Successfully reported this slideshow.
We use your LinkedIn profile and activity data to personalize ads and to show you more relevant ads. You can change your ad preferences anytime.

Penilaian standar rumah sakit (12)

469 views

Published on

  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

Penilaian standar rumah sakit (12)

  1. 1. BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Penilaian standar pelayanan rumah sakit melalui kepatuhan prosedur kerja di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember dilakukan pada bulan Mei 2006 sampai dengan bulan Juni 2006. Penelitian dilakukan pada Laboratorium Konservasi Gigi, Bedah Mulut, Periodonsia dan Oral Medicine (OM) dengan besar sampel sebanyak 65 orang. Sampel dipilih dengan metode simple random sampling. Penelitian ini menilai standar pelayanan RSGM yang dilakukan mahasiswa tingkat profesi dalam melakukan perawatan pulpektomi pada Laboratorium Konservasi Gigi, perawatan ekstraksi gigi pada Laboratorium Bedah Mulut, perawatan pembersihan karang gigi (scalling) pada Laboratorium Periodonsia dan perawatan ulkus traumatikus pada Laboratorium Oral Medicine (OM). Penelitian yang telah dilakukan mengelompokkan sampel penelitian berdasarkan laboratorium yang sedang ditempuh, hal ini dapat dilihat pada tabel 4. Tabel 4. Distribusi sampel berdasarkan laboratorium. No 1 2 3 4 Laboratorium Konservasi gigi Bedah Mulut Periodonsia Oral Medicine (OM) Jumlah Σ sampel 25 orang 22 orang 12 orang 6 orang 65 orang (%) 38,5 33,9 18,5 9,4 100 Tabel 4 menunjukkan distribusi sampel penelitian berdasarkan laboratorium yang sedang ditempuh, jumlah yang paling banyak adalah sampel penelitian pada Laboratorium Konservasi Gigi yaitu sebanyak 25 orang atau 38,5%, sedangkan jumlah yang paling sedikit adalah sampel penelitian pada Laboratorium Oral Medicine (OM) yaitu sebanyak enam orang atau 9,4%. 28
  2. 2. 29 Tabel 5 membahas tentang distribusi sampel penelitian berdasarkan jenis kelamin. Tabel 5. Distribusi sampel berdasarkan jenis kelamin no 1 2 Jenis kelamin Perempuan Laki-laki Jumlah Jumlah 48 17 65 (%) 74 26 100 Tabel 5 menunjukkan bahwa jumlah sampel sebanyak 48 orang atau 74% adalah berjenis kelamin perempuan dan 17 orang atau 26% berjenis kelamin laki-laki, sampel yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan sampel yang berjenis kelamin laki-laki. Tabel 6 membahas tentang distribusi sampel penelitian berdasarkan nilai IPK. Tabel 6. Distribusi sampel berdasarkan nilai IPK No 1 2 3 4 IPK < 2.00 2,00-2,50 2,50-3,00 > 3,00 Jumlah Jumlah 0 3 45 18 65 (%) 0 3,1 69,3 27,6 100 Tabel 6 menunjukkan bahwa nilai IPK yang terbanyak adalah 2,51-3,00 sebesar 45 sampel atau 69,3%, sedangkan nilai IPK yang paling sedikit adalah 2,002,50 sebesar dua sampel atau 3,1%.
  3. 3. 30 Tabel 7 membahas tentang distribusi sampel penelitian berdasarkan angkatan. Tabel 7. Distribusi sampel berdasarkan angkatan No. 1. 2. 3. 4. Angkatan 1999 2000 2001 2002 total Jumlah 2 6 37 20 65 (%) 3,0 9,3 57,0 30,7 100 Tabel 7 menunjukkan bahwa jumlah sampel penelitian yang paling banyak adalah angkatan 2001 sebanyak 37 orang atau 57%, sedangkan jumlah sampel penelitian yang paling sedikit adalah angkatan 1999 sebanyak dua orang atau 3%. Tabel 8 membahas tentang distribusi sampel penelitian berdasarkan usia. Tabel 8. Distribusi sampel berdasarkan usia No. 1. 2. 3. 4. 5. Usia (tahun) 22 23 24 25 26 Total Jumlah 17 31 10 4 2 65 % 26,2 47,7 6,5 6,2 3,1 100 Tabel 8 menunjukkan bahwa sampel penelitian yang paling banyak adalah usia 23 tahun sebanyak 31orang atau 47,7%, sedangkan sampel yang paling sedikit adalah usia 26 tahun sebanyak dua orang atau 3,1%.
