu mete di kabupaten muna
Makalah jambu mete di kabupaten munaMakalah jambu mete di kabupaten muna
Makalah jambu mete di kabupaten muna
 
Makalah jambu mete di kabupaten muna
Makalah jambu mete di kabupaten munaMakalah jambu mete di kabupaten muna
Makalah jambu mete di kabupaten muna
 
Teknik budidaya tanaman tomat
Teknik budidaya tanaman tomatTeknik budidaya tanaman tomat
Teknik budidaya tanaman tomat
 
contoh Laporan praktikum ekologi
 contoh Laporan praktikum ekologi  contoh Laporan praktikum ekologi
contoh Laporan praktikum ekologi
 

More from Operator Warnet Vast Raha

Permohonan untuk diterima menjadi tenaga pengganti
Permohonan untuk diterima menjadi tenaga penggantiPermohonan untuk diterima menjadi tenaga pengganti
Permohonan untuk diterima menjadi tenaga penggantiOperator Warnet Vast Raha
 

More from Operator Warnet Vast Raha (20)

Stiker kk bondan
Stiker kk bondanStiker kk bondan
Stiker kk bondan
 
Proposal bantuan sepak bola
Proposal bantuan sepak bolaProposal bantuan sepak bola
Proposal bantuan sepak bola
 
Surat pernyataan nusantara sehat fajar
Surat pernyataan nusantara sehat fajarSurat pernyataan nusantara sehat fajar
Surat pernyataan nusantara sehat fajar
 
Halaman sampul target
Halaman sampul targetHalaman sampul target
Halaman sampul target
 
Makalah seni kriya korea
Makalah seni kriya koreaMakalah seni kriya korea
Makalah seni kriya korea
 
Makalah makromolekul
Makalah makromolekulMakalah makromolekul
Makalah makromolekul
 
126895843 makalah-makromolekul
126895843 makalah-makromolekul126895843 makalah-makromolekul
126895843 makalah-makromolekul
 
Kafer akbid paramata
Kafer akbid paramataKafer akbid paramata
Kafer akbid paramata
 
Perilaku organisasi
Perilaku organisasiPerilaku organisasi
Perilaku organisasi
 
Mata pelajaran seni budaya
Mata pelajaran seni budayaMata pelajaran seni budaya
Mata pelajaran seni budaya
 
Lingkungan hidup
Lingkungan hidupLingkungan hidup
Lingkungan hidup
 
Permohonan untuk diterima menjadi tenaga pengganti
Permohonan untuk diterima menjadi tenaga penggantiPermohonan untuk diterima menjadi tenaga pengganti
Permohonan untuk diterima menjadi tenaga pengganti
 
Odher scout community
Odher scout communityOdher scout community
Odher scout community
 
Surat izin keramaian
Surat izin keramaianSurat izin keramaian
Surat izin keramaian
 
Makalah keganasan
Makalah keganasanMakalah keganasan
Makalah keganasan
 
Perilaku organisasi
Perilaku organisasiPerilaku organisasi
Perilaku organisasi
 
Makalah penyakit genetika
Makalah penyakit genetikaMakalah penyakit genetika
Makalah penyakit genetika
 
Undangan kecamatan lasalepa
Undangan kecamatan lasalepaUndangan kecamatan lasalepa
Undangan kecamatan lasalepa
 
Bukti registrasi pajak
Bukti registrasi pajakBukti registrasi pajak
Bukti registrasi pajak
 
