Presentase

372 views

Published on

0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
372
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
7
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Presentase

  1. 1. ASKEP TRAUMA KAPITIS By Kelompok 6
  2. 2. Defenisi Trauma capitis adalah merupakan cedera kepala berat, dimana otak mengalami memar, dengan kemungkinan adanya daerah hemoragi Brunner & Suddarth (2000), trauma capitis adalah “gangguan traumatic yang menyebabkan gangguan fungsi otak disertai atau tanpa disertai perdarahan in testina dan tidak mengganggu jaringan otak tanpa disertai pendarahan in testina dan tidak mengganggu jaringan otak” Cedera kepala adalah suatu gangguan traumatik dari fungsi otak yang disertai dengan perdarahan intertisial dalam substansi otak tanpa terputusnya kontinuitas dari otak (Hudak & Gallo, 1996).
  3. 3. Etiologi Adanya benturan sesuatu benda tumpul, atau berasal dari trauma langsung atau tidak langsung pada kepala.
  4. 4. Manifestasi klinis • • • • • • • • • • Denyut nadi lemah Pernafasan dangkal Kulit dingin dan pucat Defekasi dan berkeimih tanpa disadari Fungsi motorik abnormal misalnya gerakan mata Peningkatan TIK Sakit kepala Vertigo Gangguan fungsi mental Kejang
  5. 5. Pemeriksaan penunjang • • • • • • • • • • • Scan CT (tanpa/ dengan kontras) MRI (tanpa/ dengan menggunakan kontras) Angiografi serebral EEG BAER (Brain Auditori Evoked Respons) PET ( Positron Emission Tomografi ) Fungsi lumbal,CSS GDA ( Gas Darah Arteri ) Kimia/ elektrolot darah Pemeriksaan toksikologis Kadar antikonvulsan darah
  6. 6. Komplikasi • Kebocoran cairan serebrospinal akibat fraktur pada fossa anterior dekat sinus frontal atau dari fraktur tengkorak bagian petrous dari tulang temporal. • Kejang. Kejang pasca trauma dapat terjadi segera (dalam 24 jam pertama dini, minggu pertama) atau lanjut (setelah satu minggu). • Diabetes Insipidus, disebabkan oleh kerusakan traumatic pada rangkai hipofisis meyulitkan penghentian sekresi hormone antidiupetik.
  7. 7. Pengkajian Aktivitas/ Istirahat • Gejala : Merasa lemah, lelah, kaku, hilang keseimbangan. • Tanda : Perubahan kesehatan, letargi, Hemiparase, quadrepelgia, Ataksia cara berjalan tak tegap, Masalah dalam keseimbangan, Cedera (trauma) ortopedi, Kehilangan tonus otot, otot spastik Sirkulasi • Gejala : Perubahan frekuensi jantung (bradikardia, takikardia yang diselingi bradikardia disritmia). Integritas Ego • Gejala : Perubahan tingkah laku atau kepribadian (tenang atau dramatis) • Tanda : Cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung depresi dan impulsif.
  8. 8. Lanjut............ Eliminasi Neurosensoris • Gejala : Inkontenen • Gejala : Kehilangan kesadaran sia kandung kemih/ sementara, amnesia seputar usus atau mengalami kejadian, vertigo, sinkope, tinitus gngguan fungsi. kehilangan pendengaran, fingking, baal pada ekstremitas. Makanan/ cairan • Tanda : Perubahan kesadaran bisa sampai koma. Perubahan • Gejala : Mual, status mental. Perubahan pupil muntah dan (respon terhadap cahaya, simetri). mengalami perubahan Wajah tidak simetri. Genggaman selera. lemah, tidak seimbang. Refleks • Tanda : Muntah tendon dalam tidak ada atau (mungkin proyektil). lemah. Apraksia, hemiparese, Gangguan menelan Quadreplegia (batuk, air liur keluar, disfagia).
  9. 9. Lanjut....... Nyeri/ Kenyamanan • Gejala : Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yang berbeda biasanya koma. • Tanda : Wajah menyeringai, respon menarik pada rangangan nyeri yang hebat, gelisah tidak bisa beristirahat, merintih. Pernapasan • Tanda : Perubahan pola nafas (dispnea). Nafas berbunyi stridor, terdesak. Ronki, mengi positif Keamanan • Gejala : Trauma baru/ trauma karena kecelakaan • Tanda : Fraktur/ dislokasi. Gangguan penglihatan. Gangguan kognitif. Gangguan rentang gerak, tonus otot hilang, kekutan secara umum mengalami paralisis. Demam, gangguan dalam regulasi suhu tubuh Interaksi Sosial • Tanda : Afasia motorik atau sensorik.
  10. 10. Diagnosa  Pola napas tidak efektif berhubungan dengan terjadinya herniasi batang otak ditandai dengan dispnea.  Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan penekanan vaskuler serebral ditandai dengan hipoksia dan iskemia jaringan.  Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakanial ditandai dengan wajah menyeringai dan merintih kesakitan.  Resiko obstruksi jalan napas berhubungan dengan immobilisasi, penumpukan secret.  Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan fraktur mandibula, anoreksia ditandai dengan penurunan berat badan.  Gangguan keseimbangan cairan & elektrolit berhubungan dengan terjadinya herniasi batang otak, perangsangan saraf mual muntah ditandai dengan mual muntah.
  11. 11. Lanjut.........  Gangguan persepsi sensori : penglihatan, berhubungan dengan penekanan pada nervus II dan III ditandai dengan penglihatan terganggu (kabur ketika melihat).  Gangguan pola eliminasi urin berhubungan dengan penurunan system saraf otonom (perkemihan) ditandai dengan inkontinensia urin.  Hipertermi berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan peningkatan suhu tubuh.  Resiko infeksi berhubungan dengan pemsangan kateter.  Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan immo bilisasi, penekanan pada daerah yang menonjol.  Ansietas berhubungan hopitalisasi ditandai dengan klien merasa cemas.  Intoleransi aktivitas berhubungan dengan penurunan tonus otot ditandai dengan kelemahan.
  12. 12. tHaNK’s

×