1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat menuntut
upaya penin...
18
globalisasi. Sedangkan Oemar Hamalk (1989), mengemukakan bahwa media
pendidikan adalah alat, metode dan teknik yang dig...
3
penggunaan alat peraga diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami
pembelajaran matematika, khususnya materi sifat-si...
18
2. Dapat meningkatkan taraf penguasaan terhadap materi
b. Bagi guru
1. Dapat mengembangkan potensi guru dalam pelajaran...
5
F. Definisi Operasional
1. Alat peraga
Alat peraga matematika adalah seperangkat benda konkret yang dirancang,
dibuat, d...
18
dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis dan geometri. James & James (dalam
Russefendi. 1993:27) menyatakan bahwa mate...
7
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Alat Peraga
Alat peraga merupakan bagian dari media. Oleh karena itu, istilah media ...
18
tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran, maka perlu diketahui fungsi alat
peraga. Secara umum fungsi alat peraga ad...
9
disebut operasi kongkret sebab berpikir logikanya didasarkan pada manipulasi fisik
objek- objek kongkret.
Dalam belajar ...
18
C. Matematika
Matematika merupakan suatu ilmu yang berhubungan dengan penelaahan bentuk-
bentuk atau struktur-struktur ...
11
Segitiga persegi persegi panjang trapesium
Jajaran genjang layang- layang belah ketupat lingkaran
Belajar matematika ad...
18
waktu tertentu dan dapat diukur dengan menggunakan alat evaluasi. Ada beberapa
pendapat yang mendefenisikan tentang has...
13
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
1. Pendekatan
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan ...
18
SIKLUS 1
SIKLUS 2
Gambar 1. Skema Penelitian Tindakan Kelas
3. Kehadiran dan Peran Peneliti
Selama pembelajaran berlang...
15
semester genap tahun ajaran 2013/2014 sebanyak 12 siswa dari 6 orang laki-laki dan
6 orang perempuan. Pelaksanaan penel...
18
85 %. Hasil analisis ini sebagai pembanding dengan hasil belajar siswa selama proses
pembelajaran dengan menggunakan me...
17
a. Tahap awal pembelajaran
i. Guru mengucapkan salam.
ii. Guru mengkondisikan siswa kearah pembelajaran.
iii. Guru meng...
18
3. Observasi
Pada tahap ini terdiri dari pengumpulan data serta mencatat setiap aktivitas siswa
pada saat pelaksanaan t...
19
b. Mendiskusikan pengumpulan data antara guru, peneliti dan kepala sekolah
(pembimbing) berupa hasil nilai siswa, hasil...
18
IV. PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
A. Pengantar pendahuluan
1. Siklus I
1. Perencanaan
Siklus pertama penelitian in...
21
persegi panjang. Selanjutnya guru membagikan siswa alat peraga,agar siswa dapat
mengidentifikasi sifat-sifat bangun seg...
18
5. Guru membagikan alat peraga kepada masing-masing siswa untuk mengidentifikasi
sifat-sifat bangun segitiga, persegi, ...
23
d. Evaluasi
Pada akhir pertemuan siklus I siswa diberi tes akhir siklus yang terdiri dari 5 butir soal
dengan skor tota...
18
2. Siklus II
Kegiatan awal guru sudah menyampaikan tujuan pembelajaran, sedangkan untuk
kegiatan inti dan kegiatan penu...
25
b. Pelaksanaan Tindakan
Dalam pelaksanaan siklus II ini, guru kembali berusaha melaksanakan pembelajaran
sesuai dengan ...
18
d. Guru menyampaikan apersepsi dengan menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan
materi yang sudah diajarkan, kemudian me...
27
11. Siswa menulis soal-soal latihan untuk dikerjakan di rumah.
Hasil observasi terhadap guru dan siswa tersebut sudah t...
18
ditetapkan yaitu minimal 80% secara klasikal, dan 65% secara individual. Berdasarkan tes
akhir siklus II tersebut maka ...
29
sifat-sifat segitiga, persegi, persegi panjang dan trapesium hasil yang diperoleh belum
maksimal.
Berdasarkan hasil eva...
18
tindakan siklus II mengalami peningkatan sebesar 26,67 % dibandingkan dengan siklus I.
Berdasarkan hasil observasi dan ...
31
Penggunaan alat peraga sangat efektif diterapkan dalam meningkatkan hasil belajar
matematika khususnya dalam memahami s...
18
Russefendi.1996.Pendidikan Matematika 3.Jakarta, Rineka cipta
Simanjuntak, 1998. Belajar dan Fakror-faktor yang Mempeng...
33
Sebaran Nilai Tes Akhir Siklus I
NO INISIAL Nilai Keterangan
B TB
1. RL 75 √
2. SRN 80 √
3. MHT 100 √
4. LD NSL 75 √
5....
18
Sebaran Nilai Tes Akhir Siklus II
NO INISIAL Nilai Keterangan
B TB
1. RL 85 √
2. SRN 90 √
3. MHT 100 √
4. LD NSL 90 √
5...