Kop undangan aqiqah
Kop undangan aqiqahKop undangan aqiqah
Kop undangan aqiqah
 

Proposal yani terung

  • 1. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanaman terung (Solanum melongena L.) berasal dari Indonesia dan India, pertama kali dibudidayakan oleh Asia, terutama suku India dan Birma pada tahun700 sm. Kapan tanaman ini mulai dibudidayakan oleh manusia belum ditemukan data pastinya. Beberapa petunjuk menyatakan bahwa tanaman terung banyak tumbuh di Cina.Dari daerah ini kemudian dibawa ke Spanyol dan disebarluaskan kenegara- negara lain di Eropa, Afrika, Amerika selatan, Malaysia dan Indonesia. Dikedua kawasan ini terdapat aneka jenis terung, baik yang dibudidayakan atau tumbuh secara liar. Pusat keanekaragamannya yang kedua adalah Cina. Pada perkembangannya dibanyak Negara minsalnya daerah Karibia, Malaysia, Afrika Tenggara, Afrika Timur, Afrika Barat, Amerika Selatan, dan daerah tropika pada umumnya ( Siregar, 1992 ). Terung merupakan jenis tanaman sayur-sayuran berbentuk buah yang mempunyai rasa enak untuk dikonsumsi, baik berupa buah segar maupun dalam bentuk lalap (sayuran segar) atau disayur rebus, gulai, sambal dan lain sebagainya. Tanaman terung banyak digemari karena selain rasanya enak dan harganya relatif murah, kandungan gizinya pun cukup lengkap yaitu protein, lemak, karbohidrat, vitamin A, vitamin B, vitamin C, Posfor, dan zat besi. Terung mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi dan telah mampu menerobos pasaran ekspor. (Soetasad dan Sri Muryanti,1999).
  • 2. Manfaat dan Kegunaan Terung. Anti kejang, anti kanker, dan pendepak gagguan pembuluh darah, Manfaat lain buah terung yang matang bisa untuk sirop, sup, adonan pengisi (perut ayam, dan sebagainya) dan untuk rujak. Buah yang dibelah dapat digunakan sebagai bumbu, serta dibakar atau dipanggang untuk digunakan sebagai sayuran. Buah yang matang di pohon yang dipelihara pada lingkungan yang cocok saja yang rasa dan aromanya enak. Buah yang dimatangkan sebaik-baiknya juga penting agar dihasilkan sirup, jell, selai, pencuci mulut dan sebagai hiasan es krim yang berkualitas baik. Bijinya yang keras itu dapat dibuang setelah digodok. Air kapur dan gula dapat ditambahkan agar rasanya lebih enak (Spilane, 1995). Rata-rata produksi terung di Kabupaten Bungo pada tahun 2009 adalah sebesar 5,83 ton/ha (Dinas TPH Kabupaten Bungo, 2010). Untuk Provinsi Jambi menurut BPS Jambi (2008) adalah sebesar 7,46 ton/ha. Sedangkan rata-rata produksi terung unggul yang dibudidayakan secara intensif dapat mencapai 50 – 60 ton/ha (Soetasad dan Sri Muryanti 1999). Rendahnya produksi tersebut disebabkan belum mengunakan varietas unggul, teknik budidaya yang belum sempurna, masalah tanah masam dan pengendalian hama penyakit. Salah satu tehnik budidaya yang perlu mendapat perhatian adalah masalah pemupukan. Pemupukan dapat mengunakan bahan an organik dan organik. Pemupukan yang berasal dari bahan an organik dapat menyebabkan kerusakan tanah dan lingkungan. Pupuk organik merupakan salah satu upaya untuk menambah unsur hara tanah yang sedang digalakkan pada saat ini karena pupuk organik harganya murah, mudah didapat dan ramah lingkungan. Salah satu pupuk organik yang dapat digunakan yaitu dengan megunakan kompos kulit buah kakao. (Wood, 1973 dalam Irwandi, 2000).