  4. 4. 31 Tabel 9 membahas tentang distribusi silang antara laboratorium yang sedang ditempuh dengan kepatuhan prosedur kerja. Tabel 9. Distribusi silang antara laboratorium yang sedang ditempuh dengan kepatuhan prosedur kerja. Total skor no 1 2 3 4 Laboratorium Konservasi gigi Bedah mulut Periodonsia Oral Medicine (OM) Jumlah Tidak patuh Jumlah (%) 4 6.2 1 1.5 0 0 0 0 5 7.7 Patuh Jumlah 21 21 12 6 60 (%) 32,3 32,3 18,6 9,2 92,3 Tabel 9 menunjukkan bahwa 60 sampel (92,3%) telah mematuhi prosedur kerja yang telah ditetapkan, sedangkan lima sampel (7,7%) dianggap tidak mematuhi prosedur kerja. Sampel yang mematuhi prosedur kerja terbanyak pada Laboratorium Konservasi Gigi dan Laboratorium Bedah Mulut yaitu sebanyak 21 orang atau 32,3%. Sampel yang tidak mematuhi prosedur kerja terbanyak pada Laboratorium Konservasi Gigi yaitu sebanyak empat orang atau 6,2%. Sampel pada Laboratorium Konservasi Gigi dan Laboratorium Bedah Mulut dianggap tidak mematuhi prosedur kerja yang telah ditetapkan, karena tidak menyediakan alat yang digunakan dalam melakukan perawatan kepada pasien secara lengkap.
  5. 5. 32 Tabel 10 membahas tentang distribusi silang antara nilai IPK dengan kepatuhan prosedur kerja. Tabel 10. Distribusi silang antara nilai IPK dengan kepatuhan prosedur kerja. Total skor no 1 2 3 4 Nilai IPK < 2,00 2,00-2,50 2,51-3,00 > 3,00 Jumlah Tidak patuh jumlah (%) 0 0 0 0 4 6.1 1 1.6 5 7.7 Patuh jumlah 0 3 40 17 60 (%) 0 4,7 61,5 26,1 92,3 Tabel 10 menunjukkan bahwa 60 sampel (92,3%) telah mematuhi prosedur kerja yang telah ditetapkan, sedangkan lima sampel (7,7%) dianggap tidak mematuhi prosedur kerja. Sampel yang mematuhi prosedur kerja terbanyak memiliki nilai IPK antara 2,51-3,00 yaitu sebanyak 40 orang atau 62%, sedangkan yang tidak mematuhi prosedur kerja sebanyak empat orang atau 6%.
  6. 6. 33 Tabel 11 membahas tentang distribusi silang antara angkatan dengan kepatuhan prosedur kerja. Tabel 11. Distribusi silang antara angkatan dengan kepatuhan prosedur kerja. Total skor no 1 2 3 4 angkatan 1999 2000 2001 2002 Jumlah Tidak patuh Jumlah (%) 0 0 0 0 5 0 0 0 5 7.7 Patuh Jumlah 2 6 32 20 (%) 3,0 9,2 49,3 30,8 60 92,3 Tabel 11 menunjukkan bahwa 60 sampel (92,3%) telah mematuhi prosedur kerja yang telah ditetapkan, sedangkan lima sampel (7,7%) dianggap tidak mematuhi prosedur kerja. Sampel yang mematuhi prosedur kerja terbanyak adalah angkatan 2001 yaitu sebanyak 32 orang atau 49,3%, sedangkan yang tidak mematuhi prosedur sebanyak lima orang atau 7,7%.
  7. 7. 34 Tabel 12 membahas tentang distribusi silang antara pengetahuan dengan kepatuhan prosedur kerja. Tabel 12. Distribusi silang antara pengetahuan dengan kepatuhan prosedur kerja. Total skor no 1 2 3 pengetahuan Kurang Sedang Baik Jumlah Tidak patuh jumlah (%) 0 0 0 0 5 7,7 5 7,7 Patuh jumlah 0 1 59 60 (%) 0 1,5 90,8 92,3 Tabel 12 menunjukkan bahwa 60 sampel (92,3%) telah mematuhi prosedur kerja yang telah ditetapkan, sedangkan lima sampel (7,7%) dianggap tidak mematuhi prosedur kerja. Sampel yang mematuhi prosedur kerja terbanyak memiliki pengetahuan baik yaitu sebanyak 59 orang atau 90,8%, sedangkan yang tidak mematuhi prosedur kerja sebanyak lima orang atau 7,7%.