35
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Proposal waboy

348 views

Published on

Published in: Economy & Finance
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
348
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
7
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Proposal waboy

  1. 1. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang . Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat menuntut upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia yang mempunyai posisi strategis bagi keberhasilan pembangunan nasional secara berkelanjutan. Oleh karena itu, upaya tersebut mutlak harus mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dan harus dirancang secara sistematis dan seksama berdasarkan pemikiran yang matang. Wadah yang tepat bagi upaya peningkatan kualitas sumber pendidikan antara lain melalui peningkatan kinerja guru dan peningkatan mutu pelajaran yang melibatkan MBS, pakem serta peran serta masyarakat. Dalam kaitannya dengan pakem, guru dituntut untuk menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, yaitu pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Situasi pakem tersebut harus diupayakan untuk semua mata pelajaran. Dengan begitu, diharapkan peningkatan mutu pendidikan dapat tercapai secara optimal. Salah satu mata pelajaran yang menuntut suasana pembelajaran Pakem yakni mata pelajaran matematika. Matematika merupakan disiplin ilmu yang bersifat khas. Salah satu kekhasannya adalah bersifat abstrak. Sifat inilah yang sering menimbulkan masalah bagi seseorang dalam mempelajari matematika, padahal matematika mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia. Berkaitan dengan hal tersebut, Hudoyo (1994 : 2) menyatakan bahwa matematika merupakan pengetahuan yang esensial sebagai dasar untuk bekerja seumur hidup dalam era
  2. 2. 18 globalisasi. Sedangkan Oemar Hamalk (1989), mengemukakan bahwa media pendidikan adalah alat, metode dan teknik yang digunakan dalam rangka mengefektikan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa terhadap materi pembelajaran oleh siswa. Tingkat penguasan siswa terhadap materi pmbelajaran biasanya dinyatakan dengan nilai hasil belajar. Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa perolehan nilai pelajaran matematika peserta didik kelas V SDN 10 Lohia menunjukan rendahnya tingkat penguasaan terhadap materi pembelajaran tersebut terbukti hanya 7 orang dari 12 siswa yang mencapai tingkat penguasaan siswa terhadap materi. Hal ini dapat dibuktikan dengan pengamatan penulis di Sekolah Dasar Negeri 10 Lohia yang menunjukkan bahwa nilai mata pelajaran matematika, khususnya berkaitan dengan materi sifat-sifat bangun datar dari hasil ulangan formatif, siswa kelas V pada tahun pelajaran 2013/2014 masih rendah. Fenomena rendahnya nilai formatif Tahun Pelajaran 2013/2014 tersebut diduga karena siswa kurang memahami materi pelajaran yang disajikan oleh guru. Oleh karena itu, dituntut lebih kreatif dan inovatif memilih dan menerapkan suatu metode pembelajaran yang efektif. Salah satu cara atau pendekatan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan alat peraga sederhana. Penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika diduga akan mendorong siswa untuk aktif dalam mengikuti pembelajaran materi-materi yang diajarkan oleh guru, dan dapat menumbuhkan kreativitas-kreativitas yang ada pada diri siswa. Dengan demikian,
  3. 3. 3 penggunaan alat peraga diharapkan dapat membantu siswa dalam memahami pembelajaran matematika, khususnya materi sifat-sifat bangun datar. Mengingat permasalahan di atas mendorong penulis untuk mengambil fokus penelitian dengan judul “Peranan Penggunaan Alat Peraga Dalam meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Sifat-sifat Bangun Datar Pada Siswa Kelas V SD Negeri 10 Lohia Kecamatan Lohia Kabupaten Muna. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah dengan menggunakan alat peraga siswa dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi sifat-sifat bangun datar di kelas V SD Negeri 10 Lohia Kecamatan Lohia Kabupaten Muna? C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini yaitu untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa dalam memahami sifat-sifat bangun datar di kelas V SDN 10 Lohia dengan menggunakan alat peraga. D. Kegunaan Hasil Penelitian Penelitian ini berguna bagi : a. Bagi siswa 1. Dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam pelajaran matematika sehingga hasil belajarnya meningkat.
  4. 4. 18 2. Dapat meningkatkan taraf penguasaan terhadap materi b. Bagi guru 1. Dapat mengembangkan potensi guru dalam pelajaran matematika denga menggunakan alat peraga. 2. Dapat meningkatkan kreatifitas guru dalam mengembangkan tekhnik pembelajaran serta guru termotivasi untuk meningkatkan kinerjannya. c. Bagi sekolah 1. Dapat meningkatkan hasil belajar matematika serta meningkatkan citra sekolah di masyarakat. 2. Dapat menambah wahana pembelajaran menjadi lebih variatif sehingga mampu memajukan proses pendidikan di masa mendatang. E. Ruang Lingkup Penelitian Sesuai deangan judul penelitian ini “Penggunaan Alat Peraga Dalam meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Sifat-sifat Bangun Datar Pada Siswa Kelas V SD Negeri 10 Lohia Kecamatan Lohia Kabupaten Muna. Pada materi Sifat-sifat Bangun Datar dengan menggunakan alat peraga akan meningkatkan aspek permasalahan, yanag menentukan pengkajian, namun karna adanya keterbatasan yang dimiliki baik fisik maupun non fisik maka ruang lingkup penelitian ini terbatas pada aspek pembelajaran matematika Siswa kelas V SD Negeri 10 Lohia Kecamatan Lohia Kabupaten Muna.
  5. 5. 5 F. Definisi Operasional 1. Alat peraga Alat peraga matematika adalah seperangkat benda konkret yang dirancang, dibuat, dihimpun atau disusun secara sengaja yang digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika (Iswadji, 2003:1). Dengan alat peraga, hal-hal yang abstrak dapat disajikan dalam bentuk model-model berupa benda konkret yang dapat dilihat, dipegang, diputarbalikkan sehingga dapat lebih mudah dipahami. Fungsi utamanya adalah untuk menurunkan keabstrakan konsep agar siswa mampu menangkap arti konsep tersebut. Secara umum fungsi alat peraga adalah : a. Sebagai media dalam menanamkan konsep-konsep matematika b. Sebagai media dalam memantapkan pemahaman konsep c. Sebagai media untuk menunjukan hubungan antara konsep matematika Disamping itu penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika, khususnya berkaitan dengan materi bangun datar dapat menciptakan suasana proses belajar mengajar berlangsung lebih menarik, sehingga dapat mendorong partisipasi dan merangsang minat siswa untuk mengikuti pelajaran dengan antusias. Kondisi ini sangat membantu dan memudahkan siswa dalam memahami materi yang diberikan dengan baik (Purnama, 2009 : 2). A. Matematika Matematika adalah ilmu logika tentang bentuk susunan, besaran dan konsep- konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya. Matematika dapat dibagi ke
  6. 6. 18 dalam tiga bidang yaitu aljabar, analisis dan geometri. James & James (dalam Russefendi. 1993:27) menyatakan bahwa matematika bukanlah pengetahuan menyendiri, tetapi matematika membantu masalah sosial,ekonomi dan alam. B. Bangun Datar Bangun datar adalah bangun dua dimensi yang beraturan dan merupakan bagian dari geometri (Prayogi, 2009). Menurut Prasetyono, dkk (2009 :30) bahwa bangun datar memiliki ciri-ciri: (a) bangun dua dimensi; (b) memiliki ukuran; (c) memiliki luas.