  • 3. Sutanto dan Utami (1995) mengemukakan bahwa secara garis besar Pupuk Kompos Kulit Buah Kakao atau pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa- sisa organisme hidup. Pupuk organik yang sering digunakan adalah pupuk kandang dan kompos. Keuntungan yang diperoleh dengan memanfaatkan pupuk organik adalah mempengaruhi sifat fisik, kimia dan biologis tanah. Kompos adalah bahan organik mentah yang telah mengalami proses dekomposisi secara alami. Proses pengomposan memerlukan waktu yang panjang tergantung pada jenis biomassanya. Percepatan waktu pengomposan dapat ditempuh melalui kombinasi pencacahan bahan baku dan pemberian aktivator dekomposisi. Berdasarkan hasil penelitian Sutanto dan Utami (1995) salah satu limbah pertanian yang baru sedikit dimanfaatkan adalah limbah dari perkebunan kakao yaitu kulit buah kakao. Mengemukakan bahwa limbah kulit buah kakao berpengaruh terhadap diameter batang, pertumbuhan dan hasil tanaman terung. Berdasarkan uraian diatas, penulis mencoba melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Pemberian Kompos Kulit Buah Kakao Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Terung ( Solanum melongena L. ) Di Polybag” 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Apakah terdapat pengaruh kompos kulit buah kakao terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Terung(Solanum melongena L) ?
  • 4. 2. Berapakah dosis optimum kompos kulit buah kakao yang memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Terung(Solanum melongena L) ? 1.3. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompos kulit buah kakao terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Terung (Solanum melongena L).Sedangkan kegunaan penelitian ini agar dapat memberikan informasi yang berguna dalam usaha pengembangan budidaya tanaman terung khususnya pada fase pertumbuhan dan hasil tanaman terung. 1.4. Hipotesis Berdasarkan rumusan masalah diatas dapat dikemukakan suatu hipotesis bahwa Pengunaan kompos kulit buah kakao dapat memberikan pengaruh pertumbuhan dan hasil tanaman terung lebih baik. Dosis yang memberikan pengaruh terhadap pertumbuahan dan hasil tanaman terung adalah 1.500 g / polybag dengan hasil yang terbaik terhadap tinggi tanaman terung.
  • 5. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Botani Tanaman Terung Menurut Prahasta (2009) Klasifikasi tanaman terung (Solanum melongena L).sebagai berikut.: Divisio Magnoliophyta, Kelas Magnoliopsida, Ordo Solanales, Family Solanaceae, Genus Solanum, dan Spesies Solanum melongena L. Tanaman terung (Solanum melongena L) adalah tanaman setahun berjenis perdu, pohon dengan percabangan rendah dan tingginya dapat mencapai 1 m dpt. Batang tanaman terung dibedakan menjadi dua macam, yaitu batang utama (primer) dan percabangan (sekunder). Dalam perkembangan batangnya batang sekunder ini akan mempunyai percabangan baru. Batang utama merupakan penyangga berdirinya tanaman, sedangkan percabangan adalah bagian tanaman yang akan mengeluarkan bunga (Soetasad dan Sri Muryanti, 1999).
  • 6. Tanaman terung mempunyai akar tunggang (radix primaria). Pertumbuhan akar serabut bisa mencapai diameter 30 cm kearah samping dan akar tunggang berdiameter 35 cm ke arah bawah. Tanaman terung yang diperbanyak dengan cara generatif pada awal pertumbuahnnya sudah mempunyai akar tunggang yang berukuran pendek dan disertai dengan akar serabut yang mengelilingi akar tunggang, banyak perkembangan akar dipengaruhi oleh faktor struktur tanah, air tanah dan drainase didalam tanah, pada akar tunggang akan tumbuh akar-akar serabut dan akar cabang (Siregar, 1992). Bentuk daun terung terdiri dari atas tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina). Daun seperti ini lazim dikenal dengan nama daun bertangkai. Tangkai daun berbentuk silindris dengan sisi agak pipih dan menebal dibagian pangkal, panjangnya berkisar antara 5 – 8 cm. Helaian daun terdiri atas ibu tulang daun, tulang cabang, dan urat-urat daun. Ibu tulang daun merupakan perpanjangan dari tangkai daun yang makin mengecil kearah pucuk daun. Lebar helaian daun 7 – 9 cm atau lebih sesuai varietasnya. Panjang daun antara 12 - 20 cm. Bagun daun berupa belah ketupat hingga oval, bagian ujung daun tumpul, pangkal daun meruncing, dan sisi bertoreh (Soetasad dan Sri Muryati, 1999). Bunga terung merupakan