  8. 8. 35 Tabel 13 membahas tentang distribusi silang antara sarana dan prasarana RSGM dengan kepatuhan prosedur kerja. Tabel 13. Distribusi silang antara sarana dan prasarana dengan kepatuhan prosedur kerja. no 1 2 3 Sarana dan prasarana Kurang Sedang Baik Jumlah Total skor Tidak patuh jumlah (%) 0 0 1 1,5 4 6,2 5 7,7 Patuh jumlah 0 9 51 60 (%) 0 13,8 78,5 92,3 Tabel 13 menunjukkan bahwa 60 sampel (92,3%) telah mematuhi prosedur kerja yang telah ditetapkan, sedangkan lima sampel (7,7%) dianggap tidak mematuhi prosedur kerja. Sampel yang mematuhi prosedur kerja terbanyak berpendapat bahwa sarana dan prasarana RSGM baik yaitu sebanyak 51 orang atau tujuh orang, sedangkan yang tidak mematuhi prosedur kerja sebanyak empat orang atau 6,2%. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 65 orang dan dilakukan pengamatan langsung pada 14 orang sampel, yaitu lima orang dari Laboratorium Konservasi Gigi, empat orang dari Laboratorium Bedah Mulut, tiga orang dari Laboratorium Periodonsia dan dua orang dari Laboratorium Oral Medicine. Dilakukan pengamatan apakah sampel yang diteliti melaksanakan praktikum sesuai dengan yang tercantum pada kuesioner yang sudah diisi. Hasil dari pengamatan menyatakan bahwa dari keseluruhan sampel yang diamati langsung, 10 orang melakukan praktikum sesuai dengan yang sudah tercantum pada hasil kuesioner, sedangkan 4 orang melakukan praktikum tidak sesuai dengan yang sudah tercantum pada hasil kuesioner, yaitu dua orang dari Laboratorium Konservasi Gigi dan 2 orang dari Laboratorium Bedah Mulut. Dua orang dari Laboratorium Konservasi Gigi dan
  9. 9. 36 dua orang dari Laboratorium Bedah Mulut tidak membawa peralatan secara lengkap yang dibutuhkan dalam melakukan perawatan gigi. Harapan sampel terhadap RSGM FKG Universitas Jember berbeda-beda, hal ini dapat diketahui dari jawaban pertanyaan nomer 21 pada kuesioner. Sampel pada Laboratorium Konservasi Gigi (38,5%) mengharapkan adanya penambahan jumlah dental unit, perbaikan fungsi dari dental unit yang sudah ada karena sudah banyak yang rusak dan penambahan jumlah tempat duduk di ruang tunggu. Sampel pada Laboratorium Bedah Mulut (33,8%) mengharapkan adanya peningkatan kebersihan di laboratorium dan lingkungan sekitarnya, peningkatan kinerja karyawan RSGM FKG Universitas Jember dalam melakukan pelayanan terhadap pasien, dan jam kerja pelayanan dari RSGM dapat menjadi 24 jam setiap hari. Sampel pada Laboratorium Oral Medicine (18,5%) mengharapkan adanya peningkatan sosialisasi tentang RSGM kepada masyarakat sekitar dan perbaikan sistem administrasi pelayanan RSGM FKG Universitas Jember. Sampel pada Laboratorium Periodonsia (9,2%) mengharapkan adanya perbaikan fungsi dental unit yang sudah ada dan peningkatan kebersihan. 4.2 Pembahasan RSGM FKG UNEJ menurut Depdiknas (2003) merupakan unit pelayanan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember dalam menyelenggarakan sarana pendidikan bagi tenaga kesehatan dan penelitian dibidang kesehatan gigi, memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut kepada masyarakat dan sebagai lahan praktek klinik bagi mahasiswa. Pelayanan kesehatan gigi dalam menghadapi persaingan global dituntut untuk lebih profesional dengan kualitas yang lebih dapat dipertanggung jawabkan. Hal ini didorong oleh perkembangan masyarakat Indonesia di masa depan, yang diperkirakan akan lebih sadar hak dan hukum (Djoharnas, 1997). Pemenuhan tuntutan masyarakat yang semakin meningkat terhadap pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang sesuai