  7. 7. 7 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pengertian Alat Peraga Alat peraga merupakan bagian dari media. Oleh karena itu, istilah media perlu dipahami lebih dahulu sebelum dibahas mengenai pengertian alat peraga lebih lanjut. Media pengajaran diartikan sebagai semua benda yang menjadi perantara terjadinya proses belajar, dapat berwujud perangkat lunak, maupun perangkat keras. Berdasarkan fungsinya media pengajaran dapat berbentuk alat peraga dan sarana. Alat peraga matematika adalah seperangkat benda konkret yang dirancang, dibuat, dihimpun atau disusun secara sengaja yang digunakan untuk membantu menanamkan atau mengembangkan konsep-konsep atau prinsip-prinsip dalam matematika (Iswadji, 2003:1). Dengan alat peraga, hal-hal yang abstrak dapat disajikan dalam bentuk model-model berupa benda konkret yang dapat dilihat, dipegang, diputarbalikkan sehingga dapat lebih mudah dipahami. Fungsi utamanya adalah untuk menurunkan keabstrakan konsep agar siswa mampu menangkap arti konsep tersebut. Sebagai contoh, benda-benda konkret di sekitar siswa yang berkaitan dengan bangun datar adalah permukaan meja, permukaan papan tulis, permukaan buku serta benda-benda yang bisa dibuat manjadi alat peraga pembelajaran seperti kertas karton, tripleks, dan kayu. Suatu hal yang perlu mendapat perhatian adalah teknik penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika secara tepat. Untuk itu perlu dipertimbangkan kapan digunakan dan jenis alat peraga mana yang sesuai untuk mencapai tujuan pembelajaran. Agar dapat memilih dan menggunakan alat peraga sesuai dengan
  8. 8. 18 tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran, maka perlu diketahui fungsi alat peraga. Secara umum fungsi alat peraga adalah: a. Sebagai media dalam menanamkan konsep-konsep matematika b. Sebagai media dalam memantapkan pemahaman konsep c. Sebagai media untuk menunjukan hubungan antara konsep matematika Disamping itu penggunaan alat peraga dalam pembelajaran matematika, khususnya berkaitan dengan materi bangun datar dapat menciptakan suasana proses belajar mengajar berlangsung lebih menarik, sehingga dapat mendorong partisipasi dan merangsang minat siswa untuk mengikuti pelajaran dengan antusias. Kondisi ini sangat membantu dan memudahkan siswa dalam memahami materi yang diberikan dengan baik (Purnama, 2009 : 2). B. Proses Belajar Mengajar Belajar merupakan suatu proses perubahan tingakah laku pada diri seseorang agar lebih mengetahui hal-hal yang tidak diketahui dan dapat berkembang seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Bruner ( Hudoyo, 1988:56), belajar matematika adalah belajar tentang konsep- konsep dan struktur- struktur matematika yang terdapat di dalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan – hubungan antara konsep- konsep dan struktur- struktur matematika. Pada umumnya anak SD berumur sekitar 6/7 – 12 tahun. Menurut Piaget (dalam Hudoyo, 1988: 45), anak seumur ini berada pada periode operasi kongkret. Priode ini
  9. 9. 9 disebut operasi kongkret sebab berpikir logikanya didasarkan pada manipulasi fisik objek- objek kongkret. Dalam belajar menurut Piaget struktur kognitif yang dimiliki seseorang terjadi karena proses asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah proses mendapatkan informasi dan pengalaman baru yang langsung menyatu dengan struktur mental yang sudah dimiliki seseorang. Adapun akomodasi adalah proses menstruktur kembali mental sebagai akibat adanya informasi dan pengalaman baru (Hudoyo, 1988: 47). Jadi belajar tidak hanya menerima informasi dan pengalaman yang dimiliki anak didik untuk mengakomodasikan informasi dan pengalaman baru. Oleh karena itu yang perlu diperhatikan pada tahap operasional kongkret adalah pembelajaran yang didasarkan pada benda- benda kongkret agar mempermudah anak didik dalam memahami konsep- konsep matematika. Misalnya untuk memahami suatu konsep matematika, anak memerlukan bantuan memanipulasi benda- benda kongkret yang relevan sebagai pengalaman langsung. Mengajar pada hakekatnya merupakan proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa, sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses belajar. Pada tahap berikutnya mengajar adalah proses memberikan bimbingan/ bantuan kepada siswa dalam melakukan proses belajar (Sudjana, 1998: 29). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mengajar merupakan suatu proses dalam memberikan atau mentransfer ilmu kepada seseorang agar sikap dan tingkah lakunya menjadi lebih baik.
  10. 10. 18 C. Matematika Matematika merupakan suatu ilmu yang berhubungan dengan penelaahan bentuk- bentuk atau struktur-struktur yang abstrak dan berhubungan diantara hal-hal itu. Untuk memahami struktur-struktur dan hubungan-hubunganya diperlukan pemahaman tentang konsep-konsep yang terdapat dalam matematika itu. Hal ini sejalan dengan Bruner (Aisyah, 2007: 5) yang mengatakan bahwa “Belajar matematika adalah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur yang terdapat dalam bahasa yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara konsep- konsep dan struktur tersebut”. Matematika adalah ilmu logika tentang bentuk susunan,besaran dan konsep-konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya. Matematika dapat dibagi ke dalam tiga bidang ,yaitu Aljabar,analisis dan geometri. James & James (dalam Russefendi. 1993:27) menyatakan bahwa matematika bukanlah pengetahuan menyendiri, tetapi matematika membantu masalah sosial,ekonomi dan alam. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa matematika merupakan salah satu cabang ilmu pasti yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan memacu seseorang untuk berpikir secara logis, realistis, dan sistematis. D. Bangun Datar Bangun datar adalah bangun dua dimensi yang beraturan dan merupakan bagian dari geometri (Prayogi, 2009). Menurut Prasetyono, dkk (2009 :30) bahwa bangun datar memiliki ciri-ciri : (a) bangun dua dimensi; (b) memiliki ukuran; (c) memiliki luas. Adapun beberapa model bangun datar adalah sebagai berikut :
  11. 11. 11 Segitiga persegi persegi panjang trapesium Jajaran genjang layang- layang belah ketupat lingkaran Belajar matematika adalah proses pembelajaran yang dilakukan secara sadar dan terencana yang didalamnya dibutuhkan suatu proses aktif individu atau siswa agar dapat berpikir matematis berdasarkan aturan logis dan sistematis. Simanjuntak (1993), mengemukakan bahwa keberhasilan proses belajar mengajar matematika tidak terlepas dari kesiapan peserta didik dan tenaga pendidik di bidangnya dan bagi peserta didik yang sudah mempunyai minat (sikap) untuk belajar matematika akan merasa senang dan penuh perhatian. Dengan demikian dalam belajar suatu pokok bahasan tertentu pada mata pelajaran matematika, guru harus mampu memilih alat peraga pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik pokok bahasan, agar tujuan pembelajaran tercapai secara maksimal. Belajar berkaitan dengan prestsasi hasil belajar. Hal ini diungkapkan oleh WJS. Purwodarminta (dalam Syaiful, 1994: 20) berpendapat bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai. Dengan demikian prestasi belajar matematika merupakan hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah mempelajari matematika dalam kurun
  12. 12. 18 waktu tertentu dan dapat diukur dengan menggunakan alat evaluasi. Ada beberapa pendapat yang mendefenisikan tentang hasil belajar yaitu: a. Darmansyah (2006:13), menyatakan bahwa hasil belajar adalah hasil penilaian terhadap kemampuan siswa yang ditentukan dalam bentuk angka. b. Rahmat (dalam Zainal Abidin 2004:1), mengatakan hasil belajar adalah penggunaan angka pada hasil tes atau prosedur penilaian sesuai dengan aturan tertentu atau dengan kata lain untuk mengetahui daya serap siswa setelah menguasai materi pelajaran yang telah diberikan. Berdasarkan uraian-uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dapat berupa nilai yang dicapai siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran. Hasil belajar dalam penelitian ini adalah hasil yang dicapai siswa setelah mempelajari sifat-sifat bangun datar.