bunga banci atau lebih dikenal dengan bunga berkelamin dua, dalam satu bunga terdapat alat kelamin jantan dan betina (benang sari dan Putik), bunga seperti ini sering dinamakan bunga lengkap, perhiasan bunga yang dimiliki adalah kelopak bunga, mahkota bunga, dan tangkai bunga. Pada saat bunga mekar diameter bunga rata-rata 2,5 – 3 cm. Letaknya mengantung. Mahkota bunga berjumlah 5 – 8 buah dan akan digugurkan sewaktu buah berkembang. Mahkota ini tersusun rapi yang membentuk bangun bintang. Benang sari berjumlah 5 – 6 buah. Putik berjumlah 2 buah yang terletak dalam satu lingkaran bunga yang letaknya menonjol di dasar bunga (Soetasad dan Sri Muryanti,1999).
  • 7. Menurut Soetasad dan Sri Muryanti (1999) buah terung berbentuk bulat panjang dengan kulit yang berdaun lebar dan berbentuk telinga. Bunganya berwarna biru agak kecoklatan dan merupakan bunga yang sempurna, biasanya terpisah dan terbentuk dalam tandan bunga. Buah berbentuk panjang lonjong dan juga beragam bentuk dan warna. Buah terung merupakan buah sejati tunggal dan berdaging tebal, lunak, berair dan tidak akan pecah jika buah telah masak. Daging buah ini merupakan bagian yang enak dimakan, biji terdapat bebas dalam selubung lunak yang terlindung oleh daging buah. Pangkal buah menempel pada kelopak bunga yang telah menjelma menjadi kerangka bunga. Buah mengantung, tangkai buah berkembang dari tangkai bunga yang letaknya berada diantara tangkai daun. Buah terung bentuknya beraneka ragam sesuai dengan varietasnya. Bentuk yang dikenal meliputi : panjang silindris, panjang lonjong, lonjong (oval), bulat lebar, dan bulat (Soetasad dan Sri Muryanti,1999). 2.2. Syarat Tumbuh 2.2.1. Iklim Tanaman terung dapat tumbuh dan agar produksi hasil tanaman memuaskan yaitu meliputi Iklim cuaca tropis memungkinkan petani memproduksi sayuran sepanjang tahun. Unsur-unsur iklim yang perlu diperhatikan dalam pertumbuhan tanaman terung antara lain ketinggian tempat, intensitas cahaya, serta temperatur dan kelembaban. Tanaman terung dapat ditanam didataran rendah dan dataran tinggi. Kisaran ketinggian tempat yang sesuai untuk tanaman terung ini antara 1.000 – 1.200 m (dpl). Suhu untuk tanaman terung untuk pertumbuhannya yaitu suhu pertumbuhannya Suhu udara 22 - 30 ºC pada siang hari dan 9 - 12 ºC pada malam
  • 8. hari. Meskipun demikian, tanaman itu masih dapat bertahan pada suhu 38 ºC. Di Indonesia, tanaman itu cocok ditanam pada dataran tinggi yang bersuhu 16 - 25 ºC. (Soetasad dan Sri Muryanti,1999). Pusat penelitian terung dan kakao Indonesia (2004) Curah hujan tahunan yang diinginkan oleh tanaman terung adalah 1250 mm sampai 2500 mm. Pada curah dibawah 1250 mm pertahun tanaman terung memerlukan irigasi karena banyak air yang hilang melalui transpirasi yang jauh lebih besar. Sebaliknya curah hujan yang besar dari 2500 mm pertahun menyebabkan timbulnya serangan jamur. Prihmantoro dan Indriani (2000) Intensitas cahaya banyak ditentukan dalam menentukan kualitas buah terung. Dalam batas yang normal intensitas cahaya akan memberikan pengaruh yang baik terutama pada pembentukan warna buah yang diperlukan tanaman terung yakni 60 %. Terung bagus ditanam didaerah tropis yakni dibawah 30˚C (antara 15 – 25˚C) ataupun dataran tinggi yang kelembabannya rendah dibawah 70 %. Dan Kelembaban udara untuk tanaman terung berkisar 80 %. Mendapatkan sinar matahari langsung yang cukup. 2.2.2. Tanah Terung merupakan tanaman yang dapat ditanam diberbagai jenis tanah lempung agak berliat, lempung berpasir, tanah pasir yang gembur, subur, banyak mengandung bahan organik, unsur hara dan mudah menyerap air. Tanah untuk tanaman terung dapat tumbuh dengan baik pada kondisi tanah lempung berpasir. Derajat keasaman atau pH tanah yang cocok untuk tanaman terung adalah 5,0 – 6,0, kemiringan lahan kurang 8 %, Tanah yang selalu tergenang air menyebabkan tanaman menjadi kerdil atau mati (Soetasad dan Sri Muryanti,1999).