  10. 10. 37 dengan kebutuhan merupakan hal terpenting dalam pengembangan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan gigi dan mulut di institusi pelayanan kesehatan (Astoeti, 2000). Tabel 1 menunjukkan perbandingan standar peralatan RSGM FKG Universitas Jember dibandingkan dengan standar RSGM yang disusun oleh Direktorat Pelayanan Medis Gigi Departemen Kesehatan RI tahun 2003. Jumlah dental chair, dental unit, intra oral camera, dan sterilisator yang dimiliki RSGM FKG Universitas Jember sudah melebihi standar yang berlaku. Tabel 2 dan tabel 3 menunjukkan perbandingan standar tenaga RSGM FKG Universitas Jember. Jumlah keseluruhan tenaga yang dimiliki RSGM FKG Universitas Jember sudah melebihi standar yang berlaku. Hal ini terjadi karena RSGM FKG Universitas Jember sebagai RSGM Pendidikan berupaya untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa tingkat profesi yang semakin meningkat. Tabel 9 menunjukkan bahwa 60 sampel (92,3%) telah mematuhi prosedur kerja yang telah ditetapkan, sedangkan lima sampel (7,7%) dianggap tidak mematuhi prosedur kerja. Sampel yang mematuhi prosedur kerja terbanyak pada Laboratorium Konservasi Gigi dan Laboratorium Bedah Mulut yaitu sebanyak 21 orang atau 32,3%. Sampel yang tidak mematuhi prosedur kerja terbanyak pada Laboratorium Konservasi Gigi yaitu sebanyak empat orang atau 6,2%. Dua laboratorium yang dianggap tidak mematuhi prosedur kerja yang telah ditetapkan, yaitu Laboratorium Konservasi Gigi dan Laboratorium Bedah Mulut, karena tidak menyediakan alat yang digunakan dalam melakukan perawatan kepada pasien secara lengkap, yaitu sonde setengah lingkaran, meskipun alat yang digunakan tidak lengkap tetapi para sampel dapat bekerja dengan baik karena fungsi dari alat tersebut dapat digantikan dengan alat yang lain. Hal ini tidak sesuai dengan Adikoesoemo (1997) yang menyatakan bahwa pelayanan dapat terjamin bila sarana dan prasarana yang dimiliki rumah sakit tersebut unggul, semakin baik peralatan yang tersedia maka pelayanan yang dilakukan akan semakin baik.
  11. 11. 38 Tabel 10 menunjukkan bahwa 60 sampel (92,3%) telah mematuhi prosedur kerja yang telah ditetapkan, sedangkan lima sampel (7,7%) dianggap tidak mematuhi prosedur kerja. Sampel yang mematuhi prosedur kerja terbanyak memiliki nilai IPK antara 2,51-3,00 yaitu sebanyak 40 orang atau 62%, sedangkan yang tidak mematuhi prosedur kerja sebanyak empat orang atau 6%. Hal ini menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap prosedur kerja tidak dipengaruhi oleh nilai IPK, sampel yang mematuhi dan tidak mematuhi memiliki nilai IPK yang sama yaitu antara 2,51-3,00. Sampel adalah mahasiswa tingkat profesi yang sudah sarjana ataupun mahasiswa yang sedang menempuh skripsi, sehingga IPK sampel rata-rata diatas 2,50. IPK merupakan salah satu indikator tingkat prestasi atau keberhasilan mahasiswa. Semakin tinggi nilai IPK maka pengetahuan seseorang akan semakin tinggi pula. Dengan pengetahuan dan dedikasi yang tinggi, maka rumah sakit akan mempunyai pelayanan yang baik karena suatu rumah sakit menjual jasa kesehatan dan tenaga (Adikoesoemo, 1997). Tabel 11 menunjukkan bahwa 60 sampel (92,3%) telah mematuhi prosedur kerja yang telah ditetapkan, sedangkan lima sampel (7,7%) dianggap tidak mematuhi prosedur kerja. Sampel yang mematuhi prosedur kerja terbanyak adalah angkatan 2001 yaitu sebanyak 32 orang atau 49,3%, sedangkan yang tidak mematuhi prosedur kerja sebanyak lima orang atau 7,7%. Perubahan perilaku pada angkatan tua dan muda itu berbeda, karena angkatan tua sudah mempunyai pengetahuan, sikap dan keterampilan tertentu yang sudah mereka miliki selama bertahun-tahun (Notoatmojo, 2003). Sampel yang terbanyak mematuhi dan tidak mematuhi adalah angkatan 2001, hal ini menunjukkan bahwa kepatuhan prosedur kerja tidak dipengaruhi oleh angkatan. Tabel 12 menunjukkan bahwa 60 sampel (92,3%) telah mematuhi prosedur kerja yang telah ditetapkan, sedangkan lima sampel (7,7%) dianggap tidak mematuhi prosedur kerja. Sampel yang mematuhi prosedur kerja terbanyak memiliki pengetahuan baik yaitu sebanyak 59 orang atau 90,8%, sedangkan yang tidak