  13. 13. 13 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian 1. Pendekatan Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif yang diperoleh melalui lembar observasi dan kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes hasil belajar. 2. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian tindakan kelas dengan menggunakan alat peraga untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi sifat-sifat bangun datar matapelajaran matematika kelas V SDN 10 Lohia kecamatan Lohia Kabupaten Muna. Prosedur penelitian tindakan kelas ini direncanakan terdiri dari dua siklus dan dua kali pertemuan. Menurut Arikunto bahwa daur ulang dalam tindakan kelas diawali dangan perencanaan, pelaksanaan, mengobservasi, dan mengevaluasi tindakan dan seterusnya sampai perbaikan atau peningkatan yang diharapkan tercapai. Adapun rencana penelitian tindakan kelas dapat digambarkan sebagai berikut:
  14. 14. 18 SIKLUS 1 SIKLUS 2 Gambar 1. Skema Penelitian Tindakan Kelas 3. Kehadiran dan Peran Peneliti Selama pembelajaran berlangsung dilakukan pengamatan dan wawancara untuk mengesplorasian fokus penelitian. Waktu kehadiran peneliti dilokasi penelitian dari tanggal 28 april 2014 untuk memeinta izin pengadaan penelitian di SDN 10 Lohia sambil dilakukan penggalian beberapa data. Sedangkan pada tanggal 30 april 2014 pengumpulan data yang berkenaan dengan fokus penelitian. 4. Lokasi Penelitian Penelitian ini di laksanakan di sekolah SDN 10 Lohia kecamatan lohia Kabupaten Muna pada semester genap pada tahun pelajaran 2013/ 2014. 5. Subjek Penelitian Penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri 10 Lohia Kecamatan Lohia Kabupaten Muna mata pelajaran matematika materi sifat-sifat bangun datar pada Permasalahan Terselesaikan Belum terselesaikan ttreterseles terselesaika tttterselesaikan terselesaikan Observasi Tindakan 2 Terselesaikan Observasi Analisis data 2 Analisis data 1 Refleksi 2 Refleksi 1 Perencanaan Perencanaan Dan seterusnya Tindakan 1
  15. 15. 15 semester genap tahun ajaran 2013/2014 sebanyak 12 siswa dari 6 orang laki-laki dan 6 orang perempuan. Pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada hari senin tanggal 12 Mei dan hari kamis tanggal 14 Mei 2014. 6. Data dan Sumber Data a. Jenis Data Data kualitatif yang diperoleh melalui lembar observasi dan data kuantitatif yang diperoleh dari hasil tes hasil belajar. b. Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas V SD Negeri 10 lohia dan guru sebagai mitra peneliti serta seluruh komponen sekolah . c. Analisis data Data yang diperoleh dari hasil tes tentang prestasi belajar siswa dianalisis dengan menggunakan rumus: N = 𝑋 𝑛 x 100 % Keterangan : N = Nilai siswa x = Jumlah jawaban yang benar n = Jumlah soal Selanjutnya hasil analisis tersebut mengacu pada kriteria ketuntasan belajar. Secara individual siswa dikatakan tuntas belajar jika penguasaan materi minimal 65 %, dan secara klasikal dikatakan tuntas belajar jika siswa telah menguasai minimal
  16. 16. 18 85 %. Hasil analisis ini sebagai pembanding dengan hasil belajar siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah, dengan pembelajaran yang menggunakan alat peraga. d. Tahap-Tahap penelitian 1. Rencana Pelaksanaan Tahap ini mencakup semua perencanaan tindakan seperti pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran yang dialami, menyiapkan metode alat dan sumber pembelajaran serta merencanakan pula langkah-langkah dan tindakan. Dalam tahap ini penulis menetapkan seluruh rencana tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran matematika, yaitu dengan menerapkan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga. Adapun langkah-langkah perencanaannya yaitu : i) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran. ii) Merumuskan langkah-langkah dan tindakan yang akan dilakukan untuk menguji hipotesis. iii) Memilih prosedur evaluasi penelitian. iv) Melaksanakan tindakan apa yang akan dilakukan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. 2. Pelaksanaan Tindakan Dalam tahap ini langkah-langkah pembelajaran dan tindakan mengacu pada perencanaan yang telah dibuat yaitu :
  17. 17. 17 a. Tahap awal pembelajaran i. Guru mengucapkan salam. ii. Guru mengkondisikan siswa kearah pembelajaran. iii. Guru mengecek kehadiran siswa. b. Guru melakukan apersepsi dengan mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang akan diajarkan. c. Tahap inti pembelajaran i. Guru menjelaskan materi tentang sifat-sifat bangun datar. ii. Guru membagikan alat peraga sederhana kepada masing-masing siswa. iii. Guru menyuruh siswa untuk mengidentifikasi sifat-sifat bangun segitiga,persegi,dan persegi panjang. iv. Siswa menuliskan sifat-sifat bangun datar berdasarkan ciri-ciri yang ditemukan. v. Siswa diberi kesempatan untuk menanyakan apa yang telah dipelajari. d. Tahap akhir pembelajaran i. Guru dan siswa menyimpulkan materi yang telah diajarkan. ii. Guru memberikan LKS kepada setiap siswa. iii. Setiap siswa menyelesaikan tugas yang terdapat dalam LKS. iv. Setiap siswa melaporkan hasil kerjanya masing-masing. v. Guru memberikan penilaian dari hasil kerja siswa.