  • 9. Untuk pertumbuhan tanaman terutama tanaman terung unsur Nitrogen (N) sangat dibutuhkan pada pertumbuhan vegetatif, kekurangan unsur N akan mengakibatkan pertumbuhan kerdil, daunnya menguning dan produksinya menurun (Nyakpa, dkk 1988). 2.2.3. Pembibitan Tanaman Tahap awal pembibitan biasanya biji atau benih terung dikecambahkan pada bedegan perkecambahan yang lebarnya 1 meter dan panjangnya sesuai dengan jumlah biji yang dikecambahkan. Benih terlebih dahulu direndam dengan air hangat kuku selama 10 -15 menit. Media tanam berupa tanah yang sudah dicampurkan dengan pupuk kandang dan dipastikan agar media tercampur sampai merata lalu disiram dengan air dan dibiarkan sesaat, Tutup benih tersebut dengan tanah tipis, Permukaan bedengan yang telah disemai benih ditutup dengan daun pisang atau ilalang, Setelah benih tampak berkecambah muncul, buka penutupnya, Siram persemaian pagi dan sore hari, Perhatikan serangan hama dan penyakit sejak di pembibitan, kemudian pindahkan satu persatu ke polybag yang berukuran 6 x 17 cm yang telah berisi media tanam. Bibit berumur 1 - 1,5 bulan atau berdaun empat helai siap dipindah tanamkan ke polybag besar yang berkapasitas (15 x 35), benih diletakkan satu persatu pada setiap polybag percobaan, (Erwiyono, 1990). 2.2.4. Pemupukan Bibit Terung Pupuk yang dimaksud disini adalah semua bahan senyawa yang mengandung unsur hara tanaman, mikro dan makro, padat ataupun cair, organik ataupun an organik, yang kalau diberikan pada kedalam tanah akan dapat menyumbang unsur hara dan perbaikan kesuburan tanah. Tindakkan penyampain pupuk ke dalam tanah
  • 10. ataupun bahagian pertumbuhan tanaman disebut dengan pemupukan (Pusat Penelitian Terung dan Kakao Indonesia, 2004). Cepat lambatnya reaksi pupuk didalam tanah ditentukan oleh sifat pupuk yang digunakan, umumnya pupuk tunggal yang larut dalam air lebih cepat tersedia bagi tanaman. Begitu juga pupuk majemuk umumnya merupakan pupuk yang tersedia berlahan bila dibandingkan dengan pupuk tunggal, pupuk yang berikatan senyawa sedikit lebih lambat tersedia dibandingkan dengan pupuk yang berikatan senyawa an organik (Warintek, 2004). Respon tanaman terhadap pemberian pupuk akan ditentukan oleh kandungan unsur hara yang ada dalam tanah dan banyaknya unsur hara yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, tanah yang kandungan unsur hara tersedia lebih tinggi umumnya kurang respon terhadap pemupukan dan akan terjadi sebaliknya. Bila pemupukan dilakukan secara tepat maka unsur-unsur yang terkandung dalam pupuk ini tidak hanya mengendalikan atau mendukung satu sama lain akan tetapi juga berkaitan dengan ekonomi maupun keefektipan pemupukan. Pada umunya tanaman memerlukan pupuk majemuk yang mengandunng unsur Nitrogen, Posfor, dan Kalium. Masing- masing unsur hara mempunyai peranan yang khusus bagi tanaman (Soetasad dan Sri Muryanti, 1999). 2.3. Peranan Pupuk Organik Pupuk Organik biasanya mengandung bahan-bahan organik yang bersifat alami tidak mengandung zat kimia yang bisa merusak lingkungan dan struktur serta tekstur tanah. Pupuk organik mengalami proses pelapukan atau penguraian secara alami maupun buatan. Table 1. Jenis-jenis Pupuk Organik dan Persentase Hara yang Dikandung.