  12. 12. 39 mematuhi prosedur kerja sebanyak lima orang atau 7,7%. Tinggi rendahnya pengetahuan tidak mempengaruhi kepatuhan sampel dalam mematuhi prosedur kerja. Hal ini tidak sesuai dengan pendapat Ngatimin (1988) bahwa pengetahuan sangat penting dalam memberikan wawasan terhadap sikap dan perbuatan seseorang. Pengetahuan dapat dicapai melalui berbagai keadaan dan pengalaman. Salah satu cara memperoleh pengetahuan adalah melalui pendidikan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Depkes RI (1993) bahwa tinggi rendahnya tingkat pendidikan seseorang mempengaruhi pengetahuan seseorang. Pengertian dan pola pikir seseorang juga dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki orang tersebut. Pengetahuan yang diperoleh didapat dari pendidikan perguruan tinggi. Melalui pendidikan masyarakat dapat memperluas jangkauan pengetahuan diberbagai bidang (Sindhunata, 2000). Pengetahuan menjelaskan perilaku suatu individu yang berasal dari pengalaman (Susanto dan Kotler, 2000), sedangkan pengalaman seseorang dapat mempengaruhi pengamatan seseorang dalam bertingkah laku yang diperoleh dari semua perbuatannya dimasa lalu atau dapat pula pengalaman itu dipelajari, sebab dengan belajar seseorang dapat memperoleh pengalaman (Irawan dan Swastha, 1983). Tabel 13 menunjukkan bahwa 60 sampel (92,3%) telah mematuhi prosedur kerja yang telah ditetapkan, sedangkan lima sampel (7,7%) dianggap tidak mematuhi prosedur kerja. Sampel yang mematuhi prosedur kerja terbanyak berpendapat bahwa sarana dan prasarana RSGM baik yaitu sebanyak 51 orang atau 78,5%, sedangkan yang tidak mematuhi prosedur kerja sebanyak empat orang atau 6,2%. Sarana dan prasarana yang baik akan menunjang pelayanan yang diberikan kepada pasien sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan dan dapat diterima oleh pasiennya. Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat memiliki peran yang sangat strategis dalam mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Mutu dapat terjamin bila
  13. 13. 40 sarana dan prasarana yang dimiliki rumah sakit tersebut unggul (Adikoesoemo, 1997). Penelitian tentang penilaian standar pelayanan rumah sakit melalui kepatuhan prosedur kerja di RSGM FKG Universitas Jember dapat diketahui bahwa standar pelayanan rumah sakit yang dilakukan mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember yang melaksanakan praktikum klinik melalui kepatuhan prosedur kerja di RSGM FKG Universitas Jember adalah baik dan sesuai dengan standar pelayanan yang telah ditetapkan. RSGM FKG Universitas Jember merupakan suatu rumah sakit pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan dokter gigi. Sampel dalam penelitian ini dalam melakukan praktikum klinik sesuai dengan standar pelayanan yang berlaku, sehingga sampel mendapatkan nilai yang baik dan memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan pendidikan. Harapan sampel terhadap RSGM FKG Universitas Jember berbeda-beda, yaitu penambahan jumlah dental unit, perbaikan fungsi dari dental unit yang sudah ada karena sudah banyak yang rusak, penambahan jumlah tempat duduk di ruang tunggu, peningkatan kebersihan di laboratorium dan lingkungan sekitarnya, peningkatan kinerja karyawan RSGM FKG Universitas Jember dalam melakukan pelayanan terhadap pasien, jam kerja pelayanan dari RSGM dapat menjadi 24 jam setiap hari, adanya peningkatan sosialisasi tentang RSGM kepada masyarakat sekitar dan perbaikan sistem administrasi pelayanan RSGM FKG Universitas Jember. Perbaikan-perbaikan tersebut akan menjadikan RSGM FKG Universitas Jember sebagai salah satu unit pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang berkualitas, profesional, modern dan sesuai dengan tuntutan masyarakat serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran gigi.
  14. 14. 41

×