  18. 18. 18 3. Observasi Pada tahap ini terdiri dari pengumpulan data serta mencatat setiap aktivitas siswa pada saat pelaksanaan tindakan berlangsung. Observer bertugas mengamati aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan mengacu pada lembar observasi. Observasi ini akan dilakukan oleh peneliti yaitu dengan mengamati aktivitas siswa dan kinerja guru dalam pembelajaran matematika dari awal pembelajaran sampai akhir pembelajaran. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah aktivitas siswa dan kinerja guru sudah sesuai dengan apa yang tercantum dalam lembar observasi atau tidak sehingga hasil observasi dapat diperbaiki pada siklus berikutnya. 4. Refleksi Refleksi dilakukan untuk menemukan,mengkaji dan merenungkan kembali tindakan yang telah dilakukan. Refleksi berguna untuk memberikan makna terhadap proses dan hasil yang telah dilakukan. Hasil refleksi yang ada dijadikan bahan pertimbangan untuk membuat perencanaan tindakan dalam siklus selanjutnya yang berkelanjutan sampai pembelajaran dinyatakan berhasil. Refleksi merupakan bagian yang sangat penting untuk memahami dan memberikan makna terhadap proses dan hasil pembelajaran yang dilakukan dengan cara sebagai berikut : a. Mengecek kelengkapan data pengumpulan data yang terjaring selama proses tindakan.
  19. 19. 19 b. Mendiskusikan pengumpulan data antara guru, peneliti dan kepala sekolah (pembimbing) berupa hasil nilai siswa, hasil pengamatan, catatan lapangan dan lain-lain. c. Penyusunan rencana tindakan berikutnya yang dirumuskan dalam skenario pembelajaran dengan berdasar pada analisa data dari proses dalam tindakan sebelumnya untuk memperbaiki proses pembelajaran yang telah dilakukan pada siklus I untuk menyusun tindakan yang akan dilakukan pada siklus II.
  20. 20. 18 IV. PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Pengantar pendahuluan 1. Siklus I 1. Perencanaan Siklus pertama penelitian ini dilaksanakan sesuai dengan rencana yang disusun oleh peneliti dengan guru kolaborator. Setelah ditetapkan proses pembelajaran dengan menggunakan alat peraga, maka kegiatan selanjutnya adalah menyiapkan beberapa hal yang diperlukan pada pelaksanaan tindakan setiap siklus. Proses belajar matematika di kelas V dilaksanakan dua kali pertemuan dalam satu minggu. Setiap pertemuan dilaksanakan 2 x 35 menit. Setelah berkonsultasi dengan Kepala Sekolah SD Negeri 10 lohia, maka peneliti menyiapkan hal-hal sebagai berikut : 1) Membuat Rencana Pembelajaran untuk tindakan Siklus I 2) Membuat Lembar Observasi yang memuat aktivitas guru dan siswa selama pelaksanaan pembelajaran di kelas. 3) Menyediakan alat bantu/alat peraga pembelajaran yang diperlukan untuk menjelaskan sifat-sifat bangun datar. 4) Membuat soal-soal latihan yang diberikan kepada siswa pada setiap akhir pertemuan. 5) Merancang alat evaluasi untuk tes tindakan siklus I. b. Pelaksanaan Tindakan Pada tahap ini siswa telah siap untuk mempelajari sifat-sifat bangun datar dengan menggunakan alat peraga dan dilaksanakan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Pelaksanaan siklus I pada hari senin tanggal 12 Mei 2014. Pada siklus I guru tidak menyampaikan tujuan pembelajaran dan kurang memotivasi siswa, Guru langsung menjelaskan materi tentang sifat-sifat bangun datar yang akan diajarkan sesuai dengan rencana pembelajaran sambil mendemonstrasikan sifat-sifat bangun segitiga, persegi, dan
  21. 21. 21 persegi panjang. Selanjutnya guru membagikan siswa alat peraga,agar siswa dapat mengidentifikasi sifat-sifat bangun segitiga, persegi, dan persegi panjang, tersebut. Setelah siswa meyelesaikan mengidentifikasi bangun-bangun datar tersebut, maka setiapsiswa melaporkan hasil kerjanya di depan kelas secara bergantian. Guru secara seksama mengevaluasi atau memberikan penilaian kepada hasil setiap kerja siswa. Siswa yang mempunyai hasil kerja yang baik diberikan penguatan atau penghargaan. Kegiatan selanjutnya, guru memberi umpan balik dengan kegiatan tanya jawab, namun tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan dengan benar dan tidak semua siswa berani mengajukan pertanyaan. Langkah selanjutnya adalah guru melakukan refleksi, membimbing siswa merangkum pelajaran dan memberikan pekerjaan rumah. Untuk memotivasi siswa, guru memberikan pujian kepada siswa yang dapat menjawab pertanyaan dengan benar. c. Observasi Pada tahap ini dilakukan observasi terhadap pelaksanaan tindakan siklus I untuk mengetahui ketercapaian pelaksanaan proses pembelajaran dengan alat peraga dalam mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar, baik pada kegiatan yang dilakukan guru maupun kegiatan yang dilakukan siswa. Hasil observasi terhadap guru sebagai berikut : 1. Guru mengecek kehadiran siswa berdoa dan mempersiapkan alat yang akan digunakan. 2. Pada proses pembelajaran siklus I guru tidak menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. 3. Guru mengadakan apersepsi di awal pembelajaran dengan menghubungkan materi yang akan diajarkan. 4. Guru menjelasakan materi sambil mendemonstrasikan sifat-sifat bangun segitiga, persegi,dan persegi panjang, dengan alat peraga yang telah dibuat oleh guru.