  • 11. Jenis Pupuk Organik % Kandungan Hara Nitrogen Posfor Kalium Sapi 0,8 - 1,2 0,44 – 0,88 0,4 – 0,8 Domba/Kambing 2,0 -3,0 0,88 2,1 Ayam 1,5 – 3,0 1,15 – 2,25 1,0 – 1,4 Kulit Buah Kakao 1,30 0,186 5,5 Sumber : Darmono dan Tripanji, 1999. Pupuk organik banyak macamnya diantaranya adalah kotoran hewan ternak, namun demikian kotoran ayam mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dengan kotoran hewan lainnya, terlihat pada tabel 1 diatas. Kompos Kulit Buah Kakao mengandung unsur hara yang diserap oleh tanaman terung, sehingga diharapkan dapat menyediakan unsur yang dibutuhkan oleh bibit terung. Media tanaman yang biasa digunakan dalam pembibitan terung adalah campuran antara tanah dan pupuk kompos kulit buah kakao. Perbandingan campuran tanah dengan pupuk organik kompos kulit buah kakao sangat berbeda, beberapa penelitian memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan perbandingan dan campuran medium tumbuh antara satu tempat dengan tempat yang lainnya, Lapisan atas dengan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1. (Zulfan (1988), dan Erwiyono (1990)). Tabel 2. Analisis Kimia Kompos Kulit Buah Kakao Kompo nen Kimia BO % H2 O % KC L% C.Orga nik % N.Tot al% P2O 5% K2O % CaO % Mg O% S % N % Kandun 42, 9, 1 33,71 1,30 0,18 5,5 0,85 0,57 0, 8,
  • 12. gan 3 4 6 79 7 Sumber : Dianalisis di Laboratorium dan Penelitian UPP SDA Hayati Unpad, (2000). Kultivar tanaman yang unggul dibutuhkan untuk memproduksi hasil terung yang baik. Benih Hybrid F1memiliki sifat-sifat yang unggul diantaranya yaitu : Produksi tinggi, Tahan terhadap Hama dan Penyakit, Prospek agronomis mudah, Pertumbuhan Generatif yang baik dan Periode tanaman untuk menghasilkan Cepat (Spillane, 1995).
  • 13. BAB III METODA PENELITIAN 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan di kebun Percontohan Fakultas Pertanian Universitas Muara Bungo (UMB) Sungai Binjai Km. 06 Kecamatan Bathin III Kabupaten Bungo, dengan ketinggian tempat 80 - 100 M dpl. pH 5,5 Penelitian di dilaksanakan selama ± 5 bulan, yaitu dari tanggal 07 April sampai dengan 07 Agustus 2012. 3.2. Bahan dan Alat Bahan yang digunakan dalam percobaan ini meliputi Benih terung varietas Hybrid F1 (Terung Bimbi). Kompos Kulit Buah Kakao, Pupuk Kandang, dan Pestisida Nabati (Pseudomonas florecens). Sedangkan Alat yang digunakan adalah Cangkul, Parang, Palu, Kayu, Seng, Tali rapia, Paku, Gergaji, Ember plastic, Hand sprayer, Meteran, Timbangan, Kertas label, Polybag ukuran (6 x 17) dan ukuran (15 x 35) serta Alat tulis. 3.3. Rancangan Penelitian
  • 14. Rancangan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 Perlakuan dan 4 ulangan. Adapun perlakuan pemberian takaran kompos kulit buah kakao adalah sebagai berikut : K0 = Kompos Kulit Buah Kakao 0 g / polybag. K1 = Kompos Kulit Buah Kakao 375 g / polybag. K2 = Kompos Kulit Buah Kakao 750 g / polybag. K3 = Kompos Kulit Buah Kakao 1.125 g / polybag. K4 = Kompos Kulit Buah Kakao 1.500 g / polybag. Penelitian ini terdiri 5 perlakuan yang diulang sebanyak 4 kali sehingga didapat 20 unit percobaan. Jumlah tiap unit 3 tanaman sehingga jumlah tanaman seluruhnya adalah 20 x 3 = 60 tanaman. Untuk setiap unit percobaan diambil 2 tanaman sampel sehingga diperoleh 2 x 20 = 40 tanaman sampel. Penempatan unit percobaan dilakukan secara acak seperti terlihat pada lampiran 1. Data hasil pengamatan priodik ditampilkan dalam bentuk grafik, sedangkan data pengamatan terakhir di analisa dengan uji DNMRT F, jika F hitung > dari pada F tabel pada taraf 5 %, dilanjutkan uji DNMRT pada taraf 5 %. Karakteristik pertumbuhan tanaman meliputi Tinggi Tanaman, Diameter Batang, Luas Daun Total, Umur Mulai Berbunga, Jumlah Buah Pertanaman, Hasil Buah Pertanaman. 3.4. Pelaksanaan Penelitian 3.4.1. Persiapan Tempat Penelitian Tempat penelitian dipilih yang datar dan tidak terlalu jauh dari naungan, kemudian dibersihkan dari tanaman pengganggu atau gulma, sampah dan kotoran- kotoran lain. Setelah tanah nya dipadatkan, begitu juga disekitar 1,5 meter sekeliling