  22. 22. 18 5. Guru membagikan alat peraga kepada masing-masing siswa untuk mengidentifikasi sifat-sifat bangun segitiga, persegi, dan persegi panjang. Guru secara seksama mengevaluasi atau memberikan penilaian kepada hasil setiap kerja siswa. 6. Kemudian guru memberi umpan balik dengan kegiatan tanya jawab, namun tidak semua siswa dapat menjawab pertanyaan dengan benar dan tidak semua siswa berani mengajukan pertanyaan. 7. Guru memberikan kesimpulan akhir atas jawaban siswa, serta membimbing siswa membuat rangkuman. 8. Guru memberikan evaluasi kepada siswa untuk diselesaikan. Hasil Observasi untuk siswa. 1. Siswa terlihat tenang dan serius dalam menerima pelajaran. 2. Siswa terlihat senang dalam menerima pelajaran karena terlibat langsug dalam mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar. 3. Siswa tidak menjawab pertanyaan pada saat apersepsi, karena mereka masih malu-malu. 4. Siswa tidak memperhatikan penjelasan guru dengan baik, khususnya kursi yang duduk pada bagian belakang. 5. Pada saat menyelesaikan LKS siswa tetap berada dalam pengawasan guru. 6. Setiap siswa menerima alat peraga yang diberikan oleh guru untuk mengidentifikasi sifat-sifatnya. 7. Siswa menjawab pertanyaan yang diajukan guru, walaupun jawaban siswa tersebut belum sempurna. 8. Siswa menulis kesimpulan /jawaban akhir dari guru. 9. Siswa menulis rangkuman untuk dipelajari di rumah. 10. Setiap siswa menjawab tes evaluasi.
  23. 23. 23 d. Evaluasi Pada akhir pertemuan siklus I siswa diberi tes akhir siklus yang terdiri dari 5 butir soal dengan skor total 10 yang selanjutnya dijabarkan ke dalam nilai 0-100. Tes akhir siklus yang diberikan kepada siswa diselesaikan secara individual. Hasil tes ini menjadi dasar untuk menentukan hasil belajar siswa pada materi sifat-sifat bangun segitiga, persegi, dan persegi panjang, dengan menggunakan alat peraga sederhana. Data tentang hasil belajar siswa pada siklus I, tampak pada sebaran nilai dan persentase keberhasilan belajar. Selanjutnya rerata nilai perolehan siswa terhadap hasil belajar siswa dalam memahami sifait-sifat bangun segitiga, persegi, dan persegi panjang dengan menggunakan alat peraga di kelas V SDN 10 Lohia. Rerata nilai siswa menunjukkan bahwa hasil tes siklus I, kemampuan siswa berada pada kategori kemampuan yang cukup. Dilihat dari keberhasilan belajar klasikal dapat dikemukakan bahwa hasil tes siklus I keberhasilan belajar siswa belum tuntas, karena hanya 7 siswa (60 %) yang mempeoleh nilai 65 ke atas. Sedangkan ketercapaian proses pembelajaran pada siklus I yang diperoleh dari hasil observasi pada kegiatan guru dan siswa mencapai 86,36 %. Dikatakan berhasil secara klasikal apabila 85 % siswa sudah mendapat nilai 65 ke atas. Dengan melihat hasil evaluasi pada pelaksanaan siklus I ini, belum memenuhi indikator kinerja yang telah ditetapkan, maka penelitian ini dilanjutkan pada siklus II. e. Refleksi Hasil refleksi guru dan siswa pada tiap tindakan. 1. Siklus I a. Kegiatan awal guru tidak menyampaikan tujuan pembelajaran dan kurang memotivasi siswa. b. Kegiatan inti ada 2 orang siswa yang tidak memperhatikan pelajaran dengan serius khususnya yang duduk di bangku bagian belakang.
  24. 24. 18 2. Siklus II Kegiatan awal guru sudah menyampaikan tujuan pembelajaran, sedangkan untuk kegiatan inti dan kegiatan penutup guru sudah melaksanakan kegiatan pembelajaran sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat. Berdasarkan hasil yang telah dicapai pada siklus I maka indikator kinerja pada penelitian ini belum tercapai dan akan dilanjutkan pada siklus II 2. Siklus II a. Perencanaan Berdasarkan hasil observasi, evaluasi dan refleksi diri pada siklus I, maka peneliti merencanakan pelaksanaan tindakan siklus II agar kendala-kendala pada siklus I dapat teratasi sehingga hasil belajar siswa pada siklus II dapat meningkat. Adapun hal-hal yang akan dilakukan dalam rangka memperbaiki kendala-kendala pada siklus I adalah sebagai berikut: 1. Guru harus bersikap lebih tegas pada siswa yang tidak tertib dalam proses pembelajaran dengan cara mengatur atau memberi sanksi pada siswa yang tidak memperhatikan pelajaran. 2. Guru harus lebih jelas menyampaikan tujuan pembelajaran agar materi yang akan diajarkan dapat dipahami siswa dengan baik. 3. Guru harus lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan pendapat dalam menanyakan hal-hal yang belum dimengerti. Selain hal-hal tersebut di atas yang merupakan rencana perbaikan tindakan siklus II, peneliti membuat rencana perbaikan pembelajaran, lembar observasi untuk guru dan siswa, menyiapkan alat peraga sederhana, alat evaluasi dan refleksi diri untuk pelaksanaan tindakan siklus berikutnya.
  25. 25. 25 b. Pelaksanaan Tindakan Dalam pelaksanaan siklus II ini, guru kembali berusaha melaksanakan pembelajaran sesuai dengan skenario pembelajaran yang telah dibuat. Selain itu guru melaksanakan tindakan perbaikan sebagaimana yang telah direncanakan sebelumnya. Kegiatan siklus II, Guru sudah menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Guru juga mengadakan apersepsi dengan cara mengingatkan kembali siswa tentang materi yang telah dipelajari. Pada siklus II guru menjelaskan dan mendemontrasikan tentang sifat-sifat segitiga, persegi, dan persegi panjang, yang dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 14 Mei 2014. Kemudian guru membagikan LKS dan alat peraga untuk mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar. Setelah meyelesaikan tugasnya masing-masing siswa, maka setiap siswa melaporkan hasil kerjanya di depan kelas secara bergantian. Secara seksama guru memberikan penilaian kepada hasil setiap kerja siswa. Siswa yang mempunyai hasil yang baik diberikan penguatan. Kegiatan selanjutnya guru memberi umpan balik dengan kegiatan tanya jawab, dan hasilnya menunjukkan bahwa sebahagian besar siswa sudah dapat menjawab pertanyaan dengan benar. Langkah selanjutnya adalah guru melakukan refleksi, membimbing siswa merangkum pelajaran dan memberikan pekerjaan rumah. Untuk memotivasi siswa, guru memberikan pujian kepada siswa yang dapat menjawab dengan benar c. Observasi Pada tindakan siklus II kembali dilaksanakan observasi pada proses pembelajaran untuk kegiatan guru dan siswa hasilnya menunjukkan. b. Guru memeriksa kesiapan siswa untuk menerima pelajaran. c. Guru menyampaikan dengan jelas tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
  26. 26. 18 d. Guru menyampaikan apersepsi dengan menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan materi yang sudah diajarkan, kemudian menghubungkan dengan materi yang akan diajarkan. e. Guru menjelaskan materi yang diajarkan sambil mendemonstrasikan sifat-sifat bangun segitiga, persegi,dan persegi panjang. f. Guru membagikan alat peraga kepada masing-masing siswa g. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa yang berkaitan dengan materi yang telah diajarkan. h. Guru menyimpulkan atau memberikan jawaban akhir dari semua pertanyaan siswa. i. Guru menyuruh siswa untuk menulis rangkuman untuk dipelajari di rumah. j. Guru memberikan evaluasi pada akhir pembelajaran. k. Guru memberikan soal-soal latihan untuk diselesaikan di rumah. Hasil Observasi terhadap siswa menunjukkan hal-hal sebagai berikut : 1. Siswa lebih siap dan serius untuk menerima pelajaran dari guru. 2. Siswa mendengarkan dan menyimak dengan baik tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. 3. Siswa mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru. 4. Semua siswa memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh guru. 5. Siswa tetap berada dalam bimbingan guru pada saat mengerjakan LKS. 6. Siswa telah menerima alat peraga dari guru untuk mengidentifikasi sifat-sifat bangun segitiga,persegi,dan persegi panjang. 7. Siswa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru. 8. Siswa menulis kesimpulan dari guru agar pelajaran yang telah diberikan lebih dipahami. 9. Siswa menulis rangkuman untuk dipelajari di rumah. 10. Siswa menjawab tes evaluasi pada setiap akhir pertemuan
  27. 27. 27 11. Siswa menulis soal-soal latihan untuk dikerjakan di rumah. Hasil observasi terhadap guru dan siswa tersebut sudah terjadi peningkatan. Secara umum persentase ketercapaian pelaksanaan proses pembelajaran pada pelaksanaan siklus II adalah 100 %. d. Evaluasi Sebagaimana siklus I, pada akhir siklus II inipun diadakan tes akhir untuk mengetahui peningkatan pemahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan pada siklus II. Pelaksanaan tes akhir siklus II, dilaksanakan secara individual untuk menyelesaikan butir tes yang disediakan. Data hasil tes akhir siklus II kemampuan siswa dalam memahami sifat-sifat segitiga, persegi,dan persegi panjang dengan menggunakan alat peraga dapat dilihat pada Lampiran. Rerata nilai perolehan siswa terhadap kemampuan dalam memahami sifat-sifat segitiga,persegi,dan persegi panjang dengan menggunakan alat peraga. Berdasarkan hasil tes akhir siklus II kemampuan siswa berada pada ketegori yang cukup baik. Dilihat dari segi keberhasilan belajar klasikal, dapat dikemukakan bahwa hasil tes siklus II, siswa telah berhasil dengan nilai keberhasilan belajar individual 65 ke atas telah dicapai oleh 13 orang siswa (86,67 %). Sedangkan hasil evaluasi proses pembelajaran pada siklus II telah mencapai 100%. Hal ini menunjukkan bahwa ada peningkatan pemahaman siswa dan telah mencapai indikator kinerja yang telah ditetapkan sehingga tindakan siklus dihentikan. e. Refleksi Melihat hasil evaluasi dan observasi pada akhir tindakan siklus II, siswa sudah mampu menyelesaikan soal-soal yang diberikan oleh guru serta dikatakan sudah berhasil karena nilai siswa yang diperoleh pada akhir tindakan siklus II sudah mencapai standar ketuntasan yang
  28. 28. 18 ditetapkan yaitu minimal 80% secara klasikal, dan 65% secara individual. Berdasarkan tes akhir siklus II tersebut maka siswa kelas V SD Negeri 10 Lohia sebanyak 7 orang yang memperoleh nilai 65 ke atas sebanyak 5 orang (86,67%) artinya bahwa dengan menggunakan alat peraga pada materi sifat-sifat bangun datar, maka siswa lebih mudah memahami materi yang diajarkan oleh guru dan hasil belajar siswa menjadi meningkat. B. Analisis Data C. Temuan Penelitian BAB V PEMBAHASAN Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus, dan setiap siklus terdiri satu kali pertemuan. Pada siklus I proses pembelajaran belum berjalan dengan baik karena guru tidak menyampaikan tujuan pembelajaran sebelumnya, dan tidak memotivsi siswa agar aktif dalam proses pembelajaran. Guru langsung memberikan penjelasan materi tentang sifat-sifat bangun datar yang akan diajarkan sesuai dengan rencana pembelajaran sambil mendemonstrasikan sifat-sifat segitiga, persegi dan persegi panjang dan trapasium. Pada saat proses pembelajaran berlangsung, masih terdapat beberapa siswa yang tidak memperhatikan penjelasan guru dengan alat peraga yang diberikan. Siswa juga masih merasa ragu-ragu untuk menanyakan materi yang belum dipahami serta tidak mampu menjawab pertanyaan dari guru. Kekurangan juga terlihat pada guru, dimana guru belum bisa mengatur waktu seefisien mungkin saat menyampaikan materi dihadapan kelas. Selanjutnya dalam pembagian kelompok siswa, guru tidak membagi secara heterogen berdasarkan kemampuan sehingga dalam menyelesaikan soal LKS untuk mengidentifikasi