  • 15. tempat penelitian, Tanahnya diratakan agar posisi polybag tegak dengan baik dan bagus, Sekeliling tempat penelitian dibuat parit-parit drainase sedalam 10 cm, Lebar 50 cm, gunanya untuk mencegah masuknya air ke areal percobaan jika turun hujan. Kemudian polybag yang telah diisi media tanah disusun sesuai dengan denah penelitian pada Lampiran 1. Dengan jarak antar polybag 60 x 60 cm. 3.4.2. Pembuatan Naungan Pembibitan Naungan dibuat memanjang Utara – Selatan , sebelah Barat ketinggian 2 meter dan sebelah Timur 2 meter, ujung-ujung naungan sebelah Barat dan Timur dilebihkan ± 100 cm menjorok keluar, Kerangka naungan terbuat dari kayu-kayu dengan atap naungan dari daun salak. 3.4.3. Persiapan Benih Benih terung jenis Hybrid F1 (Terung Bimbi) Cap Bunga Matahari diambil dari toko pertanian dimuara bungo, benih yang diperoleh berupa benih yang masih didalam kantong kemasan dan bersitifikasi. 3.4.4. Persemaian Biji terung perlu disemai terlebih dahulu sebelum penanaman. Proses penyemaian harus dilakukan secara steril pada media tanam. Biji dikecambahkan pada bedengan selama 1 minggu. Selanjutnya bibit terung yang memiliki daun sempurna tersebut dipindahkan ke polybag setelah sampai muncul 2 – 3 helai daun. Kemudian bibit ditanam pada media sesungguhnya yakni polybag besar yang berukuran (15 x 35 cm). Benih diletakkan satu persatu pada setiap lubang yang telah dibuat pada polibag besar dengan posisi bibit tanaman terung tegak lurus keatas
  • 16. disekeliling bibit tanaman diberikan gulma yang sudah di buang yang berfungsi sebagai kelembaban tanah didalam polibag. 3.4.5. Penanaman Penanaman dilakukan pada musim panas atau musim kemarau, pilih bibit yang tumbuh subur dan normal dan tidak terjangkit serangan hama dan penyakit dengan memindahkan bibit yang telah berumur 35 – 40 hari atau bibit telah mempunyai 4 – 6 helai daun pada media tanam polybag kecil dan dipindahkan ke polybag besar. Media yang digunakan untuk penanaman ini adalah tanah padsolid merah kuning (PMK) dan pupuk kandang sapi. Pemindahan tanaman dilakukan dengan cara menyobek polibag kecil sebelum dimasukkan kedalam polibag besar. 3.4.6. Pemeliharaan Pemeliharaan meliputi kegiatan pengairan atau penyiraman, penyulaman, penyiangan gulma, pemasangan ajir, pembentukan percabangan, pemupukan, serta pengedalian hama dan penyakit, penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari dengan cara menyiramkan air kedalam polybag dan tidak terlalu berlebihan, Penyiangan gulma dilakukan dengan cara manual yaitu dengan cara mencabut setiap gulma yang tumbuh didalam polybag maupun disekitar polybag. Pengendalian hama dan penyakit mengunakan Pestisida Nabati, Jika tidak sangup dengan Pestisida Nabati baru mengunkan Insektisida (Decis 2,5 EC). 3.4.7. Pemanenan
  • 17. Pemanenan terung dilakukan pada saat buah terung memasuki stasiun matang dengan ciri-ciri sebagian besar permukaan buah sudah berwarna hitam mengilap dan pas waktunya untuk dipanen atau persentasenya 20 %, kecuali pada panen terakhir semua buah yang kecil atau yang besar juga ikut dipanen. Panen dilakukan sebanyak 5 kali dengan interval panen 2 hari 1 kali. 3.5. Variabel Pengamatan 3.5.1. Tinggi Tanaman (cm) Tinggi tanaman diukur setelah tanaman berumur 14 hari setelah tanaman dengan selang waktu seminggu sekali sampai pada akhir masa pertumbuhan vegetatif, pengukuran dilakukan dengan mengukur dari permukaan tanah atau leher akar sampai titik tumbuh. Agar dasar pengukuran tidak berubah maka dibuat ajir dari permukaan tanah. 3.5.2. Diameter Batang (cm) Pengukuran diameter batang tanaman dimulai pada minggu ke-4 setelah tanam dengan selang waktu 2 minggu sekali sampai dengan minggu ke-16. pengukuran dilakukan dengan mengunakan potongan tali rapia. Pengukuran pada titik tetap yaitu pada ketinggian 5 cm diatas leher akar atau setinggi ajir bambu. 3.5.3 Luas Daun Total (cm²)
  • 18. Pengukuran luas daun dilakukan pada akhir penelitian. Daun yang akan di ukur luasnya adalah daun yang telah membuka sempurna, untuk mendapat luas daun total digunakan rumus Francis Rutger dan Faliner (1969). Rumus : LD = P x L x 0,75 ket : LD : Lebar Daun (cm²) P : Panjang Daun(cm) L : Lebar Daun(cm) 3.5.4 Umur Mulai Berbunga (Hst) Perhitungan umur mulai berbunga dilakukan dengan cara menghitung jumlah hari sejak persemaian sampai muncul bunga pertama atau pada setiap petak terdapat 50% tanaman sampel telah muncul bunga pertama. Satuan yang digunakan adalah hari setelah semai. 3.5.5 Jumlah Buah Pertanaman (Buah) Penghitungan jumlah buah pertanaman dilakukan pada saat panen, terung bimbi Hybrid F1, yang tumbuh dan berkembang secara normal dan terpelihara dengan baik akan menghasilkan jumlah buah sebanyak 4 - 6 buah pertanaman diluar putik. 3.5.6. Hasil Buah Pertanaman (g) Berat buah terung petikan pertama dan terakhir rata-rata 509,8 g maka produksi tanaman adalah 250 – 350 g per tanaman. Apabila berat buah per tanaman 250 g maka pada areal tanah seluas 1 ha akan menghasilkan buah terung sebanyak Produksi 30 - 40 Kg terong segar per hektar (Soetasad dan Sri Muryanti,1999).
  • 19. 3.6 Analisis Data Untuk melihat pengaruh dari masing-masing perlakuan terhadap variabel yang diamati, maka data hasil pengamatan penelitian terakhir diambil dan dihimpun, mengunakan atau dilakukan Analisis ragam (Anova). Bila berpengaruh nyata atau F hitung > 5 % maka dilanjutkan dengan uji DNMRT (Duncan’s New Multiple Range Test) pada taraf 5 % (Steel dan Torrie, 1994). DAFTAR PUSTAKA
  • 20. Darmono dan Tri Panji.1999. Penyediaan Kompos Kulit Buah Kakao BebasPhytophthora palmivora. Warta Penelitian Perkebunan. Darmono dan Tri Panji. 1999. Penyediaan Kompos Kulit Buah Kakao Bebas Phytophthora palmivora. Warta Penelitian Perkebunan. V(1). Dwidjosaputro, 1990. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Penerbit. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Erwiyono.1990. Pengaruh Penambahan Pasir Pada Tanah Ultisol Terhadap Sifat Fisik Media Tanaman dan Pertumbuahan Bibit Kakao. Menara Perkebunan. Yogyakarta. Fitter, A.H.1978. Balai Penelitian Perkebunan. Jember. Jawa Timur. Harjadi,S.S.1984. Pengantar Agronomi. Gramedia Jakarta. Iswandi. 2000. Metode Pembibitan Tanaman Kakao. PAU-IPB. Bogor. Jamilah, Nasrul Usman dan Widodo Haryoko (2009) Pengaruhg Takeran Pupuk Guano Terhadap Produksi Jagung. Jurnal Iptek Terapan Kopertis Wilayah X ISSN 1979-9292. Nyakpa, M.y, Am Lubis, M.A. Pulung, Ghaffar Amrah, All Munawar, Go Ban Hon dan N. Hakim. 1988. Kesuburan Tanah. Universitas Lampung. Lampung. Prihmantoro, H.2001. Hidroponik Sayuran Semusim untuk Bisnis dan Hoby.Jakarta. Penebbar Swadaya. Prawiranata, W.S.Haran dan P.Tjondronegoro.1981. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan I Pep.Botani. Faferta IPB. Bogor. Pracaya.1991. Hama dan Penyakit Tanaman. Jakarta. Penebar Swadaya.
  • 21. Prahasta. 2009. Agribisnis Terung. CV. Pustaka Grafika. Bandung. Prihmantoro, H dan indriani. 2005. Hidroponik Sayuran semusim Untuk Hobi dan Bisnis. Penebar Swadaya. Jakarta. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao.1997. Pedoman Teknis Budidaya Tanaman Kakao.Pusat Penelitian Kopi dan Kakao. Jember. Putranto, A. 1987.Bagaimana Cara Tanaman Berkembang Biak. Wahana Mandiri. Pusat Penelitian Terung dan Kakao. 2004. Panduan Lengkap Budidaya Tanaman. Agromedia. Jakarta. Sitomorang.1978.Budidaya dan Pengolahan Cokelat. Balai Penelitian Perkebunan. Jember. Siregar. THS. 1992. Penampilan Beberapa Hibrida Terpilih Tanaman Kakao. Proseding Konferensi Nasional Kakao III. Soetasad dan Sri Muryani. 1999. Budi daya terung local dan terung jepang. Jakarta. Penebar Swadaya. PENGARUH PEMBERIAN KOMPOS KULIT BUAH KAKAO TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TERUNG (Solanum melongena L.) DI POLYBAG
  • 22. Oleh : RUSMIATI 1.912 04 022 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI JURUSAN AGROTEKNOLOGI SEKOLAH TINGGI PERTANIAN WUNA RAHA 2014