  29. 29. 29 sifat-sifat segitiga, persegi, persegi panjang dan trapesium hasil yang diperoleh belum maksimal. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan pada akhir siklus I, masih banyak siswa yang belum memahami materi yang disampaikan oleh guru tentang sifat-sifat segitiga, persegi, dan persegi panjang dan trapesium dengan menggunakan alat peraga, dimana jumlah siswa secara keseluruhan sebanyak 15 orang, yang memperoleh nilai di atas 65 atau yang tuntas belajarnya hanya 9 orang (60 %) sedangkan yang tidak tuntas belajarnya sebanyak 6 orang (40%). Dengan melihat perolehan nilai siswa pada saat tindakan akhir siklus I yang masih di bawah standar ketuntasan yang telah ditetapkan minimal 85 % siswa telah memperoleh nilai 65 ke atas, maka penelitian ini dilaksanakan atau dilanjutkan pada siklus II. Pelaksanaan tindakan siklus II ini, proses pembelajaran yang diterapkan masih menggunakan alat peraga sebagai alat bantu dalam memahami sifat-sifat lingkaran, jajar genjang, belah ketupat, layang-layang. Berdasarkan hasil observasi tindakan siklus II, kegiatan proses pembelajaran yang diterapkan harus lebih baik dari pelaksanaan siklus sebelumnya, dimana kelemahan-kelemahan yang terjadi pada tindakan siklus I telah diperbaiki sedikit demi sedikit. Di awal pembelajaran guru sudah menyampaikan tujuan pembelajaran dengan baik dan memotivasi siswa agar lebih aktif dalam proses pembelajaran. Guru mampu mengkoordinir siswa dalam pembagian kelompok secara heterogen berdasarkan kemampuan siswa. Siswa lebih fokus memperhatikan penjelasan guru ketimbang berdiskusi dengan teman kelompok. Kemudian siswa sudah memberanikan diri untuk menanyakan hal-hal yang belum dimengerti dengan materi yang disampaikan dan sebagian besar siswa sudah mampu menjawab soal dengan benar. Berdasarkan hasil tes akhir siklus yang dilakukan pada tindakan siklus II, siswa yang memperoleh nilai 65 ke atas atau yang tuntas belajarnya sebanyak 13 orang(86,67 %) sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 2 orang (13,33 %). Hal ini berarti pada pelaksanaan
  30. 30. 18 tindakan siklus II mengalami peningkatan sebesar 26,67 % dibandingkan dengan siklus I. Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi pada siswa dan guru pada akhir tindakan siklus II, mengalami peningkatan hasil belajar matematika siswa dalam memahami materi sifat-sifat bangun jajar genjang, belah ketupat, layang-layang dan lingkaran, dengan menggunakan alat peraga. Penggunaan alat peraga dalam kegiatan proses pembelajaran sangat efektif untuk dilaksanakan berkaitan dengan materi sifat-sifat bangun datar serta siswa mampu menciptakan kreativitas berdasarkan alat peraga yang digunakan. Karena indikator kinerja keberhasilan siswa yang telah ditetapkan dalam penelitian ini telah tercapai minimal 85 % siswa telah memperoleh nilai 65 ke atas maka penelitian ini dapat dihentikan. BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan tujuan dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa: 1. Penggunaan alat peraga dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dimana dapat dilihat dari hasil tes akhir siklus I yang tuntas belajar 60 % dengan rata-rata 64,67 sedangkan pada tes akhir siklus II yang tuntas belajar 86,67% dengan rata-rata 83. 2. Penggunaan alat peraga sangat efektif digunakan dalam proses pembelajaran matematika khususnya pada materi sifat-sifat bangun datar dimana persentase keberhasilan proses pembelajaran dapat ditingkatkan. B. Saran
  31. 31. 31 Penggunaan alat peraga sangat efektif diterapkan dalam meningkatkan hasil belajar matematika khususnya dalam memahami sifat-sifat bangun datar, untuk itu diharapkan agar guru-guru matematika dalam mengajarkan materi sifat-sifat bangun datar menggunakan alat peraga. Dengan adanya alat peraga dapat memepermudah pemahaman siswa dalam proses pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA Ahmadi, Abu, dkk. 1999. Psikologi Sosial. Jakarta. Rineka cipta. Ali, Muhammad.1984. Guru dalam proses belajar mengajar. Bandung: Sinar Baru. Arikunto, Suharsimi, 2007. Prosedur penelitian Pendekatan praktek, Jakarta: Rineksa Cipta Darmansyah, 2006. Peenelitian Tindakan Kelas.UNP. Bruner (Kapita Selekta Pembelajaran) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan nasional 2007. Faizur R, 2006. penggunaan Alat Peraga pada Pengajaran Matematika Pokok Bahasan Pecahan Kelas III SD. Unes. Semarang. Hudoyo. dkk,1988: Pengembangan Kurikulum Matematika dan Pelaksanaannya di Depan Kelas. Surabaya. Usaha Nasional. Iswadji, 2003: Penggunaan Alat Peraga Dalam Pembelajaran Matematika SMP PPPPTK Matematika. Yogyakarta. Prasetio, Dwi S, dkk. 2009. Kamus Pintar Matematika untuk SD.Tunas Yogyakarta. Prayogi, S. 2009. Skripsi: Meningkatkan Kualitas proses dan Hasil Luas Bangun Datar Siswa Kelas V SDN.Ponolawen 2 Kesesi Pekalongan Melalui Implementasi Metode Discoveri.http://d i g i l i b.unnes.ac.id./gsdl/cgi-bin/librari Purnama, Lilik,T. 2009.Skripsi Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Luas Bangun Datar Melalui Alat Peraga di MIM Marga mulyo Karanganyar. Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas muhammadiyah surakarta.
  32. 32. 18 Russefendi.1996.Pendidikan Matematika 3.Jakarta, Rineka cipta Simanjuntak, 1998. Belajar dan Fakror-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta. Bina Aksara Sobel Max A.dan EvanM.Maletsky, 2001: Mengajar Matematika .Sumber buku Peraga.
  33. 33. 33 Sebaran Nilai Tes Akhir Siklus I NO INISIAL Nilai Keterangan B TB 1. RL 75 √ 2. SRN 80 √ 3. MHT 100 √ 4. LD NSL 75 √ 5. ASRA 60 √ 6. AL 50 √ 7. WD RT 50 √ 8. ST NRS 85 √ 9. WDLN 100 √ 10. ZM WLDR 40 √ 11. RLSR 85 √ 12. WD SRY 60 √ Distribusi Perolehan Nilai Tes Akhir Siklus I NO Nilai Frekuensi ∑fx 1. 100 2 200 2. 85 2 170 3. 80 1 80 4. 75 2 150 5. 60 2 120 6. 50 2 100 7. 40 1 40 JUMLAH 12 860 Rerata Nilai (X)= 𝑋 𝑁 =
  34. 34. 18 Sebaran Nilai Tes Akhir Siklus II NO INISIAL Nilai Keterangan B TB 1. RL 85 √ 2. SRN 90 √ 3. MHT 100 √ 4. LD NSL 90 √ 5. ASRA 80 √ 6. AL 75 √ 7. WD RT 80 √ 8. ST NRS 100 √ 9. WDLN 100 √ 10. ZM WLDR 60 √ 11. RLSR 80 √ 12. WD SRY 75 √ Distribusi Perolehan Nilai Tes Akhir Siklus I NO Nilai Frekuensi ∑fx 1. 100 3 300 2. 90 2 180 3. 85 1 85 4. 80 3 240 5. 75 2 150 6. 60 1 60 JUMLAH 12 1015 Rerata Nilai (X)= 𝑋 𝑁 =
  35. 35. 35

×